Posting Terbaru

Daftar Lengkap Negara Peserta Piala Asia 2015

Dua tim nasional Indonesia bertanding berturut-turutan.


Indonesia U-23 tanding lebih dulu melawan Malaysia U-21 di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Hasilnya menang 3-0 meski di ujung pertandingan sempat timbul kericuhan antara penonton dan polisi. Lalu selang sekitar dua jam kemudian timnas senior bermain melawan Arab Saudi. Hasilnya kalah 0-1.



Kekalahan dari Arab Saudi membuat poin Indonesia tetap satu hasil imbang sewaktu menjamu Cina di SUGBK pada Oktober 2013 lalu. Posisi Indonesia tak beranjak dari dasar klasemen Grup C, sedangkan Irak dan Cina sama-sama lolos menemani Arab Saudi yang menjadi juara Grup C.

Kok bisa ada tiga negara yang lolos dari Grup C sih? Arab Saudi jelas lolos sebagai juara grup. Nah, pertandingan antara Irak vs Cina di Grup C dan Thailand vs Lebanon di Grup B yang jadi penentu tiga tiket tersisa dari jalur kualifikasi. Irak, Cina dan Lebanon masih sama-sama berpeluang lolos ke putaran final sebelum pertandingan terakhir.

Irak di Grup C sebelumnya mengumpulkan poin 6 dan rekor gol (4-5), sedangkan Cina 8 (4-3), dan Lebanon 5 (7-12). Peluang terbesar dimiliki Cina karena tetap bisa lolos meskipun kalah, dengan catatan Lebanon tidak menang dengan selisih lebih dari 5 gol bersih.

Nyatanya Lebanon memang bisa mencetak 5 gol, tapi sayang gawang mereka berhasil dibobol Thailand dua kali. Dengan demikian, meski menang 5-2 di kandang Thailand, Lebanon tetap gagal lolos karena kalah selisih gol sekali pun memiliki poin sama dengan Cina (8). Catatan Lebanon di klasemen akhir Grup B adalah 8 poin, plus rekor gol (12-14) alias -2. Di tempat lain Cina yang dikalahkan Irak mengoleksi 8 poin namun memiliki selisih gol lebih baik, yakni (5-6) alias hanya -1.

Sampai posting ini dibuat situs resmi AFC masih belum mengonfirmasi kelolosan Cina. Namun referensi independen seperti Wikipedia sudah mencantumkan nama Negeri Tirai Bambu itu sebagai salah satu dari 15 peserta putaran final Piala Asia 2015.

Lho, kok cuma 15 peserta? Katanya yang ikut ke putaran final 16 negara?

Benar! Satu spot yang masih kosong adalah milik juara AFC Challenge Cup 2014 yang baru akan berlangsung pada 19-30 Mei mendatang. Ada 8 negara yang berlaga di kompetisi ini, yakni tuan rumah Maladewa, Afganistan, Myanmar, Palestina, Laos, Kirgiztan, Filipina dan Turkmenistan.

Btw, berikut daftar lengkap negara-negara peserta putaran final Piala Asia 2015:
1. Australia (tuan rumah, runner-up Piala Asia 2011)
2. Jepang (juara Piala Asia 2011)
3. Korea Selatan (peringkat 3 Piala Asia 2011)
4. Korea Utara (juara AFC Challenge Cup 2012)
5. Oman (juara Grup A babak prakualifikasi)
6. Yordania (runner-up Grup A babak prakualifikasi)
7. Iran (juara Grup B babak prakualifikasi)
8. Kuwait (runner-up Grup B babak prakualifikasi)
9. Arab Saudi (juara Grup C babak prakualifikasi)
10. Irak (runner-up Grup C babak prakualifikasi)
11. Bahrain (juara Grup D babak prakualifikasi)
12. Qatar (runner-up Grup D babak prakualifikasi)
13. Uni Emirat Arab (juara Grup E babak prakualifikasi)
14. Uzbekistan (runner-up Grup E babak prakualifikasi)
15. Cina (peringkat tiga terbaik babak prakualifikasi)
16. Juara AFC Challenge Cup 2014

Google, Pemecah Kebuntuan Internet

BAGI Anda yang sudah akrab dengan internet, nama Google tentu sudah tidak asing lagi. Sebagai mesin pencari nomor wahid saat ini, Google adalah bagian tak terpisahkan dari internet. Google dan internet bagai satu kesatuan. Apa yang bisa dilakukan seorang pengguna internet tanpa Google? Itulah sebabnya, tak mengherankan jika Google menjadi situs yang pertama kali dituju saat seorang memulai surfing.

Kemampuan ajaib Google dalam menghadirkan informasi yang dicari dalam waktu kurang dari setengah detik membuatnya sangat diandalkan sebagai pemandu dalam menelusuri dunia maya yang serba tak pasti. Setiap hari jutaan orang di seluruh penjuru dunia melakukan pencarian dengan Google yang kini tersedia dalam lebih dari 100 bahasa. Kelebihannya dalam memeringkat hasil pencarian berdasarkan tingkat relevansi membuat banyak pengguna internet begitu tergantung pada Google.

Sebagai sebuah perusahaan, nama Google menjadi terkenal tanpa biaya promosi sepeserpun. Keterkenalan Google berproses secara alami. Namanya disebarkan dari mulut ke mulut penggunanya. Seorang pengguna yang puas dengan kinerja Google lantas mempromosikan mesin pencari itu pada teman, kerabat, dan anggota keluarganya. Begitu seterusnya hingga seluruh dunia mengenal Google si mesin pencari handal itu.

