Selamat datang di bungeko.com, blog pribadi Eko Nurhuda. Semoga tulisan-tulisan di blog ini memberi manfaat positif bagi Anda. Saran atau kritik dari Anda akan diterima dengan senang hati.

Menyambut Euro 2012

Hasil Undian dan Jadwal Lengkap Euro 2012

Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina masih enam bulan lagi. Namun undian penentuan grup bagi ke-16 peserta putaran final sudah dilakukan di Kiev, 2 Desember lalu.

Baca juga:

»
» Ketika Blog Masih Dipandang Sebelah Mata



Jumat, 06 Januari 2012

Ibnu Sambodo, Begawan Motor 4 Tak Indonesia


PERAWAKANNYA kecil, penampilannya juga biasa saja. Tapi jangan anggap enteng kemampuan lelaki bernama Ibnu Sambodo tersebut. Dari tangannya telah lahir mesin-mesin hebat dengan setumpuk prestasi di dunia balap motor.

Tak cuma di tingkat nasional, Ibnu juga kerap mengharumkan nama Indonesia di pentas balapan Asia. Salah satunya, motor Kawasaki Blitz hasil oprekannya berhasil memenangi race pertama kelas 110cc di Seri 1 FIM Asian GP yang digelar di sirkuit Sepang, Malaysia, April 2009.

Ibnu Sambodo (foto: eko)Catatan prestasi Ibnu akan lebih panjang lagi bila ditarik ke belakang. Bersama tim (waktu itu) Suzuki Manual Tech yang ia komandani, beberapa kali pembalap-pembalapnya naik podium. Juni 2008, motor oprekannya mengukir dua rekor fastest lap sekaligus di sirkuit Sentul. Satu di kategori superpool dengan catatan 1 menit 57,2 detik, dan satu lagi di kategori qualification time trial (QTT) dengan catatan 1 menit 57,76 detik.

Setelah bermitra dengan Suzuki sejak tahun 2000, mulai 2009 Manual Tech digandeng Kawasaki. Praktis ini menjadi debut pertama Ibnu menangani mesin dari pabrikan berbeda. Dan ia langsung membuktikan kepiawaiannya dalam meracik mesin motor.

Selain satu gelar di Sepang, sekali lagi Ibnu menaklukkan sirkuit Sentul dengan memecahkan rekor fastest lap di kategori QTT. Kawasaki Athlete 125cc hasil oprekannya sukses mengantarkan pembalap andalannya, Hadi Wijaya, menorehkan catatan rekor 1 menit 57,657 detik. Hadi bahkan nyaris memenangi lomba kalau saja tidak mengalami gangguan mesin di lap terakhir.

Dengan deretan prestasinya itulah Ibnu lantas disebut-sebut sebagai begawan motor 4 tak Indonesia. Ia sangat piawai memodifikasi motor agar bisa berlari kencang di atas lintasan balap. Lelaki yang akrab dipanggil Pakdhe ini bahkan disejajarkan dengan Jeremy Burgess, tuner kondang kelahiran Australia yang telah mengantarkan tiga juara dunia MotoGP termasuk Valentino Rossi. Pasalnya, tak peduli motor merek apa yang dioprek, baik Ibnu maupun Burgess selalu berhasil mengantarkan pembalapnya menang.

Dari keluarga guru
Tiga kali menorehkan rekor fastest lap di Sentul dengan dua pabrikan berbeda rasanya cukup untuk menggambarkan kehebatan seorang Ibnu Sambodo di dunia otak-atik motor. Tapi siapa sangka lelaki kelahiran 23 Mei 1974 ini justru berasal dari keluarga guru.

“Mungkin darah mekanik saya berasal dari kakek. Kakek saya dulu pembuat alat penangkap ikan,” cerita Ibnu ketika saya temui di rumahnya pada 30 Mei 2009 dalam rangka liputan untuk Harian Jogja.

Meski hidup di keluarga guru, namun Ibnu sudah akrab dengan dunia mekanik sejak kecil. Bila teman-teman sebayanya suka membeli mainan, anak ketiga dari tujuh bersaudara ini memilih membuat sendiri. Ia semakin akrab dengan dunia mekanik ketika akhirnya masuk ke jurusan teknik elektro UGM di tahun 1992.

Sayang, penghasilan orang tuanya yang pas-pasan tak mampu menyokong kuliah Ibnu secara penuh. Alumnus SMA 3 Solo inipun berinisiatif mencari tambahan uang saku dengan menawarkan jasa servis motor. Pelanggan pertamanya adalah teman-teman kosnya sendiri. Yang menarik, waktu itu Ibnu malah belum punya motor sendiri.

