Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Rabu, 24 Agustus 2016

RABU pagi ini saya berangkat ke Lampung. Berkat memenangkan lomba blog Sunpride, saya bersama beberapa blogger lain dibawa berkunjung ke kebun buah Nusantara Tropical Farm di kawasan Way Kambas, Lampung Timur. Perjalanan ini akan jadi kali pertama saya mendatangi propinsi paling selatan Pulau Sumatera tersebut.

"Jadi, ceritanya Bung Eko belum pernah ke Lampung nih?"

Ini pertanyaan susah-susah gampang dijawab. Entah berapa kali saya melintasi Lampung sejak tahun 2000, tahun ketika saya pergi merantau ke Jogja untuk menuntut ilmu. Tapi benar-benar hanya melintas saja.

Dari Jambi atau Palembang, saya biasa menumpang bus Ramayana atau Putra Remaja menuju ke Jogja. Jaman itu Kabupaten Ogan Komering Ulu di Sumatera Selatan masih berbatasan langsung dengan Kabupaten Tulang Bawang di Lampung. Biasanya bus memasuki Tulang Bawang rembang petang. Lalu pagi-pagi buta sampai di Bakauheuni, sebelum menyeberang ke Pulau Jawa.

Pernah sih saya menginap semalam di Lampung. Tapi statusnya tetap saja melintas, numpang lewat. Itu terjadi di tahun 2007, sewaktu saya nebeng seorang paman yang hendak menjenguk anaknya di Lampung. Saya dan paman bertemu di rumah Simbah di Palembang, lalu saya diajak ke rumah paman di Pendopo, Kab. PALI.

Ketika paman dan bibi ke Lampung untuk menjenguk anaknya yang sekolah di sana, saya ikut. Lumayan nebeng sampai Lampung, hemat ongkos. Hehehe. Sampai di Lampung jelang magrib, menginap semalam, lalu keesokan harinya saya sudah berada di dalam bus AKAP menuju Jogja. Lagi-lagi, hanya numpang lewat.

FOTO: Panoramio.com

Rajabasa dan Bakauheni
Karena bolak-balik cuma numpang lewat, referensi saya soal Lampung hanya dari cerita orang dan baca sana-sini. Semasa tinggal di Batumarta VI, saya menemukan bertumpuk-tumpuk koran Lampung Post di rumah dinas bibi yang seorang bidan desa. Dokter yang pernah menempati rumah dinas tersebut rupanya pelanggan Lampung Post.

Itulah perkenalan pertama saya dengan Lampung. Berhari-hari saya habiskan untuk membaca eksemplar demi eksemplar Lampung Post tersebut sebelum berpindah tangan ke tukang loak. Tapi saking banyaknya koran yang dibaca, saya tak ingat apapun isi koran itu kecuali berita kaburnya Eddy Tansil dari penjara dan serial silat karangan Asmaraman S. Kho Ping Hoo.

Saya lebih mengenal Lampung semenjak kuliah di Jogja. Ya, gara-gara melintas saat berangkat dari atau pulang ke Jambi. Saya jadi tahu di Lampung ada satu terminal bus besar dan terkenal bernama Terminal Rajabasa. Salah satu terminal terbesar dan tersibuk di Sumatera. Mau cari bus jurusan mana saja ke Sumatera dan Pulau Jawa sampai Bali, semua ada di terminal ini.

FOTO: jejakrodakecil.comRupanya nama terminal ini diambil dari nama Gunung Rajabasa, sebuah gunung berapi aktif dengan ketinggian 1.282 mdpl di wilayah Lampung Selatan. Danau besar di puncak gunung menandakan Gunung Rajabasa pernah erupsi dahsyat. Hanya saja tidak diketahui pasti kapan peristiwa tersebut terjadi.

Selain Terminal Rajabasa, Lampung juga punya Pelabuhan Bakauheni yang merupakan gerbang utama Pulau Sumatera dari Jawa. Pelabuhan ini tak akan pernah terlupakan karena di sinilah saya pertama kali naik kapal laut. Juga pertama kali saya melihat lautan luas!

Saya masih ingat betul hari itu, suatu Subuh di bulan Juni 2000. Bus Ramayana yang saya tumpangi masuk pelabuhan saat langit masih gelap. Adzan Subuh belum lama berkumandang. Mata saya tak berkedip sedikit pun ketika bus masuk ke dalam lambung kapal. Kesibukan petugas mengatur bus dan truk, suara bising mesin kendaraan, berikut aroma khas lambung kapal, semuanya masih terekam jelas dalam memori.

Ketika feri mulai bergerak meninggalkan Pulau Sumatera saya tak henti-hentinya memandang lautan dengan takjub. Sepanjang dua jam saya terus berdiri di sisi kapal, melihat pulau-pulau kecil di sekitar pelabuhan sembari berpegangan pagar besi. Udara pagi nan sejuk bercampur uap garam saya hirup pelan-pelan dengan perasaan bahagia.

Sejak 2005, bertepatan dengan berdirinya Monumen Siger, saya lebih suka mudik ke Jambi lewat jalur udara karena alasan menghemat waktu. Jalur mudik berubah. Naik kereta atau travel ke Jakarta, lalu dilanjutkan pesawat ke Jambi. Terlebih semenjak mempunyai anak, saya tak pernah lagi menjenguk orang tua naik bus.

Rupanya ada rasa rindu setelah bertahun-tahun tak melewati Bakauheni dan naik kapal feri. Karenanya momentum pernikahan adik di Jambi pada November 2015 saya manfaatkan untuk mengulang kembali kenangan masa kuliah. Berangkat naik pesawat, pulangnya saya ajak anak-istri naik bus supaya bisa naik kapal dan menikmati suasana Selat Sunda nan syahdu.

Berikut rekaman video kami naik kapal feri dari Bakauheni yang saya unggah di channel YouTube anak-anak.



Way Kambas dan Pantai Marina
Selain Rajabasa dan Bakauheni, ada dua tempat lagi yang akrab di telinga saya: Way Kambas dan Pantai Marina. Maklum, dua tempat tersebut masa-masa itu merupakan obyek wisata andalan Lampung. Saya sendiri belum pernah ke Way Kambas maupun Pantai Marina. Lagi-lagi, saya hanya dengar cerita dari mereka-mereka yang pernah pelesiran ke sana.

Kalau saya tak salah ingat, nama Way Kambas tercantum dalam buku pelajaran sekolah. Cuma saya lupa persisnya pelajaran apa dan di kelas berapa. Yang masih saya ingat, di Way Kambas ada Pusat Latihan Gajah yang lebih dikenal sebagai sebutan sekolah gajah. Waktu itu merupakan satu-satunya di Indonesia.

Way Kambas sendiri sebenarnya taman nasional atau hutan lindung. Luas kawasan Taman Nasional Way Kambas sekitar 126.000 hektar. Inilah taman nasional tertua di Indonesia. Dibuat untuk melindungi berbagai satwa liar Sumatera yang terancam punah. Selain gajah, di sini juga ada harimau dan badak Sumatera.

Di sekolah gajah Way Kambas, gajah-gajah liar dilatih menjadi gajah jinak sehingga dapat diberdayakan untuk berbagai keperluan. Misalnya gajah tunggang, gajah sirkus, sampai bermain sepakbola sebagai hiburan.

Saya masih penasaran sama sepakbola gajah ini. Sejak dulu ingin sekali menyaksikan langsung pertandingannya. Saya ingin tahu sebesar apa bola yang dipakai bermain sepakbola oleh gajah-gajah cerdas ini.

Beruntungnya saya. Dalam agenda kunjungan ke Lampung ini ada rencana ke Way Kambas. Kebun buah Nusantara Tropical Farm yang akan kami kunjungi letaknya tak jauh dari taman nasional tersebut. Mudah-mudahan saja ada pertunjukan sepakbola gajah saat kami di sana. Amin.

FOTO: ANTARA FOTO/Ampelsa

Oya, kalau sempat saya mau usul ke pembina sepakbola gajah di Way Kambas untuk menantang tim gajah Thailand. Hehehe...

Terkait Pantai Marina, saya dapat cerita dari adik yang pernah ikut keluarga pakde berwisata ke sana. Adik saya dengan bangga menceritakan pengalamannya bermain-main dengan ombak dan pasir pantai. Waktu itu saya masih SMA dan adik saya SMP. Kejadiannya antara tahun 1999 atau 2000, saya tak ingat persisnya.

Selain Ibu yang lahir dan dibesarkan di pesisir utara Jawa Timur, tak seorang pun dari keluarga kami pernah melihat laut dan pantai. Jadilah adik saya orang pertama di keluarga kami yang berwisata ke pantai. Dan Pantai Marina jadi pantai pertama yang masuk dalam memori saya.

Jadi, sampai dengan tahun 2000 saat berangkat ke Jogja untuk kuliah, Lampung telah memberikan begitu banyak kenangan pertama bagi saya. Berikut beberapa yang paling berkesan:
- Pertama kali meninggalkan Pulau Sumatera, melalui Lampung.
- Pertama kali melihat dan naik kapal laut di Pelabuhan Bakauheni.
- Pertama kali melihat dan menyeberangi lautan, yaitu Selat Sunda, dari Pelabuhan Bakauheni.
- Pertama kali diceritai tentang serunya bermain di pantai, dengan Pantai Marina sebagai obyeknya.

Dan, kunjungan ke kebun buah Nusantara Tropical Farm bersama Sunpride ini adalah kali pertama saya dengan sengaja berkunjung ke Lampung. Bukan sekedar numpang lewat seperti masa-masa kuliah dulu.

Tunggu cerita perjalanan saya selama di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai ya...

RABU pagi ini saya berangkat ke Lampung. Berkat memenangkan lomba blog Sunpride, saya bersama beberapa blogger lain dibawa berkunjung ke kebun buah Nusantara Tropical Farm di kawasan Way Kambas, Lampung Timur. Perjalanan ini akan jadi kali pertama saya mendatangi propinsi paling selatan Pulau Sumatera tersebut.

"Jadi, ceritanya Bung Eko belum pernah ke Lampung nih?"

Ini pertanyaan susah-susah gampang dijawab. Entah berapa kali saya melintasi Lampung sejak tahun 2000, tahun ketika saya pergi merantau ke Jogja untuk menuntut ilmu. Tapi benar-benar hanya melintas saja.

Dari Jambi atau Palembang, saya biasa menumpang bus Ramayana atau Putra Remaja menuju ke Jogja. Jaman itu Kabupaten Ogan Komering Ulu di Sumatera Selatan masih berbatasan langsung dengan Kabupaten Tulang Bawang di Lampung. Biasanya bus memasuki Tulang Bawang rembang petang. Lalu pagi-pagi buta sampai di Bakauheuni, sebelum menyeberang ke Pulau Jawa.

Pernah sih saya menginap semalam di Lampung. Tapi statusnya tetap saja melintas, numpang lewat. Itu terjadi di tahun 2007, sewaktu saya nebeng seorang paman yang hendak menjenguk anaknya di Lampung. Saya dan paman bertemu di rumah Simbah di Palembang, lalu saya diajak ke rumah paman di Pendopo, Kab. PALI.

Ketika paman dan bibi ke Lampung untuk menjenguk anaknya yang sekolah di sana, saya ikut. Lumayan nebeng sampai Lampung, hemat ongkos. Hehehe. Sampai di Lampung jelang magrib, menginap semalam, lalu keesokan harinya saya sudah berada di dalam bus AKAP menuju Jogja. Lagi-lagi, hanya numpang lewat.

FOTO: Panoramio.com

Rajabasa dan Bakauheni
Karena bolak-balik cuma numpang lewat, referensi saya soal Lampung hanya dari cerita orang dan baca sana-sini. Semasa tinggal di Batumarta VI, saya menemukan bertumpuk-tumpuk koran Lampung Post di rumah dinas bibi yang seorang bidan desa. Dokter yang pernah menempati rumah dinas tersebut rupanya pelanggan Lampung Post.

Itulah perkenalan pertama saya dengan Lampung. Berhari-hari saya habiskan untuk membaca eksemplar demi eksemplar Lampung Post tersebut sebelum berpindah tangan ke tukang loak. Tapi saking banyaknya koran yang dibaca, saya tak ingat apapun isi koran itu kecuali berita kaburnya Eddy Tansil dari penjara dan serial silat karangan Asmaraman S. Kho Ping Hoo.

Saya lebih mengenal Lampung semenjak kuliah di Jogja. Ya, gara-gara melintas saat berangkat dari atau pulang ke Jambi. Saya jadi tahu di Lampung ada satu terminal bus besar dan terkenal bernama Terminal Rajabasa. Salah satu terminal terbesar dan tersibuk di Sumatera. Mau cari bus jurusan mana saja ke Sumatera dan Pulau Jawa sampai Bali, semua ada di terminal ini.

FOTO: jejakrodakecil.comRupanya nama terminal ini diambil dari nama Gunung Rajabasa, sebuah gunung berapi aktif dengan ketinggian 1.282 mdpl di wilayah Lampung Selatan. Danau besar di puncak gunung menandakan Gunung Rajabasa pernah erupsi dahsyat. Hanya saja tidak diketahui pasti kapan peristiwa tersebut terjadi.

Selain Terminal Rajabasa, Lampung juga punya Pelabuhan Bakauheni yang merupakan gerbang utama Pulau Sumatera dari Jawa. Pelabuhan ini tak akan pernah terlupakan karena di sinilah saya pertama kali naik kapal laut. Juga pertama kali saya melihat lautan luas!

Saya masih ingat betul hari itu, suatu Subuh di bulan Juni 2000. Bus Ramayana yang saya tumpangi masuk pelabuhan saat langit masih gelap. Adzan Subuh belum lama berkumandang. Mata saya tak berkedip sedikit pun ketika bus masuk ke dalam lambung kapal. Kesibukan petugas mengatur bus dan truk, suara bising mesin kendaraan, berikut aroma khas lambung kapal, semuanya masih terekam jelas dalam memori.

Ketika feri mulai bergerak meninggalkan Pulau Sumatera saya tak henti-hentinya memandang lautan dengan takjub. Sepanjang dua jam saya terus berdiri di sisi kapal, melihat pulau-pulau kecil di sekitar pelabuhan sembari berpegangan pagar besi. Udara pagi nan sejuk bercampur uap garam saya hirup pelan-pelan dengan perasaan bahagia.

Sejak 2005, bertepatan dengan berdirinya Monumen Siger, saya lebih suka mudik ke Jambi lewat jalur udara karena alasan menghemat waktu. Jalur mudik berubah. Naik kereta atau travel ke Jakarta, lalu dilanjutkan pesawat ke Jambi. Terlebih semenjak mempunyai anak, saya tak pernah lagi menjenguk orang tua naik bus.

Rupanya ada rasa rindu setelah bertahun-tahun tak melewati Bakauheni dan naik kapal feri. Karenanya momentum pernikahan adik di Jambi pada November 2015 saya manfaatkan untuk mengulang kembali kenangan masa kuliah. Berangkat naik pesawat, pulangnya saya ajak anak-istri naik bus supaya bisa naik kapal dan menikmati suasana Selat Sunda nan syahdu.

Berikut rekaman video kami naik kapal feri dari Bakauheni yang saya unggah di channel YouTube anak-anak.



Way Kambas dan Pantai Marina
Selain Rajabasa dan Bakauheni, ada dua tempat lagi yang akrab di telinga saya: Way Kambas dan Pantai Marina. Maklum, dua tempat tersebut masa-masa itu merupakan obyek wisata andalan Lampung. Saya sendiri belum pernah ke Way Kambas maupun Pantai Marina. Lagi-lagi, saya hanya dengar cerita dari mereka-mereka yang pernah pelesiran ke sana.

Kalau saya tak salah ingat, nama Way Kambas tercantum dalam buku pelajaran sekolah. Cuma saya lupa persisnya pelajaran apa dan di kelas berapa. Yang masih saya ingat, di Way Kambas ada Pusat Latihan Gajah yang lebih dikenal sebagai sebutan sekolah gajah. Waktu itu merupakan satu-satunya di Indonesia.

Way Kambas sendiri sebenarnya taman nasional atau hutan lindung. Luas kawasan Taman Nasional Way Kambas sekitar 126.000 hektar. Inilah taman nasional tertua di Indonesia. Dibuat untuk melindungi berbagai satwa liar Sumatera yang terancam punah. Selain gajah, di sini juga ada harimau dan badak Sumatera.

Di sekolah gajah Way Kambas, gajah-gajah liar dilatih menjadi gajah jinak sehingga dapat diberdayakan untuk berbagai keperluan. Misalnya gajah tunggang, gajah sirkus, sampai bermain sepakbola sebagai hiburan.

Saya masih penasaran sama sepakbola gajah ini. Sejak dulu ingin sekali menyaksikan langsung pertandingannya. Saya ingin tahu sebesar apa bola yang dipakai bermain sepakbola oleh gajah-gajah cerdas ini.

Beruntungnya saya. Dalam agenda kunjungan ke Lampung ini ada rencana ke Way Kambas. Kebun buah Nusantara Tropical Farm yang akan kami kunjungi letaknya tak jauh dari taman nasional tersebut. Mudah-mudahan saja ada pertunjukan sepakbola gajah saat kami di sana. Amin.

FOTO: ANTARA FOTO/Ampelsa

Oya, kalau sempat saya mau usul ke pembina sepakbola gajah di Way Kambas untuk menantang tim gajah Thailand. Hehehe...

Terkait Pantai Marina, saya dapat cerita dari adik yang pernah ikut keluarga pakde berwisata ke sana. Adik saya dengan bangga menceritakan pengalamannya bermain-main dengan ombak dan pasir pantai. Waktu itu saya masih SMA dan adik saya SMP. Kejadiannya antara tahun 1999 atau 2000, saya tak ingat persisnya.

Selain Ibu yang lahir dan dibesarkan di pesisir utara Jawa Timur, tak seorang pun dari keluarga kami pernah melihat laut dan pantai. Jadilah adik saya orang pertama di keluarga kami yang berwisata ke pantai. Dan Pantai Marina jadi pantai pertama yang masuk dalam memori saya.

Jadi, sampai dengan tahun 2000 saat berangkat ke Jogja untuk kuliah, Lampung telah memberikan begitu banyak kenangan pertama bagi saya. Berikut beberapa yang paling berkesan:
- Pertama kali meninggalkan Pulau Sumatera, melalui Lampung.
- Pertama kali melihat dan naik kapal laut di Pelabuhan Bakauheni.
- Pertama kali melihat dan menyeberangi lautan, yaitu Selat Sunda, dari Pelabuhan Bakauheni.
- Pertama kali diceritai tentang serunya bermain di pantai, dengan Pantai Marina sebagai obyeknya.

Dan, kunjungan ke kebun buah Nusantara Tropical Farm bersama Sunpride ini adalah kali pertama saya dengan sengaja berkunjung ke Lampung. Bukan sekedar numpang lewat seperti masa-masa kuliah dulu.

Tunggu cerita perjalanan saya selama di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai ya...

Senin, 22 Agustus 2016


KALAU ada propinsi yang bolak-balik saya lewati tapi tak pernah dikunjungi, maka itu adalah Lampung. Sejak tahun 2000, berkali-kali saya melintasi propinsi paling selatan di Pulau Sumatera ini. Tapi, ya itu tadi, tidak sekalipun saya pernah dengan sengaja berkunjung ke Lampung.

Semasa kuliah dan bekerja di Jogja, saya pasti melewati Lampung kalau mudik ke Jambi. Menggunakan bus Ramayana atau Putra Remaja, jalur lintas Sumatera manapun yang diambil ujung-ujungnya bakal tembus ke Pelabuhan Bakauheni di Lampung Selatan.