Foto: seankenney.comBegitu populernya Google sebagai mesin pencari terhandal, sampai-sampai dua kamus bahasa Inggris ternama—Merriam Webster Collegiate Dictionary dan The Oxford English Dictionary—mencantumkan kata ‘google’ dalam daftarnya. Google di kamus tersebut diartikan sebagai “menggunakan mesin pencari Google untuk mencari informasi di internet.” ‘To google’ sama artinya dengan ‘to search’ atau ‘to find’.

Dalam percakapan sehari-hari orang Amerika, istilah ‘googling’ juga sering dipakai sebagai varian atau sinonim dari kata ‘searching’. Seseorang yang merasa terus dicari-cari dan dilacak semua info terkait dengan dirinya bisa mengatakan, “I think somebody is googling me.” Ini menggambarkan betapa Google telah merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari penggunannya.

Apa yang membuat Google begitu terkenal? Pertama, jelas karena layanan mesin pencari yang disediakan boleh dipergunakan secara gratis. Ini tentu sangat bermanfaat dalam usaha pemerataan informasi. Tapi yang paling penting adalah kehandalan Google sebagai mesin pencari itu sendiri. Tidak bisa disangkal lagi, saat ini Google adalah yang terbaik di bidang pencarian di internet. Belum ada mesin pencari lain yang dapat menyamai semua kelebihan yang dimiliki Google; mudah, cepat, lengkap, dan—yang paling penting—relevan. Terlebih kini Google juga bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain di luar pencarian. Seperti mengecek harga saham di bursa, mengetahui nilai tukar uang, melihat headline berita-berita terhangat di seluruh dunia, melacak alamat atau nomor telepon (khusus AS), melihat peta dan petunjuk jalan, mencari tahu ramalan cuaca terkini, sampai menerjemahkan teks dari satu bahasa ke bahasa lain.

Itulah Google. Bukan lagi sekedar mesin pencari, tapi Google telah menjelma sebagai mesin serba tahu yang dapat memberikan apapun yang ingin diketahui pengguna internet. Ya, kurang lebih seperti itulah Google mendefinisikan dirinya sendiri dalam situs resminya. “Google is the closest thing the web has to an ultimate answer machine.”

Dengan segala keistimewaan yang dimilikinya itulah saya lantas menempatkan Google pada urutan pertama dalam daftar 7 Wonders of Internet versi saya. Seperti yang saya janjikan pada posting tersebut, bertepatan dengan hari lahirnya Google ini saya hendak membagikan sebuah ebook gratis berjudul Google, Pemecah Kebuntuan Internet. Inilah ebook pertama dari Seri 7 Keajaiban Dunia Maya.

Untuk mengunduh ebook tersebut, silakan klik di sini (ukuran file 1.548 KB). Selamat membaca!


Dipublikasikan dari pelosok daerah transmigrasi di Desa Talang Datar, Kec. Bahar Utara, Kab. Muaro Jambi, Jambi, dengan layanan internet XL Axiata.

eBay, Membawa Lelang ke Internet

PIERRE Morad Omidyar terkejut bukan main ketika pointer laser rusak yang ia tawarkan di halaman lelang dalam situs pribadinya dibeli seseorang. Setengah tak percaya ia mengontak si pembeli dan menjelaskan kalau pointer laser itu dalam keadaan rusak. Ia takut pembeli tersebut mengira pointer laser yang ia tawarkan masih dalam kondisi baik sehingga mau membelinya. Tapi Pierre jadi semakin kaget ketika dalam email balasannya si pembeli menjawab, “Saya kolektor pointer laser rusak”.

Itulah momen yang mengawali sejarah sebuah situs lelang terkemuka dunia, eBay. Pointer laser rusak yang terjual dengan harga US $14,83 tersebut menjadi titik awal dari serangkaian transaksi dengan nilai mulai dari US $1 sampai dengan ribuan dolar yang terjadi di eBay setiap hari. Pointer laser rusak itu pula yang memantapkan hati Pierre Omidyar untuk menggarap situs lelangnya dengan lebih serius, sampai akhirnya menjadi sebuah perusahaan beromset ratusan juta dolar setiap bulan.

Awalnya, boleh dibilang Pierre hanya iseng. Ia memanfaatkan libur akhir pekan di bulan September 1995 untuk membuat sebuah kode pemrograman yang memungkinkan seseorang berjualan barang secara langsung kepada orang lain melalui internet. Metode yang ia pilih adalah lelang, satu sistem penjualan barang yang belum dikenal di internet saat itu. Dalam waktu tak berapa lama kode program tersebut berhasil ia selesaikan. Untuk menguji-cobanya Pierre memanfaatkan situs pribadinya. Ia membuat satu halaman khusus yang dinamai Auction Web, dan menawarkan pointer laser rusak miliknya yang kemudian terjual dengan harga US $14,83 sebagai penawaran pertama.

Mungkin Pierre sendiri tak pernah membayangkan kalau dari sekedar coba-coba menyalurkan hobinya dalam mengotak-atik program itu, ia kemudian menghadirkan revolusi besar dalam perjalanan panjang sebuah teknologi bernama internet. Berkat eBay, kini lebih dari 1 juta orang di seluruh dunia menggantungkan hidupnya semata-mata dari penghasilan yang didapat dari kegiatan lelang di internet. Sebagian lagi menjadikannya sebagai sumber penghasilan sekunder di samping gaji bulanan. Sedangkan lebih dari 200 juta pengguna internet merasa aman dan nyaman saat membeli barang yang mereka inginkan dari orang-orang di belahan bumi berbeda yang bahkan tidak mereka kenal sama sekali.