“Sampai sekarang saya masih heran, kok bisa teman-teman percaya motornya saya perbaiki. Padahal saya sendiri tidak punya motor,” katanya sambil tersenyum.
Ibnu tak pilih-pilih pelanggan. Ia juga tak pilih-pilih bayaran. Mau dibayar dengan uang oke, hanya diberi nasi bungkus juga ia terima. Alhasil, pelanggannya semakin banyak. Halaman kamar kosnya berubah jadi bengkel dadakan. Tentu saja hal ini menuai protes dari penghuni kos lain karena merasa terganggu.

Mendirikan Manual Tech
Ibnu (kanan) dan Hadi Wijaya, salah satu pembalap andalan Manual Tech. (foto: eko)Terlalu asyik dengan bengkelnya membuat kuliah Ibnu keteteran. Lelaki yang semasa SMP pernah menjadi pelajar terbaik se-Kabupaten Wonogiri ini akhirnya memilih keluar dari kampus.

“Mungkin saya memang tidak cocok di dunia akademis. Saya cocoknya di dunia praktis,” ujarnya coba memberi alasan. Namun Ibnu tak mengingkari jika biaya menjadi alasan utama dalam pengambilan keputusan tersebut.

Tak lama setelah itu, Ibnu mulai mengenal dunia balapan. Perkenalan tersebut boleh dibilang tidak disengaja. Kebetulan waktu itu salah seorang tetangga kosnya hobi balap motor dan Ibnu dipercaya mengotak-atik motor tunggangannya. Jadilah Ibnu semacam mekanik tak resmi dari tetangga kosnya tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kepiawaian Ibnu mengoprek motor semakin meningkat. Motor-motor yang ia pegang selalu menjadi yang tercepat. Namanya lantas semakin dikenal sebagai mekanik andal di kalangan pembalap.

Sadar akan potensi yang ia miliki, Ibnu kemudian mendirikan tim mekanik yang ia namai Manual Tech. Di bawah bendera tim inilah Ibnu menjual jasa otak-atik motor kepada para pembalap. Dan hasil di atas lintasan menunjukkan betapa motor-motor oprekan Ibnu selalu dominan.

Kecemerlangan Ibnu dan Manual Tech-nya memikat hati sponsor, di antaranya Suzuki. Pabrikan asal Jepang ini berniat mengajak Ibnu bekerja sama membentuk tim balap. Ibnu setuju. Maka lahirlah Suzuki Manual Tech yang mulai ikut balapan di musim 2000. Sepanjang 2000-2008, Suzuki berhasil mendominasi seluruh ajang yang diikutinya kendati tak selalu jadi juara.

“Sampai sekarang saya masih heran, kok bisa teman-teman percaya motornya saya perbaiki. Padahal saya sendiri tidak punya motor.”
--Ibnu Sambodo--
Kini, bersama Kawasaki Ibnu tak memasang target muluk-muluk. Namun ia menegaskan kalau dirinya selalu berkeinginan untuk menjadi semakin baik dari tahun ke tahun.

“Semua itu kan butuh proses, tidak ada hasil yang instan,” katanya mencoba berfilsafat.

Ketika ditanya apa rahasianya sehingga bisa merajai dunia otak-atik motor, Ibnu hanya tersenyum. Lelaki beristri dokter ini kemudian bercerita, ia sudah suka membaca segala referensi seputar mesin sejak masih SD. Karena itu ia bisa menguasai seluk-beluk mesin dan fungsi masing-masing komponennya.

“Saya belajar mesin bukan hanya pada kulit yang nampak, tapi juga bagaimana sebuah proses mekanik terjadi. Ini yang tidak dilakukan mekanik lain,” tambahnya.

Di akhir pembicaraan, Ibnu menyampaikan harapannya pada dunia balap nasional. Ia berpendapat, sudah saatnya Indonesia mulai merintis ajang-ajang balap supersport. Selama ini yang ada hanya balapan motor bebek. Akibatnya pembalap nasional sukar menembus ajang balapan yang lebih bergengsi di tingkat internasional semacam MotoGP.

“Contohnya Doni Tata. Karena di sini terbiasa balapan pakai motor bebek, begitu masuk GP ya keteteran,” pungkasnya.

Untuk menularkan keahliannya mengoprek motor, Ibnu membuka sekolah mekanik yang diberi nama Manual Tech Course. Dengan sekolah ini Ibnu berharap dapat melahirkan banyak engine builder di Indonesia. Berbeda dengan mekanik biasa, engine builder bisa merancang, menganalisa, sekaligus mengembangkan mesin garapan mereka sendiri.

Semoga harapan Pakdhe Ibnu Sambodo segera tercapai.

Selasa, 03 Januari 2012

Resolusi 2012: Harus Lebih Baik!


SETELAH mengevaluasi pencapaian di tahun lalu, seperti tahun sebelumnya, di hari ketiga tahun 2012 ini saya menyusun resolusi. Mau jadi apa saya tahun depan, apa yang hendak saya capai, apa saja yang saya rencanakan untuk dilakukan, semuanya tertuang dalam resolusi ini. Harapannya tentu saja apa yang bakal saya peroleh sepanjang 2012 lebih baik dari pencapaian di 2011. Semoga.

