Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Selasa, 24 Mei 2016


"GIMANA ya rasanya jadi wisatawan di kota kelahiran sendiri?" Pertanyaan itu spontan timbul dalam benak saya tak lama setelah mendapat telepon dari Mbak Ira Hairida, mewakili panitia Lomba Blog Jelajah Musi Triboatton 2016, awal bulan ini. Ya, sebagai salah satu dari tiga pemenang, saya diundang ke Palembang selama dua hari dua malam.

Agenda utama kunjungan ke Palembang tersebut menyaksikan etape terakhir dan closing ceremony International Musi Triboatton 2016 di Benteng Kuto Besak, 15 Mei 2016. Tentu kami juga diajak berkeliling ke berbagai destinasi menarik di Kota Pempek. Plesir, plesir... Lengkap dengan wisata kuliner khas. Wuih, kenyang pokokmen!

Palembang bukan kota asing bagi saya. Lahir pada 1982 dan tinggal di sini hingga 1992, kira-kira 10 tahun saya menghabiskan fase awal kehidupan sebagai seorang manusia di kota ini. Setelah pindah ke Batumarta di Ogan Komering Ulu (kini masuk wilayah OKU Timur), dan kemudian Jambi, saya tetap mengunjungi kota ini setidaknya sekali dalam 1-2 tahun.

Namun tetap saja saya tak mengenali Palembang secara utuh. Yang saya tahu persis hanya kawasan Lebong Siareng tempat saya lahir dan menghabiskan masa kecil, serta jalan masuk menuju ke sana. Dari Paal V cari saja Jl. Sosial, lalu ikuti jalan tersebut hingga ke simpang lima yang menjadi penanda Lebong Siareng.

Dulu banyak mobil ketek ngetem di Pasar Paal V, melayani rute Paal V ke Lebong Siareng sampai Perumdam di Jl. Mayor Zurbi Bustan dan sebaliknya. Entah sejak kapan angkutan umum bekas kendaraan militer Perang Dunia II ini lenyap dari Palembang. Kalau tak salah ingat, saya terakhir kali naik mobil ini pada tahun 2002. (Baca juga: Mobil Ketek Tinggal Kenangan)

Terpilih menjadi salah satu pemenang Lomba Blog Jelajah Musi Triboatton 2016 langsung membangkitkan kenangan masa kecil. Sungai Musi yang jadi lokasi lomba seringkali saya lewati dulu saat diajak Ibu mengunjungi seorang bude di Plaju. Jembatan Ampera nan megah, bundaran air mancur yang indah, serta Masjid Agung nan elok. Semuanya masih terekam jelas dalam ingatan.

Kereta Molor 2,5 Jam
Saya berangkat dari Pemalang pada 13 Mei sore hari, menumpang kereta Tawang Jaya. Menurut jadwal di tiket, kereta tiba di Stasiun Pasar Senen pada pukul 20.38 WIB. Masih sangat sore. Saya bisa melanjutkan perjalanan dengan KRL ke Palmerah, lalu menginap nyenyak di tempat adik. Sayang, kereta rupanya molor hingga 2,5 jam. Kereta baru masuk Senen hampir pukul setengah 12 malam!

Dari Senen ke Palmerah kita harus transit dan pindah kereta di Stasiun Tanah Abang. Khawatir KRL tujuan Bogor di Tanah Abang sudah berangkat, saya memilih menelepon seorang kawan sesama orang Pemalang yang jadi driver Gojek. Tapi ini bukan solusi bijak, karena kawan saya ini rupanya tidak hapal daerah Palmerah. OMG! Jadilah kami berhenti di SPBU Gelora dan menunggu adik saya menjemput.

Sampai kontrakan adik jam sudah menunjukkan nyaris pukul satu dini hari. Ah, nggak jadi deh tidur nyenyak semalaman. Tepat adzan Subuh saya terbangun, lalu mandi lanjut sarapan, dan jam enam sudah ke Slipi untuk mencari taksi ke bandara. Syukurlah perjalanan ke bandara berjalan lancar. Tak sampai setengah jam taksi sudah menurunkan saya di Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta.



Saya sepesawat dengan satu pemenang lain, yakni Mbak Katerina S. si empunya blog Travelerien. Tapi tunggu punya tunggu, Mbak Katerina rupanya baru masuk ruang tunggu pas penumpang penerbangan Batik Air ID 6872 Jakarta-Palembang dipersilakan masuk ke dalam pesawat. Jadilah saya baru bisa berkenalan dengannya di tangga pesawat.

Penerbangan berjalan lancar. Pesawat mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II tepat saat hape saya menunjukkan 09.40 WIB. Di lobi sudah menunggu Mas Jonny dari tim digital marketing Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan. Ternyata bukan cuma kami yang dijemput, ada Mas Bram dan Mas Dani yang punya janji temu dengan Ibu Irene Camelyn Siregar, Kepala Disparbud Sumsel. Lalu Mbak Relinda Puspita, pemenang satunya lagi, juga ikut menjemput kami.

Kemacetan langsung menyambut mobil yang kami tumpangi begitu keluar dari kawasan bandara. Palembang tengah ada proyek besar, membangun jaringan light rail transit (LRT) untuk menyukseskan gelaran Asian Games 2018. Jadilah jalanan protokol dari Talang Betutu hingga ke tengah kota menyempit karena di bagian tengah-tengahnya ada proyek pembuatan tiang-tiang pancang LRT.

FOTO: http://sumsel.tribunnews.com

Pindang Patin di Bawah Jembatan Ampera
Perjalanan kami di Palembang diawali dengan mengikuti kelas Akademi Berbagi. Hadir sebagai pembicara Mas Muhammad Arif Rahman, travel blogger top yang terpilih sebagai Indonesia's Best Travel Blog of the Year 2014 versi Skyscanner Indonesia dan Indonesia's Best Travel Blog of the Year 2015 versi Blogger Camp. Turut hadir pula Mas Sutiknyo alias Tekno Bolang (@Lostpacker) dan Mas Wira Nurmansyah, dua travel blogger yang tak kalah ngetop dari Mas Arif.

Usai acara, lanjut deh foto-foto bersama. Kemudian rombongan kami dipecah jadi dua mobil, mau diajak makan siang di warung makan terapung Sungai Musi di sebelah Pasar 16 Ilir. Mobil pertama berisi saya, Mbak Rien, Mbak Linda, Mas Jonny dan pengemudi. Sedangkan mobil kedua terlihat lebih sesak sengsara karena Mas Bolang, Mas Wira dan Mas Bram yang kesemuanya berbadan jumbo ada di sana. Ditambah Mas Dani, Mas Arif, Mbak Gladies, serta Mbak Ira sebagai tour guide sekaligus juru antar.

Mobil diparkir di halaman Ampera Center Point yang berseberangan persis dengan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Jembatan Ampera sudah mengintip di sela-sela atap banggunan, ditingkahi suara perahu ketek yang lalu lalang di Sungai Musi. Kami berjalan kaki menuju dermaga di bawah jembatan, disambut teriakan pemilik perahu ketek yang berteriak-teriak "Kemaro! Kemaro!" dan ibu-ibu pemilik lapak makanan berseru "Pindang! Pindang!"

Sembari menunggu rombongan mobil Mbak Ira, kami melihat-lihat suasana. Mbak Rien mengarahkan kamera DSLR-nya ke beberapa obyek, sedangkan Mbak Linda berjalan-jalan ke arah perahu-perahu ketek ditambatkan. Saya sendiri memilih duduk-duduk di bangku beton yang ada di dekat pagar pembatas dari besi, memandangi Jembatan Ampera nan gagah.

Sontak saya teringat beberapa kenangan menegangkan tapi lucu di sekitaran bawah Jembatan Ampera. Dulu di bawah jembatan ini ada terminal. Saya beberapa kali ke terminal tersebut, diajak Ibu mencari bus ke Baturaja. Calo di Terminal Ampera sangat agresif. Kalau cuma tas dipegangi sampai direbut supaya calon penumpang ikut ke busnya si calo sih sudah pemandangan biasa waktu itu.

Bapak saya pernah saling tendang dengan seorang calo gara-gara adu ngotot soal bus. Saya jadi saksi mata peristiwa tersebut. Lalu bulek saya malah pernah menangkap basah copet yang kedapatan merogoh kantongnya saat tengah menunggu bus. Dompet Bulek sudah tidak ada di tangan si copet, tapi karena dipiting sama Bulek akhirnya dia mengaku. Dompet pun dikembalikan dengan dongkol oleh partner in crime copet tersebut. Ini true story lho, bisa di-cross check ke Bulek saya yang tinggal dekat Pasar Batumarta VI, OKU Timur.

Setelah sekitar 10 menit menunggu, akhirnya rombongan Mbak Ira datang. Kami pun masuk ke Warung Makan Mbok War, sebuah warung makan terapung dengan perahu bercat merah. Menu pindang jadi favorit rombongan kami. Makan siang diiringi suara perahu ketek dan deburan air Sungai Musi, alangkah nikmatnya.


FOTO: Katerina S.


FOTO: Katerina S.


Warung makan terapungnya begini, tapi bukan di sini tempat kami makan siang :)




Ada beberapa jenis pindang yang disajikan di Warung Makan Mbok War. Saya sendiri memilih pindang patin, minumnya es jeruk. Tak seperti es jeruk kebanyakan yang berwarna kuning atau oranye, es jeruk Mbok War warnanya bening seperti air putih biasa. Namun rasanya segar bukan kepalang.

Pindangnya bagaimana?

Di mana-mana ya pindang itu rasanya asam pedas. Tapi sensasi makan di atas warung yang sebenarnya adalah sebuah perahu menjadi pengalaman berkesan bagi saya. Bayangkan kita makan sembari restorannya naik-turun bergoyang-goyang mengikuti gelombang air Sungai Musi. Oya, in my opinion es jeruknya juara. :)

International Musi Triboatton 2016
Lepas makan siang, kami dibawa Mbak Ira ke Ampera Center Point. Ini adalah tempat nongkrong favorit anak muda Palembang. Berupa bangunan dua lantai yang bagian bawahnya terdiri dari J.CO, KFC, Soto Kwali, Bebek Garang, dan sebuah rumah makan Padang. Di lantai dua ada convention hall yang dikenal dengan nama Ampera Convention Center. Acara pernikahan dan konser musik seringkali diadakan di sini.

Duduk-duduk di Ampera Center Point sangat asyik sekali, karena pada bagian belakangnya tepian Sungai Musi dengan Jembatan Ampera terlihat di kejauhan. Cocok untuk foto-foto atau sekedar ngobrol santai. Saya yang kurang tidur memesan espresso biar tidak mengantuk. Mbak Ira memesankan aneka donut sebagai teman minum.

Mendekati jam tiga, kami bergerak ke pelataran Benteng Kuto Besak untuk menyaksikan etape terakhir Internasional Musi Triboatton 2016. Sebuah tenda besar didirikan untuk menampung tetamu undangan dari berbagai kalangan. Lomba baru saja dimulai saat kami tiba di venue. Terlihat beberapa tim tengah melakukan pemanasan, sebagian lagi tampak mendayung perahu menuju lokasi start.

Baru beberapa tim berlomba, hujan deras disertai angin kencang menerjang. Penonton kocar-kacir, berlarian menuju ke tenda-tenda putih yang bertebaran di plaza Benteng Kuto Besak. Atlet dan jurnalis, juga kami para blogger undangan, berhamburan ke dalam tenda utama. Lomba tetap berlangsung.

Internasional Musi Triboatton adalah lomba balap perahu di atas Sungai Musi yang mempertandingkan tiga jenis perahu. Masing-masing tim diadu ketangkasannya dalam mengemudikan perahu kayak (canoe), perahu karet (rafting), dan perahu naga. Pada gelaran tahun ini sebanyak 16 tim dari tujuh negara ikut berpartisipasi. Selain tim-tim Indonesia, ada pula peserta dari Tiongkok, Makau, Philipina, Brunei Darussalam, Singapura dan Malaysia.


Foto bareng tim dayung Malaysia. "Saye nak ambik gambar dengan awak boleh ke?" :D

Saya sempat berbincang-bincang sejenak dengan ofisial tim Malaysia di tenda utama. Tim yang saat itu bertanding adalah tim dayung Polis Diraja Malaysia (PDRM), seluruhnya beranggotakan polisi. Menurut ofisial yang lupa saya tanya namanya tersebut, tim PDRM sudah berulang kali ikut serta dalam Musi Triboatton.

Untunglah hujan reda tak lama kemudian. Penonton kembali menyemut di tepian Sungai Musi untuk menyaksikan balap perahu ini. Sayang mendung tebal yang menggantung di atas langit membuat foto-foto hasil jepretan saya tak maksimal. Maklum, saya hanya berbekal ASUS Zenfone dan sebuah kamera digital. Dibikin minder sama blogger-blogger lain yang bawa kamera moncong panjang.

Begitu lomba selesai kami diajak ke hotel. Tapi di tengah jalan Mbak Ira mengajak mampir ke Kedai Harum, sebuah kedai etnik dengan sajian khas Palembang. Ada aneka pempek, burgo, laksan, tekwan, model, ragit, dan makanan khas lain. Saya yang sudah lama sekali tak makan model memesan makanan berkuah ini.

"Mumpung di Palembang," pikir saya teringat ucapan Mbak Ety di Facebook.


Photo courtesy Katerina S., taken by Relinda Puspita.


Mbak Rien rupanya penasaran berat dengan Pempek Tabok, jadilah ia pesan satu. Sedangkan Mbak Linda tertarik dengan ragit, makanan dari tepung pati dengan kuah santan kental. Minumannya kami sepakat ke satu pilihan, es sugu alias es yang berbahan susu campur gula merah.

Tepat adzan Magrib kami keluar dari Kedai Harum. Tujuan berikutnya Hotel Amaris tempat kami menginap di malam pertama.

Martabak HAR Palembang
Usai mandi dan istirahat sejenak, Mbak Ira kembali mengajak kami keluar. Tujuan pertama menikmati Martabak HAR. Ini martabak khas Palembang yang, konon, cita rasanya tidak ada yang menyamai di manapun. Menurut cerita sih resep Martabak HAR adalah kreasi Haji Abdul Rozak, inovator jajanan ini sekaligus pendiri Martabak HAR. HAR sendiri merupakan akronim Haji Abdul Rozak.

Martabak HAR sudah eksis sejak 7 Juli 1947. Haji Abdul Rozak adalah seorang perantauan keturunan India yang menikah dengan gadis Palembang. Kedai pertamanya berdiri di Jl. Jend. Sudirman, dekat bundaran air mancur depan Masjid Agung, yang masih tegak hingga saat ini. Ke sanalah kami diajak Mbak Ira.

Martabak HAR Palembang. Sumpah lemak nian rasonyo! :)

A photo posted by Eko Nurhuda (@bungeko_) on



Haji Abdul Rozak mempunyai delapan anak dan semuanya menjual Martabak HAR. Selain mereka, ada pula beberapa pihak yang membuka toko bernama Martabak HAR. Namun Martabak HAR asli bisa dilihat dari adanya foto Haji Abdul Rozak dalam banner, juga di dalam toko. Anak-anak muda yang suka suasana lebih modern dan gaul biasanya nongkrong di Martabak & Resto HAR milik cucu Haji Abdul Rozak di Jl. Jendral Sudirman No. 2269.

Begitu martabak di piring kami tandas, perjalanan pun dilanjutkan. Lagi-lagi kami ke plaza Benteng Kuto Besak, kali ini untuk menyaksikan keindahan Jembatan Ampera di waktu malam. Jembatan berusia lebih dari 50 tahun tersebut tampak indah oleh lampu warna-warni yang dipasang di seluruh badan jembatan.

Sesi wisata malam kami isi dengan foto-foto. Mas Wira, Mbak Katerina, Mas Dani, dan Mas Arif sibuk foto dari berbagai angle. Mas Arif sampai bawa tripod segala. Lainnya asyik selfie dan wefie berlatar belakang Ampera. Saya tak suka selfie, jadi hanya sekali saja menjepret jembatan untuk status media sosial, selebihnya duduk-duduk menyaksikan tingkah polah kawan-kawan lainnya.

Etapi lama-lama saya kepengen juga difoto berlatar belakang Jembatan Ampera. Karena baterai kamera Mbak Katerina habis, saya minta tolong Mas Wira untuk mengambil foto. Lumayanlah buat kenang-kenangan untuk anak-cucu nanti, hehehe...

Bersambung...


"GIMANA ya rasanya jadi wisatawan di kota kelahiran sendiri?" Pertanyaan itu spontan timbul dalam benak saya tak lama setelah mendapat telepon dari Mbak Ira Hairida, mewakili panitia Lomba Blog Jelajah Musi Triboatton 2016, awal bulan ini. Ya, sebagai salah satu dari tiga pemenang, saya diundang ke Palembang selama dua hari dua malam.

Agenda utama kunjungan ke Palembang tersebut menyaksikan etape terakhir dan closing ceremony International Musi Triboatton 2016 di Benteng Kuto Besak, 15 Mei 2016. Tentu kami juga diajak berkeliling ke berbagai destinasi menarik di Kota Pempek. Plesir, plesir... Lengkap dengan wisata kuliner khas. Wuih, kenyang pokokmen!

Palembang bukan kota asing bagi saya. Lahir pada 1982 dan tinggal di sini hingga 1992, kira-kira 10 tahun saya menghabiskan fase awal kehidupan sebagai seorang manusia di kota ini. Setelah pindah ke Batumarta di Ogan Komering Ulu (kini masuk wilayah OKU Timur), dan kemudian Jambi, saya tetap mengunjungi kota ini setidaknya sekali dalam 1-2 tahun.

Namun tetap saja saya tak mengenali Palembang secara utuh. Yang saya tahu persis hanya kawasan Lebong Siareng tempat saya lahir dan menghabiskan masa kecil, serta jalan masuk menuju ke sana. Dari Paal V cari saja Jl. Sosial, lalu ikuti jalan tersebut hingga ke simpang lima yang menjadi penanda Lebong Siareng.

Dulu banyak mobil ketek ngetem di Pasar Paal V, melayani rute Paal V ke Lebong Siareng sampai Perumdam di Jl. Mayor Zurbi Bustan dan sebaliknya. Entah sejak kapan angkutan umum bekas kendaraan militer Perang Dunia II ini lenyap dari Palembang. Kalau tak salah ingat, saya terakhir kali naik mobil ini pada tahun 2002. (Baca juga: Mobil Ketek Tinggal Kenangan)

Terpilih menjadi salah satu pemenang Lomba Blog Jelajah Musi Triboatton 2016 langsung membangkitkan kenangan masa kecil. Sungai Musi yang jadi lokasi lomba seringkali saya lewati dulu saat diajak Ibu mengunjungi seorang bude di Plaju. Jembatan Ampera nan megah, bundaran air mancur yang indah, serta Masjid Agung nan elok. Semuanya masih terekam jelas dalam ingatan.

Kereta Molor 2,5 Jam
Saya berangkat dari Pemalang pada 13 Mei sore hari, menumpang kereta Tawang Jaya. Menurut jadwal di tiket, kereta tiba di Stasiun Pasar Senen pada pukul 20.38 WIB. Masih sangat sore. Saya bisa melanjutkan perjalanan dengan KRL ke Palmerah, lalu menginap nyenyak di tempat adik. Sayang, kereta rupanya molor hingga 2,5 jam. Kereta baru masuk Senen hampir pukul setengah 12 malam!

Dari Senen ke Palmerah kita harus transit dan pindah kereta di Stasiun Tanah Abang. Khawatir KRL tujuan Bogor di Tanah Abang sudah berangkat, saya memilih menelepon seorang kawan sesama orang Pemalang yang jadi driver Gojek. Tapi ini bukan solusi bijak, karena kawan saya ini rupanya tidak hapal daerah Palmerah. OMG! Jadilah kami berhenti di SPBU Gelora dan menunggu adik saya menjemput.

Sampai kontrakan adik jam sudah menunjukkan nyaris pukul satu dini hari. Ah, nggak jadi deh tidur nyenyak semalaman. Tepat adzan Subuh saya terbangun, lalu mandi lanjut sarapan, dan jam enam sudah ke Slipi untuk mencari taksi ke bandara. Syukurlah perjalanan ke bandara berjalan lancar. Tak sampai setengah jam taksi sudah menurunkan saya di Terminal 1C Bandara Soekarno-Hatta.



Saya sepesawat dengan satu pemenang lain, yakni Mbak Katerina S. si empunya blog Travelerien. Tapi tunggu punya tunggu, Mbak Katerina rupanya baru masuk ruang tunggu pas penumpang penerbangan Batik Air ID 6872 Jakarta-Palembang dipersilakan masuk ke dalam pesawat. Jadilah saya baru bisa berkenalan dengannya di tangga pesawat.

Penerbangan berjalan lancar. Pesawat mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II tepat saat hape saya menunjukkan 09.40 WIB. Di lobi sudah menunggu Mas Jonny dari tim digital marketing Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan. Ternyata bukan cuma kami yang dijemput, ada Mas Bram dan Mas Dani yang punya janji temu dengan Ibu Irene Camelyn Siregar, Kepala Disparbud Sumsel. Lalu Mbak Relinda Puspita, pemenang satunya lagi, juga ikut menjemput kami.

Kemacetan langsung menyambut mobil yang kami tumpangi begitu keluar dari kawasan bandara. Palembang tengah ada proyek besar, membangun jaringan light rail transit (LRT) untuk menyukseskan gelaran Asian Games 2018. Jadilah jalanan protokol dari Talang Betutu hingga ke tengah kota menyempit karena di bagian tengah-tengahnya ada proyek pembuatan tiang-tiang pancang LRT.

FOTO: http://sumsel.tribunnews.com

Pindang Patin di Bawah Jembatan Ampera
Perjalanan kami di Palembang diawali dengan mengikuti kelas Akademi Berbagi. Hadir sebagai pembicara Mas Muhammad Arif Rahman, travel blogger top yang terpilih sebagai Indonesia's Best Travel Blog of the Year 2014 versi Skyscanner Indonesia dan Indonesia's Best Travel Blog of the Year 2015 versi Blogger Camp. Turut hadir pula Mas Sutiknyo alias Tekno Bolang (@Lostpacker) dan Mas Wira Nurmansyah, dua travel blogger yang tak kalah ngetop dari Mas Arif.

Usai acara, lanjut deh foto-foto bersama. Kemudian rombongan kami dipecah jadi dua mobil, mau diajak makan siang di warung makan terapung Sungai Musi di sebelah Pasar 16 Ilir. Mobil pertama berisi saya, Mbak Rien, Mbak Linda, Mas Jonny dan pengemudi. Sedangkan mobil kedua terlihat lebih sesak sengsara karena Mas Bolang, Mas Wira dan Mas Bram yang kesemuanya berbadan jumbo ada di sana. Ditambah Mas Dani, Mas Arif, Mbak Gladies, serta Mbak Ira sebagai tour guide sekaligus juru antar.

Mobil diparkir di halaman Ampera Center Point yang berseberangan persis dengan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Jembatan Ampera sudah mengintip di sela-sela atap banggunan, ditingkahi suara perahu ketek yang lalu lalang di Sungai Musi. Kami berjalan kaki menuju dermaga di bawah jembatan, disambut teriakan pemilik perahu ketek yang berteriak-teriak "Kemaro! Kemaro!" dan ibu-ibu pemilik lapak makanan berseru "Pindang! Pindang!"

Sembari menunggu rombongan mobil Mbak Ira, kami melihat-lihat suasana. Mbak Rien mengarahkan kamera DSLR-nya ke beberapa obyek, sedangkan Mbak Linda berjalan-jalan ke arah perahu-perahu ketek ditambatkan. Saya sendiri memilih duduk-duduk di bangku beton yang ada di dekat pagar pembatas dari besi, memandangi Jembatan Ampera nan gagah.

Sontak saya teringat beberapa kenangan menegangkan tapi lucu di sekitaran bawah Jembatan Ampera. Dulu di bawah jembatan ini ada terminal. Saya beberapa kali ke terminal tersebut, diajak Ibu mencari bus ke Baturaja. Calo di Terminal Ampera sangat agresif. Kalau cuma tas dipegangi sampai direbut supaya calon penumpang ikut ke busnya si calo sih sudah pemandangan biasa waktu itu.