Diawali dari sebuah pointer laser rusak, eBay kini tercatat sebagai perusahaan perdagangan online yang selalu menjadi langganan dalam daftar Fortune 500, daftar 500 perusahaan terkemuka dunia menurut versi majalah Fortune. Hanya dalam waktu kurang dari 10 bulan sejak pertama kali diluncurkan pada 3 September 1995, eBay telah mempunyai 41 ribu pengguna aktif dan membukukan total penjualan senilai 7,2 juta dolar. 10 tahun kemudian, eBay mempunyai lebih dari 250 juta pengguna aktif dan membukukan total penjualan senilai 52,5 miliar dolar. Sungguh sebuah pencapaian yang sangat luar biasa untuk ukuran situs baru.

Karena catatan fenomenal serta peran pentingnya bagi dunia e-commerce dewasa ini, saya menempatkan eBay pada urutan ketiga dalam daftar 7 Wonders of Internet versi saya. Seperti yang saya janjikan pada posting tersebut, bertepatan dengan tanggal lahirnya eBay ini saya hendak membagikan sebuah ebook gratis berjudul eBay, Membawa Lelang ke Internet. Inilah ebook ketiga dari Seri 7 Keajaiban Dunia Maya.

Untuk mengunduh ebook tersebut, silakan klik di sini (ukuran file 4.331 KB). Selamat membaca!


Dipublikasikan dari pelosok daerah transmigrasi di Desa Talang Datar, Kec. Bahar Utara, Kab. Muaro Jambi, Jambi, dengan layanan internet XL Axiata.

Blogger, Tonggak Popularitas Blog

KETIKA Pesta Blogger pertama kali digelar di Jakarta pada 27 Oktober 2007, lebih dari 500 blogger dari seluruh penjuru nusantara turut serta meramaikan acara tersebut. Jumlah ini membuat banyak orang tercengang. Sungguh tidak ada yang menyangka hanya dalam hitungan yang tergolong singkat sebuah teknologi bernama blog sudah digunakan sedemikian luas di Indonesia.

Saking antusiasnya, Muhammad Nuh—Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) waktu itu—sampai mencetuskan ide untuk mengabadikan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional. Muhammad Nuh bahkan membuat semacam kontes menciptakan ‘lagu kebangsaan’ blogger Indonesia, dan menjanjikan sebuah lap-top sebagai hadiah untuk pemenangnya.

Ilustrasi: logos.wikia.comJika saja Muhammad Nuh yang sekarang menjadi Menteri Pendidikan Nasional tahu jumlah blogger Indonesia saat ini, mungkin ia bakal menggeleng-gelengkan kepala karena takjub dengan peningkatannya yang sedemikian pesat. Dan bukan sekedar sebuah komunitas berbasis hobi, blogger—bersama para facebooker dan tweeps—bahkan telah menjadi satu kekuatan massa yang diperhitungkan. Gerakan solidaritas pengumpulan koin bagi Prita Mulyasari yang dituntut oleh RS Omni International terkait kasus pencemaran nama baik adalah salah satu contohnya. Pembebasan Bibit Samad Riyanto dan Candra Hamzah, duo pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang ditahan Bareskrim Mabes Polri menyusul terungkapnya megaskandal Bank Century—pada penghujung 2009, juga sedikit-banyak dipengaruhi oleh gerakan massa yang digalang oleh komunitas online, para netter, yang salah satu pilarnya adalah komunitas blogger.

Tidak hanya di Indonesia, di belahan dunia yang lain pun pertumbuhan blog dan blogger tidak kalah pesatnya. Technorati, situs direktori blog yang memantau perkembangan blog di dunia dalam setiap detik, sempat mencatat angka fantastis. Menurut data Technorati, pertumbuhan blog pernah menembus angka 17 ribu blog sehari. Ini artinya, setiap menit lahir lebih dari 11 blog baru di jagat internet. Angka ini bisa jadi jauh lebih banyak lagi sekarang, mengingat perkembangan blog masih jauh dari puncaknya.

Mengapa blog tumbuh sedemikian pesat? Salah satu alasannya adalah karena blog sangat mudah dibuat. Ya, Anda tidak perlu menjadi seorang webmaster handal untuk membuat sebuah blog. Anda bahkan tidak dituntut menguasai bahasa pemrograman situs seperti HTML, CSS, juga PHP. Satu-satunya yang perlu Anda lakukan adalah men-daftarkan diri ke salah satu situs penyedia layanan blog gratis. Begitu terdaftar, Anda hanya membutuhkan paling lama 10 menit untuk membuat sebuah blog baru.

Semudah itukah? Ya, berkat layanan yang disediakan situs-situs penyedia blog gratis, membuat blog memang sangat mudah. Situs-situs semacam ini sudah menyedia-kan program yang memungkinkan setiap membernya untuk membuat blog baru secara otomatis, dalam waktu sangat singkat. Cukup mengisi kolom-kolom dalam halaman-halaman yang ditampilkan situs tersebut, dan blog baru Anda langsung online begitu Anda mengeklik tombol ‘Buat Blog Saya’. Selanjutnya Anda tinggal mengisinya dengan posting, mempercantik tampilannya, dan memperkenalkannya pada dunia.