Karena dunia saya adalah dunia tulisan, dan media yang saya pilih adalah blog, buku, serta kadangkali kolom di media massa, maka fokus utama saya hanyalah pada 3 hal tersebut. Porsi terbesar saya berikan pada penulisan buku, sebab hasilnya lebih menjamin, serta saya sedang merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan dunia buku. Adapun blog menjadi prioritas kedua, bagaimanapun saya ingin kembali menikmati manisnya make money online. Alhamdulillah, sebuah perusahaan periklanan online sedang mendekati bungeko.com dan mudah-mudahan terjalin kerjasama yang saling menguntungkan.

Back to Make Money Online
Oke, saya mulai dari blog. Meski awalnya blog ini dibuat hanya untuk mengambil screenshot pelengkap salah satu naskah buku--sudah diterima penerbit, tapi tak kunjung diterbitkan--yang saya tulis pada Desember 2009, semakin ke sini saya semakin tertarik untuk mengembangkan blog pribadi ini sebagai sumber penghasilan online. Setidak-tidaknya bisa menyamai apa yang pernah saya alami bersama ekonurhuda.com, tapi jika bisa lebih dari itu saya akan sangat bersyukur.

Untuk menguangkan blog, tentu saya harus rajin online. Mulai dari meng-update sampai blogwalking, semuanya hanya bisa dilakukan jika saya terkoneksi dengan jaringan internet. Karena itu, saya bakal semakin serius mempertimbangkan untuk berlangganan layanan Telkom Speedy. Niat ini sebenarnya sudah mulai timbul sejak Juni atau Juli tahun lalu. Namun karena memilih mudik lebaran ke Jambi, saya musti berpikir ulang soal langganan internet.

Selama di Pemalang saya mengandalkan warnet untuk online. Karena harus keluar rumah, padahal saya dan istri musti mengasuh 2 anak yang masih kecil-kecil, waktu online saya sangat terbatas. Sepekan paling banyak 4 kali online, sekali online hanya 2 jam karena tak ada warnet yang buka nonstop di sini. Tentu saja berinternet model begini sangat tidak bebas. Makanya saya sempat berpikir untuk berlangganan Telkom Speedy agar saya bisa online tanpa batas, biayanya tak terlalu mahal, dan, yang terpenting, tidak perlu keluar rumah!

Mudah-mudahan saja rencana ini terwujud. Satu-satunya penghalang saya adalah soal biaya. Rencananya saya mau pasang paket Socialia, biayanya Rp195.000/bulan. Namun selain belum ada uang untuk registrasi dan memasang pesawat telepon, saya juga masih belum berani bertaruh bakal bisa memenuhi tagihan bulanannya kelak. Jadi dalam waktu dekat saya masih akan mengandalkan warnet, sampai pemasukan stabil sehingga saya berani menyambung koneksi Telkom Speedy.

Setahun 4 Buku
Tak hanya sebagai mesin penghasil uang, blog ini juga akan saya jadikan tempat untuk mencicil penulisan sejumlah naskah buku. Beberapa naskah sudah saya susun outline-nya, sehingga saya tinggal menulis bagian demi bagian di sini. Tentu saja diselingi posting-posting personal dan juga posting komersil yang menghasilkan pemasukan jika ada. Setelah seluruh bagian naskahnya komplit, tinggal diedit dan dikompilasi menjadi satu naskah buku yang utuh. Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.

Sampai saat ini setidaknya ada 2-3 naskah buku yang penulisannya bisa dicicil di blog ini. Jadi, rasanya tak berlebihan jika saya memasang target setidaknya sepanjang tahun 2012 ini menulis minimal 6 naskah buku di mana 4 diantaranya terbit. Kenapa 4 judul? Karena pada 2010 saya memulainya dengan menerbitkan 2 buku. Tahun lalu seharusnya jadi 3 buku, tapi gagal. Nah, sesuai urut-urutannya, maka tahun ini targetnya adalah menerbitkan 4 buku.

Untuk mencapai target itu, saya akan berusaha keras menulis sebaik mungkin. Kualitas tulisan harus ditingkatkan, gaya bahasa dan penyampaian musti dibuat seenak mungkin. Selain itu, saya juga musti pintar-pintar mencari topik yang sedang dibutuhkan pasar sehingga peluangnya untuk diterima besar.

Self-Publishing
Bagaimanapun optimisnya saya dengan target setahun 4 buku, namun jika tetap bergantung pada penerbit lain peluang tercapainya bisa jadi 50:50. Contohnya seperti tahun lalu, di mana banyak naskah yang ditolak hingga berkali-kali sampai setahun penuh. Apalagi saya juga sedang berjuang menembus penerbit nasional terkemuka yang proses seleksi naskahnya jauh lebih ketat.

