Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 27 Februari 2017


TIGA hari lalu timeline media sosial mendadak heboh. Netizen ramai-ramai menulis status tentang Sheila On 7, sembari menceritakan kenangan mereka yang terkait dengan lagu-lagu band asal Yogyakarta tersebut. Hari itu, 24 Februari 2017, hari di mana SO7 manggung di Konser Spesial Trans TV, bolehlah disebut sebagai Hari Nostalgia Nasional.

Saya sendiri suka lagu-lagu Sheila, meski tak semuanya juga sih. Saya masih kelas tiga SMA sewaktu album pertama Duta and the Gank meluncur di tahun 1999. Album yang kemudian terjual sebanyak 1,5 juta kopi. Kalau diminta menyebut satu saja lagu yang disukai dari album tersebut, saya bakal merasa kesulitan. Sebab setidaknya ada 3-4 lagu yang sangat saya sukai. Nggak bisa kalau cuma menyebut satu.

Tentu ada alasan kenapa saya menyukai sebuah lagu. Tema dalam lagu Kita cocok sekali dengan dunia muda anak SMA, sedangkan Perhatikan Rani juga terasa pas dengan kondisi saya yang menjelang kelulusan sekolah. Masa-masa ketika segenap cita-cita diapungkan, dan saya tengah bersiap meninggalkan kampung halaman tercinta demi menggapainya.

Siapa sih yang tidak dibikin sendu oleh lagu Dan... yang mendayu-dayu dan pilu? Saya yang konon tipe manusia melankolis senang sekali dengan lagu model begini. Pengen nangis rasanya kalau dengar lagu ini. Hiks.

Rupanya bukan cuma saya lho. Lagu Dan... juga disukai banyak orang se-Indonesia dan Malaysia. Musiknya yang easy listening dan temanya yang pilu sukses mengharu biru. Wajar kalau kemudian single kedua SO7 ini menempati posisi satu di chart MTV Ampuh selama 40 pekan, lalu terpilih sebagai Song of the Year selama dua tahun berturut-turut.

Kemudian, coba jujur, siapa yang dulu nembak cewek idolanya dengan lagu J.A.P alias Jadikan Aku Pacarmu? Siapa juga yang suka gombalin pacar dengan lagu Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki? Hayo, pada ngaku! Hehehe.

Well, 18 tahun berlalu sejak Sheila On 7 merilis album self-title itu, wajar kalau kemudian banyak bapak-bapak dan ibu-ibu usia 30-an yang mendadak bernostalgia ke masa remaja. Kejadiannya sudah berlalu lama sekali, tapi memorinya tetap tersimpan sepanjang hidup. Begitu mendengar lagu yang berhubungan dengan kenangan itu, seketika itu juga kenangannya tergambar dalam kepala.



Kenangan, Ekspresi, dan Motivasi
Bagi saya, musik adalah cara untuk mengenang sekaligus merawat masa lalu. Mirip seperti soundtrack, atau bahkan backsound, sebuah lagu dapat secara otomatis mengingatkan saya penggalan demi penggalan kehidupan.Sebaliknya, ketika berinteraksi dengan orang-orang dari masa lalu, ingatan saya bakal langsung melayang pada lagu yang tengah hits di masa kami masih bersama-sama.

Ketika berbalas komentar di Facebook dengan teman sebangku semasa kelas satu SMA, misalnya, tiba-tiba saja saya seolah mendengarkan lagu Mungkinkah (Stinky) atau Mencari Alasan (Exist). Kali lain sewaktu membaca status kawan SMP, di telinga saya terngiang-ngiang lagu Gerimis Mengundang (Slam) atau Di Sana Menanti Di Sini Menunggu (UK's).

Saya sampai bisa merinci judul lagu dan kenangan apa yang terlintas begitu mendengarnya. Kalau penasaran mau tahu boleh intip tabelnya dalam spoiler berikut. Kalau tidak ya abaikan saja :)

Daftar Lagu Kenangan:
Dinding Pemisah (Merry Andani) Kelas 4-5 SD di Batumarta VIII, OKU, Sumsel.
Lelaki dan Telaga (Franky Sahilatua) Masa-masa awal pindah ke Sungai Bahar, Jambi.
Gerimis Mengundang (Slam) Kelas 3 SMP, masa-masa panen jagung di kebun belakang rumah di Sungai Bahar, Jambi.
Mungkinkah (Stinky), Mencari Alasan (Exist) Lulus SMP dan awal-awal masuk SMA Negeri 1 Muara Bulian.
Salah (Potret) Kelas 1 SMA, ikut Persami di halaman sekolah.
Jangan Lagi (Dot) Kelas 2 SMA, ikut perkemahan Saka Wanabhakti tingkat provinsi di Bukit Senami, Jambi.
Genit (Tipe-X), Sobat (Padi), Kita, Dan... (SO7) Kelas 3 SMA, menjelang kelulusan sekolah. Saya dan kawan-kawan sibuk-sibuknya berdiskusi kuliah di mana.
Californication (RHCP), Kuliah Pagi (Harapan Jaya) Masa-masa awal di Jogja, tinggal bersama induk semang di kos pertama di daerah Mantrijeron.
Mahadewi (Padi), Pelangi di Matamu (Jamrud) Pindah ke kos kedua di Suryodiningratan, jaman-jaman iseng nge-band sama teman sekos.
Stars (The Cranberries) Beli komputer pertama, PC second + monitor seharga Rp1,5 juta.
Zephyr Song (RHCP) Masa-masa kelam. Lanjut kuliah nggak bisa, cari kerja nggak dapet-dapet. Satu-satunya yang dibanggakan tulisan sering dimuat di Tabloid BOLA.
Hapus Aku (Nidji), Fix You (Coldplay) Beli komputer kedua, masih PC second. Mulai serius menulis dan membuat blog pertama.
Akhirnya Aku Menemukanmu (Naff) Melamar kekasih hati ke Pemalang :)


Pendek kata, musik sangat lekat dalam hidup saya. Saya merasa musik dapat mewakili ekspresi saya. Sudah saya bilang kan kalau saya tipe melankolis? Manusia tipe ini cenderung sulit mengungkapkan perasaan. Dan, "where words fail, music speaks," kata Hans Christian Andersen.

"Musik adalah sebuah ekspresi nurani dasar yang memiliki dunianya sendiri. Layaknya sebuah dunia, dunia musik pun disertai oleh bahasa dan warna sebagai sarana ekspresi dan komunikasi." Demikian kalimat yang tertera di halaman profil situs resmi Purwa Caraka Music Studio.

Tentu saja saya sepakat dengan definisi di atas.

Selain itu, saya selalu merasa lebih bersemangat saat mendengarkan lagu. Rupanya ini pernah diteliti lho oleh Brunel University di London, yang menyebut musik membuat semangat seseorang meningkat antara 1-2%. Hasil penelitian itu juga menunjukkan, dengan mendengar musik daya tahan tubuh seseorang dapat meningkat hingga 15%.

Biasanya saya mendengarkan musik menggunakan laptop sembari menggarap pekerjaan. Di saat bepergian, saya sering mengandalkan fitur radio yang ada di smartphone. Tapi kalau ingin mendengarkan lagu-lagu favorit dari playlist, saya tinggal buka aplikasi Langit Musik saja. Praktis!


Streaming Musik Tanpa Kuota
Langit Musik adalah aplikasi penyedia musik berlangganan persembahan Telkomsel dan PT MelOn Indonesia. Pengguna Telkomsel dapat menikmati layanan ini secara gratis tis. Jadi, kita tidak perlu kuatir kehabisan kuota saat menggunakan aplikasi Langit Musik sepanjang paket data Telkomsel kita masih aktif dan kita berada dalam jangkauan jaringan Telkomsel.

Lho, katanya berlangganan tapi kok gratis? Tidak perlu bingung, sebab Langit Musik menyediakan dua jenis layanan bagi penggunanya. Kita dapat mendaftarkan diri di layanan Freemium atau Premium.

Sesuai namanya, layanan Freemium dapat dinikmati secara gratis 100% tanpa biaya apapun termasuk untuk kuota data. Hanya saja Langit Musik akan memperdengarkan iklan saat kita memutar lagu. Sedangkan membership Premium adalah layanan yang berbayar. Berlangganan.

Layanan Premium ini pun ada dua jenis: Premium 7 Hari dengan biaya Rp6.600 (termasuk PPN 10%), dan Premium 30 Hari (Rp22.000, termasuk PPN 10%). Pembayaran biaya tersebut dilakukan dengan memotong pulsa pada nomor Telkomsel kita. Lalu, bedanya apa ya antara layanan Premium 7 Hari dan 30 Hari? Lihat tabel berikut:


Sebagai info tambahan dari tabel di atas, pengguna Freemium memiliki sejumlah keterbatasan, yakni fitur Skip Songs yang hanya bisa sebanyak 10 lagu sepekan. Tak cuma itu, lagu-lagu yang didengarkan pun bakal disisipi iklan. Serasa dengar radio dong ya?

Pengguna Freemium juga tidak dapat mendengarkan lagu secara offline. Dengan kata lain, jika kita mendaftar Freemium tidak bisa menyimpan lagu favoritmu. Padahal inilah yang membuat kita dapat streaming dan mendengarkan lagu tanpa mengurangi kuota paket data. Nggak asyik banget, kan?

Jadi, lebih baik sekalian saja mendaftar ke layanan Premium agar dapat menikmati semua fitur unggulan Langit Musik. Sebagai uji coba, daftar saja dulu di layanan Premium 7 Hari. Beli pulsa Rp10.000, untuk daftar ke Langit Musik terpotong Rp6.600. Masih ada sisa pulsa Rp3.400. Hehehe.

Kita dapat memilih tipe membership pada saat pertama kali mendaftar. Ingat, pendaftaran menggunakan nomor selular Telkomsel ya. Sebelum itu instal dulu aplikasinya di smartphone. Cari "Langit Musik" di Google PlayStore, kemudian pasang deh. Ukurannya cuma 9,34 MB kok. Enteng.


Setelah aplikasi terpasang di hape, lakukan langkah-langkah berikut:
  1. Tap tombol Sign Up untuk mendaftarkan diri. Atau kalau sudah pernah mendaftar sebelumnya, tap saja tombol Sign In. Saya sendiri harus mendaftarkan diri dulu, sebab terakhir kali memakai nomor Telkomsel aplikasi Langit Musik belum ada.
  2. Percantik profilmu dengan mengganti foto, data-data pribadi, dan pengaturan lainnya.
  3. Atur notifikasi akun. Kita dapat menyetel pemberitahuan atau pembaharuan apa dan dari siapa yang bakal ditampilkan aplikasi di hapemu.
  4. Ini yang terpenting, pilih jenis Subscription apakah Freemium atau Premium. Kalau ingin coba-coba dulu daftar saja Premium 7 Hari. Namun jika ingin lebih hemat, sekalian saja daftar ke layanan Premium 30 Hari. Dengan biaya Rp22.000 untuk 30 hari, berarti per hari kita cuma keluar uang Rp733,33. Jauh lebih murah dari tarif parkir!
Kita bisa mendaftar langsung melalui aplikasi, di mana sistem akan mengirimkan pesan pendaftaran secara otomatis. Tapi saya sarankan lebih baik kirim SMS sendiri saja, ketik REG NEWLM dan kirim ke 96161. Nanti akan ada SMS balasan meminta konfirmasi. Balas dengan mengetik "1" (tanpa tanda petik) untuk mengonfirmasi pendaftaran.

Setelah itu kita akan menerima SMS pemberitahuan bahwa pendaftaran membership Langit Musik telah berhasil. Saya sendiri mendaftar paket Premium 30 Hari, sehingga pulsa Simpati saya terpotong sebanyak Rp22.000. Tak apa, sebagai gantinya saya puas streaming dan download lagu secara legal selama sebulan ke depan.

Selesai! Kini saatnya mengeksplorasi aplikasi Langit Musik. Jelajahi dan temukan lagu-lagu favoritmu.

New Langit Musik
Ada lebih dari 6 juta lagu yang bebas dinikmati di Langit Musik. Jumlah ini bertambah banyak 2 juta dari yang disebutkan VP Prepaid and Broadband Marketing Telkomsel, Ririn Widaryani, dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, 31 Oktober 2016, seperti dilansir CNN Indonesia.

