Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Sabtu, 17 September 2016

"MAMPIRLAH sekalian ke Pangkalpinang, Ko. Kito jalan-jalan di sini," undang Ryan begitu tahu saya akan ke Palembang, pertengahan Mei lalu. Undangan yang menarik sebenarnya. Sayang sekali saya harus mengikuti agenda yang telah ditentukan pihak pengundang, sehingga tak bisa menyempatkan waktu mampir ke sana-sini. "Sori nian, Yan. Kagek lain kalilah aku mampir," balas saya.

Ryan yang nama lengkapnya Novrian Saputra adalah teman SMA saya di Muara Bulian, Jambi. Ia sebenarnya adik kelas, namun kami satu grup di band sekolah. Dia vokalis, saya pegang alat. Kontrakan saya dekat sekali dengan rumahnya, jadi kami sangat akrab karena nyaris setiap hari bermain bersama. Saya juga kenal dengan saudara-saudaranya, dan beberapa kali bertemu dengan bapak-ibunya.

Selepas SMA saya tak lagi mendengar kabar mengenai Ryan. Kami hilang kontak selama belasan tahun, sampai kemudian Facebook mempertemukan kami. Rupanya ia balik kampung ke Pulau Bangka, dan kini menjadi wakil ketua KPID setempat. Hubungan kami semakin intens semenjak Dodi Rozano yang ternyata adiknya menjadi kontestan The Voice Indonesia.

Awalnya saya tidak hirau sama sekali dengan acara The Voice Indonesia ini. Sampai suatu ketika status Ryan di Facebook membuat sikap saya berubah. Ryan rajin sekali menggalang dukungan untuk Dodi, membuat saya ikut-ikutan memberi support via media sosial.

Aih, Dodi yang itukah? Batin saya sembari mengingat-ingat masa lalu di Muara Bulian.

Semasa kami di Muara Bulian, Dodi masih sangat kecil. Kalau tak salah usianya kisaran 4-5 tahun. Yang jelas dia belum sekolah waktu itu. Dodi kecil sering saya lihat tengah bermain-main bersama teman-temannya di halaman rumah. (Baca kisah lengkapnya di posting Sekelumit Kenangan bersama Dodi Rozano).

Interaksi intens dengan Ryan dan juga Dodi setelah sangat lama tak bertegur sapa waktu itu membuat saya jadi berkhayal untuk berlibur ke Pangkalpinang. Kapan ya terwujud?


Berawal dari Timah
Dari Ryan-lah saya pertama kali mengenal Pulau Bangka, utamanya Kota Pangkalpinang. Ia sering bercerita tentang timah yang sempat jadi komoditas andalan daerah ini. Komoditas yang menjadi akar sejarah terbentuknya Kota Pangkalpinang.

Timah di Pulau Bangka sudah dieksplorasi sejak abad ke-16. Jauh sebelum bangsa Eropa mendarat di Nusantara, kongsi-kongsi asal Tiongkok sudah melakukan penambangan timah dengan seijin Sultan Palembang. Konon, timah Bangka memiliki kualitas sangat baik sehingga diminati dunia. Inilah yang mendorong Belanda menguasai Bangka.

Eksplorasi awal oleh bangsa Belanda dilakukan pada tahun 1710, dengan Muntok menjadi pusat kendali aktivitas pertambangan dan pengolahan timah.

Ketika Inggris berkuasa di Bangka, tahun 1813 East India Company menjadikan Pangkalpinang sebagai salah satu dari tujuh distrik eksplorasi timah. Enam distrik lainnya adalah Merawang, Toboali, Jebus, Klabat, Sungailiat, dan Belinyu. Sejak itulah Pangkalpinang dijuluki Kota Timah dan berkembang menjadi pusat perdagangan.

Lalu Belanda kembali berkuasa di Nusantara. Pangkalpinang dijadikan basis militer untuk menumpas perlawanan rakyat Bangka. Tahun 1913, pemerintahan kolonial Belanda memindahkan ibukota Karesidenan Bangka dari Muntok ke Pangkalpinang. Perpindahan tersebut disebabkan oleh temuan deposit timah nan melimpah di kawasan timur Bangka.

Di masa kemerdekaan, status Pangkalpinang terus berubah dari kota kecil pada tahun 1956, menjadi kotapraja dua tahun berselang, lalu berubah lagi menjadi kotamadya (1965), kotamadya daerah tingkat II (1974), sampai akhirnya ditetapkan sebagai Daerah Otonom Kota Pangkalpinang di tahun 1999.

Keberadaan Museum Timah di Pangkalpinang semakin menegaskan bahwa terbentuknya kota ini berawal dari timah. Di tempat inilah tersimpan sejarah panjang pertambangan timah sejak jaman kolonial Belanda. Benda-benda koleksi terkait aktivitas pertambangan juga ditampilkan. Mulai dari peralatan tambang jaman dulu, sampai produk-produk kerajinan berbahan timah.

Ada pula manuskrip awal penulisan sejarah Bangka. Museum juga dilengkapi dengan diorama dan lukisan-lukisan yang menggambarkan aktivitas pertambangan di jaman Belanda hingga masa modern.


Hobi selfie? Tenang, ada banyak spot menarik untuk narsis di Museum Timah. Terdapat beberapa diorama berukuran besar yang cocok dijadikan latar belakang foto. Atau bisa juga berfoto di depan lukisan besar yang menggambarkan suasana pertambangan jaman kolonial. Di bagian luar, ada lokomotif hitam di halaman depan museum yang tak kalah menarik.

Oya, Museum Timah ini merupakan satu-satunya museum tentang timah di Asia. Beberapa sumber bahkan menyebut satu-satunya di dunia. Yang pasti, bangunan buatan Belanda ini saksi kunci sejarah berdirinya Republik Indonesia. Di gedung inilah delegasi RI berunding dengan delegasi Kerajaan Belanda berkat mediasi Komisi Tiga Negara (KTN). Hasilnya adalah Perjanjian Roem-Roijen yang diteken di Jakarta pada 7 Mei 1949.

Museum Timah tak cuma didatangi oleh wisatawan lokal lho. Banyak turis asal Belanda yang berkunjung ke tempat ini karena alasan asal-usul. Ada yang nenek moyangnya pernah bekerja di perusahaan timah di Bangka, beberapa lainnya malah lahir di Bangka sebelum dibawa pulang ke Belanda.

Selain Museum Timah, turis-turis Belanda tersebut biasanya mendatangi kerkhof atau pemakaman Belanda yang terletak sekitar 2 km di selatan museum. Di sini terdapat sekitar 102 makam, sebagian besar dalam kondisi rusak. Menurut pemetaan yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi dan Balai Arkeologi Palembang, makam tertua berangka tahun 1800 dan yang termuda berangka tahun 1954.

Meski disebut makam Belanda, atau Pendem Belanda oleh penduduk setempat, tak semua yang dimakamkan di kerkhof ini orang Belanda. Data BP3 Jambi menyebutkan, dari sekian nisan yang bisa terbaca 25 buah diantaranya berbahasa Belanda, 10 berbahasa Jepang, dan 3 berbahasa Indonesia.

Sama halnya Museum Timah, keberadaan kerkhof di Jalan Hormen Maddati ini menjadi bukti peran strategis Pangkalpinang di masa lalu.


Bangka Botanical Garden
Masifnya aktivitas tambang timah di Bangka membuat beberapa bagian lahan di wilayah ini mengalami kerusakan parah. Kalau kita naik pesawat dan mendekati Bandara Depati Amir, terlihat bentangan alam berupa padang gersang dengan beberapa lubang besar. Tanaman sulit tumbuh akibat parahnya kerusakan tanah yang terjadi.

Sebagai bentuk kepedulian, sebuah perusahaan pertambangan timah bernama PT Dona Kembara Jaya melakukan gerakan pemulihan lahan tambang di kawasan Ketapang, Kota Pangkalpinang. Kegiatan ini diawali sejak tahun 2006, di atas lahan seluas 200 hektar.

Awalnya lokasi ini hanya untuk menanam bibit-bibit pohon yang akan dipakai mereklamasi lahan bekas tambang. Belakangan, pengelola kawasan kemudian mengembangkan lahan sebagai kompleks agrowisata terpadu. Di sini juga terdapat peternakan dan perikanan.

Lalu diperkenalkanlah Bangka Botanical Garden (BBG) sebagai destinasi wisata baru di Kota Pangkalpinang. Lahan yang dulunya rusak parah penuh lubang telah berubah menjadi kebun luas yang menyejukkan. Tempat ini segera saja menjadi favorit bagi pengunjung yang ingin merasakan ketenangan di tengah-tengah kehijauan pepohonan nan asri.

Begitu masuk ke area BBG, pengunjung disambut oleh deretan pohon cemara roro yang berjajar di kiri-kanan jalan tanah. Lebih ke dalam lagi terdapat rumah-rumah panggung berbahan kayu. Di sekitar rumah terdapat beberapa kolam berisi ikan nila, ikan mas, mujair, patin, dan kepiting.

Di bagian lain terdapat kebun buah naga. Di sini pengunjung dapat memetik buah naga yang matang langsung dari pohonnya. Mau dimakan di tempat juga boleh lho. Ada pula pohon kurma yang tumbuh subur dengan dahan-dahan menghijau. Jika sedang panen bayam, pengunjung juga boleh membeli sayur-sayuran segar tersebut untuk dibawa pulang.

Rekreasi di Bangka Botanical Garden kian lengkap dengan keberadaan kuda. Pengunjung dipersilakan menaiki kuda-kuda ini untuk mengelilingi area kebun. Pengelola menyiapkan pemandu yang siap membantu pengunjung mengendarai kuda.


Hewan lain yang dipelihara di di sini adalah sapi. Sapi jenis Friesland Holstein asli Belanda jadi populasi terbanyak. Sapi-sapi ini dibudi-dayakan sebab dikenal dapat menghasilkan susu terbaik. Pengunjung dapat menyaksikan proses pemerahan susu. Dan pada momen-momen tertentu susu-susu ini dibagikan secara gratis.

Berita baiknya, pengelola Bangka Botanical Garden tak mengutip bayaran sepeser pun pada pengunjung. Artinya, kita bisa menikmati seluruh kawasan agrowisata ini tanpa biaya. Wow!

Destinasi Liburan Impian
Sebenarnya mudah saja bagi saya untuk memenuhi undangan Ryan medio Mei lalu. Saya sudah berada di Palembang. Dari kota tersebut ada penerbangan langsung ke Pangkalpinang setiap hari. Ada pula kapal cepat dari Pelabuhan Boom Baru menuju ke Pelabuhan Muntok. Sayang disayang, waktu itu saya sudah terlanjur dibelikan tiket Palembang-Jakarta.

Keinginan mengunjungi Pangkalpinang kembali muncul saat Dodi Rozano masih bertahan di The Voice Indonesia. Saya ingin menyaksikan aksinya di atas panggung secara langsung, bukan di layar televisi atau melalui YouTube. Lagi-lagi keinginan ini gagal terwujud karena satu dan lain hal.

Hmmm, mudah-mudahan saja ada jalan lain yang mengantar saya ke Pangkalpinang. Reuni dengan Ryan bakal jadi agenda utama saya. Kami sudah tak bertemu sejak tahun 2000, alias 16 tahun lamanya! Lalu menyaksikan performa Dodi Rozano bersama Pesirah Band harus masuk daftar. Dodi sering mendapat tawaran tampil, jadi mumpung ke Pangkalpinang harus cari kesempatan untuk melihat aksinya.

Pendek kata, semua alasan di atas menjadikan Pangkalpinang sebagai destinasi liburan impian saya. Apalagi kota ini tergolong plesirable, alias punya banyak sekali destinasi wisata menarik untuk yang hobi plesir alias traveling.

Apa saja?

Penyuka keindahan alam bakal sangat dimanjakan dengan begitu banyaknya wisata pantai di kota ini. Kalau kalian pernah dibuat terpukau oleh Pantai Tanjung Tinggi dengan batu-batu granitnya dalam film Laskar Pelangi, pantai serupa itu dapat ditemui di Pangkalpinang.

Bersebelahan dengan Bangka Botanical Garden terdapat Pantai Pasir Padi. Di sini kita dapat melihat batu-batu granit nan eksotis di pantai. Ya, mirip seperti di Pantai Tanjung Tinggi yang jadi lokasi syuting Laskar Pelangi itu. Hanya ukuran batu-batunya lebih kecil.

Keunikan Pasir Pantai Padi terletak pada bentuk pasirnya. Tentu bukan tanpa alasan pantai ini dinamai Pasir Padi. Bentuk pasirnya memang seperti bulir-bulir padi yang panjang. Ini disebabkan kandungan pasir timah yang terdapat di pantai. Karenanya pasir di pantai ini lebih padat dari pantai-pantai biasanya sehingga nyaman untuk berjalan kaki, juga bisa dilalui kendaraan.

Selain menikmati pasirnya yang unik, pantainya yang landai, serta birunya air laut, pengunjung Pantai Pasir Padi dapat menyeberang ke sebuah pulau kecil nan indah bernama Pulau Punai. Pulau ini terbentuk dari bebatuan dan karang, berjarak sejauh kurang-lebih 200 meter dari bibir pantai. Jika air laut surut, kita dapat menyeberang ke Pulau Punai dengan berjalan kaki.

Yang menarik, Pemerintah Kota Pangkalpinang tengah merancang megaproyek bernama Pangkalpinang Waterfront City di Pantai Pasir Padi. Kelak, di seberang pantai bakal terdapat sebuah kota di atas daratan buatan seluas 1.700 hektar. Proyek bernilai Rp 2 triliun ini digagas sejak 2006, dan hingga kini terus digodog realisasinya.

Pasir Padi terletak sangat dekat dari Kota Pangkalpinang. Kira-kira berjarak 8 km dari pusat kota. Jadi, tidak sah mengunjungi Pangkalpinang kalau tidak main air laut di pantai ini.



Agak jauh dari kota, ada Pantai Sampur atau Pantai Samfur. Ciri khas pantai satu ini adalah keberadaan kelenteng Dewi Kwan Im, lengkap dengan patung besar sang dewi di salah satu bagian kelenteng. Kelenteng ini milik seorang tabib keturunan Tionghoa. Terdapat satu ruangan khusus pengobatan di mana sang tabib menjalankan praktik.

Satu lagi pantai di Pangkalpinang dengan ciri khas menarik adalah Pantai Tapak Antu atau Pantai Tapak Hantu. Disebut demikian karena pada bebatuan di pantai terdapat lubang-lubang berbentuk jejak kaki. Seperti jejak kaki manusia, namun berukuran lebih panjang. Penduduk setempat mempercayai bahwa lubang-lubang tersebut merupakan jejak kaki hantu. Karenanya dinamai Pantai Tapak Antu.

Tapi ada pula warga yang menamai pantai ini sebagai Pantai Tapak Dewa atau Pantai Telapak Kaki Dewa. Sebenarnya, secara administratif pantai ini berada di Desa Batu Berlubang, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah. Namun jaraknya sangat dekat dengan Kota Pangkalpinang. Jika ditarik garis lurus, Pantai Tapak Antu hanya berjarak 6 km dari Bandara Depati Amir.

Cheng Beng dan Jl. Tony Wen
Tidak lengkap rasanya membahas Pangkalpinang tanpa menyinggung komunitas Tionghoa. Kota ini sudah lekat sekali dengan etnis Tionghoa. Kita akan dengan mudah menemukan kelenteng saat berjalan-jalan menyusuri kota. Salah satunya Kelenteng Kwan Tie Miaw, kelenteng tertua di Pangkalpinang dan Pulau Bangka.

Lalu ada Pemakaman Sentosa atau Tjung Hoa Kung Mu Yen, sebuah pekuburan seluas 19.945 meter persegi. Menjadikan kompleks pemakaman ini sebagai pemakaman Tionghoa terbesar se-Asia Tenggara. Di sinilah setiap tahun diadakan tradisi Qingming, atau Cheng Beng dalam dialek etnis Hokkian yang banyak terdapat di Pangkalpinang.

Tradisi Cheng Beng menjadi highlight budaya Tionghoa di Pangkalpinang, dan Pulau Bangka pada umumnya. Dalam perayaan tahunan ini warga etnis Tionghoa asal Bangka yang merantau ke luar daerah ramai-ramai mudik. Tujuan mereka hanya satu: ziarah kubur. Cheng Beng sendiri bermakna "bersih-bersih kubur" sehingga dalam tradisi ini Pemakaman Sentosa jadi ramai luar biasa.

Konon, orang Tionghoa sudah masuk ke Pulau Bangka sejak ekspedisi Laksmana Cheng Ho di tahun 1405. Pembukaan tambang timah pada abad itu mendorong laju imigrasi tenaga-tenaga tambang asal Tiongkok. Sultan Palembang disebutkan sengaja mengimpor tenaga kerja asal suku Kejian karena keahlian mereka dalam pertambangan.

Ketika Belanda menguasai Bangka, tenaga kerja Tiongkok tetap jadi pilihan utama. Populasi etnis Tionghoa di Pulau Bangka semakin meningkat dari waktu ke waktu, sehingga mengimbangi jumlah penduduk asli Melayu. Kemudian terjadi percampuran ketika pekerja asal Tiongkok menikahi wanita-wanita pribumi.


Pengaruh Tionghoa dalam pertambangan timah di Bangka dapat dilihat dari istilah-istilah tambang yang masih umum dipakai. Ambil contoh kata ciam atau jiam dalam dialek Mandarin yang berarti pengebor. Untuk menyebut pengayak pasir timah masih digunakan kata sakan, dan lubang tambang besar disebut kolong.

Di pusat kota Pangkalpinang terdapat sebuah rumah kayu antik berusia 150 tahun, peninggalan seorang Kapitein Tionghoa bernama Lay Nam Chen. Rumah tersebut kini dihuni oleh Hongky Lay Listiyadhi, ketua Badan Warisan Bangka (Bangka Heritage Society) yang merupakan keturunan keempat sang kapiten.

Rumah-rumah antik khas Tionghoa seperti itu masih banyak ditemui di berbagai sudut Pangkalpinang. Pakemnya selalu sama, yakni sebuah rumah induk dilengkapi halaman tengah dan bagian belakang yang luas.

Jika kita berjalan-jalan di pusat Kota Pangkalpinang, maka kita akan menemui seruas jalan bernama Jl. Tony Wen. Dulu jalan tersebut dikenal sebagai Jl. Melintas. Berbarengan dengan pemberian nama tokoh perjuangan lokal Depati Amir pada bandara, nama Tony Wen pun disematkan pada Jl. Melintas.

Siapa sih Tony Wen? Nama aslinya Boen Kim To. Ia adalah putera seorang pegawai tinggi di Bangka Biliton Tin Maatschapij, perusahaan tambang timah milik Belanda. Hidup dalam keluarga berada, Tony Wen memilih ikut berjuang dalam revolusi kemerdekaan RI. Di masa itu ia berjasa menyelundupkan senjata dari Singapura untuk laskar prorepublik di Indonesia.

Sewaktu Bung Karno diasingkan ke Bangka, keluarga Tony Wen-lah yang mencukupi kebutuhan sang presiden. Di era kemerdekaan, ia sempat ditunjuk sebagai anggota Komite Olimpiade Indonesia dan pengurus PSSI. Tony Wen juga pernah menjadi anggota DPR sebagai wakil Partai Nasional Indonesia (PNI).

Tradisi Cheng Beng, rumah antik khas Tionghoa di pusat kota, serta Jl. Tony Wen hanyalah sedikit bukti dari begitu lekatnya budaya dan pengaruh Tionghoa pada Kota Pangkalpinang.



Wujudkan Liburan Impian dengan Tixton
Oke, Pangkalpinang sah masuk dalam daftar destinasi impian saya. Pertanyannya kini tinggal bagaimana dan kapan mewujudkan impian ini menjadi kenyataan. Yang terpenting, impian tak akan pernah terwujud kalau tidak direncanakan. Jadi, saya susun dulu rencananya. Atau lebih tepatnya rencana impian, hehehe.

Seperti biasa, pertama-tama saya akan mencari tahu informasi lebih lanjut mengenai kota tujuan. Di mana menginap dan berata rate-nya per malam, bagaimana transportasi dalam kota, tempat makannya seperti apa, sampai spot wifi terbaik di mana saja, dan lain-lain.

Google jadi andalan untuk mencari referensi terkait kota tujuan, dalam hal ini Pangkalpinang. Info-info mengenai promo wisata jelas saja ikut saya lahap. Dan, tara! Saya pun menemukan informasi mengenai promo wisata Tixton. Pas banget.

Tunggu dulu, nama Tixton sepertinya masih asing di telinga deh. Apaan sih ini?

Dari penelusuran di mesin pencari didapatlah keterangan kalau Tixton.com merupakan penyedia layanan booking kamar hotel online. Situs ini dapat membantu kita menemukan hotel dengan harga terbaik. Caranya cukup masukkan rencana perjalanan dan kota tujuan, selanjutnya biarkan Tixton mencari hotel murah meriah untuk kita inapi.

Ah, situs seperti itu kan sudah banyak. Kenapa harus Tixton? Di sini bedanya. Di Tixton kita bisa lho menjual kembali kamar yang sudah dipesan. Katakanlah kita batal melakukan liburan seperti yang direncanakan karena satu hal. Tidak perlu kuatir biaya untuk reservasi kamar hotel melayang. Tinggal tawarkan saja kamar tersebut ke pengguna lain melalui Tixton.

Nah, ceritanya Tixton tengah mengadakan promo nih. Promo dimulai 17 Agustus lalu dan berakhir 16 November 2016 mendatang. Masih lama. Hadiahnya tiket pesawat PP dan juga uang tunai. Caranya juga gampang. Kita cukup menyusun rencana wisata impian menggunakan fitur Travel Wish Tixton.

Langkah-langkahnya kurang lebih begini. Pertama-tama pilih kota tujuan dari daftar yang disediakan, lalu sebutkan tanggal check in dan check out. Di halaman travel wish tersebut kita boleh menyebutkan nama hotel yang diinginkan lho. Lalu tentukan jenis kamar. Dan kalau kita sudah tahu berapa rate kamar hotel tersebut dari situs lain, tinggal isikan saja pada kolom yang telah disediakan.

Terakhir, klik tombol "Buat Travel Wish" yang ada di bagian paling bawah. Dan, abrakadabra! Tixton akan memberikan diskon 20% dari harga termurah yang kita temukan dari web lain. So, harga yang diberikan Tixton dijamin merupakan tarif paling murah. Boleh dibilang, Tixton merupakan cara mudah dapatkan harga TERMURAH di hotel idaman.


Karena penasaran, saya pun menjajal fitur travel wish ini. Pertama-tama saya mendaftarkan diri terlebih dahulu, kemudian menuju halaman travel wish. Tentu saja saya pilih nama Bangka dari daftar kota pilihan. Eh, ternyata ada juga nama Pemalang lho dalam daftar! #bangga

Karena saya tahu di Pangkalpinang ada Hotel Novotel, dan saya punya kenangan dengan jaringan hotel satu ini, saya tick opsi "Ya, saya ingin hotel spesifik" dan menuliskan nama Novotel. By the way, waktu diajak jalan-jalan sama Sunpride ke Lampung, saya juga diinapkan di Hotel Novotel Bandar Lampung. Lumayan mengobati kangen :)


Dari Google, saya tahu rate paling rendah untuk kamar standar di Novotel Pangkalpinang sebesar Rp631.620,- semalam. Jadi, saya masukkan angka ini di kolom yang disediakan Tixton. Setelah mencentang kotak kecil berisi pernyataan setuju pada ketentuan layanan, klik tombol biru di bagian paling bawah. Done!

