Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Rabu, 30 November 2016


PETER Benjamin Parker awalnya cuma seorang mahasiswa culun bin lugu. Berkaca mata, potongan rambut belah pinggir, dandanan biasa banget, ditambah mudah grogi terlebih bila berhadapan dengan gadis pujaannya, Peter bukanlah tipe cowok idaman. Tapi semuanya berubah gara-gara satu insiden kecil: Peter digigit laba-laba!

Sejak itu Peter menjelma jadi seorang pemuda dengan kekuatan lebih, kekuatan super. Tangannya dapat mengeluarkan jejaring halus namun liat seperti laba-laba. Ia bisa memanjat dinding semudah cicak, juga melompat tinggi sekali seolah-olah tubuhnya hanyalah segumpal kapas.

"With great power there must also come great responsibility," demikian pesan Paman Ben sebelum meninggal. Pesan yang menyadarkan Peter bahwa kekuatan super yang ia miliki bukan untuk dirinya sendiri.

Super power tersebut memberinya peran lebih. Ia bukan lagi sekedar mahasiswa biasa yang tinggal bersama Bibi May nan renta. Ia dapat berubah menjadi pahlawan super berpakaian laba-laba, menangkap penjahat kota, sampai mengalahkan musuh-musuh tangguh.

Karena Peter menyembunyikan identitasnya sebagai si Manusia Laba-Laba, tak ada yang menyangka jika mahasiswa culun itulah sang super hero kebanggaan warga kota New York. Ia bisa saja tertinggal bus jemputan kampus di pagi hari, lalu dalam sekejap berubah menjadi Spiderman yang melenting lincah dari satu gedung ke gedung lain mengejar penjahat.


Peran Peter bertambah karena ia masih harus bekerja mencari uang. Ia pernah jadi pengantar pizza, sebelum akhirnya diterima sebagai fotografer lepas di harian Daily Bugle. Lucunya, Peter berhasil memikat perhatian J. Jonah Jameson sang bos besar Daily Bugle dengan menyodorkan foto-foto Spiderman hasil bidikannya.

Bayangkan betapa sibuknya seorang Peter Parker. Ia adalah Spiderman yang sehari-harinya berstatus mahasiswa, pengantar pizza yang diupah berdasarkan jumlah hantaran, serta bekerja sambilan sebagai fotografer lepas. Mary Jane Watson harusnya dapat memaklumi jika Peter sampai terlambat menyaksikan pementasan teater malam itu.

Blogger + Video Maker + Fan Sepakbola
Rasanya bakal banyak yang bilang "maksa banget sih," tapi saya kok merasa mirip dengan Peter Parker. Okelah, saya memang tidak bisa berubah jadi Manusia Laba-Laba ataupun Manusia Harimau. Tapi beragam peran yang harus dijalankan sekaligus dalam kehidupan sehari-hari, disitulah kesamaan saya dengan Peter.

Selain rambut belah pinggir sih. :)

Bicara profesi, saya adalah seorang penulis lepas dengan media blog sebagai senjata utama. Karenanya predikat blogger pun tersemat. Dari awalnya hanya menulis hal-hal bersifat remeh-temeh, blog saya kemudian menampung posting berbayar. Sponsored post istilah kerennya. Dari sinilah saya mendapatkan penghasilan.

Selain ngeblog saya juga menulis di sejumlah situs sebagai content writer, dengan target sekian tulisan sehari, dibayar sekian rupiah sebulan. Lalu terkadang mengirim artikel di media dengan honor beberapa ratus ribu rupiah. Lumayan.

Seiring dengan perubahan kebiasan audiens dunia maya, saya coba belajar membuat video. Orang lebih suka menyaksikan gambar bergerak ketimbang membaca teks. Video bakal menggeser artikel. The Guardian melaporkan, konten video diprediksi mencapai 69% dari semua lalu lintas internet di tahun 2017.


Saya tentu tak mau tertinggal. Saya harus bisa mengikuti perkembangan, dan ikut beralih ke konten video. Sebagai ajang praktek, saya mengelola channel YouTube dan secara reguler mengunggah 2-3 video sepekan. Embel-embel saya pun bertambah: video maker, sekalipun saya tambahi kata "amateur" di depannya karena memang masih tahap belajar.

Membuat video ini boleh dibilang hobi baru tapi lama. Sejak memegang handphone berkamera pada medio 2007, saya jadi gandrung merekam tiap kejadian unik yang ditemui. Sayangnya masa itu saya belum bisa beli komputer yang bisa untuk video editing, jadi kumpulan footage tersebut tak pernah diolah.

Sekalipun hobi, membuat video memberikan pemasukan tambahan bagi saya. Channel YouTube saya sudah menjadi partner Google. Video-video yang diunggah di sana menghasilkan sejumlah uang dari penayangan iklan Google AdSense. Belum banyak sih, tapi sudah membuat saya bolak-balik mencairkan kiriman Western Union ke kantor pos.

Nah, yang murni hobi adalah menonton sepakbola. Saya pendukung klub Liverpool FC yang bertanding di Liga Inggris. Setiap akhir pekan saya menyempatkan diri nonton bareng (nobar) dengan teman-teman sesama penggemar LFC di Pemalang. Kalau tidak ada nobar saya nonton secara live streaming di rumah pakai laptop Acer kesayangan.

Kecintaan saya pada Liverpool FC jangan ditanya. Saya berangkat ke Jakarta sewaktu klub asal Kota Liverpool ini bertanding melawan tim Indonesia XI di Stadion Gelora Bung Karno, Juni 2013 lalu. Saya nyaris berangkat ke Kuala Lumpur tahun lalu juga untuk menonton Liverpool secara langsung. Impian terbesar saya adalah terbang ke Inggris dan menyaksikan Si Merah bertanding di Stadion Anfield.


Saya sama sekali tak menghasilkan apa-apa dari aktivitas satu ini, kecuali kesenangan batin. Terlebih kalau Liverpool menang. Justru sebenarnya menghabiskan uang, baik untuk membayar tiket nobar maupun membeli beragam merchandise klub. Tapi namanya hobi ya mau bagaimana lagi. Iya, kan?

Blogger, content writer, menulis artikel untuk media, video maker atau sebutlah YouTuber, dan suporter Liverpool FC. Sudah sama kan dengan Peter Parker yang punya peran macam-macam?

Saling Melengkapi
Dari seabrek kegiatan tadi, ngeblog dan membuat video paling dominan dalam keseharian saya. Sekaligus yang selalu saya prioritaskan dengan urutan 1) blog, 2) video. Maklum, dari dua aktivitas inilah saya bisa mendapat uang.

Saya melihat keduanya saling melengkapi. Dengan menguasai skill pembuatan video, level saya sebagai blogger bakal meningkat. Konten di blog saya jadi lebih kaya. Selain teks dengan ilustrasi visual berupa gambar dan foto, juga ditambahi video yang melibatkan lebih banyak indera.

Misalnya ketika menceritakan betapa serunya liburan keluarga ke Bali pada Oktober lalu, saya tambahkan video dalam posting sehingga pembaca dapat ikut menyaksikan tempat-tempat yang saya kunjungi.


Menambahkan video pada posting membuat pembaca lebih lama berada di blog. Ini menguntungkan secara teknis, sebab artikel bersangkutan mendapat nilai lebih dari Google dan ditempatkan di posisi lebih baik dalam halaman hasil pencarian.

Namun demikian, sejatinya ini adalah dua kegiatan yang sama sekali berbeda lho. Menulis posting di blog dan membuat video sulit dijalankan beriringan. Keduanya sama-sama membutuhkan waktu dan effort luar biasa dalam penggarapannya. Kalau antrian penulisan posting panjang, saya tidak bisa menggarap video hari itu.

Demikian sebaliknya, kalau sudah asyik menggarap video saya tidak akan melongok blog. Bahkan sepulang dari Bali saya sempat berhari-hari tidak online karena antrian pembuatan video sangat panjang. Setelah punya stok video, barulah saya beralih ke blog.

Karena sama-sama butuh waktu dan effort besar, saya dituntut pandai mengatur ritme agar tetap dapat meng-update blog sembari rutin membuat video untuk YouTube. Selain itu, saya juga musti didukung oleh perangkat hebat yang mampu membantu mengerjakan semua pekerjaan tersebut.


Switchable Me!
Selama ini saya mengandalkan laptop Acer Aspire E1-422 untuk menulis dan mengedit video. Laptop ini sangat powerful kalau hanya untuk menulis dan ngeblog. Garap video? Masih bisa sih, tapi sebenarnya saya agak memaksa.

RAM 2 GB dan prosesor dual-core di Acer Aspire saya hanya memenuhi spesifikasi minimum Magix Movie Edit Pro 2016 yang saya pakai untuk mengedit video. Sudah beberapa bulan terakhir saya membayangkan punya laptop lebih oke. Laptop dengan kemampuan super sehingga membantu saya menjadi Super Blogger.

Berita baiknya, Acer belum lama ini meluncurkan laptop hybrid 2-in-1 Switch Alpa 12. Sesuai namanya, perangkat ini dapat digunakan dalam dua fungsi: laptop atau tablet. Bagian monitor dan bodinya dapat dipisah. Kalau tidak dipakai untuk mengetik, lepas saja monitornya dan Acer Switch Alpa 12 berubah jadi tablet.

Coba lihat sendiri pada foto di atas. Keren, kan?


Prosesor jempolan, RAM besar
Melongok ke spesifikasinya, Switch Alpa 12 seolah menjawab keinginan saya. Pilihan prosesor ada dua: Intel® Core™ i5-6200U dan Intel® Core™ i7-6500U, tinggal pilih mana yang sesuai budget kamu. Kalau kantong saya sih... :)

Intel Core i5 saja sudah melebihi ekspektasi saya yang hanya mengidam-idamkan seri i3. Saya sudah bisa membayangkan betapa mulusnya mengedit video dengan dukungan prosesor i5. Padahal dengan prosesor AMD E1-2500 di laptop Acer Aspire E1-422 yang saya pakai saat ini saja sudah bisa menghasilkan setidaknya tiga video sepekan.

Intel® Core™ i5 dan i7 generasi ke-6 pada Switch Alpha 12 menjamin perangkat ini memberikan performa tinggi. Dukungan teknologi Hyper-Threading memungkinkan kedua buah intinya bekerja dua kali lebih banyak dibanding prosesor dual-core standar. Dual-core rasa quad-core.

Coba simak video berikut untuk mengetahui bagaimana teknologi Hyper-Threading bekerja.


Teknologi Hyper-Threading membuat Switch Alpha 12 dapat menjalankan banyak aplikasi sekaligus dalam waktu bersamaan, tapi dengan konsumsi listrik lebih sedikit. Dan dijamin nggak bakal nge-lag lagi!

Untuk urusan RAM juga ada dua pilihan. Yang terkecil 4GB, dan pilihan kedua 8GB. Bagi saya, ambil yang 4GB pun sudah lebih dari cukup untuk menjalankan aplikasi olah video yang rakus memori. RAM selega ini bakal membuat preview video pada Magix Movie Edit Pro tampil tanpa putus-putus. Tambahan graphic card Intel® HD Graphics 520 membuat saya makin mupeng. Nabung, nabung...


Monitor jernih dan nyaman di mata
Mengedit video itu nggak sebentar lho. Untuk video berdurasi 5 menit saja setidaknya saya butuh waktu antara 2-3 jam. Belum termasuk rendering. Semakin panjang durasi video, terlebih bila footage-nya banyak, tambah lama pulalah waktu yang dibutuhkan.

Terlalu lama menatap monitor membuat mata tidak nyaman. Tapi itu tidak akan saya alami kalau memakai Acer Switch Alpa 12. Monitornya dilengkapi fitur Acer BlueLight Shield untuk melindungi mata dari emisi cahaya biru yang dipancarkan monitor. Cahaya inilah penyebab mata cepat lelah dan kering.

Dengan lebar 12", monitor Switch Alpa memiliki resolusi tinggi, yakni QHD (2160 x 1440). Teknologi IPS yang digunakan membuat monitor memiliki area pandang lebih luas, tetap jernih dipandang dari sudut manapun, cocok sekali untuk menggarap video. Ketika digunakan sebagai tablet, monitornya sangat responsif pada sentuhan tangan dan dilengkapi fitur Multi Touch.


Transfer data secepat kilat
Bahan pembuatan video adalah footage yang direkam menggunakan kamera. Saya selalu membawa setidaknya tiga jenis kamera saat bepergian: kamera saku, action cam, dan handycam. Ini masih ditambah kamera smartphone sebagai perangkat cadangan. Kalau butuh voice over, saya merekamnya pakai mikrofon yang dihubungkan dengan digital voice recorder.

Agar dapat diedit dan disatukan jadi video yang enak ditonton, pertama-tama tentu saya harus memindahkan seluruh data tersebut ke laptop. Ukuran file-nya jangan ditanya. Besar-besar semua, Masbro. Soalnya saya selalu set kamera untuk merekam di resolusi high-definition (1920x720 piksel).

Namun itu tak jadi masalah bila menggunakan Switch Alpha 12. Laptop ini dibekali USB 3.1 Type-C. Ini USB versi terbaru yang dapat mentransfer data dengan kecepatan 5 Gbps. Artinya, saya dapat memindahkan satu folder berisi video berukuran 5 GB hanya dalam waktu sedetik. Wow!

Kelebihan lain USB 3.1 Type-C adalah port-nya bolak-balik sehingga memudahkan kita saat mencolokkannya ke laptop. Praktis, no ribet.


Harddisk terbaik
Masih urusan cepat-cepatan, Acer Switch Alpha 12 memakai harddisk tipe Solid State Drive (SSD). Memakai ini laptop lebih cepat menyala karena proses booting menggunakan SSD lebih cepat. Demikian pula loading program-program yang hendak dipakai, termasuk program video editing.

Tipe yang lebih murah dibekali SSD berkapasitas 256GB, sedangkan yang lebih mahal SSD-nya 512GB. Ini sebenarnya termasuk kecil, apalagi kalau laptop dipakai untuk menampung file-file video. Tapi saya yakin kita bisa menggantinya dengan harddisk berkapasitas lebih besar. Kalaupun tidak, pakai saja harddisk eksternal. Beres!


Tanpa kipas, tidak berisik
Semakin lama dipakai, laptop biasanya menjadi semakin panas. Kalau panasnya terlalu tinggi (overheat), laptop bisa hang lalu error dan seringkali mati sendiri. Karenanya saya selalu memakai kipas pendingin yang diletakkan di bawah laptop. Berisik? Jangan ditanya.

Mengatasi hal tersebut, Acer Switch Alpha 12 memakai teknologi pendingin yang dinamai Acer LiquidLoop. Tak ada kipas yang dipakai. Sebagai gantinya dipasang pipa-pipa kecil berisi cairan pendingin untuk menstabilkan suhu prosesor secara optimal.

Berkat teknologi ini, Switch Alpha 12 jadi notebook berprosesor Intel Core pertama yang tak memakai kipas. Karena tanpa kipas, laptop ini tidak mengeluarkan suara berisik saat digunakan. Ketiadaan kipas juga membuat konsumsi baterai lebih hemat, yang berarti laptop bisa hidup lebih lama.


Multifungsi
Bukan tanpa alasan Acer menamai Switch Alpha 12 sebagai laptop hybrid. Perangkat ini memang dirancang untuk memenuhi dua fungsi sekaligus, laptop dan tablet. Tergantung kebutuhan, kita dapat melepas monitor dari bagian bodi.

Saya sendiri kalau tidak sedang menggarap video atau menulis blog biasa menghabiskan waktu untuk browsing dan menonton YouTube. Kalau punya Switch Alpa 12, menonton video bakal puas sekali karena monitornya 12". Tablet yang selama ini saya pakai monitornya hanya 7".

Dengan resolusi QHD (2160 x 1440) dan teknologi IPS, mata saya bakal sangat dimanjakan oleh tampilan di layar. Alamat betah nonton YouTube nih. Hihihi.

Spesifikasi Acer Switch Alpha 12
Processor

● Intel® Core™ i5-6200U processor (3 MB L3 cache, up to 2.8 GHz)

● Intel® Core™ i7-6500U processor (4 MB L3 cache, up to 3.1 GHz)

OS Windows 10 Home 64-bit
Storage

● 256GB SSD

● 512GB SSD

Memory

● 4GB DDR3

● 8GB DDR3

Graphic Intel® HD Graphics 520
Connection

● Wifi 802.11a/b/g/n/ac

● Bluetooth® 4.0

Battery Capacity 4,870 mAh / up to 8 hours
Display 12″ IPS QHD (2160 x 1440) Multi Touch
Dimension 292.1 (W) x 201.4 (D) x 15.85 (H) mm – pad and dock
Weight 1.25 kg
Camera 5 MP Camera
Port

● 1x USB 3.0

● 1x USB 3.1 Type C

● 1x Micro SD card slot

Color Options Silver


Jadi Super Blogger
Dulu di awal-awal saya ngeblog, blogger itu hanya menulis posting di blognya. Yang penting update secara rutin, kemudian sempatkan mengunjungi blog lain. Selesai.

Jaman sudah berbeda. Kini blogger juga dituntut menguasai sosial media. Biasanya job datang dalam bentuk paket, posting blog dan update sosmed. Nah, YouTube dengan konten videonya termasuk sosial media. Dan seperti diberitakan The Guardian, tahun depan konten video bakal lebih dominan di internet.

Di sini blogger lagi-lagi dituntut menguasai skill baru: video editing atau malah video producing. Ini skill yang tidak mudah, tapi sebenarnya tidak sulit jika mau serius belajar. Jika sudah menguasainya, maka semakin komplitlah kemampuan kita sebagai seorang blogger.

Menulis adalah kemampuan dasar seorang blogger. Tidak ada nilai lebih yang dapat kita tawarkan kalau hanya mengandalkan kemampuan menulis. Karenanya kita harus mengembangkan diri, menambah kemampuan dengan mempelajari skill baru. Saya sendiri sangat menyarankan agar teman-teman mulai mempelajari video editing.

Bayangkan ada blogger yang jago menulis, piawai buzzing memanfaatkan sosial media (setidaknya Facebook, Twitter, dan Instagram), serta mahir membuat video. Wah, saya tak akan segan-segan menyebutnya sebagai Super Blogger. Dan saya mau jadi seperti itu.

Dengan usaha yang tekun, doa yang khusyuk, serta dukungan perangkat keren seperti Acer Switch Alpha 12, saya yakin suatu saat dapat mencapai level tersebut. Allahumma amin.

Semoga bermanfaat!


Foto & Ilustrasi:
Foto 1: Olah gambar, foto dari www.acer.com
Foto 2: http://theredlist.com/wiki-2-24-224-267-view-fiction-profile-peter-parkermary-jane.html
Foto 3, 4: Dokumentasi pribadi
Foto 5: http://drenicapress.info/prezantohet-tableti-kompjuter-acer-switch-alpha-12/
Foto 6-11: Olah gambar, foto dari www.acer.com
Foto 12: https://www.engadget.com/2016/04/21/acers-switch-alpha-12-is-a-silent-liquid-cooled-hybrid-laptop/


PETER Benjamin Parker awalnya cuma seorang mahasiswa culun bin lugu. Berkaca mata, potongan rambut belah pinggir, dandanan biasa banget, ditambah mudah grogi terlebih bila berhadapan dengan gadis pujaannya, Peter bukanlah tipe cowok idaman. Tapi semuanya berubah gara-gara satu insiden kecil: Peter digigit laba-laba!