Karena hanya numpang lewat itulah saya cuma tahu dua tempat di Lampung. Dua-duanya berkaitan dengan perjalanan Jambi-Jogja. Selain Bakauheni, tempat kedua adalah Terminal Rajabasa di Bandar Lampung. Sebatas itulah pengetahuan saya tentang Lampung, propinsi yang awalnya sebuah karesidenan dalam propinsi Sumatera Selatan.

Meski demikian, Lampung meninggalkan banyak kenangan bagi saya. Sejumlah pengalaman serba pertama dalam kehidupan saya terjadi di sini. Berikut beberapa di antaranya:
- Pertama kali melihat pelabuhan, yakni Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni.
- Pertama kali melihat lautan, yakni Selat Sunda dari sisi Sumatera.
- Pertama kali naik kapal laut, yakni feri penyeberangan Bakauheni-Merak.
- Pertama kali bepergian lintas pulau, yakni Sumatera-Jawa.

Tentu saya pernah berangan-angan mengunjungi Lampung. Masa iya hanya lewat-lewat saja. Kenapa tidak sekali-kali menjadikan Lampung sebagai tujuan? Tapi untuk apa? Apa yang menarik dari propinsi ini sehingga saya harus meluangkan waktu dan dana mengunjunginya?

Itu dulu yang membuat saya tak pernah melirik Lampung sebagai destinasi wisata pilihan. Dan kalau ada yang berpikiran seperti saya, kita sama-sama salah besar.

Menembus Tiga Besar
Pariwisata Lampung tengah bergeliat. Gubernur M. Ridho Ficardho baru saja mencanangkan daerahnya sebagai destinasi wisata internasional baru di Indonesia. Sosok yang saat dilantik berstatus sebagai gubernur termuda di Indonesia itu bertekad memasukkan Lampung dalam tiga besar pariwisata nasional.

Sebelum ini Lampung memang tampak tak terlalu serius menggarap sektor pariwisata. Tak banyak pemasukan daerah yang berasal dari pos ini. Namun belakangan situasi berbalik. Pariwisata terus digalakkan oleh pemerintah Lampung. Fasilitas dan prasarana diperbaiki serta ditingkatkan, diiringi dengan promosi tanpa henti demi mendatangkan pengunjung.

Hasilnya terlihat. Pada 2010 Lampung hanya dikunjungi 400.000 wisatawan. Dari jumlah tersebut, 10.000 di antaranya merupakan turis asing. Kebanyakan berasal dari Australia dan Selandia Baru.

Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, pintu gerbang Lampung dan juga Pulau Sumatera.

Bandingkan dengan data terbaru yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) Lampung. Sepanjang 2015 ada 5.370.803 orang mengunjungi propinsi ini, dengan 114.907 orang di antaranya turis asing. Hanya dalam tempo lima tahun terjadi peningkatan sangat signifikan dalam hal jumlah wisatawan. Lebih dari 10 kali lipat!

Perkembangan ini diikuti dengan meningkatnya pertumbuhan hotel. Mengutip sumber sama, jumlah hotel di Lampung pada 2015 meningkat sebesar 20% dari tahun sebelumnya. Angka-angka tersebut masih berpotensi naik, mengingat gebrakan yang terus dilakukan petinggi-petinggi daerah dalam menggenjot jumlah wisatawan.

Demi mencapai target tiga besar nasional, Gubernur Ridho Ficardho berguru langsung pada daerah tujuan wisata nomor satu di Indonesia: Bali. Mengambil tempat di Harris Hotel & Residence Bali, April 2016, Ridho "menjual" Lampung kepada stakeholder pariwisata level nasional dalam acara bertajuk "Lampung Tourism Business Meeting & Pameran Pariwisata Lampung 2016."

Tak berhenti sampai di situ. Dalam acara gala dinner bersama Gubernur Bali dan perwakilan biro-biro wisata, Ridho Ficardho tak segan-segan meminta tolong pada I Made Mangku Pastika agar mengajari supaya Lampung jadi daerah tujuan wisata internasional seperti Bali.

Sebuah kesungguhan yang patut diacungi jempol. Sebuah visi yang layak diapresiasi. Sebab Ridho Ficardho tak hanya memasang target sebagai destinasi wisata nasional, tapi internasional.

Potensi Wisata Terpendam
Langkah yang ditempuh Ridho Ficardho sangat tepat. Lampung punya potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata unggulan Indonesia di tingkat dunia. Kalaupun belum bisa bersaing dengan Bali dan Jogja, setidak-tidaknya propinsi satu ini bisa menjadi pesaing serius Lombok.

Ada banyak obyek wisata potensial yang bisa digarap di Lampung. Kalau dulu saya hanya tahu Taman Nasional Way Kambas dan Panti Marina, kini ada puluhan tempat wisata menarik yang siap dinikmati wisatawan. Travel blogger senior Yopie Franz Pangkey bahkan bisa menyusun daftar 40 Tempat Wisata Menarik di Lampung dalam blog pribadinya.

Ya, sebanyak itu. Bahkan bisa jadi jauh lebih banyak.

Lumba-lumba di perairan Teluk Kiluan, Lampung. FOTO: LenteraTimur.com

1. Pantai-Pantai Indah
Boleh dibilang Lampung mendapat bonus geografi. Berada di ujung selatan Pulau Sumatera, praktis hanya bagian utara Lampung yang tidak memiliki pantai. Selebihnya, propinsi ini dikelilingi laut sehingga memiliki garis pantai lumayan panjang.

Kalau dulu orang hanya tahu Pantai Marina atau Pantai Pasir Putih, kini Lampung punya banyak sekali pantai-pantai indah untuk memanjakan pengunjung. Berikut di antaranya:
- Merak Belantung alias Pantai Embe
- Pantai Mutun
- Pantai Wartawan
- Pantai Sari Ringgung
- Pantai Klapa Rapat (Klara)
- Pantai Tanjung Setia
- Pantai Mandiri
- Pantai Labuhan Jukung
- Pantai Tebakak
- Teluk Kiluan

Menariknya, masing-masing pantai mempunyai ciri khas masing-masing. Ambil contoh Pantai Tanjung Setia dan Pantai Mandiri yang banyak diminati peselancar dari dalam dan luar negeri karena ombaknya nan menantang. Kalau ingin melihat batu-batu besar di pantai, datangi Pantai Tebakak di kawasan Pesisir Barat.

Bagi yang sekedar ingin menikmati pasir putih dan suasana pantai nan syahdu, Pantai Pasir Putih, Pantai Sari Ringgung, atau Pantai Embe bisa jadi pilihan. Di Pantai Wartawan ada sumber mata air panas sebagai pesona tambahan. Ingin mencoba keseruan naik banana boat? Datang saja ke Pantai Mutun yang ada di Kabupaten Pesawaran, sekitar 16 km dari Bandar Lampung.

Wisata minat khusus juga mulai berkembang di Lampung. Mengikuti selancar air di Pantai Tanjung Setia dan Pantai Mandiri, kini wisatawan dapat melakukan snorkeling atau diving menikmati keindahan bawah laut.

Setidaknya ada dua titik snorkeling dan diving yang terkenal di Lampung. Pertama di dekat Pulau Kelagian dan Pulau Pahawang, lalu berikutnya di bawah laut Pulau Balak, Pulau Lok, dan Pulau Lunik. Tempat-tempat ini awalnya tak banyak dikenal, hingga kemudian ramai dikunjungi wisatawan dari daerah lain sejak 2015. Keberadaan media sosial sangat berperan di sini.

Pulau Mengkudu dilihat dari atas bukit. FOTO: Tribun Lampung/Teguh Prasetyo

2. Pulau-Pulau Kecil nan Menawan
Masih berkaitan dengan laut, di Lampung ada banyak sekali pulau-pulau kecil nan indah sebagai obyek wisata. Suasana yang sepi dan masih alami, dengan pohon-pohon menghijau, pasir putih membentang, deburan ombak, serta keheningan adalah satu paket relaksasi yang ditawarkan pada pengunjung.

Lupakan hiruk-pikuk kota dengan segala kesibukannya. Manjakan sejenak pikiran di pulau-pulau mungil yang bertebaran di perairan Lampung. Yang asyik, tak butuh waktu lama untuk mencapai pulau-pulau ini dari daratan Sumatera.

Kita mulai dari pulau yang agak besar dan berpenghuni, yakni Pulau Pisang di pesisir barat. Pulau ini dihuni oleh pengrajin kain tapis dan sulam mas khas Lampung. Jadi, sembari menikmati pasir putih di pantai kita bisa melihat proses pembuatan kain tapis dan sulam mas. Atau bisa juga mengelilingi pulau dengan menyewa sepeda motor.

Agak ke selatan, kita akan menemukan Pulau Tegal yang terletak tak jauh dari Pantai Mutun dan Pantai Sari Ringgung. Pulau ini tak cuma menyajikan pemandangan pantai yang indah, pesona bawah airnya pun dijamin memanjakan mata dan batin. Banyak ditemui makhluk-makhluk laut "tidak umum" di sini, selain karang-karang menakjubkan.

Di dekat Pantai Pasir Putih, terdapat Pulau Condong dengan pesona alamnya yang memukau. Untuk mencapai pulau ini cukup membutuhkan waktu 20 menit mengendari perahu dari pantai. Sangat dekat.

Mau merasakan sensasi berlibur di Maladewa? Pindahlah ke Kecamatan Rajabasa di Lampung Selatan. Di daerah ini ada satu pulau kecil nan unik, di mana pasirnya bersambung dengan pasir di pantai Pulau Sumatera. Penduduk setempat menyebutnya sebagai Pulau Mengkudu. Mungkin karena bentuk pulau ini mirip mengkudu? Entahlah.

Karena pasirnya menyatu membentuk semacam jalan, kita tak butuh menyeberangi laut untuk menuju Pulau Mengkudu. Cukup parkir kendaraan di kawasan pantai, lalu lanjutkan dengan berjalan kaki sembari menikmati panorama laut di sekeliling.



3. Air Terjun
Lampung tak cuma punya pantai-pantai indah, pesona bawah laut nan menggoda, serta pulau-pulau kecil menawan. Bagi yang tak suka "main di laut" masih banyak pilihan obtek wisata lain. Bagaimana dengan air terjun?

Di Desa Harapan Jaya, Padang Cermin, terdapat sebuah air terjun cantik bernama Sinar Tiga. Dikelilingi pepohonan menghijau dan lubuk yang tak terlalu besar, air terjun ini menyuguhkan keindahan pemandangan alam bersama sejuknya udara segar.

Pesona tak kalah indah dengan jalur tempuh lebih mudah bisa didapatkan di air terjun Way Lalaan. Terletak tak jauh dari jalan lintas Bandar Lampung - Kota Agung, air terjun ini cocok sebagai pelepas penat bagi pengendara yang tengah menempuh perjalanan jauh.

Jika air terjun Sinar Tiga dan Way Lalaan dirasa kurang tinggi, coba pindah tempat ke Curug Tujuh Linggapura. Disematkannya kata "tujuh" dalam nama air terjun ini bukan tanpa alasan. Air terjun ini memiliki tujuh tingkat, dengan total ketinggian dari tingkat pertama ke tingkat ketujuh 75 meter.

Satu hal yang agak disayangkan, akses menuju Curug Tujuh Linggapura masih terhitung sulit. Selain itu lokasinya jauh dari pusat kota. Dari Bandara Radin Inten II, kita harus berkendara sejauh 135 km menuju Desa Linggapura di Kecamatan Padang Ratu, Lampung Tengah. Itupun masih dilanjut ojek untuk sampai di air terjun.

Selain Curug Tujuh, air tejun Putri Malu di Way Kanan juga memiliki jalur tempuh menantang. Pengunjung baru bisa mencapai lokasi air terjun setelah menumpang ojek motor trail dari Dusun Juku Batu. Lama perjalanannya pun tak tanggung-tanggung, 40 menit! Tapi semua itu bakal terbayar lunas oleh keindahan air terjun Putri Malu.

Tak jauh dari air terjun Putri Malu terdapat air terjun Batu Duduk. Hmm, sekali naik ojek trail dua air terjun terlampaui.

Bergeser ke Desa Sukamaju, Kecamatan Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus, terdapat air terjun yang tengah naik daun berkat promosi media sosial. Namanya air terjun Lembah Pelangi, yang menurut penduduk setempat awalnya bernama air terjun Pondok Rejo. Sesuai namanya, cahaya matahari yang menembus butir-butir air terjun ini kerap membentuk pelangi.

Di antara semua itu, barangkali Curug Gangsa yang paling unik. Bukan rute ataupun pemandangan sekitarnya yang unik, melainkan penyebab terbentuknya air terjun ini. Curug Gangsa aslinya merupakan ujung saluran irigasi persawahan di Way Kanan. Karena ujungnya berada di tebing yang tinggi, air yang mengalir pun menjelma sebagai air terjun.


Lampung Krakatau Festival
Habis? Belum. Masih banyak lagi obyek-obyek wisata Lampung yang merupakan potensi terpendam daerah ini. Di atas hanya menguraikan tiga jenis obyek wisata. Sedangkan Lampung juga mempunyai Desa Wisata Gedung Batin, situs purbakala Pugung Raharjo di Lampung Timur, Teluk Kiluan di mana kita bisa melihat ikan lumba-lumba, dan masih banyak lagi.

Jangan lupakan pula Taman Nasional Way Kambas yang merupakan taman nasional tertua, sekaligus sekolah gajah pertama di Indonesia. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang bakal mengundang decak kagum dengan kekayaan alam hayatinya. Satu lagi yang sangat melegenda adalah Taman Nasional Anak Krakatau.

Gunung Krakatau merupakan legenda dunia. Letusannya nan dahsyat di tahun 1883 masih menjadi cerita menarik di Tanah Eropa hingga sekarang. Kejadian meletusnya Gunung Krakatau diabadikan dalam banyak film, baik film dokumenter maupun film layar lebar, serta sejumlah buku.

Kini, meski Gunung Krakatau sudah hilang akibat letusannya sendiri, keagungannya tetap terjaga berkat kemunculan gunung baru di tempat Krakatau dulu berada. Orang pun dengan mudahnya menyebut gunung baru tersebut sebagai Gunung Anak Krakatau.

Dari Lampung, Taman Nasional Anak Krakatau dapat didatangi lewat dermaga Canti. Singgah sebentar di Pulau Sebesi, barulah perahu berlabuh di Krakatau. Terdapat tiga pulau besar di kawasan ini, yakni Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang. Gunung Anak Krakatau sendiri berada di tengah-tengah ketiga pulau tersebut.

Ketiga pulau yang mengelilingi Anak Krakatau dulunya merupakan badan Gunung Krakatau. Bayangkan betapa besarnya gunung ini. Letusan hebat pada 1883 telah menghancur-leburkan gunung tersebut, menjadi tiga pulau di Selat Sunda. Gunung Anak Krakatau sendiri baru mulai muncul pada tahun 1927, kurang-lebih 45 tahun setelah Krakatau meletus.



Untuk memperingati letusan mahahebat Krakatau, pemerintah provinsi Lampung menggelar event tahunan bertajuk Lampung Krakatau Festival, Pariwisata Indonesia. Diadakan sejak 1991, festival ini bertujuan mempromosikan atraksi, daya tarik wisata unggulan, dan seni budaya Lampung. Khusus tahun ini, festival diadakan pada 24-28 Agustus 2016 dengan mengusung "Lampung The Treasure of Sumatera" sebagai tagline.

Beragam kegiatan diadakan sepanjang Festival Krakatau 2016. Beberapa di antaranya Jelajah Pasar Seni, Jelajah Layang-Layang, Jelajah Rasa alias Festival Kuliner, Jelajah Krakatau, Jelajah Semarak Budaya (Lampung Culture & Tapis Carnival), serta Investor Summit (Gala Dinner) yang khusus digelar bagi stakeholer pariwisata nasional.

Saya sendiri terkesan dengan tagline Lampung. The Treasure of Sumatera, harta karunnya Sumatera. Sebuah tagline yang menggambarkan betapa banyak keindahan terpendam di Lampung. Betapa banyak potensi pariwisata yang ada di provinsi ini.

Jika digarap dengan serius, diimbangi dengan promosi gencar, dan tentu saja tersedianya fasilitas serta prasarana memadai, pariwisata Lampung dijamin bakal berkembang pesat. Dengan kerja sama semua pihak, impian Gubernur Ridho Ficardho menjadikan Lampung sebagai destinasi wisata internasional bakal terwujud.

Semoga saja. Dan semoga ada yang mengajak saya menikmati keindahan Lampung. Amin... :)

Referensi:
http://lampung.bps.go.id
https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Ridho_Ficardo
http://lifestyle.okezone.com/read/2016/08/19/406/1467891/festival-krakatau-2016-lampung-the-treasure-of-sumatera
http://indopos.co.id/festival-krakatau-2016-lampung-the-treasure-of-sumatra/
http://citraindonesia.com/digelar-lampung-the-treasure-of-sumatera/
http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=197222:indian-investor-to-build-railroad-track-in-s-sumatra&catid=30:english-news&Itemid=101

Disclaimer: Tulisan ini diikut-sertakan dalam Lomba Blog "The Treasure of Sumatera" yang diadakan Dinas Pariwisata Lampung sebagai rangkaian Lampung Krakatau Fest 2016.


KALAU ada propinsi yang bolak-balik saya lewati tapi tak pernah dikunjungi, maka itu adalah Lampung. Sejak tahun 2000, berkali-kali saya melintasi propinsi paling selatan di Pulau Sumatera ini. Tapi, ya itu tadi, tidak sekalipun saya pernah dengan sengaja berkunjung ke Lampung.

Semasa kuliah dan bekerja di Jogja, saya pasti melewati Lampung kalau mudik ke Jambi. Menggunakan bus Ramayana atau Putra Remaja, jalur lintas Sumatera manapun yang diambil ujung-ujungnya bakal tembus ke Pelabuhan Bakauheni di Lampung Selatan.

Karena hanya numpang lewat itulah saya cuma tahu dua tempat di Lampung. Dua-duanya berkaitan dengan perjalanan Jambi-Jogja. Selain Bakauheni, tempat kedua adalah Terminal Rajabasa di Bandar Lampung. Sebatas itulah pengetahuan saya tentang Lampung, propinsi yang awalnya sebuah karesidenan dalam propinsi Sumatera Selatan.

Meski demikian, Lampung meninggalkan banyak kenangan bagi saya. Sejumlah pengalaman serba pertama dalam kehidupan saya terjadi di sini. Berikut beberapa di antaranya:
- Pertama kali melihat pelabuhan, yakni Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni.
- Pertama kali melihat lautan, yakni Selat Sunda dari sisi Sumatera.
- Pertama kali naik kapal laut, yakni feri penyeberangan Bakauheni-Merak.
- Pertama kali bepergian lintas pulau, yakni Sumatera-Jawa.

Tentu saya pernah berangan-angan mengunjungi Lampung. Masa iya hanya lewat-lewat saja. Kenapa tidak sekali-kali menjadikan Lampung sebagai tujuan? Tapi untuk apa? Apa yang menarik dari propinsi ini sehingga saya harus meluangkan waktu dan dana mengunjunginya?

Itu dulu yang membuat saya tak pernah melirik Lampung sebagai destinasi wisata pilihan. Dan kalau ada yang berpikiran seperti saya, kita sama-sama salah besar.

Menembus Tiga Besar
Pariwisata Lampung tengah bergeliat. Gubernur M. Ridho Ficardho baru saja mencanangkan daerahnya sebagai destinasi wisata internasional baru di Indonesia. Sosok yang saat dilantik berstatus sebagai gubernur termuda di Indonesia itu bertekad memasukkan Lampung dalam tiga besar pariwisata nasional.

