Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Minggu, 24 Juli 2016

MASIH ingat kemacetan parah di pintu keluar tol Pejagan-Brebes jelang Lebaran kemarin? Salah satu kenalan saya cerita salah satu temannya yang ikut jadi korban. Dia terjebak macet berjam-jam, sampai kehabisan bahan bakar dan terpaksa beli Premium dengan harga berlipat-lipat! Kalau saja ia rencanakan mudiknya lebih baik, perjalanannya tidak akan sedramatis itu.

Kemacetan parah di pintu keluar tol di Brebes saat itu benar-benar menjadi pusat pemberitaan. Tak cuma media nasional, sejumlah media asing ikut mengangkat beritanya setelah tersiar kabar ada pemudik yang tewas akibat lama terjebak macet.

Teman dari kenalan saya sendiri berangkat dari Jakarta tanggal 2 Juli pagi. "Habis Subuh" kalau mengutip istilah waktu yang dipakai kenalan saya di Twitter. Tujuannya ke Tegal, seharusnya sebelum adzan Dzuhur sudah sampai rumah. Tapi jam setengah 11 malam ia masih terjebak di tol Pejagan.



Saya lalu balik cerita soal keponakan yang mudik nyaman naik kereta api ke Pemalang. Berangkat dari Jakarta jelang tengah malam, sebelum Subuh sudah sampai tujuan. Jarak dari stasiun ke rumahnya memang tidak bisa dibilang dekat. Tapi adik-adiknya siap sedia menjemput, sembari menunggu waktu sahur.

Stasiun Pasar Senen mungkin terlihat lebih padat dari biasanya. Tapi masing-masing penumpang sudah memegang tiket, jadi tidak ada ceritanya berebutan tempat duduk seperti naik KRL. Anak si keponakan yang baru berusia tiga tahun, which is cucu saya dalam silsilah keluarga besar, pun bisa tidur nyenyak sepanjang perjalanan.

Benar-benar mudik yang menyenangkan, bukan?

Perbedaannya terletak pada perencanaan. Temannya kenalan saya belum bisa memastikan kapan akan mudik, jadi spontan saja begitu mendapat waktu luang langsung berangkat naik kendaraan sendiri. Sebaliknya, keponakan saya sudah jauh-jauh hari merencanakan perjalanan mudik. Tiket dipesan sejak sebulan sebelum tanggal keberangkatan.


Pesan Tiket Kereta Api Pakai Hape
Saya sendiri lebih suka bepergian keluar kota naik kereta ketimbang bus. Bukan hanya soal romantisme masa kecil, dengan naik kereta api saya bisa memesan tiket jauh-jauh hari. Bagi saya ini memberikan setidaknya dua keuntungan positif. Pertama, saya dapat terlebih dahulu mengetahui berapa ongkos yang harus dibayar. Kedua, saya mendapat kepastian tempat duduk.

Mengetahui ongkos terlebih dahulu membantu saya menyusun anggaran biaya perjalanan. Untuk perjalanan seorang diri ke Semarang, misalnya, saya bisa naik KA Kaligung yang tiketnya seharga Rp50.000. Pulang-pergi jadi Rp100.000. Kalau mau ke Jakarta, ada KA Tawang Jaya dengan tiket seharga Rp100.000 untuk tujuan akhir Stasiun Pasarsenen.

Berkaitan dengan tempat duduk, kita bebas memilih mau di sebelah mana. Dekat pintu gerbong biar tidak perlu melewati banyak orang kalau mau ke toilet, di pinggir jendela, atau malah di tengah-tengah gerbong? Sepanjang kursinya tersedia, kita bebas memilih saat melakukan pemesanan.

Enaknya lagi, sekarang pesan tiket kereta bisa dilakukan di mana saja melalui perangkat apa saja. Asalkan koneksi internet ada, kita dapat memesan tiket dari kenyamanan rumah sendiri. Say goodbye pada stasiun dan loket pembelian, atau mesin ATM untuk pembayaran, juga antriannya yang bikin kaki pegal.

Saya sendiri memanfaatkan layanan Bebasbayar, aplikasi pembayaran sekaligus pembelian tiket super komplit. Dengan aplikasi ini saya bisa memesan tiket kereta api dari smartphone. Tinggal unduh aplikasinya di Google PlayStore atau iOS, maka selanjutnya hape kita bakal menjelma sebagai mesin pembayaran serbaguna. Mudah dan praktis.

Oya, khusus pemakai perangkat dengan sistem operasi iOS, aplikasinya sudah diperbarui dari versi 2.2. Sehingga ada penambahan fitur-fitur baru, seperti menu pemesanan tiket pesawat terbang, pilihan pindah kursi untuk pemesanan tiket kereta api, dan tentu saja tampilannya berbeda. Tapi pengguna Android jangan khaatir. Fitur untuk memilih kursi kereta juga sudah tersedia kok.

Agar dapat memanfaatkan kemudahan aplikasi ini, setelah menginstal di hape mula-mula kita harus isi dulu saldonya. Mau isi berapapun terserah, tapi minimal Rp10.000. Kalau keperluannya untuk membeli tiket kereta api, isilah saldo seharga tiket yang hendak dibeli. Seluruh saldo dapat dihabiskan, jadi tidak ada potongan sama sekali maupun biaya-biaya tersembunyi lainnya.

Katakanlah kita mau memesan tiket tujuan Semarang naik KA Kaligung pergi-pulang. Harga tiket sekali berangkat Rp50.000, ditambah biaya admin Rp7.500, jadi totalnya Rp115.000. Maka isilah saldo sejumlah ini. Atau lebih baik lagi kalau dilebihkan, buat jaga-jaga isi pulsa mana tahu di perjalanan butuh.

Untuk mengisi saldo atau top up ke akun kita, ikuti langkah-langkah seperti yang ditunjukkan dalam ilustrasi berikut.


Proses top up akan terasa lebih mudah jika kita sudah mempunyai fasilitas internet banking atau SMS-banking. Sebab kita diharuskan membayar dalam tempo selambat-lambatnya dua jam sejak mengajukan tiket deposit. Kalau masih harus ke ATM, apalagi antri di teller, sama saja bohong jadinya.

Begitu saldo masuk ke akun kita, saatnya berburu tiket kereta! Caranya sama mudahnya dengan top up tadi. Sebelum itu siapkan dulu data-data yang diperlukan untuk pemesanan tiket kereta, yakni nama lengkap dan nomor KTP calon penumpang. Lebih-lebih lagi kalau kita hendak memesankan tiket untuk orang lain.

Sudah siap? Lihat ilustrasi di bawah ini untuk mengetahui langkah-langkah memesan tiket kereta api menggunakan aplikasi Android. Oya, pastikan koneksimu lancar ya supaya proses pemesanan tiket berjalan tanpa hambatan sampai selesai.



Begitu dapat kode booking dan saldo kita terpotong sebesar harga tiket, selesai! Catat kode booking yang diberikan untuk keperluan mencetak tiket fisik di stasiun. Gampang sekali, bukan?

Dapat Cashback
Yang membuat saya tertarik menggunakan aplikasi besutan PT. Bimasakti Multi Sinergi ini adalah program cashback-nya. Di mana setiap pengguna akan mendapat komisi dari setiap transaksi yang dilakukan, termasuk memesan kereta api untuk diri sendiri.

Ambil contoh saat saya memesan tiket kereta api ke Semarang untuk mengikuti event Fun Blogging 9 pada Maret lalu. Berangkatnya saya ambil KA Kaligung. Kebetulan sekali sedang ada promo, sehingga tiket yang biasanya seharga Rp50.000 didiskon menjadi Rp30.000. Sedangkan pulangnya saya naik KA Kamandaka dengan tiket Rp50.000.



Dari dua transaksi ini, saya mendapat cashback Rp4.600 alias masing-masing Rp2.300 per tiket. Lumayan. Belum lagi kalau digabung dengan transaksi pembayaran listrik, internet, juga pulsa dan paket data yang kesemuanya saya bayar setiap bulan melalui aplikasi sama.

Untuk bayar Speedy saya dapat cashback Rp650, sedangkan bayar listrik cashback-nya Rp1.100. Hitung-hitung menabung uang receh. Hehehe...

Kabar bagusnya, begitu tahu saya bisa isi pulsa dan harganya lebih murah dari di konter dekat rumah, tetangga satu demi satu ikut minta diisikan. Saya cuma ambil selisih sedikit, sekedar menggenapkan saja biar tidak repot memberi kembalian. Lalu ada juga yang titip bayar listrik, beli token PLN, lalu kakak ipar mulai bulan depan mau ikut menumpang bayar iuran BPJS juga.

Selain cashback, ada pula program afiliasi atau lebih tepatnya member get member. Getok tular kalau kata orang Jawa. Di mana kita akan mendapat komisi jika ikut memperkenalkan layanan ini pada saudara, tetangga, teman kantor, atau siapapun. Ada lho yang mendapatkan cashback sampai 4-5juta rupiah setiap bulan. Hmmm, gaji saya kalah banyak donk!


Soal ini pernah saya bahas di posting berjudul Bebas Bayar Apa Saja, di Mana Saja, Pakai Perangkat Apa Saja, silakan baca lebih detil di sana. Daftar cashback lebih lengkap berikut simulasi perhitungan berapa yang kita dapat setiap bulan saya jabarkan dengan lengkap.

Bagi yang tidak suka sistem afiliasi, membuka loket pembayaran bisa jadi bisnis sampingan yang bagus. Terutama bagi yang tinggal di perumahan dan jauh dari loket-loket semacam itu. Selain cashback, kita bisa mendapat untung tambahan dari biaya administrasi. Katakanlah Rp1.000 per transaksi, kalikan sekian transaksi per bulan. Lumayan buat bayar tagihan kita sendiri.

Atau, ada tetangga yang ingin balik ke Jakarta setelah Lebaran usai? Tawarkan saja tiket kereta api, atau tiket pesawat sekalian. Tinggal pencet-pencet layar smartphone beberapa menit, tiket pun siap. Tetangga senang karena merasa terbantu, kita pun bahagia karena bisa menolong plus menambah pundi-pundi.

Bagaimana, ayo instal dan rasakan sejuta manfaat dari layanan ini! Unduh aplikasinya di Google PlayStore atau iOS dan ubah smartphone-mu jadi alat pembayaran serbaguna.

MASIH ingat kemacetan parah di pintu keluar tol Pejagan-Brebes jelang Lebaran kemarin? Salah satu kenalan saya cerita salah satu temannya yang ikut jadi korban. Dia terjebak macet berjam-jam, sampai kehabisan bahan bakar dan terpaksa beli Premium dengan harga berlipat-lipat! Kalau saja ia rencanakan mudiknya lebih baik, perjalanannya tidak akan sedramatis itu.

Kemacetan parah di pintu keluar tol di Brebes saat itu benar-benar menjadi pusat pemberitaan. Tak cuma media nasional, sejumlah media asing ikut mengangkat beritanya setelah tersiar kabar ada pemudik yang tewas akibat lama terjebak macet.

Teman dari kenalan saya sendiri berangkat dari Jakarta tanggal 2 Juli pagi. "Habis Subuh" kalau mengutip istilah waktu yang dipakai kenalan saya di Twitter. Tujuannya ke Tegal, seharusnya sebelum adzan Dzuhur sudah sampai rumah. Tapi jam setengah 11 malam ia masih terjebak di tol Pejagan.



Saya lalu balik cerita soal keponakan yang mudik nyaman naik kereta api ke Pemalang. Berangkat dari Jakarta jelang tengah malam, sebelum Subuh sudah sampai tujuan. Jarak dari stasiun ke rumahnya memang tidak bisa dibilang dekat. Tapi adik-adiknya siap sedia menjemput, sembari menunggu waktu sahur.

Stasiun Pasar Senen mungkin terlihat lebih padat dari biasanya. Tapi masing-masing penumpang sudah memegang tiket, jadi tidak ada ceritanya berebutan tempat duduk seperti naik KRL. Anak si keponakan yang baru berusia tiga tahun, which is cucu saya dalam silsilah keluarga besar, pun bisa tidur nyenyak sepanjang perjalanan.

Benar-benar mudik yang menyenangkan, bukan?

Perbedaannya terletak pada perencanaan. Temannya kenalan saya belum bisa memastikan kapan akan mudik, jadi spontan saja begitu mendapat waktu luang langsung berangkat naik kendaraan sendiri. Sebaliknya, keponakan saya sudah jauh-jauh hari merencanakan perjalanan mudik. Tiket dipesan sejak sebulan sebelum tanggal keberangkatan.


Pesan Tiket Kereta Api Pakai Hape
Saya sendiri lebih suka bepergian keluar kota naik kereta ketimbang bus. Bukan hanya soal romantisme masa kecil, dengan naik kereta api saya bisa memesan tiket jauh-jauh hari. Bagi saya ini memberikan setidaknya dua keuntungan positif. Pertama, saya dapat terlebih dahulu mengetahui berapa ongkos yang harus dibayar. Kedua, saya mendapat kepastian tempat duduk.

Mengetahui ongkos terlebih dahulu membantu saya menyusun anggaran biaya perjalanan. Untuk perjalanan seorang diri ke Semarang, misalnya, saya bisa naik KA Kaligung yang tiketnya seharga Rp50.000. Pulang-pergi jadi Rp100.000. Kalau mau ke Jakarta, ada KA Tawang Jaya dengan tiket seharga Rp100.000 untuk tujuan akhir Stasiun Pasarsenen.

Berkaitan dengan tempat duduk, kita bebas memilih mau di sebelah mana. Dekat pintu gerbong biar tidak perlu melewati banyak orang kalau mau ke toilet, di pinggir jendela, atau malah di tengah-tengah gerbong? Sepanjang kursinya tersedia, kita bebas memilih saat melakukan pemesanan.

Enaknya lagi, sekarang pesan tiket kereta bisa dilakukan di mana saja melalui perangkat apa saja. Asalkan koneksi internet ada, kita dapat memesan tiket dari kenyamanan rumah sendiri. Say goodbye pada stasiun dan loket pembelian, atau mesin ATM untuk pembayaran, juga antriannya yang bikin kaki pegal.

Saya sendiri memanfaatkan layanan Bebasbayar, aplikasi pembayaran sekaligus pembelian tiket super komplit. Dengan aplikasi ini saya bisa memesan tiket kereta api dari smartphone. Tinggal unduh aplikasinya di Google PlayStore atau iOS, maka selanjutnya hape kita bakal menjelma sebagai mesin pembayaran serbaguna. Mudah dan praktis.

Oya, khusus pemakai perangkat dengan sistem operasi iOS, aplikasinya sudah diperbarui dari versi 2.2. Sehingga ada penambahan fitur-fitur baru, seperti menu pemesanan tiket pesawat terbang, pilihan pindah kursi untuk pemesanan tiket kereta api, dan tentu saja tampilannya berbeda. Tapi pengguna Android jangan khaatir. Fitur untuk memilih kursi kereta juga sudah tersedia kok.

Agar dapat memanfaatkan kemudahan aplikasi ini, setelah menginstal di hape mula-mula kita harus isi dulu saldonya. Mau isi berapapun terserah, tapi minimal Rp10.000. Kalau keperluannya untuk membeli tiket kereta api, isilah saldo seharga tiket yang hendak dibeli. Seluruh saldo dapat dihabiskan, jadi tidak ada potongan sama sekali maupun biaya-biaya tersembunyi lainnya.

Katakanlah kita mau memesan tiket tujuan Semarang naik KA Kaligung pergi-pulang. Harga tiket sekali berangkat Rp50.000, ditambah biaya admin Rp7.500, jadi totalnya Rp115.000. Maka isilah saldo sejumlah ini. Atau lebih baik lagi kalau dilebihkan, buat jaga-jaga isi pulsa mana tahu di perjalanan butuh.

Untuk mengisi saldo atau top up ke akun kita, ikuti langkah-langkah seperti yang ditunjukkan dalam ilustrasi berikut.


Proses top up akan terasa lebih mudah jika kita sudah mempunyai fasilitas internet banking atau SMS-banking. Sebab kita diharuskan membayar dalam tempo selambat-lambatnya dua jam sejak mengajukan tiket deposit. Kalau masih harus ke ATM, apalagi antri di teller, sama saja bohong jadinya.

Begitu saldo masuk ke akun kita, saatnya berburu tiket kereta! Caranya sama mudahnya dengan top up tadi. Sebelum itu siapkan dulu data-data yang diperlukan untuk pemesanan tiket kereta, yakni nama lengkap dan nomor KTP calon penumpang. Lebih-lebih lagi kalau kita hendak memesankan tiket untuk orang lain.

Sudah siap? Lihat ilustrasi di bawah ini untuk mengetahui langkah-langkah memesan tiket kereta api menggunakan aplikasi Android. Oya, pastikan koneksimu lancar ya supaya proses pemesanan tiket berjalan tanpa hambatan sampai selesai.



Begitu dapat kode booking dan saldo kita terpotong sebesar harga tiket, selesai! Catat kode booking yang diberikan untuk keperluan mencetak tiket fisik di stasiun. Gampang sekali, bukan?

Dapat Cashback
Yang membuat saya tertarik menggunakan aplikasi besutan PT. Bimasakti Multi Sinergi ini adalah program cashback-nya. Di mana setiap pengguna akan mendapat komisi dari setiap transaksi yang dilakukan, termasuk memesan kereta api untuk diri sendiri.

Ambil contoh saat saya memesan tiket kereta api ke Semarang untuk mengikuti event Fun Blogging 9 pada Maret lalu. Berangkatnya saya ambil KA Kaligung. Kebetulan sekali sedang ada promo, sehingga tiket yang biasanya seharga Rp50.000 didiskon menjadi Rp30.000. Sedangkan pulangnya saya naik KA Kamandaka dengan tiket Rp50.000.



Dari dua transaksi ini, saya mendapat cashback Rp4.600 alias masing-masing Rp2.300 per tiket. Lumayan. Belum lagi kalau digabung dengan transaksi pembayaran listrik, internet, juga pulsa dan paket data yang kesemuanya saya bayar setiap bulan melalui aplikasi sama.

Untuk bayar Speedy saya dapat cashback Rp650, sedangkan bayar listrik cashback-nya Rp1.100. Hitung-hitung menabung uang receh. Hehehe...

Kabar bagusnya, begitu tahu saya bisa isi pulsa dan harganya lebih murah dari di konter dekat rumah, tetangga satu demi satu ikut minta diisikan. Saya cuma ambil selisih sedikit, sekedar menggenapkan saja biar tidak repot memberi kembalian. Lalu ada juga yang titip bayar listrik, beli token PLN, lalu kakak ipar mulai bulan depan mau ikut menumpang bayar iuran BPJS juga.

Selain cashback, ada pula program afiliasi atau lebih tepatnya member get member. Getok tular kalau kata orang Jawa. Di mana kita akan mendapat komisi jika ikut memperkenalkan layanan ini pada saudara, tetangga, teman kantor, atau siapapun. Ada lho yang mendapatkan cashback sampai 4-5juta rupiah setiap bulan. Hmmm, gaji saya kalah banyak donk!


Soal ini pernah saya bahas di posting berjudul Bebas Bayar Apa Saja, di Mana Saja, Pakai Perangkat Apa Saja, silakan baca lebih detil di sana. Daftar cashback lebih lengkap berikut simulasi perhitungan berapa yang kita dapat setiap bulan saya jabarkan dengan lengkap.

Bagi yang tidak suka sistem afiliasi, membuka loket pembayaran bisa jadi bisnis sampingan yang bagus. Terutama bagi yang tinggal di perumahan dan jauh dari loket-loket semacam itu. Selain cashback, kita bisa mendapat untung tambahan dari biaya administrasi. Katakanlah Rp1.000 per transaksi, kalikan sekian transaksi per bulan. Lumayan buat bayar tagihan kita sendiri.

Atau, ada tetangga yang ingin balik ke Jakarta setelah Lebaran usai? Tawarkan saja tiket kereta api, atau tiket pesawat sekalian. Tinggal pencet-pencet layar smartphone beberapa menit, tiket pun siap. Tetangga senang karena merasa terbantu, kita pun bahagia karena bisa menolong plus menambah pundi-pundi.

Bagaimana, ayo instal dan rasakan sejuta manfaat dari layanan ini! Unduh aplikasinya di Google PlayStore atau iOS dan ubah smartphone-mu jadi alat pembayaran serbaguna.

Jumat, 22 Juli 2016


MENERBITKAN buku sudah jadi impian saya sejak SMP. Sebuah buku dengan nama saya pada cover-nya, berisi cerita rekaan yang saya buat. Impian yang baru terwujud belasan tahun kemudian. Tapi jauh sebelum buku pertama saya benar-benar terbit, saya sudah terlebih dahulu membuat buku sendiri. Ya, kita sekarang mengenalnya sebagai buku indie.