Karena itu sebagai rencana cadangan saya juga sedang mempersiapkan sebuah penerbitan mandiri (self-publishing). Naskah-naskah yang saya yakin ada pasarnya, namun mungkin terlalu kecil sehingga penerbit tak berani memproduksinya, bakal saya terbitkan sendiri secara indie. Toh, dengan teknologi print on demand (POD) saya tak perlu cetak banyak-banyak. Kalau memang pasarnya cuma 250, ya cetak saja 250 eksemplar.

Kendala mencetak sedikit adalah tak bisa bekerja sama dengan distributor nasional yang rata-rata menyaratkan jumlah cetakan besar dengan alasan agar persebaran bukunya merata. Namun dengan bantuan internet kendala ini bukan lagi masalah besar. Ada banyak sekali toko buku online saat ini, dan saya yakin mereka mau dititipi barang 5-10 eksemplar. Sebagai pendukung, saya akan menjualnya sendiri via blog, Facebook, Twitter, juga memaksimalkan potensi komunitas penyuka buku di GoodReads.

Impian mempunyai penerbitan mandiri sudah sejak lama sekali saya idam-idamkan. Tepatnya sejak pertengahan 2005 lalu, setelah saya membaca buku kecil berjudul Sukses Besar Tanpa Gelar karya Yudi Pramuko. Isinya seputar penerbitan mandiri, dan sangat menggugah sekali. Sejak itulah saya menggantungkan impian untuk membangun penerbitan sendiri. Mudah-mudahan bisa mulai berjalan pertengahan tahun ini. Amin.

Itulah resolusi saya di tahun 2012 ini. Hanya 3 poin yang ingin saya capai, namun ketiganya sangat menentukan masa depan saya, juga keluarga kecil saya. May God bless me...

Minggu, 01 Januari 2012

Review 2011: Blog, Buku, dan Sepak Bola


TAHUN kembali berganti. Lembaran tahun 2011 sudah ditutup, berganti lembaran-lembaran baru di tahun 2012. Meski tak banyak yang saya peroleh dan capai sepanjang 2011, plus sejumlah target meleset tak tercapai, namun saya musti bersyukur. Memang ada sejumlah target yang tak bisa diraih, tapi saya justru mencapai banyak hal tak terduga sebelumnya.

Sebelum menyusun resolusi untuk tahun 2012, saya melakukan review sederhana terhadap apa-apa yang saya capai dan belum sepanjang 2011 lalu. Karena kegiatan utama saya hanya berkutat pada 3 hal yang kesemuanya masuk dunia tulis-menulis:blog, buku, dan artikel, maka review ini juga hanya akan menyoroti 3 poin tersebut.

Dimulai dari Blog
Bersama bungeko.com, sepanjang 2011 saya memenangkan sejumlah kontes menulis--meski yang gagal menang jauh lebih banyak. Sebagian besar adalah kontes yang diadakan rekan-rekan sesama blogger, seperti Pakdhe Abdul Cholik dan Mbak Fanny yang bekerja sama dengan Bung Eko Arryawan. Yang paling membuat dada saya berdebar-debar kencang adalah saat posting Jadi Pemulung, Yuk! masuk 20 besar BeatBlog Writing Contest yang diadakan VHRmedia, Maret 2011. Sayang, hingga sekarang janji penyelenggara yang akan membukukan tulisan 20 finalis tak kunjung jelas kabarnya.

Selain kontes, usaha saya untuk meningkatkan jumlah pengunjung bungeko.com dari mesin pencari boleh dibilang ada peningkatan. Ini karena saya kembali menggunakan jurus lama yang dulu sering saya gunakan saat masih mengelola ekonurhuda.com. Apa itu? Menembak keyword. Malah awal Desember lalu blog ini berhasil meraih 1.130 views dalam 5 hari berkat posting Foto Bugil Veena Malik di FHM. Dipublikasikan pada 6 Desember dengan 1.534 views, posting tersebut langsung mengungguli posting Sepeda Lipat (diposting 8 Februari 2011, 1.342 views) dan Radio dari Masa ke Masa (26 April 2010, 1.005 views) yang sepanjang 2009-2011 menguasai puncak daftar posting terlaris blog ini.

Selain Foto Bugil Veena Malik, posting kepindahan Tina Talisa ke Indosiar (3 Desember, 897 views), profil Briptu Eka Frestya (29 Sep 2011, 708 views), dan cerita kekonyolan suster ngesot ditendang satpam di Bandung (12 Des 2011, 1.983 views) turut andil menarik banyak pengunjung dari Google. Memang tak terlalu banyak jika dibandingkan blog-blog populer lain di luar sana. Tapi bagi saya pencapaian ini sudah luar biasa di tengah segala keterbatasan yang saya hadapi untuk ngeblog.