Sebelum ini Lampung memang tampak tak terlalu serius menggarap sektor pariwisata. Tak banyak pemasukan daerah yang berasal dari pos ini. Namun belakangan situasi berbalik. Pariwisata terus digalakkan oleh pemerintah Lampung. Fasilitas dan prasarana diperbaiki serta ditingkatkan, diiringi dengan promosi tanpa henti demi mendatangkan pengunjung.

Hasilnya terlihat. Pada 2010 Lampung hanya dikunjungi 400.000 wisatawan. Dari jumlah tersebut, 10.000 di antaranya merupakan turis asing. Kebanyakan berasal dari Australia dan Selandia Baru.

Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, pintu gerbang Lampung dan juga Pulau Sumatera.

Bandingkan dengan data terbaru yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) Lampung. Sepanjang 2015 ada 5.370.803 orang mengunjungi propinsi ini, dengan 114.907 orang di antaranya turis asing. Hanya dalam tempo lima tahun terjadi peningkatan sangat signifikan dalam hal jumlah wisatawan. Lebih dari 10 kali lipat!

Perkembangan ini diikuti dengan meningkatnya pertumbuhan hotel. Mengutip sumber sama, jumlah hotel di Lampung pada 2015 meningkat sebesar 20% dari tahun sebelumnya. Angka-angka tersebut masih berpotensi naik, mengingat gebrakan yang terus dilakukan petinggi-petinggi daerah dalam menggenjot jumlah wisatawan.

Demi mencapai target tiga besar nasional, Gubernur Ridho Ficardho berguru langsung pada daerah tujuan wisata nomor satu di Indonesia: Bali. Mengambil tempat di Harris Hotel & Residence Bali, April 2016, Ridho "menjual" Lampung kepada stakeholder pariwisata level nasional dalam acara bertajuk "Lampung Tourism Business Meeting & Pameran Pariwisata Lampung 2016."

Tak berhenti sampai di situ. Dalam acara gala dinner bersama Gubernur Bali dan perwakilan biro-biro wisata, Ridho Ficardho tak segan-segan meminta tolong pada I Made Mangku Pastika agar mengajari supaya Lampung jadi daerah tujuan wisata internasional seperti Bali.

Sebuah kesungguhan yang patut diacungi jempol. Sebuah visi yang layak diapresiasi. Sebab Ridho Ficardho tak hanya memasang target sebagai destinasi wisata nasional, tapi internasional.

Potensi Wisata Terpendam
Langkah yang ditempuh Ridho Ficardho sangat tepat. Lampung punya potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata unggulan Indonesia di tingkat dunia. Kalaupun belum bisa bersaing dengan Bali dan Jogja, setidak-tidaknya propinsi satu ini bisa menjadi pesaing serius Lombok.

Ada banyak obyek wisata potensial yang bisa digarap di Lampung. Kalau dulu saya hanya tahu Taman Nasional Way Kambas dan Panti Marina, kini ada puluhan tempat wisata menarik yang siap dinikmati wisatawan. Travel blogger senior Yopie Franz Pangkey bahkan bisa menyusun daftar 40 Tempat Wisata Menarik di Lampung dalam blog pribadinya.

Ya, sebanyak itu. Bahkan bisa jadi jauh lebih banyak.

Lumba-lumba di perairan Teluk Kiluan, Lampung. FOTO: LenteraTimur.com

1. Pantai-Pantai Indah
Boleh dibilang Lampung mendapat bonus geografi. Berada di ujung selatan Pulau Sumatera, praktis hanya bagian utara Lampung yang tidak memiliki pantai. Selebihnya, propinsi ini dikelilingi laut sehingga memiliki garis pantai lumayan panjang.

Kalau dulu orang hanya tahu Pantai Marina atau Pantai Pasir Putih, kini Lampung punya banyak sekali pantai-pantai indah untuk memanjakan pengunjung. Berikut di antaranya:
- Merak Belantung alias Pantai Embe
- Pantai Mutun
- Pantai Wartawan
- Pantai Sari Ringgung
- Pantai Klapa Rapat (Klara)
- Pantai Tanjung Setia
- Pantai Mandiri
- Pantai Labuhan Jukung
- Pantai Tebakak
- Teluk Kiluan

Menariknya, masing-masing pantai mempunyai ciri khas masing-masing. Ambil contoh Pantai Tanjung Setia dan Pantai Mandiri yang banyak diminati peselancar dari dalam dan luar negeri karena ombaknya nan menantang. Kalau ingin melihat batu-batu besar di pantai, datangi Pantai Tebakak di kawasan Pesisir Barat.

Bagi yang sekedar ingin menikmati pasir putih dan suasana pantai nan syahdu, Pantai Pasir Putih, Pantai Sari Ringgung, atau Pantai Embe bisa jadi pilihan. Di Pantai Wartawan ada sumber mata air panas sebagai pesona tambahan. Ingin mencoba keseruan naik banana boat? Datang saja ke Pantai Mutun yang ada di Kabupaten Pesawaran, sekitar 16 km dari Bandar Lampung.

Wisata minat khusus juga mulai berkembang di Lampung. Mengikuti selancar air di Pantai Tanjung Setia dan Pantai Mandiri, kini wisatawan dapat melakukan snorkeling atau diving menikmati keindahan bawah laut.

Setidaknya ada dua titik snorkeling dan diving yang terkenal di Lampung. Pertama di dekat Pulau Kelagian dan Pulau Pahawang, lalu berikutnya di bawah laut Pulau Balak, Pulau Lok, dan Pulau Lunik. Tempat-tempat ini awalnya tak banyak dikenal, hingga kemudian ramai dikunjungi wisatawan dari daerah lain sejak 2015. Keberadaan media sosial sangat berperan di sini.

Pulau Mengkudu dilihat dari atas bukit. FOTO: Tribun Lampung/Teguh Prasetyo

2. Pulau-Pulau Kecil nan Menawan
Masih berkaitan dengan laut, di Lampung ada banyak sekali pulau-pulau kecil nan indah sebagai obyek wisata. Suasana yang sepi dan masih alami, dengan pohon-pohon menghijau, pasir putih membentang, deburan ombak, serta keheningan adalah satu paket relaksasi yang ditawarkan pada pengunjung.

Lupakan hiruk-pikuk kota dengan segala kesibukannya. Manjakan sejenak pikiran di pulau-pulau mungil yang bertebaran di perairan Lampung. Yang asyik, tak butuh waktu lama untuk mencapai pulau-pulau ini dari daratan Sumatera.

Kita mulai dari pulau yang agak besar dan berpenghuni, yakni Pulau Pisang di pesisir barat. Pulau ini dihuni oleh pengrajin kain tapis dan sulam mas khas Lampung. Jadi, sembari menikmati pasir putih di pantai kita bisa melihat proses pembuatan kain tapis dan sulam mas. Atau bisa juga mengelilingi pulau dengan menyewa sepeda motor.

Agak ke selatan, kita akan menemukan Pulau Tegal yang terletak tak jauh dari Pantai Mutun dan Pantai Sari Ringgung. Pulau ini tak cuma menyajikan pemandangan pantai yang indah, pesona bawah airnya pun dijamin memanjakan mata dan batin. Banyak ditemui makhluk-makhluk laut "tidak umum" di sini, selain karang-karang menakjubkan.

Di dekat Pantai Pasir Putih, terdapat Pulau Condong dengan pesona alamnya yang memukau. Untuk mencapai pulau ini cukup membutuhkan waktu 20 menit mengendari perahu dari pantai. Sangat dekat.

Mau merasakan sensasi berlibur di Maladewa? Pindahlah ke Kecamatan Rajabasa di Lampung Selatan. Di daerah ini ada satu pulau kecil nan unik, di mana pasirnya bersambung dengan pasir di pantai Pulau Sumatera. Penduduk setempat menyebutnya sebagai Pulau Mengkudu. Mungkin karena bentuk pulau ini mirip mengkudu? Entahlah.

Karena pasirnya menyatu membentuk semacam jalan, kita tak butuh menyeberangi laut untuk menuju Pulau Mengkudu. Cukup parkir kendaraan di kawasan pantai, lalu lanjutkan dengan berjalan kaki sembari menikmati panorama laut di sekeliling.



3. Air Terjun
Lampung tak cuma punya pantai-pantai indah, pesona bawah laut nan menggoda, serta pulau-pulau kecil menawan. Bagi yang tak suka "main di laut" masih banyak pilihan obtek wisata lain. Bagaimana dengan air terjun?

Di Desa Harapan Jaya, Padang Cermin, terdapat sebuah air terjun cantik bernama Sinar Tiga. Dikelilingi pepohonan menghijau dan lubuk yang tak terlalu besar, air terjun ini menyuguhkan keindahan pemandangan alam bersama sejuknya udara segar.

Pesona tak kalah indah dengan jalur tempuh lebih mudah bisa didapatkan di air terjun Way Lalaan. Terletak tak jauh dari jalan lintas Bandar Lampung - Kota Agung, air terjun ini cocok sebagai pelepas penat bagi pengendara yang tengah menempuh perjalanan jauh.

Jika air terjun Sinar Tiga dan Way Lalaan dirasa kurang tinggi, coba pindah tempat ke Curug Tujuh Linggapura. Disematkannya kata "tujuh" dalam nama air terjun ini bukan tanpa alasan. Air terjun ini memiliki tujuh tingkat, dengan total ketinggian dari tingkat pertama ke tingkat ketujuh 75 meter.

Satu hal yang agak disayangkan, akses menuju Curug Tujuh Linggapura masih terhitung sulit. Selain itu lokasinya jauh dari pusat kota. Dari Bandara Radin Inten II, kita harus berkendara sejauh 135 km menuju Desa Linggapura di Kecamatan Padang Ratu, Lampung Tengah. Itupun masih dilanjut ojek untuk sampai di air terjun.

Selain Curug Tujuh, air tejun Putri Malu di Way Kanan juga memiliki jalur tempuh menantang. Pengunjung baru bisa mencapai lokasi air terjun setelah menumpang ojek motor trail dari Dusun Juku Batu. Lama perjalanannya pun tak tanggung-tanggung, 40 menit! Tapi semua itu bakal terbayar lunas oleh keindahan air terjun Putri Malu.

Tak jauh dari air terjun Putri Malu terdapat air terjun Batu Duduk. Hmm, sekali naik ojek trail dua air terjun terlampaui.

Bergeser ke Desa Sukamaju, Kecamatan Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus, terdapat air terjun yang tengah naik daun berkat promosi media sosial. Namanya air terjun Lembah Pelangi, yang menurut penduduk setempat awalnya bernama air terjun Pondok Rejo. Sesuai namanya, cahaya matahari yang menembus butir-butir air terjun ini kerap membentuk pelangi.

Di antara semua itu, barangkali Curug Gangsa yang paling unik. Bukan rute ataupun pemandangan sekitarnya yang unik, melainkan penyebab terbentuknya air terjun ini. Curug Gangsa aslinya merupakan ujung saluran irigasi persawahan di Way Kanan. Karena ujungnya berada di tebing yang tinggi, air yang mengalir pun menjelma sebagai air terjun.


Lampung Krakatau Festival
Habis? Belum. Masih banyak lagi obyek-obyek wisata Lampung yang merupakan potensi terpendam daerah ini. Di atas hanya menguraikan tiga jenis obyek wisata. Sedangkan Lampung juga mempunyai Desa Wisata Gedung Batin, situs purbakala Pugung Raharjo di Lampung Timur, Teluk Kiluan di mana kita bisa melihat ikan lumba-lumba, dan masih banyak lagi.

Jangan lupakan pula Taman Nasional Way Kambas yang merupakan taman nasional tertua, sekaligus sekolah gajah pertama di Indonesia. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang bakal mengundang decak kagum dengan kekayaan alam hayatinya. Satu lagi yang sangat melegenda adalah Taman Nasional Anak Krakatau.

Gunung Krakatau merupakan legenda dunia. Letusannya nan dahsyat di tahun 1883 masih menjadi cerita menarik di Tanah Eropa hingga sekarang. Kejadian meletusnya Gunung Krakatau diabadikan dalam banyak film, baik film dokumenter maupun film layar lebar, serta sejumlah buku.

Kini, meski Gunung Krakatau sudah hilang akibat letusannya sendiri, keagungannya tetap terjaga berkat kemunculan gunung baru di tempat Krakatau dulu berada. Orang pun dengan mudahnya menyebut gunung baru tersebut sebagai Gunung Anak Krakatau.

Dari Lampung, Taman Nasional Anak Krakatau dapat didatangi lewat dermaga Canti. Singgah sebentar di Pulau Sebesi, barulah perahu berlabuh di Krakatau. Terdapat tiga pulau besar di kawasan ini, yakni Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang. Gunung Anak Krakatau sendiri berada di tengah-tengah ketiga pulau tersebut.

Ketiga pulau yang mengelilingi Anak Krakatau dulunya merupakan badan Gunung Krakatau. Bayangkan betapa besarnya gunung ini. Letusan hebat pada 1883 telah menghancur-leburkan gunung tersebut, menjadi tiga pulau di Selat Sunda. Gunung Anak Krakatau sendiri baru mulai muncul pada tahun 1927, kurang-lebih 45 tahun setelah Krakatau meletus.



Untuk memperingati letusan mahahebat Krakatau, pemerintah provinsi Lampung menggelar event tahunan bertajuk Lampung Krakatau Festival, Pariwisata Indonesia. Diadakan sejak 1991, festival ini bertujuan mempromosikan atraksi, daya tarik wisata unggulan, dan seni budaya Lampung. Khusus tahun ini, festival diadakan pada 24-28 Agustus 2016 dengan mengusung "Lampung The Treasure of Sumatera" sebagai tagline.

Beragam kegiatan diadakan sepanjang Festival Krakatau 2016. Beberapa di antaranya Jelajah Pasar Seni, Jelajah Layang-Layang, Jelajah Rasa alias Festival Kuliner, Jelajah Krakatau, Jelajah Semarak Budaya (Lampung Culture & Tapis Carnival), serta Investor Summit (Gala Dinner) yang khusus digelar bagi stakeholer pariwisata nasional.

Saya sendiri terkesan dengan tagline Lampung. The Treasure of Sumatera, harta karunnya Sumatera. Sebuah tagline yang menggambarkan betapa banyak keindahan terpendam di Lampung. Betapa banyak potensi pariwisata yang ada di provinsi ini.

Jika digarap dengan serius, diimbangi dengan promosi gencar, dan tentu saja tersedianya fasilitas serta prasarana memadai, pariwisata Lampung dijamin bakal berkembang pesat. Dengan kerja sama semua pihak, impian Gubernur Ridho Ficardho menjadikan Lampung sebagai destinasi wisata internasional bakal terwujud.

Semoga saja. Dan semoga ada yang mengajak saya menikmati keindahan Lampung. Amin... :)

Referensi:
http://lampung.bps.go.id
https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Ridho_Ficardo
http://lifestyle.okezone.com/read/2016/08/19/406/1467891/festival-krakatau-2016-lampung-the-treasure-of-sumatera
http://indopos.co.id/festival-krakatau-2016-lampung-the-treasure-of-sumatra/
http://citraindonesia.com/digelar-lampung-the-treasure-of-sumatera/
http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=197222:indian-investor-to-build-railroad-track-in-s-sumatra&catid=30:english-news&Itemid=101

Disclaimer: Tulisan ini diikut-sertakan dalam Lomba Blog "The Treasure of Sumatera" yang diadakan Dinas Pariwisata Lampung sebagai rangkaian Lampung Krakatau Fest 2016.

Kamis, 18 Agustus 2016


DIRGAHAYU Republik Indonesia! Seperti sudah berlangsung bertahun-tahun setiap 17 Agustus sejak 71 tahun silam, upacara bendera memperingati proklamasi kemerdekaan RI digelar di seluruh Indonesia. Ada banyak cerita dan kejadian menarik seputar upacara bendera tahun ini. Tentu saja menarik menurut saya ya. Yuk, simak!

Satu yang paling menyita perhatian publik adalah kisah Gloria Natapradja Hamel "dipecat" dari Paskibraka Nasional. Gadis keturunan campuran ini didepak karena kedapatan berpaspor Prancis, negara asal ayahnya. Padahal Gloria sudah melewati serangkaian tes, juga telah menjalani karantina dan latihan intensif selama sebulan penuh.

Bayangkan, hanya tinggal hitungan hari saja ia beraksi bersama rekan-rekannya sepasukan di Istana Negara, eh, lha kok namanya dicoret dari Paskibraka. Adalah Kemenpora yang mengeluarkan keputusan pencoretan tersebut di detik-detik terakhir. Alasannya, warga negara asing tidak boleh menjadi anggota Paskibraka.

Secara logis alasan itu bisa diterima sih. Masa iya anggota pasukan pengibar bendera pusaka dalam upacara di Istana Negara kok warga asing? Masalahnya, Gloria lahir dan menghabiskan seluruh hidupnya di Indonesia. Ia fasih berbahasa Indonesia. Ia bahkan belum pernah sekalipun keluar negeri.

Tapi saya melihat ada yang janggal. Ibu Gloria, Ira Natapradja, menjelaskan pembuatan paspor Prancis dilakukan karena Gloria belum genap 18 tahun sehingga tidak bisa membuat KTP. Pertanyaan saya, kenapa yang dibuat paspor Prancis? Kan lebih deket buat paspor RI, Bu? Tapi, ya, sudahlah. Toh, ending-nya Gloria diijinkan oleh Presiden Jokowi untuk bertugas dalam upacara penurunan bendera pada sore harinya.

Yang membuat saya terharu, Gloria sempat menulis surat kepada Presiden Jokowi untuk menegaskan kecintaannya pada Republik Indonesia. Surat bermaterai Rp6.000. Apakah isi surat ini begitu menyentuh sampai-sampai Presiden membolehkannya bertugas bersama Tim Bima saat Parade Senja? Hanya Jokowi yang tahu.



Paskibraka Menangis di Pematang Siantar
Kisah tak kalah mengharukan terjadi di Pematang Siantar. Memang dramanya tak seheboh kisah Gloria sih, tapi kadarnya beda-beda tipislah. Di mana anggota Paskibraka Pematang Siantar menangis gara-gara gagal mengibarkan bendera Merah Putih. Di situ kadang saya sedih.

Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat tiga anggota Paskibraka yang bertugas mengibarkan bendera hanya diam ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Lagu selesai, bendera masih belum bergerak. Malah dilipat kembali. Suasana upacara jadi tegang-tegang gimanaaa gitu.

Usut punya usut, katanya sih cantolan bendera pada tali ada yang lepas. Jadi seandainya bendera dipaksakan diikat dan dikerek naik bakal melorot turun. Nah, anggota pengibar yang tak mau hal itu terjadi berinisiatif diam. Barulah setelah cantolan diperbaiki bendera berkibar di halaman Kantor Bupati Pematang Siantar.

Sekalipun kejadian ini terhitung force majeur, tetap saja anggota-anggota Paskibraka menangis. Sambil berbaris mereka menangis. Mereka kecewa, merasa gagal, sudah berlatih lama tapi bendera tak bisa mereka kibarkan dengan baik saat upacara. Beberapa anggota cewek ada yang sampai histeris.

Kalau ingat menjadi Paskibraka boleh dikatakan kesempatan sekali seumur hidup, kesedihan adik-adik Paskibraka ini dapat dimaklumi. Yang penting tetap semangat ya. Masa depan kalian masih panjang kok. *sokbijak*


Sepatu Diinjak Teman, Lepas
Ini sebenarnya tidak terlalu menarik sih. Hal biasa. Tapi karena terjadi di momen upacara bendera nan sakral, jadi lucu-lucu gimana gitu. Yang lebih menarik, kok ya ada media nasional yang mengangkat berita ini. Human interest, okelah, tapi mbokyao yang lain yang diangkat.