Keinginan menerbitkan buku timbul karena pengaruh novel-novel silat yang saya baca. Terutama Wiro Sableng, si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Cerita-cerita tokoh rekaan almarhum Bastian Tito ini sukses menyihir saya, sekaligus membuat saya berangan-angan jadi penulis. (Baca juga: Penulis yang Puasa Menulis Buku dan Menunggu Film Wiro Sableng)

Saat itu saya tengah belajar menulis. Terhitung sangat rajin karena alih-alih belajar, setiap malam saya mengarang. Bapak dan Ibu tahunya saya belajar, sebab saya mengarang menggunakan buku tulis biasa. Hasilnya, saya sukses menuntaskan delapan episode serial Soko Gendeng si Pendekar Clurit Emas. Terpengaruh sinetron Panji Tengkorak di Indosiar, saya juga menulis satu cerita lepas dengan tokoh bernama Jawara Loreng.

Cerita-cerita rekaan inilah yang saya angan-angankan terbit dan dibaca banyak orang seperti halnya novel Wiro Sableng.

Saat membaca novel Wiro Sableng, saya membayangkan novel karangan saya kelak dibaca oleh remaja-remaja seusia saya saat itu. Lalu ketika membeli novel-novel tersebut di pasar, saya bayangkan anak-anak sekolah tengah berebut ingin membeli novel Soko Gendeng atau Jawara Loreng karya saya. Ya, novel dengan nama Eko Nurhuda di sampul depannya.

Keinginan menjadi penulis dan menerbitkan buku semakin memuncak ketika Bastian Tito menampilkan dirinya di sampul belakang Wiro Sableng. Almarhum terlihat duduk di belakang meja kerjanya, dengan seperangkat komputer berada di atas meja, tersenyum tipis pada kamera. Lalu di episode yang lain ayah aktor Vino G. Bastian tersebut berfoto di hadapan lukisan Wiro Sableng besar. Masih dengan senyum samarnya.

Tentu saja saya membayangkan suatu saat foto saya yang ada di sana, di novel-novel karangan saya. Keinginan yang bahkan sempat terbawa ke dalam mimpi. Dalam bunga tidur, saya bertemu dengan jin yang ada di legenda Aladdin. Jin tersebut bersedia mengabulkan satu saja permintaan saya, dan saya meminta padanya agar karangan saya yang masih berupa coretan-coretan di dalam buku tulis terbit menjadi novel. Dan... abra kadabra! Novel-novel dengan nama saya pun bertumpuk, siap dipasarkan. Sayangnya itu cuma mimpi.

Mesin Tik Pinjaman
Masuk SMA, bacaan saya mulai berubah menjadi cerpen-cerpen remaja dengan tema percintaan. Namanya juga masih penulis pemula, saya pun terpengaruh dan mulai menulis cerpen. Sama seperti jaman SMP, saya tetap menulis di atas buku tulis biasa. Boro-boro komputer, mesin tik saja merupakan barang mewah bagi saya saat itu.

Lalu seorang kawan sekelas yang sama-sama menyukai dunia kepenulisan mengajak saya merintis majalah dinding swadaya. Lengkapnya silakan baca di posting Jadi Pemred Berkat Majalah Dinding. Sadar tulisan kami tidak mudah dibaca orang lain, kami meminjam mesin tik dari seorang kawan lain. Bukan perkara mudah sebab rumah kawan kami itu terhitung jauh dan tak satupun dari kami punya sepeda motor. Pendek kata, butuh perjuangan untuk membawa mesin tik tersebut sampai bisa kami pakai.


Mesin tik tersebut ditaruh di kontrakan saya, sedangkan partner saya dalam mengelola majalah dinding tinggal di kontrakan lain. Jadilah mesin tik itu lebih akrab dengan saya, dan lebih sering dipakai untuk mengetik cerpen-cerpen saya. Satu cerpen iseng saya kirim ke harian Jambi Ekspres, dan ternyata dimuat. Itulah karya tulis pertama saya yang dimuat media cetak.

Naik ke kelas tiga, saya terpengaruh oleh kawan-kawan penyuka puisi. Jadilah saya ikut menulis puisi. Frekuensi menulis cerpen berkurang, diganti dengan menulis puisi hari demi hari. Entah bagus atau tidak, saya pede saja mengirimkan beberapa di antaranya ke majalah Horison. Hahaha...

Semakin lama puisi gubahan saya semakin banyak. Saya jadi berpikir, kalau cuma di buku tulis tentu tak sedap dibaca. Saya lalu berpikir, bagaimana caranya membuat semacam buku berisi puisi-puisi saya. Ya, saya istilahkan semacam buku. Mumpung masih ada mesin tik pinjaman dan tinta pada pitanya masih terang.

Setelah memperhatikan buku-buku sederhana di perpustakaan sekolah, saya dapat akal. Beberapa lembar kertas HVS ukuran folio saya lipat dua, kemudian saya susun sedemikian rupa sehingga tampak seperti buku tulis. Puisi demi puisi saya ketik bolak-balik di bagian yang sudah terlipat dua. Bak seorang layouter penerbit, saya mempertimbangkan secara cermat panjang tiap-tiap puisi, memastikannya cukup pada halaman yang tersedia, serta membagi-bagi halamannya sedemikian rupa sehingga saat disatukan runtut dibaca.

Beberapa hari saya disibukkan dengan proyek ini. Begitu bagian isi selesai diketik semua, saya buat cover-nya dengan kertas karton yang dihias tulisan tangan. Oya, judul antologi puisi tersebut Awan Putih, mengambil judul salah satu pusisi di dalamnya. Sebuah buku indie yang diterbitkan secara sederhana, dari sebuah petak kontrakan di sudut kota Muara Bulian nan sepi.

Buku indie ini terus saya bawa-bawa bersama koleksi buku yang lain. Saat kuliah ke Jogja, buku ini ada di rak dan beberapa kali dibaca teman-teman satu kos. Tapi seiring surutnya minat saya pada dunia sastra dan dunia kepenulisan - karena tak kunjung bisa menembus media cetak mayor, serta tuntutan untuk segera mandiri secara finansial, buku indie tersebut entah saya campakkan di mana. Kalau saja bukan karena tema ODOP hari kesepuluh, rasanya tak akan pernah lagi saya mengingat-ingat buku indie Awan Putih itu.

Mungkin saya tinggal di kamar kos di kawasan Suryodiningratan, mungkin masih di rumah seorang teman di Sorowajan, mungkin juga sudah saya bakar bersama buku-buku tak terpakai lain ketika kos di Jl. Kusumanegara. Saya benar-benar tidak ingat. Yang pasti, buku indie pertama saya ini sudah tidak ada lagi. Buku indie yang mengguratkan betapa kuatnya keinginan saya menerbitkan buku karya sendiri.

Awal 2012, saya kembali menerbitkan buku indie. Tapi kali ini dengan kualitas lebih baik, nyaris tak ada bedanya dengan buku-buku yang diterbitkan penerbit pada umumnya. Saya gunakan layanan Nulisbuku.com untuk menerbitkan sebuah naskah buku yang ditolak oleh lima penerbit berbeda. Sebuah buku berisi tips sekaligus motivasi bagi blogger untuk menulis buku. Judulnya, Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku! Gambar paling atas merupakan penampakan buku tersebut di web Nulisbuku.com.

Karena tak dipromosikan, hingga saat ini buku tersebut baru dibeli sebanyak 7-8 eksemplar. Dua di antaranya saya pesan sendiri untuk koleksi pribadi dan hadiah, sedang lima sisanya dipesan rekan-rekan sesama blogger. Salah satu pembeli buku tersebut Pakde Abdul Cholik di Surabaya.

Tahun lalu, saya coba pajang versi digital dari buku tersebut di Google Play dan Google Books. Silakan dilihat di laman ini, harganya saya set lebih murah dari versi cetak. Lumayan, ada tambahan penjualan meski jumlahnya masih juga tidaklah seberapa.


MENERBITKAN buku sudah jadi impian saya sejak SMP. Sebuah buku dengan nama saya pada cover-nya, berisi cerita rekaan yang saya buat. Impian yang baru terwujud belasan tahun kemudian. Tapi jauh sebelum buku pertama saya benar-benar terbit, saya sudah terlebih dahulu membuat buku sendiri. Ya, kita sekarang mengenalnya sebagai buku indie.

Keinginan menerbitkan buku timbul karena pengaruh novel-novel silat yang saya baca. Terutama Wiro Sableng, si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Cerita-cerita tokoh rekaan almarhum Bastian Tito ini sukses menyihir saya, sekaligus membuat saya berangan-angan jadi penulis. (Baca juga: Penulis yang Puasa Menulis Buku dan Menunggu Film Wiro Sableng)

Saat itu saya tengah belajar menulis. Terhitung sangat rajin karena alih-alih belajar, setiap malam saya mengarang. Bapak dan Ibu tahunya saya belajar, sebab saya mengarang menggunakan buku tulis biasa. Hasilnya, saya sukses menuntaskan delapan episode serial Soko Gendeng si Pendekar Clurit Emas. Terpengaruh sinetron Panji Tengkorak di Indosiar, saya juga menulis satu cerita lepas dengan tokoh bernama Jawara Loreng.

Cerita-cerita rekaan inilah yang saya angan-angankan terbit dan dibaca banyak orang seperti halnya novel Wiro Sableng.

Saat membaca novel Wiro Sableng, saya membayangkan novel karangan saya kelak dibaca oleh remaja-remaja seusia saya saat itu. Lalu ketika membeli novel-novel tersebut di pasar, saya bayangkan anak-anak sekolah tengah berebut ingin membeli novel Soko Gendeng atau Jawara Loreng karya saya. Ya, novel dengan nama Eko Nurhuda di sampul depannya.

Keinginan menjadi penulis dan menerbitkan buku semakin memuncak ketika Bastian Tito menampilkan dirinya di sampul belakang Wiro Sableng. Almarhum terlihat duduk di belakang meja kerjanya, dengan seperangkat komputer berada di atas meja, tersenyum tipis pada kamera. Lalu di episode yang lain ayah aktor Vino G. Bastian tersebut berfoto di hadapan lukisan Wiro Sableng besar. Masih dengan senyum samarnya.

Tentu saja saya membayangkan suatu saat foto saya yang ada di sana, di novel-novel karangan saya. Keinginan yang bahkan sempat terbawa ke dalam mimpi. Dalam bunga tidur, saya bertemu dengan jin yang ada di legenda Aladdin. Jin tersebut bersedia mengabulkan satu saja permintaan saya, dan saya meminta padanya agar karangan saya yang masih berupa coretan-coretan di dalam buku tulis terbit menjadi novel. Dan... abra kadabra! Novel-novel dengan nama saya pun bertumpuk, siap dipasarkan. Sayangnya itu cuma mimpi.

Mesin Tik Pinjaman
Masuk SMA, bacaan saya mulai berubah menjadi cerpen-cerpen remaja dengan tema percintaan. Namanya juga masih penulis pemula, saya pun terpengaruh dan mulai menulis cerpen. Sama seperti jaman SMP, saya tetap menulis di atas buku tulis biasa. Boro-boro komputer, mesin tik saja merupakan barang mewah bagi saya saat itu.

Lalu seorang kawan sekelas yang sama-sama menyukai dunia kepenulisan mengajak saya merintis majalah dinding swadaya. Lengkapnya silakan baca di posting Jadi Pemred Berkat Majalah Dinding. Sadar tulisan kami tidak mudah dibaca orang lain, kami meminjam mesin tik dari seorang kawan lain. Bukan perkara mudah sebab rumah kawan kami itu terhitung jauh dan tak satupun dari kami punya sepeda motor. Pendek kata, butuh perjuangan untuk membawa mesin tik tersebut sampai bisa kami pakai.


Mesin tik tersebut ditaruh di kontrakan saya, sedangkan partner saya dalam mengelola majalah dinding tinggal di kontrakan lain. Jadilah mesin tik itu lebih akrab dengan saya, dan lebih sering dipakai untuk mengetik cerpen-cerpen saya. Satu cerpen iseng saya kirim ke harian Jambi Ekspres, dan ternyata dimuat. Itulah karya tulis pertama saya yang dimuat media cetak.

Naik ke kelas tiga, saya terpengaruh oleh kawan-kawan penyuka puisi. Jadilah saya ikut menulis puisi. Frekuensi menulis cerpen berkurang, diganti dengan menulis puisi hari demi hari. Entah bagus atau tidak, saya pede saja mengirimkan beberapa di antaranya ke majalah Horison. Hahaha...

Semakin lama puisi gubahan saya semakin banyak. Saya jadi berpikir, kalau cuma di buku tulis tentu tak sedap dibaca. Saya lalu berpikir, bagaimana caranya membuat semacam buku berisi puisi-puisi saya. Ya, saya istilahkan semacam buku. Mumpung masih ada mesin tik pinjaman dan tinta pada pitanya masih terang.

Setelah memperhatikan buku-buku sederhana di perpustakaan sekolah, saya dapat akal. Beberapa lembar kertas HVS ukuran folio saya lipat dua, kemudian saya susun sedemikian rupa sehingga tampak seperti buku tulis. Puisi demi puisi saya ketik bolak-balik di bagian yang sudah terlipat dua. Bak seorang layouter penerbit, saya mempertimbangkan secara cermat panjang tiap-tiap puisi, memastikannya cukup pada halaman yang tersedia, serta membagi-bagi halamannya sedemikian rupa sehingga saat disatukan runtut dibaca.

Beberapa hari saya disibukkan dengan proyek ini. Begitu bagian isi selesai diketik semua, saya buat cover-nya dengan kertas karton yang dihias tulisan tangan. Oya, judul antologi puisi tersebut Awan Putih, mengambil judul salah satu pusisi di dalamnya. Sebuah buku indie yang diterbitkan secara sederhana, dari sebuah petak kontrakan di sudut kota Muara Bulian nan sepi.

Buku indie ini terus saya bawa-bawa bersama koleksi buku yang lain. Saat kuliah ke Jogja, buku ini ada di rak dan beberapa kali dibaca teman-teman satu kos. Tapi seiring surutnya minat saya pada dunia sastra dan dunia kepenulisan - karena tak kunjung bisa menembus media cetak mayor, serta tuntutan untuk segera mandiri secara finansial, buku indie tersebut entah saya campakkan di mana. Kalau saja bukan karena tema ODOP hari kesepuluh, rasanya tak akan pernah lagi saya mengingat-ingat buku indie Awan Putih itu.

Mungkin saya tinggal di kamar kos di kawasan Suryodiningratan, mungkin masih di rumah seorang teman di Sorowajan, mungkin juga sudah saya bakar bersama buku-buku tak terpakai lain ketika kos di Jl. Kusumanegara. Saya benar-benar tidak ingat. Yang pasti, buku indie pertama saya ini sudah tidak ada lagi. Buku indie yang mengguratkan betapa kuatnya keinginan saya menerbitkan buku karya sendiri.

Awal 2012, saya kembali menerbitkan buku indie. Tapi kali ini dengan kualitas lebih baik, nyaris tak ada bedanya dengan buku-buku yang diterbitkan penerbit pada umumnya. Saya gunakan layanan Nulisbuku.com untuk menerbitkan sebuah naskah buku yang ditolak oleh lima penerbit berbeda. Sebuah buku berisi tips sekaligus motivasi bagi blogger untuk menulis buku. Judulnya, Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku! Gambar paling atas merupakan penampakan buku tersebut di web Nulisbuku.com.

Karena tak dipromosikan, hingga saat ini buku tersebut baru dibeli sebanyak 7-8 eksemplar. Dua di antaranya saya pesan sendiri untuk koleksi pribadi dan hadiah, sedang lima sisanya dipesan rekan-rekan sesama blogger. Salah satu pembeli buku tersebut Pakde Abdul Cholik di Surabaya.

Tahun lalu, saya coba pajang versi digital dari buku tersebut di Google Play dan Google Books. Silakan dilihat di laman ini, harganya saya set lebih murah dari versi cetak. Lumayan, ada tambahan penjualan meski jumlahnya masih juga tidaklah seberapa.

Kamis, 21 Juli 2016


INI tema ODOP tersulit bagi saya, sebab saya tidak punya meja kerja. Maksudnya meja yang khusus buat saya bekerja, tanpa difungsikan untuk yang lain-lain. Jadi, alih-alih bercerita tentang meja kerja, saya akan menceritakan meja kerja impian saya. Boleh kan ya? :)

Per Mei 2010, tepat di hari kelahiran anak pertama, saya memutuskan pindah ke Pemalang karena satu dan lain pertimbangan. Urusan keluarga yang tak perlu dijelaskan di sini. Yang jelas, sejak itu saya tidak punya meja kerja sendiri. Ruang tempat tinggal saya sudah terlalu sesak untuk kami semua, dan segala perabot pendukung.

Awal-awal di Pemalang saya bahkan mengetik tanpa meja! Komputer diletakkan di pojok ruangan kamar, dengan keyboard dan mouse tergeletak di lantai. Supaya tangan tidak pegal, saya biasa mengganjal keyboard dengan kardus bekas pembungkus si papan ketik itu sendiri agar posisinya lebih tinggi.

Saat komputer usang saya diganti laptop, tetap saja saya mengetik tanpa meja kerja khusus. Semua naskah buku saya, termasuk beberapa yang sudah terbit di periode 2010-2012, diketik tanpa meja. Bisa di atas tempat tidur, di lantai dengan alas kardus atau apa saja agar lebih tinggi, lebih sering mengungsi ke meja di ruang tamu.

Barulah sejak pertengahan 2012 saya mendesain satu sudut di ruang belakang untuk tempat kerja. Lengkap dengan meja kerja. Tapi itu bukan meja kerja ideal. Saya mengalih-fungsikan meja yang biasa dipakai menyeterika pakaian oleh istri. Di atas meja itulah saya meng-update blog, memajang dagangan di lapak online, serta menyiapkan paket pesanan pembeli di toko online yang kami kelola.

Karena satu dan lain alasan lagi, meja kerja tersebut harus dikembalikan fungsinya sebagai meja menyetrika. Sudut yang tadinya saya manfaatkan sebagai ruang kerja berubah pula menjadi semacam "tempat transit" untuk pakaian yang baru diangkat dari jemuran dan belum sempat disetrika.

Sebagai gantinya, saya membeli semacam meja tivi yang panjang dengan tiga kompartemen. Dalam pikiran saya, dua kompartemen bisa dipergunakan untuk menyimpan pakaian anak-anak - sebagai lemari tambahan, bagian tengah yang berpintu kaca untuk meletakkan mainan mereka. Nah, saya mendapat jatah bagian atas sebagai meja kerja di mana saya meletakkan laptop dan mengetik.

Ya, meja kerja saya bukanlah sebuah meja. Tapi saya sudah cukup senang mempunyai fasilitas ini. Yang terpenting bisa mengetik dengan nyaman, duduk di atas kursi sembari melipat kaki. Saya menempati sisi sebelah kanan, sedangkan sisi satunya lagi bisa berisi mainan atau buku anak-anak, bisa juga gelar-piring, macam-macam pokoknya berganti-ganti saban hari.

Suatu ketika di akhir 2015, saya mengunjungi seorang mentor di Solo. Beliau blogger top yang mengelola banyak blog populer, dengan bisnis penjualan produk berbasis hobi beromset ratusan juta. Masuk ke dalam ruang kerjanya, saya dibuat ngiler. Di dalam ruangan yang bersebelahan persis dengan kamar tidurnya, Mas Blogger tersebut punya meja kayu lebar yang di atasnya hanya ada PC, monitor, mouse dan keyboard. Benar-benar meja khusus mengetik.

Ada dua meja di dalam ruangan tersebut, masing-masing untuk satu komputer, lalu ada sebuah rak kecil tempat meletakkan berbagai berkas. Printer ada di bagian paling atas rak tersebut. Sisa ruangan berisi sebuah spring bed ukuran sedang, dan kamar kecil. Oh, sebuah ruang kerja idaman bagi saya.

Saking senangnya dengan ruang kerja Mas Blogger tersebut, saya sampai mengambil beberapa foto. Sesampainya di rumah saya tunjukkan foto-foto itu pada istri yang hanya menanggapinya dengan senyum.

Meja kerja impian saya tidak muluk-muluk. Cukup sebuah meja yang khusus hanya untuk meletakkan laptop saya di atasnya, bersama-sama printer dan speaker mini plus setumpuk buku atau majalah. Satu sudut di dalam kamar sudah cukup bagi saya, tapi mempunyai satu ruangan kerja khusus - lengkap dengan perpustakaan mini - terus jadi impian saya hingga saat ini.

Mudah-mudahan suatu saat terkabul keinginan sederhana ini. Amin...


INI tema ODOP tersulit bagi saya, sebab saya tidak punya meja kerja. Maksudnya meja yang khusus buat saya bekerja, tanpa difungsikan untuk yang lain-lain. Jadi, alih-alih bercerita tentang meja kerja, saya akan menceritakan meja kerja impian saya. Boleh kan ya? :)

Per Mei 2010, tepat di hari kelahiran anak pertama, saya memutuskan pindah ke Pemalang karena satu dan lain pertimbangan. Urusan keluarga yang tak perlu dijelaskan di sini. Yang jelas, sejak itu saya tidak punya meja kerja sendiri. Ruang tempat tinggal saya sudah terlalu sesak untuk kami semua, dan segala perabot pendukung.