Sejak itu Peter menjelma jadi seorang pemuda dengan kekuatan lebih, kekuatan super. Tangannya dapat mengeluarkan jejaring halus namun liat seperti laba-laba. Ia bisa memanjat dinding semudah cicak, juga melompat tinggi sekali seolah-olah tubuhnya hanyalah segumpal kapas.

"With great power there must also come great responsibility," demikian pesan Paman Ben sebelum meninggal. Pesan yang menyadarkan Peter bahwa kekuatan super yang ia miliki bukan untuk dirinya sendiri.

Super power tersebut memberinya peran lebih. Ia bukan lagi sekedar mahasiswa biasa yang tinggal bersama Bibi May nan renta. Ia dapat berubah menjadi pahlawan super berpakaian laba-laba, menangkap penjahat kota, sampai mengalahkan musuh-musuh tangguh.

Karena Peter menyembunyikan identitasnya sebagai si Manusia Laba-Laba, tak ada yang menyangka jika mahasiswa culun itulah sang super hero kebanggaan warga kota New York. Ia bisa saja tertinggal bus jemputan kampus di pagi hari, lalu dalam sekejap berubah menjadi Spiderman yang melenting lincah dari satu gedung ke gedung lain mengejar penjahat.


Peran Peter bertambah karena ia masih harus bekerja mencari uang. Ia pernah jadi pengantar pizza, sebelum akhirnya diterima sebagai fotografer lepas di harian Daily Bugle. Lucunya, Peter berhasil memikat perhatian J. Jonah Jameson sang bos besar Daily Bugle dengan menyodorkan foto-foto Spiderman hasil bidikannya.

Bayangkan betapa sibuknya seorang Peter Parker. Ia adalah Spiderman yang sehari-harinya berstatus mahasiswa, pengantar pizza yang diupah berdasarkan jumlah hantaran, serta bekerja sambilan sebagai fotografer lepas. Mary Jane Watson harusnya dapat memaklumi jika Peter sampai terlambat menyaksikan pementasan teater malam itu.

Blogger + Video Maker + Fan Sepakbola
Rasanya bakal banyak yang bilang "maksa banget sih," tapi saya kok merasa mirip dengan Peter Parker. Okelah, saya memang tidak bisa berubah jadi Manusia Laba-Laba ataupun Manusia Harimau. Tapi beragam peran yang harus dijalankan sekaligus dalam kehidupan sehari-hari, disitulah kesamaan saya dengan Peter.

Selain rambut belah pinggir sih. :)

Bicara profesi, saya adalah seorang penulis lepas dengan media blog sebagai senjata utama. Karenanya predikat blogger pun tersemat. Dari awalnya hanya menulis hal-hal bersifat remeh-temeh, blog saya kemudian menampung posting berbayar. Sponsored post istilah kerennya. Dari sinilah saya mendapatkan penghasilan.

Selain ngeblog saya juga menulis di sejumlah situs sebagai content writer, dengan target sekian tulisan sehari, dibayar sekian rupiah sebulan. Lalu terkadang mengirim artikel di media dengan honor beberapa ratus ribu rupiah. Lumayan.

Seiring dengan perubahan kebiasan audiens dunia maya, saya coba belajar membuat video. Orang lebih suka menyaksikan gambar bergerak ketimbang membaca teks. Video bakal menggeser artikel. The Guardian melaporkan, konten video diprediksi mencapai 69% dari semua lalu lintas internet di tahun 2017.


Saya tentu tak mau tertinggal. Saya harus bisa mengikuti perkembangan, dan ikut beralih ke konten video. Sebagai ajang praktek, saya mengelola channel YouTube dan secara reguler mengunggah 2-3 video sepekan. Embel-embel saya pun bertambah: video maker, sekalipun saya tambahi kata "amateur" di depannya karena memang masih tahap belajar.

Membuat video ini boleh dibilang hobi baru tapi lama. Sejak memegang handphone berkamera pada medio 2007, saya jadi gandrung merekam tiap kejadian unik yang ditemui. Sayangnya masa itu saya belum bisa beli komputer yang bisa untuk video editing, jadi kumpulan footage tersebut tak pernah diolah.

Sekalipun hobi, membuat video memberikan pemasukan tambahan bagi saya. Channel YouTube saya sudah menjadi partner Google. Video-video yang diunggah di sana menghasilkan sejumlah uang dari penayangan iklan Google AdSense. Belum banyak sih, tapi sudah membuat saya bolak-balik mencairkan kiriman Western Union ke kantor pos.

Nah, yang murni hobi adalah menonton sepakbola. Saya pendukung klub Liverpool FC yang bertanding di Liga Inggris. Setiap akhir pekan saya menyempatkan diri nonton bareng (nobar) dengan teman-teman sesama penggemar LFC di Pemalang. Kalau tidak ada nobar saya nonton secara live streaming di rumah pakai laptop Acer kesayangan.

Kecintaan saya pada Liverpool FC jangan ditanya. Saya berangkat ke Jakarta sewaktu klub asal Kota Liverpool ini bertanding melawan tim Indonesia XI di Stadion Gelora Bung Karno, Juni 2013 lalu. Saya nyaris berangkat ke Kuala Lumpur tahun lalu juga untuk menonton Liverpool secara langsung. Impian terbesar saya adalah terbang ke Inggris dan menyaksikan Si Merah bertanding di Stadion Anfield.


Saya sama sekali tak menghasilkan apa-apa dari aktivitas satu ini, kecuali kesenangan batin. Terlebih kalau Liverpool menang. Justru sebenarnya menghabiskan uang, baik untuk membayar tiket nobar maupun membeli beragam merchandise klub. Tapi namanya hobi ya mau bagaimana lagi. Iya, kan?

Blogger, content writer, menulis artikel untuk media, video maker atau sebutlah YouTuber, dan suporter Liverpool FC. Sudah sama kan dengan Peter Parker yang punya peran macam-macam?

Saling Melengkapi
Dari seabrek kegiatan tadi, ngeblog dan membuat video paling dominan dalam keseharian saya. Sekaligus yang selalu saya prioritaskan dengan urutan 1) blog, 2) video. Maklum, dari dua aktivitas inilah saya bisa mendapat uang.

Saya melihat keduanya saling melengkapi. Dengan menguasai skill pembuatan video, level saya sebagai blogger bakal meningkat. Konten di blog saya jadi lebih kaya. Selain teks dengan ilustrasi visual berupa gambar dan foto, juga ditambahi video yang melibatkan lebih banyak indera.

Misalnya ketika menceritakan betapa serunya liburan keluarga ke Bali pada Oktober lalu, saya tambahkan video dalam posting sehingga pembaca dapat ikut menyaksikan tempat-tempat yang saya kunjungi.


Menambahkan video pada posting membuat pembaca lebih lama berada di blog. Ini menguntungkan secara teknis, sebab artikel bersangkutan mendapat nilai lebih dari Google dan ditempatkan di posisi lebih baik dalam halaman hasil pencarian.

Namun demikian, sejatinya ini adalah dua kegiatan yang sama sekali berbeda lho. Menulis posting di blog dan membuat video sulit dijalankan beriringan. Keduanya sama-sama membutuhkan waktu dan effort luar biasa dalam penggarapannya. Kalau antrian penulisan posting panjang, saya tidak bisa menggarap video hari itu.

Demikian sebaliknya, kalau sudah asyik menggarap video saya tidak akan melongok blog. Bahkan sepulang dari Bali saya sempat berhari-hari tidak online karena antrian pembuatan video sangat panjang. Setelah punya stok video, barulah saya beralih ke blog.

Karena sama-sama butuh waktu dan effort besar, saya dituntut pandai mengatur ritme agar tetap dapat meng-update blog sembari rutin membuat video untuk YouTube. Selain itu, saya juga musti didukung oleh perangkat hebat yang mampu membantu mengerjakan semua pekerjaan tersebut.


Switchable Me!
Selama ini saya mengandalkan laptop Acer Aspire E1-422 untuk menulis dan mengedit video. Laptop ini sangat powerful kalau hanya untuk menulis dan ngeblog. Garap video? Masih bisa sih, tapi sebenarnya saya agak memaksa.

RAM 2 GB dan prosesor dual-core di Acer Aspire saya hanya memenuhi spesifikasi minimum Magix Movie Edit Pro 2016 yang saya pakai untuk mengedit video. Sudah beberapa bulan terakhir saya membayangkan punya laptop lebih oke. Laptop dengan kemampuan super sehingga membantu saya menjadi Super Blogger.

Berita baiknya, Acer belum lama ini meluncurkan laptop hybrid 2-in-1 Switch Alpa 12. Sesuai namanya, perangkat ini dapat digunakan dalam dua fungsi: laptop atau tablet. Bagian monitor dan bodinya dapat dipisah. Kalau tidak dipakai untuk mengetik, lepas saja monitornya dan Acer Switch Alpa 12 berubah jadi tablet.

Coba lihat sendiri pada foto di atas. Keren, kan?


Prosesor jempolan, RAM besar
Melongok ke spesifikasinya, Switch Alpa 12 seolah menjawab keinginan saya. Pilihan prosesor ada dua: Intel® Core™ i5-6200U dan Intel® Core™ i7-6500U, tinggal pilih mana yang sesuai budget kamu. Kalau kantong saya sih... :)

Intel Core i5 saja sudah melebihi ekspektasi saya yang hanya mengidam-idamkan seri i3. Saya sudah bisa membayangkan betapa mulusnya mengedit video dengan dukungan prosesor i5. Padahal dengan prosesor AMD E1-2500 di laptop Acer Aspire E1-422 yang saya pakai saat ini saja sudah bisa menghasilkan setidaknya tiga video sepekan.

Intel® Core™ i5 dan i7 generasi ke-6 pada Switch Alpha 12 menjamin perangkat ini memberikan performa tinggi. Dukungan teknologi Hyper-Threading memungkinkan kedua buah intinya bekerja dua kali lebih banyak dibanding prosesor dual-core standar. Dual-core rasa quad-core.

Coba simak video berikut untuk mengetahui bagaimana teknologi Hyper-Threading bekerja.


Teknologi Hyper-Threading membuat Switch Alpha 12 dapat menjalankan banyak aplikasi sekaligus dalam waktu bersamaan, tapi dengan konsumsi listrik lebih sedikit. Dan dijamin nggak bakal nge-lag lagi!

Untuk urusan RAM juga ada dua pilihan. Yang terkecil 4GB, dan pilihan kedua 8GB. Bagi saya, ambil yang 4GB pun sudah lebih dari cukup untuk menjalankan aplikasi olah video yang rakus memori. RAM selega ini bakal membuat preview video pada Magix Movie Edit Pro tampil tanpa putus-putus. Tambahan graphic card Intel® HD Graphics 520 membuat saya makin mupeng. Nabung, nabung...


Monitor jernih dan nyaman di mata
Mengedit video itu nggak sebentar lho. Untuk video berdurasi 5 menit saja setidaknya saya butuh waktu antara 2-3 jam. Belum termasuk rendering. Semakin panjang durasi video, terlebih bila footage-nya banyak, tambah lama pulalah waktu yang dibutuhkan.

Terlalu lama menatap monitor membuat mata tidak nyaman. Tapi itu tidak akan saya alami kalau memakai Acer Switch Alpa 12. Monitornya dilengkapi fitur Acer BlueLight Shield untuk melindungi mata dari emisi cahaya biru yang dipancarkan monitor. Cahaya inilah penyebab mata cepat lelah dan kering.

Dengan lebar 12", monitor Switch Alpa memiliki resolusi tinggi, yakni QHD (2160 x 1440). Teknologi IPS yang digunakan membuat monitor memiliki area pandang lebih luas, tetap jernih dipandang dari sudut manapun, cocok sekali untuk menggarap video. Ketika digunakan sebagai tablet, monitornya sangat responsif pada sentuhan tangan dan dilengkapi fitur Multi Touch.


Transfer data secepat kilat
Bahan pembuatan video adalah footage yang direkam menggunakan kamera. Saya selalu membawa setidaknya tiga jenis kamera saat bepergian: kamera saku, action cam, dan handycam. Ini masih ditambah kamera smartphone sebagai perangkat cadangan. Kalau butuh voice over, saya merekamnya pakai mikrofon yang dihubungkan dengan digital voice recorder.

Agar dapat diedit dan disatukan jadi video yang enak ditonton, pertama-tama tentu saya harus memindahkan seluruh data tersebut ke laptop. Ukuran file-nya jangan ditanya. Besar-besar semua, Masbro. Soalnya saya selalu set kamera untuk merekam di resolusi high-definition (1920x720 piksel).

Namun itu tak jadi masalah bila menggunakan Switch Alpha 12. Laptop ini dibekali USB 3.1 Type-C. Ini USB versi terbaru yang dapat mentransfer data dengan kecepatan 5 Gbps. Artinya, saya dapat memindahkan satu folder berisi video berukuran 5 GB hanya dalam waktu sedetik. Wow!

Kelebihan lain USB 3.1 Type-C adalah port-nya bolak-balik sehingga memudahkan kita saat mencolokkannya ke laptop. Praktis, no ribet.


Harddisk terbaik
Masih urusan cepat-cepatan, Acer Switch Alpha 12 memakai harddisk tipe Solid State Drive (SSD). Memakai ini laptop lebih cepat menyala karena proses booting menggunakan SSD lebih cepat. Demikian pula loading program-program yang hendak dipakai, termasuk program video editing.

Tipe yang lebih murah dibekali SSD berkapasitas 256GB, sedangkan yang lebih mahal SSD-nya 512GB. Ini sebenarnya termasuk kecil, apalagi kalau laptop dipakai untuk menampung file-file video. Tapi saya yakin kita bisa menggantinya dengan harddisk berkapasitas lebih besar. Kalaupun tidak, pakai saja harddisk eksternal. Beres!


Tanpa kipas, tidak berisik
Semakin lama dipakai, laptop biasanya menjadi semakin panas. Kalau panasnya terlalu tinggi (overheat), laptop bisa hang lalu error dan seringkali mati sendiri. Karenanya saya selalu memakai kipas pendingin yang diletakkan di bawah laptop. Berisik? Jangan ditanya.

Mengatasi hal tersebut, Acer Switch Alpha 12 memakai teknologi pendingin yang dinamai Acer LiquidLoop. Tak ada kipas yang dipakai. Sebagai gantinya dipasang pipa-pipa kecil berisi cairan pendingin untuk menstabilkan suhu prosesor secara optimal.

Berkat teknologi ini, Switch Alpha 12 jadi notebook berprosesor Intel Core pertama yang tak memakai kipas. Karena tanpa kipas, laptop ini tidak mengeluarkan suara berisik saat digunakan. Ketiadaan kipas juga membuat konsumsi baterai lebih hemat, yang berarti laptop bisa hidup lebih lama.


Multifungsi
Bukan tanpa alasan Acer menamai Switch Alpha 12 sebagai laptop hybrid. Perangkat ini memang dirancang untuk memenuhi dua fungsi sekaligus, laptop dan tablet. Tergantung kebutuhan, kita dapat melepas monitor dari bagian bodi.

Saya sendiri kalau tidak sedang menggarap video atau menulis blog biasa menghabiskan waktu untuk browsing dan menonton YouTube. Kalau punya Switch Alpa 12, menonton video bakal puas sekali karena monitornya 12". Tablet yang selama ini saya pakai monitornya hanya 7".

Dengan resolusi QHD (2160 x 1440) dan teknologi IPS, mata saya bakal sangat dimanjakan oleh tampilan di layar. Alamat betah nonton YouTube nih. Hihihi.

Spesifikasi Acer Switch Alpha 12
Processor

● Intel® Core™ i5-6200U processor (3 MB L3 cache, up to 2.8 GHz)

● Intel® Core™ i7-6500U processor (4 MB L3 cache, up to 3.1 GHz)

OS Windows 10 Home 64-bit
Storage

● 256GB SSD

● 512GB SSD

Memory

● 4GB DDR3

● 8GB DDR3

Graphic Intel® HD Graphics 520
Connection

● Wifi 802.11a/b/g/n/ac

● Bluetooth® 4.0

Battery Capacity 4,870 mAh / up to 8 hours
Display 12″ IPS QHD (2160 x 1440) Multi Touch
Dimension 292.1 (W) x 201.4 (D) x 15.85 (H) mm – pad and dock
Weight 1.25 kg
Camera 5 MP Camera
Port

● 1x USB 3.0

● 1x USB 3.1 Type C

● 1x Micro SD card slot

Color Options Silver


Jadi Super Blogger
Dulu di awal-awal saya ngeblog, blogger itu hanya menulis posting di blognya. Yang penting update secara rutin, kemudian sempatkan mengunjungi blog lain. Selesai.

Jaman sudah berbeda. Kini blogger juga dituntut menguasai sosial media. Biasanya job datang dalam bentuk paket, posting blog dan update sosmed. Nah, YouTube dengan konten videonya termasuk sosial media. Dan seperti diberitakan The Guardian, tahun depan konten video bakal lebih dominan di internet.

Di sini blogger lagi-lagi dituntut menguasai skill baru: video editing atau malah video producing. Ini skill yang tidak mudah, tapi sebenarnya tidak sulit jika mau serius belajar. Jika sudah menguasainya, maka semakin komplitlah kemampuan kita sebagai seorang blogger.

Menulis adalah kemampuan dasar seorang blogger. Tidak ada nilai lebih yang dapat kita tawarkan kalau hanya mengandalkan kemampuan menulis. Karenanya kita harus mengembangkan diri, menambah kemampuan dengan mempelajari skill baru. Saya sendiri sangat menyarankan agar teman-teman mulai mempelajari video editing.

Bayangkan ada blogger yang jago menulis, piawai buzzing memanfaatkan sosial media (setidaknya Facebook, Twitter, dan Instagram), serta mahir membuat video. Wah, saya tak akan segan-segan menyebutnya sebagai Super Blogger. Dan saya mau jadi seperti itu.

Dengan usaha yang tekun, doa yang khusyuk, serta dukungan perangkat keren seperti Acer Switch Alpha 12, saya yakin suatu saat dapat mencapai level tersebut. Allahumma amin.

Semoga bermanfaat!


Foto & Ilustrasi:
Foto 1: Olah gambar, foto dari www.acer.com
Foto 2: http://theredlist.com/wiki-2-24-224-267-view-fiction-profile-peter-parkermary-jane.html
Foto 3, 4: Dokumentasi pribadi
Foto 5: http://drenicapress.info/prezantohet-tableti-kompjuter-acer-switch-alpha-12/
Foto 6-11: Olah gambar, foto dari www.acer.com
Foto 12: https://www.engadget.com/2016/04/21/acers-switch-alpha-12-is-a-silent-liquid-cooled-hybrid-laptop/

Senin, 28 November 2016


PERNAH lihat tawaran content placement dengan fee menggiurkan, tapi tidak bisa ikut daftar karena kepentok syarat blog harus top level domain? Jangan habiskan waktu untuk menyesali diri. Segera ambil tindakan: beli nama domain! Sebab ada banyak sekali keunggulan menggunakan top level domain untuk blogmu.

