Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Sabtu, 08 April 2017


HARI sudah beranjak malam ketika bus pariwisata yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti. Di sebuah jalanan yang tak bisa dikatakan ramai. Batang-batang tinggi pohon kelapa terlihat menjulang di beberapa tempat dalam keremangan. Jam digital di bagian depan bus menunjukkan pukul delapan malam WIT.

Saya sekeluarga beserta rombongan Tur Cokelat Bali atas sponsor PT Frisian Flag Indonesia tengah menuju ke hotel waktu itu. Dari briefing book yang dibagikan saat di Bandara Soekarno-Hatta, saya tahu nama hotelnya Bali Shangrila Beach Club (kini jadi Bali Santai Beach Club?)

Pak Made tour guide kami mengumumkan kalau jalan menuju ke hotel sempit, tak cukup dilalui bus. Jadi kami harus turun dan berganti kendaraan shuttle hotel yang sedang menuju ke tempat kami berada.

Beberapa menit menunggu Pak Made mempersilakan rombongan keluarga dengan anak-anak untuk turun terlebih dahulu. Saya, istri, dan anak-anak beranjak dari jok. Pindah ke sebuah minibus yang stand by beberapa langkah di depan bus. Ikut bersama kami keluarga Mas Jimmy Nugraha asal Tangerang yang juga bersama dua anak.

Begitu kami semua masuk, minibus melaju membelah kegelapan malam. Saya tak tahu arah, kanan-kiri gelap. Seingat saya tak banyak lampu penerangan di sepanjang jalan. Anak-anak duduk sembari melihat keluar melalui kaca minibus, penuh penasaran.

Jalan beberapa menit tampaklah jejeran lampu putih di atas sebuah tembok beton. Agaknya kami sudah mulai memasuki kawasan hotel. Ketika kemudian minibus berhenti dan kami turun, saya masih tidak melihat bangunan hotel. Hanya pelataran parkir, beberapa mobil, dan semacam pintu gerbang dengan lampu-lampu berpendar di dalamnya.


Ke "pintu gerbang" itulah kami menuju. Begitu melewatinya barulah suasana hotel saya rasakan. Sebuah resepsionis yang hanya berupa ruangan kecil, satu meja besar dari kayu, dan restoran semi outdoor dengan lampu temaram di seberang.

Tak ada lobi. Atau konsep lobinya memang seperti itu? Serupa teras depan rumah tanpa banyak kursi. Seingat saya hanya ada dua kursi selain meja kayu besar yang ada di sana.

Sembari menunggu Pak Rahmat (tour leader Smailing Tour) mengambilkan kunci untuk kami, saya mengamati sekitar. Terdengar suara kecipak air, juga deburan ombak dekat sekali. Saya berdiri hanya sekitar 100 meter dari bibir pantai. Tapi malam yang pekat membuat mata ini tidak berhasil melihat laut. Hitam.

Sederhana di Luar, Super Mewah di Dalam
Tengah asyik mengamati sekeliling, Pak Rahmat memanggil saya. Dua kunci diulurkan yang langsung saya sambut dengan tangan kanan. Meski belum sampai ke kamar, tapi saya bisa menebak kami bakal dapat bagian connecting room.

"Ikut mas itu, Pak," kata Pak Rahmat sembari menunjuk seorang staf hotel yang berdiri di sebelah koper-koper kami. "Selamat istirahat ya."

Saya cuma membalas dengan senyuman. Staf hotel membawa kami ke sebuah lorong kecil di dekat pintu masuk. Rupanya kamar kami terletak di lantai atas. Kamar nomor 21 dan 22. Connecting room.

Berbeda dengan Hotel Grand Ixora Kuta Resort tempat kami menginap di malam pertama, dari luar Hotel Bali Shangrila Beach Club terlihat biasa saja. Bahkan bangunannya terkesan tua dengan desain sederhana. Sama sekali tak tampak kesan mewah, padahal ini hotel bintang tiga.



Tapi kesan itu langsung buyar begitu kami masuk ke dalam kamar. Berulang kali kata "wow" keluar dari mulut saya dan istri. Maklumlah, sekalipun pernah setengah tahun jadi bellboy Novotel, saya jarang-jarang menginap di hotel mewah. Paling mentok kelas melati kalau bayar sendiri.

Yang pertama kami buka kamar Superior. Wah, luasnya nggak kepalang tanggung! Selain double bed ada kursi kayu, seperangkat meja rias, sofa dan meja sedang, rak tivi, lemari, dan kitchen set lengkap dengan washtafel di sudut.

Legaaaa sekali. Itu masih ditambah balkon menghadap laut.

Didorong rasa penasaran saya buka kamar satu lagi. Dan saya sukses dibuat bengong. Ukurannya jauh lebih besar dari kamar sebelah, terdiri dari tiga ruangan plus tiga balkon. Salah satu balkon berukuran sangat lebar.

Begitu masuk dari pintu kita langsung disambut semacam ruang tamu. Ada satu sofa panjang di depan rak tivi layar datar, seperangkat sofa di pojok lain, serta kitchen set di sudut.

Ketika saya buka lemari kayu di bawah washtafel isinya sendok, garpu, pisau, dan ada pula frying pan. Kemudian lemari di atasnya berisi piring, mangkuk, dan gelas aneka ukuran. Saya lihat juga ada lap, kemungkinan untuk mengeringkan atau mengelap piring sebelum digunakan.

Komplit!



Kamar tidur tak kalah luasnya. Sebuah double bed ukuran raja (king size) berseprei putih dengan aksen kain merah jadi sentral. Di kanan-kirinya terdapat lampu meja. Di satu sisi terletak sebuah rak kayu, ada pula lemari, dan set meja rias.

Yang istimewa, kamar ini memiliki dua balkon di dua sisinya: menghadap laut dan menghadap area parkir hotel. Sekedar duduk-duduk santai sembari mengobrol terasa asyik sekali di sini. Suasana pedesaan dikuatkan dengan kokok ayam jago yang terdengar jelas dari dalam kamar.

Berendam di Bathtub
Nah, bagian paling serunya di sini. Satu ruangan tersisa ternyata kamar mandi. Tak terbayangkan ruangan selebar itu hanya untuk kamar mandi. Di dalamnya ada kloset jongkok, washtafel dengan kaca lebar, dan bathtub. Barang terakhir ini yang bikin agenda tidur kami molor hingga larut.

Anak-anak sebenarnya sudah mengantuk sejak tiba di hotel. Namun begitu melihat kamar luas, nurani petualang mereka muncul. Jalan ke sana-sini, lihat sana-sini, menyentuh ini-itu. Sampailah mereka tahu bathtub di kamar mandi tadi.

"Ini untuk apa?" tanya Damar, anak sulung saya, polos. Maklum, seumur hidupnya belum pernah melihat bathtub.

"Ini bathtub, Nak. Untuk berendam kaya di kolam renang," jawab saya sesederhana mungkin.

Eh, rupanya jawaban saya menimbulkan ketertarikan mereka. Malam itu juga, waktu itu kira-kira jam setengah sembilan malam, mereka minta mandi berendam air hangat. Alamak!

Tapi kami memang belum mandi sore. Jadi, saya turuti kemauan anak-anak. Sembari meminta mereka melucuti pakaian, saya isi bathtub dengan air dingin disusul air panas. Belum lagi isinya penuh, anak-anak sudah masuk ke bathtub. Asyik bermain-main air yang mancur dari shower dan kran.



Begitu bathtub berisi setengah, mereka sibuk bermain air. Saling ciprat. Kecipak-kecipuk nggak karuan, sampai basah semua lantai kamar mandi. Susah payah ibunya membujuk mereka untuk mentas karena sudah hampir jam 10 malam.

Oya, kamar mandi nan luas ini punya dua pintu. Satu pintu terhubung ke kamar, satunya lagi ke living room. Yang agak saya sayangkan, lokasi bathtub di kamar kami malam itu dekat pintu ke living room. Kalau main air harus hati-hati agar lantai ruang sebelah tak ikut basah.

Private Beach nan Cantik
Sesuai namanya, Hotel Bali Shangrila Beach Club terletak tepat di pinggir pantai. Entah apa nama pantainya saya lupa bertanya. Yang jelas itu kawasan private, besar kemungkinan eksklusif bagi tetamu hotel saja.

Pantainya berpasir putih, dengan air bening sekali. Di bibir pantai berjejer perahu-perahu kayu bermotor. Dari hasil googling saya tahu kita bisa menyewa kapal-kapal tersebut untuk berlayar ke tengah laut.

Tak jauh dari pantai terdapat sebuah pulau karang besar. Lagi-lagi saya tak tahu namanya dan lupa menanyakan pada staf hotel. Tapi tak ada tanda-tanda kehidupan di pulau tersebut. Agak jauh dari sana berceceran beberapa pulau kecil, juga terbentuk dari batu karang.

Pagi hari setelah mandi kami turun ke bawah untuk sarapan. Karena malas naik-turun bolak-balik, kami bawa koper-koper dan tas ke bawah agar bisa sekalian check out.

Restoran semi outdoor di seberang resepsionis bernuansa kayu. Bagian yang menghadap resepsionis tidak berdinding sama sekali. Sedangkan bagian-bagian lain berdinding tembok setinggi setengah badan. Jadi, tetamu dapat menyantap sarapannya sembari memandangi laut.

Tepat di sebelah restoran ada kolam renang.



Sajian makanannya tak banyak. Menu lokal terdiri dari nasi goreng dan mi goreng, dengan tambahan irisan tomat dan sayur-sayuran mentah. Kalau mau kita bisa meminta omelet. Untuk lidah bule, restoran menyediakan roti tawar dengan aneka macam selai juga butter.

Bergeser ke meja minuman, tersedia jus jeruk yang menurut saya rasanya juara, termos besar berisi air panas untuk membuat teh atau kopi, serta deretan kotak-kotak susu. Saya pikir susu-susu ini disiapkan untuk tamu yang biasa sarapan dengan sereal.

Beres sarapan saya dan anak-anak turun ke pantai. Sepi sekali. Saat itu tak ada satupun tamu yang terlihat di pantai selain saya dan Damar. Lalu istri dan Diandra menyusul. Kami foto-foto, saya merekam video ala kadarnya. Belum puas sebenarnya, tapi Pak Rahmat sudah memanggil-manggil.

Well, semalam di Hotel Bali Shangrila Beach Club sangat mengesankan bagi kami. Sampai sekarang pun anak-anak masih ingat betul bagaimana serunya mereka bermain-main air di bathtub.

Andai nanti ada kesempatan kembali kemari, saya bakal puas-puas berenang di kolam dan berlari-larian di pantai. Anak-anak sepertinya bakal berlama-lama berendam di bathtub. Semoga saja.

Ingin menginap di Hotel Bali Shangrila Beach Club?
Dapatkan tawaran menarik dari Booking.com di sini!



Bali Shangrila Beach Club
Dusun Samuh
Kecamatan Candidasa
Karangasem, Bali
Telepon: (0363) 41829


Foto-Foto:
Semua foto dengan watermark "BUNGEKO.COM" adalah dokumentasi pribadi, dijepret dengan Canon Powershot SX610 HS. Foto-foto lain diambil dari web www.balisantaibeachclub.com dan Booking.com.


HARI sudah beranjak malam ketika bus pariwisata yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti. Di sebuah jalanan yang tak bisa dikatakan ramai. Batang-batang tinggi pohon kelapa terlihat menjulang di beberapa tempat dalam keremangan. Jam digital di bagian depan bus menunjukkan pukul delapan malam WIT.

Saya sekeluarga beserta rombongan Tur Cokelat Bali atas sponsor PT Frisian Flag Indonesia tengah menuju ke hotel waktu itu. Dari briefing book yang dibagikan saat di Bandara Soekarno-Hatta, saya tahu nama hotelnya Bali Shangrila Beach Club (kini jadi Bali Santai Beach Club?)

Pak Made tour guide kami mengumumkan kalau jalan menuju ke hotel sempit, tak cukup dilalui bus. Jadi kami harus turun dan berganti kendaraan shuttle hotel yang sedang menuju ke tempat kami berada.

Beberapa menit menunggu Pak Made mempersilakan rombongan keluarga dengan anak-anak untuk turun terlebih dahulu. Saya, istri, dan anak-anak beranjak dari jok. Pindah ke sebuah minibus yang stand by beberapa langkah di depan bus. Ikut bersama kami keluarga Mas Jimmy Nugraha asal Tangerang yang juga bersama dua anak.

Begitu kami semua masuk, minibus melaju membelah kegelapan malam. Saya tak tahu arah, kanan-kiri gelap. Seingat saya tak banyak lampu penerangan di sepanjang jalan. Anak-anak duduk sembari melihat keluar melalui kaca minibus, penuh penasaran.

Jalan beberapa menit tampaklah jejeran lampu putih di atas sebuah tembok beton. Agaknya kami sudah mulai memasuki kawasan hotel. Ketika kemudian minibus berhenti dan kami turun, saya masih tidak melihat bangunan hotel. Hanya pelataran parkir, beberapa mobil, dan semacam pintu gerbang dengan lampu-lampu berpendar di dalamnya.


Ke "pintu gerbang" itulah kami menuju. Begitu melewatinya barulah suasana hotel saya rasakan. Sebuah resepsionis yang hanya berupa ruangan kecil, satu meja besar dari kayu, dan restoran semi outdoor dengan lampu temaram di seberang.

Tak ada lobi. Atau konsep lobinya memang seperti itu? Serupa teras depan rumah tanpa banyak kursi. Seingat saya hanya ada dua kursi selain meja kayu besar yang ada di sana.

Sembari menunggu Pak Rahmat (tour leader Smailing Tour) mengambilkan kunci untuk kami, saya mengamati sekitar. Terdengar suara kecipak air, juga deburan ombak dekat sekali. Saya berdiri hanya sekitar 100 meter dari bibir pantai. Tapi malam yang pekat membuat mata ini tidak berhasil melihat laut. Hitam.

Sederhana di Luar, Super Mewah di Dalam
Tengah asyik mengamati sekeliling, Pak Rahmat memanggil saya. Dua kunci diulurkan yang langsung saya sambut dengan tangan kanan. Meski belum sampai ke kamar, tapi saya bisa menebak kami bakal dapat bagian connecting room.

"Ikut mas itu, Pak," kata Pak Rahmat sembari menunjuk seorang staf hotel yang berdiri di sebelah koper-koper kami. "Selamat istirahat ya."

Saya cuma membalas dengan senyuman. Staf hotel membawa kami ke sebuah lorong kecil di dekat pintu masuk. Rupanya kamar kami terletak di lantai atas. Kamar nomor 21 dan 22. Connecting room.

Berbeda dengan Hotel Grand Ixora Kuta Resort tempat kami menginap di malam pertama, dari luar Hotel Bali Shangrila Beach Club terlihat biasa saja. Bahkan bangunannya terkesan tua dengan desain sederhana. Sama sekali tak tampak kesan mewah, padahal ini hotel bintang tiga.



Tapi kesan itu langsung buyar begitu kami masuk ke dalam kamar. Berulang kali kata "wow" keluar dari mulut saya dan istri. Maklumlah, sekalipun pernah setengah tahun jadi bellboy Novotel, saya jarang-jarang menginap di hotel mewah. Paling mentok kelas melati kalau bayar sendiri.

Yang pertama kami buka kamar Superior. Wah, luasnya nggak kepalang tanggung! Selain double bed ada kursi kayu, seperangkat meja rias, sofa dan meja sedang, rak tivi, lemari, dan kitchen set lengkap dengan washtafel di sudut.

Legaaaa sekali. Itu masih ditambah balkon menghadap laut.

Didorong rasa penasaran saya buka kamar satu lagi. Dan saya sukses dibuat bengong. Ukurannya jauh lebih besar dari kamar sebelah, terdiri dari tiga ruangan plus tiga balkon. Salah satu balkon berukuran sangat lebar.

Begitu masuk dari pintu kita langsung disambut semacam ruang tamu. Ada satu sofa panjang di depan rak tivi layar datar, seperangkat sofa di pojok lain, serta kitchen set di sudut.

Ketika saya buka lemari kayu di bawah washtafel isinya sendok, garpu, pisau, dan ada pula frying pan. Kemudian lemari di atasnya berisi piring, mangkuk, dan gelas aneka ukuran. Saya lihat juga ada lap, kemungkinan untuk mengeringkan atau mengelap piring sebelum digunakan.

Komplit!



Kamar tidur tak kalah luasnya. Sebuah double bed ukuran raja (king size) berseprei putih dengan aksen kain merah jadi sentral. Di kanan-kirinya terdapat lampu meja. Di satu sisi terletak sebuah rak kayu, ada pula lemari, dan set meja rias.

Yang istimewa, kamar ini memiliki dua balkon di dua sisinya: menghadap laut dan menghadap area parkir hotel. Sekedar duduk-duduk santai sembari mengobrol terasa asyik sekali di sini. Suasana pedesaan dikuatkan dengan kokok ayam jago yang terdengar jelas dari dalam kamar.

Berendam di Bathtub
Nah, bagian paling serunya di sini. Satu ruangan tersisa ternyata kamar mandi. Tak terbayangkan ruangan selebar itu hanya untuk kamar mandi. Di dalamnya ada kloset jongkok, washtafel dengan kaca lebar, dan bathtub. Barang terakhir ini yang bikin agenda tidur kami molor hingga larut.

Anak-anak sebenarnya sudah mengantuk sejak tiba di hotel. Namun begitu melihat kamar luas, nurani petualang mereka muncul. Jalan ke sana-sini, lihat sana-sini, menyentuh ini-itu. Sampailah mereka tahu bathtub di kamar mandi tadi.

"Ini untuk apa?" tanya Damar, anak sulung saya, polos. Maklum, seumur hidupnya belum pernah melihat bathtub.

"Ini bathtub, Nak. Untuk berendam kaya di kolam renang," jawab saya sesederhana mungkin.

Eh, rupanya jawaban saya menimbulkan ketertarikan mereka. Malam itu juga, waktu itu kira-kira jam setengah sembilan malam, mereka minta mandi berendam air hangat. Alamak!

Tapi kami memang belum mandi sore. Jadi, saya turuti kemauan anak-anak. Sembari meminta mereka melucuti pakaian, saya isi bathtub dengan air dingin disusul air panas. Belum lagi isinya penuh, anak-anak sudah masuk ke bathtub. Asyik bermain-main air yang mancur dari shower dan kran.



Begitu bathtub berisi setengah, mereka sibuk bermain air. Saling ciprat. Kecipak-kecipuk nggak karuan, sampai basah semua lantai kamar mandi. Susah payah ibunya membujuk mereka untuk mentas karena sudah hampir jam 10 malam.

Oya, kamar mandi nan luas ini punya dua pintu. Satu pintu terhubung ke kamar, satunya lagi ke living room. Yang agak saya sayangkan, lokasi bathtub di kamar kami malam itu dekat pintu ke living room. Kalau main air harus hati-hati agar lantai ruang sebelah tak ikut basah.

Private Beach nan Cantik
Sesuai namanya, Hotel Bali Shangrila Beach Club terletak tepat di pinggir pantai. Entah apa nama pantainya saya lupa bertanya. Yang jelas itu kawasan private, besar kemungkinan eksklusif bagi tetamu hotel saja.

Pantainya berpasir putih, dengan air bening sekali. Di bibir pantai berjejer perahu-perahu kayu bermotor. Dari hasil googling saya tahu kita bisa menyewa kapal-kapal tersebut untuk berlayar ke tengah laut.

Tak jauh dari pantai terdapat sebuah pulau karang besar. Lagi-lagi saya tak tahu namanya dan lupa menanyakan pada staf hotel. Tapi tak ada tanda-tanda kehidupan di pulau tersebut. Agak jauh dari sana berceceran beberapa pulau kecil, juga terbentuk dari batu karang.