Awal-awal di Pemalang saya bahkan mengetik tanpa meja! Komputer diletakkan di pojok ruangan kamar, dengan keyboard dan mouse tergeletak di lantai. Supaya tangan tidak pegal, saya biasa mengganjal keyboard dengan kardus bekas pembungkus si papan ketik itu sendiri agar posisinya lebih tinggi.

Saat komputer usang saya diganti laptop, tetap saja saya mengetik tanpa meja kerja khusus. Semua naskah buku saya, termasuk beberapa yang sudah terbit di periode 2010-2012, diketik tanpa meja. Bisa di atas tempat tidur, di lantai dengan alas kardus atau apa saja agar lebih tinggi, lebih sering mengungsi ke meja di ruang tamu.

Barulah sejak pertengahan 2012 saya mendesain satu sudut di ruang belakang untuk tempat kerja. Lengkap dengan meja kerja. Tapi itu bukan meja kerja ideal. Saya mengalih-fungsikan meja yang biasa dipakai menyeterika pakaian oleh istri. Di atas meja itulah saya meng-update blog, memajang dagangan di lapak online, serta menyiapkan paket pesanan pembeli di toko online yang kami kelola.

Karena satu dan lain alasan lagi, meja kerja tersebut harus dikembalikan fungsinya sebagai meja menyetrika. Sudut yang tadinya saya manfaatkan sebagai ruang kerja berubah pula menjadi semacam "tempat transit" untuk pakaian yang baru diangkat dari jemuran dan belum sempat disetrika.

Sebagai gantinya, saya membeli semacam meja tivi yang panjang dengan tiga kompartemen. Dalam pikiran saya, dua kompartemen bisa dipergunakan untuk menyimpan pakaian anak-anak - sebagai lemari tambahan, bagian tengah yang berpintu kaca untuk meletakkan mainan mereka. Nah, saya mendapat jatah bagian atas sebagai meja kerja di mana saya meletakkan laptop dan mengetik.

Ya, meja kerja saya bukanlah sebuah meja. Tapi saya sudah cukup senang mempunyai fasilitas ini. Yang terpenting bisa mengetik dengan nyaman, duduk di atas kursi sembari melipat kaki. Saya menempati sisi sebelah kanan, sedangkan sisi satunya lagi bisa berisi mainan atau buku anak-anak, bisa juga gelar-piring, macam-macam pokoknya berganti-ganti saban hari.

Suatu ketika di akhir 2015, saya mengunjungi seorang mentor di Solo. Beliau blogger top yang mengelola banyak blog populer, dengan bisnis penjualan produk berbasis hobi beromset ratusan juta. Masuk ke dalam ruang kerjanya, saya dibuat ngiler. Di dalam ruangan yang bersebelahan persis dengan kamar tidurnya, Mas Blogger tersebut punya meja kayu lebar yang di atasnya hanya ada PC, monitor, mouse dan keyboard. Benar-benar meja khusus mengetik.

Ada dua meja di dalam ruangan tersebut, masing-masing untuk satu komputer, lalu ada sebuah rak kecil tempat meletakkan berbagai berkas. Printer ada di bagian paling atas rak tersebut. Sisa ruangan berisi sebuah spring bed ukuran sedang, dan kamar kecil. Oh, sebuah ruang kerja idaman bagi saya.

Saking senangnya dengan ruang kerja Mas Blogger tersebut, saya sampai mengambil beberapa foto. Sesampainya di rumah saya tunjukkan foto-foto itu pada istri yang hanya menanggapinya dengan senyum.

Meja kerja impian saya tidak muluk-muluk. Cukup sebuah meja yang khusus hanya untuk meletakkan laptop saya di atasnya, bersama-sama printer dan speaker mini plus setumpuk buku atau majalah. Satu sudut di dalam kamar sudah cukup bagi saya, tapi mempunyai satu ruangan kerja khusus - lengkap dengan perpustakaan mini - terus jadi impian saya hingga saat ini.

Mudah-mudahan suatu saat terkabul keinginan sederhana ini. Amin...

Rabu, 20 Juli 2016


MESKI sudah tidak lagi kuliah, menuntut ilmu dan pengetahuan baru tetap menjadi hal wajib bagi saya. Caranya dengan membaca-baca berbagai referensi secara mandiri, juga mengikuti seminar atau workshop. Khusus yang terakhir, saya harus banyak berkompromi lebih-lebih jika seminar diadakan di luar kota. Untunglah istri sangat suportif :)

Tak ada halangan berarti untuk membeli buku. Meski di Pemalang tak ada toko buku semodel Gramedia atau Gunung Agung, kebutuhan akan buku dapat dipenuhi dengan mudah lewat belanja online. Ada banyak sekali toko buku online yang bisa saya jelajahi. Tinggal klak-klik sembari mendengarkan musik, dua-tiga hari berikutnya kurir JNE atau Pak Pos datang mengetuk pintu.

Lain halnya dengan seminar. Dalam setahun belum tentu ada satu seminar di Pemalang. Maksudnya, selain seminar multilevel marketing yang setiap bulan digelar di berbagai hotel. Apalagi seminar seputar dunia blog dan internet. Tujuh tahun tinggal di kabupaten tertua di Pantura ini, saya baru sekali mengikuti workshop bertema dunia online.

Karenanya saya selalu memasang mata dan telinga, menangkap info seminar di kota-kota tetangga. Kalau hanya sebatas di Tegal dan Pekalongan pasti saya datangi, bermotor mengendarai sepeda motor matic buatan Taiwan yang setia menemani. Tapi sampai ke kota-kota yang lebih jauh pun bakal saya lakoni jika materinya benar-benar menarik.

Contohnya Fun Blogging 9 di Gedung Indosat Oooredoo Semarang pada Maret 2016 lalu. Event ini sangat ingin saya ikuti, terutama sejak membaca pengalaman teman-teman yang pernah mengikuti edisi-edisi sebelumnya. Meski saat itu di web Fun Blogging tertulis keterangan "kuota penuh", saya tetap nekat mendaftar. Alhamdulillah, saya boleh ikut dan sampai sekarang tergabung dalam komunitas keren ini.

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan
Ada beberapa hal yang selalu saya perhatikan saat akan mengikuti sebuah seminar. Seringkali saya sudah melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari, utamanya jika seminar diadakan di luar kota. Maklum, saya dan istri mengasuh anak sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Karenanya kepergian saya keluar kota harus dibicarakan terlebih dahulu, sekaligus merencanakan segala kemungkinan. *halah*

Sebelum Seminar
1. Hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tahu lokasi seminar. Apakah seminar diadakan di kantor, di gedung pertemuan, atau di hotel? Lalu alamatnya di mana? Kalau saya tidak familiar dengan daerah tersebut, saya akan melacaknya dengan bantuan Google Maps. Layanan ini juga bisa memberi-tahukan rute menuju ke sana sekaligus estimasi lama perjalanan.

2. Setelah tahu lokasi diselenggarakannya seminar dan estimasi lama perjalanan menuju ke sana, berikutnya saya tandai kalender. Tanggal Hari H seminar saya lingkari, disertai catatan jam berapa saya akan berangkat. Saya tergolong pelupa, menandai kalender jadi metode paling ampuh untuk membantu mengingat agenda seperti ini.

3. Mencari tahu terlebih dahulu materi yang akan disampaikan oleh pembicara. Tujuannya agar saya tidak blank saat seminar. Gampangnya sih biar nyambung, sehingga diharapkan pemahaman pada materi seminar menjadi lebih baik. Selain itu, saya juga jadi punya bahan pertanyaan untuk diajukan pada narasumber.

4. Melacak track record narasumber. Ini tak selalu saya lakukan, tapi seringkali iya. Tidak ada tujuan apa-apa selain rasa ingin tahu. Menjelang mengikuti Fun Blogging di Semarang, conothnya, saya sudah punya gambaran siapa itu Mbak Haya, Mbak Shinta, dan Teh Ani. Serta apa saja yang telah mereka raih dan mereka lakukan di dunia kepenulisan dan blog.

5. Untuk seminar di luar kota, saya harus pertimbangkan mana yang lebih praktis: naik sepeda motor atau kendaraan umum. Jika hanya di Tegal atau Pekalongan, sepeda motor pilihan utama. Tapi kalau sampai ke Semarang atau Jogja, saya lebih memilih naik angkutan umum. Kalau sudah begini, tiket harus sudah dibeli jauh-jauh hari. Kalau perlu tiket pulang-pergi.



Di Hari Seminar
1. Penampilan jadi hal pertama yang harus diperhatikan. Tak musti tampil perlente dengan setelan jas, yang terpenting adalah tampil rapi. Kalau perlu wangi. Bukankah di seminar nanti kita bakal bertemu dengan banyak orang? Pepatah Jawa mengatakan, aji ning raga saka busana. Maksudnya, orang menghargai kita berdasarkan penampilan kita. Jadi, kalau ingin dihargai orang lain mula-mula hargailah diri kita dengan berpenampilan rapi.

2. Saya selalu mengupayakan untuk datang sebelum seminar dimulai. Jika dalam agenda seminar dimulai pukul 09.00 WIB, misalnya, maka saya usahakan sudah sampai di lokasi pukul 08.30 WIB atau selambat-lambatnya 08.45 WIB. Untuk apa? Agar dapat berkenalan dan ngobrol terlebih dahulu dengan sesama peserta. Istilah kerennya networking.

Manfaat lain datang lebih awal adalah sebagai langkah antisipasi. Bekendara menuju lokasi seminar terkadang membuat dandanan rapi dari rumah berantakan, terutama bagi pengendara sepeda motor. Jadi, dengan datang lebih awal kita jadi punya waktu untuk merapikan penampilan. Atau ke toliet dan buang air, agar tak terganggu saat mengikuti seminar karena mendadak "pengen ke belakang." Hehehe...

3. Cari tempat duduk paling nyaman adalah hal berikutnya yang saya lakukan setelah tiba di lokasi seminar. Tergantung desain ruangan, saya pilih barisan paling depan jika jarak tempat pembicara jauh ke depan. Tapi jika area pembicara mepet dengan peserta, saya pilih baris ketiga atau keempat. Bagi saya, mengikuti seminar tak cuma mendengarkan ucapan pembicara, tapi juga memperhatikan seluruh gerak-geriknya termasuk interaksinya dengan peserta.

4. Siapkan catatan, dan catat poin-poin penting dari materi yang disampaikan pembicara. Sejak punya digital voice recorder, saya juga merekam seluruh materi untuk didengarkan lagi di rumah.

5. Demi memusatkan perhatian pada materi, saya pastikan handphone masuk ke dalam tas dan dalam kondisi silent. Saya rasa ini juga bagian dari menghormati pembicara, sekaligus menghormati ilmu yang diberikan. Nggak live tweet? Lihat-lihat kondisi sih. Tapi paling-paling saya hanya mengambil foto, lalu mengunggahnya ke media sosial saat sesi istirahat.

6. Pastikan acara sudah benar-benar selesai, dan pembicara mengakhiri materinya, baru beranjak meninggalkan tempat duduk. Ini juga merupakan adab menghormati pembicara dan ilmu yang diberikan. Saya tak terlalu suka foto bersama, tapi wajib bagi saya untuk menyalami pembicara. Ya, menyampaikan ucapan terima kasih secara langsung atas materi yang diberikan, serta bertukar kontak.

Tapi pernah juga sih saya harus meninggalkan seminar saat belum selesai. Seperti pada Fun Blogging 9, saya sudah pamit ketika Teh Ani masih menyampaikan materi. Soalnya saya musti mengejar jadwal kereta yang tiketnya sudah terlebih dahulu dibeli. Kalau sampai ketinggalan, alamat saya tidak bisa pulang ke Pemalang. Hehehe...

Sesudah Seminar
Sepulang dari seminar, biasanya saya langsung menyampaikan ringkasan materi di Twitter. Foto-foto diunggah ke Facebook, sembari menge-tag teman-teman yang juga ikut seminar tersebut. Begitu dapat waktu lebih luang, giliran menuliskan rangkuman materi secara lebih panjang dan detil di blog, lengkap dengan foto-foto seminar.

Terakhir, sebisa mungkin saya abadikan acara seminar dalam bentuk video. Tapi ini tergantung seminarnya juga sih. Sebab ada beberapa seminar yang tidak membolehkan peserta merekam dan menyebar-luaskan materi.

Oke deh, itu dia beberapa hal yang biasanya saya lakukan sebelum, saat, serta sesudah mengikuti seminar. Semoga bermanfaat!


MESKI sudah tidak lagi kuliah, menuntut ilmu dan pengetahuan baru tetap menjadi hal wajib bagi saya. Caranya dengan membaca-baca berbagai referensi secara mandiri, juga mengikuti seminar atau workshop. Khusus yang terakhir, saya harus banyak berkompromi lebih-lebih jika seminar diadakan di luar kota. Untunglah istri sangat suportif :)

Tak ada halangan berarti untuk membeli buku. Meski di Pemalang tak ada toko buku semodel Gramedia atau Gunung Agung, kebutuhan akan buku dapat dipenuhi dengan mudah lewat belanja online. Ada banyak sekali toko buku online yang bisa saya jelajahi. Tinggal klak-klik sembari mendengarkan musik, dua-tiga hari berikutnya kurir JNE atau Pak Pos datang mengetuk pintu.

Lain halnya dengan seminar. Dalam setahun belum tentu ada satu seminar di Pemalang. Maksudnya, selain seminar multilevel marketing yang setiap bulan digelar di berbagai hotel. Apalagi seminar seputar dunia blog dan internet. Tujuh tahun tinggal di kabupaten tertua di Pantura ini, saya baru sekali mengikuti workshop bertema dunia online.

Karenanya saya selalu memasang mata dan telinga, menangkap info seminar di kota-kota tetangga. Kalau hanya sebatas di Tegal dan Pekalongan pasti saya datangi, bermotor mengendarai sepeda motor matic buatan Taiwan yang setia menemani. Tapi sampai ke kota-kota yang lebih jauh pun bakal saya lakoni jika materinya benar-benar menarik.

Contohnya Fun Blogging 9 di Gedung Indosat Oooredoo Semarang pada Maret 2016 lalu. Event ini sangat ingin saya ikuti, terutama sejak membaca pengalaman teman-teman yang pernah mengikuti edisi-edisi sebelumnya. Meski saat itu di web Fun Blogging tertulis keterangan "kuota penuh", saya tetap nekat mendaftar. Alhamdulillah, saya boleh ikut dan sampai sekarang tergabung dalam komunitas keren ini.

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan
Ada beberapa hal yang selalu saya perhatikan saat akan mengikuti sebuah seminar. Seringkali saya sudah melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari, utamanya jika seminar diadakan di luar kota. Maklum, saya dan istri mengasuh anak sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Karenanya kepergian saya keluar kota harus dibicarakan terlebih dahulu, sekaligus merencanakan segala kemungkinan. *halah*

Sebelum Seminar
1. Hal pertama yang saya lakukan adalah mencari tahu lokasi seminar. Apakah seminar diadakan di kantor, di gedung pertemuan, atau di hotel? Lalu alamatnya di mana? Kalau saya tidak familiar dengan daerah tersebut, saya akan melacaknya dengan bantuan Google Maps. Layanan ini juga bisa memberi-tahukan rute menuju ke sana sekaligus estimasi lama perjalanan.

2. Setelah tahu lokasi diselenggarakannya seminar dan estimasi lama perjalanan menuju ke sana, berikutnya saya tandai kalender. Tanggal Hari H seminar saya lingkari, disertai catatan jam berapa saya akan berangkat. Saya tergolong pelupa, menandai kalender jadi metode paling ampuh untuk membantu mengingat agenda seperti ini.

3. Mencari tahu terlebih dahulu materi yang akan disampaikan oleh pembicara. Tujuannya agar saya tidak blank saat seminar. Gampangnya sih biar nyambung, sehingga diharapkan pemahaman pada materi seminar menjadi lebih baik. Selain itu, saya juga jadi punya bahan pertanyaan untuk diajukan pada narasumber.

4. Melacak track record narasumber. Ini tak selalu saya lakukan, tapi seringkali iya. Tidak ada tujuan apa-apa selain rasa ingin tahu. Menjelang mengikuti Fun Blogging di Semarang, conothnya, saya sudah punya gambaran siapa itu Mbak Haya, Mbak Shinta, dan Teh Ani. Serta apa saja yang telah mereka raih dan mereka lakukan di dunia kepenulisan dan blog.

5. Untuk seminar di luar kota, saya harus pertimbangkan mana yang lebih praktis: naik sepeda motor atau kendaraan umum. Jika hanya di Tegal atau Pekalongan, sepeda motor pilihan utama. Tapi kalau sampai ke Semarang atau Jogja, saya lebih memilih naik angkutan umum. Kalau sudah begini, tiket harus sudah dibeli jauh-jauh hari. Kalau perlu tiket pulang-pergi.



Di Hari Seminar
1. Penampilan jadi hal pertama yang harus diperhatikan. Tak musti tampil perlente dengan setelan jas, yang terpenting adalah tampil rapi. Kalau perlu wangi. Bukankah di seminar nanti kita bakal bertemu dengan banyak orang? Pepatah Jawa mengatakan, aji ning raga saka busana. Maksudnya, orang menghargai kita berdasarkan penampilan kita. Jadi, kalau ingin dihargai orang lain mula-mula hargailah diri kita dengan berpenampilan rapi.

2. Saya selalu mengupayakan untuk datang sebelum seminar dimulai. Jika dalam agenda seminar dimulai pukul 09.00 WIB, misalnya, maka saya usahakan sudah sampai di lokasi pukul 08.30 WIB atau selambat-lambatnya 08.45 WIB. Untuk apa? Agar dapat berkenalan dan ngobrol terlebih dahulu dengan sesama peserta. Istilah kerennya networking.

Manfaat lain datang lebih awal adalah sebagai langkah antisipasi. Bekendara menuju lokasi seminar terkadang membuat dandanan rapi dari rumah berantakan, terutama bagi pengendara sepeda motor. Jadi, dengan datang lebih awal kita jadi punya waktu untuk merapikan penampilan. Atau ke toliet dan buang air, agar tak terganggu saat mengikuti seminar karena mendadak "pengen ke belakang." Hehehe...

3. Cari tempat duduk paling nyaman adalah hal berikutnya yang saya lakukan setelah tiba di lokasi seminar. Tergantung desain ruangan, saya pilih barisan paling depan jika jarak tempat pembicara jauh ke depan. Tapi jika area pembicara mepet dengan peserta, saya pilih baris ketiga atau keempat. Bagi saya, mengikuti seminar tak cuma mendengarkan ucapan pembicara, tapi juga memperhatikan seluruh gerak-geriknya termasuk interaksinya dengan peserta.

4. Siapkan catatan, dan catat poin-poin penting dari materi yang disampaikan pembicara. Sejak punya digital voice recorder, saya juga merekam seluruh materi untuk didengarkan lagi di rumah.

5. Demi memusatkan perhatian pada materi, saya pastikan handphone masuk ke dalam tas dan dalam kondisi silent. Saya rasa ini juga bagian dari menghormati pembicara, sekaligus menghormati ilmu yang diberikan. Nggak live tweet? Lihat-lihat kondisi sih. Tapi paling-paling saya hanya mengambil foto, lalu mengunggahnya ke media sosial saat sesi istirahat.

6. Pastikan acara sudah benar-benar selesai, dan pembicara mengakhiri materinya, baru beranjak meninggalkan tempat duduk. Ini juga merupakan adab menghormati pembicara dan ilmu yang diberikan. Saya tak terlalu suka foto bersama, tapi wajib bagi saya untuk menyalami pembicara. Ya, menyampaikan ucapan terima kasih secara langsung atas materi yang diberikan, serta bertukar kontak.

Tapi pernah juga sih saya harus meninggalkan seminar saat belum selesai. Seperti pada Fun Blogging 9, saya sudah pamit ketika Teh Ani masih menyampaikan materi. Soalnya saya musti mengejar jadwal kereta yang tiketnya sudah terlebih dahulu dibeli. Kalau sampai ketinggalan, alamat saya tidak bisa pulang ke Pemalang. Hehehe...

Sesudah Seminar
Sepulang dari seminar, biasanya saya langsung menyampaikan ringkasan materi di Twitter. Foto-foto diunggah ke Facebook, sembari menge-tag teman-teman yang juga ikut seminar tersebut. Begitu dapat waktu lebih luang, giliran menuliskan rangkuman materi secara lebih panjang dan detil di blog, lengkap dengan foto-foto seminar.

Terakhir, sebisa mungkin saya abadikan acara seminar dalam bentuk video. Tapi ini tergantung seminarnya juga sih. Sebab ada beberapa seminar yang tidak membolehkan peserta merekam dan menyebar-luaskan materi.

Oke deh, itu dia beberapa hal yang biasanya saya lakukan sebelum, saat, serta sesudah mengikuti seminar. Semoga bermanfaat!