Oke, travel wish saya sudah selesai. Selanjutnya biarkan Tixton mencarikan harga hotel termurah yang akan dikabari via email. Gampang, bukan?


Kembali ke promosi wisata tadi. Kalau saya membeli hotel yang ditawarkan oleh Tixton berdasarkan travel wish yang dibuat, maka saya berkesempatan memenangkan tiket pesawat untuk dua orang ke bandara terdekat dari hotel tujuan. Nah, kalau saya beruntung, saya bakal mendapat tiket ke Bandara Depati Amir di Pangkalpinang.

Selain tiket, pemenang juga mendapat uang tunai sebesar Rp 5 juta sebagai uang saku. Kurang apa coba? Setiap bulan dipilih satu pemenang, dengan periode perjalanan 1 Desember 2016 sampai 28 Februari 2017.

Well, tentu saja saya berdoa semoga jadi salah satu pemenang dalam promo wisata Tixton ini. Kalau terkabul, saya bisa mewujudkan liburan impian ke Pangkalpinang. Menemui kawan lama, sekaligus menikmati keindahan alam kota bersejarah ini.

Allahumma amin...

Tulisan ini diikut-sertakan dalam Lomba Blog "Liburan Impian" Tixton-Dunia Biza.


Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pangkal_Pinang
http://jelajahsitus.blogspot.co.id/2009/02/makam-belanda-kerkhof-di-kota.html
http://www.tribunnews.com/travel/2015/07/15/bangka-botanical-garden-menikmati-agrowisata-sambil-berkuda
http://travel.detik.com/read/2013/12/02/182300/2423090/1025/bangka-botanical-garden-oase-tersembunyi-di-pulau-bangka
http://bangkabotanicalgarden.com/
https://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_Pasir_Padi
http://bangka.tribunnews.com/2012/06/17/water-front-city-pasir-padi-tak-lama-lagi
http://www.radarbangka.co.id/berita/detail/pangkalpinang/23775/sopian-:-wfc-tetap-dilaksanakan.html
http://www.thearoengbinangproject.com/kelenteng-dewi-kwan-im-bangka/
http://bangka.tribunnews.com/2016/01/17/di-pantai-ini-terdapat-telapak-kaki-hantu
https://id.wikipedia.org/wiki/Festival_Qingming
http://jelajahsitus.blogspot.co.id/2009/02/makam-belanda-kerkhof-di-kota.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Tony_Wen
http://www.sejarawan.com/292-tony-wen-pahlawan-nasional-yang-terlupakan.html

"MAMPIRLAH sekalian ke Pangkalpinang, Ko. Kito jalan-jalan di sini," undang Ryan begitu tahu saya akan ke Palembang, pertengahan Mei lalu. Undangan yang menarik sebenarnya. Sayang sekali saya harus mengikuti agenda yang telah ditentukan pihak pengundang, sehingga tak bisa menyempatkan waktu mampir ke sana-sini. "Sori nian, Yan. Kagek lain kalilah aku mampir," balas saya.

Ryan yang nama lengkapnya Novrian Saputra adalah teman SMA saya di Muara Bulian, Jambi. Ia sebenarnya adik kelas, namun kami satu grup di band sekolah. Dia vokalis, saya pegang alat. Kontrakan saya dekat sekali dengan rumahnya, jadi kami sangat akrab karena nyaris setiap hari bermain bersama. Saya juga kenal dengan saudara-saudaranya, dan beberapa kali bertemu dengan bapak-ibunya.

Selepas SMA saya tak lagi mendengar kabar mengenai Ryan. Kami hilang kontak selama belasan tahun, sampai kemudian Facebook mempertemukan kami. Rupanya ia balik kampung ke Pulau Bangka, dan kini menjadi wakil ketua KPID setempat. Hubungan kami semakin intens semenjak Dodi Rozano yang ternyata adiknya menjadi kontestan The Voice Indonesia.

Awalnya saya tidak hirau sama sekali dengan acara The Voice Indonesia ini. Sampai suatu ketika status Ryan di Facebook membuat sikap saya berubah. Ryan rajin sekali menggalang dukungan untuk Dodi, membuat saya ikut-ikutan memberi support via media sosial.

Aih, Dodi yang itukah? Batin saya sembari mengingat-ingat masa lalu di Muara Bulian.

Semasa kami di Muara Bulian, Dodi masih sangat kecil. Kalau tak salah usianya kisaran 4-5 tahun. Yang jelas dia belum sekolah waktu itu. Dodi kecil sering saya lihat tengah bermain-main bersama teman-temannya di halaman rumah. (Baca kisah lengkapnya di posting Sekelumit Kenangan bersama Dodi Rozano).

Interaksi intens dengan Ryan dan juga Dodi setelah sangat lama tak bertegur sapa waktu itu membuat saya jadi berkhayal untuk berlibur ke Pangkalpinang. Kapan ya terwujud?


Berawal dari Timah
Dari Ryan-lah saya pertama kali mengenal Pulau Bangka, utamanya Kota Pangkalpinang. Ia sering bercerita tentang timah yang sempat jadi komoditas andalan daerah ini. Komoditas yang menjadi akar sejarah terbentuknya Kota Pangkalpinang.

Timah di Pulau Bangka sudah dieksplorasi sejak abad ke-16. Jauh sebelum bangsa Eropa mendarat di Nusantara, kongsi-kongsi asal Tiongkok sudah melakukan penambangan timah dengan seijin Sultan Palembang. Konon, timah Bangka memiliki kualitas sangat baik sehingga diminati dunia. Inilah yang mendorong Belanda menguasai Bangka.

Eksplorasi awal oleh bangsa Belanda dilakukan pada tahun 1710, dengan Muntok menjadi pusat kendali aktivitas pertambangan dan pengolahan timah.

Ketika Inggris berkuasa di Bangka, tahun 1813 East India Company menjadikan Pangkalpinang sebagai salah satu dari tujuh distrik eksplorasi timah. Enam distrik lainnya adalah Merawang, Toboali, Jebus, Klabat, Sungailiat, dan Belinyu. Sejak itulah Pangkalpinang dijuluki Kota Timah dan berkembang menjadi pusat perdagangan.

Lalu Belanda kembali berkuasa di Nusantara. Pangkalpinang dijadikan basis militer untuk menumpas perlawanan rakyat Bangka. Tahun 1913, pemerintahan kolonial Belanda memindahkan ibukota Karesidenan Bangka dari Muntok ke Pangkalpinang. Perpindahan tersebut disebabkan oleh temuan deposit timah nan melimpah di kawasan timur Bangka.

Di masa kemerdekaan, status Pangkalpinang terus berubah dari kota kecil pada tahun 1956, menjadi kotapraja dua tahun berselang, lalu berubah lagi menjadi kotamadya (1965), kotamadya daerah tingkat II (1974), sampai akhirnya ditetapkan sebagai Daerah Otonom Kota Pangkalpinang di tahun 1999.

Keberadaan Museum Timah di Pangkalpinang semakin menegaskan bahwa terbentuknya kota ini berawal dari timah. Di tempat inilah tersimpan sejarah panjang pertambangan timah sejak jaman kolonial Belanda. Benda-benda koleksi terkait aktivitas pertambangan juga ditampilkan. Mulai dari peralatan tambang jaman dulu, sampai produk-produk kerajinan berbahan timah.

Ada pula manuskrip awal penulisan sejarah Bangka. Museum juga dilengkapi dengan diorama dan lukisan-lukisan yang menggambarkan aktivitas pertambangan di jaman Belanda hingga masa modern.


Hobi selfie? Tenang, ada banyak spot menarik untuk narsis di Museum Timah. Terdapat beberapa diorama berukuran besar yang cocok dijadikan latar belakang foto. Atau bisa juga berfoto di depan lukisan besar yang menggambarkan suasana pertambangan jaman kolonial. Di bagian luar, ada lokomotif hitam di halaman depan museum yang tak kalah menarik.

Oya, Museum Timah ini merupakan satu-satunya museum tentang timah di Asia. Beberapa sumber bahkan menyebut satu-satunya di dunia. Yang pasti, bangunan buatan Belanda ini saksi kunci sejarah berdirinya Republik Indonesia. Di gedung inilah delegasi RI berunding dengan delegasi Kerajaan Belanda berkat mediasi Komisi Tiga Negara (KTN). Hasilnya adalah Perjanjian Roem-Roijen yang diteken di Jakarta pada 7 Mei 1949.

Museum Timah tak cuma didatangi oleh wisatawan lokal lho. Banyak turis asal Belanda yang berkunjung ke tempat ini karena alasan asal-usul. Ada yang nenek moyangnya pernah bekerja di perusahaan timah di Bangka, beberapa lainnya malah lahir di Bangka sebelum dibawa pulang ke Belanda.

Selain Museum Timah, turis-turis Belanda tersebut biasanya mendatangi kerkhof atau pemakaman Belanda yang terletak sekitar 2 km di selatan museum. Di sini terdapat sekitar 102 makam, sebagian besar dalam kondisi rusak. Menurut pemetaan yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi dan Balai Arkeologi Palembang, makam tertua berangka tahun 1800 dan yang termuda berangka tahun 1954.

Meski disebut makam Belanda, atau Pendem Belanda oleh penduduk setempat, tak semua yang dimakamkan di kerkhof ini orang Belanda. Data BP3 Jambi menyebutkan, dari sekian nisan yang bisa terbaca 25 buah diantaranya berbahasa Belanda, 10 berbahasa Jepang, dan 3 berbahasa Indonesia.

Sama halnya Museum Timah, keberadaan kerkhof di Jalan Hormen Maddati ini menjadi bukti peran strategis Pangkalpinang di masa lalu.


Bangka Botanical Garden
Masifnya aktivitas tambang timah di Bangka membuat beberapa bagian lahan di wilayah ini mengalami kerusakan parah. Kalau kita naik pesawat dan mendekati Bandara Depati Amir, terlihat bentangan alam berupa padang gersang dengan beberapa lubang besar. Tanaman sulit tumbuh akibat parahnya kerusakan tanah yang terjadi.

Sebagai bentuk kepedulian, sebuah perusahaan pertambangan timah bernama PT Dona Kembara Jaya melakukan gerakan pemulihan lahan tambang di kawasan Ketapang, Kota Pangkalpinang. Kegiatan ini diawali sejak tahun 2006, di atas lahan seluas 200 hektar.

Awalnya lokasi ini hanya untuk menanam bibit-bibit pohon yang akan dipakai mereklamasi lahan bekas tambang. Belakangan, pengelola kawasan kemudian mengembangkan lahan sebagai kompleks agrowisata terpadu. Di sini juga terdapat peternakan dan perikanan.

Lalu diperkenalkanlah Bangka Botanical Garden (BBG) sebagai destinasi wisata baru di Kota Pangkalpinang. Lahan yang dulunya rusak parah penuh lubang telah berubah menjadi kebun luas yang menyejukkan. Tempat ini segera saja menjadi favorit bagi pengunjung yang ingin merasakan ketenangan di tengah-tengah kehijauan pepohonan nan asri.

Begitu masuk ke area BBG, pengunjung disambut oleh deretan pohon cemara roro yang berjajar di kiri-kanan jalan tanah. Lebih ke dalam lagi terdapat rumah-rumah panggung berbahan kayu. Di sekitar rumah terdapat beberapa kolam berisi ikan nila, ikan mas, mujair, patin, dan kepiting.

Di bagian lain terdapat kebun buah naga. Di sini pengunjung dapat memetik buah naga yang matang langsung dari pohonnya. Mau dimakan di tempat juga boleh lho. Ada pula pohon kurma yang tumbuh subur dengan dahan-dahan menghijau. Jika sedang panen bayam, pengunjung juga boleh membeli sayur-sayuran segar tersebut untuk dibawa pulang.

Rekreasi di Bangka Botanical Garden kian lengkap dengan keberadaan kuda. Pengunjung dipersilakan menaiki kuda-kuda ini untuk mengelilingi area kebun. Pengelola menyiapkan pemandu yang siap membantu pengunjung mengendarai kuda.


Hewan lain yang dipelihara di di sini adalah sapi. Sapi jenis Friesland Holstein asli Belanda jadi populasi terbanyak. Sapi-sapi ini dibudi-dayakan sebab dikenal dapat menghasilkan susu terbaik. Pengunjung dapat menyaksikan proses pemerahan susu. Dan pada momen-momen tertentu susu-susu ini dibagikan secara gratis.

Berita baiknya, pengelola Bangka Botanical Garden tak mengutip bayaran sepeser pun pada pengunjung. Artinya, kita bisa menikmati seluruh kawasan agrowisata ini tanpa biaya. Wow!

Destinasi Liburan Impian
Sebenarnya mudah saja bagi saya untuk memenuhi undangan Ryan medio Mei lalu. Saya sudah berada di Palembang. Dari kota tersebut ada penerbangan langsung ke Pangkalpinang setiap hari. Ada pula kapal cepat dari Pelabuhan Boom Baru menuju ke Pelabuhan Muntok. Sayang disayang, waktu itu saya sudah terlanjur dibelikan tiket Palembang-Jakarta.

Keinginan mengunjungi Pangkalpinang kembali muncul saat Dodi Rozano masih bertahan di The Voice Indonesia. Saya ingin menyaksikan aksinya di atas panggung secara langsung, bukan di layar televisi atau melalui YouTube. Lagi-lagi keinginan ini gagal terwujud karena satu dan lain hal.

Hmmm, mudah-mudahan saja ada jalan lain yang mengantar saya ke Pangkalpinang. Reuni dengan Ryan bakal jadi agenda utama saya. Kami sudah tak bertemu sejak tahun 2000, alias 16 tahun lamanya! Lalu menyaksikan performa Dodi Rozano bersama Pesirah Band harus masuk daftar. Dodi sering mendapat tawaran tampil, jadi mumpung ke Pangkalpinang harus cari kesempatan untuk melihat aksinya.

Pendek kata, semua alasan di atas menjadikan Pangkalpinang sebagai destinasi liburan impian saya. Apalagi kota ini tergolong plesirable, alias punya banyak sekali destinasi wisata menarik untuk yang hobi plesir alias traveling.

Apa saja?

Penyuka keindahan alam bakal sangat dimanjakan dengan begitu banyaknya wisata pantai di kota ini. Kalau kalian pernah dibuat terpukau oleh Pantai Tanjung Tinggi dengan batu-batu granitnya dalam film Laskar Pelangi, pantai serupa itu dapat ditemui di Pangkalpinang.

Bersebelahan dengan Bangka Botanical Garden terdapat Pantai Pasir Padi. Di sini kita dapat melihat batu-batu granit nan eksotis di pantai. Ya, mirip seperti di Pantai Tanjung Tinggi yang jadi lokasi syuting Laskar Pelangi itu. Hanya ukuran batu-batunya lebih kecil.

Keunikan Pasir Pantai Padi terletak pada bentuk pasirnya. Tentu bukan tanpa alasan pantai ini dinamai Pasir Padi. Bentuk pasirnya memang seperti bulir-bulir padi yang panjang. Ini disebabkan kandungan pasir timah yang terdapat di pantai. Karenanya pasir di pantai ini lebih padat dari pantai-pantai biasanya sehingga nyaman untuk berjalan kaki, juga bisa dilalui kendaraan.

Selain menikmati pasirnya yang unik, pantainya yang landai, serta birunya air laut, pengunjung Pantai Pasir Padi dapat menyeberang ke sebuah pulau kecil nan indah bernama Pulau Punai. Pulau ini terbentuk dari bebatuan dan karang, berjarak sejauh kurang-lebih 200 meter dari bibir pantai. Jika air laut surut, kita dapat menyeberang ke Pulau Punai dengan berjalan kaki.

Yang menarik, Pemerintah Kota Pangkalpinang tengah merancang megaproyek bernama Pangkalpinang Waterfront City di Pantai Pasir Padi. Kelak, di seberang pantai bakal terdapat sebuah kota di atas daratan buatan seluas 1.700 hektar. Proyek bernilai Rp 2 triliun ini digagas sejak 2006, dan hingga kini terus digodog realisasinya.

Pasir Padi terletak sangat dekat dari Kota Pangkalpinang. Kira-kira berjarak 8 km dari pusat kota. Jadi, tidak sah mengunjungi Pangkalpinang kalau tidak main air laut di pantai ini.



Agak jauh dari kota, ada Pantai Sampur atau Pantai Samfur. Ciri khas pantai satu ini adalah keberadaan kelenteng Dewi Kwan Im, lengkap dengan patung besar sang dewi di salah satu bagian kelenteng. Kelenteng ini milik seorang tabib keturunan Tionghoa. Terdapat satu ruangan khusus pengobatan di mana sang tabib menjalankan praktik.

Satu lagi pantai di Pangkalpinang dengan ciri khas menarik adalah Pantai Tapak Antu atau Pantai Tapak Hantu. Disebut demikian karena pada bebatuan di pantai terdapat lubang-lubang berbentuk jejak kaki. Seperti jejak kaki manusia, namun berukuran lebih panjang. Penduduk setempat mempercayai bahwa lubang-lubang tersebut merupakan jejak kaki hantu. Karenanya dinamai Pantai Tapak Antu.

Tapi ada pula warga yang menamai pantai ini sebagai Pantai Tapak Dewa atau Pantai Telapak Kaki Dewa. Sebenarnya, secara administratif pantai ini berada di Desa Batu Berlubang, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah. Namun jaraknya sangat dekat dengan Kota Pangkalpinang. Jika ditarik garis lurus, Pantai Tapak Antu hanya berjarak 6 km dari Bandara Depati Amir.

Cheng Beng dan Jl. Tony Wen
Tidak lengkap rasanya membahas Pangkalpinang tanpa menyinggung komunitas Tionghoa. Kota ini sudah lekat sekali dengan etnis Tionghoa. Kita akan dengan mudah menemukan kelenteng saat berjalan-jalan menyusuri kota. Salah satunya Kelenteng Kwan Tie Miaw, kelenteng tertua di Pangkalpinang dan Pulau Bangka.

Lalu ada Pemakaman Sentosa atau Tjung Hoa Kung Mu Yen, sebuah pekuburan seluas 19.945 meter persegi. Menjadikan kompleks pemakaman ini sebagai pemakaman Tionghoa terbesar se-Asia Tenggara. Di sinilah setiap tahun diadakan tradisi Qingming, atau Cheng Beng dalam dialek etnis Hokkian yang banyak terdapat di Pangkalpinang.

Tradisi Cheng Beng menjadi highlight budaya Tionghoa di Pangkalpinang, dan Pulau Bangka pada umumnya. Dalam perayaan tahunan ini warga etnis Tionghoa asal Bangka yang merantau ke luar daerah ramai-ramai mudik. Tujuan mereka hanya satu: ziarah kubur. Cheng Beng sendiri bermakna "bersih-bersih kubur" sehingga dalam tradisi ini Pemakaman Sentosa jadi ramai luar biasa.

Konon, orang Tionghoa sudah masuk ke Pulau Bangka sejak ekspedisi Laksmana Cheng Ho di tahun 1405. Pembukaan tambang timah pada abad itu mendorong laju imigrasi tenaga-tenaga tambang asal Tiongkok. Sultan Palembang disebutkan sengaja mengimpor tenaga kerja asal suku Kejian karena keahlian mereka dalam pertambangan.

Ketika Belanda menguasai Bangka, tenaga kerja Tiongkok tetap jadi pilihan utama. Populasi etnis Tionghoa di Pulau Bangka semakin meningkat dari waktu ke waktu, sehingga mengimbangi jumlah penduduk asli Melayu. Kemudian terjadi percampuran ketika pekerja asal Tiongkok menikahi wanita-wanita pribumi.


Pengaruh Tionghoa dalam pertambangan timah di Bangka dapat dilihat dari istilah-istilah tambang yang masih umum dipakai. Ambil contoh kata ciam atau jiam dalam dialek Mandarin yang berarti pengebor. Untuk menyebut pengayak pasir timah masih digunakan kata sakan, dan lubang tambang besar disebut kolong.

Di pusat kota Pangkalpinang terdapat sebuah rumah kayu antik berusia 150 tahun, peninggalan seorang Kapitein Tionghoa bernama Lay Nam Chen. Rumah tersebut kini dihuni oleh Hongky Lay Listiyadhi, ketua Badan Warisan Bangka (Bangka Heritage Society) yang merupakan keturunan keempat sang kapiten.

Rumah-rumah antik khas Tionghoa seperti itu masih banyak ditemui di berbagai sudut Pangkalpinang. Pakemnya selalu sama, yakni sebuah rumah induk dilengkapi halaman tengah dan bagian belakang yang luas.

Jika kita berjalan-jalan di pusat Kota Pangkalpinang, maka kita akan menemui seruas jalan bernama Jl. Tony Wen. Dulu jalan tersebut dikenal sebagai Jl. Melintas. Berbarengan dengan pemberian nama tokoh perjuangan lokal Depati Amir pada bandara, nama Tony Wen pun disematkan pada Jl. Melintas.

Siapa sih Tony Wen? Nama aslinya Boen Kim To. Ia adalah putera seorang pegawai tinggi di Bangka Biliton Tin Maatschapij, perusahaan tambang timah milik Belanda. Hidup dalam keluarga berada, Tony Wen memilih ikut berjuang dalam revolusi kemerdekaan RI. Di masa itu ia berjasa menyelundupkan senjata dari Singapura untuk laskar prorepublik di Indonesia.

Sewaktu Bung Karno diasingkan ke Bangka, keluarga Tony Wen-lah yang mencukupi kebutuhan sang presiden. Di era kemerdekaan, ia sempat ditunjuk sebagai anggota Komite Olimpiade Indonesia dan pengurus PSSI. Tony Wen juga pernah menjadi anggota DPR sebagai wakil Partai Nasional Indonesia (PNI).

Tradisi Cheng Beng, rumah antik khas Tionghoa di pusat kota, serta Jl. Tony Wen hanyalah sedikit bukti dari begitu lekatnya budaya dan pengaruh Tionghoa pada Kota Pangkalpinang.



Wujudkan Liburan Impian dengan Tixton
Oke, Pangkalpinang sah masuk dalam daftar destinasi impian saya. Pertanyannya kini tinggal bagaimana dan kapan mewujudkan impian ini menjadi kenyataan. Yang terpenting, impian tak akan pernah terwujud kalau tidak direncanakan. Jadi, saya susun dulu rencananya. Atau lebih tepatnya rencana impian, hehehe.

Seperti biasa, pertama-tama saya akan mencari tahu informasi lebih lanjut mengenai kota tujuan. Di mana menginap dan berata rate-nya per malam, bagaimana transportasi dalam kota, tempat makannya seperti apa, sampai spot wifi terbaik di mana saja, dan lain-lain.