Entah ada hubungannya atau tidak, namun belum lama ini sebuah perusahaan periklanan online menawarkan kerjasama untuk bungeko.com. Perusahaan baru tersebut hendak ‘menitipkan’ sejumlah posting komersil pesanan klien mereka di blog ini. Tentu saja saya dapat imbalan. Berapa besar imbalannya sebaiknya saya rahasiakan saja. Tapi yang jelas cukuplah kalau hanya untuk beli susu dan bubur anak-anak. Hehehe.

Buku-buku yang Tak Kunjung Terbit
Sayang, peningkatan yang saya alami bersama bungeko.com tak diikuti dengan meningkatnya pencapaian dalam bidang penulisan buku. Sepanjang 2011 saya menulis setidaknya 4 judul buku, namun semuanya ditolak penerbit. Tidak hanya sekali, masing-masing naskah tersebut ditolak lebih dari 2 kali, bahkan ada satu naskah yang ditolak hingga 7 kali.

Kondisi jadi makin tidak menyenangkan bagi saya ketika naskah-naskah buku yang sudah diterima berbagai penerbit di Jogja pada 2010 lalu, sampai sekarang tak juga diterbitkan. Entah alasannya apa saya tak tahu, mau bertanya ke penerbit juga sungkan. Pernah sekali saya bertanya pada editor salah satu penerbit yang sudah cukup dekat dengan saya, jawabnya: “Sabar, penulis lain ada yang sampai 2 tahun belum juga terbit.” Hmmm… Meski begitu saya tetap menulis. Saya tidak akan kapok, tidak akan bosan ditolak. Sebaliknya, saya akan sabar hingga ada naskah yang diterima dan buku kembali diterbitkan.

Sebagai cadangan, saya juga menyiapkan rencana untuk menerbitkan sejumlah buku secara indie. Ada beberapa naskah yang menurut saya layak jadi referensi, tapi mungkin karena satu dan lain alasan--yang satu ceruk pasarnya terlalu sempit, satunya lagi jika dicetak terlalu tipis--tidak ada penerbit yang berminat. Namun tentu saja tidak dalam waktu dekat. Target saya sih setelah Euro 2012 buku pertama di bawah bendera penerbit sendiri sudah terbit. Amin.

BOLA, BolaVaganza, Kompasiana, dan detikSport
Untung saja ‘musim paceklik’ di penulisan buku ada gantinya, meski tentu saja kualitas, jumlah honor, dan gengsinya sangat berbeda. Apa itu? Sejak Desember 2010 saya rajin mengirim artikel sepak bola ke sejumlah media olah raga nasional. Awalnya memang coba-coba. Tapi setelah artikel pertama saya untuk rubrik Oposan di tabloid BOLA langsung dimuat, saya jadi bersemangat. Sepanjang Maret-Juni 2011 tercatat 3 tulisan saya nongol di Oposan, ini tidak termasuk surat pembaca yang terpilih sebagai surat pilihan dan mendapat merchandise berupa kaus.

Lalu entah kenapa tulisan-tulisan saya tak pernah dimuat lagi di Oposan. Terhitung sejak menulis Empat Syarat Ketua Umum PSSI di BOLA edisi 27-29 Juni 2011, tulisan-tulisan saya tak pernah lagi masuk Oposan hingga akhir tahun. Penasaran, saya lantas mencoba media lain. Masuklah saya ke Kompasiana dan mengkhususkan diri pada tema-tema sepak bola. Dengan kata lain, awalnya saya hanya menjadikan Kompasiana sebagai ‘keranjang sampah’ tulisan-tulisan saya yang ditolak media cetak.

Ajaib, tulisan-tulisan yang tidak diterima BOLA malah kerap jadi headline alias artikel pilihan admin Kompasiana. Artikel berjudul Messi da Indonesia dan Kisruh Liga Indonesia malah nangkring di headline kanal olah raga Kompasiana hingga beberapa pekan. Lalu profil singkat Muthia Datau, juga ditolak BOLA ketika saya kirim untuk rubrik Olepedia, justru diminta admin Kompasiana untuk dimuat di rubrik Freez di harian Kompas edisi Kamis, November 2011.

Tengah asyik di Kompasiana, seorang rekan sesama penulis Oposan bertanya apakah saya tak berminat mencoba berkiprah di BolaVaganza (BV). Majalah ini boleh dibilang ‘adiknya’ BOLA. Saya pikir, kenapa tidak? Awalnya saya hanya mengirim surat pembaca dan opini pendek untuk rubrik PSSI-Watch. Eh, ternyata langsung dimuat di BV edisi September 2011. Bulan berikutnya BV memuat artikel saya di rubrik Blog Anda. Asal tahu saja, artikel berjudul Reformasi 1998 dan Reformasi PSSI itu sebelumnya ditolak BOLA. Ketika saya publikasikan di Kompasiana banyak menuai komentar, lalu saat dikirim ke BV langsung dimuat.