Maklum, aplikasi Langit Musik sendiri telah berbenah sehingga versi yang sekarang disebut New Langit Musik. Terdapat sejumlah perubahan di aplikasi ini. Yang paling mencolok adalah perubahan logo yang kini lebih elegan dan eye-catching.

Dulu logo Langit Musik hanya berupa tulisan "Langit" berwarna putih di atas cipratan warna biru, dan tulisan "langit" berwarna merah. Tanpa bermaksud meremehkan, logo ini terlalu sederhana. Yang jelas logo seperti ini tidak ideal dijadikan sebagai ikon aplikasi di smartphone. Terlalu panjang. Umumnya ikon aplikasi berbentuk lingkaran atau kubus.


Nah, logo yang baru lebih simpel sekaligus lebih elegan. Berbentuk lingkaran, nama Langit Musik diwakili oleh huruf "L" dan "M" yang ditulis bersambung. Kemudian di atasnya terdapat headphone sebagai simbol bahwa ini adalah aplikasi musik. Lingkarannya sendiri bergaris tepi biru, dengan latar belakang berwarna biru dan ungu.

Dengan desain baru ini barulah logo Langit Musik cocok dipakai sebagai ikon aplikasi di handphone. Lebih fresh, juga lebih terkesan kekinian.

Perubahan lain adalah tampilan interface-nya lebih gelap. Pada versi lama, tampilannya terang akibat dominasi warna putih dan biru. Sekilas ini terkesan cerah ceria, namun berlama-lama menatap layar terang membuat mata kita lelah dan bahkan sakit.

Kini warna ungu tua dengan sedikit campuran navy dan magenta membuat mata lebih nyaman dan tak mudah lelah saat menelusuri fitur demi fitur. Yang oke lagi, daftar menunya juga disederhanakan sehingga lebih sedikit. Simpel.

Selain kolom Search hanya ada lima menu yang tersaji: Explore, TagStation, Trending, My Music, dan Notifications. Namun beberapa menu memiliki sub menu, contohnya Explore. Nanti kita bahas lebih lanjut di bawah.


Berikut beberapa menu andalan Langit Musik yang bakal membuat kita betah.

1. Explore
Dengan fitur inilah kita menjelajahi database Langit Musik dan mendapatkan lagu-lagu favorit. Fitur Explore memiliki dua sub, yakni For You dan Browse. Apa bedanya?

For You saya sebut fitur pintar. Sebab dengan fitur ini Langit Musik dapat memberi rekomendasi lagu atau penyanyi/band yang mungkin saja kita sukai. Rekomendasi tersebut tentu saja berdasarkan perilaku kita dalam mendengarkan musik. Btw, kenapa saya diberi rekomendasi lagu Cinta Semalam ya?

Misalnya saya pernah mendengarkan Terjebak Nostalgia-nya Raisa, maka aplikasi bakal merekomendasikan lagu-lagu Raisa yang lain. Atau saya pernah mendengarkan lagu ska, siap-siap saja mendapat rekomendasi lagu-lagu ska yang lain. Selain itu For You juga berisi popular track, playlist pilihan, dan masih banyak lagi.

Browse sendiri berisi lagu-lagu Top Hits, daftar Trending Artist, juga lagu-lagu baru. Saat saya membukanya Senin (27/2/2017) ini, di bagian New Release terlihat lagu Terima Kasih Semua milik Lefttool. Sedangkan di nomor Barat ada album The Best of Gregory Isaacs dan The Best of Judge Dread.

Kita juga dapat mengeksplorasi lagu berdsasarkan Moods dan Genres. Kalian pasti menebak orang seperti saya akan betah mendengarkan lagu-lagu dengan mood Gloomy. Tidak salah. Tapi saya lebih senang mendengarkan lagu-lagu dalam kategori mood Chill atau genre Rocks, terutama alternative rock.


2. My Music
Di fitur ini kita dapat melihat lagu apa saja yang pernah didengarkan (recently played), lagu yang sering diputar, daftar playlist yang kita buat, serta daftar lagu-lagu yang tersimpan (Saved). Dengan kata lain, fitur My Music adalah rak penyimpanan digital tempat kita menaruh lagu-lagu.

Lagu-lagu dalam daftar Saved dapat kita dengarkan dalam keadaan offline. Jadi, kalau kita sedang fakir kuota internet putar saja lagu-lagu dalam daftar ini. Kita tetap dapat mendengarkan lagu kesayangan. Asyik banget, kan?

3. Tag Station
Agak mirip Explore, namun lagu-lagu dalam fitur ini dikelompokkan berdasarkan tag yang diberikan si pengunggah atau pemilik lagu. Contoh tag-nya antara lain #hits, #oldies, #classics, #peaceandjoy, #bahagia, #cintaindonesia, #surprise, #sleep, dan lain-lain.

Iseng saya longok lagu-lagu yang diberi tag #sleep. Begitu saya tap tanda gambarnya, aplikasi langsung memutarkan lagu Pelangi (Hivi!) yang memang cocok sebagai pengantar tidur. Hehehe. Sedangkan ketika menge-tap tanda gambar #oldies, lagu Beautiful Girl-nya Jose Mari Chan yang diperdengarkan. Mantap!

4. Artist/People Page
Setiap penyanyi atau band yang lagu-lagunya tersedia di Langit Musik dibuatkan satu halaman profil khusus. Di halaman ini tersaji informasi mengenai si penyanyi/band, profil singkatnya, karier menyanyinya, dan informasi lain dilengkapi dengan foto-foto.

Lalu mengadopsi media sosial Langit Musik menyediakan fitur Follow Artist. Dengan mengikuti penyanyi/band tersebut, kita akan mendapat notifikasi setiap kali ada pemberitahun dari artis bersangkutan. Wah, bisa jadi orang pertama yang tahu kabar artis idola dong kalau begini caranya.

Eh, bukan cuma artis yang boleh di-follow. Kita juga bisa mengikuti teman kok. Untuk mengetahui siapa saja teman kita yang juga terdaftar sebagai pengguna, tinggal hubungkan akun Langit Musik dengan media sosial.


5. Trending
Ini fitur baru yang tidak terdapat di aplikasi versi lawas. Fitur Trending memungkinkan kita mengetahui lagu apa yang paling sering didengar di suatu daerah. Lagu-lagu yang tengah hits ditunjukkan sebagai titik-titik warna-warni di atas gambar peta Indonesia. Kalau salah satu titik diklik, tampillah judul lagu dan nama penyanyi beserta info daerah mana yang paling meminatinya.

Sewaktu menulis posting ini saya coba melongok lagu yang tengah trending di Kalimantan. Ini hasilnya: Surat Cinta Untuk Starla (Virgoun) trending di Kalimantan Timur, Closer-nya The Chainsmokers trending di Kalimantan Barat, Where Are U Now yang dinyanyikan Skrillex & Diplo feat. Justin Bieber trending di Kalimantan Utara, dan yang menarik lagunya Rahmat Kartolo berjudul Ku Tetap Setia banyak diputar di Kalimantan Tengah.

Seru ya? Kita jadi bisa mengintip orang di Kalimantan sukanya lagu apa. Dapat disimpulkan saat saya mengecek Trending banyak generasi tua Kalimantan Tengah yang tengah mendengarkan lagu di Langit Musik. Itu sebabnya nomor lawas milik Rahmat Kartolo yang paling banyak didengar.

Plus-Minus
Secara overall Langit Musik telah berhasil menampilkan banyak hal baru dalam versi terbarunya ini. Bukan cuma mengganti logo dan user interface, namun juga penambahan fitur baru yang sangat menarik. Lalu penambahan jumlah lagu dalam database-nya pun sangat signifikan. Enam juta lagu dan akan terus bertambah.

Dalam penilaian saya, Langit Musik mempunyai beberapa kelebihan yang layak membuatnya dijadikan sebagai aplikasi musik kesayangan. Apa saja?

  • Biaya berlangganan yang murah. Dengan Rp22.000 untuk layanan Premium 30 Hari, dapat menikmati jutaan lagu sepuasnya tanpa batasan. Apalagi ditambah tambahan fasilitas download tanpa kuota. Ajib!
  • Fitur penyimpanan offline memungkinkan pengguna tetap dapat menikmati lagu-lagu favoritnya walaupun sedang kehabisan kuota.
  • User interface sangat simpel dan mudah digunakan. Ini tentunya berkat penyederhanaan menu dalam aplikasi versi terbaru.
  • Enam juta lagu itu jumlah yang sangat banyak sekali. Jadi jangan terkejut jika menemui lagu-lagu yang bahkan mungkin sudah kita lupakan karena terlalu lama tak mendengarkannya. Bagi penyuka lagu nostalgia macam saya, ini tak ubahnya harta karun.
  • Ada lirik lagu. Ini tentu memudahkan kita untuk ikut menyanyikan lagu-lagu paling baru sekalipun belum hapal liriknya. Saya sendiri beberapa lagu favorit suka lupa liriknya, sehingga ketersediaan lirik di Langit Musik sangat membantu.
Oke, itu daftar kelebihannya berdasarkan penilaian saya. Seperti kata pepatah tak ada gading yang tak retak, saya melihat beberapa hal yang menjadi kekurangan aplikasi New Langit Musik.

Berikut daftarnya sebagai masukan agar versi selanjutnya lebih ciamik lagi.

  • Beberapa lagu tidak tersedia liriknya. Atau ada yang liriknya tidak sesuai aslinya. Mungkin pengembang dapat memberi kesempatan pada user untuk turut menyumbang atau memperbaiki lirik.
  • Kurang memberi tempat pada band indie. Harus menjadi catatan bagi pengembang bahwa penggemar musik indie sangat banyak. Pun lagu-lagu band indie tak kalah dari band yang dipayungi major label. Ambil contoh Endank Soekamti atau Efek Rumah Kaca. Saya rasa ini hanya soal mekanisme kerja sama saja.
  • Tidak tersedia pilihan skin. Akan lebih menyenangkan kalau pengguna dapat mengubah-ubah tampilan aplikasi di smartphone mereka sesuai selera. Tak semua orang suka tampilan dark. Atau kalaupun suka, tak semua senang dengan warna ungu. Bisa jadi sukanya merah marun atau biru tua.
  • Equalizer terlalu minimalis. Tambahkan beberapa pengaturan lagi sehingga pengguna bisa memperoleh racikan suara yang pas dengan selera musiknya. Misalnya saya suka musik yang dentuman bass-nya jelas. Pengguna lain bisa jadi ingin mendengar treble yang dihasilkan oleh gitar.
  • Pada bagian TagStation, menurut saya akan lebih asyik kalau saat kita memilih salah satu tag lantas tersaji daftar lagu. Jadi pengguna dapat memilih lagu mana yang ingin diputar. Tidak seperti sekarang dimana aplikasi langsung memutar lagu secara otomatis, dan pengguna tidak tahu lagu apa yang akan diputar selanjutnya.
  • Selain Facebook dan Twitter, tidak ada salahnya jika pengguna juga dapat menghubungkan akun Langit Musik-nya dengan Instagram. Saya rasa Instagramers setuju usulan ini. Hehehe.



Akhir Kata
Sebagai manusia melankolis yang salah satu ciri utamanya adalah musikal, musik adalah bagian dari hidup saya. Keberadaan Langit Musik sangat membantu sekali bagi saya. Aplikasi ini memudahkan saya dalam mencari lagu-lagu kenangan di hape, mengunduhnya secara legal dan halal, dan menyimpannya dengan rapi.

Seperti sudah diceritakan di atas, musik adalah cara saya merawat kenangan-kenangan dalam hidup. Jauh dari kata baper, penelitian psikologi yang dilakukan Dr. Gao Dingguo malah menunjukkan bahwa bernostalgia menimbulkan rasa senang. Secara kesehatan mengenang masa lalu itu positif, demikian hasil penelitian psikolog Sun Yat Sen University tersebut.

Lebih jauh, hasil studi psikolog lain di Barat menyajikan manfaat positif berikutnya dari bernostalgia. Di antaranya melatih daya ingat, membuat mood lebih stabil, meningkatkan daya imajinasi, mempererat hubungan dengan orang lain, dan membuat kita belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu.

