Selamat datang di bungeko.com, blog pribadi Eko Nurhuda. Semoga tulisan-tulisan di blog ini memberi manfaat positif bagi Anda. Saran atau kritik dari Anda akan diterima dengan senang hati.

Menyambut Euro 2012

Hasil Undian dan Jadwal Lengkap Euro 2012

Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina masih enam bulan lagi. Namun undian penentuan grup bagi ke-16 peserta putaran final sudah dilakukan di Kiev, 2 Desember lalu.

Baca juga:

»
» Ketika Blog Masih Dipandang Sebelah Mata



Senin, 23 April 2012

YouTube, Layanan Video Sharing No. 1


RASANYA tak ada situs yang namanya begitu cepat mendunia seperti YouTube. Hanya dalam waktu 5 tahun saja situs ini menjadi pemimpin dalam layanan video sharing di internet. YouTube, sebagaimana disebut oleh David Lidsky dalam situs FastCompany.com, bahkan telah mengubah cara pandang orang terhadap internet dan media pada umumnya.

Nama domain youtube.com didaftarkan pertama kali pada tanggal 15 Februari 2005, kemudian tanggal 23 April di tahun yang sama video pertama di-upload sekaligus menandai beroperasinya YouTube versi beta (percobaan). Video berdurasi 19 detik itu berjudul “Me at the Zoo”, sebuah video yang menunjukkan Jawed Karim—salah satu pendiri YouTube—sedang berdiri di depan sekumpulan gajah di dalam kebun binatang San Diego, California.

November 2005, perusahaan investasi top di AS Sequoia Capital menanamkan modal awal sebesar 3,5 juta dolar ke YouTube. Sequoia Capital memang terkenal berani memodali perusahaan-perusahaan teknologi berbasis internet. Sebelum YouTube, perusahaan ini sempat ikut memodali Google bersama-sama dengan Kleiner Perkins Caufield & Byers, perusahaan permodalaan yang cukup terpandang di AS.

Keberanian Sequoia Capital mengucurkan dana awal sebesar 3,5 juta dolar—dan 8 juta dolar lagi di bulan April 2006—ke YouTube seolah menjadi pertanda kalau situs ini bakal menjadi besar, sama besarnya dengan situs-situs lain yang pernah dimodali perusahaan yang digawangi investor kakap Michael Moritz itu. Dan, kelak terbukti YouTube menjadi situs pilihan nomor satu untuk urusan berbagi video di internet.

Sebelum YouTube, sebenarnya sudah ada sejumlah situs yang melayani kebutuhan pengguna internet untuk berbagi video. Beberapa diantaranya adalah Metacafe dan MySpace. Metacafe mulai beroperasi sejak Juli 2002, sedangkan MySpace sejak tahun 2003. Dari luar AS ada DailyMotion yang berbasis di Paris, dan mulai beroperasi Maret 2005 atau 9 bulan sebelum YouTube diluncurkan secara resmi ke publik.

Hebatnya, YouTube secara brilian mampu melewati semua pendahulunya dan menduduki posisi pertama sendirian. MySpace lebih fokus pada aktivitas jejaring sosial dan menjadikan layanan video sharing hanya sekedar pelengkap saja. Metacafe kini berada di peringkat ketiga diantara situs-situs video sharing menurut comScore, sebuah perusahaan riset yang mencatat semua kegiatan di internet untuk kepentingan pengumpulan data seputar pemasaran online. Sedangkan DailyMotion malah hanya berada di peringkat 42 dalam daftar yang sama.

Ketika Google membeli YouTube dengan harga 1,65 milyar dolar dalam bentuk kepemilikan saham pada tanggal 9 Oktober 2006—harga yang dianggap tidak masuk akal oleh sebagian pengamat di AS, semakin jelaslah bukti yang menunjukkan betapa YouTube merupakan situs video sharing masa depan yang patut diperhitungkan.

Mengacu pada pertumbuhannya yang sangat luar biasa serta posisinya sebagai situs layanan video sharing terpopuler saat ini, saya menempatkan YouTube pada urutan kelima dalam daftar 7 Wonders of Internet versi saya. Seperti yang saya janjikan pada posting tersebut, bertepatan dengan tanggal lahirnya YouTube ini saya hendak membagikan sebuah ebook gratis berjudul YouTube, Layanan Video Sharing No. 1. Inilah ebook kelima dari Seri 7 Keajaiban Dunia Maya.

Untuk mengunduh ebook tersebut, silakan klik di sini (ukuran file 10.493 KB). Selamat membaca!


Dipublikasikan dari pelosok daerah transmigrasi di Desa Talang Datar, Kec. Bahar Utara, Kab. Muaro Jambi, Jambi, dengan layanan internet XL Axiata.

