Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Kamis, 23 Maret 2017


JAM digital di dalam bus menunjukkan pukul delapan malam Waktu Indonesia Tengah (WITA) sewaktu rombongan kami mengakhiri Tur Cokelat Bali hari pertama, 6 Oktober 2016. Bus menepi di sebuah hotel dengan hiasan lampu kelap-kelip berwarna-warni. Dari balik kaca bus saya bisa melihat namanya, Grand Ixora Kuta Resort.

Dari depan, hotel berbintang empat ini tampak sederhana. Bagian muka hotel terbagi menjadi dua sisi: akes masuk ke lobi di mana meja resepsionis berada, dan restoran Bambu Roras dengan dinding kaca sehingga siapa saja dapat melihat bagian dalamnya dengan mudah.

Lantai dua restoran memiliki balkon kecil tempat di mana nama hotel tertera. Lantai di atas sepertinya kamar-kamar. Menghitung jendela-jendela besar yang tampak dari luar, paling tidak terdapat empat lantai lagi dalam bangunan yang menjulang ke atas tersebut.

Di depan restoran terdapat halaman kecil dengan dua set meja-kursi berpayung besar. Sebuah blackboard tinggi berdiri agak di tengah halaman, berisi promo yang tengah diberikan restoran pada hari itu.

Kami, rombongan peserta Tur Cokelat Bali bersama PT Frisian Flag Indonesia, langsung dibawa masuk ke lobi hotel. Tak ada pintu masuk di hotel ini, jadi akses ke lobi berupa area taman terbuka dengan aneka ragam pepohonan hijau dan hiasan lampu-lampu cantik di kanan-kiri, diselingi deretan meja-kursi dari kayu.

Meja resepsionisnya juga sangat minimalis. Terletak di samping dua lift berjejer, area resepsionis hanya berupa tembok berlapis ubin setinggi dada yang menjorok sekitar setengah meter dari dinding lobi. Di bagian atas tembok sedada inilah meja resepsionis terbuat dari kayu berwarna cokelat berada.


Dua resepsionis berseragam biru tosca berdiri di belakang meja. Satu bouquet bunga, setumpuk notes kosong, dan dua batang pena dalam wadah tergeletak di atas meja. Sesekali terdengar suara dering telepon, yang segera diangkat salah seorang dari kedua resepsionis yang melayani rombongan kami.

Pak Rahmat (tour leader) dan Pak Made (tour guide) mengambil kunci kamar pada staf hotel, sedangkan kami duduk-duduk di kursi rotan yang terdapat tepat di seberang meja resepsionis. Di dekat lift, seorang bellboy berdiri memegang troli dorong. Siap sedia mengantar tas dan koper tamu ke kamar.

Damar dan Diandra sebenarnya sudah tertidur sejak bus belum mencapai hotel. Namun saat didudukkan di kursi rotan mereka terbangun. Saya dan istri menawari welcome drink berupa orange juice, minuman kesukaan anak-anak kami. Tapi mereka hanya minum sedikit, lalu tampak tak kuasa menahan kantuk.

Setelah menerima kunci dari Pak Rahmat, saya bawa anak-anak dan istri ke dalam kamar. Kami sempat bingung di lantai mana kamar kami berada. Melihat rombongan lain masuk lift, kami ikut masuk. Untungnya, belum lagi lift naik kami bertemu seorang staf House Keeping.

Ternyata kamar kami di lantai dasar.

Sederhana, namun Elegan
Untuk ukuran hotel berbintang empat, Grand Ixora Kuta Resort tergolong sederhana. Atau lebih tepatnya simpel, namun tentu saja tetap elegan. Atau mungkin kesan ini saya tangkap karena "hanya" menginap di kamar tipe superior. Entahlah.

Saya dan anggota rombongan yang lain diinapkan dua malam di sini. Malam pertama pada 6 Oktober, dan malam kedua 10 Oktober, yaitu hari pertama dan terakhir Tur Cokelat Bali 2016. Karena padatnya jadwal tur, saya baru bisa mengeksplorasi hotel ini lebih jauh pada malam kedua.

Di malam pertama kami mendapat kamar 19 dan 21 di lantai dasar. Dua buah connecting room, di mana kamar 19 memiliki single bed dan kamar 21 twin bed.

Kamarnya tidak terlalu besar, berukuran 23 meter persegi dengan tempat tidur king size. Tapi penataan ruang yang sedemikian rupa membuat kamar-kamarnya terkesan lega.


Begitu masuk kamar kami langsung disambut pintu kamar mandi di samping. Lalu di sebelahnya ada lemari sedang dengan beberapa gantungan baju, ketel elektrik beserta dua gelas dan aneka sachet kertas berisi gula-teh-kopi, kemudian di bawahnya terletak safe deposit box.

Di seberang lemari terdapat kaca besar, berdampingan dengan tempat meletakkan bagasi yang bagian bawahnya dapat dipergunakan sebagai rak sandal atau sepatu. Di sinilah dua travel bag dan satu backpack bawaan kami diletakkan.

Bergeser ke sampingnya lagi adalah meja minimalis - hanya berupa lempengan kayu tebal menempel ke tembok - di mana pesawat telepon, remote televisi, dua botol besar air mineral, lampu belajar, dan alat tulis tergeletak. Malam sebelum kantuk datang saya biasa menyempatkan diri membuka laptop di meja ini.

Tepat di atas median meja, sebuah televisi layar datar ukuran sedang menempel di tembok, menghadap ke tempat tidur. Jadi kita bisa menonton televisi dengan nyaman sembari tidur bermalas-malasan di atas bed.

Tempat tidurnya sendiri sangat nyaman. Kasurnya tidak terlalu empuk, tapi juga tidak keras. Pas sekali untuk menjemput impian dalam lena. Bantal-bantalnya lembut dan wangi, sedangkan selimut putihnya teramat bersih dan hangat.

Saya biasanya tidak suka tidur berselimut. Tapi dua malam di Hotel Grand Ixora Kuta Resort saya selalu menyelinap di balik selimut sebelum terlelap. Padahal AC sudah disetel pada angka 25 derajat celcius, tidak terlalu dingin.


Sarapan Enak
Satu spot yang disukai anak-anak di hotel ini adalah kolam renang. Begitu tahu ada kolam renang, anak-anak yang sudah mandi pagi minta diantar ke sana. Sayangnya, pagi itu hujan rintik-rintik, jadi kami hanya bisa melihat-lihat kolam sebentar lalu kembali ke kamar sebelum sarapan.

Terletak tepat di tengah-tengah deretan kamar, ukuran swimming pool terhitung besar. Ubin biru di dasar kolam membuat airnya terlihat sangat cantik. Di beberapa titik tepian kolam terdapat pohon palem menjulang dalam pot beton berbentuk kotak.

Tamu hotel dapat bersantai-santai di tepian kolam. Ada jejeran kursi-kursi santai ala pantai berwarna putih di atas lantai kayu. Di malam hari area kolam terlihat lebih cantik lagi oleh lampu-lampu hias yang terdapat di beberapa sudut.

Dari bahasa tubuh mereka, saya tahu anak-anak sangat ingin berenang. Namun karena hujan, ditambah lagi kami harus sarapan sebelum berangkat ke destinasi berikutnya, plus mereka berdua sudah mandi, saya tidak mengajak anak-anak nyemplung.

Ketimbang berdiam di kamar, saya ajak anak-anak bersantai di restoran sembari sarapan. Ukuran restoran tak terlalu luas, namun ada lantai kedua dengan balkon yang lebih lega. Tapi saya memilih di bawah saja. Tamu juga bisa menikmati menu sarapannya di meja-kursi yang berderet di sepanjang pintu masuk sampai dekat area lobi.


Atas: Akses masuk dari luar hotel menuju ke area lobi. Tampak asri dengan aneka pepohonan.
Bawah: Area lobi yang sangat minimalis, sekaligus berfungsi sebagai akses utama keluar-masuk hotel.

Restoran dengan beberapa furniture bambu tersebut bernama Bambu Roras Resto and Bar. Selain menyediakan sarapan tetamu hotel, restoran juga terbuka bagi pengunjung umum. Di momen-momen tertentu Bambu Roras menawarkan promo dengan harga menarik. Misalnya Valentine Dinner pada 14 Februari lalu.

Berkonsep terbuka, dinding-dinding restoran terbuat dari kaca. Tamu dapat duduk menyantap makanan sembari melihat kendaraan lalu-lalang di jalan. Sebaliknya, orang-orang di luar juga dapat melihat siapa saja yang sedang makan di restoran.

Menu yang ditawarkan sangat lengkap sekali. Di dekat pintu masuk tersedia aneka jenis roti, mulai dari roti tawar sampai roti sobek, lengkap dengan selai aneka rasa. Di meja tengah ruangan terhidang rupa-rupa masakan Indonesia. Untuk lauk-pauknya tersedia sosis, ayam, tempe, juga tahu.

Menu nasi ada dua, nasi putih dan nasi goreng. Kalau tidak mau makan nasi, tersedia kentang rebus sebagai pengganti. Sumber karbohidrat lain yang bisa dipilih adalah mi yang digoreng dengan campuran sawi hijau dan cabai merah.

Setelah membukai semua wadah makanan, Damar memilih nasi goreng dan mi goreng. Ia juga minta sosis. Tadinya saya sempat berpikiran jangan-jangan sosisnya terbuat dari daging babi. Setelah bertanya pada petugas restoran, rupanya seluruh menu dijamin halal. Tidak satupun hidangan yang mengandung babi. Lega rasanya.


Lain lagi Diandra. Ia lebih banyak maunya. Setelah sarapan buah dengan saya, ia tergiur dengan roti. Eh, setelah itu minta diambilkan nasi goreng pula seperti kakaknya. Belum juga habis, ia sudah minta diambilkan ketoprak di meja sudut dekat tangga. Tobat deh.

Oya, pilihan minumannya ada banyak. Selain teh dan kopi panas, tersedia pula dua jenis jus, dan tentu saja air putih. Yang menarik, di area buah-buahan segar ada sup buah siap santap. Hmmm. Yang mau minta telur goreng, seorang chef di sudut ruangan siap membuatkan omelet.

Dua hari sarapan di sana, kami selalu dibuat puas kekenyangan.

Di Jantung Kuta
Grand Ixora Kuta Resort Bali terletak di Jl. Kartika Plaza No. 92, Kuta. Tepat berada di tengah-tengah pusat keramaian Kuta. Saat datang, saya melihat betapa hidupnya kawasan ini di waktu malam. Entah berapa belas kafe dan restoran, beberapa menyajikan live music, toko-toko souvenir, minimarket, semuanya ada di sini.

Hotel ini dapat ditempuh dalam waktu hanya sekitar 10 menit naik mobil dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Pihak hotel menyediakan angkutan antar-jemput bandara, namun saya lebih menyarankan untuk memesan taksi online karena Go-Car sudah tersedia di Bali.

Karena benar-benar berada di jantung Kuta, segala macam yang dibutuhkan untuk memanjakan kita selama liburan di Bali tersedia di kanan-kiri hotel. Terutama bank dan ATM. Hotel Grand Ixora sendiri malah diapit dua bank, BNI dan BCA.



Di hotel juga terdapat tempat spa dan pijat refleksi. Namanya Jasmine Spa & Reflexology. Tapi kalau mau spa atau massage dengan suasana berbeda di luar hotel, pilihannya ada beberapa di sepanjang Jl. Kartika Plaza.

Demikian pula dengan restoran, kafe, maupun bar. Mau yang di pinggir jalan atau di pinggir pantai, tinggal pilih saja sesuai budget. Sedangkan untuk keperluan lain-lain, dari depan hotel saya bisa melihat plang Alfamart yang hanya berjarak beberapa puluh meter. Lalu ada pula gerai-gerai Cicle K dalam radius 200-300 meter.

Kalau mau cari oleh-oleh, Krisna pusatnya oleh-oleh khas Bali cabang Tuban hanya berjarak 2,2 km dari Grand Ixora. Tepatnya terletak di Jl. Raya Tuban. Karena tidak tahu, atas saran petugas keamanan hotel waktu itu saya dan anak-istri ke Krisna naik mobil carteran. Tarifnya Rp30.000 sekali jalan.

Pilihan lebih hemat bisa memesan Go-Car, atau Go-Jek bagi yang pergi sendirian. Saya yakin tarifnya bisa kurang dari setengahnya. Kalau mau memesan Go-Jek atau Go-Car sebaiknya berjalan dulu agak menjauh dari hotel. Sebab di depan hotel biasanya ada satu-dua sopir mobil carteran.

Oya, bagi yang mau bermain air di pantai, Grand Ixora sangat dekat sekali dengan Pantai Jerman. Menurut Google Maps jaraknya hanya 650 meter, jalan kaki kira-kira sekitar 8-10 menit. Kalau mau ke Pantai Kuta, mau tak mau musti naik kendaraan karena berjarak 2 km.



Pendek kata, Grand Ixora merupakan tempat menginap yang sangat strategis. Dekat dengan bandara, pantai, dan pusat oleh-oleh. Juga berada tepat di tengah-tengah keramaian Kuta dengan atraksinya. Kurang apalagi coba?

Andai kelak ada kesempatan ke Bali lagi bersama keluarga, saya sih tidak akan ragu-ragu untuk menginap di Hotel Grand Ixora Kuta Resort lagi.

Hotel Grand Ixora Kuta Resort
Jalan Kartika Plaza No. 92, Kuta
Kabupaten Badung, Bali 80361
INDONESIA
Telp.: +62-361-759099


Foto-Foto:
Semua foto dengan watermark "BUNGEKO.COM" adalah dokumentasi pribadi, dijepret dengan Canon Powershot SX610 HS. Foto-foto lain diambil dari web www.grandixora.com dan beberapa situs booking hotel.


JAM digital di dalam bus menunjukkan pukul delapan malam Waktu Indonesia Tengah (WITA) sewaktu rombongan kami mengakhiri Tur Cokelat Bali hari pertama, 6 Oktober 2016. Bus menepi di sebuah hotel dengan hiasan lampu kelap-kelip berwarna-warni. Dari balik kaca bus saya bisa melihat namanya, Grand Ixora Kuta Resort.

Dari depan, hotel berbintang empat ini tampak sederhana. Bagian muka hotel terbagi menjadi dua sisi: akes masuk ke lobi di mana meja resepsionis berada, dan restoran Bambu Roras dengan dinding kaca sehingga siapa saja dapat melihat bagian dalamnya dengan mudah.

Lantai dua restoran memiliki balkon kecil tempat di mana nama hotel tertera. Lantai di atas sepertinya kamar-kamar. Menghitung jendela-jendela besar yang tampak dari luar, paling tidak terdapat empat lantai lagi dalam bangunan yang menjulang ke atas tersebut.

Di depan restoran terdapat halaman kecil dengan dua set meja-kursi berpayung besar. Sebuah blackboard tinggi berdiri agak di tengah halaman, berisi promo yang tengah diberikan restoran pada hari itu.

Kami, rombongan peserta Tur Cokelat Bali bersama PT Frisian Flag Indonesia, langsung dibawa masuk ke lobi hotel. Tak ada pintu masuk di hotel ini, jadi akses ke lobi berupa area taman terbuka dengan aneka ragam pepohonan hijau dan hiasan lampu-lampu cantik di kanan-kiri, diselingi deretan meja-kursi dari kayu.

Meja resepsionisnya juga sangat minimalis. Terletak di samping dua lift berjejer, area resepsionis hanya berupa tembok berlapis ubin setinggi dada yang menjorok sekitar setengah meter dari dinding lobi. Di bagian atas tembok sedada inilah meja resepsionis terbuat dari kayu berwarna cokelat berada.


Dua resepsionis berseragam biru tosca berdiri di belakang meja. Satu bouquet bunga, setumpuk notes kosong, dan dua batang pena dalam wadah tergeletak di atas meja. Sesekali terdengar suara dering telepon, yang segera diangkat salah seorang dari kedua resepsionis yang melayani rombongan kami.

Pak Rahmat (tour leader) dan Pak Made (tour guide) mengambil kunci kamar pada staf hotel, sedangkan kami duduk-duduk di kursi rotan yang terdapat tepat di seberang meja resepsionis. Di dekat lift, seorang bellboy berdiri memegang troli dorong. Siap sedia mengantar tas dan koper tamu ke kamar.

Damar dan Diandra sebenarnya sudah tertidur sejak bus belum mencapai hotel. Namun saat didudukkan di kursi rotan mereka terbangun. Saya dan istri menawari welcome drink berupa orange juice, minuman kesukaan anak-anak kami. Tapi mereka hanya minum sedikit, lalu tampak tak kuasa menahan kantuk.

Setelah menerima kunci dari Pak Rahmat, saya bawa anak-anak dan istri ke dalam kamar. Kami sempat bingung di lantai mana kamar kami berada. Melihat rombongan lain masuk lift, kami ikut masuk. Untungnya, belum lagi lift naik kami bertemu seorang staf House Keeping.

Ternyata kamar kami di lantai dasar.

Sederhana, namun Elegan
Untuk ukuran hotel berbintang empat, Grand Ixora Kuta Resort tergolong sederhana. Atau lebih tepatnya simpel, namun tentu saja tetap elegan. Atau mungkin kesan ini saya tangkap karena "hanya" menginap di kamar tipe superior. Entahlah.

Saya dan anggota rombongan yang lain diinapkan dua malam di sini. Malam pertama pada 6 Oktober, dan malam kedua 10 Oktober, yaitu hari pertama dan terakhir Tur Cokelat Bali 2016. Karena padatnya jadwal tur, saya baru bisa mengeksplorasi hotel ini lebih jauh pada malam kedua.

Di malam pertama kami mendapat kamar 19 dan 21 di lantai dasar. Dua buah connecting room, di mana kamar 19 memiliki single bed dan kamar 21 twin bed.

Kamarnya tidak terlalu besar, berukuran 23 meter persegi dengan tempat tidur king size. Tapi penataan ruang yang sedemikian rupa membuat kamar-kamarnya terkesan lega.


Begitu masuk kamar kami langsung disambut pintu kamar mandi di samping. Lalu di sebelahnya ada lemari sedang dengan beberapa gantungan baju, ketel elektrik beserta dua gelas dan aneka sachet kertas berisi gula-teh-kopi, kemudian di bawahnya terletak safe deposit box.

Di seberang lemari terdapat kaca besar, berdampingan dengan tempat meletakkan bagasi yang bagian bawahnya dapat dipergunakan sebagai rak sandal atau sepatu. Di sinilah dua travel bag dan satu backpack bawaan kami diletakkan.

Bergeser ke sampingnya lagi adalah meja minimalis - hanya berupa lempengan kayu tebal menempel ke tembok - di mana pesawat telepon, remote televisi, dua botol besar air mineral, lampu belajar, dan alat tulis tergeletak. Malam sebelum kantuk datang saya biasa menyempatkan diri membuka laptop di meja ini.

Tepat di atas median meja, sebuah televisi layar datar ukuran sedang menempel di tembok, menghadap ke tempat tidur. Jadi kita bisa menonton televisi dengan nyaman sembari tidur bermalas-malasan di atas bed.

Tempat tidurnya sendiri sangat nyaman. Kasurnya tidak terlalu empuk, tapi juga tidak keras. Pas sekali untuk menjemput impian dalam lena. Bantal-bantalnya lembut dan wangi, sedangkan selimut putihnya teramat bersih dan hangat.

Saya biasanya tidak suka tidur berselimut. Tapi dua malam di Hotel Grand Ixora Kuta Resort saya selalu menyelinap di balik selimut sebelum terlelap. Padahal AC sudah disetel pada angka 25 derajat celcius, tidak terlalu dingin.


Sarapan Enak
Satu spot yang disukai anak-anak di hotel ini adalah kolam renang. Begitu tahu ada kolam renang, anak-anak yang sudah mandi pagi minta diantar ke sana. Sayangnya, pagi itu hujan rintik-rintik, jadi kami hanya bisa melihat-lihat kolam sebentar lalu kembali ke kamar sebelum sarapan.

Terletak tepat di tengah-tengah deretan kamar, ukuran swimming pool terhitung besar. Ubin biru di dasar kolam membuat airnya terlihat sangat cantik. Di beberapa titik tepian kolam terdapat pohon palem menjulang dalam pot beton berbentuk kotak.

Tamu hotel dapat bersantai-santai di tepian kolam. Ada jejeran kursi-kursi santai ala pantai berwarna putih di atas lantai kayu. Di malam hari area kolam terlihat lebih cantik lagi oleh lampu-lampu hias yang terdapat di beberapa sudut.

Dari bahasa tubuh mereka, saya tahu anak-anak sangat ingin berenang. Namun karena hujan, ditambah lagi kami harus sarapan sebelum berangkat ke destinasi berikutnya, plus mereka berdua sudah mandi, saya tidak mengajak anak-anak nyemplung.

Ketimbang berdiam di kamar, saya ajak anak-anak bersantai di restoran sembari sarapan. Ukuran restoran tak terlalu luas, namun ada lantai kedua dengan balkon yang lebih lega. Tapi saya memilih di bawah saja. Tamu juga bisa menikmati menu sarapannya di meja-kursi yang berderet di sepanjang pintu masuk sampai dekat area lobi.


Atas: Akses masuk dari luar hotel menuju ke area lobi. Tampak asri dengan aneka pepohonan.
Bawah: Area lobi yang sangat minimalis, sekaligus berfungsi sebagai akses utama keluar-masuk hotel.

Restoran dengan beberapa furniture bambu tersebut bernama Bambu Roras Resto and Bar. Selain menyediakan sarapan tetamu hotel, restoran juga terbuka bagi pengunjung umum. Di momen-momen tertentu Bambu Roras menawarkan promo dengan harga menarik. Misalnya Valentine Dinner pada 14 Februari lalu.

Berkonsep terbuka, dinding-dinding restoran terbuat dari kaca. Tamu dapat duduk menyantap makanan sembari melihat kendaraan lalu-lalang di jalan. Sebaliknya, orang-orang di luar juga dapat melihat siapa saja yang sedang makan di restoran.

Menu yang ditawarkan sangat lengkap sekali. Di dekat pintu masuk tersedia aneka jenis roti, mulai dari roti tawar sampai roti sobek, lengkap dengan selai aneka rasa. Di meja tengah ruangan terhidang rupa-rupa masakan Indonesia. Untuk lauk-pauknya tersedia sosis, ayam, tempe, juga tahu.

Menu nasi ada dua, nasi putih dan nasi goreng. Kalau tidak mau makan nasi, tersedia kentang rebus sebagai pengganti. Sumber karbohidrat lain yang bisa dipilih adalah mi yang digoreng dengan campuran sawi hijau dan cabai merah.

Setelah membukai semua wadah makanan, Damar memilih nasi goreng dan mi goreng. Ia juga minta sosis. Tadinya saya sempat berpikiran jangan-jangan sosisnya terbuat dari daging babi. Setelah bertanya pada petugas restoran, rupanya seluruh menu dijamin halal. Tidak satupun hidangan yang mengandung babi. Lega rasanya.