So, yuk mari bernostalgia! Putar lagu-lagu kenanganmu dengan aplikasi Langit Musik dan bergembiralah.

Postingan blog ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Review Aplikasi Langit Musik kerjasama Langit Musik dan Warung Blogger


Referensi:
- http://www.langitmusik.co.id/faq
- Jurnal Psychological Science, Oktober 2011
- http://www.purwacarakamusicstudio.com/about.php
- https://kawaiibeautyjapan.com/article/3377/bukan-cuma-membuat-baper-mengenang-masa-lalu-ternyata-banyak-manfaatnya
- http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20161031180323-213-169167/kembangkan-langit-musik-telkomsel-ajak-layanan-musik-digital/


TIGA hari lalu timeline media sosial mendadak heboh. Netizen ramai-ramai menulis status tentang Sheila On 7, sembari menceritakan kenangan mereka yang terkait dengan lagu-lagu band asal Yogyakarta tersebut. Hari itu, 24 Februari 2017, hari di mana SO7 manggung di Konser Spesial Trans TV, bolehlah disebut sebagai Hari Nostalgia Nasional.

Saya sendiri suka lagu-lagu Sheila, meski tak semuanya juga sih. Saya masih kelas tiga SMA sewaktu album pertama Duta and the Gank meluncur di tahun 1999. Album yang kemudian terjual sebanyak 1,5 juta kopi. Kalau diminta menyebut satu saja lagu yang disukai dari album tersebut, saya bakal merasa kesulitan. Sebab setidaknya ada 3-4 lagu yang sangat saya sukai. Nggak bisa kalau cuma menyebut satu.

Tentu ada alasan kenapa saya menyukai sebuah lagu. Tema dalam lagu Kita cocok sekali dengan dunia muda anak SMA, sedangkan Perhatikan Rani juga terasa pas dengan kondisi saya yang menjelang kelulusan sekolah. Masa-masa ketika segenap cita-cita diapungkan, dan saya tengah bersiap meninggalkan kampung halaman tercinta demi menggapainya.

Siapa sih yang tidak dibikin sendu oleh lagu Dan... yang mendayu-dayu dan pilu? Saya yang konon tipe manusia melankolis senang sekali dengan lagu model begini. Pengen nangis rasanya kalau dengar lagu ini. Hiks.

Rupanya bukan cuma saya lho. Lagu Dan... juga disukai banyak orang se-Indonesia dan Malaysia. Musiknya yang easy listening dan temanya yang pilu sukses mengharu biru. Wajar kalau kemudian single kedua SO7 ini menempati posisi satu di chart MTV Ampuh selama 40 pekan, lalu terpilih sebagai Song of the Year selama dua tahun berturut-turut.

Kemudian, coba jujur, siapa yang dulu nembak cewek idolanya dengan lagu J.A.P alias Jadikan Aku Pacarmu? Siapa juga yang suka gombalin pacar dengan lagu Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki? Hayo, pada ngaku! Hehehe.

Well, 18 tahun berlalu sejak Sheila On 7 merilis album self-title itu, wajar kalau kemudian banyak bapak-bapak dan ibu-ibu usia 30-an yang mendadak bernostalgia ke masa remaja. Kejadiannya sudah berlalu lama sekali, tapi memorinya tetap tersimpan sepanjang hidup. Begitu mendengar lagu yang berhubungan dengan kenangan itu, seketika itu juga kenangannya tergambar dalam kepala.



Kenangan, Ekspresi, dan Motivasi
Bagi saya, musik adalah cara untuk mengenang sekaligus merawat masa lalu. Mirip seperti soundtrack, atau bahkan backsound, sebuah lagu dapat secara otomatis mengingatkan saya penggalan demi penggalan kehidupan.Sebaliknya, ketika berinteraksi dengan orang-orang dari masa lalu, ingatan saya bakal langsung melayang pada lagu yang tengah hits di masa kami masih bersama-sama.

Ketika berbalas komentar di Facebook dengan teman sebangku semasa kelas satu SMA, misalnya, tiba-tiba saja saya seolah mendengarkan lagu Mungkinkah (Stinky) atau Mencari Alasan (Exist). Kali lain sewaktu membaca status kawan SMP, di telinga saya terngiang-ngiang lagu Gerimis Mengundang (Slam) atau Di Sana Menanti Di Sini Menunggu (UK's).

Saya sampai bisa merinci judul lagu dan kenangan apa yang terlintas begitu mendengarnya. Kalau penasaran mau tahu boleh intip tabelnya dalam spoiler berikut. Kalau tidak ya abaikan saja :)

Daftar Lagu Kenangan:
Dinding Pemisah (Merry Andani) Kelas 4-5 SD di Batumarta VIII, OKU, Sumsel.
Lelaki dan Telaga (Franky Sahilatua) Masa-masa awal pindah ke Sungai Bahar, Jambi.
Gerimis Mengundang (Slam) Kelas 3 SMP, masa-masa panen jagung di kebun belakang rumah di Sungai Bahar, Jambi.
Mungkinkah (Stinky), Mencari Alasan (Exist) Lulus SMP dan awal-awal masuk SMA Negeri 1 Muara Bulian.
Salah (Potret) Kelas 1 SMA, ikut Persami di halaman sekolah.
Jangan Lagi (Dot) Kelas 2 SMA, ikut perkemahan Saka Wanabhakti tingkat provinsi di Bukit Senami, Jambi.
Genit (Tipe-X), Sobat (Padi), Kita, Dan... (SO7) Kelas 3 SMA, menjelang kelulusan sekolah. Saya dan kawan-kawan sibuk-sibuknya berdiskusi kuliah di mana.
Californication (RHCP), Kuliah Pagi (Harapan Jaya) Masa-masa awal di Jogja, tinggal bersama induk semang di kos pertama di daerah Mantrijeron.
Mahadewi (Padi), Pelangi di Matamu (Jamrud) Pindah ke kos kedua di Suryodiningratan, jaman-jaman iseng nge-band sama teman sekos.
Stars (The Cranberries) Beli komputer pertama, PC second + monitor seharga Rp1,5 juta.
Zephyr Song (RHCP) Masa-masa kelam. Lanjut kuliah nggak bisa, cari kerja nggak dapet-dapet. Satu-satunya yang dibanggakan tulisan sering dimuat di Tabloid BOLA.
Hapus Aku (Nidji), Fix You (Coldplay) Beli komputer kedua, masih PC second. Mulai serius menulis dan membuat blog pertama.
Akhirnya Aku Menemukanmu (Naff) Melamar kekasih hati ke Pemalang :)


Pendek kata, musik sangat lekat dalam hidup saya. Saya merasa musik dapat mewakili ekspresi saya. Sudah saya bilang kan kalau saya tipe melankolis? Manusia tipe ini cenderung sulit mengungkapkan perasaan. Dan, "where words fail, music speaks," kata Hans Christian Andersen.

"Musik adalah sebuah ekspresi nurani dasar yang memiliki dunianya sendiri. Layaknya sebuah dunia, dunia musik pun disertai oleh bahasa dan warna sebagai sarana ekspresi dan komunikasi." Demikian kalimat yang tertera di halaman profil situs resmi Purwa Caraka Music Studio.

Tentu saja saya sepakat dengan definisi di atas.

Selain itu, saya selalu merasa lebih bersemangat saat mendengarkan lagu. Rupanya ini pernah diteliti lho oleh Brunel University di London, yang menyebut musik membuat semangat seseorang meningkat antara 1-2%. Hasil penelitian itu juga menunjukkan, dengan mendengar musik daya tahan tubuh seseorang dapat meningkat hingga 15%.

Biasanya saya mendengarkan musik menggunakan laptop sembari menggarap pekerjaan. Di saat bepergian, saya sering mengandalkan fitur radio yang ada di smartphone. Tapi kalau ingin mendengarkan lagu-lagu favorit dari playlist, saya tinggal buka aplikasi Langit Musik saja. Praktis!


Streaming Musik Tanpa Kuota
Langit Musik adalah aplikasi penyedia musik berlangganan persembahan Telkomsel dan PT MelOn Indonesia. Pengguna Telkomsel dapat menikmati layanan ini secara gratis tis. Jadi, kita tidak perlu kuatir kehabisan kuota saat menggunakan aplikasi Langit Musik sepanjang paket data Telkomsel kita masih aktif dan kita berada dalam jangkauan jaringan Telkomsel.

Lho, katanya berlangganan tapi kok gratis? Tidak perlu bingung, sebab Langit Musik menyediakan dua jenis layanan bagi penggunanya. Kita dapat mendaftarkan diri di layanan Freemium atau Premium.

Sesuai namanya, layanan Freemium dapat dinikmati secara gratis 100% tanpa biaya apapun termasuk untuk kuota data. Hanya saja Langit Musik akan memperdengarkan iklan saat kita memutar lagu. Sedangkan membership Premium adalah layanan yang berbayar. Berlangganan.

Layanan Premium ini pun ada dua jenis: Premium 7 Hari dengan biaya Rp6.600 (termasuk PPN 10%), dan Premium 30 Hari (Rp22.000, termasuk PPN 10%). Pembayaran biaya tersebut dilakukan dengan memotong pulsa pada nomor Telkomsel kita. Lalu, bedanya apa ya antara layanan Premium 7 Hari dan 30 Hari? Lihat tabel berikut:


Sebagai info tambahan dari tabel di atas, pengguna Freemium memiliki sejumlah keterbatasan, yakni fitur Skip Songs yang hanya bisa sebanyak 10 lagu sepekan. Tak cuma itu, lagu-lagu yang didengarkan pun bakal disisipi iklan. Serasa dengar radio dong ya?

Pengguna Freemium juga tidak dapat mendengarkan lagu secara offline. Dengan kata lain, jika kita mendaftar Freemium tidak bisa menyimpan lagu favoritmu. Padahal inilah yang membuat kita dapat streaming dan mendengarkan lagu tanpa mengurangi kuota paket data. Nggak asyik banget, kan?

Jadi, lebih baik sekalian saja mendaftar ke layanan Premium agar dapat menikmati semua fitur unggulan Langit Musik. Sebagai uji coba, daftar saja dulu di layanan Premium 7 Hari. Beli pulsa Rp10.000, untuk daftar ke Langit Musik terpotong Rp6.600. Masih ada sisa pulsa Rp3.400. Hehehe.

Kita dapat memilih tipe membership pada saat pertama kali mendaftar. Ingat, pendaftaran menggunakan nomor selular Telkomsel ya. Sebelum itu instal dulu aplikasinya di smartphone. Cari "Langit Musik" di Google PlayStore, kemudian pasang deh. Ukurannya cuma 9,34 MB kok. Enteng.


Setelah aplikasi terpasang di hape, lakukan langkah-langkah berikut:
  1. Tap tombol Sign Up untuk mendaftarkan diri. Atau kalau sudah pernah mendaftar sebelumnya, tap saja tombol Sign In. Saya sendiri harus mendaftarkan diri dulu, sebab terakhir kali memakai nomor Telkomsel aplikasi Langit Musik belum ada.
  2. Percantik profilmu dengan mengganti foto, data-data pribadi, dan pengaturan lainnya.
  3. Atur notifikasi akun. Kita dapat menyetel pemberitahuan atau pembaharuan apa dan dari siapa yang bakal ditampilkan aplikasi di hapemu.
  4. Ini yang terpenting, pilih jenis Subscription apakah Freemium atau Premium. Kalau ingin coba-coba dulu daftar saja Premium 7 Hari. Namun jika ingin lebih hemat, sekalian saja daftar ke layanan Premium 30 Hari. Dengan biaya Rp22.000 untuk 30 hari, berarti per hari kita cuma keluar uang Rp733,33. Jauh lebih murah dari tarif parkir!
Kita bisa mendaftar langsung melalui aplikasi, di mana sistem akan mengirimkan pesan pendaftaran secara otomatis. Tapi saya sarankan lebih baik kirim SMS sendiri saja, ketik REG NEWLM dan kirim ke 96161. Nanti akan ada SMS balasan meminta konfirmasi. Balas dengan mengetik "1" (tanpa tanda petik) untuk mengonfirmasi pendaftaran.