Minggu, 22 April 2012

6 Profesi Para Jutawan


SEPERTI yang saya ungkapkan di buku Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku! (DP Press, 2012), naskah buku yang diterima penerbit tidak selalu langsung diterbitkan. Memang ada yang diterbitkan tak lama setelah naskah dinyatakan diterima, tapi banyak juga yang harus mengendap hingga 1-2 tahun bahkan lebih sebelum akhirnya diterbitkan.

Nah, posting kali ini menceritakan salah satu naskah buku saya yang diterima sebuah penerbit di Jogja pertengahan 2010. Uangnya sudah lama habis buat biaya aqiqah anak sulung saya. Eh, ternyata bukunya baru terbit bulan kemarin. Itupun kalau tak ada seorang aktivis MLM asal Jakarta yang memberi kabar lewat email--setelah ia membaca buku tersebut, saya tak akan tahu buku tersebut akhirnya terbit.

6 Profesi yang Bisa Buatmu Jadi Jutawan
Tanpa bermaksud narsis apalagi pamer, di posting ini saya bermaksud memperkenalkan buku terbaru saya yang berjudul 6 Profesi yang Bisa Buatmu Jadi Jutawan. Buku setebal 278 halaman, dengan dimensi buku 14 x 20 cm, ini terbit Maret 2012 alias bulan lalu. Nama penerbitnya Laksana, yang merupakan salah satu lini dari penerbit DIVA Press Group. Harganya? DIVA Press membanderolnya Rp30.000/eksemplar, namun kalau Bung mau membelinya melalui saya, saya bisa memberi diskon 25%.

Seperti saya ungkapkan di atas, saya baru tahu buku tersebut terbit dari seorang pegiat MLM di Jakarta. Rupanya rekan kita distributor Amway ini membaca buku saya yang memang pada salah satu bab membahas kiprah distributor MLM. Ia lantas mengirim email dan mengabari jika buku tersebut telah membuatnya terkesan. Lucunya, saya malah heran. "Buku yang mana ya?" tanya saya dalam hati. Hari ini, setelah melakukan penelusuran di Google dan situs DIVA Press, akhirnya pertanyaan tersebut terjawab sudah.

Penulis: Eko Nurhuda
Isi: 278 hal.
Ukuran: 14x20 cm
Penerbit: Laksana, Yogya
Terbit: Maret 2012
Kalau Bung membaca buku Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku!, cerita mengenai naskah buku ini ada di Bab 19, halaman 131. Persis seperti cerita di bab yang saya beri judul "Kalau Naskah Ditolak" tersebut, naskah 6 Profesi yang Bisa Buatmu Jadi Jutawan pertama kali saya tulis pertengahan 2005. Waktu itu judulnya Profesi Para Jutawan, dan hanya berisi kisah-kisah sukses pelaku 5 profesi: Pengusaha, Distributor MLM & direct selling, broker properti, agen asuransi, dan penulis/pengarang.

Begitu rampung langsung saya kirim ke sebuah penerbit ternama di Jakarta. Sebulan kemudian naskah itu kembali, dengan catatan redaksi menolaknya. Sempat mengendap selama hampir 5 tahun, akhir 2009 saya otak-atik lagi untuk rencananya dikirimkan ke DIVA Press. Namun karena awalnya tidak mantap, baru pada pertengahan 2010 saya kirim. Saya tambahkan profesi blogger profesional sehingga jumlah profesinya jadi 6, dan judulnya saya ganti jadi Road to be A Millionaire dengan subjudul 6 Profesi yang Bisa Membuatmu Jadi Jutawan. Alhamdulillah, langsung diterima.

Yang lucu bagi saya, buku ini diterbitkan ketika hubungan saya dengan editor kepala DIVA Press sedang rusak. Karena miskomunikasi, akhir 2010 saya sempat beradu argumen dalam nada tinggi via telepon dengan sang editor. Setelah itu kami putus kontak sama sekali. Jadi, rasanya tak heran jika DIVA Press tak memberi kabar saat buku ini diterbitkan. Padahal, sesuai kontrak penerbitan naskah, saya berhak mendapatkan 5 eksemplar sampel buku cetakan pertama, dan 2 eksemplar untuk cetakan-cetakan berikutnya.

Lebih lucunya lagi, buku ini awalnya saya beri judul Profesi Para Jutawan. Lalu setelah direvisi saya ubah judulnya jadi Road to be A Millionaire dengan subjudul 6 Profesi yang Bisa Membuatmu Jadi Jutawan. Eh, ketika diterbitkan kok penerbit malah memakai subjudul sebagai judul. Yah, begitulah dunia penerbitan buku.

