Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 27 Juni 2016


PALEMBANG sedang ramai-ramainya pertengahan Mei itu. "Nggak tahu ada event apa aja, tapi semuanya penuh," cerita Mbak Ira Hairida sembari menyetir mobil membawa saya dan beberapa rekan blogger berkeliling kota. Yang dimaksud "semuanya penuh" oleh Mbak Ira adalah hotel-hotel di Kota Pempek, rata-rata fully booked.

Ahad itu, 15 Mei 2016, adalah hari kedua saya di Palembang. Saya bersama dua blogger lain diundang Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan untuk menyaksikan etape terakhir International Musi Triboatton 2016 dilanjut upacara penutupan kompetisi internasional tersebut. Kami tidak hanya bertiga, karena Kementerian Pariwisata RI sudah terlebih dahulu mengirim sejumlah blogger top sejak pembukaan pada 14 Mei.

Bisa jadi gelaran Musi Triboatton 2016 yang membuat hotel-hotel di Kota Palembang penuh. Kami pun harus jadi musafir, menginap di dua hotel berbeda dalam dua malam. Tapi kondisi ini seolah berkah tersembunyi, karena kami berkesempatan menginap di Aziza Inn Hotel (sebelumnya bernama Hotel Azza). Sebuah hotel yang terletak tepat di jantung kota Palembang.

Setelah seharian berkeliling mencicipi berbagai makanan khas Palembang, termasuk menyeberangi Sungai Musi menuju Pulau Kemaro, sore harinya kami check in ke hotel. Kami harus istirahat sebentar dan mandi, sebelum kembali keluar untuk mengikuti acara penutupan di Benteng Kuto Besak pada pukul 19.00 WIB.

Kesan pertama begitu melihat Aziza Inn, hotel ini kental dengan nuansa etnik sekaligus minimalis. Dinding bangunan di dekat jalan masuk berupa jalinan teralis besi yang dirambati tanaman menjalar. Nama hotel dengan huruf hijau dan merah terpampang di atasnya. Keesokan harinya saat sarapan saya baru tahu kalau dinding tersebut adalah bagian luar restoran.

Tepat di samping pintu masuk lobi hotel terdapat dua patung hewan berleher panjang dari kayu saling berhadapan. Saya kira itu patung jerapah, tapi entahlah tepatnya apa. Lalu tak jauh dari meja resepsionis terdapat seperangkat tempat duduk dari kayu berukir. Untuk yang suka tempat duduk empuk, di bagian tengah lobi terdapat seperangkat sofa.

Oya, welcome drink yang disajikan hari itu jus nanas, lengkap dengan potongan nanas kecil-kecil. Rasanya segar sekali, perpaduan antara manis dan asam yang pas. Saya sampai minum dua kali dibuatnya. Hehehe...


Si Minimalis nan Lega
Aziza Inn adalah hotel berbintang dua di bawah naungan Horison Group. Hanya terdiri dari tiga lantai, dengan 52 kamar dalam dua tipe: Superior Room dan Deluxe Room. Saya dapat kamar di lantai dua malam itu, tepatnya nomor 215. Semua blogger Musi Triboatton 2016 ditempat di lantai yang sama. Tak menunggu lama, langsung saja kami semua naik ke kamar masing-masing untuk mandi dan beristirahat sejenak.

Karena kamar dipesankan oleh Disparbud Sumsel, saya tak bisa memilih yang twin atau double. Tapi rupanya saya dapat double bed. Bakalan nyenyak nih tidur di kasur gede sendirian. Kamarnya sendiri tak terlalu lebar, tapi penataan ruang yang efektif membuatnya terkesan lega. Cat putih di seantero ruangan ikut memberi kesan luas, sekaligus bersih.

Dua buah lampu dengan cahaya redup di sudut-sudut ruangan menyambut saya begitu membuka pintu kamar. Di seberang ranjang terdapat sebuah meja ringkas. Dua botol kecil air mineral, beberapa leaflet hotel, kalender meja, gelas dan remote control tergeletak di atasnya. Lalu di tembok menempel sebuah televisi layar datar.

Pandangan saya langsung tertuju pada kasur berseprai putih yang diapit meja-meja sudut. Tanpa tunggu lama-lama segera saja saya rebahkan badan ke atasnya. Nyamannya... Kalau saja tak ingat malam itu ada acara yang harus dihadiri, saya lebih memilih memejamkan mata dan tertidur di atas kasur empuk saat itu juga.




Oya, buat yang biasa traveling membawa banyak gadget, di kamar terdapat banyak sekali colokan untuk mengecas semua perangkat sekaligus. Selain di atas meja kecil di sudut, colokan bisa ditemui di kedua sisi meja televisi, juga di kamar mandi. Benar-benar surga ngecas.

Saya bergegas ke kamar mandi begitu jarum jam menunjukkan pukul lima sore lewat sedikit. Kamar mandinya juga terkesan minimalis, tapi fungsional dan lengkap. Sabun cair, sampo, pasta gigi dan sikat gigi kecil semua tersedia bersama handuk tebal. Jadi buat yang tidak biasa bepergian membawa toiletris tidak perlu kuatir.

Mumpung di hotel saya memilih mandi air hangat. Ya, kapan lagi bisa mandi air hangat cuma modal memutar kran. Di rumah saya harus merebus air dulu kalau mau mandi air hangat, hahaha. Selesai mandi saya bermaksud salat Ashar, tapi sayang tak ada space yang cukup untuk dipakai salat mengikuti arah kiblat sesuai tanda di langit-langit kamar. Untungnya saya ingat di samping lobi ada musala. Jadi, saya pun turun ke bawah.

Kira-kira jam setengah enam kami dibawa Mbak Ira menuju ke kawasan Plaza Benteng Kuto Besak.

Lokasi Strategis
Bagi peminat wisata belanja, Aziza inn dikelilingi pusat perbelanjaan ternama Palembang. Yang terdekat adalah Palembang Icon Mall (PIM) yang terletak persis di seberang jalan. Di mal ini ada berbagai gerai ternama, juga kafe-kafe dan restoran untuk nongkrong cantik seperti Starbucks, Baskin Robbins, Pizza Hut atau J.CO. Tinggal pilih.

Dari Aziza Inn ke PIM sebaiknya berjalan kaki saja menyeberangi Jl. Angkatan 45, sebab kalau naik kendaraan harus memutar sejauh kira-kira 1,5 km. Jl. Angkatan 45 terdiri atas dua lajur dengan separator tinggi di tengah, jadi harus lihat-lihat dulu bagian jalan mana yang bisa dilewati.

Satu mal besar lain yang tak terlalu jauh dari Aziza Inn Hotel adalah Palembang Square Mall. Menurut Google Map jaraknya 750 meter menyusuri Jl. Angkatan 45 ke arah barat laut. Di dalam mal ini terdapat berbagai tempat makan berkelas seperti Solaria dan Es Teller 77. Nyaman untuk kongkow atau meetup dengan sejawat.


Kalau ingin suasana berbeda, ada warung makan Ikan & Ayam Bakar Joglo di sebelah utara hotel. Tak jauh dari sana terdapat Tempat Makan Ikan Bakaran. Pilihan lain ada Bakso Gobud, Warung Solo Berseri Mbak Anny, Roti Bakar Narsis, 1000 Rasa Coffee Shop, atau Golden Abalone Restaurant yang kesemuanya berada dalam radius 100-250 meter dari hotel.

Mau mencicipi makanan khas Palembang? Coba saja datangi Kedai Pempek Dos 171 di Jl. Sulaiman Amin. Jaraknya hanya 270 meter dari Hotel Aziza Inn, cukup berjalan kaki kira-kira lima menit dan sampailah sudah. Tak jauh dari sana terdapat Warung Tekwan 99, kira-kira 300 meter dari Kedai Pempek Dos 171 atau 400 meter dari hotel.

Satu tempat makanan khas Palembang lain yang jalanable dari Aziza Inn adalah Nasi Pindang Kuyung di Jl. Kapten A. Rivai. Jaraknya hanya 350 meter ke arah selatan, tak akan membuat badan kurus kok. Di sini kita bisa menikmati aneka jenis pindang nan lezat.

Mau makan di tempat yang lebih ngetop? Langkahkan kaki sedikit lebih jauh ke arah selatan, hanya berjarak kira-kira 50-75 meter dari Nasi Pindang Kuyung kita akan sampai di RM Pempek Pak Raden yang berada di kawasan Jl. Radial. Ini tempat makan pempek legendaris di Palembang. Belum afdol ke Kota Pempek kalau belum mencicipi Pempek Pak Raden.

Jarak ke tempat-tempat wisata seperti Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, dan sekitarnya memang agak jauh kalau ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi jangan khawatir. Begitu keluar dari lobi hotel, tepat di pinggir Jl. Angkatan 45 terdapat jejeran driver Go-Jek yang siap mengantar kemanapun kita pergi. Taksi? Ada juga.

Sayangnya saya tak sempat menjelajahi seputaran Aziza Inn Hotel. Waktunya yang tak memungkinkan. Kami check in sore, lalu keluar lagi sampai jelang tengah malam. Tidur sampai pagi, keesokan harinya sarapan dan check out. Berharap sekali suatu saat kembali lagi ke sini dan eksplor tempat-tempat di atas berjalan kaki.

Nah, ngomong-ngomong soal sarapan saya dibuat puas sekali oleh menu yang disajikan. Saya turun dari kamar kira-kira jam delapan pagi. Lihat-lihat situasi tampaklah satu meja berisi buah-buahan. Saya yang sebisa mungkin sarapan buah langsung saja mencomot beberapa potong melon, pepaya dan semangka. Habis dua piring! Hahahaha...

Berfoto bareng Mas Bolang usai sarapan di Aziza Inn Hotel Palembang. Foto diambil oleh salah satu staf restoran. Abaikan siluetnya, perhatikan suasana di dalam restoran yang jadi latar belakang.

Karena baru akan dijemput saudara jam 10 lewat, saya memilih tetap di restoran sembari memantau timeline media sosial. Tak terasa sejam lebih berlalu. Eh, kok, perut merasa lapar lagi ya. Karena sudah melebihi jarak aman dari waktu sarapan buah, saya berani mengambil nasi gemuk. Ini istilah orang Palembang untuk nasi gurih. Ditambah sayur, sambal dan kerupuk, sarapan ronde kedua pun dimulai.

Belum lama makanan di piring saya habis, Mas Sutiknyo atau yang lebih beken disapa Mas Bolang muncul. Setelah mengambil sarapan dan meminta telur goreng pada staf restoran, ia duduk di meja saya. Kami pun sarapan sembari ngobrol tentang banyak hal. Beruntung sekali saya sempat bertemu dengan travel blogger top satu ini.

Well, kira-kira jam 10 lewat sedikit sepupu saya menjemput. Begitu kunci kamar saya serahkan pada petugas resepsionis, berakhir sudah kebersamaan saya dengan Hotel Aziza Inn Palembang. Hanya semalam, namun pengalaman ini sangat berkesan. Seperti saya bilang di atas, kalau ada kesempatan saya ingin sekali kembali ke hotel ini dan mengeksplorasi tempat-tempat makan di sekitarnya.

Pasti bakal menyenangkan sekali, sekaligus mengenyangkan! :D

Hotel Aziza Inn Palembang
(sebelumnya bernama Hotel Azza)
Jalan Kapten Anwar Sastro No. 1296
Sungai Pangeran, Ilir Timur I
Kota Palembang 30129

Telp.: (0711) 315574, 314410
E-mail: azzahotelpalembang@yahoo.com


PALEMBANG sedang ramai-ramainya pertengahan Mei itu. "Nggak tahu ada event apa aja, tapi semuanya penuh," cerita Mbak Ira Hairida sembari menyetir mobil membawa saya dan beberapa rekan blogger berkeliling kota. Yang dimaksud "semuanya penuh" oleh Mbak Ira adalah hotel-hotel di Kota Pempek, rata-rata fully booked.

Ahad itu, 15 Mei 2016, adalah hari kedua saya di Palembang. Saya bersama dua blogger lain diundang Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan untuk menyaksikan etape terakhir International Musi Triboatton 2016 dilanjut upacara penutupan kompetisi internasional tersebut. Kami tidak hanya bertiga, karena Kementerian Pariwisata RI sudah terlebih dahulu mengirim sejumlah blogger top sejak pembukaan pada 14 Mei.

Bisa jadi gelaran Musi Triboatton 2016 yang membuat hotel-hotel di Kota Palembang penuh. Kami pun harus jadi musafir, menginap di dua hotel berbeda dalam dua malam. Tapi kondisi ini seolah berkah tersembunyi, karena kami berkesempatan menginap di Aziza Inn Hotel (sebelumnya bernama Hotel Azza). Sebuah hotel yang terletak tepat di jantung kota Palembang.

Setelah seharian berkeliling mencicipi berbagai makanan khas Palembang, termasuk menyeberangi Sungai Musi menuju Pulau Kemaro, sore harinya kami check in ke hotel. Kami harus istirahat sebentar dan mandi, sebelum kembali keluar untuk mengikuti acara penutupan di Benteng Kuto Besak pada pukul 19.00 WIB.

Kesan pertama begitu melihat Aziza Inn, hotel ini kental dengan nuansa etnik sekaligus minimalis. Dinding bangunan di dekat jalan masuk berupa jalinan teralis besi yang dirambati tanaman menjalar. Nama hotel dengan huruf hijau dan merah terpampang di atasnya. Keesokan harinya saat sarapan saya baru tahu kalau dinding tersebut adalah bagian luar restoran.

Tepat di samping pintu masuk lobi hotel terdapat dua patung hewan berleher panjang dari kayu saling berhadapan. Saya kira itu patung jerapah, tapi entahlah tepatnya apa. Lalu tak jauh dari meja resepsionis terdapat seperangkat tempat duduk dari kayu berukir. Untuk yang suka tempat duduk empuk, di bagian tengah lobi terdapat seperangkat sofa.

Oya, welcome drink yang disajikan hari itu jus nanas, lengkap dengan potongan nanas kecil-kecil. Rasanya segar sekali, perpaduan antara manis dan asam yang pas. Saya sampai minum dua kali dibuatnya. Hehehe...


Si Minimalis nan Lega
Aziza Inn adalah hotel berbintang dua di bawah naungan Horison Group. Hanya terdiri dari tiga lantai, dengan 52 kamar dalam dua tipe: Superior Room dan Deluxe Room. Saya dapat kamar di lantai dua malam itu, tepatnya nomor 215. Semua blogger Musi Triboatton 2016 ditempat di lantai yang sama. Tak menunggu lama, langsung saja kami semua naik ke kamar masing-masing untuk mandi dan beristirahat sejenak.

Karena kamar dipesankan oleh Disparbud Sumsel, saya tak bisa memilih yang twin atau double. Tapi rupanya saya dapat double bed. Bakalan nyenyak nih tidur di kasur gede sendirian. Kamarnya sendiri tak terlalu lebar, tapi penataan ruang yang efektif membuatnya terkesan lega. Cat putih di seantero ruangan ikut memberi kesan luas, sekaligus bersih.

Dua buah lampu dengan cahaya redup di sudut-sudut ruangan menyambut saya begitu membuka pintu kamar. Di seberang ranjang terdapat sebuah meja ringkas. Dua botol kecil air mineral, beberapa leaflet hotel, kalender meja, gelas dan remote control tergeletak di atasnya. Lalu di tembok menempel sebuah televisi layar datar.

Pandangan saya langsung tertuju pada kasur berseprai putih yang diapit meja-meja sudut. Tanpa tunggu lama-lama segera saja saya rebahkan badan ke atasnya. Nyamannya... Kalau saja tak ingat malam itu ada acara yang harus dihadiri, saya lebih memilih memejamkan mata dan tertidur di atas kasur empuk saat itu juga.




Oya, buat yang biasa traveling membawa banyak gadget, di kamar terdapat banyak sekali colokan untuk mengecas semua perangkat sekaligus. Selain di atas meja kecil di sudut, colokan bisa ditemui di kedua sisi meja televisi, juga di kamar mandi. Benar-benar surga ngecas.