Setelah itu kita akan menerima SMS pemberitahuan bahwa pendaftaran membership Langit Musik telah berhasil. Saya sendiri mendaftar paket Premium 30 Hari, sehingga pulsa Simpati saya terpotong sebanyak Rp22.000. Tak apa, sebagai gantinya saya puas streaming dan download lagu secara legal selama sebulan ke depan.

Selesai! Kini saatnya mengeksplorasi aplikasi Langit Musik. Jelajahi dan temukan lagu-lagu favoritmu.

New Langit Musik
Ada lebih dari 6 juta lagu yang bebas dinikmati di Langit Musik. Jumlah ini bertambah banyak 2 juta dari yang disebutkan VP Prepaid and Broadband Marketing Telkomsel, Ririn Widaryani, dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, 31 Oktober 2016, seperti dilansir CNN Indonesia.

Maklum, aplikasi Langit Musik sendiri telah berbenah sehingga versi yang sekarang disebut New Langit Musik. Terdapat sejumlah perubahan di aplikasi ini. Yang paling mencolok adalah perubahan logo yang kini lebih elegan dan eye-catching.

Dulu logo Langit Musik hanya berupa tulisan "Langit" berwarna putih di atas cipratan warna biru, dan tulisan "langit" berwarna merah. Tanpa bermaksud meremehkan, logo ini terlalu sederhana. Yang jelas logo seperti ini tidak ideal dijadikan sebagai ikon aplikasi di smartphone. Terlalu panjang. Umumnya ikon aplikasi berbentuk lingkaran atau kubus.


Nah, logo yang baru lebih simpel sekaligus lebih elegan. Berbentuk lingkaran, nama Langit Musik diwakili oleh huruf "L" dan "M" yang ditulis bersambung. Kemudian di atasnya terdapat headphone sebagai simbol bahwa ini adalah aplikasi musik. Lingkarannya sendiri bergaris tepi biru, dengan latar belakang berwarna biru dan ungu.

Dengan desain baru ini barulah logo Langit Musik cocok dipakai sebagai ikon aplikasi di handphone. Lebih fresh, juga lebih terkesan kekinian.

Perubahan lain adalah tampilan interface-nya lebih gelap. Pada versi lama, tampilannya terang akibat dominasi warna putih dan biru. Sekilas ini terkesan cerah ceria, namun berlama-lama menatap layar terang membuat mata kita lelah dan bahkan sakit.

Kini warna ungu tua dengan sedikit campuran navy dan magenta membuat mata lebih nyaman dan tak mudah lelah saat menelusuri fitur demi fitur. Yang oke lagi, daftar menunya juga disederhanakan sehingga lebih sedikit. Simpel.

Selain kolom Search hanya ada lima menu yang tersaji: Explore, TagStation, Trending, My Music, dan Notifications. Namun beberapa menu memiliki sub menu, contohnya Explore. Nanti kita bahas lebih lanjut di bawah.


Berikut beberapa menu andalan Langit Musik yang bakal membuat kita betah.

1. Explore
Dengan fitur inilah kita menjelajahi database Langit Musik dan mendapatkan lagu-lagu favorit. Fitur Explore memiliki dua sub, yakni For You dan Browse. Apa bedanya?

For You saya sebut fitur pintar. Sebab dengan fitur ini Langit Musik dapat memberi rekomendasi lagu atau penyanyi/band yang mungkin saja kita sukai. Rekomendasi tersebut tentu saja berdasarkan perilaku kita dalam mendengarkan musik. Btw, kenapa saya diberi rekomendasi lagu Cinta Semalam ya?

Misalnya saya pernah mendengarkan Terjebak Nostalgia-nya Raisa, maka aplikasi bakal merekomendasikan lagu-lagu Raisa yang lain. Atau saya pernah mendengarkan lagu ska, siap-siap saja mendapat rekomendasi lagu-lagu ska yang lain. Selain itu For You juga berisi popular track, playlist pilihan, dan masih banyak lagi.

Browse sendiri berisi lagu-lagu Top Hits, daftar Trending Artist, juga lagu-lagu baru. Saat saya membukanya Senin (27/2/2017) ini, di bagian New Release terlihat lagu Terima Kasih Semua milik Lefttool. Sedangkan di nomor Barat ada album The Best of Gregory Isaacs dan The Best of Judge Dread.

Kita juga dapat mengeksplorasi lagu berdsasarkan Moods dan Genres. Kalian pasti menebak orang seperti saya akan betah mendengarkan lagu-lagu dengan mood Gloomy. Tidak salah. Tapi saya lebih senang mendengarkan lagu-lagu dalam kategori mood Chill atau genre Rocks, terutama alternative rock.


2. My Music
Di fitur ini kita dapat melihat lagu apa saja yang pernah didengarkan (recently played), lagu yang sering diputar, daftar playlist yang kita buat, serta daftar lagu-lagu yang tersimpan (Saved). Dengan kata lain, fitur My Music adalah rak penyimpanan digital tempat kita menaruh lagu-lagu.

Lagu-lagu dalam daftar Saved dapat kita dengarkan dalam keadaan offline. Jadi, kalau kita sedang fakir kuota internet putar saja lagu-lagu dalam daftar ini. Kita tetap dapat mendengarkan lagu kesayangan. Asyik banget, kan?

3. Tag Station
Agak mirip Explore, namun lagu-lagu dalam fitur ini dikelompokkan berdasarkan tag yang diberikan si pengunggah atau pemilik lagu. Contoh tag-nya antara lain #hits, #oldies, #classics, #peaceandjoy, #bahagia, #cintaindonesia, #surprise, #sleep, dan lain-lain.

Iseng saya longok lagu-lagu yang diberi tag #sleep. Begitu saya tap tanda gambarnya, aplikasi langsung memutarkan lagu Pelangi (Hivi!) yang memang cocok sebagai pengantar tidur. Hehehe. Sedangkan ketika menge-tap tanda gambar #oldies, lagu Beautiful Girl-nya Jose Mari Chan yang diperdengarkan. Mantap!

4. Artist/People Page
Setiap penyanyi atau band yang lagu-lagunya tersedia di Langit Musik dibuatkan satu halaman profil khusus. Di halaman ini tersaji informasi mengenai si penyanyi/band, profil singkatnya, karier menyanyinya, dan informasi lain dilengkapi dengan foto-foto.

Lalu mengadopsi media sosial Langit Musik menyediakan fitur Follow Artist. Dengan mengikuti penyanyi/band tersebut, kita akan mendapat notifikasi setiap kali ada pemberitahun dari artis bersangkutan. Wah, bisa jadi orang pertama yang tahu kabar artis idola dong kalau begini caranya.

Eh, bukan cuma artis yang boleh di-follow. Kita juga bisa mengikuti teman kok. Untuk mengetahui siapa saja teman kita yang juga terdaftar sebagai pengguna, tinggal hubungkan akun Langit Musik dengan media sosial.


5. Trending
Ini fitur baru yang tidak terdapat di aplikasi versi lawas. Fitur Trending memungkinkan kita mengetahui lagu apa yang paling sering didengar di suatu daerah. Lagu-lagu yang tengah hits ditunjukkan sebagai titik-titik warna-warni di atas gambar peta Indonesia. Kalau salah satu titik diklik, tampillah judul lagu dan nama penyanyi beserta info daerah mana yang paling meminatinya.

Sewaktu menulis posting ini saya coba melongok lagu yang tengah trending di Kalimantan. Ini hasilnya: Surat Cinta Untuk Starla (Virgoun) trending di Kalimantan Timur, Closer-nya The Chainsmokers trending di Kalimantan Barat, Where Are U Now yang dinyanyikan Skrillex & Diplo feat. Justin Bieber trending di Kalimantan Utara, dan yang menarik lagunya Rahmat Kartolo berjudul Ku Tetap Setia banyak diputar di Kalimantan Tengah.

Seru ya? Kita jadi bisa mengintip orang di Kalimantan sukanya lagu apa. Dapat disimpulkan saat saya mengecek Trending banyak generasi tua Kalimantan Tengah yang tengah mendengarkan lagu di Langit Musik. Itu sebabnya nomor lawas milik Rahmat Kartolo yang paling banyak didengar.

Plus-Minus
Secara overall Langit Musik telah berhasil menampilkan banyak hal baru dalam versi terbarunya ini. Bukan cuma mengganti logo dan user interface, namun juga penambahan fitur baru yang sangat menarik. Lalu penambahan jumlah lagu dalam database-nya pun sangat signifikan. Enam juta lagu dan akan terus bertambah.

Dalam penilaian saya, Langit Musik mempunyai beberapa kelebihan yang layak membuatnya dijadikan sebagai aplikasi musik kesayangan. Apa saja?

  • Biaya berlangganan yang murah. Dengan Rp22.000 untuk layanan Premium 30 Hari, dapat menikmati jutaan lagu sepuasnya tanpa batasan. Apalagi ditambah tambahan fasilitas download tanpa kuota. Ajib!
  • Fitur penyimpanan offline memungkinkan pengguna tetap dapat menikmati lagu-lagu favoritnya walaupun sedang kehabisan kuota.
  • User interface sangat simpel dan mudah digunakan. Ini tentunya berkat penyederhanaan menu dalam aplikasi versi terbaru.
  • Enam juta lagu itu jumlah yang sangat banyak sekali. Jadi jangan terkejut jika menemui lagu-lagu yang bahkan mungkin sudah kita lupakan karena terlalu lama tak mendengarkannya. Bagi penyuka lagu nostalgia macam saya, ini tak ubahnya harta karun.
  • Ada lirik lagu. Ini tentu memudahkan kita untuk ikut menyanyikan lagu-lagu paling baru sekalipun belum hapal liriknya. Saya sendiri beberapa lagu favorit suka lupa liriknya, sehingga ketersediaan lirik di Langit Musik sangat membantu.
Oke, itu daftar kelebihannya berdasarkan penilaian saya. Seperti kata pepatah tak ada gading yang tak retak, saya melihat beberapa hal yang menjadi kekurangan aplikasi New Langit Musik.

Berikut daftarnya sebagai masukan agar versi selanjutnya lebih ciamik lagi.

  • Beberapa lagu tidak tersedia liriknya. Atau ada yang liriknya tidak sesuai aslinya. Mungkin pengembang dapat memberi kesempatan pada user untuk turut menyumbang atau memperbaiki lirik.
  • Kurang memberi tempat pada band indie. Harus menjadi catatan bagi pengembang bahwa penggemar musik indie sangat banyak. Pun lagu-lagu band indie tak kalah dari band yang dipayungi major label. Ambil contoh Endank Soekamti atau Efek Rumah Kaca. Saya rasa ini hanya soal mekanisme kerja sama saja.
  • Tidak tersedia pilihan skin. Akan lebih menyenangkan kalau pengguna dapat mengubah-ubah tampilan aplikasi di smartphone mereka sesuai selera. Tak semua orang suka tampilan dark. Atau kalaupun suka, tak semua senang dengan warna ungu. Bisa jadi sukanya merah marun atau biru tua.
  • Equalizer terlalu minimalis. Tambahkan beberapa pengaturan lagi sehingga pengguna bisa memperoleh racikan suara yang pas dengan selera musiknya. Misalnya saya suka musik yang dentuman bass-nya jelas. Pengguna lain bisa jadi ingin mendengar treble yang dihasilkan oleh gitar.
  • Pada bagian TagStation, menurut saya akan lebih asyik kalau saat kita memilih salah satu tag lantas tersaji daftar lagu. Jadi pengguna dapat memilih lagu mana yang ingin diputar. Tidak seperti sekarang dimana aplikasi langsung memutar lagu secara otomatis, dan pengguna tidak tahu lagu apa yang akan diputar selanjutnya.
  • Selain Facebook dan Twitter, tidak ada salahnya jika pengguna juga dapat menghubungkan akun Langit Musik-nya dengan Instagram. Saya rasa Instagramers setuju usulan ini. Hehehe.



Akhir Kata
Sebagai manusia melankolis yang salah satu ciri utamanya adalah musikal, musik adalah bagian dari hidup saya. Keberadaan Langit Musik sangat membantu sekali bagi saya. Aplikasi ini memudahkan saya dalam mencari lagu-lagu kenangan di hape, mengunduhnya secara legal dan halal, dan menyimpannya dengan rapi.