"Halo. Saya sedang membutuhkan banyak blog untuk campaign sebuah situs belanja online. Artikel disediakan, blogger tinggal publish. Fee Rp1.000.000,- dipotong pajak. Syarat: top level domain, DA minimal 35.
Pendaftaran: https://goo.gl/S3ND1R1"

Saya termasuk beruntung. Ketika pertama kali mencoba mencari uang dengan blog pada akhir 2007, top level domain tak menjadi isu penting. Saya tetap bisa mendapat job dan menghasilkan fee yang lumayan dalam bentuk dolar meski mengandalkan blog di Blogger.com. Ya, blog-blog gratis dengan nama domain berakhirkan .blogspot.com itu.

Masa itu parameternya hanya pagerank. Semakin tinggi pagerank suatu blog, semakin mudah mendapatkan tawaran sponsored post atau sponsored review. Dan berkat kerajinan saya — atau malah karena kurang kerjaan ya? :) — meng-update blog dan blogwalking setiap hari, blog-blog yang saya kelola pagerank-nya bagus-bagus. Job demi job pun mengalir. Alhamdulillah.

Cerita lebih lengkap mengenai pengalaman pertama saya menghasilkan dolar dari internet bisa dibaca di sini.

Sampai suatu ketika ada satu kejadian yang membuat saya berubah pikiran dan merasa perlu mempunyai nama domain sendiri. Kejadian remeh sebenarnya. Seorang kawan lama yang saya ceritai tentang aktivitas saya ngeblog dan meraup dolar secara online merasa tertarik. Maklum, dua tahun lulus kuliah kawan saya ini menganggur.

Kira-kira begini percakapan kami waktu itu:

Kawan Lama: Jadi kamu nulis di blog terus dapet uang dari tulisan berbayar, gitu?
Saya: Yo'i.
Kawan Lama: Emang bisa nyampe berapa dapetnya sebulan?
Saya: Nggak banyak sih. Kisaran 200-200 dolar sebulan. Jelek-jeleknya 150 dolar.
Kawan Lama: Wuih, banyak itu! UMP sini aja nggak sampe sejuta.
Saya: Alhamdulillah. Lumayan untuk tambah-tambah jatah beli buku.
Kawan Lama: Ajarin dong. Aku juga maulah gitu. Nama blogmu apa?
Saya: (Nyebutin alamat blog pribadi yang masih berbuntut .blogspot.com)
Kawan Lama: Oke, nanti kalo pas ke warnet aku lihat-lihat blog.


Kira-kira sepekan berselang kami bertemu lagi. Saya dengan semangat bertanya apakah si kawan lama sudah berkunjung ke blog atau belum. Eh, jawabannya benar-benar membuat saya melongo macam kebo.

"Sorry, aku lupa alamat blogmu. Yang kuingat cuma blogspot-blogspot itu aja," jawabnya sambil cengengesan.

OMG!


Nama Domain sebagai Identitas Blog
Sejak itu saya berpikiran blog harus memakai nama domain sendiri. Ya, saya tidak memakai kata "seharusnya" melainkan "harus" di sini untuk menekankan bahwa ini penting bagi blogger. Terutama yang ingin karirnya di blogosphere awet.

Alasannya? Ada ratusan juta — bahkan mungkin menyentuh angka milyaran — situs dan blog di jagat internet saat ini. Menurut data Domain Name Industry Brief (DNIB) yang dilansir Verisign.com, pada Kuartal II tahun 2016 ini saja ada 334,6 juta registrasi nama domain baru di seluruh dunia meliputi seluruh TLD.

Angka tersebut naik 2,4% dari kuartal pertama. Dari jumlah sebanyak itu, 8,6 juta di antaranya merupakan registrasi .com dan .net sebagai dua TLD global terpopuler.

Oya, itu belum ditambah dengan blog yang masih menggunakan nama domain gratisan seperti .blogspot.com atau .wordpress.com. Kalau semuanya di-grand total bisa jadi jumlahnya sebanyak bintang di langit dan pasir di pantai. Tak terhitung!


Bagaimana membuat orang dengan mudah mengenali blog kita? Jawabannya, nama domain.

Apa yang dialami kawan lama saya sebenarnya pernah saya alami juga di awal-awal belajar ngeblog. Thanks to Google dulu saya banyak menemui blog-blog bagus yang isinya sangat membantu saya dalam mengembangkan blog. Sayang, karena kebanyakan blog tersebut menggunakan alamat asli dari Blogger saya kesulitan mengingatnya satu demi satu. Tak ingat maka tak bisa berkunjung lagi.

Hal seperti ini tidak akan terjadi seandainya blog-blog itu menggunakan nama domain sendiri. Alamat URL asli dari Blogger.com maupun WordPress.com tidak ideal. Terlalu panjang. Kebanyakan orang bakal sulit mengingat alamat URL yang panjang. Sementara embel-embel .blogspot.com dan .wordpress.com juga digunakan oleh puluhan juta pengguna lain. Ini semakin mempersulit orang untuk mengingat alamat blog kita karena mirip dengan alamat banyak blog lain.

Nah, di sinilah kita membutuhkan nama domain sendiri. Sebuah top level domain (TLD). Nama domain yang paling sesuai dengan kita juga blog kita, dan dengan nama domain itulah pembaca mengenali serta mengingatnya. Dengan kata lain, nama domain berfungsi sebagai identitas blog sehingga hanya dengan mendengar namanya saja orang langsung teringat pada kita.

"Bungeko.com? Oh, itu Eko Nurhuda!" Kira-kira begitu.

Sebagai sebuah identitas nama domain membedakan blog kita dari sekian banyak blog sejenis yang ada di jagat maya, sehingga memudahkan pembaca mengingatnya. Dengan demikian kita tidak perlu takut kehilangan pembaca setia hanya gara-gara mereka lupa alamat URL blog.

Inilah keunggulan menggunakan top level domain yang paling utama: sebagai identitas blog. Karena berfungsi sebagai identitas blog, maka nama domain yang baik adalah yang langsung melekat di ingatan pengunjung sejak pertama kali mereka mendengarnya. Ini bisa didapat dengan memilih nama domain yang setidaknya memenuhi unsur: 1) pendek, 2) mewakili isi blog.


Google.com dan detik.com adalah contoh nama domain yang pendek. Hanya terdiri dari 5-6 huruf dan dua suku kata. Cukup sekali saja mendengar namanya, kita langsung mengingat situs-situs tersebut dengan mudah sehingga dapat berkunjung kembali. Memori manusia terbatas, sehingga orang cenderung lebih mudah mengingat nama yang pendek.

Lalu mengenai keterkaitan dengan konten blog, ini mutlak jika kita ingin menjadikan nama domain sebagai identitas blog. Bakalan tidak lucu kalau ada blog bertema parenting tapi nama domainnya GemarIkan.com. Dengan memilih nama domain yang sesuai dengan tema blog, kita dapat memperkuat branding blog di antara blog-blog sejenis. Branding yang kuat adalah kunci memenangkan persaingan ketat dalam meraih pengunjung.

Nama Domain untuk Blog
Saya pernah menulis tips memilih nama domain di posting sebelumnya, juga kiat memilih nama domain untuk blog personal. Silakan dibaca-baca sebagai referensi tambahan.

Mengapa Harus .com/.net?
Ini pertanyaan penting. Sebab tak jarang blogger lebih mementingkan nama domain tertentu dan mengesampingkan ekstensinya. Jadi begitu .com dan .net tidak tersedia, blogger ini pilih ekstensi lain yang terkadang tidak populer. Prinsipnya, yang penting nama domain idamannya bisa dipakai sebagai nama blog.

Kalau saya malah berprinsip sebaliknya. Prioritas saya adalah mendapatkan ekstensi .com, baru beralih ke .net jika tidak ada. Kalau masih juga tidak tersedia atau incaran saya itu tergolong domain premium, saya akan mengubah nama domainnya. Membuat variasi lain sampai saya dapatkan Dotcom atau setidak-tidaknya DotNet. Bukan memilih ekstensi lain.

Mengapa? Cukup dua saja pertimbangan saya.

1. TLD Paling Populer
TLD .com dan .net merupakan ekstensi paling populer di dunia. Paling banyak digunakan. Per 30 Juni 2016, DNIB mencatat jumlah pengguna .com sebanyak 127,5 juta dan pengguna .net sebanyak 15,8 juta. Selama kuartal II tahun 2016, terjadi penambahan registrasi domain .com dan .net sekitar 8,6 juta nama.

Bagi orang Indonesia sendiri, terutama pengguna awam, sudah tertanam dalam benak mereka kalau yang namanya situs itu pastilah berakhiran .com. Mereka sulit mengingat nama situs yang berakhiran selain .com. Itulah sebabnya setiap kali mencari nama domain baru prioritas saya adalah .com. #DotComForBlogging :)

Kalau benar-benar mentok tidak ada pilihan bagus dengan ekstensi .com, barulah saya beralih ke pilihan kedua: .net. Kembali mengutip data DNIB, tanpa memperhitungkan Country Code TLD atau TLD berbasis negara, ekstensi Dotnet merupakan TLD populer kedua di dunia.


Jadi, menggunakan nama domain berekstensi .com atau .net membuat blog kita lebih mudah diingat oleh banyak pengguna. Sedangkan dari sisi komersial, banyak agency lebih suka bekerja sama dengan blogger yang blognya memakai dua TLD populer ini.

2. Harga Lebih Murah
Sekalipun merupakan dua TLD paling populer, harga .com dan .net justru lebih murah dibanding ekstensi lain. Ini tentu jadi kabar baik bagi teman-teman yang belum memakai nama domain sendiri. Tidak perlu khawatir habis uang banyak untuk mengganti nama domain blog biar tambah keren.

Tak percaya? Coba kita intip harganya di DotComForMe. Situs satu ini boleh dibilang satu-satunya penyedia domain yang aktif mengampanyekan pentingnya penggunaan .com bagi web, terutama web bisnis. Wajar, "com" pada TLD .com berasal dari kata "commerce" yang berarti perdagangan.

Setelah berada di DotComForMe.com, klik menu "Beli Domain" yang ada di bagian atas halaman. Lalu keluar form untuk mengisi nama domain incaran kita. Saya coba masukkan "BeritaPemalang" dengan ekstensi .com alias BeritaPemalang.com, lalu klik tombol "Cek ketersediaan" berwarna oranye.

Voila!


Lihat sendiri, harga .com dan .net sebesar Rp100.000 per tahun. Kalau dalam setahun ada 365 hari, kita hanya perlu membayar Rp273,97 sehari. Dikalikan 30 hari, angkanya jadi Rp8.219,17 sebulan. Murah sekali!

Beli paket internet Rp100.000 sebulan untuk eksis di sosmed bisa, masa iya bayar Rp100.000 setahun untuk nama domain tidak bisa?

Keunggulan Menggunakan Top Level Domain .net/.com
Seperti saya singgung di awal, saya beruntung dulu tak perlu dipusingkan dengan nama domain dan TLD saat menjajaki dunia blogging. Januari 2008, bulan pertama mendapat penghasilan online dari blog, saya meraup total sebesar $165,5. Dolar setara Rp9.000 ketika itu, jadi uang tersebut bernilai Rp1.489.500. Lebih besar dari upah minimum provinsi DI Yogyakarta yang tidak sampai Rp 1 juta.

Dan semua itu saya hasilkan dengan blog gratis! Blog yang alamatnya masih berbuntut .blogspot.com. Tapi setelah banyak teman lupa alamat blog saya, tanpa pikir panjang saya kemudian mendaftarkan nama domain sendiri. TLD pilihan saya tentu saja .com, sebab itulah yang paling familiar bagi saya.

Tak lama setelah menggunakan nama domain sendiri, saya rasakan ada beberapa perubahan yang terjadi. Bagi saya ini adalah keunggulan menggunakan top level domain .net/.com yang sangat menguntungkan. Apa saja?

1. Alamat Blog Lebih Mudah Diingat
Ini perubahan yang paling terlihat. Memakai nama domain baru yang disesuaikan dengan nama saya, teman-teman jadi lebih mudah mengingat blog saya. Mereka pun dapat dengan mudah mengunjungi blog tersebut secara berkala. Ini artinya, saya punya pembaca setia yang datang berkunjung tiap kali ada posting baru.

2. Blog Terlihat Lebih Keren
Parameter keren memang berbeda-beda. Tapi untuk blog personal, memakai nama domain sendiri itu keren sekali. Bayangkan, seorang yang bukan siapa-siapa seperti saya bisa punya blog beralamat .com seperti halnya korporasi besar semisal Amazon.com atau eBay.com. Keren, bukan? Hihihihi.


3. Lebih Dilirik Pengiklan
Dulu, blog saya sempat dilirik sejumlah pengiklan. Nilainya hanya US$2 sebulan per banner iklan sih, tapi itu menunjukkan kalau dengan TLD blog saya lebih dilirik untuk kerja sama. Kini, alhamdulillah, sudah banyak brand besar yang mempercayai bungeko.com untuk keperluan promosi.

Kalau kamu berniat menjadikan blog sebagai personal branding, atau membuat portofolio online, memakai TLD adalah pilihan wajib. Tak bisa ditawar. Buat calon mitra dan calon pemberi proyek terkesan dengan blogmu. Kesan pertama yang menggoda bakal menghadirkan kegembiraan bagimu.

4. Lebih Diakui sebagai Blogger
Hanya selisih Rp100.000 setahun, status seorang blogger bisa berbeda jauh antara yang memakai domain gratis dengan TLD berbayar. Kenapa? Sebab dengan menggunakan top level domain kita terlihat lebih serius sebagai seorang blogger. Kita akan lebih diakui dalam komunitas blogger.

Lagipula bukankah mengatakan "blog saya bungeko.com, silakan berkunjung ya!" terasa lebih enak ketimbang "blog saya bungeko.blogspot.co.id, silakan berkunjung ya!"? :)

*****

Kalau blogmu masih memakai subdomain .blogspot.com, .blogspot.co.id, maupun .wordpress.com, segeralah beli nama domain sendiri. Jangan khawatir bakal keluar uang banyak, domain itu nggak mahal kok. Cukup Rp100.000 setahun, lalu lakukan custom domain di Blogger.com yang gratis tis atau manfaatkan fitur mapping domain di WordPress.com.

Jangan lupa, ketika mencari nama domain prioritaskan ekstensi .com. Kalau nama idamanmu tidak tersedia, jadilah kreatif dengan mengotak-atik berbagai kata sampai mendapatkan .com yang sebisa mungkin pendek dan berkaitan dengan tema blog. Pokoknya harus dapat .com dulu.

Kalau sudah benar-benar mentok, barulah alihkan pencarian ke .net. Dengan hanya memilih dua ini, rasakan berbagai keunggulan menggunakan top level domain .net/.com bagi blogmu.

Semoga bermanfaat!



Ilustrasi:
Gambar 1: https://blog.verisign.com/domain-names/top-10-trending-keywords-in-com-net-registrations-in-september-2/
Gambar 2: http://jhrees.com/?p=352
Gambar 3: Screenshot https://www.verisign.com/en_US/domain-names/dnib/index.xhtml
Gambar 4: http://indianexpress.com/article/business/companies/google-nears-tax-settlement-with-indonesian-government-sources-4391399/
Gambar 5: Screenshot https://www.verisign.com/en_US/domain-names/dnib/index.xhtml
Gambar 6: Screenshot https://client.dotcomforme.com/cart.php/?a=add&domain=register
Gambar 6: Screenshot mailbox saya :)


PERNAH lihat tawaran content placement dengan fee menggiurkan, tapi tidak bisa ikut daftar karena kepentok syarat blog harus top level domain? Jangan habiskan waktu untuk menyesali diri. Segera ambil tindakan: beli nama domain! Sebab ada banyak sekali keunggulan menggunakan top level domain untuk blogmu.

"Halo. Saya sedang membutuhkan banyak blog untuk campaign sebuah situs belanja online. Artikel disediakan, blogger tinggal publish. Fee Rp1.000.000,- dipotong pajak. Syarat: top level domain, DA minimal 35.
Pendaftaran: https://goo.gl/S3ND1R1"

Saya termasuk beruntung. Ketika pertama kali mencoba mencari uang dengan blog pada akhir 2007, top level domain tak menjadi isu penting. Saya tetap bisa mendapat job dan menghasilkan fee yang lumayan dalam bentuk dolar meski mengandalkan blog di Blogger.com. Ya, blog-blog gratis dengan nama domain berakhirkan .blogspot.com itu.

Masa itu parameternya hanya pagerank. Semakin tinggi pagerank suatu blog, semakin mudah mendapatkan tawaran sponsored post atau sponsored review. Dan berkat kerajinan saya — atau malah karena kurang kerjaan ya? :) — meng-update blog dan blogwalking setiap hari, blog-blog yang saya kelola pagerank-nya bagus-bagus. Job demi job pun mengalir. Alhamdulillah.

Cerita lebih lengkap mengenai pengalaman pertama saya menghasilkan dolar dari internet bisa dibaca di sini.

Sampai suatu ketika ada satu kejadian yang membuat saya berubah pikiran dan merasa perlu mempunyai nama domain sendiri. Kejadian remeh sebenarnya. Seorang kawan lama yang saya ceritai tentang aktivitas saya ngeblog dan meraup dolar secara online merasa tertarik. Maklum, dua tahun lulus kuliah kawan saya ini menganggur.

Kira-kira begini percakapan kami waktu itu:

Kawan Lama: Jadi kamu nulis di blog terus dapet uang dari tulisan berbayar, gitu?
Saya: Yo'i.
Kawan Lama: Emang bisa nyampe berapa dapetnya sebulan?
Saya: Nggak banyak sih. Kisaran 200-200 dolar sebulan. Jelek-jeleknya 150 dolar.
Kawan Lama: Wuih, banyak itu! UMP sini aja nggak sampe sejuta.
Saya: Alhamdulillah. Lumayan untuk tambah-tambah jatah beli buku.
Kawan Lama: Ajarin dong. Aku juga maulah gitu. Nama blogmu apa?
Saya: (Nyebutin alamat blog pribadi yang masih berbuntut .blogspot.com)
Kawan Lama: Oke, nanti kalo pas ke warnet aku lihat-lihat blog.


Kira-kira sepekan berselang kami bertemu lagi. Saya dengan semangat bertanya apakah si kawan lama sudah berkunjung ke blog atau belum. Eh, jawabannya benar-benar membuat saya melongo macam kebo.

"Sorry, aku lupa alamat blogmu. Yang kuingat cuma blogspot-blogspot itu aja," jawabnya sambil cengengesan.

OMG!


Nama Domain sebagai Identitas Blog
Sejak itu saya berpikiran blog harus memakai nama domain sendiri. Ya, saya tidak memakai kata "seharusnya" melainkan "harus" di sini untuk menekankan bahwa ini penting bagi blogger. Terutama yang ingin karirnya di blogosphere awet.

Alasannya? Ada ratusan juta — bahkan mungkin menyentuh angka milyaran — situs dan blog di jagat internet saat ini. Menurut data Domain Name Industry Brief (DNIB) yang dilansir Verisign.com, pada Kuartal II tahun 2016 ini saja ada 334,6 juta registrasi nama domain baru di seluruh dunia meliputi seluruh TLD.

Angka tersebut naik 2,4% dari kuartal pertama. Dari jumlah sebanyak itu, 8,6 juta di antaranya merupakan registrasi .com dan .net sebagai dua TLD global terpopuler.