Saya bergegas ke kamar mandi begitu jarum jam menunjukkan pukul lima sore lewat sedikit. Kamar mandinya juga terkesan minimalis, tapi fungsional dan lengkap. Sabun cair, sampo, pasta gigi dan sikat gigi kecil semua tersedia bersama handuk tebal. Jadi buat yang tidak biasa bepergian membawa toiletris tidak perlu kuatir.

Mumpung di hotel saya memilih mandi air hangat. Ya, kapan lagi bisa mandi air hangat cuma modal memutar kran. Di rumah saya harus merebus air dulu kalau mau mandi air hangat, hahaha. Selesai mandi saya bermaksud salat Ashar, tapi sayang tak ada space yang cukup untuk dipakai salat mengikuti arah kiblat sesuai tanda di langit-langit kamar. Untungnya saya ingat di samping lobi ada musala. Jadi, saya pun turun ke bawah.

Kira-kira jam setengah enam kami dibawa Mbak Ira menuju ke kawasan Plaza Benteng Kuto Besak.

Lokasi Strategis
Bagi peminat wisata belanja, Aziza inn dikelilingi pusat perbelanjaan ternama Palembang. Yang terdekat adalah Palembang Icon Mall (PIM) yang terletak persis di seberang jalan. Di mal ini ada berbagai gerai ternama, juga kafe-kafe dan restoran untuk nongkrong cantik seperti Starbucks, Baskin Robbins, Pizza Hut atau J.CO. Tinggal pilih.

Dari Aziza Inn ke PIM sebaiknya berjalan kaki saja menyeberangi Jl. Angkatan 45, sebab kalau naik kendaraan harus memutar sejauh kira-kira 1,5 km. Jl. Angkatan 45 terdiri atas dua lajur dengan separator tinggi di tengah, jadi harus lihat-lihat dulu bagian jalan mana yang bisa dilewati.

Satu mal besar lain yang tak terlalu jauh dari Aziza Inn Hotel adalah Palembang Square Mall. Menurut Google Map jaraknya 750 meter menyusuri Jl. Angkatan 45 ke arah barat laut. Di dalam mal ini terdapat berbagai tempat makan berkelas seperti Solaria dan Es Teller 77. Nyaman untuk kongkow atau meetup dengan sejawat.


Kalau ingin suasana berbeda, ada warung makan Ikan & Ayam Bakar Joglo di sebelah utara hotel. Tak jauh dari sana terdapat Tempat Makan Ikan Bakaran. Pilihan lain ada Bakso Gobud, Warung Solo Berseri Mbak Anny, Roti Bakar Narsis, 1000 Rasa Coffee Shop, atau Golden Abalone Restaurant yang kesemuanya berada dalam radius 100-250 meter dari hotel.

Mau mencicipi makanan khas Palembang? Coba saja datangi Kedai Pempek Dos 171 di Jl. Sulaiman Amin. Jaraknya hanya 270 meter dari Hotel Aziza Inn, cukup berjalan kaki kira-kira lima menit dan sampailah sudah. Tak jauh dari sana terdapat Warung Tekwan 99, kira-kira 300 meter dari Kedai Pempek Dos 171 atau 400 meter dari hotel.

Satu tempat makanan khas Palembang lain yang jalanable dari Aziza Inn adalah Nasi Pindang Kuyung di Jl. Kapten A. Rivai. Jaraknya hanya 350 meter ke arah selatan, tak akan membuat badan kurus kok. Di sini kita bisa menikmati aneka jenis pindang nan lezat.

Mau makan di tempat yang lebih ngetop? Langkahkan kaki sedikit lebih jauh ke arah selatan, hanya berjarak kira-kira 50-75 meter dari Nasi Pindang Kuyung kita akan sampai di RM Pempek Pak Raden yang berada di kawasan Jl. Radial. Ini tempat makan pempek legendaris di Palembang. Belum afdol ke Kota Pempek kalau belum mencicipi Pempek Pak Raden.

Jarak ke tempat-tempat wisata seperti Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, dan sekitarnya memang agak jauh kalau ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi jangan khawatir. Begitu keluar dari lobi hotel, tepat di pinggir Jl. Angkatan 45 terdapat jejeran driver Go-Jek yang siap mengantar kemanapun kita pergi. Taksi? Ada juga.

Sayangnya saya tak sempat menjelajahi seputaran Aziza Inn Hotel. Waktunya yang tak memungkinkan. Kami check in sore, lalu keluar lagi sampai jelang tengah malam. Tidur sampai pagi, keesokan harinya sarapan dan check out. Berharap sekali suatu saat kembali lagi ke sini dan eksplor tempat-tempat di atas berjalan kaki.

Nah, ngomong-ngomong soal sarapan saya dibuat puas sekali oleh menu yang disajikan. Saya turun dari kamar kira-kira jam delapan pagi. Lihat-lihat situasi tampaklah satu meja berisi buah-buahan. Saya yang sebisa mungkin sarapan buah langsung saja mencomot beberapa potong melon, pepaya dan semangka. Habis dua piring! Hahahaha...

Berfoto bareng Mas Bolang usai sarapan di Aziza Inn Hotel Palembang. Foto diambil oleh salah satu staf restoran. Abaikan siluetnya, perhatikan suasana di dalam restoran yang jadi latar belakang.

Karena baru akan dijemput saudara jam 10 lewat, saya memilih tetap di restoran sembari memantau timeline media sosial. Tak terasa sejam lebih berlalu. Eh, kok, perut merasa lapar lagi ya. Karena sudah melebihi jarak aman dari waktu sarapan buah, saya berani mengambil nasi gemuk. Ini istilah orang Palembang untuk nasi gurih. Ditambah sayur, sambal dan kerupuk, sarapan ronde kedua pun dimulai.

Belum lama makanan di piring saya habis, Mas Sutiknyo atau yang lebih beken disapa Mas Bolang muncul. Setelah mengambil sarapan dan meminta telur goreng pada staf restoran, ia duduk di meja saya. Kami pun sarapan sembari ngobrol tentang banyak hal. Beruntung sekali saya sempat bertemu dengan travel blogger top satu ini.

Well, kira-kira jam 10 lewat sedikit sepupu saya menjemput. Begitu kunci kamar saya serahkan pada petugas resepsionis, berakhir sudah kebersamaan saya dengan Hotel Aziza Inn Palembang. Hanya semalam, namun pengalaman ini sangat berkesan. Seperti saya bilang di atas, kalau ada kesempatan saya ingin sekali kembali ke hotel ini dan mengeksplorasi tempat-tempat makan di sekitarnya.

Pasti bakal menyenangkan sekali, sekaligus mengenyangkan! :D

Hotel Aziza Inn Palembang
(sebelumnya bernama Hotel Azza)
Jalan Kapten Anwar Sastro No. 1296
Sungai Pangeran, Ilir Timur I
Kota Palembang 30129

Telp.: (0711) 315574, 314410
E-mail: azzahotelpalembang@yahoo.com

Sabtu, 25 Juni 2016


JARANG sekali ada event berbau internet atau blogging di Pemalang. Karenanya saya antuasias sekali ketika ICT Watch aka Internet Sehat mengadakan workshop bertajuk "Pentingnya Literasi Digital" pada Sabtu, 25 Juni, ini. Tanpa pikir panjang saya langsung mencari-cari info untuk mendaftarkan diri ikut sebagai peserta. Padahal acara masih dua pekan lagi.

Workshop ini merupakan rangkaian dari program Ngabubur-IT yang digelar ICT Watch di empat kota. Sebelum Pemalang sebagai lota terakhir, acara serupa telah terlebih dahulu diadakan di Bandung (17 Juni), Surabaya (18 Juni), dan Banda Aceh (21 Juni).

Kesan pertama saya terhadap event ini tak sedap sebenarnya. RTIK Pemalang sebagai penyelenggara kurang aktif di Twitter, sehingga pertanyaan dan konfirmasi saya baru dijawab beberapa hari setelahnya. Demikian juga dengan seorang yang disebut sebagai contact person. Ada sih dicantumkan nomor hape. Tapi saya pikir, ini event membahas literasi digital, penyelenggaranya sangat familiar dengan internet, masa iya dikontak lewat Twitter nggak bisa?

Syukurlah salah seorang anggota RTIK Pemalang yang juga admin akun @KabarPML banyak memberi informasi. Termasuk memberi-tahukan tautan ke halaman pendaftaran online peserta workshop ini. Jadilah saya mendaftar secara online. Cuma yang membikin kening berkerut, meski ICT Watch lewat akun @internetsehat berkali-kali menekankan acara ini terbuka untuk umum, pada saat registrasi ulang saya dan seorang teman ditanya, "Dari instansi mana, Pak?"

Lalu, dalam edarannya acara seharusnya sudah dimulai pukul 14.30 WIB. Saya dan seorang kawan sendiri malah baru berangkat kira-kira jam segitu. Artinya, kami telat. Tapi sesampainya di venue, kami baru peserta ketiga dan keempat. Daftar absensi masih kosong, demikian juga isi bagian dalam ruangan Hotel The Winner Premier yang menjadi tempat acara.

Untunglah saya dibuat puas oleh materi yang disampaikan oleh pembicara. Kang Acep dari ICT Watch membahas pentingnya kehati-hatian di dunia maya. Sudah banyak kasus cyber bullying terjadi dan beberapa berujung pada kematian, jangan sampai kita jadi korban. Untuk itu dibutuhkan literasi digital agar kegiatan berinternet kita jadi lebih sehat dan aman.

Kang Acep juga membeberkan data terbaru pengguna internet Indonesia. Dengan populasi penduduk sebanyak 259,1 juta jiwa, Indonesia mempunyai pengguna internet aktif sebanyak 88,1 juta. Jumlah yang sangat besar. Dari angka tersebut, 79 juta di antaranya merupakan pengguna sosial media. Sayangnya, masih banyak pengguna yang belum cakap dalam beraktivitas di dunia maya. Akibatnya, alih-alih memberi manfaat, internet dan khususnya sosial media justru membawa malapetaka.

Sebarkan Kebaikan, Kalahkan Keburukan
Setelah Kang Acep, tampil Bapak Khalimi yang merupakan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pemalang. Berpakaian santai, Pak Khalimi mengaitkan internet dengan dunia pendidikan dan remaja yang menjadi bidang kerjanya. Tidak salah, sebab kebanyakan pengguna internet dan media sosial adalah remaja.

Pak Khalimi mengatakan perkembangan tidak bisa dicegah dan ditahan-tahan. Akan lebih baik jika kita beradaptasi dan mengambil manfaat dari perkembangan tersebut. Dalam hal internet dan sosial media, Pak Khalimi menyebut dirinya tak bisa melarang siswa-siswi sekolah membawa smartphone ke sekolah. Sebab baik-buruknya gadget tergantung pada pemakainya, sehingga pemakainya yang harus diedukasi.


Ditegaskan Pak Khalimi, sekolah memegang peranan penting dalam literasi digital di kalangan remaja. Karenanya beliau sangat mendorong hal ini di kalangan guru. Alih-alih menyita atau melarang siswa membawa smartphone, guru sebaiknya mengarahkan siswa agar memanfaatkan perangkat mereka untuk hal-hal positif yang terkait dengan pelajaran.

Pelajar bisa memanfaatkan berbagai aplikasi pendidikan untuk menunjang kegiatan belajar. Pak Khalimi menyebut, aplikasi seperti Edmodo atau Quipper dapat membantu mengasah kecerdasan siswa. Lebih-lebih aplikasi-aplikasi tersebut menghubungkan pelajar-pelajar dari seluruh dunia. Sehingga lingkup pembelajarannya tidak terbatas pada lokasi geografis pelajar bersangkutan.

Tidak bisa diingkari banyak konten negatif yang merusak bertebaran di internet. Sebagai pengguna, kita dapat turut andil memperbaiki kondisi tersebut dengan cara banyak-banyak menyebar konten positif. "Terus sebarkan konten-konten kebaikan di internet, maka kejelekan-kejelekan itu lama-kelamaan akan mengecil, terkucil, dan menghilang," demikian ujar Pak Khalimi menutup paparannya.

Saya sangat menyepakati statement Pak Khalimi tersebut. Cara terampuh untuk meng-counter konten-konten negatif memang dengan membagikan lebih banyak konten positif. Konten negatif mungkin tak akan pernah hilang, tapi dengan semakin banyaknya konten positif maka pengguna akan lebih sering mendapatkan manfaat dari internet ketimbang mudarat.

Karena waktu mepet adzan Magrib dan berbuka puasa, dua pembicara berikutnya tak bisa banyak-banyak memaparkan materi masing-masing. Terutama Mas Andri dari Relawan TIK Indonesia yang berbicara tak sampai 10 menit, itupun diseling dengan pemutaran video Assa Desa. Meski demikian poin-poin penting dalam paparannya tersampaikan dengan baik. Setidaknya bagi saya, hehehe...

Adzan Magrib kemudian berkumandang menghentikan paksa sesi tanya-jawab. Hadirin dipersilakan mengambil hidangan berbuka yang telah disiapkan. Aih, menunya komplit. Ada kolak pisang, nasi putih, ayam goreng, tempe goreng, sop, sambal goreng, serta tak ketinggalan buah-buahan. Okelah, kenyang perut dibuatnya.

Acara kembali dilanjutkan usai berbuka puasa dan salat Magrib. Namun saya tidak bisa ikut karena sudah harus pulang. Sesi tanya-jawab dan foto-foto pun saya lewatkan. Tak apalah. Toh, saya sudah mengikuti seluruh materi hingga usai.

Oya, berikut video cuplikan acara Ngabubur-IT di Hotel The Winner Premier Pemalang yang saya rekam menggunakan ponsel ASUS Zenfone C dan action cam Xiaomi Yi. Selamat menyaksikan!


JARANG sekali ada event berbau internet atau blogging di Pemalang. Karenanya saya antuasias sekali ketika ICT Watch aka Internet Sehat mengadakan workshop bertajuk "Pentingnya Literasi Digital" pada Sabtu, 25 Juni, ini. Tanpa pikir panjang saya langsung mencari-cari info untuk mendaftarkan diri ikut sebagai peserta. Padahal acara masih dua pekan lagi.

Workshop ini merupakan rangkaian dari program Ngabubur-IT yang digelar ICT Watch di empat kota. Sebelum Pemalang sebagai lota terakhir, acara serupa telah terlebih dahulu diadakan di Bandung (17 Juni), Surabaya (18 Juni), dan Banda Aceh (21 Juni).

Kesan pertama saya terhadap event ini tak sedap sebenarnya. RTIK Pemalang sebagai penyelenggara kurang aktif di Twitter, sehingga pertanyaan dan konfirmasi saya baru dijawab beberapa hari setelahnya. Demikian juga dengan seorang yang disebut sebagai contact person. Ada sih dicantumkan nomor hape. Tapi saya pikir, ini event membahas literasi digital, penyelenggaranya sangat familiar dengan internet, masa iya dikontak lewat Twitter nggak bisa?

Syukurlah salah seorang anggota RTIK Pemalang yang juga admin akun @KabarPML banyak memberi informasi. Termasuk memberi-tahukan tautan ke halaman pendaftaran online peserta workshop ini. Jadilah saya mendaftar secara online. Cuma yang membikin kening berkerut, meski ICT Watch lewat akun @internetsehat berkali-kali menekankan acara ini terbuka untuk umum, pada saat registrasi ulang saya dan seorang teman ditanya, "Dari instansi mana, Pak?"

Lalu, dalam edarannya acara seharusnya sudah dimulai pukul 14.30 WIB. Saya dan seorang kawan sendiri malah baru berangkat kira-kira jam segitu. Artinya, kami telat. Tapi sesampainya di venue, kami baru peserta ketiga dan keempat. Daftar absensi masih kosong, demikian juga isi bagian dalam ruangan Hotel The Winner Premier yang menjadi tempat acara.

Untunglah saya dibuat puas oleh materi yang disampaikan oleh pembicara. Kang Acep dari ICT Watch membahas pentingnya kehati-hatian di dunia maya. Sudah banyak kasus cyber bullying terjadi dan beberapa berujung pada kematian, jangan sampai kita jadi korban. Untuk itu dibutuhkan literasi digital agar kegiatan berinternet kita jadi lebih sehat dan aman.