Google jadi andalan untuk mencari referensi terkait kota tujuan, dalam hal ini Pangkalpinang. Info-info mengenai promo wisata jelas saja ikut saya lahap. Dan, tara! Saya pun menemukan informasi mengenai promo wisata Tixton. Pas banget.

Tunggu dulu, nama Tixton sepertinya masih asing di telinga deh. Apaan sih ini?

Dari penelusuran di mesin pencari didapatlah keterangan kalau Tixton.com merupakan penyedia layanan booking kamar hotel online. Situs ini dapat membantu kita menemukan hotel dengan harga terbaik. Caranya cukup masukkan rencana perjalanan dan kota tujuan, selanjutnya biarkan Tixton mencari hotel murah meriah untuk kita inapi.

Ah, situs seperti itu kan sudah banyak. Kenapa harus Tixton? Di sini bedanya. Di Tixton kita bisa lho menjual kembali kamar yang sudah dipesan. Katakanlah kita batal melakukan liburan seperti yang direncanakan karena satu hal. Tidak perlu kuatir biaya untuk reservasi kamar hotel melayang. Tinggal tawarkan saja kamar tersebut ke pengguna lain melalui Tixton.

Nah, ceritanya Tixton tengah mengadakan promo nih. Promo dimulai 17 Agustus lalu dan berakhir 16 November 2016 mendatang. Masih lama. Hadiahnya tiket pesawat PP dan juga uang tunai. Caranya juga gampang. Kita cukup menyusun rencana wisata impian menggunakan fitur Travel Wish Tixton.

Langkah-langkahnya kurang lebih begini. Pertama-tama pilih kota tujuan dari daftar yang disediakan, lalu sebutkan tanggal check in dan check out. Di halaman travel wish tersebut kita boleh menyebutkan nama hotel yang diinginkan lho. Lalu tentukan jenis kamar. Dan kalau kita sudah tahu berapa rate kamar hotel tersebut dari situs lain, tinggal isikan saja pada kolom yang telah disediakan.

Terakhir, klik tombol "Buat Travel Wish" yang ada di bagian paling bawah. Dan, abrakadabra! Tixton akan memberikan diskon 20% dari harga termurah yang kita temukan dari web lain. So, harga yang diberikan Tixton dijamin merupakan tarif paling murah. Boleh dibilang, Tixton merupakan cara mudah dapatkan harga TERMURAH di hotel idaman.


Karena penasaran, saya pun menjajal fitur travel wish ini. Pertama-tama saya mendaftarkan diri terlebih dahulu, kemudian menuju halaman travel wish. Tentu saja saya pilih nama Bangka dari daftar kota pilihan. Eh, ternyata ada juga nama Pemalang lho dalam daftar! #bangga

Karena saya tahu di Pangkalpinang ada Hotel Novotel, dan saya punya kenangan dengan jaringan hotel satu ini, saya tick opsi "Ya, saya ingin hotel spesifik" dan menuliskan nama Novotel. By the way, waktu diajak jalan-jalan sama Sunpride ke Lampung, saya juga diinapkan di Hotel Novotel Bandar Lampung. Lumayan mengobati kangen :)


Dari Google, saya tahu rate paling rendah untuk kamar standar di Novotel Pangkalpinang sebesar Rp631.620,- semalam. Jadi, saya masukkan angka ini di kolom yang disediakan Tixton. Setelah mencentang kotak kecil berisi pernyataan setuju pada ketentuan layanan, klik tombol biru di bagian paling bawah. Done!

Oke, travel wish saya sudah selesai. Selanjutnya biarkan Tixton mencarikan harga hotel termurah yang akan dikabari via email. Gampang, bukan?


Kembali ke promosi wisata tadi. Kalau saya membeli hotel yang ditawarkan oleh Tixton berdasarkan travel wish yang dibuat, maka saya berkesempatan memenangkan tiket pesawat untuk dua orang ke bandara terdekat dari hotel tujuan. Nah, kalau saya beruntung, saya bakal mendapat tiket ke Bandara Depati Amir di Pangkalpinang.

Selain tiket, pemenang juga mendapat uang tunai sebesar Rp 5 juta sebagai uang saku. Kurang apa coba? Setiap bulan dipilih satu pemenang, dengan periode perjalanan 1 Desember 2016 sampai 28 Februari 2017.

Well, tentu saja saya berdoa semoga jadi salah satu pemenang dalam promo wisata Tixton ini. Kalau terkabul, saya bisa mewujudkan liburan impian ke Pangkalpinang. Menemui kawan lama, sekaligus menikmati keindahan alam kota bersejarah ini.

Allahumma amin...

Tulisan ini diikut-sertakan dalam Lomba Blog "Liburan Impian" Tixton-Dunia Biza.


Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pangkal_Pinang
http://jelajahsitus.blogspot.co.id/2009/02/makam-belanda-kerkhof-di-kota.html
http://www.tribunnews.com/travel/2015/07/15/bangka-botanical-garden-menikmati-agrowisata-sambil-berkuda
http://travel.detik.com/read/2013/12/02/182300/2423090/1025/bangka-botanical-garden-oase-tersembunyi-di-pulau-bangka
http://bangkabotanicalgarden.com/
https://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_Pasir_Padi
http://bangka.tribunnews.com/2012/06/17/water-front-city-pasir-padi-tak-lama-lagi
http://www.radarbangka.co.id/berita/detail/pangkalpinang/23775/sopian-:-wfc-tetap-dilaksanakan.html
http://www.thearoengbinangproject.com/kelenteng-dewi-kwan-im-bangka/
http://bangka.tribunnews.com/2016/01/17/di-pantai-ini-terdapat-telapak-kaki-hantu
https://id.wikipedia.org/wiki/Festival_Qingming
http://jelajahsitus.blogspot.co.id/2009/02/makam-belanda-kerkhof-di-kota.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Tony_Wen
http://www.sejarawan.com/292-tony-wen-pahlawan-nasional-yang-terlupakan.html

Senin, 12 September 2016


OKE, ini cerita lama. Sudah beberapa pekan lalu, tapi yakinlah cerita ini masih enak dibaca. Hehehe. Jadi, ceritanya saya berkesempatan "mencicipi" kemegahan Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta. Itu lho, terminal baru yang super megah itu. Katanya sih sebelas-dua belas sama Bandara Changi. Katanya...

Kesempatan terbang dari Terminal 3 Ultimate saya dapat berkat memenangkan lomba blog Sunpride di bulan Ramadhan lalu. Dua pemenang lomba tersebut, which is saya dan Teteh Lingga Permesti, diajak mengunjungi kebun buah PT Nusantara Tropical Farm di Lampung. Tentu saja naik pesawat, nggak mungkin disuruh naik bus.

Singkat cerita, setelah saling kontak dengan tiga orang berbeda dari Sunpride, saya mendapat tiket dan boarding pass untuk penerbangan di hari H: 24 Agustus 2016. Begitu buka email saya kaget campur senang. Tiket Garuda Indonesia, yeay!

Sebut saya norak, silakan saja. Tapi terbang bersama Garuda Indonesia sudah jadi obsesi saya sejak lama. Alasannya, saya supporter Liverpool FC. Lho, apa hubungannya? Ya karena Garuda pernah jadi sponsor LFC, saya jadi mencari tahu lebih banyak tentang maskapai satu ini. Mungkin teman-teman sesama fan LFC melakukan hal sama.

Kesimpulan saya, maskapai penerbangan satu ini luar biasa! Ya, kesimpulan yang telat banget karena Garuda Indonesia sudah sejak lama diakui sebagai yang terbaik di Indonesia. Di level dunia juga. Penghargaan World's Best Airline Cabin Crew yang diraih tiga tahun berturut-turut sejak 2013 membuktikan hal tersebut.

Tak perlulah saya jelaskan panjang lebar bagaimana keren dan hebatnya Garuda Indonesia. Dari harga tiket saja sudah ketahuan kok. Dan, seringkali faktor harga ini pula yang membuat saya menghindari GIA setiap kali mencari tiket pesawat. Terutama pas mau mudik ke Jambi bareng anak-istri. Padahal sebenarnya pengen sekali.

Saking pengennya naik Garuda, saya selalu booking tiket Citilink tiap kali mudik ke Jambi. Paling tidak bisa ngerasain "aroma" Garuda. Sebab di bawah nama Citilink yang ada di bodi pesawat terdapat tulisan dan logo Garuda Indonesia. Selain itu, Citilink punya promo diskon 25% untuk anak-anak. Wah, sangat membantu sekali buat bapak beranak dua ini.

Di Bandara Sultan Thaha sewaktu mudik lebaran ke Jambi di pertengahan tahun 2014. Naiknya Citilink, tapi sudah serasa naik Garuda Indonesia. Hehehe...

Lalu sewaktu mudik pada November 2015, adik bungsu saya yang kuliah di Institut Pertanian Bogor pamer, "Adik tadi naik Garuda." Terus dia ceritakan kelebihan-kelebihan Garuda yang tidak dipunyai maskapai lain. Bikin iri!

Demikianlah. Begitu tahu Sunpride membelikan tiket Garuda Indonesia untuk penerbangan ke dan dari Lampung, saya kontan menarik napas. "Wow, tiketnya Garuda!" teriak saya ke istri yang sedang menghitung pengeluaran hari itu.

Norak? Iya!

Tertahan di Gerbang Tol
Selain faktor maskapai, satu lagi yang membuat saya excite banget dengan trip bersama Sunpride adalah fakta kalau Garuda Indonesia terbangnya dari Terminal 3 Ultimate. Wuih, saya sudah ingin sekali ke terminal ini sejak teman-teman blogger yang diundang pada acara soft launching "pamer" di sosial media.

Dari foto-foto yang dibagikan kawan-kawan blogger saat itu, terlihat sekali perbedaan arsitektur Terminal 3 dengan dua terminal lama. Terkesan futuristik. Kaca-kacanya lebarnya nan transparan membuat terminal ini terkesan lega. Dan, sesungguhnya bukan cuma kesan, karena Terminal 3 Ultimate benar-benar lega alias luaaaaas sekali.

Sunpride mengambil penerbangan Jakarta-Lampung paling pagi, pukul 05.10 WIB. Saya yang sudah berada di Jakarta sejak 23 Agustus malam berencana berangkat ke bandara jam setengah empat. Tapi rencana tersebut meleset. Tanggal 24 Agustus pagi di jam itu saya malah baru terbangun. Padahal masih harus ke Slipi untuk mencari taksi.

Sesampainya di Slipi, diantar adik, dapat taksi yang pengemudinya sudah berumur pula. Pemandangan si Bapak sudah tidak jernih sehingga tidak dapat melajukan mobilnya lebih kencang. Lalu sempat ada insiden di pintu tol Cengkareng. Dengan pertimbangan antrian lebih pendek, bahkan cenderung lengang, saya sarankan Pak Sopir untuk memilih gerbang tol otomatis sembari menyodorkan kartu Indomaret Card.

Eh, bukannya lebih cepat, kami malah tertahan di pintu tol karena mesin pemindai mati. Pak Sopir sudah melakukan tugasnya dengan baik, yakni menempelkan kartu Indomaret Card saya di mesin. Lampu indikator gerbang tol juga sudah menyala hijau. Tapi cuma sekedipan mata, untuk kemudian menjadi merah lagi. Tak ada struk keluar, penghalang gerbang tol tak mengangkat, sehingga kami tertahan.

Si Bapak mencoba 2-3 kali lagi. Hasilnya sama. Entah apakah saldo Indomaret Card saya terpotong sebanyak 3-4 kali atau tidak, yang jelas kami tetap tak bisa melewati gerbang tersebut. Pak Sopir memundurkan mobilnya, berusaha menuju ke gerbang manual. Tapi deretan mobil yang sudah berada di jalur gerbang tol otomatis membuat mobil tak bisa mundur lebih jauh.

Parade klakson sontak terjadi. Khas Jakarta. Saling sahut-menyahut, meminta kami minggir dari jalur. Seorang penjaga pintu tol manual mendatangi kami dan bertanya apa yang terjadi. Si Bapak menjawab seperlunya.

Karena datang mepet waktu penerbangan, saya nggak sempat selfie cantik seperti ini, Hiks. Foto: Lingga Permesti

"Saldonya habis kali, Pak," kata si petugas pintu tol.

Saya yang menjawab dari dalam, tanpa menurunkan kaca pintu belakang. "Nggak, kok, saldonya masih banyak." Ya, saldonya kalau cuma untuk bayar tol Cengkareng saja bisa bolak-balik belasan kali.

Dibantu petugas tol tersebut kami kemudian pindah ke gerbang otomatis satunya. Dan.... sukses! Ternyata gerbang sebelumnya memang tidak berfungsi. Saya lihat ada mobil lain yang juga tertahan seperti kami tadi.

Terminal Melelahkan
Sejak berangkat dari Pemalang saya sudah membayangkan bakal selfie-selfie cantik dulu di Terminal 3 Ultimate sebelum boarding. Tapi karena bangun kesiangan dari jadwal, ditambah insiden di gerbang tol otomatis di atas membuat rencana tersebut batal. Terlebih lokasi Terminal 3 lebih jauh dari bandara lain.

Saya sampai di bandara jam setengah lima lewat. Hanya punya waktu kurang-lebih setengah jam untuk check in dan kemudian boarding. So, jangankan untuk selfie-selfie cantik, merekam video-pun asal-asalan. Sembari jalan saja karena benar-benar running out of time.

Di pintu masuk saja sudah antri. Sampai di dalam saya celingak-celinguk mencari letak loket check in. Wuih, jaraknya dengan gerbang tempat saya masuk ternyata lumayan jauh. Sudah itu saya salah masuk konter. Karena antriannya lebih pendek, saya berbaris di konter yang ternyata khusus member Garuda Miles. Aduh, Mak! Hahaha...

Check in juga butuh waktu tidak sebentar. Antriannya kira-kira membutuhkan waktu 6-7 menit. Lalu kembali celingak-celinguk mencari gate untuk boarding yang ternyata harus jalan lagi lumayan jauh, turun satu lantai ke bawah. Tapi itu belum seberapa, sebab penumpang ke Bandar Lampung berangkat dari Gate 15. Ini letaknya di ujung!

Saya tak sempat menghitung, tapi menurut Teh Lingga di post-nya ini jarak ke Gate 15 kira-kira satu kilometer. Waw! Ketika bertemu petugas Garuda yang mengecek calon penumpang di area ruang tunggu, rupanya penerbangan saya sudah boarding. Si Petugas saya dengar menyebut-nyebut nama saya di handie talkie yang ia pegang. Alhasil, saya pun jalan cepat menuju ke Gate 15.

Baru foto-foto setelah ada di dalam pesawat. Itupun yang difoto orang lain, hehehe...

Entah berapa menit berjalan cepat, akhirnya sampai juga di Gate 15. Pemandangan di sana membuat saya geleng-geleng kepala. Antrian panjang! Untunglah ternyata banyak calon penumpang yang salah antrian. Harusnya di barisan satunya karena beda jurusan, tapi ikut antri di barisan ke Bandar Lampung.

Oya, di post-nya Teh Lingga bercerita kalau hape saya mati. Sebenarnya bukan hapenya yang mati, tapi sinyalnya tidak ada. Itu sebabnya saya tidak tahu kalau Teh Lingga, Mbak Evrina Budiastuti, Mbak Ulan (admin sosial media Sunpride), dan Mas Deddy (person in charge) mengontak saya lewat chat dan call WhatsApp, juga telepon.

Saya baru tahu siapa saja teman-teman satu rombongan ke Lampung saat sudah duduk di dalam pesawat. Sewaktu saya menaruh tas ke bagasi, saya lihat mas-mas berkumis di kursi sebelah memandangi saya. Tapi ia baru bertanya setelah saya memasang sabuk pengaman.

"Mas Eko ya?" tanya Mas Deddy.

Saya mengiyakan. Di situlah saya baru tahu kalau ternyata sejak tadi banyak yang mencari-cari saya. Pasalnya, dari semua anggota rombongan cuma saya seorang yang tidak bisa dihubungi sehingga tidak diketahui di mana posisinya. Dari chat grup WhatsApp yang baru saya tahu sehari setelahnya, rupanya Mbak Ulan sudah memonitor seluruh peserta blogger dan sosial media sejak jam empat pagi.

Tak lama kemudian, Mbak Evrina, Teh Lingga, dan Mbak Ulan masuk pesawat. Saya langsung dapat pukulan gemas plus wajah kesal dari Mbak Evrina. Maafkan, saya sama sekali tidak tahu sudah membuat mereka kebingungan di ruang tunggu. Hihihi.

Oke, semua penumpang sudah masuk pesawat. Pilot sudah menyampaikan ucapan selamat datang. Waktunya terbang ke Bandar Lampung. Bye-bye, Terminal 3 Ultimate. Terima kasih sudah membuatku serasa berolahraga pagi itu.



Catatan: Foto paling atas hasil jepretan Teh Lingga Permesti (www.dunialingga.com).


OKE, ini cerita lama. Sudah beberapa pekan lalu, tapi yakinlah cerita ini masih enak dibaca. Hehehe. Jadi, ceritanya saya berkesempatan "mencicipi" kemegahan Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta. Itu lho, terminal baru yang super megah itu. Katanya sih sebelas-dua belas sama Bandara Changi. Katanya...

Kesempatan terbang dari Terminal 3 Ultimate saya dapat berkat memenangkan lomba blog Sunpride di bulan Ramadhan lalu. Dua pemenang lomba tersebut, which is saya dan Teteh Lingga Permesti, diajak mengunjungi kebun buah PT Nusantara Tropical Farm di Lampung. Tentu saja naik pesawat, nggak mungkin disuruh naik bus.

Singkat cerita, setelah saling kontak dengan tiga orang berbeda dari Sunpride, saya mendapat tiket dan boarding pass untuk penerbangan di hari H: 24 Agustus 2016. Begitu buka email saya kaget campur senang. Tiket Garuda Indonesia, yeay!

Sebut saya norak, silakan saja. Tapi terbang bersama Garuda Indonesia sudah jadi obsesi saya sejak lama. Alasannya, saya supporter Liverpool FC. Lho, apa hubungannya? Ya karena Garuda pernah jadi sponsor LFC, saya jadi mencari tahu lebih banyak tentang maskapai satu ini. Mungkin teman-teman sesama fan LFC melakukan hal sama.

Kesimpulan saya, maskapai penerbangan satu ini luar biasa! Ya, kesimpulan yang telat banget karena Garuda Indonesia sudah sejak lama diakui sebagai yang terbaik di Indonesia. Di level dunia juga. Penghargaan World's Best Airline Cabin Crew yang diraih tiga tahun berturut-turut sejak 2013 membuktikan hal tersebut.

Tak perlulah saya jelaskan panjang lebar bagaimana keren dan hebatnya Garuda Indonesia. Dari harga tiket saja sudah ketahuan kok. Dan, seringkali faktor harga ini pula yang membuat saya menghindari GIA setiap kali mencari tiket pesawat. Terutama pas mau mudik ke Jambi bareng anak-istri. Padahal sebenarnya pengen sekali.

Saking pengennya naik Garuda, saya selalu booking tiket Citilink tiap kali mudik ke Jambi. Paling tidak bisa ngerasain "aroma" Garuda. Sebab di bawah nama Citilink yang ada di bodi pesawat terdapat tulisan dan logo Garuda Indonesia. Selain itu, Citilink punya promo diskon 25% untuk anak-anak. Wah, sangat membantu sekali buat bapak beranak dua ini.

Di Bandara Sultan Thaha sewaktu mudik lebaran ke Jambi di pertengahan tahun 2014. Naiknya Citilink, tapi sudah serasa naik Garuda Indonesia. Hehehe...

Lalu sewaktu mudik pada November 2015, adik bungsu saya yang kuliah di Institut Pertanian Bogor pamer, "Adik tadi naik Garuda." Terus dia ceritakan kelebihan-kelebihan Garuda yang tidak dipunyai maskapai lain. Bikin iri!

Demikianlah. Begitu tahu Sunpride membelikan tiket Garuda Indonesia untuk penerbangan ke dan dari Lampung, saya kontan menarik napas. "Wow, tiketnya Garuda!" teriak saya ke istri yang sedang menghitung pengeluaran hari itu.

Norak? Iya!

Tertahan di Gerbang Tol
Selain faktor maskapai, satu lagi yang membuat saya excite banget dengan trip bersama Sunpride adalah fakta kalau Garuda Indonesia terbangnya dari Terminal 3 Ultimate. Wuih, saya sudah ingin sekali ke terminal ini sejak teman-teman blogger yang diundang pada acara soft launching "pamer" di sosial media.

Dari foto-foto yang dibagikan kawan-kawan blogger saat itu, terlihat sekali perbedaan arsitektur Terminal 3 dengan dua terminal lama. Terkesan futuristik. Kaca-kacanya lebarnya nan transparan membuat terminal ini terkesan lega. Dan, sesungguhnya bukan cuma kesan, karena Terminal 3 Ultimate benar-benar lega alias luaaaaas sekali.

Sunpride mengambil penerbangan Jakarta-Lampung paling pagi, pukul 05.10 WIB. Saya yang sudah berada di Jakarta sejak 23 Agustus malam berencana berangkat ke bandara jam setengah empat. Tapi rencana tersebut meleset. Tanggal 24 Agustus pagi di jam itu saya malah baru terbangun. Padahal masih harus ke Slipi untuk mencari taksi.

Sesampainya di Slipi, diantar adik, dapat taksi yang pengemudinya sudah berumur pula. Pemandangan si Bapak sudah tidak jernih sehingga tidak dapat melajukan mobilnya lebih kencang. Lalu sempat ada insiden di pintu tol Cengkareng. Dengan pertimbangan antrian lebih pendek, bahkan cenderung lengang, saya sarankan Pak Sopir untuk memilih gerbang tol otomatis sembari menyodorkan kartu Indomaret Card.

Eh, bukannya lebih cepat, kami malah tertahan di pintu tol karena mesin pemindai mati. Pak Sopir sudah melakukan tugasnya dengan baik, yakni menempelkan kartu Indomaret Card saya di mesin. Lampu indikator gerbang tol juga sudah menyala hijau. Tapi cuma sekedipan mata, untuk kemudian menjadi merah lagi. Tak ada struk keluar, penghalang gerbang tol tak mengangkat, sehingga kami tertahan.

Si Bapak mencoba 2-3 kali lagi. Hasilnya sama. Entah apakah saldo Indomaret Card saya terpotong sebanyak 3-4 kali atau tidak, yang jelas kami tetap tak bisa melewati gerbang tersebut. Pak Sopir memundurkan mobilnya, berusaha menuju ke gerbang manual. Tapi deretan mobil yang sudah berada di jalur gerbang tol otomatis membuat mobil tak bisa mundur lebih jauh.

Parade klakson sontak terjadi. Khas Jakarta. Saling sahut-menyahut, meminta kami minggir dari jalur. Seorang penjaga pintu tol manual mendatangi kami dan bertanya apa yang terjadi. Si Bapak menjawab seperlunya.

Karena datang mepet waktu penerbangan, saya nggak sempat selfie cantik seperti ini, Hiks. Foto: Lingga Permesti

"Saldonya habis kali, Pak," kata si petugas pintu tol.