Kejadiannya di Bima, Nusa Tenggara Barat. Dalam upacara level kotamadya ini, sepatu salah seorang anggota Paskibraka lepas karena diinjak teman di belakangnya. Tapi karena sudah diajarkan untuk tak menghiraukan semua gangguan selama bertugas, anggota tersebut cuek saja hanya memakai satu sepatu.

Untungnya, kalau boleh dibilang untung, sepatu tersebut lepas setelah bendera dikibarkan. Sehingga momen naiknya Sang Saka Merah Putih ke puncak tiang berlangsung khidmat. Kalau saja lepasnya sebelum bendera naik, bisa jadi peserta upacara jadi sibuk berkasak-kusuk membahas sepatu.

Selepas upacara, pembina Paskibraka Kota Bima langsung meluruskan sepatu anak didiknya lepas karena terinjak, bukan karena ukurannya longgar.

Iya deh, Pak, saya percaya.


Nyi Ratu Kidul Bawa Bendera
Kalau kejadian satu ini memang tidak berlangsung saat upacara. Tapi masih satu rangkaian dalam upacara bendera. Yang unik, ini adalah pemandangan baru di mana rangkaian upacara kenegaraan di level kabupaten menghadirkan sosok legendaris yang dianggap mitos. Tapi bukan Dedi Mulyadi namanya kalau tidak lain dari yang lain.

Bupati Purwakarta tersebut mengubah protokoler penyerahan bendera pusaka yang akan dikibarkan saat upacara. Mulai tahun ini, setidaknya selama Dedi menjabat, bendera pusaka diserah-terimakan dari sosok Nyi Ratu Kidul kepada sang bupati. Barulah oleh bupati bendera diberikan pada Paskibraka.

Nyi Ratu Kidul adalah sosok antara ada dan tiada. Ia merupakan legenda bagi masyarakat di kawasan pantai selatan Jawa. Tak cuma di Purwakarta, masyarakat di Pangandaran hingga Yogyakarta mempercayai keberadaannya di Laut Selatan. Bahkan, konon, raja-raja Mataram menjalin "hubungan spesial" dengan Nyi Ratu Kidul.

Sosok yang dipercaya merupakan penguasa Laut Selatan ini identik dengan pakaian berwarna hijau. Karenanya masyarakat Pantai Parangtritis menghindari pakaian-pakaian berwarna hijau kalau pergi ke pantai. Mereka percaya, Nyi Ratu Kidul marah jika ada yang berpakaian menyerupai dirinya. Orang berpakaian hijau itu dipercaya bakal dibawa ke Laut Selatan, alias hanyut.

Benar atau tidaknya ya saya kembalikan pada kepercayaan masing-masing.

Oya, yang memerankan Nyi Ratu Kidul dalam pengukuhan Paskibraka di Purwakarta adalah Cinta Rizkia. Coba search namanya di Google. Gadis cantik ini rupanya sudah cukup lama memerankan sosok Nyi Ratu Kidul dalam tarian. Berdasarkan penelusuran online yang saya lakukan, Cinta adalah lulusan Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia.

*****

Itu dia tiga-empat kejadian menarik dari upacara bendera 17 Agustus 2016 versi saya. Saya yakin ada banyak kejadian tak kalah menarik di daerah lain. Jangan ragu-ragu untuk share di kolom komentar ya...

Sumber-Sumber:
  • http://regional.kompas.com/read/2016/08/17/12390611/sepatu.satu.anggota.paskibraka.copot.seusai.menaikkan.bendera
  • http://regional.kompas.com/read/2016/08/17/12151201/sempat.gagal.menaikkan.bendera.pasukan.paskibra.menangis
  • http://regional.kompas.com/read/2016/08/16/18375671/.nyi.ratu.kidul.bawakan.bendera.untuk.upacara.hut.ri.di.purwakarta
  • http://www.rappler.com/indonesia/143345-5-hal-mengenai-gloria-natapradja-hamel


DIRGAHAYU Republik Indonesia! Seperti sudah berlangsung bertahun-tahun setiap 17 Agustus sejak 71 tahun silam, upacara bendera memperingati proklamasi kemerdekaan RI digelar di seluruh Indonesia. Ada banyak cerita dan kejadian menarik seputar upacara bendera tahun ini. Tentu saja menarik menurut saya ya. Yuk, simak!

Satu yang paling menyita perhatian publik adalah kisah Gloria Natapradja Hamel "dipecat" dari Paskibraka Nasional. Gadis keturunan campuran ini didepak karena kedapatan berpaspor Prancis, negara asal ayahnya. Padahal Gloria sudah melewati serangkaian tes, juga telah menjalani karantina dan latihan intensif selama sebulan penuh.

Bayangkan, hanya tinggal hitungan hari saja ia beraksi bersama rekan-rekannya sepasukan di Istana Negara, eh, lha kok namanya dicoret dari Paskibraka. Adalah Kemenpora yang mengeluarkan keputusan pencoretan tersebut di detik-detik terakhir. Alasannya, warga negara asing tidak boleh menjadi anggota Paskibraka.

Secara logis alasan itu bisa diterima sih. Masa iya anggota pasukan pengibar bendera pusaka dalam upacara di Istana Negara kok warga asing? Masalahnya, Gloria lahir dan menghabiskan seluruh hidupnya di Indonesia. Ia fasih berbahasa Indonesia. Ia bahkan belum pernah sekalipun keluar negeri.

Tapi saya melihat ada yang janggal. Ibu Gloria, Ira Natapradja, menjelaskan pembuatan paspor Prancis dilakukan karena Gloria belum genap 18 tahun sehingga tidak bisa membuat KTP. Pertanyaan saya, kenapa yang dibuat paspor Prancis? Kan lebih deket buat paspor RI, Bu? Tapi, ya, sudahlah. Toh, ending-nya Gloria diijinkan oleh Presiden Jokowi untuk bertugas dalam upacara penurunan bendera pada sore harinya.

Yang membuat saya terharu, Gloria sempat menulis surat kepada Presiden Jokowi untuk menegaskan kecintaannya pada Republik Indonesia. Surat bermaterai Rp6.000. Apakah isi surat ini begitu menyentuh sampai-sampai Presiden membolehkannya bertugas bersama Tim Bima saat Parade Senja? Hanya Jokowi yang tahu.



Paskibraka Menangis di Pematang Siantar
Kisah tak kalah mengharukan terjadi di Pematang Siantar. Memang dramanya tak seheboh kisah Gloria sih, tapi kadarnya beda-beda tipislah. Di mana anggota Paskibraka Pematang Siantar menangis gara-gara gagal mengibarkan bendera Merah Putih. Di situ kadang saya sedih.

Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat tiga anggota Paskibraka yang bertugas mengibarkan bendera hanya diam ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Lagu selesai, bendera masih belum bergerak. Malah dilipat kembali. Suasana upacara jadi tegang-tegang gimanaaa gitu.

Usut punya usut, katanya sih cantolan bendera pada tali ada yang lepas. Jadi seandainya bendera dipaksakan diikat dan dikerek naik bakal melorot turun. Nah, anggota pengibar yang tak mau hal itu terjadi berinisiatif diam. Barulah setelah cantolan diperbaiki bendera berkibar di halaman Kantor Bupati Pematang Siantar.

Sekalipun kejadian ini terhitung force majeur, tetap saja anggota-anggota Paskibraka menangis. Sambil berbaris mereka menangis. Mereka kecewa, merasa gagal, sudah berlatih lama tapi bendera tak bisa mereka kibarkan dengan baik saat upacara. Beberapa anggota cewek ada yang sampai histeris.

Kalau ingat menjadi Paskibraka boleh dikatakan kesempatan sekali seumur hidup, kesedihan adik-adik Paskibraka ini dapat dimaklumi. Yang penting tetap semangat ya. Masa depan kalian masih panjang kok. *sokbijak*


Sepatu Diinjak Teman, Lepas
Ini sebenarnya tidak terlalu menarik sih. Hal biasa. Tapi karena terjadi di momen upacara bendera nan sakral, jadi lucu-lucu gimana gitu. Yang lebih menarik, kok ya ada media nasional yang mengangkat berita ini. Human interest, okelah, tapi mbokyao yang lain yang diangkat.

Kejadiannya di Bima, Nusa Tenggara Barat. Dalam upacara level kotamadya ini, sepatu salah seorang anggota Paskibraka lepas karena diinjak teman di belakangnya. Tapi karena sudah diajarkan untuk tak menghiraukan semua gangguan selama bertugas, anggota tersebut cuek saja hanya memakai satu sepatu.

Untungnya, kalau boleh dibilang untung, sepatu tersebut lepas setelah bendera dikibarkan. Sehingga momen naiknya Sang Saka Merah Putih ke puncak tiang berlangsung khidmat. Kalau saja lepasnya sebelum bendera naik, bisa jadi peserta upacara jadi sibuk berkasak-kusuk membahas sepatu.

Selepas upacara, pembina Paskibraka Kota Bima langsung meluruskan sepatu anak didiknya lepas karena terinjak, bukan karena ukurannya longgar.

Iya deh, Pak, saya percaya.


Nyi Ratu Kidul Bawa Bendera
Kalau kejadian satu ini memang tidak berlangsung saat upacara. Tapi masih satu rangkaian dalam upacara bendera. Yang unik, ini adalah pemandangan baru di mana rangkaian upacara kenegaraan di level kabupaten menghadirkan sosok legendaris yang dianggap mitos. Tapi bukan Dedi Mulyadi namanya kalau tidak lain dari yang lain.

Bupati Purwakarta tersebut mengubah protokoler penyerahan bendera pusaka yang akan dikibarkan saat upacara. Mulai tahun ini, setidaknya selama Dedi menjabat, bendera pusaka diserah-terimakan dari sosok Nyi Ratu Kidul kepada sang bupati. Barulah oleh bupati bendera diberikan pada Paskibraka.

Nyi Ratu Kidul adalah sosok antara ada dan tiada. Ia merupakan legenda bagi masyarakat di kawasan pantai selatan Jawa. Tak cuma di Purwakarta, masyarakat di Pangandaran hingga Yogyakarta mempercayai keberadaannya di Laut Selatan. Bahkan, konon, raja-raja Mataram menjalin "hubungan spesial" dengan Nyi Ratu Kidul.

Sosok yang dipercaya merupakan penguasa Laut Selatan ini identik dengan pakaian berwarna hijau. Karenanya masyarakat Pantai Parangtritis menghindari pakaian-pakaian berwarna hijau kalau pergi ke pantai. Mereka percaya, Nyi Ratu Kidul marah jika ada yang berpakaian menyerupai dirinya. Orang berpakaian hijau itu dipercaya bakal dibawa ke Laut Selatan, alias hanyut.

Benar atau tidaknya ya saya kembalikan pada kepercayaan masing-masing.

Oya, yang memerankan Nyi Ratu Kidul dalam pengukuhan Paskibraka di Purwakarta adalah Cinta Rizkia. Coba search namanya di Google. Gadis cantik ini rupanya sudah cukup lama memerankan sosok Nyi Ratu Kidul dalam tarian. Berdasarkan penelusuran online yang saya lakukan, Cinta adalah lulusan Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia.

*****

Itu dia tiga-empat kejadian menarik dari upacara bendera 17 Agustus 2016 versi saya. Saya yakin ada banyak kejadian tak kalah menarik di daerah lain. Jangan ragu-ragu untuk share di kolom komentar ya...

Sumber-Sumber:
  • http://regional.kompas.com/read/2016/08/17/12390611/sepatu.satu.anggota.paskibraka.copot.seusai.menaikkan.bendera
  • http://regional.kompas.com/read/2016/08/17/12151201/sempat.gagal.menaikkan.bendera.pasukan.paskibra.menangis
  • http://regional.kompas.com/read/2016/08/16/18375671/.nyi.ratu.kidul.bawakan.bendera.untuk.upacara.hut.ri.di.purwakarta
  • http://www.rappler.com/indonesia/143345-5-hal-mengenai-gloria-natapradja-hamel

Minggu, 14 Agustus 2016


DANGDUT is the music of my country, begitu yang dinyanyikan Project Pop belasan tahun lalu. Sebuah ungkapan yang memang benar adanya, karena dangdut boleh dibilang musik favorit di Indonesia. Dan agaknya inilah yang mendorong Pakde Abdul Cholik untuk menggelar giveaway nyanyi dangdut dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya.

Saya sendiri sangat suka berdendang. Tapi bernyanyi di muka umum tak pernah saya lakukan. Katakanlah tampil di atas panggung, bernyanyi ditonton puluhan apalagi ratusan orang. Karenanya Giveaway Dangdut Cerdas on the Blog yang digagas Pakde Cholik ini lumayan bikin serba salah. Ingin sekali partisipasi, tapi kok...

Meski sudah tahu info giveaway ini jauh-jauh hari, karena memang Pakde Cholik woro-woro sejak pekan terakhir Juli, saya tak langsung mantap ikut. Masalahnya bukan soal bernyanyi dangdut. Tapi direkam, lantas diunggah ke YouTube yang berarti berpeluang disaksikan orang banyak? Saya tak bisa bayangkan itu.

Sekali lagi, saya suka berdendang. Saya juga senang sekali berdangdut ria sembari berjoget. Tapi bernyanyi untuk disaksikan banyak orang adalah hal berbeda. Saya tidak cukup pede karena sadar diri saya tak pernah bisa bernyanyi secara baik dan benar. Hehehehe.

Malu tampil di muka umum? Tidak juga. Saya termasuk perintis ekskul band sekolah semasa di SMA Negeri 1 Muara Bulian. Strike Band, band tempat saya dan tujuh teman lain tergabung, adalah band sekolah pertama di SMA tersebut. Bahkan boleh dibilang pertama se-Muara Bulian. Saya malah sudah manggung di acara perpisahan sekolah sebelum membentuk band tersebut.

Bersama Strike Band yang punya tiga vokalis dan mengusung musik suka-suka, alias membawakan lagu apa saja yang enak dinyanyikan, entah berapa kali saya naik panggung. Termasuk ikut festival Slank bertajuk Blue Generation Party di Kota Jambi tahun 2000. Saya juga pernah disoraki penonton sewaktu "sok-sokan" menggantikan drummer kami yang ogah tampil karena satu alasan pada satu event di Pasar Muara Bulian tahun yang sama.

Singkat kata, ini bukan soal demam panggung. Sekali lagi, saya suka berdendang. Mulai lagu Koes Plus sampai The Beatles, dari lagu-lagunya Cold Play dan Keane sampai Dara Puspita. Dangdut juga suka, sama sukanya seperti aliran ska. Tapi bernyanyi di depan kamera untuk disaksikan orang banyak? Butuh waktu lebih dari 10 hari bagi saya untuk mengambil keputusan.

Ketika akhirnya mantap ikut serta, saya dibuat bingung memilih lagu yang sesuai. Sesuai dengan kemampuan suara maksudnya. Karena jarang bernyanyi secara baik dan benar, katakanlah karaoke atau bergitar sendiri, saya selalu kesulitan mengatur napas demi menyesuaikan irama dalam lagu. Begitu nada awalnya pas, nanti napasnya yang tidak kuat. Akibatnya di nada-nada tinggi keteteran.

Begitulah. Awalnya saya ingin sekali menyanyikan Terajana-nya Rhoma Irama. Lagu ini pernah saya nyanyikan dengan susah payah bersama teman-teman blogger saat menyaksikan Musi Triboatton 2016 di Palembang, Mei lalu. Tapi setelah 1-2 hari latihan saya menyerah. Suara saya tidak kuat. Saya juga tak punya alat untuk merendahkan nada dalam musik karaoke yang diunduh dari YouTube.

Cari punya cari, saya mencoba lagu kedua: Anggur Merah yang dulu dinyanyikan Meggy Z. Ini lagu kesukaan saya sewaktu SMP di Sungai Bahar, Jambi. Tapi lagi-lagi setelah beberapa kali mencoba suara saya tetap tak kuat menanjak. "Sungguh teganya dirimu, teganya, teganya, teganyaaa..." dan tenggorokan saya tercekik. Alamak!

Lalu berselancarlah saya di YouTube. Mencari dan mendengarkan lagu-lagu dangdut yang saya hapal. Sampai akhirnya muncul video klip Sekuntum Mawar Merah yang dinyanyikan oleh Elvie Sukaesih dalam daftar video rekomendasi. Sepertinya lagu ini tidak membutuhkan nada-nada tinggi. Warna lagunya juga ceria, pas untuk momen ulang tahun.

Ternyata benar. Saya tak dibuat ngos-ngosan menyanyikannya. Bungkus!



Oya, demi menjaga kualitas audio dalam video supaya jernih saya bernyanyi menggunakan boom mic Kenwood. Video karaoke yang saya dapat dari channel Alwiyan Syafir diputar di laptop. Bersama anak-anak yang ikut berjoget sembari terheran-heran melihat aksi saya, rekaman pun dilakukan di dalam kamar.

Saya bernyanyi karaoke di depan handycam. Hanya saja pada saat mengedit video saya tidak memakai audio punya handycam, melainkan audio suara saya yang direkam mic Kenwood dipadukan dengan audio dari video karaoke yang saya unduh tadi. Jadilah audio yang jernih, sekalipun suara penyanyinya sengau-sengau gimanaaa gitu.

Akhir kata, selamat ulang tahun yang ke-66 untuk Pakde Abdul Cholik. Banyak belajar dari produktivitas dan semangat menulis Pakde. Semoga ada kesempatan saya dipertemukan dengan beliau. Amin.

Artikel ini diikutsertakan pada Giveaway 66: Dangdut Cerdas On the Blog.



DANGDUT is the music of my country, begitu yang dinyanyikan Project Pop belasan tahun lalu. Sebuah ungkapan yang memang benar adanya, karena dangdut boleh dibilang musik favorit di Indonesia. Dan agaknya inilah yang mendorong Pakde Abdul Cholik untuk menggelar giveaway nyanyi dangdut dalam rangka memperingati hari ulang tahunnya.

Saya sendiri sangat suka berdendang. Tapi bernyanyi di muka umum tak pernah saya lakukan. Katakanlah tampil di atas panggung, bernyanyi ditonton puluhan apalagi ratusan orang. Karenanya Giveaway Dangdut Cerdas on the Blog yang digagas Pakde Cholik ini lumayan bikin serba salah. Ingin sekali partisipasi, tapi kok...

Meski sudah tahu info giveaway ini jauh-jauh hari, karena memang Pakde Cholik woro-woro sejak pekan terakhir Juli, saya tak langsung mantap ikut. Masalahnya bukan soal bernyanyi dangdut. Tapi direkam, lantas diunggah ke YouTube yang berarti berpeluang disaksikan orang banyak? Saya tak bisa bayangkan itu.

Sekali lagi, saya suka berdendang. Saya juga senang sekali berdangdut ria sembari berjoget. Tapi bernyanyi untuk disaksikan banyak orang adalah hal berbeda. Saya tidak cukup pede karena sadar diri saya tak pernah bisa bernyanyi secara baik dan benar. Hehehehe.

Malu tampil di muka umum? Tidak juga. Saya termasuk perintis ekskul band sekolah semasa di SMA Negeri 1 Muara Bulian. Strike Band, band tempat saya dan tujuh teman lain tergabung, adalah band sekolah pertama di SMA tersebut. Bahkan boleh dibilang pertama se-Muara Bulian. Saya malah sudah manggung di acara perpisahan sekolah sebelum membentuk band tersebut.

Bersama Strike Band yang punya tiga vokalis dan mengusung musik suka-suka, alias membawakan lagu apa saja yang enak dinyanyikan, entah berapa kali saya naik panggung. Termasuk ikut festival Slank bertajuk Blue Generation Party di Kota Jambi tahun 2000. Saya juga pernah disoraki penonton sewaktu "sok-sokan" menggantikan drummer kami yang ogah tampil karena satu alasan pada satu event di Pasar Muara Bulian tahun yang sama.