Saya jadi semakin penasaran. Saya tak akan bertanya kenapa BOLA menolak tulisan-tulisan saya. Bagi saya lebih baik kirim saja tulisan-tulisan tersebut ke media lain. Kalau ternyata ditolak juga, berarti memang tulisan saya jelek. Kalau dimuat, berarti tulisan saya tak sepaham dengan idealisme BOLA. Itu saja. Maka saya pun mencoba mengirim artikel Pemain Asing dan Prestasi Timnas yang juga sempat ditolak BOLA ke detikSport. Alhamdulillah, hanya beberapa hari setelah email saya kirim, editor detikSport mengontak saya untuk memberitahukan pihaknya akan mempublikasikan artikel tersebut. Silakan baca di sini artikelnya!

Konklusi
Menjadi 'analis' sepak bola yang tulisannya dimuat di sejumlah media cetak dan online nasional sungguh tidak pernah saya bayangkan. Dulu, sekitar tahun 2005, saya memang pernah bermimpi jadi penulis buku-buku sepak bola. Tapi saya tak ingin disebut pakar, apalagi komentator. Karena itu, di tahun 2012 ini fokus saya adalah bagaimana saya bisa kembali melihat buku-buku karya saya terbit. Menulis artikel sepak bola akan terus saya lakukan, I really love this game, namun fokus saya adalah menulis buku. Ini bukan cuma soal gengsi, tapi juga nafkah bagi keluarga. :D

Itu saja sharing kita kali ini. Setelah ini, saya akan berbagi resolusi untuk tahun 2012. Ya, meski saya tahu sudah terhitung telat karena sekarang sudah tanggal 3 Januari. Tapi tak apalah. :D

Auld Lang Syne


ADA satu lagu yang selalu diputar di setiap pergantian tahun. Lagu apa itu? Auld Lang Syne. Tidak peduli di manapun Anda merayakan tahun baru, lagu ini akan selalu diperdengarkan di seluruh penjuru dunia. Mulai dari kafe, klub malam, restoran, stasiun-stasiun radio, sampai televisi, semuanya akan memperdengarkan lagu ini. Tentu saja selain suara nyaring terompet dan dentuman kembang api tepat di detik-detik pergantian tahun.

Lagu Auld Lang Syne amat terkenal di negara-negara berbahasa Inggris, terutama di daratan Britania Raya. Satu hal yang wajar, karena lagu ini berasal dari Skotlandia yang merupakan bagian dari Kerajaan Inggris. Karena itu naskah asli lagu ini menggunakan bahasa asli Skotlandia. Hampir mirip dengan bahasa Inggris, namun ada beberapa kata yang sama sekali berbeda dan tidak akan diketemukan di kamus bahasa Inggris manapun.

Bila diterjemahkan, Auld Lang Syne dalam bahasa Inggris berarti “old long since”. Secara istilah, judul lagu tersebut bisa juga diartikan sebagai “long long ago”, “days of long ago”, “in olden days”, “once upon a time”, atau “days gone by”. Selain itu ada pula istilah yang lebih modern untuk Auld Lang Syne, seperti “for old time's sake” atau “to the good old days”. Kesemuanya bermakna sama, yakni sebuah ungkapan untuk mengenang masa-masa indah yang telah berlalu. Karena kesesuaian tema inilah maka lagu Auld Lang Syne kerap dinyanyikan di malam penghujung tahun.

Orang Skotlandia menyebut lagu ini sebagai ‘lagu kebangsaan tahun baru’. Pada tengah malam menjelang pergantian tahun, lagu ini biasa diperdengarkan dalam sebuah perayaan yang dikenal sebagai Hogmanay. Dalam bahasa Skotlandia, hogmanay berarti ‘malam akhir tahun’. Dan perayaan Hongmanay adalah sebuah acara selebrasi menyambut datangnya tahun baru. Acara ini diadakan di seluruh penjuru Skotlandia setiap tanggal 31 Desember dan berlangsung sepanjang malam hingga pagi hari. Tidak jarang perayaan ini baru berakhir di tanggal 2 Januari.

Sejarah Auld Lang Syne
Asal-usul lagu Auld Lang Syne sedikit membingungkan. Banyak sumber menyatakan bahwa lagu ini awalnya merupakan sebuah puisi yang digubah oleh Robert Burns, seorang pujangga Skotlandia, di tahun 1788. Syair puisi tersebut kemudian diubah menjadi nyanyian berjudul sama dan menjadi lagu tradisional Skotlandia. Namun saat menyerahkan salinan naskah lagu Auld Lang Syne ke Museum Musik Skotlandia, Burns meninggalkan catatan yang menyatakan bahwa naskah tersebut ia sadur dari sebuah lagu rakyat yang belum pernah dibukukan dan diklaim oleh siapapun sampai kemudian ia menuliskan naskahnya untuk pertama kali.