Blogger (www.blogger.com) dan WordPress (www.wordpress.com) adalah 2 engine blog yang paling banyak digunakan para blogger. Selain keduanya masih ada banyak situs lain dengan layanan serupa, misalnya LiveJournal.com, TypePad.com, atau Multiply.com. Namun, kemudahan dalam pembuatan dan pengoperasian serta banyaknya pilihan tampilan (template/theme) membuat Blogger dan WordPress menjadi pilihan utama, terutama bagi blogger pemula yang baru pertama kali membuat blog.

Jika hendak dirampingkan lagi, dari 2 situs tersebut Blogger menjadi yang paling diminati. Pasalnya, Blogger menyediakan layanan yang 100% gratis, pengguna sama sekali tidak dipungut biaya, tidak diminta membayar apapun. Hal ini berbeda dengan WordPress yang membedakan layanannya menjadi 2: layanan blog gratis yang beralamat di www.wordpress.com, dan layanan pendukung blog profesional yang beralamat di www.wordpress.org.

Melihat peran pentingnya bagi popularitas dan tren blog, saya menempatkan Blogger pada urutan keempat dalam daftar 7 Wonders of Internet versi saya. Seperti yang saya janjikan pada posting tersebut, bertepatan dengan tanggal lahirnya Blogger ini saya hendak membagikan sebuah ebook gratis berjudul Blogger, Tonggak Popularitas Blog. Inilah ebook keempat dari Seri 7 Keajaiban Dunia Maya.

Untuk mengunduh ebook-nya, silakan klik di sini (ukuran file 777 KB). Selamat membaca!


Dipublikasikan dari pelosok daerah transmigrasi di Desa Talang Datar, Kec. Bahar Utara, Kab. Muaro Jambi, Jambi, dengan layanan internet XL Axiata.

Amazon.com, Pelopor Toko Online

JIKA di awal penemuannya orang hanya bisa berkirim data dan pesan lewat internet, maka kini kita bahkan bisa membeli sebuah mobil maupun rumah hanya dengan berselancar di dunia maya.

Ya, perkembangan internet yang sedemikian pesat telah membuat sesuatu yang awalnya tidak terbayangkan menjadi nyata. Bahkan mungkin malah menjadi gaya hidup. Salah satu contohnya adalah online shopping atau berbelanja di internet. Cukup hidupkan komputer dan sambungkan ke jaringan internet, selanjutnya kita dapat berbelanja sepuasnya di banyak toko online yang menawarkan beragam produk dan jasa.

Dengan toko online, kita tidak perlu keluar rumah. Semua kegiatan yang biasa kita lakukan saat berbelanja di mal bisa dilakukan dari depan komputer. Mulai dari mengunjungi toko demi toko, memilih-milih barang yang hendak dibeli, melakukan pemesanan, sampai membayar daftar belanja, semuanya dapat dilakukan semudah mengeklik mouse komputer dari dalam rumah kita sendiri.

Ilustrasi: sleetherz.comTak perlu berpanas-panasan atau kehujanan di jalan, tak perlu repot mencari ruang untuk memarkir kendaaraan, tak perlu berdesak-desakan dengan pengunjung lain, dan tak perlu antri di depan kasir. Tinggal klik sana-sini, belanja pun beres. Selanjutnya barang akan dikirim langsung ke alamat oleh kurir yang ditunjuk pengelola toko online. Lihat, kita sama sekali tidak perlu keluar rumah. Betapa mudah dan nyamannya berbelanja di toko online.

Kemudahan dan kenyamanan berbelanja inilah yang kemudian membuat banyak toko online bermunculan di internet. Mulai dari toko online serba ada yang menawarkan segala macam barang dagangan, sampai toko online yang secara spesifik hanya menjual satu jenis barang.

Ambil contoh toko buku online. Seingat saya, toko buku online pertama di Indonesia adalah BearBookStore.com yang mulai beroperasi sejak pertengahan tahun 2002. Mengusung konsep pemasaran viral (viral marketing), toko buku online ini sempat bertahan sebagai satu-satunya toko buku online di Indonesia sampai sekitar tahun 2006. Namun, kini pecinta buku dalam negeri memiliki banyak pilihan untuk berbelanja buku melalui internet. Sebab, selain BearBookStore.com ada pula KutuKutuBuku.com, BukuKita.com, IniBuku.com, PecintaBuku.com, BukaBuku.com, dan lainnya.

Ini tentu fenomena menarik. Dulu, saat internet pertama kali ditemukan, toko online adalah sesuatu yang dianggap tidak mungkin. Orang yang berpikiran bahwa suatu saat internet dapat menjadi sebuah dunia sendiri seperti halnya dunia kehidupan sehari-hari—sehingga kita juga bisa berbelanja di internet, dianggap mengigau. Sama halnya seperti saat Wright Bersaudara mengimpikan sebuah kendaraan yang dapat membawa mereka terbang ketika teknologi mobil bahkan belum sempurna.

Ternyata, semua itu mungkin terjadi. Kini dunia internet dipenuhi entah berapa ratus ribu, bahkan mungkin juta, toko online di seluruh dunia. Dan, Amazon.com rasanya pantas disebut sebagai pelopor toko online. Karena toko buku yang didirikan oleh Jeff Bezos ini telah berhasil mengubah persepsi orang mengenai perdagangan di internet.

Atas perannya sebagai pelopor toko online itulah saya lantas menempatkan Amazon.com pada urutan kedua dalam daftar 7 Wonders of Internet versi saya. Seperti yang saya janjikan pada posting tersebut, bertepatan dengan bulan lahirnya Amazon.com ini saya hendak membagikan sebuah ebook gratis berjudul Amazon.com, Pelopor Toko Online. Inilah ebook kedua dari Seri 7 Keajaiban Dunia Maya.