Pagi hari setelah mandi kami turun ke bawah untuk sarapan. Karena malas naik-turun bolak-balik, kami bawa koper-koper dan tas ke bawah agar bisa sekalian check out.

Restoran semi outdoor di seberang resepsionis bernuansa kayu. Bagian yang menghadap resepsionis tidak berdinding sama sekali. Sedangkan bagian-bagian lain berdinding tembok setinggi setengah badan. Jadi, tetamu dapat menyantap sarapannya sembari memandangi laut.

Tepat di sebelah restoran ada kolam renang.



Sajian makanannya tak banyak. Menu lokal terdiri dari nasi goreng dan mi goreng, dengan tambahan irisan tomat dan sayur-sayuran mentah. Kalau mau kita bisa meminta omelet. Untuk lidah bule, restoran menyediakan roti tawar dengan aneka macam selai juga butter.

Bergeser ke meja minuman, tersedia jus jeruk yang menurut saya rasanya juara, termos besar berisi air panas untuk membuat teh atau kopi, serta deretan kotak-kotak susu. Saya pikir susu-susu ini disiapkan untuk tamu yang biasa sarapan dengan sereal.

Beres sarapan saya dan anak-anak turun ke pantai. Sepi sekali. Saat itu tak ada satupun tamu yang terlihat di pantai selain saya dan Damar. Lalu istri dan Diandra menyusul. Kami foto-foto, saya merekam video ala kadarnya. Belum puas sebenarnya, tapi Pak Rahmat sudah memanggil-manggil.

Well, semalam di Hotel Bali Shangrila Beach Club sangat mengesankan bagi kami. Sampai sekarang pun anak-anak masih ingat betul bagaimana serunya mereka bermain-main air di bathtub.

Andai nanti ada kesempatan kembali kemari, saya bakal puas-puas berenang di kolam dan berlari-larian di pantai. Anak-anak sepertinya bakal berlama-lama berendam di bathtub. Semoga saja.

Ingin menginap di Hotel Bali Shangrila Beach Club?
Dapatkan tawaran menarik dari Booking.com di sini!



Bali Shangrila Beach Club
Dusun Samuh
Kecamatan Candidasa
Karangasem, Bali
Telepon: (0363) 41829


Foto-Foto:
Semua foto dengan watermark "BUNGEKO.COM" adalah dokumentasi pribadi, dijepret dengan Canon Powershot SX610 HS. Foto-foto lain diambil dari web www.balisantaibeachclub.com dan Booking.com.

Rabu, 05 April 2017


ADA satu kepercayaan umum dalam masyarakat kita bahwa kakek-nenek lebih sayang cucu ketimbang anaknya sendiri. Saya tidak bisa tidak percaya dengan ini. Pasalnya, tiap kali menelepon Bapak atau Ibu nun jauh di Jambi, yang pertama kali beliau berdua tanyakan adalah anak-anak saya.

Sebaliknya, kalau Bapak atau Ibu yang menelepon saya atau istri, setelah telepon kami angkat yang pertama kali beliau berdua tanyakan kabar cucu-cucunya. Anak-anak saya.

Ini lumrah. Menurut ilmu psikologi, orang tua seringkali merasa perlu "memperbaiki" kekurangan mereka saat mengasuh anak-anaknya di masa kecil. Caranya dengan memperlihatkan kasih sayang berlimpah bagi cucu-cucunya.

Begitu pula dengan Ibu. Beliau seolah merasa harus memberikan perhatian, cinta, kasih, dan kepedulian yang lebih pada anak-anak saya ketimbang yang pernah diberikannya untuk saya di masa lalu.

Hal ini tentu saja membuat saya senang. Saya bahagia karena anak-anak saya disayangi oleh keluarga besarnya. Sekalipun kasih sayang itu hanya bisa ditunjukkan dengan menelepon secara berkala karena jarak sejauh 1.200 km memisahkan Ibu dari cucu-cucunya.

Untuk menjaga ikatan emosional anak-anak dengan kakek-neneknya, saya seringkali menunjukkan foto-foto sewaktu mereka berlibur ke Jambi. Ada foto saat mereka masih bayi digendong Ibu atau Bapak, ada pula foto ketika mereka ikut hujan-hujanan di kebun sawit bersama Kakek-Nenek yang tengah mengawasi panen.

Kali lain saya menceritakan pengalaman masa kecil, tentu saja dengan Bapak-Ibu ada di dalamnya. Saya sesuaikan cerita tersebut dengan kondisi anak-anak. Misalnya ketika mereka baru masuk sekolah, saya ceritakan bagaimana dulu Ibu mengantar saya yang baru berusia 5,5 tahun pergi sekolah untuk pertama kali.

Saya ceritakan pula saya pernah gelisah di kelas karena Ibu tidak nampak di halaman sekolah. Persis seperti anak-anak saat mereka celingak-celinguk mencari saya atau ibunya di hari-hari pertama masuk TK. Tentu saya selipkan nasihat-nasihat ringan dalam cerita tersebut.

Saya dan Ibu, dengan anak-anak di belakang kami, saat mengunjungi Monas, 16 Agustus 2014.

Sosok Paling Disayang
Anak-anak biasanya tertidur setelah mendengar cerita saya. Saya memang bercerita jelang mereka tidur. Sebaliknya, sehabis menceritakan pengalaman masa kecil saya jadi terkenang-kenang akan Ibu. Sosok yang sejak dulu paling pertama merasa khawatir luar biasa tiap kali saya berada dalam kesulitan atau masalah.

Kalau diminta menyebut satu orang yang paling saya sayangi di dunia ini, maka orang itu adalah Ibu. Saya harus meminta maaf pada istri, tapi Ibu-lah wanita yang paling saya cintai sampai kapanpun.

Saya memang tidak ingat lagi masa-masa Ibu menimang saya, mengajari saya berjalan, menyuapi makan. Tapi saya tidak akan pernah lupa bagaimana Ibu, di tengah kelelahannya seharian mengurus tiga anak sendirian, dengan senang hati mengipasi saya dan adik-adik sebelum tidur.

Kini, setiap mengantar anak-anak pergi tidur saya mengipasi mereka dengan kain. Tepat seperti yang dilakukan Ibu dulu. Sembari melakukan itu saya pun terbawa kembali ke masa kecil, teringat saya yang terlelap di bawah hembusan angin dari kain yang dikibas-kibaskan Ibu.

Juga masih jelas dalam ingatan bagaimana Ibu dengan telaten menghibur dan mengurusi saya yang kesakitan usai disunat. Waktu itu ada masalah dengan jahitan sunat saya, sehingga bekas irisannya menjadi luka yang tak kunjung sembuh selama berhari-hari. Selama itu pulalah saya hanya bisa duduk di kursi menahan sakit. Siapa lagi yang repot mengurus ini-itu untuk saya kalau bukan Ibu.

Di antara empat anak Ibu, tiga di antaranya lahir dan tumbuh besar di Palembang, hanya saya yang ingat bagaimana dulu Ibu pernah jadi tukang cuci keliling. Ya, itu beliau lakukan demi kami. Agar saya dan adik-adik tetap bisa sekolah, tetap bisa membeli jajan kesukaan kami.

Lulus SMA di tahun 2000, saya pamit pada Ibu untuk melanjutkan pendidikan ke Jogja. Saya memilih sebuah pendidikan pariwisata nongelar selama dua tahun. Ibu mengijinkan dan terlihat tak menyimpan perasaan apa-apa. Saya bahkan berpikir Ibu pasti bangga karena di tengah kesulitan perekonomian dapat menyekolahkan saya hingga jauh ke Tanah Jawa.

Namun saat mencukur rambut saya sehari sebelum keberangkatan ke Jogja, Ibu tak mampu menahan tangis. Beliau sedih karena kembali harus terpisah dengan putera sulungnya. Jadilah kami sesenggukan berdua.

Saya (kiri) berfoto bersama Ibu dan adik-adik di Palembang, Mei 1988. Ibu masih langsing :)

Selalu Jauh Ibu
Saya dan Ibu memang lebih sering terpisah. Masa-masa kebersamaan kami dalam satu rumah hanya sampai saya kelas VI SD. Masa-masa paling penuh kenangan tentu saja saat kami tinggal di Palembang.

Lalu kesulitan finansial memaksa Ibu memboyong kami ke Batumarta, sebuah daerah transmigrasi 4-5 jam perjalanan darat dari Palembang. Kami pindah ke sana saat saya naik kelas V SD.

Dua tahun di Batumarta, untuk pertama kalinya saya harus berpisah dengan Ibu karena selulus SD dititipkan ke rumah Pakde. SMP tempat saya melanjutkan sekolah lebih dekat dengan rumah Pakde. Jadi, Ibu dan juga Pakde memutuskan saya lebih baik menumpang sementara di sana.

Baru beberapa bulan saya masuk SMP, Ibu pindah ke Jambi mengikuti Bapak yang sudah merantau ke sana sejak 1990. Kami pun terpisah lebih jauh lagi. Untuk setahun berikutnya saya dan Ibu terpisah sejauh 400 km.

Kami kembali menyatu ketika saya naik kelas. Ibu membawa saya ke Jambi, ke rumah yang hingga kini beliau tempati bersama Bapak. Tapi kami hanya dua tahun tinggal serumah. Lulus SMP saya melanjutkan ke SMA yang hanya ada di ibukota kabupaten.

Juli 1997, bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru, saya meninggalkan rumah dan indekos di Muara Bulian. Sebuah kota kecil yang merupakan ibukota Kabupaten Batanghari.

Jarak Muara Bulian sebenarnya hanya sekitar 20 km dari rumah. Namun kondisi jalan yang buruk, sebagian besar masih berupa tanah becek, membuat perjalanan ke sana membutuhkan waktu paling cepat 30 menit. Belum lagi minimnya angkutan umum menuju ke sana, sehingga indekos adalah pilihan paling ideal.

Anak-anak "membantu" neneknya membuat kue lebaran sewaktu saya sekeluarga mudik ke Jambi, medio 2014.

Saya tidak menyangka kalau itu sekaligus awal perpisahan saya dengan Ibu. Seemenjak itu saya tidak pernah lagi tinggal di rumah. Selepas SMA saya merantau lebih jauh lagi ke Jogja, dan setelah menikah menetap di Pemalang. Saya tak pernah kembali ke Jambi selain untuk mudik lebaran.

Kalau mau dirinci, dari 34 tahun usia saya saat ini hanya 13,5 tahun yang dihabiskan serumah dengan Ibu. Sisa 20 tahun lainya saya tinggal jauh dari rumah: di Muara Bulian (3 tahun), Jogja (10 tahun), dan Pemalang (menginjak 7 tahun).

Jauh dari Cucu
Mungkin karena sudah lama terpisah, saya merasa tak ada yang salah dengan kondisi ini. Toh, saya pergi untuk sekolah dan mencari penghidupan. Bukankah orang tua juga yang bakal merasa bangga kalau anak-anaknya mapan dan sukses?

Rupanya kondisi berjauhan begini membuat Ibu tidak nyaman. Terlebih saat kedua anak saya lahir di tahun 2010 dan 2011. Sebagai anak sulung, anak-anak saya merupakan cucu-cucu pertama Ibu. Sayangnya, cucu yang hanya dua itu tinggal sangat jauh dari neneknya.

Di telepon, Ibu sering mengungkapkan harapannya agar saya kembali sehingga beliau dapat ikut mengasuh cucu-cucunya. Ibu adalah sosok yang suka anak-anak. Jangankan cucu sendiri, cucu tetangga pun beliau mau ikut mengasuh. Membelikan ini-itu, menyuapi, dan lain-lain.

Adalah sebuah hal naluriah seorang nenek ingin dekat dengan cucunya. Sebagai anak saya sebenarnya ingin sekali mewujudkan harapan Ibu tersebut. Namun, kondisi tidak memungkinkan saya melakukan itu. Aliran listrik yang masih tak menentu serta tidak adanya jaringan internet membuat saya berpikir panjang untuk pindah ke Jambi.

Ibu bersama anak-anak di antara tandan sawit yang baru dipanen di Sungai Bahar, Jambi.

Diam-diam saya merasa bersalah. Saya ingin membalas "dosa" ini dengan sebuah hadiah istimewa untuk Ibu. Saya tahu ini tidak ada apa-apanya dibanding begitu besarnya keinginan Ibu tinggal dekat cucu-cucunya. Namun setidaknya saya bisa membuat Ibu bahagia meski hanya sebentar.

Apa yang akan saya lakukan? Tidak muluk sebenarnya. Saya ingin mengajak Ibu berlibur bersama cucu-cucunya. Menghabiskan 3-4 hari bersama-sama dalam kesenangan dan keseruan di tempat yang sama sekali baru.

Ibu terakhir kali berlibur bersama cucu-cucunya pada Agustus 2014. Waktu itu sepulang dari Jambi kami mampir dua hari di Jakarta, di rumah adik saya di kawasan Palmerah. Ibu ikut mengantar sampai Jakarta, dan kami bersama-sama pergi ke Monas naik Transjakarta.

Kami bertemu lagi sebentar saat kondangan di Nganjuk pada November 2016. Selepas acara Ibu mengajak cucu-cucunya ke Kediri, mengunjungi Goa Selomangleng, Gumul, dan bermain-main di playground Kediri Mall. Tapi ini tidak bisa disebut liburan, sebab tujuan utamanya kondangan.

Liburan Bareng Cucu
Jadi, saya ingin mengajak ibu dan anak-anak berlibur ke suatu tempat. Memberi waktu pada nenek dan cucu untuk berbagi kebahagiaan dalam kebersamaan selama beberapa hari di tempat tak biasa.

Ke mana? Destinasi yang saya pilih Bali. Alasannya, Ibu lahir dan besar di perbatasan Situbondo-Banyuwangi yang hanya sepelemparan batu dari Pulau Bali. Ibu sempat bercerita sewaktu remaja pernah iseng menyeberang Selat Bali. Naik feri dari Pelabuhan Ketapang, Ibu dan kawan-kawannya duduk-duduk di sekitaran Gilimanuk, lalu balik lagi.

Ibu di kampung halamannya, Wonorejo, Kec. Pasir Putih, Situbondo. Foto diambil 30 Juni 2009.

"Ibu dulu sering nyeberang ke Bali, tapi cuma sampai Gilimanuk terus balik lagi," demikian cerita Ibu pada saya via telepon akhir tahun lalu. Ketika itu saya kabari Ibu kalau kami sekeluarga mendapat hadiah liburan ke Bali dari sebuah produsen susu.

Oke, Bu, nanti saya bawa Ibu liburan ke Bali. Bukan cuma sampai Gilimanuk, tapi Ibu akan mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal di sana. Sembari berlibur kita sambung silaturahmi dengan beberapa saudara Ibu asal Banyuwangi yang tinggal di Denpasar, di Kuta.

Bagi anak-anak sendiri Bali adalah tempat penuh kenangan. Selama 5 hari 4 malam di bulan November 2016 mereka diajak berkeliling dari Kuta hingga Lovina ketika mengikuti Tur Cokelat Bali. Sangat mengesankan sekali. Namun karena tur tersebut tidak dirancang khusus untuk anak-anak, saya ingin mengajak mereka ke sana lagi.

Saya ingin merancang tur yang cocok untuk anak-anak, sekaligus dapat dinikmati manula seperti Ibu. Dengan bantuan laman kategori voucher taman hiburan di Elevenia, saya sudah menandai beberapa spot menarik di Bali.

Untuk mempermudah pencarian saya mengetikkan "Bali" pada kolom yang tersedia pada laman tersebut. Dari sekian banyak tawaran yang muncul, saya paling tertarik pada 5 tempat berikut:



1. Dolphin Watching at Lovina
Ibu belum pernah ke Lovina, dan belum pernah melihat lumba-lumba di laut lepas. Jadi, Ibu harus merasakan pengalaman berkesan ini setidaknya sekali dalam hidupnya. Di Elevenia, tersedia voucher Dolphin Watching at Lovina seharga Rp247.000. Setahu saya ini lebih murah dari yang ditawarkan beberapa hotel setempat.

Saya sekeluarga memang pernah melihat lumba-lumba di Lovina. Tapi siapa sih yang tidak ingin kembali merasakan keseruan berburu lumba-lumba ini? Apalagi saat mengikuti Tur Cokelat Bali kami hanya menginap semalam di Lovina, dan sudah meninggalkan Singaraja pada pukul 10.00 WITA. Sebentar sekali.

Kami ingin tinggal lebih lama di Lovina. Setelah melihat lumba-lumba di lepas pantai, kami ingin bermain-main pasir dan air laut di pantai. Juga puas-puas berenang di kolam renang hotel sembari menunggu sunset.

FOTO: https://www.balisaritour.com/aktivitas-di-bali/wisata-bahari/bali-sea-walker/

2. Bali Sea Walker
Masih petualangan seru di laut, dan sama-sama melihat ikan di habitat aslinya, tapi kali ini kita diajak menyelam ke dalamnya. Bali Sea Walker menjadi pilihan berikutnya karena saya yakin anak-anak bakal menyukainya. Ini akan jadi pengalaman berkesan bagi mereka.

Demikian pula bagi Ibu. Terlahir sebagai anak pesisir, sejak kecil Ibu sangat akrab dengan laut. Namun karena kakek saya seorang petani, bukan pelaut, Ibu tidak pernah nyemplung ke laut. Paling sekedar bermain-main di pantai yang terletak sekitar satu kilometer dari rumah Simbah.

Di Elevenia ada promo tiket Bali Sea Walker seharga Rp318.000, jauh lebih murah dari tarif aslinya yang sebesar Rp450.000. Syaratnya minimal membeli dua. Karena rombongan saya nanti ada lima orang, syarat ini terpenuhi.


3. Bali Safari & Marine Park
Sewaktu menghadiri wisuda omnya di Jogja tahun 2014, anak-anak saya ajak ke Kebun Binatang Gembiraloka. Namun mungkin karena masih terlalu kecil, Damar 4 tahun dan Diandra 3 tahun, mereka malah ketakutan. Jadi, saya ingin mengulanginya di Bali dengan mengunjungi Bali Safari & Marine Park.

Jika di Gembiraloka mereka hanya melihat gajah, orangutan, dan burung-burung dalam sangkar, di Bali Safari & Marine Park anak-anak dapat merasakan pengalaman lebih seru. Di sini pengunjung diajak naik mobil berjeruji besi dan mengelilingi kandang-kandang hewan buas.

Saya tahu pasti ada rasa takut saat harimau naik ke atas mobil yang kita tumpangi. Tapi pengalaman ini membuat anak-anak berinteraksi lebih dekat dengan satwa buas tersebut. Membuat mereka lebih mengenal sesama ciptaan Allah.

FOTO: http://www.kompasiana.com/losnito/edukasi-di-taman-kupu-kupu-kemenuh-bali_5695ab417593731205826262

4. Kemenuh Butterfly Park
Anak-anak mana yang tidak suka kupu-kupu. Hewan lucu ini bahkan diabadikan dalam sebuah lagu anak. Damar dan Diandra sudah sejak kecil hapal lagu ini, diajari ibunya.

Dengan mengajak mereka ke Kemenuh Butterfly Park, anak-anak dapat mengenal secara langsung aneka ragam kupu-kupu. Jika biasanya di halaman rumah mereka hanya melihat kupu-kupu bersayap hitam-putih, di sini ada banyak warna yang pastinya bakal membuat mereka terkagum-kagum.

Laman Mokado Fun Event di Elevenia menawarkan tiket masuk Kemenuh Butterfly Park dengan harga mulai dari Rp28.000 untuk anak-anak, dan Rp47.500 untuk dewasa. Tinggal memikirkan biaya transportasi ke sana.

FOTO: http://www.ydcbalitour.com/bali-bird-park

5. Bali Bird Park
Masih dari dunia binatang, tujuan terakhir yang ada dalam daftar adalah Bali Bird Park. Kebun binatang khusus marga burung.