Saya yang menjawab dari dalam, tanpa menurunkan kaca pintu belakang. "Nggak, kok, saldonya masih banyak." Ya, saldonya kalau cuma untuk bayar tol Cengkareng saja bisa bolak-balik belasan kali.

Dibantu petugas tol tersebut kami kemudian pindah ke gerbang otomatis satunya. Dan.... sukses! Ternyata gerbang sebelumnya memang tidak berfungsi. Saya lihat ada mobil lain yang juga tertahan seperti kami tadi.

Terminal Melelahkan
Sejak berangkat dari Pemalang saya sudah membayangkan bakal selfie-selfie cantik dulu di Terminal 3 Ultimate sebelum boarding. Tapi karena bangun kesiangan dari jadwal, ditambah insiden di gerbang tol otomatis di atas membuat rencana tersebut batal. Terlebih lokasi Terminal 3 lebih jauh dari bandara lain.

Saya sampai di bandara jam setengah lima lewat. Hanya punya waktu kurang-lebih setengah jam untuk check in dan kemudian boarding. So, jangankan untuk selfie-selfie cantik, merekam video-pun asal-asalan. Sembari jalan saja karena benar-benar running out of time.

Di pintu masuk saja sudah antri. Sampai di dalam saya celingak-celinguk mencari letak loket check in. Wuih, jaraknya dengan gerbang tempat saya masuk ternyata lumayan jauh. Sudah itu saya salah masuk konter. Karena antriannya lebih pendek, saya berbaris di konter yang ternyata khusus member Garuda Miles. Aduh, Mak! Hahaha...

Check in juga butuh waktu tidak sebentar. Antriannya kira-kira membutuhkan waktu 6-7 menit. Lalu kembali celingak-celinguk mencari gate untuk boarding yang ternyata harus jalan lagi lumayan jauh, turun satu lantai ke bawah. Tapi itu belum seberapa, sebab penumpang ke Bandar Lampung berangkat dari Gate 15. Ini letaknya di ujung!

Saya tak sempat menghitung, tapi menurut Teh Lingga di post-nya ini jarak ke Gate 15 kira-kira satu kilometer. Waw! Ketika bertemu petugas Garuda yang mengecek calon penumpang di area ruang tunggu, rupanya penerbangan saya sudah boarding. Si Petugas saya dengar menyebut-nyebut nama saya di handie talkie yang ia pegang. Alhasil, saya pun jalan cepat menuju ke Gate 15.

Baru foto-foto setelah ada di dalam pesawat. Itupun yang difoto orang lain, hehehe...

Entah berapa menit berjalan cepat, akhirnya sampai juga di Gate 15. Pemandangan di sana membuat saya geleng-geleng kepala. Antrian panjang! Untunglah ternyata banyak calon penumpang yang salah antrian. Harusnya di barisan satunya karena beda jurusan, tapi ikut antri di barisan ke Bandar Lampung.

Oya, di post-nya Teh Lingga bercerita kalau hape saya mati. Sebenarnya bukan hapenya yang mati, tapi sinyalnya tidak ada. Itu sebabnya saya tidak tahu kalau Teh Lingga, Mbak Evrina Budiastuti, Mbak Ulan (admin sosial media Sunpride), dan Mas Deddy (person in charge) mengontak saya lewat chat dan call WhatsApp, juga telepon.

Saya baru tahu siapa saja teman-teman satu rombongan ke Lampung saat sudah duduk di dalam pesawat. Sewaktu saya menaruh tas ke bagasi, saya lihat mas-mas berkumis di kursi sebelah memandangi saya. Tapi ia baru bertanya setelah saya memasang sabuk pengaman.

"Mas Eko ya?" tanya Mas Deddy.

Saya mengiyakan. Di situlah saya baru tahu kalau ternyata sejak tadi banyak yang mencari-cari saya. Pasalnya, dari semua anggota rombongan cuma saya seorang yang tidak bisa dihubungi sehingga tidak diketahui di mana posisinya. Dari chat grup WhatsApp yang baru saya tahu sehari setelahnya, rupanya Mbak Ulan sudah memonitor seluruh peserta blogger dan sosial media sejak jam empat pagi.

Tak lama kemudian, Mbak Evrina, Teh Lingga, dan Mbak Ulan masuk pesawat. Saya langsung dapat pukulan gemas plus wajah kesal dari Mbak Evrina. Maafkan, saya sama sekali tidak tahu sudah membuat mereka kebingungan di ruang tunggu. Hihihi.

Oke, semua penumpang sudah masuk pesawat. Pilot sudah menyampaikan ucapan selamat datang. Waktunya terbang ke Bandar Lampung. Bye-bye, Terminal 3 Ultimate. Terima kasih sudah membuatku serasa berolahraga pagi itu.



Catatan: Foto paling atas hasil jepretan Teh Lingga Permesti (www.dunialingga.com).

Rabu, 07 September 2016


SEKARANG apa sih yang nggak dijual di internet? Pertanyaan ini mengingatkan saya pada Anne Ahira, seorang internet marketer kondang di jamannya. Suatu waktu di mana internet masih jadi barang mewah di Indonesia, ia pernah mengatakan kalau kelak apa saja bakal dijual secara online.

Untuk mendukung ucapannya itu Anne menceritakan pengalamannya menjual kuda. Ya, jual seekor kuda hidup lewat internet. Menariknya lagi, kuda itu bukan miliknya. Ia hanya menghubungkan penjual dengan pembeli, atau istilah populernya jadi makelar alias calo.

Terbukti, sekarang banyak sekali toko online yang menjual berbagai macam barang di dunia maya. Mulai dari sepatu sampai topi, dari lauk makan sampai peralatan masak, dan belakangan kendaraan seperti sepeda motor dan bahkan mobil pun bisa dibeli secara online. Ya, sekarang mencari mobil semudah menggerak-gerakkan mouse.

Saya jadi teringat sewaktu adik ipar membeli mobil pertamanya beberapa tahun lalu. Dengan dana terbatas, ia mencari mobil second yang harganya terjangkau. Tapi juga tidak terlalu kecil agar bisa membawa seluruh anggota keluarganya yang berjumlah empat orang. Untuk itu ia meminta bantuan suami adik istrinya di Semarang.

Kenapa Semarang? Karena kota sebesar Semarang menawarkan pilihan lebih banyak ketimbang Pemalang. Juga, karena yang bisa dipercaya mencarikan mobil tinggalnya di Semarang.

Jadi, adik ipar saya menceritakan mobil yang ia butuhkan dan budget yang dipunyai. Lalu suami adik istrinya itu mencarikan mobil sesuai kriteria dari berbagai dealer mobil bekas. Begitu dapat info mobil yang kira-kira sesuai, mereka kontak-kontakan via handphone. Begitu terus sampai akhirnya didapatlah sebuah mobil yang sreg di hati sekaligus di kantong.

Proses ini lumayan lama. Sebabnya, suami-adik-istri adik-ipar-saya (bingung nggak sih? :D) itu mencari-cari mobil dari satu dealer ke dealer lain di seantero Semarang, juga menampung info dari teman-temannya. Kurang-lebih dua pekan. Belum termasuk menunggu mobil yang sudah dibeli itu dikirim.

Portal Otomotif No. 1
Saya jadi berandai-andai, kalau saja adik ipar saya cari mobil via online tentu bisa lebih praktis dan hemat biaya. Tak perlu menunggu lama untuk mencari-cari mobil dari satu penjual ke penjual lain. Tak perlu menghabiskan banyak pulsa untuk telepon. Yang terpenting ia bisa memilih sendiri tipe mobil yang diinginkan sesuai budget-nya, tidak menyerahkan pilihan pada orang lain.

Ya, sekarang mencari mobil semudah menghitung 1, 2, 3. Dengan bantuan internet, kita dapat melihat-lihat berbagai macam pilihan mobil dari sekian banyak penjual. Tak cuma itu, proses pembelian pun bisa dilakukan secara online. Semuanya cukup dilakukan di depan monitor komputer atau smartphone, serta tanpa perlu meninggalkan rumah.

"Tapi kan beli mobil di internet rawan penipuan? Ini urusannya duit banyak lho..." Kalau alasannya itu, maka carilah situs jual-beli mobil yang terpercaya.


Salah satu rujukan mencari mobil di dunia maya adalah Mobil123.com. Web ini mempunyai tagline "Portal Otomotif No. 1." Bukan sekedar slogan kosong karena Mobil123.com merupakan portal terbesar dan terpecaya yang menghubungkan penjual dan pembeli mobil.

Di portal ini kita dapat mencari berbagai mobil sesuai kebutuhan. Mau cari mobil berdasarkan tipe dan kelasnya atau merek tertentu, semua bisa dilakukan di Mobil123.com semudah memindah kursor. Bagi pembeli dengan budget tinggi terdapat pilihan mobil-mobil baru dari berbagai dealer ternama. Yang mencari mobil bekas tak perlu minder, sebab opsinya tak kalah banyak.

Oya, Mobil123 merupakan portal di bawah grup media otomotif terbesar dan terkuat di Asia Tenggara, yakni iCar Asia. Selain Mobil123, iCar Asia juga mempunyai portal otomotif lain di Indonesia, Otospirit.com. Web terakhir diposisikan sebagai portal otomotif dan gaya hidup modern, dan sejauh ini memiliki perkembangan luar biasa.

Tak hanya di Indonesia, iCar Asia juga beroperasi di Malaysia dengan web Carlist.my. Di Thailand sendiri grup ini mengelola tiga portal sekaligus: Thaicar.com, Autospinn.com, dan One2Car.

Berkantor pusat di Kuala Lumpur, iCar Asia adalah pemimpin pasar di dunia pasar iklan online otomotif yang berkembang pesat di kawasan ASEAN. Saat ini, seluruh portal yang dikelola grup tersebut mencapai lebih dari 4,8 juta pembeli mobil dan penggemar setiap bulan di wilayah Asia Tenggara.

Kucuran Investasi Baru
Meski tengah menjadi pemimpin pasar di Asia Tenggara, iCar Asia bertekad terus melakukan inovasi guna memberikan kenyamanan pada para konsumen dan mitranya. Ini disampaikan oleh Chief Executive iCar Asia Hamish Stone (foto bawah) dalam pernyataan resmi perusahaan.

"Kami sadar bahwa kami harus meningkatkan investasi di Teknologi, Marketing dan Peningkatkan SDM (Sumberdaya Manusia), untuk menggali potensi yang dimiliki oleh iCar Asia dalam beberapa tahun mendatang,” kata Stone.


Tekad tersebut didukung dengan masuknya kucuran investasi baru senilai 22,5 juta dolar Australia belum lama ini. Dengan nilai tukar sebesar Rp10.043 per AUS$ 1, angka tersebut hanya kurang sedikit dari Rp 226 milyar. Tepatnya Rp225.967.482.000.

Jumlah tersebut diperoleh dari penerbitan 54.687.500 lembar saham bernilai AUS$ 17,5 juta (sekitar Rp 230 miliar), di mana Bell Poter Securites bertindak selaku Lead Manager sekaligus Penjamin Emisi. Tambahan dana didapat dari Catcha Group selaku pemegang saham terbesar iCar Asia Limited (28,55%) yang berkomitmen menambah investasi sampai AUS$ 5 juta. Lalu non-executive director Syed Khalil Syed Ibrahim mengusulkan untuk membeli saham senilai AUS$ 500.000.

Kucuran dana segar inilah yang akan dipergunakan oleh iCar Asia untuk melakukan berbagai terobosan. Di Indonesia sendiri beberapa pengembangan Teknologi yang sudah diluncurkan dan dapat dinikmati oleh pengguna web Mobil123.com adalah SI JARI. Ini adalah satu platform khusus bagi para dealer mitra untuk mengatur inventori dagangannya.

Layanan kedua adalah fitur Live Chat yang menghubungkan pengunjung Mobil123 dengan tim Customer Support secara real time. Pelayanan Live Chat tersedia setiap hari, dari Senin sampai Ahad, mulai jam 08.30 WIB sampai dengan 18.00 WIB.

Dari sisi Marketing, langkah yang terus diljalankan adalah memberi edukasi kepada dealer-dealer yang tergabung dalam marketplace Mobil123. Para dealer diberikan pengetahuan seputar pemanfaatan sistem internet terutama dalam memaksimalkan fitur-fitur yang ada di Mobill123.com guna melancarkan bisnis mereka, sekaligus meningkatkan pelayanan pada pembeli.

Terakhir, pengembangan di sektor SDM dilakukan dengan cara merekrut karyawan-karyawan berkualitas dengan integritas tinggi, serta mengedukasi mitra-mitra dealer dan penjual mobil. Dengan tambahan tenaga profesional mumpuni, perusahaan yang terdaftar di indeks Australian Securities Exchange ini dapat fokus dalam pengembangan portal-portal otomotif terdepan di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Oya, dalam waktu dekat iCar Asia akan merilis dua produk baru lho. Kedua produk ini dimaksudkan agar dapat memberi nilai tambah serta kemudahan bagi para penggunanya. Apa itu? Kita tunggu saja.

Kredit foto:
1. Daihatsu Xenia di salah satu bazaar mobil bekas.
2. Empat SPG dengan banner Mobil123, foto dari Mobil123.com.
3. Hamish Stone, foto dari press release Mobil123.com.


SEKARANG apa sih yang nggak dijual di internet? Pertanyaan ini mengingatkan saya pada Anne Ahira, seorang internet marketer kondang di jamannya. Suatu waktu di mana internet masih jadi barang mewah di Indonesia, ia pernah mengatakan kalau kelak apa saja bakal dijual secara online.

Untuk mendukung ucapannya itu Anne menceritakan pengalamannya menjual kuda. Ya, jual seekor kuda hidup lewat internet. Menariknya lagi, kuda itu bukan miliknya. Ia hanya menghubungkan penjual dengan pembeli, atau istilah populernya jadi makelar alias calo.

Terbukti, sekarang banyak sekali toko online yang menjual berbagai macam barang di dunia maya. Mulai dari sepatu sampai topi, dari lauk makan sampai peralatan masak, dan belakangan kendaraan seperti sepeda motor dan bahkan mobil pun bisa dibeli secara online. Ya, sekarang mencari mobil semudah menggerak-gerakkan mouse.

Saya jadi teringat sewaktu adik ipar membeli mobil pertamanya beberapa tahun lalu. Dengan dana terbatas, ia mencari mobil second yang harganya terjangkau. Tapi juga tidak terlalu kecil agar bisa membawa seluruh anggota keluarganya yang berjumlah empat orang. Untuk itu ia meminta bantuan suami adik istrinya di Semarang.

Kenapa Semarang? Karena kota sebesar Semarang menawarkan pilihan lebih banyak ketimbang Pemalang. Juga, karena yang bisa dipercaya mencarikan mobil tinggalnya di Semarang.

Jadi, adik ipar saya menceritakan mobil yang ia butuhkan dan budget yang dipunyai. Lalu suami adik istrinya itu mencarikan mobil sesuai kriteria dari berbagai dealer mobil bekas. Begitu dapat info mobil yang kira-kira sesuai, mereka kontak-kontakan via handphone. Begitu terus sampai akhirnya didapatlah sebuah mobil yang sreg di hati sekaligus di kantong.

Proses ini lumayan lama. Sebabnya, suami-adik-istri adik-ipar-saya (bingung nggak sih? :D) itu mencari-cari mobil dari satu dealer ke dealer lain di seantero Semarang, juga menampung info dari teman-temannya. Kurang-lebih dua pekan. Belum termasuk menunggu mobil yang sudah dibeli itu dikirim.

Portal Otomotif No. 1
Saya jadi berandai-andai, kalau saja adik ipar saya cari mobil via online tentu bisa lebih praktis dan hemat biaya. Tak perlu menunggu lama untuk mencari-cari mobil dari satu penjual ke penjual lain. Tak perlu menghabiskan banyak pulsa untuk telepon. Yang terpenting ia bisa memilih sendiri tipe mobil yang diinginkan sesuai budget-nya, tidak menyerahkan pilihan pada orang lain.

Ya, sekarang mencari mobil semudah menghitung 1, 2, 3. Dengan bantuan internet, kita dapat melihat-lihat berbagai macam pilihan mobil dari sekian banyak penjual. Tak cuma itu, proses pembelian pun bisa dilakukan secara online. Semuanya cukup dilakukan di depan monitor komputer atau smartphone, serta tanpa perlu meninggalkan rumah.

"Tapi kan beli mobil di internet rawan penipuan? Ini urusannya duit banyak lho..." Kalau alasannya itu, maka carilah situs jual-beli mobil yang terpercaya.


Salah satu rujukan mencari mobil di dunia maya adalah Mobil123.com. Web ini mempunyai tagline "Portal Otomotif No. 1." Bukan sekedar slogan kosong karena Mobil123.com merupakan portal terbesar dan terpecaya yang menghubungkan penjual dan pembeli mobil.

Di portal ini kita dapat mencari berbagai mobil sesuai kebutuhan. Mau cari mobil berdasarkan tipe dan kelasnya atau merek tertentu, semua bisa dilakukan di Mobil123.com semudah memindah kursor. Bagi pembeli dengan budget tinggi terdapat pilihan mobil-mobil baru dari berbagai dealer ternama. Yang mencari mobil bekas tak perlu minder, sebab opsinya tak kalah banyak.

Oya, Mobil123 merupakan portal di bawah grup media otomotif terbesar dan terkuat di Asia Tenggara, yakni iCar Asia. Selain Mobil123, iCar Asia juga mempunyai portal otomotif lain di Indonesia, Otospirit.com. Web terakhir diposisikan sebagai portal otomotif dan gaya hidup modern, dan sejauh ini memiliki perkembangan luar biasa.

Tak hanya di Indonesia, iCar Asia juga beroperasi di Malaysia dengan web Carlist.my. Di Thailand sendiri grup ini mengelola tiga portal sekaligus: Thaicar.com, Autospinn.com, dan One2Car.

Berkantor pusat di Kuala Lumpur, iCar Asia adalah pemimpin pasar di dunia pasar iklan online otomotif yang berkembang pesat di kawasan ASEAN. Saat ini, seluruh portal yang dikelola grup tersebut mencapai lebih dari 4,8 juta pembeli mobil dan penggemar setiap bulan di wilayah Asia Tenggara.

Kucuran Investasi Baru
Meski tengah menjadi pemimpin pasar di Asia Tenggara, iCar Asia bertekad terus melakukan inovasi guna memberikan kenyamanan pada para konsumen dan mitranya. Ini disampaikan oleh Chief Executive iCar Asia Hamish Stone (foto bawah) dalam pernyataan resmi perusahaan.

"Kami sadar bahwa kami harus meningkatkan investasi di Teknologi, Marketing dan Peningkatkan SDM (Sumberdaya Manusia), untuk menggali potensi yang dimiliki oleh iCar Asia dalam beberapa tahun mendatang,” kata Stone.


Tekad tersebut didukung dengan masuknya kucuran investasi baru senilai 22,5 juta dolar Australia belum lama ini. Dengan nilai tukar sebesar Rp10.043 per AUS$ 1, angka tersebut hanya kurang sedikit dari Rp 226 milyar. Tepatnya Rp225.967.482.000.

Jumlah tersebut diperoleh dari penerbitan 54.687.500 lembar saham bernilai AUS$ 17,5 juta (sekitar Rp 230 miliar), di mana Bell Poter Securites bertindak selaku Lead Manager sekaligus Penjamin Emisi. Tambahan dana didapat dari Catcha Group selaku pemegang saham terbesar iCar Asia Limited (28,55%) yang berkomitmen menambah investasi sampai AUS$ 5 juta. Lalu non-executive director Syed Khalil Syed Ibrahim mengusulkan untuk membeli saham senilai AUS$ 500.000.

Kucuran dana segar inilah yang akan dipergunakan oleh iCar Asia untuk melakukan berbagai terobosan. Di Indonesia sendiri beberapa pengembangan Teknologi yang sudah diluncurkan dan dapat dinikmati oleh pengguna web Mobil123.com adalah SI JARI. Ini adalah satu platform khusus bagi para dealer mitra untuk mengatur inventori dagangannya.

Layanan kedua adalah fitur Live Chat yang menghubungkan pengunjung Mobil123 dengan tim Customer Support secara real time. Pelayanan Live Chat tersedia setiap hari, dari Senin sampai Ahad, mulai jam 08.30 WIB sampai dengan 18.00 WIB.

Dari sisi Marketing, langkah yang terus diljalankan adalah memberi edukasi kepada dealer-dealer yang tergabung dalam marketplace Mobil123. Para dealer diberikan pengetahuan seputar pemanfaatan sistem internet terutama dalam memaksimalkan fitur-fitur yang ada di Mobill123.com guna melancarkan bisnis mereka, sekaligus meningkatkan pelayanan pada pembeli.

Terakhir, pengembangan di sektor SDM dilakukan dengan cara merekrut karyawan-karyawan berkualitas dengan integritas tinggi, serta mengedukasi mitra-mitra dealer dan penjual mobil. Dengan tambahan tenaga profesional mumpuni, perusahaan yang terdaftar di indeks Australian Securities Exchange ini dapat fokus dalam pengembangan portal-portal otomotif terdepan di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Oya, dalam waktu dekat iCar Asia akan merilis dua produk baru lho. Kedua produk ini dimaksudkan agar dapat memberi nilai tambah serta kemudahan bagi para penggunanya. Apa itu? Kita tunggu saja.

Kredit foto:
1. Daihatsu Xenia di salah satu bazaar mobil bekas.
2. Empat SPG dengan banner Mobil123, foto dari Mobil123.com.
3. Hamish Stone, foto dari press release Mobil123.com.

Senin, 05 September 2016


SEMARANG terang-terang tanah saat kereta Tawang Jaya yang saya naiki dari Jakarta masuk ke Stasiun Semarangponcol, Ahad (28/8/2016) lalu. Kabut masih mengambang di udara, menyisipkan rasa dingin. Toh, stasiun sudah ramai pagi itu. Bangku-bangku di ruang tunggu penuh oleh calon penumpang.

Karena masih pagi, saya sempatkan diri mampir ke toilet lalu masuk musala stasiun. Seorang bapak berjenggot rapi mengajak saya salat Subuh berjamaah. Selesai menunaikan dua rakaat saya bergegas ke ruang boarding, mencari colokan listrik. Baterai hape hampir habis. Padahal saya bakal mengandalkan hape tersebut untuk memesan ojek online dan melihat peta.

Kira-kira jam delapan kurang sedikit saya keluar dari stasiun. Saya ke Semarang untuk mengikuti seminar bertema traveling yang diadakan oleh SunLife Financial. Berhubung acaranya dimulai siang, saya berniat menghabiskan pagi di Lawang Sewu, lalu mencari sarapan di sekitaran Jl. Pandanaran. Jadi, saya pun naik ojek ke arah simpang Tugu Muda.

Setelah menelusuri lorong demi lorong, ruangan demi ruangan, selama 2,5 jam di Lawang Sewu, perjalanan saya lanjutkan ke Gramedia. Anak-anak titip buku. Kebetulan pula saya membawa voucher Gramedia hadiah sebuah lomba live tweet. Eh, pas pula momennya Gramedia Pandanaran sedang mengadakan bazaar buku. Klop deh.