Bapak saya pernah saling tendang dengan seorang calo gara-gara adu ngotot soal bus. Saya jadi saksi mata peristiwa tersebut. Lalu bulek saya malah pernah menangkap basah copet yang kedapatan merogoh kantongnya saat tengah menunggu bus. Dompet Bulek sudah tidak ada di tangan si copet, tapi karena dipiting sama Bulek akhirnya dia mengaku. Dompet pun dikembalikan dengan dongkol oleh partner in crime copet tersebut. Ini true story lho, bisa di-cross check ke Bulek saya yang tinggal dekat Pasar Batumarta VI, OKU Timur.

Setelah sekitar 10 menit menunggu, akhirnya rombongan Mbak Ira datang. Kami pun masuk ke Warung Makan Mbok War, sebuah warung makan terapung dengan perahu bercat merah. Menu pindang jadi favorit rombongan kami. Makan siang diiringi suara perahu ketek dan deburan air Sungai Musi, alangkah nikmatnya.


FOTO: Katerina S.


FOTO: Katerina S.


Warung makan terapungnya begini, tapi bukan di sini tempat kami makan siang :)




Ada beberapa jenis pindang yang disajikan di Warung Makan Mbok War. Saya sendiri memilih pindang patin, minumnya es jeruk. Tak seperti es jeruk kebanyakan yang berwarna kuning atau oranye, es jeruk Mbok War warnanya bening seperti air putih biasa. Namun rasanya segar bukan kepalang.

Pindangnya bagaimana?

Di mana-mana ya pindang itu rasanya asam pedas. Tapi sensasi makan di atas warung yang sebenarnya adalah sebuah perahu menjadi pengalaman berkesan bagi saya. Bayangkan kita makan sembari restorannya naik-turun bergoyang-goyang mengikuti gelombang air Sungai Musi. Oya, in my opinion es jeruknya juara. :)

International Musi Triboatton 2016
Lepas makan siang, kami dibawa Mbak Ira ke Ampera Center Point. Ini adalah tempat nongkrong favorit anak muda Palembang. Berupa bangunan dua lantai yang bagian bawahnya terdiri dari J.CO, KFC, Soto Kwali, Bebek Garang, dan sebuah rumah makan Padang. Di lantai dua ada convention hall yang dikenal dengan nama Ampera Convention Center. Acara pernikahan dan konser musik seringkali diadakan di sini.

Duduk-duduk di Ampera Center Point sangat asyik sekali, karena pada bagian belakangnya tepian Sungai Musi dengan Jembatan Ampera terlihat di kejauhan. Cocok untuk foto-foto atau sekedar ngobrol santai. Saya yang kurang tidur memesan espresso biar tidak mengantuk. Mbak Ira memesankan aneka donut sebagai teman minum.

Mendekati jam tiga, kami bergerak ke pelataran Benteng Kuto Besak untuk menyaksikan etape terakhir Internasional Musi Triboatton 2016. Sebuah tenda besar didirikan untuk menampung tetamu undangan dari berbagai kalangan. Lomba baru saja dimulai saat kami tiba di venue. Terlihat beberapa tim tengah melakukan pemanasan, sebagian lagi tampak mendayung perahu menuju lokasi start.

Baru beberapa tim berlomba, hujan deras disertai angin kencang menerjang. Penonton kocar-kacir, berlarian menuju ke tenda-tenda putih yang bertebaran di plaza Benteng Kuto Besak. Atlet dan jurnalis, juga kami para blogger undangan, berhamburan ke dalam tenda utama. Lomba tetap berlangsung.

Internasional Musi Triboatton adalah lomba balap perahu di atas Sungai Musi yang mempertandingkan tiga jenis perahu. Masing-masing tim diadu ketangkasannya dalam mengemudikan perahu kayak (canoe), perahu karet (rafting), dan perahu naga. Pada gelaran tahun ini sebanyak 16 tim dari tujuh negara ikut berpartisipasi. Selain tim-tim Indonesia, ada pula peserta dari Tiongkok, Makau, Philipina, Brunei Darussalam, Singapura dan Malaysia.


Foto bareng tim dayung Malaysia. "Saye nak ambik gambar dengan awak boleh ke?" :D

Saya sempat berbincang-bincang sejenak dengan ofisial tim Malaysia di tenda utama. Tim yang saat itu bertanding adalah tim dayung Polis Diraja Malaysia (PDRM), seluruhnya beranggotakan polisi. Menurut ofisial yang lupa saya tanya namanya tersebut, tim PDRM sudah berulang kali ikut serta dalam Musi Triboatton.

Untunglah hujan reda tak lama kemudian. Penonton kembali menyemut di tepian Sungai Musi untuk menyaksikan balap perahu ini. Sayang mendung tebal yang menggantung di atas langit membuat foto-foto hasil jepretan saya tak maksimal. Maklum, saya hanya berbekal ASUS Zenfone dan sebuah kamera digital. Dibikin minder sama blogger-blogger lain yang bawa kamera moncong panjang.

Begitu lomba selesai kami diajak ke hotel. Tapi di tengah jalan Mbak Ira mengajak mampir ke Kedai Harum, sebuah kedai etnik dengan sajian khas Palembang. Ada aneka pempek, burgo, laksan, tekwan, model, ragit, dan makanan khas lain. Saya yang sudah lama sekali tak makan model memesan makanan berkuah ini.

"Mumpung di Palembang," pikir saya teringat ucapan Mbak Ety di Facebook.


Photo courtesy Katerina S., taken by Relinda Puspita.


Mbak Rien rupanya penasaran berat dengan Pempek Tabok, jadilah ia pesan satu. Sedangkan Mbak Linda tertarik dengan ragit, makanan dari tepung pati dengan kuah santan kental. Minumannya kami sepakat ke satu pilihan, es sugu alias es yang berbahan susu campur gula merah.

Tepat adzan Magrib kami keluar dari Kedai Harum. Tujuan berikutnya Hotel Amaris tempat kami menginap di malam pertama.

Martabak HAR Palembang
Usai mandi dan istirahat sejenak, Mbak Ira kembali mengajak kami keluar. Tujuan pertama menikmati Martabak HAR. Ini martabak khas Palembang yang, konon, cita rasanya tidak ada yang menyamai di manapun. Menurut cerita sih resep Martabak HAR adalah kreasi Haji Abdul Rozak, inovator jajanan ini sekaligus pendiri Martabak HAR. HAR sendiri merupakan akronim Haji Abdul Rozak.

Martabak HAR sudah eksis sejak 7 Juli 1947. Haji Abdul Rozak adalah seorang perantauan keturunan India yang menikah dengan gadis Palembang. Kedai pertamanya berdiri di Jl. Jend. Sudirman, dekat bundaran air mancur depan Masjid Agung, yang masih tegak hingga saat ini. Ke sanalah kami diajak Mbak Ira.

Martabak HAR Palembang. Sumpah lemak nian rasonyo! :)

A photo posted by Eko Nurhuda (@bungeko_) on



Haji Abdul Rozak mempunyai delapan anak dan semuanya menjual Martabak HAR. Selain mereka, ada pula beberapa pihak yang membuka toko bernama Martabak HAR. Namun Martabak HAR asli bisa dilihat dari adanya foto Haji Abdul Rozak dalam banner, juga di dalam toko. Anak-anak muda yang suka suasana lebih modern dan gaul biasanya nongkrong di Martabak & Resto HAR milik cucu Haji Abdul Rozak di Jl. Jendral Sudirman No. 2269.

Begitu martabak di piring kami tandas, perjalanan pun dilanjutkan. Lagi-lagi kami ke plaza Benteng Kuto Besak, kali ini untuk menyaksikan keindahan Jembatan Ampera di waktu malam. Jembatan berusia lebih dari 50 tahun tersebut tampak indah oleh lampu warna-warni yang dipasang di seluruh badan jembatan.

Sesi wisata malam kami isi dengan foto-foto. Mas Wira, Mbak Katerina, Mas Dani, dan Mas Arif sibuk foto dari berbagai angle. Mas Arif sampai bawa tripod segala. Lainnya asyik selfie dan wefie berlatar belakang Ampera. Saya tak suka selfie, jadi hanya sekali saja menjepret jembatan untuk status media sosial, selebihnya duduk-duduk menyaksikan tingkah polah kawan-kawan lainnya.

Etapi lama-lama saya kepengen juga difoto berlatar belakang Jembatan Ampera. Karena baterai kamera Mbak Katerina habis, saya minta tolong Mas Wira untuk mengambil foto. Lumayanlah buat kenang-kenangan untuk anak-cucu nanti, hehehe...

Bersambung...

Sabtu, 21 Mei 2016

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi


JANGAN sekali-kali meremehkan uang receh. Uang pecahan-pecahan kecil dalam bentuk koin tersebut bisa sangat membantu dalam kondisi tanggap darurat. Setidaknya, beginilah pengalaman pribadi saya yang berulang kali terbantu oleh uang receh di saat-saat paling kritis dalam hidup.

"Maaf ya, Pak, kembaliannya uang receh," ujar kasir minimarket di Jl. Lingkar Selatan Pemalang tempat saya berbelanja pada suatu waktu.

Saat itu saya membelikan beberapa potong es krim untuk anak-anak, totalnya hanya kurang beberapa ribu rupiah dari Rp30.000. Saya pun menyodorkan dua lembar uang, masing-masing bergambar Sultan Mahmud Badaruddin II dan Oto Iskandar Di Nata, pada kasir yang kemudian memberi kembalian berupa koin-koin serupa perak mengilap.

Setibanya di rumah uang receh itu saya kumpulkan di satu tempat khusus. Saya dan istri sudah sepakat mau diapakan koin-koin itu. Disesuaikan dengan pecahannya, biasanya seperti ini cara kami mengalokasikan koin receh kembalian dari warung atau minimarket:


Pecahan Rp100 dan Rp200, Jatah Pengamen
Meski nilainya sangat kecil, tapi jika dikumpul-kumpulkan koin nominal Rp100 dan Rp200 masih sangat berharga. Ingat pepatah mengatakan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, bukan? Hitung-hitungan sebentar, jika kita punya 50 keping Rp100 maka total uangnya berjumlah Rp5.000. Di Pemalang, uang sebesar ini masih bisa dipakai membeli nasi sayur dengan lauk telur goreng lho.

Jangan lupakan pula masih banyak orang lain yang memandang uang koin Rp100 dan Rp200 sebagai harta berharga. Ambil contoh pengemis, atau pengamen yang di sini kerap kali mendatangi rumah demi rumah untuk mengumpulkan recehan sebagai penyambung hidup.

Nah, kami mengumpulkan uang-uang pecahan ini di satu wadah khusus sebagai 'dana cadangan' untuk memberi pengamen dan pengemis tersebut. Tentu saja memberinya tidak sekeping dua. Paling tidak sebesar Rp500 yang terdiri dari dua keping Rp200 ditambah sekeping Rp100, atau bisa juga tiga keping Rp100 plus sekeping Rp200. Tak jarang sampai Rp1.000, berupa lima keping Rp200-an.

Pecahan Rp500, Uang Parkir
Khusus koin Rp500 kami tempatkan di wadah lain yang lebih tertutup. Kadang di dalam toples kosong bekas wadah sosis, kadang pula hanya digeletakkan di salah satu sudut kosong dalam lemari buku. Kalau koinnya semakin banyak, istri akan memindahkannya ke sebuah dompet butut dan disimpan di lemari pakaian.

Ada dua kegunaan Rp500 ini. Pertama dan terutama, untuk membayar parkir. Jika bepergian ke kota, saya atau istri akan membuka lemari atau dompet butut tadi dan mengambil beberapa keping koin Rp500. Biaya parkir sepeda motor Rp1.000, sedangkan mobil Rp2.000. Dengan demikian kami tak perlu bingung mencari uang kecil di tempat parkir. Kedua, uang Rp500 akan dikeluarkan untuk pengemis atau pengamen kalau stok Rp100 dan Rp200 sudah habis.

Pecahan Rp1.000, Ditabung
Jika koin Rp100, Rp200, dan Rp500 dikhususkan untuk keperluan "remeh-temeh" alias uang khusus dibagi-bagi, maka koin bergambar angklung selalu kami simpan sebagai tabungan. Benar-benar tabungan dalam arti sebenar-benarnya, sehingga begitu masuk ke dalam celengan tidak kami keluarkan lagi kecuali dalam kondisi sangat mendesak.

Kami punya satu celengan khusus untuk menampung koin-koin Rp1.000 ini. Berapapun koin Rp1.000 yang kami dapatkan hari itu, semuanya langsung masuk ke dalam celengan. Saya bahkan tak jarang sengaja menukar beberapa ribu rupiah uang kertas dengan koin Rp1.000 pada tukang parkir kantor pos kenalan saya sebagai tabungan. Kadang cuma beberapa ribu, tapi pernah juga sampai puluhan ribu.

Oya, jangan bayangkan celengan khusus itu berupa celengan ayam dari tanah atau plastik itu ya. Kami hanya memakai botol minuman kemasan kosong, pernah pula ditaruh di dalam kaleng bekas biskuit lebaran. Baru setelah celengan ayam anak-anak dibongkar, kami pindahkan koin-koin tersebut ke bekas celengan anak-anak.

Ngirit ceritanya, hehehe...


Diselamatkan Koin Receh
Dari sekeping-dua keping, lama-kelamaan koin-koin Rp1.000 tersebut bertambah banyak. Kami tak pernah menghitung berapa perolehan koin Rp1.000 pada hari itu. Yang kami tahu dan selalu lakukan adalah, begitu mendapat kembalian koin Rp1.000, langsung deh uang itu masuk ke dalam celengan khusus. Kami lakukan itu sedisiplin mungkin.

Saya bukan pegawai yang punya gaji tetap, baik tetap waktu cairnya maupun tetap besar uangnya. Penghasilan saya setiap bulan selalu dalam tanda tanya: kapan dapatnya dan berapa banyaknya? Kondisi duit ngepas lebih akrab kami alami, sehingga strategi memperpanjang napas di tanggal tua sangat fasih kami jalani. Salah satunya menabung koin receh.

Kebiasaan ini sudah saya lakukan sejak jaman kuliah di Jogja dulu. Saya mulai mengumpulkan koin receh setelah membaca buku Kunci Emas karya LY Wiranaga yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2003. Salah satu bagian buku tersebut membahas tentang sesosok ibu yang di masa tuanya bisa berwisata keliling dunia tanpa mendapat sokongan sepeser pun dari anak-anaknya. Rahasianya? Selama berpuluh-puluh tahun ibu tersebut berpantang membelanjakan uang koin!

Saya tak muluk-muluk ingin berwisata keliling dunia seperti si ibu ketika kemudian ikut-ikutan menyimpan seluruh kembalian berupa koin yang saya terima. Saya hanya merasa, menyimpan koin adalah cara menabung paling tidak memberatkan yang bisa dilakukan oleh anak kos. Itu saja.

Pada suatu ketika, saya harus berterima kasih pada kisah inspiratif ibu dalam buku tersebut. Saat mesin ATM tak bisa lagi mengeluarkan uang karena saldo rekening limit, saya membuka tabungan receh. Saya pilah-pilah menurut pecahan, lalu dihitung dan dikumpulkan dalam plastik terpisah. Dengan menahan malu saya tukarkan koin-koin tersebut di tetangga yang punya usaha wartel dan warnet. Hasil penukaran tabungan koin itu bisa untuk bertahan hidup selama sebulan. Alhamdulillah...

Kisah tanggal tua saya semasa kuliah kurang-lebih sama seperti pengalaman Budi dalam video berikut ini. Makan seadanya, mengandalkan gratisan, sabun dan sampo diawet-awet, sampai memakai sepeda pinjaman ke kampus. Ngenes. Hehehe.



Itu kisah semasa masih kuliah. Setelah berkeluarga, pernah pula kami diselamatkan oleh simpanan koin receh. Ceritanya saldo kami habis, sedangkan artikel belum ada yang dimuat, naskah buku berkali-kali ditolak, sedangkan stok susu anak semakin menipis. Jadilah saya membongkar tabungan koin receh kami, lalu dengan muka merah membeli sekotak susu formula di sebuah minimarket dengan koin pecahan Rp500 dan Rp1.000.

Kejadian tersebut sudah berlalu lima tahun, tapi saya masih mengingatnya dengan jelas. Jelas sekali! Hahahaha...

Atur Kemudi agar Selamat Sampai Tujuan
Berangkat dari situ kami kemudian menyusun perencanaan keuangan agar tak sampai membongkar-bongkar tabungan koin receh lagi dalam kondisi tanggal tua. Langkah-langkah kami susun bersama, untuk dijalankan secara disiplin. Maklum, anak-anak sudah mulai sekolah sehingga perencanaan finansial keluarga harus lebih rapi.

Belajar dari pengalaman, ditambah hasil membaca sejumlah referensi dan mengamati lingkungan sekitar, kami punya keyakinan bahwa setiap manusia sejatinya sudah diberi rejeki yang cukup untuk kebutuhan hidup masing-masing. Yang membuat tidak cukup, manusia seringkali lebih mementingkan gaya hidup ketimbang kebutuhan hidup.

Berikut cara kami mengatur keuangan agar tak mengalami krisis tanggal tua akut. Semoga langkah-langkah berikut bermanfaat bagi kita semua.

1. Menentukan skala prioritas
Orang hidup banyak kebutuhan, saya setuju itu. Tapi kita bisa memilah-milah semuanya menjadi tiga tingkatan: utama, penting dan tidak penting. Istilah kerennya kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Fokuslah mula-mula pada kebutuhan primer seperti pangan. Ini prioritas. Kecukupan pangan menjamin kita tenang sehingga bisa memikirkan kebutuhan lain-lain.

Tak perlu mewah-mewah, terpenting ada nasi dulu. Soal sayur dan lauk bisa disesuaikan kok. Kami sendiri mendidik anak-anak untuk menyukai segala jenis makanan dari dapur sendiri, baik hanya tempe goreng ataupun ayam bakar. Lalu setelah urusan pangan ada lagi kebutuhan sekolah anak yang tak bisa ditawar.

Bagi saya sendiri yang penting iuran Speedy terbayar tepat waktu setiap bulan. Bisa gawat kalau sampai telat, karena terlambat sehari berarti denda Rp5.000 dan terlalu sering menunggak bisa membuat jaringan internet diputus. Saya tak bisa berjualan dan bekerja tanpa internet.

2. Atur rencana belanja bulanan, dan patuhi dengan disiplin
Istri saya sangat rajin sekali menyusun daftar kebutuhan bulanan. Berdasarkan kebutuhan dan pengeluaran bulan lalu, ia bisa memperkirakan berapa kebutuhan kami pada bulan berikutnya, apa-apa saja barang yang harus dibeli, dan seberapa banyak jumlahnya.

Di nomor-nomor awal tertera kebutuhan-kebutuhan pokok yang harus dipenuhi seperti belanja dapur, kebutuhan mandi dan cuci, uang sekolah anak, tagihan ini-itu. Barulah disusul kebutuhan lain yang perlu, namun tidak terlalu mendesak. Dan di nomor-nomor buncit ada pos-pos yang masuk kebutuhan tidak penting namun perlu juga, misalnya makan di luar atau berwisata.

Dengan begitu kami jadi tahu berapa banyak uang yang kami butuhkan dalam sebulan tersebut. Kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok berapa, kalau kebutuhan-kebutuhan sekunder dipenuhi jadi berapa, dan jika seluruh yang ada dalam daftar dipenuhi berapa. Tahan nafsu sedikit saja, maka uang yang seharusnya dibelanjakan untuk kebutuhan tersier bisa berubah jadi tabungan, atau setidaknya dana cadangan darurat.

3. Hanya berbelanja sesuai kebutuhan, bukan keinginan
Kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, rejeki yang diberikan Allah pada manusia tak akan kurang. Hanya saja kita kerap lebih suka memperturutkan hawa nafsu, sehingga mementingkan gaya hidup alih-alih kebutuhan hidup. Akhirnya ya harus tambal sulam karena sampai kapanpun hawa nafsu itu tidak akan pernah terpuaskan, sementara penghasilan kita ada batasnya.

Kami sadari kalau ingin selamat kami hanya perlu mengeluarkan uang untuk apa yang kami butuhkan. Hindari membeli sesuatu hanya berdasarkan keinginan. Pergi ke toko niatnya membeli beras dan gula, tapi karena tergiur promosi beli dua gratis satu akhirnya serenteng kopi sachet ikut dibawa pulang. Padahal di rumah sudah ada kopi bubuk. Tentu saja ini pemborosan.

Ada sales panci datang ke rumah, menawarkan cicilan ringan dengan tempo setahun, eh, tertarik beli. Jadilah terikat hutang selama setahun untuk panci baru, padahal panci lama masih bisa dipergunakan dengan baik. Ini pengeluaran mubazir yang semestinya bisa dihindari.

"Tapi kan pancinya bisa disimpan, tidak akan rusak." Betul. Tapi kenapa mau terikat hutang selama setahun untuk barang yang tidak kita diperlukan benar?

Langkah paling mudah untuk meredam godaan keinginan saat berbelanja adalah dengan membuat daftar belanja. Catat apa-apa saja yang dibutuhkan saat itu, dan patuhilah daftar tersebut. Akan lebih baik lagi kalau sudah tahu kisaran harga sehingga dapat membawa uang pas.


4. Pentingkan fungsi, bukan gengsi
Poin-poin di atas lantas membuat kami lebih mempertimbangkan fungsi ketimbang gengsi setiap kali hendak membeli sebuah barang. Saat membeli sepeda motor, contohnya, saya tak tertarik tawaran promo kredit varian terbaru dari saudara yang bekerja di perusahaan pembiayaan. Alih-alih, saya lebih suka membeli sepeda motor lama milik kakak ipar yang sudah tidak dipakai lagi sejak ia mengambil kredit sepeda motor baru.

Begitu pula ketika saya membeli handphone pada tahun 2010. Karena hanya butuh perangkat untuk menelepon dan berkirim SMS, saya cukup mengambil sebuah hape Samsung seharga Rp150.000 ketimbang Blackberry yang tengah jadi primadona. Barulah ketika kebutuhan toko online yang kami kelola menuntut tambahan fasilitas layanan konsumen menggunakan Blackberry Messenger (BBM), kami membeli Blackberry pertama. Kemudian disusul yang kedua tak sampai setahun berselang.

Kini, ketika layanan aplikasi chatting lain juga dibutuhkan, kami membeli smartphone Android yang masing-masing dipegang saya dan istri. Ini semua dibeli berdasarkan apa yang kami butuhkan saat itu, dan semuanya bertujuan mendukung toko online kami yang mana merupakan sumber penghasilan keluarga. Jadi, boleh dibilang ini pengeluaran produktif.

5. Cari toko yang menawarkan harga terbaik
Bagi istri saya, selisih harga Rp1.000 sangat berarti. Ketika tengah berbelanja di sebuah minimarket dan saya ingatkan deterjen mau habis, ia bilang, "Mending beli di pasar aja." Rupanya harga deterjen di toko langganannya yang ada di pasar lebih murah sekian rupiah. Begitu pula dengan kebutuhan-kebutuhan lain. Istri saya rela berpindah-pindah toko demi menghemat uang belanja.

Untuk keperluan lain di luar urusan dapur dan mandi-cuci, utamanya pakaian atau gadget, saya lebih suka berbelanja online. Pemalang kota kecil, kita harus menunggu lama untuk mendapatkan pakaian model terbaru atau gadget terkini. Cara cepat nan mudah untuk mendapatkan produk kekinian adalah berbelanja secara online. Tinggal tunggu 2-3 hari, barang sudah sampai ke rumah.

Tentu saja saya pilih toko online atau marketplace yang memberi harga terbaik, menawarkan diskon menarik, dengan seabrek fasilitas menguntungkan. Salah satunya adalah MatahariMall.com. Mau beli apa saja tersedia di sini. Hape, laptop, pakaian anak, sampai diapers atau susu bayi semuanya ada. Tinggal pilih.


Saya punya akun di Matahari Mall, sehingga selalu mendapat pemberitahuan program promosi apa saja yang tengah berlangsung di marketplace ini. Misalnya saja program TTS alias Tanggal Tua Surprise yang menawarkan diskon gila-gilaan untuk produk-produk tertentu. Lebih senangnya lagi, Matahari Mall memberikan ongkos kirim gratis ke seluruh Indonesia. Tambah hemat lagi, bukan?

Satu lagi yang bagi saya tak kalah penting, belanja kita di Matahari Mall bisa dibayar melalui Kantor Pos atau Indomaret. Tak perlu lagi jauh-jauh datang ke mesin ATM atau antri panjang di teller bank. Sedangkan bagi yang di kotanya ada gerai Matahari Department Store, barang pesanan dapat diambil langsung ke store Matahari terdekat. Sejauh ini MatahariMall.com menjadi satu-satunya eCommerce yang menerapkan sistem Online-to-Offline (O2O) begini.