Singkat kata, ini bukan soal demam panggung. Sekali lagi, saya suka berdendang. Mulai lagu Koes Plus sampai The Beatles, dari lagu-lagunya Cold Play dan Keane sampai Dara Puspita. Dangdut juga suka, sama sukanya seperti aliran ska. Tapi bernyanyi di depan kamera untuk disaksikan orang banyak? Butuh waktu lebih dari 10 hari bagi saya untuk mengambil keputusan.

Ketika akhirnya mantap ikut serta, saya dibuat bingung memilih lagu yang sesuai. Sesuai dengan kemampuan suara maksudnya. Karena jarang bernyanyi secara baik dan benar, katakanlah karaoke atau bergitar sendiri, saya selalu kesulitan mengatur napas demi menyesuaikan irama dalam lagu. Begitu nada awalnya pas, nanti napasnya yang tidak kuat. Akibatnya di nada-nada tinggi keteteran.

Begitulah. Awalnya saya ingin sekali menyanyikan Terajana-nya Rhoma Irama. Lagu ini pernah saya nyanyikan dengan susah payah bersama teman-teman blogger saat menyaksikan Musi Triboatton 2016 di Palembang, Mei lalu. Tapi setelah 1-2 hari latihan saya menyerah. Suara saya tidak kuat. Saya juga tak punya alat untuk merendahkan nada dalam musik karaoke yang diunduh dari YouTube.

Cari punya cari, saya mencoba lagu kedua: Anggur Merah yang dulu dinyanyikan Meggy Z. Ini lagu kesukaan saya sewaktu SMP di Sungai Bahar, Jambi. Tapi lagi-lagi setelah beberapa kali mencoba suara saya tetap tak kuat menanjak. "Sungguh teganya dirimu, teganya, teganya, teganyaaa..." dan tenggorokan saya tercekik. Alamak!

Lalu berselancarlah saya di YouTube. Mencari dan mendengarkan lagu-lagu dangdut yang saya hapal. Sampai akhirnya muncul video klip Sekuntum Mawar Merah yang dinyanyikan oleh Elvie Sukaesih dalam daftar video rekomendasi. Sepertinya lagu ini tidak membutuhkan nada-nada tinggi. Warna lagunya juga ceria, pas untuk momen ulang tahun.

Ternyata benar. Saya tak dibuat ngos-ngosan menyanyikannya. Bungkus!



Oya, demi menjaga kualitas audio dalam video supaya jernih saya bernyanyi menggunakan boom mic Kenwood. Video karaoke yang saya dapat dari channel Alwiyan Syafir diputar di laptop. Bersama anak-anak yang ikut berjoget sembari terheran-heran melihat aksi saya, rekaman pun dilakukan di dalam kamar.

Saya bernyanyi karaoke di depan handycam. Hanya saja pada saat mengedit video saya tidak memakai audio punya handycam, melainkan audio suara saya yang direkam mic Kenwood dipadukan dengan audio dari video karaoke yang saya unduh tadi. Jadilah audio yang jernih, sekalipun suara penyanyinya sengau-sengau gimanaaa gitu.

Akhir kata, selamat ulang tahun yang ke-66 untuk Pakde Abdul Cholik. Banyak belajar dari produktivitas dan semangat menulis Pakde. Semoga ada kesempatan saya dipertemukan dengan beliau. Amin.

Artikel ini diikutsertakan pada Giveaway 66: Dangdut Cerdas On the Blog.


Jumat, 12 Agustus 2016

KALAU ada satu tempat di Indonesia yang membuat saya sangat ingin mengunjunginya saat ini, maka itu adalah Pulau Flores. Penyebabnya obrolan singkat dengan Mas Sutiknyo, traveler melankolis namun humoris yang lebih dikenal sebagai Tekno Bolang. Cerita Mas Bolang membuat saya begitu terpesona pada Flores, pulau yang disebutnya bakal membuat kita tak ingin mengembara ke tempat lain lagi.

Saya bertemu Mas Bolang di Palembang, dalam rangkaian acara International Musi Triboatton 2016 pada 14-16 Mei lalu. Di hari terakhir pertemuan kami, sembari sarapan di hotel saya berkesempatan mendengar Mas Bolang menceritakan pengembaraannya ke berbagai tempat di Indonesia. Satu destinasi yang membuatnya paling terkesan adalah Flores, tempat yang ia sebut sebagai rumah.

Mas Bolang bercerita, Flores adalah tempat di mana kita bisa sepuasnya menikmati keindahan alam. Dari ujung ke ujungnya bertabur pesona keindahan yang memanjakan mata dan sanubari setiap pengunjung. Demi memuaskan hasrat menikmati setiap sudut Flores, petualang kelahiran Pati ini membawa sepeda motor matic dari kediamannya di Tangerang.

Tentu saja perjalanan tersebut ia abadikan dalam bentuk entah berapa ratus foto dan puluhan video. Saya tanya apakah ia punya channel di YouTube - saya sangat penasaran sekali dengan keindahan Flores yang ia ceritakan. "Cari saja Tekno Bolang," jawabnya saat itu.

Sepulang dari Palembang saya langsung membuka channel tersebut di YouTube (catatan: nama channel-nya sudah diubah jadi Lostpacker, seusai dengan nama blog dan akun media sosialnya). Tentu saja yang saya cari video-video petualangannya di Flores. Dan saya dibuat terpesona bukan main oleh keindahan alam, juga kearifan budaya lokal yang masih terjaga.

"Saya harus datang ke Flores!" tekat saya dalam hati usai menyaksikan video-video Mas Bolang. Ya, sekalipun hanya sekali seumur hidup saya harus menginjakkan kaki ke Flores.



Tanjung Bunga
Nama Flores sudah saya kenal sejak Sekolah Dasar. Tepatnya setelah mengenal peta, di mana saya begitu lahap mencari informasi mengenai tempat-tempat yang saya lihat dalam atlas. Ketertarikan pada Flores pertama kali timbul ketika Bank Indonesia menerbitkan uang pecahan Rp5.000 bergambar Danau Kelimutu pada tahun 1992.

Saya terpukau oleh cerita Ibu mengenai Danau Kelimutu, danau yang terbentuk dari kawah Gunung Kelimutu. Danau yang menurut cerita Ibu dapat berubah-ubah warna. Terdiri dari tiga kawah yang masing-masingnya menyajikan warna berbeda, karenanya danau ini juga sering disebut sebagai Danau Tiga Warna atau Danau Triwarna.

Sebelum itu saya sudah dibuat tertarik oleh komodo yang terdapat pada koin Rp50. Kadal raksasa yang kata guru saya cuma ada di Indonesia, tepatnya di Pulau Komodo yang terletak di sebelah barat Pulau Flores. Hewan purba yang konon sudah mendiami Planet Bumi sejak 4 juta tahun lalu.

Tentu bukan tanpa alasan Portugis yang mendarat di nusa ini pada 1512 memberi nama Cabo de Flores, Tanjung Bunga. Nama yang kemudian menggantikan nama asli pemberian penduduk lokal, Nusa Nipa atau Pulau Naga. Pemerintahan kolonial Hindia Belanda tetap memakai nama Flores ketika mendapatkan wilayah ini dari Portugis 100 tahun kemudian.

Demikian pula dengan Republik Indonesia yang diproklamirkan Soekarno-Hatta, tetap menyebut pulau ini Flores dan memasukkannya dalam Provinsi Sunda Kecil. Sempat berpisah dari RI karena jadi bagian Negara Indonesia Timur, lalu kembali bergabung dengan RI menyusul ambruknya Republik Indonesia Serikat, nama Flores tetap melekat pada pulau satu ini.

Sesuai namanya, Flores adalah sebuah pulau yang menyimpan begitu banyak keindahan dan pesona. Danau Kelimutu di Kabupaten Ende hanyalah salah satunya. Dari video-video yang saya tonton di YouTube, Flores memiliki begitu banyak pantai menawan. Pasirnya putih, dengan ombak tinggi bergulung-gulung dari perairan Laut Sawu dan Laut Flores yang mengelilingi pulau.

Buat pecinta pantai berpasir putih dengan air laut biru kehijauan, kalian wajib datang ke Flores. Selain Pulau Flores, pulau-pulau kecil di sekitarnya juga menyimpan pesona pantai tak kalah mempesona. Tak jauh dari Labuan Bajo ada Pulau Bidadari dengan pantainya yang asri. Atau cobalah ke Pulau Adonara di sebelah timur Flores, di sana ada Pantai Mekko yang sangat memukau.

Bila punya waktu sangat longgar, Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung jadi destinasi yang sangat layak disambangi. Angka 17 tersebut benar-benar mewakili 17 pulau yang ada di sekitaran Teluk Riung. Tempat ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama nyaris lima jam dari Labuan Bajo. Namun lelah yang melanda bakal terbayar lunas menyaksikan keindahan pemandangan laut dan pantai berpasir putih bersih yang tersaji di ke-17 pulau.

Pasir merah jambu di Pantai Merah atau Pink Beach yang ada di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. (Sumber foto)

Ah, saya lupa. Pasir pantai tak selalu berwarna putih. Di Pulau Komodo, kita bisa berjalan-jalan menyusuri sebuah pantai yang pasirnya berwarna merah jambu. Turis mancanegara menyebutnya sebagai Pink Beach, sedangkan penduduk lokal menamainya Pantai Merah. Ya, pasir pantai ini berwarna kemerahan. Hanya ada tujuh pantai di dunia yang pasirnya berwarna merah muda begini.

Sudah sampai di Pulau Komodo, sempatkan waktu untuk mengamati kehidupan hewan langka bernama sama dengan pulau di mana mereka tinggal. Komodo sudah lama jadi perhatian dunia karena keunikannya. Tahun 2011, Pulau Komodo masuk daftar New 7 Wonders of Nature versi New7Wonders Foundation. Lalu tercantum dalam pemenang sementara yang dirilis 11 November 2011.

Meski event garapan New7Wonder Foundation tersebut berbau kontroversi - termasuk penyelenggaranya diragukan, tapi setidaknya menunjukkan bahwa komodo dan Pulau Komodo mendapat perhatian luas di mancanegara. Pesonanya sudah lama memikat wisatawan dari berbagai negara.

Baca ulasan saya mengenai New7Wonder of Nature:
- Yuk, Kita Dukung Pulau Komodo!
- Komodo dalam Dilema
- 7 Keajaiban Dunia dan Komodo


Bung Karno dan Secangkir Kopi
Tapi Flores bukan cuma soal pantai indah, laut mempesona, atau komodo yang gagah. Di sini juga tersimpan sejarah bangsa dan negara. Proklamator negeri ini, Bung Karno, pernah tinggal di Flores selama empat tahun sembilan bulan. Pemerintah kolonial Hindia Belanda membuangnya ke Ende untuk meredam aktivitas politik Sang Proklamator di Batavia.

Ada 10 situs penting terkait pengasingan Bung Karno di Bumi Flores. Di antaranya rumah pengasingan yang terletak di Jl. Perwira. Di rumah inilah Bung Karno menghabiskan kesehariannya dalam masa pembuangan bersama Ibu Inggit Garnasih, anak angkatnya Ratna Djuami, serta ibu mertuanya.

Rumah pengasingan Bung Karno di Ende terawat dengan sangat baik. Kondisinya masih sama persis seperti saat Bung Karno menempatinya dalam rentang waktu 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938. Berkunjung ke rumah ini kita diajak turut merasakan hari-hari Bung Karno selama menjalani masa pengasingan.

Rumah pengasingan Bung Karno di Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. FOTO: KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA

Semasa di Ende inilah Bung Karno melahirkan rumusan Pancasila yang kelak jadi dasar Republik Indonesia. Menurut pengakuannya sendiri saat mengunjungi Ende sebagai Presiden RI pada tahun 1955, Bung Karno menyebut gagasan Pancasila lahir saat ia tengah merenung di bawah sebuah pohon sukun di pusat kota. Tempat dimaksud kini menjadi taman kota bernama Taman Renungan Soekarno, dengan Jl. Soekarno berada di sisinya.

Bung Karno penyuka kopi. Favoritnya kopi tubruk yang biasa ia seruput pagi-pagi di Istana sebelum menjalankan tugas negara. Demikian diceritakan Mangil Martowidjojo, eks Komandan Detasemen Kawal Pribadi Cakrabirawa yang mendampingi Bung Karno, dalam bukunya berjudul Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967 (Grasindo, 1999).

Sayang, tak ada yang mengungkapkan apakah Bung Karno pernah mencicipi kopi Bajawa atau kopi Wae Rebo semasa tinggal di Flores. Sebab bagi penyuka kopi tak lengkap rasanya mendatangi Flores tanpa mencicipi kopi-kopinya yang khas.(Sumber foto)

Wae Rebo sebuah kampung tradisional yang terletak di barat daya Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai, NTT. Kampung ini hanya berisi tujuh rumah adat berbentuk kerucut dengan kerangka bambu dan atap dari daun lontar. Orang lokal menyebut rumah ini mbaru niang. Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, Waerebo dikelilingi oleh perkebunan kopi nan luas.

Kopi dan Wae Rebo memang tak bisa dipisahkan. Warga Waerebo sangat akrab dengan kopi. Mereka bisa mereguk hingga 8-10 gelas kopi sehari. Tak heran jika banyak penyuka kopi yang sengaja datang ke sini hanya untuk mencicipi kopinya yang khas. Tumbuh di dataran tinggi serta tak tersentuh unsur kimia buatan sedikitpun, cita rasa kopi Wae Rebo banyak disukai oleh pecinta minuman berwarna hitam ini.

Bergeser ke timur, ada Kabupaten Ngada sebagai penghasil kopi terbesar di Flores. Kopi Bajawa hasil panen petani Ngada malah sudah diekspor ke mancanegara. Tahun 2011, seorang pengusaha Amerika Serikat memesan 1.000 ton kopi arabika organik (sumber).

Tak cuma AS, peminat juga datang dari Belanda, Jerman, Inggris, Filipina, dan yang terdekat dari Australia. Masing-masing pesanan berkisar antara 1.000-2.000 ton. Membuktikan betapa kualitas kopi Bajawa telah diakui dunia. So, rugi rasanya kalau ke Flores tak mencicipi kopi Bajawa.

Kearifan Lokal yang Terus Dijaga
Tak jauh dari Bajawa, ada sebuah kampung adat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai dan budaya lokal. Kampung Bena namanya. Masuk ke dalam kampung ini kita serasa mundur ke jaman ratusan tahun lalu. Benar-benar sebuah kampung tradisional.

Terletak di puncak sebuah bukit menghadap Gunung Inerie, Kampung Bena terdiri dari 40 rumah tradisional. Dari kejauhan, Kampung Bena memanjang dari utara ke selatan terlihat seperti bentuk perahu. Pintu masuk berada di sisi utara, satu-satunya akses menuju ke kampung ini. Pada bagian ujung selatan merupakan puncak kampung dengan pemandangan alam mempesona.

Meski memeluk agama Katolik, warga Kampung Bena masih melestarikan tradisi leluhur. Di tengah-tengah Kampung Bena terdapat beberapa bangunan megalitikum. Salah satunya berbentuk perahu, tempat di mana upacara adat dilaksanakan.

Perahu dalam kepercayaan masyarakat Kampung Bena merupakan wahana untuk menuju ke alam roh setelah kematian. Bentuk perahu juga menggambarkan perjalanan nenek moyang penduduk Kampung Bena yang berperahu mengarungi ganasnya lautan dari Pelabuhan Juwana di Pati, Jawa Tengah, sebelum tiba di kampung tersebut.

Kampung Adat Bena di Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. (Sumber foto)

Pemandangan serupa juga bisa kita saksikan di Ware Rebo. Sebuah perkampungan adat yang masih mengaplikasikan ajaran leluhur dalam kehidupan keseharian. Ciri khas Wae Rebo adalah mbaru niang, rumah adat yang didirikan tanpa paku. Hanya menggunakan bambu, kayu, atau rotan, dengan atap terbuat dari daun lontar, ijuk, atau ilalang.

Di Wae Rebo biasa digelar perayaan Penti, salah satu perayaan besar di Manggarai. Penti digelar setiap tahun sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh selama setahun, sekaligus doa dan harapan agar hasil tahun mendatang tak kalah bagus. Tahun ini, Penti direncanakan berlangsung pada 16 November 2016.

Jika Kampung Bena mudah dicapai menggunakan kendaraan bermotor, tidak demikian dengan Wae Rebo. Pengunjung harus menempuh rute mendaki nan terjal dan sedikit licin berjarak sekitar 5 kilometer. Melintasi Hutan Lindung Todo Repok nan asri, sampai ke ketinggian 1.200 mdpl. Terbayang kan bagaimana sejuknya tempat ini.

*****

Ah, masih sangat banyak pesona Flores yang tidak bisa dilewatkan. Tak cukup waktu 2-3 hari untuk menjelajahinya, karena dari Labuan Bajo di ujung barat hingga Larantuka di ujung timur tersaji keindahan alam yang menawan diselingi kearifan lokal nan menenteramkan sanubari.

Dari Pemalang tempat saya sekarang tinggal, perjalanan ke Flores bisa diawali dengan naik bus selama 5-6 jam ke Yogyakarta terlebih dahulu. Dari Kota Gudedg ada penerbangan menuju Labuan Bajo via Denpasar. Sejauh ini penerbangan langsung ke Labuan Bajo dari kawasan barat Indonesia hanya ada di Denpasar.

Coba cek tiket pesawat di Airpaz.com, penerbangan Yogyakarta-Labuan Bajo via Denpasar harganya bikin ngiler. Ambil contoh yang ditawarkan NAM Air untuk keberangkatan 23 September 2016, nomor penerbangan IN9274. Lihat pada screen capture di bawah ini. Ya, hanya Rp897.876 yang merupakan tarif termurah pada tanggal tersebut.


Tapi kan transitnya 7,5 jam sendiri di Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar?

Tidak masalah. Potong tiga jam untuk perjalanan dan proses check in, ada sisa waktu 4,5 jam untuk keliling-keliling Bali. Jadi, wisata ke Flores bonusnya keliling Bali. Asyik, bukan? Kalau saya sih nggak mungkin menolak. Hehehe...

Oya, NAM Air adalah satu-satunya maskapai penerbangan Indonesia yang memperbolehkan pramugarinya berjilbab lho. Saya pernah berjumpa pramugari berhijab ini saat naik penerbangan Palembang-Jakarta pada pertengahan Mei lalu. Tanpa malu-malu saya pun mengajak pramugari bernama Tria tersebut foto bersama.

Baca juga: Foto Bareng Pramugari Berhijab berkat Kamera Ponsel ASUS Zenfone C

Kembali ke perjalanan Pemalang menuju Flores melalui Yogyakarta dan Denpasar. Sekilas terlihat ini bukan perjalanan mudah, dengan biaya yang di atas kertas juga tidak murah. Tapi mengingat keindahan yang menanti, rasanya semua itu bakal terganti tuntas begitu menjejakkan kaki di sana. Keindahan yang membuat saya semakin mencintai Indonesia.



Artikel ini diikut-sertakan dalam Lomba Blog Cinta Indonesia yang diadakan oleh Airpaz.com. Baca disclaimer blog ini selengkapnya pada laman berikut.

KALAU ada satu tempat di Indonesia yang membuat saya sangat ingin mengunjunginya saat ini, maka itu adalah Pulau Flores. Penyebabnya obrolan singkat dengan Mas Sutiknyo, traveler melankolis namun humoris yang lebih dikenal sebagai Tekno Bolang. Cerita Mas Bolang membuat saya begitu terpesona pada Flores, pulau yang disebutnya bakal membuat kita tak ingin mengembara ke tempat lain lagi.