Tapi saya tak bisa lama-lama di Gramedia. Saya belum tahu lokasi Hotel Horison yang jadi venue seminar. Juga, sebelum mendatangi lokasi seminar saya berniat mampir di Masjid Baiturrahman terlebih dahulu. Jadi saya harus spare banyak waktu agar tiba sebelum seminar SunLife dimulai.

Benar saja. Dari Masjid Baiturrahman saya sempat lama sekali berputar-putar sembari kebingungan di Mal Ciputra. Entah berapa orang satpam dan pengunjung mal yang saya mintai petunjuk. Sampai akhirnya berkat bantuan seorang petugas Information Center yang sedang makan siang, saya berhasil juga menemukan Hotel Horison.

Aih, rupanya Hotel Horison berada persis di sebelah Matahari Mall yang ada di seberang Mal Ciputra. Dasar ndeso!


Jurus-Jurus Traveling
Untunglah, sampai di Lantai 14 acara belum dimulai. Teman-teman blogger tengah asyik makan siang di restoran. Mbak Muna Sungkar yang sedang makan semeja dengan suami dan anaknya mempersilakan saya untuk langsung bergabung di restoran. Kebetulan sekali. Perut ini memang sudah keroncongan dari tadi. Hahaha...

Tepat jam satu siang acara dimulai. Saya sendiri terlambat masuk ruangan karena mampir dulu ke rest room untuk sekedar membasuh badan dan ganti baju.

Sesi pertama menghadirkan Mbak Donna Imelda. Tahu dong siapa pembicara satu ini. Seorang traveler beken yang sudah berpetualang ke banyak negara di dunia. Pengalaman jalan-jalan Mbak Donna bisa dibaca di blog pribadinya yang beralamat di DonnaImelda.com, sebagian lagi di web AyoPelesiran.com.

Mbak Donna membuka materinya dengan pernyataan yang sangat menggelitik bagi saya. "Traveling itu tidak mungkin tanpa biaya, tapi biaya traveling bisa dibuat serendah mungkin." Kurang-lebih begitu yang disampaikan Mbak Donna. Ini semacam sentilan bagi orang-orang yang masih merasa traveling itu butuh banyak duit, seperti saya contohnya.

Tak sekedar asal ngomong, Mbak Donna memberikan tips-tips agar kita dapat berwisata dengan biaya sehemat mungkin. Dijabarkan olehnya kalau biaya paling banyak dalam berwisata adalah pos transportasi. Karenanya pertama-tama amankan tiket pesawat jauh-jauh hari agar mendapat harga terbaik.

Sekarang banyak sekali maskapai penerbangan yang menggelar promo tiket. Harganya bisa jadi 50% dari tarif normal, bahkan ada yang sampai Rp0. Ya walaupun harus banyak pajak bandara sendiri, tetap saja angkanya jauh lebih kecil ketimbang membeli dengan harga normal. Mbak Donna menganjurkan untuk rajin-rajin memantau promo-promo seperti ini.

Pos kedua yang tak kalah banyak memakan biaya adalah penginapan. Strateginya hampir sama dengan membeli tiket pesawat, yakni pesan jauh-jauh hari. Selain dapat berhemat beberapa persen, ini juga demi memastikan kita kebagian kamar pada tanggal yang diinginkan. Jangan sampai tiket pesawat sudah di tangan kita malah tak dapat tempat menginap.


Yang terpenting, sesuaikan tipe penginapan dengan kebutuhan. Kalau hanya untuk menumpang tidur setelah seharian eksplor objek-objek wisata di negara tujuan, tak perlulah hotel mahal-mahal. Cari saja budget hotel yang biaya sewanya lebih murah. Tapi juga jangan asal murah lantas mengabaikan kenyamanan. Wisata harus fun, karenanya tempat tidurnya pun harus bikin kita tidur nyenyak.

Satu lagi kalimat penting yang disampaikan Mbak Donna dan saya sangat setuju 100% adalah, jangan traveling dengan uang hutang atau kartu kredit! Mbak Donna berprinsip "pay first, play later." Jadi, upayakan seluruh biaya traveling dibayar lunas di awal dengan dana yang memang disiapkan untuk itu.

Kartu kredit tentu harus diakui sangat memudahkan para traveler. Terutama untuk pemesanan tiket pesawat dan penginapan. Tapi jangan bergantung sepenuhnya pada uang plastik tersebut. Sekalipun bayarnya pakai kartu kredit, kita harus punya dana tunai sehingga begitu tagihan keluar bisa langsung dilunasi. Tidak ada hutang.

"Jangan sampai pulang traveling kepala pusing melihat tagihan," kata Mbak Donna. Sepakat!

Asyiknya Traveling bersama Keluarga
Hal senada disampaikan Mbak Muna yang tampil di kesempatan kedua. Dengan perutnya yang semakin membuncit karena tengah hamil, Mbak Muna memfokuskan bahasannya pada tema traveling keluarga. Hmmm, saya yang punya anak-anak kecil jadi tambah serius menyimak.

Dari blognya saya tahu Mbak Muna seringkali mengajak suami dan anaknya traveling. Bahkan sampai kemping di gunung lho. Bagi sebagian orang traveling membawa anak kecil itu merepotkan. Tapi Mbak Muna membalik anggapan tersebut dan mengatakan traveling bersama anak-anak justru terasa lebih menyenangkan, lebih berwarna.

"Nanti saat anak-anak sudah besar, susah sekali kita mendapat kesempatan untuk bersama-sama. Karenanya mumpung masih kecil-kecil adalah saat terbaik untuk mengajak mereka traveling," kira-kira begitu alasan Mbak Muna. Dan, saya tidak bisa tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Bagi anak-anak sendiri pengalaman berwisata bersama orang tua akan menjadi kenangan manis yang mereka kenang seumur hidup. Mengajak traveling juga dapat mempererat hubungan emosional antara anak dan orang tua, sekaligus semakin membuat kompak kerja sama suami-istri. Tambahannya, anak-anak menjadi lebih luas wawasan serta terlatih mentalnya.


Tapi memang family traveling membutuhkan biaya tidak sedikit. Kalau anggota keluarga ada tiga orang, maka tiket pesawat atau kereta api harus dikalikan tiga. Kalau anggota keluarga ada empat ya tinggal dikalikan empat. Misalkan dapat tiket seharga Rp400.000, maka untuk transportasi pergi-pulang saja dibutuhkan biaya Rp2,4 juta (tiga orang) atau Rp3,2 juta (empat orang).

Selalu ada cara untuk menekan biaya. Untuk tiket pesawat bisa diakali dengan rajin-rajin memantau promo yang diadakan maskapai penerbangan. Ada pula maskapai yang memberi diskon khusus bagi penumpang anak-anak. Pilihan terakhir cocok untuk keluarga yang anak-anaknya sudah bersekolah sehingga harus menyesuaikan dengan liburan sekolah.

Kalau travelingnya tidak terlalu jauh, Mbak Muna menyarankan untuk membawa kendaraan sendiri saja. Ini akan sangat menghemat pos transportasi. Terlebih jika mau repot-repot menyetir sendiri selama perjalanan.

Karena biayanya besar, Mbak Muna menekankan pentingnya perencanaan sebelum melakukan family traveling. Hitung dengan cermat masing-masing pos pengeluaran, kalau perlu buat anggarannya per hari. Dibuat rincian berapa uang yang dibutuhkan di hari pertama, kedua, dan seterusnya. Dan yang terpenting harus disiplin mematuhi anggaran yang sudah disusun.

Senada dengan Mbak Donna, Mbak Muna mewanti-wanti untuk tidak melakukan family traveling dengan uang hutang atau kartu kredit. Lebih baik sabar menabung dengan menyisihkan dana sebesar tertentu setiap bulan. Dengan demikian traveling tidak malah membuat kepala tambah pusing karena dikejar-kejar cicilan.

Wujudkan Liburan Impian
Selain sepakat soal jangan berhutang, Mbak Donna dan Mbak Muna juga kompak mengenai pentingnya perlindungan diri selama traveling. Mereka menyarankan agar sebisa mungkin lakukan proteksi diri sebelum melakukan perjalanan sebagai tindakan berjaga-jaga.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi saat traveling. Yang terjadi dan dialami selama di negara tujuan tidak selalu sesuai dengan rencana. Karenanya tindakan berjaga-jaga berupa proteksi menjadi mutlak dilakukan. Untuk itu Mbak Donna dan Mbak Muna menyarankan para traveler untuk mengambil asuransi sebelum melakukan perjalanan.


Mbak Donna mencontohkan, andaikan kita jatuh sakit di negara orang dan butuh biaya banyak untuk berobat, biaya ekstra yang dikeluarkan tersebut dapat diklaim pada perusahaan asuransi sekembali di tanah air.

Tak kalah penting dari proteksi diri, lindungi juga biaya tiket pesawat atau pesanan hotel dengan cara sama. Dengan demikian jika terjadi hal-hal tak diinginkan seperti pembatalan sepihak atau lainnya, kita tidak kehilangan uang karena akan diganti oleh asuransi.

Oya, asuransi tak hanya untuk keperluan proteksi diri lho. Seperti dijelaskan perwakilan SunLife Indonesia, Bapak Ahmad Emir Farabi, kita bisa memanfaatkan produk-produk asuransi untuk merencanakan liburan impian. Untuk itu SunLife Financial menyediakan layanan Bright Advisor yang dapat diakses melalui www.brightadvisor.co.id.

Bright Advisor adalah web yang dikhususkan sebagai tempat bertanya seputar asuransi jiwa, kesehatan, pendidikan, investasi, dan perencanaan keuangan. Di web ini kita dapat menanyakan berbagai hal terkait asuransi, utamanya produk-produk SunLife Financial. Setiap pertanyaan akan dijawab oleh staf SunLife Indonesia dalam waktu maksimal 2x24 jam.

Sebelum mengajukan pertanyaan, kita juga bisa mengakses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pengguna sebelumnya. Di sana terdapat pula jawaban dari staf SunLife Indonesia, sehingga dapat dijadikan referensi atau justru menjawab pertanyaan yang tadinya hendak kita ajukan. Kalau penjelasan tersebut masih belum jelas, ya tinggal bertanya saja.

Berita baiknya, portal Bright Advisor terbuka untuk umum. Kita dapat memanfaatkan semua fitur yang disediakan tanpa harus menjadi nasabah SunLife Financial terlebih dahulu. Layanannya juga gratis tis, tanpa sepeser pun biaya.

Sebagai salah satu perusahaan asuransi terbesar dunia, SunLife Financial menawarkan banyak program untuk proteksi diri, perlindungan kesehatan, dana pendidikan, serta dana pensiun. Bapak Farabi sendiri menganjurkan produk Single Pay bagi yang ingin mewujudkan liburan impian. Dengan produk ini kita bisa membayar asuransi perjalanan dalam periode tertentu dan besarnya menyesuaikan kebutuhan masing-masing.

So, ketimbang terjerat utang dan dikejar cicilan, lebih baik bersabar diri menabung beberapa saat agar biaya traveling dapat dibayar lunas sehingga lebih menyenangkan.

Ayo wujudkan liburan terbaikmu!


SEMARANG terang-terang tanah saat kereta Tawang Jaya yang saya naiki dari Jakarta masuk ke Stasiun Semarangponcol, Ahad (28/8/2016) lalu. Kabut masih mengambang di udara, menyisipkan rasa dingin. Toh, stasiun sudah ramai pagi itu. Bangku-bangku di ruang tunggu penuh oleh calon penumpang.

Karena masih pagi, saya sempatkan diri mampir ke toilet lalu masuk musala stasiun. Seorang bapak berjenggot rapi mengajak saya salat Subuh berjamaah. Selesai menunaikan dua rakaat saya bergegas ke ruang boarding, mencari colokan listrik. Baterai hape hampir habis. Padahal saya bakal mengandalkan hape tersebut untuk memesan ojek online dan melihat peta.

Kira-kira jam delapan kurang sedikit saya keluar dari stasiun. Saya ke Semarang untuk mengikuti seminar bertema traveling yang diadakan oleh SunLife Financial. Berhubung acaranya dimulai siang, saya berniat menghabiskan pagi di Lawang Sewu, lalu mencari sarapan di sekitaran Jl. Pandanaran. Jadi, saya pun naik ojek ke arah simpang Tugu Muda.

Setelah menelusuri lorong demi lorong, ruangan demi ruangan, selama 2,5 jam di Lawang Sewu, perjalanan saya lanjutkan ke Gramedia. Anak-anak titip buku. Kebetulan pula saya membawa voucher Gramedia hadiah sebuah lomba live tweet. Eh, pas pula momennya Gramedia Pandanaran sedang mengadakan bazaar buku. Klop deh.

Tapi saya tak bisa lama-lama di Gramedia. Saya belum tahu lokasi Hotel Horison yang jadi venue seminar. Juga, sebelum mendatangi lokasi seminar saya berniat mampir di Masjid Baiturrahman terlebih dahulu. Jadi saya harus spare banyak waktu agar tiba sebelum seminar SunLife dimulai.

Benar saja. Dari Masjid Baiturrahman saya sempat lama sekali berputar-putar sembari kebingungan di Mal Ciputra. Entah berapa orang satpam dan pengunjung mal yang saya mintai petunjuk. Sampai akhirnya berkat bantuan seorang petugas Information Center yang sedang makan siang, saya berhasil juga menemukan Hotel Horison.

Aih, rupanya Hotel Horison berada persis di sebelah Matahari Mall yang ada di seberang Mal Ciputra. Dasar ndeso!


Jurus-Jurus Traveling
Untunglah, sampai di Lantai 14 acara belum dimulai. Teman-teman blogger tengah asyik makan siang di restoran. Mbak Muna Sungkar yang sedang makan semeja dengan suami dan anaknya mempersilakan saya untuk langsung bergabung di restoran. Kebetulan sekali. Perut ini memang sudah keroncongan dari tadi. Hahaha...

Tepat jam satu siang acara dimulai. Saya sendiri terlambat masuk ruangan karena mampir dulu ke rest room untuk sekedar membasuh badan dan ganti baju.

Sesi pertama menghadirkan Mbak Donna Imelda. Tahu dong siapa pembicara satu ini. Seorang traveler beken yang sudah berpetualang ke banyak negara di dunia. Pengalaman jalan-jalan Mbak Donna bisa dibaca di blog pribadinya yang beralamat di DonnaImelda.com, sebagian lagi di web AyoPelesiran.com.

Mbak Donna membuka materinya dengan pernyataan yang sangat menggelitik bagi saya. "Traveling itu tidak mungkin tanpa biaya, tapi biaya traveling bisa dibuat serendah mungkin." Kurang-lebih begitu yang disampaikan Mbak Donna. Ini semacam sentilan bagi orang-orang yang masih merasa traveling itu butuh banyak duit, seperti saya contohnya.

Tak sekedar asal ngomong, Mbak Donna memberikan tips-tips agar kita dapat berwisata dengan biaya sehemat mungkin. Dijabarkan olehnya kalau biaya paling banyak dalam berwisata adalah pos transportasi. Karenanya pertama-tama amankan tiket pesawat jauh-jauh hari agar mendapat harga terbaik.

Sekarang banyak sekali maskapai penerbangan yang menggelar promo tiket. Harganya bisa jadi 50% dari tarif normal, bahkan ada yang sampai Rp0. Ya walaupun harus banyak pajak bandara sendiri, tetap saja angkanya jauh lebih kecil ketimbang membeli dengan harga normal. Mbak Donna menganjurkan untuk rajin-rajin memantau promo-promo seperti ini.

Pos kedua yang tak kalah banyak memakan biaya adalah penginapan. Strateginya hampir sama dengan membeli tiket pesawat, yakni pesan jauh-jauh hari. Selain dapat berhemat beberapa persen, ini juga demi memastikan kita kebagian kamar pada tanggal yang diinginkan. Jangan sampai tiket pesawat sudah di tangan kita malah tak dapat tempat menginap.


Yang terpenting, sesuaikan tipe penginapan dengan kebutuhan. Kalau hanya untuk menumpang tidur setelah seharian eksplor objek-objek wisata di negara tujuan, tak perlulah hotel mahal-mahal. Cari saja budget hotel yang biaya sewanya lebih murah. Tapi juga jangan asal murah lantas mengabaikan kenyamanan. Wisata harus fun, karenanya tempat tidurnya pun harus bikin kita tidur nyenyak.

Satu lagi kalimat penting yang disampaikan Mbak Donna dan saya sangat setuju 100% adalah, jangan traveling dengan uang hutang atau kartu kredit! Mbak Donna berprinsip "pay first, play later." Jadi, upayakan seluruh biaya traveling dibayar lunas di awal dengan dana yang memang disiapkan untuk itu.

Kartu kredit tentu harus diakui sangat memudahkan para traveler. Terutama untuk pemesanan tiket pesawat dan penginapan. Tapi jangan bergantung sepenuhnya pada uang plastik tersebut. Sekalipun bayarnya pakai kartu kredit, kita harus punya dana tunai sehingga begitu tagihan keluar bisa langsung dilunasi. Tidak ada hutang.

"Jangan sampai pulang traveling kepala pusing melihat tagihan," kata Mbak Donna. Sepakat!

Asyiknya Traveling bersama Keluarga
Hal senada disampaikan Mbak Muna yang tampil di kesempatan kedua. Dengan perutnya yang semakin membuncit karena tengah hamil, Mbak Muna memfokuskan bahasannya pada tema traveling keluarga. Hmmm, saya yang punya anak-anak kecil jadi tambah serius menyimak.

Dari blognya saya tahu Mbak Muna seringkali mengajak suami dan anaknya traveling. Bahkan sampai kemping di gunung lho. Bagi sebagian orang traveling membawa anak kecil itu merepotkan. Tapi Mbak Muna membalik anggapan tersebut dan mengatakan traveling bersama anak-anak justru terasa lebih menyenangkan, lebih berwarna.

"Nanti saat anak-anak sudah besar, susah sekali kita mendapat kesempatan untuk bersama-sama. Karenanya mumpung masih kecil-kecil adalah saat terbaik untuk mengajak mereka traveling," kira-kira begitu alasan Mbak Muna. Dan, saya tidak bisa tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Bagi anak-anak sendiri pengalaman berwisata bersama orang tua akan menjadi kenangan manis yang mereka kenang seumur hidup. Mengajak traveling juga dapat mempererat hubungan emosional antara anak dan orang tua, sekaligus semakin membuat kompak kerja sama suami-istri. Tambahannya, anak-anak menjadi lebih luas wawasan serta terlatih mentalnya.


Tapi memang family traveling membutuhkan biaya tidak sedikit. Kalau anggota keluarga ada tiga orang, maka tiket pesawat atau kereta api harus dikalikan tiga. Kalau anggota keluarga ada empat ya tinggal dikalikan empat. Misalkan dapat tiket seharga Rp400.000, maka untuk transportasi pergi-pulang saja dibutuhkan biaya Rp2,4 juta (tiga orang) atau Rp3,2 juta (empat orang).

Selalu ada cara untuk menekan biaya. Untuk tiket pesawat bisa diakali dengan rajin-rajin memantau promo yang diadakan maskapai penerbangan. Ada pula maskapai yang memberi diskon khusus bagi penumpang anak-anak. Pilihan terakhir cocok untuk keluarga yang anak-anaknya sudah bersekolah sehingga harus menyesuaikan dengan liburan sekolah.

Kalau travelingnya tidak terlalu jauh, Mbak Muna menyarankan untuk membawa kendaraan sendiri saja. Ini akan sangat menghemat pos transportasi. Terlebih jika mau repot-repot menyetir sendiri selama perjalanan.

Karena biayanya besar, Mbak Muna menekankan pentingnya perencanaan sebelum melakukan family traveling. Hitung dengan cermat masing-masing pos pengeluaran, kalau perlu buat anggarannya per hari. Dibuat rincian berapa uang yang dibutuhkan di hari pertama, kedua, dan seterusnya. Dan yang terpenting harus disiplin mematuhi anggaran yang sudah disusun.

Senada dengan Mbak Donna, Mbak Muna mewanti-wanti untuk tidak melakukan family traveling dengan uang hutang atau kartu kredit. Lebih baik sabar menabung dengan menyisihkan dana sebesar tertentu setiap bulan. Dengan demikian traveling tidak malah membuat kepala tambah pusing karena dikejar-kejar cicilan.

Wujudkan Liburan Impian
Selain sepakat soal jangan berhutang, Mbak Donna dan Mbak Muna juga kompak mengenai pentingnya perlindungan diri selama traveling. Mereka menyarankan agar sebisa mungkin lakukan proteksi diri sebelum melakukan perjalanan sebagai tindakan berjaga-jaga.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi saat traveling. Yang terjadi dan dialami selama di negara tujuan tidak selalu sesuai dengan rencana. Karenanya tindakan berjaga-jaga berupa proteksi menjadi mutlak dilakukan. Untuk itu Mbak Donna dan Mbak Muna menyarankan para traveler untuk mengambil asuransi sebelum melakukan perjalanan.


Mbak Donna mencontohkan, andaikan kita jatuh sakit di negara orang dan butuh biaya banyak untuk berobat, biaya ekstra yang dikeluarkan tersebut dapat diklaim pada perusahaan asuransi sekembali di tanah air.

Tak kalah penting dari proteksi diri, lindungi juga biaya tiket pesawat atau pesanan hotel dengan cara sama. Dengan demikian jika terjadi hal-hal tak diinginkan seperti pembatalan sepihak atau lainnya, kita tidak kehilangan uang karena akan diganti oleh asuransi.

Oya, asuransi tak hanya untuk keperluan proteksi diri lho. Seperti dijelaskan perwakilan SunLife Indonesia, Bapak Ahmad Emir Farabi, kita bisa memanfaatkan produk-produk asuransi untuk merencanakan liburan impian. Untuk itu SunLife Financial menyediakan layanan Bright Advisor yang dapat diakses melalui www.brightadvisor.co.id.

Bright Advisor adalah web yang dikhususkan sebagai tempat bertanya seputar asuransi jiwa, kesehatan, pendidikan, investasi, dan perencanaan keuangan. Di web ini kita dapat menanyakan berbagai hal terkait asuransi, utamanya produk-produk SunLife Financial. Setiap pertanyaan akan dijawab oleh staf SunLife Indonesia dalam waktu maksimal 2x24 jam.

Sebelum mengajukan pertanyaan, kita juga bisa mengakses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pengguna sebelumnya. Di sana terdapat pula jawaban dari staf SunLife Indonesia, sehingga dapat dijadikan referensi atau justru menjawab pertanyaan yang tadinya hendak kita ajukan. Kalau penjelasan tersebut masih belum jelas, ya tinggal bertanya saja.

Berita baiknya, portal Bright Advisor terbuka untuk umum. Kita dapat memanfaatkan semua fitur yang disediakan tanpa harus menjadi nasabah SunLife Financial terlebih dahulu. Layanannya juga gratis tis, tanpa sepeser pun biaya.

Sebagai salah satu perusahaan asuransi terbesar dunia, SunLife Financial menawarkan banyak program untuk proteksi diri, perlindungan kesehatan, dana pendidikan, serta dana pensiun. Bapak Farabi sendiri menganjurkan produk Single Pay bagi yang ingin mewujudkan liburan impian. Dengan produk ini kita bisa membayar asuransi perjalanan dalam periode tertentu dan besarnya menyesuaikan kebutuhan masing-masing.