Cukupi Sesamamu, Maka Dirimu Akan Dicukupi
Selain kelima langkah teknis tersebut, ada satu strategi lagi yang kami lakukan sebagai pelengkap ikhtiar: sedekah. Tak peduli tengah lapang atau sempit, selalu kami sisihkan rejeki untuk bersedekah. Ini merupakan bentuk rasa syukur kami atas rezeki yang diberikan Allah, sekaligus kepedulian terhadap sesama yang lebih membutuhkan.

Kami percaya pada janji Allah, bahwa orang-orang yang membantu sesama akan dibantu oleh-Nya. Cukupi kekurangan saudaramu, maka kekuranganmu akan dicukupi. Demikian ajaran yang saya percaya betul kebenarannya. Bukan percaya asal percaya, karena beberapa kali saya pernah mengalaminya sendiri. Di antara semuanya, dua kejadian ini yang masih saya ingat betul.

1. Sedekah langsung dibalas, malah lebih banyak!
Saya mengikuti akun Twitter gerakan sosial Sedekah Rombongan (SR) yang digagas oleh Saptuari Sugiharto. Di akun tersebut kerap di-share foto-foto pasien dampingan SR yang dana pengobatannya 100% dari berasal dari hasil sumbangan donatur di seluruh Indonesia. Baik yang menyumbang puluhan atau ratusan ribu, sampai yang memberi jutaan rupiah.

Lama-kelamaan saya tergerak ikut membantu. Lalu sembari sarapan saya mengirimkan seluruh hasil penjualan pada hari sebelumnya ke rekening SR. Tak banyak sih, tapi ya lumayan juga untuk ukuran pedagang online kecil seperti saya. Omset satu hari penuh lho, dan kebetulan kemarin lebih banyak dari biasanya.

Usai sarapan, seorang bapak datang bertamu. Rupanya bapak tersebut teman sekantor pembeli saya yang datang tempo hari. "Boleh lihat-lihat koleksinya, Mas? Saya punya beberapa koleksi, pengen saya lengkapi," ujar si Bapak.

Saya pun mengeluarkan dagangan yang tersusun rapi dalam album-album uang kertas. Ada pula yang diletakkan dalam wadah-wadah plastik bekas tempat jajanan anak-anak. Si Bapak melihat-lihat, memilih beberapa dan disisihkan di sebelah tangannya, lalu meminta saya menghitung. Saya menyebutkan nominal, kemudian si Bapak mengeluarkan dompetnya untuk membayar. Lunas, tanpa menawar.

Transaksi itu berlangsung sangat cepat. Hanya sekitar seperempat jam kemudian si Bapak sudah pamit karena harus kembali ke kantor. Begitu si Bapak menghilang dari pandangan, saya membereskan dagangan yang berceceran di atas meja tamu, lalu menghitung uang hasil transaksi pagi itu. Ada beberapa lembar Rp100.000 dan Rp50.000, bercampur dengan lembaran-lembaran berwarna hijau dan ungu.

Alamak! Hitung punya hitung, hasil transaksi tersebut besarnya dua kali lipat dari nominal uang yang saya transfer ke rekening SR tepat sebelum kedatangan si Bapak. Allahu akbar!

2. Uang dipinjam teman, dikembalikan oleh Allah dalam bentuk pekerjaan
Suatu ketika seorang teman mengirim SMS hendak meminjam uang pada saya. Ia sedang butuh uang segera karena adiknya harus membayar uang sekolah hari itu juga. Ia sudah berusaha meminjam ke tetangga kanan-kiri, tapi hingga saat itu belum ada yang memberi pinjaman. Terpaksa ia meminjam pada saya yang berjarak ratusan kilometer dari tempat tinggalnya.

Tak banyak sih yang dipinjam, ia hanya menyebut angka Rp800.000. Masalahnya, saldo di rekening saya hanya tersisa Rp500.000. Itu bekal kami yang tersisa hingga ada pemasukan lagi yang entah kapan datangnya. Saya lantas berunding dengan istri, lalu kami bilang pada teman tersebut bahwa kami hanya bisa meminjamkan Rp450.000. Sisanya silakan usahakan lagi.

Teman saya tak punya rekening bank, jadi uang dikirim lewat wesel pos. Dengan uang pinjaman dari kami itulah biaya sekolah adik teman saya tersebut terbayarkan. Sedangkan untuk kekurangannya, teman saya berhasil melobi pihak sekolah agar memberikan tenggat waktu hingga beberapa bulan ke depan. Dicicil dua kali ceritanya. Kami ikut senang mendengarnya.

Beberapa hari setelah itu, sebuah telepon masuk ke hape saya. Rupanya teman saya di Solo sedang butuh tenaga content writer. "Kamu nulis untuk blog ini ya. Sehari 4-5 judul saja nggak apa-apa, nanti aku buatkan username dan password biar kamu bisa langsung masuk ke dashboard," katanya tanpa basa-basi.

Untuk pekerjaan tersebut, saya diberi fee Rp 2 juta sebulan. Alhamdulillah...

*****

Saya selalu percaya bahwa Allah menjamin rezeki tiap-tiap makhluk hidup ciptaannya. Karenanya saya tak terlalu risau ketika tanggal tua dan tak ada uang sepeser pun di kantong maupun saldo rekening. Saya percaya, Allah pasti akan memberikan rezekinya di saat saya benar-benar membutuhkkan. Beberapa kali terjadi, saat kami butuh uang saat itulah ada saja yang memberi uang dalam berbagai bentuk.

Saya juga percaya, dalam rezeki saya ada sebagian hak orang lain yang dititipkan Allah. Karenanya saya dan istri selalu berusaha membantu siapapun yang datang meminta bantuan, baik kami sedang lapang maupun dalam kondisi sama-sama tanggal tua. Uang yang kami dapat adalah pemberian Allah, maka bagaimanapun cara dan kapanpun Ia memintanya kembali harus kami berikan dengan tulus ikhlas.

Semoga bermanfaat!

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi


JANGAN sekali-kali meremehkan uang receh. Uang pecahan-pecahan kecil dalam bentuk koin tersebut bisa sangat membantu dalam kondisi tanggap darurat. Setidaknya, beginilah pengalaman pribadi saya yang berulang kali terbantu oleh uang receh di saat-saat paling kritis dalam hidup.

"Maaf ya, Pak, kembaliannya uang receh," ujar kasir minimarket di Jl. Lingkar Selatan Pemalang tempat saya berbelanja pada suatu waktu.

Saat itu saya membelikan beberapa potong es krim untuk anak-anak, totalnya hanya kurang beberapa ribu rupiah dari Rp30.000. Saya pun menyodorkan dua lembar uang, masing-masing bergambar Sultan Mahmud Badaruddin II dan Oto Iskandar Di Nata, pada kasir yang kemudian memberi kembalian berupa koin-koin serupa perak mengilap.

Setibanya di rumah uang receh itu saya kumpulkan di satu tempat khusus. Saya dan istri sudah sepakat mau diapakan koin-koin itu. Disesuaikan dengan pecahannya, biasanya seperti ini cara kami mengalokasikan koin receh kembalian dari warung atau minimarket:


Pecahan Rp100 dan Rp200, Jatah Pengamen
Meski nilainya sangat kecil, tapi jika dikumpul-kumpulkan koin nominal Rp100 dan Rp200 masih sangat berharga. Ingat pepatah mengatakan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, bukan? Hitung-hitungan sebentar, jika kita punya 50 keping Rp100 maka total uangnya berjumlah Rp5.000. Di Pemalang, uang sebesar ini masih bisa dipakai membeli nasi sayur dengan lauk telur goreng lho.

Jangan lupakan pula masih banyak orang lain yang memandang uang koin Rp100 dan Rp200 sebagai harta berharga. Ambil contoh pengemis, atau pengamen yang di sini kerap kali mendatangi rumah demi rumah untuk mengumpulkan recehan sebagai penyambung hidup.

Nah, kami mengumpulkan uang-uang pecahan ini di satu wadah khusus sebagai 'dana cadangan' untuk memberi pengamen dan pengemis tersebut. Tentu saja memberinya tidak sekeping dua. Paling tidak sebesar Rp500 yang terdiri dari dua keping Rp200 ditambah sekeping Rp100, atau bisa juga tiga keping Rp100 plus sekeping Rp200. Tak jarang sampai Rp1.000, berupa lima keping Rp200-an.

Pecahan Rp500, Uang Parkir
Khusus koin Rp500 kami tempatkan di wadah lain yang lebih tertutup. Kadang di dalam toples kosong bekas wadah sosis, kadang pula hanya digeletakkan di salah satu sudut kosong dalam lemari buku. Kalau koinnya semakin banyak, istri akan memindahkannya ke sebuah dompet butut dan disimpan di lemari pakaian.

Ada dua kegunaan Rp500 ini. Pertama dan terutama, untuk membayar parkir. Jika bepergian ke kota, saya atau istri akan membuka lemari atau dompet butut tadi dan mengambil beberapa keping koin Rp500. Biaya parkir sepeda motor Rp1.000, sedangkan mobil Rp2.000. Dengan demikian kami tak perlu bingung mencari uang kecil di tempat parkir. Kedua, uang Rp500 akan dikeluarkan untuk pengemis atau pengamen kalau stok Rp100 dan Rp200 sudah habis.

Pecahan Rp1.000, Ditabung
Jika koin Rp100, Rp200, dan Rp500 dikhususkan untuk keperluan "remeh-temeh" alias uang khusus dibagi-bagi, maka koin bergambar angklung selalu kami simpan sebagai tabungan. Benar-benar tabungan dalam arti sebenar-benarnya, sehingga begitu masuk ke dalam celengan tidak kami keluarkan lagi kecuali dalam kondisi sangat mendesak.

Kami punya satu celengan khusus untuk menampung koin-koin Rp1.000 ini. Berapapun koin Rp1.000 yang kami dapatkan hari itu, semuanya langsung masuk ke dalam celengan. Saya bahkan tak jarang sengaja menukar beberapa ribu rupiah uang kertas dengan koin Rp1.000 pada tukang parkir kantor pos kenalan saya sebagai tabungan. Kadang cuma beberapa ribu, tapi pernah juga sampai puluhan ribu.

Oya, jangan bayangkan celengan khusus itu berupa celengan ayam dari tanah atau plastik itu ya. Kami hanya memakai botol minuman kemasan kosong, pernah pula ditaruh di dalam kaleng bekas biskuit lebaran. Baru setelah celengan ayam anak-anak dibongkar, kami pindahkan koin-koin tersebut ke bekas celengan anak-anak.

Ngirit ceritanya, hehehe...


Diselamatkan Koin Receh
Dari sekeping-dua keping, lama-kelamaan koin-koin Rp1.000 tersebut bertambah banyak. Kami tak pernah menghitung berapa perolehan koin Rp1.000 pada hari itu. Yang kami tahu dan selalu lakukan adalah, begitu mendapat kembalian koin Rp1.000, langsung deh uang itu masuk ke dalam celengan khusus. Kami lakukan itu sedisiplin mungkin.

Saya bukan pegawai yang punya gaji tetap, baik tetap waktu cairnya maupun tetap besar uangnya. Penghasilan saya setiap bulan selalu dalam tanda tanya: kapan dapatnya dan berapa banyaknya? Kondisi duit ngepas lebih akrab kami alami, sehingga strategi memperpanjang napas di tanggal tua sangat fasih kami jalani. Salah satunya menabung koin receh.

Kebiasaan ini sudah saya lakukan sejak jaman kuliah di Jogja dulu. Saya mulai mengumpulkan koin receh setelah membaca buku Kunci Emas karya LY Wiranaga yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2003. Salah satu bagian buku tersebut membahas tentang sesosok ibu yang di masa tuanya bisa berwisata keliling dunia tanpa mendapat sokongan sepeser pun dari anak-anaknya. Rahasianya? Selama berpuluh-puluh tahun ibu tersebut berpantang membelanjakan uang koin!

Saya tak muluk-muluk ingin berwisata keliling dunia seperti si ibu ketika kemudian ikut-ikutan menyimpan seluruh kembalian berupa koin yang saya terima. Saya hanya merasa, menyimpan koin adalah cara menabung paling tidak memberatkan yang bisa dilakukan oleh anak kos. Itu saja.

Pada suatu ketika, saya harus berterima kasih pada kisah inspiratif ibu dalam buku tersebut. Saat mesin ATM tak bisa lagi mengeluarkan uang karena saldo rekening limit, saya membuka tabungan receh. Saya pilah-pilah menurut pecahan, lalu dihitung dan dikumpulkan dalam plastik terpisah. Dengan menahan malu saya tukarkan koin-koin tersebut di tetangga yang punya usaha wartel dan warnet. Hasil penukaran tabungan koin itu bisa untuk bertahan hidup selama sebulan. Alhamdulillah...

Kisah tanggal tua saya semasa kuliah kurang-lebih sama seperti pengalaman Budi dalam video berikut ini. Makan seadanya, mengandalkan gratisan, sabun dan sampo diawet-awet, sampai memakai sepeda pinjaman ke kampus. Ngenes. Hehehe.



Itu kisah semasa masih kuliah. Setelah berkeluarga, pernah pula kami diselamatkan oleh simpanan koin receh. Ceritanya saldo kami habis, sedangkan artikel belum ada yang dimuat, naskah buku berkali-kali ditolak, sedangkan stok susu anak semakin menipis. Jadilah saya membongkar tabungan koin receh kami, lalu dengan muka merah membeli sekotak susu formula di sebuah minimarket dengan koin pecahan Rp500 dan Rp1.000.

Kejadian tersebut sudah berlalu lima tahun, tapi saya masih mengingatnya dengan jelas. Jelas sekali! Hahahaha...

Atur Kemudi agar Selamat Sampai Tujuan
Berangkat dari situ kami kemudian menyusun perencanaan keuangan agar tak sampai membongkar-bongkar tabungan koin receh lagi dalam kondisi tanggal tua. Langkah-langkah kami susun bersama, untuk dijalankan secara disiplin. Maklum, anak-anak sudah mulai sekolah sehingga perencanaan finansial keluarga harus lebih rapi.

Belajar dari pengalaman, ditambah hasil membaca sejumlah referensi dan mengamati lingkungan sekitar, kami punya keyakinan bahwa setiap manusia sejatinya sudah diberi rejeki yang cukup untuk kebutuhan hidup masing-masing. Yang membuat tidak cukup, manusia seringkali lebih mementingkan gaya hidup ketimbang kebutuhan hidup.

Berikut cara kami mengatur keuangan agar tak mengalami krisis tanggal tua akut. Semoga langkah-langkah berikut bermanfaat bagi kita semua.

1. Menentukan skala prioritas
Orang hidup banyak kebutuhan, saya setuju itu. Tapi kita bisa memilah-milah semuanya menjadi tiga tingkatan: utama, penting dan tidak penting. Istilah kerennya kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Fokuslah mula-mula pada kebutuhan primer seperti pangan. Ini prioritas. Kecukupan pangan menjamin kita tenang sehingga bisa memikirkan kebutuhan lain-lain.

Tak perlu mewah-mewah, terpenting ada nasi dulu. Soal sayur dan lauk bisa disesuaikan kok. Kami sendiri mendidik anak-anak untuk menyukai segala jenis makanan dari dapur sendiri, baik hanya tempe goreng ataupun ayam bakar. Lalu setelah urusan pangan ada lagi kebutuhan sekolah anak yang tak bisa ditawar.

Bagi saya sendiri yang penting iuran Speedy terbayar tepat waktu setiap bulan. Bisa gawat kalau sampai telat, karena terlambat sehari berarti denda Rp5.000 dan terlalu sering menunggak bisa membuat jaringan internet diputus. Saya tak bisa berjualan dan bekerja tanpa internet.

2. Atur rencana belanja bulanan, dan patuhi dengan disiplin
Istri saya sangat rajin sekali menyusun daftar kebutuhan bulanan. Berdasarkan kebutuhan dan pengeluaran bulan lalu, ia bisa memperkirakan berapa kebutuhan kami pada bulan berikutnya, apa-apa saja barang yang harus dibeli, dan seberapa banyak jumlahnya.

Di nomor-nomor awal tertera kebutuhan-kebutuhan pokok yang harus dipenuhi seperti belanja dapur, kebutuhan mandi dan cuci, uang sekolah anak, tagihan ini-itu. Barulah disusul kebutuhan lain yang perlu, namun tidak terlalu mendesak. Dan di nomor-nomor buncit ada pos-pos yang masuk kebutuhan tidak penting namun perlu juga, misalnya makan di luar atau berwisata.

Dengan begitu kami jadi tahu berapa banyak uang yang kami butuhkan dalam sebulan tersebut. Kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok berapa, kalau kebutuhan-kebutuhan sekunder dipenuhi jadi berapa, dan jika seluruh yang ada dalam daftar dipenuhi berapa. Tahan nafsu sedikit saja, maka uang yang seharusnya dibelanjakan untuk kebutuhan tersier bisa berubah jadi tabungan, atau setidaknya dana cadangan darurat.

3. Hanya berbelanja sesuai kebutuhan, bukan keinginan
Kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, rejeki yang diberikan Allah pada manusia tak akan kurang. Hanya saja kita kerap lebih suka memperturutkan hawa nafsu, sehingga mementingkan gaya hidup alih-alih kebutuhan hidup. Akhirnya ya harus tambal sulam karena sampai kapanpun hawa nafsu itu tidak akan pernah terpuaskan, sementara penghasilan kita ada batasnya.

Kami sadari kalau ingin selamat kami hanya perlu mengeluarkan uang untuk apa yang kami butuhkan. Hindari membeli sesuatu hanya berdasarkan keinginan. Pergi ke toko niatnya membeli beras dan gula, tapi karena tergiur promosi beli dua gratis satu akhirnya serenteng kopi sachet ikut dibawa pulang. Padahal di rumah sudah ada kopi bubuk. Tentu saja ini pemborosan.

Ada sales panci datang ke rumah, menawarkan cicilan ringan dengan tempo setahun, eh, tertarik beli. Jadilah terikat hutang selama setahun untuk panci baru, padahal panci lama masih bisa dipergunakan dengan baik. Ini pengeluaran mubazir yang semestinya bisa dihindari.

"Tapi kan pancinya bisa disimpan, tidak akan rusak." Betul. Tapi kenapa mau terikat hutang selama setahun untuk barang yang tidak kita diperlukan benar?

Langkah paling mudah untuk meredam godaan keinginan saat berbelanja adalah dengan membuat daftar belanja. Catat apa-apa saja yang dibutuhkan saat itu, dan patuhilah daftar tersebut. Akan lebih baik lagi kalau sudah tahu kisaran harga sehingga dapat membawa uang pas.


4. Pentingkan fungsi, bukan gengsi
Poin-poin di atas lantas membuat kami lebih mempertimbangkan fungsi ketimbang gengsi setiap kali hendak membeli sebuah barang. Saat membeli sepeda motor, contohnya, saya tak tertarik tawaran promo kredit varian terbaru dari saudara yang bekerja di perusahaan pembiayaan. Alih-alih, saya lebih suka membeli sepeda motor lama milik kakak ipar yang sudah tidak dipakai lagi sejak ia mengambil kredit sepeda motor baru.

Begitu pula ketika saya membeli handphone pada tahun 2010. Karena hanya butuh perangkat untuk menelepon dan berkirim SMS, saya cukup mengambil sebuah hape Samsung seharga Rp150.000 ketimbang Blackberry yang tengah jadi primadona. Barulah ketika kebutuhan toko online yang kami kelola menuntut tambahan fasilitas layanan konsumen menggunakan Blackberry Messenger (BBM), kami membeli Blackberry pertama. Kemudian disusul yang kedua tak sampai setahun berselang.

Kini, ketika layanan aplikasi chatting lain juga dibutuhkan, kami membeli smartphone Android yang masing-masing dipegang saya dan istri. Ini semua dibeli berdasarkan apa yang kami butuhkan saat itu, dan semuanya bertujuan mendukung toko online kami yang mana merupakan sumber penghasilan keluarga. Jadi, boleh dibilang ini pengeluaran produktif.

5. Cari toko yang menawarkan harga terbaik
Bagi istri saya, selisih harga Rp1.000 sangat berarti. Ketika tengah berbelanja di sebuah minimarket dan saya ingatkan deterjen mau habis, ia bilang, "Mending beli di pasar aja." Rupanya harga deterjen di toko langganannya yang ada di pasar lebih murah sekian rupiah. Begitu pula dengan kebutuhan-kebutuhan lain. Istri saya rela berpindah-pindah toko demi menghemat uang belanja.

Untuk keperluan lain di luar urusan dapur dan mandi-cuci, utamanya pakaian atau gadget, saya lebih suka berbelanja online. Pemalang kota kecil, kita harus menunggu lama untuk mendapatkan pakaian model terbaru atau gadget terkini. Cara cepat nan mudah untuk mendapatkan produk kekinian adalah berbelanja secara online. Tinggal tunggu 2-3 hari, barang sudah sampai ke rumah.

Tentu saja saya pilih toko online atau marketplace yang memberi harga terbaik, menawarkan diskon menarik, dengan seabrek fasilitas menguntungkan. Salah satunya adalah MatahariMall.com. Mau beli apa saja tersedia di sini. Hape, laptop, pakaian anak, sampai diapers atau susu bayi semuanya ada. Tinggal pilih.


Saya punya akun di Matahari Mall, sehingga selalu mendapat pemberitahuan program promosi apa saja yang tengah berlangsung di marketplace ini. Misalnya saja program TTS alias Tanggal Tua Surprise yang menawarkan diskon gila-gilaan untuk produk-produk tertentu. Lebih senangnya lagi, Matahari Mall memberikan ongkos kirim gratis ke seluruh Indonesia. Tambah hemat lagi, bukan?

Satu lagi yang bagi saya tak kalah penting, belanja kita di Matahari Mall bisa dibayar melalui Kantor Pos atau Indomaret. Tak perlu lagi jauh-jauh datang ke mesin ATM atau antri panjang di teller bank. Sedangkan bagi yang di kotanya ada gerai Matahari Department Store, barang pesanan dapat diambil langsung ke store Matahari terdekat. Sejauh ini MatahariMall.com menjadi satu-satunya eCommerce yang menerapkan sistem Online-to-Offline (O2O) begini.

Cukupi Sesamamu, Maka Dirimu Akan Dicukupi
Selain kelima langkah teknis tersebut, ada satu strategi lagi yang kami lakukan sebagai pelengkap ikhtiar: sedekah. Tak peduli tengah lapang atau sempit, selalu kami sisihkan rejeki untuk bersedekah. Ini merupakan bentuk rasa syukur kami atas rezeki yang diberikan Allah, sekaligus kepedulian terhadap sesama yang lebih membutuhkan.

Kami percaya pada janji Allah, bahwa orang-orang yang membantu sesama akan dibantu oleh-Nya. Cukupi kekurangan saudaramu, maka kekuranganmu akan dicukupi. Demikian ajaran yang saya percaya betul kebenarannya. Bukan percaya asal percaya, karena beberapa kali saya pernah mengalaminya sendiri. Di antara semuanya, dua kejadian ini yang masih saya ingat betul.

1. Sedekah langsung dibalas, malah lebih banyak!
Saya mengikuti akun Twitter gerakan sosial Sedekah Rombongan (SR) yang digagas oleh Saptuari Sugiharto. Di akun tersebut kerap di-share foto-foto pasien dampingan SR yang dana pengobatannya 100% dari berasal dari hasil sumbangan donatur di seluruh Indonesia. Baik yang menyumbang puluhan atau ratusan ribu, sampai yang memberi jutaan rupiah.

Lama-kelamaan saya tergerak ikut membantu. Lalu sembari sarapan saya mengirimkan seluruh hasil penjualan pada hari sebelumnya ke rekening SR. Tak banyak sih, tapi ya lumayan juga untuk ukuran pedagang online kecil seperti saya. Omset satu hari penuh lho, dan kebetulan kemarin lebih banyak dari biasanya.

Usai sarapan, seorang bapak datang bertamu. Rupanya bapak tersebut teman sekantor pembeli saya yang datang tempo hari. "Boleh lihat-lihat koleksinya, Mas? Saya punya beberapa koleksi, pengen saya lengkapi," ujar si Bapak.

Saya pun mengeluarkan dagangan yang tersusun rapi dalam album-album uang kertas. Ada pula yang diletakkan dalam wadah-wadah plastik bekas tempat jajanan anak-anak. Si Bapak melihat-lihat, memilih beberapa dan disisihkan di sebelah tangannya, lalu meminta saya menghitung. Saya menyebutkan nominal, kemudian si Bapak mengeluarkan dompetnya untuk membayar. Lunas, tanpa menawar.