Seperti sudah diceritakan di atas, musik adalah cara saya merawat kenangan-kenangan dalam hidup. Jauh dari kata baper, penelitian psikologi yang dilakukan Dr. Gao Dingguo malah menunjukkan bahwa bernostalgia menimbulkan rasa senang. Secara kesehatan mengenang masa lalu itu positif, demikian hasil penelitian psikolog Sun Yat Sen University tersebut.

Lebih jauh, hasil studi psikolog lain di Barat menyajikan manfaat positif berikutnya dari bernostalgia. Di antaranya melatih daya ingat, membuat mood lebih stabil, meningkatkan daya imajinasi, mempererat hubungan dengan orang lain, dan membuat kita belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu.

So, yuk mari bernostalgia! Putar lagu-lagu kenanganmu dengan aplikasi Langit Musik dan bergembiralah.

Postingan blog ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Review Aplikasi Langit Musik kerjasama Langit Musik dan Warung Blogger


Referensi:
- http://www.langitmusik.co.id/faq
- Jurnal Psychological Science, Oktober 2011
- http://www.purwacarakamusicstudio.com/about.php
- https://kawaiibeautyjapan.com/article/3377/bukan-cuma-membuat-baper-mengenang-masa-lalu-ternyata-banyak-manfaatnya
- http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20161031180323-213-169167/kembangkan-langit-musik-telkomsel-ajak-layanan-musik-digital/

Kamis, 23 Februari 2017


SEMARANG "cuma" berjarak 148,8 kilometer dari Pemalang. Naik kereta api jarak tersebut hanya perlu ditempuh dalam waktu 2,5-3 jam. Dekat sekali. Namun saya belum pernah mengajak anak dan istri berwisata ke sana. So, berwisata sekeluarga ke Kota Lumpia jadi salah satu whishlist yang ingin saya wujudkan tahun ini.

Sebenarnya kami sekeluarga pernah ke Semarang tahun lalu. Namun itu bukan atas inisiatif pribadi, melainkan study tour TK anak sulung saya. Dalam waktu sehari kami mengunjungi tiga tempat berbeda yang letaknya berjauhan, plus satu toko oleh-oleh. Yang paling tidak asyik, kunjungan di tiap-tiap tempat hanya dibatasi satu jam saja.

Tentu saja kami tidak puas, terutama anak-anak. Itulah sebabnya saya sangat ingin sekali kembali mengajak anak dan istri berwisata ke sana. Kami ingin berlama-lama mengunjungi tempat-tempat wisata di Semarang sampai anak-anak puas.

Kenapa Semarang?

Alasan pertama ya karena jaraknya dekat. Tidak perlu menempuh perjalanan jauh, pilihan moda transportasinya pun beragam. Mau naik bus umum bisa. Banyak sekali bus jurusan Semarang yang melewati Pemalang. Baik dari Tegal, Cirebon, Bandung, maupun Jakarta. Saya bisa langsung menyetop di pinggir jalan, atau membeli tiket di terminal.

Tapi selama ada pilihan kereta api, saya lebih suka memanfaatkan jasa PT Kereta Api Indonesia. Dengan kereta api yang terjadwal rapi saya bisa menyusun agenda perjalanan dengan cermat. Berangkat dari Pemalang jam berapa, sampai di Semarang jam berapa, termasuk juga merencanakan besarnya ongkos yang diperlukan.

Alasan berikutnya yang tak kalah penting, transportasi umum di Semarang sangat beragam pilihannya. Mau naik angkutan kota yang murah meriah ada, mau lebih praktis dan nyaman bisa menyewa rental mobil. Ada pula pilihan taksi online yang menawarkan kenyamanan dengan harga lebih bersahabat, yakni Go-Car.

Wisata Anak
Alasan lain, ibukota propinsi Jawa Tengah ini menyimpan begitu banyak destinasi wisata yang cocok bagi anak-anak. Ya, semenjak mempunyai anak saya selalu memperhatikan betul tujuan wisata yang dituju. Saya utamakan mendatangi tempat-tempat yang memang dikhususkan buat anak-anak. Atau setidaknya tempat wisata tersebut ramah anak.

Saya sudah mencatat beberapa tempat wisata di Semarang yang rasanya bakal membuat anak-anak senang mengunjunginya. Berikut beberapa yang ingin sekali saya kunjungi:


1. Puri Maerakaca
Tempat wisata ini berada di urutan pertama dalam daftar. Tempatnya sangat luas, anak-anak pasti senang sekali bermain-main di sini. Apalagi ada anjungan 35 kota dan kabupaten se-Jawa Tengah. Jadi, tak sekedar bersenang-senang melihat-lihat, saya dan istri juga bisa mengajarkan lebih banyak tentang Jawa Tengah pada anak-anak.

Anjungan Pemalang tentu saja jadi tujuan utama kami. Belum banyak yang diketahui anak-anak tentang kabupaten tempat tinggalnya sendiri. Dengan mengunjungi anjungannya di Puri Maerakaca, kami dapat memperkenalkan apa-apa yang ada di Pemalang pada mereka.

Kalau sudah bosan mengelilingi anjungan demi anjungan, anak-anak bisa bermain-main di area khusus untuk anak-anak yang tersedia. Opsi lain yang tak kalah menarik adalah naik becak air, naik kereta-keretaan, atau sekedar duduk-duduk di taman dan berfoto-foto di sekitaran area pohon mangrove di dekat laut.

Rasanya kami bakal betah seharian di sini.

2. Masjid Agung Jawa Tengah
Lihat kesamaannya dengan Puri Maerakaca? Yup, Masjid Agung Jawa Tengah jadi tujuan kedua karena tempatnya yang sangat luas sekali. Anak-anak saya suka sekali tempat-tempat yang luas di mana mereka bisa berlari-lari ke sana-sini.

Sewaktu ke sini bersama rombongan TK anak sulung, bus sampai di area masjid rembang petang. Kami hanya diberi waktu satu jam. Mana kami harus antri lama di kamar mandi sebelum masuk masjid. Akhirnya kami sengaja berlama-lama di masjid, menunggu waktu salat Magrib tiba baru kembali ke bus.



Padahal anak-anak masih asyik berlari-lari dan terlihat penasaran sekali dengan banyak hal baru yang dilihatnya di sana. Jadi, saya dan istri sudah berangan-angan kalau nanti ke Semarang lagi kami akan biarkan anak-anak berlari-larian di pelataran masjid. Saya juga ingin naik ke Menara Al Husna yang tingginya 99 meter.

3. Lawang Sewu
Anak sulung saya sangat suka kereta api. Sekalipun sudah punya mainan kereta api tiga, ia masih terus minta dibelikan yang baru. Kalau menonton YouTube, selain animasi anak-anak yang ia tonton adalah video-video kereta api. Jadi, kalau ke Semarang saya harus mengajaknya ke Lawang Sewu.

Di sini anak-anak saya dapat melihat foto-foto berbagai stasiun kuno di Jawa, utamanya Jawa Tengah. Juga dapat melihat foto-foto kereta api jaman dulu. Berbagai miniatur kereta api dan lokomotif pasti membuatnya senang. Saya sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresinya melihat-lihat isi di dalam museum kereta api di Lawang Sewu.

Puas berkeliling, kami bisa melepas lelah dengan duduk-duduk di kursi-kursi yang ada di halaman. Saya pastikan anak-anak tidak bakal puas jika cuma berada di sini selama 1-2 jam. Tak masalah. Mau setengah harian di sini pun oke, saya layani. Hehehe.

4. Jl. Pandanaran, Simpang Lima, Kota Lama
Jalan legendaris ini tentu tak boleh dilupakan kalau sedang berada di Semarang. Berjalan-jalan di sepanjang jalan nan asri ini memberikan nuansa berbeda. Kami bisa membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang, berfoto-foto bersama patung Warak Ngendog di Taman Pandanaran, atau berbelanja buku di Gramedia.

Lanjut ke timur, ada Simpang Lima yang menawarkan banyak hal. Rasanya saya hanya akan mengajak anak-anak masuk ke lapangan bundar di tengah-tengah simpang. Tapi bisa jadi kalau khilaf bakal tertarik mencicipi berbagai makanan khas yang ada di sekitaran sana.

Sedangkan kawasan Kota Lama, mengingat lokasinya yang tak jauh dari Stasiun Tawang saya kira paling cocok didatangi menjelang pulang ke Pemalang. Jadi sekalian jalan ke stasiun, sembari menunggu jadwal keberangkatan kereta, kami manfaatkan waktu untuk mengeksplorasi kawasan ini.


Menyiapkan Liburan dengan ShopBack
Dengan tiga destinasi utama plus beberapa tujuan opsional di atas, saya perkirakan kami butuh waktu tiga hari di Semarang. Itu artinya kami harus menginap dua malam. Tenang saja, ada banyak pilihan hotel di Semarang. Tinggal pilih saja disesuaikan dengan budget yang ada.

Untuk lebih menekan anggaran, gunakan berbagai tawaran promo yang tersedia. Salah satunya dengan menggunakan layanan ShopBack. Di situs ini terdapat banyak promo dari berbagai merchant, termasuk untuk pemesanan tiket kereta api dan reservasi hotel.

Bagi yang belum tahu ShopBack, situs ini merupakan semacam marketplace yang bekerja sama dengan ratusan toko online. Lebih dari 500-an merchant. Kita tetap dapat berbelanja di toko-toko online favorit seperti Lazada, Zalora, Elevenia, atau AliExpress. Yang membuat berbeda, kita akan mendapat apresiasi berupa cashback dari setiap transaksi.

Coba ingat-ingat, toko online atau marketplace mana yang memberikan cashback pada konsumennya? Tidak ada, bukan? Nah, ceritanya jadi berbeda kalau kita belanja melalui ShopBack. Itulah sebabnya saya sekarang selalu mengecek ShopBack terlebih dahulu saat ingin membeli ini-itu.

Untuk mendapatkan cashback dari setiap transaksi online, buka situs atau aplikasi ShopBack lalu pilih toko online favorit. Kemudian sistem akan membukakan toko online pilihanmu di tab baru. Berbelanjalah seperti biasa sampai selesai. Selanjutnya tinggal tunggu cashback dihitung oleh ShopBack dan masuk ke dalam akun.

Lihat langkah-langkah mendapat cashback dari ShopBack pada gambar di bawah ini, atau baca lebih lengkap di halaman berikut (klik saja).


ShopBack merupakan cara baru, cerdas, dan hemat berbelanja online di Indonesia. Tak perlu momen tertentu untuk dapat diskon atau harga promo, di sini setiap kali berbelanja selalu ada cashback-nya. Setelah terkumpul sebanyak minimal Rp50.000, cashback dapat dicairkan dengan cara ditransfer ke rekening kita.

ShopBack pertama kali berdiri pada tahun 2014 di Singapura. Dari awalnya hanya menggarap pasar lokal Singapura, layanan situs ini sekarang sudah merambah ke empat negara tetangga lainnya: Malaysia, Filipina, India, Singapura, dan tentu saja Indonesia tercinta. Pertumbuhannya amat pesat, sehingga membuahkan berbagai penghargaan bergengsi.

Pencapaian dan penghargaan tersebut membuat ShopBack disorot media. Tak kurang dari Yahoo!, Daily Social, dan Tech In Asia pernah meliput kiprah perusahaan ini. Di Indonesia, media-media top seperti Kompas.com, detikcom, Okezone, Liputan6.com, TechnoID, dan Female Daily juga sempat mengangkat profil ShopBack.

Baca juga: Tips Shopping Cerdas: Dapat Cashback Setiap Belanja Online via ShopBack

Ngomong-ngomong, apa saja sih yang ada di ShopBack? Banyak! Dengan merchant berjumlah ratusan, nyaris semua yang kita butuhkan bisa dibeli melalui ShopBack. Karenanya saya pun bisa merencanakan liburan hemat dengan berbelanja via ShopBack.

1. Tiket Kereta Api
Saya biasa memesan tiket kereta api di Tiket.com yang merupakan satu di antara ratusan merchant ShopBack. Dulu saya langsung buka situs atau aplikasi Tiket.com. Tapi semenjak mengetahui ShopBack, saya selalu membukanya melalui situs maupun aplikasi ShopBack terlebih dahulu. Lumayan, ada cashback-nya lho.