Lain lagi Diandra. Ia lebih banyak maunya. Setelah sarapan buah dengan saya, ia tergiur dengan roti. Eh, setelah itu minta diambilkan nasi goreng pula seperti kakaknya. Belum juga habis, ia sudah minta diambilkan ketoprak di meja sudut dekat tangga. Tobat deh.

Oya, pilihan minumannya ada banyak. Selain teh dan kopi panas, tersedia pula dua jenis jus, dan tentu saja air putih. Yang menarik, di area buah-buahan segar ada sup buah siap santap. Hmmm. Yang mau minta telur goreng, seorang chef di sudut ruangan siap membuatkan omelet.

Dua hari sarapan di sana, kami selalu dibuat puas kekenyangan.

Di Jantung Kuta
Grand Ixora Kuta Resort Bali terletak di Jl. Kartika Plaza No. 92, Kuta. Tepat berada di tengah-tengah pusat keramaian Kuta. Saat datang, saya melihat betapa hidupnya kawasan ini di waktu malam. Entah berapa belas kafe dan restoran, beberapa menyajikan live music, toko-toko souvenir, minimarket, semuanya ada di sini.

Hotel ini dapat ditempuh dalam waktu hanya sekitar 10 menit naik mobil dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Pihak hotel menyediakan angkutan antar-jemput bandara, namun saya lebih menyarankan untuk memesan taksi online karena Go-Car sudah tersedia di Bali.

Karena benar-benar berada di jantung Kuta, segala macam yang dibutuhkan untuk memanjakan kita selama liburan di Bali tersedia di kanan-kiri hotel. Terutama bank dan ATM. Hotel Grand Ixora sendiri malah diapit dua bank, BNI dan BCA.



Di hotel juga terdapat tempat spa dan pijat refleksi. Namanya Jasmine Spa & Reflexology. Tapi kalau mau spa atau massage dengan suasana berbeda di luar hotel, pilihannya ada beberapa di sepanjang Jl. Kartika Plaza.

Demikian pula dengan restoran, kafe, maupun bar. Mau yang di pinggir jalan atau di pinggir pantai, tinggal pilih saja sesuai budget. Sedangkan untuk keperluan lain-lain, dari depan hotel saya bisa melihat plang Alfamart yang hanya berjarak beberapa puluh meter. Lalu ada pula gerai-gerai Cicle K dalam radius 200-300 meter.

Kalau mau cari oleh-oleh, Krisna pusatnya oleh-oleh khas Bali cabang Tuban hanya berjarak 2,2 km dari Grand Ixora. Tepatnya terletak di Jl. Raya Tuban. Karena tidak tahu, atas saran petugas keamanan hotel waktu itu saya dan anak-istri ke Krisna naik mobil carteran. Tarifnya Rp30.000 sekali jalan.

Pilihan lebih hemat bisa memesan Go-Car, atau Go-Jek bagi yang pergi sendirian. Saya yakin tarifnya bisa kurang dari setengahnya. Kalau mau memesan Go-Jek atau Go-Car sebaiknya berjalan dulu agak menjauh dari hotel. Sebab di depan hotel biasanya ada satu-dua sopir mobil carteran.

Oya, bagi yang mau bermain air di pantai, Grand Ixora sangat dekat sekali dengan Pantai Jerman. Menurut Google Maps jaraknya hanya 650 meter, jalan kaki kira-kira sekitar 8-10 menit. Kalau mau ke Pantai Kuta, mau tak mau musti naik kendaraan karena berjarak 2 km.



Pendek kata, Grand Ixora merupakan tempat menginap yang sangat strategis. Dekat dengan bandara, pantai, dan pusat oleh-oleh. Juga berada tepat di tengah-tengah keramaian Kuta dengan atraksinya. Kurang apalagi coba?

Andai kelak ada kesempatan ke Bali lagi bersama keluarga, saya sih tidak akan ragu-ragu untuk menginap di Hotel Grand Ixora Kuta Resort lagi.

Hotel Grand Ixora Kuta Resort
Jalan Kartika Plaza No. 92, Kuta
Kabupaten Badung, Bali 80361
INDONESIA
Telp.: +62-361-759099


Foto-Foto:
Semua foto dengan watermark "BUNGEKO.COM" adalah dokumentasi pribadi, dijepret dengan Canon Powershot SX610 HS. Foto-foto lain diambil dari web www.grandixora.com dan beberapa situs booking hotel.

Sabtu, 18 Maret 2017


APA yang paling membuatmu penasaran saat berkunjung ke tempat baru? Kalau saya ada dua hal. Pertama, cerita atau sejarah daerah tersebut sehingga saya selalu tertarik mengunjungi situs-situs bersejarah yang ada di sana. Kedua, kuliner alias makanan dan minuman khasnya.

Demikian pula saat menyebut nama Tidore. Soal sejarah, saya sudah menulis satu artikel panjang yang merangkum perjalanan Kesultanan Tidore sejak 1521. Saya seorang history enthusiast, jadi jangan heran kalau artikel yang saya hasilkan begitu panjang. Silakan baca ya.

Baca juga: Visit Tidore Island - Menelusuri Jejak Sejarah Pulau Rempah

Nah, bicara kuliner setidaknya ada lima makanan-minuman khas Tidore yang memikat mata sekaligus perut saya. Tentu saja ini kuliner yang belum pernah saya cicipi sebelumnya. Jadi, benar-benar membuat penasaran dan ngiler berat.

Sejak ratusan tahun lalu Tidore dikenal sebagai penghasil rempah-rempah berkualitas baik. Melimpahnya pala, cengkeh, dan lada yang dihasilkan Kesultanan Tidore membuat pedagang-pedagang asing berdatangan kemari. Pedagang Jawa, Melayu, India, Arab, sampai kemudian bangsa-bangsa Eropa yang sangat bernafsu menguasai daerah ini.

Dengan kekayaan rempah-rempah seperti itu, jangan heran kalau Tidore mempunyai kuliner khas yang sedapnya menggoda. Oke, setidaknya ini dari apa yang saya baca dan foto-foto yang bertebaran di Google, juga beberapa situs kuliner. Mudah-mudahan kelak saya dapat kesempatan menyambangi Tidore dan membuktikan sendiri hal tersebut.

Jadi, andaikan saja ada yang khilaf mengajak ke Tidore, saya paling penasaran sama lima kuliner berikut. Saya pilih kuliner yang benar-benar khas baik paduan bahan baku pembuatan, bentuk, kemasan, maupun cara penyajiannya. Sebisa mungkin makanan tersebut juga bukan yang mudah ditemui di tempat lain, khususnya di Jawa.

Apa saja? Yuk, kita intip sama-sama berdasarkan referensi sana-sini!


1. Popeda
Popeda adalah olahan sagu yang dimasak, direbus. Kalau kamu tahu lem Glucol, kira-kira seperti itulah teksturnya. Kenyal-kenyal dan lengket, serta tentu saja tidak ada rasanya. Karena itu popeda musti dimakan dengan sayur berkuah, dan yang paling umum dijadikan pelengkapnya adalah ikan kuah kuning.

Awalnya saya bingung bagaimana bisa orang Tidore makan popeda, yang cuma beda satu huruf dengan papeda. Selama ini yang saya tahu papeda adalah makanan khas Papua. Semasa kos di Jogja, ada tetangga saya orang Bugis yang lahir dan besar di Papua. Namanya Mutmainnah, lebih beken sebagai Mbak Inna.

Nah, Mbak Inna ini buka warung makan di Jl. Kusumanegara, tepat di depan Pamela Swalayan/Toko Flora. Karena pelanggannya banyak mahasiswa Papua, Mbak Inna juga menyediakan papeda.

Jadi, saya pikir papeda itu makanan khas Papua. Tapi setelah membaca lebih banyak sejarah Tidore, saya punya kesimpulan berbeda. Sangat besar kemungkinan justru orang Tidore-lah yang memperkenalkan popeda ke Papua, sebab dulu wilayah Kesultanan Tidore mencapai Raja Ampat dan sebagian besar wilayah kepala burung Pulau Papua.

2. Tela Gule
Hanya sedikit informasi mengenai makanan satu ini di Google, apatah lagi mencari fotonya. Satu-satunya foto yang dapat saya lihat ada di buku panduan wisata Explore the Enchanting Tidore terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan.

Tela gule adalah makanan olahan jagung. Digiling hingga halus, lalu dimasak seperti nasi. Saya kontan teringat sega jagung-nya orang Jawa, tapi penyajian tela gule tampaknya berbeda. Sebab sega jagung hanya ditumbuk kasar lalu dikukus, tidak sampai digiling halus.

Menurut beberapa blog milik ngofa (putera asli) Tidore yang saya temui, tela gule bakal terasa lebih sedap jika dimakan dengan masakan-masakan lain. Wa bil khusus sayur berkuah santan. Misalnya dalo waho (sayur lilin), foki pele (terong dimasak santan), uge ake (rebusan bunga pepaya dan daun kelor), ditambah ikan goreng.

Pendek kata, meski judulnya cuma mencicipi tela gule, tapi saya juga bisa makan banyak makanan khas Tidore lainnya. Sekali lahap, 4-5 makanan ditelan. Hehehe.

Btw, benar-benar sulit mencari foto maupun video tela gule di Google maupun media lain di internet. Sepertinya suatu saat saya memang harus ke Tidore untuk mendokumentasikan makanan satu ini, baik dalam bentuk foto, video, dan tentu saja posting blog. Insya Allah.


3. Berbagai Olahan Sagu
Benar, sagu bisa jadi bahan pembuatan lem kertas. Tapi makanan bernama sagu di Tidore tidak cuma terbuat dari tepung pohon sagu. Ada sagu berupa makanan kering yang terbuat dari singkong alias ketela. Sagu yang ini biasanya dimakan dengan gohu (daging ikan mentah dicincang dan dibumbui) atau dabu-dabu (campuran sayuran mentah dengan bumbu dasar dan minyak goreng).

Lagi-lagi, niat mencicipi sagu saja membuat saya bakal ikut menikmati dua makanan khas Tidore lainnya. Alangkah pintarnya saya ini :)

Ada lagi sagu lempeng atau sagu kasbi (hula keta), yang disajikan dalam keadaan matang dipanggang. Kalau terbuat dari tepung sagu namanya hula garo, sedangkan yang terbuat dari tepung singkong dinamai hula daso.

Sagu lempeng yang selesai dipanggang biasanya masih lembek selama beberapa hari. Sagu lempeng begini oleh orang Tidore disebut sagu lombo, dan cocoknya dimakan dengan gohu seperti pada foto di awal posting.

Kalau dalam keadaan kering, sagu lempeng dapat bertahan sangat lama. Menurut catatan pelaut Inggris, konon, sagu lempeng kering pemberian Sultan Baabullah (Kesultanan Ternate) yang mereka bawa dapat bertahan setidaknya 10 tahun.


4. Kopi Dabe
Cukup dengan aneka makanan khas, dari minuman saya paling penasaran dengan kopi dabe. Sesuai namanya tentu saja ini kopi. Kata "dabe" dalam bahasa Tidore berarti "baku tambah" alias "saling menambahkan." Ditambah apa? Ditambah rempah-rempah pilihan sehingga membuat rasanya berbeda dari kopi kebanyakan.

Pembuatan kopi dabe tak ubahnya kopi lain, yakni diseduh air mendidih dan diberi gula sebagai pemanis. Bedanya, air yang dipakai menyeduh kopi adalah rebusan aneka rempah seperti jahe, kayu manis, cengkeh, dan pala. Terkadang juga ditambah daun pandan untuk memberi aroma wangi.

Kopi dabe sudah ada sejak jaman dahulu kala. Sejak ratusan tahun lalu. Konon, dulu kopi ini hanya disajikan untuk tetamu kehormatan Sultan Tidore.

Masa itu, membuatnya pun harus menggunakan belanga khusus terbuat dari tanah liat yang didatangkan dari Pulau Mare, pulau di selatan Tidore. Karenanya belanga itu disebut balanga mare. Tapi kini pembuatan kopi dabe sudah memakai panci-panci modern. Malah nyaris tak ada lagi yang menggunakan belanga tanah liat.

Oya, kopi dabe benar-benar minuman khas Tidore. Bahkan di Ternate yang hanya berjarak sepelemparan batu pun tidak dijumpai minuman ini.


5. Kue Asidah
Melengkapi makanan berat dan minuman, saya pungkasi daftar ini dengan jajanan khas Tidore. Dan dari sekian macam jajanan yang ada, saya paling penasaran ingin mencicipi kue asidah. Kenapa? Alasan satu-satunya karena kue ini tidak mirip kue-kue yang pernah saya makan di Jawa.

Konon, kue asidah adalah makanan khas Tidore yang terpengaruh budaya Arab. Warna merah kecoklatan pada kue ini aslinya dikarenakan kandungan kurma yang menjadi salah satu bahan. Namun demi menghemat biaya pembuatan ada pula yang berkreasi mengganti kurma dengan gula aren.

Boleh jadi kue asidah diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Arab yang dulu singgah ke Kesultanan Tidore saat mencari rempah-rempah. Karenanya ada juga yang menyebut kue ini sebagai dodol Arab mengingat bentuk dan teksturnya yang memang mirip dodol.

Meski mirip dodol, yang membuat kue asidah berbeda adalah cita rasa serta cara penyajiannya. Kalau dodol di Jawa biasanya dicetak persegi lalu dipotong-potong kecil, tanpa tambahan apa-apa, kue asidah disajikan berbentuk separuh bola di atas piring. Kemudian disiram ghee (mentega India) di atasnya sebagai topping.

Saya pun membayangkan, betapa nikmatnya mencamil kue asidah sembari mereguk kopi dabe panas-panas pada sore hari, menyaksikan matahari terbenam dari tepi Pantai Rum. Atau dari sejuknya Desa Kalaodi. Ah, jadi berkhayal deh.

Ya Allah, Baim ingin visit Tidore Island dan mencicipi makanan-minuman khasnya yang bikin ngiler ini. Insya Allah...

Ini tulisan kedua untuk diikut-sertakan dalam Lomba Menulis Blog "Tidore untuk Indonesia" yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan. Tulisan ini tidak menang, tapi saya tetap jadi salah satu pemenang berkat tulisan pertama. Judul dan isi posting ini saya ubah sedikit nggak apa-apa kan ya?

Referensi:
Buku Explore the Enchanting Tidore
https://sofyandaudgarasi.blogspot.co.id/2017/02/tidore-dan-hasanahnya_20.html
http://gamalamanews.com/2017/01/25/kopi-dabe-minuman-kaya-rempah-khas-tidore/
http://jagowisata.blogspot.co.id/2014/12/papeda-makanan-khas-tidore.html
http://blog.jalamalut.com/2016/11/di-balik-secangkir-kopi-rempah.html
http://ulinulin.com/posts/mencicipi-papeda-kolaborasi-sagu-dengan-ikan-khas-tidore
http://jdfoodiary.blogspot.co.id/2014/12/culinary-makanan-khas-maluku-utara.html
http://dapurkaysa.blogspot.co.id/2012/08/asida-ambon-tu-mirip-dengan-indonesia.html


Foto-Foto:
Sagu dan Gohu: http://jdfoodiary.blogspot.co.id/2014/12/culinary-makanan-khas-maluku-utara.html
Popeda: thumbnail video di https://www.youtube.com/watch?v=Epp-RXPtVcY
Sagu Lempeng: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sago_starch_product_sagu_lempeng_from_Maluku,ID_feb2002.jpg
Kopi Dabe: http://blog.jalamalut.com/2016/11/di-balik-secangkir-kopi-rempah.html
Kue Asidah: http://dapurkaysa.blogspot.co.id/2012/08/asida-ambon-tu-mirip-dengan-indonesia.html


APA yang paling membuatmu penasaran saat berkunjung ke tempat baru? Kalau saya ada dua hal. Pertama, cerita atau sejarah daerah tersebut sehingga saya selalu tertarik mengunjungi situs-situs bersejarah yang ada di sana. Kedua, kuliner alias makanan dan minuman khasnya.

Demikian pula saat menyebut nama Tidore. Soal sejarah, saya sudah menulis satu artikel panjang yang merangkum perjalanan Kesultanan Tidore sejak 1521. Saya seorang history enthusiast, jadi jangan heran kalau artikel yang saya hasilkan begitu panjang. Silakan baca ya.

Baca juga: Visit Tidore Island - Menelusuri Jejak Sejarah Pulau Rempah

Nah, bicara kuliner setidaknya ada lima makanan-minuman khas Tidore yang memikat mata sekaligus perut saya. Tentu saja ini kuliner yang belum pernah saya cicipi sebelumnya. Jadi, benar-benar membuat penasaran dan ngiler berat.

Sejak ratusan tahun lalu Tidore dikenal sebagai penghasil rempah-rempah berkualitas baik. Melimpahnya pala, cengkeh, dan lada yang dihasilkan Kesultanan Tidore membuat pedagang-pedagang asing berdatangan kemari. Pedagang Jawa, Melayu, India, Arab, sampai kemudian bangsa-bangsa Eropa yang sangat bernafsu menguasai daerah ini.

Dengan kekayaan rempah-rempah seperti itu, jangan heran kalau Tidore mempunyai kuliner khas yang sedapnya menggoda. Oke, setidaknya ini dari apa yang saya baca dan foto-foto yang bertebaran di Google, juga beberapa situs kuliner. Mudah-mudahan kelak saya dapat kesempatan menyambangi Tidore dan membuktikan sendiri hal tersebut.

Jadi, andaikan saja ada yang khilaf mengajak ke Tidore, saya paling penasaran sama lima kuliner berikut. Saya pilih kuliner yang benar-benar khas baik paduan bahan baku pembuatan, bentuk, kemasan, maupun cara penyajiannya. Sebisa mungkin makanan tersebut juga bukan yang mudah ditemui di tempat lain, khususnya di Jawa.

Apa saja? Yuk, kita intip sama-sama berdasarkan referensi sana-sini!


1. Popeda
Popeda adalah olahan sagu yang dimasak, direbus. Kalau kamu tahu lem Glucol, kira-kira seperti itulah teksturnya. Kenyal-kenyal dan lengket, serta tentu saja tidak ada rasanya. Karena itu popeda musti dimakan dengan sayur berkuah, dan yang paling umum dijadikan pelengkapnya adalah ikan kuah kuning.

Awalnya saya bingung bagaimana bisa orang Tidore makan popeda, yang cuma beda satu huruf dengan papeda. Selama ini yang saya tahu papeda adalah makanan khas Papua. Semasa kos di Jogja, ada tetangga saya orang Bugis yang lahir dan besar di Papua. Namanya Mutmainnah, lebih beken sebagai Mbak Inna.

Nah, Mbak Inna ini buka warung makan di Jl. Kusumanegara, tepat di depan Pamela Swalayan/Toko Flora. Karena pelanggannya banyak mahasiswa Papua, Mbak Inna juga menyediakan papeda.

Jadi, saya pikir papeda itu makanan khas Papua. Tapi setelah membaca lebih banyak sejarah Tidore, saya punya kesimpulan berbeda. Sangat besar kemungkinan justru orang Tidore-lah yang memperkenalkan popeda ke Papua, sebab dulu wilayah Kesultanan Tidore mencapai Raja Ampat dan sebagian besar wilayah kepala burung Pulau Papua.

2. Tela Gule
Hanya sedikit informasi mengenai makanan satu ini di Google, apatah lagi mencari fotonya. Satu-satunya foto yang dapat saya lihat ada di buku panduan wisata Explore the Enchanting Tidore terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan.

Tela gule adalah makanan olahan jagung. Digiling hingga halus, lalu dimasak seperti nasi. Saya kontan teringat sega jagung-nya orang Jawa, tapi penyajian tela gule tampaknya berbeda. Sebab sega jagung hanya ditumbuk kasar lalu dikukus, tidak sampai digiling halus.

Menurut beberapa blog milik ngofa (putera asli) Tidore yang saya temui, tela gule bakal terasa lebih sedap jika dimakan dengan masakan-masakan lain. Wa bil khusus sayur berkuah santan. Misalnya dalo waho (sayur lilin), foki pele (terong dimasak santan), uge ake (rebusan bunga pepaya dan daun kelor), ditambah ikan goreng.

Pendek kata, meski judulnya cuma mencicipi tela gule, tapi saya juga bisa makan banyak makanan khas Tidore lainnya. Sekali lahap, 4-5 makanan ditelan. Hehehe.

Btw, benar-benar sulit mencari foto maupun video tela gule di Google maupun media lain di internet. Sepertinya suatu saat saya memang harus ke Tidore untuk mendokumentasikan makanan satu ini, baik dalam bentuk foto, video, dan tentu saja posting blog. Insya Allah.


3. Berbagai Olahan Sagu
Benar, sagu bisa jadi bahan pembuatan lem kertas. Tapi makanan bernama sagu di Tidore tidak cuma terbuat dari tepung pohon sagu. Ada sagu berupa makanan kering yang terbuat dari singkong alias ketela. Sagu yang ini biasanya dimakan dengan gohu (daging ikan mentah dicincang dan dibumbui) atau dabu-dabu (campuran sayuran mentah dengan bumbu dasar dan minyak goreng).

Lagi-lagi, niat mencicipi sagu saja membuat saya bakal ikut menikmati dua makanan khas Tidore lainnya. Alangkah pintarnya saya ini :)

Ada lagi sagu lempeng atau sagu kasbi (hula keta), yang disajikan dalam keadaan matang dipanggang. Kalau terbuat dari tepung sagu namanya hula garo, sedangkan yang terbuat dari tepung singkong dinamai hula daso.

Sagu lempeng yang selesai dipanggang biasanya masih lembek selama beberapa hari. Sagu lempeng begini oleh orang Tidore disebut sagu lombo, dan cocoknya dimakan dengan gohu seperti pada foto di awal posting.

Kalau dalam keadaan kering, sagu lempeng dapat bertahan sangat lama. Menurut catatan pelaut Inggris, konon, sagu lempeng kering pemberian Sultan Baabullah (Kesultanan Ternate) yang mereka bawa dapat bertahan setidaknya 10 tahun.


4. Kopi Dabe
Cukup dengan aneka makanan khas, dari minuman saya paling penasaran dengan kopi dabe. Sesuai namanya tentu saja ini kopi. Kata "dabe" dalam bahasa Tidore berarti "baku tambah" alias "saling menambahkan." Ditambah apa? Ditambah rempah-rempah pilihan sehingga membuat rasanya berbeda dari kopi kebanyakan.

Pembuatan kopi dabe tak ubahnya kopi lain, yakni diseduh air mendidih dan diberi gula sebagai pemanis. Bedanya, air yang dipakai menyeduh kopi adalah rebusan aneka rempah seperti jahe, kayu manis, cengkeh, dan pala. Terkadang juga ditambah daun pandan untuk memberi aroma wangi.

Kopi dabe sudah ada sejak jaman dahulu kala. Sejak ratusan tahun lalu. Konon, dulu kopi ini hanya disajikan untuk tetamu kehormatan Sultan Tidore.

Masa itu, membuatnya pun harus menggunakan belanga khusus terbuat dari tanah liat yang didatangkan dari Pulau Mare, pulau di selatan Tidore. Karenanya belanga itu disebut balanga mare. Tapi kini pembuatan kopi dabe sudah memakai panci-panci modern. Malah nyaris tak ada lagi yang menggunakan belanga tanah liat.