Transaksi itu berlangsung sangat cepat. Hanya sekitar seperempat jam kemudian si Bapak sudah pamit karena harus kembali ke kantor. Begitu si Bapak menghilang dari pandangan, saya membereskan dagangan yang berceceran di atas meja tamu, lalu menghitung uang hasil transaksi pagi itu. Ada beberapa lembar Rp100.000 dan Rp50.000, bercampur dengan lembaran-lembaran berwarna hijau dan ungu.

Alamak! Hitung punya hitung, hasil transaksi tersebut besarnya dua kali lipat dari nominal uang yang saya transfer ke rekening SR tepat sebelum kedatangan si Bapak. Allahu akbar!

2. Uang dipinjam teman, dikembalikan oleh Allah dalam bentuk pekerjaan
Suatu ketika seorang teman mengirim SMS hendak meminjam uang pada saya. Ia sedang butuh uang segera karena adiknya harus membayar uang sekolah hari itu juga. Ia sudah berusaha meminjam ke tetangga kanan-kiri, tapi hingga saat itu belum ada yang memberi pinjaman. Terpaksa ia meminjam pada saya yang berjarak ratusan kilometer dari tempat tinggalnya.

Tak banyak sih yang dipinjam, ia hanya menyebut angka Rp800.000. Masalahnya, saldo di rekening saya hanya tersisa Rp500.000. Itu bekal kami yang tersisa hingga ada pemasukan lagi yang entah kapan datangnya. Saya lantas berunding dengan istri, lalu kami bilang pada teman tersebut bahwa kami hanya bisa meminjamkan Rp450.000. Sisanya silakan usahakan lagi.

Teman saya tak punya rekening bank, jadi uang dikirim lewat wesel pos. Dengan uang pinjaman dari kami itulah biaya sekolah adik teman saya tersebut terbayarkan. Sedangkan untuk kekurangannya, teman saya berhasil melobi pihak sekolah agar memberikan tenggat waktu hingga beberapa bulan ke depan. Dicicil dua kali ceritanya. Kami ikut senang mendengarnya.

Beberapa hari setelah itu, sebuah telepon masuk ke hape saya. Rupanya teman saya di Solo sedang butuh tenaga content writer. "Kamu nulis untuk blog ini ya. Sehari 4-5 judul saja nggak apa-apa, nanti aku buatkan username dan password biar kamu bisa langsung masuk ke dashboard," katanya tanpa basa-basi.

Untuk pekerjaan tersebut, saya diberi fee Rp 2 juta sebulan. Alhamdulillah...

*****

Saya selalu percaya bahwa Allah menjamin rezeki tiap-tiap makhluk hidup ciptaannya. Karenanya saya tak terlalu risau ketika tanggal tua dan tak ada uang sepeser pun di kantong maupun saldo rekening. Saya percaya, Allah pasti akan memberikan rezekinya di saat saya benar-benar membutuhkkan. Beberapa kali terjadi, saat kami butuh uang saat itulah ada saja yang memberi uang dalam berbagai bentuk.

Saya juga percaya, dalam rezeki saya ada sebagian hak orang lain yang dititipkan Allah. Karenanya saya dan istri selalu berusaha membantu siapapun yang datang meminta bantuan, baik kami sedang lapang maupun dalam kondisi sama-sama tanggal tua. Uang yang kami dapat adalah pemberian Allah, maka bagaimanapun cara dan kapanpun Ia memintanya kembali harus kami berikan dengan tulus ikhlas.

Semoga bermanfaat!

Rabu, 11 Mei 2016


BELUM lama ini adik saya mengunggah foto-fotonya di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, jelang kembali ke Jakarta. Sebuah bandara yang terlihat bagus sekali. Saya jadi teringat Bandara Talang Betutu, bandara yang semasa saya kecil adalah pintu gerbang menuju Kota Pempek melalui jalur udara. Apa kabar, Talang Betutu?

Talang Betutu sebenarnya nama sebuah kelurahan di Kecamatan Sukarame, Kotamadya Palembang. Penamaan bandara sesuai nama tempat bandara tersebut berlokasi adalah hal lumrah pada masa lalu. Jika Palembang pernah punya Bandara Talang Betutu di Kelurahan Talang Betutu, maka di Jakarta dulu ada Bandara Kemayoran yang terletak di Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Pada jaman pemerintahan Hindia Belanda, Kelurahan Talang Betutu berada di luar wilayah administratif Kotapraja Palembang. Kawasan ini baru dimasukkan dalam area kota pada jaman pendudukan Jepang.

Pembangunan Bandara Talang Betutu dimulai pada tahun 1920, berupa sebuah bandara perintis untuk mendaratkan pesawat Fokker dari Eropa. Oya, ejaan lamanya Bandara Talang Betoetoe. Papan nama bandara dengan ejaan lama ini masih bisa saya lihat di masa kecil, kira-kira tahun 80'-an.

Lalu pada masa pendudukan Jepang kawasan bandara diperluas sehingga pesawat-pesawat lebih besar dapat mendarat. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk mendaratkan pesawat-pesawat tempur?

Pada Perang Dunia II, bandara ini dimanfaatkan betul oleh Jepang dan kemudian Sekutu untuk memasok tentara dan persenjataan ke Palembang. Sekutu juga membawa banyak sekali kendaraan tempur ke Palembang, yang usai kemerdekaan berseliweran di jalanan kota sebagai angkutan umum. Termasuk mobil ketek yang pernah saya ceritakan di posting Mobil Ketek Tinggal Kenangan.

Sebagai objek vital, Bandara Talang Betutu jadi sasaran utama pengeboman di masa perang. Entah berapa puluh atau mungkin ratus bom dijatuhkan di kawasan ini. Belum lagi ranjau yang tertanam di dalam tanah. Cerita penemuan bom atau ranjau di kawasan ini sudah biasa terdengar. Ketika Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dibangun, berita ditemukannya bom dan ranjau oleh pekerja proyek kerap menghiasi halaman surat kabar.

Hingga tahun 1980-an, Bandara Talang Betutu menjadi bandara transit bagi pesawat-pesawat jarak jauh. Pesawat rute Jakarta-Medan biasa transit dulu di Palembang, demikian pula pesawat rute Jakarta-Singapura.


Terbengkalai
Setelah ada bandara baru, seluruh aktivitas penerbangan komersial dipindah ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II yang lebih keren dan canggih. Bandara Talang Betutu pun ditinggalkan, terbengkalai. Landasannya masih digunakan oleh TNI AU, namun gedung-gedung bekas terminal tak terurus. Sebagian ada yang ambruk atapnya, lalu yang lainnya dipenuhi semak dan perdu.

Sempat ada wacana menjadikan eks Bandara Talang Betutu sebagai terminal khusus haji pada tahun 2010, namun saya tak paham bagaimana realisasinya. Tiga tahun berselang, muncul berita TNI AU berniat menghancurkan sejumlah bangunan bandara yang sudah rusak. Mengutip Sriwijaya Post, Danlanud Palembang (waktu itu) Letkol Pnb. Ramot CP Sinaga mengatakan tower dan anjungan yang sudah rusak bakal diratakan dengan tanah.

Pendapat berbeda diberikan Danlanud Palembang yang baru, Kolonel Pnb. Ronald Lucas Siregar. Kepada media pada Februari lalu, Ronald mengatakan eks Bandara Talang Betutu sangat potensial untuk dimanfaatkan mendukung event Asian Games 2018. Palembang sudah ditunjuk sebagai salah satu kota tuan rumah Asian Games 2018 bersama Jakarta.

Menurut Ronald, jika direvitalisasi Bandara Talang Betutu setidaknya bisa dipergunakan sebagai lapangan parkir pesawat kontingen negara peserta. Namun untuk itu seluruh kawasan eks bandara perlu dibenahi agar sedap dipandang.

"Kalau kondisi Bandara Talang Betutu begini dilihat orang asing apa kata mereka, kok bekas bandara tidak dirawat. Lihat ada pohon tumbuh dalam bangunan Bandara Talang Betutu, kok seperti ini," katanya seperti dikutip dari laman Berita Pagi.



Saya pribadi tak punya banyak kenangan bersama Bandara Talang Betutu. Kami tak pernah keluar Sumatera Selatan waktu itu. Seingat saya, kepergian kami paling jauh hanya ke Batumarta dan Pendopo. Tempat pertama adalah tempat keluarga dari pihak Ibu berkumpul, sedangkan yang kedua tempat kelahiran Bapak dan seluruh saudara kandungnya. Tentu saja kami tak perlu naik pesawat untuk menuju kedua tempat tersebut.

Tapi, menurut Ibu, saat masih kecil saya pernah diajak naik pesawat terbang dari bandara ini ke Bangka. Yang mengajak pacar paman saya yang hingga kini masih harmonis membina rumah tangga bersama paman. Saya sama sekali tak ingat kejadian itu. Satu-satunya kenangan tentang Bandara Talang Betutu yang masih saya ingat betul adalah saat ikut Ibu dan beberapa saudara menjemput entah siapa. Kalau tak salah sih menjemput besan Simbah yang baru pulang haji.

Saya tak ikut masuk ke terminal, hanya duduk-duduk di parkiran mobil bersama seorang sepupu. Dengan takjub saya mendengarkan suara gemuruh pesawat terbang naik-turun di landasan, juga lalu-lalu mobil keluar-masuk area parkir. Meski hanya duduk-duduk di separator parkir, saya merasa senang sekali. Itulah kali pertama saya menyaksikan pesawat terbang dari jarak sangat dekat. :)

Kesenangan saya bertambah karena Ibu membelikan Chiki, jajanan yang jarang-jarang bisa saya nikmati di masa kecil. Berdua dengan seorang sepupu, anak bude, saya duduk tenang di separator memperhatikan aktivitas bandara sembari melahap Chiki tersebut. Lihat saja di foto berikut ini. Saya yang memakai kemeja putih.


Kembali ke soal Bandara Talang Betutu yang terbengkalai. Sebagai orang kelahiran Palembang dan menghabiskan 10 tahun pertama dalam kehidupan saya di kota ini, saya berharap Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengeluarkan kebijakan positif mengenai Bandara Talang Betutu. Sinergi dengan TNI AU sebagai pemilik lahan sangat diperlukan agar tempat bersejarah ini tetap lestari.

Bagaimanapun, bandara ini merupakan bagian sejarah Kota Palembang. Inilah bandara pertama di Kota BARI, yang menjadi saksi jaman penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, Perang Dunia II, sampai agresi militer Belanda. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya?

Banyak cerita bisa disuguhkan dari sejarah panjang Bandara Talang Betutu bagi generasi sekarang. Contohnya kecelakaan tragis yang menimpa pesawat milik maskapai Belanda KLM pada 6 Oktober 1937. Pesawat tipe Douglas DC-3 PH-ALS `Specht' rute Batavia-Singapura, transit di Palembang, terhempas dan rusak parah tak lama setelah take off. Kapten F.M. Stork, teknisi J.J. Ruben, operator radio J.J. Stodieck, dan seorang penumpang bernama Mr. G.A. Steenbergen tewas. Sedangkan kopilot dan enam penumpang lain mengalami luka ringan.

Di jaman lebih modern, ada Peristiwa Woyla yang melibatkan Bandara Talang Betutu dalam jalan ceritanya. Pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan 206 yang dibajak lima teroris Komando Jihad, transit di bandara ini sebelum melanjutkan perjalanan dari Jakarta menuju Medan. Peristiwa ini tak hanya menggegerkan Indonesia, tapi juga Thailand sebagai negara tempat kejadian peristiwa serta dunia.

Rasanya masih banyak kisah-kisah menarik lain dari Bandara Talang Betutu. Jika dikemas dengan apik, ditambah potensi lain yang ada di sekitarnya, kawasan eks bandara ini dapat berkembang menjadi lebih menjanjikan. Semoga saja dalam 5-10 tahun ke depan kondisi Bandara Talang Betutu tak merana lagi.

Sumber referensi: Wikipedia, Yahoo! Groups, Berita Pagi, Sriwijaya Post


BELUM lama ini adik saya mengunggah foto-fotonya di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, jelang kembali ke Jakarta. Sebuah bandara yang terlihat bagus sekali. Saya jadi teringat Bandara Talang Betutu, bandara yang semasa saya kecil adalah pintu gerbang menuju Kota Pempek melalui jalur udara. Apa kabar, Talang Betutu?

Talang Betutu sebenarnya nama sebuah kelurahan di Kecamatan Sukarame, Kotamadya Palembang. Penamaan bandara sesuai nama tempat bandara tersebut berlokasi adalah hal lumrah pada masa lalu. Jika Palembang pernah punya Bandara Talang Betutu di Kelurahan Talang Betutu, maka di Jakarta dulu ada Bandara Kemayoran yang terletak di Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Pada jaman pemerintahan Hindia Belanda, Kelurahan Talang Betutu berada di luar wilayah administratif Kotapraja Palembang. Kawasan ini baru dimasukkan dalam area kota pada jaman pendudukan Jepang.

Pembangunan Bandara Talang Betutu dimulai pada tahun 1920, berupa sebuah bandara perintis untuk mendaratkan pesawat Fokker dari Eropa. Oya, ejaan lamanya Bandara Talang Betoetoe. Papan nama bandara dengan ejaan lama ini masih bisa saya lihat di masa kecil, kira-kira tahun 80'-an.

Lalu pada masa pendudukan Jepang kawasan bandara diperluas sehingga pesawat-pesawat lebih besar dapat mendarat. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk mendaratkan pesawat-pesawat tempur?

Pada Perang Dunia II, bandara ini dimanfaatkan betul oleh Jepang dan kemudian Sekutu untuk memasok tentara dan persenjataan ke Palembang. Sekutu juga membawa banyak sekali kendaraan tempur ke Palembang, yang usai kemerdekaan berseliweran di jalanan kota sebagai angkutan umum. Termasuk mobil ketek yang pernah saya ceritakan di posting Mobil Ketek Tinggal Kenangan.

Sebagai objek vital, Bandara Talang Betutu jadi sasaran utama pengeboman di masa perang. Entah berapa puluh atau mungkin ratus bom dijatuhkan di kawasan ini. Belum lagi ranjau yang tertanam di dalam tanah. Cerita penemuan bom atau ranjau di kawasan ini sudah biasa terdengar. Ketika Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dibangun, berita ditemukannya bom dan ranjau oleh pekerja proyek kerap menghiasi halaman surat kabar.

Hingga tahun 1980-an, Bandara Talang Betutu menjadi bandara transit bagi pesawat-pesawat jarak jauh. Pesawat rute Jakarta-Medan biasa transit dulu di Palembang, demikian pula pesawat rute Jakarta-Singapura.


Terbengkalai
Setelah ada bandara baru, seluruh aktivitas penerbangan komersial dipindah ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II yang lebih keren dan canggih. Bandara Talang Betutu pun ditinggalkan, terbengkalai. Landasannya masih digunakan oleh TNI AU, namun gedung-gedung bekas terminal tak terurus. Sebagian ada yang ambruk atapnya, lalu yang lainnya dipenuhi semak dan perdu.

Sempat ada wacana menjadikan eks Bandara Talang Betutu sebagai terminal khusus haji pada tahun 2010, namun saya tak paham bagaimana realisasinya. Tiga tahun berselang, muncul berita TNI AU berniat menghancurkan sejumlah bangunan bandara yang sudah rusak. Mengutip Sriwijaya Post, Danlanud Palembang (waktu itu) Letkol Pnb. Ramot CP Sinaga mengatakan tower dan anjungan yang sudah rusak bakal diratakan dengan tanah.

Pendapat berbeda diberikan Danlanud Palembang yang baru, Kolonel Pnb. Ronald Lucas Siregar. Kepada media pada Februari lalu, Ronald mengatakan eks Bandara Talang Betutu sangat potensial untuk dimanfaatkan mendukung event Asian Games 2018. Palembang sudah ditunjuk sebagai salah satu kota tuan rumah Asian Games 2018 bersama Jakarta.

Menurut Ronald, jika direvitalisasi Bandara Talang Betutu setidaknya bisa dipergunakan sebagai lapangan parkir pesawat kontingen negara peserta. Namun untuk itu seluruh kawasan eks bandara perlu dibenahi agar sedap dipandang.

"Kalau kondisi Bandara Talang Betutu begini dilihat orang asing apa kata mereka, kok bekas bandara tidak dirawat. Lihat ada pohon tumbuh dalam bangunan Bandara Talang Betutu, kok seperti ini," katanya seperti dikutip dari laman Berita Pagi.



Saya pribadi tak punya banyak kenangan bersama Bandara Talang Betutu. Kami tak pernah keluar Sumatera Selatan waktu itu. Seingat saya, kepergian kami paling jauh hanya ke Batumarta dan Pendopo. Tempat pertama adalah tempat keluarga dari pihak Ibu berkumpul, sedangkan yang kedua tempat kelahiran Bapak dan seluruh saudara kandungnya. Tentu saja kami tak perlu naik pesawat untuk menuju kedua tempat tersebut.

Tapi, menurut Ibu, saat masih kecil saya pernah diajak naik pesawat terbang dari bandara ini ke Bangka. Yang mengajak pacar paman saya yang hingga kini masih harmonis membina rumah tangga bersama paman. Saya sama sekali tak ingat kejadian itu. Satu-satunya kenangan tentang Bandara Talang Betutu yang masih saya ingat betul adalah saat ikut Ibu dan beberapa saudara menjemput entah siapa. Kalau tak salah sih menjemput besan Simbah yang baru pulang haji.

Saya tak ikut masuk ke terminal, hanya duduk-duduk di parkiran mobil bersama seorang sepupu. Dengan takjub saya mendengarkan suara gemuruh pesawat terbang naik-turun di landasan, juga lalu-lalu mobil keluar-masuk area parkir. Meski hanya duduk-duduk di separator parkir, saya merasa senang sekali. Itulah kali pertama saya menyaksikan pesawat terbang dari jarak sangat dekat. :)

Kesenangan saya bertambah karena Ibu membelikan Chiki, jajanan yang jarang-jarang bisa saya nikmati di masa kecil. Berdua dengan seorang sepupu, anak bude, saya duduk tenang di separator memperhatikan aktivitas bandara sembari melahap Chiki tersebut. Lihat saja di foto berikut ini. Saya yang memakai kemeja putih.


Kembali ke soal Bandara Talang Betutu yang terbengkalai. Sebagai orang kelahiran Palembang dan menghabiskan 10 tahun pertama dalam kehidupan saya di kota ini, saya berharap Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengeluarkan kebijakan positif mengenai Bandara Talang Betutu. Sinergi dengan TNI AU sebagai pemilik lahan sangat diperlukan agar tempat bersejarah ini tetap lestari.

Bagaimanapun, bandara ini merupakan bagian sejarah Kota Palembang. Inilah bandara pertama di Kota BARI, yang menjadi saksi jaman penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, Perang Dunia II, sampai agresi militer Belanda. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya?

Banyak cerita bisa disuguhkan dari sejarah panjang Bandara Talang Betutu bagi generasi sekarang. Contohnya kecelakaan tragis yang menimpa pesawat milik maskapai Belanda KLM pada 6 Oktober 1937. Pesawat tipe Douglas DC-3 PH-ALS `Specht' rute Batavia-Singapura, transit di Palembang, terhempas dan rusak parah tak lama setelah take off. Kapten F.M. Stork, teknisi J.J. Ruben, operator radio J.J. Stodieck, dan seorang penumpang bernama Mr. G.A. Steenbergen tewas. Sedangkan kopilot dan enam penumpang lain mengalami luka ringan.

Di jaman lebih modern, ada Peristiwa Woyla yang melibatkan Bandara Talang Betutu dalam jalan ceritanya. Pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan 206 yang dibajak lima teroris Komando Jihad, transit di bandara ini sebelum melanjutkan perjalanan dari Jakarta menuju Medan. Peristiwa ini tak hanya menggegerkan Indonesia, tapi juga Thailand sebagai negara tempat kejadian peristiwa serta dunia.

Rasanya masih banyak kisah-kisah menarik lain dari Bandara Talang Betutu. Jika dikemas dengan apik, ditambah potensi lain yang ada di sekitarnya, kawasan eks bandara ini dapat berkembang menjadi lebih menjanjikan. Semoga saja dalam 5-10 tahun ke depan kondisi Bandara Talang Betutu tak merana lagi.

Sumber referensi: Wikipedia, Yahoo! Groups, Berita Pagi, Sriwijaya Post

Rabu, 04 Mei 2016


PALEMBANG disebut-sebut sebagai Venesia dari Timur karena begitu banyaknya sungai mengaliri kota ini. Satu di antaranya adalah Sungai Musi, sungai yang membelah Palembang menjadi Ulu (hulu) dan Ilir (hilir). Sungai yang menjadi sandaran hidup banyak warga di sepanjang tepiannya. Sungai yang di bulan Mei ini bakal menggelar ajang bertaraf internasional, Musi Triboatton 2016.

Bagi wisatawan, Sungai Musi dikenal dengan Jembatan Ampera yang menjadi landmark Kota Palembang. Jembatan yang merupakan jembatan terpanjang di Sumatera, dengan bentangan lebih dari satu kilometer dari sisi satu ke sisi lainnya. Satu paket dengan Sungai Musi dan Jembatan Ampera adalah Benteng Kuto Besak, benteng kuno yang merupakan tembok istana Kesultanan Palembang Darussalam.

Belakangan, berfoto selfie di pelataran Benteng Kuto Besak dengan latar belakang Jembatan Ampera menjadi tren di kalangan wisatawan. Tak lengkap rasanya berkunjung ke Kota Palembang kalau tak selfie di sini. Ini pula yang dilakukan adik-adik dan sepupu saya saat mengunjungi Palembang dalam rangka memperingati tujuh hari kematian Simbah, belum lama ini. (Baca juga: Kabar Duka dari Palembang)

Bagi saya yang lahir dan tumbuh besar di Palembang, Sungai Musi dan Jembatan Ampera adalah kenangan tak terlupakan. Riak-riak airnya, suara perahu ketek yang melintas di atasnya, rumah-rumah papan di sepanjang tepiannya, cerobong asap PT Pusri di kejauhan, juga dua menara jembatan dengan tulisan "AMPERA", semuanya sangat lekat dalam memori saya.

Saya seringkali diajak Ibu melintasi jembatan ini dengan menumpang bus kota. Masa itu kami punya saudara yang tinggal di Plaju. Beliau sepupu Bapak. Nama aslinya Juarni, namun kami lebih akrab memanggil beliau Bude Plaju. Kelak ketika Bude pindah ke Kenten, panggilan kami ke beliau pun berganti jadi Bude Kenten. Bude menikah dengan Saari Sagiman, panggilan akrabnya Pakde Ari. Kalau ada yang bertanya apa hubungan Pakde Ari dengan Sainan Sagiman, gubernur Sumatera Selatan periode 1978-1988, silakan cari sendiri di Google.

Bude dan Pakde Ari adalah sosok-sosok yang sangat berjasa besar bagi keluarga kami. Bapak ikut bekerja pada perusahaan kontraktor milik Pakde. Sedangkan Ibu sempat tinggal bersama Bude di Plaju saat Bapak merantau karena mendapat proyek di daerah lain. Ketika dalam masalah, kepada Bude-lah Ibu biasa mengadu. Karena itu hubungan emosional kami sangat dekat.

Selama tinggal di Palembang, secara berkala Ibu mengunjungi Bude Plaju. Mulai dari sekedar silaturahim melepas rindu, sampai menumpang mencuci baju kalau sumur di rumah kami di Lebong Siareng, Sukarami, tak ada airnya. Dalam perjalanan menuju ke dan pulang dari Plaju inilah saya akan melintasi Sungai Musi. Begitu bus kota sampai di bundaran air mancur dekat Masjid Agung, saya dan adik-adik pun berdiri di jok bus, bersiap menyambut Jembatan Ampera dan Sungai Musi di hadapan.

Menurut cerita Bapak yang sejak awal 70'-an tinggal di Palembang, dulu bagian tengah Jembatan Ampera bisa dinaik-turunkan. Jadi dua menara jembatan berfungsi sebagai pengerek. Bagian tengah jembatan diangkat ke atas saat ada kapal besar melintasi sungai, kemudian diturunkan lagi begitu tak ada kapal lewat.