Oya, berminat membeli buku 6 Profesi yang Bisa Buatmu Jadi Jutawan? DIVA Press membanderol buku ini seharga Rp30.000/eksemplar, namun kalau Bung mau membelinya melalui saya, saya bisa memberi diskon 25%. Plus, bonus tanda tangan wis. Hehehe.

Kamis, 12 April 2012

Matinya Surat Kabar


PERTAMA kali ke Pemalang, pertengahan 2006, saya ingat ada dua koran daerah yang secara khusus mengambil segmen pembaca di wilayah eks Karesidenan Pekalongan. Yang pertama Radar Tegal milik Jawa Pos Group, dan koran kedua Nirmala Post milik seorang pengusaha ternama di Tegal. Eh, waktu saya menikah Agustus 2009, Nirmala Post sudah lenyap dari peredaran. Tinggallah Radar Tegal sendirian sebagai koran lokal di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.

'Mati'-nya Nirmala Post kala itu jadi kabar buruk bagi saya. Pasalnya saya sempat berencana magang di koran tersebut selepas dari Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY), dan syukur-syukur bisa kecantol jadi wartawan tetap. Tapi apa daya, koran yang dimaksudkan untuk menyaingi Radar Tegal itu harus mundur dari persaingan di tahun ketiganya.

Setelah menikah dan berbulan madu (*halah*), saya kembali mendapati berita tentang menghilangnya satu koran di Jogja. Ya, Koran Merapi, koran kuning alias koran yang banyak memuat berita kriminal dan mistis itu diberhentikan peredarannya oleh Kedaulatan Rakyat Group per 1 September 2009. Sebagai gantinya, PT BP Kedaulatan Rakyat menerbitkan koran baru; KR Bisnis. Lucunya, umur KR Bisnis juga tak panjang. Manajemen KR Group memilih mengakhiri koran tersebut dan kembali menerbitkan Koran Merapi.

Jauh sebelumnya, mingguan Malioboro Ekspres tempat saya pertama kali mengawali jalan sebagai jurnalis sudah lebih dulu gulung tikar. Tidak berlanjutnya Malioboro Ekspres jadi semakin tragis karena koran ini terbit mingguan dan baru berusia kurang dari 6 bulan. Saya di sana sekitar 3 bulan, lalu pindah untuk magang di Harian Jogja selama dua bulan satu minggu. Sekeluarnya saya dari Harian Jogja, Pemred Malioboro Ekspres memberi kabar kalau koran itu tidak lagi terbit.

Kembali ke Pemalang, beberapa bulan belakangan terbit koran-koran baru. Saya tak ingin menyebut namanya karena bermaksud memberi kritik di sini. Beberapa eks kru Nirmala Post terlibat di dalamnya. Sayang, dari segi tampilan (layout halamannya) saja koran-koran tersebut tak menarik. Membaca beritanya jauh tidak menarik lagi. Kalau isi berita Radar Tegal yang merupakan anggota jaringan Jawa Pos Grup saja tidak membuat saya tertarik, apalagi koran-koran baru tersebut. Formatnya yang terbit dwimingguan membuat saya menebak koran ini bermodal cekak, dan tak akan berumur panjang. Eh, dugaan saya tak salah.

Sudah Diprediksi
Berjatuhannya media cetak sebenarnya sudah diprediksi banyak pengamat. Kian mahalnya harga kertas serta semakin majunya dunia Teknologi Informasi membuat media cetak susah bersaing dengan media elektronik, dan belakangan dengan media internet. Dengan segala keterbatasannya, media cetak tidak bisa mengejar kecepatan gerak media internet dan juga media elektronik.

Bagaimana bisa bersaing? Media cetak menyajikan berita kemarin, sedangkan media elektronik menyajikan berita-berita yang terjadi saat itu juga. Media internet bahkan selalu di-update setiap saat dengan berita-berita terbaru. Alhasil, hanya media cetak yang didukung modal besar serta benar-benar memiliki konsumen loyal dalam jumlah besar saja yang mampu bertahan hidup.

Fenomena ini juga pernah disampaikan seorang rekan yang jurnalis senior dalam beberapa kesempatan berbincang dengan saya. Waktu itu saya masih getol-getolnya ingin jadi jurnalis media cetak dan mengabaikan ajakannya untuk mengembangkan sebuah situs berita lokal. Tapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri keambrukan Nirmala Post, Malioboro Ekspres, dan sejumlah koran-koran lokal lain, saya jadi berubah pikiran.