Sabtu, 09 Juli 2016


SATU tautan dibagikan oleh seorang teman Facebook saya di wall-nya. Saya biasanya abai dengan segala macam tautan di Facebook, paling banter sekedar melirik judulnya untuk menerka apa isinya. Jarang sekali sampai mengeklik, berkunjung. Tapi tautan satu ini langsung membuat saya menutup tab Facebook dan berselancar membaca habis isinya.

Judul tulisan yang dibuat Ifandi Khainur Rahim ini sukses menarik perhatian saya. Judul yang bagi saya mengarah pada kesimpulan, atau malah vonis? "Kenapa Agama Bikin Indonesia Gak Maju-maju," tulisnya. Abaikan penulisan "Maju-maju" itu, kita tidak akan membahas tentang EBI di sini. Saya lebih tertarik menanggapi isinya.

Agar bisa nyambung sebaiknya posting tersebut dibaca dulu ya. Tapi singkatnya Irfandi Khainur Rahim yang lebih suka dipanggil Evan ini menyimpulkan agama adalah pangkal masalah yang membuat Indonesia tidak maju. Tulisannya dibuka dengan Abad Kegelapan yang melanda Eropa akibat begitu kolotnya Gereja pada berbagai pemikiran masa itu. Misalnya penangkapan dan dihukumnya Galileo Galilei karena mendukung teori heliosentris Nicolaus Copernicus.

Kita sama tahu Galileo ditangkap dan dipenjara oleh Vatikan setelah menerbitkan buku Dialogo Sopra I Due Massimi Sistemi del Mondo pada tahun 1632. Buku ini membandingkan sistem heliosentris Copernicus dengan teori geosentris Ptolemy. Gereja Katolik masa itu mendukung teori geosentris karena berbagai ayat dalam Alkitab mengisyaratkan demikian.

Galileo tak cuma ditahan fisiknya, tapi juga pemikirannya. Semua karya tulisnya dilarang terbit oleh Vatikan, sedangkan yang sudah beredar tidak boleh digandakan. Berangus habis. Galileo sendiri mati di dalam tahanan.

Harap dicatat, Tahta Suci Vatikan pada masa itu adalah kekuasaan tertinggi yang diakui oleh kerajaan-kerajaan Eropa. Posisi dan kewenangan Paus berada di atas raja-raja Eropa. Begitu berkuasanya. Karenanya kalau Gereja bilang bumi itu datar karena di dalam Alkitab disebutkan demikian, jemaat harus mengimani. Menolak berarti hukuman. (Baca juga: Benarkah Bumi Ini Datar?)

Dan Galileo bukan satu-satunya "korban" sikap represif Gereja di era tersebut. Karenanya Evan mengambil kesimpulan keberadaan Gereja Katolik Roma menghalangi kemajuan bangsa Eropa.

Orangnya, Bukan Agamanya
Evan lalu meloncat ke Indonesia, membandingkan situasi di Indonesia yang "nggak maju-maju" dengan Eropa di Abad Pertengahan. Disebutnya bahwa yang membuat Indonesia terlihat primitif seperti sekarang adalah karena agama. Evan memang tidak menyebutnya secara eksplisit, tapi arahnya sih ke agama Islam yang notabene agama yang ia anut sejak lahir.

Sebagai contoh Evan menyebut fanatisme sempit beberapa kalangan Muslim. Ada yang melarang bergaul dengan orang Kristen, tidak boleh berteman dengan orang Cina karena kafir, tidak boleh mengucapkan selamat Natal, dan tindakan sewenang-wenang beberapa kalangan yang ia tahu merupakan orang-orang beragama.


Lebih konyol lagi ada yang menyebut makan di McDonald sama saja membantu Yahudi. Nonton film Hollywood haram karena merupakan kebudayaan Barat yang kafir. Yang lagi hangat sekarang adalah ribut-ribut larangan memilih Basuki Tjahaja Purnama di Pilkada DKI Jakarta tahun depan. Alasannya karena Ahok Kristen. Dan, memang, itu semua terjadi di masyarakat kita. Harus diakui ada sebagian Muslim yang berpikiran begitu.

Dari situ Evan lantas menyimpulkan bahwa agama merupakan penyebab Indonesia yang rasis, yang diskriminatif terhadap kaum minoritas. Karenanya jangan satukan agama dengan pemerintahan, dengan pendidikan. Pisahkan! Agama adalah ruang privat, urusan pribadi-pribadi dengan Tuhan. Evan bahkan terang-terangan menyerukan, "ayo jadi sekuler!"

Oke, Evan, Eropa memang kelihatan tambah maju sejak era Renaissance. Petualangan ke Dunia Ketiga dimulai, berbagai penemuan lahir, ilmuwan-ilmuwan bermunculan, pengetahuan berkembang. Eropa bergerak dari agraris menjadi industrialis dengan ditemukannya mesin uap. Dan, Eropa jadi lebih maju dari wilayah lain di dunia.

Satu hal yang lupa ditelaah Evan adalah, orang-orang beragama yang ia sebut di sini sama sekali tidak mewakili agama yang mereka anut. Pun bukan cerminan ajaran agama masing-masing. Gereja Vatikan memang kekuasaan tertinggi dalam struktur Katholik, tapi Paus dan seluruh penghuni Vatikan hanyalah pemeluk Katholik, bukan perwakilan Katholik sebagai agama.

Seorang Muslim juga bukan perwakilan Islam. Bahkan Nabi Muhammad pun tidak bisa disebut sebagai wakil Islam. Ini ajaran, paham, bukan organisasi. Konsekuensinya, kalau ada orang Katholik atau Muslim berbuat di luar nilai-nilai kemanusiaan, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan Katholik dan Islam.

Contoh lain yang mirip kurang-lebih begini. Saya etnis Jawa, tapi apakah saya perwakilan orang Jawa? Tentu tidak. Kalau ada satu orang Jawa berbuat jahat, bisakah kita sebut etnis Jawa itu jahat? Tidak bisa. Yang jahat saya, orangnya. Kebetulan saja saya beretnis Jawa. Kita pasti sepakat ada banyak orang jahat lain yang bukan berasal dari etnis Jawa.

Begitu juga dengan pemeluk Katholik dan pemeluk Islam. Kalau ada di antara mereka yang bertindak sewenang-wenang, rasis, diskriminatif, maka yang jahat adalah orangnya. Sebab agama Katholik mengajarkan kasih sayang pada sesama manusia, sedangkan Rasulullah Muhammad SAW diutus untuk memperbaiki akhlak manusia.

Jadi, kalimat Evan yang mengatakan "Orang-orang seperti ini terlalu fokus untuk beragama yang baik. Sampe lupa gimana caranya jadi manusia yang baik." saya rasa perlu dikoreksi. Kalau orang-orang itu sudah menjalankan agamanya dengan baik, maka ia akan jadi manusia yang baik. Orang-orang beragama yang belum menunjukkan dirinya sebagai manusia yang baik, berarti mereka belum memahami agamanya dan belum beragama dengan baik. Just that simple.


Maju, Berkembang, dan Tetap Agamis
So, benarkah agama yang membuat Indonesia tidak maju-maju? Benarkah agama yang membuat peradaban Eropa tidak berkembang sehingga sempat mengalami Abad Kegelapan? Tidak juga.

Ingat, penjelajahan pelaut-pelaut Eropa ke Dunia Ketiga, termasuk Indonesia, di bawah restu Gereja Vatikan. Beberapa sumber malah menyebut Gereja yang memerintahkan penjelajahan tersebut sebagai misi gospel, penyebaran agama. Ada pula yang mengatakan Gereja-lah yang membagi Spanyol harus ke mana, Portugal ke mana, Belanda ke sana, dan Inggris ke sini.

Yang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Abad Pertengahan adalah oknum-oknum Gereja. Oknum-oknum inilah yang memanfaatkan mesin cetak temuan Johannes Gutenberg untuk mencetak surat pengakuan dosa dan mengomersilkannya. Pada merekalah mustinya tudingan diacungkan, bukan Katholik-nya. Ini yang dilakukan Martin Luther dengan mengajukan 95 tuntutan. Beberapa di antaranya mempertanyakan kekuasaan tak terbatas Paus, serta dugaan terjadinya nepotisme dan korupsi di dalam Gereja.

Yang dituntut Martin Luther waktu itu adalah Paus dan pejabat-pejabat Gereja, bukan Katholik. Meski kemudian lahir Kristen Protestan, mereka hanya tak mengakui kekuasaan Paus dan Gereja Vatikan. Bukankah Martin Luther dan pengikutnya tetap mengimani Allah, Yesus, Bunda Maria, dan Roh Kudus?

Dalam sejarah Islam, kebudayaan dan pemikiran Muslim berkembang sangat baik di era kekhalifahan. Ilmuwan-ilmuwan Muslim lahir di masa Dinasti Ummayah dan Abbasyiah, lalu berlanjut hingga ke Kekhalifahan Utsmaniyah. Saat kekuasaan Islam menguasai Andalusia, misalnya, wilayah ini diubah jadi tempat paling maju dan paling berperadaban di daratan Eropa.

Apakah ilmuwan Muslim itu mengabaikan agama? Tidak. Ilmuwan seperti Al-Biruni menelaah ayat-ayat al-Qur'an tentang alam semesta untuk menulis karya-karyanya. Demikian pula Ibnu Sina yang tak melepaskan dirinya dari al-Qur'an saat menulis kitab-kitab kesehatan serta beberapa karya di bidang astronomi dan astrologi. Sebutkan nama lebih banyak, dan mereka lahir di era di mana kekuasaan Islam tengah berjaya. Di masa ajaran al-Qur'an ditegakkan!

Jangan tanya soal toleransi di masa itu. Sejak era Rasulullah etika berperang kaum Muslim sudah digariskan. Salah satu larangannya adalah merusak rumah ibadah. Garis bawahi ini, dilarang merusak rumah ibadah. Tidak disebut apakah itu gereja, sinagog, atau kuil pagan. Malah khalifah-khalifah Islam melindungi kaum Kristen, Yahudi, juga penganut paganisme yang berada di wilayah kekuasaannya.

Oya, ada seorang komposer terkenal era Turki Utsmani yang musiknya sampai kini masih dinikmati dan dibanggakan orang Turki. Namanya Dimitri Kantemiroglu, terlahir sebagai Dmitri Konstantinovich Kantemir. Tak cuma komposer, ia juga musisi, sejarahwan, ahli bahasa dan filosof. Dan, benar, Kantemiroglu seorang nonmuslim.


Maju ke jaman sekarang, Brunei Darussalam adalah satu contoh bagaimana sebuah negara maju yang bersendikan Islam. Atau setidak-tidaknya kita sebutlah negara sejahtera. Sultan Hassanah Bolkiah menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam pemerintahannya. Lalu sejak pertengahan 2014 syariat Islam diberlakukan sebagai hukum pidana di Brunei.

Jangan lupakan Malaysia, tetangga kita paling dekat. Negara ini merupakan sebuah federasi terdiri dari 10 Kesultanan Islam di Semenanjung Malaya dan Pulau Borneo, plus satu wilayah khusus federal. Berbeda dengan Indonesia yang sama-sama berwarga mayoritas Muslim, Islam adalah agama resmi di Malaysia. Padahal Muslim di negara ini hanya di kisaran angka 65%.

Soal penerapan hukum Islam, Indonesia bukan apa-apanya dibanding Malaysia. Di Negeri Jiran, etnis Melayu tidak boleh keluar dari Islam. Ini merupakan penerapan larangan murtad dalam Islam, dan pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban atas kemurtadan umatnya. Warung makan boleh buka di siang hari saat Ramadhan, tapi Muslim dilarang membeli makanan-minuman selama bulan puasa.

Cobalah melancong ke Malaysia saat bulan puasa, lalu mampir ke warung makan. Pelayan tak akan mau melayani kalau tahu kita Muslim, sebab penjara jadi hukumannya baik bagi si Muslim maupun pelayan yang melayani. Ini juga bentuk penerapan syariat Islam di mana pemimpin berkewajiban menjaga agar umatnya mematuhi perintah Allah.

Oya, kalau Indonesia baru saja selesai dengan soal seragam syar'i bagi tentara dan anggota polisi wanita, beberapa negara bagian di Malaysia sudah sejak lama mewajibkan nonmuslim mengenakan hijab di tempat umum lho. Catat, mewajibkan nonmuslim berhijab. Di sini, ada Perda larangan miras saja kita sudah ribut soal HAM.

Menariknya lagi, Evan mengatakan Indonesia adalah satu-satunya negara yang memiliki Kementerian Agama. Saya ingat ada satu orang lagi yang pernah mengatakan demikian pada saya. Tapi hanya karena banyak yang mengatakan negara lain tak punya Kementerian Agama, bukan berarti itu fakta. Yang benar adalah, tak banyak negara di dunia yang memiliki Kementerian Agama.

Malaysia punya Jabatan Kemajuan Islam (Jakim) yang dalam bahasa Inggris namanya Department of Islamic Development, pejabatnya setara menteri. Aljazair, Bangladesh, Myanmar, Pakistan, dan Tunisia punya Kementerian Agama yang nama resminya dalam bahasa Inggris adalah Ministry of Religious Affairs.

Di Eropa yang terkenal liberal dan sekular pun ada beberapa jabatan Menteri Agama. Contohnya Prancis yang punya Minister of Worship atau Minister of Public Worship. Di Serbia ada Minister of Religion, di Yunani ada Minister of Education and Religious Affairs. Israel tak mau ketinggalan. Di negara Yahudi ini ada Ministry of Religious Services of Israel atau dalam bahasa Ibrani bernama HaMisrad leSherutay Dat (המשרד לשירותי דת‎‎). Nama menterinya saat ini Chaim Yosef David Azulai.

Ah, rasanya sudah terlalu panjang saya berpendapat dan menuliskan rangkuman fakta. Tujuannya hanya satu, sekedar pengingat supaya janganlah kita gampang mendiskreditkan Islam (atau agama apapun) hanya karena eneg dengan ulah segelintir pemeluknya. Indonesia tidak maju-maju bukan karena agama, tapi karena kita lupa menerapkannya dengan baik.


SATU tautan dibagikan oleh seorang teman Facebook saya di wall-nya. Saya biasanya abai dengan segala macam tautan di Facebook, paling banter sekedar melirik judulnya untuk menerka apa isinya. Jarang sekali sampai mengeklik, berkunjung. Tapi tautan satu ini langsung membuat saya menutup tab Facebook dan berselancar membaca habis isinya.

Judul tulisan yang dibuat Ifandi Khainur Rahim ini sukses menarik perhatian saya. Judul yang bagi saya mengarah pada kesimpulan, atau malah vonis? "Kenapa Agama Bikin Indonesia Gak Maju-maju," tulisnya. Abaikan penulisan "Maju-maju" itu, kita tidak akan membahas tentang EBI di sini. Saya lebih tertarik menanggapi isinya.

Agar bisa nyambung sebaiknya posting tersebut dibaca dulu ya. Tapi singkatnya Irfandi Khainur Rahim yang lebih suka dipanggil Evan ini menyimpulkan agama adalah pangkal masalah yang membuat Indonesia tidak maju. Tulisannya dibuka dengan Abad Kegelapan yang melanda Eropa akibat begitu kolotnya Gereja pada berbagai pemikiran masa itu. Misalnya penangkapan dan dihukumnya Galileo Galilei karena mendukung teori heliosentris Nicolaus Copernicus.

Kita sama tahu Galileo ditangkap dan dipenjara oleh Vatikan setelah menerbitkan buku Dialogo Sopra I Due Massimi Sistemi del Mondo pada tahun 1632. Buku ini membandingkan sistem heliosentris Copernicus dengan teori geosentris Ptolemy. Gereja Katolik masa itu mendukung teori geosentris karena berbagai ayat dalam Alkitab mengisyaratkan demikian.

Galileo tak cuma ditahan fisiknya, tapi juga pemikirannya. Semua karya tulisnya dilarang terbit oleh Vatikan, sedangkan yang sudah beredar tidak boleh digandakan. Berangus habis. Galileo sendiri mati di dalam tahanan.

Harap dicatat, Tahta Suci Vatikan pada masa itu adalah kekuasaan tertinggi yang diakui oleh kerajaan-kerajaan Eropa. Posisi dan kewenangan Paus berada di atas raja-raja Eropa. Begitu berkuasanya. Karenanya kalau Gereja bilang bumi itu datar karena di dalam Alkitab disebutkan demikian, jemaat harus mengimani. Menolak berarti hukuman. (Baca juga: Benarkah Bumi Ini Datar?)

Dan Galileo bukan satu-satunya "korban" sikap represif Gereja di era tersebut. Karenanya Evan mengambil kesimpulan keberadaan Gereja Katolik Roma menghalangi kemajuan bangsa Eropa.

Orangnya, Bukan Agamanya
Evan lalu meloncat ke Indonesia, membandingkan situasi di Indonesia yang "nggak maju-maju" dengan Eropa di Abad Pertengahan. Disebutnya bahwa yang membuat Indonesia terlihat primitif seperti sekarang adalah karena agama. Evan memang tidak menyebutnya secara eksplisit, tapi arahnya sih ke agama Islam yang notabene agama yang ia anut sejak lahir.

Sebagai contoh Evan menyebut fanatisme sempit beberapa kalangan Muslim. Ada yang melarang bergaul dengan orang Kristen, tidak boleh berteman dengan orang Cina karena kafir, tidak boleh mengucapkan selamat Natal, dan tindakan sewenang-wenang beberapa kalangan yang ia tahu merupakan orang-orang beragama.


Lebih konyol lagi ada yang menyebut makan di McDonald sama saja membantu Yahudi. Nonton film Hollywood haram karena merupakan kebudayaan Barat yang kafir. Yang lagi hangat sekarang adalah ribut-ribut larangan memilih Basuki Tjahaja Purnama di Pilkada DKI Jakarta tahun depan. Alasannya karena Ahok Kristen. Dan, memang, itu semua terjadi di masyarakat kita. Harus diakui ada sebagian Muslim yang berpikiran begitu.

Dari situ Evan lantas menyimpulkan bahwa agama merupakan penyebab Indonesia yang rasis, yang diskriminatif terhadap kaum minoritas. Karenanya jangan satukan agama dengan pemerintahan, dengan pendidikan. Pisahkan! Agama adalah ruang privat, urusan pribadi-pribadi dengan Tuhan. Evan bahkan terang-terangan menyerukan, "ayo jadi sekuler!"

Oke, Evan, Eropa memang kelihatan tambah maju sejak era Renaissance. Petualangan ke Dunia Ketiga dimulai, berbagai penemuan lahir, ilmuwan-ilmuwan bermunculan, pengetahuan berkembang. Eropa bergerak dari agraris menjadi industrialis dengan ditemukannya mesin uap. Dan, Eropa jadi lebih maju dari wilayah lain di dunia.

Satu hal yang lupa ditelaah Evan adalah, orang-orang beragama yang ia sebut di sini sama sekali tidak mewakili agama yang mereka anut. Pun bukan cerminan ajaran agama masing-masing. Gereja Vatikan memang kekuasaan tertinggi dalam struktur Katholik, tapi Paus dan seluruh penghuni Vatikan hanyalah pemeluk Katholik, bukan perwakilan Katholik sebagai agama.

Seorang Muslim juga bukan perwakilan Islam. Bahkan Nabi Muhammad pun tidak bisa disebut sebagai wakil Islam. Ini ajaran, paham, bukan organisasi. Konsekuensinya, kalau ada orang Katholik atau Muslim berbuat di luar nilai-nilai kemanusiaan, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan Katholik dan Islam.

Contoh lain yang mirip kurang-lebih begini. Saya etnis Jawa, tapi apakah saya perwakilan orang Jawa? Tentu tidak. Kalau ada satu orang Jawa berbuat jahat, bisakah kita sebut etnis Jawa itu jahat? Tidak bisa. Yang jahat saya, orangnya. Kebetulan saja saya beretnis Jawa. Kita pasti sepakat ada banyak orang jahat lain yang bukan berasal dari etnis Jawa.

Begitu juga dengan pemeluk Katholik dan pemeluk Islam. Kalau ada di antara mereka yang bertindak sewenang-wenang, rasis, diskriminatif, maka yang jahat adalah orangnya. Sebab agama Katholik mengajarkan kasih sayang pada sesama manusia, sedangkan Rasulullah Muhammad SAW diutus untuk memperbaiki akhlak manusia.

Jadi, kalimat Evan yang mengatakan "Orang-orang seperti ini terlalu fokus untuk beragama yang baik. Sampe lupa gimana caranya jadi manusia yang baik." saya rasa perlu dikoreksi. Kalau orang-orang itu sudah menjalankan agamanya dengan baik, maka ia akan jadi manusia yang baik. Orang-orang beragama yang belum menunjukkan dirinya sebagai manusia yang baik, berarti mereka belum memahami agamanya dan belum beragama dengan baik. Just that simple.


Maju, Berkembang, dan Tetap Agamis
So, benarkah agama yang membuat Indonesia tidak maju-maju? Benarkah agama yang membuat peradaban Eropa tidak berkembang sehingga sempat mengalami Abad Kegelapan? Tidak juga.