Oya, kopi dabe benar-benar minuman khas Tidore. Bahkan di Ternate yang hanya berjarak sepelemparan batu pun tidak dijumpai minuman ini.


5. Kue Asidah
Melengkapi makanan berat dan minuman, saya pungkasi daftar ini dengan jajanan khas Tidore. Dan dari sekian macam jajanan yang ada, saya paling penasaran ingin mencicipi kue asidah. Kenapa? Alasan satu-satunya karena kue ini tidak mirip kue-kue yang pernah saya makan di Jawa.

Konon, kue asidah adalah makanan khas Tidore yang terpengaruh budaya Arab. Warna merah kecoklatan pada kue ini aslinya dikarenakan kandungan kurma yang menjadi salah satu bahan. Namun demi menghemat biaya pembuatan ada pula yang berkreasi mengganti kurma dengan gula aren.

Boleh jadi kue asidah diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Arab yang dulu singgah ke Kesultanan Tidore saat mencari rempah-rempah. Karenanya ada juga yang menyebut kue ini sebagai dodol Arab mengingat bentuk dan teksturnya yang memang mirip dodol.

Meski mirip dodol, yang membuat kue asidah berbeda adalah cita rasa serta cara penyajiannya. Kalau dodol di Jawa biasanya dicetak persegi lalu dipotong-potong kecil, tanpa tambahan apa-apa, kue asidah disajikan berbentuk separuh bola di atas piring. Kemudian disiram ghee (mentega India) di atasnya sebagai topping.

Saya pun membayangkan, betapa nikmatnya mencamil kue asidah sembari mereguk kopi dabe panas-panas pada sore hari, menyaksikan matahari terbenam dari tepi Pantai Rum. Atau dari sejuknya Desa Kalaodi. Ah, jadi berkhayal deh.

Ya Allah, Baim ingin visit Tidore Island dan mencicipi makanan-minuman khasnya yang bikin ngiler ini. Insya Allah...

Ini tulisan kedua untuk diikut-sertakan dalam Lomba Menulis Blog "Tidore untuk Indonesia" yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan. Tulisan ini tidak menang, tapi saya tetap jadi salah satu pemenang berkat tulisan pertama. Judul dan isi posting ini saya ubah sedikit nggak apa-apa kan ya?

Referensi:
Buku Explore the Enchanting Tidore
https://sofyandaudgarasi.blogspot.co.id/2017/02/tidore-dan-hasanahnya_20.html
http://gamalamanews.com/2017/01/25/kopi-dabe-minuman-kaya-rempah-khas-tidore/
http://jagowisata.blogspot.co.id/2014/12/papeda-makanan-khas-tidore.html
http://blog.jalamalut.com/2016/11/di-balik-secangkir-kopi-rempah.html
http://ulinulin.com/posts/mencicipi-papeda-kolaborasi-sagu-dengan-ikan-khas-tidore
http://jdfoodiary.blogspot.co.id/2014/12/culinary-makanan-khas-maluku-utara.html
http://dapurkaysa.blogspot.co.id/2012/08/asida-ambon-tu-mirip-dengan-indonesia.html


Foto-Foto:
Sagu dan Gohu: http://jdfoodiary.blogspot.co.id/2014/12/culinary-makanan-khas-maluku-utara.html
Popeda: thumbnail video di https://www.youtube.com/watch?v=Epp-RXPtVcY
Sagu Lempeng: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sago_starch_product_sagu_lempeng_from_Maluku,ID_feb2002.jpg
Kopi Dabe: http://blog.jalamalut.com/2016/11/di-balik-secangkir-kopi-rempah.html
Kue Asidah: http://dapurkaysa.blogspot.co.id/2012/08/asida-ambon-tu-mirip-dengan-indonesia.html

Rabu, 15 Maret 2017


TIDORE diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum. Demikian ungkapan kekaguman Juan Sebastian Elcano, kapten kapal Victoria asal Spanyol, saat mendarat di pulau yang kaya akan rempah-rempah tersebut. Hingga kini kalimat Elcano masih terus dikutip untuk menggambarkan keindahan alam Tidore nan mengagumkan.

Elcano adalah pelaut pertama yang berhasil mengelilingi dunia. Ia bergabung dalam ekspedisi Fernão de Magalhães (Fernando de Magallanes, Ferdinand Magellan) sebagai bentuk permohonan maaf pada Raja Charles V. Elcano melanggar hukum karena menyerahkan kapalnya untuk membayar hutang.

Tim ekspedisi Magalhães ke Islas de las Especias (Kepulauan Rempah-Rempah) terdiri dari lima kapal: Concepcion, San Antonio, Santiago, Trinidad, dan Victoria. Sebanyak 241 pelaut berpartisipasi dalam rombongan ini.

Berangkat dari Sevilla pada 10 Agustus 1519, tim ekspedisi Magalhães berlayar ke arah barat daya, melalui pantai barat dan selatan Amerika Selatan, mengarungi Samudera Pasifik, singgah di Guam, Kepulauan Filipina, Brunei, dan tiba di Tidore pada 8 November 1521.

Sebuah pelayaran panjang yang tak mudah. Kapal Santiago hancur dihantam badai di Samudera Atlantik. Lalu kru kapal San Antonio memberontak dan kembali ke Spanyol saat rombongan tiba di Argentina. Saat berada di Filipina, tim ekspedisi terlibat konflik dengan penduduk setempat. Magalhães terbunuh pada 27 April 1521.

Kematian Magalhães membuat kepemimpinan ekspedisi terpecah. Duarte Barbosa dan João Serrão akhirnya disepakati sebagai duo pemimpin. Namun keduanya kemudian juga terbunuh dalam sebuah pertikaian melawan Rajah Humabon. João Lopes de Carvalho mengambil alih kepemimpinan dan membawa eskpedisi meninggalkan Kepulauan Filipina.
Juan Sebastian Elcano
Dalam perjalanan dari Filipina menuju Kepulauan Maluku kru kapal mengangkat Elcano sebagai pemimpin setelah Carvalho dinilai tidak cakap. Rombongan yang tinggal tersisa dua kapal, Victoria dan Trinidad, inilah yang kemudian mendarat di Tidore.

Rivalitas Mertua-Menantu
Sultan Al Mansyur tengah bertahta di Kesultanan Tidore saat ekpedisi Elcano mendarat di Pelabuhan Rum. Kedatangan pelaut-pelaut Spanyol ini disambut baik oleh Sultan. Total rombongan ekspedisi tinggal tersisa sekitar 75 orang saat itu, sebagian besar merupakan kru kapal Trinidad yang dikapteni Carvalho.

Kedatangan Elcano dan ekspedisinya mengawali interaksi Tidore dengan bangsa Eropa. Pelaut-pelaut Spanyol itu merupakan armada Eropa kedua yang menginjakkan kaki di Kepulauan Maluku, setelah kedatangan bangsa Portugis di Hitu sembilan tahun sebelumnya.

Semakin memburuknya hubungan dengan Kesultanan Ternate membuat Sultan Al Mansyur merasa perlu menjalin kerja sama dengan Elcano. Ini sebagai balasan menyusul langkah Sultan Bayanullah yang menolong ekspedisi Francisco Serrão, kawan baik Magalhães, dan membangun aliansi Ternate-Portugis sejak 1512.

Hubungan mesra Ternate-Portugis diperkuat dengan pembangunan benteng di barat daya Ternate, Benteng São João Baptista de Ternate yang sekarang dikenal sebagai Benteng Kastella. Posisi benteng ini sangat strategis untuk mengawasi Kesultanan Tidore, dan jaraknya terhitung dekat dengan Pulau Maitara maupun Pelabuhan Rum sebagai pintu masuk Tidore.

Elcano sendiri hanya tinggal sebulan di Tidore. Setelah memenuhi kapal Victoria dengan cengkeh dan pala, ia kembali ke Spanyol bersama 21 kru. Namun keberadaan bangsa Spanyol di Tidore tetap bertahan setelah Carvalho dan 52 anak buahnya memilih tinggal. Kapal Trinidad miliknya bocor dan tak bisa diperbaiki sehingga Carvalho memilih menunggu.

1 Januari 1527, ekspedisi yang dipimpin Garcia Jofre de Loaísa mendarat di Tidore membawa sejumlah besar pasukan Spanyol. Setahun berselang, tepatnya 30 Maret 1528, satu ekspedisi Spanyol kembali mendarat di Tidore. Ekspedisi yang dipimpin Álvaro de Saavedra ini sengaja dikirim Kerajaan Spanyol untuk mencari kapal-kapal Ekspedisi Loaísa yang hilang.

Sebenarnya aliansi Tidore-Spanyol dipenuhi kecurigaan satu sama lain. Akan tetapi Tidore membutuhkan kehadiran Spanyol untuk menandingi kekuatan Ternate. Tidore sudah lama ingin keluar dari bayang-bayang Ternate sebagai produsen cengkeh terbesar di Kepulauan Maluku.


Persaingan kedua kesultanan bertetangga ini dituliskan sejarawan Universitas Hawaii Leonard Andaya sebagai tema utama sejarah Maluku. Sekalipun bertetangga dekat, relasi Ternate dan Tidore tak sepenuhnya baik terkait persaingan dagang rempah-rempah dengan bangsa asing (pedagang-pedagang Jawa, Melayu, dan Arab, sebelum kedatangan bangsa Eropa).

Di lain pihak, Spanyol harus bertahan di Tidore demi mengamankan suplai rempah-rempah ke Eropa. Spanyol bahkan memendam hasrat untuk merebut Ternate dari tangan Portugis. Selama bertahun-tahun kedua kekuatan saling intai, namun masih sama-sama menahan diri dari konflik bersenjata.

Yang menarik dari rivalitas Ternate-Tidore ini, Sultan Al Mansyur merupakan mertua Sultan Bayanullah. Permaisuri Kesultanan Ternate, Sultana Nukila, adalah puteri Sultan Al Mansyur. Dari rahim sang permaisuri inilah kelak lahir penerus Sultan Bayanullah, Sultan Hidayatullah alias Sultan Dayalu.

Ditaklukkan Portugis
Wafatnya Sultan Bayanullah pada 1522 mengubah peta kekuatan. Sultan Hidayatullah masih terlalu muda saat diangkat sebagai penerus tahta Ternate. Usianya enam tahun, sehingga diangkatlah Wali Raja untuk menggantikan perannya sampai ia cukup umur. Pemerintahan Ternate kemudian dikendalikan oleh Sultana Nukila dan Pangeran Taruwese, adik Sultan Bayanullah.

Kondisi ini dimanfaatkan baik-baik oleh Portugis untuk memecah Kesultanan Ternate demi menguatkan pengaruhnya di Kepulauan Maluku. Selain mengadu domba Sultana Nukila dengan Pangeran Taruwese, Portugis juga berhasil membujuk Ternate untuk menyerang Tidore pada 1524.

Sebanyak 600 tentara gabungan Ternate dan Portugis mendarat di Tidore dan masuk hingga ke Mareku, ibukota kesultanan. Namun serangan ini tidak mampu menaklukkan Tidore. Sebaliknya, Tidore dengan dukungan Spanyol berhasil memukul mundur pasukan Ternate-Portugis.

Kontak senjata antara Ternate dan Tidore kembali pecah tak lama setelah Sultan Al Mansyur mangkat tanpa meninggalkan penerus pada 1526. Satu-satunya keturunan yang berhak atas tahta Tidore adalah cucunya, Sultan Hidayatullah, yang sudah diangkat sebagai Sultan Ternate.

Sultana Nukila melihat ini sebagai peluang untuk menyatukan Tidore dan Ternate di bawah kepemimpinan puteranya. Namun ide tersebut tentu saja ditolak Portugis. Portugis merapatkan hubungan dengan Pangeran Taruwese. Wali Raja ini dijanjikan dukungan penuh bila berhasil merebut tahta Ternate.


Perang saudara pun pecah. Kubu Pangeran Taruwese yang didukung Portugis berusaha merebut tahta Ternate dari tangan Sultan Hidayatullah yang didukung aliansi Tidore-Spanyol. Sultan Hidayatullah tewas. Pangeran Taruwese naik tahta, namun tak lama kemudian terbunuh dalam pemberontakan yang berujung naiknya Sultan Abu Hayat II, adik kandung Sultan Hidayatullah.

Perpecahan elite di Ternate membuat kekuatan Portugis semakin menancap dalam. Hal ini mengancam Kesultanan Tidore yang sebenarnya sudah lama masuk incaran Portugis. Perjanjian Zaragoza antara Raja Portugal John III dan Raja Spanyol Charles V pada tahun 1529 semakin mempertegas kedudukan Portugis di Maluku. Dalam perjanjian tersebut Raja Charles V bersedia menyerahkan Maluku pada Kerajaan Portugal.

Di tahun yang sama, putera bungsu Sultan Al Mansyur yang bernama Amiruddin Iskandar Zulkarnaen dilantik sebagai Sultan Tidore berikutnya. Di masa pemerintahannya Portugis kembali datang menyerang. Tidore berhasil ditaklukkan pada 21 Desember 1536, yang berujung pada hak monopoli perdagangan rempah sepenuhnya bagi Portugis.

Spanyol sempat berusaha mempertahankan Tidore, akan tetapi pasukan yang dibawa ekspedisi Ruy López de Villalobos menyerah pada tentara Portugis di tahun 1545. Dengan demikian Portugis menjadi penguasa tunggal di kawasan Maluku Kie Raha karena Kesultanan Bacan dan Jailolo juga sudah mereka taklukkan. Portugis memusatkan kekuatannya di Ternate.

Masuknya VOC-Belanda
Begitu berkuasanya Portugis sehingga sultan-sultan Ternate yang membangkang ditangkap dan diasingkan. Sultan Abu Hayat II dibuang ke Malaka, Sultan Tabariji dibuang ke Goa, dan Sultan Khaerun Jamil alias Sultan Hairun dibunuh di Benteng São Paulo.

Kematian Sultan Hairun membangkitkan amarah rakyat Ternate. Di bawah pimpinan Sultan Baabullah, perjuangan heroik rakyat Ternate sukses mengusir habis Portugis secara memalukan dari pulau tersebut pada 1575.

Portugis lari ke Ambon dan Tidore. Tahun 1578, mereka membangun benteng baru yang dinamai Forte dos Reis Magos de Tidore sebagai basis kekuatan. Dua tahun berselang, Spanyol dan Portugis membentuk aliansi di Maluku sehingga kekuatan kedua kerajaan saling membantu. Semua benteng Portugis dan Spanyol di seluruh kawasan Maluku Kie Raha dapat digunakan pasukan kedua kerajaan.

Demi membantu mengembalikan kekuasaan Portugis atas Ternate, Gubernur Jenderal Spanyol di Manila berkali-kali mengirimkan armada bantuan. Menanggapi serangan ini Ternate menjalin kerja sama dengan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), perusahaan dagang yang diberi kekuasaan otonom oleh Kerajaan Belanda untuk mengeksplorasi Hindia Timur.

Babak baru sejarah Kepulauan Maluku pun dimulai.


Portugis dengan dukungan Spanyol di Manila menjadikan Tidore sebagai basis militer menghadapi kekuatan Ternate-VOC. Pada 19 Mei 1605, pasukan VOC berhasil merebut Benteng Reis Magos. Spanyol membalas dengan mengirimkan pasukan dari Manila. Armada perang ini dipimpin langsung oleh Gubernur Filipina, Pedro de Acunha.

Pada 26 Maret 1606, Spanyol dibantu prajurit Tidore merebut kembali Benteng Reis Magos. De Acunha yang mendapat dukungan Sultan Fola Madjino alias Sultan Zainuddin juga sukses mengusir tentara VOC dari Benteng Gamlamo di Ternate. VOC tidak mau pergi dari Ternate, dan sebaliknya mendirikan Fort Oranje hanya beberapa kilometer dari benteng Spanyol.

Sejak itu Maluku Kie Raha, dengan Ternate dan Tidore sebagai pusatnya, dikuasai dua kekuatan asing: Spanyol dan VOC. Namun perlahan-lahan kekuasaan VOC semakin kuat, sampai pada puncaknya menjadi kekuatan tunggal pada Juni 1663. Ini menyusul keputusan Gubernur Jenderal Spanyol di Manila, Manrique de Lara, menarik seluruh armadanya dari Maluku untuk menghadapi serangan bajak laut Tiongkok.

Praktis, kekuatan Tidore melemah. Hal ini memaksa Sultan Gorontalo alias Sultan Saifudin meneken perjanjian dengan Gubernur Jenderal VOC Cornelis Janzoon Speelman pada 13 Maret 1667. Inti perjanjian tersebut adalah pengakuan kedaulatan Kesultanan Tidore oleh VOC, dan pemberian hak monopoli perdagangan rempah-rempah di Tidore kepada VOC.

Wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore pada masa itu meliputi sebagian besar Pulau Halmahera, Raja Ampat, dan bagian kepala burung Pulau Papua. Perjanjian dengan VOC terus bertahan hingga beberapa sultan berikutnya, dengan catatan bertambah kuatnya pengaruh Tidore atas VOC ketika Sultan Syaifudin (Kaicil Golafino alias Jou Kota) bertahta.

Perlawanan Sultan Nuku
Kendati terikat dalam perjanjian monopoli dagang dengan VOC, Kesultanan Tidore adalah wilayah berdaulat penuh. Sultan-sultan Tidore tak sekalipun meminta bantuan VOC untuk menyelesaikan urusan kesultanan. VOC tetap dibiarkan berada di "luar pagar" dan tak sekali-kali diijinkan ikut campur.

Namun masa-masa tersebut segera berlalu. Keputusan Gubernur Jenderal VOC di Batavia yang memberlakukan Hongitochten memperlemah kekuatan Kesultanan Tidore, juga kesultanan-kesultanan lain di Maluku Kie Raha.

Tidore ikut meneken perjanjian Hongitochten dengan VOC, sehingga pasukan VOC secara leluasa membabat habis tanaman cengkeh dan pala di wilayah Kesultanan demi menjaga stabilitas harga.

Perjanjian Hongitochten serta monopoli VOC membuat kemakmuran Kesultanan Tidore menurun. Sekalipun VOC memberi imbalan (recognitie penningen) sejumlah tertentu kepada Kesultanan, angkanya jauh lebih kecil dari ketika produksi cengkeh dan pala berlimpah.

Hingga 1797, sultan-sultan Tidore dibuat tak berdaya di bawah monopoli VOC. Kesultanan nyaris bangkrut. VOC bahkan berani menangkap Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin dan mengasingkannya ke Batavia pada 1776. Secara sepihak VOC mengangkat Kaicil Gay Jira sebagai sultan, yang kemudian diteruskan putranya, Patra Alam alias Sultan Badaruddin.

Tindakan sewenang-wenang VOC ditentang keras Pangeran Muhammad Amiruddin (Kaicil Paparangan) dan Pangeran Hairul Alam Kamaluddin (Kaicil Asgar), dua putera Sultan Jamaluddin. Namun tentu saja VOC tidak peduli. Pangeran Kamaluddin ditangkap dan diasingkan ke Sri Lanka. Sedangkan upaya VOC menangkap Pangeran Amiruddin gagal karena telah terlebih dahulu meninggalkan Tidore

Pangeran Amiruddin membangun armada perang di Kepulauan Papua untuk menyerang VOC. Tahun 1781, Pangeran Amiruddin memproklamirkan diri sebagai Sultan Tidore dengan gelar Sri Maha Tuan Sultan Amir Muhammad Saifuddin Syah. Di saat bersamaan sultan yang oleh pasukannya lebih akrab dipanggil Sultan Nuku ini menyatakan perang terhadap VOC.

VOC merespon aksi ini dengan mengirim pasukan untuk menangkap Sultan Nuku. Perang pun pecah. Pasukan VOC sepertinya bakal menang, namun tak berhasil menangkap Sultan. Tahun 1783, VOC kembali mengirim pasukan. Kali ini Sultan Nuku menunjukkan kekuatannya dengan membunuh komandan dan sebagian besar tentara VOC.

Oktober 1783, pasukan Sultan Nuku menyerang sebuah benteng VOC di Tidore dan membunuh semua orang Eropa di dalamnya. VOC marah luar biasa. Kesultanan Ternate dihubungi untuk membantu memerangi Sultan Nuku. Hubungan Ternate-Tidore memanas.

November di tahun yang sama, VOC menarik pulang Pangeran Kamaluddin dan mengangkatnya sebagai Sultan Tidore. Dengan demikian Kesultanan Tidore memiliki dua sultan dalam waktu bersamaan. Begitu naik tahta Sultan Kamaluddin dipaksa meneken perjanjian yang menguntungkan VOC.

Pada 1787, VOC berhasil menaklukkan markas Sultan Nuku di Pulau Seram. Akan tetapi Sang Sultan sudah terlebih dahulu pindah ke Pulau Gorong dan kembali membangun pasukannya. Sultan juga menjalin hubungan dengan Kerajaan Britania yang diwakili Kapten Thomas Forrest. Dengan persenjataan bantuan Kerajaan Britania, Sultan Nuku berhasil memukul pasukan VOC.

Kerepotan menghadapi perlawanan Sultan Nuku, VOC mencoba mengajak berunding dengan menawarkan posisi di kesultanan. Tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh Sultan Nuku. Alih-alih berdamai, ia justru meningkatkan serangan terhadap VOC yang dibantu pasukan Tidore di bawah pimpinan Sultan Kamaluddin.

Februari 1795, putera Sultan Nuku yang bernama Abdulgafur memimpin sepasukan besar ke Tidore. Setahun berselang Sultan berhasil merebut Pulau Banda. Tahun berikutnya, setelah mengepung Pulau Tidore dengan 79 kapal ditambah satu kapal Kerajaan Britania, pasukan Sultan Nuku berhasil merebut kekuasaan Tidore pada 12 April 1797.


Vacuum of Power
Usai membersihkan istana dari kaki tangan musuh, Sultan Nuku mengusir VOC dari Ternate pada 1801. VOC sendiri sebenarnya sudah dibubarkan pada Desember 1799. Sementara Kerajaan Belanda berada di bawah kekuasaan Prancis yang dikomando Napoleon Bonaparte.

Akibat serangan tersebut Raja Willem V melarikan diri ke Inggris dan menetap di sana selama beberapa waktu. Sebagai imbalan, Raja Willem V menyerahkan daerah-daerah jajahannya pada Kerajaan Britania. Inilah sebabnya Inggris sempat berada di Nusantara selama beberapa tahun.

Wilayah-wilayah tersebut baru dikembalikan kepada Belanda setelah kedua kerajaan meneken Perjanjian London pada 13 Agustus 1814. Perjanjian ini sekaligus mengembalikan kekuasaan bangsa Belanda di Bumi Nusantara. Jika dulu di bawah sebuah perusahaan swasta bernama VOC, kali ini di bawah Kerajaan Belanda.

Sepeninggal Sultan Nuku pada 14 November 1805, Kesultanan Tidore dipimpin oleh Sultan Zainal Abidin. Hanya bertahta lima tahun, Sultan Zainal Abidin digantikan oleh Sultan Motahuddin Muhammad Tahir yang naik singgasana pada 1810.