FOTO: TribunNews.com

Musi Triboatton 2016
Saya juga pernah diajak menyaksikan Lomba Bidar, lomba balap perahu di Sungai Musi. Event ini diadakan setiap perayaan HUT Kota Palembang pada 17 Juni, juga saat HUT Kemerdekaan RI di bulan Agustus. Selain bidar biasanya juga dilombakan perahu hias. Jika pemenang bidar ditentukan oleh kecepatan perahu mencapai garis finish, maka pemenang perahu hias dinilai dari bagus-tidaknya hiasan pada perahu tersebut.

Bukan perkara mudah bagi Ibu untuk membawa saya dan dua adik yang masih kecil-kecil menyaksikan bidar. Jembatan Ampera penuh sesak oleh manusia yang ingin menonton bidar. Harus datang awal jika ingin dapat spot bagus, itupun dengan risiko menunggu lebih lama dan susah mencari jalan pulang karena tertutup oleh keramaian. Saya pernah terpencar dari Ibu dan dua adik, tapi beruntung bisa kembali ke rumah dengan selamat setelah ditemukan tetangga. Alhamdulillah...

Kini, event di Sungai Musi bertambah dengan diadakannya Musi Triboatton. Ajang lomba perahu tahunan ini mulai diselenggarakan sejak 2012, dengan peserta tak cuma dari Indonesia. Karenanya ajang ini juga disebut sebagai International Musi Triboatton. Untuk gelaran tahun ini, ratusan peserta berasal dari 12 negara termasuk Indonesia.

Musi Triboatton 2016 sudah di-launching oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam sebuah acara di Balairung Soesilo Soedarman Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Jakarta, pada 7 April lalu. Gubernur Sumatera Selatan Ir. H. Alex Noerdin, SH juga turut hadir bersama sejumlah bupati yang wilayahnya turut menjadi tuan rumah event ini.

Berbeda dengan bidar yang hanya menempuh jarak pendek di sekitaran Jembatan Ampera, rute Musi Triboatton 2016 membentang sepanjang 500 km. Dibagi menjadi lima etape, peserta akan melintasi empat kabupaten sebelum mengakhiri perlombaan di Kota Palembang. Tentu saja lomba tak berlangsung dalam sehari, melainkan lima hari selama 11-15 Mei 2016.

Uniknya, peserta akan memakai tiga jenis perahu selama mengarungi Sungai Musi: kayak, dragon boat (perahu naga), dan rafting. Itulah sebabnya event ini dinamai Musi Triboatton. Saya coba menebak, istilah "triboatton" ini merupakan singkatan three-boats marathon alias lomba perahu jarak jauh menggunakan tiga jenis perahu. Mungkin begitu, hehehe.

Berikut urut-urutan rute lomba.

Peta rute Jelajah Musi 2010 yang diadakan oleh Kompas, sedikit-banyak mirip dengan rute kelima etape Musi Triboatton 2016. FOTO: Kompas.com

Etape I (11 Mei 2016)
Lomba diawali dengan etape pertama yang berjarak 35 kilometer, start dari Desa Tanjung Raya, Kecamatan Pendopo Barat, Kabupaten Empat Lawang. Lalu di Desa Ulak Mengkudu, tepatnya di Lapangan SD Negeri 14 Empat Lawang, sebagai lokasi estafet sebelum lomba dilanjutkan sampai finish di Jembatan Kuning, Tebing Tinggi.

Etape II (12 Mei 2016)
Etape kedua berjarak empat kali lebih panjang dari etape pertama. Ya, jaraknya sejauh 140 km. Start dari Tebing Tinggi, peserta harus mengarungi Sungai Musi hingga ke Muara Kelingi di Kabupaten Musi Rawas.

Etape III (13 Mei 2016)
Etape ketiga dengan jarak 165 km dari Muara Kelingi hingga Sekayu yang merupakan ibukota Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) menjadi suguhan bagi peserta. Kabupaten Muba adalah tuan rumah Musi Triboatton 2016. Acara pembukaan lomba akan dilakukan di kabupaten ini.

Etape IV (14 Mei 2016)
Etape keempat dimulai dari Sekayu dan berakhir di Dermaga Pengumbuh, Kabupaten Banyuasin. Nama terakhir merupakan kabupaten hasil pemekaran Musi Banyuasin. Jaraknya 108 km.

Etape V (15 Mei 2016)
Terakhir, etape kelima pada 15 Mei, mengambil start dari Dermaga Pengumbuh dan finish di Kota Palembang, tepatnya di Kecamatan 10 Ulu. Jarak yang ditempuh peserta sejauh 75 kilometer. Etape ini sekaligus menjadi penutup event Musi Triboatton 2016.

Wisata Sungai Musi
Penyelenggaran Musi Triboatton pada bulan Mei pada edisi tahun ini merupakan hal baru. Sebelum-sebelumnya, selama empat tahun berturut-turut Musi Triboatton selalu diadakan pada akhir tahun. Mungkin supaya Palembang terus semarak karena Juni nanti ada Festival Bidar dalam rangkaian HUT Kota Palembang? Bisa jadi.

Yang jelas, event ini memang tak hanya bermuatan olahraga. Pemprov Sumatera Selatan menjadikan Musi Triboatton sebagai salah satu ajang untuk mempromosikan Sungai Musi dan juga objek-objek wisata menarik di sekitarnya. Apa saja sih?

FOTO: Wikipedia

1. Jembatan Ampera
Menyebut Sungai Musi tanpa menyinggung Jembatan Ampera seperti memasak sayur tak diberi garam. Ampera adalah singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Mulai dibangun pada April 1962 sebagai langkah untuk menyatukan bagian Seberang Ulu dan Seberang Ilir Kota Palembang.

Ide pembuatan jembatan di atas Sungai Musi sudah muncul sejak 1906. Tahun 1924, saat Le Cocq de Ville menjabat Walikota Palembang, rencana pembangunan jembatan kembali dicuatkan tapi tak pernah terwujud. Rencana ini juga menjadi perhatian para pemimpin Kota Palembang setelah kemerdekaan.

Pada 1957, dibentuklah panitia khusus yang menangani rencana pembangunan jembatan. Saat itu calon jembatan ini masih disebut sebagai Jembatan Musi. Butuh waktu lima tahun bagi panitia ini untuk meluluhkan Bung Karno, hingga pemerintah pusat memberi restu sekaligus membantu pembiayaan.

Karena kaki-kaki jembatan berada di tengah kota, Bung Karno yang dikenal sebagai peminat seni dan keindahan memberi syarat. Sebuah syarat yang malah membuat Kota Palembang menjadi indah, yakni pembuatan boulevard dan taman di kedua ujung jembatan. Karena itulah ada bundaran air mancur di 16 Ilir, tak jauh dari Masjid Agung Palembang.

Oya, mungkin tak banyak yang tahu kalau jembatan ini awalnya dinamai Jembatan Bung Karno. Pada saat diresmikan pada tahun 1965, jembatan ini merupakan yang terpanjang di Asia Tenggara. Sentimen anti-Soekarno usai G 30 S pada 1966 membuat namanya diubah jadi Jembatan Ampera. Sempat ada upaya untuk mengembalikan nama jembatan ke nama asal, tapi ditolak.

FOTO: WisataSatu.com

2. Benteng Kuto Besak
Benteng Kuto Besak adalah bekas benteng istana Kesultanan Palembang Darussalam. Disebut bekas karena kini bangunan tersebut dipakai sebagai markas Komando Daerah Militer (Kodam) II Sriwijaya. Di bagian pelataran Benteng Kuto Besak inilah wisatawan kerap berfoto selfie dengan latar belakang Jembatan Ampera.

Benteng Kuto Besak dibangun di masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II. Sewaktu saya kecil, Bapak bercerita pembangunan istana ini tidak memakai semen, tapi putih telur sebagai perekat. Tentu saja saya dibuat terheran-heran oleh cerita tersebut. Tak terbayang oleh saya butuh berapa ratus, ribu, atau bahkan ratusan ribu butir telur untuk membangun istana ini. Lalu, kuning telurnya untuk apa? :)

Sebelum Benteng Kuto Besak dibangun, Sultan Palembang tinggal di istana lama yang disebut sebagai Kuto Lamo atau Kuto Kecik yang kini jadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Sesuai namanya, Kuto Kecik berukuran lebih kecil dari Kuto Besak. Dalam bahasa Palembang, "kecik" berarti "kecil", sedangkan "besak" berarti "besar".

Oya, bulik saya dulu pernah bersekolah di Sekolah Pendidikan Kesehatan (SPK) di dekat Benteng Kuto Besak lho. Sekarang beliau jadi bidan senior di Martapura, OKU Timur. Eh, penting nggak sih? Hahaha. Tapi saya penasaran SPK itu masih ada tidak ya?

3. Monumen Penderitaan Rakyat (Monpera)
Rasanya tak banyak wisatawan yang familiar dengan spot satu ini. Monumen Penderitaan Rakyat (Monpera) terletak tak jauh dari Jembatan Ampera. Tepat di seberang Masjid Agung. Berbentuk khas dengan patung Burung Garuda di salah satu sisinya, bangunan ini didirikan sebagai pengingat perjuangan heroik warga Palembang melawan penjajah.

Monpera belum lama ini direnovasi. Tak banyak yang berubah sih, tapi ditambahkan dua meriam gunung dan satu buah tank tempur di halaman monumen. Lalu bagian dalam yang merupakan museum dipasangi kamera CCTV. Rencananya juga dibangun air mancur menari, tapi entah kenapa tidak jadi.

Saya punya kenangan lucu dengan monumen satu ini. Ketika berusia sekitar 2,5 tahun saya diajak Bapak ke Monpera. Dulu banyak sekali juru foto stand by di pelataran halaman. Setelah berjalan-jalan menyaksikan Jembatan Ampera dari kejauhan, Bapak mengajak saya berfoto. Bapak duduk di bangku kayu yang disiapkan juru foto, lalu memangku saya, siap difoto dengan latar belakang Monpera.

Tapi ketika juru foto mengarahkan kamera dengan lensa panjangnya ke arah kami, saya malah menjerit ketakutan. "Idak mau ditembak, idak mau ditembak!!!" jerit saya sembari berusaha lepas dari pangkuan Bapak. Lihat sendiri bagaimana jadinya foto tersebut di atas. Pada foto asli tertera "MAR 85" menandakan foto diambil pada Maret 1985.

Saya tidak ingat kenapa sampai begitu ketakutan dan menjerit-jerit. Tapi kata Ibu, saya mengira lensa panjang juru foto tersebut sebagai senapan atau tembakan. Hehehe...

FOTO: Palembang.go.id

4. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Pelancong mungkin hanya tahu Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, yang dulu di kalangan penduduk lokal lebih dikenal sebagai Bandara Talang Betutu. Jika Bandara SMB II adalah pintu masuk ke Kota Palembang lewat jalur udara, maka Museum Sultan Mahmud Badaruddin II adalah pintu masuk untuk mengenal lebih dalam sejarah Kota BARI ini.

Museum SMB II terletak dekat Monpera. Berjejer di jalan yang sama. Di sinilah tersimpan kekayaan sejarah Kota Palembang dan, tentu saja, Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam. Ada mata uang era Kesultanan di sini, juga artefak-artefak dari jaman Sriwijaya seperti patung-patung Buddha kuno.

Seperti disinggung sebelumnya, bangunan Museum SMB II dulunya adalah istana pertama Kesultanan Palembang Darussalam. Pembuatannya berbarengan dengan Masjid Agung Palembang. Lalu Sultan Mahmud Badaruddin I mencetuskan pembangunan istana baru yang lebih lebar di tempat yang lebih luas. Maka dibuatlah Kuto Besak yang hanya berjarak 400 meter ke sebelah barat.

Di masa penjajahan, Kuto Kecik sempat direbut tentara Belanda dan dijadikan rumah dinas Komisaris Jenderal Hindia Belanda. Pada saat Jepang menduduki Indonesia, tentara Dai Nippon menggunakan bangunan ini sebagai markas militer. Lalu ketika Republik Indonesia lahir, Kuto Kecik dijadikan markas TNI sebelum akhirnya difungsikan sebagai museum.


FOTO: SouthSumatraTourism.com

5. Masjid Agung Palembang
Sebagai muslim, bagi saya tak lengkap rasanya mengunjungi sebuah kota tanpa menyempatkan diri salat di masjid agung kota tersebut. Dan Masjid Agung Palembang adalah tempat yang sangat layak dikunjungi karena keindahan arsitektur dan sejarah yang tersimpan di dalamnya. Masjid ini merupakan yang terbesar di Sumatera Selatan, dan terbesar ketiga di Pulau Sumatera.

Masjid Agung Palembang dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I pada 1738 M. Pembuatan masjid ini dimaksudkan sebagai pengganti Masjid Kraton Kuto Gawang buatan Sultan Ki Gede Ing Suro yang dihancurkan tentara VOC pada 1659 M. Perang dengan Belanda membuat proses pembangunannya berlangsung hingga 10 tahun.

Masjid ini memiliki sentuhan arsitektur Jawa klasik dengan atap bersusun, lalu ada pula campuran budaya Tionghoa yang terlihat pada lengkungan-lengkungan di ujung-ujung atap. Jawa dan Tionghoa memang tak bisa dipisahkan dari sejarah Palembang. Bahkan, konon, nama Palembang sendiri berasal dari Pai Li Bang, nama murid Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang juga seorang menteri dari Tiongkok. Sedangkan pengaruh Jawa sangat kental dalam pendirian Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam.

Belanda berulang kali berusaha menghancurkan Masjid Agung selama perang. Berulang kali pula Sultan Palembang merenovasi bangunan masjid. Kini, Masjid Agung Palembang tak hanya menjadi pusat keagamaan di Kota Pempek, tapi juga salah satu tempat tujuan wisata. Apalagi tepat di hadapan masjid terdapat Bundaran Air Mancur nan indah itu.


FOTO: @ZIdan_JuniorMCI

6. Menyusuri Sungai Musi
Menyaksikan keindahan Sungai Musi dari Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, atau Pasar 16 Ilir adalah hal biasa. Ingin yang lebih seru? Rasakan pengalaman berbeda dengan menyusuri Sungai Musi naik perahu ketek.

Sebenarnya kita juga bisa naik speed boat selain perahu ketek. Tapi rasanya lebih afdol naik perahu ketek karena akan lebih terasa nuansa eksotisnya berada di atas sungai lebar ini. Laju perahu ketek yang tak secepat speed boat, juga penampakan perahu yang masih tradisional (alias biasa-biasa saja), memberi kesan berbeda.

Suasana bakal semakin melenakan kalau kita putar lagunya Alfian yang berjudul Sebiduk di Sungai Musi.

Tujuannya kemana? Kita bisa sekedar berputar-putar saja melintasi bagian bawah Jembatan Ampera. Naik dari Pasar 16 Ilir, perahu akan membawa kita ke arah barat, melihat-lihat bagian bawah jembatan, menyaksikan Plaza Benteng Kuto Besak dari kejauhan, lalu balik lagi ke dermaga. Kalau mau lebih jauh, arahkan sekalian perahu ke Pulau Kemaro yang berjarak sekitar 10 km dari Pasar 16 Ilir.

Kalau tak berani naik perahu, makan-makan di restoran terapung tak jauh dari pelataran Benteng Kuto Besak bisa jadi pilihan. Menu restoran ini sangat beragam, semuanya masakan khas Palembang. Lebih asyik lagi kalau datang ke sana saat malam, di mana Jembatan Ampera berpendar oleh cahaya lampu-lampu hias.

FOTO: Kompas/Irene Sarwindaningrum

7. Pulau Kemaro
Ini juga destinasi wisata menarik di Sungai Musi. Sayang, karena letaknya yang terbilang jauh dari pusat kota, serta hanya bisa dijangkau dengan perahu ketek, Pulau Kemaro kurang diminati. Padahal tempat ini sangat menarik dieksplorasi. Terutama karena Pulau Kemaro adalah sebuah pulau kecil di tengah-tengah Sungai Musi.

Ada berapa banyak pulau di tengah sungai seperti Pulau Kemaro ini di Indonesia, juga dunia? Bisa dihitung dengan jari.

Di Indonesia, "kembaran" Pulau Kemaro hanyalah Pulau Kumala (Sungai Mahakam), Pulau Kembang (Sungai Barito), dan Pulau Tayan (Sungai Kapuas). Ketiganya berada di Pulau Kalimantan. Tapi yang punya cerita dan sejarah, lengkap dengan bangunan kuno sebagai pelengkap legenda, ya hanya Pulau Kemaro. Di Jambi juga ada sih pulau di tengah Sungai Batanghari, tapi pulau tersebut hilang kalau air sungai pasang. :)

Pulau Kemaro lekat dengan legenda cinta Tan Bun Ann dengan Siti Fatimah, seorang putri Palembang. Karenanya pulau ini juga dikenal sebagai Pulau Cinta. Di sini ada Pohon Cinta yang, konon, bila satu pasangan menorehkan namanya di pohon ini maka cinta di antara keduanya bakal abadi sampai mati. Entah benar entah tidak, namanya juga mitos.

Di pulau ini terdapat pagoda berlantai sembilan dalam komplesk Klenteng Hok Cing Bio, plus patung-patung dewa Tionghoa. Karenanya pulau ini selalu dipadati umat Buddha dari kalangan keturunan Tionghoa saat peringatan-peringatan tertentu.

Bapak berfoto dengan latar belakang Masjid Agung Palembang, April 1985. Tampak juga beberapa angkot merah tengah melintas. Ini angkot lama yang merupakan eks kendaraan perang dan bodinya masih terbuat dari kayu.

Nah, banyak juga kan destinasi wisata di sekitar Sungai Musi? Catat, itu hanya di sekitaran Sungai Musi ya. Belum termasuk Kantor Walikota Palembang yang letaknya tak jauh dari Benteng Kuto Besak. Bangunan jaman Belanda ini belakangan juga jadi objek wisata, terutama bagi peminat sejarah dan arsitektur.

Saya juga tidak menyebut Pasar 16 Ilir, pasar terbesar di Kota Palembang yang kerap disebut sebagai Tanah Abang-nya Palembang. Mau mencicipi aneka jajanan khas Palembang sembari menikmati panorama Sungai Musi, atau berbelanja oleh-oleh untuk dibawa pulang? Datangi saja pasar ini.

Jadi ingin mengunjungi Palembang kan? Sama. Saya terakhir kali menyambangi kota ini tahun 2007, tujuannya tentu saja mengunjungi Simbah di Lebong Siareng dan paman di Jl. Mayor Zurbi Bustan. November tahun lalu, saya hanya melintas di kota ini dalam perjalanan dari Jambi ke Pemalang naik bus bersama anak dan istri.

Tentu saja ada kerinduan membuncah pada kota kelahiran ini. Kota di mana seluruh masa kecil saya tersimpan. Kota yang sekaligus menimbulkan rasa marah karena apa yang kini terlihat tak lagi sama dengan yang ada dalam memori saya. Sampai kapanpun saya akan tetap mengenang Palembang, seperti halnya nama kota ini akan terus tertera di KTP saya seumur hidup.

Sebenarnya saya ingin sekali ke Palembang begitu mendengar kabar Simbah meninggal akhir April lalu. Namun begitu banyak pertimbangan membuat saya harus memendam dalam-dalam keinginan tersebut. Sepekan berselang adik saya yang di Jakarta berulang kali menelepon, mengajak saya ke Palembang untuk menghadiri peringatan nujuh hari Simbah. Lagi-lagi saya tak bisa ikut.

Eh, kok kebetulan sekali ada Lomba Blog Jelajah Musi Triboatton. Hadiahnya bikin saya mupeng karena tiga pemenang bakal diundang ke Palembang untuk menyaksikan etape pamungkas sekaligus acara penutupan Musi Triboatton 2016. Namanya diundang, pihak pengundang yang membayari tiket perjalanan dan akomodasi selama di Kota Pempek ini. Wah, madu donk...

Kalaupun ternyata tidak terpilih sebagai pemenang ya tidak apa-apa. Hitung-hitung saya ikut mempromosikan event akbar di kota kelahiran, sembari mengais-ais kenangan indah selama 10 tahun di sana.

Catatan: Foto paling atas diambil dari SumselPostOnline.com


PALEMBANG disebut-sebut sebagai Venesia dari Timur karena begitu banyaknya sungai mengaliri kota ini. Satu di antaranya adalah Sungai Musi, sungai yang membelah Palembang menjadi Ulu (hulu) dan Ilir (hilir). Sungai yang menjadi sandaran hidup banyak warga di sepanjang tepiannya. Sungai yang di bulan Mei ini bakal menggelar ajang bertaraf internasional, Musi Triboatton 2016.

Bagi wisatawan, Sungai Musi dikenal dengan Jembatan Ampera yang menjadi landmark Kota Palembang. Jembatan yang merupakan jembatan terpanjang di Sumatera, dengan bentangan lebih dari satu kilometer dari sisi satu ke sisi lainnya. Satu paket dengan Sungai Musi dan Jembatan Ampera adalah Benteng Kuto Besak, benteng kuno yang merupakan tembok istana Kesultanan Palembang Darussalam.

Belakangan, berfoto selfie di pelataran Benteng Kuto Besak dengan latar belakang Jembatan Ampera menjadi tren di kalangan wisatawan. Tak lengkap rasanya berkunjung ke Kota Palembang kalau tak selfie di sini. Ini pula yang dilakukan adik-adik dan sepupu saya saat mengunjungi Palembang dalam rangka memperingati tujuh hari kematian Simbah, belum lama ini. (Baca juga: Kabar Duka dari Palembang)

Bagi saya yang lahir dan tumbuh besar di Palembang, Sungai Musi dan Jembatan Ampera adalah kenangan tak terlupakan. Riak-riak airnya, suara perahu ketek yang melintas di atasnya, rumah-rumah papan di sepanjang tepiannya, cerobong asap PT Pusri di kejauhan, juga dua menara jembatan dengan tulisan "AMPERA", semuanya sangat lekat dalam memori saya.

Saya seringkali diajak Ibu melintasi jembatan ini dengan menumpang bus kota. Masa itu kami punya saudara yang tinggal di Plaju. Beliau sepupu Bapak. Nama aslinya Juarni, namun kami lebih akrab memanggil beliau Bude Plaju. Kelak ketika Bude pindah ke Kenten, panggilan kami ke beliau pun berganti jadi Bude Kenten. Bude menikah dengan Saari Sagiman, panggilan akrabnya Pakde Ari. Kalau ada yang bertanya apa hubungan Pakde Ari dengan Sainan Sagiman, gubernur Sumatera Selatan periode 1978-1988, silakan cari sendiri di Google.

Bude dan Pakde Ari adalah sosok-sosok yang sangat berjasa besar bagi keluarga kami. Bapak ikut bekerja pada perusahaan kontraktor milik Pakde. Sedangkan Ibu sempat tinggal bersama Bude di Plaju saat Bapak merantau karena mendapat proyek di daerah lain. Ketika dalam masalah, kepada Bude-lah Ibu biasa mengadu. Karena itu hubungan emosional kami sangat dekat.

Selama tinggal di Palembang, secara berkala Ibu mengunjungi Bude Plaju. Mulai dari sekedar silaturahim melepas rindu, sampai menumpang mencuci baju kalau sumur di rumah kami di Lebong Siareng, Sukarami, tak ada airnya. Dalam perjalanan menuju ke dan pulang dari Plaju inilah saya akan melintasi Sungai Musi. Begitu bus kota sampai di bundaran air mancur dekat Masjid Agung, saya dan adik-adik pun berdiri di jok bus, bersiap menyambut Jembatan Ampera dan Sungai Musi di hadapan.

Menurut cerita Bapak yang sejak awal 70'-an tinggal di Palembang, dulu bagian tengah Jembatan Ampera bisa dinaik-turunkan. Jadi dua menara jembatan berfungsi sebagai pengerek. Bagian tengah jembatan diangkat ke atas saat ada kapal besar melintasi sungai, kemudian diturunkan lagi begitu tak ada kapal lewat.

FOTO: TribunNews.com

Musi Triboatton 2016
Saya juga pernah diajak menyaksikan Lomba Bidar, lomba balap perahu di Sungai Musi. Event ini diadakan setiap perayaan HUT Kota Palembang pada 17 Juni, juga saat HUT Kemerdekaan RI di bulan Agustus. Selain bidar biasanya juga dilombakan perahu hias. Jika pemenang bidar ditentukan oleh kecepatan perahu mencapai garis finish, maka pemenang perahu hias dinilai dari bagus-tidaknya hiasan pada perahu tersebut.