Dulu saya sempat berangan-angan punya situs berita lokal. Saya pun membeli nama domain PemalangPost.com, sebagai awalan saya isi dengan berita-berita seputar Pemalang dari sejumlah koran lokal. Tapi saya kurang serius mengurus situs ini, jadi umurnya tak panjang. Entah, mungkin suatu saat saya akan memulainya lagi. Mungkin lho ya...

Rabu, 11 April 2012

Mau Melempari Muka Bos eBay?


SEBAGAI salah satu member eBay yang terbilang rajin jualan--meski tak selalu laku, saya tahu persis seberapa besar fee yang dikenakan eBay. Ya, untuk para penjual ada banyak fee yang ditetapkan eBay. Fee bahkan sudah dikenakan saat kita baru mau memajang barang dagangan! Maka, saya pun jadi lebih suka belanja ketimbang berjualan di eBay.

Seberapa besar dan seberapa banyak sih biaya-biaya yang dibebankan eBay pada membernya yang berjualan? Sebenarnya tak bisa dibilang besar juga. Kalau dirupiahkan nilainya hanya beberapa ribu saja. Namun kalau dalam sebulan berjualan setidaknya 50 item, tentu nilai beberapa ribu itu membengkak jadi lumayan besar.

Sebagai gam- baran, untuk mema- jang sebuah barang dengan harga di $0.99 ke bawah member dikenai listing fee $0.10. Biaya ini bakal meningkat seiring besar starting bid (harga awal untuk sistem lelang) barang yang dijual. Biaya listing degan format fixed price lebih mahal lagi, yakni $0.50/item. Nanti ketika barang laku, eBay mengenakan fee lagi. Kali ini namanya Final Value Fee yang besarnya rata-rata 10% dari harga penutupan barang (untuk sistem lelang) atau harga jual (untuk sistem fixed price). Ini masih belum cukup. Kalau penjual mengenakan biaya pengiriman, eBay juga menarik biaya sebesar 10% dari tarif ongkos kirim yang kita kenakan ke pembeli.

Masih kurang? Karena satu-satunya cara menerima uang di eBay adalah melalui PayPal, maka penjual bakal kena fee lagi. Kali ini fee-nya dikenakan oleh PayPal selaku pengelola dana. Dengan demikian, seorang penjual di eBay dikenai setidaknya 3 biaya di eBay (listing fee, Final Value Fee, dan Final Value Fee on Shipping Fee) dan 1 biaya di PayPal. Total 4 biaya. Keren!

Mungkin karena jengkel dengan berbagai fee ini, sejumlah eks member eBay yang tidak puas lantas keluar membuat situs tandingan. Namanya iOffer.com. Tak cukup membuat situs tandingan, penggagas iOffer juga menyerang eBay dan para pejabatnya. Awak iOffer membuat sebuah game dengan program flash yang disebar-luaskan melalui situs iOffer. Dalam game itu, kita bisa melempari muka Pierre Omidyar si pemilik eBay. Sadis? Namanya saja game, tentu saja menyenangkan.

Mau ikut melempari muka Pierre Omidyar? Ini dia game-nya! Tapi sebelumnya ikuti dulu sejarah eBay dalam versi iOffer.




Jangan lupa hidupkan dulu speakermu, Bung. Enjoy!

Minggu, 08 April 2012

Mengapa Saya Tidak Membeli SMUO?


KALAU Bung sudah akrab dengan internet awal tahun 2000-an, bisa dipastikan Bung kenal nama Joko Susilo (JS). Atau setidak-tidaknya pernah mendengar meski hanya satu kali. Ya, nama tersebut adalah pemilik sekaligus pengelola situs FormulaBisnis.com yang terkenal dengan produk Sistem Mesin Uang Otomatis (SMUO).

Saya jadi tertarik mengangkat sebuah kenangan lama. Tentu saja tidak jauh-jauh dari JS dan Formula Bisnis, karena saya hendak membeberkan pengalaman saya ketika pertama kali melihat situs penjual SMUO tersebut sampai kemudian berkeputusan untuk tidak membelinya. Ya, saya ingin membeberkan alasan mengapa saya tidak membeli SMUO.

Saya pertama kali mengenal JS dan Formula Bisnis melalui email sampah (spam) sekitar pertengahan 2001. Saya tidak ingat bulan berapa pastinya, tapi yang jelas harga SMUO masih Rp90.000-an. Membaca sales page Formula Bisnis, siapa sih yang tidak terkesima? Bayangkan, Anda dapat menghasilkan uang puluhan juta rupiah hanya dengan menerapkan 3 langkah sederhana yang diajarkan dalam SMUO! Fantastis, bukan? Tidak heran jika saya jadi bersemangat sekali membaca habis seluruh isi sales page Formula Bisnis.