So, ketimbang terjerat utang dan dikejar cicilan, lebih baik bersabar diri menabung beberapa saat agar biaya traveling dapat dibayar lunas sehingga lebih menyenangkan.

Ayo wujudkan liburan terbaikmu!

Jumat, 02 September 2016


MATAHARI tepat berada di atas ubun-ubun saat saya meloncat turun dari bus jurusan Purbalingga-Wonosobo. Alun-alun Banjarnegara sangat ramai. Orang-orang berseragam PNS, anak-anak sekolah, juga masyarakat umum berseliweran di seputaran alun-alun.

Saya lihat jam di handphone. Jam 12 kurang seperempat. Sudah masuk waktu Dzuhur. Suara iqamah sayup-sayup terdengar dari masjid yang menaranya terlihat dari jalan tempat saya turun. Saya pun melangkahkan kaki ke masjid, yang belakangan saya ketahui bernama Masjid An-Nuur atau oleh penduduk setempat disebut sebagai Masjid Kauman.

Jalan di seputaran alun-alun padat oleh sepeda motor yang diparkir. Saya musti mencari celah di antara kendaraan-kendaraan roda dua tersebut. Sampai di halaman masjid, lautan sepeda motor kembali saya temui. Penuh sekali! Saya tak bisa membayangkan bagaimana caranya pemilik sepeda motor yang kendaraannya diparkir paling depan keluar dari halaman masjid.

Saya sendiri langsung menghampiri tukang parkir yang tengah memindah sepeda motor. "Toilet di mana, Pak?" tanya saja. "Masuk saja, belok kiri," jawabnya singkat sembari membawa sepeda motor ke bagian lain halaman masjid.

Masuk ke dalam, serambi masjid juga penuh oleh orang. Sebagian duduk-duduk sembari menatap layar hape, beberapa yang lain rebahan di lantai marmer, ada pula yang merapikan pakaian. Di bagian lain terlihat ibu-ibu muda melipat mukena. Anak-anak paling ramai, berceloteh satu sama lain membuat suasana masjid riuh-rendah.

Mata saya mencari-cari tulisan penunjuk ke kamar kecil. Benar kata Pak Parkir tadi, di sebelah kiri serambi masjid terdapat pintu kecil. Di sana terdapat jejeran kran tempat wudhu. Saya masih harus berjalan menuruni tangga untuk menuju ke kamar kecil. Lalu antri beberapa saat sebelum mendapatkan giliran melepas hajat buang air kecil. Hehehehe...

Selepas menunaikan salat Dzuhur di bagian dalam masjid, saya coba menggali informasi dari seorang pria berpakaian PNS. Keterangan yang saya dapat, acara kirab budaya peringatan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara sudah usai. Itulah sebabnya orang-orang mulai bergerak meninggalkan alun-alun. Hiburan rakyat berupa kuda lumping dan wayang kulit baru akan digelar sore hari.


Oya, Senin (22/8/2016) itu saya ke Banjarnegara untuk memenuhi undangan mendadak dari penyelenggara lomba blog Mayuh Plesir Maring Banjarnegara. Disebut mendadak karena undangan diumumkan di web Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara pada 19 Agustus, dan kami diminta datang tanggal 21 Agustus. Tak ada pemberitahuan via email maupun telepon, hanya undangan terbuka di web.

Saya sendiri baru tahu mengenai undangan ini pada 21 Agustus sore. Itupun setelah dikabari oleh blogger lain, Mas Amir Mahmud, melalui Facebook. Rupanya kami sama-sama masuk 10 besar dalam lomba tersebut. Panitia sebenarnya mengundang 20 besar, tapi yang datang hanya tujuh blogger yang masuk 10 besar. Salah satunya saya.

Pinggir Kali Serayu
Karena acara kirab budaya sudah usai, besar kemungkinan rombongan blogger yang tiba lebih dahulu juga sudah meninggalkan lokasi acara. Saya merogoh handphone di saku dan menghubungi nomor contact person yang tertera di web Disbudpar Banjarnegara. Untunglah, ternyata mobil yang membawa rombongan blogger masih ada di sekitaran alun-alun.

"Tunggu saja di masjid, Mas. Nanti kami jemput," kata suara di seberang telepon.

Saya menurut. Agar mudah ditemukan, saya bergeser ke bawah menara masjid. Area ini jauh lebih lengang dari tempat lain di Masjid An-Nuur. Setelah menunggu sejenak sembari merekam suasana alun-alun, dua orang datang menghampiri saya. Yang seorang kemudian kami panggil Pak Bonar, satunya lagi Mas Nur.

Fix, saya benar-benar melewatkan acara inti dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-185. Tapi setelah mendengar cerita kawan-kawan blogger yang diminta ikut arak-arakan berjalan kaki sejauh beberapa kilometer, diam-diam saya merasa bersyukur. Hihihi...

Dalam perjalanan menuju penginapan saya berkenalan dengan blogger-blogger lain. Saya duduk tepat berselahan dengan Mas Amir yang nekat datang naik sepeda motor dari Kebumen meski tak punya SIM C. Mobil penuh sesak. Ada sembilan penumpang plus satu sopir dari seharusnya hanya berkapasitas 6-7 orang.

Kurang-lebih 10 menit perjalanan tibalah kami di The Pikas Resort. Di penginapan berkonsep bungalow alami inilah kami akan beristirahat malam itu. Lokasinya persis berada di sebelah Sungai Serayu. Nama "Pikas" sendiri menurut cerita Pak Bonar merupakan singkatan dari "pinggir Kali Serayu."

Acara berikutnya adalah rafting, arung jeram menyusuri Sungai Serayu. Sebelum itu kami diajak makan siang. Restorannya masih di dalam area The Pikas Resort, jadi kami hanya perlu jalan kaki beberapa menit dari penginapan. Menunya sengaja dipilih yang tidak terlalu mengenyangkan, sebab seusai rafting akan langsung makan lagi. Jadilah kami disuguhi mi goreng.


Dari restoran ke tempat pemberangkatan menuju lokasi start arung jeram juga tak jauh. Lokasi kedua tempat malah saling berhadap-hadapan. Inilah istimewanya The Pikas Resort. Bukan sekedar tempat penginapan dan makan, tapi juga cocok untuk menguji adrenalin bagi penyuka wisata petualangan. Selain rafting, di tempat ini juga tersedia area khusus paint ball.

Sebelum berangkat kami diminta memakai pelampung dan helm. Masing-masing peserta juga dibekali dengan sebuah dayung, plus sebotol sedang air mineral. Saya sempat heran, mau main air di sungai kok dibawain air minum ya? Keheranan ini terjawab saat sudah berada di atas perahu karet.

Sebuah mobil Suzuki Carry yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa membawa kami ke Desa Bojanegara di Kecamatan Sigaluh. Jaraknya kira-kira 15 km dari alun-alun Banjarnagera, atau sekitar 13-14 km dari The Pikas Resort. Dari sinilah petualangan kami menyusuri Sungai Serayu dimulai.

Sesampai di starting point, salah seorang pemandu bernama Mas Manto memberi briefing. Mulai dari cara mengenakan helm yang benar, cara memegang dayung, sampai tindakan-tindakan dalam kondisi darurat semisal tercebur ke sungai, dan lain-lain. Dari sekian panjang uraian Mas Manto, satu hal yang paling saya ingat adalah: jangan panik.

Well, ini merupakan pengalaman pertama saya melakukan arung jeram. Meski bisa berenang, tapi saya belum pernah berenang di sungai berarus deras seperti Serayu. Sebagai gambaran, sungai ini biasa digunakan menggelar lomba arung jeram tingkat nasional dan internasional. Artinya, level kesulitan berarung jeram di Sungai Serayu tergolong tinggi. Sedangkan saya seorang pemula!

Tenggelam dan Ditenggelamkan
Untungnya Sungai Serayu tengah surut siang itu. Airnya tidak terlalu dalam, sehingga arusnya tidak sederas saat debit air sedang tinggi. Seorang blogger yang seperahu dengan saya sempat bertanya berapa kedalaman sungai. Cuma saya tidak ingat jawaban Mas Manto.

Rombongan tujuh blogger ditambah Mas Nur dibagi ke dalam dua perahu. Saya di perahu biru bersama Mas Nur, Hendi Setiyanto, Faizhal Arif Santosa, dan Mas Manto sebagai pemandu. Di perahu kuning ada Mas Arif Saefudin, Mas Amir, Mas Muh. Zia Ulkhaq, dan Muhammad Razin Mufadhol yang masih duduk di bangku SMA. Saya kok lupa siapa nama pemandu perahu kuning. Padahal sudah disebutkan namanya oleh Mas Manto saat briefing.




Petualangan kami berawal dengan baik. Beberapa jeram di awal-awal perjalanan sukses dilalui tanpa kesulitan. Mas Manto menerangkan nama-nama tiap jeram dan asal-usul nama tersebut jika ada. Dari sekian nama jeram yang kami lalui, saya cuma ingat Jeram Panjang karena memang paling panjang.

Entah di jeram mana, perahu karet terbanting dan menghantam batu karang di tepi sungai. Tubuh saya terguncang keras, kaki lepas dari sela-sela bantalan perahu dan terangkat ke atas, sehingga saya terbalik masuk ke sungai. Byur!

Saya tidak ingat detil kejadiannya. Yang saya tahu sekujur tubuh saya basah, arus sungai menyeret saya entah kemana. Saya kontan panik. Lupa sama sekali kalau saya memakai pelampung. Saya menggerak-gerakkan kaki dan tangan berusaha tetap mengapung. Setelah menoleh ke sekeliling, terlihat posisi perahu karet yang sudah meninggalkan saya.

Saya beruntung seperahu dengan Hendi, blogger asli Banjarnegara yang sudah berkali-kali mengarungi jeram Sungai Serayu. Sigap Hendi menyodorkan pangkal dayungnya pada saya. Percobaan pertama gagal, saya tak bisa meraih dayung. Baru pada percobaan kedua saya sukses menangkap pangkal dayung. Hendi menarik saya mendekati perahu karet.

"Jangan panik, jangan panik!" serunya begitu tubuh saya merapat di perahu karet. Berdua dengan Mas Nur ia memegangi pelampung saya, coba mengangkat saya ke atas perahu. Lagi-lagi percobaan pertama gagal. Saya yang masih setengah panik lupa pada briefing Mas Manto sebelum kami memulai petualangan. Seharusnya pada situasi seperti itu kedua tangan saya memegangi pelampung agar tak tertarik ke atas dan lepas.

Barulah setelah Hendi mengingatkan, saya memegangi pelampung. Tapi tetap saja usahanya menarik saya dari air gagal. Bisa jadi karena badan saya terlalu berat untuknya. Hahaha. Mas Manto turun tangan. Dengan teknik teh celup ia sukses mengangkat saya ke atas perahu. Leganya...

Perjalanan dilanjutkan. Selama beberapa detik saya masih agak shock. Beberapa jeram lagi berhasil kami lewati dengan baik, hanya saja tubuh kami jadi basah kuyup. Mas Nur entah berapa kali meminum air sungai yang menciprat masuk ke dalam perahu karet kami.

Di sebuah bagian sungai yang tenang, Mas Manto berulah. Dengan dalih mempraktikkan briefing-nya ia meminta kami semua bergeser ke sisi kiri perahu dan melakukan dayung mundur. Awalnya tak terjadi apa-apa. Dayung mundur membuat perahu berbalik arah. Sampai kemudian saya sadar beban yang terpusat hanya di satu sisi bisa membuat perahu terbalik.

Benar saja. Setelah beberapa kali mendayung mundur, perahu terbalik sehingga kami semua tercebur ke dalam sungai. Karena kami tadi ada di sisi kiri perahu dan arah tenggelamnya ke kiri, kami semua tenggelam di bawah perahu karet. Beruntung di bagian tersebut arus lebih tenang, sehingga kami tak terseret.





Perhatikan foto paling atas. Di sana terlihat bagaimana Mas Manto menarik bagian kanan perahu. Karena semua beban tertumpu di sebelah kiri, perahu dengan mudah terbalik dan kami semua tercebur ke sungai. Lihat juga bagaimana Mas Manto tersenyum sembari melihat ke kamera di atas jembatan sesaat sebelum perahu terbalik. Dasar!

Selesai? Belum. Di satu jeram berbatu-batu besar Mas Manto kembali memainkan triknya. Alih-alih menghindari batu besar di depan, ia malah mengajak kami menabrakkan perahu karet ke batu tersebut. Dibantu arus sungai, perahu sukses tersangkut di atas batu. Mandeg, tidak bisa bergerak kecuali ke samping. Lalu dorongan arus dari belakang membuat perahu terbalik. Kami semua tumpah ke dalam sungai.

Berbeda dengan saat ditenggelamkan sebelumnya, kali ini tubuh kami disambut arus deras dan batu-batu besar. Kami terseret beberapa meter ke depan. Kaki saya beberapa kali terantuk batu. Tim pemandu baru bisa menaikkan kami ke atas perahu setelah berada di bagian sungai yang arusnya lebih tenang.

Kali ini saya yang lebih dulu diselamatkan tim pemandu ke atas perahu. Karena sudah dua kali tercebur, pada kali ketiga tersebut saya sudah lebih tenang. Begitu jatuh ke air saya segera berusaha naik lagi ke permukaan, mencari lokasi perahu. Hal pertama yang saya tanyakan kepada Mas Manto adalah, "Yang lain di mana?"

Mas Nur saya lihat berada di perahu kuning. Kedua perahu lalu didekatkan agar Mas Nur bisa pindah ke perahu biru. Hendi berada jauh dari perahu, sehingga Mas Manto melempar tali untuk menariknya. Yang paling terakhir diangkat Mas Faizhal. Ia ditemukan oleh dua pemandu lain yang memakai kano, dan ditahan di pinggiran sungai sampai perahu karet mendekat.

Malam Penuh Anugerah
Setelah mengarungi Sungai Serayu selama sekitar 2,5 jam sampailah kami di garis finish. Begitu melewati jembatan di dekat The Pikas Resort, perahu merapat ke tepian sungai. Kami turun satu-satu, mengakhiri petualangan seru siang itu.

Begitu menjejak tanah barulah terasa lelahnya luar biasa. Juga haus dan sedikit lapar. Botol air minum kami hanyut saat tenggelam di jeram tadi. Karenanya sebutir kelapa muda yang disediakan operator langsung habis saya lahap. Begitu juga mendoan yang disajikan setelahnya. Lumayan untuk mengganjal perut sebelum tiba jam makan malam nanti.



Setelah bergantian mandi, kami kembali dibawa ke restoran untuk makan malam sembari bercengkrama. Rasa lapar membuat kami makan begitu lahap. Saya sendiri habis banyak sekali, Mas Arif malah sampai nambah lagi.

Acara selanjutnya adalah menghadiri resepsi Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-185 di Pendopo Dipayudha Adigraha. Ini acara resmi yang dihadiri Bupati Sutedjo Slamet Utomo, Wakil Bupati Hadi Supeno, serta seluruh pejabat tinggi kabupaten. Karenanya kami diminta memakai kemeja dan sepatu. Sayangnya, saya tidak terbiasa pakai sepatu.

Selepas salat Isya, jemputan yang akan membawa kami ke Pendopo Kabupaten datang. Jalanan sepi, dan sopir memacu mobil dengan kencang, sehingga tak sampai 10 menit kemudian kami sudah sampai tujuan. Lagu Cinta Mulia milik Koes Plus menyambut kami begitu turun dari mobil.

Oya, satu kejutan tak terduga saya dapat saat dalam perjalanan menuju pendopo. Dari Mas Arif dan Mas Zia, saya diberi tahu kalau menjadi Juara III dalam lomba blog Mayuh Plesir Maring Banjarnegara. Benar-benar kejutan karena saya tak mengira bakal masuk daftar pemenang. Ya meskipun harus diakui sempat berharap begitu sih.

Mas Arif sendiri terpilih sebagai Juara I, dan Mas Amir Juara II. Ada juga penghargaan Desain Blog Terbaik yang didapat Muhammad Razin, dan Penulis Blog Terbaik untuk Faizhal. Sayangnya Lucky Caesar Direstiyani yang meraih gelar Juara Favorit tidak bisa datang malam itu. (Baca juga: Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Blog "Mayuh Plesir Maring Banjarnegara")

Informasi tersebut menjawab keheranan saya kenapa Pak Bonar sampai berniat meminjamkan sepatu pada sore harinya. Rupanya sebagai salah satu pemenang saya akan dipanggil ke depan untuk menerima hadiah dari bupati. Tapi karena bukan cuma saya yang tidak pakai sepatu, akhirnya Pak Bonar tak jadi meminjamkan sepatunya.

Segera saja saya mengabarkan berita baik itu pada istri lewat SMS. Dalam balasannya istri saya memberi ucapan selamat seraya mengatakan, "Selamat menikmati malam penuh anugerah ya, Bi." Senangnya...



Begitulah. Malam itu ditutup dengan penuh kebahagiaan untuk saya. Nama saya disebut di pendopo kabupaten, di hadapan pejabat-pejabat tinggi Banjarnegara, lalu hadiah saya terima langsung dari Bupati Sutedjo Slamet Utomo. Dari sekian lomba yang diadakan dalam rangka peringatan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-185, hanya lomba blog yang hadiahnya diserahkan oleh Bupati.

Benar-benar pengalaman tak terlupakan.


MATAHARI tepat berada di atas ubun-ubun saat saya meloncat turun dari bus jurusan Purbalingga-Wonosobo. Alun-alun Banjarnegara sangat ramai. Orang-orang berseragam PNS, anak-anak sekolah, juga masyarakat umum berseliweran di seputaran alun-alun.

Saya lihat jam di handphone. Jam 12 kurang seperempat. Sudah masuk waktu Dzuhur. Suara iqamah sayup-sayup terdengar dari masjid yang menaranya terlihat dari jalan tempat saya turun. Saya pun melangkahkan kaki ke masjid, yang belakangan saya ketahui bernama Masjid An-Nuur atau oleh penduduk setempat disebut sebagai Masjid Kauman.

Jalan di seputaran alun-alun padat oleh sepeda motor yang diparkir. Saya musti mencari celah di antara kendaraan-kendaraan roda dua tersebut. Sampai di halaman masjid, lautan sepeda motor kembali saya temui. Penuh sekali! Saya tak bisa membayangkan bagaimana caranya pemilik sepeda motor yang kendaraannya diparkir paling depan keluar dari halaman masjid.

Saya sendiri langsung menghampiri tukang parkir yang tengah memindah sepeda motor. "Toilet di mana, Pak?" tanya saja. "Masuk saja, belok kiri," jawabnya singkat sembari membawa sepeda motor ke bagian lain halaman masjid.

Masuk ke dalam, serambi masjid juga penuh oleh orang. Sebagian duduk-duduk sembari menatap layar hape, beberapa yang lain rebahan di lantai marmer, ada pula yang merapikan pakaian. Di bagian lain terlihat ibu-ibu muda melipat mukena. Anak-anak paling ramai, berceloteh satu sama lain membuat suasana masjid riuh-rendah.

Mata saya mencari-cari tulisan penunjuk ke kamar kecil. Benar kata Pak Parkir tadi, di sebelah kiri serambi masjid terdapat pintu kecil. Di sana terdapat jejeran kran tempat wudhu. Saya masih harus berjalan menuruni tangga untuk menuju ke kamar kecil. Lalu antri beberapa saat sebelum mendapatkan giliran melepas hajat buang air kecil. Hehehehe...

Selepas menunaikan salat Dzuhur di bagian dalam masjid, saya coba menggali informasi dari seorang pria berpakaian PNS. Keterangan yang saya dapat, acara kirab budaya peringatan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara sudah usai. Itulah sebabnya orang-orang mulai bergerak meninggalkan alun-alun. Hiburan rakyat berupa kuda lumping dan wayang kulit baru akan digelar sore hari.


Oya, Senin (22/8/2016) itu saya ke Banjarnegara untuk memenuhi undangan mendadak dari penyelenggara lomba blog Mayuh Plesir Maring Banjarnegara. Disebut mendadak karena undangan diumumkan di web Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara pada 19 Agustus, dan kami diminta datang tanggal 21 Agustus. Tak ada pemberitahuan via email maupun telepon, hanya undangan terbuka di web.

Saya sendiri baru tahu mengenai undangan ini pada 21 Agustus sore. Itupun setelah dikabari oleh blogger lain, Mas Amir Mahmud, melalui Facebook. Rupanya kami sama-sama masuk 10 besar dalam lomba tersebut. Panitia sebenarnya mengundang 20 besar, tapi yang datang hanya tujuh blogger yang masuk 10 besar. Salah satunya saya.

Pinggir Kali Serayu
Karena acara kirab budaya sudah usai, besar kemungkinan rombongan blogger yang tiba lebih dahulu juga sudah meninggalkan lokasi acara. Saya merogoh handphone di saku dan menghubungi nomor contact person yang tertera di web Disbudpar Banjarnegara. Untunglah, ternyata mobil yang membawa rombongan blogger masih ada di sekitaran alun-alun.

"Tunggu saja di masjid, Mas. Nanti kami jemput," kata suara di seberang telepon.

Saya menurut. Agar mudah ditemukan, saya bergeser ke bawah menara masjid. Area ini jauh lebih lengang dari tempat lain di Masjid An-Nuur. Setelah menunggu sejenak sembari merekam suasana alun-alun, dua orang datang menghampiri saya. Yang seorang kemudian kami panggil Pak Bonar, satunya lagi Mas Nur.

Fix, saya benar-benar melewatkan acara inti dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-185. Tapi setelah mendengar cerita kawan-kawan blogger yang diminta ikut arak-arakan berjalan kaki sejauh beberapa kilometer, diam-diam saya merasa bersyukur. Hihihi...

Dalam perjalanan menuju penginapan saya berkenalan dengan blogger-blogger lain. Saya duduk tepat berselahan dengan Mas Amir yang nekat datang naik sepeda motor dari Kebumen meski tak punya SIM C. Mobil penuh sesak. Ada sembilan penumpang plus satu sopir dari seharusnya hanya berkapasitas 6-7 orang.

Kurang-lebih 10 menit perjalanan tibalah kami di The Pikas Resort. Di penginapan berkonsep bungalow alami inilah kami akan beristirahat malam itu. Lokasinya persis berada di sebelah Sungai Serayu. Nama "Pikas" sendiri menurut cerita Pak Bonar merupakan singkatan dari "pinggir Kali Serayu."

Acara berikutnya adalah rafting, arung jeram menyusuri Sungai Serayu. Sebelum itu kami diajak makan siang. Restorannya masih di dalam area The Pikas Resort, jadi kami hanya perlu jalan kaki beberapa menit dari penginapan. Menunya sengaja dipilih yang tidak terlalu mengenyangkan, sebab seusai rafting akan langsung makan lagi. Jadilah kami disuguhi mi goreng.