Untuk mengunduh ebook-nya, silakan klik di sini (ukuran file 3.640 KB). Selamat membaca!


Dipublikasikan dari pelosok daerah transmigrasi di Desa Talang Datar, Kec. Bahar Utara, Kab. Muaro Jambi, Jambi, dengan layanan internet XL Axiata.

YouTube, Layanan Video Sharing No. 1

RASANYA tak ada situs yang namanya begitu cepat mendunia seperti YouTube. Hanya dalam waktu 5 tahun saja situs ini menjadi pemimpin dalam layanan video sharing di internet. YouTube, sebagaimana disebut oleh David Lidsky dalam situs FastCompany.com, bahkan telah mengubah cara pandang orang terhadap internet dan media pada umumnya.

Nama domain youtube.com didaftarkan pertama kali pada tanggal 15 Februari 2005, kemudian tanggal 23 April di tahun yang sama video pertama di-upload sekaligus menandai beroperasinya YouTube versi beta (percobaan). Video berdurasi 19 detik itu berjudul “Me at the Zoo”, sebuah video yang menunjukkan Jawed Karim—salah satu pendiri YouTube—sedang berdiri di depan sekumpulan gajah di dalam kebun binatang San Diego, California.

November 2005, perusahaan investasi top di AS Sequoia Capital menanamkan modal awal sebesar 3,5 juta dolar ke YouTube. Sequoia Capital memang terkenal berani memodali perusahaan-perusahaan teknologi berbasis internet. Sebelum YouTube, perusahaan ini sempat ikut memodali Google bersama-sama dengan Kleiner Perkins Caufield & Byers, perusahaan permodalaan yang cukup terpandang di AS.

Keberanian Sequoia Capital mengucurkan dana awal sebesar 3,5 juta dolar—dan 8 juta dolar lagi di bulan April 2006—ke YouTube seolah menjadi pertanda kalau situs ini bakal menjadi besar, sama besarnya dengan situs-situs lain yang pernah dimodali perusahaan yang digawangi investor kakap Michael Moritz itu. Dan, kelak terbukti YouTube menjadi situs pilihan nomor satu untuk urusan berbagi video di internet.

Sebelum YouTube, sebenarnya sudah ada sejumlah situs yang melayani kebutuhan pengguna internet untuk berbagi video. Beberapa diantaranya adalah Metacafe dan MySpace. Metacafe mulai beroperasi sejak Juli 2002, sedangkan MySpace sejak tahun 2003. Dari luar AS ada DailyMotion yang berbasis di Paris, dan mulai beroperasi Maret 2005 atau 9 bulan sebelum YouTube diluncurkan secara resmi ke publik.

Hebatnya, YouTube secara brilian mampu melewati semua pendahulunya dan menduduki posisi pertama sendirian. MySpace lebih fokus pada aktivitas jejaring sosial dan menjadikan layanan video sharing hanya sekedar pelengkap saja. Metacafe kini berada di peringkat ketiga diantara situs-situs video sharing menurut comScore, sebuah perusahaan riset yang mencatat semua kegiatan di internet untuk kepentingan pengumpulan data seputar pemasaran online. Sedangkan DailyMotion malah hanya berada di peringkat 42 dalam daftar yang sama.

Ketika Google membeli YouTube dengan harga 1,65 milyar dolar dalam bentuk kepemilikan saham pada tanggal 9 Oktober 2006—harga yang dianggap tidak masuk akal oleh sebagian pengamat di AS, semakin jelaslah bukti yang menunjukkan betapa YouTube merupakan situs video sharing masa depan yang patut diperhitungkan.

Mengacu pada pertumbuhannya yang sangat luar biasa serta posisinya sebagai situs layanan video sharing terpopuler saat ini, saya menempatkan YouTube pada urutan kelima dalam daftar 7 Wonders of Internet versi saya. Seperti yang saya janjikan pada posting tersebut, bertepatan dengan tanggal lahirnya YouTube ini saya hendak membagikan sebuah ebook gratis berjudul YouTube, Layanan Video Sharing No. 1. Inilah ebook kelima dari Seri 7 Keajaiban Dunia Maya.

Untuk mengunduh ebook tersebut, silakan klik di sini (ukuran file 10.493 KB). Selamat membaca!


Dipublikasikan dari pelosok daerah transmigrasi di Desa Talang Datar, Kec. Bahar Utara, Kab. Muaro Jambi, Jambi, dengan layanan internet XL Axiata.

6 Profesi Para Jutawan

SEPERTI yang saya ungkapkan di buku Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku! (DP Press, 2012), naskah buku yang diterima penerbit tidak selalu langsung diterbitkan. Memang ada yang diterbitkan tak lama setelah naskah dinyatakan diterima, tapi banyak juga yang harus mengendap hingga 1-2 tahun bahkan lebih sebelum akhirnya diterbitkan.

Nah, posting kali ini menceritakan salah satu naskah buku saya yang diterima sebuah penerbit di Jogja pertengahan 2010. Uangnya sudah lama habis buat biaya aqiqah anak sulung saya. Eh, ternyata bukunya baru terbit bulan kemarin. Itupun kalau tak ada seorang aktivis MLM asal Jakarta yang memberi kabar lewat email--setelah ia membaca buku tersebut, saya tak akan tahu buku tersebut akhirnya terbit.