Kondisi yang cenderung damai di era Sultan Tahir membuat rencana pembangunan Kadato (Istana Sultan) baru kembali muncul. Atas persetujuan semua pihak, Sultan Tahir memulai pembangunan Kadato di Soasio pada 1812. Istana yang kelak dinamai Kadato Kie inilah yang hingga hari ini menjadi kediaman Sultan Tidore.

Sembari menunggu pembangunan istana selesai, dibangunlah istana sementara yang dinamai Kadato Tui atau Kadaton Bambu. Di istana kecil ini Sultan Tahir memerintah hingga wafat pada 1821. Beliau tidak sempat menyaksikan istana yang dibangunnya rampung.

Sultan Ahmadul Mansyur Sirajuddin Syah yang naik tahta pada 1821 juga tak sempat meninggali istana rancangan Sultan Tahir. Pembangunan Kadato Kie yang dilakukan secara bertahap memakan waktu 50 tahun. Istana tersebut baru rampung di masa pemerintahan Sultan Ahmad Syaifuddin Alting (1856-1892) pada tahun 1862.

Sejak itu sultan-sultan Tidore menempati Kadato Kie sebagai kediaman sekaligus pusat pemerintahan.


Keberadaan Kadato Kie sebagai simbol kedaulatan Kesultanan Tidore rupanya membuat Belanda tidak senang. Setelah menahan diri di masa pemerintahan Sultan Ahmad Fatahuddin Nur Syah (Kaicil Jauhar Alam) yang hanya bertahta empat tahun, Belanda mulai berulah ketika Sultan Achmad Qawiyuddin Alting alias Sultan Syahjuan naik tahta.

Kekuasaan Sultan Qawiyuddin terus dirongrong oleh Belanda. Sampai pada puncaknya ketika Sultan mangkat di tahun 1905, Tidore diubah menjadi kota swapraja. Belanda tidak mengijinkan penobatan sultan baru, sehingga menyulut perebutan tahta di kalangan keluarga Kesultanan.

Konflik internal ini membuat posisi Sultan Tidore lowong selama kurang-lebih 42 tahun. Akibatnya, Kadato Kie terbengkalai dan rusak parah. Hancur total di tahun 1912. Kesultanan Tidore seolah menghilang dari muka bumi.

Tidore untuk Indonesia
Kesultanan Tidore baru memiliki pemimpin kembali setelah Republik Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Hengkangnya Belanda dari Tidore membuat tidak ada lagi pihak asing yang campur tangan pada urusan internal Kesultanan. Sultan Zainal Abidin Syah kemudian dinobatkan sebagai pewaris tahta pada 15 Januari 1947.

Di Jakarta, Republik Indonesia membentuk delapan provinsi di eks wilayah Hindia Timur. Tidore digabungkan dalam Provinsi Maluku dengan gubernur pertama Johannes Latuharhary.

Soekarno lalu berjuang menyatukan Nieuw Guinea (Papua) ke dalam RI. Tidore dilibatkan dalam perjuangan integrasi ini mengingat Papua merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore sejak ratusan tahun lalu. Untuk keperluan ini Soekarno mengunjungi Tidore dan menanyakan sikap Kesultanan.

Kesultanan Tidore adalah sebuah negeri berdaulat yang selalu berusaha mempertahankan kemerdekaannya dari cengkeraman bangsa Eropa sejak ratusan tahun lalu. Tak salah bila, seandainya, Sultan Zainal Abidin Syah menetapkan Kesultanan Tidore sebagai sebuah wilayah merdeka terpisah dari Republik Indonesia.

Namun, rasa senasib sepenanggungan sebagai sesama bekas koloni Belanda membuat Sultan memutuskan sebaliknya. Beliau menetapkan Kesultanan Tidore sebagai bagian dari Republik Indonesia. Soekarno merespon sikap tersebut dengan membentuk Provinsi Perjuangan Irian Barat dengan ibukota Soasio pada 16 Agustus 1956.

23 September 1956, Sultan Zainal Abidin Syah diangkat sebagai Gubernur Sementara Irian Barat berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 142/ Tahun 1956. Pelantikan dilakukan langsung oleh Presiden Soekarno di Bali.

Integrasi Papua berjalan sesuai rencana. Kerajaan Belanda mengakui wilayah Republik Indonesia meliputi Sabang di Aceh hingga Merauke di Papua, yang oleh Soekarno disebut Irian Barat. Sultan Zainal Abidin Syah kemudian ditetapkan sebagai gubernur pertama Provinsi Irian Barat pada 4 Mei 1962.

Sultan Zainal Abidin Syah mangkat di Ambon pada 4 Juli 1967. Kembali terjadi kekosongan kekuasaan di Kesultanan Tidore selama puluhan tahun. Sampai akhirnya Sultan Haji Djafar Syah dinobatkan pada tahun 1999, dan kini diteruskan oleh Sultan Haji Husain Syah.

Tidore Kini
Apa yang dilakukan Sultan Zainal Abidin Syah mengingatkan saya pada keputusan Sultan Hamengku Buwono IX. Begitu Republik Indonesia merdeka, Sultan HB IX lewat maklumatnya bertanggal 5 September 1945 menetapkan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai bagian dari RI.

Perbedaannya, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat mendapat status Daerah Istimewa setingkat provinsi. Sempat berpuluh-puluh tahun mengambang, status tersebut akhirnya disahkan dalam bentuk Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Salah satu poin penting dalam UU tersebut adalah penetapan gubernur dan wakil gubernur DI Yogyakarta. Secara otomatis jabatan gubernur dan wakilnya diisi oleh Sultan Kraton Ngayogyakarta dan Adipati Pakualaman yang tengah bertahta.

Kesultanan Tidore sebaliknya. Dari berstatus ibukota Provinsi Irian Barat, Pemerintah RI menurunkan status Tidore menjadi kawedanan (setingkat kabupaten) dalam Provinsi Maluku. Lalu Tidore dimasukkan dalam Daerah Administratif Halmahera Tengah dengan ibukota Soasio. Undang-Undang No. 6 Tahun 1990 menetapkan Halmahera Tengah sebagai daerah otonom setingkat kabupaten.


Gairah pemekaran wilayah di awal 2000-an kembali mengubah status Tidore. Sultan Djafar Syah menjadi tokoh sentral dalam proses pembentukan provinsi baru, yakni Maluku Utara. Pembentukan Malut diresmikan lewat Undang-Undang Nomor 46 tahun 1999 dengan wilayah meliputi empat kesultanan Maluku Kie Raha.

Tahun 2003, lewat Undang-Undang No. 1 Tahun 2003 terbentuklah kotamadya baru bernama Kota Tidore Kepulauan. Wilayahnya meliputi Pulau Tidore, Pulau Maitara, Pulau Mare, serta sisi timur Pulau Halmahera dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Selain berjasa besar dalam berdirinya Provinsi Maluku Utara, Sultan Djafar Syah juga berinisiatif membangun kembali Kedaton Kie yang runtuh pada tahun 1912. Pembangunan ulang diawali pada 1997 oleh Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Maluku. Sembilan tahun berselang renovasi dilanjutkan oleh Pemda Kabupaten Halmahera Tengah.

Kadaton Kie selesai direnovasi pada tahun 2010 dan langsung ditempati sebagai kediaman sultan. Namun baru tiga tahun menempati istana baru, Sultan Djafar Syah mangkat di RS Husada, Jakarta, dalam usia 67 tahun. Penggantinya adalah Sultan Husein Syah yang dinobatkan pada 22 Oktober 2014.

Di bawah pemerintahan Sultan Husein Syah, Kesultanan Tidore mencoba membangkitkan kembali pengaruhnya di Indonesia Timur. Bukan lagi sebagai kekuatan politik tentu saja, melainkan dalam bidang pariwisata dengan kampanye Visit Tidore Island.

Keindahan alam Tidore nan memukau diharapkan menarik minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, seperti halnya bangsa-bangsa Eropa berdatangan ke sana di masa lalu. Keindahan alam yang membuat Juan Sebastian Elcano mengucapkan kalimat kekaguman.

"Tidore diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum."



Artikel ini diikut-sertakan dalam Lomba Menulis Blog "Tidore Untuk Indonesia" yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan.


Foto dan Gambar:
Semua foto dan gambar yang saya pilih berada dalam public domain atau berlisensi Creative Commons. Selain itu adalah foto-foto yang penggunaannya telah mendapat ijin, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari pemiliknya untuk kepentingan penulisan artikel mengenai Kesultanan Tidore ini.

Ilustrasi 1: Foto Pulau Maitara dan Tidore oleh Didik Heriyanto (http://www.panoramio.com/photo/89610678)
Ilustrasi 2: Lukisan potret Juan Sebastian Elcano (https://en.wikipedia.org/wiki/Juan_Sebasti%C3%A1n_Elcano)
Ilustrasi 3: Cengkeh, komoditas unggulan Tidore di masa lalu (http://scentindonesia.com/index.php/our-products/natural-resources/80-natural/112-cloves)
Ilustrasi 4: Peta Kepulauan Maluku oleh Pieter van der Aa di tahun 1707 (https://libweb5.princeton.edu/visual_materials/maps/websites/pacific/spice-islands/spice-islands-maps.html)
Ilustrasi 5: Lukisan armada VOC di perairan Malaka (http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=222086)
Ilustrasi 6: Lukisan potret Sultan Syaifuddin yang tersimpan di Museum Czartoryski, Kraków (https://en.wikipedia.org/wiki/Sultanate_of_Tidore)
Ilustrasi 7: Lukisan potret Sultan Nuku (https://en.wikipedia.org/wiki/Nuku_Muhammad_Amiruddin)
Ilustrasi 8: Lukisan yang menggambarkan penaklukkan Tidore oleh VOC ()
Ilustrasi 9: Foto Kadato Kie di Soasio (http://annienugraha.com/tidore-dan-beberapa-wisata-sejarahnya/)
Ilustrasi 10: Repro foto pelantikan Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Guberbur Irian Barat (https://id.wikipedia.org/wiki/Zainal_Abidin_Syah_dari_Tidore)
Ilustrasi 11: Peta Kota Tidore Kepulauan (screenshot Google Maps)


Referensi
Buku Explore the Enchanting Tidore
https://en.wikipedia.org/wiki/Tidore
https://id.wikipedia.org/wiki/Maluku_Utara
https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Tidore
https://en.wikipedia.org/wiki/Sultanate_of_Tidore
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tidore_Kepulauan
https://en.wikipedia.org/wiki/Loa%C3%ADsa_expedition
https://en.wikipedia.org/wiki/Nuku_Muhammad_Amiruddin
https://id.wikipedia.org/wiki/Djafar_Syah_dari_Tidore
https://id.wikipedia.org/wiki/Nuku_Muhammad_Amiruddin
https://id.wikipedia.org/wiki/Bayanullah_dari_Ternate
https://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_East_India_Company
https://en.wikipedia.org/wiki/Anglo-Dutch_Treaty_of_1814
https://en.wikipedia.org/wiki/Juan_Sebasti%C3%A1n_Elcano
https://id.wikipedia.org/wiki/Zainal_Abidin_Syah_dari_Tidore
https://en.wikipedia.org/wiki/%C3%81lvaro_de_Saavedra_Cer%C3%B3n
https://en.wikipedia.org/wiki/Portuguese_colonialism_in_Indonesia

https://alchetron.com/Tidore-10389-W
http://tidore.besaba.com/default.php?page=Home
http://www.wartaone.co.id/sejarah-dan-silsilah-kesultanan-tidore/
http://www.colonialvoyage.com/portuguese-moluccas-ternate-tidore/
http://www.colonialvoyage.com/forts-spice-islands-indonesia-today/
http://www.colonialvoyage.com/spanish-presence-moluccas-ternate-tidore/
http://annienugraha.com/tidore-dan-beberapa-wisata-sejarahnya/
http://annienugraha.com/tidore-dalam-balutan-sejarah-pendahuluan/
http://annienugraha.com/tidore-dalam-balutan-sejarah-kesultanan-tidore/
http://annienugraha.com/tidore-dalam-balutan-sejarah-kesultanan-tidore/
http://annienugraha.com/tidore-dalam-balutan-sejarah-gambaran-tentang-maluku-utara/
https://sofyandaudgarasi.blogspot.co.id/2017/02/tidore-dan-hasanahnya_20.html
https://www.deliknews.com/2014/10/23/sultan-tidore-dinobatkan-secara-syareat/
https://profil.merdeka.com/indonesia/n/nuku-muhammad-amiruddin-kaicil-paparangan/
https://openaccess.leidenuniv.nl/bitstream/handle/1887/12311/Appendices_Bibliography.pdf?sequence=7

http://travel.kompas.com/read/2013/05/14/16265915/Tips.Melancong.ke.Tidore
http://travel.kompas.com/read/2015/01/27/131900527/Ternate.dan.Tidore.Pusat.Rempah.Dunia.
http://travel.kompas.com/read/2012/05/23/16051369/.Sowohi.di.Balik.Kesultanan.Tidore
http://print.kompas.com/baca/2015/05/08/Joko-Widodo-Terima-Gelar-Biji-Nagara-Madafolo-dari


TIDORE diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum. Demikian ungkapan kekaguman Juan Sebastian Elcano, kapten kapal Victoria asal Spanyol, saat mendarat di pulau yang kaya akan rempah-rempah tersebut. Hingga kini kalimat Elcano masih terus dikutip untuk menggambarkan keindahan alam Tidore nan mengagumkan.

Elcano adalah pelaut pertama yang berhasil mengelilingi dunia. Ia bergabung dalam ekspedisi Fernão de Magalhães (Fernando de Magallanes, Ferdinand Magellan) sebagai bentuk permohonan maaf pada Raja Charles V. Elcano melanggar hukum karena menyerahkan kapalnya untuk membayar hutang.

Tim ekspedisi Magalhães ke Islas de las Especias (Kepulauan Rempah-Rempah) terdiri dari lima kapal: Concepcion, San Antonio, Santiago, Trinidad, dan Victoria. Sebanyak 241 pelaut berpartisipasi dalam rombongan ini.

Berangkat dari Sevilla pada 10 Agustus 1519, tim ekspedisi Magalhães berlayar ke arah barat daya, melalui pantai barat dan selatan Amerika Selatan, mengarungi Samudera Pasifik, singgah di Guam, Kepulauan Filipina, Brunei, dan tiba di Tidore pada 8 November 1521.

Sebuah pelayaran panjang yang tak mudah. Kapal Santiago hancur dihantam badai di Samudera Atlantik. Lalu kru kapal San Antonio memberontak dan kembali ke Spanyol saat rombongan tiba di Argentina. Saat berada di Filipina, tim ekspedisi terlibat konflik dengan penduduk setempat. Magalhães terbunuh pada 27 April 1521.

Kematian Magalhães membuat kepemimpinan ekspedisi terpecah. Duarte Barbosa dan João Serrão akhirnya disepakati sebagai duo pemimpin. Namun keduanya kemudian juga terbunuh dalam sebuah pertikaian melawan Rajah Humabon. João Lopes de Carvalho mengambil alih kepemimpinan dan membawa eskpedisi meninggalkan Kepulauan Filipina.
Juan Sebastian Elcano
Dalam perjalanan dari Filipina menuju Kepulauan Maluku kru kapal mengangkat Elcano sebagai pemimpin setelah Carvalho dinilai tidak cakap. Rombongan yang tinggal tersisa dua kapal, Victoria dan Trinidad, inilah yang kemudian mendarat di Tidore.

Rivalitas Mertua-Menantu
Sultan Al Mansyur tengah bertahta di Kesultanan Tidore saat ekpedisi Elcano mendarat di Pelabuhan Rum. Kedatangan pelaut-pelaut Spanyol ini disambut baik oleh Sultan. Total rombongan ekspedisi tinggal tersisa sekitar 75 orang saat itu, sebagian besar merupakan kru kapal Trinidad yang dikapteni Carvalho.

Kedatangan Elcano dan ekspedisinya mengawali interaksi Tidore dengan bangsa Eropa. Pelaut-pelaut Spanyol itu merupakan armada Eropa kedua yang menginjakkan kaki di Kepulauan Maluku, setelah kedatangan bangsa Portugis di Hitu sembilan tahun sebelumnya.

Semakin memburuknya hubungan dengan Kesultanan Ternate membuat Sultan Al Mansyur merasa perlu menjalin kerja sama dengan Elcano. Ini sebagai balasan menyusul langkah Sultan Bayanullah yang menolong ekspedisi Francisco Serrão, kawan baik Magalhães, dan membangun aliansi Ternate-Portugis sejak 1512.

Hubungan mesra Ternate-Portugis diperkuat dengan pembangunan benteng di barat daya Ternate, Benteng São João Baptista de Ternate yang sekarang dikenal sebagai Benteng Kastella. Posisi benteng ini sangat strategis untuk mengawasi Kesultanan Tidore, dan jaraknya terhitung dekat dengan Pulau Maitara maupun Pelabuhan Rum sebagai pintu masuk Tidore.

Elcano sendiri hanya tinggal sebulan di Tidore. Setelah memenuhi kapal Victoria dengan cengkeh dan pala, ia kembali ke Spanyol bersama 21 kru. Namun keberadaan bangsa Spanyol di Tidore tetap bertahan setelah Carvalho dan 52 anak buahnya memilih tinggal. Kapal Trinidad miliknya bocor dan tak bisa diperbaiki sehingga Carvalho memilih menunggu.

1 Januari 1527, ekspedisi yang dipimpin Garcia Jofre de Loaísa mendarat di Tidore membawa sejumlah besar pasukan Spanyol. Setahun berselang, tepatnya 30 Maret 1528, satu ekspedisi Spanyol kembali mendarat di Tidore. Ekspedisi yang dipimpin Álvaro de Saavedra ini sengaja dikirim Kerajaan Spanyol untuk mencari kapal-kapal Ekspedisi Loaísa yang hilang.

Sebenarnya aliansi Tidore-Spanyol dipenuhi kecurigaan satu sama lain. Akan tetapi Tidore membutuhkan kehadiran Spanyol untuk menandingi kekuatan Ternate. Tidore sudah lama ingin keluar dari bayang-bayang Ternate sebagai produsen cengkeh terbesar di Kepulauan Maluku.


Persaingan kedua kesultanan bertetangga ini dituliskan sejarawan Universitas Hawaii Leonard Andaya sebagai tema utama sejarah Maluku. Sekalipun bertetangga dekat, relasi Ternate dan Tidore tak sepenuhnya baik terkait persaingan dagang rempah-rempah dengan bangsa asing (pedagang-pedagang Jawa, Melayu, dan Arab, sebelum kedatangan bangsa Eropa).

Di lain pihak, Spanyol harus bertahan di Tidore demi mengamankan suplai rempah-rempah ke Eropa. Spanyol bahkan memendam hasrat untuk merebut Ternate dari tangan Portugis. Selama bertahun-tahun kedua kekuatan saling intai, namun masih sama-sama menahan diri dari konflik bersenjata.

Yang menarik dari rivalitas Ternate-Tidore ini, Sultan Al Mansyur merupakan mertua Sultan Bayanullah. Permaisuri Kesultanan Ternate, Sultana Nukila, adalah puteri Sultan Al Mansyur. Dari rahim sang permaisuri inilah kelak lahir penerus Sultan Bayanullah, Sultan Hidayatullah alias Sultan Dayalu.

Ditaklukkan Portugis
Wafatnya Sultan Bayanullah pada 1522 mengubah peta kekuatan. Sultan Hidayatullah masih terlalu muda saat diangkat sebagai penerus tahta Ternate. Usianya enam tahun, sehingga diangkatlah Wali Raja untuk menggantikan perannya sampai ia cukup umur. Pemerintahan Ternate kemudian dikendalikan oleh Sultana Nukila dan Pangeran Taruwese, adik Sultan Bayanullah.

Kondisi ini dimanfaatkan baik-baik oleh Portugis untuk memecah Kesultanan Ternate demi menguatkan pengaruhnya di Kepulauan Maluku. Selain mengadu domba Sultana Nukila dengan Pangeran Taruwese, Portugis juga berhasil membujuk Ternate untuk menyerang Tidore pada 1524.

Sebanyak 600 tentara gabungan Ternate dan Portugis mendarat di Tidore dan masuk hingga ke Mareku, ibukota kesultanan. Namun serangan ini tidak mampu menaklukkan Tidore. Sebaliknya, Tidore dengan dukungan Spanyol berhasil memukul mundur pasukan Ternate-Portugis.

Kontak senjata antara Ternate dan Tidore kembali pecah tak lama setelah Sultan Al Mansyur mangkat tanpa meninggalkan penerus pada 1526. Satu-satunya keturunan yang berhak atas tahta Tidore adalah cucunya, Sultan Hidayatullah, yang sudah diangkat sebagai Sultan Ternate.

Sultana Nukila melihat ini sebagai peluang untuk menyatukan Tidore dan Ternate di bawah kepemimpinan puteranya. Namun ide tersebut tentu saja ditolak Portugis. Portugis merapatkan hubungan dengan Pangeran Taruwese. Wali Raja ini dijanjikan dukungan penuh bila berhasil merebut tahta Ternate.


Perang saudara pun pecah. Kubu Pangeran Taruwese yang didukung Portugis berusaha merebut tahta Ternate dari tangan Sultan Hidayatullah yang didukung aliansi Tidore-Spanyol. Sultan Hidayatullah tewas. Pangeran Taruwese naik tahta, namun tak lama kemudian terbunuh dalam pemberontakan yang berujung naiknya Sultan Abu Hayat II, adik kandung Sultan Hidayatullah.

Perpecahan elite di Ternate membuat kekuatan Portugis semakin menancap dalam. Hal ini mengancam Kesultanan Tidore yang sebenarnya sudah lama masuk incaran Portugis. Perjanjian Zaragoza antara Raja Portugal John III dan Raja Spanyol Charles V pada tahun 1529 semakin mempertegas kedudukan Portugis di Maluku. Dalam perjanjian tersebut Raja Charles V bersedia menyerahkan Maluku pada Kerajaan Portugal.

Di tahun yang sama, putera bungsu Sultan Al Mansyur yang bernama Amiruddin Iskandar Zulkarnaen dilantik sebagai Sultan Tidore berikutnya. Di masa pemerintahannya Portugis kembali datang menyerang. Tidore berhasil ditaklukkan pada 21 Desember 1536, yang berujung pada hak monopoli perdagangan rempah sepenuhnya bagi Portugis.

Spanyol sempat berusaha mempertahankan Tidore, akan tetapi pasukan yang dibawa ekspedisi Ruy López de Villalobos menyerah pada tentara Portugis di tahun 1545. Dengan demikian Portugis menjadi penguasa tunggal di kawasan Maluku Kie Raha karena Kesultanan Bacan dan Jailolo juga sudah mereka taklukkan. Portugis memusatkan kekuatannya di Ternate.

Masuknya VOC-Belanda
Begitu berkuasanya Portugis sehingga sultan-sultan Ternate yang membangkang ditangkap dan diasingkan. Sultan Abu Hayat II dibuang ke Malaka, Sultan Tabariji dibuang ke Goa, dan Sultan Khaerun Jamil alias Sultan Hairun dibunuh di Benteng São Paulo.