Saya bertemu Mas Bolang di Palembang, dalam rangkaian acara International Musi Triboatton 2016 pada 14-16 Mei lalu. Di hari terakhir pertemuan kami, sembari sarapan di hotel saya berkesempatan mendengar Mas Bolang menceritakan pengembaraannya ke berbagai tempat di Indonesia. Satu destinasi yang membuatnya paling terkesan adalah Flores, tempat yang ia sebut sebagai rumah.

Mas Bolang bercerita, Flores adalah tempat di mana kita bisa sepuasnya menikmati keindahan alam. Dari ujung ke ujungnya bertabur pesona keindahan yang memanjakan mata dan sanubari setiap pengunjung. Demi memuaskan hasrat menikmati setiap sudut Flores, petualang kelahiran Pati ini membawa sepeda motor matic dari kediamannya di Tangerang.

Tentu saja perjalanan tersebut ia abadikan dalam bentuk entah berapa ratus foto dan puluhan video. Saya tanya apakah ia punya channel di YouTube - saya sangat penasaran sekali dengan keindahan Flores yang ia ceritakan. "Cari saja Tekno Bolang," jawabnya saat itu.

Sepulang dari Palembang saya langsung membuka channel tersebut di YouTube (catatan: nama channel-nya sudah diubah jadi Lostpacker, seusai dengan nama blog dan akun media sosialnya). Tentu saja yang saya cari video-video petualangannya di Flores. Dan saya dibuat terpesona bukan main oleh keindahan alam, juga kearifan budaya lokal yang masih terjaga.

"Saya harus datang ke Flores!" tekat saya dalam hati usai menyaksikan video-video Mas Bolang. Ya, sekalipun hanya sekali seumur hidup saya harus menginjakkan kaki ke Flores.



Tanjung Bunga
Nama Flores sudah saya kenal sejak Sekolah Dasar. Tepatnya setelah mengenal peta, di mana saya begitu lahap mencari informasi mengenai tempat-tempat yang saya lihat dalam atlas. Ketertarikan pada Flores pertama kali timbul ketika Bank Indonesia menerbitkan uang pecahan Rp5.000 bergambar Danau Kelimutu pada tahun 1992.

Saya terpukau oleh cerita Ibu mengenai Danau Kelimutu, danau yang terbentuk dari kawah Gunung Kelimutu. Danau yang menurut cerita Ibu dapat berubah-ubah warna. Terdiri dari tiga kawah yang masing-masingnya menyajikan warna berbeda, karenanya danau ini juga sering disebut sebagai Danau Tiga Warna atau Danau Triwarna.

Sebelum itu saya sudah dibuat tertarik oleh komodo yang terdapat pada koin Rp50. Kadal raksasa yang kata guru saya cuma ada di Indonesia, tepatnya di Pulau Komodo yang terletak di sebelah barat Pulau Flores. Hewan purba yang konon sudah mendiami Planet Bumi sejak 4 juta tahun lalu.

Tentu bukan tanpa alasan Portugis yang mendarat di nusa ini pada 1512 memberi nama Cabo de Flores, Tanjung Bunga. Nama yang kemudian menggantikan nama asli pemberian penduduk lokal, Nusa Nipa atau Pulau Naga. Pemerintahan kolonial Hindia Belanda tetap memakai nama Flores ketika mendapatkan wilayah ini dari Portugis 100 tahun kemudian.

Demikian pula dengan Republik Indonesia yang diproklamirkan Soekarno-Hatta, tetap menyebut pulau ini Flores dan memasukkannya dalam Provinsi Sunda Kecil. Sempat berpisah dari RI karena jadi bagian Negara Indonesia Timur, lalu kembali bergabung dengan RI menyusul ambruknya Republik Indonesia Serikat, nama Flores tetap melekat pada pulau satu ini.

Sesuai namanya, Flores adalah sebuah pulau yang menyimpan begitu banyak keindahan dan pesona. Danau Kelimutu di Kabupaten Ende hanyalah salah satunya. Dari video-video yang saya tonton di YouTube, Flores memiliki begitu banyak pantai menawan. Pasirnya putih, dengan ombak tinggi bergulung-gulung dari perairan Laut Sawu dan Laut Flores yang mengelilingi pulau.

Buat pecinta pantai berpasir putih dengan air laut biru kehijauan, kalian wajib datang ke Flores. Selain Pulau Flores, pulau-pulau kecil di sekitarnya juga menyimpan pesona pantai tak kalah mempesona. Tak jauh dari Labuan Bajo ada Pulau Bidadari dengan pantainya yang asri. Atau cobalah ke Pulau Adonara di sebelah timur Flores, di sana ada Pantai Mekko yang sangat memukau.

Bila punya waktu sangat longgar, Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung jadi destinasi yang sangat layak disambangi. Angka 17 tersebut benar-benar mewakili 17 pulau yang ada di sekitaran Teluk Riung. Tempat ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama nyaris lima jam dari Labuan Bajo. Namun lelah yang melanda bakal terbayar lunas menyaksikan keindahan pemandangan laut dan pantai berpasir putih bersih yang tersaji di ke-17 pulau.

Pasir merah jambu di Pantai Merah atau Pink Beach yang ada di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. (Sumber foto)

Ah, saya lupa. Pasir pantai tak selalu berwarna putih. Di Pulau Komodo, kita bisa berjalan-jalan menyusuri sebuah pantai yang pasirnya berwarna merah jambu. Turis mancanegara menyebutnya sebagai Pink Beach, sedangkan penduduk lokal menamainya Pantai Merah. Ya, pasir pantai ini berwarna kemerahan. Hanya ada tujuh pantai di dunia yang pasirnya berwarna merah muda begini.

Sudah sampai di Pulau Komodo, sempatkan waktu untuk mengamati kehidupan hewan langka bernama sama dengan pulau di mana mereka tinggal. Komodo sudah lama jadi perhatian dunia karena keunikannya. Tahun 2011, Pulau Komodo masuk daftar New 7 Wonders of Nature versi New7Wonders Foundation. Lalu tercantum dalam pemenang sementara yang dirilis 11 November 2011.

Meski event garapan New7Wonder Foundation tersebut berbau kontroversi - termasuk penyelenggaranya diragukan, tapi setidaknya menunjukkan bahwa komodo dan Pulau Komodo mendapat perhatian luas di mancanegara. Pesonanya sudah lama memikat wisatawan dari berbagai negara.

Baca ulasan saya mengenai New7Wonder of Nature:
- Yuk, Kita Dukung Pulau Komodo!
- Komodo dalam Dilema
- 7 Keajaiban Dunia dan Komodo


Bung Karno dan Secangkir Kopi
Tapi Flores bukan cuma soal pantai indah, laut mempesona, atau komodo yang gagah. Di sini juga tersimpan sejarah bangsa dan negara. Proklamator negeri ini, Bung Karno, pernah tinggal di Flores selama empat tahun sembilan bulan. Pemerintah kolonial Hindia Belanda membuangnya ke Ende untuk meredam aktivitas politik Sang Proklamator di Batavia.

Ada 10 situs penting terkait pengasingan Bung Karno di Bumi Flores. Di antaranya rumah pengasingan yang terletak di Jl. Perwira. Di rumah inilah Bung Karno menghabiskan kesehariannya dalam masa pembuangan bersama Ibu Inggit Garnasih, anak angkatnya Ratna Djuami, serta ibu mertuanya.

Rumah pengasingan Bung Karno di Ende terawat dengan sangat baik. Kondisinya masih sama persis seperti saat Bung Karno menempatinya dalam rentang waktu 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938. Berkunjung ke rumah ini kita diajak turut merasakan hari-hari Bung Karno selama menjalani masa pengasingan.

Rumah pengasingan Bung Karno di Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. FOTO: KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA

Semasa di Ende inilah Bung Karno melahirkan rumusan Pancasila yang kelak jadi dasar Republik Indonesia. Menurut pengakuannya sendiri saat mengunjungi Ende sebagai Presiden RI pada tahun 1955, Bung Karno menyebut gagasan Pancasila lahir saat ia tengah merenung di bawah sebuah pohon sukun di pusat kota. Tempat dimaksud kini menjadi taman kota bernama Taman Renungan Soekarno, dengan Jl. Soekarno berada di sisinya.

Bung Karno penyuka kopi. Favoritnya kopi tubruk yang biasa ia seruput pagi-pagi di Istana sebelum menjalankan tugas negara. Demikian diceritakan Mangil Martowidjojo, eks Komandan Detasemen Kawal Pribadi Cakrabirawa yang mendampingi Bung Karno, dalam bukunya berjudul Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967 (Grasindo, 1999).

Sayang, tak ada yang mengungkapkan apakah Bung Karno pernah mencicipi kopi Bajawa atau kopi Wae Rebo semasa tinggal di Flores. Sebab bagi penyuka kopi tak lengkap rasanya mendatangi Flores tanpa mencicipi kopi-kopinya yang khas.(Sumber foto)

Wae Rebo sebuah kampung tradisional yang terletak di barat daya Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai, NTT. Kampung ini hanya berisi tujuh rumah adat berbentuk kerucut dengan kerangka bambu dan atap dari daun lontar. Orang lokal menyebut rumah ini mbaru niang. Berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, Waerebo dikelilingi oleh perkebunan kopi nan luas.

Kopi dan Wae Rebo memang tak bisa dipisahkan. Warga Waerebo sangat akrab dengan kopi. Mereka bisa mereguk hingga 8-10 gelas kopi sehari. Tak heran jika banyak penyuka kopi yang sengaja datang ke sini hanya untuk mencicipi kopinya yang khas. Tumbuh di dataran tinggi serta tak tersentuh unsur kimia buatan sedikitpun, cita rasa kopi Wae Rebo banyak disukai oleh pecinta minuman berwarna hitam ini.

Bergeser ke timur, ada Kabupaten Ngada sebagai penghasil kopi terbesar di Flores. Kopi Bajawa hasil panen petani Ngada malah sudah diekspor ke mancanegara. Tahun 2011, seorang pengusaha Amerika Serikat memesan 1.000 ton kopi arabika organik (sumber).

Tak cuma AS, peminat juga datang dari Belanda, Jerman, Inggris, Filipina, dan yang terdekat dari Australia. Masing-masing pesanan berkisar antara 1.000-2.000 ton. Membuktikan betapa kualitas kopi Bajawa telah diakui dunia. So, rugi rasanya kalau ke Flores tak mencicipi kopi Bajawa.

Kearifan Lokal yang Terus Dijaga
Tak jauh dari Bajawa, ada sebuah kampung adat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai dan budaya lokal. Kampung Bena namanya. Masuk ke dalam kampung ini kita serasa mundur ke jaman ratusan tahun lalu. Benar-benar sebuah kampung tradisional.

Terletak di puncak sebuah bukit menghadap Gunung Inerie, Kampung Bena terdiri dari 40 rumah tradisional. Dari kejauhan, Kampung Bena memanjang dari utara ke selatan terlihat seperti bentuk perahu. Pintu masuk berada di sisi utara, satu-satunya akses menuju ke kampung ini. Pada bagian ujung selatan merupakan puncak kampung dengan pemandangan alam mempesona.

Meski memeluk agama Katolik, warga Kampung Bena masih melestarikan tradisi leluhur. Di tengah-tengah Kampung Bena terdapat beberapa bangunan megalitikum. Salah satunya berbentuk perahu, tempat di mana upacara adat dilaksanakan.

Perahu dalam kepercayaan masyarakat Kampung Bena merupakan wahana untuk menuju ke alam roh setelah kematian. Bentuk perahu juga menggambarkan perjalanan nenek moyang penduduk Kampung Bena yang berperahu mengarungi ganasnya lautan dari Pelabuhan Juwana di Pati, Jawa Tengah, sebelum tiba di kampung tersebut.

Kampung Adat Bena di Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. (Sumber foto)

Pemandangan serupa juga bisa kita saksikan di Ware Rebo. Sebuah perkampungan adat yang masih mengaplikasikan ajaran leluhur dalam kehidupan keseharian. Ciri khas Wae Rebo adalah mbaru niang, rumah adat yang didirikan tanpa paku. Hanya menggunakan bambu, kayu, atau rotan, dengan atap terbuat dari daun lontar, ijuk, atau ilalang.

Di Wae Rebo biasa digelar perayaan Penti, salah satu perayaan besar di Manggarai. Penti digelar setiap tahun sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh selama setahun, sekaligus doa dan harapan agar hasil tahun mendatang tak kalah bagus. Tahun ini, Penti direncanakan berlangsung pada 16 November 2016.

Jika Kampung Bena mudah dicapai menggunakan kendaraan bermotor, tidak demikian dengan Wae Rebo. Pengunjung harus menempuh rute mendaki nan terjal dan sedikit licin berjarak sekitar 5 kilometer. Melintasi Hutan Lindung Todo Repok nan asri, sampai ke ketinggian 1.200 mdpl. Terbayang kan bagaimana sejuknya tempat ini.

*****

Ah, masih sangat banyak pesona Flores yang tidak bisa dilewatkan. Tak cukup waktu 2-3 hari untuk menjelajahinya, karena dari Labuan Bajo di ujung barat hingga Larantuka di ujung timur tersaji keindahan alam yang menawan diselingi kearifan lokal nan menenteramkan sanubari.

Dari Pemalang tempat saya sekarang tinggal, perjalanan ke Flores bisa diawali dengan naik bus selama 5-6 jam ke Yogyakarta terlebih dahulu. Dari Kota Gudedg ada penerbangan menuju Labuan Bajo via Denpasar. Sejauh ini penerbangan langsung ke Labuan Bajo dari kawasan barat Indonesia hanya ada di Denpasar.

Coba cek tiket pesawat di Airpaz.com, penerbangan Yogyakarta-Labuan Bajo via Denpasar harganya bikin ngiler. Ambil contoh yang ditawarkan NAM Air untuk keberangkatan 23 September 2016, nomor penerbangan IN9274. Lihat pada screen capture di bawah ini. Ya, hanya Rp897.876 yang merupakan tarif termurah pada tanggal tersebut.


Tapi kan transitnya 7,5 jam sendiri di Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar?

Tidak masalah. Potong tiga jam untuk perjalanan dan proses check in, ada sisa waktu 4,5 jam untuk keliling-keliling Bali. Jadi, wisata ke Flores bonusnya keliling Bali. Asyik, bukan? Kalau saya sih nggak mungkin menolak. Hehehe...

Oya, NAM Air adalah satu-satunya maskapai penerbangan Indonesia yang memperbolehkan pramugarinya berjilbab lho. Saya pernah berjumpa pramugari berhijab ini saat naik penerbangan Palembang-Jakarta pada pertengahan Mei lalu. Tanpa malu-malu saya pun mengajak pramugari bernama Tria tersebut foto bersama.

Baca juga: Foto Bareng Pramugari Berhijab berkat Kamera Ponsel ASUS Zenfone C

Kembali ke perjalanan Pemalang menuju Flores melalui Yogyakarta dan Denpasar. Sekilas terlihat ini bukan perjalanan mudah, dengan biaya yang di atas kertas juga tidak murah. Tapi mengingat keindahan yang menanti, rasanya semua itu bakal terganti tuntas begitu menjejakkan kaki di sana. Keindahan yang membuat saya semakin mencintai Indonesia.



Artikel ini diikut-sertakan dalam Lomba Blog Cinta Indonesia yang diadakan oleh Airpaz.com. Baca disclaimer blog ini selengkapnya pada laman berikut.

Senin, 08 Agustus 2016


JANGAN sekali-kali meremehkan orang. Sekalipun kita lagi "di atas" alias lebih segala-galanya dari orang tersebut, menganggap remeh bukanlah sikap bijak. Ya, kita tidak pernah tahu bagaimana perkembangan orang itu kelak. Bisa jadi dua-tiga tahun lagi ia malah lebih oke dari kita. Kisah hidup Indra Destriawan ini contohnya.

Lulus SMA Indra tidak mungkin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi karena alasan biaya. Jangankan berpikir kuliah, untuk kebutuhan sehari-hari saja ibu Indra harus berhutang dari satu rentenir ke rentenir lain. Pasalnya sang ibu sakit-sakitan, sehingga harus keluar-masuk rumah sakit dengan biaya yang tentu saja tidak sedikit.

Di saat teman-temannya sibuk memikirkan kuliah di mana, ambil jurusan apa, Indra hanya bisa menunggui ibunya yang sakit sembari mencari cara agar bisa mendapatkan penghasilan. Melihat tetangga kanan-kirinya banyak pengerajin batik, ia coba berjualan batik secara online dengan bermodal smartphone. Ia juga mengirim proposal penawaran seragam batik ke berbagai instansi.

Sembari merintis usaha, Indra menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan sosial. Ia bergabung dengan komunitas-komunitas relawan yang ada di Batang dan sekitarnya. Mulai dari Pagi Berbagi, Pekalongan Peduli, sampai kemudian informasi mengenai Sedekah Rombongan yang baru berdiri terdengar di telinganya.

Sedekah Rombongan (SR) adalah sebuah gerakan sosial yang digagas oleh pengusaha muda Yogyakarta, Saptuari Sugiharto. Gerakan ini fokus pada penanganan duafa sakit. Jadi kalau ada tetangga yang sakit parah tapi tak bisa berobat karena kondisi finansial yang tidak memungkinkan, silakan kontak Sedekah Rombongan. Kalau dinilai layak dibantu, seluruh biaya pengobatan sampai sembuh akan ditanggung.

Melihat fokus gerakan SR, Indra mantap mengajukan diri sebagai kurir. Boleh dibilang ia merupakan perintis SR di kawasan Pantura. Kurir pertama. Sebagai kurir tugasnya menyurvei kondisi calon pasien dampingan SR. Begitu ada informasi duafa sakit di area Pantura masuk ke email atau media sosial SR, Indra ditugaskan mendatangi alamat si sakit.

Ya, setiap calon pasien dampingan SR akan disurvei terlebih dahulu untuk menentukan layak-tidaknya dibantu. Indra-lah yang melihat kondisi tempat tinggal si sakit, mencari tahu kehidupan kesehariannya, menggali lebih banyak tentang penyakit yang diderita, mengambil foto-foto yang diperlukan, lalu melaporkannya ke koordinator kurir SR di Jogja.

Indra Destriawan bersama kurir-kurir Sedekah Rombongan wilayah Pantura. Dua yang saya kenal Abud Furqan (nomor dua dari kanan) dan Muhammad Jumhan (paling kanan).



Berdasarkan laporan dan foto-foto dari kurir seperti Indra inilah SR menentukan pilihan, dibantu atau tidak. Bantuan dari SR sendiri ada dua macam, berupa santunan atau ditanggung penuh biaya pengobatannya di rumah sakit hingga sembuh total. Semua tergantung jenis dan sudah seberapa parah penyakit tersebut.

Jika calon pasien yang disurvei dinilai layak dibantu, maka Indra pula yang menjadi kepanjangan tangan SR. Untuk bantuan berupa santunan, sejumlah uang akan ditransfer ke rekening Indra untuk disampaikan pada si sakit atas nama Sedekah Rombongan. Kalau bantuannya berupa biaya pengobatan, Indra harus membawa si sakit ke rumah sakit yang ditunjuk.

Tak cuma membawa ke rumah sakit, Indra bahkan nyaris seperti mengurusi pasien dampingan bersama-sama keluarganya. Tanggung jawab kurir adalah terus mendampingi sampai pasien dinyatakan sembuh oleh dokter. Karenanya Indra kerapkali menghabiskan malam di RS, atau tidur di dalam ambulans SR. Berhari-hari tak pulang ke rumah.

Mukjizat Pertama
Oya, kurir SR sama sekali tak memperoleh bayaran. Baik dari SR, lebih-lebih dari pasien dampingan. Biaya survei ke rumah calon pasien yang tak jarang terletak di kabupaten berbeda ya ditanggung sendiri oleh si kurir. Beli bensin, makan di jalan, dan semua pengeluaran lain keluar dari kantong kurir. Namanya juga relawan.