Sumber yang lain menyatakan bahwa sejumlah puisi yang mirip dengan Auld Lang Syne karya Burns sudah dikenal jauh lebih lama sebelum masa Burns. Contohnya puisi karya penyair Robert Ayton (1570–1638), Allan Ramsay (1686-1757), dan James Watson (1711). Bait pertama dan kedua dari puisi yang ditulis James Watson bahkan sama persis dengan yang ditulis Burns. Selain itu frasa Auld Lang Syne juga telah dikenal dan disebutkan dalam beberapa lagu rakyat Skotlandia yang sudah ada jauh sebelumnya.

Terlepas dari semua itu, semua orang sependapat bahwa yang paling berjasa mempopulerkan lagu Auld Lang Syne ke dunia hiburan adalah Guy Lombardo. Lelaki bernama lengkap Gaetano Alberto Lombardo ini adalah musisi warga negara Amerika Serikat kelahiran Kanada. Ia pertama kali mendengar lagu Auld Lang Syne dari komunitas imigran Skotlandia yang tinggal dekat dengannya di London, sebuah kota di selatan Ontario, Kanada.

Guy Lombardo mendirikan The Royal Canadians Big Band bersama saudara-saudaranya di tahun 1924. Dengan band inilah ia pertama kali memainkan lagu Auld Lang Syne saat manggung di acara perayaan tahun baru di kota New York tahun 1929. Guy Lombardo dan band-nya memainkan lagu tersebut menjelang tengah malam hingga pergantian tahun. Sejak itulah The Royal Canadians Big Band menjadikan Auld Lang Syne sebagai lagu penutup tahun yang selalu mereka mainkan di detik-detik menjelang pergantian tahun.

Tradisi ini kemudian diikuti oleh radio-radio dan televisi di seluruh Amerika Serikat, melengkapi tradisi yang sudah berkembang sebelumnya di daratan Britania Raya. Begitulah, sampai kemudian tradisi ini mendunia. Sampai saat ini, rekaman lagu Auld Lang Syne yang dibawakan oleh The Royal Canadians Big Band pimpinan Guy Lombardo masih terus diperdengarkan di Times Square, New York, setiap malam pergantian tahun. Dan lagu ini selalu diputar di urutan pertama.

For auld lang syne, my dear
For auld lang syne
We'll take a cup of kindness yet
For auld lang syne


(bungeko)

Kamis, 29 Desember 2011

Rama Sakti, Travel Langganan Bung Eko


PERTAMA kali ke Pemalang, Juni 2006, saya dibuat bingung sama istri--waktu itu masih berstatus 'teman biasa'. Pasalnya, ia mengajak kami berestafet ria dengan rute Jogja-Semarang-Pemalang. Jadi, dari Jogja kami mencari bis jurusan Semarang. Lalu setelah turun di kawasan Kaligawe, sebelum Terminal Terboyo, kami melanjutkan perjalanan ke Pemalang dengan bus jurusan Semarang-Cirebon.

Kali pertama menginjakkan kaki di Semarang, saya langsung melihat pemandangan mengerikan. Di atas bis jurusan Semarang-Cirebon yang kami naiki itu terjadi tindak pemerasan secara terang-terangan terhadap penumpang. Modusnya, kelompok pemeras yang terdiri dari 4-5 orang berpura-pura mengamen. Yang menggenjreng gitar hanya satu, tapi yang meminta uang ada banyak. Ternyata itu hanya tipuan. Satu-satu penumpang dikerubuti lalu dirogoh semua kantong baju, celana, dan tasnya. Apapun yang mereka temukan di kantong penumpang mereka ambil tanpa tedeng aling-aling. Gila!

Saya jadi trauma. Memang saya tak sempat jadi korban, karena sudah kebiasaan sejak dulu tak pernah mengantongi uang atau dompet selama perjalanan. Tas juga saya amankan dengan cara ditaruh di belakang punggung, jadi terhimpit badan dan sandaran kursi. Istri malah tak disentuh sama sekali waktu itu. Namun tetap saja saya tak mau mengulangi rute mengerikan itu. Kali kedua ke Pemalang saya lebih memilih jalur Jogja-Purwokerto-Purbalingga-Pemalang yang jauh lebih bersahabat, plus lebih indah pemandangannya.

Sampai suatu ketika saya mendengar ada travel jurusan Jogja-Pemalang. Namanya Rama Sakti, dan ternyata tidak hanya ke Pemalang, tapi sampai ke Surabaya dan Jakarta, juga Bandung. Ongkosnya yang tak terpaut jauh dari ongkos bis estafet, membuat saya tertarik mencobanya. Merasa nyaman, apalagi sopirnya ramah dan sering mengajak penumpang mengobrol sepanjang perjalanan, saya jadi ketagihan naik Rama Sakti.