Kematian Sultan Hairun membangkitkan amarah rakyat Ternate. Di bawah pimpinan Sultan Baabullah, perjuangan heroik rakyat Ternate sukses mengusir habis Portugis secara memalukan dari pulau tersebut pada 1575.

Portugis lari ke Ambon dan Tidore. Tahun 1578, mereka membangun benteng baru yang dinamai Forte dos Reis Magos de Tidore sebagai basis kekuatan. Dua tahun berselang, Spanyol dan Portugis membentuk aliansi di Maluku sehingga kekuatan kedua kerajaan saling membantu. Semua benteng Portugis dan Spanyol di seluruh kawasan Maluku Kie Raha dapat digunakan pasukan kedua kerajaan.

Demi membantu mengembalikan kekuasaan Portugis atas Ternate, Gubernur Jenderal Spanyol di Manila berkali-kali mengirimkan armada bantuan. Menanggapi serangan ini Ternate menjalin kerja sama dengan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), perusahaan dagang yang diberi kekuasaan otonom oleh Kerajaan Belanda untuk mengeksplorasi Hindia Timur.

Babak baru sejarah Kepulauan Maluku pun dimulai.


Portugis dengan dukungan Spanyol di Manila menjadikan Tidore sebagai basis militer menghadapi kekuatan Ternate-VOC. Pada 19 Mei 1605, pasukan VOC berhasil merebut Benteng Reis Magos. Spanyol membalas dengan mengirimkan pasukan dari Manila. Armada perang ini dipimpin langsung oleh Gubernur Filipina, Pedro de Acunha.

Pada 26 Maret 1606, Spanyol dibantu prajurit Tidore merebut kembali Benteng Reis Magos. De Acunha yang mendapat dukungan Sultan Fola Madjino alias Sultan Zainuddin juga sukses mengusir tentara VOC dari Benteng Gamlamo di Ternate. VOC tidak mau pergi dari Ternate, dan sebaliknya mendirikan Fort Oranje hanya beberapa kilometer dari benteng Spanyol.

Sejak itu Maluku Kie Raha, dengan Ternate dan Tidore sebagai pusatnya, dikuasai dua kekuatan asing: Spanyol dan VOC. Namun perlahan-lahan kekuasaan VOC semakin kuat, sampai pada puncaknya menjadi kekuatan tunggal pada Juni 1663. Ini menyusul keputusan Gubernur Jenderal Spanyol di Manila, Manrique de Lara, menarik seluruh armadanya dari Maluku untuk menghadapi serangan bajak laut Tiongkok.

Praktis, kekuatan Tidore melemah. Hal ini memaksa Sultan Gorontalo alias Sultan Saifudin meneken perjanjian dengan Gubernur Jenderal VOC Cornelis Janzoon Speelman pada 13 Maret 1667. Inti perjanjian tersebut adalah pengakuan kedaulatan Kesultanan Tidore oleh VOC, dan pemberian hak monopoli perdagangan rempah-rempah di Tidore kepada VOC.

Wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore pada masa itu meliputi sebagian besar Pulau Halmahera, Raja Ampat, dan bagian kepala burung Pulau Papua. Perjanjian dengan VOC terus bertahan hingga beberapa sultan berikutnya, dengan catatan bertambah kuatnya pengaruh Tidore atas VOC ketika Sultan Syaifudin (Kaicil Golafino alias Jou Kota) bertahta.

Perlawanan Sultan Nuku
Kendati terikat dalam perjanjian monopoli dagang dengan VOC, Kesultanan Tidore adalah wilayah berdaulat penuh. Sultan-sultan Tidore tak sekalipun meminta bantuan VOC untuk menyelesaikan urusan kesultanan. VOC tetap dibiarkan berada di "luar pagar" dan tak sekali-kali diijinkan ikut campur.

Namun masa-masa tersebut segera berlalu. Keputusan Gubernur Jenderal VOC di Batavia yang memberlakukan Hongitochten memperlemah kekuatan Kesultanan Tidore, juga kesultanan-kesultanan lain di Maluku Kie Raha.

Tidore ikut meneken perjanjian Hongitochten dengan VOC, sehingga pasukan VOC secara leluasa membabat habis tanaman cengkeh dan pala di wilayah Kesultanan demi menjaga stabilitas harga.

Perjanjian Hongitochten serta monopoli VOC membuat kemakmuran Kesultanan Tidore menurun. Sekalipun VOC memberi imbalan (recognitie penningen) sejumlah tertentu kepada Kesultanan, angkanya jauh lebih kecil dari ketika produksi cengkeh dan pala berlimpah.

Hingga 1797, sultan-sultan Tidore dibuat tak berdaya di bawah monopoli VOC. Kesultanan nyaris bangkrut. VOC bahkan berani menangkap Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin dan mengasingkannya ke Batavia pada 1776. Secara sepihak VOC mengangkat Kaicil Gay Jira sebagai sultan, yang kemudian diteruskan putranya, Patra Alam alias Sultan Badaruddin.

Tindakan sewenang-wenang VOC ditentang keras Pangeran Muhammad Amiruddin (Kaicil Paparangan) dan Pangeran Hairul Alam Kamaluddin (Kaicil Asgar), dua putera Sultan Jamaluddin. Namun tentu saja VOC tidak peduli. Pangeran Kamaluddin ditangkap dan diasingkan ke Sri Lanka. Sedangkan upaya VOC menangkap Pangeran Amiruddin gagal karena telah terlebih dahulu meninggalkan Tidore

Pangeran Amiruddin membangun armada perang di Kepulauan Papua untuk menyerang VOC. Tahun 1781, Pangeran Amiruddin memproklamirkan diri sebagai Sultan Tidore dengan gelar Sri Maha Tuan Sultan Amir Muhammad Saifuddin Syah. Di saat bersamaan sultan yang oleh pasukannya lebih akrab dipanggil Sultan Nuku ini menyatakan perang terhadap VOC.

VOC merespon aksi ini dengan mengirim pasukan untuk menangkap Sultan Nuku. Perang pun pecah. Pasukan VOC sepertinya bakal menang, namun tak berhasil menangkap Sultan. Tahun 1783, VOC kembali mengirim pasukan. Kali ini Sultan Nuku menunjukkan kekuatannya dengan membunuh komandan dan sebagian besar tentara VOC.

Oktober 1783, pasukan Sultan Nuku menyerang sebuah benteng VOC di Tidore dan membunuh semua orang Eropa di dalamnya. VOC marah luar biasa. Kesultanan Ternate dihubungi untuk membantu memerangi Sultan Nuku. Hubungan Ternate-Tidore memanas.

November di tahun yang sama, VOC menarik pulang Pangeran Kamaluddin dan mengangkatnya sebagai Sultan Tidore. Dengan demikian Kesultanan Tidore memiliki dua sultan dalam waktu bersamaan. Begitu naik tahta Sultan Kamaluddin dipaksa meneken perjanjian yang menguntungkan VOC.

Pada 1787, VOC berhasil menaklukkan markas Sultan Nuku di Pulau Seram. Akan tetapi Sang Sultan sudah terlebih dahulu pindah ke Pulau Gorong dan kembali membangun pasukannya. Sultan juga menjalin hubungan dengan Kerajaan Britania yang diwakili Kapten Thomas Forrest. Dengan persenjataan bantuan Kerajaan Britania, Sultan Nuku berhasil memukul pasukan VOC.

Kerepotan menghadapi perlawanan Sultan Nuku, VOC mencoba mengajak berunding dengan menawarkan posisi di kesultanan. Tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh Sultan Nuku. Alih-alih berdamai, ia justru meningkatkan serangan terhadap VOC yang dibantu pasukan Tidore di bawah pimpinan Sultan Kamaluddin.

Februari 1795, putera Sultan Nuku yang bernama Abdulgafur memimpin sepasukan besar ke Tidore. Setahun berselang Sultan berhasil merebut Pulau Banda. Tahun berikutnya, setelah mengepung Pulau Tidore dengan 79 kapal ditambah satu kapal Kerajaan Britania, pasukan Sultan Nuku berhasil merebut kekuasaan Tidore pada 12 April 1797.


Vacuum of Power
Usai membersihkan istana dari kaki tangan musuh, Sultan Nuku mengusir VOC dari Ternate pada 1801. VOC sendiri sebenarnya sudah dibubarkan pada Desember 1799. Sementara Kerajaan Belanda berada di bawah kekuasaan Prancis yang dikomando Napoleon Bonaparte.

Akibat serangan tersebut Raja Willem V melarikan diri ke Inggris dan menetap di sana selama beberapa waktu. Sebagai imbalan, Raja Willem V menyerahkan daerah-daerah jajahannya pada Kerajaan Britania. Inilah sebabnya Inggris sempat berada di Nusantara selama beberapa tahun.

Wilayah-wilayah tersebut baru dikembalikan kepada Belanda setelah kedua kerajaan meneken Perjanjian London pada 13 Agustus 1814. Perjanjian ini sekaligus mengembalikan kekuasaan bangsa Belanda di Bumi Nusantara. Jika dulu di bawah sebuah perusahaan swasta bernama VOC, kali ini di bawah Kerajaan Belanda.

Sepeninggal Sultan Nuku pada 14 November 1805, Kesultanan Tidore dipimpin oleh Sultan Zainal Abidin. Hanya bertahta lima tahun, Sultan Zainal Abidin digantikan oleh Sultan Motahuddin Muhammad Tahir yang naik singgasana pada 1810.

Kondisi yang cenderung damai di era Sultan Tahir membuat rencana pembangunan Kadato (Istana Sultan) baru kembali muncul. Atas persetujuan semua pihak, Sultan Tahir memulai pembangunan Kadato di Soasio pada 1812. Istana yang kelak dinamai Kadato Kie inilah yang hingga hari ini menjadi kediaman Sultan Tidore.

Sembari menunggu pembangunan istana selesai, dibangunlah istana sementara yang dinamai Kadato Tui atau Kadaton Bambu. Di istana kecil ini Sultan Tahir memerintah hingga wafat pada 1821. Beliau tidak sempat menyaksikan istana yang dibangunnya rampung.

Sultan Ahmadul Mansyur Sirajuddin Syah yang naik tahta pada 1821 juga tak sempat meninggali istana rancangan Sultan Tahir. Pembangunan Kadato Kie yang dilakukan secara bertahap memakan waktu 50 tahun. Istana tersebut baru rampung di masa pemerintahan Sultan Ahmad Syaifuddin Alting (1856-1892) pada tahun 1862.

Sejak itu sultan-sultan Tidore menempati Kadato Kie sebagai kediaman sekaligus pusat pemerintahan.


Keberadaan Kadato Kie sebagai simbol kedaulatan Kesultanan Tidore rupanya membuat Belanda tidak senang. Setelah menahan diri di masa pemerintahan Sultan Ahmad Fatahuddin Nur Syah (Kaicil Jauhar Alam) yang hanya bertahta empat tahun, Belanda mulai berulah ketika Sultan Achmad Qawiyuddin Alting alias Sultan Syahjuan naik tahta.

Kekuasaan Sultan Qawiyuddin terus dirongrong oleh Belanda. Sampai pada puncaknya ketika Sultan mangkat di tahun 1905, Tidore diubah menjadi kota swapraja. Belanda tidak mengijinkan penobatan sultan baru, sehingga menyulut perebutan tahta di kalangan keluarga Kesultanan.

Konflik internal ini membuat posisi Sultan Tidore lowong selama kurang-lebih 42 tahun. Akibatnya, Kadato Kie terbengkalai dan rusak parah. Hancur total di tahun 1912. Kesultanan Tidore seolah menghilang dari muka bumi.

Tidore untuk Indonesia
Kesultanan Tidore baru memiliki pemimpin kembali setelah Republik Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Hengkangnya Belanda dari Tidore membuat tidak ada lagi pihak asing yang campur tangan pada urusan internal Kesultanan. Sultan Zainal Abidin Syah kemudian dinobatkan sebagai pewaris tahta pada 15 Januari 1947.

Di Jakarta, Republik Indonesia membentuk delapan provinsi di eks wilayah Hindia Timur. Tidore digabungkan dalam Provinsi Maluku dengan gubernur pertama Johannes Latuharhary.

Soekarno lalu berjuang menyatukan Nieuw Guinea (Papua) ke dalam RI. Tidore dilibatkan dalam perjuangan integrasi ini mengingat Papua merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore sejak ratusan tahun lalu. Untuk keperluan ini Soekarno mengunjungi Tidore dan menanyakan sikap Kesultanan.

Kesultanan Tidore adalah sebuah negeri berdaulat yang selalu berusaha mempertahankan kemerdekaannya dari cengkeraman bangsa Eropa sejak ratusan tahun lalu. Tak salah bila, seandainya, Sultan Zainal Abidin Syah menetapkan Kesultanan Tidore sebagai sebuah wilayah merdeka terpisah dari Republik Indonesia.

Namun, rasa senasib sepenanggungan sebagai sesama bekas koloni Belanda membuat Sultan memutuskan sebaliknya. Beliau menetapkan Kesultanan Tidore sebagai bagian dari Republik Indonesia. Soekarno merespon sikap tersebut dengan membentuk Provinsi Perjuangan Irian Barat dengan ibukota Soasio pada 16 Agustus 1956.

23 September 1956, Sultan Zainal Abidin Syah diangkat sebagai Gubernur Sementara Irian Barat berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 142/ Tahun 1956. Pelantikan dilakukan langsung oleh Presiden Soekarno di Bali.

Integrasi Papua berjalan sesuai rencana. Kerajaan Belanda mengakui wilayah Republik Indonesia meliputi Sabang di Aceh hingga Merauke di Papua, yang oleh Soekarno disebut Irian Barat. Sultan Zainal Abidin Syah kemudian ditetapkan sebagai gubernur pertama Provinsi Irian Barat pada 4 Mei 1962.

Sultan Zainal Abidin Syah mangkat di Ambon pada 4 Juli 1967. Kembali terjadi kekosongan kekuasaan di Kesultanan Tidore selama puluhan tahun. Sampai akhirnya Sultan Haji Djafar Syah dinobatkan pada tahun 1999, dan kini diteruskan oleh Sultan Haji Husain Syah.

Tidore Kini
Apa yang dilakukan Sultan Zainal Abidin Syah mengingatkan saya pada keputusan Sultan Hamengku Buwono IX. Begitu Republik Indonesia merdeka, Sultan HB IX lewat maklumatnya bertanggal 5 September 1945 menetapkan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai bagian dari RI.

Perbedaannya, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat mendapat status Daerah Istimewa setingkat provinsi. Sempat berpuluh-puluh tahun mengambang, status tersebut akhirnya disahkan dalam bentuk Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Salah satu poin penting dalam UU tersebut adalah penetapan gubernur dan wakil gubernur DI Yogyakarta. Secara otomatis jabatan gubernur dan wakilnya diisi oleh Sultan Kraton Ngayogyakarta dan Adipati Pakualaman yang tengah bertahta.

Kesultanan Tidore sebaliknya. Dari berstatus ibukota Provinsi Irian Barat, Pemerintah RI menurunkan status Tidore menjadi kawedanan (setingkat kabupaten) dalam Provinsi Maluku. Lalu Tidore dimasukkan dalam Daerah Administratif Halmahera Tengah dengan ibukota Soasio. Undang-Undang No. 6 Tahun 1990 menetapkan Halmahera Tengah sebagai daerah otonom setingkat kabupaten.


Gairah pemekaran wilayah di awal 2000-an kembali mengubah status Tidore. Sultan Djafar Syah menjadi tokoh sentral dalam proses pembentukan provinsi baru, yakni Maluku Utara. Pembentukan Malut diresmikan lewat Undang-Undang Nomor 46 tahun 1999 dengan wilayah meliputi empat kesultanan Maluku Kie Raha.

Tahun 2003, lewat Undang-Undang No. 1 Tahun 2003 terbentuklah kotamadya baru bernama Kota Tidore Kepulauan. Wilayahnya meliputi Pulau Tidore, Pulau Maitara, Pulau Mare, serta sisi timur Pulau Halmahera dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Selain berjasa besar dalam berdirinya Provinsi Maluku Utara, Sultan Djafar Syah juga berinisiatif membangun kembali Kedaton Kie yang runtuh pada tahun 1912. Pembangunan ulang diawali pada 1997 oleh Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Maluku. Sembilan tahun berselang renovasi dilanjutkan oleh Pemda Kabupaten Halmahera Tengah.

Kadaton Kie selesai direnovasi pada tahun 2010 dan langsung ditempati sebagai kediaman sultan. Namun baru tiga tahun menempati istana baru, Sultan Djafar Syah mangkat di RS Husada, Jakarta, dalam usia 67 tahun. Penggantinya adalah Sultan Husein Syah yang dinobatkan pada 22 Oktober 2014.

Di bawah pemerintahan Sultan Husein Syah, Kesultanan Tidore mencoba membangkitkan kembali pengaruhnya di Indonesia Timur. Bukan lagi sebagai kekuatan politik tentu saja, melainkan dalam bidang pariwisata dengan kampanye Visit Tidore Island.

Keindahan alam Tidore nan memukau diharapkan menarik minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, seperti halnya bangsa-bangsa Eropa berdatangan ke sana di masa lalu. Keindahan alam yang membuat Juan Sebastian Elcano mengucapkan kalimat kekaguman.

"Tidore diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum."



Artikel ini diikut-sertakan dalam Lomba Menulis Blog "Tidore Untuk Indonesia" yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan.


Foto dan Gambar:
Semua foto dan gambar yang saya pilih berada dalam public domain atau berlisensi Creative Commons. Selain itu adalah foto-foto yang penggunaannya telah mendapat ijin, baik secara langsung maupun tidak langsung, dari pemiliknya untuk kepentingan penulisan artikel mengenai Kesultanan Tidore ini.

Ilustrasi 1: Foto Pulau Maitara dan Tidore oleh Didik Heriyanto (http://www.panoramio.com/photo/89610678)
Ilustrasi 2: Lukisan potret Juan Sebastian Elcano (https://en.wikipedia.org/wiki/Juan_Sebasti%C3%A1n_Elcano)
Ilustrasi 3: Cengkeh, komoditas unggulan Tidore di masa lalu (http://scentindonesia.com/index.php/our-products/natural-resources/80-natural/112-cloves)
Ilustrasi 4: Peta Kepulauan Maluku oleh Pieter van der Aa di tahun 1707 (https://libweb5.princeton.edu/visual_materials/maps/websites/pacific/spice-islands/spice-islands-maps.html)
Ilustrasi 5: Lukisan armada VOC di perairan Malaka (http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=222086)
Ilustrasi 6: Lukisan potret Sultan Syaifuddin yang tersimpan di Museum Czartoryski, Kraków (https://en.wikipedia.org/wiki/Sultanate_of_Tidore)
Ilustrasi 7: Lukisan potret Sultan Nuku (https://en.wikipedia.org/wiki/Nuku_Muhammad_Amiruddin)
Ilustrasi 8: Lukisan yang menggambarkan penaklukkan Tidore oleh VOC ()
Ilustrasi 9: Foto Kadato Kie di Soasio (http://annienugraha.com/tidore-dan-beberapa-wisata-sejarahnya/)
Ilustrasi 10: Repro foto pelantikan Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Guberbur Irian Barat (https://id.wikipedia.org/wiki/Zainal_Abidin_Syah_dari_Tidore)
Ilustrasi 11: Peta Kota Tidore Kepulauan (screenshot Google Maps)


Referensi
Buku Explore the Enchanting Tidore
https://en.wikipedia.org/wiki/Tidore
https://id.wikipedia.org/wiki/Maluku_Utara
https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Tidore
https://en.wikipedia.org/wiki/Sultanate_of_Tidore
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tidore_Kepulauan
https://en.wikipedia.org/wiki/Loa%C3%ADsa_expedition
https://en.wikipedia.org/wiki/Nuku_Muhammad_Amiruddin
https://id.wikipedia.org/wiki/Djafar_Syah_dari_Tidore
https://id.wikipedia.org/wiki/Nuku_Muhammad_Amiruddin
https://id.wikipedia.org/wiki/Bayanullah_dari_Ternate
https://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_East_India_Company
https://en.wikipedia.org/wiki/Anglo-Dutch_Treaty_of_1814
https://en.wikipedia.org/wiki/Juan_Sebasti%C3%A1n_Elcano
https://id.wikipedia.org/wiki/Zainal_Abidin_Syah_dari_Tidore
https://en.wikipedia.org/wiki/%C3%81lvaro_de_Saavedra_Cer%C3%B3n
https://en.wikipedia.org/wiki/Portuguese_colonialism_in_Indonesia

https://alchetron.com/Tidore-10389-W
http://tidore.besaba.com/default.php?page=Home
http://www.wartaone.co.id/sejarah-dan-silsilah-kesultanan-tidore/
http://www.colonialvoyage.com/portuguese-moluccas-ternate-tidore/
http://www.colonialvoyage.com/forts-spice-islands-indonesia-today/
http://www.colonialvoyage.com/spanish-presence-moluccas-ternate-tidore/
http://annienugraha.com/tidore-dan-beberapa-wisata-sejarahnya/
http://annienugraha.com/tidore-dalam-balutan-sejarah-pendahuluan/
http://annienugraha.com/tidore-dalam-balutan-sejarah-kesultanan-tidore/
http://annienugraha.com/tidore-dalam-balutan-sejarah-kesultanan-tidore/
http://annienugraha.com/tidore-dalam-balutan-sejarah-gambaran-tentang-maluku-utara/
https://sofyandaudgarasi.blogspot.co.id/2017/02/tidore-dan-hasanahnya_20.html
https://www.deliknews.com/2014/10/23/sultan-tidore-dinobatkan-secara-syareat/
https://profil.merdeka.com/indonesia/n/nuku-muhammad-amiruddin-kaicil-paparangan/
https://openaccess.leidenuniv.nl/bitstream/handle/1887/12311/Appendices_Bibliography.pdf?sequence=7

http://travel.kompas.com/read/2013/05/14/16265915/Tips.Melancong.ke.Tidore
http://travel.kompas.com/read/2015/01/27/131900527/Ternate.dan.Tidore.Pusat.Rempah.Dunia.
http://travel.kompas.com/read/2012/05/23/16051369/.Sowohi.di.Balik.Kesultanan.Tidore
http://print.kompas.com/baca/2015/05/08/Joko-Widodo-Terima-Gelar-Biji-Nagara-Madafolo-dari

Sabtu, 11 Maret 2017


SAYA sudah "akrab" dengan Jl. Tanjung di Semarang setidaknya sejak 2011. Namun baru awal Maret ini, alias ENAM TAHUN berselang, saya ngeh kalau di jalan tersebut ada satu spot kuliner legendaris. Ya, warung Mie Kopyok Pak Dhuwur yang terletak persis di seberang Kantor PLN Kota Semarang.

Kita mundur dulu ke Jumat, 11 Maret 2011. Hari itu untuk pertama kalinya saya ke Semarang dari Pemalang. Pertama kali pula ke Semarang naik kereta api. Adalah panggilan wawancara dari Suara Merdeka CyberNews yang membawa langkah saya ke ibukota Jawa Tengah waktu itu.