Anak-anak sudah punya buku tentang aneka burung. Dari sana mereka mengenal berbagai macam burung yang ada di Indonesia. Akan lebih berkesan jika mereka dapat melihat burung-burung tersebut secara langsung.

Saya dapat mempersiapkan kunjungan ke tempat ini sejak jauh-jauh hari secara daring. Di Elevenia terdapat sejumlah tawaran tiket masuk Bali Bird Park dengan diskon hingga 18%. Ini sangat membantu penghematan budget :)

*****

Sebentar, sebentar. Ini sebenarnya liburan untuk Ibu atau anak-anak sih?

Melihat daftar tujuannya, tentu yang jadi pertimbangan utama anak-anak. Kira-kira mereka bakal nyaman dan senang tidak mengunjunginya. Sebab berwisata dengan anak yang harus diprioritaskan adalah si anak. Yang dewasa dapat dengan mudah menyesuaikan diri.

Demikian pula dengan liburan yang saya rancang untuk Ibu ini. Karena judulnya liburan nenek bersama cucu, maka kesenangan beliau adalah ketika melihat tingkah cucu-cucunya selama berlibur bersama. Saya yakin Ibu sudah sangat senang sekali bisa jalan-jalan dengan dua cucunya.

Saya masih ingat betul bagaimana ekspresi bahagia Ibu sewaktu melihat anak-anak berlarian di pelataran Monas tiga tahun lalu. Melihat antusiasme kedua bocah cilik itu ketika diajak berkeliling bus tingkat gratis, juga di dalam Transjakarta.

Saya ingin melihat ekspresi itu lagi di wajah Ibu.

Posting ini diikut-sertakan dalam lomba blog Cerita Hepi Elevenia.

Foto-Foto:
Foto-foto yang tidak dicantumkan keterangan sumber di bawahnya adalah dokumentasi pribadi.


ADA satu kepercayaan umum dalam masyarakat kita bahwa kakek-nenek lebih sayang cucu ketimbang anaknya sendiri. Saya tidak bisa tidak percaya dengan ini. Pasalnya, tiap kali menelepon Bapak atau Ibu nun jauh di Jambi, yang pertama kali beliau berdua tanyakan adalah anak-anak saya.

Sebaliknya, kalau Bapak atau Ibu yang menelepon saya atau istri, setelah telepon kami angkat yang pertama kali beliau berdua tanyakan kabar cucu-cucunya. Anak-anak saya.

Ini lumrah. Menurut ilmu psikologi, orang tua seringkali merasa perlu "memperbaiki" kekurangan mereka saat mengasuh anak-anaknya di masa kecil. Caranya dengan memperlihatkan kasih sayang berlimpah bagi cucu-cucunya.

Begitu pula dengan Ibu. Beliau seolah merasa harus memberikan perhatian, cinta, kasih, dan kepedulian yang lebih pada anak-anak saya ketimbang yang pernah diberikannya untuk saya di masa lalu.

Hal ini tentu saja membuat saya senang. Saya bahagia karena anak-anak saya disayangi oleh keluarga besarnya. Sekalipun kasih sayang itu hanya bisa ditunjukkan dengan menelepon secara berkala karena jarak sejauh 1.200 km memisahkan Ibu dari cucu-cucunya.

Untuk menjaga ikatan emosional anak-anak dengan kakek-neneknya, saya seringkali menunjukkan foto-foto sewaktu mereka berlibur ke Jambi. Ada foto saat mereka masih bayi digendong Ibu atau Bapak, ada pula foto ketika mereka ikut hujan-hujanan di kebun sawit bersama Kakek-Nenek yang tengah mengawasi panen.

Kali lain saya menceritakan pengalaman masa kecil, tentu saja dengan Bapak-Ibu ada di dalamnya. Saya sesuaikan cerita tersebut dengan kondisi anak-anak. Misalnya ketika mereka baru masuk sekolah, saya ceritakan bagaimana dulu Ibu mengantar saya yang baru berusia 5,5 tahun pergi sekolah untuk pertama kali.

Saya ceritakan pula saya pernah gelisah di kelas karena Ibu tidak nampak di halaman sekolah. Persis seperti anak-anak saat mereka celingak-celinguk mencari saya atau ibunya di hari-hari pertama masuk TK. Tentu saya selipkan nasihat-nasihat ringan dalam cerita tersebut.

Saya dan Ibu, dengan anak-anak di belakang kami, saat mengunjungi Monas, 16 Agustus 2014.

Sosok Paling Disayang
Anak-anak biasanya tertidur setelah mendengar cerita saya. Saya memang bercerita jelang mereka tidur. Sebaliknya, sehabis menceritakan pengalaman masa kecil saya jadi terkenang-kenang akan Ibu. Sosok yang sejak dulu paling pertama merasa khawatir luar biasa tiap kali saya berada dalam kesulitan atau masalah.

Kalau diminta menyebut satu orang yang paling saya sayangi di dunia ini, maka orang itu adalah Ibu. Saya harus meminta maaf pada istri, tapi Ibu-lah wanita yang paling saya cintai sampai kapanpun.

Saya memang tidak ingat lagi masa-masa Ibu menimang saya, mengajari saya berjalan, menyuapi makan. Tapi saya tidak akan pernah lupa bagaimana Ibu, di tengah kelelahannya seharian mengurus tiga anak sendirian, dengan senang hati mengipasi saya dan adik-adik sebelum tidur.

Kini, setiap mengantar anak-anak pergi tidur saya mengipasi mereka dengan kain. Tepat seperti yang dilakukan Ibu dulu. Sembari melakukan itu saya pun terbawa kembali ke masa kecil, teringat saya yang terlelap di bawah hembusan angin dari kain yang dikibas-kibaskan Ibu.

Juga masih jelas dalam ingatan bagaimana Ibu dengan telaten menghibur dan mengurusi saya yang kesakitan usai disunat. Waktu itu ada masalah dengan jahitan sunat saya, sehingga bekas irisannya menjadi luka yang tak kunjung sembuh selama berhari-hari. Selama itu pulalah saya hanya bisa duduk di kursi menahan sakit. Siapa lagi yang repot mengurus ini-itu untuk saya kalau bukan Ibu.

Di antara empat anak Ibu, tiga di antaranya lahir dan tumbuh besar di Palembang, hanya saya yang ingat bagaimana dulu Ibu pernah jadi tukang cuci keliling. Ya, itu beliau lakukan demi kami. Agar saya dan adik-adik tetap bisa sekolah, tetap bisa membeli jajan kesukaan kami.

Lulus SMA di tahun 2000, saya pamit pada Ibu untuk melanjutkan pendidikan ke Jogja. Saya memilih sebuah pendidikan pariwisata nongelar selama dua tahun. Ibu mengijinkan dan terlihat tak menyimpan perasaan apa-apa. Saya bahkan berpikir Ibu pasti bangga karena di tengah kesulitan perekonomian dapat menyekolahkan saya hingga jauh ke Tanah Jawa.

Namun saat mencukur rambut saya sehari sebelum keberangkatan ke Jogja, Ibu tak mampu menahan tangis. Beliau sedih karena kembali harus terpisah dengan putera sulungnya. Jadilah kami sesenggukan berdua.

Saya (kiri) berfoto bersama Ibu dan adik-adik di Palembang, Mei 1988. Ibu masih langsing :)

Selalu Jauh Ibu
Saya dan Ibu memang lebih sering terpisah. Masa-masa kebersamaan kami dalam satu rumah hanya sampai saya kelas VI SD. Masa-masa paling penuh kenangan tentu saja saat kami tinggal di Palembang.

Lalu kesulitan finansial memaksa Ibu memboyong kami ke Batumarta, sebuah daerah transmigrasi 4-5 jam perjalanan darat dari Palembang. Kami pindah ke sana saat saya naik kelas V SD.

Dua tahun di Batumarta, untuk pertama kalinya saya harus berpisah dengan Ibu karena selulus SD dititipkan ke rumah Pakde. SMP tempat saya melanjutkan sekolah lebih dekat dengan rumah Pakde. Jadi, Ibu dan juga Pakde memutuskan saya lebih baik menumpang sementara di sana.

Baru beberapa bulan saya masuk SMP, Ibu pindah ke Jambi mengikuti Bapak yang sudah merantau ke sana sejak 1990. Kami pun terpisah lebih jauh lagi. Untuk setahun berikutnya saya dan Ibu terpisah sejauh 400 km.

Kami kembali menyatu ketika saya naik kelas. Ibu membawa saya ke Jambi, ke rumah yang hingga kini beliau tempati bersama Bapak. Tapi kami hanya dua tahun tinggal serumah. Lulus SMP saya melanjutkan ke SMA yang hanya ada di ibukota kabupaten.

Juli 1997, bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru, saya meninggalkan rumah dan indekos di Muara Bulian. Sebuah kota kecil yang merupakan ibukota Kabupaten Batanghari.

Jarak Muara Bulian sebenarnya hanya sekitar 20 km dari rumah. Namun kondisi jalan yang buruk, sebagian besar masih berupa tanah becek, membuat perjalanan ke sana membutuhkan waktu paling cepat 30 menit. Belum lagi minimnya angkutan umum menuju ke sana, sehingga indekos adalah pilihan paling ideal.

Anak-anak "membantu" neneknya membuat kue lebaran sewaktu saya sekeluarga mudik ke Jambi, medio 2014.

Saya tidak menyangka kalau itu sekaligus awal perpisahan saya dengan Ibu. Seemenjak itu saya tidak pernah lagi tinggal di rumah. Selepas SMA saya merantau lebih jauh lagi ke Jogja, dan setelah menikah menetap di Pemalang. Saya tak pernah kembali ke Jambi selain untuk mudik lebaran.

Kalau mau dirinci, dari 34 tahun usia saya saat ini hanya 13,5 tahun yang dihabiskan serumah dengan Ibu. Sisa 20 tahun lainya saya tinggal jauh dari rumah: di Muara Bulian (3 tahun), Jogja (10 tahun), dan Pemalang (menginjak 7 tahun).

Jauh dari Cucu
Mungkin karena sudah lama terpisah, saya merasa tak ada yang salah dengan kondisi ini. Toh, saya pergi untuk sekolah dan mencari penghidupan. Bukankah orang tua juga yang bakal merasa bangga kalau anak-anaknya mapan dan sukses?

Rupanya kondisi berjauhan begini membuat Ibu tidak nyaman. Terlebih saat kedua anak saya lahir di tahun 2010 dan 2011. Sebagai anak sulung, anak-anak saya merupakan cucu-cucu pertama Ibu. Sayangnya, cucu yang hanya dua itu tinggal sangat jauh dari neneknya.

Di telepon, Ibu sering mengungkapkan harapannya agar saya kembali sehingga beliau dapat ikut mengasuh cucu-cucunya. Ibu adalah sosok yang suka anak-anak. Jangankan cucu sendiri, cucu tetangga pun beliau mau ikut mengasuh. Membelikan ini-itu, menyuapi, dan lain-lain.

Adalah sebuah hal naluriah seorang nenek ingin dekat dengan cucunya. Sebagai anak saya sebenarnya ingin sekali mewujudkan harapan Ibu tersebut. Namun, kondisi tidak memungkinkan saya melakukan itu. Aliran listrik yang masih tak menentu serta tidak adanya jaringan internet membuat saya berpikir panjang untuk pindah ke Jambi.

Ibu bersama anak-anak di antara tandan sawit yang baru dipanen di Sungai Bahar, Jambi.

Diam-diam saya merasa bersalah. Saya ingin membalas "dosa" ini dengan sebuah hadiah istimewa untuk Ibu. Saya tahu ini tidak ada apa-apanya dibanding begitu besarnya keinginan Ibu tinggal dekat cucu-cucunya. Namun setidaknya saya bisa membuat Ibu bahagia meski hanya sebentar.

Apa yang akan saya lakukan? Tidak muluk sebenarnya. Saya ingin mengajak Ibu berlibur bersama cucu-cucunya. Menghabiskan 3-4 hari bersama-sama dalam kesenangan dan keseruan di tempat yang sama sekali baru.

Ibu terakhir kali berlibur bersama cucu-cucunya pada Agustus 2014. Waktu itu sepulang dari Jambi kami mampir dua hari di Jakarta, di rumah adik saya di kawasan Palmerah. Ibu ikut mengantar sampai Jakarta, dan kami bersama-sama pergi ke Monas naik Transjakarta.

Kami bertemu lagi sebentar saat kondangan di Nganjuk pada November 2016. Selepas acara Ibu mengajak cucu-cucunya ke Kediri, mengunjungi Goa Selomangleng, Gumul, dan bermain-main di playground Kediri Mall. Tapi ini tidak bisa disebut liburan, sebab tujuan utamanya kondangan.

Liburan Bareng Cucu
Jadi, saya ingin mengajak ibu dan anak-anak berlibur ke suatu tempat. Memberi waktu pada nenek dan cucu untuk berbagi kebahagiaan dalam kebersamaan selama beberapa hari di tempat tak biasa.

Ke mana? Destinasi yang saya pilih Bali. Alasannya, Ibu lahir dan besar di perbatasan Situbondo-Banyuwangi yang hanya sepelemparan batu dari Pulau Bali. Ibu sempat bercerita sewaktu remaja pernah iseng menyeberang Selat Bali. Naik feri dari Pelabuhan Ketapang, Ibu dan kawan-kawannya duduk-duduk di sekitaran Gilimanuk, lalu balik lagi.

Ibu di kampung halamannya, Wonorejo, Kec. Pasir Putih, Situbondo. Foto diambil 30 Juni 2009.

"Ibu dulu sering nyeberang ke Bali, tapi cuma sampai Gilimanuk terus balik lagi," demikian cerita Ibu pada saya via telepon akhir tahun lalu. Ketika itu saya kabari Ibu kalau kami sekeluarga mendapat hadiah liburan ke Bali dari sebuah produsen susu.

Oke, Bu, nanti saya bawa Ibu liburan ke Bali. Bukan cuma sampai Gilimanuk, tapi Ibu akan mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal di sana. Sembari berlibur kita sambung silaturahmi dengan beberapa saudara Ibu asal Banyuwangi yang tinggal di Denpasar, di Kuta.

Bagi anak-anak sendiri Bali adalah tempat penuh kenangan. Selama 5 hari 4 malam di bulan November 2016 mereka diajak berkeliling dari Kuta hingga Lovina ketika mengikuti Tur Cokelat Bali. Sangat mengesankan sekali. Namun karena tur tersebut tidak dirancang khusus untuk anak-anak, saya ingin mengajak mereka ke sana lagi.

Saya ingin merancang tur yang cocok untuk anak-anak, sekaligus dapat dinikmati manula seperti Ibu. Dengan bantuan laman kategori voucher taman hiburan di Elevenia, saya sudah menandai beberapa spot menarik di Bali.

Untuk mempermudah pencarian saya mengetikkan "Bali" pada kolom yang tersedia pada laman tersebut. Dari sekian banyak tawaran yang muncul, saya paling tertarik pada 5 tempat berikut:



1. Dolphin Watching at Lovina
Ibu belum pernah ke Lovina, dan belum pernah melihat lumba-lumba di laut lepas. Jadi, Ibu harus merasakan pengalaman berkesan ini setidaknya sekali dalam hidupnya. Di Elevenia, tersedia voucher Dolphin Watching at Lovina seharga Rp247.000. Setahu saya ini lebih murah dari yang ditawarkan beberapa hotel setempat.

Saya sekeluarga memang pernah melihat lumba-lumba di Lovina. Tapi siapa sih yang tidak ingin kembali merasakan keseruan berburu lumba-lumba ini? Apalagi saat mengikuti Tur Cokelat Bali kami hanya menginap semalam di Lovina, dan sudah meninggalkan Singaraja pada pukul 10.00 WITA. Sebentar sekali.

Kami ingin tinggal lebih lama di Lovina. Setelah melihat lumba-lumba di lepas pantai, kami ingin bermain-main pasir dan air laut di pantai. Juga puas-puas berenang di kolam renang hotel sembari menunggu sunset.

FOTO: https://www.balisaritour.com/aktivitas-di-bali/wisata-bahari/bali-sea-walker/

2. Bali Sea Walker
Masih petualangan seru di laut, dan sama-sama melihat ikan di habitat aslinya, tapi kali ini kita diajak menyelam ke dalamnya. Bali Sea Walker menjadi pilihan berikutnya karena saya yakin anak-anak bakal menyukainya. Ini akan jadi pengalaman berkesan bagi mereka.

Demikian pula bagi Ibu. Terlahir sebagai anak pesisir, sejak kecil Ibu sangat akrab dengan laut. Namun karena kakek saya seorang petani, bukan pelaut, Ibu tidak pernah nyemplung ke laut. Paling sekedar bermain-main di pantai yang terletak sekitar satu kilometer dari rumah Simbah.

Di Elevenia ada promo tiket Bali Sea Walker seharga Rp318.000, jauh lebih murah dari tarif aslinya yang sebesar Rp450.000. Syaratnya minimal membeli dua. Karena rombongan saya nanti ada lima orang, syarat ini terpenuhi.


3. Bali Safari & Marine Park
Sewaktu menghadiri wisuda omnya di Jogja tahun 2014, anak-anak saya ajak ke Kebun Binatang Gembiraloka. Namun mungkin karena masih terlalu kecil, Damar 4 tahun dan Diandra 3 tahun, mereka malah ketakutan. Jadi, saya ingin mengulanginya di Bali dengan mengunjungi Bali Safari & Marine Park.

Jika di Gembiraloka mereka hanya melihat gajah, orangutan, dan burung-burung dalam sangkar, di Bali Safari & Marine Park anak-anak dapat merasakan pengalaman lebih seru. Di sini pengunjung diajak naik mobil berjeruji besi dan mengelilingi kandang-kandang hewan buas.

Saya tahu pasti ada rasa takut saat harimau naik ke atas mobil yang kita tumpangi. Tapi pengalaman ini membuat anak-anak berinteraksi lebih dekat dengan satwa buas tersebut. Membuat mereka lebih mengenal sesama ciptaan Allah.

FOTO: http://www.kompasiana.com/losnito/edukasi-di-taman-kupu-kupu-kemenuh-bali_5695ab417593731205826262

4. Kemenuh Butterfly Park
Anak-anak mana yang tidak suka kupu-kupu. Hewan lucu ini bahkan diabadikan dalam sebuah lagu anak. Damar dan Diandra sudah sejak kecil hapal lagu ini, diajari ibunya.

Dengan mengajak mereka ke Kemenuh Butterfly Park, anak-anak dapat mengenal secara langsung aneka ragam kupu-kupu. Jika biasanya di halaman rumah mereka hanya melihat kupu-kupu bersayap hitam-putih, di sini ada banyak warna yang pastinya bakal membuat mereka terkagum-kagum.

Laman Mokado Fun Event di Elevenia menawarkan tiket masuk Kemenuh Butterfly Park dengan harga mulai dari Rp28.000 untuk anak-anak, dan Rp47.500 untuk dewasa. Tinggal memikirkan biaya transportasi ke sana.

FOTO: http://www.ydcbalitour.com/bali-bird-park

5. Bali Bird Park
Masih dari dunia binatang, tujuan terakhir yang ada dalam daftar adalah Bali Bird Park. Kebun binatang khusus marga burung.

Anak-anak sudah punya buku tentang aneka burung. Dari sana mereka mengenal berbagai macam burung yang ada di Indonesia. Akan lebih berkesan jika mereka dapat melihat burung-burung tersebut secara langsung.

Saya dapat mempersiapkan kunjungan ke tempat ini sejak jauh-jauh hari secara daring. Di Elevenia terdapat sejumlah tawaran tiket masuk Bali Bird Park dengan diskon hingga 18%. Ini sangat membantu penghematan budget :)

*****

Sebentar, sebentar. Ini sebenarnya liburan untuk Ibu atau anak-anak sih?