Kang Acep juga membeberkan data terbaru pengguna internet Indonesia. Dengan populasi penduduk sebanyak 259,1 juta jiwa, Indonesia mempunyai pengguna internet aktif sebanyak 88,1 juta. Jumlah yang sangat besar. Dari angka tersebut, 79 juta di antaranya merupakan pengguna sosial media. Sayangnya, masih banyak pengguna yang belum cakap dalam beraktivitas di dunia maya. Akibatnya, alih-alih memberi manfaat, internet dan khususnya sosial media justru membawa malapetaka.

Sebarkan Kebaikan, Kalahkan Keburukan
Setelah Kang Acep, tampil Bapak Khalimi yang merupakan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pemalang. Berpakaian santai, Pak Khalimi mengaitkan internet dengan dunia pendidikan dan remaja yang menjadi bidang kerjanya. Tidak salah, sebab kebanyakan pengguna internet dan media sosial adalah remaja.

Pak Khalimi mengatakan perkembangan tidak bisa dicegah dan ditahan-tahan. Akan lebih baik jika kita beradaptasi dan mengambil manfaat dari perkembangan tersebut. Dalam hal internet dan sosial media, Pak Khalimi menyebut dirinya tak bisa melarang siswa-siswi sekolah membawa smartphone ke sekolah. Sebab baik-buruknya gadget tergantung pada pemakainya, sehingga pemakainya yang harus diedukasi.


Ditegaskan Pak Khalimi, sekolah memegang peranan penting dalam literasi digital di kalangan remaja. Karenanya beliau sangat mendorong hal ini di kalangan guru. Alih-alih menyita atau melarang siswa membawa smartphone, guru sebaiknya mengarahkan siswa agar memanfaatkan perangkat mereka untuk hal-hal positif yang terkait dengan pelajaran.

Pelajar bisa memanfaatkan berbagai aplikasi pendidikan untuk menunjang kegiatan belajar. Pak Khalimi menyebut, aplikasi seperti Edmodo atau Quipper dapat membantu mengasah kecerdasan siswa. Lebih-lebih aplikasi-aplikasi tersebut menghubungkan pelajar-pelajar dari seluruh dunia. Sehingga lingkup pembelajarannya tidak terbatas pada lokasi geografis pelajar bersangkutan.

Tidak bisa diingkari banyak konten negatif yang merusak bertebaran di internet. Sebagai pengguna, kita dapat turut andil memperbaiki kondisi tersebut dengan cara banyak-banyak menyebar konten positif. "Terus sebarkan konten-konten kebaikan di internet, maka kejelekan-kejelekan itu lama-kelamaan akan mengecil, terkucil, dan menghilang," demikian ujar Pak Khalimi menutup paparannya.

Saya sangat menyepakati statement Pak Khalimi tersebut. Cara terampuh untuk meng-counter konten-konten negatif memang dengan membagikan lebih banyak konten positif. Konten negatif mungkin tak akan pernah hilang, tapi dengan semakin banyaknya konten positif maka pengguna akan lebih sering mendapatkan manfaat dari internet ketimbang mudarat.

Karena waktu mepet adzan Magrib dan berbuka puasa, dua pembicara berikutnya tak bisa banyak-banyak memaparkan materi masing-masing. Terutama Mas Andri dari Relawan TIK Indonesia yang berbicara tak sampai 10 menit, itupun diseling dengan pemutaran video Assa Desa. Meski demikian poin-poin penting dalam paparannya tersampaikan dengan baik. Setidaknya bagi saya, hehehe...

Adzan Magrib kemudian berkumandang menghentikan paksa sesi tanya-jawab. Hadirin dipersilakan mengambil hidangan berbuka yang telah disiapkan. Aih, menunya komplit. Ada kolak pisang, nasi putih, ayam goreng, tempe goreng, sop, sambal goreng, serta tak ketinggalan buah-buahan. Okelah, kenyang perut dibuatnya.

Acara kembali dilanjutkan usai berbuka puasa dan salat Magrib. Namun saya tidak bisa ikut karena sudah harus pulang. Sesi tanya-jawab dan foto-foto pun saya lewatkan. Tak apalah. Toh, saya sudah mengikuti seluruh materi hingga usai.

Oya, berikut video cuplikan acara Ngabubur-IT di Hotel The Winner Premier Pemalang yang saya rekam menggunakan ponsel ASUS Zenfone C dan action cam Xiaomi Yi. Selamat menyaksikan!

Kamis, 23 Juni 2016


INGIN merasakan wisata alam bernuansa pegunungan dengan hawa sejuk dan pemandangan hijau tanpa harus ngos-ngosan mendaki penuh keringat? Wisata alam Ciwidey di Kabupaten Bandung bisa jadi pilihan. Bagi yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya, tempat ini sangat recommended sekali karena jaraknya dekat.

Ciwidey merupakan satu kecamatan di Kabupaten Bandung yang terletak di selatan Kota Bandung. Sejak jaman penjajahan Hindia Belanda tempat ini sudah terkenal sebagai tujuan wisata alam. Hawanya yang sejuk, perkebunan teh yang menghampar hijau, serta kekayaan hasil pertanian membuat Ciwidey populer di kalangan warga keturunan Eropa masa itu.

Menurut beberapa referensi, nama Ciwidey berasal dari bahasa Portugis Kuno. "Ciwi" berarti kiwi, sedangkan "Dey" berarti hari. Versi lain menyebut nama Ciwidey berasal dari bahasa Yunani Kuno, yang memiliki arti Sapi Lima. Yakni gabungan kata "Ciwow" (sapi) dan "Dew" (lima). Sementara menurut cerita rakyat, asal-usul nama Ciwidey terkait dengan tiga sosok penyebar agama Islam dari Banten: Eyang Dalem Rangga Sadana, Eyang Camat Nata Wiguna, dan Eyang Jaga Setru.

Terkait asal-usul versi bahasa Yunani Kuno, ada mitos yang mengatakan bahwa Ciwidey merupakan tempat kelahiran sapi berkepala lima. Tempat itu terletak di Rumah Sembah Sapi dengan pemilik bernama Raden Batubara. Namun hingga saat ini tidak diketahui pasti keberadaan Rumah Sembah Sapi tersebut. Demikian pula, tidak ada yang tahu apakah asal nama Ciwidey ini merupakan fakta atau sekedar mitos.

Terlepas dari asal-usul namanya, yang jelas Ciwidey merupakan satu wisata alam yang sangat layak dikunjungi. Ada banyak tempat eksotis untuk refreshing, melepaskan diri dari rutinitas sehari-hari agar lebih segar dan kembali bersemangat. Berikut beberapa di antaranya.


Foto: AnekaTempatWisata.com

Naik Perahu di Situ Patenggang
Belum lengkap rasanya ke Ciwidey kalau tidak mengunjungi Situ Patenggang. Terletak 47 km di selatan Kota Bandung, tempat wisata ini menyajikan sebuah pemandangan danau yang indah dan masih terjaga keasriannya. Di tepian terdapat perahu-perahu yang siap mengantar kita berkeliling danau.

Ada dua pilihan bagi kita di Situ Patenggang. Pertama, sekedar duduk-duduk menikmati keindahan danau dan sekitarnya. Tempat wisata ini sangat cocok bagi yang datang dalam berombongan besar bersama sanak saudara ataupun kerabat dekat. Terdapat stand-stand makanan dan minuman untuk menuntaskan rasa lapar dan haus sembari bersantai di tepian danau.

Kedua, ini yang lebih asyik sekaligus menantang, menyusuri danau dengan perahu. Biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp150.000-Rp250.000 per perahu, dengan kapasitas paling sedikit 20 orang. Tarif yang dikenakan tergantung jumlah orang dan jenis perahu yang dipilih. Perahu-perahu di sini unik, memiliki atap dengan cat warna-warni cerah.

Selain melihat keindahan danau, kita juga dapat merasakan sejuknya udara di sekitar danau dan merasakan langsung kesegaran air danau yang jernih. Oya, juga pemandangan pepohonan menghijau di sekeliling danau. Siapkan kamera untuk menangkap lanskap menakjubkan dari atas perahu.

Biaya tiket masuk ke Situ Patenggang sangat terjangkau. Dibandrol dengan harga Rp15.000 seorang. Bagi yang membawa kendaraan bermotor, ada tambahan tarif parkir Rp8.000 untuk sepeda motor, dan Rp11.000 untuk mobil atau mini bus.


Si Cantik Kawah Putih Ciwidey
Sebagian wisatawan mungkin sudah tidak asing dengan obyek wisata satu ini. Kawah Putih Ciwidey terletak 44 km dari Kota Bandung, merupakan destinasi wisata paling populer dalam beberapa tahun terakhir. Meski diasosiasikan dengan Ciwidey, secara administratif tempat cantik ini masuk wilayah Kecamatan Rancabali.

Mata kita bakal dimanjakan sesampainya di sini. Pesona pemandangan pegunungan yang memikat, kontrasnya perpaduan air danau yang berwarna biru langit menyatu padu dengan bebatuan kapur putih, memberi sensasi ketenangan bagi siapapun yang melihatnya. Belum lagi hijaunya pepohonan dan udara sejuk yang melingkupi sekelilingnya.

Keindahan Kawah Putih Ciwidey sering dijadikan sebagai spot pemotretan untuk keperluan pembuatan iklan, majalah, dan semacamnya. Banyak juga calon pengantin yang memilih tempat ini sebagai lokasi foto prewedding.

Berdasarkan cerita turun-temurun dari penduduk setempat, puncak tertinggi pegunungan yang mengelilingi Kawah Putih merupakan tempat rapat roh-roh leluhur. Bahkan ada masyarakat setempat yang mengaku pernah menyaksikan penampakan domba berbulu putih di tempat ini.

Boleh percaya boleh tidak, tapi tentu obyek wisata ini semakin menarik untuk dikunjungi. Tiket masuk ke Kawah Putih sebesar Rp18.000 per orang untuk wisatawan lokal. Harga berbeda dikenakan bagi wisatawan mancanegara, yakni sebesar Rp50.000 seorang. Sedangkan biaya parkirnya Rp15.000 bagi kendaraan beroda empat, dan Rp10.000 untuk kendaraan roda dua.

Jangan sampai dilewatkan ya!


Foto: Sebandung.com

Berlibur Sekaligus Belajar di Kebun Teh Rancabali
Ingin berwisata bersama putra-putri saat libur sekolah? Maka rekomendasi tempat wisata alam sekaligus untuk belajar yang pas adalah Kebun Teh Rancabali. Perkebunan ini terletak tak jauh dari Kawah Putih, hanya berjarak 8,6 km ke arah barat laut. Kira-kira 21 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Di perkebunan ini kita dapat menikmati pemandangan hijau dari jajaran pohon teh yang bakal menyejukkan mata. Kita bisa berkeliling kebun juga lho. Sangat disarankan untuk menyewa tour guide untuk memandu perjalanan kita selama berkeliling tempat ini. Biaya jasa tour guide hanya sebesar Rp30.000 per orang. Sangat murah.

Tour guide akan membawa kita berkeliling kebun, memberitahukan proses penanaman pohon teh dari bibitnya, cara menanam dengan metode yang tepat, bagaimana membuka lahan teh, tekhnik khusus memelihara daun teh yang baik dan benar, memilah daun teh yang tidak layak konsumsi, hingga mengolah daun teh sebelum dapat dikonsumsi.

Harga tiket masuk ke Kebun Teh Rancabali tidak membuat kantong bolong. Setiap orang hanya dikenakan tarif sebesar Rp5.000. Murah meriah, bukan?

Tertarik? Sediakan beberapa hari agar dapat lebih puas mengeksplorasi tempat-tempat wisata di Ciwidey dan sekitarnya. Tidak perlu risau soal penginapan, karena tempat ini memiliki hotel berbintang yang siap memberikan pelayanan serta fasilitas terbaiknya selama kita berwisata di sana.

Enjoy!


INGIN merasakan wisata alam bernuansa pegunungan dengan hawa sejuk dan pemandangan hijau tanpa harus ngos-ngosan mendaki penuh keringat? Wisata alam Ciwidey di Kabupaten Bandung bisa jadi pilihan. Bagi yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya, tempat ini sangat recommended sekali karena jaraknya dekat.

Ciwidey merupakan satu kecamatan di Kabupaten Bandung yang terletak di selatan Kota Bandung. Sejak jaman penjajahan Hindia Belanda tempat ini sudah terkenal sebagai tujuan wisata alam. Hawanya yang sejuk, perkebunan teh yang menghampar hijau, serta kekayaan hasil pertanian membuat Ciwidey populer di kalangan warga keturunan Eropa masa itu.

Menurut beberapa referensi, nama Ciwidey berasal dari bahasa Portugis Kuno. "Ciwi" berarti kiwi, sedangkan "Dey" berarti hari. Versi lain menyebut nama Ciwidey berasal dari bahasa Yunani Kuno, yang memiliki arti Sapi Lima. Yakni gabungan kata "Ciwow" (sapi) dan "Dew" (lima). Sementara menurut cerita rakyat, asal-usul nama Ciwidey terkait dengan tiga sosok penyebar agama Islam dari Banten: Eyang Dalem Rangga Sadana, Eyang Camat Nata Wiguna, dan Eyang Jaga Setru.

Terkait asal-usul versi bahasa Yunani Kuno, ada mitos yang mengatakan bahwa Ciwidey merupakan tempat kelahiran sapi berkepala lima. Tempat itu terletak di Rumah Sembah Sapi dengan pemilik bernama Raden Batubara. Namun hingga saat ini tidak diketahui pasti keberadaan Rumah Sembah Sapi tersebut. Demikian pula, tidak ada yang tahu apakah asal nama Ciwidey ini merupakan fakta atau sekedar mitos.

Terlepas dari asal-usul namanya, yang jelas Ciwidey merupakan satu wisata alam yang sangat layak dikunjungi. Ada banyak tempat eksotis untuk refreshing, melepaskan diri dari rutinitas sehari-hari agar lebih segar dan kembali bersemangat. Berikut beberapa di antaranya.


Foto: AnekaTempatWisata.com

Naik Perahu di Situ Patenggang
Belum lengkap rasanya ke Ciwidey kalau tidak mengunjungi Situ Patenggang. Terletak 47 km di selatan Kota Bandung, tempat wisata ini menyajikan sebuah pemandangan danau yang indah dan masih terjaga keasriannya. Di tepian terdapat perahu-perahu yang siap mengantar kita berkeliling danau.

Ada dua pilihan bagi kita di Situ Patenggang. Pertama, sekedar duduk-duduk menikmati keindahan danau dan sekitarnya. Tempat wisata ini sangat cocok bagi yang datang dalam berombongan besar bersama sanak saudara ataupun kerabat dekat. Terdapat stand-stand makanan dan minuman untuk menuntaskan rasa lapar dan haus sembari bersantai di tepian danau.

Kedua, ini yang lebih asyik sekaligus menantang, menyusuri danau dengan perahu. Biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp150.000-Rp250.000 per perahu, dengan kapasitas paling sedikit 20 orang. Tarif yang dikenakan tergantung jumlah orang dan jenis perahu yang dipilih. Perahu-perahu di sini unik, memiliki atap dengan cat warna-warni cerah.

Selain melihat keindahan danau, kita juga dapat merasakan sejuknya udara di sekitar danau dan merasakan langsung kesegaran air danau yang jernih. Oya, juga pemandangan pepohonan menghijau di sekeliling danau. Siapkan kamera untuk menangkap lanskap menakjubkan dari atas perahu.

Biaya tiket masuk ke Situ Patenggang sangat terjangkau. Dibandrol dengan harga Rp15.000 seorang. Bagi yang membawa kendaraan bermotor, ada tambahan tarif parkir Rp8.000 untuk sepeda motor, dan Rp11.000 untuk mobil atau mini bus.


Si Cantik Kawah Putih Ciwidey
Sebagian wisatawan mungkin sudah tidak asing dengan obyek wisata satu ini. Kawah Putih Ciwidey terletak 44 km dari Kota Bandung, merupakan destinasi wisata paling populer dalam beberapa tahun terakhir. Meski diasosiasikan dengan Ciwidey, secara administratif tempat cantik ini masuk wilayah Kecamatan Rancabali.