Ingat, penjelajahan pelaut-pelaut Eropa ke Dunia Ketiga, termasuk Indonesia, di bawah restu Gereja Vatikan. Beberapa sumber malah menyebut Gereja yang memerintahkan penjelajahan tersebut sebagai misi gospel, penyebaran agama. Ada pula yang mengatakan Gereja-lah yang membagi Spanyol harus ke mana, Portugal ke mana, Belanda ke sana, dan Inggris ke sini.

Yang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Abad Pertengahan adalah oknum-oknum Gereja. Oknum-oknum inilah yang memanfaatkan mesin cetak temuan Johannes Gutenberg untuk mencetak surat pengakuan dosa dan mengomersilkannya. Pada merekalah mustinya tudingan diacungkan, bukan Katholik-nya. Ini yang dilakukan Martin Luther dengan mengajukan 95 tuntutan. Beberapa di antaranya mempertanyakan kekuasaan tak terbatas Paus, serta dugaan terjadinya nepotisme dan korupsi di dalam Gereja.

Yang dituntut Martin Luther waktu itu adalah Paus dan pejabat-pejabat Gereja, bukan Katholik. Meski kemudian lahir Kristen Protestan, mereka hanya tak mengakui kekuasaan Paus dan Gereja Vatikan. Bukankah Martin Luther dan pengikutnya tetap mengimani Allah, Yesus, Bunda Maria, dan Roh Kudus?

Dalam sejarah Islam, kebudayaan dan pemikiran Muslim berkembang sangat baik di era kekhalifahan. Ilmuwan-ilmuwan Muslim lahir di masa Dinasti Ummayah dan Abbasyiah, lalu berlanjut hingga ke Kekhalifahan Utsmaniyah. Saat kekuasaan Islam menguasai Andalusia, misalnya, wilayah ini diubah jadi tempat paling maju dan paling berperadaban di daratan Eropa.

Apakah ilmuwan Muslim itu mengabaikan agama? Tidak. Ilmuwan seperti Al-Biruni menelaah ayat-ayat al-Qur'an tentang alam semesta untuk menulis karya-karyanya. Demikian pula Ibnu Sina yang tak melepaskan dirinya dari al-Qur'an saat menulis kitab-kitab kesehatan serta beberapa karya di bidang astronomi dan astrologi. Sebutkan nama lebih banyak, dan mereka lahir di era di mana kekuasaan Islam tengah berjaya. Di masa ajaran al-Qur'an ditegakkan!

Jangan tanya soal toleransi di masa itu. Sejak era Rasulullah etika berperang kaum Muslim sudah digariskan. Salah satu larangannya adalah merusak rumah ibadah. Garis bawahi ini, dilarang merusak rumah ibadah. Tidak disebut apakah itu gereja, sinagog, atau kuil pagan. Malah khalifah-khalifah Islam melindungi kaum Kristen, Yahudi, juga penganut paganisme yang berada di wilayah kekuasaannya.

Oya, ada seorang komposer terkenal era Turki Utsmani yang musiknya sampai kini masih dinikmati dan dibanggakan orang Turki. Namanya Dimitri Kantemiroglu, terlahir sebagai Dmitri Konstantinovich Kantemir. Tak cuma komposer, ia juga musisi, sejarahwan, ahli bahasa dan filosof. Dan, benar, Kantemiroglu seorang nonmuslim.


Maju ke jaman sekarang, Brunei Darussalam adalah satu contoh bagaimana sebuah negara maju yang bersendikan Islam. Atau setidak-tidaknya kita sebutlah negara sejahtera. Sultan Hassanah Bolkiah menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam pemerintahannya. Lalu sejak pertengahan 2014 syariat Islam diberlakukan sebagai hukum pidana di Brunei.

Jangan lupakan Malaysia, tetangga kita paling dekat. Negara ini merupakan sebuah federasi terdiri dari 10 Kesultanan Islam di Semenanjung Malaya dan Pulau Borneo, plus satu wilayah khusus federal. Berbeda dengan Indonesia yang sama-sama berwarga mayoritas Muslim, Islam adalah agama resmi di Malaysia. Padahal Muslim di negara ini hanya di kisaran angka 65%.

Soal penerapan hukum Islam, Indonesia bukan apa-apanya dibanding Malaysia. Di Negeri Jiran, etnis Melayu tidak boleh keluar dari Islam. Ini merupakan penerapan larangan murtad dalam Islam, dan pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban atas kemurtadan umatnya. Warung makan boleh buka di siang hari saat Ramadhan, tapi Muslim dilarang membeli makanan-minuman selama bulan puasa.

Cobalah melancong ke Malaysia saat bulan puasa, lalu mampir ke warung makan. Pelayan tak akan mau melayani kalau tahu kita Muslim, sebab penjara jadi hukumannya baik bagi si Muslim maupun pelayan yang melayani. Ini juga bentuk penerapan syariat Islam di mana pemimpin berkewajiban menjaga agar umatnya mematuhi perintah Allah.

Oya, kalau Indonesia baru saja selesai dengan soal seragam syar'i bagi tentara dan anggota polisi wanita, beberapa negara bagian di Malaysia sudah sejak lama mewajibkan nonmuslim mengenakan hijab di tempat umum lho. Catat, mewajibkan nonmuslim berhijab. Di sini, ada Perda larangan miras saja kita sudah ribut soal HAM.

Menariknya lagi, Evan mengatakan Indonesia adalah satu-satunya negara yang memiliki Kementerian Agama. Saya ingat ada satu orang lagi yang pernah mengatakan demikian pada saya. Tapi hanya karena banyak yang mengatakan negara lain tak punya Kementerian Agama, bukan berarti itu fakta. Yang benar adalah, tak banyak negara di dunia yang memiliki Kementerian Agama.

Malaysia punya Jabatan Kemajuan Islam (Jakim) yang dalam bahasa Inggris namanya Department of Islamic Development, pejabatnya setara menteri. Aljazair, Bangladesh, Myanmar, Pakistan, dan Tunisia punya Kementerian Agama yang nama resminya dalam bahasa Inggris adalah Ministry of Religious Affairs.

Di Eropa yang terkenal liberal dan sekular pun ada beberapa jabatan Menteri Agama. Contohnya Prancis yang punya Minister of Worship atau Minister of Public Worship. Di Serbia ada Minister of Religion, di Yunani ada Minister of Education and Religious Affairs. Israel tak mau ketinggalan. Di negara Yahudi ini ada Ministry of Religious Services of Israel atau dalam bahasa Ibrani bernama HaMisrad leSherutay Dat (המשרד לשירותי דת‎‎). Nama menterinya saat ini Chaim Yosef David Azulai.

Ah, rasanya sudah terlalu panjang saya berpendapat dan menuliskan rangkuman fakta. Tujuannya hanya satu, sekedar pengingat supaya janganlah kita gampang mendiskreditkan Islam (atau agama apapun) hanya karena eneg dengan ulah segelintir pemeluknya. Indonesia tidak maju-maju bukan karena agama, tapi karena kita lupa menerapkannya dengan baik.

Rabu, 06 Juli 2016


JELANG lebaran timeline Facebook saya dipenuhi dengan status tentang Bumi datar, flat earth. Mulai dari status serius, sampai yang bernada guyon, "Enakan mana, tahu bulat apa tahu datar?" Ada juga yang membagikan video-video dari kanal Flat Earth 101 di YouTube. Jadi penasaran, benarkah Bumi ini datar?

Selama ini kita diajarkan bahwa Bumi berbentuk bulat, kurang-lebih seperti bola. Kepercayaan ini sudah ada sejak setidaknya 500 tahun terakhir, diawali dari teori heliosentris yang dikemukakan Nicolaus Copernicus. Kemudian diikuti oleh Galileo Galilei dan Johannes Kepler. Sebelum itu, manusia percaya bahwa Bumi adalah pusat alam semesta (geosentris) dan bentuknya datar. Ya, Bumi berbentuk datar adalah kepercayaan awal manusia.

Gerakan Bumi datar, atau flat earth movement dalam bahas Inggris, sebenarnya bukan barang baru. Keraguan akan bentuk Bumi bulat yang ditanamkan oleh sains modern sudah didengungkan sejak awal abad ke-19. Penulis Inggris Samuel Rowbotham (1816-1884) disebut-sebut sebagai pencetus awal teori Bumi datar di era modern.

Rowbotham menulis sebuah selebaran setebal 16 halaman yang diberi judul Zetetic Astronomy untuk menyebarkan pandangannya. Ia kemudian menerbitkan buku setebal 430 halaman berjudul Earth Not A Globe, Bumi Tidak Bulat. Dalam buku ini Rowbotham menyatakan bahwa Bumi berbentuk seperti piringan, dengan kutub utara sebagai pusat Bumi dan dinding es Antartika sebagai tembok Bumi. Lalu di bagian atas Bumi ada sebuah kubah di mana Matahari, Bulan, serta benda-benda langit lainnya berputar mengelilingi Bumi.

Dalam buku tersebut Rowbotham menyebut Bulan dan Matahari terletak 4.800 km di atas Bumi, dan kosmos (bintang-bintang serta benda lain bergerak lainnya) berjarak 200 km lebih jauh. Ini jauh lebih dekat dari yang diajarkan astronomi masa kini, di mana konon jarak Matahari ke Bumi sejauh 149,6 juta km dan Bulan ke Bumi berjarak antara 147-152 juta km.

Menurut kepercayaan Rowbotham, Bulan dan Matahari beserta seluruh kosmos berpendar mengelilingi Bumi di bawah sebuah kubah Bumi yang oleh Alkitab disebut sebagai firmament. Masih menurut Alkitab, firmament adalah lapisan solid yang berfungsi memisahkan dunia manusia dengan surga yang menjadi Kerajaan Allah. Di atas firmament ada air atau lautan, karena itulah langit berwarna biru.

Keterkaitan antara teori Bumi datar dengan Alkitab ditegaskan Rowbotham dalam sebuah leaflet berjudul The Inconsistency of Modern Astronomy and Its Opposition To The Scriptures!! yang diterbitkannya belakangan. Dalam leaflet itu ia berpendapat, "Alkitab, bersama-sama dengan indra kita, mendukung ide bahwa Bumi berbentuk datar dan tidak bergerak, dan inilah kebenaran sejati yang tidak bisa disingkirkan oleh sebuah sistem yang semata-mata berdasarkan pada dugaan manusia."

Paham Bumi datar terus memiliki pengusung hingga ke abad 20. Tahun 1956, seorang flatter asal Inggris bernama Samuel Shenton mendirikan International Flat Earth Research Society (IFERS), organisasi komunitas flat earth pertama di dunia. Sepeninggal Samuel Shenton ada Charles K. Johnson yang memindahkan pusat IFERS ke Lancaster, California.

Kematian Johnson pada tahun 2001 sempat membuat kalangan Bumi datar kehilangan sosok berpengaruh, sampai kemunculan seorang pria yang mengaku bernama Daniel Shenton tiga tahun berselang. Di YouTube, ada nama Eric Dubay yang secara konsisten mengunggah video-video mengenai teori Bumi datar.


Bumi Datar dalam Kitab Suci
Komunitas penganut teori Bumi datar memang menyandarkan kepercayaan mereka pada kitab-kitab suci. Flatter dari kalangan Kristen dan Katolik, misalnya, menemukan beberapa ayat dalam Alkitab yang menyebutkan tentang firmament, serta Bumi yang tidak bisa bergerak melainkan Bulan dan Matahari.

Ambil contoh kisah Joshua yang meminta Allah untuk menghentikan Matahari dan Bulan. Saat itu Joshua tengah memimpin pasukan Bani Israel berperang melawan tentara Amorites di Kanaan, Palestina-Israel masa kini. Dalam perang tersebut Joshua memohon pada Allah untuk menghentikan Matahari dan Bulan, sehingga siang berjalan lebih lama dan Bani Israel dapat mengalahkan Amorites.

Kisah ini menyiratkan bahwa Matahari dan Bulan-lah yang mengelilingi Bumi, bukan sebaliknya. Sebab, jika memang benar Bumi mengelilingi Matahari sehingga terjadi siang dan malam, mengapa tidak Bumi-nya saja yang dminta berhenti berputar? Oh, mungkin karena Joshua belum tahu kalau Bumi mengelilingi Matahari. Bisa jadi, tapi bukankah Allah Maha Tahu?

Mengenai firmament, istilah ini merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani raqia, atau raqiya` (רקיע), yang terdapat dalam Taurat (Perjanjian Lama). Akar kata ini adalah raqa (רקע), berarti "memukul atau menyebarkan keluar" seperti halnya pembuatan senjata tajam yang dibuat dengan cara memukul besi panas menjadi tipis dan kuat. Jadi, firmament adalah selubung tipis nan kuat.

Dalam kepercayaan Israel Kuno, alam semesta terdiri dari Bumi (eres) yang berbentuk datar dan mengambang di air, dengan surga (shamayim) di atas langit manusia, dan alam lain (sheol) terletak di bawah Bumi. Kaum Yahudi masa itu juga percaya bahwa langit adalah sebuah kubah dari bahan solid di mana Matahari, Bulan dan bintang-bintang tergantung.

Berikut gambaran kosmologi dalam kepercayaan orang Israel Kuno. Mereka yakin Yerusalem terletak persis di tengah-tengah Bumi, pusat dunia.


Bagaimana dengan al-Qur'an? Ada beberapa ayat yang menyiratkan Bumi berbentuk datar, yakni frasa "Bumi dihamparkan" yang dalam terjemahan bahasa Inggris diberi tambahan keterangan "like a carpet," seperti karpet. Karpet yang dihamparkan bentuknya datar, tidak bulat. Namun kita tidak menemukan tambahan keterangan seperti itu dalam al-Qur'an terjemahan bahasa Indonesia.

Demikian pula soal Matahari dan Bulan mengelilingi Bumi. Contohnya Surat Yasin ayat 38, yang artinya, "Matahari berjalan di tempat peredarannya, demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." Di ayat-ayat berikutnya dijelaskan lagi tentang garis edar Matahari dan Bulan.

Lalu dalam Surat al-Anbiyaa' ayat 23 dikatakan, "Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, Matahari dan Bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." Pertanyaannya, Matahari beredar mengelilingi apa? Mengelilingi Bumi seperti halnya Bulan, atau mengelilingi bintang Vega dalam Galaksi Bima Sakti seperti diajarkan sains modern?

Kutipan pendapat cendekiawan Muslim Ibnu Sina soal tujuh lapis langit, di mana lapisan kedelapan berupa lapisan solid tempat bintang-bintang dan benda langit lainnya berada, jadi salah satu pendukung argumen kalangan flatter. Soal tujuh lapis langit ini disebutkan pula dalam beberapa ayat al-Qur'an.

Selain ketiga agama samawi di atas, kepercayaan bahwa Bumi berbentuk datar dengan langit berupa kubah (dome) dianut agama-agama besar lain. Termasuk di antaranya kepercayaan Taoisme, yang menggambarkan alam semesta sebagai sebuah keseimbangan Yin dan Yang. Logo Taoisme, menurut video-video komunitas flat earth, adalah gambaran bentuk Bumi datar dengan Matahari dan Bulan yang menyebabkan terjadinya siang dan malam.

Sebuah peta Bumi berusia ribuan tahun pernah diketemukan di satu kuil Buddha di Jepang. Dalam peta kuno itu Bumi digambarkan berbentuk datar, bundar, dengan kutub utara sebagai pusat Bumi, dan dinding es mengelilingi sebagai pembatas. Hal sama dapat ditemui dalam kepercayaan Hindu, di mana tradisi Hindu, Buddha, dan Jain mempercayai Gunung Mahameru sebagai pusat Bumi.

Sekali lagi, kepercayaan bahwa Bumi berbentuk datar sudah dianut manusia sejak dahulu kala. Sampai kemudian sains modern mengubah pendapat ini melalui serangkaian pembuktian ilmiah.


Teori Tak Terbukti
Kalangan flat earth pun punya sederet argumen yang tak hanya bersandarkan pada agama dan kitab suci. Sejak abad ke-19 berbagai percobaan untuk menguji kebenaran teori Bumi bulat sudah dilakukan. Satu yang paling terkenal adalah Eksperimen Sungai Bedford yang dilakukan di Norfolk, Inggris, pada tahun 1838.

Dalam percobaan ini sebuah perahu dilajukan menyusuri Sungai Bedford yang bentuknya lurus sepanjang 9,7 km. Menurut teori, jika benar Bumi berbentuk bulat, maka saat perahu mencapai ujung sungai semua benda setinggi kurang dari 4 km di tempat perahu berangkat tak akan terlihat. Sekalipun menggunakan teleskop. Ini karena lengkungan Bumi "menyembunyikan" benda-benda tersebut dari pandangan.

Hasilnya tidak begitu. Orang di dalam perahu masih dapat menyaksikan semua benda di tempat keberangkatan. Ini dipercaya sebagai bukti bahwa Bumi tidaklah berbentuk bulat, melainkan lurus mendatar.

Percobaan berbeda dengan tujuan sama dapat dilakukan dengan cara naik ke dataran tertinggi di satu tempat, lalu layangkan pandangan ke sekeliling. Terlihat bahwa horizon tetap berbentuk lurus, tidak melengkung. Demikian pula horizon lautan yang berbentuk lurus. Jika benar Bumi bulat, maka seharusnya terlihat lengkungan di sana.

Selama ini contoh paling mudah yang biasa dipakai untuk menjelaskan bahwa Bumi bulat adalah horizon laut. Siswa Sekolah Dasar dijelaskan, kapal yang berlayar ke laut semakin lama semakin menghilang disebabkan oleh lengkungan Bumi. Untuk membantah ini, komunitas flat earth naik ke bukit tinggi di tepi laut, lalu mengamati horizon menggunakan teleskop. Hasilnya, semua benda yang awalnya tak tampak oleh mata telanjang dapat terlihat jelas. Hal ini tak mungkin terjadi jika Bumi bulat.

Menurut flatter, penyebab hal tersebut adalah keterbatasan jarak pandang mata manusia. Sama seperti kita menyaksikan sebuah rel panjang yang lurus, akan ada satu titik di mana bagian rel tak terlihat. Ini soal perspektif, bukan lengkungan bumi.

Flatter juga punya argumen yang didasarkan pada sumber-sumber kredibel. Soal peta dunia dalam globe, beberapa referensi terpercaya menyebut pembuatannya didasarkan pada peta Bumi datar. New Standar Map of the World, contohnya, masih disimpan dengan baik oleh Boston Public Library. Peta inilah yang dijadikan patokan pembuatan tiruan bola Bumi.

Bagaimana dengan Galileo, yang dalam sekolah-sekolah dikatakan membuktikan teori heliosentris Copernicus? Flatter punya pendapat sendiri soal ini. Menurut mereka, Galileo diminta Gereja untuk membuktikan teori tersebut. Galileo menyampaikan konsep stellar parallax sebagai pembuktian, namun dinilai gagal. Observasi menunjukkan tidak ada stellar parallax.



Galileo tidak terima dan menerbitkan buku berjudul Dialogo Sopra i Due Massimi Sistemi del Mondo (Dialogue Concerning the Two Chief World Systems) pada 1632. Isinya membandingkan sistem kosmos versi Ptolemy yang beraliran geosentris dengan sistem kosmos Copernicus yang berpaham heliosentris. Buku ini dilarang Gereja, Galileo ditangkap dan dipenjara.

Sejak itulah teori heliosentris diajarkan di sekolah-sekolah, sekalipun belum ada yang dapat membuktikannya. Masih menurut pendapat flatter, bahkan NASA dan Harvard University yang didukung perangkat teleskop canggih tak dapat membuktikan stellar parallax-nya Galileo. Yang ada malah negative parallax, sesuatu yang hanya mungkin terjadi jika bintang-bintang mengitari Bumi.

Konspirasi NASA
Terkait NASA, flatter beranggapan badan antariksa milik pemerintah Amerika Serikat ini dibentuk untuk menguatkan paham heliosentris yang belum terbukti. Serangkaian penjelajahan luar angkasa dimulai dari mendaratkan manusia di Bulan, teleskop Hubble, eksplorasi Planet Mars, penemuan planet-planet baru serupa Bumi, disebut hanya rekayasa belaka.

Soal pendaratan manusia di Bulan, misalnya, sampai sekarang pun banyak yang meragukan kebenarannya. Termasuk di luar penganut paham flat earth. Jangankan mengirim manusia sampai ke Bulan, melewati Sabuk Van Hallen saja belum bisa dilakukan sampai kini. Terlebih tiga astronot yang sukses sampai ke Bulan terlihat sangat tertekan saat menjalani konferensi pers sepulangnya ke Bumi.

Coba saksikan serial video NASA Astronauts Going Crazy!! di YouTube. Di sana terlihat astronot-astronot yang dikatakan pernah mendarat di Bulan menolak menanggapi pertanyaan seputar misi mereka. Kalaupun ada yang mau bercerita panjang-lebar, kebanyakan dari mereka menolak saat diminta bersumpah di atas Bible bahwa cerita mereka benar.