Melihat daftar tujuannya, tentu yang jadi pertimbangan utama anak-anak. Kira-kira mereka bakal nyaman dan senang tidak mengunjunginya. Sebab berwisata dengan anak yang harus diprioritaskan adalah si anak. Yang dewasa dapat dengan mudah menyesuaikan diri.

Demikian pula dengan liburan yang saya rancang untuk Ibu ini. Karena judulnya liburan nenek bersama cucu, maka kesenangan beliau adalah ketika melihat tingkah cucu-cucunya selama berlibur bersama. Saya yakin Ibu sudah sangat senang sekali bisa jalan-jalan dengan dua cucunya.

Saya masih ingat betul bagaimana ekspresi bahagia Ibu sewaktu melihat anak-anak berlarian di pelataran Monas tiga tahun lalu. Melihat antusiasme kedua bocah cilik itu ketika diajak berkeliling bus tingkat gratis, juga di dalam Transjakarta.

Saya ingin melihat ekspresi itu lagi di wajah Ibu.

Posting ini diikut-sertakan dalam lomba blog Cerita Hepi Elevenia.

Foto-Foto:
Foto-foto yang tidak dicantumkan keterangan sumber di bawahnya adalah dokumentasi pribadi.

Minggu, 02 April 2017


INI pertanyaan yang membuat heboh banyak narablog beberapa hari terakhir. Benarkah Google bakal menghentikan, atau menghapus layanan blog gratis miliknya yaitu Blogger.com? Sebagai pengguna platform ini sejak medio 2005, saya coba berbagi pandangan. Just my two cents.

Isu layanan Blogger.com bakal dihentikan sudah berulang kali berhembus. Seingat saya kabar burung soal ini bahkan sudah pernah ditiupkan sebelum 2010. Lalu sempat terdengar lagi tahun lalu. Alasan pendukungnya selalu sama, Google terkesan menelantarkan Blogger dengan tidak adanya update fitur maupun template.

Sebenarnya Google baru saja "menyentuh" Blogger dengan menyediakan sederet template responsif. Namun, langkah ini terbilang sangat terlambat dibanding platform lain. Katakanlah WordPress sebagai engine blog terpopuler di dunia di atas Blogger.

Menariknya, Google sendiri sudah bertahun-tahun lalu mulai mendeteksi apakah sebuah blog responsif atau tidak, lalu menyarankan apa yang perlu dilakukan pemilik blog. Jadi lucu ketika The Big G sibuk menandai blog yang tidak responsif, tapi di layanan blog gratis miliknya malah tidak tersedia template responsif.

Okelah, di luar sana banyak situs menyediakan template responsif, baik berbayar maupun gratis. Namun, intinya adalah perhatian Google pada Blogger. Sebelum adanya pembaruan template responsif bulan lalu, Blogger.com terakhir kali di-update pada 2015. Lama sekali.

Jadi, akankah Google menghentikan layanan blog gratis Blogger.com?

Bisa saja. Google sangat terkenal akan reputasinya menghentikan produk-produk mereka. Sebut saja Orkut di masa lalu. Atau Google Reader, Google Code, dan belum lama ini Picasa Web. Jangan kaget kalau suatu saat Blogger yang di-shut down.

Nah, yang saya garis-bawahi "suatu saat" ini. Menurut saya sih Google tak akan menghentikan Blogger.com dalam waktu dekat.


Etalase Iklan AdSense
Google membeli Blogger.com pada Februari 2003. Sebenarnya yang dibeli Pyra Labs, perusahaan perancang platform tersebut. Akuisisi ini membuat seluruh personel Pyra Labs beralih status sebagai karyawan Google. Termasuk duo co-founder Meg Hourihan dan Evan Williams.

Baca juga: Blogger, Tonggak Popularitas Blog

Pembelian Blogger tak lepas dari rencana Google meluncurkan jaringan periklanan milik mereka yang kini jadi idola, AdSense. Google AdSense diperkenalkan hanya selisih sebulan dari akuisisi Pyra Labs.

Sejak berdiri pada 1998, Google tak punya pemasukan sama sekali. Dana operasional mereka semata-mata dicukupi dari suntikan investor. AdSense-lah produk pertama yang benar-benar menghasilkan pendapatan bagi Google, sampai akhirnya mencapai profit dan terus berkembang seperti sekarang.

Benang merahnya sangat terlihat. Google butuh semacam etalase untuk memajang iklan-iklan AdSense. Semakin banyak blog memasang iklan AdSense, semakin besar peluang iklan-iklan tersebut terlihat dan diklik. Itu artinya peluang pendapatan Google semakin besar pula.

Google sebenarnya menawarkan program periklanan AdSense pada sejumlah webmaster top masa itu. Salah satu pengguna awal AdSense adalah blogger kondang asal Kanada, John Chow. Tapi itu saja tidak cukup signifikan. Google butuh lebih banyak blog, sebanyak-banyaknya. Itulah sebabnya Blogger.com dibeli.

Tak cukup, Blogger lantas meluncurkan layanan email gratis Gmail.com pada 1 April 2004. Dengan tawaran space gratis sebesar 1 GB - bandingkan dengan space 2 MB yang ditawarkan Hotmail saat itu, popularitas Gmail langsung melejit. Jumlah penggunanya melonjak tajam.


Tepat setahun kemudian Google melipat-gandakan space Gmail menjadi 2 GB, dan kini 10 GB. Atau jika kita gabungkan seluruh space di Gmail, Google Drive, dan Google+ Photos jumlahnya mencapai total 15 GB.

Sama halnya Blogger, Gmail kemudian digunakan juga sebagai etalase iklan AdSense. Iklan-iklan yang tampil di blog-blog Blogger.com dan mailbox Gmail memberi penghasilan cukup lumayan bagi Google. John Battle dalam bukunya The Search (New York, 2005) mengestimasi AdSense menyumbang 15% dari total pendapatan Google pada awal tahun 2005.

Hingga saat ini kita lihat banyak sekali blog dan situs berbasis Blogspot, baik dengan custom domain TLD maupun masih menggunakan buntut blogspot.com, yang memajang iklan AdSense. Faktanya, Blogger.com merupakan platform blog terpopuler kedua di dunia setelah WordPress. Menurut pendapat saya sih Google masih butuh Blogger.

Jadi, kalapun layanan gratis ini dihentikan oleh Google, hal tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Kapan? Perkiraan saya dalam 4-5 tahun ke depan masih amanlah.

Sedia Payung Sebelum Hujan
Kalau Google diibaratkan pemilik kontrakan, maka kita-kita pengguna Blogger.com adalah penyewa. Tak ada biaya sepeser pun yang dibebankan oleh Google, namun justru karena itulah tidak ada jaminan apapun bagi kita. Google bisa kapan saja menghentikan layanan ini.

So, we better prepare for the worst.

Ada dua opsi bagi yang ingin meninggalkan Blogspot. Pertama, menyewa web-hosting sendiri dan berganti engine menjadi WordPress.org; kedua, pindah platform ke WordPress.com. Masing-masing tentu saja dengan kelebihan dan kekurangannya.



1. Hosting sendiri dan memakai WordPress.org
WordPress adalah web-engine yang paling banyak digunakan di dunia saat ini. Kemudahan otak-atik tampilan dan optimasi konten menjadi keunggulannya. Entah sejak kapan pandangan ini muncul, namun blog yang di-hosting sendiri dan menggunakan WordPress dinilai lebih keren.

Kekurangannya, bagi yang terbiasa ngeblog di Blogger.com biaya hosting bulanan bisa jadi sangat merepotkan. Okelah, pembayarannya bisa dirapel setahun sekali. Namun jumlah tagihan tetap saja membengkak, bisa 2-3 kali lipat atau lebih dibanding saat hanya membayar nama domain untuk Blogger.

Bagi saya yang tak paham teknis blog, yang paling mengerikan adalah kemungkinan disusupi hacker. Susah payah kita membangun blog beserta reputasinya selama bertahun-tahun, seorang hacker dapat dengan mudah menghancurkan semua itu dalam semalam.

Benar di kebanyakan penyedia hosting disediakan fitur back-up, tapi tetap saja butuh waktu tak sebentar untuk memulihkan blog tadi. Tanpa skill mumpuni di bidang tersebut, gangguan begini bisa sangat membuat frustasi.

Itulah sebabnya kalau nanti terpaksa harus pindah platform saya lebih suka opsi kedua berikut.

2. Custom domain di WordPress.com
Sama-sama WordPress, namun ini versi gratisannya. Seperti halnya Blogger.com, kita dapat ngeblog di sini tanpa biaya sepeser pun. Kalau mau memakai nama domain TLD, siapkan iuran tahunan sebesar $13 untuk layanan domain mapping.

Catat, itu hanya untuk domain mapping. Dengan biaya sebesar ini kita dapat menikmati layanan hosting dengan space 3 GB, serta berbagai plugin populer yang sudah secara otomatis terpasang pada blog.


Kalau space sebanyak itu tidak cukup, ada pilihan upgrade ke paket-paket berikutnya dengan kuota lebih besar dan tambahan fitur lain. Pilihan termurah adalah Paket Personal, yakni sebesar $2.99/bulan atau $35.88 setahun (setara Rp477.921,60 menurut kurs hari ini).

Mahal? Sebagai gambaran, harga tersebut sudah termasuk registrasi satu nama domain TLD setahun, space 6 GB, dan ratusan pilihan theme gratis yang dapat kita sesuaikan dengan keinginan, plus beberapa plugin penting seperti Jetpack.

Menurut saya ini justru lebih murah jika dibanding paket blogging standar di sejumlah layanan hosting. Pindah ke WordPress.com merupakan pilihan tepat bagi yang hanya ingin fokus menulis, menghasilkan konten berkualitas, tanpa dirisaukan urusan-urusan teknis. Apatah lagi kalau tidak paham soal teknis blog.

Tapi kan, Mas, ini tetap saja numpang? Cuma pindah induk semang dari Blogger ke WordPress.

Tak perlu berkecil hati. Coba cek laman https://wordpress.com/notable-users/ dan lihat seberapa banyak brand terkenal yang "menumpang" di WordPress.com.

Kekurangan menggunakan WordPress.com, kita tidak dibolehkan kita memasang iklan apapun di blog. Yang diperkenankan hanya banner dan tautan afiliasi, itupun harus situs-situs terpercaya seperti Amazon.com.

Tenang saja, WordPress punya program periklanan bernama WordAds yang berbasis impresi. Lumayanyah untuk menambah penghasilan dari pageviews blog. Saya pernah punya blog yang menghasilkan $100/bulan di program ini. Jangan kagum dulu. Seorang senior di Solo mendapat rata-rata Rp 50 juta dari satu blognya yang menjalankan WordAds.

Satu lagi, permalink blog WordPress.com tidak bisa diubah-ubah sesuai selera. Format standarnya adalah http://namablog.com/tahun/bulan/tanggal/judul-posting/. Jadi, kalau misalnya saya menerbitkan posting ini pada 2 April 2017, permalink-nya menjadi http://bungeko.com/2017/04/02/akankah-google-hentikan-layanan-gratis-blogspot/.



Ini bisa jadi masalah kalau kita memindah blog dari Blogger. Pasalnya, posting-posting lama di Blogger punya format permalink berbeda, yakni tanpa tanggal. Lalu di ujungnya ada .html. Bisa jadi broken link.

Namun, berdasarkan pengalaman saya sewaktu memindahkan bungeko.com ke WordPress.com di tahun 2014, pengunjung yang mengeklik alamat lama bakal di redirect ke alamat baru. Mudah-mudahan saja sampai saat ini masih begitu.

Kesimpulan
Dari uraian di atas, saya menyimpulkan ada kemungkinan Google menghentikan layanan Blogger.com. Ini seiring semakin gurihnya hasil periklanan di YouTube serta kecenderungan pengguna internet yang lebih suka menonton video ketimbang membaca blog.

Video over blog post. Jangan heran kalau Google bakal lebih memilih untuk membesarkan YouTube ketimbang Blogger. Lihat video di atas dan dengarkan uraian Matt Cutts, saat itu programer Google, tentang alasan Google menghentikan sebuah produk layanan.

Namun, rasa-rasanya ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Paling tidak kita masih bisa menikmati layanan Blogger hingga 4-5 tahun ke depan. Kalaupun lebih cepat dari itu, Google bakal mengabari kita semua sebelum melakukan eksekusi.

So, yang terpenting dilakukan adalah mem-back up blog. Mulai sekarang rajin-rajinlah membuat back-up secara berkala. Sehingga jika nanti Blogger ditiadakan, kita dapat dengan mudah memindahkan blog. Manfaatkan fitur ekspor blog di dasbor untuk melakukannya.

Semoga bermanfaat.


INI pertanyaan yang membuat heboh banyak narablog beberapa hari terakhir. Benarkah Google bakal menghentikan, atau menghapus layanan blog gratis miliknya yaitu Blogger.com? Sebagai pengguna platform ini sejak medio 2005, saya coba berbagi pandangan. Just my two cents.

Isu layanan Blogger.com bakal dihentikan sudah berulang kali berhembus. Seingat saya kabar burung soal ini bahkan sudah pernah ditiupkan sebelum 2010. Lalu sempat terdengar lagi tahun lalu. Alasan pendukungnya selalu sama, Google terkesan menelantarkan Blogger dengan tidak adanya update fitur maupun template.

Sebenarnya Google baru saja "menyentuh" Blogger dengan menyediakan sederet template responsif. Namun, langkah ini terbilang sangat terlambat dibanding platform lain. Katakanlah WordPress sebagai engine blog terpopuler di dunia di atas Blogger.

Menariknya, Google sendiri sudah bertahun-tahun lalu mulai mendeteksi apakah sebuah blog responsif atau tidak, lalu menyarankan apa yang perlu dilakukan pemilik blog. Jadi lucu ketika The Big G sibuk menandai blog yang tidak responsif, tapi di layanan blog gratis miliknya malah tidak tersedia template responsif.

Okelah, di luar sana banyak situs menyediakan template responsif, baik berbayar maupun gratis. Namun, intinya adalah perhatian Google pada Blogger. Sebelum adanya pembaruan template responsif bulan lalu, Blogger.com terakhir kali di-update pada 2015. Lama sekali.

Jadi, akankah Google menghentikan layanan blog gratis Blogger.com?

Bisa saja. Google sangat terkenal akan reputasinya menghentikan produk-produk mereka. Sebut saja Orkut di masa lalu. Atau Google Reader, Google Code, dan belum lama ini Picasa Web. Jangan kaget kalau suatu saat Blogger yang di-shut down.

Nah, yang saya garis-bawahi "suatu saat" ini. Menurut saya sih Google tak akan menghentikan Blogger.com dalam waktu dekat.


Etalase Iklan AdSense
Google membeli Blogger.com pada Februari 2003. Sebenarnya yang dibeli Pyra Labs, perusahaan perancang platform tersebut. Akuisisi ini membuat seluruh personel Pyra Labs beralih status sebagai karyawan Google. Termasuk duo co-founder Meg Hourihan dan Evan Williams.

Baca juga: Blogger, Tonggak Popularitas Blog

Pembelian Blogger tak lepas dari rencana Google meluncurkan jaringan periklanan milik mereka yang kini jadi idola, AdSense. Google AdSense diperkenalkan hanya selisih sebulan dari akuisisi Pyra Labs.

Sejak berdiri pada 1998, Google tak punya pemasukan sama sekali. Dana operasional mereka semata-mata dicukupi dari suntikan investor. AdSense-lah produk pertama yang benar-benar menghasilkan pendapatan bagi Google, sampai akhirnya mencapai profit dan terus berkembang seperti sekarang.

Benang merahnya sangat terlihat. Google butuh semacam etalase untuk memajang iklan-iklan AdSense. Semakin banyak blog memasang iklan AdSense, semakin besar peluang iklan-iklan tersebut terlihat dan diklik. Itu artinya peluang pendapatan Google semakin besar pula.

Google sebenarnya menawarkan program periklanan AdSense pada sejumlah webmaster top masa itu. Salah satu pengguna awal AdSense adalah blogger kondang asal Kanada, John Chow. Tapi itu saja tidak cukup signifikan. Google butuh lebih banyak blog, sebanyak-banyaknya. Itulah sebabnya Blogger.com dibeli.

Tak cukup, Blogger lantas meluncurkan layanan email gratis Gmail.com pada 1 April 2004. Dengan tawaran space gratis sebesar 1 GB - bandingkan dengan space 2 MB yang ditawarkan Hotmail saat itu, popularitas Gmail langsung melejit. Jumlah penggunanya melonjak tajam.


Tepat setahun kemudian Google melipat-gandakan space Gmail menjadi 2 GB, dan kini 10 GB. Atau jika kita gabungkan seluruh space di Gmail, Google Drive, dan Google+ Photos jumlahnya mencapai total 15 GB.

Sama halnya Blogger, Gmail kemudian digunakan juga sebagai etalase iklan AdSense. Iklan-iklan yang tampil di blog-blog Blogger.com dan mailbox Gmail memberi penghasilan cukup lumayan bagi Google. John Battle dalam bukunya The Search (New York, 2005) mengestimasi AdSense menyumbang 15% dari total pendapatan Google pada awal tahun 2005.

Hingga saat ini kita lihat banyak sekali blog dan situs berbasis Blogspot, baik dengan custom domain TLD maupun masih menggunakan buntut blogspot.com, yang memajang iklan AdSense. Faktanya, Blogger.com merupakan platform blog terpopuler kedua di dunia setelah WordPress. Menurut pendapat saya sih Google masih butuh Blogger.

Jadi, kalapun layanan gratis ini dihentikan oleh Google, hal tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Kapan? Perkiraan saya dalam 4-5 tahun ke depan masih amanlah.

Sedia Payung Sebelum Hujan
Kalau Google diibaratkan pemilik kontrakan, maka kita-kita pengguna Blogger.com adalah penyewa. Tak ada biaya sepeser pun yang dibebankan oleh Google, namun justru karena itulah tidak ada jaminan apapun bagi kita. Google bisa kapan saja menghentikan layanan ini.

So, we better prepare for the worst.

Ada dua opsi bagi yang ingin meninggalkan Blogspot. Pertama, menyewa web-hosting sendiri dan berganti engine menjadi WordPress.org; kedua, pindah platform ke WordPress.com. Masing-masing tentu saja dengan kelebihan dan kekurangannya.



1. Hosting sendiri dan memakai WordPress.org
WordPress adalah web-engine yang paling banyak digunakan di dunia saat ini. Kemudahan otak-atik tampilan dan optimasi konten menjadi keunggulannya. Entah sejak kapan pandangan ini muncul, namun blog yang di-hosting sendiri dan menggunakan WordPress dinilai lebih keren.

Kekurangannya, bagi yang terbiasa ngeblog di Blogger.com biaya hosting bulanan bisa jadi sangat merepotkan. Okelah, pembayarannya bisa dirapel setahun sekali. Namun jumlah tagihan tetap saja membengkak, bisa 2-3 kali lipat atau lebih dibanding saat hanya membayar nama domain untuk Blogger.

Bagi saya yang tak paham teknis blog, yang paling mengerikan adalah kemungkinan disusupi hacker. Susah payah kita membangun blog beserta reputasinya selama bertahun-tahun, seorang hacker dapat dengan mudah menghancurkan semua itu dalam semalam.

Benar di kebanyakan penyedia hosting disediakan fitur back-up, tapi tetap saja butuh waktu tak sebentar untuk memulihkan blog tadi. Tanpa skill mumpuni di bidang tersebut, gangguan begini bisa sangat membuat frustasi.

Itulah sebabnya kalau nanti terpaksa harus pindah platform saya lebih suka opsi kedua berikut.

2. Custom domain di WordPress.com
Sama-sama WordPress, namun ini versi gratisannya. Seperti halnya Blogger.com, kita dapat ngeblog di sini tanpa biaya sepeser pun. Kalau mau memakai nama domain TLD, siapkan iuran tahunan sebesar $13 untuk layanan domain mapping.