Berapa besar? Untuk pemesanan tiket kereta api cashback-nya sebesar Rp2.500/transaksi. Ingat, per transaksi ya bukan per tiket. Kalau mau dapat cashback lebih banyak, pesan tiketnya satu-satu sehingga satu transaksi hanya satu tiket. Misalkan kita membeli empat tiket yang dibeli secara terpisah, maka total cashback-nya sebesar Rp2.500 x 4 = Rp10.000.

Ini cashback yang saya terima dari ShopBack setelah membeli tiket kereta api di Tiket.com.


2. Reservasi Hotel
Selain tiket kereta api, saya juga bisa memesan hotel yang akan diinapi selama di Semarang melalui ShopBack. Reservasi dapat dilakukan melalui banyak merchant. Di antaranya Tiket.com, Zen Rooms, Booking.com, Hotels.com, PegiPegi.com, Mister Aladin, dan masih banyak lagi yang lain.

Tiap-tiap merchant menawarkan jumlah cashback berbeda. Persentase terkecil diberikan oleh Mister Aladin (4%), lalu disusul PegiPegi (5%), Tiket.com dan Hotels.com (6%), Booking.com (8%), dan yang tertinggi Zen Rooms (15%). Namun perlu diingat besar persentase tidak berarti nominal cashback-nya besar. Pertimbangkan pula harga kamar yang menjadi dasar perhitungan cashback.

Saya sendiri ingin mencoba Zen Rooms. Namun rupanya belum ada hotelnya di Semarang. Jadi, sepertinya saya akan reservasi hotel di Booking.com saja. Ada banyak pilihan hotel sesuai budget di situs ini. Dan saya harus mencari hotel yang menyediakan kamar triple atau bahkan quadruple.

3. Taksi dan Ojek Online
ShopBack sudah bekerja sama dengan Uber dan Grab Bike. Jadi kita akan mendapat cashback jika memesan Uber dan Grab Bike melalui ShopBack. Menariknya, cashback Uber boleh dibilang paling cepat diterima, yakni hanya dalam waktu 15 menit sejak kita membayar. Dan cashback sudah bisa diklaim sehari setelahnya.

Bandingkan dengan cashback tiket kereta api yang harus menunggu hingga 60 hari untuk bisa diklaim. Sayangnya nih, Uber dan Grab belum ada di Semarang. Yang ada Go-Jek. Mudah-mudahan saja dalam waktu dekat ShopBack menjalin kerja sama dengan Go-Jek. Atau mudah-mudahan Uber dan Grab segera masuk Semarang.


4. Berbagai Jenis Kamera
Belum punya kamera untuk merekam momen-momen saat liburan? Beli saja di toko-toko favorit melalui ShopBack. Beberapa merchant yang sudah bekerja sama antara lain Lazada, Elevenia, MatahariMall.com, Alfacart, Bhinneka.com, AliExpress, dan masih banyak lagi.

Kalau kamu biasa belanja di Bhinneka.com, ShopBack menawarkan cashback sebesar 3,5% untuk pembelian kamera di toko online ini. Jadi misalkan saya membeli kamera Canon EOS M3 seharga Rp6.799.000 (foto di atas), maka saya berhak mendapat cashback sebesar Rp6.799.000 x 3% = Rp203.970. Wah, lumayan sekali!

5. Aneka Smartphone
Kalau tak mau menenteng kamera digital atau mirrorless, kamera smartphone sudah cukup untuk mengabadikan momen saat berwisata. Tentunya kita musti pilih smartphone yang pikselasinya besar dengan sensor bagus.

Ada banyak pilihan smartphone oke untuk keperluan memotret atau merekam video. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya menjagokan merek Xiaomi yang juga terkenal sebagai hape murah meriah. Istri memakai Xiaomi Mi4i dan hasil foto juga rekaman videonya sangat jernih.

Nah, kalau ingin belanja smartphone lebih hemat jangan lupa pakai ShopBack ya. Rata-rata merchant menawarkan cashback sebesar 1-1,5% untuk pembelian alat-alat elektronik. Misalkan kita membeli Xiaomi Redmi 4A yang baru di-launching seharga Rp 1,5 juta, maka kita akan dapat cashback sebesar Rp15.000. Lumayan...

Sudah Hemat, Dapat Cashback Pula
Sekarang saya coba susun rencana perjalanan plus budget yang diperlukan untuk berlibur sekeluarga selama 3 hari 2 malam di Semarang. Karena sudah punya kamera dan juga handphone memadai untuk keperluan dokumentasi, saya hanya perlu menganggarkan tiket kereta api dan akomodasi.

Tiket kereta api bisa dipesan lewat Tiket.com atau Tokopedia. Di Tiket.com hanya tersedia KA Kamandaka (Rp55.000) yang jam keberangkatannya dari Pemalang kurang bersahabat. Sedangkan di Tokopedia selain KA Kamandaka kita juga dapat memesan KA Kaligung (Rp50.000) dengan pilihan jam keberangkatan lebih fleksibel.


Khusus untuk hotel, mengingat anak-anak belum bisa tidur terpisah dari ibunya saya musti mencari kamar tipe triple atau bahkan quadruple. Dari pencarian di Booking.com saya menemukan Hotel Ibis Budget di Jl. Pierre Tendean, dekat dengan Stasiun Semarangponcol, juga tidak terlalu jauh dengan Tugu Muda dan Lawang Sewu.

Hotel ini menyediakan kamar triple dengan tempat tidur susun. Tarifnya? Ini yang bikin kantong aman. Booking.com menampilkan harga Rp796.440 untuk dua malam. Sudah termasuk sarapan buffet senilai Rp46.200/orang, pajak 10%, serta service tax 5%.

Oke, bungkus!

Rencana Kunjungan
Sekarang coba kita susun rencana kunjungan selama berada di Semarang nanti. Dengan beberapa destinasi yang sudah saya sebut di atas, kira-kira seperti ini itinerary-nya. Sengaja saya jadwalkan waktu minimal 2 jam di setiap destinasi agar anak-anak puas menikmatinya.

Agar memiliki waktu lebih banyak di masing-masing tempat wisata, saya pilih tempat-tempat makan siang/malam di sekitaran tempat tersebut. Misalnya makan Pecel Mbok Sador saat ke Simpang Lima, makan di Warung Seafood Bu Anna setelah mengunjungi Puri Maerakaca, atau masuk ke Gajah Pujasera di dekat pintu masuk Masjid Agung Jawa Tengah.

Setelah mempertimbangkan jarak, lokasi, dan waktu paling pas untuk mengunjungi masing-masing tempat wisata, saya susun itinerary seperti berikut ini:

Hari Pertama
09.52 - 11.49 WIB: Perjalanan Pemalang-Semarang(Stasiun Poncol)
11.49 - 13.00 WIB: Check in di Hotel Ibis Budget
13.00 - 14.00 WIB: Makan siang di Bakmi Djowo Pak Doel Noemani
14.00 - 16.30 WIB: Mengunjungi Lawang Sewu
16.30 - 18.30 WIB: Kembali ke hotel, mandi & salat
18.30 - 20.00 WIB: Ke Simpang Lima, makan malam
20.00 WIB: Kembali ke hotel, istirahat

Hari Kedua
07.00 - 08.00 WIB: Sarapan di hotel
08.00 - 11.30 WIB: Mengunjungi Puri Maerakaca
11.30 - 13.30 WIB: Makan siang di Warung Seafood Bu Anna
13.30 - 16.30 WIB: Ke Klenteng Sam Poo Kong
16.30 - 18.30 WIB: Kembali ke hotel, mandi & salat
18.30 - 20.00 WIB: Makan malam di Bu Sum Pandanaran, belanja oleh-oleh
20.00: Kembali ke hotel, istirahat

Hari Ketiga
07.00 - 08.00 WIB: Sarapan di hotel
08.00 - 10.00 WIB: Ke Klenteng Tay Kak Sie
10.00 - 13.00 WIB: Ke Masjid Agung Jawa Tengah
13.00 - 14.00 WIB: Makan siang di Gajah Pujasera
14.00 - 16.30 WIB: Keliling Kota Lama
16.30 - 17.00 WIB: Ke Stasiun Tawang
17.10 - 19.18 WIB: Perjalanan Semarang-Pemalang, makan malam di kereta


Tentu saja itinerary ini bersifat fleksibel. Maklum, jalan-jalan bersama anak-anak seringkali menghadapi banyak hal tak terduga. Entah si anak ngambek, kecapaian, atau malah tidak mau diajak pindah ke destinasi berikutnya karena terlalu asyik.



Perhitungan Anggaran
Berdasarkan itinerary di atas, kami berempat akan berangkat menggunakan KA Kaligung dari Pemalang dan turun di Stasiun Semarangponcol. Menginapnya di Hotel Ibis Budget selama dua malam, lalu pulangnya naik KA Kamandaka dari Stasiun Tawang.

Untuk makan, sarapan pagi sudah include harga hotel. Tinggal memikirkan biaya makan siang dan makan malam. Dengan memilih tempat makan sederhana, saya anggarkan budget Rp50.000 sekali makan per orang. Ini termasuk cemilan dan air minum kemasan. Kalau misalnya masih ada lebih dapat dimasukkan ke anggaran oleh-oleh.

Sedangkan untuk transportasi dalam kota saya lebih prefer naik Go-Car atau taksi Blue Bird, tergantung mana yang tersedia. Tak perlu pakai dua aplikasi, sebab taksi Blue Bird sekarang dapat dipesan lewat aplikasi Go-Jek. Dengan jarak tempuh rata-rata 2-3 km, setiap perjalanan membutuhkan ongkos antara Rp25.000-Rp40.000.

Berikut anggaran yang perlu saya siapkan:
- 1 kamar triple Hotel Ibis Budget (2 malam): Rp796.440,-
- 4 tiket KA Kaligung (pergi): Rp200.000,-
- 4 tiket KA Kamandaka (pulang): Rp220.000,-
- Makan 2 kali sehari x 4 orang x 2 hari: Rp500.000,-
- Ongkos Go-Car dan Blue Bird: Rp250.000,-
- Oleh-oleh dan lain-lain: Rp500.000,-

TOTAL ANGGARAN: Rp2.466.440,-

Bagi blogger yang menggantungkan penghasilan dari penulisan artikel sponsor, uang sebesar Rp2.466.440 tersebut setara dengan 5 sponsored post senilai Rp500.000, atau 7-8 artikel berbayar senilai Rp350.000. Kalau setiap bulan rata-rata mendapat dua job, saya baru bisa mengumpulkan uang sebanyak itu selama 2-3 bulan.


Berita baiknya, saya tidak harus membayari seluruh pengeluaran dari kantong sendiri. ShopBack tengah berbaik hati pada member-membernya. Cukup ceritakan apa yang ingin kita beli, ShopBack bakal mengabulkan keinginan tersebut. Syaratnya mudah: barang/jasa tersebut dapat dipesan di e-commerce yang sudah bergabung dengan ShopBack, dan maksimal nilainya Rp1.000.000.

Menilik daftar anggaraan tadi boleh dong saya berharap ShopBack mengabulkan keinginan saya memesan 1 kamar triple di Hotel Ibis Budget selama dua malam. Reservasi hotel ini dapat dilakukan via Booking.com yang merupakan salah satu merchant ShopBack. Lumayan, penghematan Rp796.440.

Uang sebanyak itu tentu sangat berarti bagi saya. Jika keinginan ini dikabulkan ShopBack, saya tinggal menyiapkan dana sebesar Rp1.670.000 saja. Jauh lebih sedikit. Dan kalau menggantungkan perolehannya semata-mata dari penulisan artikel sponsor, saya sudah bisa mengajak anak-istri berlibur ke Semarang 1-2 bulan ke depan. Allahumma amin.

Oya, mau ikut merasakan serunya dapat cashback dari setiap transaksi onlinemu? Yuk, daftarkan dirimu sebagai member ShopBack di sini dan dapatkan bonus langsung sebanyak Rp25.000.

Semoga bermanfaat!