Baca juga: Sehari di Semarang

Semenjak itu saya lebih suka naik kereta api ke Semarang. Terlebih layanan PT KAI semakin membaik. Tak ada lagi cerita penumpang berdiri, seperti yang saya alami enam tahun lalu sepulang dari wawancara di Suara Merdeka. Kereta molor pun hanya hitungan beberapa menit. Tidak seperti Kaligung Ekspres yang molor sampai satu jam di tahun 2011 itu.

Jadi, biasanya begitu turun di Stasiun Semarang Poncol saya lalu berjalan kaki ke selatan. Baik lewat pintu keluar barat maupun timur, setelah menyeberangi Jl. Imam Bonjol saya pun asyik berjalan kaki menyusuri Jl. Tanjung. Tergantung tujuan, begitu sampai di lampu merah Jl. Pemuda saya naik angkot, ojek, atau (sejak medio 2016) memesan Go-Jek.

Sekian tahun melintasi Jl. Tanjung yang tercatat dalam memori saya hanya Kedai Beringin di pojok lampu merah, dan warung makan di pertigaan Jl. Ade Irma Suryani. Saya ingat Kedai Beringin karena memang mencolok. Begitu keluar area stasiun dari pintu barat, restoran inilah yang pertama terlihat mata. Sedangkan warung makan tadi saya ingat-ingat karena biasa mampir di sana kalau tak sempat sarapan di Pemalang.

Entah kenapa dulu saya tidak mengenali Mie Kopyok Pak Dhuwur. Lebih tepatnya saya tidak tahu kalau warung tersebut merupakan tempat kuliner kondang. Pasalnya warung itu terlihat biasa saja, sama seperti warung-warung lain di dekatnya. Sama sekali tak mengesankan sebagai spot icip-icip yang wajib didatangi wisatawan.

Tapi memang pernah sih saya dibuat heran oleh suasana di warung tersebut. Dibanding warung-warung lain yang ada di sana, Mie Kopyok Pak Dhuwur terlihat selalu ramai pengunjung. Lalu di sepanjang jalan dekat warung berjejer mobil-mobil, yang belakangan baru saya tahu kalau itu tunggangan konsumen Mie Kopyok Pak Dhuwur.

Kok baru tahu kemana aja, Mas? Hahahaha.


Dekat Stasiun Poncol
Nah, tanggal 4-5 Maret lalu saya ada acara di Impala Space, Kawasan Kota Lama Semarang. Ketimbang bolak-balik ke Pemalang, saya pilih menginap semalam di Airy Rooms Miroto Seteran. Seperti biasa, sebelum mengunjungi suatu tempat saya biasanya memelototi Google Maps. Sekedar menghapalkan jalan sekaligus mencari tempat-tempat yang sekiranya menarik didatangi.

Saat membuka Google Maps itulah saya melihat nama Mie Kopyok Pak Dhuwur. Penasaran, saya lihat-lihat beberapa foto kiriman kawan-kawan Local Guide di sana. Review demi review di laman tersebut saya baca, dan barulah saya paham ini warung legendaris. "Harus dicoba nih!" Batin saya waktu itu.

Begitulah. Begitu turun dari kereta Kaligung saya langsung keluar Stasiun Semarang Poncol, dan berjalan kaki ke selatan menyusuri Jl. Tanjung. Menurut Google Maps, warung Pak Dhuwur hanya berjarak 350 meter dari stasiun. Jalan kaki santai kira-kira memakan waktu 4-5 menit.

Jl. Tanjung padat sekali oleh kendaraan siang itu. Ketika lampu merah di perempatan Jl. Pemuda menyala, antrian kendaraan mengular hingga sekitaran warung Pak Dhuwur. Berita baiknya, karena semua kendaraan berhenti saya bisa dengan mudah menyeberang jalan dari Kantor PLN.

Warung Mie Kopyok Pak Dhuwur sangat sederhana. Menempati sepetak tanah yang tak begitu luas, saya tebak sekitar 2x6 meter, di bagian depan terdapat gerobak biru tempat meracik mi kopyok. Di sebelah timur gerobak terdapat meja kasir, sedangkan di sebelah barat ada meja dengan tumpukan gelas, piring, beberapa container plastik ukuran besar, dan termos es.

Tempat makannya pun sangat biasa. Hanya berupa meja-meja kayu minimalis dibungkus plastik oranye dengan kursi plastik yang warnanya sudah mulai pudar. Terlihat kipas angin berdebu di sejumlah sudut ruangan untuk mengusir panasnya hawa Semarang. Sama sekali tak terbayangkan kalau warung sesederhana ini namanya harum ke mana-mana.

Saya langsung mendekati gerobak. Seorang lelaki memakai kemeja biru-putih tengah mencelup-celupkan mi ke dalam dandang panas berisi air. "Mi kopyok satu ya, Mas," saya memesan. Si Mas menjawab singkat sembari terus melanjutkan pekerjaannya.


Sederhana tapi Ramai
Pengunjung sangat ramai saat itu. Hanya ada satu meja kosong yang bisa saya pilih, meja paling depan. Sambil menunggu pesanan datang saya mengambil hape. Jam digital di monitor Asus Zenfone C menunjukkan pukul 12 kurang sedikit. Pantas saja ramai, rupanya jam makan siang.

Tak lama berselang seorang lelaki lain, tapi juga berpakaian kemeja biru-putih, datang mengantar mi pesanan saya. "Minumnya apa?" tanyanya. Saya tanpa ragu menjawab, "Es jeruk ada?" Mas tadi mengangguk, kemudian berlalu.

Seperti warungnya yang sederhana, mi kopyoknya pun sangat minimalis. Makanan ini merupakan campuran mi basah yang terlebih dahulu direbus, potongan-potongan tahu goreng, irisan lontong, remukan kerupuk gendar, tauge, ditambah bawang goreng dan irisan daun seledri sebagai topping. Kemudian disiram kuah berwarna kecoklatan.

Rasanya? Yang pertama-tama saya cicipi kuahnya. Di lidah saya rasa kuahnya dominan gurih, mungkin karena ada campuran kacangnya, juga sedikit rasa getir bawang putih. Perpaduan rasa yang agak aneh bagi selera saya.

Saya belum berhasil menemukan di mana sedapnya mi kopyok ini pada 1-2 suapan pertama. Tapi setelah menambahkan saus cabe, kecap, serta air bawang putih dalam botol yang tersedia di masing-masing meja, barulah enaknya lebih terasa.

Minya lembut kenyal, kerupuk yang basah terkena kuah menghadirkan rasa khas, sedangkan taugenya yang setengah matang memberi kesan segar. Krenyes-krenyes di mulut. Kita bisa minta tambahan kerupuk, tahu, dan lontong jika porsi yang disajikan masih terasa kurang mengenyangkan.

Kalau untuk ukuran perut saya sih seporsi mi kopyok sangat jauh dari kata mengenyangkan. Setidaknya saya musti pesan dua porsi, atau satu porsi tapi minta tambah lontong 2-3 buah baru bisa kenyang. Hehehe.


Tanpa Campuran Daging
Yang khas dari Mie Kopyok Pak Dhuwur adalah makanan ini murni dari bahan-bahan nabati. Tak ada unsur daging sedikit pun dalam hidangan maupun resepnya. Kuahnya yang biasa disebut kuah kaldu pun tidak dibuat dari kaldu daging, melainkan bumbu kacang dengan campuran rempah-rempah tertentu. Jadi, benar-benar zero meat.

Nama mi kopyok sendiri diambil dari cara pembuatannya, di mana mi dicelupkan berulang kali ke dalam air panas sembari sesekali digoyangkan, dikocok-kocok. Kata kopyok dalam bahasa Jawa berarti "kocok". Sedangkan Pak Dhuwur adalah nama panggilan Pak Harso Dinomo yang pertama kali menjajakan mi kopyok keliling kampung di tahun 1970-an.

Bertahun-tahun berjualan keliling, di tahun 1980-an Pak Harso alias Pak Dhuwur membuka warung tetap di Jl. Tanjung yang hingga sekarang terus bertahan. Usaha ini kemudian diteruskan oleh anaknya yang bernama Ali. Sayangnya saya tidak bertemu dengan beliau untuk menanyakan beberapa hal.

Seiring dengan meningkatnya popularitas, Pak Dhuwur melebarkan sayap dengan membuka dua cabang di Semarang. Satu di Jl. Kyai Saleh yang dikelola adiknya (Pak Marno Suwito), satu lagi di dekat Carrefour Srondol, Banyumanik. Ibu kota pun ikut dirambah dengan dua cabang di depan kantor Walikota Jakarta Timur dan kawasan Pulau Gebang.

Sebagai catatan terakhir, menurut saya mi kopyok tidak cocok dijadikan menu makan siang. Kurang mengenyangkan karena memang sumber karbohidratnya minim. Hanya setangkup kecil mi basah dan beberapa potong lontong. Makanan ini lebih pas sebagai menu selingan saja, bukan makanan utama (main course). Tapi ini menurut ukuran perut saya ya. Hehehe.

Oya, saya lupa bertanya berapa harga mi kopyok Pak Dhuwur. Yang jelas saya ditagih Rp17.000,- oleh kasir untuk satu porsi mi kopyok ditambah es jeruk.

Mie Kopyok Pak Dhuwur Semarang
Jl. Tanjung No. 18A, Sekayu
Semarang Tengah, Kota Semarang

Telepon: +62 856-4137-2758
Twitter: @pakdhuwur_smg
Jam Buka: 08.00-16.00 WIB


Referensi lain tentang Mi Kopyok Pak Dhuwur:
- http://jateng.tribunnews.com/2016/01/19/sensasi-krenyes-dan-segarnya-kuah-mi-kopyok-pak-dhuwur-semarang
- http://travel.kompas.com/read/2016/12/16/070300327/mi.kopyok.pak.dhuwur.kuliner.favorit.di.kota.semarang


SAYA sudah "akrab" dengan Jl. Tanjung di Semarang setidaknya sejak 2011. Namun baru awal Maret ini, alias ENAM TAHUN berselang, saya ngeh kalau di jalan tersebut ada satu spot kuliner legendaris. Ya, warung Mie Kopyok Pak Dhuwur yang terletak persis di seberang Kantor PLN Kota Semarang.

Kita mundur dulu ke Jumat, 11 Maret 2011. Hari itu untuk pertama kalinya saya ke Semarang dari Pemalang. Pertama kali pula ke Semarang naik kereta api. Adalah panggilan wawancara dari Suara Merdeka CyberNews yang membawa langkah saya ke ibukota Jawa Tengah waktu itu.

Baca juga: Sehari di Semarang

Semenjak itu saya lebih suka naik kereta api ke Semarang. Terlebih layanan PT KAI semakin membaik. Tak ada lagi cerita penumpang berdiri, seperti yang saya alami enam tahun lalu sepulang dari wawancara di Suara Merdeka. Kereta molor pun hanya hitungan beberapa menit. Tidak seperti Kaligung Ekspres yang molor sampai satu jam di tahun 2011 itu.

Jadi, biasanya begitu turun di Stasiun Semarang Poncol saya lalu berjalan kaki ke selatan. Baik lewat pintu keluar barat maupun timur, setelah menyeberangi Jl. Imam Bonjol saya pun asyik berjalan kaki menyusuri Jl. Tanjung. Tergantung tujuan, begitu sampai di lampu merah Jl. Pemuda saya naik angkot, ojek, atau (sejak medio 2016) memesan Go-Jek.

Sekian tahun melintasi Jl. Tanjung yang tercatat dalam memori saya hanya Kedai Beringin di pojok lampu merah, dan warung makan di pertigaan Jl. Ade Irma Suryani. Saya ingat Kedai Beringin karena memang mencolok. Begitu keluar area stasiun dari pintu barat, restoran inilah yang pertama terlihat mata. Sedangkan warung makan tadi saya ingat-ingat karena biasa mampir di sana kalau tak sempat sarapan di Pemalang.

Entah kenapa dulu saya tidak mengenali Mie Kopyok Pak Dhuwur. Lebih tepatnya saya tidak tahu kalau warung tersebut merupakan tempat kuliner kondang. Pasalnya warung itu terlihat biasa saja, sama seperti warung-warung lain di dekatnya. Sama sekali tak mengesankan sebagai spot icip-icip yang wajib didatangi wisatawan.

Tapi memang pernah sih saya dibuat heran oleh suasana di warung tersebut. Dibanding warung-warung lain yang ada di sana, Mie Kopyok Pak Dhuwur terlihat selalu ramai pengunjung. Lalu di sepanjang jalan dekat warung berjejer mobil-mobil, yang belakangan baru saya tahu kalau itu tunggangan konsumen Mie Kopyok Pak Dhuwur.

Kok baru tahu kemana aja, Mas? Hahahaha.


Dekat Stasiun Poncol
Nah, tanggal 4-5 Maret lalu saya ada acara di Impala Space, Kawasan Kota Lama Semarang. Ketimbang bolak-balik ke Pemalang, saya pilih menginap semalam di Airy Rooms Miroto Seteran. Seperti biasa, sebelum mengunjungi suatu tempat saya biasanya memelototi Google Maps. Sekedar menghapalkan jalan sekaligus mencari tempat-tempat yang sekiranya menarik didatangi.

Saat membuka Google Maps itulah saya melihat nama Mie Kopyok Pak Dhuwur. Penasaran, saya lihat-lihat beberapa foto kiriman kawan-kawan Local Guide di sana. Review demi review di laman tersebut saya baca, dan barulah saya paham ini warung legendaris. "Harus dicoba nih!" Batin saya waktu itu.

Begitulah. Begitu turun dari kereta Kaligung saya langsung keluar Stasiun Semarang Poncol, dan berjalan kaki ke selatan menyusuri Jl. Tanjung. Menurut Google Maps, warung Pak Dhuwur hanya berjarak 350 meter dari stasiun. Jalan kaki santai kira-kira memakan waktu 4-5 menit.

Jl. Tanjung padat sekali oleh kendaraan siang itu. Ketika lampu merah di perempatan Jl. Pemuda menyala, antrian kendaraan mengular hingga sekitaran warung Pak Dhuwur. Berita baiknya, karena semua kendaraan berhenti saya bisa dengan mudah menyeberang jalan dari Kantor PLN.

Warung Mie Kopyok Pak Dhuwur sangat sederhana. Menempati sepetak tanah yang tak begitu luas, saya tebak sekitar 2x6 meter, di bagian depan terdapat gerobak biru tempat meracik mi kopyok. Di sebelah timur gerobak terdapat meja kasir, sedangkan di sebelah barat ada meja dengan tumpukan gelas, piring, beberapa container plastik ukuran besar, dan termos es.

Tempat makannya pun sangat biasa. Hanya berupa meja-meja kayu minimalis dibungkus plastik oranye dengan kursi plastik yang warnanya sudah mulai pudar. Terlihat kipas angin berdebu di sejumlah sudut ruangan untuk mengusir panasnya hawa Semarang. Sama sekali tak terbayangkan kalau warung sesederhana ini namanya harum ke mana-mana.

Saya langsung mendekati gerobak. Seorang lelaki memakai kemeja biru-putih tengah mencelup-celupkan mi ke dalam dandang panas berisi air. "Mi kopyok satu ya, Mas," saya memesan. Si Mas menjawab singkat sembari terus melanjutkan pekerjaannya.


Sederhana tapi Ramai
Pengunjung sangat ramai saat itu. Hanya ada satu meja kosong yang bisa saya pilih, meja paling depan. Sambil menunggu pesanan datang saya mengambil hape. Jam digital di monitor Asus Zenfone C menunjukkan pukul 12 kurang sedikit. Pantas saja ramai, rupanya jam makan siang.

Tak lama berselang seorang lelaki lain, tapi juga berpakaian kemeja biru-putih, datang mengantar mi pesanan saya. "Minumnya apa?" tanyanya. Saya tanpa ragu menjawab, "Es jeruk ada?" Mas tadi mengangguk, kemudian berlalu.

Seperti warungnya yang sederhana, mi kopyoknya pun sangat minimalis. Makanan ini merupakan campuran mi basah yang terlebih dahulu direbus, potongan-potongan tahu goreng, irisan lontong, remukan kerupuk gendar, tauge, ditambah bawang goreng dan irisan daun seledri sebagai topping. Kemudian disiram kuah berwarna kecoklatan.

Rasanya? Yang pertama-tama saya cicipi kuahnya. Di lidah saya rasa kuahnya dominan gurih, mungkin karena ada campuran kacangnya, juga sedikit rasa getir bawang putih. Perpaduan rasa yang agak aneh bagi selera saya.

Saya belum berhasil menemukan di mana sedapnya mi kopyok ini pada 1-2 suapan pertama. Tapi setelah menambahkan saus cabe, kecap, serta air bawang putih dalam botol yang tersedia di masing-masing meja, barulah enaknya lebih terasa.

Minya lembut kenyal, kerupuk yang basah terkena kuah menghadirkan rasa khas, sedangkan taugenya yang setengah matang memberi kesan segar. Krenyes-krenyes di mulut. Kita bisa minta tambahan kerupuk, tahu, dan lontong jika porsi yang disajikan masih terasa kurang mengenyangkan.

Kalau untuk ukuran perut saya sih seporsi mi kopyok sangat jauh dari kata mengenyangkan. Setidaknya saya musti pesan dua porsi, atau satu porsi tapi minta tambah lontong 2-3 buah baru bisa kenyang. Hehehe.


Tanpa Campuran Daging
Yang khas dari Mie Kopyok Pak Dhuwur adalah makanan ini murni dari bahan-bahan nabati. Tak ada unsur daging sedikit pun dalam hidangan maupun resepnya. Kuahnya yang biasa disebut kuah kaldu pun tidak dibuat dari kaldu daging, melainkan bumbu kacang dengan campuran rempah-rempah tertentu. Jadi, benar-benar zero meat.

Nama mi kopyok sendiri diambil dari cara pembuatannya, di mana mi dicelupkan berulang kali ke dalam air panas sembari sesekali digoyangkan, dikocok-kocok. Kata kopyok dalam bahasa Jawa berarti "kocok". Sedangkan Pak Dhuwur adalah nama panggilan Pak Harso Dinomo yang pertama kali menjajakan mi kopyok keliling kampung di tahun 1970-an.

Bertahun-tahun berjualan keliling, di tahun 1980-an Pak Harso alias Pak Dhuwur membuka warung tetap di Jl. Tanjung yang hingga sekarang terus bertahan. Usaha ini kemudian diteruskan oleh anaknya yang bernama Ali. Sayangnya saya tidak bertemu dengan beliau untuk menanyakan beberapa hal.

Seiring dengan meningkatnya popularitas, Pak Dhuwur melebarkan sayap dengan membuka dua cabang di Semarang. Satu di Jl. Kyai Saleh yang dikelola adiknya (Pak Marno Suwito), satu lagi di dekat Carrefour Srondol, Banyumanik. Ibu kota pun ikut dirambah dengan dua cabang di depan kantor Walikota Jakarta Timur dan kawasan Pulau Gebang.

Sebagai catatan terakhir, menurut saya mi kopyok tidak cocok dijadikan menu makan siang. Kurang mengenyangkan karena memang sumber karbohidratnya minim. Hanya setangkup kecil mi basah dan beberapa potong lontong. Makanan ini lebih pas sebagai menu selingan saja, bukan makanan utama (main course). Tapi ini menurut ukuran perut saya ya. Hehehe.

Oya, saya lupa bertanya berapa harga mi kopyok Pak Dhuwur. Yang jelas saya ditagih Rp17.000,- oleh kasir untuk satu porsi mi kopyok ditambah es jeruk.

Mie Kopyok Pak Dhuwur Semarang
Jl. Tanjung No. 18A, Sekayu
Semarang Tengah, Kota Semarang

Telepon: +62 856-4137-2758
Twitter: @pakdhuwur_smg
Jam Buka: 08.00-16.00 WIB


Referensi lain tentang Mi Kopyok Pak Dhuwur:
- http://jateng.tribunnews.com/2016/01/19/sensasi-krenyes-dan-segarnya-kuah-mi-kopyok-pak-dhuwur-semarang
- http://travel.kompas.com/read/2016/12/16/070300327/mi.kopyok.pak.dhuwur.kuliner.favorit.di.kota.semarang

Selasa, 07 Maret 2017


MAU berlibur seru di sebuah tempat sejuk jauh dari ibukota? Kota Malang bisa jadi rencana yang mengasyikkan. Hawa kotanya yang sejuk dapat mengistirahatkan jiwa kita dari kesibukan rutin nan melelahkan. Apalagi, harga-harga di Malang relatif lebih murah dari kota-kota besar seperti Jakarta. Budget liburan pun jadi sangat hemat.

Malang tak cuma punya agrowisata apel lho. Di kota ini juga ada destinasi wisata yang seru dan menghibur, tidak kalah dari Jakarta. Bagi yang sudah berkeluarga, tempat ini sangat cocok dikunjungi bersama anak-anak. Yup, yang saya maksud Jawa Timur Park 1.

Hmm, ini tempat yang sudah lama ingin didatangi anak-anak saya. Mereka penasaran sekali dengan Museum Tubuh yang ada dalam kompleks taman wisata ini. Kalau tidak ada halangan dan semuanya memungkinkan, insya Allah kami sekeluarga berkunjung ke sana dalam tahun 2017 ini.

Bagi pengunjung dewasa, ada banyak sekali wahana seru dan agak ekstrem di tempat ini. Yuk, pacu adrenalinmu dengan menaiki berbagai wahana di Jatim Park 1 Malang.

Baca juga: Dua Kenangan Singkat di Malang: Cafe Bale Barong dan Rombengan Malam

Ragam Cara Menuju Jatim Park 1
Jatim Park 1 terletak di kota wisata Batu. Jaraknya kira-kira 19 km dari Stasiun Malang. Jauh? Jangan khawatir, kita dapat dengan mudah mengaksesnya baik menggunakan kendaraan pribadi maupun menumpang angkutan umum. Kalau naik kendaraan pribadi, gunakan saja Google Maps untuk memandumu ke Jatim Park 1.

Cara termudah tentu saja naik taksi, tapi biayanya lumayan. Cara terhemat adalah naik angkutan umum. Tarifnya sangat terjangkau, cukup mengeluarkan ongkos Rp3.000. Jauh atau dekat tarifnya sama saja!

Dari Stasiun Malang naiklah angkot berkode AL atau ADL, lalu turun di Terminal Landung. Dari sini, lanjutkan perjalanan menuju Jatim Park 1 dengan menggunakan angkot berkode BL atau BTL. Berita buruknya, angkutan umum tidak beroperasi sampai malam. Jadi, kita harus menyudahi rekreasi sebelum jam lima sore agar dapat kembali ke Kota Malang.


Temukan Keceriaan bagai Dunia Fantasi di Jatim Park 1
Keberadaan Jatim Park 1 di Malang membuat warga Jawa Timur tidak perlu jauh-jauh pergi ke Jakarta untuk menikmati sensasi menegangkan namun seru ala Dunia Fantasi. Kita dapat menjajal berbagai wahana serupa Dufan di Jatim Park 1. Tidak main-main, terdapat lebih dari 50 wahana yang siap kita nikmati.