Lalu bagaimana dengan foto-foto luar angkasa itu? Flatter menyebut semua foto-foto keluaran NASA adalah hasil rekayasa, demikian pula video-videonya. Banyak video di YouTube yang menunjukkan bagaimana foto-foto dan video luar angkasa yang dirilis NASA merupakan rekayasa komputer. Mulai dari kejanggalan kasar yang terlihat mata telanjang, sampai yang baru tampak setelah dilihat menggunakan program pengolah gambar dan video.



Untuk apa NASA melakukan pemalsuan dokumentasi? Untuk menutupi fakta sebenarnya soal Bumi dan alam semesta, sekaligus menutupi kebohongan soal pendaratan manusia ke Bulan. Manusia tidak mungkin pergi terlalu jauh ke luar angkasa karena langit merupakan lapisan solid yang tak mampu ditembus oleh apapun. Demikian ujar flatter.

Yang menarik, nisan eks direktur pertama NASA Wernher von Braun hanya bertuliskan namanya, tahun lahir dan tahun meninggal, serta tulisan Psalms 19:1. Tulisan terakhir adalah nama ayat Bible, yang dalam Bible bahasa Indonesia bernama Mazmur. Jadi, Psalms 19:1 adalah surat Mazmur ayat 19 pasal 1.

Apa bunyinya?

Dalam Bible versi American Standard, Psalms 19:1 berbunyi, "{To the chief Musician. A Psalm of David.} The heavens declare the glory of God; And the firmament showeth his handiwork." Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi, "Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya."

Apakah diam-diam Von Braun percaya tentang keberadaan firmament? Wallahu a'lam bishshawwab...


JELANG lebaran timeline Facebook saya dipenuhi dengan status tentang Bumi datar, flat earth. Mulai dari status serius, sampai yang bernada guyon, "Enakan mana, tahu bulat apa tahu datar?" Ada juga yang membagikan video-video dari kanal Flat Earth 101 di YouTube. Jadi penasaran, benarkah Bumi ini datar?

Selama ini kita diajarkan bahwa Bumi berbentuk bulat, kurang-lebih seperti bola. Kepercayaan ini sudah ada sejak setidaknya 500 tahun terakhir, diawali dari teori heliosentris yang dikemukakan Nicolaus Copernicus. Kemudian diikuti oleh Galileo Galilei dan Johannes Kepler. Sebelum itu, manusia percaya bahwa Bumi adalah pusat alam semesta (geosentris) dan bentuknya datar. Ya, Bumi berbentuk datar adalah kepercayaan awal manusia.

Gerakan Bumi datar, atau flat earth movement dalam bahas Inggris, sebenarnya bukan barang baru. Keraguan akan bentuk Bumi bulat yang ditanamkan oleh sains modern sudah didengungkan sejak awal abad ke-19. Penulis Inggris Samuel Rowbotham (1816-1884) disebut-sebut sebagai pencetus awal teori Bumi datar di era modern.

Rowbotham menulis sebuah selebaran setebal 16 halaman yang diberi judul Zetetic Astronomy untuk menyebarkan pandangannya. Ia kemudian menerbitkan buku setebal 430 halaman berjudul Earth Not A Globe, Bumi Tidak Bulat. Dalam buku ini Rowbotham menyatakan bahwa Bumi berbentuk seperti piringan, dengan kutub utara sebagai pusat Bumi dan dinding es Antartika sebagai tembok Bumi. Lalu di bagian atas Bumi ada sebuah kubah di mana Matahari, Bulan, serta benda-benda langit lainnya berputar mengelilingi Bumi.

Dalam buku tersebut Rowbotham menyebut Bulan dan Matahari terletak 4.800 km di atas Bumi, dan kosmos (bintang-bintang serta benda lain bergerak lainnya) berjarak 200 km lebih jauh. Ini jauh lebih dekat dari yang diajarkan astronomi masa kini, di mana konon jarak Matahari ke Bumi sejauh 149,6 juta km dan Bulan ke Bumi berjarak antara 147-152 juta km.

Menurut kepercayaan Rowbotham, Bulan dan Matahari beserta seluruh kosmos berpendar mengelilingi Bumi di bawah sebuah kubah Bumi yang oleh Alkitab disebut sebagai firmament. Masih menurut Alkitab, firmament adalah lapisan solid yang berfungsi memisahkan dunia manusia dengan surga yang menjadi Kerajaan Allah. Di atas firmament ada air atau lautan, karena itulah langit berwarna biru.

Keterkaitan antara teori Bumi datar dengan Alkitab ditegaskan Rowbotham dalam sebuah leaflet berjudul The Inconsistency of Modern Astronomy and Its Opposition To The Scriptures!! yang diterbitkannya belakangan. Dalam leaflet itu ia berpendapat, "Alkitab, bersama-sama dengan indra kita, mendukung ide bahwa Bumi berbentuk datar dan tidak bergerak, dan inilah kebenaran sejati yang tidak bisa disingkirkan oleh sebuah sistem yang semata-mata berdasarkan pada dugaan manusia."

Paham Bumi datar terus memiliki pengusung hingga ke abad 20. Tahun 1956, seorang flatter asal Inggris bernama Samuel Shenton mendirikan International Flat Earth Research Society (IFERS), organisasi komunitas flat earth pertama di dunia. Sepeninggal Samuel Shenton ada Charles K. Johnson yang memindahkan pusat IFERS ke Lancaster, California.

Kematian Johnson pada tahun 2001 sempat membuat kalangan Bumi datar kehilangan sosok berpengaruh, sampai kemunculan seorang pria yang mengaku bernama Daniel Shenton tiga tahun berselang. Di YouTube, ada nama Eric Dubay yang secara konsisten mengunggah video-video mengenai teori Bumi datar.


Bumi Datar dalam Kitab Suci
Komunitas penganut teori Bumi datar memang menyandarkan kepercayaan mereka pada kitab-kitab suci. Flatter dari kalangan Kristen dan Katolik, misalnya, menemukan beberapa ayat dalam Alkitab yang menyebutkan tentang firmament, serta Bumi yang tidak bisa bergerak melainkan Bulan dan Matahari.

Ambil contoh kisah Joshua yang meminta Allah untuk menghentikan Matahari dan Bulan. Saat itu Joshua tengah memimpin pasukan Bani Israel berperang melawan tentara Amorites di Kanaan, Palestina-Israel masa kini. Dalam perang tersebut Joshua memohon pada Allah untuk menghentikan Matahari dan Bulan, sehingga siang berjalan lebih lama dan Bani Israel dapat mengalahkan Amorites.

Kisah ini menyiratkan bahwa Matahari dan Bulan-lah yang mengelilingi Bumi, bukan sebaliknya. Sebab, jika memang benar Bumi mengelilingi Matahari sehingga terjadi siang dan malam, mengapa tidak Bumi-nya saja yang dminta berhenti berputar? Oh, mungkin karena Joshua belum tahu kalau Bumi mengelilingi Matahari. Bisa jadi, tapi bukankah Allah Maha Tahu?

Mengenai firmament, istilah ini merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani raqia, atau raqiya` (רקיע), yang terdapat dalam Taurat (Perjanjian Lama). Akar kata ini adalah raqa (רקע), berarti "memukul atau menyebarkan keluar" seperti halnya pembuatan senjata tajam yang dibuat dengan cara memukul besi panas menjadi tipis dan kuat. Jadi, firmament adalah selubung tipis nan kuat.

Dalam kepercayaan Israel Kuno, alam semesta terdiri dari Bumi (eres) yang berbentuk datar dan mengambang di air, dengan surga (shamayim) di atas langit manusia, dan alam lain (sheol) terletak di bawah Bumi. Kaum Yahudi masa itu juga percaya bahwa langit adalah sebuah kubah dari bahan solid di mana Matahari, Bulan dan bintang-bintang tergantung.

Berikut gambaran kosmologi dalam kepercayaan orang Israel Kuno. Mereka yakin Yerusalem terletak persis di tengah-tengah Bumi, pusat dunia.


Bagaimana dengan al-Qur'an? Ada beberapa ayat yang menyiratkan Bumi berbentuk datar, yakni frasa "Bumi dihamparkan" yang dalam terjemahan bahasa Inggris diberi tambahan keterangan "like a carpet," seperti karpet. Karpet yang dihamparkan bentuknya datar, tidak bulat. Namun kita tidak menemukan tambahan keterangan seperti itu dalam al-Qur'an terjemahan bahasa Indonesia.

Demikian pula soal Matahari dan Bulan mengelilingi Bumi. Contohnya Surat Yasin ayat 38, yang artinya, "Matahari berjalan di tempat peredarannya, demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." Di ayat-ayat berikutnya dijelaskan lagi tentang garis edar Matahari dan Bulan.

Lalu dalam Surat al-Anbiyaa' ayat 23 dikatakan, "Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, Matahari dan Bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." Pertanyaannya, Matahari beredar mengelilingi apa? Mengelilingi Bumi seperti halnya Bulan, atau mengelilingi bintang Vega dalam Galaksi Bima Sakti seperti diajarkan sains modern?

Kutipan pendapat cendekiawan Muslim Ibnu Sina soal tujuh lapis langit, di mana lapisan kedelapan berupa lapisan solid tempat bintang-bintang dan benda langit lainnya berada, jadi salah satu pendukung argumen kalangan flatter. Soal tujuh lapis langit ini disebutkan pula dalam beberapa ayat al-Qur'an.

Selain ketiga agama samawi di atas, kepercayaan bahwa Bumi berbentuk datar dengan langit berupa kubah (dome) dianut agama-agama besar lain. Termasuk di antaranya kepercayaan Taoisme, yang menggambarkan alam semesta sebagai sebuah keseimbangan Yin dan Yang. Logo Taoisme, menurut video-video komunitas flat earth, adalah gambaran bentuk Bumi datar dengan Matahari dan Bulan yang menyebabkan terjadinya siang dan malam.

Sebuah peta Bumi berusia ribuan tahun pernah diketemukan di satu kuil Buddha di Jepang. Dalam peta kuno itu Bumi digambarkan berbentuk datar, bundar, dengan kutub utara sebagai pusat Bumi, dan dinding es mengelilingi sebagai pembatas. Hal sama dapat ditemui dalam kepercayaan Hindu, di mana tradisi Hindu, Buddha, dan Jain mempercayai Gunung Mahameru sebagai pusat Bumi.

Sekali lagi, kepercayaan bahwa Bumi berbentuk datar sudah dianut manusia sejak dahulu kala. Sampai kemudian sains modern mengubah pendapat ini melalui serangkaian pembuktian ilmiah.


Teori Tak Terbukti
Kalangan flat earth pun punya sederet argumen yang tak hanya bersandarkan pada agama dan kitab suci. Sejak abad ke-19 berbagai percobaan untuk menguji kebenaran teori Bumi bulat sudah dilakukan. Satu yang paling terkenal adalah Eksperimen Sungai Bedford yang dilakukan di Norfolk, Inggris, pada tahun 1838.

Dalam percobaan ini sebuah perahu dilajukan menyusuri Sungai Bedford yang bentuknya lurus sepanjang 9,7 km. Menurut teori, jika benar Bumi berbentuk bulat, maka saat perahu mencapai ujung sungai semua benda setinggi kurang dari 4 km di tempat perahu berangkat tak akan terlihat. Sekalipun menggunakan teleskop. Ini karena lengkungan Bumi "menyembunyikan" benda-benda tersebut dari pandangan.

Hasilnya tidak begitu. Orang di dalam perahu masih dapat menyaksikan semua benda di tempat keberangkatan. Ini dipercaya sebagai bukti bahwa Bumi tidaklah berbentuk bulat, melainkan lurus mendatar.

Percobaan berbeda dengan tujuan sama dapat dilakukan dengan cara naik ke dataran tertinggi di satu tempat, lalu layangkan pandangan ke sekeliling. Terlihat bahwa horizon tetap berbentuk lurus, tidak melengkung. Demikian pula horizon lautan yang berbentuk lurus. Jika benar Bumi bulat, maka seharusnya terlihat lengkungan di sana.

Selama ini contoh paling mudah yang biasa dipakai untuk menjelaskan bahwa Bumi bulat adalah horizon laut. Siswa Sekolah Dasar dijelaskan, kapal yang berlayar ke laut semakin lama semakin menghilang disebabkan oleh lengkungan Bumi. Untuk membantah ini, komunitas flat earth naik ke bukit tinggi di tepi laut, lalu mengamati horizon menggunakan teleskop. Hasilnya, semua benda yang awalnya tak tampak oleh mata telanjang dapat terlihat jelas. Hal ini tak mungkin terjadi jika Bumi bulat.

Menurut flatter, penyebab hal tersebut adalah keterbatasan jarak pandang mata manusia. Sama seperti kita menyaksikan sebuah rel panjang yang lurus, akan ada satu titik di mana bagian rel tak terlihat. Ini soal perspektif, bukan lengkungan bumi.

Flatter juga punya argumen yang didasarkan pada sumber-sumber kredibel. Soal peta dunia dalam globe, beberapa referensi terpercaya menyebut pembuatannya didasarkan pada peta Bumi datar. New Standar Map of the World, contohnya, masih disimpan dengan baik oleh Boston Public Library. Peta inilah yang dijadikan patokan pembuatan tiruan bola Bumi.

Bagaimana dengan Galileo, yang dalam sekolah-sekolah dikatakan membuktikan teori heliosentris Copernicus? Flatter punya pendapat sendiri soal ini. Menurut mereka, Galileo diminta Gereja untuk membuktikan teori tersebut. Galileo menyampaikan konsep stellar parallax sebagai pembuktian, namun dinilai gagal. Observasi menunjukkan tidak ada stellar parallax.



Galileo tidak terima dan menerbitkan buku berjudul Dialogo Sopra i Due Massimi Sistemi del Mondo (Dialogue Concerning the Two Chief World Systems) pada 1632. Isinya membandingkan sistem kosmos versi Ptolemy yang beraliran geosentris dengan sistem kosmos Copernicus yang berpaham heliosentris. Buku ini dilarang Gereja, Galileo ditangkap dan dipenjara.

Sejak itulah teori heliosentris diajarkan di sekolah-sekolah, sekalipun belum ada yang dapat membuktikannya. Masih menurut pendapat flatter, bahkan NASA dan Harvard University yang didukung perangkat teleskop canggih tak dapat membuktikan stellar parallax-nya Galileo. Yang ada malah negative parallax, sesuatu yang hanya mungkin terjadi jika bintang-bintang mengitari Bumi.

Konspirasi NASA
Terkait NASA, flatter beranggapan badan antariksa milik pemerintah Amerika Serikat ini dibentuk untuk menguatkan paham heliosentris yang belum terbukti. Serangkaian penjelajahan luar angkasa dimulai dari mendaratkan manusia di Bulan, teleskop Hubble, eksplorasi Planet Mars, penemuan planet-planet baru serupa Bumi, disebut hanya rekayasa belaka.

Soal pendaratan manusia di Bulan, misalnya, sampai sekarang pun banyak yang meragukan kebenarannya. Termasuk di luar penganut paham flat earth. Jangankan mengirim manusia sampai ke Bulan, melewati Sabuk Van Hallen saja belum bisa dilakukan sampai kini. Terlebih tiga astronot yang sukses sampai ke Bulan terlihat sangat tertekan saat menjalani konferensi pers sepulangnya ke Bumi.

Coba saksikan serial video NASA Astronauts Going Crazy!! di YouTube. Di sana terlihat astronot-astronot yang dikatakan pernah mendarat di Bulan menolak menanggapi pertanyaan seputar misi mereka. Kalaupun ada yang mau bercerita panjang-lebar, kebanyakan dari mereka menolak saat diminta bersumpah di atas Bible bahwa cerita mereka benar.

Lalu bagaimana dengan foto-foto luar angkasa itu? Flatter menyebut semua foto-foto keluaran NASA adalah hasil rekayasa, demikian pula video-videonya. Banyak video di YouTube yang menunjukkan bagaimana foto-foto dan video luar angkasa yang dirilis NASA merupakan rekayasa komputer. Mulai dari kejanggalan kasar yang terlihat mata telanjang, sampai yang baru tampak setelah dilihat menggunakan program pengolah gambar dan video.



Untuk apa NASA melakukan pemalsuan dokumentasi? Untuk menutupi fakta sebenarnya soal Bumi dan alam semesta, sekaligus menutupi kebohongan soal pendaratan manusia ke Bulan. Manusia tidak mungkin pergi terlalu jauh ke luar angkasa karena langit merupakan lapisan solid yang tak mampu ditembus oleh apapun. Demikian ujar flatter.

Yang menarik, nisan eks direktur pertama NASA Wernher von Braun hanya bertuliskan namanya, tahun lahir dan tahun meninggal, serta tulisan Psalms 19:1. Tulisan terakhir adalah nama ayat Bible, yang dalam Bible bahasa Indonesia bernama Mazmur. Jadi, Psalms 19:1 adalah surat Mazmur ayat 19 pasal 1.

Apa bunyinya?

Dalam Bible versi American Standard, Psalms 19:1 berbunyi, "{To the chief Musician. A Psalm of David.} The heavens declare the glory of God; And the firmament showeth his handiwork." Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi, "Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya."

Apakah diam-diam Von Braun percaya tentang keberadaan firmament? Wallahu a'lam bishshawwab...

Kamis, 30 Juni 2016


SUDAH sejak lama saya dibuat tertarik sekali mendalami dunia audio visual. Terlebih setelah melihat perkembangan YouTube yang semakin lama semakin membuat ketar-ketir dunia pertelevisian. Butuh waktu lama memang melawan semua keraguan, tapi saya mantap menggantungkan impian untuk membangun sebuah production house skala kecil dan memproduksi konten-konten video.

Rencana ini sebenarnya sederhana saja. Saya buat video, upload di YouTube, lalu promosikan sesering mungkin di media sosial untuk menjaring penonton. Tentu saja videonya dibuat semenarik dan sebagus mungkin. Dari muatannya serta pengemasannya haruslah jempolan agar penonton selalu kembali ke channel yang saya bangun.

Soal pemasukan, target pertama adalah program partnership yang ditawarkan YouTube. PH rumahan saya dapat meraup pemasukan dari sharing pendapatan iklan di program ini. Jumlahnya memang berbanding lurus dengan jumlah pemirsa video. Namun seiring berjalannya waktu, konsistensi dan keseriusan bakal membuka jalan pemasukan lain. Saya yakin itu.

Apa yang akan saya angkat dalam video-video tersebut? Terdengar agak idealis, tapi saya berniat mempromosikan Kabupaten Pemalang tempat saya berdomisili saat ini. Begitu banyak potensi dimiliki Pemalang, termasuk di dalamnya obyek wisata dan aneka ragam kuliner khas. Ini yang akan saya sebarkan melalui video di channel saya kelak.

Orang mungkin hanya tahu Pantai Widuri dan Widuri Waterpark sebagai obyek wisata unggulan di Pemalang. Pergilah ke bagian selatan kabupaten ini, di mana terdapat banyak obyek wisata alam yang jauh lebih menarik. Sebut saja Curug Bengkawah dan Curug Sibedil yang mulai ramai dikunjungi wisatawan lokal. Atau perkebunan teh Semugih di Kecamatan Moga, agrowisata di Kecamatan Belik, serta wisata kaki Gunung Slamet lengkap dengan gardu pandang.

Berbicara makanan khas, ikon kuliner nasional Pak Bondan Winarno pernah mencicipi nasi grombyang di alun-alun Pemalang. Tapi Pemalang tak hanya grombyang. Masih ada sate loso, lontong dekem, kue kamir, kerupuk usek, tahu pletok, bakso daging, dan yang belakangan mulai ngetren ayam gepuk dan seblak.

Lainnya, kawasan Pemalang selatan dikenal akan kekayaan buah-buahannya terutama nanas di Kecamatan Belik. Malah kini sudah ada minuman ekstrak nanas produksi lokal Belik bermerek VitaNas. Sedangkan Desa Majalangu di Kecamatan Watukumpul terkenal sebagai produsen sapu glagah, yakni sapu dari tangkai padi. Bergeser ke dekat kota, Desa Wanarejan di Kec. Taman adalah sentra kerajinan tenun tradisional yang masih menggunakan mesin tenun tangan.

Itu baru mengupas yang ada di Pemalang, dan sudah terlihat sangat banyak materi yang bisa diangkat. Padahal saya juga ingin mengangkat kisah inspiratif perantauan asal Pemalang yang sukses di tempat lain.

Kenal dong dengan pebulutangkis nasional Hendra Setiawan? Orang tua Hendra sampai saat ini masih tinggal di Pelutan, kampung kelahiran juara dunia tersebut. Aktor gaek Torro Margens, eks Kapolri Jenderal (Purn.) Sutanto, anggota DPR RI Andriyanto Johan Syah, dan Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara Marsekal Muda TNI Agus Dwi Putranto semuanya adalah putra Pemalang.


Grombyang TV
Untuk itu saya sudah membuat sebuah channel di YouTube, saya namai Grombyang TV. Nama grombyang saya pakai karena boleh dibilang makanan ini adalah kuliner khas Pemalang paling populer. Tanyakan pada orang Pemalang apa makanan khas dari daerah ini, maka yang pertama-tama mereka sebut biasanya grombyang.