SMUODari sales page tersebut saya jadi tahu apa saja tiga langkah sederhana untuk memulai bisnis internet yang dimaksud JS dalam SMUO yang ditawarkannya. Tiga pilar utama yang diajarkan ebook tersebut adalah; (1) ciptakan produk, (2) buat website untuk menjual produk tersebut, dan (3) datangkan trafik. Benar-benar mudah! Demikian kata saya dalam hati waktu itu. Kebetulan pula waktu itu saya sedang butuh sumber pemasukan setelah tak lagi menjadi guide dan gagal melanjutkan kuliah ke jenjang S1.

Hampir saja saya tertarik membeli SMUO. Namun setelah melihat screenshot yang dipamerkan, saya justru jadi pikir-pikir lagi. Saya perhatikan baik-baik deretan angka yang ada di tampilan buku rekening itu, jumlahnya selalu Rp45.000 dengan 3 digit akhir yang berlainan satu sama lain. Logika saya langsung bermain. Sejumlah pertanyaan kritis bermunculan di kepala saya. Bukankah harga SMUO Rp90.000? Dari harga tersebut, JS selaku admin memperoleh Rp45.000 dan separuhnya untuk reseller. Dan ingat, calon pembeli juga diingatkan untuk memberikan angka unik di 3 digit terakhir uang yang disetorkan. Jadi, dari seharusnya hanya Rp45.000 masing-masing untuk admin (JS) dan reseller, pembeli harus mentransfer, misalnya, sejumlah Rp45.212, Rp45.234, Rp45.007, dsb.



Pertanyaan penting dalam benak saya yang kemudian membuat saya batal membeli SMUO adalah, bisnis apa yang sebenarnya dijalankan JS? Apa yang hendak ia ajarkan pada saya dalam ebook SMUO itu? Kalau melihat dari angka-angka dalam screenshot yang ditunjukkan, bukankah sebenarnya ia sedang menunjukkan transferan dana dari para pembeli SMUO sebelumnya? Artinya, dari berjualan ebook itulah JS memperoleh uang. Dan itulah yang hendak diajarkannya pada saya (dan seluruh pengunjung FormulaBisnis.com) lewat ebook SMUO seharga Rp90.000 tersebut. Bukankah itu yang ia katakan di kalimat awal sales page-nya?




Dari sana saya menyadari kalau apa yang akan diajarkan oleh ebook tersebut (bila saya jadi membelinya) tak lain tak bukan adalah apa yang sedang dijalankan JS dengan berjualan SMUO itu. Artinya, apa yang dibeberkan JS dalam ebook-nya justru sedang dijalankan olehnya bersama FormulaBisnis.com. Maka sayapun urung membeli SMUO. Untuk apa? Toh, saya sudah tahu apa yang akan diajarkan, yakni ciptakan sebuah produk informasi seperti SMUO, buat sebuah situs penjual seperti FormulaBisnis.com, dan kemudian alirkan trafik ke situs tersebut. Itu saja kan rahasianya?

Itu pengalaman saya dengan Formula Bisnis, dan itulah mengapa saya tidak membeli SMUO walaupun sebenarnya saya sempat sangat ingin memilikinya. Ini pengalaman nyata. Saya menyampaikannya hanya untuk sharing saja. Anda sendiri, bagaimana pengalaman Anda dengan Formula Bisnis?


Catatan: Gambar-gambar diperoleh dari Web Archive, tepatnya di sini dan di sini.
kata bijak Andrie Wongso

Gerakan 2012 Buku
untuk Pemalang

Buku yang sudah terkumpul
0 0 0 1 eks.

Masih butuh 2011 eks. lagi.

Bantu kami menyediakan 2012 eksemplar
buku bacaan untuk warga Pemalang.
Baca info selengkapnya di sini!


Rp1 Tahun 1956

Uang Mahar, Rp1 Tahun 1956

Obverse: Gadis Jawa di kanan, angka satu di kiri.
Reverse: Garuda Pancasila di tengah, diapit angka satu.
Kondisi: Baru (Uncirculated, UNC)

Rp10.000,-

per lembar

Recommended Posts
Recommended Video
GBK
Lagi, timnas Indonesia harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Malaysia di final SEA Games 2011. Dalam final yang sama-sama kita saksikan Senin (21/11) malam, timnas U-23 keok.
iklan
Bakso
Bakso umumnya memiliki bulatan-bulatan campuran tepung dan daging yang biasa disebut pentol. Di Pemalang, ada warung bakso yang menyediakan bakso tanpa pentol.
uanglama