Bukan perkara mudah bagi Ibu untuk membawa saya dan dua adik yang masih kecil-kecil menyaksikan bidar. Jembatan Ampera penuh sesak oleh manusia yang ingin menonton bidar. Harus datang awal jika ingin dapat spot bagus, itupun dengan risiko menunggu lebih lama dan susah mencari jalan pulang karena tertutup oleh keramaian. Saya pernah terpencar dari Ibu dan dua adik, tapi beruntung bisa kembali ke rumah dengan selamat setelah ditemukan tetangga. Alhamdulillah...

Kini, event di Sungai Musi bertambah dengan diadakannya Musi Triboatton. Ajang lomba perahu tahunan ini mulai diselenggarakan sejak 2012, dengan peserta tak cuma dari Indonesia. Karenanya ajang ini juga disebut sebagai International Musi Triboatton. Untuk gelaran tahun ini, ratusan peserta berasal dari 12 negara termasuk Indonesia.

Musi Triboatton 2016 sudah di-launching oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam sebuah acara di Balairung Soesilo Soedarman Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Jakarta, pada 7 April lalu. Gubernur Sumatera Selatan Ir. H. Alex Noerdin, SH juga turut hadir bersama sejumlah bupati yang wilayahnya turut menjadi tuan rumah event ini.

Berbeda dengan bidar yang hanya menempuh jarak pendek di sekitaran Jembatan Ampera, rute Musi Triboatton 2016 membentang sepanjang 500 km. Dibagi menjadi lima etape, peserta akan melintasi empat kabupaten sebelum mengakhiri perlombaan di Kota Palembang. Tentu saja lomba tak berlangsung dalam sehari, melainkan lima hari selama 11-15 Mei 2016.

Uniknya, peserta akan memakai tiga jenis perahu selama mengarungi Sungai Musi: kayak, dragon boat (perahu naga), dan rafting. Itulah sebabnya event ini dinamai Musi Triboatton. Saya coba menebak, istilah "triboatton" ini merupakan singkatan three-boats marathon alias lomba perahu jarak jauh menggunakan tiga jenis perahu. Mungkin begitu, hehehe.

Berikut urut-urutan rute lomba.

Peta rute Jelajah Musi 2010 yang diadakan oleh Kompas, sedikit-banyak mirip dengan rute kelima etape Musi Triboatton 2016. FOTO: Kompas.com

Etape I (11 Mei 2016)
Lomba diawali dengan etape pertama yang berjarak 35 kilometer, start dari Desa Tanjung Raya, Kecamatan Pendopo Barat, Kabupaten Empat Lawang. Lalu di Desa Ulak Mengkudu, tepatnya di Lapangan SD Negeri 14 Empat Lawang, sebagai lokasi estafet sebelum lomba dilanjutkan sampai finish di Jembatan Kuning, Tebing Tinggi.

Etape II (12 Mei 2016)
Etape kedua berjarak empat kali lebih panjang dari etape pertama. Ya, jaraknya sejauh 140 km. Start dari Tebing Tinggi, peserta harus mengarungi Sungai Musi hingga ke Muara Kelingi di Kabupaten Musi Rawas.

Etape III (13 Mei 2016)
Etape ketiga dengan jarak 165 km dari Muara Kelingi hingga Sekayu yang merupakan ibukota Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) menjadi suguhan bagi peserta. Kabupaten Muba adalah tuan rumah Musi Triboatton 2016. Acara pembukaan lomba akan dilakukan di kabupaten ini.

Etape IV (14 Mei 2016)
Etape keempat dimulai dari Sekayu dan berakhir di Dermaga Pengumbuh, Kabupaten Banyuasin. Nama terakhir merupakan kabupaten hasil pemekaran Musi Banyuasin. Jaraknya 108 km.

Etape V (15 Mei 2016)
Terakhir, etape kelima pada 15 Mei, mengambil start dari Dermaga Pengumbuh dan finish di Kota Palembang, tepatnya di Kecamatan 10 Ulu. Jarak yang ditempuh peserta sejauh 75 kilometer. Etape ini sekaligus menjadi penutup event Musi Triboatton 2016.

Wisata Sungai Musi
Penyelenggaran Musi Triboatton pada bulan Mei pada edisi tahun ini merupakan hal baru. Sebelum-sebelumnya, selama empat tahun berturut-turut Musi Triboatton selalu diadakan pada akhir tahun. Mungkin supaya Palembang terus semarak karena Juni nanti ada Festival Bidar dalam rangkaian HUT Kota Palembang? Bisa jadi.

Yang jelas, event ini memang tak hanya bermuatan olahraga. Pemprov Sumatera Selatan menjadikan Musi Triboatton sebagai salah satu ajang untuk mempromosikan Sungai Musi dan juga objek-objek wisata menarik di sekitarnya. Apa saja sih?

FOTO: Wikipedia

1. Jembatan Ampera
Menyebut Sungai Musi tanpa menyinggung Jembatan Ampera seperti memasak sayur tak diberi garam. Ampera adalah singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Mulai dibangun pada April 1962 sebagai langkah untuk menyatukan bagian Seberang Ulu dan Seberang Ilir Kota Palembang.

Ide pembuatan jembatan di atas Sungai Musi sudah muncul sejak 1906. Tahun 1924, saat Le Cocq de Ville menjabat Walikota Palembang, rencana pembangunan jembatan kembali dicuatkan tapi tak pernah terwujud. Rencana ini juga menjadi perhatian para pemimpin Kota Palembang setelah kemerdekaan.

Pada 1957, dibentuklah panitia khusus yang menangani rencana pembangunan jembatan. Saat itu calon jembatan ini masih disebut sebagai Jembatan Musi. Butuh waktu lima tahun bagi panitia ini untuk meluluhkan Bung Karno, hingga pemerintah pusat memberi restu sekaligus membantu pembiayaan.

Karena kaki-kaki jembatan berada di tengah kota, Bung Karno yang dikenal sebagai peminat seni dan keindahan memberi syarat. Sebuah syarat yang malah membuat Kota Palembang menjadi indah, yakni pembuatan boulevard dan taman di kedua ujung jembatan. Karena itulah ada bundaran air mancur di 16 Ilir, tak jauh dari Masjid Agung Palembang.

Oya, mungkin tak banyak yang tahu kalau jembatan ini awalnya dinamai Jembatan Bung Karno. Pada saat diresmikan pada tahun 1965, jembatan ini merupakan yang terpanjang di Asia Tenggara. Sentimen anti-Soekarno usai G 30 S pada 1966 membuat namanya diubah jadi Jembatan Ampera. Sempat ada upaya untuk mengembalikan nama jembatan ke nama asal, tapi ditolak.

FOTO: WisataSatu.com

2. Benteng Kuto Besak
Benteng Kuto Besak adalah bekas benteng istana Kesultanan Palembang Darussalam. Disebut bekas karena kini bangunan tersebut dipakai sebagai markas Komando Daerah Militer (Kodam) II Sriwijaya. Di bagian pelataran Benteng Kuto Besak inilah wisatawan kerap berfoto selfie dengan latar belakang Jembatan Ampera.

Benteng Kuto Besak dibangun di masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II. Sewaktu saya kecil, Bapak bercerita pembangunan istana ini tidak memakai semen, tapi putih telur sebagai perekat. Tentu saja saya dibuat terheran-heran oleh cerita tersebut. Tak terbayang oleh saya butuh berapa ratus, ribu, atau bahkan ratusan ribu butir telur untuk membangun istana ini. Lalu, kuning telurnya untuk apa? :)

Sebelum Benteng Kuto Besak dibangun, Sultan Palembang tinggal di istana lama yang disebut sebagai Kuto Lamo atau Kuto Kecik yang kini jadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Sesuai namanya, Kuto Kecik berukuran lebih kecil dari Kuto Besak. Dalam bahasa Palembang, "kecik" berarti "kecil", sedangkan "besak" berarti "besar".

Oya, bulik saya dulu pernah bersekolah di Sekolah Pendidikan Kesehatan (SPK) di dekat Benteng Kuto Besak lho. Sekarang beliau jadi bidan senior di Martapura, OKU Timur. Eh, penting nggak sih? Hahaha. Tapi saya penasaran SPK itu masih ada tidak ya?

3. Monumen Penderitaan Rakyat (Monpera)
Rasanya tak banyak wisatawan yang familiar dengan spot satu ini. Monumen Penderitaan Rakyat (Monpera) terletak tak jauh dari Jembatan Ampera. Tepat di seberang Masjid Agung. Berbentuk khas dengan patung Burung Garuda di salah satu sisinya, bangunan ini didirikan sebagai pengingat perjuangan heroik warga Palembang melawan penjajah.

Monpera belum lama ini direnovasi. Tak banyak yang berubah sih, tapi ditambahkan dua meriam gunung dan satu buah tank tempur di halaman monumen. Lalu bagian dalam yang merupakan museum dipasangi kamera CCTV. Rencananya juga dibangun air mancur menari, tapi entah kenapa tidak jadi.

Saya punya kenangan lucu dengan monumen satu ini. Ketika berusia sekitar 2,5 tahun saya diajak Bapak ke Monpera. Dulu banyak sekali juru foto stand by di pelataran halaman. Setelah berjalan-jalan menyaksikan Jembatan Ampera dari kejauhan, Bapak mengajak saya berfoto. Bapak duduk di bangku kayu yang disiapkan juru foto, lalu memangku saya, siap difoto dengan latar belakang Monpera.

Tapi ketika juru foto mengarahkan kamera dengan lensa panjangnya ke arah kami, saya malah menjerit ketakutan. "Idak mau ditembak, idak mau ditembak!!!" jerit saya sembari berusaha lepas dari pangkuan Bapak. Lihat sendiri bagaimana jadinya foto tersebut di atas. Pada foto asli tertera "MAR 85" menandakan foto diambil pada Maret 1985.

Saya tidak ingat kenapa sampai begitu ketakutan dan menjerit-jerit. Tapi kata Ibu, saya mengira lensa panjang juru foto tersebut sebagai senapan atau tembakan. Hehehe...

FOTO: Palembang.go.id

4. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Pelancong mungkin hanya tahu Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, yang dulu di kalangan penduduk lokal lebih dikenal sebagai Bandara Talang Betutu. Jika Bandara SMB II adalah pintu masuk ke Kota Palembang lewat jalur udara, maka Museum Sultan Mahmud Badaruddin II adalah pintu masuk untuk mengenal lebih dalam sejarah Kota BARI ini.

Museum SMB II terletak dekat Monpera. Berjejer di jalan yang sama. Di sinilah tersimpan kekayaan sejarah Kota Palembang dan, tentu saja, Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam. Ada mata uang era Kesultanan di sini, juga artefak-artefak dari jaman Sriwijaya seperti patung-patung Buddha kuno.

Seperti disinggung sebelumnya, bangunan Museum SMB II dulunya adalah istana pertama Kesultanan Palembang Darussalam. Pembuatannya berbarengan dengan Masjid Agung Palembang. Lalu Sultan Mahmud Badaruddin I mencetuskan pembangunan istana baru yang lebih lebar di tempat yang lebih luas. Maka dibuatlah Kuto Besak yang hanya berjarak 400 meter ke sebelah barat.

Di masa penjajahan, Kuto Kecik sempat direbut tentara Belanda dan dijadikan rumah dinas Komisaris Jenderal Hindia Belanda. Pada saat Jepang menduduki Indonesia, tentara Dai Nippon menggunakan bangunan ini sebagai markas militer. Lalu ketika Republik Indonesia lahir, Kuto Kecik dijadikan markas TNI sebelum akhirnya difungsikan sebagai museum.


FOTO: SouthSumatraTourism.com

5. Masjid Agung Palembang
Sebagai muslim, bagi saya tak lengkap rasanya mengunjungi sebuah kota tanpa menyempatkan diri salat di masjid agung kota tersebut. Dan Masjid Agung Palembang adalah tempat yang sangat layak dikunjungi karena keindahan arsitektur dan sejarah yang tersimpan di dalamnya. Masjid ini merupakan yang terbesar di Sumatera Selatan, dan terbesar ketiga di Pulau Sumatera.

Masjid Agung Palembang dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I pada 1738 M. Pembuatan masjid ini dimaksudkan sebagai pengganti Masjid Kraton Kuto Gawang buatan Sultan Ki Gede Ing Suro yang dihancurkan tentara VOC pada 1659 M. Perang dengan Belanda membuat proses pembangunannya berlangsung hingga 10 tahun.

Masjid ini memiliki sentuhan arsitektur Jawa klasik dengan atap bersusun, lalu ada pula campuran budaya Tionghoa yang terlihat pada lengkungan-lengkungan di ujung-ujung atap. Jawa dan Tionghoa memang tak bisa dipisahkan dari sejarah Palembang. Bahkan, konon, nama Palembang sendiri berasal dari Pai Li Bang, nama murid Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang juga seorang menteri dari Tiongkok. Sedangkan pengaruh Jawa sangat kental dalam pendirian Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam.

Belanda berulang kali berusaha menghancurkan Masjid Agung selama perang. Berulang kali pula Sultan Palembang merenovasi bangunan masjid. Kini, Masjid Agung Palembang tak hanya menjadi pusat keagamaan di Kota Pempek, tapi juga salah satu tempat tujuan wisata. Apalagi tepat di hadapan masjid terdapat Bundaran Air Mancur nan indah itu.


FOTO: @ZIdan_JuniorMCI

6. Menyusuri Sungai Musi
Menyaksikan keindahan Sungai Musi dari Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, atau Pasar 16 Ilir adalah hal biasa. Ingin yang lebih seru? Rasakan pengalaman berbeda dengan menyusuri Sungai Musi naik perahu ketek.

Sebenarnya kita juga bisa naik speed boat selain perahu ketek. Tapi rasanya lebih afdol naik perahu ketek karena akan lebih terasa nuansa eksotisnya berada di atas sungai lebar ini. Laju perahu ketek yang tak secepat speed boat, juga penampakan perahu yang masih tradisional (alias biasa-biasa saja), memberi kesan berbeda.

Suasana bakal semakin melenakan kalau kita putar lagunya Alfian yang berjudul Sebiduk di Sungai Musi.

Tujuannya kemana? Kita bisa sekedar berputar-putar saja melintasi bagian bawah Jembatan Ampera. Naik dari Pasar 16 Ilir, perahu akan membawa kita ke arah barat, melihat-lihat bagian bawah jembatan, menyaksikan Plaza Benteng Kuto Besak dari kejauhan, lalu balik lagi ke dermaga. Kalau mau lebih jauh, arahkan sekalian perahu ke Pulau Kemaro yang berjarak sekitar 10 km dari Pasar 16 Ilir.

Kalau tak berani naik perahu, makan-makan di restoran terapung tak jauh dari pelataran Benteng Kuto Besak bisa jadi pilihan. Menu restoran ini sangat beragam, semuanya masakan khas Palembang. Lebih asyik lagi kalau datang ke sana saat malam, di mana Jembatan Ampera berpendar oleh cahaya lampu-lampu hias.

FOTO: Kompas/Irene Sarwindaningrum

7. Pulau Kemaro
Ini juga destinasi wisata menarik di Sungai Musi. Sayang, karena letaknya yang terbilang jauh dari pusat kota, serta hanya bisa dijangkau dengan perahu ketek, Pulau Kemaro kurang diminati. Padahal tempat ini sangat menarik dieksplorasi. Terutama karena Pulau Kemaro adalah sebuah pulau kecil di tengah-tengah Sungai Musi.

Ada berapa banyak pulau di tengah sungai seperti Pulau Kemaro ini di Indonesia, juga dunia? Bisa dihitung dengan jari.

Di Indonesia, "kembaran" Pulau Kemaro hanyalah Pulau Kumala (Sungai Mahakam), Pulau Kembang (Sungai Barito), dan Pulau Tayan (Sungai Kapuas). Ketiganya berada di Pulau Kalimantan. Tapi yang punya cerita dan sejarah, lengkap dengan bangunan kuno sebagai pelengkap legenda, ya hanya Pulau Kemaro. Di Jambi juga ada sih pulau di tengah Sungai Batanghari, tapi pulau tersebut hilang kalau air sungai pasang. :)

Pulau Kemaro lekat dengan legenda cinta Tan Bun Ann dengan Siti Fatimah, seorang putri Palembang. Karenanya pulau ini juga dikenal sebagai Pulau Cinta. Di sini ada Pohon Cinta yang, konon, bila satu pasangan menorehkan namanya di pohon ini maka cinta di antara keduanya bakal abadi sampai mati. Entah benar entah tidak, namanya juga mitos.

Di pulau ini terdapat pagoda berlantai sembilan dalam komplesk Klenteng Hok Cing Bio, plus patung-patung dewa Tionghoa. Karenanya pulau ini selalu dipadati umat Buddha dari kalangan keturunan Tionghoa saat peringatan-peringatan tertentu.

Bapak berfoto dengan latar belakang Masjid Agung Palembang, April 1985. Tampak juga beberapa angkot merah tengah melintas. Ini angkot lama yang merupakan eks kendaraan perang dan bodinya masih terbuat dari kayu.

Nah, banyak juga kan destinasi wisata di sekitar Sungai Musi? Catat, itu hanya di sekitaran Sungai Musi ya. Belum termasuk Kantor Walikota Palembang yang letaknya tak jauh dari Benteng Kuto Besak. Bangunan jaman Belanda ini belakangan juga jadi objek wisata, terutama bagi peminat sejarah dan arsitektur.

Saya juga tidak menyebut Pasar 16 Ilir, pasar terbesar di Kota Palembang yang kerap disebut sebagai Tanah Abang-nya Palembang. Mau mencicipi aneka jajanan khas Palembang sembari menikmati panorama Sungai Musi, atau berbelanja oleh-oleh untuk dibawa pulang? Datangi saja pasar ini.

Jadi ingin mengunjungi Palembang kan? Sama. Saya terakhir kali menyambangi kota ini tahun 2007, tujuannya tentu saja mengunjungi Simbah di Lebong Siareng dan paman di Jl. Mayor Zurbi Bustan. November tahun lalu, saya hanya melintas di kota ini dalam perjalanan dari Jambi ke Pemalang naik bus bersama anak dan istri.

Tentu saja ada kerinduan membuncah pada kota kelahiran ini. Kota di mana seluruh masa kecil saya tersimpan. Kota yang sekaligus menimbulkan rasa marah karena apa yang kini terlihat tak lagi sama dengan yang ada dalam memori saya. Sampai kapanpun saya akan tetap mengenang Palembang, seperti halnya nama kota ini akan terus tertera di KTP saya seumur hidup.

Sebenarnya saya ingin sekali ke Palembang begitu mendengar kabar Simbah meninggal akhir April lalu. Namun begitu banyak pertimbangan membuat saya harus memendam dalam-dalam keinginan tersebut. Sepekan berselang adik saya yang di Jakarta berulang kali menelepon, mengajak saya ke Palembang untuk menghadiri peringatan nujuh hari Simbah. Lagi-lagi saya tak bisa ikut.

Eh, kok kebetulan sekali ada Lomba Blog Jelajah Musi Triboatton. Hadiahnya bikin saya mupeng karena tiga pemenang bakal diundang ke Palembang untuk menyaksikan etape pamungkas sekaligus acara penutupan Musi Triboatton 2016. Namanya diundang, pihak pengundang yang membayari tiket perjalanan dan akomodasi selama di Kota Pempek ini. Wah, madu donk...

Kalaupun ternyata tidak terpilih sebagai pemenang ya tidak apa-apa. Hitung-hitung saya ikut mempromosikan event akbar di kota kelahiran, sembari mengais-ais kenangan indah selama 10 tahun di sana.

Catatan: Foto paling atas diambil dari SumselPostOnline.com

Selasa, 03 Mei 2016


SEBUAH kabar duka datang dari Palembang, kota kelahiran saya, tepat sepekan lalu. Simbah dari pihak Bapak meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Ingin sekali saya langsung terbang ke Palembang, tapi terlalu banyak yang harus dipertimbangkan sehingga hanya menulis ucapan duka lewat Facebook yang bisa saya lakukan.

Tampaknya saya satu-satunya cucu Simbah yang tidak hadir ke Palembang. Belum lama adik perempuan saya yang tinggal di Jakarta mengunggah foto dirinya bersama adik bungsu kami, plus sepupu-sepupu dan seorang paman, di pelataran Benteng Kuto Besak. Tentu saja dengan latar belakang Jembatan Ampera nan legendaris itu.

Ngiri? Tentu saja. Lahir dan tumbuh besar di Palembang, belum pernah sekalipun saya berfoto di Benteng Kuto Besak. Apalagi di spot yang kini jadi favorit selfie wisatawan. Yang ada hanya foto berlatar belakang Monumen Penderitaan Rakyat (Monpera) yang berada tak jauh dari Jembatan Ampera, tapi jembatannya tidak kelihatan. Kata Ibu usia saya masih kisaran 3-4 tahun saat itu.

Sebenarnya adik perempuan saya sudah bolak-balik menelepon, mengajak saya ke Palembang untuk mengikuti kenduri nujuh hari Simbah. "Anda berangkat dengan Ibu, Bapak jugo berangkat motoran dari Jambi. Adik Fajar ikut dengan Win dari Jakarta," dia membeberkan.

Anda adalah panggilan untuk adik kedua saya, seorang dokter hewan yang berdinas di Sungai Bahar, Jambi. Anda lahir tepat setelah Win, adik perempuan saya yang menelepon ini. Sedangkan Fajar merupakan adik bungsu yang tengah menempuh kuliah di Institut Pertanian Bogor. Ceritanya, Anda bersama Ibu bermotor dari Sungai Bahar ke Jambi, lalu sepeda motornya dititipkan di rumah seorang teman dan perjalanan disambung naik bus ke Palembang. Sedangkan Bapak sepertinya akan kembali bermotor seperti saat hari Simbah meninggal.

Meski sangat ingin ikut, saya harus memendam dalam-dalam keinginan 'mudik' ke Palembang. Selain mengikuti kenduri nujuh hari Simbah di Lebong Siareng, Sukarami, saya juga kangen dengan kota kelahiran ini. Saya terakhir kali ke Palembang pada tahun 2007. Simbah masih sangat sehat waktu itu, masih kuat berjualan di sebuah kios kecil dekat mulut Lorong Mufakat III yang menghadap ke Jl. Pipa Reja. Disebut Jl. Pipa Reja karena di sepanjang pinggiran jalan ini terdapat jaringan pipa gas.

Ketika itu ceritanya saya hendak berangkat ke Jogja setelah menghabiskan Ramadhan dan berlebaran di Jambi. Mampir sejenak di Palembang sudah jadi tradisi setiap kali mudik, paling sedikit dua hari. Selain Simbah, masih ada seorang paman yang tinggal di Jl. Mayor Zurbi Bustan, tak jauh dari rumah Simbah. Juga ada seorang bude yang rumahnya berpindah-pindah sehingga sulit sekali ditemui.

Kalau sedang berada di Palembang seperti itu saya akan bagi-bagi waktu kunjungan. Semalam menginap bersama Simbah, lalu malam lainnya menginap di rumah paman. Sungguh tak disangka, rupanya suatu malam di tahun 2007 itu menjadi malam terakhir saya mengunjungi Simbah di rumahnya. Entah ini dinamakan firasat atau bukan, beberapa hari sebelum Simbah meninggal saya sempat chat dengan adik sepupu di Pendopo dan bilang, "Kangen sama Simbah."

Pandai Memasak
Harus diakui saya tak terlalu dekat secara emosional dengan Simbah. Pun dengan simbah-simbah yang lain. Tapi Simbah inilah yang mengikuti pertumbuhan saya dan adik-adik semasa kami tinggal di Palembang. Rumah kami waktu itu berjejer dengan rumah Simbah. Sumurnya malah jadi satu, sedangkan kamar mandi hanya dibatasi tembok dengan bak mandi yang bersambung.

Boleh dikatakan setelah Ibu peran Simbah sangat mendominasi selama 10 tahun awal kehidupan saya di dunia ini. Bapak jarang sekali di rumah masa-masa itu. Pekerjaan sebagai buruh bangunan mengharuskannya berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain di Sumatera Selatan, mengikuti proyek yang sedang digarap perusahaan kontraktor milik bos yang juga saudara sepupunya.

Tapi jangan bayangkan saya diasuh Simbah, digendong-gendong ke sana-sini sementara Ibu saya membereskan pekerjaan rumah. Tidak. Simbah terlalu sibuk berjualan. Sebelum Subuh beliau sudah berangkat ke Pasar Paal Limo yang ada di mulut Jl. Sosial untuk kulakan sayur-mayur. Lalu pulangnya menata dagangan di warung mungilnya yang berdiri di atas sebidang tanah kosong entah milik siapa. Seharian penuh Simbah berada di sana. Bahkan masak pun di warung itu.