Mata kita bakal dimanjakan sesampainya di sini. Pesona pemandangan pegunungan yang memikat, kontrasnya perpaduan air danau yang berwarna biru langit menyatu padu dengan bebatuan kapur putih, memberi sensasi ketenangan bagi siapapun yang melihatnya. Belum lagi hijaunya pepohonan dan udara sejuk yang melingkupi sekelilingnya.

Keindahan Kawah Putih Ciwidey sering dijadikan sebagai spot pemotretan untuk keperluan pembuatan iklan, majalah, dan semacamnya. Banyak juga calon pengantin yang memilih tempat ini sebagai lokasi foto prewedding.

Berdasarkan cerita turun-temurun dari penduduk setempat, puncak tertinggi pegunungan yang mengelilingi Kawah Putih merupakan tempat rapat roh-roh leluhur. Bahkan ada masyarakat setempat yang mengaku pernah menyaksikan penampakan domba berbulu putih di tempat ini.

Boleh percaya boleh tidak, tapi tentu obyek wisata ini semakin menarik untuk dikunjungi. Tiket masuk ke Kawah Putih sebesar Rp18.000 per orang untuk wisatawan lokal. Harga berbeda dikenakan bagi wisatawan mancanegara, yakni sebesar Rp50.000 seorang. Sedangkan biaya parkirnya Rp15.000 bagi kendaraan beroda empat, dan Rp10.000 untuk kendaraan roda dua.

Jangan sampai dilewatkan ya!


Foto: Sebandung.com

Berlibur Sekaligus Belajar di Kebun Teh Rancabali
Ingin berwisata bersama putra-putri saat libur sekolah? Maka rekomendasi tempat wisata alam sekaligus untuk belajar yang pas adalah Kebun Teh Rancabali. Perkebunan ini terletak tak jauh dari Kawah Putih, hanya berjarak 8,6 km ke arah barat laut. Kira-kira 21 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Di perkebunan ini kita dapat menikmati pemandangan hijau dari jajaran pohon teh yang bakal menyejukkan mata. Kita bisa berkeliling kebun juga lho. Sangat disarankan untuk menyewa tour guide untuk memandu perjalanan kita selama berkeliling tempat ini. Biaya jasa tour guide hanya sebesar Rp30.000 per orang. Sangat murah.

Tour guide akan membawa kita berkeliling kebun, memberitahukan proses penanaman pohon teh dari bibitnya, cara menanam dengan metode yang tepat, bagaimana membuka lahan teh, tekhnik khusus memelihara daun teh yang baik dan benar, memilah daun teh yang tidak layak konsumsi, hingga mengolah daun teh sebelum dapat dikonsumsi.

Harga tiket masuk ke Kebun Teh Rancabali tidak membuat kantong bolong. Setiap orang hanya dikenakan tarif sebesar Rp5.000. Murah meriah, bukan?

Tertarik? Sediakan beberapa hari agar dapat lebih puas mengeksplorasi tempat-tempat wisata di Ciwidey dan sekitarnya. Tidak perlu risau soal penginapan, karena tempat ini memiliki hotel berbintang yang siap memberikan pelayanan serta fasilitas terbaiknya selama kita berwisata di sana.

Enjoy!

Jumat, 17 Juni 2016


SAYA lupa nama masjid ini. Terletak di tengah-tengah perkampungan transmigrasi Blok A Batumarta VIII, Kec. Madang Suku III, OKU Timur, Sumatera Selatan. Saya masih kelas V SD saat masjid ini didirikan medio 1993, alias 23 tahun lalu. Satu hal yang saya ingat, masjid ini berdiri berkat kekompakan serta pengorbanan warga di sekitarnya.

Awalnya Blok A hanya punya satu langgar kayu kecil sebagai pusat peribadatan. Tentu saja tidak cukup karena langgar ini begitu kecil. Utamanya saat salat tarawih dan salat Ied. Jamaah tumpah ruah hingga ke halaman, menggelar tikar atau potongan karung di atas tanah.

Pak Salim sebagai Ketua RT sekaligus tetua kampung tanggap dengan situasi ini. Beliau menggagas sebuah usulan visioner: setiap kepala keluarga diminta menyedekahkan satu baris dari kebun karet masing-masing untuk biaya pembangunan masjid. Ya, alih-alih meminta sedekah uang, Pak Salim justru meminta sumber uangnya!

Warga kompak menyepakati usulan ini, secara sukarela melepas satu baris kebun mereka. Itu berarti sekitar 10 batang. Garis batas kebun diubah dengan kesepakatan bersama, sehingga Blok A punya kebun khusus inventaris kampung. Hasil panen kebun karet tersebut sepenuhnya untuk membiayai pembangunan masjid.

Tak berhenti sampai di situ, warga bergotong-royong menyumbangkan tenaga saat proyek pembangunan masjid dimulai. Kurang dari setahun sejak pondasinya ditanam, masjid kebanggaan warga Blok A Batumarta VIII ini pun berdiri megah.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis "1001 Kisah Masjid”


Word count (menurut WordCounter.net): 210 kata, 1.448 karakter


SAYA lupa nama masjid ini. Terletak di tengah-tengah perkampungan transmigrasi Blok A Batumarta VIII, Kec. Madang Suku III, OKU Timur, Sumatera Selatan. Saya masih kelas V SD saat masjid ini didirikan medio 1993, alias 23 tahun lalu. Satu hal yang saya ingat, masjid ini berdiri berkat kekompakan serta pengorbanan warga di sekitarnya.

Awalnya Blok A hanya punya satu langgar kayu kecil sebagai pusat peribadatan. Tentu saja tidak cukup karena langgar ini begitu kecil. Utamanya saat salat tarawih dan salat Ied. Jamaah tumpah ruah hingga ke halaman, menggelar tikar atau potongan karung di atas tanah.

Pak Salim sebagai Ketua RT sekaligus tetua kampung tanggap dengan situasi ini. Beliau menggagas sebuah usulan visioner: setiap kepala keluarga diminta menyedekahkan satu baris dari kebun karet masing-masing untuk biaya pembangunan masjid. Ya, alih-alih meminta sedekah uang, Pak Salim justru meminta sumber uangnya!

Warga kompak menyepakati usulan ini, secara sukarela melepas satu baris kebun mereka. Itu berarti sekitar 10 batang. Garis batas kebun diubah dengan kesepakatan bersama, sehingga Blok A punya kebun khusus inventaris kampung. Hasil panen kebun karet tersebut sepenuhnya untuk membiayai pembangunan masjid.

Tak berhenti sampai di situ, warga bergotong-royong menyumbangkan tenaga saat proyek pembangunan masjid dimulai. Kurang dari setahun sejak pondasinya ditanam, masjid kebanggaan warga Blok A Batumarta VIII ini pun berdiri megah.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis "1001 Kisah Masjid”


Word count (menurut WordCounter.net): 210 kata, 1.448 karakter

Senin, 13 Juni 2016


SALAH satu lagu lawas yang saya hapal di luar kepala ada Sebiduk di Sungai Musi-nya Alfian. Maklum saja, Sungai Musi sangat lekat dengan masa kecil saya yang lahir dan dibesarkan di Palembang. Jadi saya merasa punya keterlibatan secara emosional dengan lagu tersebut. Siapa sangka jika kemudian saya benar-benar mengalami perjalanan naik biduk di sungai legendaris itu.

Oya, sebelum kita lanjutkan, posting ini adalah lanjutan dari bagian pertama yang bisa dibaca di Jadi Turis di Kota Kelahiran Sendiri (Wisata Palembang bagian I).

Setelah melihat etape terakhir ajang International Musi Triboatton 2016 dari plaza Benteng Kuto Besak pada 14 Mei, hari kedua di Palembang kami habiskan dengan menyusuri objek-objek menari di sepanjang Sungai Musi. Masih "dikawal" Mbak Ira Hairida dan Mas Jony dari Tim Digital Marketing Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Palembang, destinasi pertama kami adalah Pulau Kemaro.

Wah, agenda ini kontan membuat saya bersemangat. Sudah lama sekali saya dibuat penasaran oleh Pulau Kemaro. Berawal dari cerita Bapak sewaktu saya kecil yang sekali waktu mengatakan, "Di tengah Sungai Musi tuh ado pulau, namonyo Pulau Kemaro." Bapak tak banyak bercerita mengenai pulau berbalut mistis ini. Namun keberadaan pulau di sebuah sungai sudah menarik saya sebagai seorang anak.

Masa itu saya hanya tahu Pulau Samosir sebagai pulau di dalam pulau. Rupanya selain Samosir ada pula Pulau Kemaro. Bedanya, Samosir berada di tengah danau sedangkan Kemaro berada di tengah sungai. Dua-duanya sama-sama ada di Pulau Sumatera.

Begitu mengenal internet, saya puaskan rasa penasaran terhadap Pulau Kemaro dengan Google Earth. Juga berbagai bacaan mengenai pulau ini. Dan ketika secara resmi diumumkan sebagai salah satu pemenang lomba blog Jelajah Musi Triboatton 2016, saya kembali intens melahap berbagai referensi mengenai Pulau Kemaro. Terutama sekali video di YouTube.

Pagi hari selepas mandi dan berkemas saya turun ke restoran Hotel Amaris Palembang untuk sarapan. Ah, melihat sawi putih ditumis dan kentang rebus besar-besar saya jadi kalap. Sat-set, sat-set, beberapa potong kentang rebus berpindah ke piring menemani tumis sawi. Sampai di meja saya baru sadar kalau porsi saya terlalu besar. Padahal Mbak Ira berencana mengajak kami sarapan mie celor, salah satu kuliner khas Palembang.

Tapi pantang bagi saya menelantarkan makanan yang sudah tersaji di piring. Okelah, kita kunyah pelan-pelan. Saya sampai ditinggal Mas Wira Nurmansyah dan Mas Jony karena terlalu lama sarapan. Untunglah tak lama kemudian duo blogger perempuan sesama pemenang lomba blog Jelajah Musi, Mbak Relinda Puspita dan Mbak Katerina S, datang mengambil tempat duduk di meja saya.

Sempat dibahas sih porsi sarapan saya yang terlalu banyak itu. Saya masih ingat lirikan Mbak Relinda ke piring di hadapan saya pagi itu. Mbak Rien mengingatkan kalau kami akan dibawa mencicipi mie celor. Saya pasrah. Perut sudah terlalu kenyang oleh kentang rebus dan tumis sawi. Lagipula entah kenapa saya kurang berselera mendengar kata "mie" tadi. Mantan anak kos, saya terlalu akrab dengan mi instan.

Sesampainya di Mie Celor HM Syafei di kawasan 26 Ilir, saya hanya memesan es jeruk dan mengambil beberapa bungkus kerupuk ikan. Mas Wira berulang kali menggoda, sampai akhirnya saya tergoda juga mencicipi barang sesendok dari piringnya. Dan, cukup, saya memang tidak dibuat berselera oleh makanan satu ini.



Sebiduk di Sungai Musi
Lepas itu kami langsung bertolak ke kawasan dermaga di bawah Jembatan Ampera. Mbak Ira memarkir mobil di pelataran parkir Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Begitu kami keluar mobil, segerombolan mamang perehu ketek mendekati kami. Negosiasi singkat, kamipun sepakat memakai jasa salah satu dari mereka.

Perahu yang kami tumpangi tak terlalu besar, bermesin diesel sehingga saat berjalan mengeluarkan suara yang terdengar berbunyi "ketek-ketek-ketek-ketek..." Dari sinilah asal-usul penyebutan perahu ketek. Sebutan asli untuk perahu yang lalu-lalang di Sungai Musi adalah biduk. Ingat judul lagu Alfian tadi?

Harus saya akui, inilah kali pertama saya naik biduk. Ya, saya lahir dan menghabiskan 10 tahun pertama dalam kehidupan saya di Palembang. Sungai Musi juga sangat akrab bagi saya masa itu, tapi naik biduk soal lain. Berulang-kali mengunjungi Palembang setelah pindah dari kota tersebut pada 1992, tak sekalipun terbersit keinginan untuk naik perahu ketek.

Air sungai tengah pasang ketika kami dibawa menyeberang ke hilir. Ombak besar membuat perahu bergoyang-goyang kencang, terutama jika berada di tengah-tengah sungai. Saya yang tadinya duduk di bangku bersama Mbak Gladies, istri Mas Muhammad Arif Rahman, pindah ke bagian buritan demi mendapat pemandangan lebih lepas. Sempat mencoba berkomunikasi dengan si mamang, tapi suara mesin terlalu keras untuk dihalau oleh teriakan kami.

Di dekat pabrik PT Pusri, mesin perahu mati sendiri. Mamang perahu ketek sigap membuka lantai perahu di dekat kemudi untuk mengecek kondisi mesin. Lalu ia membuka kaos dan mencemplungkan separuh badannya ke air, mengecek buritan perahu.


"Ngapo, Mang?" saya tak bisa tidak bertanya ketika si mamang keluar dari air.

"Ada sampah nyangkut," jawab si mamang singkat sembari tersenyum. Meski saya mengajaknya berbahasa Palembang, ia selalu menjawab dalam bahasa Indonesia. Hanya lidahnya saja yang masih kental logat Palembang.

Si mamang kembali ke balik kemudia dan menghidupkan mesin. Sekali-dua ayun mesin masih belum mau hidup. Perahu sempat terbawa arus dan berubah posisi jadi melintang. Barulah pada percobaan ketiga mesin diesel tersebut menderu-deru, cerobongnya mengepulkan asap hitam tebal. Perahu kembali melaju.

Kira-kira setengah jam perjalanan kami sampai di Pulau Kemaro. Sebuah pulau yang sejatinya adalah delta sungai. Bentuk pulau ini setengah lonjong, nampak jelas dari udara ketika pesawat memasuki atau akan keluar dari kota Palembang. Begitu perahu bersandar di dermaga, pengunjung langsung disambut oleh deretan pohon palem dan pagar beton rendah bercorak merah.

Stumbling to this view in Pulau Kemaro. Let's say it's a mini palm river. #musitriboatton2016 #pesonasriwijaya

A photo posted by Relinda Puspita (@relindapuspita) on



Saya sengaja menghemat baterai hape demi mengambil banyak foto di Pulau Kemaro. Kamera digital bahkan hanya saya pakai sesekali saja demi mengabadikan eksotisme pulau ini. Barulah ketika perahu merapat di dermaga, saya keluarkan kamera digital untuk membuat video. Sayang, misi ini tak sepenuhnya sukses. Baru sampai Kelenteng Hok Cing Bio, memori yang saya bawa habis.

Ah, padahal sudah ditahan-tahan tidak merekam terlalu banyak footage selama naik perahu ketek. Cek dan ricek, rupanya saya lupa membersihkan isinya sebelum berangkat ke Palembang. Masih ada beberapa bahan video untuk kanal YouTube anak-anak yang tersisa di sana. Mau dihapus saya ragu apakah file video tersebut sudah di-back up di latop.

Apa boleh buat, saya hanya bisa mengabadikan pagoda sembilan lantai yang jadi landmark Pulau Kemaro dalam bentuk foto menggunakan ponsel. Tak apa, toh, sebagian isi Pulau Kemaro sudah terekam. Anggap saja saya memang di-setting untuk sepenuhnya menikmati suasana di sekitar pagoda sembilan lantai dan Pohon Cinta.

Berbarengan dengan kami, ada serombongan alumnus SMA Xaverius I Palembang tengah mengadakan reuni. Mereka berkumpul di bagian depan pagoda, sehingga saya harus menahan diri sampai mereka bubar untuk bisa mengambil foto pagoda dari muka. Eh, mereka ternyata baru bubar pas kami sudah beranjak meninggalkan pulau. Saya jadi berlari lagi ke arah depan pagoda dan menyempatkan mengambil beberapa foto.

Matahari tepat berada di ubun-ubun.



Kampung Arab al-Munawar
Dalam perjalanan balik ke Palembang, Mbak Ira meminta mamang ketek berhenti di Kampung Arab al-Munawar. Sebuah kampung tua berusia ratusan tahun di kawasan 13 Ulu, pusat keturunan Hadramaut di Palembang. Kami berjalan menyusuri gang-gang yang tak bisa dibilang lebar, dengan rumang-rumah dua lantai khas Palembang.