Oya, itu belum ditambah dengan blog yang masih menggunakan nama domain gratisan seperti .blogspot.com atau .wordpress.com. Kalau semuanya di-grand total bisa jadi jumlahnya sebanyak bintang di langit dan pasir di pantai. Tak terhitung!


Bagaimana membuat orang dengan mudah mengenali blog kita? Jawabannya, nama domain.

Apa yang dialami kawan lama saya sebenarnya pernah saya alami juga di awal-awal belajar ngeblog. Thanks to Google dulu saya banyak menemui blog-blog bagus yang isinya sangat membantu saya dalam mengembangkan blog. Sayang, karena kebanyakan blog tersebut menggunakan alamat asli dari Blogger saya kesulitan mengingatnya satu demi satu. Tak ingat maka tak bisa berkunjung lagi.

Hal seperti ini tidak akan terjadi seandainya blog-blog itu menggunakan nama domain sendiri. Alamat URL asli dari Blogger.com maupun WordPress.com tidak ideal. Terlalu panjang. Kebanyakan orang bakal sulit mengingat alamat URL yang panjang. Sementara embel-embel .blogspot.com dan .wordpress.com juga digunakan oleh puluhan juta pengguna lain. Ini semakin mempersulit orang untuk mengingat alamat blog kita karena mirip dengan alamat banyak blog lain.

Nah, di sinilah kita membutuhkan nama domain sendiri. Sebuah top level domain (TLD). Nama domain yang paling sesuai dengan kita juga blog kita, dan dengan nama domain itulah pembaca mengenali serta mengingatnya. Dengan kata lain, nama domain berfungsi sebagai identitas blog sehingga hanya dengan mendengar namanya saja orang langsung teringat pada kita.

"Bungeko.com? Oh, itu Eko Nurhuda!" Kira-kira begitu.

Sebagai sebuah identitas nama domain membedakan blog kita dari sekian banyak blog sejenis yang ada di jagat maya, sehingga memudahkan pembaca mengingatnya. Dengan demikian kita tidak perlu takut kehilangan pembaca setia hanya gara-gara mereka lupa alamat URL blog.

Inilah keunggulan menggunakan top level domain yang paling utama: sebagai identitas blog. Karena berfungsi sebagai identitas blog, maka nama domain yang baik adalah yang langsung melekat di ingatan pengunjung sejak pertama kali mereka mendengarnya. Ini bisa didapat dengan memilih nama domain yang setidaknya memenuhi unsur: 1) pendek, 2) mewakili isi blog.


Google.com dan detik.com adalah contoh nama domain yang pendek. Hanya terdiri dari 5-6 huruf dan dua suku kata. Cukup sekali saja mendengar namanya, kita langsung mengingat situs-situs tersebut dengan mudah sehingga dapat berkunjung kembali. Memori manusia terbatas, sehingga orang cenderung lebih mudah mengingat nama yang pendek.

Lalu mengenai keterkaitan dengan konten blog, ini mutlak jika kita ingin menjadikan nama domain sebagai identitas blog. Bakalan tidak lucu kalau ada blog bertema parenting tapi nama domainnya GemarIkan.com. Dengan memilih nama domain yang sesuai dengan tema blog, kita dapat memperkuat branding blog di antara blog-blog sejenis. Branding yang kuat adalah kunci memenangkan persaingan ketat dalam meraih pengunjung.

Nama Domain untuk Blog
Saya pernah menulis tips memilih nama domain di posting sebelumnya, juga kiat memilih nama domain untuk blog personal. Silakan dibaca-baca sebagai referensi tambahan.

Mengapa Harus .com/.net?
Ini pertanyaan penting. Sebab tak jarang blogger lebih mementingkan nama domain tertentu dan mengesampingkan ekstensinya. Jadi begitu .com dan .net tidak tersedia, blogger ini pilih ekstensi lain yang terkadang tidak populer. Prinsipnya, yang penting nama domain idamannya bisa dipakai sebagai nama blog.

Kalau saya malah berprinsip sebaliknya. Prioritas saya adalah mendapatkan ekstensi .com, baru beralih ke .net jika tidak ada. Kalau masih juga tidak tersedia atau incaran saya itu tergolong domain premium, saya akan mengubah nama domainnya. Membuat variasi lain sampai saya dapatkan Dotcom atau setidak-tidaknya DotNet. Bukan memilih ekstensi lain.

Mengapa? Cukup dua saja pertimbangan saya.

1. TLD Paling Populer
TLD .com dan .net merupakan ekstensi paling populer di dunia. Paling banyak digunakan. Per 30 Juni 2016, DNIB mencatat jumlah pengguna .com sebanyak 127,5 juta dan pengguna .net sebanyak 15,8 juta. Selama kuartal II tahun 2016, terjadi penambahan registrasi domain .com dan .net sekitar 8,6 juta nama.

Bagi orang Indonesia sendiri, terutama pengguna awam, sudah tertanam dalam benak mereka kalau yang namanya situs itu pastilah berakhiran .com. Mereka sulit mengingat nama situs yang berakhiran selain .com. Itulah sebabnya setiap kali mencari nama domain baru prioritas saya adalah .com. #DotComForBlogging :)

Kalau benar-benar mentok tidak ada pilihan bagus dengan ekstensi .com, barulah saya beralih ke pilihan kedua: .net. Kembali mengutip data DNIB, tanpa memperhitungkan Country Code TLD atau TLD berbasis negara, ekstensi Dotnet merupakan TLD populer kedua di dunia.


Jadi, menggunakan nama domain berekstensi .com atau .net membuat blog kita lebih mudah diingat oleh banyak pengguna. Sedangkan dari sisi komersial, banyak agency lebih suka bekerja sama dengan blogger yang blognya memakai dua TLD populer ini.

2. Harga Lebih Murah
Sekalipun merupakan dua TLD paling populer, harga .com dan .net justru lebih murah dibanding ekstensi lain. Ini tentu jadi kabar baik bagi teman-teman yang belum memakai nama domain sendiri. Tidak perlu khawatir habis uang banyak untuk mengganti nama domain blog biar tambah keren.

Tak percaya? Coba kita intip harganya di DotComForMe. Situs satu ini boleh dibilang satu-satunya penyedia domain yang aktif mengampanyekan pentingnya penggunaan .com bagi web, terutama web bisnis. Wajar, "com" pada TLD .com berasal dari kata "commerce" yang berarti perdagangan.

Setelah berada di DotComForMe.com, klik menu "Beli Domain" yang ada di bagian atas halaman. Lalu keluar form untuk mengisi nama domain incaran kita. Saya coba masukkan "BeritaPemalang" dengan ekstensi .com alias BeritaPemalang.com, lalu klik tombol "Cek ketersediaan" berwarna oranye.

Voila!


Lihat sendiri, harga .com dan .net sebesar Rp100.000 per tahun. Kalau dalam setahun ada 365 hari, kita hanya perlu membayar Rp273,97 sehari. Dikalikan 30 hari, angkanya jadi Rp8.219,17 sebulan. Murah sekali!

Beli paket internet Rp100.000 sebulan untuk eksis di sosmed bisa, masa iya bayar Rp100.000 setahun untuk nama domain tidak bisa?

Keunggulan Menggunakan Top Level Domain .net/.com
Seperti saya singgung di awal, saya beruntung dulu tak perlu dipusingkan dengan nama domain dan TLD saat menjajaki dunia blogging. Januari 2008, bulan pertama mendapat penghasilan online dari blog, saya meraup total sebesar $165,5. Dolar setara Rp9.000 ketika itu, jadi uang tersebut bernilai Rp1.489.500. Lebih besar dari upah minimum provinsi DI Yogyakarta yang tidak sampai Rp 1 juta.

Dan semua itu saya hasilkan dengan blog gratis! Blog yang alamatnya masih berbuntut .blogspot.com. Tapi setelah banyak teman lupa alamat blog saya, tanpa pikir panjang saya kemudian mendaftarkan nama domain sendiri. TLD pilihan saya tentu saja .com, sebab itulah yang paling familiar bagi saya.

Tak lama setelah menggunakan nama domain sendiri, saya rasakan ada beberapa perubahan yang terjadi. Bagi saya ini adalah keunggulan menggunakan top level domain .net/.com yang sangat menguntungkan. Apa saja?

1. Alamat Blog Lebih Mudah Diingat
Ini perubahan yang paling terlihat. Memakai nama domain baru yang disesuaikan dengan nama saya, teman-teman jadi lebih mudah mengingat blog saya. Mereka pun dapat dengan mudah mengunjungi blog tersebut secara berkala. Ini artinya, saya punya pembaca setia yang datang berkunjung tiap kali ada posting baru.

2. Blog Terlihat Lebih Keren
Parameter keren memang berbeda-beda. Tapi untuk blog personal, memakai nama domain sendiri itu keren sekali. Bayangkan, seorang yang bukan siapa-siapa seperti saya bisa punya blog beralamat .com seperti halnya korporasi besar semisal Amazon.com atau eBay.com. Keren, bukan? Hihihihi.


3. Lebih Dilirik Pengiklan
Dulu, blog saya sempat dilirik sejumlah pengiklan. Nilainya hanya US$2 sebulan per banner iklan sih, tapi itu menunjukkan kalau dengan TLD blog saya lebih dilirik untuk kerja sama. Kini, alhamdulillah, sudah banyak brand besar yang mempercayai bungeko.com untuk keperluan promosi.

Kalau kamu berniat menjadikan blog sebagai personal branding, atau membuat portofolio online, memakai TLD adalah pilihan wajib. Tak bisa ditawar. Buat calon mitra dan calon pemberi proyek terkesan dengan blogmu. Kesan pertama yang menggoda bakal menghadirkan kegembiraan bagimu.

4. Lebih Diakui sebagai Blogger
Hanya selisih Rp100.000 setahun, status seorang blogger bisa berbeda jauh antara yang memakai domain gratis dengan TLD berbayar. Kenapa? Sebab dengan menggunakan top level domain kita terlihat lebih serius sebagai seorang blogger. Kita akan lebih diakui dalam komunitas blogger.

Lagipula bukankah mengatakan "blog saya bungeko.com, silakan berkunjung ya!" terasa lebih enak ketimbang "blog saya bungeko.blogspot.co.id, silakan berkunjung ya!"? :)

*****

Kalau blogmu masih memakai subdomain .blogspot.com, .blogspot.co.id, maupun .wordpress.com, segeralah beli nama domain sendiri. Jangan khawatir bakal keluar uang banyak, domain itu nggak mahal kok. Cukup Rp100.000 setahun, lalu lakukan custom domain di Blogger.com yang gratis tis atau manfaatkan fitur mapping domain di WordPress.com.

Jangan lupa, ketika mencari nama domain prioritaskan ekstensi .com. Kalau nama idamanmu tidak tersedia, jadilah kreatif dengan mengotak-atik berbagai kata sampai mendapatkan .com yang sebisa mungkin pendek dan berkaitan dengan tema blog. Pokoknya harus dapat .com dulu.

Kalau sudah benar-benar mentok, barulah alihkan pencarian ke .net. Dengan hanya memilih dua ini, rasakan berbagai keunggulan menggunakan top level domain .net/.com bagi blogmu.

Semoga bermanfaat!



Ilustrasi:
Gambar 1: https://blog.verisign.com/domain-names/top-10-trending-keywords-in-com-net-registrations-in-september-2/
Gambar 2: http://jhrees.com/?p=352
Gambar 3: Screenshot https://www.verisign.com/en_US/domain-names/dnib/index.xhtml
Gambar 4: http://indianexpress.com/article/business/companies/google-nears-tax-settlement-with-indonesian-government-sources-4391399/
Gambar 5: Screenshot https://www.verisign.com/en_US/domain-names/dnib/index.xhtml
Gambar 6: Screenshot https://client.dotcomforme.com/cart.php/?a=add&domain=register
Gambar 6: Screenshot mailbox saya :)

Jumat, 25 November 2016


INGIN serius ngeblog dan mendapat banyak hal positif serta menguntungkan dari blog? Kalau begitu, satu syarat penting yang harus dipunyai adalah: nama domain sendiri. Tingkatkan level blogmu dengan memakai top level domain. Kalau kamu sedang menimbang-nimbang, berikut beberapa kiat memilih nama domain untuk blog personal.

Blog tak lagi sekedar wadah curhat, semacam diari online seperti awal-awal booming di Indonesia sekitar 11-12 tahun lalu. Ada banyak potensi yang bisa digali menggunakan blog, terutama bagi yang menyukai dunia tulis-menulis.

Saya sendiri nyemplung ke dunia blog sebagai "pelampiasan" karena tak kunjung bisa menembus media massa. Berkali-kali ditolak, dari sekian lama mencoba ke berbagai media cetak nasional hanya dimuat di majalah Sahabat Pena. Blog jadi wadah tepat bagi saya tengah semangat-semangatnya menulis.

Semakin ke sini saya menyadari blog bukan media pelampiasan. Ini media serius yang dapat membawa pengelolanya ke level lebih tinggi dalam karir. Sudah banyak orang membuktikannya. Saya sendiri kemudian lebih fokus menghasilkan dolar AS dari blog, sebelum akhirnya memilih menjadi penulis bayaran sekaligus quiz hunter.

Apapun tujuannya, orang yang serius dengan blognya mestilah menggunakan nama domain sendiri. Tapi memilih nama domain bukan perkara mudah. Bagi kalian yang bingung merangkai-rangkai nama maupun brand, berikut beberapa tips yang mudah-mudahan bermanfaat.

1. Utamakan memakai nama lengkap
Memakai nama lengkap sebagai nama domain merupakan cara terbaik untuk menunjukkan kalau blog tersebut benar-benar merepresentasikan diri kita di dunia maya. Ini juga menunjukkan keseriusan kita dalam mengurus blog. Baik-buruknya blog tersebut menjadi pertaruhan nama baik kita.

Bagaimana kalau nama lengkap terlalu panjang sehingga susah diingat? Misalnya Muhammad Herlambang Eko Nurhuda, yang kalau dipakai semua untuk nama domain menjadi muhammadherlambangekonurhuda.com. Alangkah panjangnya. Untuk nama yang terdiri dari tiga kata atau bahkan lebih begini, nasihat ini tidak berlaku. Silakan lihat tips-tips berikutnya.

2. Gunakan salah satu nama
Ini berlaku baik bagi yang (maaf) namanya pasaran -- seperti saya -- sehingga ketika hendak membeli nama domain dari nama lengkap sudah tidak tersedia, maupun bagi yang nama lengkapnya terlalu panjang. Kenapa tidak menggunakan salah satu bagian dari nama lengkap?

Misalnya memakai nama depan. Biasanya nama depan lebih pendek sehingga kemungkinannya akan lebih mudah diingat pengunjung jika digunakan sebagai nama domain. Contohnya Rodame.com milik Kak Rodame Napitupulu.

Kalau ternyata nama depanmu panjang atau susah dilafalkan, gunakan nama tengah atau nama belakang. Bisa juga nama depan disingkat lalu disambung nama belakang, seperti YSalma.com. Seorang blogger kenalan saya menggunakan marga Nias-nya sebagai nama domain. Kebetulan pula marganya hanya terdiri dari tiga suku kata sehingga mudah diingat.

3. Gunakan nickname atau nama pena
Kalau ternyata poin-poin di atas tidak bisa diikuti, memakai nickname atau nama pena bisa jadi alternatif bagus. Syaratnya, nama tersebut benar-benar merepresentasikan diri kita. Maksudnya, kita sudah begitu dikenal dengan nama alias tersebut di lingkungan pergaulan. Contohnya BelalangCerewet.com milik Mas Isnaini Khomarudin atau yang lebih dikenal sebagai Rudi G. Aswan.

4. Gabungkan nama panggilan dengan kata lain
Kalau tips pertama sampai nomor tiga tidak berhasil, coba gunakan tips yang satu ini. Ya, gabungkan saja nama depan atau nama panggilan kita dengan kata lain sehingga membentuk satu nama unik. Misalnya saya, memilih panggilan "bung" yang familiar di kalangan kampus dan kos-kosan untuk digabungkan dengan Eko. Jadilah bungeko.com.

Contoh nama domain lain yang jadi inspirasi saya dalam membuat nama domain bungeko.com adalah TikaBanget.com, NonaDita.com, dan HakimTea.com.

5. Membuat kreasi baru dari nama
Masih menemui kendala juga? Kalau begitu kamu dituntut membuat frasa yang unik sebagai nama domain. Kreativitasmu harus benar-benar bebas agar dapat menciptakan nama domain yang sangat catchy.

Dulu ada seorang blogger memakai nama domain Gnupi.com. Tahu ini apa? Nama panggilan si blogger, Ipung, yang dibaca dari belakang alias dibalik. I-P-U-N-G jadi G-N-U-P-I.

Founder komunitas Blogger Pekalongan tak kalah kreatif. Namanya Inayah, dan dia menggunakan nama domain Innnayah.com. Ya, diambil dari nama panggilannya tapi dengan huruf "n" tiga buah. Jadilah nama domain yang unik, meski tiap kali menyebut blognya ia biasa menambah keterangan, "n-nya tiga." :)

6. Jangan pernah memakai frasa nyeleneh
Dengan maksud membuat nama domain unik, terkadang kita terjebak memakai kata-kata nyeleneh. Ini memang tidak dilarang, tapi sedikit kurang menguntungkan bagi di masa mendatang. Akan ada saat di mana kita merasa malu menyebut nama domain tersebut ketika seseorang menanyakannya. Misalnya, sigantengeko.com atau dewipalingcantik.com.

Baca mengenai keunggulan menggunakan top level domain .net/.com di posting ini.

Sebagai tips tambahan, begitu menemukan nama domain yang pas sebaiknya segera beli. Setidaknya masukkan shopping cart meski belum bisa bayar saat itu juga. Jangan menunda-nunda, karena bisa jadi keesokan harinya nama domain tersebut sudah jadi milik orang lain.

Kalau orang tersebut hanya iseng membelinya selama setahun dan kemudian tidak diperpanjang, kabar baik. Tapi kalau ternyata nama domain itu dibeli selama lima tahun sekaligus dan diperpanjang otomatis?

Semoga bermanfaat!


INGIN serius ngeblog dan mendapat banyak hal positif serta menguntungkan dari blog? Kalau begitu, satu syarat penting yang harus dipunyai adalah: nama domain sendiri. Tingkatkan level blogmu dengan memakai top level domain. Kalau kamu sedang menimbang-nimbang, berikut beberapa kiat memilih nama domain untuk blog personal.

Blog tak lagi sekedar wadah curhat, semacam diari online seperti awal-awal booming di Indonesia sekitar 11-12 tahun lalu. Ada banyak potensi yang bisa digali menggunakan blog, terutama bagi yang menyukai dunia tulis-menulis.

Saya sendiri nyemplung ke dunia blog sebagai "pelampiasan" karena tak kunjung bisa menembus media massa. Berkali-kali ditolak, dari sekian lama mencoba ke berbagai media cetak nasional hanya dimuat di majalah Sahabat Pena. Blog jadi wadah tepat bagi saya tengah semangat-semangatnya menulis.

Semakin ke sini saya menyadari blog bukan media pelampiasan. Ini media serius yang dapat membawa pengelolanya ke level lebih tinggi dalam karir. Sudah banyak orang membuktikannya. Saya sendiri kemudian lebih fokus menghasilkan dolar AS dari blog, sebelum akhirnya memilih menjadi penulis bayaran sekaligus quiz hunter.