Biasanya saya yang iseng mengunjungi warung Simbah. Kalau ada jajanan pasar tersisa, itu akan jadi jatah saya. Hehehe... Tapi sering kali tak ada apa-apa untuk saya, kecuali es lilin titipan tetangga. Sebagai gantinya Simbah memberi sekeping dua uang Rp50 atau Rp100 untuk jajan. Jaman itu snack bungkusan kecil yang sekarang (di Pemalang) dijual Rp500 masih seharga Rp25. Malah ada satu mi instan bermerek Doremi yang harganya hanya Rp150 sebungkus.

Satu hal yang paling saya ingat dari Simbah, beliau sangat pandai memasak. Konon, dari beliaulah Ibu belajar memasak dan sampai kini dikenal sebagai juru masak paling enak di kalangan keluarga besar. Selain masakan besar, Simbah pun mahir membuat aneka jajanan khas Palembang. Sebut saja pempek, tekwan, laksan, model, sampai makanan kreasi yang tak pernah lagi saya nikmati setelah meninggalkan Palembang: rujak mi. Pun demikian masakan Jawa karena beliau berasal dari Trenggalek.

Setelah dibawa ke Batumarta pada tahun 1992, saya baru kembali bertemu Simbah pada pertengahan 1995. Waktu itu Ibu memboyong saya dan adik-adik pindah dari Batumarta ke Jambi mengikuti Bapak yang merantau ke propinsi tetangga tersebut sejak 1990. Kunjungan ke Palembang berikutnya baru terjadi di tahun 2000, selepas lulus SMA.

Lalu saya kuliah di Jogja dan menetap di kota tersebut sampai 2010. Saya selalu menyempatkan diri ke Palembang setiap kali mudik ke Jambi. Biasanya dalam perjalanan kembali ke Jogja. Dari Jambi naik bus Banyu Asin atau IMI ke Palembang, lalu setelah menginap barang dua malam saya naik bus Ramayana atau Putra Remaja untuk ke Jogja. Tapi sejak keenakan mudik naik pesawat, saya tak pernah lagi mampir ke Palembang.

Saya terakhir kali mampir ke Palembang pada 2007, menginap di rumah Simbah dan menghabiskan satu malam untuk bercerita tentang sosok Simbah Lanang yang tak pernah saya kenal. Kemudian saya mengunjungi rumah paman di Pendopo dan menghabiskan nyaris sepekan di sana. Pendopo adalah tempat tinggal Simbah saat pertama kali datang ke Sumatra dan bekerja di sebuah perusahaan minyak Belanda, tempat kelahiran Bapak dan seluruh saudaranya. Di sini pula makam Simbah Lanang berada.

Dua tahun berselang Simbah datang ke Jambi bersama keluarga besar dari Palembang untuk menghadiri pernikahan adik saya. Tak disangka, rupanya itulah pertemuan terakhir saya dengan Simbah. Tujuh tahun saya tak pernah lagi bertemu dengan beliau, hingga kabar duka itu disampaikan pada saya.

Selamat jalan, Mbah...


SEBUAH kabar duka datang dari Palembang, kota kelahiran saya, tepat sepekan lalu. Simbah dari pihak Bapak meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Ingin sekali saya langsung terbang ke Palembang, tapi terlalu banyak yang harus dipertimbangkan sehingga hanya menulis ucapan duka lewat Facebook yang bisa saya lakukan.

Tampaknya saya satu-satunya cucu Simbah yang tidak hadir ke Palembang. Belum lama adik perempuan saya yang tinggal di Jakarta mengunggah foto dirinya bersama adik bungsu kami, plus sepupu-sepupu dan seorang paman, di pelataran Benteng Kuto Besak. Tentu saja dengan latar belakang Jembatan Ampera nan legendaris itu.

Ngiri? Tentu saja. Lahir dan tumbuh besar di Palembang, belum pernah sekalipun saya berfoto di Benteng Kuto Besak. Apalagi di spot yang kini jadi favorit selfie wisatawan. Yang ada hanya foto berlatar belakang Monumen Penderitaan Rakyat (Monpera) yang berada tak jauh dari Jembatan Ampera, tapi jembatannya tidak kelihatan. Kata Ibu usia saya masih kisaran 3-4 tahun saat itu.

Sebenarnya adik perempuan saya sudah bolak-balik menelepon, mengajak saya ke Palembang untuk mengikuti kenduri nujuh hari Simbah. "Anda berangkat dengan Ibu, Bapak jugo berangkat motoran dari Jambi. Adik Fajar ikut dengan Win dari Jakarta," dia membeberkan.

Anda adalah panggilan untuk adik kedua saya, seorang dokter hewan yang berdinas di Sungai Bahar, Jambi. Anda lahir tepat setelah Win, adik perempuan saya yang menelepon ini. Sedangkan Fajar merupakan adik bungsu yang tengah menempuh kuliah di Institut Pertanian Bogor. Ceritanya, Anda bersama Ibu bermotor dari Sungai Bahar ke Jambi, lalu sepeda motornya dititipkan di rumah seorang teman dan perjalanan disambung naik bus ke Palembang. Sedangkan Bapak sepertinya akan kembali bermotor seperti saat hari Simbah meninggal.

Meski sangat ingin ikut, saya harus memendam dalam-dalam keinginan 'mudik' ke Palembang. Selain mengikuti kenduri nujuh hari Simbah di Lebong Siareng, Sukarami, saya juga kangen dengan kota kelahiran ini. Saya terakhir kali ke Palembang pada tahun 2007. Simbah masih sangat sehat waktu itu, masih kuat berjualan di sebuah kios kecil dekat mulut Lorong Mufakat III yang menghadap ke Jl. Pipa Reja. Disebut Jl. Pipa Reja karena di sepanjang pinggiran jalan ini terdapat jaringan pipa gas.

Ketika itu ceritanya saya hendak berangkat ke Jogja setelah menghabiskan Ramadhan dan berlebaran di Jambi. Mampir sejenak di Palembang sudah jadi tradisi setiap kali mudik, paling sedikit dua hari. Selain Simbah, masih ada seorang paman yang tinggal di Jl. Mayor Zurbi Bustan, tak jauh dari rumah Simbah. Juga ada seorang bude yang rumahnya berpindah-pindah sehingga sulit sekali ditemui.

Kalau sedang berada di Palembang seperti itu saya akan bagi-bagi waktu kunjungan. Semalam menginap bersama Simbah, lalu malam lainnya menginap di rumah paman. Sungguh tak disangka, rupanya suatu malam di tahun 2007 itu menjadi malam terakhir saya mengunjungi Simbah di rumahnya. Entah ini dinamakan firasat atau bukan, beberapa hari sebelum Simbah meninggal saya sempat chat dengan adik sepupu di Pendopo dan bilang, "Kangen sama Simbah."

Pandai Memasak
Harus diakui saya tak terlalu dekat secara emosional dengan Simbah. Pun dengan simbah-simbah yang lain. Tapi Simbah inilah yang mengikuti pertumbuhan saya dan adik-adik semasa kami tinggal di Palembang. Rumah kami waktu itu berjejer dengan rumah Simbah. Sumurnya malah jadi satu, sedangkan kamar mandi hanya dibatasi tembok dengan bak mandi yang bersambung.

Boleh dikatakan setelah Ibu peran Simbah sangat mendominasi selama 10 tahun awal kehidupan saya di dunia ini. Bapak jarang sekali di rumah masa-masa itu. Pekerjaan sebagai buruh bangunan mengharuskannya berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain di Sumatera Selatan, mengikuti proyek yang sedang digarap perusahaan kontraktor milik bos yang juga saudara sepupunya.

Tapi jangan bayangkan saya diasuh Simbah, digendong-gendong ke sana-sini sementara Ibu saya membereskan pekerjaan rumah. Tidak. Simbah terlalu sibuk berjualan. Sebelum Subuh beliau sudah berangkat ke Pasar Paal Limo yang ada di mulut Jl. Sosial untuk kulakan sayur-mayur. Lalu pulangnya menata dagangan di warung mungilnya yang berdiri di atas sebidang tanah kosong entah milik siapa. Seharian penuh Simbah berada di sana. Bahkan masak pun di warung itu.

Biasanya saya yang iseng mengunjungi warung Simbah. Kalau ada jajanan pasar tersisa, itu akan jadi jatah saya. Hehehe... Tapi sering kali tak ada apa-apa untuk saya, kecuali es lilin titipan tetangga. Sebagai gantinya Simbah memberi sekeping dua uang Rp50 atau Rp100 untuk jajan. Jaman itu snack bungkusan kecil yang sekarang (di Pemalang) dijual Rp500 masih seharga Rp25. Malah ada satu mi instan bermerek Doremi yang harganya hanya Rp150 sebungkus.

Satu hal yang paling saya ingat dari Simbah, beliau sangat pandai memasak. Konon, dari beliaulah Ibu belajar memasak dan sampai kini dikenal sebagai juru masak paling enak di kalangan keluarga besar. Selain masakan besar, Simbah pun mahir membuat aneka jajanan khas Palembang. Sebut saja pempek, tekwan, laksan, model, sampai makanan kreasi yang tak pernah lagi saya nikmati setelah meninggalkan Palembang: rujak mi. Pun demikian masakan Jawa karena beliau berasal dari Trenggalek.

Setelah dibawa ke Batumarta pada tahun 1992, saya baru kembali bertemu Simbah pada pertengahan 1995. Waktu itu Ibu memboyong saya dan adik-adik pindah dari Batumarta ke Jambi mengikuti Bapak yang merantau ke propinsi tetangga tersebut sejak 1990. Kunjungan ke Palembang berikutnya baru terjadi di tahun 2000, selepas lulus SMA.

Lalu saya kuliah di Jogja dan menetap di kota tersebut sampai 2010. Saya selalu menyempatkan diri ke Palembang setiap kali mudik ke Jambi. Biasanya dalam perjalanan kembali ke Jogja. Dari Jambi naik bus Banyu Asin atau IMI ke Palembang, lalu setelah menginap barang dua malam saya naik bus Ramayana atau Putra Remaja untuk ke Jogja. Tapi sejak keenakan mudik naik pesawat, saya tak pernah lagi mampir ke Palembang.

Saya terakhir kali mampir ke Palembang pada 2007, menginap di rumah Simbah dan menghabiskan satu malam untuk bercerita tentang sosok Simbah Lanang yang tak pernah saya kenal. Kemudian saya mengunjungi rumah paman di Pendopo dan menghabiskan nyaris sepekan di sana. Pendopo adalah tempat tinggal Simbah saat pertama kali datang ke Sumatra dan bekerja di sebuah perusahaan minyak Belanda, tempat kelahiran Bapak dan seluruh saudaranya. Di sini pula makam Simbah Lanang berada.

Dua tahun berselang Simbah datang ke Jambi bersama keluarga besar dari Palembang untuk menghadiri pernikahan adik saya. Tak disangka, rupanya itulah pertemuan terakhir saya dengan Simbah. Tujuh tahun saya tak pernah lagi bertemu dengan beliau, hingga kabar duka itu disampaikan pada saya.

Selamat jalan, Mbah...

Minggu, 24 April 2016


SUATU sore seorang teman asal Kesesi, daerah asalnya Mbak Noorma, berkirim pesan via WhatsApp pada saya. "Njuh, maring Tegal," tulisnya singkat. Tanpa pikir panjang saya langsung menjawab lebih singkat, "Njuh!" Lalu dalam kepala saya terbayang-bayang sebuah gambar kami tengah duduk menyeruput coklat panas di sebuah kedai kekinian, AWE Chocolate and Milk.

Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mengiyakan ajakan itu. Saya punya beberapa teman di Tegal, satu di antaranya Mas Angga yang merupakan owner AWE Chocolate and Milk. Ini kafe yang tengah jadi lokasi favorit muda-mudi Tegal untuk nongkrong. Menu andalannya aneka varian minuman coklat, lalu kemudian menyusul disediakan pula bermacam-macam kreasi susu.

Saya kenal Mas Angga berkat Sedekah Rombongan. Waktu itu kami sama-sama kurir di gerakan sosial yang digagas oleh Saptuari Sugiharto ini. Saya kurir area Pemalang, Mas Angga wilayah Tegal bersama Mas Indrawan (owner GalGil), lalu teman saya yang asal Kesesi kurir Pekalongan. Tapi kini saya sudah tidak aktif lagi di Sedekah Rombongan. (Baca juga: Suka-Duka Jadi Kurir Sedekah Rombongan)

Kami pertama kali bertemu di tahun 2013 saat koordinator SR Pantura mengumpulkan kami di RM Pande Rasa, Pekalongan. Sembari menunggu Mas Koordinator yang datang sangat telat dari jadwal yang ia tentukan sendiri, kami pun saling bertukar cerita. Dari situlah saya tahu Mas Angga mempunyai usaha kuliner. Waktu itu namanya masih Kedai Awe alias Kedai AW.

Sejak itu saya selalu menyempatkan diri mampir ke Kedai Awe setiap kali ke Tegal. Seringkali sih tidak ketemu Mas Angga karena kedainya ditunggui dua karyawan. Masa itu kedai ini masih berlokasi di Jl. AR Hakim, dekat kantor Pegadaian. Wujudnya pun "hanya" gerobak angkringan, lalu pembeli duduk lesehan menikmati pesanan masing-masing di emperan toko sebelah kantor Pegadaian beralas tikar.

Meski masih level lesehan, Mas Angga sudah sangat sadar akan pentingnya branding. Karenanya ia aktif di media sosial, utamanya Facebook, Twitter dan Instagram. Kedai Awe ia buatkan akun dan aktif menyapa pelanggan. Masa itu menu andalannya coklat, jadi ia setiap hari mengunggah foto-foto minuman coklat di akun-akun tersebut. (Belakangan, Mas Angga hanya aktif di Instragram. Entah mengapa.)

Oya, sekalipun (saat itu) hanya bermodal gerobak angkringan, Mas Angga bercerita omsetnya bisa menyentuh angka rata-rata Rp 1 juta semalam. Bahkan di malam weekend setidaknya bisa terkumpul lebih dari itu. Artinya, dalam sebulan usahanya menghasilkan sekitar Rp 30 juta. Dikurang gaji karyawan, modal, serta pengeluaran lain untuk operasional harian, keuntungan bersih yang dikantongi Mas Angga masih lebih banyak dari gaji manajer rendahan.

Pindah ke Jl. Srigunting
Tahun berganti, Kedai Awe semakin laris manis. Konsumen utamanya adalah kalangan muda yang menghabiskan malam sembari berbincang-bincang dengan teman sebaya. Dari lesehan di emperan ruko, Mas Angga kemudian mampu menyewa ruko tepat di sebelah Pegadaian. Dulunya ruko itu berjualan ayam goreng, tapi entah kenapa kemudian kontraknya tak diperpanjang.

Sejak itu pembeli punya dua pilihan untuk menikmati minuman khas Kedai Awe. Yang biasa duduk lesehan bisa menuju ke emperan toko seperti sebelumnya, sedangkan yang ingin duduk di kursi dipersilakan masuk ke dalam ruko yang disulap jadi sebuah kafe sederhana.

Tak ada lagi gerobak angkringan. Dapur pengolahan dipindah ke dalam ruko, yang sekaligus berfungsi sebagai kasir. Karyawannya juga bertambah, tampak seorang perempuan muda di belakang meja kasir. Pembayaran pun sekarang dilengkapi nota. Sebelumnya, pesanan dibuat di gerobak angkringan, lalu pembayaran dilakukan sembari berdiri di samping atau depan gerobak, tanpa nota.


Pembeli semakin membludak. Kafe mungil dan tikar-tikar di emperan toko tak mampu lagi menampung pembeli, terutama di malam-malam weekend. Selain itu, Mas Angga juga ingin menjadikan kafenya tempat nongkrong yang lebih berkelas. Tetap menyasar kaum muda dari kalangan menengah, tapi tempatnya dibuat lebih nyaman. Ia ingin say goodbye pada lesehan di emperan toko.

Lalu disewalah sebuah lokasi di Jl. Srigunting. Tempatnya besar. Mas Angga menyulapnya menjadi sebuah kafe yang semarak. Sebagian ruangan ia tinggikan, dikungkungi oleh pagar artifisial, hanya ada meja tanpa kursi. Ini tempat khusus bagi yang suka lesehan tentu saja. Lalu sebagian rungan lagi diisi seperangkat meja kursi.

Seisi ruangan dihiasi dengan berbagai hiasan menarik. Ada mural artistik di bagian rolling door, yang jika pintunya dibuka mural tersebut berada tepat di sisi-sisi ruangan. Ada pula foto-foto berbingkai di bagian lain. Tak lupa, dipajang pula foto-foto Kedai Awe di masa lalu, sejak mulai berjualan dengan gerobak angkringan di Jl. AR Hakim.

Yang menarik perhatian saya adalah foto Presiden Soeharto yang memegang segelas coklat sembari tersenyum di sebelah kasir. Lalu ada pula foto bintang sepakbola terkenal yang juga memegang segelas coklat Awe. Tentu saja foto-foto tokoh ini hasil olahan komputer. Tapi ide kreatif tersebut setidaknya mampu membuat pengunjung menyunggingkan senyum.

Keseluruhan interior Kedai Awe sangat menarik dipandang. Banyak pengunjung yang dengan bangga berfoto selfie di kafe ini, lalu mengunggahnya di media sosial. Karenanya sebuah media online lokal memasukkan Kedai Awe sebagai salah satu kafe yang instagramable.

Jarang Bayar
Kembali ke ajakan Mas Furqan hari itu, menjelang Ashar kami pun meluncur ke Tegal. Setelah menyelesaikan urusannya di suatu tempat, kami mengarahkan kemudi ke Jl. Srigunting. Ini kali pertama saya mengunjungi Kedai Awe sejak pindah dari Jl. AR Hakim.

Sesampainya di sana saya langsung berdecak. Terbayang dalam ingatan saya bagaimana dulu, kira-kira 3-4 tahun lalu, kafe ini "hanyalah" sebuah kedai lesehan dengan gerobak angkringan di emperan toko. Saya masih ingat betul saat tengah nongkrong di Kedai Awe hujan turun, kami harus duduk menempel rolling door toko agar tak terkena percikan air hujan.

Sore itu juga saya baru tahu kalau branding Awe sudah berubah. Logo yang dulu berupa biji coklat (atau biji kopi?) berwarna coklat, berganti jadi kepala sapi. Tak ada lagi Kedai Awe Coffe and Chocolate, namanya berganti jadi Awe Chocolate and Milk seiring tekad Mas Angga untuk memasyarakatkan minum susu.

Sore itu saya memesan segelas coklat panas, mi telur dan sepiring mendoan. Sedangkan Mas Furqan memilih es susu segar sebagai minuman, makanannya sama. Kami pun menunggu Magrib sembari menyantap mi telur dan mendoan, diselingi menyeruput minuman masing-masing.

Kami sengaja tidak mengabari Mas Angga. Pengalaman yang sudah-sudah, Mas Angga tidak membolehkan kami membayar kalau dia tahu kami berkunjung ke kafenya. Sewaktu masih di Jl. AR Hakim pernah saya ngotot pada karyawannya agar mau menerima uang pembayaran, tapi karyawan tersebut tak kalah ngotot menolak karena sudah dibisiki Mas Angga. Ya sudah, cuma tukang parkir yang mau menerima uang kami. Hahaha.

Sebenarnya sih mau juga bertemu Mas Angga, sekedar ngobrol karena sudah lama tidak bertemu. Tapi sore itu kami benar-benar tak mau kedatangan kami ke Awe Chocolate and Milk diketahui pemilik nama lengkap Anggoro Wibowo tersebut. Selepas menghabiskan pesanan, kami mampir sebentar ke masjid untuk salat Magrib, lalu kembali ke Pemalang.

Ini dia video saya bersama Mas Furqan menikmati coklat dan susu segar di Awe Chocolate and Milk.





SUATU sore seorang teman asal Kesesi, daerah asalnya Mbak Noorma, berkirim pesan via WhatsApp pada saya. "Njuh, maring Tegal," tulisnya singkat. Tanpa pikir panjang saya langsung menjawab lebih singkat, "Njuh!" Lalu dalam kepala saya terbayang-bayang sebuah gambar kami tengah duduk menyeruput coklat panas di sebuah kedai kekinian, AWE Chocolate and Milk.

Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mengiyakan ajakan itu. Saya punya beberapa teman di Tegal, satu di antaranya Mas Angga yang merupakan owner AWE Chocolate and Milk. Ini kafe yang tengah jadi lokasi favorit muda-mudi Tegal untuk nongkrong. Menu andalannya aneka varian minuman coklat, lalu kemudian menyusul disediakan pula bermacam-macam kreasi susu.

Saya kenal Mas Angga berkat Sedekah Rombongan. Waktu itu kami sama-sama kurir di gerakan sosial yang digagas oleh Saptuari Sugiharto ini. Saya kurir area Pemalang, Mas Angga wilayah Tegal bersama Mas Indrawan (owner GalGil), lalu teman saya yang asal Kesesi kurir Pekalongan. Tapi kini saya sudah tidak aktif lagi di Sedekah Rombongan. (Baca juga: Suka-Duka Jadi Kurir Sedekah Rombongan)

Kami pertama kali bertemu di tahun 2013 saat koordinator SR Pantura mengumpulkan kami di RM Pande Rasa, Pekalongan. Sembari menunggu Mas Koordinator yang datang sangat telat dari jadwal yang ia tentukan sendiri, kami pun saling bertukar cerita. Dari situlah saya tahu Mas Angga mempunyai usaha kuliner. Waktu itu namanya masih Kedai Awe alias Kedai AW.

Sejak itu saya selalu menyempatkan diri mampir ke Kedai Awe setiap kali ke Tegal. Seringkali sih tidak ketemu Mas Angga karena kedainya ditunggui dua karyawan. Masa itu kedai ini masih berlokasi di Jl. AR Hakim, dekat kantor Pegadaian. Wujudnya pun "hanya" gerobak angkringan, lalu pembeli duduk lesehan menikmati pesanan masing-masing di emperan toko sebelah kantor Pegadaian beralas tikar.

Meski masih level lesehan, Mas Angga sudah sangat sadar akan pentingnya branding. Karenanya ia aktif di media sosial, utamanya Facebook, Twitter dan Instagram. Kedai Awe ia buatkan akun dan aktif menyapa pelanggan. Masa itu menu andalannya coklat, jadi ia setiap hari mengunggah foto-foto minuman coklat di akun-akun tersebut. (Belakangan, Mas Angga hanya aktif di Instragram. Entah mengapa.)

Oya, sekalipun (saat itu) hanya bermodal gerobak angkringan, Mas Angga bercerita omsetnya bisa menyentuh angka rata-rata Rp 1 juta semalam. Bahkan di malam weekend setidaknya bisa terkumpul lebih dari itu. Artinya, dalam sebulan usahanya menghasilkan sekitar Rp 30 juta. Dikurang gaji karyawan, modal, serta pengeluaran lain untuk operasional harian, keuntungan bersih yang dikantongi Mas Angga masih lebih banyak dari gaji manajer rendahan.

Pindah ke Jl. Srigunting
Tahun berganti, Kedai Awe semakin laris manis. Konsumen utamanya adalah kalangan muda yang menghabiskan malam sembari berbincang-bincang dengan teman sebaya. Dari lesehan di emperan ruko, Mas Angga kemudian mampu menyewa ruko tepat di sebelah Pegadaian. Dulunya ruko itu berjualan ayam goreng, tapi entah kenapa kemudian kontraknya tak diperpanjang.

Sejak itu pembeli punya dua pilihan untuk menikmati minuman khas Kedai Awe. Yang biasa duduk lesehan bisa menuju ke emperan toko seperti sebelumnya, sedangkan yang ingin duduk di kursi dipersilakan masuk ke dalam ruko yang disulap jadi sebuah kafe sederhana.

Tak ada lagi gerobak angkringan. Dapur pengolahan dipindah ke dalam ruko, yang sekaligus berfungsi sebagai kasir. Karyawannya juga bertambah, tampak seorang perempuan muda di belakang meja kasir. Pembayaran pun sekarang dilengkapi nota. Sebelumnya, pesanan dibuat di gerobak angkringan, lalu pembayaran dilakukan sembari berdiri di samping atau depan gerobak, tanpa nota.


Pembeli semakin membludak. Kafe mungil dan tikar-tikar di emperan toko tak mampu lagi menampung pembeli, terutama di malam-malam weekend. Selain itu, Mas Angga juga ingin menjadikan kafenya tempat nongkrong yang lebih berkelas. Tetap menyasar kaum muda dari kalangan menengah, tapi tempatnya dibuat lebih nyaman. Ia ingin say goodbye pada lesehan di emperan toko.