Seperti yang berulang kali ditekankan Saptuari, kurir SR tidak berharap gaji dan tidak akan pernah digaji. Kurir SR hanya mencari muka di hadapan Allah SWT. Maka nanti yang akan memberi bayaran, memberi gaji, adalah Allah. Langsung, kontan! Bukankah doa duafa serta doa orang sakit merupakan doa-doa yang makbul?

Indra sendiri dengan senang hati mejalani peran sebagai kurir SR. Untuk biaya operasional ia dapatkan dari berjualan batik, lalu mencoba berbisnis clothing dengan memproduksi kaos-kaos bertema anak muda. Tak sepeser pun ia mendapat uang dari SR. Tapi balasan lebih besar ia terima, ibunya tak pernah sakit lagi semenjak ia menjadi kurir SR.

Atas persetujuan Saptuari, Indra kemudian merekrut beberapa kurir lagi. Direncanakan tiap-tiap kabupaten ada setidaknya satu kurir. Lalu bergabunglah Abud Furqan dari Kesesi (Kab. Pekalongan), Ardiansyah Nasokha Afwan alias Ardi yang asli Temanggung tapi saat itu menetap di Pemalang, lalu masuklah saya di akhir 2012.

Baca juga: Suka-Duka Jadi Kurir Sedekah Rombongan


Saat saya masuk dalam jajaran kurir SR Pantura, Indra dipercaya sebagai koordinator. Jadi kami bertiga berada dalam koordinasi Indra, tidak lagi berhubungan langsung dengan SR Pusat. Mulai dari instruksi survei pasien, pemberian santunan, dll. semuanya turun dari Indra. Pada perkembangannya, penentuan pasien dibantu dengan santunan atau dibawa ke rumah sakit menjadi wewenang Indra. Ini menunjukkan betapa besarnya kepercayaan Saptuari pada bujangan asal Subah, Batang, tersebut.

Tak lama semenjak diangkat sebagai koordinator, Indra ditarik Saptuari ke Jogja. Amanahnya ditambah dengan mengurus media sosial SR. Kesibukannya bertambah. Meski demikian ia tetap dapat membantu keuangan keluarga dengan berjualan kaos distro secara online.

Begitu banyaknya amanah yang ia pegang semasa di Jogja membuatnya sangat jarang pulang ke Batang. Dalam satu kesempatan saat bertemu di Jogja saya dan Mas Furqan pernah mendengar sendiri "curhat" Indra mengenai keinginan ibunya agar ia kembali ke Batang dan menetap di sana. Sebuah permintaan yang membuatnya bimbang.

Merintis Alona Batik
Kira-kira dua tahun di Jogja, Indra akhirnya memantapkan diri kembali ke Batang. Bukan keputusan mudah meninggalkan Jogja dengan segala fasilitasnya, terlebih bila dibandingkan dengan Subah yang jauh dari kota Batang. Tapi tekadnya sudah bulat, tak goyah lagi.

Indra tetap berstatus koordinator wilayah Pantura yang mengoordinir kurir di Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Ia juga masih dipercaya sebagai Social Media Manager di Sedekah Rombongan. Sesekali ia ikut survei calon pasien, atau mengantar-jemput ke rumah sakit. Sekali tempo bahkan roadshow dari Batang ke Tegal, Brebes, terus ke barat untuk menjemput pasien.

Usaha berjualan kaos distro dihentikan. Sebagai gantinya ia fokus memasarkan batik. Awalnya ia menjajakan produksi orang lain, dengan berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain, dari satu instansi ke instansi lain, menyodorkan proposal pembuatan seragam batik. Sembari berkeliling, impian untuk mempunyai brand sendiri terus membayangi benaknya.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, Indra mulai memberanikan diri memproduksi batik di bawah merek sendiri. Desember 2015, Indra memperkenalkan Alona Batik. Tapi jangan bayangkan usahanya dimulai dengan modal besar. Modalnya cuma keberanian dan optimisme. Usahanya dimulai dari rumah orang tuanya, tanpa karyawan satupun.

Untuk urusan produksi Indra memaksimalkan potensi tetangga kanan-kiri yang kebanyakan berprofesi buruh pembatik. Begitu pesanan masuk, Indra sendiri yang menyiapkan order dan mengirimkannya ke kantor ekspedisi. Dari Subah ke pusat kota Batang, kira-kira setengah jam perjalanan yang harus ia tempuh dengan sepeda motor. Ia merangkap sebagai pemilik, customer service, dan kurir sekaligus.

Kesibukan di kantor Alona Batik, Batang. Tampak para karyawan tengah menyiapkan order.



Dalam waktu singkat, sangat singkat bahkan, Alona Batik berkembang sebagai bayi ajaib dengan reseller sebanyak 200 orang di berbagai daerah. Jumlah tersebut meningkat lagi, lagi, hingga kini menjadi nyaris 500 reseller. Omsetnya jangan ditanya. Yang jelas kemajuannya bisa terlihat dari sembilan orang karyawan, serta sebuah kantor representatif di tengah kota Batang.

Masih penasaran berapa omsetnya? Sebagai gambaran berapa banyak paket batik yang dikirim Indra per harinya, pihak ekspedisi sampai rela mengirim satu armadanya untuk menjemput (pick up) ke kantor Alona Batik. Satu mobil khusus hanya untuk mengambil paket-paket Alona. Bayangkan.

Oya, perlu saya tambahkan Indra membangun Alona Batik tanpa pinjaman bank. Ia tergabung dalam komunitas anti riba yang digagas Saptuari. Alona benar-benar ia rintis dari kecil, dari nol. Dari mengerjakan semuanya sendirian di rumah orang tua, sampai bisa menggaji sembilan karyawan dan menyewa sebuah ruko di pusat kota Batang.

Bagi saya, perjalanan hidup Indra ini sangat inspiratif. Bukan melulu soal kesuksesannya membangun Alona Batik yang dalam tempo setengah tahun saja sudah beromset ratusan juta. Tapi lebih mengenai kerelaannya menyedekahkan sebagian besar hidupnya untuk membantu duafa sakit bersama Sedekah Rombongan. Kini, sekalipun sudah berstatus bos dan pengusaha muda, ia tetap mau menyetiri ambulans SR untuk menjemput pasien di pelosok-pelosok desa terpencil, serta tak jarang ikut memanggul tandu.

Inilah yang mendorong saya menuliskan kisahnya saat mengetahui lomba penulisan yang diadakan Bank OCBC NISP. Alhamdulillah, kisah yang saya tulis berhasil memikat juri sehingga masuk 10 besar. Agak disayangkan kisah inspiratif Indra tidak lolos ke lima besar karena kekurangan vote. Tapi bagi saya banyak atau sedikit vote yang didapat kisah ini tetaplah memberi inspirasi.

Baca juga: Juragan Batik Muda yang Sedekahkan Dirinya untuk Kaum Papa

Masih muda belia, ke mana-mana naik mobil dengan bisnis yang tengah naik daun, berbakti pada orang tua, murah hati, serta ringan tangan membantu derita duafa sakit. Hmmm, orang tua mana yang tak mengimpikan punya menantu seperti Indra Destriawan. Iya nggak, Bu? :)


JANGAN sekali-kali meremehkan orang. Sekalipun kita lagi "di atas" alias lebih segala-galanya dari orang tersebut, menganggap remeh bukanlah sikap bijak. Ya, kita tidak pernah tahu bagaimana perkembangan orang itu kelak. Bisa jadi dua-tiga tahun lagi ia malah lebih oke dari kita. Kisah hidup Indra Destriawan ini contohnya.

Lulus SMA Indra tidak mungkin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi karena alasan biaya. Jangankan berpikir kuliah, untuk kebutuhan sehari-hari saja ibu Indra harus berhutang dari satu rentenir ke rentenir lain. Pasalnya sang ibu sakit-sakitan, sehingga harus keluar-masuk rumah sakit dengan biaya yang tentu saja tidak sedikit.

Di saat teman-temannya sibuk memikirkan kuliah di mana, ambil jurusan apa, Indra hanya bisa menunggui ibunya yang sakit sembari mencari cara agar bisa mendapatkan penghasilan. Melihat tetangga kanan-kirinya banyak pengerajin batik, ia coba berjualan batik secara online dengan bermodal smartphone. Ia juga mengirim proposal penawaran seragam batik ke berbagai instansi.

Sembari merintis usaha, Indra menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan sosial. Ia bergabung dengan komunitas-komunitas relawan yang ada di Batang dan sekitarnya. Mulai dari Pagi Berbagi, Pekalongan Peduli, sampai kemudian informasi mengenai Sedekah Rombongan yang baru berdiri terdengar di telinganya.

Sedekah Rombongan (SR) adalah sebuah gerakan sosial yang digagas oleh pengusaha muda Yogyakarta, Saptuari Sugiharto. Gerakan ini fokus pada penanganan duafa sakit. Jadi kalau ada tetangga yang sakit parah tapi tak bisa berobat karena kondisi finansial yang tidak memungkinkan, silakan kontak Sedekah Rombongan. Kalau dinilai layak dibantu, seluruh biaya pengobatan sampai sembuh akan ditanggung.

Melihat fokus gerakan SR, Indra mantap mengajukan diri sebagai kurir. Boleh dibilang ia merupakan perintis SR di kawasan Pantura. Kurir pertama. Sebagai kurir tugasnya menyurvei kondisi calon pasien dampingan SR. Begitu ada informasi duafa sakit di area Pantura masuk ke email atau media sosial SR, Indra ditugaskan mendatangi alamat si sakit.

Ya, setiap calon pasien dampingan SR akan disurvei terlebih dahulu untuk menentukan layak-tidaknya dibantu. Indra-lah yang melihat kondisi tempat tinggal si sakit, mencari tahu kehidupan kesehariannya, menggali lebih banyak tentang penyakit yang diderita, mengambil foto-foto yang diperlukan, lalu melaporkannya ke koordinator kurir SR di Jogja.

Indra Destriawan bersama kurir-kurir Sedekah Rombongan wilayah Pantura. Dua yang saya kenal Abud Furqan (nomor dua dari kanan) dan Muhammad Jumhan (paling kanan).



Berdasarkan laporan dan foto-foto dari kurir seperti Indra inilah SR menentukan pilihan, dibantu atau tidak. Bantuan dari SR sendiri ada dua macam, berupa santunan atau ditanggung penuh biaya pengobatannya di rumah sakit hingga sembuh total. Semua tergantung jenis dan sudah seberapa parah penyakit tersebut.

Jika calon pasien yang disurvei dinilai layak dibantu, maka Indra pula yang menjadi kepanjangan tangan SR. Untuk bantuan berupa santunan, sejumlah uang akan ditransfer ke rekening Indra untuk disampaikan pada si sakit atas nama Sedekah Rombongan. Kalau bantuannya berupa biaya pengobatan, Indra harus membawa si sakit ke rumah sakit yang ditunjuk.

Tak cuma membawa ke rumah sakit, Indra bahkan nyaris seperti mengurusi pasien dampingan bersama-sama keluarganya. Tanggung jawab kurir adalah terus mendampingi sampai pasien dinyatakan sembuh oleh dokter. Karenanya Indra kerapkali menghabiskan malam di RS, atau tidur di dalam ambulans SR. Berhari-hari tak pulang ke rumah.

Mukjizat Pertama
Oya, kurir SR sama sekali tak memperoleh bayaran. Baik dari SR, lebih-lebih dari pasien dampingan. Biaya survei ke rumah calon pasien yang tak jarang terletak di kabupaten berbeda ya ditanggung sendiri oleh si kurir. Beli bensin, makan di jalan, dan semua pengeluaran lain keluar dari kantong kurir. Namanya juga relawan.

Seperti yang berulang kali ditekankan Saptuari, kurir SR tidak berharap gaji dan tidak akan pernah digaji. Kurir SR hanya mencari muka di hadapan Allah SWT. Maka nanti yang akan memberi bayaran, memberi gaji, adalah Allah. Langsung, kontan! Bukankah doa duafa serta doa orang sakit merupakan doa-doa yang makbul?

Indra sendiri dengan senang hati mejalani peran sebagai kurir SR. Untuk biaya operasional ia dapatkan dari berjualan batik, lalu mencoba berbisnis clothing dengan memproduksi kaos-kaos bertema anak muda. Tak sepeser pun ia mendapat uang dari SR. Tapi balasan lebih besar ia terima, ibunya tak pernah sakit lagi semenjak ia menjadi kurir SR.

Atas persetujuan Saptuari, Indra kemudian merekrut beberapa kurir lagi. Direncanakan tiap-tiap kabupaten ada setidaknya satu kurir. Lalu bergabunglah Abud Furqan dari Kesesi (Kab. Pekalongan), Ardiansyah Nasokha Afwan alias Ardi yang asli Temanggung tapi saat itu menetap di Pemalang, lalu masuklah saya di akhir 2012.

Baca juga: Suka-Duka Jadi Kurir Sedekah Rombongan


Saat saya masuk dalam jajaran kurir SR Pantura, Indra dipercaya sebagai koordinator. Jadi kami bertiga berada dalam koordinasi Indra, tidak lagi berhubungan langsung dengan SR Pusat. Mulai dari instruksi survei pasien, pemberian santunan, dll. semuanya turun dari Indra. Pada perkembangannya, penentuan pasien dibantu dengan santunan atau dibawa ke rumah sakit menjadi wewenang Indra. Ini menunjukkan betapa besarnya kepercayaan Saptuari pada bujangan asal Subah, Batang, tersebut.

Tak lama semenjak diangkat sebagai koordinator, Indra ditarik Saptuari ke Jogja. Amanahnya ditambah dengan mengurus media sosial SR. Kesibukannya bertambah. Meski demikian ia tetap dapat membantu keuangan keluarga dengan berjualan kaos distro secara online.

Begitu banyaknya amanah yang ia pegang semasa di Jogja membuatnya sangat jarang pulang ke Batang. Dalam satu kesempatan saat bertemu di Jogja saya dan Mas Furqan pernah mendengar sendiri "curhat" Indra mengenai keinginan ibunya agar ia kembali ke Batang dan menetap di sana. Sebuah permintaan yang membuatnya bimbang.

Merintis Alona Batik
Kira-kira dua tahun di Jogja, Indra akhirnya memantapkan diri kembali ke Batang. Bukan keputusan mudah meninggalkan Jogja dengan segala fasilitasnya, terlebih bila dibandingkan dengan Subah yang jauh dari kota Batang. Tapi tekadnya sudah bulat, tak goyah lagi.

Indra tetap berstatus koordinator wilayah Pantura yang mengoordinir kurir di Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Ia juga masih dipercaya sebagai Social Media Manager di Sedekah Rombongan. Sesekali ia ikut survei calon pasien, atau mengantar-jemput ke rumah sakit. Sekali tempo bahkan roadshow dari Batang ke Tegal, Brebes, terus ke barat untuk menjemput pasien.

Usaha berjualan kaos distro dihentikan. Sebagai gantinya ia fokus memasarkan batik. Awalnya ia menjajakan produksi orang lain, dengan berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain, dari satu instansi ke instansi lain, menyodorkan proposal pembuatan seragam batik. Sembari berkeliling, impian untuk mempunyai brand sendiri terus membayangi benaknya.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, Indra mulai memberanikan diri memproduksi batik di bawah merek sendiri. Desember 2015, Indra memperkenalkan Alona Batik. Tapi jangan bayangkan usahanya dimulai dengan modal besar. Modalnya cuma keberanian dan optimisme. Usahanya dimulai dari rumah orang tuanya, tanpa karyawan satupun.

Untuk urusan produksi Indra memaksimalkan potensi tetangga kanan-kiri yang kebanyakan berprofesi buruh pembatik. Begitu pesanan masuk, Indra sendiri yang menyiapkan order dan mengirimkannya ke kantor ekspedisi. Dari Subah ke pusat kota Batang, kira-kira setengah jam perjalanan yang harus ia tempuh dengan sepeda motor. Ia merangkap sebagai pemilik, customer service, dan kurir sekaligus.

Kesibukan di kantor Alona Batik, Batang. Tampak para karyawan tengah menyiapkan order.



Dalam waktu singkat, sangat singkat bahkan, Alona Batik berkembang sebagai bayi ajaib dengan reseller sebanyak 200 orang di berbagai daerah. Jumlah tersebut meningkat lagi, lagi, hingga kini menjadi nyaris 500 reseller. Omsetnya jangan ditanya. Yang jelas kemajuannya bisa terlihat dari sembilan orang karyawan, serta sebuah kantor representatif di tengah kota Batang.

Masih penasaran berapa omsetnya? Sebagai gambaran berapa banyak paket batik yang dikirim Indra per harinya, pihak ekspedisi sampai rela mengirim satu armadanya untuk menjemput (pick up) ke kantor Alona Batik. Satu mobil khusus hanya untuk mengambil paket-paket Alona. Bayangkan.

Oya, perlu saya tambahkan Indra membangun Alona Batik tanpa pinjaman bank. Ia tergabung dalam komunitas anti riba yang digagas Saptuari. Alona benar-benar ia rintis dari kecil, dari nol. Dari mengerjakan semuanya sendirian di rumah orang tua, sampai bisa menggaji sembilan karyawan dan menyewa sebuah ruko di pusat kota Batang.

Bagi saya, perjalanan hidup Indra ini sangat inspiratif. Bukan melulu soal kesuksesannya membangun Alona Batik yang dalam tempo setengah tahun saja sudah beromset ratusan juta. Tapi lebih mengenai kerelaannya menyedekahkan sebagian besar hidupnya untuk membantu duafa sakit bersama Sedekah Rombongan. Kini, sekalipun sudah berstatus bos dan pengusaha muda, ia tetap mau menyetiri ambulans SR untuk menjemput pasien di pelosok-pelosok desa terpencil, serta tak jarang ikut memanggul tandu.

Inilah yang mendorong saya menuliskan kisahnya saat mengetahui lomba penulisan yang diadakan Bank OCBC NISP. Alhamdulillah, kisah yang saya tulis berhasil memikat juri sehingga masuk 10 besar. Agak disayangkan kisah inspiratif Indra tidak lolos ke lima besar karena kekurangan vote. Tapi bagi saya banyak atau sedikit vote yang didapat kisah ini tetaplah memberi inspirasi.

Baca juga: Juragan Batik Muda yang Sedekahkan Dirinya untuk Kaum Papa

Masih muda belia, ke mana-mana naik mobil dengan bisnis yang tengah naik daun, berbakti pada orang tua, murah hati, serta ringan tangan membantu derita duafa sakit. Hmmm, orang tua mana yang tak mengimpikan punya menantu seperti Indra Destriawan. Iya nggak, Bu? :)

Jumat, 05 Agustus 2016

DI jaman di mana internet sudah jadi kebutuhan seperti sekarang, perlahan tapi pasti kebiasaan masyarakat bergeser. Termasuklah di dalamnya soal belanja-belanji. Saya sendiri kini berada di level lebih merasa nyaman belanja online ketimbang mendatangi toko. Tentu saja ada alasan kenapa begitu. Mau tahu?

Ceritanya saya tinggal di sebuah kota kecil di pesisir utara Pulau Jawa, Pemalang. Ini kota yang nyaris tak terlihat di peta. Orang dengan mudah mengenali Tegal atau Pekalongan, tapi kebingungan mencari Pemalang. Saya sendiri baru ngeh ada kabupaten bernama Pemalang setelah berkenalan dengan perempuan yang sekarang jadi istri saya. :)

Jangan heran kalau orang suka salah mengidentifikasi Pemalang. Setiap kali saya menyebut nama Pemalang, mereka menjawab, "Oh, di Jawa Timur ya?" Mereka kira Malang. Karenanya sewaktu merintis sebuah clothing kaos khas Pemalang, seorang kawan saya membuat tagline "Pemalang Itu Jawa Tengah!"