SEMARANG "cuma" berjarak 148,8 kilometer dari Pemalang. Naik kereta api jarak tersebut hanya perlu ditempuh dalam waktu 2,5-3 jam. Dekat sekali. Namun saya belum pernah mengajak anak dan istri berwisata ke sana. So, berwisata sekeluarga ke Kota Lumpia jadi salah satu whishlist yang ingin saya wujudkan tahun ini.

Sebenarnya kami sekeluarga pernah ke Semarang tahun lalu. Namun itu bukan atas inisiatif pribadi, melainkan study tour TK anak sulung saya. Dalam waktu sehari kami mengunjungi tiga tempat berbeda yang letaknya berjauhan, plus satu toko oleh-oleh. Yang paling tidak asyik, kunjungan di tiap-tiap tempat hanya dibatasi satu jam saja.

Tentu saja kami tidak puas, terutama anak-anak. Itulah sebabnya saya sangat ingin sekali kembali mengajak anak dan istri berwisata ke sana. Kami ingin berlama-lama mengunjungi tempat-tempat wisata di Semarang sampai anak-anak puas.

Kenapa Semarang?

Alasan pertama ya karena jaraknya dekat. Tidak perlu menempuh perjalanan jauh, pilihan moda transportasinya pun beragam. Mau naik bus umum bisa. Banyak sekali bus jurusan Semarang yang melewati Pemalang. Baik dari Tegal, Cirebon, Bandung, maupun Jakarta. Saya bisa langsung menyetop di pinggir jalan, atau membeli tiket di terminal.

Tapi selama ada pilihan kereta api, saya lebih suka memanfaatkan jasa PT Kereta Api Indonesia. Dengan kereta api yang terjadwal rapi saya bisa menyusun agenda perjalanan dengan cermat. Berangkat dari Pemalang jam berapa, sampai di Semarang jam berapa, termasuk juga merencanakan besarnya ongkos yang diperlukan.

Alasan berikutnya yang tak kalah penting, transportasi umum di Semarang sangat beragam pilihannya. Mau naik angkutan kota yang murah meriah ada, mau lebih praktis dan nyaman bisa menyewa rental mobil. Ada pula pilihan taksi online yang menawarkan kenyamanan dengan harga lebih bersahabat, yakni Go-Car.

Wisata Anak
Alasan lain, ibukota propinsi Jawa Tengah ini menyimpan begitu banyak destinasi wisata yang cocok bagi anak-anak. Ya, semenjak mempunyai anak saya selalu memperhatikan betul tujuan wisata yang dituju. Saya utamakan mendatangi tempat-tempat yang memang dikhususkan buat anak-anak. Atau setidaknya tempat wisata tersebut ramah anak.

Saya sudah mencatat beberapa tempat wisata di Semarang yang rasanya bakal membuat anak-anak senang mengunjunginya. Berikut beberapa yang ingin sekali saya kunjungi:


1. Puri Maerakaca
Tempat wisata ini berada di urutan pertama dalam daftar. Tempatnya sangat luas, anak-anak pasti senang sekali bermain-main di sini. Apalagi ada anjungan 35 kota dan kabupaten se-Jawa Tengah. Jadi, tak sekedar bersenang-senang melihat-lihat, saya dan istri juga bisa mengajarkan lebih banyak tentang Jawa Tengah pada anak-anak.

Anjungan Pemalang tentu saja jadi tujuan utama kami. Belum banyak yang diketahui anak-anak tentang kabupaten tempat tinggalnya sendiri. Dengan mengunjungi anjungannya di Puri Maerakaca, kami dapat memperkenalkan apa-apa yang ada di Pemalang pada mereka.

Kalau sudah bosan mengelilingi anjungan demi anjungan, anak-anak bisa bermain-main di area khusus untuk anak-anak yang tersedia. Opsi lain yang tak kalah menarik adalah naik becak air, naik kereta-keretaan, atau sekedar duduk-duduk di taman dan berfoto-foto di sekitaran area pohon mangrove di dekat laut.

Rasanya kami bakal betah seharian di sini.

2. Masjid Agung Jawa Tengah
Lihat kesamaannya dengan Puri Maerakaca? Yup, Masjid Agung Jawa Tengah jadi tujuan kedua karena tempatnya yang sangat luas sekali. Anak-anak saya suka sekali tempat-tempat yang luas di mana mereka bisa berlari-lari ke sana-sini.

Sewaktu ke sini bersama rombongan TK anak sulung, bus sampai di area masjid rembang petang. Kami hanya diberi waktu satu jam. Mana kami harus antri lama di kamar mandi sebelum masuk masjid. Akhirnya kami sengaja berlama-lama di masjid, menunggu waktu salat Magrib tiba baru kembali ke bus.



Padahal anak-anak masih asyik berlari-lari dan terlihat penasaran sekali dengan banyak hal baru yang dilihatnya di sana. Jadi, saya dan istri sudah berangan-angan kalau nanti ke Semarang lagi kami akan biarkan anak-anak berlari-larian di pelataran masjid. Saya juga ingin naik ke Menara Al Husna yang tingginya 99 meter.

3. Lawang Sewu
Anak sulung saya sangat suka kereta api. Sekalipun sudah punya mainan kereta api tiga, ia masih terus minta dibelikan yang baru. Kalau menonton YouTube, selain animasi anak-anak yang ia tonton adalah video-video kereta api. Jadi, kalau ke Semarang saya harus mengajaknya ke Lawang Sewu.

Di sini anak-anak saya dapat melihat foto-foto berbagai stasiun kuno di Jawa, utamanya Jawa Tengah. Juga dapat melihat foto-foto kereta api jaman dulu. Berbagai miniatur kereta api dan lokomotif pasti membuatnya senang. Saya sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresinya melihat-lihat isi di dalam museum kereta api di Lawang Sewu.

Puas berkeliling, kami bisa melepas lelah dengan duduk-duduk di kursi-kursi yang ada di halaman. Saya pastikan anak-anak tidak bakal puas jika cuma berada di sini selama 1-2 jam. Tak masalah. Mau setengah harian di sini pun oke, saya layani. Hehehe.

4. Jl. Pandanaran, Simpang Lima, Kota Lama
Jalan legendaris ini tentu tak boleh dilupakan kalau sedang berada di Semarang. Berjalan-jalan di sepanjang jalan nan asri ini memberikan nuansa berbeda. Kami bisa membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang, berfoto-foto bersama patung Warak Ngendog di Taman Pandanaran, atau berbelanja buku di Gramedia.

Lanjut ke timur, ada Simpang Lima yang menawarkan banyak hal. Rasanya saya hanya akan mengajak anak-anak masuk ke lapangan bundar di tengah-tengah simpang. Tapi bisa jadi kalau khilaf bakal tertarik mencicipi berbagai makanan khas yang ada di sekitaran sana.

Sedangkan kawasan Kota Lama, mengingat lokasinya yang tak jauh dari Stasiun Tawang saya kira paling cocok didatangi menjelang pulang ke Pemalang. Jadi sekalian jalan ke stasiun, sembari menunggu jadwal keberangkatan kereta, kami manfaatkan waktu untuk mengeksplorasi kawasan ini.


Menyiapkan Liburan dengan ShopBack
Dengan tiga destinasi utama plus beberapa tujuan opsional di atas, saya perkirakan kami butuh waktu tiga hari di Semarang. Itu artinya kami harus menginap dua malam. Tenang saja, ada banyak pilihan hotel di Semarang. Tinggal pilih saja disesuaikan dengan budget yang ada.

Untuk lebih menekan anggaran, gunakan berbagai tawaran promo yang tersedia. Salah satunya dengan menggunakan layanan ShopBack. Di situs ini terdapat banyak promo dari berbagai merchant, termasuk untuk pemesanan tiket kereta api dan reservasi hotel.

Bagi yang belum tahu ShopBack, situs ini merupakan semacam marketplace yang bekerja sama dengan ratusan toko online. Lebih dari 500-an merchant. Kita tetap dapat berbelanja di toko-toko online favorit seperti Lazada, Zalora, Elevenia, atau AliExpress. Yang membuat berbeda, kita akan mendapat apresiasi berupa cashback dari setiap transaksi.

Coba ingat-ingat, toko online atau marketplace mana yang memberikan cashback pada konsumennya? Tidak ada, bukan? Nah, ceritanya jadi berbeda kalau kita belanja melalui ShopBack. Itulah sebabnya saya sekarang selalu mengecek ShopBack terlebih dahulu saat ingin membeli ini-itu.

Untuk mendapatkan cashback dari setiap transaksi online, buka situs atau aplikasi ShopBack lalu pilih toko online favorit. Kemudian sistem akan membukakan toko online pilihanmu di tab baru. Berbelanjalah seperti biasa sampai selesai. Selanjutnya tinggal tunggu cashback dihitung oleh ShopBack dan masuk ke dalam akun.

Lihat langkah-langkah mendapat cashback dari ShopBack pada gambar di bawah ini, atau baca lebih lengkap di halaman berikut (klik saja).


ShopBack merupakan cara baru, cerdas, dan hemat berbelanja online di Indonesia. Tak perlu momen tertentu untuk dapat diskon atau harga promo, di sini setiap kali berbelanja selalu ada cashback-nya. Setelah terkumpul sebanyak minimal Rp50.000, cashback dapat dicairkan dengan cara ditransfer ke rekening kita.

ShopBack pertama kali berdiri pada tahun 2014 di Singapura. Dari awalnya hanya menggarap pasar lokal Singapura, layanan situs ini sekarang sudah merambah ke empat negara tetangga lainnya: Malaysia, Filipina, India, Singapura, dan tentu saja Indonesia tercinta. Pertumbuhannya amat pesat, sehingga membuahkan berbagai penghargaan bergengsi.

Pencapaian dan penghargaan tersebut membuat ShopBack disorot media. Tak kurang dari Yahoo!, Daily Social, dan Tech In Asia pernah meliput kiprah perusahaan ini. Di Indonesia, media-media top seperti Kompas.com, detikcom, Okezone, Liputan6.com, TechnoID, dan Female Daily juga sempat mengangkat profil ShopBack.

Baca juga: Tips Shopping Cerdas: Dapat Cashback Setiap Belanja Online via ShopBack

Ngomong-ngomong, apa saja sih yang ada di ShopBack? Banyak! Dengan merchant berjumlah ratusan, nyaris semua yang kita butuhkan bisa dibeli melalui ShopBack. Karenanya saya pun bisa merencanakan liburan hemat dengan berbelanja via ShopBack.

1. Tiket Kereta Api
Saya biasa memesan tiket kereta api di Tiket.com yang merupakan satu di antara ratusan merchant ShopBack. Dulu saya langsung buka situs atau aplikasi Tiket.com. Tapi semenjak mengetahui ShopBack, saya selalu membukanya melalui situs maupun aplikasi ShopBack terlebih dahulu. Lumayan, ada cashback-nya lho.

Berapa besar? Untuk pemesanan tiket kereta api cashback-nya sebesar Rp2.500/transaksi. Ingat, per transaksi ya bukan per tiket. Kalau mau dapat cashback lebih banyak, pesan tiketnya satu-satu sehingga satu transaksi hanya satu tiket. Misalkan kita membeli empat tiket yang dibeli secara terpisah, maka total cashback-nya sebesar Rp2.500 x 4 = Rp10.000.

Ini cashback yang saya terima dari ShopBack setelah membeli tiket kereta api di Tiket.com.


2. Reservasi Hotel
Selain tiket kereta api, saya juga bisa memesan hotel yang akan diinapi selama di Semarang melalui ShopBack. Reservasi dapat dilakukan melalui banyak merchant. Di antaranya Tiket.com, Zen Rooms, Booking.com, Hotels.com, PegiPegi.com, Mister Aladin, dan masih banyak lagi yang lain.

Tiap-tiap merchant menawarkan jumlah cashback berbeda. Persentase terkecil diberikan oleh Mister Aladin (4%), lalu disusul PegiPegi (5%), Tiket.com dan Hotels.com (6%), Booking.com (8%), dan yang tertinggi Zen Rooms (15%). Namun perlu diingat besar persentase tidak berarti nominal cashback-nya besar. Pertimbangkan pula harga kamar yang menjadi dasar perhitungan cashback.