Orang pertama yang kami temui di dalam kampung ini langsung meyakinkan saya bahwa tempat ini menyimpan banyak cerita. Wajah-wajah berwajab arab, dengan hidung mancung, mata tajam, serta alis legam nyata menunjukkan penduduk Kampung al-Munawar adalah keturunan Hadramaut di Yaman.

Cerita lebih jelas kami peroleh dari Bapak Muhammad al-Munawar, Ketua RT yang juga merupakan generasi keenam keturunan langsung leluhur kampung: Habib Hasan al-Munawar. Cicitnya cicit Habib Hasan. Menurut istilah jawa, Pak Muhammad adalah udhek-udhek Habib Hasan.

Kami juga diberi kesempatan melongok ke dalam rumah Ibu Lathifah al-Kaab, yang masih satu garis keturunan dengan Pak Muhammad. Ibunya Bu Lathifah bermarga al-Munawar. Namun karena menikah dengan pria bermarga al-Kaab, Bu Lathifah dan seluruh saudaranya menyandang nama famili al-Kaab.

Turut penuturan Bu Lathifah, rumahnya merupakan salah satu dari delapan rumah asli Kampung al-Munawar yang dibangun di era Habib Hasan. Rumah-rumah tersebut dibangun untuk anak-anak Habib Hasan, dan rumah-rumah itulah yang menjadi cikal-bakal kampung. Meski berusia nyaris 300 tahun, bangunan tersebut masih tampak kokoh dan gagah.

Bu Lathifah menceritakan kalau lantai rumahnya bukan marmer biasa, melainkan semacam granit yang didatangkan langsung dari Italia. Lalu kami dibuat terpana oleh pintu-pintu besar di rumah tersebut. Besar dan tinggi, saya rasa tingginya lebih dari dua meter. Di salah satu dinding terpajang silsilah keluarga.


Bapak Muhammad al-Munawar (kaos hijau) menceritakan sejarah Kampung Arab al-Munawar kepada rombongan blogger Jelajah Musi Triboatton 2016, 15 Mei 2016. Foto: dokumen pribadi.

Silsilah ini menjawab pertanyaan saya mengapa saat bercerita Pak Muhammad selalu menyebut leluhurnya sebagai Habib Hasan. Sebutan "habib" bagi Habib Hasan al-Munawwar tentu ada alasannya. Jika dirunut-runut, garis keturunan Habib Hasan al-Munawwar sampai ke Rasulullah Muhammad SAW. Ya, beliau keturunan langsung Rasulullah karenanya mendapat panggilan Habib. Cuma saya lupa menghitung Habib Hasan al-Munawwar keturunan Rasulullah yang keberapa.

Saya kemudian bertanya, apakah mantan Menteri Agama Said Agil Husin al-Munawar adalah juga keturunan Habib Hasan al-Munawar. Tapi menurut Pak Muhammad, Said Agil bukan keturunan al-Munawar di Palembang. Menurutnya, al-Munawar ada dua: di Palembang dan di Semarang. Keduanya kakak-adik. Nah, Said Agil adalah keturunan al-Munawar Semarang yang lebih dikenal sebagai klan Toha Putra.

Saya agak dibuat heran oleh penjelasan ini karena Sadi Agil kelahiran Palembang. Eks menteri tersebut adalah lulusan Madrasah Ibtidaiyah Munawariyah 13 Ulu, dan alumnus Fakultas Syari'ah IAIN Raden Fatah Palembang. Mungkin butuh penelusuran lebih komperehensif untuk mengungkap hal ini. Yang jelas di kawasan Kauman Semarang memang terdapat keturunan al-Munawar dengan tokohnya Habib Toha al-Munawar.

Kira-kira setengah jam di Kampung al-Munawar, kami pun kembali naik perahu ketek ke Palembang.

Akhirnya Ketemu Tekwan!
Agenda selanjutnya adalah makan siang. Di luar dugaan, Mbak Ira membawa kami ke RM Pempek Pak Raden di kawasan Radial. Ini juga jadi kali pertama saya masuk rumah makan top tersebut. Orang Palembang mana yang tak tahu Pempek Pak Raden? Sejak saya kecil namanya sudah ngetop.

Kejutan bertambah karena kami diajak masuk ke ruang VIP, dengan meja-kursi yang dihias dan ditata rapi. Alamak! Kami benar-benar merasa disambut oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan. Tak lama kami duduk, Kadisparbud Sumsel Ibu Irene Camelyn Sinaga datang dan langsung menyalami kami satu per satu.

Yang bikin saya kaget, ternyata si Ibu bisa berbahasa Jawa kromo. Beliau menyapa saya dengan bahasa Jawa halus yang mau tak mau saya jawab dengan level kesopanan sama. Dan di situlah terungkap kalau Bu Irene terpikat oleh cerita melow saya. Hihihihi...



"Itu kisah nyata ya, Mas?" tanya Bu Irene menyinggung posting saya. (Baca: Musi Triboatton, Balap Perahu Menyusuri Venesia dari Timur)

"Iya, Bu. Kisah nyata masa kecil," jawab saya. Tak menyangka kalau ungkapan kerinduan pada tanah kelahiran nan mendayu-dayu pada posting tersebut ada yang menyukai.

Kami lalu makan-makan. Namanya restonya memang RM Pempek Pak Raden, tapi ada banyak menu lain yang disediakan. Mbak Rien yang masih penasaran dengan pindang kembali memesan pindang. Seingat saya pindang baung. Sedangkan saya ingin mencicipi tumis kangkung, lalapan segar, dan sambal. Aduh, selera kampung. Hahaha...

Dasar perut karet, selepas makan siang kami masih memesan pempek. Mbak Rien sepertinya tidak terlalu tertarik, atau sudah kekenyangan pindang. Entahlah. Yang jelas saya dan Mbak Relinda masih bersemangat mengunyah pempek. Dan tandaslah seporsi pempek campur Pak Raden dalam waktu sekejap. :)

Habis itu rencananya kami diantar ke hotel dan beristirahat. Cuma Mas Sutiknyo aka Bolang memberi ide lain, yakni ke Bukit Siguntang untuk mengulik sedikit sejarah Sriwijaya. Oke, berangkat! Bukit Siguntang adalah dataran tertinggi di Kota Palembang. Di sini banyak ditemukan benda purbakala yang diduga berasal dari jaman Kerajaan Sriwijaya.

Setelah beristirahat sebentar dan mandi di hotel, jelang setengah enam sore kami kembali menyusuri jalanan Palembang. Plaza Benteng Kuto Besak jadi tujuan karena kami akan menghadiri acara penutupan International Musi Triboatton 2016. Tapi sebelum itu Mbak Ira mengajak kami ke River Side Restaurant, sebuah restoran seafood berbentuk kapal yang berada di tepian Sungai Musi.

Okelah, kita makan lagi. Mas Bolang memesankan seporsi kepiting besar, lalu Mbak Rien lagi-lagi memesan pindang, tapi saya lebih suka sayur-sayurannya. Acara makan yang terburu-buru karena Mbak Ira berulang kali mengingatkan, "Sebelum jam tujuh sudah harus ada di venue ya." Dan kalimat tambahannya bikin kami kaget, "Nanti kalian disuruh naik panggung, disebut namanya satu-satu." Wow!

Rasanya makanan yang kami santap masih berada di tenggorokan ketika meninggalkan River Side. Malam itu juga merupakan pembukaan Sumsel Expo 2016. Sepanjang jalan di plaza Benteng Kuto Besak sudah ramai oleh beberapa stand pedagang dan pejalan kaki. Tak sampai lima menit, kami sudah tiba di venue penutupan International Musi Triboatton 2016.



Acara dibuka dengan Tari Gending Sriwijaya. Lalu ada satu tarian lagi yang saya tak tahu namanya, disusul sambutan-sambutan dari sejumlah pejabat dari tingkat kotamadya, propinsi, hingga Kementerian Pariwisata RI. Saya lebih memilih ke bagian belakang venue, dimana terdapat sederet meja panjang yang menyuguhkan aneka makanan khas Palembang.

Saya susuri satu-satu meja demi maju, sampai akhirnya ketemu yang saya cari: tekwan! Maaf kalau terdengar baper, tapi saya punya banyak kenangan dengan makanan ini. Cerita selengkapnya biar saya sendiri yang tahu.

Setelah itu barulah pemenang lomba-lomba diumumkan, termasuk lomba blog. Satu per satu nama saya, Mbak Rien dan Mbak Relinda dipanggil ke atas panggung. Satu momen lucu adalah ketika perwakilan Kemenpar RI yang didaulat menyalami kami bertanya pada MC, "Hadiahnya mana?" Wah, sempat senang bakal dapat hadiah lagi tuh. Hahaha...

Begitu acara penutupan International Musi Triboatton 2016 usai, selesai pulalah perjalanan kami di Palembang. Perjalanan dua hari yang sungguh berkesan di hati, juga di perut. Membuat saya diam-diam memendam keinginan untuk kembali lagi ke Palembang, dan menikmati kota ini lebih lama lagi. Apalagi anak-istri saya belum pernah kemari.

Mudah-mudahan saja keinginan ini terwujud. Amin.

Catatan: Terima kasih kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan, wa bil khusus Ibu Irene Camelyn Sinaga, yang telah mengundang saya ke Palembang. Juga kepada Mbak Ira Hairida dan Mas Jony yang telah menemani kami selama dua hari pada 14-15 Mei 2016.


SALAH satu lagu lawas yang saya hapal di luar kepala ada Sebiduk di Sungai Musi-nya Alfian. Maklum saja, Sungai Musi sangat lekat dengan masa kecil saya yang lahir dan dibesarkan di Palembang. Jadi saya merasa punya keterlibatan secara emosional dengan lagu tersebut. Siapa sangka jika kemudian saya benar-benar mengalami perjalanan naik biduk di sungai legendaris itu.

Oya, sebelum kita lanjutkan, posting ini adalah lanjutan dari bagian pertama yang bisa dibaca di Jadi Turis di Kota Kelahiran Sendiri (Wisata Palembang bagian I).

Setelah melihat etape terakhir ajang International Musi Triboatton 2016 dari plaza Benteng Kuto Besak pada 14 Mei, hari kedua di Palembang kami habiskan dengan menyusuri objek-objek menari di sepanjang Sungai Musi. Masih "dikawal" Mbak Ira Hairida dan Mas Jony dari Tim Digital Marketing Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Palembang, destinasi pertama kami adalah Pulau Kemaro.

Wah, agenda ini kontan membuat saya bersemangat. Sudah lama sekali saya dibuat penasaran oleh Pulau Kemaro. Berawal dari cerita Bapak sewaktu saya kecil yang sekali waktu mengatakan, "Di tengah Sungai Musi tuh ado pulau, namonyo Pulau Kemaro." Bapak tak banyak bercerita mengenai pulau berbalut mistis ini. Namun keberadaan pulau di sebuah sungai sudah menarik saya sebagai seorang anak.

Masa itu saya hanya tahu Pulau Samosir sebagai pulau di dalam pulau. Rupanya selain Samosir ada pula Pulau Kemaro. Bedanya, Samosir berada di tengah danau sedangkan Kemaro berada di tengah sungai. Dua-duanya sama-sama ada di Pulau Sumatera.

Begitu mengenal internet, saya puaskan rasa penasaran terhadap Pulau Kemaro dengan Google Earth. Juga berbagai bacaan mengenai pulau ini. Dan ketika secara resmi diumumkan sebagai salah satu pemenang lomba blog Jelajah Musi Triboatton 2016, saya kembali intens melahap berbagai referensi mengenai Pulau Kemaro. Terutama sekali video di YouTube.

Pagi hari selepas mandi dan berkemas saya turun ke restoran Hotel Amaris Palembang untuk sarapan. Ah, melihat sawi putih ditumis dan kentang rebus besar-besar saya jadi kalap. Sat-set, sat-set, beberapa potong kentang rebus berpindah ke piring menemani tumis sawi. Sampai di meja saya baru sadar kalau porsi saya terlalu besar. Padahal Mbak Ira berencana mengajak kami sarapan mie celor, salah satu kuliner khas Palembang.

Tapi pantang bagi saya menelantarkan makanan yang sudah tersaji di piring. Okelah, kita kunyah pelan-pelan. Saya sampai ditinggal Mas Wira Nurmansyah dan Mas Jony karena terlalu lama sarapan. Untunglah tak lama kemudian duo blogger perempuan sesama pemenang lomba blog Jelajah Musi, Mbak Relinda Puspita dan Mbak Katerina S, datang mengambil tempat duduk di meja saya.

Sempat dibahas sih porsi sarapan saya yang terlalu banyak itu. Saya masih ingat lirikan Mbak Relinda ke piring di hadapan saya pagi itu. Mbak Rien mengingatkan kalau kami akan dibawa mencicipi mie celor. Saya pasrah. Perut sudah terlalu kenyang oleh kentang rebus dan tumis sawi. Lagipula entah kenapa saya kurang berselera mendengar kata "mie" tadi. Mantan anak kos, saya terlalu akrab dengan mi instan.

Sesampainya di Mie Celor HM Syafei di kawasan 26 Ilir, saya hanya memesan es jeruk dan mengambil beberapa bungkus kerupuk ikan. Mas Wira berulang kali menggoda, sampai akhirnya saya tergoda juga mencicipi barang sesendok dari piringnya. Dan, cukup, saya memang tidak dibuat berselera oleh makanan satu ini.



Sebiduk di Sungai Musi
Lepas itu kami langsung bertolak ke kawasan dermaga di bawah Jembatan Ampera. Mbak Ira memarkir mobil di pelataran parkir Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Begitu kami keluar mobil, segerombolan mamang perehu ketek mendekati kami. Negosiasi singkat, kamipun sepakat memakai jasa salah satu dari mereka.

Perahu yang kami tumpangi tak terlalu besar, bermesin diesel sehingga saat berjalan mengeluarkan suara yang terdengar berbunyi "ketek-ketek-ketek-ketek..." Dari sinilah asal-usul penyebutan perahu ketek. Sebutan asli untuk perahu yang lalu-lalang di Sungai Musi adalah biduk. Ingat judul lagu Alfian tadi?

Harus saya akui, inilah kali pertama saya naik biduk. Ya, saya lahir dan menghabiskan 10 tahun pertama dalam kehidupan saya di Palembang. Sungai Musi juga sangat akrab bagi saya masa itu, tapi naik biduk soal lain. Berulang-kali mengunjungi Palembang setelah pindah dari kota tersebut pada 1992, tak sekalipun terbersit keinginan untuk naik perahu ketek.

Air sungai tengah pasang ketika kami dibawa menyeberang ke hilir. Ombak besar membuat perahu bergoyang-goyang kencang, terutama jika berada di tengah-tengah sungai. Saya yang tadinya duduk di bangku bersama Mbak Gladies, istri Mas Muhammad Arif Rahman, pindah ke bagian buritan demi mendapat pemandangan lebih lepas. Sempat mencoba berkomunikasi dengan si mamang, tapi suara mesin terlalu keras untuk dihalau oleh teriakan kami.

Di dekat pabrik PT Pusri, mesin perahu mati sendiri. Mamang perahu ketek sigap membuka lantai perahu di dekat kemudi untuk mengecek kondisi mesin. Lalu ia membuka kaos dan mencemplungkan separuh badannya ke air, mengecek buritan perahu.


"Ngapo, Mang?" saya tak bisa tidak bertanya ketika si mamang keluar dari air.

"Ada sampah nyangkut," jawab si mamang singkat sembari tersenyum. Meski saya mengajaknya berbahasa Palembang, ia selalu menjawab dalam bahasa Indonesia. Hanya lidahnya saja yang masih kental logat Palembang.

Si mamang kembali ke balik kemudia dan menghidupkan mesin. Sekali-dua ayun mesin masih belum mau hidup. Perahu sempat terbawa arus dan berubah posisi jadi melintang. Barulah pada percobaan ketiga mesin diesel tersebut menderu-deru, cerobongnya mengepulkan asap hitam tebal. Perahu kembali melaju.

Kira-kira setengah jam perjalanan kami sampai di Pulau Kemaro. Sebuah pulau yang sejatinya adalah delta sungai. Bentuk pulau ini setengah lonjong, nampak jelas dari udara ketika pesawat memasuki atau akan keluar dari kota Palembang. Begitu perahu bersandar di dermaga, pengunjung langsung disambut oleh deretan pohon palem dan pagar beton rendah bercorak merah.