6 Profesi yang Bisa Buatmu Jadi Jutawan
Tanpa bermaksud narsis apalagi pamer, di posting ini saya bermaksud memperkenalkan buku terbaru saya yang berjudul 6 Profesi yang Bisa Buatmu Jadi Jutawan. Buku setebal 278 halaman, dengan dimensi buku 14 x 20 cm, ini terbit Maret 2012 alias bulan lalu. Nama penerbitnya Laksana, yang merupakan salah satu lini dari penerbit DIVA Press Group. Harganya? DIVA Press membanderolnya Rp30.000/eksemplar, namun kalau Bung mau membelinya melalui saya, saya bisa memberi diskon 25%.

Seperti saya ungkapkan di atas, saya baru tahu buku tersebut terbit dari seorang pegiat MLM di Jakarta. Rupanya rekan kita distributor Amway ini membaca buku saya yang memang pada salah satu bab membahas kiprah distributor MLM. Ia lantas mengirim email dan mengabari jika buku tersebut telah membuatnya terkesan. Lucunya, saya malah heran. "Buku yang mana ya?" tanya saya dalam hati. Hari ini, setelah melakukan penelusuran di Google dan situs DIVA Press, akhirnya pertanyaan tersebut terjawab sudah.

Penulis: Eko Nurhuda
Isi: 278 hal.
Ukuran: 14x20 cm
Penerbit: Laksana, Yogya
Terbit: Maret 2012
Kalau Bung membaca buku Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku!, cerita mengenai naskah buku ini ada di Bab 19, halaman 131. Persis seperti cerita di bab yang saya beri judul "Kalau Naskah Ditolak" tersebut, naskah 6 Profesi yang Bisa Buatmu Jadi Jutawan pertama kali saya tulis pertengahan 2005. Waktu itu judulnya Profesi Para Jutawan, dan hanya berisi kisah-kisah sukses pelaku 5 profesi: Pengusaha, Distributor MLM & direct selling, broker properti, agen asuransi, dan penulis/pengarang.

Begitu rampung langsung saya kirim ke sebuah penerbit ternama di Jakarta. Sebulan kemudian naskah itu kembali, dengan catatan redaksi menolaknya. Sempat mengendap selama hampir 5 tahun, akhir 2009 saya otak-atik lagi untuk rencananya dikirimkan ke DIVA Press. Namun karena awalnya tidak mantap, baru pada pertengahan 2010 saya kirim. Saya tambahkan profesi blogger profesional sehingga jumlah profesinya jadi 6, dan judulnya saya ganti jadi Road to be A Millionaire dengan subjudul 6 Profesi yang Bisa Membuatmu Jadi Jutawan. Alhamdulillah, langsung diterima.

Yang lucu bagi saya, buku ini diterbitkan ketika hubungan saya dengan editor kepala DIVA Press sedang rusak. Karena miskomunikasi, akhir 2010 saya sempat beradu argumen dalam nada tinggi via telepon dengan sang editor. Setelah itu kami putus kontak sama sekali. Jadi, rasanya tak heran jika DIVA Press tak memberi kabar saat buku ini diterbitkan. Padahal, sesuai kontrak penerbitan naskah, saya berhak mendapatkan 5 eksemplar sampel buku cetakan pertama, dan 2 eksemplar untuk cetakan-cetakan berikutnya.

Lebih lucunya lagi, buku ini awalnya saya beri judul Profesi Para Jutawan. Lalu setelah direvisi saya ubah judulnya jadi Road to be A Millionaire dengan subjudul 6 Profesi yang Bisa Membuatmu Jadi Jutawan. Eh, ketika diterbitkan kok penerbit malah memakai subjudul sebagai judul. Yah, begitulah dunia penerbitan buku.

Oya, berminat membeli buku 6 Profesi yang Bisa Buatmu Jadi Jutawan? DIVA Press membanderol buku ini seharga Rp30.000/eksemplar, namun kalau Bung mau membelinya melalui saya, saya bisa memberi diskon 25%. Plus, bonus tanda tangan wis. Hehehe.

Matinya Surat Kabar

PERTAMA kali ke Pemalang, pertengahan 2006, saya ingat ada dua koran daerah yang secara khusus mengambil segmen pembaca di wilayah eks Karesidenan Pekalongan. Yang pertama Radar Tegal milik Jawa Pos Group, dan koran kedua Nirmala Post milik seorang pengusaha ternama di Tegal. Eh, waktu saya menikah Agustus 2009, Nirmala Post sudah lenyap dari peredaran. Tinggallah Radar Tegal sendirian sebagai koran lokal di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.

'Mati'-nya Nirmala Post kala itu jadi kabar buruk bagi saya. Pasalnya saya sempat berencana magang di koran tersebut selepas dari Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY), dan syukur-syukur bisa kecantol jadi wartawan tetap. Tapi apa daya, koran yang dimaksudkan untuk menyaingi Radar Tegal itu harus mundur dari persaingan di tahun ketiganya.

Setelah menikah dan berbulan madu (*halah*), saya kembali mendapati berita tentang menghilangnya satu koran di Jogja. Ya, Koran Merapi, koran kuning alias koran yang banyak memuat berita kriminal dan mistis itu diberhentikan peredarannya oleh Kedaulatan Rakyat Group per 1 September 2009. Sebagai gantinya, PT BP Kedaulatan Rakyat menerbitkan koran baru; KR Bisnis. Lucunya, umur KR Bisnis juga tak panjang. Manajemen KR Group memilih mengakhiri koran tersebut dan kembali menerbitkan Koran Merapi.