Apapun tujuannya, orang yang serius dengan blognya mestilah menggunakan nama domain sendiri. Tapi memilih nama domain bukan perkara mudah. Bagi kalian yang bingung merangkai-rangkai nama maupun brand, berikut beberapa tips yang mudah-mudahan bermanfaat.

1. Utamakan memakai nama lengkap
Memakai nama lengkap sebagai nama domain merupakan cara terbaik untuk menunjukkan kalau blog tersebut benar-benar merepresentasikan diri kita di dunia maya. Ini juga menunjukkan keseriusan kita dalam mengurus blog. Baik-buruknya blog tersebut menjadi pertaruhan nama baik kita.

Bagaimana kalau nama lengkap terlalu panjang sehingga susah diingat? Misalnya Muhammad Herlambang Eko Nurhuda, yang kalau dipakai semua untuk nama domain menjadi muhammadherlambangekonurhuda.com. Alangkah panjangnya. Untuk nama yang terdiri dari tiga kata atau bahkan lebih begini, nasihat ini tidak berlaku. Silakan lihat tips-tips berikutnya.

2. Gunakan salah satu nama
Ini berlaku baik bagi yang (maaf) namanya pasaran -- seperti saya -- sehingga ketika hendak membeli nama domain dari nama lengkap sudah tidak tersedia, maupun bagi yang nama lengkapnya terlalu panjang. Kenapa tidak menggunakan salah satu bagian dari nama lengkap?

Misalnya memakai nama depan. Biasanya nama depan lebih pendek sehingga kemungkinannya akan lebih mudah diingat pengunjung jika digunakan sebagai nama domain. Contohnya Rodame.com milik Kak Rodame Napitupulu.

Kalau ternyata nama depanmu panjang atau susah dilafalkan, gunakan nama tengah atau nama belakang. Bisa juga nama depan disingkat lalu disambung nama belakang, seperti YSalma.com. Seorang blogger kenalan saya menggunakan marga Nias-nya sebagai nama domain. Kebetulan pula marganya hanya terdiri dari tiga suku kata sehingga mudah diingat.

3. Gunakan nickname atau nama pena
Kalau ternyata poin-poin di atas tidak bisa diikuti, memakai nickname atau nama pena bisa jadi alternatif bagus. Syaratnya, nama tersebut benar-benar merepresentasikan diri kita. Maksudnya, kita sudah begitu dikenal dengan nama alias tersebut di lingkungan pergaulan. Contohnya BelalangCerewet.com milik Mas Isnaini Khomarudin atau yang lebih dikenal sebagai Rudi G. Aswan.

4. Gabungkan nama panggilan dengan kata lain
Kalau tips pertama sampai nomor tiga tidak berhasil, coba gunakan tips yang satu ini. Ya, gabungkan saja nama depan atau nama panggilan kita dengan kata lain sehingga membentuk satu nama unik. Misalnya saya, memilih panggilan "bung" yang familiar di kalangan kampus dan kos-kosan untuk digabungkan dengan Eko. Jadilah bungeko.com.

Contoh nama domain lain yang jadi inspirasi saya dalam membuat nama domain bungeko.com adalah TikaBanget.com, NonaDita.com, dan HakimTea.com.

5. Membuat kreasi baru dari nama
Masih menemui kendala juga? Kalau begitu kamu dituntut membuat frasa yang unik sebagai nama domain. Kreativitasmu harus benar-benar bebas agar dapat menciptakan nama domain yang sangat catchy.

Dulu ada seorang blogger memakai nama domain Gnupi.com. Tahu ini apa? Nama panggilan si blogger, Ipung, yang dibaca dari belakang alias dibalik. I-P-U-N-G jadi G-N-U-P-I.

Founder komunitas Blogger Pekalongan tak kalah kreatif. Namanya Inayah, dan dia menggunakan nama domain Innnayah.com. Ya, diambil dari nama panggilannya tapi dengan huruf "n" tiga buah. Jadilah nama domain yang unik, meski tiap kali menyebut blognya ia biasa menambah keterangan, "n-nya tiga." :)

6. Jangan pernah memakai frasa nyeleneh
Dengan maksud membuat nama domain unik, terkadang kita terjebak memakai kata-kata nyeleneh. Ini memang tidak dilarang, tapi sedikit kurang menguntungkan bagi di masa mendatang. Akan ada saat di mana kita merasa malu menyebut nama domain tersebut ketika seseorang menanyakannya. Misalnya, sigantengeko.com atau dewipalingcantik.com.

Baca mengenai keunggulan menggunakan top level domain .net/.com di posting ini.

Sebagai tips tambahan, begitu menemukan nama domain yang pas sebaiknya segera beli. Setidaknya masukkan shopping cart meski belum bisa bayar saat itu juga. Jangan menunda-nunda, karena bisa jadi keesokan harinya nama domain tersebut sudah jadi milik orang lain.

Kalau orang tersebut hanya iseng membelinya selama setahun dan kemudian tidak diperpanjang, kabar baik. Tapi kalau ternyata nama domain itu dibeli selama lima tahun sekaligus dan diperpanjang otomatis?

Semoga bermanfaat!

Selasa, 22 November 2016


MASIH pakai blog gratisan yang berembel-embel .blogspot.com atau .wordpress.com? Mau beli nama domain sendiri biar blog lebih terlihat oke dan semakin gampang dapat job? Berikut tips memilih nama domain berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya selama ini.

Meski bukan tolok ukur utama, memakai nama domain berekstensi .com atau .net adalah bukti keseriusan seorang blogger. Disebut serius karena si blogger sudah mau menginvestasikan uangnya dalam membangun blog. Tak lagi sekedar memakai fasilitas gratisan.

Membeli dan memakai nama domain sendiri adalah cara paling mudah untuk meng-upgrade blog. Juga paling murah. Yang dibutuhkan hanyalah membayar sekitar Rp100.000 setahun, serta agak repot dengan pengaturan custom domain di dashboard Blogger.com. Berita baiknya, layanan custom domain ini dapat dinikmati gratis.

Bagi pemakai WordPress.com, ada opsi mapping domain yang teknisnya kurang lebih sama seperti custom domain di Blogger.com. Hanya saja biayanya jauh lebih tinggi, yakni (saat posting ini ditulis) US$ 13.00 setahun. Jatuhnya malah lebih murah kalau kita membuat blog dari awal, lalu mengambil opsi upgrade yang dibanderol US$ 18.00 setahun.

Custom domain di Blogger.com dan mapping domain di WordPress.com adalah cara paling mudah untuk membuat blog bernama domain TLD. Bagi yang tidak mau direpotkan dengan tetek-bengek hosting, ini pilihan paling ideal. Tapi kalau sudah komitmen ingin belajar, self-hosting adalah opsi yang umum dipakai banyak blogger profesional.

Apapun pilihannya, intinya kita berupaya meningkatkan level blog dengan memakai nama domain sendiri. Dengan demikian diharapkan kita dapat lebih mudah mendapat tawaran komersial yang seringkali memberi syarat "blog harus top level domain." Lagipula, dengan nama domain sendiri kita dapat bebas memilih nama bagi blog agar lebih sesuai dengan kepribadian juga konten/tema blog.

Tips Memilih Nama Domain
Oke, jadi sudah mantap nih mau memakai nama domain sendiri untuk blog? Biar makin keren gitu, dan juga lebih mudah diingat. Sebagai panduan bagi teman-teman yang sedang mempertimbangkan nama domain, berikut sedikit tips dari saya.

1. Utamakan ekstensi .com atau .net
Ekstensi .com adalah TLD paling populer hingga kini. Menggunakan nama domain berekstensi .com akan membuat blog kita jadi lebih mudah diingat oleh pengguna awam. Sudah tertanam dalam benak orang kalau alamat situs itu pastilah berakhiran .com. Mereka akan sulit mengingat nama domain yang berakhiran selain .com. Karena itu, pilihlah nama domain berekstensi .com terlebih dahulu.

Baca mengenai keunggulan menggunakan top level domain .net/.com di posting ini.

Kalau tidak pilihan bagus dengan ekstensi .com, barulah kita beralih ke pilihan terpopuler kedua: .net. Kembali mengutip data DNIB, per 30 Juni 2016 ekstensi .net merupakan TLD global populer kedua di dunia. Esktensi ini hanya kalah dari tiga Country Code TLD, yakni .tk (Tokelau, domain gratis), .cn (Tiongkok), dan .de (Jerman).

2. Merepresentasikan isi blog
Nama domain yang berhubungan dengan isi blog lebih mudah diingat ketimbang yang tidak. Karena itu, usahakanlah mencari nama domain yang merepresentasikan konten dan tema blog. Untuk blog personal, saya menyarankan untuk memakai nama kita sendiri. Bisa nama lengkap atau nama panggilan yang biasanya lebih pendek.

Kalau ternyata nama domain namasaya.com atau namasaya.net sudah ada yang memiliki -- seperti saya, buat kreasi lain yang masih berhubungan dengan nama kita. Hal ini akan kita bahas lebih lanjut di posting lain.

3. Mudah diingat
Karena nama domain adalah identitas blog sekaligus identitas kita di dunia maya, maka nama domain harus mudah diingat. Semakin mudah orang mengingatnya, semakin baik. Nama domain pendek cenderung lebih mudah diingat. Tapi kalau kita tidak punya pilihan, gunakan kreativitas untuk memperoleh nama domain yang unik.

4. Mudah dieja atau dilafalkan
Sekalipun nama domain berhubungan dengan blog dan internet, namun akan ada saat di mana kita harus memnyebutkannya secara lisan. Entah ketika sedang bercakap-cakap dengan teman, lewat telepon, atau ketika bertemu orang lain di suatu event. Ketika itu, nama domain yang lafal atau pengucapannya mirip-mirip dapat membingungkan lawan bicara sehingga membuatnya kesulitan mengingat.

5. Hindari penggunaan tanda hubung (-)
Ini ada kaitannya dengan poin empat. Nama domain dengan tanda hubung sukar dilafalkan oleh lidah orang Indonesia. Karenanya lebih baik hindari penggunaan tanda hubung pada nama domain blog.

Menggunakan tanda hubung (dash) pada nama domain bisa membuat pengunjung kesulitan mengingat. Coba lafalkan www.uang-lama.com, maka yang diingat hanyalah frasa “uang lama” saja. Tanda hubungnya terlupakan. Begitu hendak berkunjung, yang diketik di browser justru “www.uanglama.com”.

6. Gunakan huruf, jangan angka
Memang tidak ada larangan menggunakan angka pada nama domain. Namun penggunaan angka membuat nama domain lebih sulit diingat, selain tidak lazim. Ketika dilafalkan, nama domain dengan angka juga bisa disalah-artikan. Coba, bagaimana caranya mengingat bung3k0.com? Bukankah akan lebih mudah diingat jika nama domainnya bungeko.com?

Pengecualian bila yang digunakan sebagai domain adalah nama yang sudah terlebih dahulu populer. Misalnya Liputan6.com, yang merupakan konvergensi dari siaran berita Liputan 6 di SCTV. Kalau belum dikenal, orang bisa saja keliru menulis Warta9.com menjadi WartaSembilan.com.

7. Jangan gunakan singkatan, kecuali...
Nama domain hp.com bisa jadi merupakan nama domain paling pendek di dunia. Namun tidak disarankan menggunakan singkatan sebagai nama domain, kecuali kamu orang yang sangat terkenal dan singkatan tersebut sudah dikenal luas sebagai branding-mu. Contohnya ya hp.com itu, yang tak lain adalah situsnya Hewlett-Packard atau lebih dikenal dengan singkatan HP.

Hindari pula singkatan-singkatan gaul seperti “q” untuk menyingkat “ku” atau "u” untuk menyingkat “you”. Coba, mana yang lebih mudah diingat, blogq.com atau blogku.com? Saya yakin jawabannya yang kedua.

8. Perhatikan hak cipta
Meskipun sebagian perusahaan tidak secara tegas melarang penggunaan hak cipta atau merek dagang mereka pada nama domain, sebaiknya jangan coba-coba melakukannya. Selain alasan etika, bila suatu saat diperkarakan ke meja hijau sudah bisa dipastikan kita bakal kalah. Sudah banyak contohnya.

9. Tidak mengandung unsur-unsur pornografi dan SARA
Rasanya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut. Ada banyak konsekuensi yang harus ditanggung jika berani coba-coba menggunakan hal-hal yang berbau pornografi dan menyinggung SARA untuk nama domain. Pemerintah punya UU Anti Pornografi dan baru saja merevisi UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Patuhilah.

Demikian tips memilih nama domain dari saya. Kalau ada yang ingin menambahkan, feel free untuk menuliskannya di kolom komentar. Semoga bermanfaat!


MASIH pakai blog gratisan yang berembel-embel .blogspot.com atau .wordpress.com? Mau beli nama domain sendiri biar blog lebih terlihat oke dan semakin gampang dapat job? Berikut tips memilih nama domain berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya selama ini.

Meski bukan tolok ukur utama, memakai nama domain berekstensi .com atau .net adalah bukti keseriusan seorang blogger. Disebut serius karena si blogger sudah mau menginvestasikan uangnya dalam membangun blog. Tak lagi sekedar memakai fasilitas gratisan.

Membeli dan memakai nama domain sendiri adalah cara paling mudah untuk meng-upgrade blog. Juga paling murah. Yang dibutuhkan hanyalah membayar sekitar Rp100.000 setahun, serta agak repot dengan pengaturan custom domain di dashboard Blogger.com. Berita baiknya, layanan custom domain ini dapat dinikmati gratis.

Bagi pemakai WordPress.com, ada opsi mapping domain yang teknisnya kurang lebih sama seperti custom domain di Blogger.com. Hanya saja biayanya jauh lebih tinggi, yakni (saat posting ini ditulis) US$ 13.00 setahun. Jatuhnya malah lebih murah kalau kita membuat blog dari awal, lalu mengambil opsi upgrade yang dibanderol US$ 18.00 setahun.

Custom domain di Blogger.com dan mapping domain di WordPress.com adalah cara paling mudah untuk membuat blog bernama domain TLD. Bagi yang tidak mau direpotkan dengan tetek-bengek hosting, ini pilihan paling ideal. Tapi kalau sudah komitmen ingin belajar, self-hosting adalah opsi yang umum dipakai banyak blogger profesional.

Apapun pilihannya, intinya kita berupaya meningkatkan level blog dengan memakai nama domain sendiri. Dengan demikian diharapkan kita dapat lebih mudah mendapat tawaran komersial yang seringkali memberi syarat "blog harus top level domain." Lagipula, dengan nama domain sendiri kita dapat bebas memilih nama bagi blog agar lebih sesuai dengan kepribadian juga konten/tema blog.

Tips Memilih Nama Domain
Oke, jadi sudah mantap nih mau memakai nama domain sendiri untuk blog? Biar makin keren gitu, dan juga lebih mudah diingat. Sebagai panduan bagi teman-teman yang sedang mempertimbangkan nama domain, berikut sedikit tips dari saya.

1. Utamakan ekstensi .com atau .net
Ekstensi .com adalah TLD paling populer hingga kini. Menggunakan nama domain berekstensi .com akan membuat blog kita jadi lebih mudah diingat oleh pengguna awam. Sudah tertanam dalam benak orang kalau alamat situs itu pastilah berakhiran .com. Mereka akan sulit mengingat nama domain yang berakhiran selain .com. Karena itu, pilihlah nama domain berekstensi .com terlebih dahulu.

Baca mengenai keunggulan menggunakan top level domain .net/.com di posting ini.

Kalau tidak pilihan bagus dengan ekstensi .com, barulah kita beralih ke pilihan terpopuler kedua: .net. Kembali mengutip data DNIB, per 30 Juni 2016 ekstensi .net merupakan TLD global populer kedua di dunia. Esktensi ini hanya kalah dari tiga Country Code TLD, yakni .tk (Tokelau, domain gratis), .cn (Tiongkok), dan .de (Jerman).

2. Merepresentasikan isi blog
Nama domain yang berhubungan dengan isi blog lebih mudah diingat ketimbang yang tidak. Karena itu, usahakanlah mencari nama domain yang merepresentasikan konten dan tema blog. Untuk blog personal, saya menyarankan untuk memakai nama kita sendiri. Bisa nama lengkap atau nama panggilan yang biasanya lebih pendek.

Kalau ternyata nama domain namasaya.com atau namasaya.net sudah ada yang memiliki -- seperti saya, buat kreasi lain yang masih berhubungan dengan nama kita. Hal ini akan kita bahas lebih lanjut di posting lain.

3. Mudah diingat
Karena nama domain adalah identitas blog sekaligus identitas kita di dunia maya, maka nama domain harus mudah diingat. Semakin mudah orang mengingatnya, semakin baik. Nama domain pendek cenderung lebih mudah diingat. Tapi kalau kita tidak punya pilihan, gunakan kreativitas untuk memperoleh nama domain yang unik.

4. Mudah dieja atau dilafalkan
Sekalipun nama domain berhubungan dengan blog dan internet, namun akan ada saat di mana kita harus memnyebutkannya secara lisan. Entah ketika sedang bercakap-cakap dengan teman, lewat telepon, atau ketika bertemu orang lain di suatu event. Ketika itu, nama domain yang lafal atau pengucapannya mirip-mirip dapat membingungkan lawan bicara sehingga membuatnya kesulitan mengingat.

5. Hindari penggunaan tanda hubung (-)
Ini ada kaitannya dengan poin empat. Nama domain dengan tanda hubung sukar dilafalkan oleh lidah orang Indonesia. Karenanya lebih baik hindari penggunaan tanda hubung pada nama domain blog.

Menggunakan tanda hubung (dash) pada nama domain bisa membuat pengunjung kesulitan mengingat. Coba lafalkan www.uang-lama.com, maka yang diingat hanyalah frasa “uang lama” saja. Tanda hubungnya terlupakan. Begitu hendak berkunjung, yang diketik di browser justru “www.uanglama.com”.

6. Gunakan huruf, jangan angka
Memang tidak ada larangan menggunakan angka pada nama domain. Namun penggunaan angka membuat nama domain lebih sulit diingat, selain tidak lazim. Ketika dilafalkan, nama domain dengan angka juga bisa disalah-artikan. Coba, bagaimana caranya mengingat bung3k0.com? Bukankah akan lebih mudah diingat jika nama domainnya bungeko.com?

Pengecualian bila yang digunakan sebagai domain adalah nama yang sudah terlebih dahulu populer. Misalnya Liputan6.com, yang merupakan konvergensi dari siaran berita Liputan 6 di SCTV. Kalau belum dikenal, orang bisa saja keliru menulis Warta9.com menjadi WartaSembilan.com.

7. Jangan gunakan singkatan, kecuali...
Nama domain hp.com bisa jadi merupakan nama domain paling pendek di dunia. Namun tidak disarankan menggunakan singkatan sebagai nama domain, kecuali kamu orang yang sangat terkenal dan singkatan tersebut sudah dikenal luas sebagai branding-mu. Contohnya ya hp.com itu, yang tak lain adalah situsnya Hewlett-Packard atau lebih dikenal dengan singkatan HP.