Berikut 5 paling ekstrem di Jatim Park 1 yang bisa jadi pilihan:

1. Super Loop Coaster
Rasakan sensasi permainan roller coaster ekstrem ini dengan mengunjungi Jatim Park 1. Bersiaplah, karena lintasan melingkarnya yang panjang akan membuatmu jungkir balik hingga 360 derajat. Kepala di bawah!

2. Spinning Coaster
Coaster yang berliku-liku ini bakal mempermainkan jantungmu, jadi siap-siap dag-dig-dug ria saat menaikinya. Terlebih, tidak seperti Super Loop Coaster, kereta pada Spinning Coaster hanya berupa kereta tunggal dengan kapasitas maksimal dua orang.

3.Volcano Coaster
Sesuai namanya, wahana ini mengajak kita merasakan sensasi menembus 'gunung berapi' dalam sebuah kereta tunggal. Di sini kita akan diuji seberapa tahan merasakan ketegangan laju yang kencang dalam gelapnya 'gunung berapi'.

4. Pendulum 360
Pernah bermain pendulum sewaktu kecil? Melihat bandul yang berayun ke kiri dan ke kanan memang terasa menyenangkan. Pernahkah membayangkan duduk di bandul pendulum dan tubuh kita berayun bolak-balik? Bagaimana pula rasanya jika pendulum tersebut berayun memutar sampai 360 derajat?

Temukan jawabannya dengan menaiki wahana ini.

5. Flying Tornado
Jika Pendulum 360 membuat kita berayun hingga 360 derajat, wahana Flying Tornado punya cara berbeda untuk menguji ketahanan. Kita tidak akan dibawa ke mana pun, juga tidak berayun-ayun atau berputar, tetapi tempat duduk kita yang dijungkir-balikkan!

6. Aero Test
Jika Pendulum 360 dan Flying Tornado masih kurang menantang, cobalah Aero Test. Wahana ini boleh dibilang merupakan gabungan Pendulum 360 dan Flying Tornado. Bayangkan!

Setelah mengambil tempat kita akan diayun-ayun, kemudian dijungkirbalikkan. Bukan hanya itu, teman duduk kita pun jauh lebih sedikit dibanding dua wahana sebelumnya. Dijamin menegangkan.

7. Air Borne Shot
Habis bertegang-tegang ria, redakan sejenak adrenalin dengan menaiki Air Borne Shot. Di wahana ini kita bagaikan melihat atraksi apel Newton saat teori gravitasi dicetuskan. Oya, wahana ini cukup aman untuk anak-anak lho.


Gimana, kelihatannya seru, bukan?

Yang pasti, kita butuh waktu lebih dari sehari untuk menikmati semua wahana di Jatim Park 1 yang seluas 11 hektar ini. Jadi, kita butuh penginapan agar liburan ke tempat ini terasa lebih memuaskan. Soal akomodasi, pastikan pilih hotel nyaman dengan harga bersahabat. Rekomendasi terbaiknya? Saya sarankan Airy Rooms.

Sudah sering mendengar nama ini, bukan? Airy Rooms menawarkan berbagai akomodasi nyaman dengan fasilitas standar hotel, tapi harganya sangat ramah kantong. Pilihan rate kamarnya mulai dari Rp150.000-an lho.

Meskipun tergolong hotel murah, namun kita tidak akan memperoleh hotel murahan dengan fasilitas seadanya di Airy Rooms. Pendingin ruangan (AC), tempat tidur yang bersih, air minum gratis, perlengkapan mandi, televisi layar datar, pancuran air hangat, serta fasilitas internet nirkabel (wifi), semuanya dijamin ada dalam hotel-hotel Airy Rooms.

Tunggu apa lagi? Yuk, rencanakan liburan impian ke Jatim Park 1 Malang dengan Airy!

Klik di sini untuk memesan Airy Rooms dan dapatkan diskon Rp100.000.

Kredit Foto:
Foto 1-3: www.jawatimurpark.com
Foto 4: www.airyrooms.com



MAU berlibur seru di sebuah tempat sejuk jauh dari ibukota? Kota Malang bisa jadi rencana yang mengasyikkan. Hawa kotanya yang sejuk dapat mengistirahatkan jiwa kita dari kesibukan rutin nan melelahkan. Apalagi, harga-harga di Malang relatif lebih murah dari kota-kota besar seperti Jakarta. Budget liburan pun jadi sangat hemat.

Malang tak cuma punya agrowisata apel lho. Di kota ini juga ada destinasi wisata yang seru dan menghibur, tidak kalah dari Jakarta. Bagi yang sudah berkeluarga, tempat ini sangat cocok dikunjungi bersama anak-anak. Yup, yang saya maksud Jawa Timur Park 1.

Hmm, ini tempat yang sudah lama ingin didatangi anak-anak saya. Mereka penasaran sekali dengan Museum Tubuh yang ada dalam kompleks taman wisata ini. Kalau tidak ada halangan dan semuanya memungkinkan, insya Allah kami sekeluarga berkunjung ke sana dalam tahun 2017 ini.

Bagi pengunjung dewasa, ada banyak sekali wahana seru dan agak ekstrem di tempat ini. Yuk, pacu adrenalinmu dengan menaiki berbagai wahana di Jatim Park 1 Malang.

Baca juga: Dua Kenangan Singkat di Malang: Cafe Bale Barong dan Rombengan Malam

Ragam Cara Menuju Jatim Park 1
Jatim Park 1 terletak di kota wisata Batu. Jaraknya kira-kira 19 km dari Stasiun Malang. Jauh? Jangan khawatir, kita dapat dengan mudah mengaksesnya baik menggunakan kendaraan pribadi maupun menumpang angkutan umum. Kalau naik kendaraan pribadi, gunakan saja Google Maps untuk memandumu ke Jatim Park 1.

Cara termudah tentu saja naik taksi, tapi biayanya lumayan. Cara terhemat adalah naik angkutan umum. Tarifnya sangat terjangkau, cukup mengeluarkan ongkos Rp3.000. Jauh atau dekat tarifnya sama saja!

Dari Stasiun Malang naiklah angkot berkode AL atau ADL, lalu turun di Terminal Landung. Dari sini, lanjutkan perjalanan menuju Jatim Park 1 dengan menggunakan angkot berkode BL atau BTL. Berita buruknya, angkutan umum tidak beroperasi sampai malam. Jadi, kita harus menyudahi rekreasi sebelum jam lima sore agar dapat kembali ke Kota Malang.


Temukan Keceriaan bagai Dunia Fantasi di Jatim Park 1
Keberadaan Jatim Park 1 di Malang membuat warga Jawa Timur tidak perlu jauh-jauh pergi ke Jakarta untuk menikmati sensasi menegangkan namun seru ala Dunia Fantasi. Kita dapat menjajal berbagai wahana serupa Dufan di Jatim Park 1. Tidak main-main, terdapat lebih dari 50 wahana yang siap kita nikmati.

Berikut 5 paling ekstrem di Jatim Park 1 yang bisa jadi pilihan:

1. Super Loop Coaster
Rasakan sensasi permainan roller coaster ekstrem ini dengan mengunjungi Jatim Park 1. Bersiaplah, karena lintasan melingkarnya yang panjang akan membuatmu jungkir balik hingga 360 derajat. Kepala di bawah!

2. Spinning Coaster
Coaster yang berliku-liku ini bakal mempermainkan jantungmu, jadi siap-siap dag-dig-dug ria saat menaikinya. Terlebih, tidak seperti Super Loop Coaster, kereta pada Spinning Coaster hanya berupa kereta tunggal dengan kapasitas maksimal dua orang.

3.Volcano Coaster
Sesuai namanya, wahana ini mengajak kita merasakan sensasi menembus 'gunung berapi' dalam sebuah kereta tunggal. Di sini kita akan diuji seberapa tahan merasakan ketegangan laju yang kencang dalam gelapnya 'gunung berapi'.

4. Pendulum 360
Pernah bermain pendulum sewaktu kecil? Melihat bandul yang berayun ke kiri dan ke kanan memang terasa menyenangkan. Pernahkah membayangkan duduk di bandul pendulum dan tubuh kita berayun bolak-balik? Bagaimana pula rasanya jika pendulum tersebut berayun memutar sampai 360 derajat?

Temukan jawabannya dengan menaiki wahana ini.

5. Flying Tornado
Jika Pendulum 360 membuat kita berayun hingga 360 derajat, wahana Flying Tornado punya cara berbeda untuk menguji ketahanan. Kita tidak akan dibawa ke mana pun, juga tidak berayun-ayun atau berputar, tetapi tempat duduk kita yang dijungkir-balikkan!

6. Aero Test
Jika Pendulum 360 dan Flying Tornado masih kurang menantang, cobalah Aero Test. Wahana ini boleh dibilang merupakan gabungan Pendulum 360 dan Flying Tornado. Bayangkan!

Setelah mengambil tempat kita akan diayun-ayun, kemudian dijungkirbalikkan. Bukan hanya itu, teman duduk kita pun jauh lebih sedikit dibanding dua wahana sebelumnya. Dijamin menegangkan.

7. Air Borne Shot
Habis bertegang-tegang ria, redakan sejenak adrenalin dengan menaiki Air Borne Shot. Di wahana ini kita bagaikan melihat atraksi apel Newton saat teori gravitasi dicetuskan. Oya, wahana ini cukup aman untuk anak-anak lho.


Gimana, kelihatannya seru, bukan?

Yang pasti, kita butuh waktu lebih dari sehari untuk menikmati semua wahana di Jatim Park 1 yang seluas 11 hektar ini. Jadi, kita butuh penginapan agar liburan ke tempat ini terasa lebih memuaskan. Soal akomodasi, pastikan pilih hotel nyaman dengan harga bersahabat. Rekomendasi terbaiknya? Saya sarankan Airy Rooms.

Sudah sering mendengar nama ini, bukan? Airy Rooms menawarkan berbagai akomodasi nyaman dengan fasilitas standar hotel, tapi harganya sangat ramah kantong. Pilihan rate kamarnya mulai dari Rp150.000-an lho.

Meskipun tergolong hotel murah, namun kita tidak akan memperoleh hotel murahan dengan fasilitas seadanya di Airy Rooms. Pendingin ruangan (AC), tempat tidur yang bersih, air minum gratis, perlengkapan mandi, televisi layar datar, pancuran air hangat, serta fasilitas internet nirkabel (wifi), semuanya dijamin ada dalam hotel-hotel Airy Rooms.

Tunggu apa lagi? Yuk, rencanakan liburan impian ke Jatim Park 1 Malang dengan Airy!

Klik di sini untuk memesan Airy Rooms dan dapatkan diskon Rp100.000.

Kredit Foto:
Foto 1-3: www.jawatimurpark.com
Foto 4: www.airyrooms.com


Jumat, 03 Maret 2017


LAHIR dan tumbuh besar di Palembang, saya memiliki ikatan emosional kuat dengan kota satu ini. Selalu ada harapan untuk bisa kembali lagi ke sana. Bukan cuma perkara nostalgia nan sentimentil, namun juga karena kangen berat dengan makanan-makanan khasnya yang menggugah selera, terutama pempek.

Sewaktu kecil saya sangat terbiasa dengan teriakan, "Piyoo, piyooo, pempek..." Yang berteriak seorang anak seusia saya, berjalan dengan wadah besar di atas kepala yang dipegang dengan satu tangan. Sepanjang jalan ia berteriak begitu, dan cuma berhenti kalau sedang melayani pembeli.

Eh, ternyata kemudian saya juga jadi penjual pempek seperti itu lho. Ceritanya kondisi ekonomi keluarga Bapak-Ibu morat-marit. Bapak merantau jauh ke Jambi mencari penghidupan baru, sedangkan Ibu berusaha bertahan di Palembang dengan berbagai cara. Salah satunya mengajak kami berjualan pempek!

Yang terlibat dalam proyek jualan pempek ini Ibu, saya, dan adik perempuan. Saya kelas IV SD, adik saya kelas I. Adik satu lagi tidak dilibatkan karena masih terlalu kecil. Kami berbagi tugas. Ibu yang membuat pempek, cuka, dan menyiapkan dagangan beserta seluruh peralatannya; saya dan adik perempuan bertugas menjaga dagangan.

Namanya saja anak-anak, karena iseng sembari berjaga saya sering mencemil pempek yang dijual. Apalagi pempek buatan Ibu enak sekali. Sayang kan kalau tidak dinikmati sendiri? Hehehe. Saat Ibu tahu, dengan sabar beliau menasehati, "Kalau dagangannya dimakan sendiri, nanti kita nggak dapat uang buat sangu sekolah."

Itu pengalaman pertama saya berjualan. Pengalaman yang tak akan pernah terlupakan. Karenanya jangan heran kalau ada bonding kuat sekali antara saya dan pempek, juga tentu saja Palembang. Setiap kali melihat orang berjualan pempek, ingatan saya langsung terlempar ke masa-masa itu.


Kota Pempek
Pempek memang identik dengan Palembang. Kalau kota ini disebut, pasti orang langsung membayangkan pempek. Bersama-sama Jembatan Ampera dan Sungai Musi, pempek boleh dibilang merupakan ikon Palembang.

Sekalipun makanan khas Palembang bukan cuma pempek, tapi oleh-oleh yang dibawa pulang pelancong biasanya ya pempek. Contohnya sewaktu saya "mudik" ke Palembang, Mei tahun lalu. Sepulang dari tur dua hari dua malam atas sponsor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan itu saya diberi satu dus oleh-oleh. Ya, isinya pempek!

Baca juga: Jadi Turis di Kota Kelahiran Sendiri

Padahal selama di sana saya sudah puas sekali disuguhi pempek. Selain pempek jamuan Disparbud, saya juga sempat mencomot beberapa potong pempek di stand makanan daerah dalam acara penutupan International Musi Triboatton 2016. Entah berapa potong, yang jelas saya sampai merasa harus tersenyum sopan pada ayuk-ayuk penjaga stand setiap kali mengambil pempek lagi. :)

Selepas acara saya tidak langsung pulang ke Jawa. Saya extend beberapa hari untuk mengunjungi kerabat di Perum Bank Sumsel-Babel, Kenten Laut, dan ziarah ke makam nenek di Lebong Siareng. Di kesempatan ini saya mencicipi beberapa pempek pinggir jalan, termasuk pempek di gang dekat bekas rumah kelahiran saya.

Di sini pempek murah-murah sekali, cuma Rp1.000 sebuah. Walaupun pempek pinggir jalan tapi rasanya tak kalah dengan pempek bermerek. Pokoknya rasa ikan semua. Kemudian cuko-nya asam-pedasnya super. Pertama kali dicecap lidah rasanya segar, tapi begitu masuk ke kerongkongan pedasnya menyengat.

Di Pemalang, dengan harga yang sama saya cuma bisa dapat pempek rasa tepung dan garam. Cuko-nya pun hambar. Wajar kalau sewaktu di sana saya kalap bukan main sama pempek.

Pempek Pak Raden
Ada banyak pempek ternama di Palembang. Sebut saja Pempek Candy yang paling sering dibawa sebagai oleh-oleh pelancong. Masih ada Pempek EK yang harganya wow, Pempek Beringin yang tercantum di web resmi Pemkot Palembang, Pempek Nony, Pempek Vico, Pempek Saga Sudi Mampir, Pempek Lince, Pempek Leni, Pempek Wawa, dan beberapa nama lainnya.

Saya dan teman-teman blogger yang menghadiri Musi Triboatton 2016 dioleh-olehi Pempek Tince. Namun kalau bicara legenda pempek, hanya satu yang layak disebut: Pempek Pak Raden. Dan beruntung sekali saya sempat diajak mampir ke warung pempek legendaris ini saat berada di Palembang.


Berlokasi di Jl. Radial No. 80A, Pempek Pak Raden dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari Palembang Sport and Convention Center (PSCC) atau Palembang Icon. Tetamu yang menginap di Hotel Arista, Hotel Sanjaya, atau Hotel Azza (Aziza Inn) bisa mencapainya dalam waktu 5-10 menit saja berjalan kaki.

Pempek Pak Raden dikenal sebagai pempek milik orang Palembang asli, yakni Bapak Ahmad Rivai Husein. Menurut cerita dari mulut ke mulut, Pak Ahmad Rivai mulai berjualan pempek dengan menjajakan keliling kampung-kampung. Lalu beliau mencoba membuka warung pempek di daerah Bukit Kecil, kawasan 24 Ilir.

Saya tak tahu kenapa Pak Ahmad menamai warungnya Pempek Pak Raden, bukannya Pempek Pak Ahmad atau Pempek Pak Rivai. Bisa jadi karena di masa beliau merintis usaha, serial Si Unyil tengah booming di TVRI. Seperti kita ketahui bersama, salah satu tokoh penting dalam serial tersebut adalah Pak Raden.

Rupanya usaha Pak Ahmad maju pesat. Bekerja sama dengan kerabat-kerabatnya, beliau kemudian membuka beberapa cabang di seantero Kota Palembang. Kemudian merambah ke kota-kota tetangga - Jambi dan Lampung, sampai eskpansi ke luar pulau. Pulau Jawa.

Kini, kita bisa dengan mudah menemui gerai Pempek Pak Raden di Bandung atau Jakarta. Dengan konsep mirip franchise, rasa pempek dan cuko di gerai-gerai Pak Raden manapun dijamin sama seperti yang ada di Jl. Radial. Untuk menjaga keseragaman rasa, tiap-tiap gerai memakai resep yang sama persis dengan yang di Palembang.

Ikan yang jadi bahan baku pembuatan pempek juga didatangkan langsung dari Palembang dalam bentuk daging giling beku. Demikian pula dengan kerupuk ikan dan gula merah untuk campuran cuko. Malah di sejumlah gerai kebanyakan karyawan berasal dari Palembang. Wong kito galo biar lemak komunikasinyo. Iyo dak? :D

Semua itu dilakukan agar cita rasa pempek dan cuko di gerai-gerai Pempek Pak Raden seragam, tak berbeda sedikit pun. Jadi, mau makan di manapun rasanya ya sama saja. Sama-sama serasa menikmatinya langsung di Palembang.


Mengabadikan Pempek dengan ZenFone
Saya dan teman-teman blogger Musi Triboatton 2016 diajak ke Pempek Pak Raden saat jam makan siang. What? Makan siang pake pempek? Payo woy, mada'i makan siang be nak pempek nian. Katek yang lain apo? Batin saya waktu itu.

Rupanya saya salah. Sekalipun restoran pempek, Pak Raden menyediakan banyak sekali menu lain. Lalu pelayan pun datang membawa nasi, pindang ikan yang disajikan dengan kompor kecil agar tetap panas, cah kangkung, ikan goreng, lalapan plus sambal tiga macam, bertusuk-tusuk sate, dan aneka macam jus buah segar.

Selesai? Belum. Setelah makanan kami habis, pelayan datang lagi dengan dua piring besar berisi pempek aneka macam. Oke, ini yang ditunggu-tunggu! Tak menunggu lama saya langsung mengambil dua potong pempek, meletakkannya ke dalam mangkok kecil yang telah disiapkan, dan terakhir menyiram cuko.

Yang pertama saya cicipi adalah pempek adaan, pempek kecil-kecil berbentuk bulat tanpa isi. Rasanya? Yummy! Sudah lama sekali saya tidak mencecap pempek yang rasa ikannya semenggigit ini. Juga asam pedas cuko-nya yang tak bisa ditandingi oleh penjual-penjual pempek di Pemalang.

Pempek adaan habis, saya lanjutkan dengan pempek telur. Ini pempek favorit saya sejak kecil. Dulu sewaktu berjualan pempek, pempek inilah yang dibuat Ibu. Untuk menekan harga, Ibu mengakali isian telur dengan menambahkan air. Jadi, 1-2 butir telur dicampur air dan sedikit tepung, lalu dikocok rata.

Tentu saja pempek telur buatan Pak Raden tidak pakai trik begitu. Rasa telurnya sangat otentik, pertanda tanpa campuran apapun. Tak cuma dicocolkan, saya meminum cuko di mangkok. Ngirup cuko, kata orang Palembang. Beginilah cara menikmati pempek ala orang Palembang.


Diselingi mengobrol dengan Ibu Kadisbudpar Sumsel dan asistennya, satu demi satu pempek di piring tandas kami lahap. Dan sepertinya saya yang paling banyak memakannya. Mbak Katerina dan Mbak Relinda hanya mencicipi 1-2 buah lalu kekenyangan.

Melihat ini Mbak Ira, pendamping kami selama di Palembang, mengambil pempek di meja sebelah yang tidak dihabiskan dan diletakkan di meja kami. Oke, kita lanjuuut!

Tentu saja saya tak lupa mengabadikan pempek legendaris ini. Apalagi piring, mangkok, wadah cuko, dan bahkan tempat tusuk giginya bertuliskan "Pempek Pak Raden" semua. Jadi ada bukti kan kalau saya benar-benar makan pempek di Pempek Pak Raden? Hehehe.

Saya pakai kamera handphone ASUS ZenFone C untuk urusan jepret-menjepret selama di Palembang. Ponsel ini saya beli tepat di hari keberangkatan menuju Kota Pempek. Dengan ponsel yang sama pula saya foto bareng pramugari berhijab saat pulang dengan pesawat Nam Air.

PixelMaster Camera untuk Foto Berkualitas
Awalnya, karena baru beli saya tidak begitu paham dengan fitur kamera pada smartphone murah meriah ini. Begitu pengen memotret, saya langsung saja arahkan kamera ke obyek dan "cekrek!" Begitu dicek kok hasilnya tidak jernih. Cenderung gelap. Apa yang salah?

Naga-naganya saya yang belum adaptasi. Asus ZenFone C memakai teknologi PixelMaster Camera yang menjamin hasil foto selalu jernih, bahkan di saat pencahayaan minim sekalipun. Ini karena PixelMaster membuat foto lebih terang 400% alias empat kali lipat.


PixelMaster adalah teknologi yang dikembangkan oleh ASUS pada kamera-kamera ZenFone. Teknologi ini menggabungkan hardware, software, dan desain optical untuk menghasilkan gambar-gambar dengan kualitas lebih baik dalam segala kondisi. Pendek kata, mau menjepret kapanpun PixelMaster membantu kita mendapatkan foto terbaik.

Saat pertama kali membuka fitur kamera pada Asus Zenfone C saya memang tampilannya terlihat gelap. Tapi coba arahkan kamera pada obyek, lalu diamkan beberapa detik. Secara otomatis kamera akan menyesuaikan pencahayaan untuk membuat foto terlihat lebih terang. Nah, kalau sudah begini baru deh tekan tombol untuk menjepret.

Masih kurang terang? Gunakan mode cahaya redup (low light mode). Yang keren, kamera dapat mendeteksi pencahayaan dan memberi saran kapan kita harus menggunakan low light mode. Kalau muncul gambar kepala burung hantu di layar, itu tandanya pencahayaan minim. Sentuh gambar kepala burung hantu tadi, dan lihat bagaimana tampilan foto jadi semakin jernih.