Catat, itu hanya untuk domain mapping. Dengan biaya sebesar ini kita dapat menikmati layanan hosting dengan space 3 GB, serta berbagai plugin populer yang sudah secara otomatis terpasang pada blog.


Kalau space sebanyak itu tidak cukup, ada pilihan upgrade ke paket-paket berikutnya dengan kuota lebih besar dan tambahan fitur lain. Pilihan termurah adalah Paket Personal, yakni sebesar $2.99/bulan atau $35.88 setahun (setara Rp477.921,60 menurut kurs hari ini).

Mahal? Sebagai gambaran, harga tersebut sudah termasuk registrasi satu nama domain TLD setahun, space 6 GB, dan ratusan pilihan theme gratis yang dapat kita sesuaikan dengan keinginan, plus beberapa plugin penting seperti Jetpack.

Menurut saya ini justru lebih murah jika dibanding paket blogging standar di sejumlah layanan hosting. Pindah ke WordPress.com merupakan pilihan tepat bagi yang hanya ingin fokus menulis, menghasilkan konten berkualitas, tanpa dirisaukan urusan-urusan teknis. Apatah lagi kalau tidak paham soal teknis blog.

Tapi kan, Mas, ini tetap saja numpang? Cuma pindah induk semang dari Blogger ke WordPress.

Tak perlu berkecil hati. Coba cek laman https://wordpress.com/notable-users/ dan lihat seberapa banyak brand terkenal yang "menumpang" di WordPress.com.

Kekurangan menggunakan WordPress.com, kita tidak dibolehkan kita memasang iklan apapun di blog. Yang diperkenankan hanya banner dan tautan afiliasi, itupun harus situs-situs terpercaya seperti Amazon.com.

Tenang saja, WordPress punya program periklanan bernama WordAds yang berbasis impresi. Lumayanyah untuk menambah penghasilan dari pageviews blog. Saya pernah punya blog yang menghasilkan $100/bulan di program ini. Jangan kagum dulu. Seorang senior di Solo mendapat rata-rata Rp 50 juta dari satu blognya yang menjalankan WordAds.

Satu lagi, permalink blog WordPress.com tidak bisa diubah-ubah sesuai selera. Format standarnya adalah http://namablog.com/tahun/bulan/tanggal/judul-posting/. Jadi, kalau misalnya saya menerbitkan posting ini pada 2 April 2017, permalink-nya menjadi http://bungeko.com/2017/04/02/akankah-google-hentikan-layanan-gratis-blogspot/.



Ini bisa jadi masalah kalau kita memindah blog dari Blogger. Pasalnya, posting-posting lama di Blogger punya format permalink berbeda, yakni tanpa tanggal. Lalu di ujungnya ada .html. Bisa jadi broken link.

Namun, berdasarkan pengalaman saya sewaktu memindahkan bungeko.com ke WordPress.com di tahun 2014, pengunjung yang mengeklik alamat lama bakal di redirect ke alamat baru. Mudah-mudahan saja sampai saat ini masih begitu.

Kesimpulan
Dari uraian di atas, saya menyimpulkan ada kemungkinan Google menghentikan layanan Blogger.com. Ini seiring semakin gurihnya hasil periklanan di YouTube serta kecenderungan pengguna internet yang lebih suka menonton video ketimbang membaca blog.

Video over blog post. Jangan heran kalau Google bakal lebih memilih untuk membesarkan YouTube ketimbang Blogger. Lihat video di atas dan dengarkan uraian Matt Cutts, saat itu programer Google, tentang alasan Google menghentikan sebuah produk layanan.

Namun, rasa-rasanya ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Paling tidak kita masih bisa menikmati layanan Blogger hingga 4-5 tahun ke depan. Kalaupun lebih cepat dari itu, Google bakal mengabari kita semua sebelum melakukan eksekusi.

So, yang terpenting dilakukan adalah mem-back up blog. Mulai sekarang rajin-rajinlah membuat back-up secara berkala. Sehingga jika nanti Blogger ditiadakan, kita dapat dengan mudah memindahkan blog. Manfaatkan fitur ekspor blog di dasbor untuk melakukannya.

Semoga bermanfaat.

Selasa, 28 Maret 2017


AWAL bulan ini saya berkesempatan menghabiskan dua hari satu malam di Semarang. Tujuan utamanya menghadiri dua event yang berlangsung dua hari berturut-turut, 4 dan 5 Maret 2017. Tapi, mumpung di Semarang, saya sempatkan untuk berwisata sekalipun ala kadarnya. Dan Go-Jek jadi andalan selama di Kota Atlas.

Berangkat naik kereta api Kaligung dari Pemalang, saya turun di Stasiun Poncol tepat tengah hari. Adzan Dzuhur berkumandang begitu saya keluar dari area stasiun menuju Jl. Tanjung. Karena sudah waktunya makan siang, saya pun mampir ke warung Mie Kopyok Pak Dhuwur yang legendaris.

Bagi yang belum tahu, Mie Kopyok Pak Dhuwur merupakan salah satu spot kuliner yang wajib dikunjungi di Semarang. Namanya melegenda, dengan cabang hingga di ibukota Jakarta. Lokasinya hanya sekitar 300 meter dari Stasiun Poncol. Persisnya di seberang kantor PLN Kota Semarang.

Siang itu warung Mie Kopyok Pak Dhuwur ramai sekali. Maklum, memang waktunya rolasan alias istirahat makan siang. Tapi yang saya lihat kebanyakan pengunjung sepertinya berasal dari luar kota. Terlihat dari kamera-kamera yang mereka bawa, juga plat mobil yang parkir berjejer di tepi Jl. Tanjung.

Saya memesan seporsi mi kopyok plus es jeruk. Nggak pakai menunggu lama, pesanan saya datang diantar seorang pelayan berpakaian kemeja biru dengan variasi putih. Segera pula isi piring berpindah ke perut dengan sukses. Hehehe.

Rasanya? Awalnya terasa agak aneh di lidah saya, kuahnya dominan rasa bawang putih. Tapi setelah menemukan racikan yang pas berkat bantuan kecap, cuka, sambal, serta bumbu kacang yang dihidangkan di masing-masing meja, saya tak butuh waktu lama untuk menghabiskan seporsi mi kopyok.

Sayangnya saya lupa bertanya berapa harganya. Sewaktu membayar, saya dimintai Rp17.000 untuk sepiring mi kopyok ditambah segelas es jeruk. Terhitung murahlah untuk ukuran Kota Semarang.


Menyusuri Pasar Prembaen hingga Gang Warung
Usai makan siang, saya lanjutkan perjalanan ke selatan menyusuri Jl. Tanjung. Niat semula mau ke Airy Eco Miroto Seteran Serut, tempat saya bakal menginap malam itu. Menurut Google Maps sih dari Jl. Tanjung saya cuma perlu berjalan kaki 700 meter menuju penginapan. Tapi sampai di perempatan Jl. Pemuda saya belok arah.

Alih-alih lurus ke selatan, ke Jl. MH Thamrin, saya langkahkan kaki ke Jl. Depok dan terus ke timur. Nama jalan ini agak familiar di ingatan karena beberapa kali disebut dalam novel seri kenangan Nh. Dini. Hanya beberapa puluh meter dari lampu merah, sebuah pasar tradisional menyambut dengan kesibukannya yang khas.

Pasar Prembaen! Pasar ini juga terasa familiar bagi saya. Dalam salah satu episode, Nh. Dini menceritakan sewaktu kecil dirinya pernah diajak berbelanja ke pasar ini. Bersama ayah dan kakak laki-lakinya, seingat saya Teguh Asmar, Dini kecil bersepeda dari Kampung Sekayu menuju Prembaen.

Saya hanya melintas saja di pasar ini. Kalau saja saat itu saya tahu di Pasar Prembaen ada satu warung nasi kebuli spesial nan legendaris, pastilah saya sempatkan mampir. Okelah, kita simpan warung nasi kebuli Pasar Prembaen untuk kunjungan ke Semarang berikutnya. Insya Allah.

Melewati Pasar Prembaen, saya teruskan langkah ke selatan menuju Jl. KH Wahid Hasyim. Dari ngobrol-ngobrol dengan seorang tukang becak di bawah gapura kawasan Pecinan, saya tahu kenapa jalan tersebut dinamai KH Wahid Hasyim. Sisi timur jalan merupakan kawasan Kauman, pusatnya keturunan Arab yang identik dengan Islam.

Kira-kira setengah jam saya mengobrol dengan Pak Becak. Lalu meneruskan langkah menyusuri Jl. Gang Warung. Sayangnya saya datang ke sana siang bolong. Kalau saja agak sore, tentulah kawasan tersebut sudah ramai oleh warung-warung aneka makanan.



"Pasar Semawis baru buka nanti sore, Mas," kata Pak Becak yang saja ajak ngobrol tadi.

Mau bagaimana lagi, acara yang saya ikuti dimulai jam 15.00 WIB. Lagi-lagi, kita simpan agenda wisata kuliner di Pasar Semawis untuk kunjungan ke Semarang berikutnya.

Nah, sampai di Jl. Gang Pinggir saya sudahi acara jalan-jalan siang itu. Bukan apa-apa, jam di hape sudah menunjukkan angka setengah dua. Saya harus check in di Airy Eco Miroto di Jl. Seteran Serut, lalu bersiap-siap menuju kawasan Kota Lama untuk mengikuti event yang diadakan YouTube.

Lewat Jalan Tikus
Sewaktu duduk melepas lelah di depan Kwaci Cap Gajah, saya iseng ngobrol dengan seorang bapak. Beliau mengaku asli Purworejo dan bekerja di produsen kwaci tersebut. Dari beliau saya disarankan untuk naik ojek saja menuju Jl. Seteran Serut. Soalnya kalau naik becak terlalu jauh, lama di jalan.

Oke, saya pun buka aplikasi Go-Jek dan melihat-lihat adakah driver di dekat-dekat saya berada. Dasar rejeki, di layar terlihat dua ikon motor dan tulisan "2 Minutes" yang menandakan terdapat driver tak jauh dari saya. Tertera juga biayanya, yakni sebesar Rp6.000,- dengan jarak tempuh 2,554 km.

Tanpa pikir panjang saya langsung order. Pesanan diterima oleh driver bernama Oky Firmansyah yang langsung menelepon menanyakan posisi saya berada. Beberapa menit berselang ia datang, setelah berbasa-basi sebentar saya memakai helm hijau dan duduk di boncengan motornya.

Ini bukan kali pertama saya naik Go-Jek di Semarang. Tapi driver satu ini membuat saya terkesan karena hapal jalan tikus. Sepanjang jalan saya mengamati Google Maps, tapi Mas Oky ambil jalan-jalan pintas di sela-sela perkampungan sempit.

"Kalau ngikutin petunjuk jalan di Maps bisa muter-muter, Pak. Banyak jalan satu arah ke Seteran Serut," kata Mas Oky sewaktu saya iseng bertanya kenapa jalannya tidak sesuai Google Maps.

Saya sih menurut saja. Bagi penumpang yang penting sampai alamat tujuan. Dan Mas Oky ini benar-benar hapal jalan. Tanpa tanya sana-sini ia bisa menurunkan saya tepat di depan gerbang Airy Eco Miroto Seteran Serut. Sebelum pergi Mas Oky meminta saya memastikan dulu benar-tidak alamat tersebut yang saya cari.

Saya benar-benar dibuat terkesan oleh Mas Oky. Rate bintang lima deh.

Proses check in di Airy Eco Miroto tidak memakan waktu lama. Saya sudah order lewat aplikasi Airy Rooms sehari sebelum berangkat. Jadi sesampainya di sana cukup mencocokkan data booking, meninggalkan KTP, setelah itu petugas resepsionis mengantar saya ke kamar yang terletak di lantai tiga.

Ini pengalaman pertama saya menginap di Airy Rooms. Akan saya tulis lebih lengkap di posting berikutnya lengkap dengan video room tour.

Dapatkan diskon langsung Rp100.000,- dengan memesan Airy Rooms di sini!


Wira-wiri Kota Lama Naik Go-Jek
Selepas istirahat sekedar mengeringkan keringat, saya pergi mandi, dan berkemas menuju Gedung Spiegel di kawasan Kota Lama. Acara YouTube Round Table sudah menunggu. Saya hanya punya waktu kurang-lebih setengah jam menuju ke sana.

Kalau saja waktunya luang, saya bisa berjalan kaki menuju Simpang Lima, lalu naik angkot ke arah Pasar Johar. Tapi saya butuh jasa angkutan yang lebih cepat, dan tentu saja tarifnya aman di kantong. Lagi-lagi saya buka deh aplikasi Go-Jek dan memesan tumpangan menuju Spiegel.

Driver bernama Sugiri Santoso menyambut order saya. Kami sempat sama-sama bingung di telepon. Pasalnya, saya menyebut "di depan Gang I, Pak." Sedangkan beliau tengah mangkal di depan gang dimaksud, tapi ujung yang lain. Tapi tak berapa lama beliau datang menjemput dan tersenyum lebar begitu melihat saya.

"Saya di depan gang tapi yang sebelah sana, Mas," katanya menjelaskan. Rupanya Gang I tembus dari Jl. Seteran Serut ke Jl. Seteran Barat. Saya menunggu di ujung gang yang Jl. Seteran Serut, sedangkan Pak Sugiri ada di ujung gang di Jl. Seteran Barat.

Berbeda dengan Mas Oky yang sikapnya terkesan formal - mungkin karena saya terlihat lebih tua darinya, Pak Sugiri sebaliknya. Slengean. Sepanjang jalan menuju Kota Lama beliau bercerita dan membanyol. Ketika menurunkan saya di area parkir Spiegel Bar & Bistro, beliau masih sempat-sempatnya membanyol soal rating bintang empat di aplikasi Go-Jek.

"Mau dikasih bintang berapa aja saya nggak pengaruh, Mas," katanya. "Tapi ya kalau bisa kasih bintang empat." Lalu tersenyum.

Oya, tarif dari Jl. Seteran Serut ke Gedung Spiegel yang berjarak 3,94 km sebesar Rp8.000.

Acara YouTube Round Table berlangsung sesuai agenda. Saya sih maunya menikmati suasana Kota Lama di malam hari terlebih dahulu sebelum balik ke Airy Eco Miroto. Tapi mendung tebal dan gerimis yang mulai turun mengubah niat tersebut. Saya putuskan langsung kembali saja ke penginapan.


Naik apa?

Untuk kali ketiga dalam empat jam saya kembali memesan Go-Jek. Dari aplikasi di hape saya tahu ada banyak driver di sekitaran Kota Lama dan Stasiun Tawang. Order saya diterima oleh driver bernama Rusmono.

Singkat cerita, saya sampai di penginapan dengan selamat. Selamat dari guyuran hujan maksudnya. Setelah mandi dan sembahyang, saya sempatkan merekam video room tour sebentar, kemudian tidur pulas hingga pagi hari.

*****

Bagi saya yang tidak hapal jurusan angkot di Semarang, plus sayang duit kalau harus naik taksi, dan malas dibawa berputar-putar oleh angkot, keberadaan Go-Jek sangat membantu sekali. Menurut saya ini adalah pilihan transportasi yang murah dan cepat, sekaligus privat.

Satu hal yang membuat saya paling senang naik Go-Jek adalah adanya kepastian tarif di muka, dan tarifnya itu terjangkau sekali. Dari beberapa kali order baik saat di Semarang maupun di Jakarta saya jadi tahu kalau tarif Go-Jek itu Rp2.000/kilometer. Sangat murah, bukan?

Terlebih menurut cerita salah satu driver, belum lama Go-Jek Semarang melakukan recruitment. Artinya, jumlah driver-nya semakin banyak sehingga calon pengguna bisa mendapatkan tumpangan lebih cepat.

Satu saja yang saya sayangkan, Go-Jek belum bekerja sama dengan ShopBack. Padahal bakal lebih asyik ya kalau tiap kali order Go-Jek via ShopBack kita dapat cashback. Walaupun nominalnya mungkin kecil, tapi kalau sering-sering kan bisa terkumpul banyak juga cashback-nya.

Jadi, harap maafkan ya kalau saya menulis tentang Go-Jek, tapi di bawah posting ini terpampang banner promosi Grab. Namanya juga usaha. Hehehe.

FOTO-FOTO:
Foto 1: Gedung Marba terlihat dari balkon Gedung Spiegel.
Foto 2: Bagian depan warung Mie Kopyok Pak Dhuwur di Jl. Tanjung.
Foto 3: Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel, atau yang lebih dikenal sebagai Gereja Blenduk, sedang menggelar misa. Terlihat mobil-mobil jamaah berjejer rapi di sekitaran gereja.

* Semua foto merupakan dokumentasi pribadi.


AWAL bulan ini saya berkesempatan menghabiskan dua hari satu malam di Semarang. Tujuan utamanya menghadiri dua event yang berlangsung dua hari berturut-turut, 4 dan 5 Maret 2017. Tapi, mumpung di Semarang, saya sempatkan untuk berwisata sekalipun ala kadarnya. Dan Go-Jek jadi andalan selama di Kota Atlas.

Berangkat naik kereta api Kaligung dari Pemalang, saya turun di Stasiun Poncol tepat tengah hari. Adzan Dzuhur berkumandang begitu saya keluar dari area stasiun menuju Jl. Tanjung. Karena sudah waktunya makan siang, saya pun mampir ke warung Mie Kopyok Pak Dhuwur yang legendaris.

Bagi yang belum tahu, Mie Kopyok Pak Dhuwur merupakan salah satu spot kuliner yang wajib dikunjungi di Semarang. Namanya melegenda, dengan cabang hingga di ibukota Jakarta. Lokasinya hanya sekitar 300 meter dari Stasiun Poncol. Persisnya di seberang kantor PLN Kota Semarang.

Siang itu warung Mie Kopyok Pak Dhuwur ramai sekali. Maklum, memang waktunya rolasan alias istirahat makan siang. Tapi yang saya lihat kebanyakan pengunjung sepertinya berasal dari luar kota. Terlihat dari kamera-kamera yang mereka bawa, juga plat mobil yang parkir berjejer di tepi Jl. Tanjung.

Saya memesan seporsi mi kopyok plus es jeruk. Nggak pakai menunggu lama, pesanan saya datang diantar seorang pelayan berpakaian kemeja biru dengan variasi putih. Segera pula isi piring berpindah ke perut dengan sukses. Hehehe.

Rasanya? Awalnya terasa agak aneh di lidah saya, kuahnya dominan rasa bawang putih. Tapi setelah menemukan racikan yang pas berkat bantuan kecap, cuka, sambal, serta bumbu kacang yang dihidangkan di masing-masing meja, saya tak butuh waktu lama untuk menghabiskan seporsi mi kopyok.

Sayangnya saya lupa bertanya berapa harganya. Sewaktu membayar, saya dimintai Rp17.000 untuk sepiring mi kopyok ditambah segelas es jeruk. Terhitung murahlah untuk ukuran Kota Semarang.


Menyusuri Pasar Prembaen hingga Gang Warung
Usai makan siang, saya lanjutkan perjalanan ke selatan menyusuri Jl. Tanjung. Niat semula mau ke Airy Eco Miroto Seteran Serut, tempat saya bakal menginap malam itu. Menurut Google Maps sih dari Jl. Tanjung saya cuma perlu berjalan kaki 700 meter menuju penginapan. Tapi sampai di perempatan Jl. Pemuda saya belok arah.

Alih-alih lurus ke selatan, ke Jl. MH Thamrin, saya langkahkan kaki ke Jl. Depok dan terus ke timur. Nama jalan ini agak familiar di ingatan karena beberapa kali disebut dalam novel seri kenangan Nh. Dini. Hanya beberapa puluh meter dari lampu merah, sebuah pasar tradisional menyambut dengan kesibukannya yang khas.

Pasar Prembaen! Pasar ini juga terasa familiar bagi saya. Dalam salah satu episode, Nh. Dini menceritakan sewaktu kecil dirinya pernah diajak berbelanja ke pasar ini. Bersama ayah dan kakak laki-lakinya, seingat saya Teguh Asmar, Dini kecil bersepeda dari Kampung Sekayu menuju Prembaen.