Hindari pula singkatan-singkatan gaul seperti “q” untuk menyingkat “ku” atau "u” untuk menyingkat “you”. Coba, mana yang lebih mudah diingat, blogq.com atau blogku.com? Saya yakin jawabannya yang kedua.

8. Perhatikan hak cipta
Meskipun sebagian perusahaan tidak secara tegas melarang penggunaan hak cipta atau merek dagang mereka pada nama domain, sebaiknya jangan coba-coba melakukannya. Selain alasan etika, bila suatu saat diperkarakan ke meja hijau sudah bisa dipastikan kita bakal kalah. Sudah banyak contohnya.

9. Tidak mengandung unsur-unsur pornografi dan SARA
Rasanya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut. Ada banyak konsekuensi yang harus ditanggung jika berani coba-coba menggunakan hal-hal yang berbau pornografi dan menyinggung SARA untuk nama domain. Pemerintah punya UU Anti Pornografi dan baru saja merevisi UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Patuhilah.

Demikian tips memilih nama domain dari saya. Kalau ada yang ingin menambahkan, feel free untuk menuliskannya di kolom komentar. Semoga bermanfaat!

Jumat, 18 November 2016


YANG sudah menunggu-nunggu layanan satu ini boleh mengacungkan jari. Yap, video call WhatsApp akhirnya resmi dirilis dan sudah bisa digunakan secara luas oleh pemakai aplikasi chatting tersebut. Jadi tak cuma berkirim teks dan foto, kini kita bisa melakukan panggilan video ke teman dan saudara menggunakan WhatsApp. Hore!

Peluncuran WhatsApp video calling diumumkan secara resmi dalam blog ofisial pada 14 November lalu. Fitur terbaru ini membuat layanan WhatsApp semakin kompleks. Dari awal kemunculannya hanya untuk bertukar teks dan foto, lalu berkirim suara dan video, ditambah panggilan suara seperti telepon berbasis jaringan internet, dan kini dipungkasi dengan layanan video call.

"Today we’re excited to announce the next step in our efforts to connect people – WhatsApp video calling. In the coming days, WhatsApp's more than one billion users can make video calls across Android, iPhone, and Windows Phone devices." - https://blog.WhatsApp.com

Bagi saya sendiri ini merupakan layanan yang sudah lama ditunggu. Saya memakai WhatsApp sejak pertengahan 2012, saat toko online saya sedang jaya-jayanya. Waktu itu di Blackberry saya terinstal BBM dan WhatsApp, dua-duanya menjadi jalur utama untuk berkomunikasi dengan calon pembeli.

Belakangan saya lebih suka menggunakan WhatsApp. Alasannya, layanan text-messaging satu ini berbasis nomor seluler yang lebih fleksibel. Kita dapat berganti-ganti perangkat tanpa harus kehilangan kontak WhatsApp dan tanpa berganti nomor sebagai identitas. Berbeda dengan BBM yang berbasis PIN Blackberry. Ganti perangkat berarti ganti PIN. Sekalipun kita bisa login dengan Blackberry ID untuk tetap mengakses daftar kontak, PIN kita berganti.

Setelah Blackberry makin tenggelam, alasan untuk lebih menyukai WhatsApp semakin bertambah. Saya berganti menggunakan smartphone berbasis Android dan WhatsApp jadi aplikasi text-messaging utama. Ketika kemudian BBM tersedia di Google PlayStore, saya sudah kadung nyaman dengan WhatsApp.

Versi Terbaru
Kembali ke voice-call, langkah WhatsApp meluncurkan fitur ini sebenarnya boleh dibilang tertinggal dari kompetitor. Aplikasi chatting lain seperti Line dan WeChat sudah lama menyediakan layanan panggilan suara. Google sendiri sejak awal meluncurkan Gmail pada 2005 lalu sudah memperkenalkan video-messaging yang kemudian diadopsi jadi GTalk dan kini ada pula Google Duo.

WhatsApp video calling awalnya dirilis dalam versi beta beberapa waktu lalu. Namanya saja versi beta, pengguna dan penggunaannya masih sangat terbatas. Sekedar untuk uji coba. WhatsApp menyediakan tautan khusus bagi pengguna yang ingin menjadi beta tester alias pengguna versi uji coba.

Kini setelah dirilis secara resmi, fitur panggilan video sudah bisa dinikmati oleh seluruh pengguna WhatsApp, termasuk di Indonesia sejak 16 November lalu. Momen peluncuran fitur panggilan video ini melibatkan Mark Zuckerberg selaku CEO Facebook. Sebagai mana kita ketahui bersama, Facebook merupakan perusahaan induk pemilik WhatsApp.

Melalui posting di laman Facebook pribadinya, Mark dengan bangga mempromosikan fitur video call WhatsApp. Mark menyebut fitur ini paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar pengguna.



Kalau kamu mau ikut menikmati fitur terbaru ini, pastikan smartphone-mu sudah memperbaharui aplikasi WhatsApp. Pengguna Android dapat menggunakan video call dengan WhatsApp versi 2.16.352. Sedangkan bagi pengguna iOS, fitur panggilan video dapat ditemukan pada aplikasi WhatsApp versi 2.16.17.

Menurut berita Kompas Tekno, belum semua perangkat mendapat pembaruan versi terbaru WhatsApp. Dengan demikian belum semua pengguna dapat menggunakan fitur video call. Tapi rasanya tak bakal lama lagi seluruh pengguna bakal mendapat pemberitahuan untuk meng-update aplikasinya dan bisa menikmati layanan panggilan video WhatsApp.

Cara Menggunakan WhatsApp Video Call
Mau mencoba fitur video call di WhatsApp? Hal pertama yang harus dilakukan adalah meng-update aplikasi WhatsApp di smartphone. Seharusnya versi terbaru sudah tersedia di Google PlayStore dan Apps Store.

Bagaimana kalau belum ada? Kemungkinannya hanya ada satu, operating system hapemu tidak mendukung aplikasi WhatsApp terbaru. Harap dicatat, WhatsApp versi 2.16.17 hanya bisa dipakai di perangkat Apple dengan iOS 8 ke atas. Sedangkan untuk smartphone berbasis Android, WhatsApp versi 2.16.352 yang menyediakan fitur video call hanya bisa diinstal di sistem operasi Android 4.1 "Jelly Bean" atau yang lebih baru.

Kalau smartphone-mu sudah sesuai persyaratan, WhatsApp versi terbaru untuk iOS dapat diunduh di App Store melalui tautan berikut. Untuk pengguna Android bisa mengunduhnya melalui Google Play Store di tautan satu ini.

Oya, agar kontak video dapat dilakukan, kedua perangkat milik penelepon dan yang ditelepon haruslah memakai WhatsApp versi terbaru yang mendukung fitur video call. Kalau tidak, ya, tidak bisa. Dengan kata lain, kita hanya bisa melakukan panggilan video ke kontak yang hapenya sudah support layanan terbaru ini.

Coba lihat gambar yang saya comot dari laman The Indian Express berikut ini. Kalau kontak yang hendak dihubungi tidak bisa melakukan video calling, WhatsApp akan menampilkan pesan berbunyi, "Couldn't place call. [Nama Kontak] is using a phone that doesn't support video calls."


Cara menggunakan WhatsApp video calling sangat mudah sekali. Bagi pengguna Android, panggilan video dapat dilakukan dengan menekan ikon telepon di pojok kanan atas nama kontak. Setelah itu akan tampil dialog box berisi dua pilihan: Voice Call untuk panggilan suara dan Video Call untuk panggilan video.

Berbeda dengan pengguna Android, pemakai iOS dapat langsung melihat dua macam ikon untuk melakukan panggilan di pojok kanan atas nama kontak. Satu ikon telepon untuk membuat Voice Call dan satunya lagi ikon kamera untuk melakukan Video Call. Jadi, tinggal pencet saja tombol kamera.

Masih bingung? Ringkasnya, begini nih langkah-langkah yang musti kamu lakukan agar dapat menggunakan layanan video call di WhatsApp:

  1. Pastikan smartphone-mu sudah menggunakan iOS 8 atau Android 4.1 Jelly Bean.
  2. Update dulu aplikasi WhatsApp-mu. Pengguna Android menggunakan versi 2.16.352, sedangkan user iOS memakai versi 2.16.17.
  3. Selanjutnya, pilih orang yang ingin dihubungi dari daftar.
  4. Lihat di pojok kanan atas nama kontak. Bagi pengguna iOS, ada dua ikon yang tersedia: telepon dan kamera. Tekan ikon kamera untuk melakukan Video Call. Sedangkan pengguna Android hanya bisa melihat ikon telepon. Tekan ikon tersebut, dan selanjutnya akan tampil dialog box berisi dua pilihan: Voice Call dan Video Call.

Kalau mau mencari poin minus, WhatsApp video call hanya bisa digunakan oleh dua pengguna per panggilan. Kita tidak dapat melakukan conference video-call. Tapi rasanya fitur panggilan video ramai-ramai itu bakal dihadirkan pula oleh WhatsApp. Tinggal tunggu waktu saja. Maklum, namanya saja layanan baru.

Soal kualitas suara dan video, ini sepenuhnya tergantung jaringan internet yang digunakan. Semakin baik jaringan kita, maka semakin jernih dan lancar pula tampilan video maupun suara yang didengar. Mengingat sudah banyak kota yang ter-cover jaringan 4G, masalah sebenarnya sepertinya bergeser ke soal jumlah kuota yang kita punyai. Hahaha.

Anyway, selamat mencoba!



Sumber Foto:
Foto 1: http://www.techworm.net/2016/05/whatsapp-video-calling-arrives-how-to-get-it.html
Foto 2: http://indianexpress.com/article/technology/social/whatsapp-video-calling-is-finally-rolling-out-here-is-how-it-works-4376124/


YANG sudah menunggu-nunggu layanan satu ini boleh mengacungkan jari. Yap, video call WhatsApp akhirnya resmi dirilis dan sudah bisa digunakan secara luas oleh pemakai aplikasi chatting tersebut. Jadi tak cuma berkirim teks dan foto, kini kita bisa melakukan panggilan video ke teman dan saudara menggunakan WhatsApp. Hore!

Peluncuran WhatsApp video calling diumumkan secara resmi dalam blog ofisial pada 14 November lalu. Fitur terbaru ini membuat layanan WhatsApp semakin kompleks. Dari awal kemunculannya hanya untuk bertukar teks dan foto, lalu berkirim suara dan video, ditambah panggilan suara seperti telepon berbasis jaringan internet, dan kini dipungkasi dengan layanan video call.

"Today we’re excited to announce the next step in our efforts to connect people – WhatsApp video calling. In the coming days, WhatsApp's more than one billion users can make video calls across Android, iPhone, and Windows Phone devices." - https://blog.WhatsApp.com

Bagi saya sendiri ini merupakan layanan yang sudah lama ditunggu. Saya memakai WhatsApp sejak pertengahan 2012, saat toko online saya sedang jaya-jayanya. Waktu itu di Blackberry saya terinstal BBM dan WhatsApp, dua-duanya menjadi jalur utama untuk berkomunikasi dengan calon pembeli.

Belakangan saya lebih suka menggunakan WhatsApp. Alasannya, layanan text-messaging satu ini berbasis nomor seluler yang lebih fleksibel. Kita dapat berganti-ganti perangkat tanpa harus kehilangan kontak WhatsApp dan tanpa berganti nomor sebagai identitas. Berbeda dengan BBM yang berbasis PIN Blackberry. Ganti perangkat berarti ganti PIN. Sekalipun kita bisa login dengan Blackberry ID untuk tetap mengakses daftar kontak, PIN kita berganti.

Setelah Blackberry makin tenggelam, alasan untuk lebih menyukai WhatsApp semakin bertambah. Saya berganti menggunakan smartphone berbasis Android dan WhatsApp jadi aplikasi text-messaging utama. Ketika kemudian BBM tersedia di Google PlayStore, saya sudah kadung nyaman dengan WhatsApp.

Versi Terbaru
Kembali ke voice-call, langkah WhatsApp meluncurkan fitur ini sebenarnya boleh dibilang tertinggal dari kompetitor. Aplikasi chatting lain seperti Line dan WeChat sudah lama menyediakan layanan panggilan suara. Google sendiri sejak awal meluncurkan Gmail pada 2005 lalu sudah memperkenalkan video-messaging yang kemudian diadopsi jadi GTalk dan kini ada pula Google Duo.

WhatsApp video calling awalnya dirilis dalam versi beta beberapa waktu lalu. Namanya saja versi beta, pengguna dan penggunaannya masih sangat terbatas. Sekedar untuk uji coba. WhatsApp menyediakan tautan khusus bagi pengguna yang ingin menjadi beta tester alias pengguna versi uji coba.

Kini setelah dirilis secara resmi, fitur panggilan video sudah bisa dinikmati oleh seluruh pengguna WhatsApp, termasuk di Indonesia sejak 16 November lalu. Momen peluncuran fitur panggilan video ini melibatkan Mark Zuckerberg selaku CEO Facebook. Sebagai mana kita ketahui bersama, Facebook merupakan perusahaan induk pemilik WhatsApp.

Melalui posting di laman Facebook pribadinya, Mark dengan bangga mempromosikan fitur video call WhatsApp. Mark menyebut fitur ini paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar pengguna.



Kalau kamu mau ikut menikmati fitur terbaru ini, pastikan smartphone-mu sudah memperbaharui aplikasi WhatsApp. Pengguna Android dapat menggunakan video call dengan WhatsApp versi 2.16.352. Sedangkan bagi pengguna iOS, fitur panggilan video dapat ditemukan pada aplikasi WhatsApp versi 2.16.17.

Menurut berita Kompas Tekno, belum semua perangkat mendapat pembaruan versi terbaru WhatsApp. Dengan demikian belum semua pengguna dapat menggunakan fitur video call. Tapi rasanya tak bakal lama lagi seluruh pengguna bakal mendapat pemberitahuan untuk meng-update aplikasinya dan bisa menikmati layanan panggilan video WhatsApp.

Cara Menggunakan WhatsApp Video Call
Mau mencoba fitur video call di WhatsApp? Hal pertama yang harus dilakukan adalah meng-update aplikasi WhatsApp di smartphone. Seharusnya versi terbaru sudah tersedia di Google PlayStore dan Apps Store.

Bagaimana kalau belum ada? Kemungkinannya hanya ada satu, operating system hapemu tidak mendukung aplikasi WhatsApp terbaru. Harap dicatat, WhatsApp versi 2.16.17 hanya bisa dipakai di perangkat Apple dengan iOS 8 ke atas. Sedangkan untuk smartphone berbasis Android, WhatsApp versi 2.16.352 yang menyediakan fitur video call hanya bisa diinstal di sistem operasi Android 4.1 "Jelly Bean" atau yang lebih baru.

Kalau smartphone-mu sudah sesuai persyaratan, WhatsApp versi terbaru untuk iOS dapat diunduh di App Store melalui tautan berikut. Untuk pengguna Android bisa mengunduhnya melalui Google Play Store di tautan satu ini.

Oya, agar kontak video dapat dilakukan, kedua perangkat milik penelepon dan yang ditelepon haruslah memakai WhatsApp versi terbaru yang mendukung fitur video call. Kalau tidak, ya, tidak bisa. Dengan kata lain, kita hanya bisa melakukan panggilan video ke kontak yang hapenya sudah support layanan terbaru ini.

Coba lihat gambar yang saya comot dari laman The Indian Express berikut ini. Kalau kontak yang hendak dihubungi tidak bisa melakukan video calling, WhatsApp akan menampilkan pesan berbunyi, "Couldn't place call. [Nama Kontak] is using a phone that doesn't support video calls."


Cara menggunakan WhatsApp video calling sangat mudah sekali. Bagi pengguna Android, panggilan video dapat dilakukan dengan menekan ikon telepon di pojok kanan atas nama kontak. Setelah itu akan tampil dialog box berisi dua pilihan: Voice Call untuk panggilan suara dan Video Call untuk panggilan video.

Berbeda dengan pengguna Android, pemakai iOS dapat langsung melihat dua macam ikon untuk melakukan panggilan di pojok kanan atas nama kontak. Satu ikon telepon untuk membuat Voice Call dan satunya lagi ikon kamera untuk melakukan Video Call. Jadi, tinggal pencet saja tombol kamera.

Masih bingung? Ringkasnya, begini nih langkah-langkah yang musti kamu lakukan agar dapat menggunakan layanan video call di WhatsApp:

  1. Pastikan smartphone-mu sudah menggunakan iOS 8 atau Android 4.1 Jelly Bean.
  2. Update dulu aplikasi WhatsApp-mu. Pengguna Android menggunakan versi 2.16.352, sedangkan user iOS memakai versi 2.16.17.
  3. Selanjutnya, pilih orang yang ingin dihubungi dari daftar.
  4. Lihat di pojok kanan atas nama kontak. Bagi pengguna iOS, ada dua ikon yang tersedia: telepon dan kamera. Tekan ikon kamera untuk melakukan Video Call. Sedangkan pengguna Android hanya bisa melihat ikon telepon. Tekan ikon tersebut, dan selanjutnya akan tampil dialog box berisi dua pilihan: Voice Call dan Video Call.

Kalau mau mencari poin minus, WhatsApp video call hanya bisa digunakan oleh dua pengguna per panggilan. Kita tidak dapat melakukan conference video-call. Tapi rasanya fitur panggilan video ramai-ramai itu bakal dihadirkan pula oleh WhatsApp. Tinggal tunggu waktu saja. Maklum, namanya saja layanan baru.

Soal kualitas suara dan video, ini sepenuhnya tergantung jaringan internet yang digunakan. Semakin baik jaringan kita, maka semakin jernih dan lancar pula tampilan video maupun suara yang didengar. Mengingat sudah banyak kota yang ter-cover jaringan 4G, masalah sebenarnya sepertinya bergeser ke soal jumlah kuota yang kita punyai. Hahaha.

Anyway, selamat mencoba!



Sumber Foto:
Foto 1: http://www.techworm.net/2016/05/whatsapp-video-calling-arrives-how-to-get-it.html
Foto 2: http://indianexpress.com/article/technology/social/whatsapp-video-calling-is-finally-rolling-out-here-is-how-it-works-4376124/

Kamis, 10 November 2016


YANG sering naik pesawat terbang di tahun-tahun 2004 hingga 2013 pasti pernah merasakan, atau setidaknya tahu, promo gila-gilaan dengan harga tiket super duper murah. Jaman di mana tiket pesawat bahkan bisa lebih murah dari tiket bus eksekutif antarkota antarprovinsi.

Tapi masa-masa itu sudah berlalu. Sejak ditetapkannya pagu harga terendah tiket pesawat oleh Menteri Perhubungan (masa itu) Ignasius Jonan, jarang kita lihat maskapai menawarkan harga-harga miring. Ditambah lagi kini maskapai-maskapai semakin jarang mengadakan promo. Alhasil, mendapat tiket pesawat murah terasa lebih sulit.

Eit, tunggu dulu. Sulit bukan berarti tidak bisa ya. Walaupun jarang ada promo seperti dulu, kita tetap bisa kok mendapat tiket murah. Yang diperlukan adalah seni untuk mengetahui kapan harga tiket pesawat lebih murah dari biasanya.