Sebagai penyempurna, PixelMaster Camera juga menyediakan mode HDR ( High Dinamic Range) untuk mengatasi kontras yang berlebihan. Jadi, hasil foto tetap terlihat keren sekalipun dalam kondisi minim cahaya.

Berikut video penjelasan mengenai PixelMaster di channel YouTube resmi Asus.



Ini dia 4 fitur unggulan PixelMaster yang perlu diketahui:

1. Perangkat Kamera Terbaik
Asus membenamkan hardware terbaik untuk kamera-kamera ZenFone. Contohnya ZenFone 5 yang memakai sensor Sony BSI CMOS, atau ZenFone 6 dengan sensor Panasonic BSI CMOS. Kedua sensor ini memiliki ukuran piksel 1.12µm, sama dengan milik smartphone lain yang berharga lebih mahal. Sayang tidak boleh menyebut merek hape lain di sini sebagai contoh. :)

Kemudian untuk lensanya, ZenFone 5 dan 6 memakai lensa Largan yang juga dipakai oleh satu merek high-class yang sangat diagung-agungkan hasil fotonya. Lensa lima lapis tersebut dapat menghasilkan foto lebih tajam dan lebih bersih, dengan akurasi warna lebih akurat.

Tambahan lagi, lensa dengan aperture f/2.0 tersebut membuat kamera ZenFone memiliki sensitivitas lebih dalam kondisi minim cahaya. Asus ZenFone C saya memakai lensa seperti itu.

2. Low Light Mode
Fitur Low Light Mode membantu kita mendapatkan foto-foto lebih jernih dan tajam dalam kondisi minim cahaya. Cara kerjanya tak terbayangkan, di mana teknologi PixelMaster mengombinasi berbagai piksel dan menggunakan algoritma tertentu untuk memproses gambar.

Pempek Pak Raden, Palembang. With @travelerien @relindapuspita

A post shared by Eko Nurhuda (@bungeko_) on


Untuk menghasilkan foto kualitas terbaik, PixelMaster menggabungkan empat piksel yang mirip menjadi satu. Kemudian sistem algoritmanya meningkatkan sensitivitas kamera akan cahaya hingga empat kali lipat, dan menaikkan kontras warna hingga dua kali lipat. Itu sebabnya ZenFone tetap dapat menghasilkan foto-foto jernih dan tajam sekalipun dalam kondisi minim cahaya.

3. Depth of Field Mode
Fitur satu ini membuat hasil jepretan kamera ZenFone terlihat bagai foto yang dihasilkan kamera profesional. Sesuai namanya, Depth of Field memungkinkan kita untuk mengambil foto yang fokusnya ke satu obyek tertentu dan bagian lain di belakangnya terlihat kabur (blurred). Kita dapat memilih apakah ingin fokus pada foreground atau background.

4. Time Rewind
Ini fitur yang paling bikin saya kagum. Pasalnya, Time Rewind dapat mengambil beberapa gambar sebelum dan sesudah kita menekan tombol shutter. Tepatnya dua detik sebelum dan sesudah tombol ditekan. Dengan demikian peluang untuk mendapatkan bidikan atau momen terbaik jadi lebih tinggi.

Oya, ini video sewaktu saya meng-unboxing hape Asus ZenFone C.



Andalan Berburu Kuliner
Bagi yang suka berburu kuliner dan tidak mau direpotkan dengan kamera gede, Asus ZenFone sangat cocok dijadikan andalan. Bentuknya yang kecil memudahkan kita menggenggam dan membawa smartphone ini. Bobotnya yang ringan membuat tangan steady, tidak goyang karena keberatan saat membidik foto dengan satu tangan.

Untuk urusan daya tahan, hape-hape keluaran terbaru Asus dibekali dengan baterai kapasitas super besar. Misalnya Asus Zenfone 3 Max yang memiliki kapasitas baterai 4100 mAh, bisa standby selama 38 jam alias lebih dari 1,5 hari. Membekal smartphone dengan baterai sebesar ini, kita tidak perlu repot lagi membawa-bawa powerbank.

Buat yang suka ngevlog, baterai kapasitas besar dan kamera jernih dalam satu gadget adalah perpaduan ideal. Kita bisa sepuasnya merekam restoran yang disinggahi, makanan yang tengah dicicipi, minuman yang disesap habis, tanpa khawatir kehabisan daya di tengah jalan. Plus, hasil rekamannya TOP BGT.

Saya sendiri ingin sekali upgrade dari Asus ZenFone C yang kamera belakangnya hanya 5MP ini. Ya, untuk apa lagi kalau bukan supaya foto-foto makanan hasil jepretan saya lebih oke. Kalau fotonya ciamik, yang lihat dijamin bakalan ikut ngiler. Hehehe...

Selamat berburu foto kuliner dengan ZenFone!

Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.

Referensi:
- http://www.palembang.go.id/v1/gis/detail/216/pempek-pak-raden
- http://www.hardwarezone.com.sg/feature-five-things-you-need-know-about-asuss-pixelmaster-camera-technology
- http://gadgets.ndtv.com/mobiles/news/asus-zenfone-c-zc451cg-with-45-inch-display-launched-at-rs-5999-659475
- http://www.tribunnews.com/travel/2015/10/21/banyak-yang-jualan-pempek-di-palembang-tapi-bingung-cari-yang-enak-coba-datangi-lokasi-ini


Kredit Foto:
Foto Pempek: Tribunnews.com (alamat lengkap tercantum di bagian referensi)
Foto Pak Raden: Palembang.go.id (alamat lengkap tercantum di bagian referensi)
Foto lainnya dokumentasi pribadi.


LAHIR dan tumbuh besar di Palembang, saya memiliki ikatan emosional kuat dengan kota satu ini. Selalu ada harapan untuk bisa kembali lagi ke sana. Bukan cuma perkara nostalgia nan sentimentil, namun juga karena kangen berat dengan makanan-makanan khasnya yang menggugah selera, terutama pempek.

Sewaktu kecil saya sangat terbiasa dengan teriakan, "Piyoo, piyooo, pempek..." Yang berteriak seorang anak seusia saya, berjalan dengan wadah besar di atas kepala yang dipegang dengan satu tangan. Sepanjang jalan ia berteriak begitu, dan cuma berhenti kalau sedang melayani pembeli.

Eh, ternyata kemudian saya juga jadi penjual pempek seperti itu lho. Ceritanya kondisi ekonomi keluarga Bapak-Ibu morat-marit. Bapak merantau jauh ke Jambi mencari penghidupan baru, sedangkan Ibu berusaha bertahan di Palembang dengan berbagai cara. Salah satunya mengajak kami berjualan pempek!

Yang terlibat dalam proyek jualan pempek ini Ibu, saya, dan adik perempuan. Saya kelas IV SD, adik saya kelas I. Adik satu lagi tidak dilibatkan karena masih terlalu kecil. Kami berbagi tugas. Ibu yang membuat pempek, cuka, dan menyiapkan dagangan beserta seluruh peralatannya; saya dan adik perempuan bertugas menjaga dagangan.

Namanya saja anak-anak, karena iseng sembari berjaga saya sering mencemil pempek yang dijual. Apalagi pempek buatan Ibu enak sekali. Sayang kan kalau tidak dinikmati sendiri? Hehehe. Saat Ibu tahu, dengan sabar beliau menasehati, "Kalau dagangannya dimakan sendiri, nanti kita nggak dapat uang buat sangu sekolah."

Itu pengalaman pertama saya berjualan. Pengalaman yang tak akan pernah terlupakan. Karenanya jangan heran kalau ada bonding kuat sekali antara saya dan pempek, juga tentu saja Palembang. Setiap kali melihat orang berjualan pempek, ingatan saya langsung terlempar ke masa-masa itu.


Kota Pempek
Pempek memang identik dengan Palembang. Kalau kota ini disebut, pasti orang langsung membayangkan pempek. Bersama-sama Jembatan Ampera dan Sungai Musi, pempek boleh dibilang merupakan ikon Palembang.

Sekalipun makanan khas Palembang bukan cuma pempek, tapi oleh-oleh yang dibawa pulang pelancong biasanya ya pempek. Contohnya sewaktu saya "mudik" ke Palembang, Mei tahun lalu. Sepulang dari tur dua hari dua malam atas sponsor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan itu saya diberi satu dus oleh-oleh. Ya, isinya pempek!

Baca juga: Jadi Turis di Kota Kelahiran Sendiri

Padahal selama di sana saya sudah puas sekali disuguhi pempek. Selain pempek jamuan Disparbud, saya juga sempat mencomot beberapa potong pempek di stand makanan daerah dalam acara penutupan International Musi Triboatton 2016. Entah berapa potong, yang jelas saya sampai merasa harus tersenyum sopan pada ayuk-ayuk penjaga stand setiap kali mengambil pempek lagi. :)

Selepas acara saya tidak langsung pulang ke Jawa. Saya extend beberapa hari untuk mengunjungi kerabat di Perum Bank Sumsel-Babel, Kenten Laut, dan ziarah ke makam nenek di Lebong Siareng. Di kesempatan ini saya mencicipi beberapa pempek pinggir jalan, termasuk pempek di gang dekat bekas rumah kelahiran saya.

Di sini pempek murah-murah sekali, cuma Rp1.000 sebuah. Walaupun pempek pinggir jalan tapi rasanya tak kalah dengan pempek bermerek. Pokoknya rasa ikan semua. Kemudian cuko-nya asam-pedasnya super. Pertama kali dicecap lidah rasanya segar, tapi begitu masuk ke kerongkongan pedasnya menyengat.

Di Pemalang, dengan harga yang sama saya cuma bisa dapat pempek rasa tepung dan garam. Cuko-nya pun hambar. Wajar kalau sewaktu di sana saya kalap bukan main sama pempek.

Pempek Pak Raden
Ada banyak pempek ternama di Palembang. Sebut saja Pempek Candy yang paling sering dibawa sebagai oleh-oleh pelancong. Masih ada Pempek EK yang harganya wow, Pempek Beringin yang tercantum di web resmi Pemkot Palembang, Pempek Nony, Pempek Vico, Pempek Saga Sudi Mampir, Pempek Lince, Pempek Leni, Pempek Wawa, dan beberapa nama lainnya.

Saya dan teman-teman blogger yang menghadiri Musi Triboatton 2016 dioleh-olehi Pempek Tince. Namun kalau bicara legenda pempek, hanya satu yang layak disebut: Pempek Pak Raden. Dan beruntung sekali saya sempat diajak mampir ke warung pempek legendaris ini saat berada di Palembang.


Berlokasi di Jl. Radial No. 80A, Pempek Pak Raden dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari Palembang Sport and Convention Center (PSCC) atau Palembang Icon. Tetamu yang menginap di Hotel Arista, Hotel Sanjaya, atau Hotel Azza (Aziza Inn) bisa mencapainya dalam waktu 5-10 menit saja berjalan kaki.

Pempek Pak Raden dikenal sebagai pempek milik orang Palembang asli, yakni Bapak Ahmad Rivai Husein. Menurut cerita dari mulut ke mulut, Pak Ahmad Rivai mulai berjualan pempek dengan menjajakan keliling kampung-kampung. Lalu beliau mencoba membuka warung pempek di daerah Bukit Kecil, kawasan 24 Ilir.

Saya tak tahu kenapa Pak Ahmad menamai warungnya Pempek Pak Raden, bukannya Pempek Pak Ahmad atau Pempek Pak Rivai. Bisa jadi karena di masa beliau merintis usaha, serial Si Unyil tengah booming di TVRI. Seperti kita ketahui bersama, salah satu tokoh penting dalam serial tersebut adalah Pak Raden.

Rupanya usaha Pak Ahmad maju pesat. Bekerja sama dengan kerabat-kerabatnya, beliau kemudian membuka beberapa cabang di seantero Kota Palembang. Kemudian merambah ke kota-kota tetangga - Jambi dan Lampung, sampai eskpansi ke luar pulau. Pulau Jawa.

Kini, kita bisa dengan mudah menemui gerai Pempek Pak Raden di Bandung atau Jakarta. Dengan konsep mirip franchise, rasa pempek dan cuko di gerai-gerai Pak Raden manapun dijamin sama seperti yang ada di Jl. Radial. Untuk menjaga keseragaman rasa, tiap-tiap gerai memakai resep yang sama persis dengan yang di Palembang.

Ikan yang jadi bahan baku pembuatan pempek juga didatangkan langsung dari Palembang dalam bentuk daging giling beku. Demikian pula dengan kerupuk ikan dan gula merah untuk campuran cuko. Malah di sejumlah gerai kebanyakan karyawan berasal dari Palembang. Wong kito galo biar lemak komunikasinyo. Iyo dak? :D

Semua itu dilakukan agar cita rasa pempek dan cuko di gerai-gerai Pempek Pak Raden seragam, tak berbeda sedikit pun. Jadi, mau makan di manapun rasanya ya sama saja. Sama-sama serasa menikmatinya langsung di Palembang.


Mengabadikan Pempek dengan ZenFone
Saya dan teman-teman blogger Musi Triboatton 2016 diajak ke Pempek Pak Raden saat jam makan siang. What? Makan siang pake pempek? Payo woy, mada'i makan siang be nak pempek nian. Katek yang lain apo? Batin saya waktu itu.

Rupanya saya salah. Sekalipun restoran pempek, Pak Raden menyediakan banyak sekali menu lain. Lalu pelayan pun datang membawa nasi, pindang ikan yang disajikan dengan kompor kecil agar tetap panas, cah kangkung, ikan goreng, lalapan plus sambal tiga macam, bertusuk-tusuk sate, dan aneka macam jus buah segar.

Selesai? Belum. Setelah makanan kami habis, pelayan datang lagi dengan dua piring besar berisi pempek aneka macam. Oke, ini yang ditunggu-tunggu! Tak menunggu lama saya langsung mengambil dua potong pempek, meletakkannya ke dalam mangkok kecil yang telah disiapkan, dan terakhir menyiram cuko.

Yang pertama saya cicipi adalah pempek adaan, pempek kecil-kecil berbentuk bulat tanpa isi. Rasanya? Yummy! Sudah lama sekali saya tidak mencecap pempek yang rasa ikannya semenggigit ini. Juga asam pedas cuko-nya yang tak bisa ditandingi oleh penjual-penjual pempek di Pemalang.

Pempek adaan habis, saya lanjutkan dengan pempek telur. Ini pempek favorit saya sejak kecil. Dulu sewaktu berjualan pempek, pempek inilah yang dibuat Ibu. Untuk menekan harga, Ibu mengakali isian telur dengan menambahkan air. Jadi, 1-2 butir telur dicampur air dan sedikit tepung, lalu dikocok rata.

Tentu saja pempek telur buatan Pak Raden tidak pakai trik begitu. Rasa telurnya sangat otentik, pertanda tanpa campuran apapun. Tak cuma dicocolkan, saya meminum cuko di mangkok. Ngirup cuko, kata orang Palembang. Beginilah cara menikmati pempek ala orang Palembang.


Diselingi mengobrol dengan Ibu Kadisbudpar Sumsel dan asistennya, satu demi satu pempek di piring tandas kami lahap. Dan sepertinya saya yang paling banyak memakannya. Mbak Katerina dan Mbak Relinda hanya mencicipi 1-2 buah lalu kekenyangan.

Melihat ini Mbak Ira, pendamping kami selama di Palembang, mengambil pempek di meja sebelah yang tidak dihabiskan dan diletakkan di meja kami. Oke, kita lanjuuut!

Tentu saja saya tak lupa mengabadikan pempek legendaris ini. Apalagi piring, mangkok, wadah cuko, dan bahkan tempat tusuk giginya bertuliskan "Pempek Pak Raden" semua. Jadi ada bukti kan kalau saya benar-benar makan pempek di Pempek Pak Raden? Hehehe.

Saya pakai kamera handphone ASUS ZenFone C untuk urusan jepret-menjepret selama di Palembang. Ponsel ini saya beli tepat di hari keberangkatan menuju Kota Pempek. Dengan ponsel yang sama pula saya foto bareng pramugari berhijab saat pulang dengan pesawat Nam Air.

PixelMaster Camera untuk Foto Berkualitas
Awalnya, karena baru beli saya tidak begitu paham dengan fitur kamera pada smartphone murah meriah ini. Begitu pengen memotret, saya langsung saja arahkan kamera ke obyek dan "cekrek!" Begitu dicek kok hasilnya tidak jernih. Cenderung gelap. Apa yang salah?

Naga-naganya saya yang belum adaptasi. Asus ZenFone C memakai teknologi PixelMaster Camera yang menjamin hasil foto selalu jernih, bahkan di saat pencahayaan minim sekalipun. Ini karena PixelMaster membuat foto lebih terang 400% alias empat kali lipat.


PixelMaster adalah teknologi yang dikembangkan oleh ASUS pada kamera-kamera ZenFone. Teknologi ini menggabungkan hardware, software, dan desain optical untuk menghasilkan gambar-gambar dengan kualitas lebih baik dalam segala kondisi. Pendek kata, mau menjepret kapanpun PixelMaster membantu kita mendapatkan foto terbaik.

Saat pertama kali membuka fitur kamera pada Asus Zenfone C saya memang tampilannya terlihat gelap. Tapi coba arahkan kamera pada obyek, lalu diamkan beberapa detik. Secara otomatis kamera akan menyesuaikan pencahayaan untuk membuat foto terlihat lebih terang. Nah, kalau sudah begini baru deh tekan tombol untuk menjepret.

Masih kurang terang? Gunakan mode cahaya redup (low light mode). Yang keren, kamera dapat mendeteksi pencahayaan dan memberi saran kapan kita harus menggunakan low light mode. Kalau muncul gambar kepala burung hantu di layar, itu tandanya pencahayaan minim. Sentuh gambar kepala burung hantu tadi, dan lihat bagaimana tampilan foto jadi semakin jernih.

Sebagai penyempurna, PixelMaster Camera juga menyediakan mode HDR ( High Dinamic Range) untuk mengatasi kontras yang berlebihan. Jadi, hasil foto tetap terlihat keren sekalipun dalam kondisi minim cahaya.

Berikut video penjelasan mengenai PixelMaster di channel YouTube resmi Asus.



Ini dia 4 fitur unggulan PixelMaster yang perlu diketahui:

1. Perangkat Kamera Terbaik
Asus membenamkan hardware terbaik untuk kamera-kamera ZenFone. Contohnya ZenFone 5 yang memakai sensor Sony BSI CMOS, atau ZenFone 6 dengan sensor Panasonic BSI CMOS. Kedua sensor ini memiliki ukuran piksel 1.12µm, sama dengan milik smartphone lain yang berharga lebih mahal. Sayang tidak boleh menyebut merek hape lain di sini sebagai contoh. :)

Kemudian untuk lensanya, ZenFone 5 dan 6 memakai lensa Largan yang juga dipakai oleh satu merek high-class yang sangat diagung-agungkan hasil fotonya. Lensa lima lapis tersebut dapat menghasilkan foto lebih tajam dan lebih bersih, dengan akurasi warna lebih akurat.

Tambahan lagi, lensa dengan aperture f/2.0 tersebut membuat kamera ZenFone memiliki sensitivitas lebih dalam kondisi minim cahaya. Asus ZenFone C saya memakai lensa seperti itu.

2. Low Light Mode
Fitur Low Light Mode membantu kita mendapatkan foto-foto lebih jernih dan tajam dalam kondisi minim cahaya. Cara kerjanya tak terbayangkan, di mana teknologi PixelMaster mengombinasi berbagai piksel dan menggunakan algoritma tertentu untuk memproses gambar.

Pempek Pak Raden, Palembang. With @travelerien @relindapuspita

A post shared by Eko Nurhuda (@bungeko_) on


Untuk menghasilkan foto kualitas terbaik, PixelMaster menggabungkan empat piksel yang mirip menjadi satu. Kemudian sistem algoritmanya meningkatkan sensitivitas kamera akan cahaya hingga empat kali lipat, dan menaikkan kontras warna hingga dua kali lipat. Itu sebabnya ZenFone tetap dapat menghasilkan foto-foto jernih dan tajam sekalipun dalam kondisi minim cahaya.

3. Depth of Field Mode
Fitur satu ini membuat hasil jepretan kamera ZenFone terlihat bagai foto yang dihasilkan kamera profesional. Sesuai namanya, Depth of Field memungkinkan kita untuk mengambil foto yang fokusnya ke satu obyek tertentu dan bagian lain di belakangnya terlihat kabur (blurred). Kita dapat memilih apakah ingin fokus pada foreground atau background.

4. Time Rewind
Ini fitur yang paling bikin saya kagum. Pasalnya, Time Rewind dapat mengambil beberapa gambar sebelum dan sesudah kita menekan tombol shutter. Tepatnya dua detik sebelum dan sesudah tombol ditekan. Dengan demikian peluang untuk mendapatkan bidikan atau momen terbaik jadi lebih tinggi.

Oya, ini video sewaktu saya meng-unboxing hape Asus ZenFone C.



Andalan Berburu Kuliner
Bagi yang suka berburu kuliner dan tidak mau direpotkan dengan kamera gede, Asus ZenFone sangat cocok dijadikan andalan. Bentuknya yang kecil memudahkan kita menggenggam dan membawa smartphone ini. Bobotnya yang ringan membuat tangan steady, tidak goyang karena keberatan saat membidik foto dengan satu tangan.

Untuk urusan daya tahan, hape-hape keluaran terbaru Asus dibekali dengan baterai kapasitas super besar. Misalnya Asus Zenfone 3 Max yang memiliki kapasitas baterai 4100 mAh, bisa standby selama 38 jam alias lebih dari 1,5 hari. Membekal smartphone dengan baterai sebesar ini, kita tidak perlu repot lagi membawa-bawa powerbank.

Buat yang suka ngevlog, baterai kapasitas besar dan kamera jernih dalam satu gadget adalah perpaduan ideal. Kita bisa sepuasnya merekam restoran yang disinggahi, makanan yang tengah dicicipi, minuman yang disesap habis, tanpa khawatir kehabisan daya di tengah jalan. Plus, hasil rekamannya TOP BGT.

Saya sendiri ingin sekali upgrade dari Asus ZenFone C yang kamera belakangnya hanya 5MP ini. Ya, untuk apa lagi kalau bukan supaya foto-foto makanan hasil jepretan saya lebih oke. Kalau fotonya ciamik, yang lihat dijamin bakalan ikut ngiler. Hehehe...

Selamat berburu foto kuliner dengan ZenFone!

Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel.

Referensi:
- http://www.palembang.go.id/v1/gis/detail/216/pempek-pak-raden
- http://www.hardwarezone.com.sg/feature-five-things-you-need-know-about-asuss-pixelmaster-camera-technology
- http://gadgets.ndtv.com/mobiles/news/asus-zenfone-c-zc451cg-with-45-inch-display-launched-at-rs-5999-659475
- http://www.tribunnews.com/travel/2015/10/21/banyak-yang-jualan-pempek-di-palembang-tapi-bingung-cari-yang-enak-coba-datangi-lokasi-ini


Kredit Foto:
Foto Pempek: Tribunnews.com (alamat lengkap tercantum di bagian referensi)
Foto Pak Raden: Palembang.go.id (alamat lengkap tercantum di bagian referensi)
Foto lainnya dokumentasi pribadi.