Lalu disewalah sebuah lokasi di Jl. Srigunting. Tempatnya besar. Mas Angga menyulapnya menjadi sebuah kafe yang semarak. Sebagian ruangan ia tinggikan, dikungkungi oleh pagar artifisial, hanya ada meja tanpa kursi. Ini tempat khusus bagi yang suka lesehan tentu saja. Lalu sebagian rungan lagi diisi seperangkat meja kursi.

Seisi ruangan dihiasi dengan berbagai hiasan menarik. Ada mural artistik di bagian rolling door, yang jika pintunya dibuka mural tersebut berada tepat di sisi-sisi ruangan. Ada pula foto-foto berbingkai di bagian lain. Tak lupa, dipajang pula foto-foto Kedai Awe di masa lalu, sejak mulai berjualan dengan gerobak angkringan di Jl. AR Hakim.

Yang menarik perhatian saya adalah foto Presiden Soeharto yang memegang segelas coklat sembari tersenyum di sebelah kasir. Lalu ada pula foto bintang sepakbola terkenal yang juga memegang segelas coklat Awe. Tentu saja foto-foto tokoh ini hasil olahan komputer. Tapi ide kreatif tersebut setidaknya mampu membuat pengunjung menyunggingkan senyum.

Keseluruhan interior Kedai Awe sangat menarik dipandang. Banyak pengunjung yang dengan bangga berfoto selfie di kafe ini, lalu mengunggahnya di media sosial. Karenanya sebuah media online lokal memasukkan Kedai Awe sebagai salah satu kafe yang instagramable.

Jarang Bayar
Kembali ke ajakan Mas Furqan hari itu, menjelang Ashar kami pun meluncur ke Tegal. Setelah menyelesaikan urusannya di suatu tempat, kami mengarahkan kemudi ke Jl. Srigunting. Ini kali pertama saya mengunjungi Kedai Awe sejak pindah dari Jl. AR Hakim.

Sesampainya di sana saya langsung berdecak. Terbayang dalam ingatan saya bagaimana dulu, kira-kira 3-4 tahun lalu, kafe ini "hanyalah" sebuah kedai lesehan dengan gerobak angkringan di emperan toko. Saya masih ingat betul saat tengah nongkrong di Kedai Awe hujan turun, kami harus duduk menempel rolling door toko agar tak terkena percikan air hujan.

Sore itu juga saya baru tahu kalau branding Awe sudah berubah. Logo yang dulu berupa biji coklat (atau biji kopi?) berwarna coklat, berganti jadi kepala sapi. Tak ada lagi Kedai Awe Coffe and Chocolate, namanya berganti jadi Awe Chocolate and Milk seiring tekad Mas Angga untuk memasyarakatkan minum susu.

Sore itu saya memesan segelas coklat panas, mi telur dan sepiring mendoan. Sedangkan Mas Furqan memilih es susu segar sebagai minuman, makanannya sama. Kami pun menunggu Magrib sembari menyantap mi telur dan mendoan, diselingi menyeruput minuman masing-masing.

Kami sengaja tidak mengabari Mas Angga. Pengalaman yang sudah-sudah, Mas Angga tidak membolehkan kami membayar kalau dia tahu kami berkunjung ke kafenya. Sewaktu masih di Jl. AR Hakim pernah saya ngotot pada karyawannya agar mau menerima uang pembayaran, tapi karyawan tersebut tak kalah ngotot menolak karena sudah dibisiki Mas Angga. Ya sudah, cuma tukang parkir yang mau menerima uang kami. Hahaha.

Sebenarnya sih mau juga bertemu Mas Angga, sekedar ngobrol karena sudah lama tidak bertemu. Tapi sore itu kami benar-benar tak mau kedatangan kami ke Awe Chocolate and Milk diketahui pemilik nama lengkap Anggoro Wibowo tersebut. Selepas menghabiskan pesanan, kami mampir sebentar ke masjid untuk salat Magrib, lalu kembali ke Pemalang.

Ini dia video saya bersama Mas Furqan menikmati coklat dan susu segar di Awe Chocolate and Milk.




Selasa, 19 April 2016


NAMA aslinya Tengku Muhammad Azwan Shah, tapi ia lebih populer dengan panggilan Wak Doyok. Dulunya pemuda keturunan Jawa ini bukanlah siapa-siapa. Cerita berubah setelah ia menumbuhkan cambang dan kumis di wajahnya yang klimis. Peruntungannya berubah. Berkat bantuan media sosial ia menjelma sebagai selebgram, selebriti Instagram, lalu menjadi ikon fashion Malaysia.

Mulanya saya kira Wak Doyok itu hanya merek obat penumbuh cambang yang sempat jadi produk ngetren beberapa tahun belakangan. Sejumlah toko online menjajakan obat alami ini, bahkan ada yang sampai membuat situs khusus menyediakan obat penumbuh rambut bermerek Wak Doyok. Tidak ada produk lain. Eksklusif.

Acara Tonight Show di NET TV pada Senin (18/4/2016) malam lalu membuka mata saya. Muhammad Azwan jadi bintang tamu pertama di acara yang dipandu duo Vincent Rompis dan Desta. Saya jadi tahu, rupanya Wak Doyok itu nama orang, atau tepatnya julukan seseorang. Bukan orang sembarangan pula.

Mundur lima-enam tahun ke belakang, Muhammad Azwan agaknya masih bingung memilih untuk terjun di pekerjaan yang terkait dengan jurusan semasa kuliah atau gairahnya di bidang fashion. Pria berusia 33 tahun ini bergelar sarjana teknik sebuah universitas di Jerman. Namun ia memiliki gairah tinggi di bidang fashion, utamanya modern style (Mods).

Karenanya ia sempat luntang-lantung tak karuan, bekerja apa saja asalkan dapat uang. Ia bahkan pernah menjadi kuli, pekerjaan yang dilakoninya hingga 2010. Rasanya tak banyak yang menyangka fakta ini. Ya, seorang sarjana teknik lulusan Jerman bekerja sebagai kuli?

Tahun 2011, Muhammad Azwan mendapat informasi bahwa Ben Sherman akan membuka cabang di Kuala Lumpur. Ben Sherman adalah perusahaan men's clothing ternama asal Inggris. Muhammad Azwan yang menggilai fashion pria sangat ingin bekerja di butik ini. Ia pun mengajukan surat lamaran. Sayang, aplikasinya ditolak mentah-mentah.

Waktu itu Muhammad Azwan masih berpenampilan klimis, tanpa cambang apalagi kumis melengkung khas miliknya itu. Ia hanya mengandalkan kemampuannya dalam memadu-padankan pakaian sebagai tambahan dalam CV-nya.

Diterima Kerja Berkat Cambang
Muhammad Azwan tak patah arang. Ia mempelajari filosofi Ben Sherman, melihat-lihat gambar promosi perusahaan ini dengan bantuan internet. Dari sana ia paham bahwa Ben Sherman ingin menampilkan kesan lelaki maskulin. Ini terlihat dari beberapa model yang dipakai dalam media-media promosi, di mana kebanyakan adalah lelaki bercambang.

Sejak itulah Muhammad Azwan membiarkan cambang dan kumis menghiasi wajahnya. Awalnya ia ragu bulu-bulu tersebut malah akan merusak penampilan. Apalagi di masa-masa awal saat cambangnya belum lebat sehingga terlihat kurang rapi. Berjalan beberapa bulan, barulah ia bisa memiliki cambang rapi dan menambah kesan maskulin di wajahnya.


Transformasi penampilan Wak Doyok, dari klimis sampai bercambang lebat seperti sekarang.

Kesulitan belum berlalu. Cambang dan kumis panjangnya kerap memberikan kerepotan tersendiri saat makan. Pasalnya, makanan yang tengah ia santap seringkali tersangkut di rambut-rambut tersebut. Ia jadi punya kegiatan tambahan selepas makan: membersihkan cambang dan kumis dari sisa-sisa makanan.

"Saya sendiri mengalami kesulitan ketika pertama kali memelihara cambang, sehingga terpaksa menggunaan sendok dan garpu untuk membersihkan sisa makanan yang melekat," tuturnya saat diwawancarai Kosmo! pada 2013.

Toh, semua kesulitan ia ia lalui dengan baik. Cambangnya semakin lama semakin terlihat menarik. Terlebih ia sengaja memanjangkan kumis dan melentikkan ujung-ujungnya sehingga menyerupai kumis kucing. Dengan penampilan baru tersebut Muhammad Azwan kembali mengajukan lamaran ke Ben Sherman, dan diterima. Tentu saja ia girang bukan main.

"Saya diterima bekerja di butik itu saat mengajukan permohonan kedua. Malah banyak yang memuji penampilan terbaru saya ini," kenangnya.

Dari sinilah perubahan nasib Muhammad Azwan dimulai. Ia kerap membagikan foto-fotonya dengan tampilan gaya tahun '60-an, lengkap dengan cambang dan kumis melengkung, di akun Instagram. Penggemar musik ska rasanya tak asing dengan gaya dandanan begini. Dandanan rapi jali lengkap dengan jas dan dasi, serta sepatu mengkilat.

Semakin lama follower Instagram Muhammad Azwan semakin banyak, sampai akhirnya menembus angka 900.000 pada akhir 2015 - kini 1,1 juta. Gaya dandanannya jadi role model, diikuti oleh anak-anak muda tak hanya di Malaysia, tapi juga hingga ke beberapa negara termasuk Indonesia. Statusnya sebagai selebriti media sosial dikukuhkan dengan penghargaan dari Johara Era FM yang memasukkan nama Muhammad Azwan dalam daftar 10 Personaliti Sosial Media Paling Berpengaruh 2013.

Pandai Melawak
Tenar di Instagram, Muhammad Azwan memanfaatkan momentum ini untuk memulai bisnis. Mula-mula ia mengeluarkan produk-produk T-shirt di bawah merek The Garment. Menariknya, awalnya kaos-kaos The Garment tidak banyak dikenal di Malaysia, tapi sudah banyak dipesan oleh pembeli dari negara-negara lain.

"Sebelum The Garment dikenal luas di Malaysia, peminat gaya fesyen Mods di Inggris, Jepang, Singapura dan berbagai negara lain sudah lama memakainya. Cuma baru sekarang ada permintaan dari penggemar lokal," tuturnya seperti dikutip dari Malaysian Reviews.

Sukses dengan T-shirt, Muhammad Azwan bersiap melebarkan lini produk The Garment dengan meluncurkan pakaian pria seperti kemeja dan celana. Tentu saja yang sesuai dengan gaya dandanan modern style sebagai ciri khas. Tak lupa, ia melepas produk penumbuh cambang dengan merek Wak Doyok yang tak lain merupakan julukannya.

Produk inilah yang lantas membuatnya kian lekat dengan julukan Wak Doyok. Foto dirinya terpampang di setiap kemasan Wak Doyok, sehingga nama tersebut semakin lekat dengan sosoknya.

Menariknya, nama Wak Doyok ada kaitannya dengan Doyok, pelawak Indonesia bernama asli Sudarmadji yang tenar di era '80-an. Di mata teman-temannya, Muhammad Azwan dikenal pandai melawak seperti Doyok. Film-film komedi Doyok dan Kadir rupanya juga diminati di Malaysia, sehingga Muhammad Azwan pun diberi nama panggilan Wak Doyok.

Bagaimana tanggapan Muhammad Azwan dengan panggilan tersebut? "Kebetulan saya sendiri keturunan Jawa, jadi tidak ada masalah diberi panggilan seperti itu," jawab pria kelahiran Klang, Selangor, tersebut.

Gara-gara nama Wak Doyok ini Muhammad Azwan sempat dianggap berasal dari Indonesia. Dalam acara Anugerah MeleTop Era pada Februari 2014, artis top Malaysia bernama Noor Neelofa Mohd Noor keceplosan mengira Wak Doyok adalah orang Indonesia. Ucapan Neelofa yang menyebut Wak Doyok sebagai "Indonesia" rupanya memicu kesalah-pahaman. Wak Doyok mengira Neelofa mengejeknya, padahal hanya bertanya.

"Suka mengata orang? Kan dah kena diri sendiri? Aku lahir di Malaysia dan bangga jadi rakyat Malaysia. Suke!!" Demikian tulis Wak Doyok di akun Instagram-nya menanggapi ucapan Neelofa.

Sayap bisnis Wak Doyok kian berkembang. Ia meluncurkan produk pomade yang juga berlabel Wak Doyok, lalu kopi, dan kemudian barber shop yang tersebar di seantero Malaysia. Namanya kian terkenal. Sosoknya kemudian terlihat di sejumlah iklan - termasuk sebagai endorser Samsung, serta sering diundang dalam acara-acara televisi. Tonight Show di NET TV yang saya tonton kemarin malam salah satunya.

Dan rupanya sebelum itu ia sudah terlebih dahulu tampil di talkshow Sarah Sechan, Indonesia Morning Show, hingga Ini TalkShow yang dipandu Sule dan Andre Taulany. Kesemuanya merupakan program-program milik NET TV.

Di Malaysia sendiri, Wak Doyok banyak mendapat undangan tampil dari stasiun televisi dalam acara talkshow, infotainment, hingga event-event tertentu terkait dunia hiburan. Ia juga menjadi salah satu pemeran dalam serial televisi Kelas 601 yang tayang di Astro. Di serial edukatif ini Wak Doyok berperan sebagai Abang Lokman, seorang pilot dengan logat Jawa medhok.

Desember 2015, Wak Doyok menyabet penghargaan Top Fashion Influencer (Malaysia) dalam ajang Influence Asia 2015 yang digelar di Singapura. Ini adalah penghargaan khusus bagi influencer sosial media di Asia, yang meliputi sosok-sosok berpengaruh di Twitter, Facebook, Instagram dan YouTube.

Kini, Wak Doyok adalah seorang konsultan fashion ternama di Malaysia. Jasanya disewa sejumlah public figure Negeri Jiran itu, mulai dari artis hingga pejabat negara. Tentu saja rejekinya mengalami peningkatan pesat. Dari awalnya pergi kemana-mana paling keren hanya naik sepeda motor biasa, kini ia punya koleksi motor gede dan motor antik, serta mobil mewah.



Referensi lainnya:
- Liputan6.com
- CariGold.com
- SensasiMalaysia.com
- influence-asia.com


NAMA aslinya Tengku Muhammad Azwan Shah, tapi ia lebih populer dengan panggilan Wak Doyok. Dulunya pemuda keturunan Jawa ini bukanlah siapa-siapa. Cerita berubah setelah ia menumbuhkan cambang dan kumis di wajahnya yang klimis. Peruntungannya berubah. Berkat bantuan media sosial ia menjelma sebagai selebgram, selebriti Instagram, lalu menjadi ikon fashion Malaysia.

Mulanya saya kira Wak Doyok itu hanya merek obat penumbuh cambang yang sempat jadi produk ngetren beberapa tahun belakangan. Sejumlah toko online menjajakan obat alami ini, bahkan ada yang sampai membuat situs khusus menyediakan obat penumbuh rambut bermerek Wak Doyok. Tidak ada produk lain. Eksklusif.

Acara Tonight Show di NET TV pada Senin (18/4/2016) malam lalu membuka mata saya. Muhammad Azwan jadi bintang tamu pertama di acara yang dipandu duo Vincent Rompis dan Desta. Saya jadi tahu, rupanya Wak Doyok itu nama orang, atau tepatnya julukan seseorang. Bukan orang sembarangan pula.

Mundur lima-enam tahun ke belakang, Muhammad Azwan agaknya masih bingung memilih untuk terjun di pekerjaan yang terkait dengan jurusan semasa kuliah atau gairahnya di bidang fashion. Pria berusia 33 tahun ini bergelar sarjana teknik sebuah universitas di Jerman. Namun ia memiliki gairah tinggi di bidang fashion, utamanya modern style (Mods).

Karenanya ia sempat luntang-lantung tak karuan, bekerja apa saja asalkan dapat uang. Ia bahkan pernah menjadi kuli, pekerjaan yang dilakoninya hingga 2010. Rasanya tak banyak yang menyangka fakta ini. Ya, seorang sarjana teknik lulusan Jerman bekerja sebagai kuli?

Tahun 2011, Muhammad Azwan mendapat informasi bahwa Ben Sherman akan membuka cabang di Kuala Lumpur. Ben Sherman adalah perusahaan men's clothing ternama asal Inggris. Muhammad Azwan yang menggilai fashion pria sangat ingin bekerja di butik ini. Ia pun mengajukan surat lamaran. Sayang, aplikasinya ditolak mentah-mentah.

Waktu itu Muhammad Azwan masih berpenampilan klimis, tanpa cambang apalagi kumis melengkung khas miliknya itu. Ia hanya mengandalkan kemampuannya dalam memadu-padankan pakaian sebagai tambahan dalam CV-nya.

Diterima Kerja Berkat Cambang
Muhammad Azwan tak patah arang. Ia mempelajari filosofi Ben Sherman, melihat-lihat gambar promosi perusahaan ini dengan bantuan internet. Dari sana ia paham bahwa Ben Sherman ingin menampilkan kesan lelaki maskulin. Ini terlihat dari beberapa model yang dipakai dalam media-media promosi, di mana kebanyakan adalah lelaki bercambang.

Sejak itulah Muhammad Azwan membiarkan cambang dan kumis menghiasi wajahnya. Awalnya ia ragu bulu-bulu tersebut malah akan merusak penampilan. Apalagi di masa-masa awal saat cambangnya belum lebat sehingga terlihat kurang rapi. Berjalan beberapa bulan, barulah ia bisa memiliki cambang rapi dan menambah kesan maskulin di wajahnya.


Transformasi penampilan Wak Doyok, dari klimis sampai bercambang lebat seperti sekarang.

Kesulitan belum berlalu. Cambang dan kumis panjangnya kerap memberikan kerepotan tersendiri saat makan. Pasalnya, makanan yang tengah ia santap seringkali tersangkut di rambut-rambut tersebut. Ia jadi punya kegiatan tambahan selepas makan: membersihkan cambang dan kumis dari sisa-sisa makanan.

"Saya sendiri mengalami kesulitan ketika pertama kali memelihara cambang, sehingga terpaksa menggunaan sendok dan garpu untuk membersihkan sisa makanan yang melekat," tuturnya saat diwawancarai Kosmo! pada 2013.

Toh, semua kesulitan ia ia lalui dengan baik. Cambangnya semakin lama semakin terlihat menarik. Terlebih ia sengaja memanjangkan kumis dan melentikkan ujung-ujungnya sehingga menyerupai kumis kucing. Dengan penampilan baru tersebut Muhammad Azwan kembali mengajukan lamaran ke Ben Sherman, dan diterima. Tentu saja ia girang bukan main.

"Saya diterima bekerja di butik itu saat mengajukan permohonan kedua. Malah banyak yang memuji penampilan terbaru saya ini," kenangnya.

Dari sinilah perubahan nasib Muhammad Azwan dimulai. Ia kerap membagikan foto-fotonya dengan tampilan gaya tahun '60-an, lengkap dengan cambang dan kumis melengkung, di akun Instagram. Penggemar musik ska rasanya tak asing dengan gaya dandanan begini. Dandanan rapi jali lengkap dengan jas dan dasi, serta sepatu mengkilat.

Semakin lama follower Instagram Muhammad Azwan semakin banyak, sampai akhirnya menembus angka 900.000 pada akhir 2015 - kini 1,1 juta. Gaya dandanannya jadi role model, diikuti oleh anak-anak muda tak hanya di Malaysia, tapi juga hingga ke beberapa negara termasuk Indonesia. Statusnya sebagai selebriti media sosial dikukuhkan dengan penghargaan dari Johara Era FM yang memasukkan nama Muhammad Azwan dalam daftar 10 Personaliti Sosial Media Paling Berpengaruh 2013.

Pandai Melawak
Tenar di Instagram, Muhammad Azwan memanfaatkan momentum ini untuk memulai bisnis. Mula-mula ia mengeluarkan produk-produk T-shirt di bawah merek The Garment. Menariknya, awalnya kaos-kaos The Garment tidak banyak dikenal di Malaysia, tapi sudah banyak dipesan oleh pembeli dari negara-negara lain.

"Sebelum The Garment dikenal luas di Malaysia, peminat gaya fesyen Mods di Inggris, Jepang, Singapura dan berbagai negara lain sudah lama memakainya. Cuma baru sekarang ada permintaan dari penggemar lokal," tuturnya seperti dikutip dari Malaysian Reviews.

Sukses dengan T-shirt, Muhammad Azwan bersiap melebarkan lini produk The Garment dengan meluncurkan pakaian pria seperti kemeja dan celana. Tentu saja yang sesuai dengan gaya dandanan modern style sebagai ciri khas. Tak lupa, ia melepas produk penumbuh cambang dengan merek Wak Doyok yang tak lain merupakan julukannya.

Produk inilah yang lantas membuatnya kian lekat dengan julukan Wak Doyok. Foto dirinya terpampang di setiap kemasan Wak Doyok, sehingga nama tersebut semakin lekat dengan sosoknya.

Menariknya, nama Wak Doyok ada kaitannya dengan Doyok, pelawak Indonesia bernama asli Sudarmadji yang tenar di era '80-an. Di mata teman-temannya, Muhammad Azwan dikenal pandai melawak seperti Doyok. Film-film komedi Doyok dan Kadir rupanya juga diminati di Malaysia, sehingga Muhammad Azwan pun diberi nama panggilan Wak Doyok.

Bagaimana tanggapan Muhammad Azwan dengan panggilan tersebut? "Kebetulan saya sendiri keturunan Jawa, jadi tidak ada masalah diberi panggilan seperti itu," jawab pria kelahiran Klang, Selangor, tersebut.

Gara-gara nama Wak Doyok ini Muhammad Azwan sempat dianggap berasal dari Indonesia. Dalam acara Anugerah MeleTop Era pada Februari 2014, artis top Malaysia bernama Noor Neelofa Mohd Noor keceplosan mengira Wak Doyok adalah orang Indonesia. Ucapan Neelofa yang menyebut Wak Doyok sebagai "Indonesia" rupanya memicu kesalah-pahaman. Wak Doyok mengira Neelofa mengejeknya, padahal hanya bertanya.

"Suka mengata orang? Kan dah kena diri sendiri? Aku lahir di Malaysia dan bangga jadi rakyat Malaysia. Suke!!" Demikian tulis Wak Doyok di akun Instagram-nya menanggapi ucapan Neelofa.

Sayap bisnis Wak Doyok kian berkembang. Ia meluncurkan produk pomade yang juga berlabel Wak Doyok, lalu kopi, dan kemudian barber shop yang tersebar di seantero Malaysia. Namanya kian terkenal. Sosoknya kemudian terlihat di sejumlah iklan - termasuk sebagai endorser Samsung, serta sering diundang dalam acara-acara televisi. Tonight Show di NET TV yang saya tonton kemarin malam salah satunya.

Dan rupanya sebelum itu ia sudah terlebih dahulu tampil di talkshow Sarah Sechan, Indonesia Morning Show, hingga Ini TalkShow yang dipandu Sule dan Andre Taulany. Kesemuanya merupakan program-program milik NET TV.

Di Malaysia sendiri, Wak Doyok banyak mendapat undangan tampil dari stasiun televisi dalam acara talkshow, infotainment, hingga event-event tertentu terkait dunia hiburan. Ia juga menjadi salah satu pemeran dalam serial televisi Kelas 601 yang tayang di Astro. Di serial edukatif ini Wak Doyok berperan sebagai Abang Lokman, seorang pilot dengan logat Jawa medhok.

Desember 2015, Wak Doyok menyabet penghargaan Top Fashion Influencer (Malaysia) dalam ajang Influence Asia 2015 yang digelar di Singapura. Ini adalah penghargaan khusus bagi influencer sosial media di Asia, yang meliputi sosok-sosok berpengaruh di Twitter, Facebook, Instagram dan YouTube.

Kini, Wak Doyok adalah seorang konsultan fashion ternama di Malaysia. Jasanya disewa sejumlah public figure Negeri Jiran itu, mulai dari artis hingga pejabat negara. Tentu saja rejekinya mengalami peningkatan pesat. Dari awalnya pergi kemana-mana paling keren hanya naik sepeda motor biasa, kini ia punya koleksi motor gede dan motor antik, serta mobil mewah.



Referensi lainnya:
- Liputan6.com
- CariGold.com
- SensasiMalaysia.com
- influence-asia.com