Berikut beberapa hal yang musti diperhatikan kalau kamu ingin mendapat harga tiket pesawat terjangkau kantong walau sedang tidak ada promo. Sebagian dari tips di bawah ini merupakan pengalaman saya pribadi, diperkaya dengan hasil mengulik beberapa referensi.

1. Kota Tujuan
Perhatikan kota tujuan kamu. Kota-kota dengan trafik penerbangan tinggi cenderung mahal tiketnya. Masih ingat kan salah satu poin dalam pelajaran ekonomi di mana kalau permintaan tinggi, maka harga akan turut naik. Dalam dunia penerbangan, kota-kota destinasi favorit harga tiket pesawatnya sangat fluktuatif alias naik-turun dengan cepat.

Katakanlah Denpasar, Yogyakarta, Semarang, atau Surabaya untuk penerbangan domestik. Kalau penerbangan ke luar negeri contohnya sebut saja Singapura, Kuala Lumpur, atau Bangkok. Ciri kota tersebut merupakan destinasi favorit bisa dilihat dari keberadaan maskapai penerbangan budget rendah alias low-cost carrier yang melayani rute tersebut.

Kalau kota-kota demikian yang jadi tujuan kamu, dituntut kejelian lebih dalam membaca harga. Kalau kamu rasa harga hari ini merupakan penawaran terbaik, segera booking dan lunasi karena bisa jadi besok harganya naik. Walaupun naiknya mungkin cuma bilangan puluhan ribu, tetap saja namanya penghematan kan?

Hal berbeda untuk kota-kota yang trafik penerbangannya rendah, katakanlah rute sepi. Jadwal penerbangannya hanya ada sehari sekali dan dilayani satu maskapai saja - misalnya Pontianak-Kuching, atau malah sepekan cuma dua-tiga kali seperti Semarang-Kuala Lumpur. Kalau kota-kota demikian yang jadi tujuan, memesan tiket kapanpun biasanya tidak akan berbeda jauh selisih harganya.


2. Maskapai Penerbangan
Setelah kota tujuan, perhatikan juga maskapai penerbangannya. Bandingkan satu maskapai dengan maskapai yang lain. Apa saja layanan yang diberikan selama penerbangan, berapa kilogram jatah bagasi gratis yang diberikan dan apakah disediakan makan-minum di atas pesawat?

Karena fokus kita di harga, maka yang perlu dicatat adalah perusahaan-perusahaan low-cost carrier biasanya menerapkan sistem harga berbeda dengan maskapai bonafid yang menerapkan layanan penuh. Kita selama ini berpikiran pesawat-pesawat low-cost carrier memberikan harga lebih murah, tapi itu tergantung kapan tiketnya dipesan.

Tiket pesawat LCC bisa lebih murah kalau kita pesan jauh-jauh hari. Biasanya semakin jauh dari tanggal penerbangan bakal semakin murah. Malah maskapai seperti Air Asia kerap menggelar promo tiket murah untuk penerbangan tahun depan. Sebaliknya, pesawat-pesawat full-service menerapkan harga yang cenderung sama sepanjang tahun (year-round fare). Jadi mau pesan kapan saja selisihnya cuma sedikit.

Jadi, kalau jadwal keberangkatan masih lama maskapai LCC bisa jadi pilihan untuk menghemat budget. Tapi andai mendadak harus terbang dalam waktu dekat, tak jarang harga tiket pesawat full-service lebih murah ketimbang maskapai LCC lho. Telitilah sebelum membeli!

3. Jam, Hari, dan Tanggal Keberangkatan
Perhatikan juga hari keberangkatan, sebab harga tiket pesawat bisa berbeda-beda untuk tiap-tiap hari. Biasanya pada akhir pekan harganya akan lebih tinggi dari hari-hari biasa (Senin-Jumat). Maklum, biasanya kalau akhir pekan yang kerja kantoran pergi berlibur. Atau ada juga yang pulang kampung menjenguk keluarga.

Karenanya kalau mudik ke Jambi saya suka mengambil penerbangan di hari-hari kerja ketimbang weekend. Hari favorit saya adalah Selasa sampai Kamis. Beberapa kali saya dapat penerbangan yang pesawatnya kosong. Pesan empat kursi bisa bebas menikmati enam kursi sekaligus karena sederet hanya ada saya dan anak-istri.

Selain hari, waktu dan jam keberangkatan juga menentukan harga lho. Penerbangan Senin pagi harganya berbeda dengan Senin siang dan sore. Demikian pula penerbangan Jumat sore dengan Jumat pagi atau siang. Saya sendiri kalau terpaksa berangkat Senin, saya ambil penerbangan siang atau sore. Andai musti terbang hari Jumat, saya pilih penerbangan pagi. Saya menghindari penerbangan Jumat sore, Sabtu dan Minggu jam berapapun, serta Senin pagi.


Setelah hari dan jam keberangkatan, tanggal pun turut menentukan harga. Perhatikan baik-baik, harga tiket pesawat di tanggal 20-an cenderung lebih rendah dibanding tanggal muda alias awal bulan. Faktor gajian? Bisa jadi. Karena menganggap keuangan calon penumpangnya sudah menipis di akhir bulan, maskapai-maskapai pun memberi harga murah.

Pengalaman seorang teman saya bisa jadi contoh. Teman saya ini, sebut saja namanya Ali, mencari penerbangan Surabaya-Penang di awal Oktober. Harga paling murah untuk penerbangan direct kisaran Rp 1,2 sampai 1,4 juta dengan maskapai LCC. Karena satu dan lain hal rencananya berubah, dan dia baru bisa berangkat akhir bulan. Eh, ternyata dia malah dapat harga sejuta untuk penerbangan langsung.

Lumayan, hemat beberapa ratus ribu rupiah.

4. Harga Dasar Maskapai
Sepertinya repot ya kalau harus menghapal harga dasar setiap pesawat untuk masing-masing tujuan. Tapi setidaknya kita harus tahu harga tiket standar di luar promo ke kota yang hendak dituju. Ini akan sangat berguna untuk mengetahui apakah harga yang kita lihat pada saat melakukan pencarian sudah murah, atau bisa lebih murah lagi.

Kalau kita biasa menggunakan pesawat tersebut dan sering bepergian ke kota tertentu, kita akan tahu berapa tarif termurahnya. Kalau tidak, coba tanya teman yang kita tahu biasa bepergian dengan maskapai yang kita ingin tumpangi.

5. Harga Khusus
Walaupun tidak sedang menggelar promo, tak jarang sejumlah maskapai memberi harga khusus untuk penumpang tertentu. Cari tahu ini dan kita bisa menghemat budget yang jumlahnya lumayan untuk tiket pesawat.

Sebagai contoh Citilink. Maskapai low-cost carrier milik Garuda Indonesia ini memberi potongan harga 25% untuk penumpang anak-anak. Potongan berlaku sepanjang waktu tanpa peduli high season maupun low season, weekend atau weekdays. Asalkan calon penumpang berusia kurang dari 12 tahun, harga tiketnya direduksi 25%.

Bagi saya yang punya dua anak potongan semacam ini sangat membantu sekali. Harga tiket Jakarta-Jambi dan sebaliknya yang dipatok Citilink terbilang lebih tinggi dari maskapai LCC lain, katakanlah Lion Air. Tapi karena tiket anak-anak mendapat diskon 25%, total harga tiket untuk kami berempat (dua dewasa, dua anak-anak) dengan Citilink jadi lebih murah ketimbang menggunakan Lion Air.


6. Agen Penjual
Rasanya sekarang sudah sangat jarang sekali penumpang pesawat terbang yang membeli tiket langsung ke maskapai bersangkutan. Kebanyakan lebih suka membeli melalui agen-agen penjualan yang jumlahnya sangat banyak sekali. Salah satu alasannya, harga di agen seperti ini biasanya malah lebih murah dari harga resmi di website maskapai.

Saya sendiri termasuk penumpang pesawat yang begitu. Demi menghemat, saya biasanya membeli via agen ketimbang lewat situs resmi maskapai. Salah satu agen yang tengah jadi pembicaraan karena setiap hari bagi-bagi tiket gratis ke kota manapun yang kita inginkan adalah Tiket2.com. Coba deh mampir ke sana untuk mendapatkan tiket pesawat murah.

Selain faktor harga, kemudahan dalam pemesanan jadi pertimbangan lain. Tidak semua maskapai mempunyai aplikasi mobile, pun situs yang mobile-friendly, jadi pemesanan harus lewat website yang diakses menggunakan dekstop atau laptop. Ini tentu tidak praktis, terlebih bagi yang tidak memiliki jaringan internet kabel di rumah.

Yang paling penting bagi saya adalah kemudahan dalam pembayaran. Beberapa situs resmi maskapai hanya menerima pembayaran menggunakan kartu kredit. Ada yang menerima pembayaran via transfer ATM, tapi dengan waktu terbatas. Tidak cocok untuk saya yang jauh dari ATM. Pernah lho saya sampai di ATM pembayaran gagal karena batas waktunya sudah lewat. Sebel kan?

Nah, situs-situs penjual tiket pesawat seperti Tiket2.com menawarkan metode pembayaran lebih variatif. Selain kartu kredit dan ATM, kita juga bisa membayar lewat e-banking maupun e-payment. Jadi tidak ada ceritanya sudah jauh-jauh ke ATM, antri lama, begitu tiba giliran kita masa tenggang pembayaran sudah kadaluarsa.

*****

Itu dia enam poin yang perlu diperhatikan kalau ingin mendapat tiket pesawat murah tanpa menunggu promo. Semoga bermanfaat!


Foto-Foto:
1. http://lifehacker.com/the-best-time-and-time-of-day-to-book-airline-tickets-1507704370
2. apa ya? :)
3. http://www.businessinsider.com/13-us-airports-with-longest-customs-lines-2013-7
4.
Screenshot website


YANG sering naik pesawat terbang di tahun-tahun 2004 hingga 2013 pasti pernah merasakan, atau setidaknya tahu, promo gila-gilaan dengan harga tiket super duper murah. Jaman di mana tiket pesawat bahkan bisa lebih murah dari tiket bus eksekutif antarkota antarprovinsi.

Tapi masa-masa itu sudah berlalu. Sejak ditetapkannya pagu harga terendah tiket pesawat oleh Menteri Perhubungan (masa itu) Ignasius Jonan, jarang kita lihat maskapai menawarkan harga-harga miring. Ditambah lagi kini maskapai-maskapai semakin jarang mengadakan promo. Alhasil, mendapat tiket pesawat murah terasa lebih sulit.

Eit, tunggu dulu. Sulit bukan berarti tidak bisa ya. Walaupun jarang ada promo seperti dulu, kita tetap bisa kok mendapat tiket murah. Yang diperlukan adalah seni untuk mengetahui kapan harga tiket pesawat lebih murah dari biasanya.

Berikut beberapa hal yang musti diperhatikan kalau kamu ingin mendapat harga tiket pesawat terjangkau kantong walau sedang tidak ada promo. Sebagian dari tips di bawah ini merupakan pengalaman saya pribadi, diperkaya dengan hasil mengulik beberapa referensi.

1. Kota Tujuan
Perhatikan kota tujuan kamu. Kota-kota dengan trafik penerbangan tinggi cenderung mahal tiketnya. Masih ingat kan salah satu poin dalam pelajaran ekonomi di mana kalau permintaan tinggi, maka harga akan turut naik. Dalam dunia penerbangan, kota-kota destinasi favorit harga tiket pesawatnya sangat fluktuatif alias naik-turun dengan cepat.

Katakanlah Denpasar, Yogyakarta, Semarang, atau Surabaya untuk penerbangan domestik. Kalau penerbangan ke luar negeri contohnya sebut saja Singapura, Kuala Lumpur, atau Bangkok. Ciri kota tersebut merupakan destinasi favorit bisa dilihat dari keberadaan maskapai penerbangan budget rendah alias low-cost carrier yang melayani rute tersebut.

Kalau kota-kota demikian yang jadi tujuan kamu, dituntut kejelian lebih dalam membaca harga. Kalau kamu rasa harga hari ini merupakan penawaran terbaik, segera booking dan lunasi karena bisa jadi besok harganya naik. Walaupun naiknya mungkin cuma bilangan puluhan ribu, tetap saja namanya penghematan kan?

Hal berbeda untuk kota-kota yang trafik penerbangannya rendah, katakanlah rute sepi. Jadwal penerbangannya hanya ada sehari sekali dan dilayani satu maskapai saja - misalnya Pontianak-Kuching, atau malah sepekan cuma dua-tiga kali seperti Semarang-Kuala Lumpur. Kalau kota-kota demikian yang jadi tujuan, memesan tiket kapanpun biasanya tidak akan berbeda jauh selisih harganya.


2. Maskapai Penerbangan
Setelah kota tujuan, perhatikan juga maskapai penerbangannya. Bandingkan satu maskapai dengan maskapai yang lain. Apa saja layanan yang diberikan selama penerbangan, berapa kilogram jatah bagasi gratis yang diberikan dan apakah disediakan makan-minum di atas pesawat?

Karena fokus kita di harga, maka yang perlu dicatat adalah perusahaan-perusahaan low-cost carrier biasanya menerapkan sistem harga berbeda dengan maskapai bonafid yang menerapkan layanan penuh. Kita selama ini berpikiran pesawat-pesawat low-cost carrier memberikan harga lebih murah, tapi itu tergantung kapan tiketnya dipesan.

Tiket pesawat LCC bisa lebih murah kalau kita pesan jauh-jauh hari. Biasanya semakin jauh dari tanggal penerbangan bakal semakin murah. Malah maskapai seperti Air Asia kerap menggelar promo tiket murah untuk penerbangan tahun depan. Sebaliknya, pesawat-pesawat full-service menerapkan harga yang cenderung sama sepanjang tahun (year-round fare). Jadi mau pesan kapan saja selisihnya cuma sedikit.

Jadi, kalau jadwal keberangkatan masih lama maskapai LCC bisa jadi pilihan untuk menghemat budget. Tapi andai mendadak harus terbang dalam waktu dekat, tak jarang harga tiket pesawat full-service lebih murah ketimbang maskapai LCC lho. Telitilah sebelum membeli!

3. Jam, Hari, dan Tanggal Keberangkatan
Perhatikan juga hari keberangkatan, sebab harga tiket pesawat bisa berbeda-beda untuk tiap-tiap hari. Biasanya pada akhir pekan harganya akan lebih tinggi dari hari-hari biasa (Senin-Jumat). Maklum, biasanya kalau akhir pekan yang kerja kantoran pergi berlibur. Atau ada juga yang pulang kampung menjenguk keluarga.

Karenanya kalau mudik ke Jambi saya suka mengambil penerbangan di hari-hari kerja ketimbang weekend. Hari favorit saya adalah Selasa sampai Kamis. Beberapa kali saya dapat penerbangan yang pesawatnya kosong. Pesan empat kursi bisa bebas menikmati enam kursi sekaligus karena sederet hanya ada saya dan anak-istri.

Selain hari, waktu dan jam keberangkatan juga menentukan harga lho. Penerbangan Senin pagi harganya berbeda dengan Senin siang dan sore. Demikian pula penerbangan Jumat sore dengan Jumat pagi atau siang. Saya sendiri kalau terpaksa berangkat Senin, saya ambil penerbangan siang atau sore. Andai musti terbang hari Jumat, saya pilih penerbangan pagi. Saya menghindari penerbangan Jumat sore, Sabtu dan Minggu jam berapapun, serta Senin pagi.


Setelah hari dan jam keberangkatan, tanggal pun turut menentukan harga. Perhatikan baik-baik, harga tiket pesawat di tanggal 20-an cenderung lebih rendah dibanding tanggal muda alias awal bulan. Faktor gajian? Bisa jadi. Karena menganggap keuangan calon penumpangnya sudah menipis di akhir bulan, maskapai-maskapai pun memberi harga murah.

Pengalaman seorang teman saya bisa jadi contoh. Teman saya ini, sebut saja namanya Ali, mencari penerbangan Surabaya-Penang di awal Oktober. Harga paling murah untuk penerbangan direct kisaran Rp 1,2 sampai 1,4 juta dengan maskapai LCC. Karena satu dan lain hal rencananya berubah, dan dia baru bisa berangkat akhir bulan. Eh, ternyata dia malah dapat harga sejuta untuk penerbangan langsung.

Lumayan, hemat beberapa ratus ribu rupiah.

4. Harga Dasar Maskapai
Sepertinya repot ya kalau harus menghapal harga dasar setiap pesawat untuk masing-masing tujuan. Tapi setidaknya kita harus tahu harga tiket standar di luar promo ke kota yang hendak dituju. Ini akan sangat berguna untuk mengetahui apakah harga yang kita lihat pada saat melakukan pencarian sudah murah, atau bisa lebih murah lagi.

Kalau kita biasa menggunakan pesawat tersebut dan sering bepergian ke kota tertentu, kita akan tahu berapa tarif termurahnya. Kalau tidak, coba tanya teman yang kita tahu biasa bepergian dengan maskapai yang kita ingin tumpangi.

5. Harga Khusus
Walaupun tidak sedang menggelar promo, tak jarang sejumlah maskapai memberi harga khusus untuk penumpang tertentu. Cari tahu ini dan kita bisa menghemat budget yang jumlahnya lumayan untuk tiket pesawat.

Sebagai contoh Citilink. Maskapai low-cost carrier milik Garuda Indonesia ini memberi potongan harga 25% untuk penumpang anak-anak. Potongan berlaku sepanjang waktu tanpa peduli high season maupun low season, weekend atau weekdays. Asalkan calon penumpang berusia kurang dari 12 tahun, harga tiketnya direduksi 25%.

Bagi saya yang punya dua anak potongan semacam ini sangat membantu sekali. Harga tiket Jakarta-Jambi dan sebaliknya yang dipatok Citilink terbilang lebih tinggi dari maskapai LCC lain, katakanlah Lion Air. Tapi karena tiket anak-anak mendapat diskon 25%, total harga tiket untuk kami berempat (dua dewasa, dua anak-anak) dengan Citilink jadi lebih murah ketimbang menggunakan Lion Air.


6. Agen Penjual
Rasanya sekarang sudah sangat jarang sekali penumpang pesawat terbang yang membeli tiket langsung ke maskapai bersangkutan. Kebanyakan lebih suka membeli melalui agen-agen penjualan yang jumlahnya sangat banyak sekali. Salah satu alasannya, harga di agen seperti ini biasanya malah lebih murah dari harga resmi di website maskapai.

Saya sendiri termasuk penumpang pesawat yang begitu. Demi menghemat, saya biasanya membeli via agen ketimbang lewat situs resmi maskapai. Salah satu agen yang tengah jadi pembicaraan karena setiap hari bagi-bagi tiket gratis ke kota manapun yang kita inginkan adalah Tiket2.com. Coba deh mampir ke sana untuk mendapatkan tiket pesawat murah.

Selain faktor harga, kemudahan dalam pemesanan jadi pertimbangan lain. Tidak semua maskapai mempunyai aplikasi mobile, pun situs yang mobile-friendly, jadi pemesanan harus lewat website yang diakses menggunakan dekstop atau laptop. Ini tentu tidak praktis, terlebih bagi yang tidak memiliki jaringan internet kabel di rumah.

Yang paling penting bagi saya adalah kemudahan dalam pembayaran. Beberapa situs resmi maskapai hanya menerima pembayaran menggunakan kartu kredit. Ada yang menerima pembayaran via transfer ATM, tapi dengan waktu terbatas. Tidak cocok untuk saya yang jauh dari ATM. Pernah lho saya sampai di ATM pembayaran gagal karena batas waktunya sudah lewat. Sebel kan?