Karena lekatnya grombyang dengan Pemalang itulah saya memakai nama makanan ini sebagai nama channel. Selain itu, kata "grombyang" juga hanya terdiri dari dua suku kata, grom-byang, sehingga memudahkan pengucapan sekaligus mudah diingat. Grombyang TV. Saya rasa ini nama yang keren. Hehehehe...

Langkah-langkah persiapan lainnya adalah membeli nama domain untuk situs. Saya sudah memegang nama domain Grombyang.net yang kelak akan berisi informasi-informasi lengkap tentang aktivitas Grombyang TV. Kisah-kisah behind the scene pembuatan video saya rasa bakal menarik disimak, selain menyaksikan videonya di YouTube.

Kalau ada yang bertanya kenapa tidak membeli nama domain Grombyang.tv, persoalannya harga .tv tidak murah. Terlebih untuk dianggurkan begitu saja seperti Grombyang.net saat ini. Di situs penyedia domain langganan saya, Grombyang.tv dibanderol $34.99 setahun. Menurut Google, uang sebanyak itu setara dengan Rp462.000 per 30 Juni 2016 ini. Selisihnya lumayan sekali dibandingkan Grombyang.net yang "hanya" $10.99 setahun alias lebih murah $24.

Lalu saya juga sudah membuatkan akun media sosial bagi Grombyang TV. Di Facebook sudah ada fanpage Grombyang TV yang beralamat di https://facebook.com/GrombyangTV. Saat posting ini dibuat ada 208 orang yang menyukai fanpage tersebut, dan terus bertambah setiap hari. Setidaknya begitu yang selalu saya lihat di notifikasi Facebook saya sebagai pengelola.

Sementara di Twitter saya buatkan akun dengan nama @grombyangnet. Lho, kenapa tidak @grombyangtv saja biar seragam? Masalah klasik, username tersebut sudah ada yang memakai. Saat ditelusuri ternyata pemiliknya adalah pengembang Grombyang OS, yakni operating system Linux buatan programmer asal Pemalang. So, pilihan terbaik adalah menyamakan akun Twitter dengan nama domain.

Grombyang TV
YouTube: https://www.youtube.com/c/GrombyangTV
Google+: https://plus.google.com/+GrombyangTV/
Facebook: https://www.facebook.com/GrombyangTV/
Twitter: @GrombyangNet


Apalagi? Secara teknis, saya sudah setahun belakangan rutin berlatih membuat video. Saya install Magix Movie Edit Pro 2016 di laptop saya yang RAM-nya hanya 2GB. Saya bertekad setiap pekan dapat menghasilkan setidaknya satu video baru untuk diunggah di YouTube. Sebagian besar diunggah ke channel khusus anak-anak saya yang beralamat di http://www.youtube.com/channel/UCVQM0b9bfLjslWjSVe58AFA.

Oya, ini salah satu contoh video tentang makanan khas Pemalang di channel YouTube pribadi saya.



Terpikat Produk ASUS
Selesai? Tentu belum. Sampai saat ini kanal Grombyang TV di YouTube belum ada videonya satupun. Kenapa tak segera diisi video? Jawabannya bisa panjang, tapi kendala utamanya adalah saya belum punya equipment memadai untuk mengedit video secara serius.

Lho, bukannya sampeyan tadi bilang sudah berlatih mengedit video? Benar. Akan tetapi saya terbilang maksa. Yang paham komputer tentu tahu betul kalau RAM 2GB di laptop saya merupakan spesifikasi minimal untuk software editing video. Magix Movie Edit Pro 2016 yang saya pakai sendiri menyebut RAM 2GB sebagai minimum requirement. Artinya, kalau bisa ya lebih dari 2GB agar lebih optimal.

Saya sendiri setiap kali mengedit video sering muncul pesan bahwa memorinya crash. Tak jarang pula tiba-tiba laptop hang di tengah-tengah mengerjakan video. Terlebih bila saya membuat video panjang, dengan footage sangat banyak, ditambah efek visual dan musik, serta layer-nya lebih dari empat. Itulah sebabnya saya agak ngeri kalau mau mengedit video.

Sudah setahunan ini saya melirik-lirik komputer yang lebih oke untuk editing video. Tidak muluk-muluk, saya hanya mencari PC dengan processor Intel i5 dan paling tidak dual-core, RAM 4GB, serta kartu grafis yang memadai agar preview video yang tengah diedit tidak putus-putus. Oya, kapasitas penyimpanan internal (HDD) minimal 500GB, tapi khusus untuk drive C: memakai SSD agar performa komputer lebih kencang.

Suatu ketika saya membeli keyboard dan mouse di Mitra Mandiri Computer yang terletak tak jauh dari perempatan Sirandu, Pemalang. Setelah keyboard dan mouse didapat, saya iseng bertanya-tanya soal komputer untuk keperluan video editing pada teknisinya. Dijelaskan panjang-lebar mengenai spek yang pas, budget-nya berapa, serta beberapa produk built in yang ada di pasaran. Lalu saya diberi katalog ASUS.

Rupanya, Mitra Mandiri Computer merupakan salah satu partner distribusi ASUS di Pemalang. Itulah sebabnya saya lihat beberapa notebook ASUS dipajang di satu etalase khusus di bagian dalam toko. Saya bawa pulang katalog tersebut untuk dibaca-baca.

Tak sekedar memajang produk, dalam katalog tersebut juga ada profil ASUS, penghargaan yang diberikan, serta penjelasan mengenai teknologi yang diterapkan dalam pembuatan produk. Wuih, rupanya ASUS merupakan brand motherboard nomor satu di dunia. Di Indonesia, ASUS menjadi top 2 brand untuk kategori notebook dan pernah dianugerahi Indonesia Brand Champion 2012 oleh Marketeers Award.

Dari sekian halaman awal, saya paling tertarik dengan uraian mengenai kualitas ASUS. Dengan serangkaian tes berat, setiap produk ASUS dijamin dapat tetap memberikan kinerja terbaik dalam kondisi apapun. Itu sebabnya laptop ASUS tidak mengalami kerusakan sedikitpun selama dipakai 600 hari penuh dalam misi luar angkasa di stasiun luar angkasa MIR.

Akhir 2003, dua pendaki gunung tersohor Shi Wang dan Jian Liu mendaki Gunung Vinson (4.897 mdpl) yang merupakan puncak tertinggi di Antartika. Keduanya membawa laptop ASUS S200N untuk merekam dan berbagi pengalaman selama petualangan. Hebatnya, laptop tersebut tetap berfungsi dengan baik di puncak Gunung Vinson yang bersuhu minus 73 derajat Celcius.

Lebih tinggi dari itu, laptop ASUS pernah sampai ke puncak Gunung Everest (8.848 mdpl). Adalah Kapten Yang Wangfong yang membawa ASUS U5 ketika mendaki puncak Everest. Ketika banyak laptop bawaan pendaki tak bisa beroperasi saat mencapai markas utama di ketinggian 5.000 mdpl, ASUS U5 milik Kapten Yang tetap menyala. Dan terus dapat beroperasi hingga mencapai puncak.


Mimpi Punya ASUS Vivo AiO V230IC
Ah, saya tidak akan mendaki Gunung Vinson maupun Gunung Everest. Saya hanya mau mengedit video untuk Grombyang TV. Cari punya cari, tertambatlah mata saya pada ASUS Vivo AiO V230IC. Ini merupakan salah satu tipe dalam lini produk all-in-one PC dari ASUS.

Yang membuat saya langsung terpikat pada ASUS Vivo AiO V230IC karena speknya persis dengan yang saya butuhkan. Persis sama malahan. Coba saja lihat spesifikasinya di bagian paling bawah tulisan ini. Bagi saya yang terpenting prosesornya Intel i5, memorinya 4GB, serta kartu grafisnya oke punya.

Berikut spesifikasi lengkap ASUS Vivo AiO V230IC:

Sistem Operasi Windows 10 Home

DOS
Display 23.0″(58.4cm), 16:9, Wide Screen, Full HD 1920×1080/, LED-backlight, IPS, 178° wide viewing angle
Touch Screen Multi-touch (10 Fingers Touch) Non-touch
Prosesor Intel® Core™ i5 6400T

Intel® Core™ i7 6700T
Chipset Intel® H110
Grafis NVIDIA® GeForce 930M 2GB
Memori 4 GB Up to 8 GB

DDR3L at 1600MHz

2 x SO-DIMM
Storage 1TB Up to 2TB SATA Hard Drive
Drive Optik Tray-in Supermulti DVD RW
Wireless Data Network 802.11 b/g/n , Bluetooth V4.0 , NFC *1
LAN 10/100/1000 Mbps
Kamera 1 M Pixel
Audio SonicMaster Premium
Speaker 2 x 2 W
Built-in Mic Yes
Side I/O Ports 1x USB 3.1

1 x 6 -in-1 Card Reader

1 x Headphone1 x Microphone
Port I/O Belakang 1 x USB 3.1

4 x USB 3.0

1 x HDMI-Out

1 x RJ45 LAN

1 x Kensington Lock

1 x Power input
Card Reader 6 -in-1: SD/ SDHC/ SDXC/ MS/ MS Pro/ MMC
Power Supply 120 W Power adaptor
Dimensi 571 x 442 x 50 ~200 mm (WxHxD)
Berat 9 kg
Pilihan Warna Black
Aksesori Keyboard+Mouse , Wired/Wireless

AC Adaptor *3

Power Cord

Warranty Card

Quick Start Guide
Software Anti-Virus Trial

ASUS WebStorage

Office Trial
Certificates BSMI/CB/CE/UL/Energy Star/RCM
Catatan * Jaminan: 1 Tahun Garansi

Prosesor Intel i5
Prosesor mumpuni sangat dibutuhkan bagi aplikasi video editing. Yang sering saya alami saat ini adalah leletnya proses impor video, juga preview setelah papan-papan cerita saya susun. Ini dikarenakan prosesor laptop saya kurang memadai kemampuannya untuk pekerjaan seberat mengedit video. Karenanya sering terjadi lag, hingga crash dan hang. Lebih-lebih jika melakukan multitasking.

Di ASUS Vivo AiO V230IC, prosesor Intel i5 yang dipakai didukung teknologi Hyper-Trading Intel dan Intel Turbo Boost Technology. Ini membuat aplikasi olah video yang berukuran besar dapat dijalankan dengan enteng dan cepat. Sebab teknologi Hyper-Trading menggunakan sumber daya prosesor lebih efisien, membuat multi-thread dapat berjalan di masing-masing inti prosesor. Efeknya, teknologi ini meningkatkan throughput prosesor sekaligus performanya secara keseluruhan.

Dengan prosesor Intel i5, proses ekspor video juga bisa jadi lebih cepat. Selama ini saya harus menghabiskan setidaknya 1,5 jam untuk mengekspor video berdurasi sekitar lima menit. Belum lama saya bahkan harus menghidupkan laptop semalam suntuk karena proses ekspor video sepanjang 35 menit membutuhkan waktu hingga 12 jam. Alangkah lamanya.

Ini belum menyebut pemakaian solid-state hybrid drive (SSHD). Ini merupakan teknologi yang menggabungkan kapasitas penyimpanan besar dari hard drive tradisional dengan flash memory super cepat untuk meningkatkan kinerja penyimpanan data. Menggunakan SSHD, ASUS Vivo Aio V230IC tidak butuh waktu booting lama, juga membuat komputer dapat memuat aplikasi besar secara lebih cepat sekaligus memberikan respon sistem lebih besar secara keseluruhan.

Ditambah RAM 4GB dan kartu grafis NVIDIA GeForce 930M 2GB atau Intel HD Graphics, rasanya saya sudah boleh mengucapkan selamat tinggal pada lag, crash, dan hang. Edit video tidak lagi diwarnai umpatan karena komputer tiba-tiba berhenti bekerja.


Port Super Lengkap
ASUS Vivo Aio V230IC dilengkapi sangat banyak port untuk berbagai keperluan. Di bagian belakang terdapat total delapan port, dengan rincian masing-masing satu port daya, port LAN, HDMI dan lima port USB. Nah, kelima port USB ini dibagi lagi jadi dua jenis, yakni satu port USB 3.1 dan empat port USB 3.0.

Port USB 3.1 ini penting sekali untuk memangkas waktu penggarapan video. Berbagai macam video bahan dari handycam, action cam, kamera digital, maupun smartphone dapat dipindahkan dengan cepat lewat port ini. Kecepatan USB 3.1 dua kali lipat dari USB 3.0, jadi file-file video berukuran besar dapat dipindah jauh lebih cepat dari biasanya. Situs resmi ASUS menyebut kecepatan transfer data USB 3.1 dengan ungkapan "lightning speed" alias secepat kilat. Wow!

Berita bagusnya, ASUS Vivo Aio V230IC dilengkapi dua port USB 3.1. Satu port lagi terletak di bagian samping bersama port card reader 6 in 1, port headphone dan port microphone. Card reader 6 in 1 ini juga bakal sangat membantu dalam pemindahan file video dari berbagai bentuk kartu memori. Lebih-lebih bagi yang suka lupa di mana menyimpan kabel data seperti saya.

Bagaimana kalau lupa menyimpan kabel data dan malas membongkar smartphone untuk mengambil kartu memori? Tenang, ASUS V230IC dilengkapi dengan teknologi NFC atau Near Field Communication. Teknologi ini memungkinkan perpindahan data antardua perangkat secara wireless. Misal ingin menyaksikan foto atau video dari smartphone di monitor ASUS Vivo Aio V230IC, cukup letakkan hape di sebelah kanan bagian bawah monitor dimana tertanam sensor NFC. Secara otomatis foto dan video ditayangkan di layar.

Sebagai tambahan, di sebelah sensor NFC terdapat wireless charger yang dapat mengecas baterai smartphone tanpa kabel. Ah, saya jadi bisa mengecas ASUS Zenfone C saya deh (Baca juga: Foto Bareng Pramugari Berhijab berkat Kamera Ponsel ASUS Zenfone C). Cukup letakkan smartphone di bagian kiri sebelah bawah monitor, secara otomatis baterai akan terisi dengan sendirinya. Praktis.


Layar Sentuh 10 Jari
Satu terobosan lain yang dihadirkan ASUS Vivo Aio V230IC adalah teknologi multi-touch. Memakai layar sentuh, monitor dapat membaca 10 sentuhan jari sekaligus. Dengan demikian saya dapat mengimpor beberapa video bahan sekaligus hanya dengan sekali sentuhan tangan. Lebih cepat.

Saya belum mencobanya, tapi kalau layar dapat merespon seluruh 10 sentuhan sekaligus, artinya saya bisa menyusun storyboard dengan dua tangan sekaligus. Tangan kiri ke sana, tangan kanan ke sini. Dengan 10 jari seluruhnya menyentuh area berbeda. Ini bakal jauh lebih cepat ketimbang menyusun papan cerita menggunakan kursor yang dikendalikan lewat mouse.

Bodi Tipis, Hemat Ruang
Ruang kerja saya hanyalah sebuah meja televisi yang dialih-fungsikan jadi meja untuk laptop. Meja ini terletak di dalam kamar, jadi terbayang betapa mungilnya ruang kerja saja yang hanya berupa seperangkat meja-mursi di satu sudut kamar. Kalau mau tidur, kursi dipindah ke ruangan lain agar tempat tidur jadi lebih lega.

Saat mencari-cari komputer untuk keperluan video editing, saya sempat berpikiran membeli desktop. Tapi pikir punya pikir, desktop berarti sebuah PC, sebuah monitor, plus keyboard dan mouse. Ditambah printer dan speaker, bakal sesaklah meja kerja saya yang hanya seuprit. Belum lagi tumpukan buku dan alat tulis yang selalu tersedia di samping laptop.

All-in-one PC seperti ASUS Vivo Aio V230IC adalah jawaban bagi pekerja dengan ruang kerja terbatas seperti saya. Sekilas bentuknya seperti sebuah televisi layar datar. Dimensinya 571 x 442 x 50 ~200 mm, tidak terlalu besar dan tipis. Jadi tidak memakan banyak ruang di meja kerja saya.


Suara Jernih, Monitor Tajam
Dua fitur lain yang berkaitan erat dengan video editing adalah built-in speaker dan monitor. ASUS Vivo Aio V230IC menggunakan teknologi SonicMaster Premium sehingga suara yang dihasilkan dari speaker bawaan begitu jernih dan bertenaga. Setiap suara terdengar lebih baik dan seimbang, cocok untuk menggarap video yang kerap saya beri tambahan musik.

Kemudian monitornya yang tajam membuat setiap detil video terlihat jelas. ASUS V230IC menggunakan tampilan LED-backlit yang memungkinkan layar didesain setipis mungkin, dengan teknologi in-plane switching (IPS) untuk tampilan lebih baik dari segala sudut. Tentu saja monitornya sudah mendukung Full HD resolusi 1920 x 1080 yang menjadi standar video YouTube saat ini. Cocok!

Oya, calon video creator seperti saya juga akan sangat terbantu dengan keberadaan mic internal. Ini diperlukan saat menggarap video yang membutuhkan narasi tambahan. Tak perlu lagi memakai digital video recorder atau aplikasi perekam suara di smartphone, cukup tekan saja tombol record di Magix Movie Edit Pro 2016 dan narasi langsung tersimpan di dalam komputer.

Built-in mic ini juga penting untuk layanan komunikasi seperti Skype dan Google+ Hang Out. Tak perlu lagi mencolokkan mic external atau memakai headseat yang ada mik seperti pilot. Miknya sudah tertanam, built-in, jadi langsung saja deh cuap-cuap dengan lawan bicara.



Well, itu dia impian yang sangat ingin saya wujudkan saat ini. Saya sudah memulainya dengan melakukan hal-hal yang bisa saya kerjakan sekarang, seperti membuat akun media sosial. Saya juga sudah menyusun rencana pembuatan video, tema apa saja yang akan digarap, bagaimana konsepnya. Semuanya masih di atas kertas.

Dari hanya sendirian, di mana saya merangkap semua pekerjaan (mengambil gambar, jadi talent, mengedit video, mengunggah ke YouTube, sampai promosi di media sosial), saya yakin lambat laun Grombyang TV akan berkembang. Bukankah perusahaan sebesar Google juga awalnya didirikan oleh dua orang saja dari dalam kamar asrama mahasiswa?

Untuk mengeksekusi ide ini saya butuh perangkat memadai. Karenanya saya sangat mendambakan ASUS Vivo Aio V230IC sebagai peralatan tempur. Saya bisa membayangkan, betapa serunya mengedit video menggunakan perangkat satu ini.

Blang-bleng, satu demi satu video selesai digarap. Was-wus, dengan prosesor Intel i5 dan drive SDHC saya tak perlu lagi menunggu hingga belasan jam saat mengekspor video. Terakhir, unggah video-video tersebut ke YouTube dan galakkan promosi di media sosial. Insya Allah viewers membanjir. Amin...

Bantu saya dengan doa ya, Teman-Teman...

Artikel ini diikut-sertakan dalam Start Up, Now! Writing Competition yang diselenggarakan oleh Asus Indonesia dan Intel Indonesia. Baca disclaimer blog ini selengkapnya pada laman berikut.


SUDAH sejak lama saya dibuat tertarik sekali mendalami dunia audio visual. Terlebih setelah melihat perkembangan YouTube yang semakin lama semakin membuat ketar-ketir dunia pertelevisian. Butuh waktu lama memang melawan semua keraguan, tapi saya mantap menggantungkan impian untuk membangun sebuah production house skala kecil dan memproduksi konten-konten video.

Rencana ini sebenarnya sederhana saja. Saya buat video, upload di YouTube, lalu promosikan sesering mungkin di media sosial untuk menjaring penonton. Tentu saja videonya dibuat semenarik dan sebagus mungkin. Dari muatannya serta pengemasannya haruslah jempolan agar penonton selalu kembali ke channel yang saya bangun.

Soal pemasukan, target pertama adalah program partnership yang ditawarkan YouTube. PH rumahan saya dapat meraup pemasukan dari sharing pendapatan iklan di program ini. Jumlahnya memang berbanding lurus dengan jumlah pemirsa video. Namun seiring berjalannya waktu, konsistensi dan keseriusan bakal membuka jalan pemasukan lain. Saya yakin itu.

Apa yang akan saya angkat dalam video-video tersebut? Terdengar agak idealis, tapi saya berniat mempromosikan Kabupaten Pemalang tempat saya berdomisili saat ini. Begitu banyak potensi dimiliki Pemalang, termasuk di dalamnya obyek wisata dan aneka ragam kuliner khas. Ini yang akan saya sebarkan melalui video di channel saya kelak.

Orang mungkin hanya tahu Pantai Widuri dan Widuri Waterpark sebagai obyek wisata unggulan di Pemalang. Pergilah ke bagian selatan kabupaten ini, di mana terdapat banyak obyek wisata alam yang jauh lebih menarik. Sebut saja Curug Bengkawah dan Curug Sibedil yang mulai ramai dikunjungi wisatawan lokal. Atau perkebunan teh Semugih di Kecamatan Moga, agrowisata di Kecamatan Belik, serta wisata kaki Gunung Slamet lengkap dengan gardu pandang.