Lalu, apa hubungannya Pemalang kota kecil dengan saya yang lebih nyaman belanja online?

Begini. Sebagai kota kecil, akses kemana-mana jadi terbatas. Saya tidak bisa menyaksikan film Rudy Habibie yang inspiratif, atau film Bangkit! yang dibintangi aktor idola saya Vino G. Bastian. Kenapa? Karena di Pemalang tidak ada bioskop. Kalau mau menonton film harus pergi ke Tegal atau Pekalongan, itupun tidak selalu film terbaru diputar di bioskop-bioskop dua kota tersebut.

Alasan Saya Lebih Suka Belanja Online
Okelah, film itu kebutuhan tersier. Orang masih bisa hidup tanpa menonton film, bukan? Tapi saya paling tidak tahan tidak membeli buku-buru terbaru. Apalagi kalau baca resensi yang ditulis kawan-kawan di blognya.

Masalahnya, di Pemalang juga tidak ada toko buku. Bedakan dengan toko alat tulis yang menjual buku-buku pelajaran sekolah ya. Kalau itu sih ada banyak di sini. Pameran buku hanya ada setahun sekali, dengan jumlah stand terbatas, dan koleksi buku-buku cetakan lama yang tidak laku. Hmmm....


Nah, biasanya saya beli buku secara online. Berat di ongkos kirim sih, tapi masih lebih murah dibanding ongkos ke kota terdekat yang ada toko buku bonafid. Tak cuma buku, saya pun lebih suka mencari berbagai barang yang sedang dibutuhkan lewat internet. Tentu saja ada alasan kenapa begitu.

1. Barang yang saya cari tidak/belum ada di Pemalang
Harap maafkan kalau lagi-lagi saya ulangi soal Pemalang yang kecil dan serba terbatas. Tapi ini alasan paling utama. Saya butuh gorilla pod, misalnya. Muter-muter ke beberapa toko kamera terkenal di sini, yang ada cuma tripod dan monopod. Lainnya lagi malah hanya menyediakan tongsis.

Pernah saya terpikat sama satu handycam di sebuah toko online. Speknya lumayan bagus untuk merekam video, harganya ramah di kantong. Seperti biasa saya bookmark dulu halaman tersebut, merek serta tipe handycam itu saya ingat-ingat. Saya mau coba cari dulu di Pemalang mana tahu ada yang jual. Betul sekali, saya tidak bisa menemukan handycam itu!

Ya sudahlah, mau tidak mau saya harus membelinya di toko online kan?

2. Harga barang yang sama di Pemalang lebih mahal dari toko online
Ini sering sekali terjadi, dan beberapa kali saya mengalaminya sendiri. Contohnya sewaktu saya mau membeli tripod murah-meriah beberapa bulan lalu. Sebut saja mereknya MurmerPod. Saya survei harga dulu di internet, dan ketemulah paling murah Rp125.000. Tambah ongkos kirim Rp27.000 totalnya jadi Rp152.000.

Tapi saya tidak langsung ambil tripod itu. Saya coba cari dulu di beberapa toko kamera di sini dengan harapan ada menjual seharga segitu. Tahu berapa harga yang mereka minta? Rata-rata menyebut angka Rp250.000! Ya, bisa ditawar tentu saja. Setelah nego-nego halus, salah satu toko mentok cuma mau lepas seharga Rp175.000. Ya uwis, bye bye...

3. Saya bisa belanja sambil mengerjakan yang lain
Ini poin yang paling saya sukai. Kalau beli di toko konvensional saya harus keluar rumah. Ya, mana mungkin bisa beli barangnya kalau tidak mendatangi tokonya? Selama keluar itu saya meninggalkan anak-anak bermain sendiri, atau ditemani istri yang membuatnya dengan terpaksa menunda pekerjaan-pekerjaan domestik.

Saya sendiri tak bisa melakukan yang lain selama berbelanja. Kecuali update status di sosmed, itupun kalau sempat dan ada hal menarik yang saya rasa layak dibagikan. Tak jarang setelah mencari-cari selama itu saya pulang dengan tangan hampa. Kadang barangnya tidak ada, kadang harganya yang tidak cocok.

Sebaliknya, berbelanja online bisa saya lakukan sembari menggarap pekerjaan lain. Bisa nyambi menulis posting baru di blog, nge-buzz artikel untuk menggenjot trafik, atau setidak-tidaknya sambil bermain bareng anak-anak. Yang ibu-ibu pasti sepakat dengan poin terakhir, iya kan?


4. Berbelanja online itu menghemat waktu
Waktu adalah uang. Kalau kita bisa memanfaatkan waktu untuk mencari uang, kenapa malah melewatkannya untuk kegiatan menghabiskan uang seperti berbelanja? Hehehe...

Bayangkan. Untuk berbelanja di toko saya harus meluangkan waktu kurang-lebih 2-3 jam. Rinciannya: perjalanan pergi-pulang, mencari-cari harga terbaik dari satu toko ke toko lain, diskusi dengan pelayan toko yang belum tentu paham produk yang dijual di tokonya, plus antri membayar di kasir.

Waktu 2-3 jam itu khusus buat putar sana-sini, dari berangkat sampai pulang hanya untuk mencari barang sampai mendapatkan yang pas di hati sekaligus ramah di kantong. Bukan waktu yang sebentar lho itu.

Sebaliknya, waktu untuk berbelanja online tidak sampai 2-3 jam. Saya tidak perlu keluar rumah, jadi tidak butuh waktu untuk berangkat ke dan pulang dari toko. Juga tidak perlu antri di kasir. Cukup pilih-pilih, pencet-pencet, belanja pun selesai. Anak-anak senang ditemani, istri lega bisa memasak dan mencuci, saya dapat barang yang dibutuhkan.

Bijak Memilih Toko Online
"Tapi, Mas, di internet kan rawan penipuan," kata seorang tetangga yang tahu saya beli apa-apa lewat internet. Tetangga kanan-kiri saya penasaran dan bertanya karena sering melihat kurir ekspedisi datang ke rumah mengantarkan paket-paket. Kalau pas belanjaan saya banyak, paket yang diantar besar sekali sehingga terlihat mencolok.

Ini kekhawatiran umum. Berita-berita penipuan di internet selalu saja ada di televisi atau koran. Biasanya tertipu toko online bodong, dengan modus uang sudah ditransfer tapi barang tak kunjung dikirim. Tak heran masih banyak yang merasa khawatir berbelanja online.

Saya sendiri, alhamdulillah, sampai saat ini belum pernah mengalami hal buruk selama bertransaksi online. Dan mudah-mudahan tidak pernah mengalami. Tak ada tips khusus. Saya hanya berusaha selalu waspada dan tak mudah tergiur tawaran tidak masuk akal. Itu saja.

Contohnya sekarang saya ingin sekali membeli kamera saku, dan yang saya incar Canon iXus 175. Saya lihat dulu berapa banderol resmi di situs Canon Indonesia. Didapatlah angka Rp1.200.000 sebagai harga resmi. Ini saya jadikan patokan saat mencari tawaran terbaik di berbagai toko online. Kalau ada yang menawarkan seharga Rp800.000 atau Rp900.000, itu mencurigakan. Selisihnya terlalu banyak.


Cari punya cari, ada beberapa penjual yang menawarkan harga Rp.1.050.000. Bagi saya ini tawaran masuk akal sebab selisih dengan harga resmi produsen tidak terlampau jauh. Selanjutnya tinggal tingkatkan kewaspadaan dengan hanya berbelanja di situs-situs terpercaya. Salah satu yang menurut saya layak direkomendasikan adalah Blanja.com.

Kamera saku yang sedang saya cari ada di sini. Rentang harganya mulai Rp1.050.000 sampai yang termahal Rp1.100.000. Untuk sementara memang cuma saya masukkan whistlist. Tapi setidaknya saya tahu harus kemana membelinya saat uang sudah terkumpul. Syukur-syukur pas uangnya ada, eh, ndilalah harganya turun. Hehehe, maunya!

Satu hal yang membuat Blanja.com layak dipercaya, situs marketplace ini merupakan hasil kerja sama strategis antara PT Telkom Indonesia dengan eBay. Keduanya perusahaan ternama, tak ada alasan bagi saya untuk khawatir berbelanja di sini. Seleksi penjual di sini sangat ketat, di mana penjual perorangan diminta mencantumkan NPWP, sedangkan penjual besar diminta mengirim file perijinan dan legalitas perusahaan.

Penipuan online terbuka jika kita langsung mentransfer uang ke penjual. Begitu ketemu penjual abal-abal, sulit berharap uang kita yang ditipu kembali lagi. Di Blanja.com, pembeli mendapat jaminan uang kembali. Jangan kata barang tidak dikirim, kalau barang yang diterima tak sesuai deskripsi saja kita berhak mengajukan klaim.

Yang bagi saya tak kalah penting, ada banyak cara pembayaran untuk melunasi transaksi. Termasuk melalui Kantor Pos, Indomaret, Alfamart, atau Pegadaian. Tak perlu lagi jauh-jauh datang ke mesin ATM atau antri panjang di teller bank. Bagi pemakai Telkomsel, disediakan pula pembayaran menggunakan t-Cash. Kurang apalagi coba?

Well, kalau belanja online semudah ini, wajar kan kalau saya merasa lebih nyaman shopping di dunia maya?

DI jaman di mana internet sudah jadi kebutuhan seperti sekarang, perlahan tapi pasti kebiasaan masyarakat bergeser. Termasuklah di dalamnya soal belanja-belanji. Saya sendiri kini berada di level lebih merasa nyaman belanja online ketimbang mendatangi toko. Tentu saja ada alasan kenapa begitu. Mau tahu?

Ceritanya saya tinggal di sebuah kota kecil di pesisir utara Pulau Jawa, Pemalang. Ini kota yang nyaris tak terlihat di peta. Orang dengan mudah mengenali Tegal atau Pekalongan, tapi kebingungan mencari Pemalang. Saya sendiri baru ngeh ada kabupaten bernama Pemalang setelah berkenalan dengan perempuan yang sekarang jadi istri saya. :)

Jangan heran kalau orang suka salah mengidentifikasi Pemalang. Setiap kali saya menyebut nama Pemalang, mereka menjawab, "Oh, di Jawa Timur ya?" Mereka kira Malang. Karenanya sewaktu merintis sebuah clothing kaos khas Pemalang, seorang kawan saya membuat tagline "Pemalang Itu Jawa Tengah!"

Lalu, apa hubungannya Pemalang kota kecil dengan saya yang lebih nyaman belanja online?

Begini. Sebagai kota kecil, akses kemana-mana jadi terbatas. Saya tidak bisa menyaksikan film Rudy Habibie yang inspiratif, atau film Bangkit! yang dibintangi aktor idola saya Vino G. Bastian. Kenapa? Karena di Pemalang tidak ada bioskop. Kalau mau menonton film harus pergi ke Tegal atau Pekalongan, itupun tidak selalu film terbaru diputar di bioskop-bioskop dua kota tersebut.

Alasan Saya Lebih Suka Belanja Online
Okelah, film itu kebutuhan tersier. Orang masih bisa hidup tanpa menonton film, bukan? Tapi saya paling tidak tahan tidak membeli buku-buru terbaru. Apalagi kalau baca resensi yang ditulis kawan-kawan di blognya.

Masalahnya, di Pemalang juga tidak ada toko buku. Bedakan dengan toko alat tulis yang menjual buku-buku pelajaran sekolah ya. Kalau itu sih ada banyak di sini. Pameran buku hanya ada setahun sekali, dengan jumlah stand terbatas, dan koleksi buku-buku cetakan lama yang tidak laku. Hmmm....


Nah, biasanya saya beli buku secara online. Berat di ongkos kirim sih, tapi masih lebih murah dibanding ongkos ke kota terdekat yang ada toko buku bonafid. Tak cuma buku, saya pun lebih suka mencari berbagai barang yang sedang dibutuhkan lewat internet. Tentu saja ada alasan kenapa begitu.

1. Barang yang saya cari tidak/belum ada di Pemalang
Harap maafkan kalau lagi-lagi saya ulangi soal Pemalang yang kecil dan serba terbatas. Tapi ini alasan paling utama. Saya butuh gorilla pod, misalnya. Muter-muter ke beberapa toko kamera terkenal di sini, yang ada cuma tripod dan monopod. Lainnya lagi malah hanya menyediakan tongsis.

Pernah saya terpikat sama satu handycam di sebuah toko online. Speknya lumayan bagus untuk merekam video, harganya ramah di kantong. Seperti biasa saya bookmark dulu halaman tersebut, merek serta tipe handycam itu saya ingat-ingat. Saya mau coba cari dulu di Pemalang mana tahu ada yang jual. Betul sekali, saya tidak bisa menemukan handycam itu!

Ya sudahlah, mau tidak mau saya harus membelinya di toko online kan?

2. Harga barang yang sama di Pemalang lebih mahal dari toko online
Ini sering sekali terjadi, dan beberapa kali saya mengalaminya sendiri. Contohnya sewaktu saya mau membeli tripod murah-meriah beberapa bulan lalu. Sebut saja mereknya MurmerPod. Saya survei harga dulu di internet, dan ketemulah paling murah Rp125.000. Tambah ongkos kirim Rp27.000 totalnya jadi Rp152.000.

Tapi saya tidak langsung ambil tripod itu. Saya coba cari dulu di beberapa toko kamera di sini dengan harapan ada menjual seharga segitu. Tahu berapa harga yang mereka minta? Rata-rata menyebut angka Rp250.000! Ya, bisa ditawar tentu saja. Setelah nego-nego halus, salah satu toko mentok cuma mau lepas seharga Rp175.000. Ya uwis, bye bye...

3. Saya bisa belanja sambil mengerjakan yang lain
Ini poin yang paling saya sukai. Kalau beli di toko konvensional saya harus keluar rumah. Ya, mana mungkin bisa beli barangnya kalau tidak mendatangi tokonya? Selama keluar itu saya meninggalkan anak-anak bermain sendiri, atau ditemani istri yang membuatnya dengan terpaksa menunda pekerjaan-pekerjaan domestik.

Saya sendiri tak bisa melakukan yang lain selama berbelanja. Kecuali update status di sosmed, itupun kalau sempat dan ada hal menarik yang saya rasa layak dibagikan. Tak jarang setelah mencari-cari selama itu saya pulang dengan tangan hampa. Kadang barangnya tidak ada, kadang harganya yang tidak cocok.

Sebaliknya, berbelanja online bisa saya lakukan sembari menggarap pekerjaan lain. Bisa nyambi menulis posting baru di blog, nge-buzz artikel untuk menggenjot trafik, atau setidak-tidaknya sambil bermain bareng anak-anak. Yang ibu-ibu pasti sepakat dengan poin terakhir, iya kan?


4. Berbelanja online itu menghemat waktu
Waktu adalah uang. Kalau kita bisa memanfaatkan waktu untuk mencari uang, kenapa malah melewatkannya untuk kegiatan menghabiskan uang seperti berbelanja? Hehehe...

Bayangkan. Untuk berbelanja di toko saya harus meluangkan waktu kurang-lebih 2-3 jam. Rinciannya: perjalanan pergi-pulang, mencari-cari harga terbaik dari satu toko ke toko lain, diskusi dengan pelayan toko yang belum tentu paham produk yang dijual di tokonya, plus antri membayar di kasir.

Waktu 2-3 jam itu khusus buat putar sana-sini, dari berangkat sampai pulang hanya untuk mencari barang sampai mendapatkan yang pas di hati sekaligus ramah di kantong. Bukan waktu yang sebentar lho itu.

Sebaliknya, waktu untuk berbelanja online tidak sampai 2-3 jam. Saya tidak perlu keluar rumah, jadi tidak butuh waktu untuk berangkat ke dan pulang dari toko. Juga tidak perlu antri di kasir. Cukup pilih-pilih, pencet-pencet, belanja pun selesai. Anak-anak senang ditemani, istri lega bisa memasak dan mencuci, saya dapat barang yang dibutuhkan.

Bijak Memilih Toko Online
"Tapi, Mas, di internet kan rawan penipuan," kata seorang tetangga yang tahu saya beli apa-apa lewat internet. Tetangga kanan-kiri saya penasaran dan bertanya karena sering melihat kurir ekspedisi datang ke rumah mengantarkan paket-paket. Kalau pas belanjaan saya banyak, paket yang diantar besar sekali sehingga terlihat mencolok.

Ini kekhawatiran umum. Berita-berita penipuan di internet selalu saja ada di televisi atau koran. Biasanya tertipu toko online bodong, dengan modus uang sudah ditransfer tapi barang tak kunjung dikirim. Tak heran masih banyak yang merasa khawatir berbelanja online.

Saya sendiri, alhamdulillah, sampai saat ini belum pernah mengalami hal buruk selama bertransaksi online. Dan mudah-mudahan tidak pernah mengalami. Tak ada tips khusus. Saya hanya berusaha selalu waspada dan tak mudah tergiur tawaran tidak masuk akal. Itu saja.

Contohnya sekarang saya ingin sekali membeli kamera saku, dan yang saya incar Canon iXus 175. Saya lihat dulu berapa banderol resmi di situs Canon Indonesia. Didapatlah angka Rp1.200.000 sebagai harga resmi. Ini saya jadikan patokan saat mencari tawaran terbaik di berbagai toko online. Kalau ada yang menawarkan seharga Rp800.000 atau Rp900.000, itu mencurigakan. Selisihnya terlalu banyak.


Cari punya cari, ada beberapa penjual yang menawarkan harga Rp.1.050.000. Bagi saya ini tawaran masuk akal sebab selisih dengan harga resmi produsen tidak terlampau jauh. Selanjutnya tinggal tingkatkan kewaspadaan dengan hanya berbelanja di situs-situs terpercaya. Salah satu yang menurut saya layak direkomendasikan adalah Blanja.com.

Kamera saku yang sedang saya cari ada di sini. Rentang harganya mulai Rp1.050.000 sampai yang termahal Rp1.100.000. Untuk sementara memang cuma saya masukkan whistlist. Tapi setidaknya saya tahu harus kemana membelinya saat uang sudah terkumpul. Syukur-syukur pas uangnya ada, eh, ndilalah harganya turun. Hehehe, maunya!

Satu hal yang membuat Blanja.com layak dipercaya, situs marketplace ini merupakan hasil kerja sama strategis antara PT Telkom Indonesia dengan eBay. Keduanya perusahaan ternama, tak ada alasan bagi saya untuk khawatir berbelanja di sini. Seleksi penjual di sini sangat ketat, di mana penjual perorangan diminta mencantumkan NPWP, sedangkan penjual besar diminta mengirim file perijinan dan legalitas perusahaan.

Penipuan online terbuka jika kita langsung mentransfer uang ke penjual. Begitu ketemu penjual abal-abal, sulit berharap uang kita yang ditipu kembali lagi. Di Blanja.com, pembeli mendapat jaminan uang kembali. Jangan kata barang tidak dikirim, kalau barang yang diterima tak sesuai deskripsi saja kita berhak mengajukan klaim.

Yang bagi saya tak kalah penting, ada banyak cara pembayaran untuk melunasi transaksi. Termasuk melalui Kantor Pos, Indomaret, Alfamart, atau Pegadaian. Tak perlu lagi jauh-jauh datang ke mesin ATM atau antri panjang di teller bank. Bagi pemakai Telkomsel, disediakan pula pembayaran menggunakan t-Cash. Kurang apalagi coba?

Well, kalau belanja online semudah ini, wajar kan kalau saya merasa lebih nyaman shopping di dunia maya?