Saya hanya melintas saja di pasar ini. Kalau saja saat itu saya tahu di Pasar Prembaen ada satu warung nasi kebuli spesial nan legendaris, pastilah saya sempatkan mampir. Okelah, kita simpan warung nasi kebuli Pasar Prembaen untuk kunjungan ke Semarang berikutnya. Insya Allah.

Melewati Pasar Prembaen, saya teruskan langkah ke selatan menuju Jl. KH Wahid Hasyim. Dari ngobrol-ngobrol dengan seorang tukang becak di bawah gapura kawasan Pecinan, saya tahu kenapa jalan tersebut dinamai KH Wahid Hasyim. Sisi timur jalan merupakan kawasan Kauman, pusatnya keturunan Arab yang identik dengan Islam.

Kira-kira setengah jam saya mengobrol dengan Pak Becak. Lalu meneruskan langkah menyusuri Jl. Gang Warung. Sayangnya saya datang ke sana siang bolong. Kalau saja agak sore, tentulah kawasan tersebut sudah ramai oleh warung-warung aneka makanan.



"Pasar Semawis baru buka nanti sore, Mas," kata Pak Becak yang saja ajak ngobrol tadi.

Mau bagaimana lagi, acara yang saya ikuti dimulai jam 15.00 WIB. Lagi-lagi, kita simpan agenda wisata kuliner di Pasar Semawis untuk kunjungan ke Semarang berikutnya.

Nah, sampai di Jl. Gang Pinggir saya sudahi acara jalan-jalan siang itu. Bukan apa-apa, jam di hape sudah menunjukkan angka setengah dua. Saya harus check in di Airy Eco Miroto di Jl. Seteran Serut, lalu bersiap-siap menuju kawasan Kota Lama untuk mengikuti event yang diadakan YouTube.

Lewat Jalan Tikus
Sewaktu duduk melepas lelah di depan Kwaci Cap Gajah, saya iseng ngobrol dengan seorang bapak. Beliau mengaku asli Purworejo dan bekerja di produsen kwaci tersebut. Dari beliau saya disarankan untuk naik ojek saja menuju Jl. Seteran Serut. Soalnya kalau naik becak terlalu jauh, lama di jalan.

Oke, saya pun buka aplikasi Go-Jek dan melihat-lihat adakah driver di dekat-dekat saya berada. Dasar rejeki, di layar terlihat dua ikon motor dan tulisan "2 Minutes" yang menandakan terdapat driver tak jauh dari saya. Tertera juga biayanya, yakni sebesar Rp6.000,- dengan jarak tempuh 2,554 km.

Tanpa pikir panjang saya langsung order. Pesanan diterima oleh driver bernama Oky Firmansyah yang langsung menelepon menanyakan posisi saya berada. Beberapa menit berselang ia datang, setelah berbasa-basi sebentar saya memakai helm hijau dan duduk di boncengan motornya.

Ini bukan kali pertama saya naik Go-Jek di Semarang. Tapi driver satu ini membuat saya terkesan karena hapal jalan tikus. Sepanjang jalan saya mengamati Google Maps, tapi Mas Oky ambil jalan-jalan pintas di sela-sela perkampungan sempit.

"Kalau ngikutin petunjuk jalan di Maps bisa muter-muter, Pak. Banyak jalan satu arah ke Seteran Serut," kata Mas Oky sewaktu saya iseng bertanya kenapa jalannya tidak sesuai Google Maps.

Saya sih menurut saja. Bagi penumpang yang penting sampai alamat tujuan. Dan Mas Oky ini benar-benar hapal jalan. Tanpa tanya sana-sini ia bisa menurunkan saya tepat di depan gerbang Airy Eco Miroto Seteran Serut. Sebelum pergi Mas Oky meminta saya memastikan dulu benar-tidak alamat tersebut yang saya cari.

Saya benar-benar dibuat terkesan oleh Mas Oky. Rate bintang lima deh.

Proses check in di Airy Eco Miroto tidak memakan waktu lama. Saya sudah order lewat aplikasi Airy Rooms sehari sebelum berangkat. Jadi sesampainya di sana cukup mencocokkan data booking, meninggalkan KTP, setelah itu petugas resepsionis mengantar saya ke kamar yang terletak di lantai tiga.

Ini pengalaman pertama saya menginap di Airy Rooms. Akan saya tulis lebih lengkap di posting berikutnya lengkap dengan video room tour.

Dapatkan diskon langsung Rp100.000,- dengan memesan Airy Rooms di sini!


Wira-wiri Kota Lama Naik Go-Jek
Selepas istirahat sekedar mengeringkan keringat, saya pergi mandi, dan berkemas menuju Gedung Spiegel di kawasan Kota Lama. Acara YouTube Round Table sudah menunggu. Saya hanya punya waktu kurang-lebih setengah jam menuju ke sana.

Kalau saja waktunya luang, saya bisa berjalan kaki menuju Simpang Lima, lalu naik angkot ke arah Pasar Johar. Tapi saya butuh jasa angkutan yang lebih cepat, dan tentu saja tarifnya aman di kantong. Lagi-lagi saya buka deh aplikasi Go-Jek dan memesan tumpangan menuju Spiegel.

Driver bernama Sugiri Santoso menyambut order saya. Kami sempat sama-sama bingung di telepon. Pasalnya, saya menyebut "di depan Gang I, Pak." Sedangkan beliau tengah mangkal di depan gang dimaksud, tapi ujung yang lain. Tapi tak berapa lama beliau datang menjemput dan tersenyum lebar begitu melihat saya.

"Saya di depan gang tapi yang sebelah sana, Mas," katanya menjelaskan. Rupanya Gang I tembus dari Jl. Seteran Serut ke Jl. Seteran Barat. Saya menunggu di ujung gang yang Jl. Seteran Serut, sedangkan Pak Sugiri ada di ujung gang di Jl. Seteran Barat.

Berbeda dengan Mas Oky yang sikapnya terkesan formal - mungkin karena saya terlihat lebih tua darinya, Pak Sugiri sebaliknya. Slengean. Sepanjang jalan menuju Kota Lama beliau bercerita dan membanyol. Ketika menurunkan saya di area parkir Spiegel Bar & Bistro, beliau masih sempat-sempatnya membanyol soal rating bintang empat di aplikasi Go-Jek.

"Mau dikasih bintang berapa aja saya nggak pengaruh, Mas," katanya. "Tapi ya kalau bisa kasih bintang empat." Lalu tersenyum.

Oya, tarif dari Jl. Seteran Serut ke Gedung Spiegel yang berjarak 3,94 km sebesar Rp8.000.

Acara YouTube Round Table berlangsung sesuai agenda. Saya sih maunya menikmati suasana Kota Lama di malam hari terlebih dahulu sebelum balik ke Airy Eco Miroto. Tapi mendung tebal dan gerimis yang mulai turun mengubah niat tersebut. Saya putuskan langsung kembali saja ke penginapan.


Naik apa?

Untuk kali ketiga dalam empat jam saya kembali memesan Go-Jek. Dari aplikasi di hape saya tahu ada banyak driver di sekitaran Kota Lama dan Stasiun Tawang. Order saya diterima oleh driver bernama Rusmono.

Singkat cerita, saya sampai di penginapan dengan selamat. Selamat dari guyuran hujan maksudnya. Setelah mandi dan sembahyang, saya sempatkan merekam video room tour sebentar, kemudian tidur pulas hingga pagi hari.

*****

Bagi saya yang tidak hapal jurusan angkot di Semarang, plus sayang duit kalau harus naik taksi, dan malas dibawa berputar-putar oleh angkot, keberadaan Go-Jek sangat membantu sekali. Menurut saya ini adalah pilihan transportasi yang murah dan cepat, sekaligus privat.

Satu hal yang membuat saya paling senang naik Go-Jek adalah adanya kepastian tarif di muka, dan tarifnya itu terjangkau sekali. Dari beberapa kali order baik saat di Semarang maupun di Jakarta saya jadi tahu kalau tarif Go-Jek itu Rp2.000/kilometer. Sangat murah, bukan?

Terlebih menurut cerita salah satu driver, belum lama Go-Jek Semarang melakukan recruitment. Artinya, jumlah driver-nya semakin banyak sehingga calon pengguna bisa mendapatkan tumpangan lebih cepat.

Satu saja yang saya sayangkan, Go-Jek belum bekerja sama dengan ShopBack. Padahal bakal lebih asyik ya kalau tiap kali order Go-Jek via ShopBack kita dapat cashback. Walaupun nominalnya mungkin kecil, tapi kalau sering-sering kan bisa terkumpul banyak juga cashback-nya.

Jadi, harap maafkan ya kalau saya menulis tentang Go-Jek, tapi di bawah posting ini terpampang banner promosi Grab. Namanya juga usaha. Hehehe.

FOTO-FOTO:
Foto 1: Gedung Marba terlihat dari balkon Gedung Spiegel.
Foto 2: Bagian depan warung Mie Kopyok Pak Dhuwur di Jl. Tanjung.
Foto 3: Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel, atau yang lebih dikenal sebagai Gereja Blenduk, sedang menggelar misa. Terlihat mobil-mobil jamaah berjejer rapi di sekitaran gereja.

* Semua foto merupakan dokumentasi pribadi.

Kamis, 23 Maret 2017


JAM digital di dalam bus menunjukkan pukul delapan malam Waktu Indonesia Tengah (WITA) sewaktu rombongan kami mengakhiri Tur Cokelat Bali hari pertama, 6 Oktober 2016. Bus menepi di sebuah hotel dengan hiasan lampu kelap-kelip berwarna-warni. Dari balik kaca bus saya bisa melihat namanya, Grand Ixora Kuta Resort.

Dari depan, hotel berbintang empat ini tampak sederhana. Bagian muka hotel terbagi menjadi dua sisi: akes masuk ke lobi di mana meja resepsionis berada, dan restoran Bambu Roras dengan dinding kaca sehingga siapa saja dapat melihat bagian dalamnya dengan mudah.

Lantai dua restoran memiliki balkon kecil tempat di mana nama hotel tertera. Lantai di atas sepertinya kamar-kamar. Menghitung jendela-jendela besar yang tampak dari luar, paling tidak terdapat empat lantai lagi dalam bangunan yang menjulang ke atas tersebut.

Di depan restoran terdapat halaman kecil dengan dua set meja-kursi berpayung besar. Sebuah blackboard tinggi berdiri agak di tengah halaman, berisi promo yang tengah diberikan restoran pada hari itu.

Kami, rombongan peserta Tur Cokelat Bali bersama PT Frisian Flag Indonesia, langsung dibawa masuk ke lobi hotel. Tak ada pintu masuk di hotel ini, jadi akses ke lobi berupa area taman terbuka dengan aneka ragam pepohonan hijau dan hiasan lampu-lampu cantik di kanan-kiri, diselingi deretan meja-kursi dari kayu.

Meja resepsionisnya juga sangat minimalis. Terletak di samping dua lift berjejer, area resepsionis hanya berupa tembok berlapis ubin setinggi dada yang menjorok sekitar setengah meter dari dinding lobi. Di bagian atas tembok sedada inilah meja resepsionis terbuat dari kayu berwarna cokelat berada.


Dua resepsionis berseragam biru tosca berdiri di belakang meja. Satu bouquet bunga, setumpuk notes kosong, dan dua batang pena dalam wadah tergeletak di atas meja. Sesekali terdengar suara dering telepon, yang segera diangkat salah seorang dari kedua resepsionis yang melayani rombongan kami.

Pak Rahmat (tour leader) dan Pak Made (tour guide) mengambil kunci kamar pada staf hotel, sedangkan kami duduk-duduk di kursi rotan yang terdapat tepat di seberang meja resepsionis. Di dekat lift, seorang bellboy berdiri memegang troli dorong. Siap sedia mengantar tas dan koper tamu ke kamar.

Damar dan Diandra sebenarnya sudah tertidur sejak bus belum mencapai hotel. Namun saat didudukkan di kursi rotan mereka terbangun. Saya dan istri menawari welcome drink berupa orange juice, minuman kesukaan anak-anak kami. Tapi mereka hanya minum sedikit, lalu tampak tak kuasa menahan kantuk.

Setelah menerima kunci dari Pak Rahmat, saya bawa anak-anak dan istri ke dalam kamar. Kami sempat bingung di lantai mana kamar kami berada. Melihat rombongan lain masuk lift, kami ikut masuk. Untungnya, belum lagi lift naik kami bertemu seorang staf House Keeping.

Ternyata kamar kami di lantai dasar.

Sederhana, namun Elegan
Untuk ukuran hotel berbintang empat, Grand Ixora Kuta Resort tergolong sederhana. Atau lebih tepatnya simpel, namun tentu saja tetap elegan. Atau mungkin kesan ini saya tangkap karena "hanya" menginap di kamar tipe superior. Entahlah.

Saya dan anggota rombongan yang lain diinapkan dua malam di sini. Malam pertama pada 6 Oktober, dan malam kedua 10 Oktober, yaitu hari pertama dan terakhir Tur Cokelat Bali 2016. Karena padatnya jadwal tur, saya baru bisa mengeksplorasi hotel ini lebih jauh pada malam kedua.

Di malam pertama kami mendapat kamar 19 dan 21 di lantai dasar. Dua buah connecting room, di mana kamar 19 memiliki single bed dan kamar 21 twin bed.

Kamarnya tidak terlalu besar, berukuran 23 meter persegi dengan tempat tidur king size. Tapi penataan ruang yang sedemikian rupa membuat kamar-kamarnya terkesan lega.


Begitu masuk kamar kami langsung disambut pintu kamar mandi di samping. Lalu di sebelahnya ada lemari sedang dengan beberapa gantungan baju, ketel elektrik beserta dua gelas dan aneka sachet kertas berisi gula-teh-kopi, kemudian di bawahnya terletak safe deposit box.

Di seberang lemari terdapat kaca besar, berdampingan dengan tempat meletakkan bagasi yang bagian bawahnya dapat dipergunakan sebagai rak sandal atau sepatu. Di sinilah dua travel bag dan satu backpack bawaan kami diletakkan.

Bergeser ke sampingnya lagi adalah meja minimalis - hanya berupa lempengan kayu tebal menempel ke tembok - di mana pesawat telepon, remote televisi, dua botol besar air mineral, lampu belajar, dan alat tulis tergeletak. Malam sebelum kantuk datang saya biasa menyempatkan diri membuka laptop di meja ini.

Tepat di atas median meja, sebuah televisi layar datar ukuran sedang menempel di tembok, menghadap ke tempat tidur. Jadi kita bisa menonton televisi dengan nyaman sembari tidur bermalas-malasan di atas bed.

Tempat tidurnya sendiri sangat nyaman. Kasurnya tidak terlalu empuk, tapi juga tidak keras. Pas sekali untuk menjemput impian dalam lena. Bantal-bantalnya lembut dan wangi, sedangkan selimut putihnya teramat bersih dan hangat.

Saya biasanya tidak suka tidur berselimut. Tapi dua malam di Hotel Grand Ixora Kuta Resort saya selalu menyelinap di balik selimut sebelum terlelap. Padahal AC sudah disetel pada angka 25 derajat celcius, tidak terlalu dingin.


Sarapan Enak
Satu spot yang disukai anak-anak di hotel ini adalah kolam renang. Begitu tahu ada kolam renang, anak-anak yang sudah mandi pagi minta diantar ke sana. Sayangnya, pagi itu hujan rintik-rintik, jadi kami hanya bisa melihat-lihat kolam sebentar lalu kembali ke kamar sebelum sarapan.

Terletak tepat di tengah-tengah deretan kamar, ukuran swimming pool terhitung besar. Ubin biru di dasar kolam membuat airnya terlihat sangat cantik. Di beberapa titik tepian kolam terdapat pohon palem menjulang dalam pot beton berbentuk kotak.

Tamu hotel dapat bersantai-santai di tepian kolam. Ada jejeran kursi-kursi santai ala pantai berwarna putih di atas lantai kayu. Di malam hari area kolam terlihat lebih cantik lagi oleh lampu-lampu hias yang terdapat di beberapa sudut.

Dari bahasa tubuh mereka, saya tahu anak-anak sangat ingin berenang. Namun karena hujan, ditambah lagi kami harus sarapan sebelum berangkat ke destinasi berikutnya, plus mereka berdua sudah mandi, saya tidak mengajak anak-anak nyemplung.

Ketimbang berdiam di kamar, saya ajak anak-anak bersantai di restoran sembari sarapan. Ukuran restoran tak terlalu luas, namun ada lantai kedua dengan balkon yang lebih lega. Tapi saya memilih di bawah saja. Tamu juga bisa menikmati menu sarapannya di meja-kursi yang berderet di sepanjang pintu masuk sampai dekat area lobi.


Atas: Akses masuk dari luar hotel menuju ke area lobi. Tampak asri dengan aneka pepohonan.
Bawah: Area lobi yang sangat minimalis, sekaligus berfungsi sebagai akses utama keluar-masuk hotel.

Restoran dengan beberapa furniture bambu tersebut bernama Bambu Roras Resto and Bar. Selain menyediakan sarapan tetamu hotel, restoran juga terbuka bagi pengunjung umum. Di momen-momen tertentu Bambu Roras menawarkan promo dengan harga menarik. Misalnya Valentine Dinner pada 14 Februari lalu.

Berkonsep terbuka, dinding-dinding restoran terbuat dari kaca. Tamu dapat duduk menyantap makanan sembari melihat kendaraan lalu-lalang di jalan. Sebaliknya, orang-orang di luar juga dapat melihat siapa saja yang sedang makan di restoran.

Menu yang ditawarkan sangat lengkap sekali. Di dekat pintu masuk tersedia aneka jenis roti, mulai dari roti tawar sampai roti sobek, lengkap dengan selai aneka rasa. Di meja tengah ruangan terhidang rupa-rupa masakan Indonesia. Untuk lauk-pauknya tersedia sosis, ayam, tempe, juga tahu.

Menu nasi ada dua, nasi putih dan nasi goreng. Kalau tidak mau makan nasi, tersedia kentang rebus sebagai pengganti. Sumber karbohidrat lain yang bisa dipilih adalah mi yang digoreng dengan campuran sawi hijau dan cabai merah.

Setelah membukai semua wadah makanan, Damar memilih nasi goreng dan mi goreng. Ia juga minta sosis. Tadinya saya sempat berpikiran jangan-jangan sosisnya terbuat dari daging babi. Setelah bertanya pada petugas restoran, rupanya seluruh menu dijamin halal. Tidak satupun hidangan yang mengandung babi. Lega rasanya.


Lain lagi Diandra. Ia lebih banyak maunya. Setelah sarapan buah dengan saya, ia tergiur dengan roti. Eh, setelah itu minta diambilkan nasi goreng pula seperti kakaknya. Belum juga habis, ia sudah minta diambilkan ketoprak di meja sudut dekat tangga. Tobat deh.

Oya, pilihan minumannya ada banyak. Selain teh dan kopi panas, tersedia pula dua jenis jus, dan tentu saja air putih. Yang menarik, di area buah-buahan segar ada sup buah siap santap. Hmmm. Yang mau minta telur goreng, seorang chef di sudut ruangan siap membuatkan omelet.

Dua hari sarapan di sana, kami selalu dibuat puas kekenyangan.

Di Jantung Kuta
Grand Ixora Kuta Resort Bali terletak di Jl. Kartika Plaza No. 92, Kuta. Tepat berada di tengah-tengah pusat keramaian Kuta. Saat datang, saya melihat betapa hidupnya kawasan ini di waktu malam. Entah berapa belas kafe dan restoran, beberapa menyajikan live music, toko-toko souvenir, minimarket, semuanya ada di sini.