Stumbling to this view in Pulau Kemaro. Let's say it's a mini palm river. #musitriboatton2016 #pesonasriwijaya

A photo posted by Relinda Puspita (@relindapuspita) on



Saya sengaja menghemat baterai hape demi mengambil banyak foto di Pulau Kemaro. Kamera digital bahkan hanya saya pakai sesekali saja demi mengabadikan eksotisme pulau ini. Barulah ketika perahu merapat di dermaga, saya keluarkan kamera digital untuk membuat video. Sayang, misi ini tak sepenuhnya sukses. Baru sampai Kelenteng Hok Cing Bio, memori yang saya bawa habis.

Ah, padahal sudah ditahan-tahan tidak merekam terlalu banyak footage selama naik perahu ketek. Cek dan ricek, rupanya saya lupa membersihkan isinya sebelum berangkat ke Palembang. Masih ada beberapa bahan video untuk kanal YouTube anak-anak yang tersisa di sana. Mau dihapus saya ragu apakah file video tersebut sudah di-back up di latop.

Apa boleh buat, saya hanya bisa mengabadikan pagoda sembilan lantai yang jadi landmark Pulau Kemaro dalam bentuk foto menggunakan ponsel. Tak apa, toh, sebagian isi Pulau Kemaro sudah terekam. Anggap saja saya memang di-setting untuk sepenuhnya menikmati suasana di sekitar pagoda sembilan lantai dan Pohon Cinta.

Berbarengan dengan kami, ada serombongan alumnus SMA Xaverius I Palembang tengah mengadakan reuni. Mereka berkumpul di bagian depan pagoda, sehingga saya harus menahan diri sampai mereka bubar untuk bisa mengambil foto pagoda dari muka. Eh, mereka ternyata baru bubar pas kami sudah beranjak meninggalkan pulau. Saya jadi berlari lagi ke arah depan pagoda dan menyempatkan mengambil beberapa foto.

Matahari tepat berada di ubun-ubun.



Kampung Arab al-Munawar
Dalam perjalanan balik ke Palembang, Mbak Ira meminta mamang ketek berhenti di Kampung Arab al-Munawar. Sebuah kampung tua berusia ratusan tahun di kawasan 13 Ulu, pusat keturunan Hadramaut di Palembang. Kami berjalan menyusuri gang-gang yang tak bisa dibilang lebar, dengan rumang-rumah dua lantai khas Palembang.

Orang pertama yang kami temui di dalam kampung ini langsung meyakinkan saya bahwa tempat ini menyimpan banyak cerita. Wajah-wajah berwajab arab, dengan hidung mancung, mata tajam, serta alis legam nyata menunjukkan penduduk Kampung al-Munawar adalah keturunan Hadramaut di Yaman.

Cerita lebih jelas kami peroleh dari Bapak Muhammad al-Munawar, Ketua RT yang juga merupakan generasi keenam keturunan langsung leluhur kampung: Habib Hasan al-Munawar. Cicitnya cicit Habib Hasan. Menurut istilah jawa, Pak Muhammad adalah udhek-udhek Habib Hasan.

Kami juga diberi kesempatan melongok ke dalam rumah Ibu Lathifah al-Kaab, yang masih satu garis keturunan dengan Pak Muhammad. Ibunya Bu Lathifah bermarga al-Munawar. Namun karena menikah dengan pria bermarga al-Kaab, Bu Lathifah dan seluruh saudaranya menyandang nama famili al-Kaab.

Turut penuturan Bu Lathifah, rumahnya merupakan salah satu dari delapan rumah asli Kampung al-Munawar yang dibangun di era Habib Hasan. Rumah-rumah tersebut dibangun untuk anak-anak Habib Hasan, dan rumah-rumah itulah yang menjadi cikal-bakal kampung. Meski berusia nyaris 300 tahun, bangunan tersebut masih tampak kokoh dan gagah.

Bu Lathifah menceritakan kalau lantai rumahnya bukan marmer biasa, melainkan semacam granit yang didatangkan langsung dari Italia. Lalu kami dibuat terpana oleh pintu-pintu besar di rumah tersebut. Besar dan tinggi, saya rasa tingginya lebih dari dua meter. Di salah satu dinding terpajang silsilah keluarga.


Bapak Muhammad al-Munawar (kaos hijau) menceritakan sejarah Kampung Arab al-Munawar kepada rombongan blogger Jelajah Musi Triboatton 2016, 15 Mei 2016. Foto: dokumen pribadi.

Silsilah ini menjawab pertanyaan saya mengapa saat bercerita Pak Muhammad selalu menyebut leluhurnya sebagai Habib Hasan. Sebutan "habib" bagi Habib Hasan al-Munawwar tentu ada alasannya. Jika dirunut-runut, garis keturunan Habib Hasan al-Munawwar sampai ke Rasulullah Muhammad SAW. Ya, beliau keturunan langsung Rasulullah karenanya mendapat panggilan Habib. Cuma saya lupa menghitung Habib Hasan al-Munawwar keturunan Rasulullah yang keberapa.

Saya kemudian bertanya, apakah mantan Menteri Agama Said Agil Husin al-Munawar adalah juga keturunan Habib Hasan al-Munawar. Tapi menurut Pak Muhammad, Said Agil bukan keturunan al-Munawar di Palembang. Menurutnya, al-Munawar ada dua: di Palembang dan di Semarang. Keduanya kakak-adik. Nah, Said Agil adalah keturunan al-Munawar Semarang yang lebih dikenal sebagai klan Toha Putra.

Saya agak dibuat heran oleh penjelasan ini karena Sadi Agil kelahiran Palembang. Eks menteri tersebut adalah lulusan Madrasah Ibtidaiyah Munawariyah 13 Ulu, dan alumnus Fakultas Syari'ah IAIN Raden Fatah Palembang. Mungkin butuh penelusuran lebih komperehensif untuk mengungkap hal ini. Yang jelas di kawasan Kauman Semarang memang terdapat keturunan al-Munawar dengan tokohnya Habib Toha al-Munawar.

Kira-kira setengah jam di Kampung al-Munawar, kami pun kembali naik perahu ketek ke Palembang.

Akhirnya Ketemu Tekwan!
Agenda selanjutnya adalah makan siang. Di luar dugaan, Mbak Ira membawa kami ke RM Pempek Pak Raden di kawasan Radial. Ini juga jadi kali pertama saya masuk rumah makan top tersebut. Orang Palembang mana yang tak tahu Pempek Pak Raden? Sejak saya kecil namanya sudah ngetop.

Kejutan bertambah karena kami diajak masuk ke ruang VIP, dengan meja-kursi yang dihias dan ditata rapi. Alamak! Kami benar-benar merasa disambut oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan. Tak lama kami duduk, Kadisparbud Sumsel Ibu Irene Camelyn Sinaga datang dan langsung menyalami kami satu per satu.

Yang bikin saya kaget, ternyata si Ibu bisa berbahasa Jawa kromo. Beliau menyapa saya dengan bahasa Jawa halus yang mau tak mau saya jawab dengan level kesopanan sama. Dan di situlah terungkap kalau Bu Irene terpikat oleh cerita melow saya. Hihihihi...



"Itu kisah nyata ya, Mas?" tanya Bu Irene menyinggung posting saya. (Baca: Musi Triboatton, Balap Perahu Menyusuri Venesia dari Timur)

"Iya, Bu. Kisah nyata masa kecil," jawab saya. Tak menyangka kalau ungkapan kerinduan pada tanah kelahiran nan mendayu-dayu pada posting tersebut ada yang menyukai.

Kami lalu makan-makan. Namanya restonya memang RM Pempek Pak Raden, tapi ada banyak menu lain yang disediakan. Mbak Rien yang masih penasaran dengan pindang kembali memesan pindang. Seingat saya pindang baung. Sedangkan saya ingin mencicipi tumis kangkung, lalapan segar, dan sambal. Aduh, selera kampung. Hahaha...

Dasar perut karet, selepas makan siang kami masih memesan pempek. Mbak Rien sepertinya tidak terlalu tertarik, atau sudah kekenyangan pindang. Entahlah. Yang jelas saya dan Mbak Relinda masih bersemangat mengunyah pempek. Dan tandaslah seporsi pempek campur Pak Raden dalam waktu sekejap. :)

Habis itu rencananya kami diantar ke hotel dan beristirahat. Cuma Mas Sutiknyo aka Bolang memberi ide lain, yakni ke Bukit Siguntang untuk mengulik sedikit sejarah Sriwijaya. Oke, berangkat! Bukit Siguntang adalah dataran tertinggi di Kota Palembang. Di sini banyak ditemukan benda purbakala yang diduga berasal dari jaman Kerajaan Sriwijaya.

Setelah beristirahat sebentar dan mandi di hotel, jelang setengah enam sore kami kembali menyusuri jalanan Palembang. Plaza Benteng Kuto Besak jadi tujuan karena kami akan menghadiri acara penutupan International Musi Triboatton 2016. Tapi sebelum itu Mbak Ira mengajak kami ke River Side Restaurant, sebuah restoran seafood berbentuk kapal yang berada di tepian Sungai Musi.

Okelah, kita makan lagi. Mas Bolang memesankan seporsi kepiting besar, lalu Mbak Rien lagi-lagi memesan pindang, tapi saya lebih suka sayur-sayurannya. Acara makan yang terburu-buru karena Mbak Ira berulang kali mengingatkan, "Sebelum jam tujuh sudah harus ada di venue ya." Dan kalimat tambahannya bikin kami kaget, "Nanti kalian disuruh naik panggung, disebut namanya satu-satu." Wow!

Rasanya makanan yang kami santap masih berada di tenggorokan ketika meninggalkan River Side. Malam itu juga merupakan pembukaan Sumsel Expo 2016. Sepanjang jalan di plaza Benteng Kuto Besak sudah ramai oleh beberapa stand pedagang dan pejalan kaki. Tak sampai lima menit, kami sudah tiba di venue penutupan International Musi Triboatton 2016.



Acara dibuka dengan Tari Gending Sriwijaya. Lalu ada satu tarian lagi yang saya tak tahu namanya, disusul sambutan-sambutan dari sejumlah pejabat dari tingkat kotamadya, propinsi, hingga Kementerian Pariwisata RI. Saya lebih memilih ke bagian belakang venue, dimana terdapat sederet meja panjang yang menyuguhkan aneka makanan khas Palembang.

Saya susuri satu-satu meja demi maju, sampai akhirnya ketemu yang saya cari: tekwan! Maaf kalau terdengar baper, tapi saya punya banyak kenangan dengan makanan ini. Cerita selengkapnya biar saya sendiri yang tahu.

Setelah itu barulah pemenang lomba-lomba diumumkan, termasuk lomba blog. Satu per satu nama saya, Mbak Rien dan Mbak Relinda dipanggil ke atas panggung. Satu momen lucu adalah ketika perwakilan Kemenpar RI yang didaulat menyalami kami bertanya pada MC, "Hadiahnya mana?" Wah, sempat senang bakal dapat hadiah lagi tuh. Hahaha...

Begitu acara penutupan International Musi Triboatton 2016 usai, selesai pulalah perjalanan kami di Palembang. Perjalanan dua hari yang sungguh berkesan di hati, juga di perut. Membuat saya diam-diam memendam keinginan untuk kembali lagi ke Palembang, dan menikmati kota ini lebih lama lagi. Apalagi anak-istri saya belum pernah kemari.

Mudah-mudahan saja keinginan ini terwujud. Amin.

Catatan: Terima kasih kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan, wa bil khusus Ibu Irene Camelyn Sinaga, yang telah mengundang saya ke Palembang. Juga kepada Mbak Ira Hairida dan Mas Jony yang telah menemani kami selama dua hari pada 14-15 Mei 2016.

Jumat, 10 Juni 2016



SUDAH sejak lama saya ingin melanjutkan kuliah. Tapi ada banyak pertimbangan sebelum mengambil keputusan mengingat kondisi dan status saya kini. Kuliah lagi berarti saya musti keluar Pemalang, setidak-tidaknya ke Pekalongan atau ke Tegal yang berjarak satu jam perjalanan darat. Atau sekalian ke Semarang dengan pilihan jauh lebih lengkap. Jauhnya...

Sebagai seorang freelance, saya memang bebas mengambil kuliah di manapun. Toh, pekerjaan saya bisa digarap dari mana saja sepanjang ada koneksi internet. Namun saya juga harus mempertimbangkan faktor keluarga. Maklumlah, sebagai bapak dari dua anak yang dibesarkan tanpa baby sitter, saya harus berbagi tugas dengan istri dalam mengasuh anak-anak.

Saya tidak bisa terlalu lama meninggalkan rumah, sementara kuliah butuh waktu khusus untuk datang menghadiri kelas atau tugas dari dosen. Belum lagi kalau ada praktikum dan segala macam. Kalau dalam sehari ada beberapa mata kuliah, bisa-bisa seharian penuh saya di kampus.

Andaikan saya mengambil kelas weekend di Semarang, itu berarti tiap akhir pekan saya harus menginap di Kota Lunpia. Berangkat Jumat sore agar dapat menghadiri kuliah Sabtu pagi, lalu selepas mengikuti kuliah di hari Ahad pulang lagi ke Palembang. Biaya transport dan akomodasi selama dua hari dua malam sudah tergambar jelas.

Kalaupun saya "hanya" mendaftar di Pekalongan, misalnya, tetap saja butuh waktu yang tidak sedikit untuk ke kampus. Pemalang-Pekalongan bisa ditempuh dalam waktu 35-45 menit, tergantung kondisi lalu lintas. Itu artinya saya harus berangkat paling lambat jam 06.00 dari rumah untuk mengikuti kelas jam 07.00. Tidak efisien.

Ada sih beberapa kampus di Pemalang, namun tidak satupun yang menawarkan bidang studi favorit saya. Tentu saja saya tidak mau asal ambil jurusan. Saya ingin meningkatkan kemampuan, sehingga jurusan yang diambil mustilah mendukung pengembangan potensi diri.



Kuliah Online, Kuliah Jarak Jauh
Sayapun mencari-cari solusi lain agar tetap bisa melanjutkan pendidikan, sekaligus tidak meninggalkan kewajiban sebagai seorang bapak. Mengingat istri juga punya kesibukan lain di luar urusan rumah tangga, bakalan repot kalau saya lebih sering keluar rumah. Maka saya mencari cara agar dapat berkuliah sembari bermain-main dengan anak. Hehehehe...

Beruntungnya saya, ternyata sekarang kuliah tak lagi harus tatap muka di kelas. Kini sudah ada kuliah online, yaitu sistem pembelajaran jarak jauh mengandalkan jaringan internet. Sama seperti kuliah pada umumnya, sebagai mahasiswa kita tetap belajar, mendapat materi pembelajaran, berdiskusi, serta mendapat dosen. Bedanya, semua aktivitas tersebut dilakukan secara online.

Saya juga menemukan kisah almarhum komedian legendaris Pepeng. Penyakit Multiple Sclerosis yang dideritanya membuat Pepeng hanya bisa terbaring di tempat tidur selama hampir 10 tahun! Tapi Pepeng tak mau menyerah. Selama sakit itu ia dapat menyelesaikan pendidikan S-2 dengan nilai A. Ia menempuh kuliah dari tempat tidurnya dengan sistem online learning.

Ini solusi yang saya butuhkan. Jadi, saya yang di Pemalang dapat mengambil kuliah pada perguruan tinggi di Jakarta, tanpa harus meninggalkan rumah. Semua aktivitas pembelajaran dapat dilakukan dari depan monitor laptop. Modalnya hanya jaringan internet dan alamat email untuk menerima materi perkualiahan.

Di Indonesia masih sedikit sekali kampus yang menyediakan sistem pembelajaran online. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Universitas Bina Nusantara, lebih dikenal sebagai Binus. Soal kualitas, Binus sudah lama dikenal sebagai universitas dengan standar tinggi. Sebuah kampus dengan slogan "A World-Class University" dan salah satu perguruan tinggi Indonesia yang menyediakan kelas internasional.