Jauh sebelumnya, mingguan Malioboro Ekspres tempat saya pertama kali mengawali jalan sebagai jurnalis sudah lebih dulu gulung tikar. Tidak berlanjutnya Malioboro Ekspres jadi semakin tragis karena koran ini terbit mingguan dan baru berusia kurang dari 6 bulan. Saya di sana sekitar 3 bulan, lalu pindah untuk magang di Harian Jogja selama dua bulan satu minggu. Sekeluarnya saya dari Harian Jogja, Pemred Malioboro Ekspres memberi kabar kalau koran itu tidak lagi terbit.

Kembali ke Pemalang, beberapa bulan belakangan terbit koran-koran baru. Saya tak ingin menyebut namanya karena bermaksud memberi kritik di sini. Beberapa eks kru Nirmala Post terlibat di dalamnya. Sayang, dari segi tampilan (layout halamannya) saja koran-koran tersebut tak menarik. Membaca beritanya jauh tidak menarik lagi. Kalau isi berita Radar Tegal yang merupakan anggota jaringan Jawa Pos Grup saja tidak membuat saya tertarik, apalagi koran-koran baru tersebut. Formatnya yang terbit dwimingguan membuat saya menebak koran ini bermodal cekak, dan tak akan berumur panjang. Eh, dugaan saya tak salah.

Sudah Diprediksi
Berjatuhannya media cetak sebenarnya sudah diprediksi banyak pengamat. Kian mahalnya harga kertas serta semakin majunya dunia Teknologi Informasi membuat media cetak susah bersaing dengan media elektronik, dan belakangan dengan media internet. Dengan segala keterbatasannya, media cetak tidak bisa mengejar kecepatan gerak media internet dan juga media elektronik.

Bagaimana bisa bersaing? Media cetak menyajikan berita kemarin, sedangkan media elektronik menyajikan berita-berita yang terjadi saat itu juga. Media internet bahkan selalu di-update setiap saat dengan berita-berita terbaru. Alhasil, hanya media cetak yang didukung modal besar serta benar-benar memiliki konsumen loyal dalam jumlah besar saja yang mampu bertahan hidup.

Fenomena ini juga pernah disampaikan seorang rekan yang jurnalis senior dalam beberapa kesempatan berbincang dengan saya. Waktu itu saya masih getol-getolnya ingin jadi jurnalis media cetak dan mengabaikan ajakannya untuk mengembangkan sebuah situs berita lokal. Tapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri keambrukan Nirmala Post, Malioboro Ekspres, dan sejumlah koran-koran lokal lain, saya jadi berubah pikiran.

Dulu saya sempat berangan-angan punya situs berita lokal. Saya pun membeli nama domain PemalangPost.com, sebagai awalan saya isi dengan berita-berita seputar Pemalang dari sejumlah koran lokal. Tapi saya kurang serius mengurus situs ini, jadi umurnya tak panjang. Entah, mungkin suatu saat saya akan memulainya lagi. Mungkin lho ya...

Mau Melempari Muka Bos eBay?

SEBAGAI salah satu member eBay yang terbilang rajin jualan--meski tak selalu laku, saya tahu persis seberapa besar fee yang dikenakan eBay. Ya, untuk para penjual ada banyak fee yang ditetapkan eBay. Fee bahkan sudah dikenakan saat kita baru mau memajang barang dagangan! Maka, saya pun jadi lebih suka belanja ketimbang berjualan di eBay.

Seberapa besar dan seberapa banyak sih biaya-biaya yang dibebankan eBay pada membernya yang berjualan? Sebenarnya tak bisa dibilang besar juga. Kalau dirupiahkan nilainya hanya beberapa ribu saja. Namun kalau dalam sebulan berjualan setidaknya 50 item, tentu nilai beberapa ribu itu membengkak jadi lumayan besar.

Sebagai gam- baran, untuk mema- jang sebuah barang dengan harga di $0.99 ke bawah member dikenai listing fee $0.10. Biaya ini bakal meningkat seiring besar starting bid (harga awal untuk sistem lelang) barang yang dijual. Biaya listing degan format fixed price lebih mahal lagi, yakni $0.50/item. Nanti ketika barang laku, eBay mengenakan fee lagi. Kali ini namanya Final Value Fee yang besarnya rata-rata 10% dari harga penutupan barang (untuk sistem lelang) atau harga jual (untuk sistem fixed price). Ini masih belum cukup. Kalau penjual mengenakan biaya pengiriman, eBay juga menarik biaya sebesar 10% dari tarif ongkos kirim yang kita kenakan ke pembeli.

Masih kurang? Karena satu-satunya cara menerima uang di eBay adalah melalui PayPal, maka penjual bakal kena fee lagi. Kali ini fee-nya dikenakan oleh PayPal selaku pengelola dana. Dengan demikian, seorang penjual di eBay dikenai setidaknya 3 biaya di eBay (listing fee, Final Value Fee, dan Final Value Fee on Shipping Fee) dan 1 biaya di PayPal. Total 4 biaya. Keren!

Mungkin karena jengkel dengan berbagai fee ini, sejumlah eks member eBay yang tidak puas lantas keluar membuat situs tandingan. Namanya iOffer.com. Tak cukup membuat situs tandingan, penggagas iOffer juga menyerang eBay dan para pejabatnya. Awak iOffer membuat sebuah game dengan program flash yang disebar-luaskan melalui situs iOffer. Dalam game itu, kita bisa melempari muka Pierre Omidyar si pemilik eBay. Sadis? Namanya saja game, tentu saja menyenangkan.