Berbicara makanan khas, ikon kuliner nasional Pak Bondan Winarno pernah mencicipi nasi grombyang di alun-alun Pemalang. Tapi Pemalang tak hanya grombyang. Masih ada sate loso, lontong dekem, kue kamir, kerupuk usek, tahu pletok, bakso daging, dan yang belakangan mulai ngetren ayam gepuk dan seblak.

Lainnya, kawasan Pemalang selatan dikenal akan kekayaan buah-buahannya terutama nanas di Kecamatan Belik. Malah kini sudah ada minuman ekstrak nanas produksi lokal Belik bermerek VitaNas. Sedangkan Desa Majalangu di Kecamatan Watukumpul terkenal sebagai produsen sapu glagah, yakni sapu dari tangkai padi. Bergeser ke dekat kota, Desa Wanarejan di Kec. Taman adalah sentra kerajinan tenun tradisional yang masih menggunakan mesin tenun tangan.

Itu baru mengupas yang ada di Pemalang, dan sudah terlihat sangat banyak materi yang bisa diangkat. Padahal saya juga ingin mengangkat kisah inspiratif perantauan asal Pemalang yang sukses di tempat lain.

Kenal dong dengan pebulutangkis nasional Hendra Setiawan? Orang tua Hendra sampai saat ini masih tinggal di Pelutan, kampung kelahiran juara dunia tersebut. Aktor gaek Torro Margens, eks Kapolri Jenderal (Purn.) Sutanto, anggota DPR RI Andriyanto Johan Syah, dan Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara Marsekal Muda TNI Agus Dwi Putranto semuanya adalah putra Pemalang.


Grombyang TV
Untuk itu saya sudah membuat sebuah channel di YouTube, saya namai Grombyang TV. Nama grombyang saya pakai karena boleh dibilang makanan ini adalah kuliner khas Pemalang paling populer. Tanyakan pada orang Pemalang apa makanan khas dari daerah ini, maka yang pertama-tama mereka sebut biasanya grombyang.

Karena lekatnya grombyang dengan Pemalang itulah saya memakai nama makanan ini sebagai nama channel. Selain itu, kata "grombyang" juga hanya terdiri dari dua suku kata, grom-byang, sehingga memudahkan pengucapan sekaligus mudah diingat. Grombyang TV. Saya rasa ini nama yang keren. Hehehehe...

Langkah-langkah persiapan lainnya adalah membeli nama domain untuk situs. Saya sudah memegang nama domain Grombyang.net yang kelak akan berisi informasi-informasi lengkap tentang aktivitas Grombyang TV. Kisah-kisah behind the scene pembuatan video saya rasa bakal menarik disimak, selain menyaksikan videonya di YouTube.

Kalau ada yang bertanya kenapa tidak membeli nama domain Grombyang.tv, persoalannya harga .tv tidak murah. Terlebih untuk dianggurkan begitu saja seperti Grombyang.net saat ini. Di situs penyedia domain langganan saya, Grombyang.tv dibanderol $34.99 setahun. Menurut Google, uang sebanyak itu setara dengan Rp462.000 per 30 Juni 2016 ini. Selisihnya lumayan sekali dibandingkan Grombyang.net yang "hanya" $10.99 setahun alias lebih murah $24.

Lalu saya juga sudah membuatkan akun media sosial bagi Grombyang TV. Di Facebook sudah ada fanpage Grombyang TV yang beralamat di https://facebook.com/GrombyangTV. Saat posting ini dibuat ada 208 orang yang menyukai fanpage tersebut, dan terus bertambah setiap hari. Setidaknya begitu yang selalu saya lihat di notifikasi Facebook saya sebagai pengelola.

Sementara di Twitter saya buatkan akun dengan nama @grombyangnet. Lho, kenapa tidak @grombyangtv saja biar seragam? Masalah klasik, username tersebut sudah ada yang memakai. Saat ditelusuri ternyata pemiliknya adalah pengembang Grombyang OS, yakni operating system Linux buatan programmer asal Pemalang. So, pilihan terbaik adalah menyamakan akun Twitter dengan nama domain.

Grombyang TV
YouTube: https://www.youtube.com/c/GrombyangTV
Google+: https://plus.google.com/+GrombyangTV/
Facebook: https://www.facebook.com/GrombyangTV/
Twitter: @GrombyangNet


Apalagi? Secara teknis, saya sudah setahun belakangan rutin berlatih membuat video. Saya install Magix Movie Edit Pro 2016 di laptop saya yang RAM-nya hanya 2GB. Saya bertekad setiap pekan dapat menghasilkan setidaknya satu video baru untuk diunggah di YouTube. Sebagian besar diunggah ke channel khusus anak-anak saya yang beralamat di http://www.youtube.com/channel/UCVQM0b9bfLjslWjSVe58AFA.

Oya, ini salah satu contoh video tentang makanan khas Pemalang di channel YouTube pribadi saya.



Terpikat Produk ASUS
Selesai? Tentu belum. Sampai saat ini kanal Grombyang TV di YouTube belum ada videonya satupun. Kenapa tak segera diisi video? Jawabannya bisa panjang, tapi kendala utamanya adalah saya belum punya equipment memadai untuk mengedit video secara serius.

Lho, bukannya sampeyan tadi bilang sudah berlatih mengedit video? Benar. Akan tetapi saya terbilang maksa. Yang paham komputer tentu tahu betul kalau RAM 2GB di laptop saya merupakan spesifikasi minimal untuk software editing video. Magix Movie Edit Pro 2016 yang saya pakai sendiri menyebut RAM 2GB sebagai minimum requirement. Artinya, kalau bisa ya lebih dari 2GB agar lebih optimal.

Saya sendiri setiap kali mengedit video sering muncul pesan bahwa memorinya crash. Tak jarang pula tiba-tiba laptop hang di tengah-tengah mengerjakan video. Terlebih bila saya membuat video panjang, dengan footage sangat banyak, ditambah efek visual dan musik, serta layer-nya lebih dari empat. Itulah sebabnya saya agak ngeri kalau mau mengedit video.

Sudah setahunan ini saya melirik-lirik komputer yang lebih oke untuk editing video. Tidak muluk-muluk, saya hanya mencari PC dengan processor Intel i5 dan paling tidak dual-core, RAM 4GB, serta kartu grafis yang memadai agar preview video yang tengah diedit tidak putus-putus. Oya, kapasitas penyimpanan internal (HDD) minimal 500GB, tapi khusus untuk drive C: memakai SSD agar performa komputer lebih kencang.

Suatu ketika saya membeli keyboard dan mouse di Mitra Mandiri Computer yang terletak tak jauh dari perempatan Sirandu, Pemalang. Setelah keyboard dan mouse didapat, saya iseng bertanya-tanya soal komputer untuk keperluan video editing pada teknisinya. Dijelaskan panjang-lebar mengenai spek yang pas, budget-nya berapa, serta beberapa produk built in yang ada di pasaran. Lalu saya diberi katalog ASUS.

Rupanya, Mitra Mandiri Computer merupakan salah satu partner distribusi ASUS di Pemalang. Itulah sebabnya saya lihat beberapa notebook ASUS dipajang di satu etalase khusus di bagian dalam toko. Saya bawa pulang katalog tersebut untuk dibaca-baca.

Tak sekedar memajang produk, dalam katalog tersebut juga ada profil ASUS, penghargaan yang diberikan, serta penjelasan mengenai teknologi yang diterapkan dalam pembuatan produk. Wuih, rupanya ASUS merupakan brand motherboard nomor satu di dunia. Di Indonesia, ASUS menjadi top 2 brand untuk kategori notebook dan pernah dianugerahi Indonesia Brand Champion 2012 oleh Marketeers Award.

Dari sekian halaman awal, saya paling tertarik dengan uraian mengenai kualitas ASUS. Dengan serangkaian tes berat, setiap produk ASUS dijamin dapat tetap memberikan kinerja terbaik dalam kondisi apapun. Itu sebabnya laptop ASUS tidak mengalami kerusakan sedikitpun selama dipakai 600 hari penuh dalam misi luar angkasa di stasiun luar angkasa MIR.

Akhir 2003, dua pendaki gunung tersohor Shi Wang dan Jian Liu mendaki Gunung Vinson (4.897 mdpl) yang merupakan puncak tertinggi di Antartika. Keduanya membawa laptop ASUS S200N untuk merekam dan berbagi pengalaman selama petualangan. Hebatnya, laptop tersebut tetap berfungsi dengan baik di puncak Gunung Vinson yang bersuhu minus 73 derajat Celcius.

Lebih tinggi dari itu, laptop ASUS pernah sampai ke puncak Gunung Everest (8.848 mdpl). Adalah Kapten Yang Wangfong yang membawa ASUS U5 ketika mendaki puncak Everest. Ketika banyak laptop bawaan pendaki tak bisa beroperasi saat mencapai markas utama di ketinggian 5.000 mdpl, ASUS U5 milik Kapten Yang tetap menyala. Dan terus dapat beroperasi hingga mencapai puncak.


Mimpi Punya ASUS Vivo AiO V230IC
Ah, saya tidak akan mendaki Gunung Vinson maupun Gunung Everest. Saya hanya mau mengedit video untuk Grombyang TV. Cari punya cari, tertambatlah mata saya pada ASUS Vivo AiO V230IC. Ini merupakan salah satu tipe dalam lini produk all-in-one PC dari ASUS.

Yang membuat saya langsung terpikat pada ASUS Vivo AiO V230IC karena speknya persis dengan yang saya butuhkan. Persis sama malahan. Coba saja lihat spesifikasinya di bagian paling bawah tulisan ini. Bagi saya yang terpenting prosesornya Intel i5, memorinya 4GB, serta kartu grafisnya oke punya.

Berikut spesifikasi lengkap ASUS Vivo AiO V230IC:

Sistem Operasi Windows 10 Home

DOS
Display 23.0″(58.4cm), 16:9, Wide Screen, Full HD 1920×1080/, LED-backlight, IPS, 178° wide viewing angle
Touch Screen Multi-touch (10 Fingers Touch) Non-touch
Prosesor Intel® Core™ i5 6400T

Intel® Core™ i7 6700T
Chipset Intel® H110
Grafis NVIDIA® GeForce 930M 2GB
Memori 4 GB Up to 8 GB

DDR3L at 1600MHz

2 x SO-DIMM
Storage 1TB Up to 2TB SATA Hard Drive
Drive Optik Tray-in Supermulti DVD RW
Wireless Data Network 802.11 b/g/n , Bluetooth V4.0 , NFC *1
LAN 10/100/1000 Mbps
Kamera 1 M Pixel
Audio SonicMaster Premium
Speaker 2 x 2 W
Built-in Mic Yes
Side I/O Ports 1x USB 3.1

1 x 6 -in-1 Card Reader

1 x Headphone1 x Microphone
Port I/O Belakang 1 x USB 3.1

4 x USB 3.0

1 x HDMI-Out

1 x RJ45 LAN

1 x Kensington Lock

1 x Power input
Card Reader 6 -in-1: SD/ SDHC/ SDXC/ MS/ MS Pro/ MMC
Power Supply 120 W Power adaptor
Dimensi 571 x 442 x 50 ~200 mm (WxHxD)
Berat 9 kg
Pilihan Warna Black
Aksesori Keyboard+Mouse , Wired/Wireless

AC Adaptor *3

Power Cord

Warranty Card

Quick Start Guide
Software Anti-Virus Trial

ASUS WebStorage

Office Trial
Certificates BSMI/CB/CE/UL/Energy Star/RCM
Catatan * Jaminan: 1 Tahun Garansi

Prosesor Intel i5
Prosesor mumpuni sangat dibutuhkan bagi aplikasi video editing. Yang sering saya alami saat ini adalah leletnya proses impor video, juga preview setelah papan-papan cerita saya susun. Ini dikarenakan prosesor laptop saya kurang memadai kemampuannya untuk pekerjaan seberat mengedit video. Karenanya sering terjadi lag, hingga crash dan hang. Lebih-lebih jika melakukan multitasking.

Di ASUS Vivo AiO V230IC, prosesor Intel i5 yang dipakai didukung teknologi Hyper-Trading Intel dan Intel Turbo Boost Technology. Ini membuat aplikasi olah video yang berukuran besar dapat dijalankan dengan enteng dan cepat. Sebab teknologi Hyper-Trading menggunakan sumber daya prosesor lebih efisien, membuat multi-thread dapat berjalan di masing-masing inti prosesor. Efeknya, teknologi ini meningkatkan throughput prosesor sekaligus performanya secara keseluruhan.

Dengan prosesor Intel i5, proses ekspor video juga bisa jadi lebih cepat. Selama ini saya harus menghabiskan setidaknya 1,5 jam untuk mengekspor video berdurasi sekitar lima menit. Belum lama saya bahkan harus menghidupkan laptop semalam suntuk karena proses ekspor video sepanjang 35 menit membutuhkan waktu hingga 12 jam. Alangkah lamanya.

Ini belum menyebut pemakaian solid-state hybrid drive (SSHD). Ini merupakan teknologi yang menggabungkan kapasitas penyimpanan besar dari hard drive tradisional dengan flash memory super cepat untuk meningkatkan kinerja penyimpanan data. Menggunakan SSHD, ASUS Vivo Aio V230IC tidak butuh waktu booting lama, juga membuat komputer dapat memuat aplikasi besar secara lebih cepat sekaligus memberikan respon sistem lebih besar secara keseluruhan.

Ditambah RAM 4GB dan kartu grafis NVIDIA GeForce 930M 2GB atau Intel HD Graphics, rasanya saya sudah boleh mengucapkan selamat tinggal pada lag, crash, dan hang. Edit video tidak lagi diwarnai umpatan karena komputer tiba-tiba berhenti bekerja.


Port Super Lengkap
ASUS Vivo Aio V230IC dilengkapi sangat banyak port untuk berbagai keperluan. Di bagian belakang terdapat total delapan port, dengan rincian masing-masing satu port daya, port LAN, HDMI dan lima port USB. Nah, kelima port USB ini dibagi lagi jadi dua jenis, yakni satu port USB 3.1 dan empat port USB 3.0.

Port USB 3.1 ini penting sekali untuk memangkas waktu penggarapan video. Berbagai macam video bahan dari handycam, action cam, kamera digital, maupun smartphone dapat dipindahkan dengan cepat lewat port ini. Kecepatan USB 3.1 dua kali lipat dari USB 3.0, jadi file-file video berukuran besar dapat dipindah jauh lebih cepat dari biasanya. Situs resmi ASUS menyebut kecepatan transfer data USB 3.1 dengan ungkapan "lightning speed" alias secepat kilat. Wow!

Berita bagusnya, ASUS Vivo Aio V230IC dilengkapi dua port USB 3.1. Satu port lagi terletak di bagian samping bersama port card reader 6 in 1, port headphone dan port microphone. Card reader 6 in 1 ini juga bakal sangat membantu dalam pemindahan file video dari berbagai bentuk kartu memori. Lebih-lebih bagi yang suka lupa di mana menyimpan kabel data seperti saya.

Bagaimana kalau lupa menyimpan kabel data dan malas membongkar smartphone untuk mengambil kartu memori? Tenang, ASUS V230IC dilengkapi dengan teknologi NFC atau Near Field Communication. Teknologi ini memungkinkan perpindahan data antardua perangkat secara wireless. Misal ingin menyaksikan foto atau video dari smartphone di monitor ASUS Vivo Aio V230IC, cukup letakkan hape di sebelah kanan bagian bawah monitor dimana tertanam sensor NFC. Secara otomatis foto dan video ditayangkan di layar.

Sebagai tambahan, di sebelah sensor NFC terdapat wireless charger yang dapat mengecas baterai smartphone tanpa kabel. Ah, saya jadi bisa mengecas ASUS Zenfone C saya deh (Baca juga: Foto Bareng Pramugari Berhijab berkat Kamera Ponsel ASUS Zenfone C). Cukup letakkan smartphone di bagian kiri sebelah bawah monitor, secara otomatis baterai akan terisi dengan sendirinya. Praktis.


Layar Sentuh 10 Jari
Satu terobosan lain yang dihadirkan ASUS Vivo Aio V230IC adalah teknologi multi-touch. Memakai layar sentuh, monitor dapat membaca 10 sentuhan jari sekaligus. Dengan demikian saya dapat mengimpor beberapa video bahan sekaligus hanya dengan sekali sentuhan tangan. Lebih cepat.

Saya belum mencobanya, tapi kalau layar dapat merespon seluruh 10 sentuhan sekaligus, artinya saya bisa menyusun storyboard dengan dua tangan sekaligus. Tangan kiri ke sana, tangan kanan ke sini. Dengan 10 jari seluruhnya menyentuh area berbeda. Ini bakal jauh lebih cepat ketimbang menyusun papan cerita menggunakan kursor yang dikendalikan lewat mouse.

Bodi Tipis, Hemat Ruang
Ruang kerja saya hanyalah sebuah meja televisi yang dialih-fungsikan jadi meja untuk laptop. Meja ini terletak di dalam kamar, jadi terbayang betapa mungilnya ruang kerja saja yang hanya berupa seperangkat meja-mursi di satu sudut kamar. Kalau mau tidur, kursi dipindah ke ruangan lain agar tempat tidur jadi lebih lega.

Saat mencari-cari komputer untuk keperluan video editing, saya sempat berpikiran membeli desktop. Tapi pikir punya pikir, desktop berarti sebuah PC, sebuah monitor, plus keyboard dan mouse. Ditambah printer dan speaker, bakal sesaklah meja kerja saya yang hanya seuprit. Belum lagi tumpukan buku dan alat tulis yang selalu tersedia di samping laptop.

All-in-one PC seperti ASUS Vivo Aio V230IC adalah jawaban bagi pekerja dengan ruang kerja terbatas seperti saya. Sekilas bentuknya seperti sebuah televisi layar datar. Dimensinya 571 x 442 x 50 ~200 mm, tidak terlalu besar dan tipis. Jadi tidak memakan banyak ruang di meja kerja saya.


Suara Jernih, Monitor Tajam
Dua fitur lain yang berkaitan erat dengan video editing adalah built-in speaker dan monitor. ASUS Vivo Aio V230IC menggunakan teknologi SonicMaster Premium sehingga suara yang dihasilkan dari speaker bawaan begitu jernih dan bertenaga. Setiap suara terdengar lebih baik dan seimbang, cocok untuk menggarap video yang kerap saya beri tambahan musik.

Kemudian monitornya yang tajam membuat setiap detil video terlihat jelas. ASUS V230IC menggunakan tampilan LED-backlit yang memungkinkan layar didesain setipis mungkin, dengan teknologi in-plane switching (IPS) untuk tampilan lebih baik dari segala sudut. Tentu saja monitornya sudah mendukung Full HD resolusi 1920 x 1080 yang menjadi standar video YouTube saat ini. Cocok!

Oya, calon video creator seperti saya juga akan sangat terbantu dengan keberadaan mic internal. Ini diperlukan saat menggarap video yang membutuhkan narasi tambahan. Tak perlu lagi memakai digital video recorder atau aplikasi perekam suara di smartphone, cukup tekan saja tombol record di Magix Movie Edit Pro 2016 dan narasi langsung tersimpan di dalam komputer.

Built-in mic ini juga penting untuk layanan komunikasi seperti Skype dan Google+ Hang Out. Tak perlu lagi mencolokkan mic external atau memakai headseat yang ada mik seperti pilot. Miknya sudah tertanam, built-in, jadi langsung saja deh cuap-cuap dengan lawan bicara.



Well, itu dia impian yang sangat ingin saya wujudkan saat ini. Saya sudah memulainya dengan melakukan hal-hal yang bisa saya kerjakan sekarang, seperti membuat akun media sosial. Saya juga sudah menyusun rencana pembuatan video, tema apa saja yang akan digarap, bagaimana konsepnya. Semuanya masih di atas kertas.

Dari hanya sendirian, di mana saya merangkap semua pekerjaan (mengambil gambar, jadi talent, mengedit video, mengunggah ke YouTube, sampai promosi di media sosial), saya yakin lambat laun Grombyang TV akan berkembang. Bukankah perusahaan sebesar Google juga awalnya didirikan oleh dua orang saja dari dalam kamar asrama mahasiswa?

Untuk mengeksekusi ide ini saya butuh perangkat memadai. Karenanya saya sangat mendambakan ASUS Vivo Aio V230IC sebagai peralatan tempur. Saya bisa membayangkan, betapa serunya mengedit video menggunakan perangkat satu ini.

Blang-bleng, satu demi satu video selesai digarap. Was-wus, dengan prosesor Intel i5 dan drive SDHC saya tak perlu lagi menunggu hingga belasan jam saat mengekspor video. Terakhir, unggah video-video tersebut ke YouTube dan galakkan promosi di media sosial. Insya Allah viewers membanjir. Amin...

Bantu saya dengan doa ya, Teman-Teman...

Artikel ini diikut-sertakan dalam Start Up, Now! Writing Competition yang diselenggarakan oleh Asus Indonesia dan Intel Indonesia. Baca disclaimer blog ini selengkapnya pada laman berikut.