Nah, situs-situs penjual tiket pesawat seperti Tiket2.com menawarkan metode pembayaran lebih variatif. Selain kartu kredit dan ATM, kita juga bisa membayar lewat e-banking maupun e-payment. Jadi tidak ada ceritanya sudah jauh-jauh ke ATM, antri lama, begitu tiba giliran kita masa tenggang pembayaran sudah kadaluarsa.

*****

Itu dia enam poin yang perlu diperhatikan kalau ingin mendapat tiket pesawat murah tanpa menunggu promo. Semoga bermanfaat!


Foto-Foto:
1. http://lifehacker.com/the-best-time-and-time-of-day-to-book-airline-tickets-1507704370
2. apa ya? :)
3. http://www.businessinsider.com/13-us-airports-with-longest-customs-lines-2013-7
4.
Screenshot website

Selasa, 08 November 2016


PERNAH menghitung ada berapa film yang dirilis sepanjang tahun 2016 ini? Menurut laman FilmIndonesia.or.id, sampai dengan 31 Oktober sudah beredar nyaris 100 judul film. Pertanyaannya, dari sekian banyak film yang dirilis ada berapa yang sudah saya dan kalian semua tonton?

Itu dia masalahnya. Tinggal di kota kecil seperti Pemalang membuat saya tak bisa mengikuti perkembangan film. Bayangkan saja, di kota ini tidak ada bioskop! Bioskop terakhir yang bertahan adalah Bioskop Wijaya, tutup beberapa tahun lalu karena semakin sepinya penonton yang datang ke sana.

Kalau mau ke bioskop, saya dan warga Pemalang lainnya harus "mengungsi" ke kota sebelah: Tegal. Itupun tidak selalu film terbaru diputar di sana. Contohnya saja tiga film laris manis My Stupid Boss, Rudy Habibie, dan Warkop DKI Reborn. Mau tidak mau ya menunggu film tersebut beredar dalam bentuk DVD atau ditayangkan di televisi.

Pilihan terakhir, menunggu tayang di televisi, bisa sangat lama sekali. Berbulan-bulan atau bahkan menunggu tahun berganti. Jadi, pilihan terbaik adalah mencari DVD-nya. Nah, kalau tempat penyewaan DVD ada di Pemalang. Biasanya sih kalau benar-benar suka sama suatu film saya nggak akan cuma menyewa, tapi langsung membeli DVD-nya.

Lapak-lapak penjualan DVD juga menjamur di sini. Tapi, really sad to say, kebanyakan yang dijual adalah video-video bajakan. Saya pribadi lebih baik menahan diri sampai DVD originalnya keluar ketimbang membeli bajakan. Sudah jadi rahasia umum kalau begitu satu film dirilis, hanya hitungan hari DVD bajakannya sudah beredar di pasaran.

Kalau di tempat penyewaan video film yang saya cari tak ada, dan yang menjual DVD originalnya juga tidak ada, pilihan terakhir adalah mencari secara online. Itu yang selalu saya lakukan setiap kali gagal menemukan barang tertentu di Pemalang, termasuk DVD.

Mengenal Blu-ray
Ngomong-ngomong, DVD player di rumah rusak. Bisa sih nonton DVD di laptop, tapi sayang kan kalau laptop yang seharusnya buat cari uang malah cuma buat nonton film? So, butuh beli DVD player baru nih. Berapa ya harganya sekarang?

Sebelum bicara harga rasanya saya harus menentukan terlebih dahulu jenis video player apa yang akan dibeli. Sebab harga video player tentu saja tergantung pada jenisnya, lalu mereknya.


Bicara jenis, saat ini sudah ada cakram padat tipe baru yang dinamai Blu-ray. Medium penyimpanan video ini sebenarnya sudah diperkenalkan ke publik sejak 16 tahun lalu. Penggunaannya di Amerika Serikat dan negara-negara maju Eropa terus meningkat. Hanya saja di Indonesia masih banyak yang bahkan tidak tahu tentang Blu-ray.

Bentuk dan ukuran Blu-ray sama persis seperti DVD dan VCD yang selama ini kita kenal. Namun Blu-ray dapat menyimpan video dengan definisi tinggi (high-definition, HD) dan definisi sangat tinggi (ultra high-definition, UHD) yang mencapai resolusi 2160p (3840 × 2160 piksel), dengan kecepatan hingga 60 frames per second.

Sebagai perbandingan, DVD hanya bisa menampung video dengan resolusi maksimal 480i (NTSC, 720 × 480 piksel) atau 576i (PAL, 720 × 576 piksel). Perbedaannya sangat jauh sekali.

Karena kemampuannya menyimpan video berkualitas terbaik itulah Blu-ray mempunyai kapasitas besar. Blu-ray standar terdiri dari dua layer cakram padat yang masing-masing berkapasitas 25 GB alias total 50 GB. Ini berarti sepuluh kali lipat dari kapasitas penyimpanan DVD yang tak sampai 5 GB.

Ada juga Blu-ray bertipe triple-layer discs yang mampu menyimpan hingga 100 GB, dan quadruple-layers yang berkapasitas 128 GB. Wow, terbayang dong film kualitas seperti apa yang bisa disajikan oleh Blu-ray?

Untuk memutar Blu-ray, kita memerlukan perangkat khusus yaitu Blu-ray player. Bentuknya tak berbeda jauh dengan DVD player. Dan berita baiknya adalah, seperti halnya DVD player bisa dipakai memutar VCD, kita bisa memakai Blu-ray player untuk menonton DVD. Malah Blu-ray bisa meng-convert isi piringan DVD yang kita tonton sehingga menampilkan kualitas gambar lebih baik.

Blu-ray vs DVD
Wah, kalau begitu caranya saya bakal lebih memilih Blu-ray player ketimbang DVD player. Memang sih kalau bicara harga tentu DVD player jauh lebih murah dibandingkan Blu-ray player. Namun membeli Blu-ray boleh dibilang investasi menguntungkan bagi peminat film. Sensasi menonton film bakal terasa lebih memuaskan dengan memutar Blu-ray.

Perhatikan perbedaan tampilan film dalam format Blu-ray dan DVD yang digambarkan dalam ilustrasi di bawah ini. Jelas sekali terlihat bahwa Blu-ray menampilkan gambar lebih detil, lebih tajam, dan lebih jernih ketimbang DVD. Demikian pula untuk kualitas suaranya.


Sekarang jamannya high-definition dan bahkan tengah bergeser ke ultra high-definition. Film-film terbaru juga dibuat dengan kualitas gambar dan audio terbaik. Semua itu jadi percuma kalau kita menonton filmnya dengan medium DVD, sebab kapasitas piringan DVD yang kecil tidak memungkinkan untuk menyimpan film HD apalagi UHD.

Tapi, tunggu dulu. Dengan segala kelebihannya dibanding DVD tadi, tetap saja Blu-ray punya kelemahan. Biar gampang melihat kelebihan dan kekurangan Blu-ray, yuk, kita lihat tabel Blu-ray vs DVD di bawah ini:

Blu-ray DVD
Kapasitas Sebuah piringan Blu-ray dapat menyimpan sekitar file berukuran 25 GB. Blu-ray jenis dual layer mampu menyimpan hingga 50 GB. Kapasitas penyimpanannya yang besar ini menjadi kelebihan utama Blu-ray terhadap DVD. Dengan kapasitas sebesar itu, sekeping Blu-ray menjanjikan video dan audio berkualitas tinggi. Sebuah piringan DVD standar dapat menyimpan data hingga 4,7 GB, sedangkan DVD dual layer berkapasitas maksimal antara 8,5 - 8,7 GB. Angka ini masih terhitung kecil bahkan jika dibandingkan dengan piringan Blu-ray terkecil sekalipun.
Harga Harga Blu-ray player semakin terjangkau kantong. Piringan Blu-ray sendiri masih terhitung lebih mahal dari keping DVD, namun kualitas yang diberikan sepadan dengan harganya tersebut. Harga DVD player dan keping DVD lebih murah dari pemutar dan keping Blu-ray.
Kualitas Karena mampu menampung data dalam jumlah besar, keping Blu-ray dapat menyimpan lebih banyak data video dan audio, sehingga memungkinkannya menyimpan film-film dalam kualitas terbaik. Piringan Blu-ray mendukung video beresolusi hingga 1920 x 1080 dan frame rates sampai dengan 29.97 fps pada resolusi tertinggi. Sedangkan untuk resolusi lebih rendah dapat mencapai 59.94 fps. Dengan kapasitas penyimpanan jauh lebih kecil, keping DVD standar tidak bisa menyajikan film dan audio berkualitas sebaik Blu-ray.
Ketersediaan Blu-ray merupakan teknologi baru dan belum merata, karenanya tak semua film tersedia dalam format Blu-ray. Apatah lagi untuk film-film keluaran lama. DVD sudah dipakai sejak sekitar tahun 1996 dan terus-menerus dikembangkan. Hampir setiap film yang pernah dibuat tersedia dalam format DVD. Di tempat penyewaan film pun akan lebih mudah mencari sebuah film dalam format DVD ketimbang Blu-ray.
Isi Kebanyakan film-film berformat Blu-ray mempunyai konten-konten tambahan yang tidak tersedia di DVD. Misalnya behind the scenes ataukomentar-komentar yang kesemuanya disatukan dalam piringan yang sama. Dengan kapasitas penyimpanan yang terbatas, biasanya konten tambahan film-film berformat DVD ditempatkan di piringan terpisah.
3 Dimensi Semua film 3D terbaru hanya didistribusikan dalam format Blu-ray. Meskipun sudah ada DVD berkemampuan 3D, semua film 3D terbaru hanya didistribusikan dalam format Blu-ray.
Studio Pendukung Sony Pictures (termasuk MGM/Coumbia TriStar), Disney (termasuk Touchstone, Miramax), Fox, Paramount, Warner, Lions Gate Paramount, Studio Canal, Universal, Warner, The Weinstein Company

Itu dia perbandingan Blu-ray vs DVD sebagai perbandingan dalam mencari video player yang sesuai dengan kebutuhanmu. Semoga bermanfaat!


PERNAH menghitung ada berapa film yang dirilis sepanjang tahun 2016 ini? Menurut laman FilmIndonesia.or.id, sampai dengan 31 Oktober sudah beredar nyaris 100 judul film. Pertanyaannya, dari sekian banyak film yang dirilis ada berapa yang sudah saya dan kalian semua tonton?

Itu dia masalahnya. Tinggal di kota kecil seperti Pemalang membuat saya tak bisa mengikuti perkembangan film. Bayangkan saja, di kota ini tidak ada bioskop! Bioskop terakhir yang bertahan adalah Bioskop Wijaya, tutup beberapa tahun lalu karena semakin sepinya penonton yang datang ke sana.

Kalau mau ke bioskop, saya dan warga Pemalang lainnya harus "mengungsi" ke kota sebelah: Tegal. Itupun tidak selalu film terbaru diputar di sana. Contohnya saja tiga film laris manis My Stupid Boss, Rudy Habibie, dan Warkop DKI Reborn. Mau tidak mau ya menunggu film tersebut beredar dalam bentuk DVD atau ditayangkan di televisi.

Pilihan terakhir, menunggu tayang di televisi, bisa sangat lama sekali. Berbulan-bulan atau bahkan menunggu tahun berganti. Jadi, pilihan terbaik adalah mencari DVD-nya. Nah, kalau tempat penyewaan DVD ada di Pemalang. Biasanya sih kalau benar-benar suka sama suatu film saya nggak akan cuma menyewa, tapi langsung membeli DVD-nya.

Lapak-lapak penjualan DVD juga menjamur di sini. Tapi, really sad to say, kebanyakan yang dijual adalah video-video bajakan. Saya pribadi lebih baik menahan diri sampai DVD originalnya keluar ketimbang membeli bajakan. Sudah jadi rahasia umum kalau begitu satu film dirilis, hanya hitungan hari DVD bajakannya sudah beredar di pasaran.

Kalau di tempat penyewaan video film yang saya cari tak ada, dan yang menjual DVD originalnya juga tidak ada, pilihan terakhir adalah mencari secara online. Itu yang selalu saya lakukan setiap kali gagal menemukan barang tertentu di Pemalang, termasuk DVD.

Mengenal Blu-ray
Ngomong-ngomong, DVD player di rumah rusak. Bisa sih nonton DVD di laptop, tapi sayang kan kalau laptop yang seharusnya buat cari uang malah cuma buat nonton film? So, butuh beli DVD player baru nih. Berapa ya harganya sekarang?

Sebelum bicara harga rasanya saya harus menentukan terlebih dahulu jenis video player apa yang akan dibeli. Sebab harga video player tentu saja tergantung pada jenisnya, lalu mereknya.


Bicara jenis, saat ini sudah ada cakram padat tipe baru yang dinamai Blu-ray. Medium penyimpanan video ini sebenarnya sudah diperkenalkan ke publik sejak 16 tahun lalu. Penggunaannya di Amerika Serikat dan negara-negara maju Eropa terus meningkat. Hanya saja di Indonesia masih banyak yang bahkan tidak tahu tentang Blu-ray.

Bentuk dan ukuran Blu-ray sama persis seperti DVD dan VCD yang selama ini kita kenal. Namun Blu-ray dapat menyimpan video dengan definisi tinggi (high-definition, HD) dan definisi sangat tinggi (ultra high-definition, UHD) yang mencapai resolusi 2160p (3840 × 2160 piksel), dengan kecepatan hingga 60 frames per second.

Sebagai perbandingan, DVD hanya bisa menampung video dengan resolusi maksimal 480i (NTSC, 720 × 480 piksel) atau 576i (PAL, 720 × 576 piksel). Perbedaannya sangat jauh sekali.

Karena kemampuannya menyimpan video berkualitas terbaik itulah Blu-ray mempunyai kapasitas besar. Blu-ray standar terdiri dari dua layer cakram padat yang masing-masing berkapasitas 25 GB alias total 50 GB. Ini berarti sepuluh kali lipat dari kapasitas penyimpanan DVD yang tak sampai 5 GB.

Ada juga Blu-ray bertipe triple-layer discs yang mampu menyimpan hingga 100 GB, dan quadruple-layers yang berkapasitas 128 GB. Wow, terbayang dong film kualitas seperti apa yang bisa disajikan oleh Blu-ray?

Untuk memutar Blu-ray, kita memerlukan perangkat khusus yaitu Blu-ray player. Bentuknya tak berbeda jauh dengan DVD player. Dan berita baiknya adalah, seperti halnya DVD player bisa dipakai memutar VCD, kita bisa memakai Blu-ray player untuk menonton DVD. Malah Blu-ray bisa meng-convert isi piringan DVD yang kita tonton sehingga menampilkan kualitas gambar lebih baik.

Blu-ray vs DVD
Wah, kalau begitu caranya saya bakal lebih memilih Blu-ray player ketimbang DVD player. Memang sih kalau bicara harga tentu DVD player jauh lebih murah dibandingkan Blu-ray player. Namun membeli Blu-ray boleh dibilang investasi menguntungkan bagi peminat film. Sensasi menonton film bakal terasa lebih memuaskan dengan memutar Blu-ray.

Perhatikan perbedaan tampilan film dalam format Blu-ray dan DVD yang digambarkan dalam ilustrasi di bawah ini. Jelas sekali terlihat bahwa Blu-ray menampilkan gambar lebih detil, lebih tajam, dan lebih jernih ketimbang DVD. Demikian pula untuk kualitas suaranya.


Sekarang jamannya high-definition dan bahkan tengah bergeser ke ultra high-definition. Film-film terbaru juga dibuat dengan kualitas gambar dan audio terbaik. Semua itu jadi percuma kalau kita menonton filmnya dengan medium DVD, sebab kapasitas piringan DVD yang kecil tidak memungkinkan untuk menyimpan film HD apalagi UHD.

Tapi, tunggu dulu. Dengan segala kelebihannya dibanding DVD tadi, tetap saja Blu-ray punya kelemahan. Biar gampang melihat kelebihan dan kekurangan Blu-ray, yuk, kita lihat tabel Blu-ray vs DVD di bawah ini:

Blu-ray DVD
Kapasitas Sebuah piringan Blu-ray dapat menyimpan sekitar file berukuran 25 GB. Blu-ray jenis dual layer mampu menyimpan hingga 50 GB. Kapasitas penyimpanannya yang besar ini menjadi kelebihan utama Blu-ray terhadap DVD. Dengan kapasitas sebesar itu, sekeping Blu-ray menjanjikan video dan audio berkualitas tinggi. Sebuah piringan DVD standar dapat menyimpan data hingga 4,7 GB, sedangkan DVD dual layer berkapasitas maksimal antara 8,5 - 8,7 GB. Angka ini masih terhitung kecil bahkan jika dibandingkan dengan piringan Blu-ray terkecil sekalipun.
Harga Harga Blu-ray player semakin terjangkau kantong. Piringan Blu-ray sendiri masih terhitung lebih mahal dari keping DVD, namun kualitas yang diberikan sepadan dengan harganya tersebut. Harga DVD player dan keping DVD lebih murah dari pemutar dan keping Blu-ray.
Kualitas Karena mampu menampung data dalam jumlah besar, keping Blu-ray dapat menyimpan lebih banyak data video dan audio, sehingga memungkinkannya menyimpan film-film dalam kualitas terbaik. Piringan Blu-ray mendukung video beresolusi hingga 1920 x 1080 dan frame rates sampai dengan 29.97 fps pada resolusi tertinggi. Sedangkan untuk resolusi lebih rendah dapat mencapai 59.94 fps. Dengan kapasitas penyimpanan jauh lebih kecil, keping DVD standar tidak bisa menyajikan film dan audio berkualitas sebaik Blu-ray.
Ketersediaan Blu-ray merupakan teknologi baru dan belum merata, karenanya tak semua film tersedia dalam format Blu-ray. Apatah lagi untuk film-film keluaran lama. DVD sudah dipakai sejak sekitar tahun 1996 dan terus-menerus dikembangkan. Hampir setiap film yang pernah dibuat tersedia dalam format DVD. Di tempat penyewaan film pun akan lebih mudah mencari sebuah film dalam format DVD ketimbang Blu-ray.
Isi Kebanyakan film-film berformat Blu-ray mempunyai konten-konten tambahan yang tidak tersedia di DVD. Misalnya behind the scenes ataukomentar-komentar yang kesemuanya disatukan dalam piringan yang sama. Dengan kapasitas penyimpanan yang terbatas, biasanya konten tambahan film-film berformat DVD ditempatkan di piringan terpisah.
3 Dimensi Semua film 3D terbaru hanya didistribusikan dalam format Blu-ray. Meskipun sudah ada DVD berkemampuan 3D, semua film 3D terbaru hanya didistribusikan dalam format Blu-ray.
Studio Pendukung Sony Pictures (termasuk MGM/Coumbia TriStar), Disney (termasuk Touchstone, Miramax), Fox, Paramount, Warner, Lions Gate Paramount, Studio Canal, Universal, Warner, The Weinstein Company

Itu dia perbandingan Blu-ray vs DVD sebagai perbandingan dalam mencari video player yang sesuai dengan kebutuhanmu. Semoga bermanfaat!