Mau ikut melempari muka Pierre Omidyar? Ini dia game-nya! Tapi sebelumnya ikuti dulu sejarah eBay dalam versi iOffer.




Jangan lupa hidupkan dulu speakermu, Bung. Enjoy!

Mengapa Saya Tidak Membeli SMUO?

Kalau Bung sudah akrab dengan internet awal tahun 2000-an, bisa dipastikan Bung kenal nama Joko Susilo (JS). Atau setidak-tidaknya pernah mendengar meski hanya satu kali.



Ya, nama tersebut adalah pemilik sekaligus pengelola situs FormulaBisnis.com yang terkenal dengan produk Sistem Mesin Uang Otomatis (SMUO).

Saya jadi tertarik mengangkat sebuah kenangan lama. Tentu saja tidak jauh-jauh dari JS dan Formula Bisnis, karena saya hendak membeberkan pengalaman saya ketika pertama kali melihat situs penjual SMUO tersebut sampai kemudian berkeputusan untuk tidak membelinya. Ya, saya ingin membeberkan alasan mengapa saya tidak membeli SMUO.



Saya pertama kali mengenal JS dan Formula Bisnis melalui email sampah (spam) sekitar pertengahan 2001. Saya tidak ingat bulan berapa pastinya, tapi yang jelas harga SMUO masih Rp90.000-an. Membaca sales page Formula Bisnis, siapa sih yang tidak terkesima? Bayangkan, Anda dapat menghasilkan uang puluhan juta rupiah hanya dengan menerapkan 3 langkah sederhana yang diajarkan dalam SMUO! Fantastis, bukan? Tidak heran jika saya jadi bersemangat sekali membaca habis seluruh isi sales page Formula Bisnis.

Dari sales page tersebut saya jadi tahu apa saja tiga langkah sederhana untuk memulai bisnis internet yang dimaksud JS dalam SMUO yang ditawarkannya. Tiga pilar utama yang diajarkan ebook tersebut adalah; (1) ciptakan produk, (2) buat website untuk menjual produk tersebut, dan (3) datangkan trafik. Benar-benar mudah! Demikian kata saya dalam hati waktu itu. Kebetulan pula waktu itu saya sedang butuh sumber pemasukan setelah tak lagi menjadi guide dan gagal melanjutkan kuliah ke jenjang S1.

Hampir saja saya tertarik membeli SMUO. Namun setelah melihat screenshot yang dipamerkan, saya justru jadi pikir-pikir lagi. Saya perhatikan baik-baik deretan angka yang ada di tampilan buku rekening itu, jumlahnya selalu Rp45.000 dengan 3 digit akhir yang berlainan satu sama lain. Logika saya langsung bermain. Sejumlah pertanyaan kritis bermunculan di kepala saya. Bukankah harga SMUO Rp90.000? Dari harga tersebut, JS selaku admin memperoleh Rp45.000 dan separuhnya untuk reseller. Dan ingat, calon pembeli juga diingatkan untuk memberikan angka unik di 3 digit terakhir uang yang disetorkan. Jadi, dari seharusnya hanya Rp45.000 masing-masing untuk admin (JS) dan reseller, pembeli harus mentransfer, misalnya, sejumlah Rp45.212, Rp45.234, Rp45.007, dsb.

SMUOPertanyaan penting dalam benak saya yang kemudian membuat saya batal membeli SMUO adalah, bisnis apa yang sebenarnya dijalankan JS? Apa yang hendak ia ajarkan pada saya dalam ebook SMUO itu? Kalau melihat dari angka-angka dalam screenshot yang ditunjukkan, bukankah sebenarnya ia sedang menunjukkan transferan dana dari para pembeli SMUO sebelumnya? Artinya, dari berjualan ebook itulah JS memperoleh uang. Dan itulah yang hendak diajarkannya pada saya (dan seluruh pengunjung FormulaBisnis.com) lewat ebook SMUO seharga Rp90.000 tersebut. Bukankah itu yang ia katakan di kalimat awal sales page-nya?

Dari sana saya menyadari kalau apa yang akan diajarkan oleh ebook tersebut (bila saya jadi membelinya) tak lain tak bukan adalah apa yang sedang dijalankan JS dengan berjualan SMUO itu. Artinya, apa yang dibeberkan JS dalam ebook-nya justru sedang dijalankan olehnya bersama FormulaBisnis.com. Maka sayapun urung membeli SMUO. Untuk apa? Toh, saya sudah tahu apa yang akan diajarkan, yakni ciptakan sebuah produk informasi seperti SMUO, buat sebuah situs penjual seperti FormulaBisnis.com, dan kemudian alirkan trafik ke situs tersebut. Itu saja kan rahasianya?

Itu pengalaman saya dengan Formula Bisnis, dan itulah mengapa saya tidak membeli SMUO walaupun sebenarnya saya sempat sangat ingin memilikinya. Ini pengalaman nyata. Saya menyampaikannya hanya untuk sharing saja. Anda sendiri, bagaimana pengalaman Anda dengan Formula Bisnis?


Catatan: Gambar-gambar diperoleh dari Web Archive, tepatnya di sini dan di sini.

Big Match Pekan Ini

vs

Semifinal II Liga Champion
Kamis, 1 Mei 2014 pkl. 02.45 WIB

Hasil-hasil:
B. Muenchen 0-4 R. Madrid
()


 
© 2009-2014 bungeko.com - All Rights Reserved
Desain tampilan: Creating Website, Modifikasi tampilan: Eko Nurhuda