Hotel ini dapat ditempuh dalam waktu hanya sekitar 10 menit naik mobil dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Pihak hotel menyediakan angkutan antar-jemput bandara, namun saya lebih menyarankan untuk memesan taksi online karena Go-Car sudah tersedia di Bali.

Karena benar-benar berada di jantung Kuta, segala macam yang dibutuhkan untuk memanjakan kita selama liburan di Bali tersedia di kanan-kiri hotel. Terutama bank dan ATM. Hotel Grand Ixora sendiri malah diapit dua bank, BNI dan BCA.

Di hotel juga terdapat tempat spa dan pijat refleksi. Namanya Jasmine Spa & Reflexology. Tapi kalau mau spa atau massage dengan suasana berbeda di luar hotel, pilihannya ada beberapa di sepanjang Jl. Kartika Plaza.



Demikian pula dengan restoran, kafe, maupun bar. Mau yang di pinggir jalan atau di pinggir pantai, tinggal pilih saja sesuai budget. Sedangkan untuk keperluan lain-lain, dari depan hotel saya bisa melihat plang Alfamart yang hanya berjarak beberapa puluh meter. Lalu ada pula gerai-gerai Cicle K dalam radius 200-300 meter.

Kalau mau cari oleh-oleh, Krisna pusatnya oleh-oleh khas Bali cabang Tuban hanya berjarak 2,2 km dari Grand Ixora. Tepatnya terletak di Jl. Raya Tuban. Karena tidak tahu, atas saran petugas keamanan hotel waktu itu saya dan anak-istri ke Krisna naik mobil carteran. Tarifnya Rp30.000 sekali jalan.

Pilihan lebih hemat bisa memesan Go-Car, atau Go-Jek bagi yang pergi sendirian. Saya yakin tarifnya bisa kurang dari setengahnya. Kalau mau memesan Go-Jek atau Go-Car sebaiknya berjalan dulu agak menjauh dari hotel. Sebab di depan hotel biasanya ada satu-dua sopir mobil carteran.

Oya, bagi yang mau bermain air di pantai, Grand Ixora sangat dekat sekali dengan Pantai Jerman. Menurut Google Maps jaraknya hanya 650 meter, jalan kaki kira-kira sekitar 8-10 menit. Kalau mau ke Pantai Kuta, mau tak mau musti naik kendaraan karena berjarak 2 km.

Pendek kata, Grand Ixora merupakan tempat menginap yang sangat strategis. Dekat dengan bandara, pantai, dan pusat oleh-oleh. Juga berada tepat di tengah-tengah keramaian Kuta dengan atraksinya. Kurang apalagi coba?

Andai kelak ada kesempatan ke Bali lagi bersama keluarga, saya sih tidak akan ragu-ragu untuk menginap di Hotel Grand Ixora Kuta Resort lagi.

Klik di sini untuk merasakan kenyamanan menginap di Grand Ixora Kuta Resort dengan penawaran spesial dari Booking.com.



Hotel Grand Ixora Kuta Resort
Jalan Kartika Plaza No. 92, Kuta
Kabupaten Badung, Bali 80361
INDONESIA
Telp.: +62-361-759099


Foto-Foto:
Semua foto dengan watermark "BUNGEKO.COM" adalah dokumentasi pribadi, dijepret dengan Canon Powershot SX610 HS. Foto-foto lain diambil dari web www.grandixora.com dan beberapa situs booking hotel.


JAM digital di dalam bus menunjukkan pukul delapan malam Waktu Indonesia Tengah (WITA) sewaktu rombongan kami mengakhiri Tur Cokelat Bali hari pertama, 6 Oktober 2016. Bus menepi di sebuah hotel dengan hiasan lampu kelap-kelip berwarna-warni. Dari balik kaca bus saya bisa melihat namanya, Grand Ixora Kuta Resort.

Dari depan, hotel berbintang empat ini tampak sederhana. Bagian muka hotel terbagi menjadi dua sisi: akes masuk ke lobi di mana meja resepsionis berada, dan restoran Bambu Roras dengan dinding kaca sehingga siapa saja dapat melihat bagian dalamnya dengan mudah.

Lantai dua restoran memiliki balkon kecil tempat di mana nama hotel tertera. Lantai di atas sepertinya kamar-kamar. Menghitung jendela-jendela besar yang tampak dari luar, paling tidak terdapat empat lantai lagi dalam bangunan yang menjulang ke atas tersebut.

Di depan restoran terdapat halaman kecil dengan dua set meja-kursi berpayung besar. Sebuah blackboard tinggi berdiri agak di tengah halaman, berisi promo yang tengah diberikan restoran pada hari itu.

Kami, rombongan peserta Tur Cokelat Bali bersama PT Frisian Flag Indonesia, langsung dibawa masuk ke lobi hotel. Tak ada pintu masuk di hotel ini, jadi akses ke lobi berupa area taman terbuka dengan aneka ragam pepohonan hijau dan hiasan lampu-lampu cantik di kanan-kiri, diselingi deretan meja-kursi dari kayu.

Meja resepsionisnya juga sangat minimalis. Terletak di samping dua lift berjejer, area resepsionis hanya berupa tembok berlapis ubin setinggi dada yang menjorok sekitar setengah meter dari dinding lobi. Di bagian atas tembok sedada inilah meja resepsionis terbuat dari kayu berwarna cokelat berada.


Dua resepsionis berseragam biru tosca berdiri di belakang meja. Satu bouquet bunga, setumpuk notes kosong, dan dua batang pena dalam wadah tergeletak di atas meja. Sesekali terdengar suara dering telepon, yang segera diangkat salah seorang dari kedua resepsionis yang melayani rombongan kami.

Pak Rahmat (tour leader) dan Pak Made (tour guide) mengambil kunci kamar pada staf hotel, sedangkan kami duduk-duduk di kursi rotan yang terdapat tepat di seberang meja resepsionis. Di dekat lift, seorang bellboy berdiri memegang troli dorong. Siap sedia mengantar tas dan koper tamu ke kamar.

Damar dan Diandra sebenarnya sudah tertidur sejak bus belum mencapai hotel. Namun saat didudukkan di kursi rotan mereka terbangun. Saya dan istri menawari welcome drink berupa orange juice, minuman kesukaan anak-anak kami. Tapi mereka hanya minum sedikit, lalu tampak tak kuasa menahan kantuk.

Setelah menerima kunci dari Pak Rahmat, saya bawa anak-anak dan istri ke dalam kamar. Kami sempat bingung di lantai mana kamar kami berada. Melihat rombongan lain masuk lift, kami ikut masuk. Untungnya, belum lagi lift naik kami bertemu seorang staf House Keeping.

Ternyata kamar kami di lantai dasar.

Sederhana, namun Elegan
Untuk ukuran hotel berbintang empat, Grand Ixora Kuta Resort tergolong sederhana. Atau lebih tepatnya simpel, namun tentu saja tetap elegan. Atau mungkin kesan ini saya tangkap karena "hanya" menginap di kamar tipe superior. Entahlah.

Saya dan anggota rombongan yang lain diinapkan dua malam di sini. Malam pertama pada 6 Oktober, dan malam kedua 10 Oktober, yaitu hari pertama dan terakhir Tur Cokelat Bali 2016. Karena padatnya jadwal tur, saya baru bisa mengeksplorasi hotel ini lebih jauh pada malam kedua.

Di malam pertama kami mendapat kamar 19 dan 21 di lantai dasar. Dua buah connecting room, di mana kamar 19 memiliki single bed dan kamar 21 twin bed.

Kamarnya tidak terlalu besar, berukuran 23 meter persegi dengan tempat tidur king size. Tapi penataan ruang yang sedemikian rupa membuat kamar-kamarnya terkesan lega.


Begitu masuk kamar kami langsung disambut pintu kamar mandi di samping. Lalu di sebelahnya ada lemari sedang dengan beberapa gantungan baju, ketel elektrik beserta dua gelas dan aneka sachet kertas berisi gula-teh-kopi, kemudian di bawahnya terletak safe deposit box.

Di seberang lemari terdapat kaca besar, berdampingan dengan tempat meletakkan bagasi yang bagian bawahnya dapat dipergunakan sebagai rak sandal atau sepatu. Di sinilah dua travel bag dan satu backpack bawaan kami diletakkan.

Bergeser ke sampingnya lagi adalah meja minimalis - hanya berupa lempengan kayu tebal menempel ke tembok - di mana pesawat telepon, remote televisi, dua botol besar air mineral, lampu belajar, dan alat tulis tergeletak. Malam sebelum kantuk datang saya biasa menyempatkan diri membuka laptop di meja ini.

Tepat di atas median meja, sebuah televisi layar datar ukuran sedang menempel di tembok, menghadap ke tempat tidur. Jadi kita bisa menonton televisi dengan nyaman sembari tidur bermalas-malasan di atas bed.

Tempat tidurnya sendiri sangat nyaman. Kasurnya tidak terlalu empuk, tapi juga tidak keras. Pas sekali untuk menjemput impian dalam lena. Bantal-bantalnya lembut dan wangi, sedangkan selimut putihnya teramat bersih dan hangat.

Saya biasanya tidak suka tidur berselimut. Tapi dua malam di Hotel Grand Ixora Kuta Resort saya selalu menyelinap di balik selimut sebelum terlelap. Padahal AC sudah disetel pada angka 25 derajat celcius, tidak terlalu dingin.


Sarapan Enak
Satu spot yang disukai anak-anak di hotel ini adalah kolam renang. Begitu tahu ada kolam renang, anak-anak yang sudah mandi pagi minta diantar ke sana. Sayangnya, pagi itu hujan rintik-rintik, jadi kami hanya bisa melihat-lihat kolam sebentar lalu kembali ke kamar sebelum sarapan.

Terletak tepat di tengah-tengah deretan kamar, ukuran swimming pool terhitung besar. Ubin biru di dasar kolam membuat airnya terlihat sangat cantik. Di beberapa titik tepian kolam terdapat pohon palem menjulang dalam pot beton berbentuk kotak.

Tamu hotel dapat bersantai-santai di tepian kolam. Ada jejeran kursi-kursi santai ala pantai berwarna putih di atas lantai kayu. Di malam hari area kolam terlihat lebih cantik lagi oleh lampu-lampu hias yang terdapat di beberapa sudut.

Dari bahasa tubuh mereka, saya tahu anak-anak sangat ingin berenang. Namun karena hujan, ditambah lagi kami harus sarapan sebelum berangkat ke destinasi berikutnya, plus mereka berdua sudah mandi, saya tidak mengajak anak-anak nyemplung.

Ketimbang berdiam di kamar, saya ajak anak-anak bersantai di restoran sembari sarapan. Ukuran restoran tak terlalu luas, namun ada lantai kedua dengan balkon yang lebih lega. Tapi saya memilih di bawah saja. Tamu juga bisa menikmati menu sarapannya di meja-kursi yang berderet di sepanjang pintu masuk sampai dekat area lobi.


Atas: Akses masuk dari luar hotel menuju ke area lobi. Tampak asri dengan aneka pepohonan.
Bawah: Area lobi yang sangat minimalis, sekaligus berfungsi sebagai akses utama keluar-masuk hotel.

Restoran dengan beberapa furniture bambu tersebut bernama Bambu Roras Resto and Bar. Selain menyediakan sarapan tetamu hotel, restoran juga terbuka bagi pengunjung umum. Di momen-momen tertentu Bambu Roras menawarkan promo dengan harga menarik. Misalnya Valentine Dinner pada 14 Februari lalu.

Berkonsep terbuka, dinding-dinding restoran terbuat dari kaca. Tamu dapat duduk menyantap makanan sembari melihat kendaraan lalu-lalang di jalan. Sebaliknya, orang-orang di luar juga dapat melihat siapa saja yang sedang makan di restoran.

Menu yang ditawarkan sangat lengkap sekali. Di dekat pintu masuk tersedia aneka jenis roti, mulai dari roti tawar sampai roti sobek, lengkap dengan selai aneka rasa. Di meja tengah ruangan terhidang rupa-rupa masakan Indonesia. Untuk lauk-pauknya tersedia sosis, ayam, tempe, juga tahu.

Menu nasi ada dua, nasi putih dan nasi goreng. Kalau tidak mau makan nasi, tersedia kentang rebus sebagai pengganti. Sumber karbohidrat lain yang bisa dipilih adalah mi yang digoreng dengan campuran sawi hijau dan cabai merah.

Setelah membukai semua wadah makanan, Damar memilih nasi goreng dan mi goreng. Ia juga minta sosis. Tadinya saya sempat berpikiran jangan-jangan sosisnya terbuat dari daging babi. Setelah bertanya pada petugas restoran, rupanya seluruh menu dijamin halal. Tidak satupun hidangan yang mengandung babi. Lega rasanya.


Lain lagi Diandra. Ia lebih banyak maunya. Setelah sarapan buah dengan saya, ia tergiur dengan roti. Eh, setelah itu minta diambilkan nasi goreng pula seperti kakaknya. Belum juga habis, ia sudah minta diambilkan ketoprak di meja sudut dekat tangga. Tobat deh.

Oya, pilihan minumannya ada banyak. Selain teh dan kopi panas, tersedia pula dua jenis jus, dan tentu saja air putih. Yang menarik, di area buah-buahan segar ada sup buah siap santap. Hmmm. Yang mau minta telur goreng, seorang chef di sudut ruangan siap membuatkan omelet.

Dua hari sarapan di sana, kami selalu dibuat puas kekenyangan.

Di Jantung Kuta
Grand Ixora Kuta Resort Bali terletak di Jl. Kartika Plaza No. 92, Kuta. Tepat berada di tengah-tengah pusat keramaian Kuta. Saat datang, saya melihat betapa hidupnya kawasan ini di waktu malam. Entah berapa belas kafe dan restoran, beberapa menyajikan live music, toko-toko souvenir, minimarket, semuanya ada di sini.

Hotel ini dapat ditempuh dalam waktu hanya sekitar 10 menit naik mobil dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Pihak hotel menyediakan angkutan antar-jemput bandara, namun saya lebih menyarankan untuk memesan taksi online karena Go-Car sudah tersedia di Bali.

Karena benar-benar berada di jantung Kuta, segala macam yang dibutuhkan untuk memanjakan kita selama liburan di Bali tersedia di kanan-kiri hotel. Terutama bank dan ATM. Hotel Grand Ixora sendiri malah diapit dua bank, BNI dan BCA.

Di hotel juga terdapat tempat spa dan pijat refleksi. Namanya Jasmine Spa & Reflexology. Tapi kalau mau spa atau massage dengan suasana berbeda di luar hotel, pilihannya ada beberapa di sepanjang Jl. Kartika Plaza.



Demikian pula dengan restoran, kafe, maupun bar. Mau yang di pinggir jalan atau di pinggir pantai, tinggal pilih saja sesuai budget. Sedangkan untuk keperluan lain-lain, dari depan hotel saya bisa melihat plang Alfamart yang hanya berjarak beberapa puluh meter. Lalu ada pula gerai-gerai Cicle K dalam radius 200-300 meter.

Kalau mau cari oleh-oleh, Krisna pusatnya oleh-oleh khas Bali cabang Tuban hanya berjarak 2,2 km dari Grand Ixora. Tepatnya terletak di Jl. Raya Tuban. Karena tidak tahu, atas saran petugas keamanan hotel waktu itu saya dan anak-istri ke Krisna naik mobil carteran. Tarifnya Rp30.000 sekali jalan.

Pilihan lebih hemat bisa memesan Go-Car, atau Go-Jek bagi yang pergi sendirian. Saya yakin tarifnya bisa kurang dari setengahnya. Kalau mau memesan Go-Jek atau Go-Car sebaiknya berjalan dulu agak menjauh dari hotel. Sebab di depan hotel biasanya ada satu-dua sopir mobil carteran.

Oya, bagi yang mau bermain air di pantai, Grand Ixora sangat dekat sekali dengan Pantai Jerman. Menurut Google Maps jaraknya hanya 650 meter, jalan kaki kira-kira sekitar 8-10 menit. Kalau mau ke Pantai Kuta, mau tak mau musti naik kendaraan karena berjarak 2 km.

Pendek kata, Grand Ixora merupakan tempat menginap yang sangat strategis. Dekat dengan bandara, pantai, dan pusat oleh-oleh. Juga berada tepat di tengah-tengah keramaian Kuta dengan atraksinya. Kurang apalagi coba?

Andai kelak ada kesempatan ke Bali lagi bersama keluarga, saya sih tidak akan ragu-ragu untuk menginap di Hotel Grand Ixora Kuta Resort lagi.

Klik di sini untuk merasakan kenyamanan menginap di Grand Ixora Kuta Resort dengan penawaran spesial dari Booking.com.



Hotel Grand Ixora Kuta Resort
Jalan Kartika Plaza No. 92, Kuta
Kabupaten Badung, Bali 80361
INDONESIA
Telp.: +62-361-759099


Foto-Foto:
Semua foto dengan watermark "BUNGEKO.COM" adalah dokumentasi pribadi, dijepret dengan Canon Powershot SX610 HS. Foto-foto lain diambil dari web www.grandixora.com dan beberapa situs booking hotel.

Sabtu, 18 Maret 2017


APA yang paling membuatmu penasaran saat berkunjung ke tempat baru? Kalau saya ada dua hal. Pertama, cerita atau sejarah daerah tersebut sehingga saya selalu tertarik mengunjungi situs-situs bersejarah yang ada di sana. Kedua, kuliner alias makanan dan minuman khasnya.

Demikian pula saat menyebut nama Tidore. Soal sejarah, saya sudah menulis satu artikel panjang yang merangkum perjalanan Kesultanan Tidore sejak 1521. Saya seorang history enthusiast, jadi jangan heran kalau artikel yang saya hasilkan begitu panjang. Silakan baca ya.

Baca juga: Visit Tidore Island - Menelusuri Jejak Sejarah Pulau Rempah

Nah, bicara kuliner setidaknya ada lima makanan-minuman khas Tidore yang memikat mata sekaligus perut saya. Tentu saja ini kuliner yang belum pernah saya cicipi sebelumnya. Jadi, benar-benar membuat penasaran dan ngiler berat.

Sejak ratusan tahun lalu Tidore dikenal sebagai penghasil rempah-rempah berkualitas baik. Melimpahnya pala, cengkeh, dan lada yang dihasilkan Kesultanan Tidore membuat pedagang-pedagang asing berdatangan kemari. Pedagang Jawa, Melayu, India, Arab, sampai kemudian bangsa-bangsa Eropa yang sangat bernafsu menguasai daerah ini.

Dengan kekayaan rempah-rempah seperti itu, jangan heran kalau Tidore mempunyai kuliner khas yang sedapnya menggoda. Oke, setidaknya ini dari apa yang saya baca dan foto-foto yang bertebaran di Google, juga beberapa situs kuliner. Mudah-mudahan kelak saya dapat kesempatan menyambangi Tidore dan membuktikan sendiri hal tersebut.

Jadi, andaikan saja ada yang khilaf mengajak ke Tidore, saya paling penasaran sama lima kuliner berikut. Saya pilih kuliner yang benar-benar khas baik paduan bahan baku pembuatan, bentuk, kemasan, maupun cara penyajiannya. Sebisa mungkin makanan tersebut juga bukan yang mudah ditemui di tempat lain, khususnya di Jawa.

Apa saja? Yuk, kita intip sama-sama berdasarkan referensi sana-sini!


1. Popeda
Popeda adalah olahan sagu yang dimasak, direbus. Kalau kamu tahu lem Glucol, kira-kira seperti itulah teksturnya. Kenyal-kenyal dan lengket, serta tentu saja tidak ada rasanya. Karena itu popeda musti dimakan dengan sayur berkuah, dan yang paling umum dijadikan pelengkapnya adalah ikan kuah kuning.

Awalnya saya bingung bagaimana bisa orang Tidore makan popeda, yang cuma beda satu huruf dengan papeda. Selama ini yang saya tahu papeda adalah makanan khas Papua. Semasa kos di Jogja, ada tetangga saya orang Bugis yang lahir dan besar di Papua. Namanya Mutmainnah, lebih beken sebagai Mbak Inna.