Dari restoran ke tempat pemberangkatan menuju lokasi start arung jeram juga tak jauh. Lokasi kedua tempat malah saling berhadap-hadapan. Inilah istimewanya The Pikas Resort. Bukan sekedar tempat penginapan dan makan, tapi juga cocok untuk menguji adrenalin bagi penyuka wisata petualangan. Selain rafting, di tempat ini juga tersedia area khusus paint ball.

Sebelum berangkat kami diminta memakai pelampung dan helm. Masing-masing peserta juga dibekali dengan sebuah dayung, plus sebotol sedang air mineral. Saya sempat heran, mau main air di sungai kok dibawain air minum ya? Keheranan ini terjawab saat sudah berada di atas perahu karet.

Sebuah mobil Suzuki Carry yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa membawa kami ke Desa Bojanegara di Kecamatan Sigaluh. Jaraknya kira-kira 15 km dari alun-alun Banjarnagera, atau sekitar 13-14 km dari The Pikas Resort. Dari sinilah petualangan kami menyusuri Sungai Serayu dimulai.

Sesampai di starting point, salah seorang pemandu bernama Mas Manto memberi briefing. Mulai dari cara mengenakan helm yang benar, cara memegang dayung, sampai tindakan-tindakan dalam kondisi darurat semisal tercebur ke sungai, dan lain-lain. Dari sekian panjang uraian Mas Manto, satu hal yang paling saya ingat adalah: jangan panik.

Well, ini merupakan pengalaman pertama saya melakukan arung jeram. Meski bisa berenang, tapi saya belum pernah berenang di sungai berarus deras seperti Serayu. Sebagai gambaran, sungai ini biasa digunakan menggelar lomba arung jeram tingkat nasional dan internasional. Artinya, level kesulitan berarung jeram di Sungai Serayu tergolong tinggi. Sedangkan saya seorang pemula!

Tenggelam dan Ditenggelamkan
Untungnya Sungai Serayu tengah surut siang itu. Airnya tidak terlalu dalam, sehingga arusnya tidak sederas saat debit air sedang tinggi. Seorang blogger yang seperahu dengan saya sempat bertanya berapa kedalaman sungai. Cuma saya tidak ingat jawaban Mas Manto.

Rombongan tujuh blogger ditambah Mas Nur dibagi ke dalam dua perahu. Saya di perahu biru bersama Mas Nur, Hendi Setiyanto, Faizhal Arif Santosa, dan Mas Manto sebagai pemandu. Di perahu kuning ada Mas Arif Saefudin, Mas Amir, Mas Muh. Zia Ulkhaq, dan Muhammad Razin Mufadhol yang masih duduk di bangku SMA. Saya kok lupa siapa nama pemandu perahu kuning. Padahal sudah disebutkan namanya oleh Mas Manto saat briefing.




Petualangan kami berawal dengan baik. Beberapa jeram di awal-awal perjalanan sukses dilalui tanpa kesulitan. Mas Manto menerangkan nama-nama tiap jeram dan asal-usul nama tersebut jika ada. Dari sekian nama jeram yang kami lalui, saya cuma ingat Jeram Panjang karena memang paling panjang.

Entah di jeram mana, perahu karet terbanting dan menghantam batu karang di tepi sungai. Tubuh saya terguncang keras, kaki lepas dari sela-sela bantalan perahu dan terangkat ke atas, sehingga saya terbalik masuk ke sungai. Byur!

Saya tidak ingat detil kejadiannya. Yang saya tahu sekujur tubuh saya basah, arus sungai menyeret saya entah kemana. Saya kontan panik. Lupa sama sekali kalau saya memakai pelampung. Saya menggerak-gerakkan kaki dan tangan berusaha tetap mengapung. Setelah menoleh ke sekeliling, terlihat posisi perahu karet yang sudah meninggalkan saya.

Saya beruntung seperahu dengan Hendi, blogger asli Banjarnegara yang sudah berkali-kali mengarungi jeram Sungai Serayu. Sigap Hendi menyodorkan pangkal dayungnya pada saya. Percobaan pertama gagal, saya tak bisa meraih dayung. Baru pada percobaan kedua saya sukses menangkap pangkal dayung. Hendi menarik saya mendekati perahu karet.

"Jangan panik, jangan panik!" serunya begitu tubuh saya merapat di perahu karet. Berdua dengan Mas Nur ia memegangi pelampung saya, coba mengangkat saya ke atas perahu. Lagi-lagi percobaan pertama gagal. Saya yang masih setengah panik lupa pada briefing Mas Manto sebelum kami memulai petualangan. Seharusnya pada situasi seperti itu kedua tangan saya memegangi pelampung agar tak tertarik ke atas dan lepas.

Barulah setelah Hendi mengingatkan, saya memegangi pelampung. Tapi tetap saja usahanya menarik saya dari air gagal. Bisa jadi karena badan saya terlalu berat untuknya. Hahaha. Mas Manto turun tangan. Dengan teknik teh celup ia sukses mengangkat saya ke atas perahu. Leganya...

Perjalanan dilanjutkan. Selama beberapa detik saya masih agak shock. Beberapa jeram lagi berhasil kami lewati dengan baik, hanya saja tubuh kami jadi basah kuyup. Mas Nur entah berapa kali meminum air sungai yang menciprat masuk ke dalam perahu karet kami.

Di sebuah bagian sungai yang tenang, Mas Manto berulah. Dengan dalih mempraktikkan briefing-nya ia meminta kami semua bergeser ke sisi kiri perahu dan melakukan dayung mundur. Awalnya tak terjadi apa-apa. Dayung mundur membuat perahu berbalik arah. Sampai kemudian saya sadar beban yang terpusat hanya di satu sisi bisa membuat perahu terbalik.

Benar saja. Setelah beberapa kali mendayung mundur, perahu terbalik sehingga kami semua tercebur ke dalam sungai. Karena kami tadi ada di sisi kiri perahu dan arah tenggelamnya ke kiri, kami semua tenggelam di bawah perahu karet. Beruntung di bagian tersebut arus lebih tenang, sehingga kami tak terseret.





Perhatikan foto paling atas. Di sana terlihat bagaimana Mas Manto menarik bagian kanan perahu. Karena semua beban tertumpu di sebelah kiri, perahu dengan mudah terbalik dan kami semua tercebur ke sungai. Lihat juga bagaimana Mas Manto tersenyum sembari melihat ke kamera di atas jembatan sesaat sebelum perahu terbalik. Dasar!

Selesai? Belum. Di satu jeram berbatu-batu besar Mas Manto kembali memainkan triknya. Alih-alih menghindari batu besar di depan, ia malah mengajak kami menabrakkan perahu karet ke batu tersebut. Dibantu arus sungai, perahu sukses tersangkut di atas batu. Mandeg, tidak bisa bergerak kecuali ke samping. Lalu dorongan arus dari belakang membuat perahu terbalik. Kami semua tumpah ke dalam sungai.

Berbeda dengan saat ditenggelamkan sebelumnya, kali ini tubuh kami disambut arus deras dan batu-batu besar. Kami terseret beberapa meter ke depan. Kaki saya beberapa kali terantuk batu. Tim pemandu baru bisa menaikkan kami ke atas perahu setelah berada di bagian sungai yang arusnya lebih tenang.

Kali ini saya yang lebih dulu diselamatkan tim pemandu ke atas perahu. Karena sudah dua kali tercebur, pada kali ketiga tersebut saya sudah lebih tenang. Begitu jatuh ke air saya segera berusaha naik lagi ke permukaan, mencari lokasi perahu. Hal pertama yang saya tanyakan kepada Mas Manto adalah, "Yang lain di mana?"

Mas Nur saya lihat berada di perahu kuning. Kedua perahu lalu didekatkan agar Mas Nur bisa pindah ke perahu biru. Hendi berada jauh dari perahu, sehingga Mas Manto melempar tali untuk menariknya. Yang paling terakhir diangkat Mas Faizhal. Ia ditemukan oleh dua pemandu lain yang memakai kano, dan ditahan di pinggiran sungai sampai perahu karet mendekat.

Malam Penuh Anugerah
Setelah mengarungi Sungai Serayu selama sekitar 2,5 jam sampailah kami di garis finish. Begitu melewati jembatan di dekat The Pikas Resort, perahu merapat ke tepian sungai. Kami turun satu-satu, mengakhiri petualangan seru siang itu.

Begitu menjejak tanah barulah terasa lelahnya luar biasa. Juga haus dan sedikit lapar. Botol air minum kami hanyut saat tenggelam di jeram tadi. Karenanya sebutir kelapa muda yang disediakan operator langsung habis saya lahap. Begitu juga mendoan yang disajikan setelahnya. Lumayan untuk mengganjal perut sebelum tiba jam makan malam nanti.



Setelah bergantian mandi, kami kembali dibawa ke restoran untuk makan malam sembari bercengkrama. Rasa lapar membuat kami makan begitu lahap. Saya sendiri habis banyak sekali, Mas Arif malah sampai nambah lagi.

Acara selanjutnya adalah menghadiri resepsi Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-185 di Pendopo Dipayudha Adigraha. Ini acara resmi yang dihadiri Bupati Sutedjo Slamet Utomo, Wakil Bupati Hadi Supeno, serta seluruh pejabat tinggi kabupaten. Karenanya kami diminta memakai kemeja dan sepatu. Sayangnya, saya tidak terbiasa pakai sepatu.

Selepas salat Isya, jemputan yang akan membawa kami ke Pendopo Kabupaten datang. Jalanan sepi, dan sopir memacu mobil dengan kencang, sehingga tak sampai 10 menit kemudian kami sudah sampai tujuan. Lagu Cinta Mulia milik Koes Plus menyambut kami begitu turun dari mobil.

Oya, satu kejutan tak terduga saya dapat saat dalam perjalanan menuju pendopo. Dari Mas Arif dan Mas Zia, saya diberi tahu kalau menjadi Juara III dalam lomba blog Mayuh Plesir Maring Banjarnegara. Benar-benar kejutan karena saya tak mengira bakal masuk daftar pemenang. Ya meskipun harus diakui sempat berharap begitu sih.

Mas Arif sendiri terpilih sebagai Juara I, dan Mas Amir Juara II. Ada juga penghargaan Desain Blog Terbaik yang didapat Muhammad Razin, dan Penulis Blog Terbaik untuk Faizhal. Sayangnya Lucky Caesar Direstiyani yang meraih gelar Juara Favorit tidak bisa datang malam itu. (Baca juga: Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Blog "Mayuh Plesir Maring Banjarnegara")

Informasi tersebut menjawab keheranan saya kenapa Pak Bonar sampai berniat meminjamkan sepatu pada sore harinya. Rupanya sebagai salah satu pemenang saya akan dipanggil ke depan untuk menerima hadiah dari bupati. Tapi karena bukan cuma saya yang tidak pakai sepatu, akhirnya Pak Bonar tak jadi meminjamkan sepatunya.

Segera saja saya mengabarkan berita baik itu pada istri lewat SMS. Dalam balasannya istri saya memberi ucapan selamat seraya mengatakan, "Selamat menikmati malam penuh anugerah ya, Bi." Senangnya...



Begitulah. Malam itu ditutup dengan penuh kebahagiaan untuk saya. Nama saya disebut di pendopo kabupaten, di hadapan pejabat-pejabat tinggi Banjarnegara, lalu hadiah saya terima langsung dari Bupati Sutedjo Slamet Utomo. Dari sekian lomba yang diadakan dalam rangka peringatan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-185, hanya lomba blog yang hadiahnya diserahkan oleh Bupati.

Benar-benar pengalaman tak terlupakan.

Rabu, 24 Agustus 2016

RABU pagi ini saya berangkat ke Lampung. Berkat memenangkan lomba blog Sunpride, saya bersama beberapa blogger lain dibawa berkunjung ke kebun buah Nusantara Tropical Farm di kawasan Way Kambas, Lampung Timur. Perjalanan ini akan jadi kali pertama saya mendatangi propinsi paling selatan Pulau Sumatera tersebut.

"Jadi, ceritanya Bung Eko belum pernah ke Lampung nih?"

Ini pertanyaan susah-susah gampang dijawab. Entah berapa kali saya melintasi Lampung sejak tahun 2000, tahun ketika saya pergi merantau ke Jogja untuk menuntut ilmu. Tapi benar-benar hanya melintas saja.

Dari Jambi atau Palembang, saya biasa menumpang bus Ramayana atau Putra Remaja menuju ke Jogja. Jaman itu Kabupaten Ogan Komering Ulu di Sumatera Selatan masih berbatasan langsung dengan Kabupaten Tulang Bawang di Lampung. Biasanya bus memasuki Tulang Bawang rembang petang. Lalu pagi-pagi buta sampai di Bakauheuni, sebelum menyeberang ke Pulau Jawa.

Pernah sih saya menginap semalam di Lampung. Tapi statusnya tetap saja melintas, numpang lewat. Itu terjadi di tahun 2007, sewaktu saya nebeng seorang paman yang hendak menjenguk anaknya di Lampung. Saya dan paman bertemu di rumah Simbah di Palembang, lalu saya diajak ke rumah paman di Pendopo, Kab. PALI.

Ketika paman dan bibi ke Lampung untuk menjenguk anaknya yang sekolah di sana, saya ikut. Lumayan nebeng sampai Lampung, hemat ongkos. Hehehe. Sampai di Lampung jelang magrib, menginap semalam, lalu keesokan harinya saya sudah berada di dalam bus AKAP menuju Jogja. Lagi-lagi, hanya numpang lewat.

FOTO: Panoramio.com

Rajabasa dan Bakauheni
Karena bolak-balik cuma numpang lewat, referensi saya soal Lampung hanya dari cerita orang dan baca sana-sini. Semasa tinggal di Batumarta VI, saya menemukan bertumpuk-tumpuk koran Lampung Post di rumah dinas bibi yang seorang bidan desa. Dokter yang pernah menempati rumah dinas tersebut rupanya pelanggan Lampung Post.

Itulah perkenalan pertama saya dengan Lampung. Berhari-hari saya habiskan untuk membaca eksemplar demi eksemplar Lampung Post tersebut sebelum berpindah tangan ke tukang loak. Tapi saking banyaknya koran yang dibaca, saya tak ingat apapun isi koran itu kecuali berita kaburnya Eddy Tansil dari penjara dan serial silat karangan Asmaraman S. Kho Ping Hoo.

Saya lebih mengenal Lampung semenjak kuliah di Jogja. Ya, gara-gara melintas saat berangkat dari atau pulang ke Jambi. Saya jadi tahu di Lampung ada satu terminal bus besar dan terkenal bernama Terminal Rajabasa. Salah satu terminal terbesar dan tersibuk di Sumatera. Mau cari bus jurusan mana saja ke Sumatera dan Pulau Jawa sampai Bali, semua ada di terminal ini.

FOTO: jejakrodakecil.comRupanya nama terminal ini diambil dari nama Gunung Rajabasa, sebuah gunung berapi aktif dengan ketinggian 1.282 mdpl di wilayah Lampung Selatan. Danau besar di puncak gunung menandakan Gunung Rajabasa pernah erupsi dahsyat. Hanya saja tidak diketahui pasti kapan peristiwa tersebut terjadi.

Selain Terminal Rajabasa, Lampung juga punya Pelabuhan Bakauheni yang merupakan gerbang utama Pulau Sumatera dari Jawa. Pelabuhan ini tak akan pernah terlupakan karena di sinilah saya pertama kali naik kapal laut. Juga pertama kali saya melihat lautan luas!

Saya masih ingat betul hari itu, suatu Subuh di bulan Juni 2000. Bus Ramayana yang saya tumpangi masuk pelabuhan saat langit masih gelap. Adzan Subuh belum lama berkumandang. Mata saya tak berkedip sedikit pun ketika bus masuk ke dalam lambung kapal. Kesibukan petugas mengatur bus dan truk, suara bising mesin kendaraan, berikut aroma khas lambung kapal, semuanya masih terekam jelas dalam memori.

Ketika feri mulai bergerak meninggalkan Pulau Sumatera saya tak henti-hentinya memandang lautan dengan takjub. Sepanjang dua jam saya terus berdiri di sisi kapal, melihat pulau-pulau kecil di sekitar pelabuhan sembari berpegangan pagar besi. Udara pagi nan sejuk bercampur uap garam saya hirup pelan-pelan dengan perasaan bahagia.

Sejak 2005, bertepatan dengan berdirinya Monumen Siger, saya lebih suka mudik ke Jambi lewat jalur udara karena alasan menghemat waktu. Jalur mudik berubah. Naik kereta atau travel ke Jakarta, lalu dilanjutkan pesawat ke Jambi. Terlebih semenjak mempunyai anak, saya tak pernah lagi menjenguk orang tua naik bus.

Rupanya ada rasa rindu setelah bertahun-tahun tak melewati Bakauheni dan naik kapal feri. Karenanya momentum pernikahan adik di Jambi pada November 2015 saya manfaatkan untuk mengulang kembali kenangan masa kuliah. Berangkat naik pesawat, pulangnya saya ajak anak-istri naik bus supaya bisa naik kapal dan menikmati suasana Selat Sunda nan syahdu.

Berikut rekaman video kami naik kapal feri dari Bakauheni yang saya unggah di channel YouTube anak-anak.



Way Kambas dan Pantai Marina
Selain Rajabasa dan Bakauheni, ada dua tempat lagi yang akrab di telinga saya: Way Kambas dan Pantai Marina. Maklum, dua tempat tersebut masa-masa itu merupakan obyek wisata andalan Lampung. Saya sendiri belum pernah ke Way Kambas maupun Pantai Marina. Lagi-lagi, saya hanya dengar cerita dari mereka-mereka yang pernah pelesiran ke sana.

Kalau saya tak salah ingat, nama Way Kambas tercantum dalam buku pelajaran sekolah. Cuma saya lupa persisnya pelajaran apa dan di kelas berapa. Yang masih saya ingat, di Way Kambas ada Pusat Latihan Gajah yang lebih dikenal sebagai sebutan sekolah gajah. Waktu itu merupakan satu-satunya di Indonesia.

Way Kambas sendiri sebenarnya taman nasional atau hutan lindung. Luas kawasan Taman Nasional Way Kambas sekitar 126.000 hektar. Inilah taman nasional tertua di Indonesia. Dibuat untuk melindungi berbagai satwa liar Sumatera yang terancam punah. Selain gajah, di sini juga ada harimau dan badak Sumatera.

Di sekolah gajah Way Kambas, gajah-gajah liar dilatih menjadi gajah jinak sehingga dapat diberdayakan untuk berbagai keperluan. Misalnya gajah tunggang, gajah sirkus, sampai bermain sepakbola sebagai hiburan.

Saya masih penasaran sama sepakbola gajah ini. Sejak dulu ingin sekali menyaksikan langsung pertandingannya. Saya ingin tahu sebesar apa bola yang dipakai bermain sepakbola oleh gajah-gajah cerdas ini.

Beruntungnya saya. Dalam agenda kunjungan ke Lampung ini ada rencana ke Way Kambas. Kebun buah Nusantara Tropical Farm yang akan kami kunjungi letaknya tak jauh dari taman nasional tersebut. Mudah-mudahan saja ada pertunjukan sepakbola gajah saat kami di sana. Amin.

FOTO: ANTARA FOTO/Ampelsa

Oya, kalau sempat saya mau usul ke pembina sepakbola gajah di Way Kambas untuk menantang tim gajah Thailand. Hehehe...

Terkait Pantai Marina, saya dapat cerita dari adik yang pernah ikut keluarga pakde berwisata ke sana. Adik saya dengan bangga menceritakan pengalamannya bermain-main dengan ombak dan pasir pantai. Waktu itu saya masih SMA dan adik saya SMP. Kejadiannya antara tahun 1999 atau 2000, saya tak ingat persisnya.

Selain Ibu yang lahir dan dibesarkan di pesisir utara Jawa Timur, tak seorang pun dari keluarga kami pernah melihat laut dan pantai. Jadilah adik saya orang pertama di keluarga kami yang berwisata ke pantai. Dan Pantai Marina jadi pantai pertama yang masuk dalam memori saya.

Jadi, sampai dengan tahun 2000 saat berangkat ke Jogja untuk kuliah, Lampung telah memberikan begitu banyak kenangan pertama bagi saya. Berikut beberapa yang paling berkesan:
- Pertama kali meninggalkan Pulau Sumatera, melalui Lampung.
- Pertama kali melihat dan naik kapal laut di Pelabuhan Bakauheni.
- Pertama kali melihat dan menyeberangi lautan, yaitu Selat Sunda, dari Pelabuhan Bakauheni.
- Pertama kali diceritai tentang serunya bermain di pantai, dengan Pantai Marina sebagai obyeknya.

Dan, kunjungan ke kebun buah Nusantara Tropical Farm bersama Sunpride ini adalah kali pertama saya dengan sengaja berkunjung ke Lampung. Bukan sekedar numpang lewat seperti masa-masa kuliah dulu.

Tunggu cerita perjalanan saya selama di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai ya...

RABU pagi ini saya berangkat ke Lampung. Berkat memenangkan lomba blog Sunpride, saya bersama beberapa blogger lain dibawa berkunjung ke kebun buah Nusantara Tropical Farm di kawasan Way Kambas, Lampung Timur. Perjalanan ini akan jadi kali pertama saya mendatangi propinsi paling selatan Pulau Sumatera tersebut.

"Jadi, ceritanya Bung Eko belum pernah ke Lampung nih?"

Ini pertanyaan susah-susah gampang dijawab. Entah berapa kali saya melintasi Lampung sejak tahun 2000, tahun ketika saya pergi merantau ke Jogja untuk menuntut ilmu. Tapi benar-benar hanya melintas saja.

Dari Jambi atau Palembang, saya biasa menumpang bus Ramayana atau Putra Remaja menuju ke Jogja. Jaman itu Kabupaten Ogan Komering Ulu di Sumatera Selatan masih berbatasan langsung dengan Kabupaten Tulang Bawang di Lampung. Biasanya bus memasuki Tulang Bawang rembang petang. Lalu pagi-pagi buta sampai di Bakauheuni, sebelum menyeberang ke Pulau Jawa.

Pernah sih saya menginap semalam di Lampung. Tapi statusnya tetap saja melintas, numpang lewat. Itu terjadi di tahun 2007, sewaktu saya nebeng seorang paman yang hendak menjenguk anaknya di Lampung. Saya dan paman bertemu di rumah Simbah di Palembang, lalu saya diajak ke rumah paman di Pendopo, Kab. PALI.

Ketika paman dan bibi ke Lampung untuk menjenguk anaknya yang sekolah di sana, saya ikut. Lumayan nebeng sampai Lampung, hemat ongkos. Hehehe. Sampai di Lampung jelang magrib, menginap semalam, lalu keesokan harinya saya sudah berada di dalam bus AKAP menuju Jogja. Lagi-lagi, hanya numpang lewat.

FOTO: Panoramio.com

Rajabasa dan Bakauheni
Karena bolak-balik cuma numpang lewat, referensi saya soal Lampung hanya dari cerita orang dan baca sana-sini. Semasa tinggal di Batumarta VI, saya menemukan bertumpuk-tumpuk koran Lampung Post di rumah dinas bibi yang seorang bidan desa. Dokter yang pernah menempati rumah dinas tersebut rupanya pelanggan Lampung Post.