Saya pernah menulis profil singkat Ibu Theresia Widia Soerjaningsih dalam salah satu buku saya yang diterbitkan sebuah penerbit berskala nasional. Sungguh inspiratif. Siapa sangka jika pendirian Binus berawal dari kursus komputer di sudut Jakarta? Keteguhan hati dan optimisme Ibu Theresia membuat kursus komputer tersebut berkembang hingga menjadi sebuah akademi komputer, sebelum naik level menjadi universitas dan bertambah besar seperti sekarang.

Soal kualitas Binus tidak perlu diragukan lagi. Siapa yang tak kenal Binus dan segudang prestasi yang ditorehkan mahasiswa-mahasiswanya selama ini? Dan Binus Online Learning hadir memberi kemudahan bagi kita untuk memperoleh pendidikan berkualitas secara mudah. Dari mana saja, kapan saja.

Sistem Binus Online Learning dikemas fleksibel, di mana dalam kegiatan belajar mahasiswa dapat melakukan interaksi dengan dosen tanpa ada batasan waktu dan tempat. Materi mata kuliah yang diberikan tak melulu berupa diktat atau teks, melainkan beberapa bentuk lain seperti video dan video conference. Ada pula diskusi di forum dan tugas bagi individu maupun kelompok.

Kuliah online Binus telah memperhitungkan agar setiap mahasiswa mendapatkan hasil berkualitas. Dengan metode yang dipersiapkan, mahasiswa dapat fokus belajar dengan jumlah mata kuliah terbatas di tiap periode/semester, sehingga hasil yang didapatkan lebih maksimal.

Menggunakan LMS (learning management system), jaringan interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, dan mahasiswa dengan pembimbing akademis dapat terbangun secara integral. Dengan demikian mahasiswa online learning dipastikan mempunyai kualitas sebanding dengan mahasiswa yang melakukan sistem perkuliahan pada umumnya (tatap muka).



Binus Online Learning juga memberikan Pembelajaran Global, dimana mahasiswa diajar oleh dosen-dosen di luar negeri. Lalu ada pula program Employability & Entrepreneurial Skill (ESS) yang disisipkan ke dalam mata kuliah. Program ini membuat lulusan Binus Online Learning tidak hanya siap terjun ke dunia kerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan pekerjaan.

Ada bukti? Binus Online Learning telah menghasilkan lebih dari 300 lulusan terbaik yang tersebar di berbagai instansi dan perusahaan ternama di negara ini, baik perusahaan nasional maupun multinasional.

Tersebar di Lima Kota
Sekalipun bersifat online, tatap muka antara mahasiswa dan dosen tetap ada. Utamanya pada kegiatan yang bersifat pembahasan kasus, diskusi pemantapan pemahaman materi kuliah, dan pada saat mengikuti ujian. Mahasiswa juga diharuskan datang langsung pada awal masuk perkuliahan.

Berarti tetap harus datang ke kampus dong? Iya, tapi kan hanya pada saat awal kuliah dan ujian. Sisanya bisa dilakukan dari kenyamanan kamar di rumah masing-masing. Itupun datangnya tidak harus ke Jakarta kok.

Binus mempunyai Binus University Learning Community (BULC) yang tersebar di empat kota: Palembang, Bekasi, Semarang dan Malang. Mahasiswa Binus Online Learning boleh mendatangi BULC terdekat untuk kepentingan perkuliahan tatap muka atau ujian. Saya yang di Pemalang, misalnya, dipersilakan ke BULC Semarang.

Ke BULC Bekasi juga boleh sih, tapi takut macet nanti. #Eh.

Pilihan Program Studi:

Program D3
1. Komputerisasi Akuntansi

Program S1
1. Akuntansi
2. Manajemen Marketing
3. Sistem Informasi
4. Manajemen - Business Management
5. Sistem Informasi - Corporate Information System

Program S2 (Khusus Jakarta)
1. Magister Teknik Informatika (MTI)
2. Magister Manajemen Sistem Informasi

Mahasiswa dapat menjalani kuliah tatap muka atau ujian di semua BULC, tergantung saat itu sedang berada di mana. Jadi andaikan kita tengah dalam perjalanan ke Palembang dan bertepatan dengan jadwal ujian atau perkuliahan face to face, datangi saja BULC Palembang. Beres deh! Benar-benar fleksibel, bukan?

Well, dengan sistem pembelajaran online yang ditawarkan Binus Online Learning, kita bisa Maju Tanpa Batas menempuh pendidikan lebih tinggi demi mengembangkan potensi tanpa terkendala jarak dan waktu. Kita bisa tetap beraktivitas seperti biasa sembari menjalani kuliah. Bekerja, mengurus bisnis, atau menjalani hobi yang membuat kita harus bepergian dari satu kota ke kota lain hingga ke luar negeri bisa jalan terus.

Program ini juga merupakan peluang bagi yang tengah mendapat kendala sehingga tidak dapat menjalani kuliah secara normal. Misalnya sedang menderita sakit sehingga harus istirahat total di tempat tidur, atau menderita cacat. Fleksibilitas yang ditawarkan Binus Online Learning dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan pendidikan bermutu tinggi tanpa batasan.

So, sudah siap untuk #MajuTanpaBatas bersama Binus Online Learning? Pelajari lebih lengkap di situs resmi Binus.



SUDAH sejak lama saya ingin melanjutkan kuliah. Tapi ada banyak pertimbangan sebelum mengambil keputusan mengingat kondisi dan status saya kini. Kuliah lagi berarti saya musti keluar Pemalang, setidak-tidaknya ke Pekalongan atau ke Tegal yang berjarak satu jam perjalanan darat. Atau sekalian ke Semarang dengan pilihan jauh lebih lengkap. Jauhnya...

Sebagai seorang freelance, saya memang bebas mengambil kuliah di manapun. Toh, pekerjaan saya bisa digarap dari mana saja sepanjang ada koneksi internet. Namun saya juga harus mempertimbangkan faktor keluarga. Maklumlah, sebagai bapak dari dua anak yang dibesarkan tanpa baby sitter, saya harus berbagi tugas dengan istri dalam mengasuh anak-anak.

Saya tidak bisa terlalu lama meninggalkan rumah, sementara kuliah butuh waktu khusus untuk datang menghadiri kelas atau tugas dari dosen. Belum lagi kalau ada praktikum dan segala macam. Kalau dalam sehari ada beberapa mata kuliah, bisa-bisa seharian penuh saya di kampus.

Andaikan saya mengambil kelas weekend di Semarang, itu berarti tiap akhir pekan saya harus menginap di Kota Lunpia. Berangkat Jumat sore agar dapat menghadiri kuliah Sabtu pagi, lalu selepas mengikuti kuliah di hari Ahad pulang lagi ke Palembang. Biaya transport dan akomodasi selama dua hari dua malam sudah tergambar jelas.

Kalaupun saya "hanya" mendaftar di Pekalongan, misalnya, tetap saja butuh waktu yang tidak sedikit untuk ke kampus. Pemalang-Pekalongan bisa ditempuh dalam waktu 35-45 menit, tergantung kondisi lalu lintas. Itu artinya saya harus berangkat paling lambat jam 06.00 dari rumah untuk mengikuti kelas jam 07.00. Tidak efisien.

Ada sih beberapa kampus di Pemalang, namun tidak satupun yang menawarkan bidang studi favorit saya. Tentu saja saya tidak mau asal ambil jurusan. Saya ingin meningkatkan kemampuan, sehingga jurusan yang diambil mustilah mendukung pengembangan potensi diri.



Kuliah Online, Kuliah Jarak Jauh
Sayapun mencari-cari solusi lain agar tetap bisa melanjutkan pendidikan, sekaligus tidak meninggalkan kewajiban sebagai seorang bapak. Mengingat istri juga punya kesibukan lain di luar urusan rumah tangga, bakalan repot kalau saya lebih sering keluar rumah. Maka saya mencari cara agar dapat berkuliah sembari bermain-main dengan anak. Hehehehe...

Beruntungnya saya, ternyata sekarang kuliah tak lagi harus tatap muka di kelas. Kini sudah ada kuliah online, yaitu sistem pembelajaran jarak jauh mengandalkan jaringan internet. Sama seperti kuliah pada umumnya, sebagai mahasiswa kita tetap belajar, mendapat materi pembelajaran, berdiskusi, serta mendapat dosen. Bedanya, semua aktivitas tersebut dilakukan secara online.

Saya juga menemukan kisah almarhum komedian legendaris Pepeng. Penyakit Multiple Sclerosis yang dideritanya membuat Pepeng hanya bisa terbaring di tempat tidur selama hampir 10 tahun! Tapi Pepeng tak mau menyerah. Selama sakit itu ia dapat menyelesaikan pendidikan S-2 dengan nilai A. Ia menempuh kuliah dari tempat tidurnya dengan sistem online learning.

Ini solusi yang saya butuhkan. Jadi, saya yang di Pemalang dapat mengambil kuliah pada perguruan tinggi di Jakarta, tanpa harus meninggalkan rumah. Semua aktivitas pembelajaran dapat dilakukan dari depan monitor laptop. Modalnya hanya jaringan internet dan alamat email untuk menerima materi perkualiahan.

Di Indonesia masih sedikit sekali kampus yang menyediakan sistem pembelajaran online. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Universitas Bina Nusantara, lebih dikenal sebagai Binus. Soal kualitas, Binus sudah lama dikenal sebagai universitas dengan standar tinggi. Sebuah kampus dengan slogan "A World-Class University" dan salah satu perguruan tinggi Indonesia yang menyediakan kelas internasional.


Saya pernah menulis profil singkat Ibu Theresia Widia Soerjaningsih dalam salah satu buku saya yang diterbitkan sebuah penerbit berskala nasional. Sungguh inspiratif. Siapa sangka jika pendirian Binus berawal dari kursus komputer di sudut Jakarta? Keteguhan hati dan optimisme Ibu Theresia membuat kursus komputer tersebut berkembang hingga menjadi sebuah akademi komputer, sebelum naik level menjadi universitas dan bertambah besar seperti sekarang.

Soal kualitas Binus tidak perlu diragukan lagi. Siapa yang tak kenal Binus dan segudang prestasi yang ditorehkan mahasiswa-mahasiswanya selama ini? Dan Binus Online Learning hadir memberi kemudahan bagi kita untuk memperoleh pendidikan berkualitas secara mudah. Dari mana saja, kapan saja.

Sistem Binus Online Learning dikemas fleksibel, di mana dalam kegiatan belajar mahasiswa dapat melakukan interaksi dengan dosen tanpa ada batasan waktu dan tempat. Materi mata kuliah yang diberikan tak melulu berupa diktat atau teks, melainkan beberapa bentuk lain seperti video dan video conference. Ada pula diskusi di forum dan tugas bagi individu maupun kelompok.

Kuliah online Binus telah memperhitungkan agar setiap mahasiswa mendapatkan hasil berkualitas. Dengan metode yang dipersiapkan, mahasiswa dapat fokus belajar dengan jumlah mata kuliah terbatas di tiap periode/semester, sehingga hasil yang didapatkan lebih maksimal.

Menggunakan LMS (learning management system), jaringan interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa, mahasiswa dengan dosen, dan mahasiswa dengan pembimbing akademis dapat terbangun secara integral. Dengan demikian mahasiswa online learning dipastikan mempunyai kualitas sebanding dengan mahasiswa yang melakukan sistem perkuliahan pada umumnya (tatap muka).



Binus Online Learning juga memberikan Pembelajaran Global, dimana mahasiswa diajar oleh dosen-dosen di luar negeri. Lalu ada pula program Employability & Entrepreneurial Skill (ESS) yang disisipkan ke dalam mata kuliah. Program ini membuat lulusan Binus Online Learning tidak hanya siap terjun ke dunia kerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan pekerjaan.

Ada bukti? Binus Online Learning telah menghasilkan lebih dari 300 lulusan terbaik yang tersebar di berbagai instansi dan perusahaan ternama di negara ini, baik perusahaan nasional maupun multinasional.

Tersebar di Lima Kota
Sekalipun bersifat online, tatap muka antara mahasiswa dan dosen tetap ada. Utamanya pada kegiatan yang bersifat pembahasan kasus, diskusi pemantapan pemahaman materi kuliah, dan pada saat mengikuti ujian. Mahasiswa juga diharuskan datang langsung pada awal masuk perkuliahan.

Berarti tetap harus datang ke kampus dong? Iya, tapi kan hanya pada saat awal kuliah dan ujian. Sisanya bisa dilakukan dari kenyamanan kamar di rumah masing-masing. Itupun datangnya tidak harus ke Jakarta kok.

Binus mempunyai Binus University Learning Community (BULC) yang tersebar di empat kota: Palembang, Bekasi, Semarang dan Malang. Mahasiswa Binus Online Learning boleh mendatangi BULC terdekat untuk kepentingan perkuliahan tatap muka atau ujian. Saya yang di Pemalang, misalnya, dipersilakan ke BULC Semarang.

Ke BULC Bekasi juga boleh sih, tapi takut macet nanti. #Eh.

Pilihan Program Studi:

Program D3
1. Komputerisasi Akuntansi

Program S1
1. Akuntansi
2. Manajemen Marketing
3. Sistem Informasi
4. Manajemen - Business Management
5. Sistem Informasi - Corporate Information System

Program S2 (Khusus Jakarta)
1. Magister Teknik Informatika (MTI)
2. Magister Manajemen Sistem Informasi

Mahasiswa dapat menjalani kuliah tatap muka atau ujian di semua BULC, tergantung saat itu sedang berada di mana. Jadi andaikan kita tengah dalam perjalanan ke Palembang dan bertepatan dengan jadwal ujian atau perkuliahan face to face, datangi saja BULC Palembang. Beres deh! Benar-benar fleksibel, bukan?

Well, dengan sistem pembelajaran online yang ditawarkan Binus Online Learning, kita bisa Maju Tanpa Batas menempuh pendidikan lebih tinggi demi mengembangkan potensi tanpa terkendala jarak dan waktu. Kita bisa tetap beraktivitas seperti biasa sembari menjalani kuliah. Bekerja, mengurus bisnis, atau menjalani hobi yang membuat kita harus bepergian dari satu kota ke kota lain hingga ke luar negeri bisa jalan terus.

Program ini juga merupakan peluang bagi yang tengah mendapat kendala sehingga tidak dapat menjalani kuliah secara normal. Misalnya sedang menderita sakit sehingga harus istirahat total di tempat tidur, atau menderita cacat. Fleksibilitas yang ditawarkan Binus Online Learning dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan pendidikan bermutu tinggi tanpa batasan.

So, sudah siap untuk #MajuTanpaBatas bersama Binus Online Learning? Pelajari lebih lengkap di situs resmi Binus.

Senin, 06 Juni 2016

menu-food-combining

MANFAAT kesehatan yang diperoleh ketika menjalani ibadah puasa sudah banyak dibahas. Namun, tahukah kamu kalau manfaat kesehatan tersebut tidak akan pernah didapat dengan pola makan yang buruk. Pengaturan pola makan dan apa saja yang dimakan pada saat berbuka puasa memegang peranan lebih penting dalam hal ini.

Berpuasa secara ilmiah adalah cara untuk mengistirahatkan organ-organ pencernaan di dalam tubuh. Dalam sehari-semalam selama 30 hari penuh, usus, lambung dan seluruh kerja pencernaan berhenti bekerja selama setidaknya 12-13 jam.

Sama halnya mesin, organ-organ tubuh yang bekerja tanpa henti dapat membuatnya cepat aus dan bahkan gampang rusak. Mengistirahatkan organ merupakan salah satu cara untuk mencegah hal-hal buruk yang mungkin terjadi karena terlalu lelah bekerja mengolah makanan dan minuman di dalam tubuh. Puasa menjadi satu cara mudah untuk itu.

Sayangnya, pelaku puasa terkadang justru merusak manfaat tersebut dengan pola makan yang salah saat berbuka. Ini ditambah lagi dengan asupan makanan yang tak kalah merugikan tubuh. Akibatnya, alih-alih mendapat manfaat sehat, berpuasa justru membuat organ 'tersiksa' sehingga hal-hal lebih buruk lebih mungkin terjadi.