Nah, Mbak Inna ini buka warung makan di Jl. Kusumanegara, tepat di depan Pamela Swalayan/Toko Flora. Karena pelanggannya banyak mahasiswa Papua, Mbak Inna juga menyediakan papeda.

Jadi, saya pikir papeda itu makanan khas Papua. Tapi setelah membaca lebih banyak sejarah Tidore, saya punya kesimpulan berbeda. Sangat besar kemungkinan justru orang Tidore-lah yang memperkenalkan popeda ke Papua, sebab dulu wilayah Kesultanan Tidore mencapai Raja Ampat dan sebagian besar wilayah kepala burung Pulau Papua.

2. Tela Gule
Hanya sedikit informasi mengenai makanan satu ini di Google, apatah lagi mencari fotonya. Satu-satunya foto yang dapat saya lihat ada di buku panduan wisata Explore the Enchanting Tidore terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan.

Tela gule adalah makanan olahan jagung. Digiling hingga halus, lalu dimasak seperti nasi. Saya kontan teringat sega jagung-nya orang Jawa, tapi penyajian tela gule tampaknya berbeda. Sebab sega jagung hanya ditumbuk kasar lalu dikukus, tidak sampai digiling halus.

Menurut beberapa blog milik ngofa (putera asli) Tidore yang saya temui, tela gule bakal terasa lebih sedap jika dimakan dengan masakan-masakan lain. Wa bil khusus sayur berkuah santan. Misalnya dalo waho (sayur lilin), foki pele (terong dimasak santan), uge ake (rebusan bunga pepaya dan daun kelor), ditambah ikan goreng.

Pendek kata, meski judulnya cuma mencicipi tela gule, tapi saya juga bisa makan banyak makanan khas Tidore lainnya. Sekali lahap, 4-5 makanan ditelan. Hehehe.

Btw, benar-benar sulit mencari foto maupun video tela gule di Google maupun media lain di internet. Sepertinya suatu saat saya memang harus ke Tidore untuk mendokumentasikan makanan satu ini, baik dalam bentuk foto, video, dan tentu saja posting blog. Insya Allah.


3. Berbagai Olahan Sagu
Benar, sagu bisa jadi bahan pembuatan lem kertas. Tapi makanan bernama sagu di Tidore tidak cuma terbuat dari tepung pohon sagu. Ada sagu berupa makanan kering yang terbuat dari singkong alias ketela. Sagu yang ini biasanya dimakan dengan gohu (daging ikan mentah dicincang dan dibumbui) atau dabu-dabu (campuran sayuran mentah dengan bumbu dasar dan minyak goreng).

Lagi-lagi, niat mencicipi sagu saja membuat saya bakal ikut menikmati dua makanan khas Tidore lainnya. Alangkah pintarnya saya ini :)

Ada lagi sagu lempeng atau sagu kasbi (hula keta), yang disajikan dalam keadaan matang dipanggang. Kalau terbuat dari tepung sagu namanya hula garo, sedangkan yang terbuat dari tepung singkong dinamai hula daso.

Sagu lempeng yang selesai dipanggang biasanya masih lembek selama beberapa hari. Sagu lempeng begini oleh orang Tidore disebut sagu lombo, dan cocoknya dimakan dengan gohu seperti pada foto di awal posting.

Kalau dalam keadaan kering, sagu lempeng dapat bertahan sangat lama. Menurut catatan pelaut Inggris, konon, sagu lempeng kering pemberian Sultan Baabullah (Kesultanan Ternate) yang mereka bawa dapat bertahan setidaknya 10 tahun.


4. Kopi Dabe
Cukup dengan aneka makanan khas, dari minuman saya paling penasaran dengan kopi dabe. Sesuai namanya tentu saja ini kopi. Kata "dabe" dalam bahasa Tidore berarti "baku tambah" alias "saling menambahkan." Ditambah apa? Ditambah rempah-rempah pilihan sehingga membuat rasanya berbeda dari kopi kebanyakan.

Pembuatan kopi dabe tak ubahnya kopi lain, yakni diseduh air mendidih dan diberi gula sebagai pemanis. Bedanya, air yang dipakai menyeduh kopi adalah rebusan aneka rempah seperti jahe, kayu manis, cengkeh, dan pala. Terkadang juga ditambah daun pandan untuk memberi aroma wangi.

Kopi dabe sudah ada sejak jaman dahulu kala. Sejak ratusan tahun lalu. Konon, dulu kopi ini hanya disajikan untuk tetamu kehormatan Sultan Tidore.

Masa itu, membuatnya pun harus menggunakan belanga khusus terbuat dari tanah liat yang didatangkan dari Pulau Mare, pulau di selatan Tidore. Karenanya belanga itu disebut balanga mare. Tapi kini pembuatan kopi dabe sudah memakai panci-panci modern. Malah nyaris tak ada lagi yang menggunakan belanga tanah liat.

Oya, kopi dabe benar-benar minuman khas Tidore. Bahkan di Ternate yang hanya berjarak sepelemparan batu pun tidak dijumpai minuman ini.


5. Kue Asidah
Melengkapi makanan berat dan minuman, saya pungkasi daftar ini dengan jajanan khas Tidore. Dan dari sekian macam jajanan yang ada, saya paling penasaran ingin mencicipi kue asidah. Kenapa? Alasan satu-satunya karena kue ini tidak mirip kue-kue yang pernah saya makan di Jawa.

Konon, kue asidah adalah makanan khas Tidore yang terpengaruh budaya Arab. Warna merah kecoklatan pada kue ini aslinya dikarenakan kandungan kurma yang menjadi salah satu bahan. Namun demi menghemat biaya pembuatan ada pula yang berkreasi mengganti kurma dengan gula aren.

Boleh jadi kue asidah diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Arab yang dulu singgah ke Kesultanan Tidore saat mencari rempah-rempah. Karenanya ada juga yang menyebut kue ini sebagai dodol Arab mengingat bentuk dan teksturnya yang memang mirip dodol.

Meski mirip dodol, yang membuat kue asidah berbeda adalah cita rasa serta cara penyajiannya. Kalau dodol di Jawa biasanya dicetak persegi lalu dipotong-potong kecil, tanpa tambahan apa-apa, kue asidah disajikan berbentuk separuh bola di atas piring. Kemudian disiram ghee (mentega India) di atasnya sebagai topping.

Saya pun membayangkan, betapa nikmatnya mencamil kue asidah sembari mereguk kopi dabe panas-panas pada sore hari, menyaksikan matahari terbenam dari tepi Pantai Rum. Atau dari sejuknya Desa Kalaodi. Ah, jadi berkhayal deh.

Ya Allah, Baim ingin visit Tidore Island dan mencicipi makanan-minuman khasnya yang bikin ngiler ini. Insya Allah...

Ini tulisan kedua untuk diikut-sertakan dalam Lomba Menulis Blog "Tidore untuk Indonesia" yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan. Tulisan ini tidak menang, tapi saya tetap jadi salah satu pemenang berkat tulisan pertama. Judul dan isi posting ini saya ubah sedikit nggak apa-apa kan ya?

Referensi:
Buku Explore the Enchanting Tidore
https://sofyandaudgarasi.blogspot.co.id/2017/02/tidore-dan-hasanahnya_20.html
http://gamalamanews.com/2017/01/25/kopi-dabe-minuman-kaya-rempah-khas-tidore/
http://jagowisata.blogspot.co.id/2014/12/papeda-makanan-khas-tidore.html
http://blog.jalamalut.com/2016/11/di-balik-secangkir-kopi-rempah.html
http://ulinulin.com/posts/mencicipi-papeda-kolaborasi-sagu-dengan-ikan-khas-tidore
http://jdfoodiary.blogspot.co.id/2014/12/culinary-makanan-khas-maluku-utara.html
http://dapurkaysa.blogspot.co.id/2012/08/asida-ambon-tu-mirip-dengan-indonesia.html


Foto-Foto:
Sagu dan Gohu: http://jdfoodiary.blogspot.co.id/2014/12/culinary-makanan-khas-maluku-utara.html
Popeda: thumbnail video di https://www.youtube.com/watch?v=Epp-RXPtVcY
Sagu Lempeng: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sago_starch_product_sagu_lempeng_from_Maluku,ID_feb2002.jpg
Kopi Dabe: http://blog.jalamalut.com/2016/11/di-balik-secangkir-kopi-rempah.html
Kue Asidah: http://dapurkaysa.blogspot.co.id/2012/08/asida-ambon-tu-mirip-dengan-indonesia.html


APA yang paling membuatmu penasaran saat berkunjung ke tempat baru? Kalau saya ada dua hal. Pertama, cerita atau sejarah daerah tersebut sehingga saya selalu tertarik mengunjungi situs-situs bersejarah yang ada di sana. Kedua, kuliner alias makanan dan minuman khasnya.

Demikian pula saat menyebut nama Tidore. Soal sejarah, saya sudah menulis satu artikel panjang yang merangkum perjalanan Kesultanan Tidore sejak 1521. Saya seorang history enthusiast, jadi jangan heran kalau artikel yang saya hasilkan begitu panjang. Silakan baca ya.

Baca juga: Visit Tidore Island - Menelusuri Jejak Sejarah Pulau Rempah

Nah, bicara kuliner setidaknya ada lima makanan-minuman khas Tidore yang memikat mata sekaligus perut saya. Tentu saja ini kuliner yang belum pernah saya cicipi sebelumnya. Jadi, benar-benar membuat penasaran dan ngiler berat.

Sejak ratusan tahun lalu Tidore dikenal sebagai penghasil rempah-rempah berkualitas baik. Melimpahnya pala, cengkeh, dan lada yang dihasilkan Kesultanan Tidore membuat pedagang-pedagang asing berdatangan kemari. Pedagang Jawa, Melayu, India, Arab, sampai kemudian bangsa-bangsa Eropa yang sangat bernafsu menguasai daerah ini.

Dengan kekayaan rempah-rempah seperti itu, jangan heran kalau Tidore mempunyai kuliner khas yang sedapnya menggoda. Oke, setidaknya ini dari apa yang saya baca dan foto-foto yang bertebaran di Google, juga beberapa situs kuliner. Mudah-mudahan kelak saya dapat kesempatan menyambangi Tidore dan membuktikan sendiri hal tersebut.

Jadi, andaikan saja ada yang khilaf mengajak ke Tidore, saya paling penasaran sama lima kuliner berikut. Saya pilih kuliner yang benar-benar khas baik paduan bahan baku pembuatan, bentuk, kemasan, maupun cara penyajiannya. Sebisa mungkin makanan tersebut juga bukan yang mudah ditemui di tempat lain, khususnya di Jawa.

Apa saja? Yuk, kita intip sama-sama berdasarkan referensi sana-sini!


1. Popeda
Popeda adalah olahan sagu yang dimasak, direbus. Kalau kamu tahu lem Glucol, kira-kira seperti itulah teksturnya. Kenyal-kenyal dan lengket, serta tentu saja tidak ada rasanya. Karena itu popeda musti dimakan dengan sayur berkuah, dan yang paling umum dijadikan pelengkapnya adalah ikan kuah kuning.

Awalnya saya bingung bagaimana bisa orang Tidore makan popeda, yang cuma beda satu huruf dengan papeda. Selama ini yang saya tahu papeda adalah makanan khas Papua. Semasa kos di Jogja, ada tetangga saya orang Bugis yang lahir dan besar di Papua. Namanya Mutmainnah, lebih beken sebagai Mbak Inna.

Nah, Mbak Inna ini buka warung makan di Jl. Kusumanegara, tepat di depan Pamela Swalayan/Toko Flora. Karena pelanggannya banyak mahasiswa Papua, Mbak Inna juga menyediakan papeda.

Jadi, saya pikir papeda itu makanan khas Papua. Tapi setelah membaca lebih banyak sejarah Tidore, saya punya kesimpulan berbeda. Sangat besar kemungkinan justru orang Tidore-lah yang memperkenalkan popeda ke Papua, sebab dulu wilayah Kesultanan Tidore mencapai Raja Ampat dan sebagian besar wilayah kepala burung Pulau Papua.

2. Tela Gule
Hanya sedikit informasi mengenai makanan satu ini di Google, apatah lagi mencari fotonya. Satu-satunya foto yang dapat saya lihat ada di buku panduan wisata Explore the Enchanting Tidore terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan.

Tela gule adalah makanan olahan jagung. Digiling hingga halus, lalu dimasak seperti nasi. Saya kontan teringat sega jagung-nya orang Jawa, tapi penyajian tela gule tampaknya berbeda. Sebab sega jagung hanya ditumbuk kasar lalu dikukus, tidak sampai digiling halus.

Menurut beberapa blog milik ngofa (putera asli) Tidore yang saya temui, tela gule bakal terasa lebih sedap jika dimakan dengan masakan-masakan lain. Wa bil khusus sayur berkuah santan. Misalnya dalo waho (sayur lilin), foki pele (terong dimasak santan), uge ake (rebusan bunga pepaya dan daun kelor), ditambah ikan goreng.

Pendek kata, meski judulnya cuma mencicipi tela gule, tapi saya juga bisa makan banyak makanan khas Tidore lainnya. Sekali lahap, 4-5 makanan ditelan. Hehehe.

Btw, benar-benar sulit mencari foto maupun video tela gule di Google maupun media lain di internet. Sepertinya suatu saat saya memang harus ke Tidore untuk mendokumentasikan makanan satu ini, baik dalam bentuk foto, video, dan tentu saja posting blog. Insya Allah.


3. Berbagai Olahan Sagu
Benar, sagu bisa jadi bahan pembuatan lem kertas. Tapi makanan bernama sagu di Tidore tidak cuma terbuat dari tepung pohon sagu. Ada sagu berupa makanan kering yang terbuat dari singkong alias ketela. Sagu yang ini biasanya dimakan dengan gohu (daging ikan mentah dicincang dan dibumbui) atau dabu-dabu (campuran sayuran mentah dengan bumbu dasar dan minyak goreng).

Lagi-lagi, niat mencicipi sagu saja membuat saya bakal ikut menikmati dua makanan khas Tidore lainnya. Alangkah pintarnya saya ini :)

Ada lagi sagu lempeng atau sagu kasbi (hula keta), yang disajikan dalam keadaan matang dipanggang. Kalau terbuat dari tepung sagu namanya hula garo, sedangkan yang terbuat dari tepung singkong dinamai hula daso.

Sagu lempeng yang selesai dipanggang biasanya masih lembek selama beberapa hari. Sagu lempeng begini oleh orang Tidore disebut sagu lombo, dan cocoknya dimakan dengan gohu seperti pada foto di awal posting.

Kalau dalam keadaan kering, sagu lempeng dapat bertahan sangat lama. Menurut catatan pelaut Inggris, konon, sagu lempeng kering pemberian Sultan Baabullah (Kesultanan Ternate) yang mereka bawa dapat bertahan setidaknya 10 tahun.


4. Kopi Dabe
Cukup dengan aneka makanan khas, dari minuman saya paling penasaran dengan kopi dabe. Sesuai namanya tentu saja ini kopi. Kata "dabe" dalam bahasa Tidore berarti "baku tambah" alias "saling menambahkan." Ditambah apa? Ditambah rempah-rempah pilihan sehingga membuat rasanya berbeda dari kopi kebanyakan.

Pembuatan kopi dabe tak ubahnya kopi lain, yakni diseduh air mendidih dan diberi gula sebagai pemanis. Bedanya, air yang dipakai menyeduh kopi adalah rebusan aneka rempah seperti jahe, kayu manis, cengkeh, dan pala. Terkadang juga ditambah daun pandan untuk memberi aroma wangi.

Kopi dabe sudah ada sejak jaman dahulu kala. Sejak ratusan tahun lalu. Konon, dulu kopi ini hanya disajikan untuk tetamu kehormatan Sultan Tidore.

Masa itu, membuatnya pun harus menggunakan belanga khusus terbuat dari tanah liat yang didatangkan dari Pulau Mare, pulau di selatan Tidore. Karenanya belanga itu disebut balanga mare. Tapi kini pembuatan kopi dabe sudah memakai panci-panci modern. Malah nyaris tak ada lagi yang menggunakan belanga tanah liat.

Oya, kopi dabe benar-benar minuman khas Tidore. Bahkan di Ternate yang hanya berjarak sepelemparan batu pun tidak dijumpai minuman ini.


5. Kue Asidah
Melengkapi makanan berat dan minuman, saya pungkasi daftar ini dengan jajanan khas Tidore. Dan dari sekian macam jajanan yang ada, saya paling penasaran ingin mencicipi kue asidah. Kenapa? Alasan satu-satunya karena kue ini tidak mirip kue-kue yang pernah saya makan di Jawa.

Konon, kue asidah adalah makanan khas Tidore yang terpengaruh budaya Arab. Warna merah kecoklatan pada kue ini aslinya dikarenakan kandungan kurma yang menjadi salah satu bahan. Namun demi menghemat biaya pembuatan ada pula yang berkreasi mengganti kurma dengan gula aren.

Boleh jadi kue asidah diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Arab yang dulu singgah ke Kesultanan Tidore saat mencari rempah-rempah. Karenanya ada juga yang menyebut kue ini sebagai dodol Arab mengingat bentuk dan teksturnya yang memang mirip dodol.

Meski mirip dodol, yang membuat kue asidah berbeda adalah cita rasa serta cara penyajiannya. Kalau dodol di Jawa biasanya dicetak persegi lalu dipotong-potong kecil, tanpa tambahan apa-apa, kue asidah disajikan berbentuk separuh bola di atas piring. Kemudian disiram ghee (mentega India) di atasnya sebagai topping.

Saya pun membayangkan, betapa nikmatnya mencamil kue asidah sembari mereguk kopi dabe panas-panas pada sore hari, menyaksikan matahari terbenam dari tepi Pantai Rum. Atau dari sejuknya Desa Kalaodi. Ah, jadi berkhayal deh.

Ya Allah, Baim ingin visit Tidore Island dan mencicipi makanan-minuman khasnya yang bikin ngiler ini. Insya Allah...

Ini tulisan kedua untuk diikut-sertakan dalam Lomba Menulis Blog "Tidore untuk Indonesia" yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tidore Kepulauan. Tulisan ini tidak menang, tapi saya tetap jadi salah satu pemenang berkat tulisan pertama. Judul dan isi posting ini saya ubah sedikit nggak apa-apa kan ya?

Referensi:
Buku Explore the Enchanting Tidore
https://sofyandaudgarasi.blogspot.co.id/2017/02/tidore-dan-hasanahnya_20.html
http://gamalamanews.com/2017/01/25/kopi-dabe-minuman-kaya-rempah-khas-tidore/
http://jagowisata.blogspot.co.id/2014/12/papeda-makanan-khas-tidore.html
http://blog.jalamalut.com/2016/11/di-balik-secangkir-kopi-rempah.html
http://ulinulin.com/posts/mencicipi-papeda-kolaborasi-sagu-dengan-ikan-khas-tidore
http://jdfoodiary.blogspot.co.id/2014/12/culinary-makanan-khas-maluku-utara.html
http://dapurkaysa.blogspot.co.id/2012/08/asida-ambon-tu-mirip-dengan-indonesia.html


Foto-Foto:
Sagu dan Gohu: http://jdfoodiary.blogspot.co.id/2014/12/culinary-makanan-khas-maluku-utara.html
Popeda: thumbnail video di https://www.youtube.com/watch?v=Epp-RXPtVcY
Sagu Lempeng: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sago_starch_product_sagu_lempeng_from_Maluku,ID_feb2002.jpg
Kopi Dabe: http://blog.jalamalut.com/2016/11/di-balik-secangkir-kopi-rempah.html
Kue Asidah: http://dapurkaysa.blogspot.co.id/2012/08/asida-ambon-tu-mirip-dengan-indonesia.html