Itulah perkenalan pertama saya dengan Lampung. Berhari-hari saya habiskan untuk membaca eksemplar demi eksemplar Lampung Post tersebut sebelum berpindah tangan ke tukang loak. Tapi saking banyaknya koran yang dibaca, saya tak ingat apapun isi koran itu kecuali berita kaburnya Eddy Tansil dari penjara dan serial silat karangan Asmaraman S. Kho Ping Hoo.

Saya lebih mengenal Lampung semenjak kuliah di Jogja. Ya, gara-gara melintas saat berangkat dari atau pulang ke Jambi. Saya jadi tahu di Lampung ada satu terminal bus besar dan terkenal bernama Terminal Rajabasa. Salah satu terminal terbesar dan tersibuk di Sumatera. Mau cari bus jurusan mana saja ke Sumatera dan Pulau Jawa sampai Bali, semua ada di terminal ini.

FOTO: jejakrodakecil.comRupanya nama terminal ini diambil dari nama Gunung Rajabasa, sebuah gunung berapi aktif dengan ketinggian 1.282 mdpl di wilayah Lampung Selatan. Danau besar di puncak gunung menandakan Gunung Rajabasa pernah erupsi dahsyat. Hanya saja tidak diketahui pasti kapan peristiwa tersebut terjadi.

Selain Terminal Rajabasa, Lampung juga punya Pelabuhan Bakauheni yang merupakan gerbang utama Pulau Sumatera dari Jawa. Pelabuhan ini tak akan pernah terlupakan karena di sinilah saya pertama kali naik kapal laut. Juga pertama kali saya melihat lautan luas!

Saya masih ingat betul hari itu, suatu Subuh di bulan Juni 2000. Bus Ramayana yang saya tumpangi masuk pelabuhan saat langit masih gelap. Adzan Subuh belum lama berkumandang. Mata saya tak berkedip sedikit pun ketika bus masuk ke dalam lambung kapal. Kesibukan petugas mengatur bus dan truk, suara bising mesin kendaraan, berikut aroma khas lambung kapal, semuanya masih terekam jelas dalam memori.

Ketika feri mulai bergerak meninggalkan Pulau Sumatera saya tak henti-hentinya memandang lautan dengan takjub. Sepanjang dua jam saya terus berdiri di sisi kapal, melihat pulau-pulau kecil di sekitar pelabuhan sembari berpegangan pagar besi. Udara pagi nan sejuk bercampur uap garam saya hirup pelan-pelan dengan perasaan bahagia.

Sejak 2005, bertepatan dengan berdirinya Monumen Siger, saya lebih suka mudik ke Jambi lewat jalur udara karena alasan menghemat waktu. Jalur mudik berubah. Naik kereta atau travel ke Jakarta, lalu dilanjutkan pesawat ke Jambi. Terlebih semenjak mempunyai anak, saya tak pernah lagi menjenguk orang tua naik bus.

Rupanya ada rasa rindu setelah bertahun-tahun tak melewati Bakauheni dan naik kapal feri. Karenanya momentum pernikahan adik di Jambi pada November 2015 saya manfaatkan untuk mengulang kembali kenangan masa kuliah. Berangkat naik pesawat, pulangnya saya ajak anak-istri naik bus supaya bisa naik kapal dan menikmati suasana Selat Sunda nan syahdu.

Berikut rekaman video kami naik kapal feri dari Bakauheni yang saya unggah di channel YouTube anak-anak.



Way Kambas dan Pantai Marina
Selain Rajabasa dan Bakauheni, ada dua tempat lagi yang akrab di telinga saya: Way Kambas dan Pantai Marina. Maklum, dua tempat tersebut masa-masa itu merupakan obyek wisata andalan Lampung. Saya sendiri belum pernah ke Way Kambas maupun Pantai Marina. Lagi-lagi, saya hanya dengar cerita dari mereka-mereka yang pernah pelesiran ke sana.

Kalau saya tak salah ingat, nama Way Kambas tercantum dalam buku pelajaran sekolah. Cuma saya lupa persisnya pelajaran apa dan di kelas berapa. Yang masih saya ingat, di Way Kambas ada Pusat Latihan Gajah yang lebih dikenal sebagai sebutan sekolah gajah. Waktu itu merupakan satu-satunya di Indonesia.

Way Kambas sendiri sebenarnya taman nasional atau hutan lindung. Luas kawasan Taman Nasional Way Kambas sekitar 126.000 hektar. Inilah taman nasional tertua di Indonesia. Dibuat untuk melindungi berbagai satwa liar Sumatera yang terancam punah. Selain gajah, di sini juga ada harimau dan badak Sumatera.

Di sekolah gajah Way Kambas, gajah-gajah liar dilatih menjadi gajah jinak sehingga dapat diberdayakan untuk berbagai keperluan. Misalnya gajah tunggang, gajah sirkus, sampai bermain sepakbola sebagai hiburan.

Saya masih penasaran sama sepakbola gajah ini. Sejak dulu ingin sekali menyaksikan langsung pertandingannya. Saya ingin tahu sebesar apa bola yang dipakai bermain sepakbola oleh gajah-gajah cerdas ini.

Beruntungnya saya. Dalam agenda kunjungan ke Lampung ini ada rencana ke Way Kambas. Kebun buah Nusantara Tropical Farm yang akan kami kunjungi letaknya tak jauh dari taman nasional tersebut. Mudah-mudahan saja ada pertunjukan sepakbola gajah saat kami di sana. Amin.

FOTO: ANTARA FOTO/Ampelsa

Oya, kalau sempat saya mau usul ke pembina sepakbola gajah di Way Kambas untuk menantang tim gajah Thailand. Hehehe...

Terkait Pantai Marina, saya dapat cerita dari adik yang pernah ikut keluarga pakde berwisata ke sana. Adik saya dengan bangga menceritakan pengalamannya bermain-main dengan ombak dan pasir pantai. Waktu itu saya masih SMA dan adik saya SMP. Kejadiannya antara tahun 1999 atau 2000, saya tak ingat persisnya.

Selain Ibu yang lahir dan dibesarkan di pesisir utara Jawa Timur, tak seorang pun dari keluarga kami pernah melihat laut dan pantai. Jadilah adik saya orang pertama di keluarga kami yang berwisata ke pantai. Dan Pantai Marina jadi pantai pertama yang masuk dalam memori saya.

Jadi, sampai dengan tahun 2000 saat berangkat ke Jogja untuk kuliah, Lampung telah memberikan begitu banyak kenangan pertama bagi saya. Berikut beberapa yang paling berkesan:
- Pertama kali meninggalkan Pulau Sumatera, melalui Lampung.
- Pertama kali melihat dan naik kapal laut di Pelabuhan Bakauheni.
- Pertama kali melihat dan menyeberangi lautan, yaitu Selat Sunda, dari Pelabuhan Bakauheni.
- Pertama kali diceritai tentang serunya bermain di pantai, dengan Pantai Marina sebagai obyeknya.

Dan, kunjungan ke kebun buah Nusantara Tropical Farm bersama Sunpride ini adalah kali pertama saya dengan sengaja berkunjung ke Lampung. Bukan sekedar numpang lewat seperti masa-masa kuliah dulu.

Tunggu cerita perjalanan saya selama di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai ya...

Kamis, 18 Agustus 2016


DIRGAHAYU Republik Indonesia! Seperti sudah berlangsung bertahun-tahun setiap 17 Agustus sejak 71 tahun silam, upacara bendera memperingati proklamasi kemerdekaan RI digelar di seluruh Indonesia. Ada banyak cerita dan kejadian menarik seputar upacara bendera tahun ini. Tentu saja menarik menurut saya ya. Yuk, simak!

Satu yang paling menyita perhatian publik adalah kisah Gloria Natapradja Hamel "dipecat" dari Paskibraka Nasional. Gadis keturunan campuran ini didepak karena kedapatan berpaspor Prancis, negara asal ayahnya. Padahal Gloria sudah melewati serangkaian tes, juga telah menjalani karantina dan latihan intensif selama sebulan penuh.

Bayangkan, hanya tinggal hitungan hari saja ia beraksi bersama rekan-rekannya sepasukan di Istana Negara, eh, lha kok namanya dicoret dari Paskibraka. Adalah Kemenpora yang mengeluarkan keputusan pencoretan tersebut di detik-detik terakhir. Alasannya, warga negara asing tidak boleh menjadi anggota Paskibraka.

Secara logis alasan itu bisa diterima sih. Masa iya anggota pasukan pengibar bendera pusaka dalam upacara di Istana Negara kok warga asing? Masalahnya, Gloria lahir dan menghabiskan seluruh hidupnya di Indonesia. Ia fasih berbahasa Indonesia. Ia bahkan belum pernah sekalipun keluar negeri.

Tapi saya melihat ada yang janggal. Ibu Gloria, Ira Natapradja, menjelaskan pembuatan paspor Prancis dilakukan karena Gloria belum genap 18 tahun sehingga tidak bisa membuat KTP. Pertanyaan saya, kenapa yang dibuat paspor Prancis? Kan lebih deket buat paspor RI, Bu? Tapi, ya, sudahlah. Toh, ending-nya Gloria diijinkan oleh Presiden Jokowi untuk bertugas dalam upacara penurunan bendera pada sore harinya.

Yang membuat saya terharu, Gloria sempat menulis surat kepada Presiden Jokowi untuk menegaskan kecintaannya pada Republik Indonesia. Surat bermaterai Rp6.000. Apakah isi surat ini begitu menyentuh sampai-sampai Presiden membolehkannya bertugas bersama Tim Bima saat Parade Senja? Hanya Jokowi yang tahu.



Paskibraka Menangis di Pematang Siantar
Kisah tak kalah mengharukan terjadi di Pematang Siantar. Memang dramanya tak seheboh kisah Gloria sih, tapi kadarnya beda-beda tipislah. Di mana anggota Paskibraka Pematang Siantar menangis gara-gara gagal mengibarkan bendera Merah Putih. Di situ kadang saya sedih.

Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat tiga anggota Paskibraka yang bertugas mengibarkan bendera hanya diam ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Lagu selesai, bendera masih belum bergerak. Malah dilipat kembali. Suasana upacara jadi tegang-tegang gimanaaa gitu.

Usut punya usut, katanya sih cantolan bendera pada tali ada yang lepas. Jadi seandainya bendera dipaksakan diikat dan dikerek naik bakal melorot turun. Nah, anggota pengibar yang tak mau hal itu terjadi berinisiatif diam. Barulah setelah cantolan diperbaiki bendera berkibar di halaman Kantor Bupati Pematang Siantar.

Sekalipun kejadian ini terhitung force majeur, tetap saja anggota-anggota Paskibraka menangis. Sambil berbaris mereka menangis. Mereka kecewa, merasa gagal, sudah berlatih lama tapi bendera tak bisa mereka kibarkan dengan baik saat upacara. Beberapa anggota cewek ada yang sampai histeris.

Kalau ingat menjadi Paskibraka boleh dikatakan kesempatan sekali seumur hidup, kesedihan adik-adik Paskibraka ini dapat dimaklumi. Yang penting tetap semangat ya. Masa depan kalian masih panjang kok. *sokbijak*


Sepatu Diinjak Teman, Lepas
Ini sebenarnya tidak terlalu menarik sih. Hal biasa. Tapi karena terjadi di momen upacara bendera nan sakral, jadi lucu-lucu gimana gitu. Yang lebih menarik, kok ya ada media nasional yang mengangkat berita ini. Human interest, okelah, tapi mbokyao yang lain yang diangkat.

Kejadiannya di Bima, Nusa Tenggara Barat. Dalam upacara level kotamadya ini, sepatu salah seorang anggota Paskibraka lepas karena diinjak teman di belakangnya. Tapi karena sudah diajarkan untuk tak menghiraukan semua gangguan selama bertugas, anggota tersebut cuek saja hanya memakai satu sepatu.

Untungnya, kalau boleh dibilang untung, sepatu tersebut lepas setelah bendera dikibarkan. Sehingga momen naiknya Sang Saka Merah Putih ke puncak tiang berlangsung khidmat. Kalau saja lepasnya sebelum bendera naik, bisa jadi peserta upacara jadi sibuk berkasak-kusuk membahas sepatu.

Selepas upacara, pembina Paskibraka Kota Bima langsung meluruskan sepatu anak didiknya lepas karena terinjak, bukan karena ukurannya longgar.

Iya deh, Pak, saya percaya.


Nyi Ratu Kidul Bawa Bendera
Kalau kejadian satu ini memang tidak berlangsung saat upacara. Tapi masih satu rangkaian dalam upacara bendera. Yang unik, ini adalah pemandangan baru di mana rangkaian upacara kenegaraan di level kabupaten menghadirkan sosok legendaris yang dianggap mitos. Tapi bukan Dedi Mulyadi namanya kalau tidak lain dari yang lain.

Bupati Purwakarta tersebut mengubah protokoler penyerahan bendera pusaka yang akan dikibarkan saat upacara. Mulai tahun ini, setidaknya selama Dedi menjabat, bendera pusaka diserah-terimakan dari sosok Nyi Ratu Kidul kepada sang bupati. Barulah oleh bupati bendera diberikan pada Paskibraka.

Nyi Ratu Kidul adalah sosok antara ada dan tiada. Ia merupakan legenda bagi masyarakat di kawasan pantai selatan Jawa. Tak cuma di Purwakarta, masyarakat di Pangandaran hingga Yogyakarta mempercayai keberadaannya di Laut Selatan. Bahkan, konon, raja-raja Mataram menjalin "hubungan spesial" dengan Nyi Ratu Kidul.

Sosok yang dipercaya merupakan penguasa Laut Selatan ini identik dengan pakaian berwarna hijau. Karenanya masyarakat Pantai Parangtritis menghindari pakaian-pakaian berwarna hijau kalau pergi ke pantai. Mereka percaya, Nyi Ratu Kidul marah jika ada yang berpakaian menyerupai dirinya. Orang berpakaian hijau itu dipercaya bakal dibawa ke Laut Selatan, alias hanyut.

Benar atau tidaknya ya saya kembalikan pada kepercayaan masing-masing.

Oya, yang memerankan Nyi Ratu Kidul dalam pengukuhan Paskibraka di Purwakarta adalah Cinta Rizkia. Coba search namanya di Google. Gadis cantik ini rupanya sudah cukup lama memerankan sosok Nyi Ratu Kidul dalam tarian. Berdasarkan penelusuran online yang saya lakukan, Cinta adalah lulusan Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia.

*****

Itu dia tiga-empat kejadian menarik dari upacara bendera 17 Agustus 2016 versi saya. Saya yakin ada banyak kejadian tak kalah menarik di daerah lain. Jangan ragu-ragu untuk share di kolom komentar ya...

Sumber-Sumber:
  • http://regional.kompas.com/read/2016/08/17/12390611/sepatu.satu.anggota.paskibraka.copot.seusai.menaikkan.bendera
  • http://regional.kompas.com/read/2016/08/17/12151201/sempat.gagal.menaikkan.bendera.pasukan.paskibra.menangis
  • http://regional.kompas.com/read/2016/08/16/18375671/.nyi.ratu.kidul.bawakan.bendera.untuk.upacara.hut.ri.di.purwakarta
  • http://www.rappler.com/indonesia/143345-5-hal-mengenai-gloria-natapradja-hamel


DIRGAHAYU Republik Indonesia! Seperti sudah berlangsung bertahun-tahun setiap 17 Agustus sejak 71 tahun silam, upacara bendera memperingati proklamasi kemerdekaan RI digelar di seluruh Indonesia. Ada banyak cerita dan kejadian menarik seputar upacara bendera tahun ini. Tentu saja menarik menurut saya ya. Yuk, simak!

Satu yang paling menyita perhatian publik adalah kisah Gloria Natapradja Hamel "dipecat" dari Paskibraka Nasional. Gadis keturunan campuran ini didepak karena kedapatan berpaspor Prancis, negara asal ayahnya. Padahal Gloria sudah melewati serangkaian tes, juga telah menjalani karantina dan latihan intensif selama sebulan penuh.

Bayangkan, hanya tinggal hitungan hari saja ia beraksi bersama rekan-rekannya sepasukan di Istana Negara, eh, lha kok namanya dicoret dari Paskibraka. Adalah Kemenpora yang mengeluarkan keputusan pencoretan tersebut di detik-detik terakhir. Alasannya, warga negara asing tidak boleh menjadi anggota Paskibraka.

Secara logis alasan itu bisa diterima sih. Masa iya anggota pasukan pengibar bendera pusaka dalam upacara di Istana Negara kok warga asing? Masalahnya, Gloria lahir dan menghabiskan seluruh hidupnya di Indonesia. Ia fasih berbahasa Indonesia. Ia bahkan belum pernah sekalipun keluar negeri.

Tapi saya melihat ada yang janggal. Ibu Gloria, Ira Natapradja, menjelaskan pembuatan paspor Prancis dilakukan karena Gloria belum genap 18 tahun sehingga tidak bisa membuat KTP. Pertanyaan saya, kenapa yang dibuat paspor Prancis? Kan lebih deket buat paspor RI, Bu? Tapi, ya, sudahlah. Toh, ending-nya Gloria diijinkan oleh Presiden Jokowi untuk bertugas dalam upacara penurunan bendera pada sore harinya.

Yang membuat saya terharu, Gloria sempat menulis surat kepada Presiden Jokowi untuk menegaskan kecintaannya pada Republik Indonesia. Surat bermaterai Rp6.000. Apakah isi surat ini begitu menyentuh sampai-sampai Presiden membolehkannya bertugas bersama Tim Bima saat Parade Senja? Hanya Jokowi yang tahu.



Paskibraka Menangis di Pematang Siantar
Kisah tak kalah mengharukan terjadi di Pematang Siantar. Memang dramanya tak seheboh kisah Gloria sih, tapi kadarnya beda-beda tipislah. Di mana anggota Paskibraka Pematang Siantar menangis gara-gara gagal mengibarkan bendera Merah Putih. Di situ kadang saya sedih.

Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat tiga anggota Paskibraka yang bertugas mengibarkan bendera hanya diam ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Lagu selesai, bendera masih belum bergerak. Malah dilipat kembali. Suasana upacara jadi tegang-tegang gimanaaa gitu.

Usut punya usut, katanya sih cantolan bendera pada tali ada yang lepas. Jadi seandainya bendera dipaksakan diikat dan dikerek naik bakal melorot turun. Nah, anggota pengibar yang tak mau hal itu terjadi berinisiatif diam. Barulah setelah cantolan diperbaiki bendera berkibar di halaman Kantor Bupati Pematang Siantar.

Sekalipun kejadian ini terhitung force majeur, tetap saja anggota-anggota Paskibraka menangis. Sambil berbaris mereka menangis. Mereka kecewa, merasa gagal, sudah berlatih lama tapi bendera tak bisa mereka kibarkan dengan baik saat upacara. Beberapa anggota cewek ada yang sampai histeris.

Kalau ingat menjadi Paskibraka boleh dikatakan kesempatan sekali seumur hidup, kesedihan adik-adik Paskibraka ini dapat dimaklumi. Yang penting tetap semangat ya. Masa depan kalian masih panjang kok. *sokbijak*


Sepatu Diinjak Teman, Lepas
Ini sebenarnya tidak terlalu menarik sih. Hal biasa. Tapi karena terjadi di momen upacara bendera nan sakral, jadi lucu-lucu gimana gitu. Yang lebih menarik, kok ya ada media nasional yang mengangkat berita ini. Human interest, okelah, tapi mbokyao yang lain yang diangkat.

Kejadiannya di Bima, Nusa Tenggara Barat. Dalam upacara level kotamadya ini, sepatu salah seorang anggota Paskibraka lepas karena diinjak teman di belakangnya. Tapi karena sudah diajarkan untuk tak menghiraukan semua gangguan selama bertugas, anggota tersebut cuek saja hanya memakai satu sepatu.

Untungnya, kalau boleh dibilang untung, sepatu tersebut lepas setelah bendera dikibarkan. Sehingga momen naiknya Sang Saka Merah Putih ke puncak tiang berlangsung khidmat. Kalau saja lepasnya sebelum bendera naik, bisa jadi peserta upacara jadi sibuk berkasak-kusuk membahas sepatu.

Selepas upacara, pembina Paskibraka Kota Bima langsung meluruskan sepatu anak didiknya lepas karena terinjak, bukan karena ukurannya longgar.

Iya deh, Pak, saya percaya.


Nyi Ratu Kidul Bawa Bendera
Kalau kejadian satu ini memang tidak berlangsung saat upacara. Tapi masih satu rangkaian dalam upacara bendera. Yang unik, ini adalah pemandangan baru di mana rangkaian upacara kenegaraan di level kabupaten menghadirkan sosok legendaris yang dianggap mitos. Tapi bukan Dedi Mulyadi namanya kalau tidak lain dari yang lain.

Bupati Purwakarta tersebut mengubah protokoler penyerahan bendera pusaka yang akan dikibarkan saat upacara. Mulai tahun ini, setidaknya selama Dedi menjabat, bendera pusaka diserah-terimakan dari sosok Nyi Ratu Kidul kepada sang bupati. Barulah oleh bupati bendera diberikan pada Paskibraka.

Nyi Ratu Kidul adalah sosok antara ada dan tiada. Ia merupakan legenda bagi masyarakat di kawasan pantai selatan Jawa. Tak cuma di Purwakarta, masyarakat di Pangandaran hingga Yogyakarta mempercayai keberadaannya di Laut Selatan. Bahkan, konon, raja-raja Mataram menjalin "hubungan spesial" dengan Nyi Ratu Kidul.

Sosok yang dipercaya merupakan penguasa Laut Selatan ini identik dengan pakaian berwarna hijau. Karenanya masyarakat Pantai Parangtritis menghindari pakaian-pakaian berwarna hijau kalau pergi ke pantai. Mereka percaya, Nyi Ratu Kidul marah jika ada yang berpakaian menyerupai dirinya. Orang berpakaian hijau itu dipercaya bakal dibawa ke Laut Selatan, alias hanyut.

Benar atau tidaknya ya saya kembalikan pada kepercayaan masing-masing.

Oya, yang memerankan Nyi Ratu Kidul dalam pengukuhan Paskibraka di Purwakarta adalah Cinta Rizkia. Coba search namanya di Google. Gadis cantik ini rupanya sudah cukup lama memerankan sosok Nyi Ratu Kidul dalam tarian. Berdasarkan penelusuran online yang saya lakukan, Cinta adalah lulusan Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia.

*****

Itu dia tiga-empat kejadian menarik dari upacara bendera 17 Agustus 2016 versi saya. Saya yakin ada banyak kejadian tak kalah menarik di daerah lain. Jangan ragu-ragu untuk share di kolom komentar ya...

Sumber-Sumber:
  • http://regional.kompas.com/read/2016/08/17/12390611/sepatu.satu.anggota.paskibraka.copot.seusai.menaikkan.bendera
  • http://regional.kompas.com/read/2016/08/17/12151201/sempat.gagal.menaikkan.bendera.pasukan.paskibra.menangis
  • http://regional.kompas.com/read/2016/08/16/18375671/.nyi.ratu.kidul.bawakan.bendera.untuk.upacara.hut.ri.di.purwakarta
  • http://www.rappler.com/indonesia/143345-5-hal-mengenai-gloria-natapradja-hamel