Mengenal Food Combining
Satu pola hidup sehat yang bisa diterapkan selama berpuasa adalah food combining. Sesuai namanya, food combining adalah sebuah cara untuk mengatur dan mengkombinasikan makanan serta pola makan demi tubuh yang lebih sehat. Food combining merupakan sebuah disiplin yang didasarkan pada ritme kerja organ pencernaan. Dengan demikian, menerapkan pola makan ala food combining bisa dibilang merupakan hal wajib bagi Muslim yang tengah berpuasa.

Dalam dunia kesehatan, tubuh mempunyai ritme alami tertentu yang mengatur kinerja seluruh organ secara serasi. Ritme ini biasa disebut sebagai siklus sikardian. Ritme ini adalah sesuatu hal yang pasti pada setiap manusia - juga makhluk hidup lainnya, sehingga melawan ritme ini sama dengan merusak tubuh karena kinerja organ menjadi terganggu. Tak ada pilihan lain kecuali mengatur pola hidup mengikuti ritme ini agar tubuh senantiasa sehat.

Sebagai contoh, ritme sikardian mempelajari bahwa malam adalah waktunya beristirahat untuk tidur. Rupanya, organ-organ pencernaan tengah bekerja keras mengolah makanan dan minuman yang kita makan pada saat ini. Kerja ini membutuhkan energi sangat besar. Itu sebabnya kita merasa mengantuk saat malam dan disarankan untuk tidur pada saat ini. Tetap terjaga pada saat organ tubuh tengah bekerja keras mengolah makanan bakal membuat tubuh menjadi kelelahan sehingga rentan terhadap kerusakan. Akibatnya, si pemilik tubuh merasakan sakit atau setidaknya rasa tidak enak badan.

Nah, food combining mengatur pola makan mengikuti ritme sikardian ini. Karena malam adalah waktunya sistem pencernaan mengolah makanan, maka pelaku food combining sangat tidak dianjurkan makan di malam hari. Makan sewaktu organ tengah bekerja mengolah makanan berarti memberi pekerjaan dobel. Itu sangat memberatkan. Waktu terbaik untuk makan malam adalah sebelum pukul 19.00 WIB, dan usahakan makan paling lambat dua jam sebelum pergi tidur.

Lalu, ketika bangun di pagi hari, fungsi pencernaan tengah menjalankan tugasnya membuang sisa-sisa hasil pengolahan makanan yang dilakukan pada malam hari. Ini sebabnya, waktu alami untuk buang air besar adalah pagi hari usai bangun tidur. Saat ini, tidak disarankan untuk mengonsumsi makanan berat sebab dapat menyebabkan terganggunya kerja organ-organ pencernaan yang tengah membuang sisa-sisa makanan keluar dari tubuh.

Makanan yang dianjurkan pada saat ini adalah makanan ringan. Namun bukan berarti camilan, melainkan makanan yang ringan dicerna tubuh serta memiliki kandungan gizi lengkap serta memadai. Buah matang adalah pilihan tepat. Sangat dianjurkan untuk makan buah sebagai menu sarapan dan tidak memakan makanan berat hingga setidaknya pukul 11.00, waktu di mana seluruh proses pembuangan sisa-sisa makanan selesai dilakukan.

Setelah pukul 11.00, kita bebas memakan apa saja. Nasi beserta lauk-pauk dan sayur-mayur bebas dimakan selama periode ini. Syaratnya cuma satu: patuhi aturan mengenai pengaturan karbohidrat, protein hewani dan protein nabati. Kuncinya cuma satu, makanan yang mengandung karbohidrat atau pati (nasi, kentang, jagung, ketan, tepung-tepungan) tidak boleh dimakan bersamaan dengan makanan yang mengandung protein hewani. Itu saja. Paduan yang lain bebas, sehingga nasi bisa dimakan dengan sayur-mayur, atau sayur-mayur dengan daging dan ikan atau telur.

Pengaturan menu makanan adalah kunci lain dari food combining. Ini terkait kajian mengenai enzim pencernaan dalam tubuh, di mana diketahui jika enzim untuk mencerna protein hewani tidak bisa bekerja bersamaan dengan enzim untuk mencerna karbohidrat. Akibatnya, bila dua makanan tersebut dimakan bersamaan, salah satunya dipastikan tidak dapat dicerna dengan baik dan menjadi sampah dalam tubuh. Itu racun jahat!


Food Combining dalam Berpuasa
Sekarang, bagaimana cara menerapkan food combining dalam berpuasa? Kita tahu, ritme sikardian berlawanan dengan waktu berpuasa. Siang kita tidak boleh mengonsumsi apapun hingga matahari terbenam, sedangkan malam hari diperbolehkan makan hingga sebelum Subuh. Bagaimana caranya?

Berita baiknya, ritme sikardian tidak berpatokan pada jam tertentu. Patokannya adalah siklus tubuh dan ritme ini bisa berubah menyesuaikan siklus tubuh. Jadi, pada saat berpuasa ritme sikardian bakal bergeser. Untuk mudahnya, tinggal andaikan saja malam di bulan Ramadhan sebagai siang di waktu bulan-bulan lainnya.

Dengan demikian, saat sahur adalah seperti jam makan malam di saat tidak berpuasa. Saat ini kita boleh makan sepuasnya - tentu dengan mengindahkan aturan mengenai kombinasi karbohidrat, protein hewani dan protein nabati. Lalu sepanjang siang tidak makan apapun. Pada saat berbuka sama seperti sarapan pagi, sehingga menurut food combining makanan terbaik adalah makanan ringan yang tidak memberatkan kerja organ pencernaan.

Buah adalah pilihan tepat untuk berbuka puasa. Buah matang pohon yang mengandung banyak air serta manis rasanya yang paling disarankan. Ingat sabda Rasulullah mengenai "berbuka puasa dengan yang manis-manis", bukan?

Kaitkan pula dengan kebiasaan Rasul yang mengonsumsi kurma terlebih dahulu saat berbuka. Di padang pasir setandus Jazirah Arab, kurma adalah buah-buahan yang paling banyak ditemukan. Kurma yang matang di pohon rasanya manis dan mengandung air meski tak terlalu banyak. Jadi, tidak bermaksud memaksakan sunnah jika menyebut anjuran Rasul memakan kurma saat berbuka esensinya adalah memakan buah yang manis.

Jika Rasul memakan buah kurma - notabene merupakan buah lokal Arab, maka kita di Indonesia bisa memakan buah lokal setempat. Mangga, semangka, melon, rambutan atau jeruk manis bagus dikonsumsi saat berbuka puasa. Juga buah-buahan impor seperti pear, anggur atau buah naga. Kunyah pelan-pelan agar buah tercampur dengan air liur sebagai komponen penting dalam proses pencernaan.

Kita bisa mengonsumsi buah hingga kenyang, namun tentu saja dianjurkan untuk secukupnya saja. Bersegeralah menunaikan salat Magrib karena waktunya sempit. Setelah itu, lanjutkan makan buah hingga tiba saat salat tarawih. Jika saat tidak berpuasa kita dianjurkan baru makan makanan berat setelah pukul 11.00, maka saat berpuasa makanan berat bisa dikonsumsi setelah salat tarawih usai. Jangan lupa aturan padu-padan karbohidrat, protein hewani dan protein nabati ya?

Terakhir, jangan lupa untuk makan besar (nasi plus lauk-pauknya) paling lambat dua jam sebelum berangkat tidur. Jadi, kalau kamu biasa tidur jam 12 malam, kamu masih boleh makan setidaknya hingga jam 10 malam.

Semoga bermanfaat!

menu-food-combining

MANFAAT kesehatan yang diperoleh ketika menjalani ibadah puasa sudah banyak dibahas. Namun, tahukah kamu kalau manfaat kesehatan tersebut tidak akan pernah didapat dengan pola makan yang buruk. Pengaturan pola makan dan apa saja yang dimakan pada saat berbuka puasa memegang peranan lebih penting dalam hal ini.

Berpuasa secara ilmiah adalah cara untuk mengistirahatkan organ-organ pencernaan di dalam tubuh. Dalam sehari-semalam selama 30 hari penuh, usus, lambung dan seluruh kerja pencernaan berhenti bekerja selama setidaknya 12-13 jam.

Sama halnya mesin, organ-organ tubuh yang bekerja tanpa henti dapat membuatnya cepat aus dan bahkan gampang rusak. Mengistirahatkan organ merupakan salah satu cara untuk mencegah hal-hal buruk yang mungkin terjadi karena terlalu lelah bekerja mengolah makanan dan minuman di dalam tubuh. Puasa menjadi satu cara mudah untuk itu.

Sayangnya, pelaku puasa terkadang justru merusak manfaat tersebut dengan pola makan yang salah saat berbuka. Ini ditambah lagi dengan asupan makanan yang tak kalah merugikan tubuh. Akibatnya, alih-alih mendapat manfaat sehat, berpuasa justru membuat organ 'tersiksa' sehingga hal-hal lebih buruk lebih mungkin terjadi.

Mengenal Food Combining
Satu pola hidup sehat yang bisa diterapkan selama berpuasa adalah food combining. Sesuai namanya, food combining adalah sebuah cara untuk mengatur dan mengkombinasikan makanan serta pola makan demi tubuh yang lebih sehat. Food combining merupakan sebuah disiplin yang didasarkan pada ritme kerja organ pencernaan. Dengan demikian, menerapkan pola makan ala food combining bisa dibilang merupakan hal wajib bagi Muslim yang tengah berpuasa.

Dalam dunia kesehatan, tubuh mempunyai ritme alami tertentu yang mengatur kinerja seluruh organ secara serasi. Ritme ini biasa disebut sebagai siklus sikardian. Ritme ini adalah sesuatu hal yang pasti pada setiap manusia - juga makhluk hidup lainnya, sehingga melawan ritme ini sama dengan merusak tubuh karena kinerja organ menjadi terganggu. Tak ada pilihan lain kecuali mengatur pola hidup mengikuti ritme ini agar tubuh senantiasa sehat.

Sebagai contoh, ritme sikardian mempelajari bahwa malam adalah waktunya beristirahat untuk tidur. Rupanya, organ-organ pencernaan tengah bekerja keras mengolah makanan dan minuman yang kita makan pada saat ini. Kerja ini membutuhkan energi sangat besar. Itu sebabnya kita merasa mengantuk saat malam dan disarankan untuk tidur pada saat ini. Tetap terjaga pada saat organ tubuh tengah bekerja keras mengolah makanan bakal membuat tubuh menjadi kelelahan sehingga rentan terhadap kerusakan. Akibatnya, si pemilik tubuh merasakan sakit atau setidaknya rasa tidak enak badan.

Nah, food combining mengatur pola makan mengikuti ritme sikardian ini. Karena malam adalah waktunya sistem pencernaan mengolah makanan, maka pelaku food combining sangat tidak dianjurkan makan di malam hari. Makan sewaktu organ tengah bekerja mengolah makanan berarti memberi pekerjaan dobel. Itu sangat memberatkan. Waktu terbaik untuk makan malam adalah sebelum pukul 19.00 WIB, dan usahakan makan paling lambat dua jam sebelum pergi tidur.

Lalu, ketika bangun di pagi hari, fungsi pencernaan tengah menjalankan tugasnya membuang sisa-sisa hasil pengolahan makanan yang dilakukan pada malam hari. Ini sebabnya, waktu alami untuk buang air besar adalah pagi hari usai bangun tidur. Saat ini, tidak disarankan untuk mengonsumsi makanan berat sebab dapat menyebabkan terganggunya kerja organ-organ pencernaan yang tengah membuang sisa-sisa makanan keluar dari tubuh.

Makanan yang dianjurkan pada saat ini adalah makanan ringan. Namun bukan berarti camilan, melainkan makanan yang ringan dicerna tubuh serta memiliki kandungan gizi lengkap serta memadai. Buah matang adalah pilihan tepat. Sangat dianjurkan untuk makan buah sebagai menu sarapan dan tidak memakan makanan berat hingga setidaknya pukul 11.00, waktu di mana seluruh proses pembuangan sisa-sisa makanan selesai dilakukan.

Setelah pukul 11.00, kita bebas memakan apa saja. Nasi beserta lauk-pauk dan sayur-mayur bebas dimakan selama periode ini. Syaratnya cuma satu: patuhi aturan mengenai pengaturan karbohidrat, protein hewani dan protein nabati. Kuncinya cuma satu, makanan yang mengandung karbohidrat atau pati (nasi, kentang, jagung, ketan, tepung-tepungan) tidak boleh dimakan bersamaan dengan makanan yang mengandung protein hewani. Itu saja. Paduan yang lain bebas, sehingga nasi bisa dimakan dengan sayur-mayur, atau sayur-mayur dengan daging dan ikan atau telur.

Pengaturan menu makanan adalah kunci lain dari food combining. Ini terkait kajian mengenai enzim pencernaan dalam tubuh, di mana diketahui jika enzim untuk mencerna protein hewani tidak bisa bekerja bersamaan dengan enzim untuk mencerna karbohidrat. Akibatnya, bila dua makanan tersebut dimakan bersamaan, salah satunya dipastikan tidak dapat dicerna dengan baik dan menjadi sampah dalam tubuh. Itu racun jahat!


Food Combining dalam Berpuasa
Sekarang, bagaimana cara menerapkan food combining dalam berpuasa? Kita tahu, ritme sikardian berlawanan dengan waktu berpuasa. Siang kita tidak boleh mengonsumsi apapun hingga matahari terbenam, sedangkan malam hari diperbolehkan makan hingga sebelum Subuh. Bagaimana caranya?

Berita baiknya, ritme sikardian tidak berpatokan pada jam tertentu. Patokannya adalah siklus tubuh dan ritme ini bisa berubah menyesuaikan siklus tubuh. Jadi, pada saat berpuasa ritme sikardian bakal bergeser. Untuk mudahnya, tinggal andaikan saja malam di bulan Ramadhan sebagai siang di waktu bulan-bulan lainnya.

Dengan demikian, saat sahur adalah seperti jam makan malam di saat tidak berpuasa. Saat ini kita boleh makan sepuasnya - tentu dengan mengindahkan aturan mengenai kombinasi karbohidrat, protein hewani dan protein nabati. Lalu sepanjang siang tidak makan apapun. Pada saat berbuka sama seperti sarapan pagi, sehingga menurut food combining makanan terbaik adalah makanan ringan yang tidak memberatkan kerja organ pencernaan.

Buah adalah pilihan tepat untuk berbuka puasa. Buah matang pohon yang mengandung banyak air serta manis rasanya yang paling disarankan. Ingat sabda Rasulullah mengenai "berbuka puasa dengan yang manis-manis", bukan?

Kaitkan pula dengan kebiasaan Rasul yang mengonsumsi kurma terlebih dahulu saat berbuka. Di padang pasir setandus Jazirah Arab, kurma adalah buah-buahan yang paling banyak ditemukan. Kurma yang matang di pohon rasanya manis dan mengandung air meski tak terlalu banyak. Jadi, tidak bermaksud memaksakan sunnah jika menyebut anjuran Rasul memakan kurma saat berbuka esensinya adalah memakan buah yang manis.

Jika Rasul memakan buah kurma - notabene merupakan buah lokal Arab, maka kita di Indonesia bisa memakan buah lokal setempat. Mangga, semangka, melon, rambutan atau jeruk manis bagus dikonsumsi saat berbuka puasa. Juga buah-buahan impor seperti pear, anggur atau buah naga. Kunyah pelan-pelan agar buah tercampur dengan air liur sebagai komponen penting dalam proses pencernaan.

Kita bisa mengonsumsi buah hingga kenyang, namun tentu saja dianjurkan untuk secukupnya saja. Bersegeralah menunaikan salat Magrib karena waktunya sempit. Setelah itu, lanjutkan makan buah hingga tiba saat salat tarawih. Jika saat tidak berpuasa kita dianjurkan baru makan makanan berat setelah pukul 11.00, maka saat berpuasa makanan berat bisa dikonsumsi setelah salat tarawih usai. Jangan lupa aturan padu-padan karbohidrat, protein hewani dan protein nabati ya?

Terakhir, jangan lupa untuk makan besar (nasi plus lauk-pauknya) paling lambat dua jam sebelum berangkat tidur. Jadi, kalau kamu biasa tidur jam 12 malam, kamu masih boleh makan setidaknya hingga jam 10 malam.

Semoga bermanfaat!