Nah, barangkali Bung tertarik mencoba naik Rama Sakti ke kota manapun di Jawa ini, berikut saya sajikan jadwal lengkap keberangkatan Rama Sakti dari Jogja, bersama tarif resminya. Semoga bermanfaat.



Kota Asal
Kota Tujuan
Tarif
Jadwal Keberangkatan
YOGYAKARTAJAKARTARp. 175.000,-16.00
 BANDUNGRp. 140.000,-19.00
 TASIKMALAYARp. 120.000,-19.00
 CIREBON (Via Selatan)Rp. 95.000,-20.00
 CIREBON (Via Utara)Rp. 95.000,-Tiap 1 jam (07.00-18.00)
 LOSARI/TANJUNGRp. 95.000,-Tiap 1 jam (07.00-18.00)
 BREBESRp. 90.000,-Tiap 1 jam (07.00-18.00)
 TEGAL (Via Utara)Rp. 80.000,-Tiap 1 jam (07.00-18.00)
 TEGAL (Via Selatan)Rp. 80.000,-20.00
 SLAWIRp. 80.000,-20.00
 BUMIAYURp. 80.000,-20.00
 PEMALANGRp. 70.000,-Tiap 1 jam (07.00-18.00)
 COMALRp. 70.000,-Tiap 1 jam (07.00-18.00)
 PEKALONGANRp. 65.000,-Tiap 1 jam (07.00-18.00)
 WELERIRp. 50.000,-Tiap 1 jam (07.00-18.00)
 SUKOREJO/CANDIROTORp. 50.000,-Tiap 1 jam (07.00-18.00)
 TEMANGGUNGRp. 40.000,-Tiap 2 jam (06.00-18.00)
 PARAKANRp. 40.000,-Tiap 2 jam (06.00-18.00)
 WONOSOBORp. 45.000,-Tiap 2 jam (06.00-18.00)
 BANJARNEGARARp. 55.000,-08.00-14.00
 SEMARANGRp. 45.000,-Tiap 1/2jam (06.00-20.00)
 MAGELANG/MUNTILANRp. 20.000,-Tiap 1/2jam (06.00-20.00)
 KUTOARJORp. 35.000,-07.00, 15.00, 17.00
 KEBUMEN/KUTAWINANGUNRp. 40.000,-07.00, 15.00, 17.00
 GOMBONGRp. 40.000,-07.00, 15.00, 17.00
 PURWOREJORp. 35.000,-07.00, 15.00, 17.00
 PURWOKERTORp. 50.000,-07.00, 15.00, 17.00
 CILACAPRp. 50.000,-07.00, 15.00, 17.00
 PATIRp. 60.000,-07.30, 08,30, 12.30,14.30, 16.30
 KUDUS/DEMAKRp. 55.000,-07.30, 08,30, 12.30,14.30, 16.30
 CARUBAN/NGAWIRp. 60.000,-09.00 dan 20.00
 MADIUN/NGANJUKRp. 80.000,-09.00 dan 20.00
 KEDIRIRp. 80.000,-09.00 dan 20.00
 SURABAYARp. 100.000,-09.00 dan 20.00
 MALANGRp. 100.000,-09.00 dan 20.00
 BLITARRp. 100.000,-09.00 dan 20.00
 BATURp. 100.000,-09.00 dan 20.00
 SALATIGARp. 40.000,-09.00, 14.00, 16.00
 PURWODADIRp. 50.000,-07.30, 14.30
 BOJONEGORORp. 65.000,-07.00 dan 15.00
 CEPURp. 60.000,-07.00 dan 15.00
 SOLORp. 30.000,-07.00 dan 15.00
 KLATENRp. 30.000,-07.00 dan 15.00

Sumber: http://susiloramasakti.blogspot.com
kata bijak Andrie Wongso

Gerakan 2012 Buku
untuk Pemalang

Buku yang sudah terkumpul
0 0 0 1 eks.

Masih butuh 2011 eks. lagi.

Bantu kami menyediakan 2012 eksemplar
buku bacaan untuk warga Pemalang.
Baca info selengkapnya di sini!


Rp1 Tahun 1956

Uang Mahar, Rp1 Tahun 1956

Obverse: Gadis Jawa di kanan, angka satu di kiri.
Reverse: Garuda Pancasila di tengah, diapit angka satu.
Kondisi: Baru (Uncirculated, UNC)

Rp10.000,-

per lembar

Recommended Posts
Recommended Video
GBK
Lagi, timnas Indonesia harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Malaysia di final SEA Games 2011. Dalam final yang sama-sama kita saksikan Senin (21/11) malam, timnas U-23 keok.
Bakso
Bakso umumnya memiliki bulatan-bulatan campuran tepung dan daging yang biasa disebut pentol. Di Pemalang, ada warung bakso yang menyediakan bakso tanpa pentol.
uanglama