Saya sendiri ingin mencoba Zen Rooms. Namun rupanya belum ada hotelnya di Semarang. Jadi, sepertinya saya akan reservasi hotel di Booking.com saja. Ada banyak pilihan hotel sesuai budget di situs ini. Dan saya harus mencari hotel yang menyediakan kamar triple atau bahkan quadruple.

3. Taksi dan Ojek Online
ShopBack sudah bekerja sama dengan Uber dan Grab Bike. Jadi kita akan mendapat cashback jika memesan Uber dan Grab Bike melalui ShopBack. Menariknya, cashback Uber boleh dibilang paling cepat diterima, yakni hanya dalam waktu 15 menit sejak kita membayar. Dan cashback sudah bisa diklaim sehari setelahnya.

Bandingkan dengan cashback tiket kereta api yang harus menunggu hingga 60 hari untuk bisa diklaim. Sayangnya nih, Uber dan Grab belum ada di Semarang. Yang ada Go-Jek. Mudah-mudahan saja dalam waktu dekat ShopBack menjalin kerja sama dengan Go-Jek. Atau mudah-mudahan Uber dan Grab segera masuk Semarang.


4. Berbagai Jenis Kamera
Belum punya kamera untuk merekam momen-momen saat liburan? Beli saja di toko-toko favorit melalui ShopBack. Beberapa merchant yang sudah bekerja sama antara lain Lazada, Elevenia, MatahariMall.com, Alfacart, Bhinneka.com, AliExpress, dan masih banyak lagi.

Kalau kamu biasa belanja di Bhinneka.com, ShopBack menawarkan cashback sebesar 3,5% untuk pembelian kamera di toko online ini. Jadi misalkan saya membeli kamera Canon EOS M3 seharga Rp6.799.000 (foto di atas), maka saya berhak mendapat cashback sebesar Rp6.799.000 x 3% = Rp203.970. Wah, lumayan sekali!

5. Aneka Smartphone
Kalau tak mau menenteng kamera digital atau mirrorless, kamera smartphone sudah cukup untuk mengabadikan momen saat berwisata. Tentunya kita musti pilih smartphone yang pikselasinya besar dengan sensor bagus.

Ada banyak pilihan smartphone oke untuk keperluan memotret atau merekam video. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya menjagokan merek Xiaomi yang juga terkenal sebagai hape murah meriah. Istri memakai Xiaomi Mi4i dan hasil foto juga rekaman videonya sangat jernih.

Nah, kalau ingin belanja smartphone lebih hemat jangan lupa pakai ShopBack ya. Rata-rata merchant menawarkan cashback sebesar 1-1,5% untuk pembelian alat-alat elektronik. Misalkan kita membeli Xiaomi Redmi 4A yang baru di-launching seharga Rp 1,5 juta, maka kita akan dapat cashback sebesar Rp15.000. Lumayan...

Sudah Hemat, Dapat Cashback Pula
Sekarang saya coba susun rencana perjalanan plus budget yang diperlukan untuk berlibur sekeluarga selama 3 hari 2 malam di Semarang. Karena sudah punya kamera dan juga handphone memadai untuk keperluan dokumentasi, saya hanya perlu menganggarkan tiket kereta api dan akomodasi.

Tiket kereta api bisa dipesan lewat Tiket.com atau Tokopedia. Di Tiket.com hanya tersedia KA Kamandaka (Rp55.000) yang jam keberangkatannya dari Pemalang kurang bersahabat. Sedangkan di Tokopedia selain KA Kamandaka kita juga dapat memesan KA Kaligung (Rp50.000) dengan pilihan jam keberangkatan lebih fleksibel.


Khusus untuk hotel, mengingat anak-anak belum bisa tidur terpisah dari ibunya saya musti mencari kamar tipe triple atau bahkan quadruple. Dari pencarian di Booking.com saya menemukan Hotel Ibis Budget di Jl. Pierre Tendean, dekat dengan Stasiun Semarangponcol, juga tidak terlalu jauh dengan Tugu Muda dan Lawang Sewu.

Hotel ini menyediakan kamar triple dengan tempat tidur susun. Tarifnya? Ini yang bikin kantong aman. Booking.com menampilkan harga Rp796.440 untuk dua malam. Sudah termasuk sarapan buffet senilai Rp46.200/orang, pajak 10%, serta service tax 5%.

Oke, bungkus!

Rencana Kunjungan
Sekarang coba kita susun rencana kunjungan selama berada di Semarang nanti. Dengan beberapa destinasi yang sudah saya sebut di atas, kira-kira seperti ini itinerary-nya. Sengaja saya jadwalkan waktu minimal 2 jam di setiap destinasi agar anak-anak puas menikmatinya.

Agar memiliki waktu lebih banyak di masing-masing tempat wisata, saya pilih tempat-tempat makan siang/malam di sekitaran tempat tersebut. Misalnya makan Pecel Mbok Sador saat ke Simpang Lima, makan di Warung Seafood Bu Anna setelah mengunjungi Puri Maerakaca, atau masuk ke Gajah Pujasera di dekat pintu masuk Masjid Agung Jawa Tengah.

Setelah mempertimbangkan jarak, lokasi, dan waktu paling pas untuk mengunjungi masing-masing tempat wisata, saya susun itinerary seperti berikut ini:

Hari Pertama
09.52 - 11.49 WIB: Perjalanan Pemalang-Semarang(Stasiun Poncol)
11.49 - 13.00 WIB: Check in di Hotel Ibis Budget
13.00 - 14.00 WIB: Makan siang di Bakmi Djowo Pak Doel Noemani
14.00 - 16.30 WIB: Mengunjungi Lawang Sewu
16.30 - 18.30 WIB: Kembali ke hotel, mandi & salat
18.30 - 20.00 WIB: Ke Simpang Lima, makan malam
20.00 WIB: Kembali ke hotel, istirahat

Hari Kedua
07.00 - 08.00 WIB: Sarapan di hotel
08.00 - 11.30 WIB: Mengunjungi Puri Maerakaca
11.30 - 13.30 WIB: Makan siang di Warung Seafood Bu Anna
13.30 - 16.30 WIB: Ke Klenteng Sam Poo Kong
16.30 - 18.30 WIB: Kembali ke hotel, mandi & salat
18.30 - 20.00 WIB: Makan malam di Bu Sum Pandanaran, belanja oleh-oleh
20.00: Kembali ke hotel, istirahat

Hari Ketiga
07.00 - 08.00 WIB: Sarapan di hotel
08.00 - 10.00 WIB: Ke Klenteng Tay Kak Sie
10.00 - 13.00 WIB: Ke Masjid Agung Jawa Tengah
13.00 - 14.00 WIB: Makan siang di Gajah Pujasera
14.00 - 16.30 WIB: Keliling Kota Lama
16.30 - 17.00 WIB: Ke Stasiun Tawang
17.10 - 19.18 WIB: Perjalanan Semarang-Pemalang, makan malam di kereta


Tentu saja itinerary ini bersifat fleksibel. Maklum, jalan-jalan bersama anak-anak seringkali menghadapi banyak hal tak terduga. Entah si anak ngambek, kecapaian, atau malah tidak mau diajak pindah ke destinasi berikutnya karena terlalu asyik.



Perhitungan Anggaran
Berdasarkan itinerary di atas, kami berempat akan berangkat menggunakan KA Kaligung dari Pemalang dan turun di Stasiun Semarangponcol. Menginapnya di Hotel Ibis Budget selama dua malam, lalu pulangnya naik KA Kamandaka dari Stasiun Tawang.

Untuk makan, sarapan pagi sudah include harga hotel. Tinggal memikirkan biaya makan siang dan makan malam. Dengan memilih tempat makan sederhana, saya anggarkan budget Rp50.000 sekali makan per orang. Ini termasuk cemilan dan air minum kemasan. Kalau misalnya masih ada lebih dapat dimasukkan ke anggaran oleh-oleh.

Sedangkan untuk transportasi dalam kota saya lebih prefer naik Go-Car atau taksi Blue Bird, tergantung mana yang tersedia. Tak perlu pakai dua aplikasi, sebab taksi Blue Bird sekarang dapat dipesan lewat aplikasi Go-Jek. Dengan jarak tempuh rata-rata 2-3 km, setiap perjalanan membutuhkan ongkos antara Rp25.000-Rp40.000.

Berikut anggaran yang perlu saya siapkan:
- 1 kamar triple Hotel Ibis Budget (2 malam): Rp796.440,-
- 4 tiket KA Kaligung (pergi): Rp200.000,-
- 4 tiket KA Kamandaka (pulang): Rp220.000,-
- Makan 2 kali sehari x 4 orang x 2 hari: Rp500.000,-
- Ongkos Go-Car dan Blue Bird: Rp250.000,-
- Oleh-oleh dan lain-lain: Rp500.000,-

TOTAL ANGGARAN: Rp2.466.440,-

Bagi blogger yang menggantungkan penghasilan dari penulisan artikel sponsor, uang sebesar Rp2.466.440 tersebut setara dengan 5 sponsored post senilai Rp500.000, atau 7-8 artikel berbayar senilai Rp350.000. Kalau setiap bulan rata-rata mendapat dua job, saya baru bisa mengumpulkan uang sebanyak itu selama 2-3 bulan.


Berita baiknya, saya tidak harus membayari seluruh pengeluaran dari kantong sendiri. ShopBack tengah berbaik hati pada member-membernya. Cukup ceritakan apa yang ingin kita beli, ShopBack bakal mengabulkan keinginan tersebut. Syaratnya mudah: barang/jasa tersebut dapat dipesan di e-commerce yang sudah bergabung dengan ShopBack, dan maksimal nilainya Rp1.000.000.

Menilik daftar anggaraan tadi boleh dong saya berharap ShopBack mengabulkan keinginan saya memesan 1 kamar triple di Hotel Ibis Budget selama dua malam. Reservasi hotel ini dapat dilakukan via Booking.com yang merupakan salah satu merchant ShopBack. Lumayan, penghematan Rp796.440.

Uang sebanyak itu tentu sangat berarti bagi saya. Jika keinginan ini dikabulkan ShopBack, saya tinggal menyiapkan dana sebesar Rp1.670.000 saja. Jauh lebih sedikit. Dan kalau menggantungkan perolehannya semata-mata dari penulisan artikel sponsor, saya sudah bisa mengajak anak-istri berlibur ke Semarang 1-2 bulan ke depan. Allahumma amin.

Oya, mau ikut merasakan serunya dapat cashback dari setiap transaksi onlinemu? Yuk, daftarkan dirimu sebagai member ShopBack di sini dan dapatkan bonus langsung sebanyak Rp25.000.

Semoga bermanfaat!

Sabtu, 18 Februari 2017

PERNAH dengar istilah blogstore? Belum? Wajar. Searching di Google sekalipun nggak akan ketemu definisi dari kata ini, maupun artikel yang membahas mengenai hal tersebut. Pendek kata, ini istilah yang masih asing. Namun, dengan blogstore saya (pernah) bisa meraup untung jutaan rupiah sebulan.

Saya pertama kali mendengar istilah ini dari seorang kawan sesama blogger. Mundur jauh ke tahun 2008 saat kami masih sering berkirim SMS dan chat membahas berbagai hal seputar dunia online. Dalam satu kesempatan ia mencetuskan istilah blogstore, yang ia jelaskan secara ringkas sebagai, "toko online tapi pakai blog."

Masa itu belum banyak yang mengalih-fungsikan blog sebagai toko online. Lalu sejumlah layanan shopping cart melakukan inovasi, sehingga dapat dipasang di blog berbasis WordPress. Diikuti dengan pengembang theme menyediakan tema-tema online shop. Mulailah bermunculan situs-situs jualan yang aslinya merupakan blog berbasis WordPress.

Medio 2009, saya tertarik berjualan uang lama secara online. Ketertarikan ini berawal dari seringnya saya nongkrong di Pasar Klithikan, Yogyakarta, untuk keperluan liputan di koran lokal tempat saya magang. Cerita seorang pedagang senior di sana membuat saya ingin mencicipi manisnya profit dari bisnis uang kadaluwarsa ini.

"Sampeyan ambil sama saya Rp7.500 selembar, nanti dijual Rp10.000 kan sudah untung Rp2.500 selembar," kata Pak Wisnu, nama pedagang tersebut.

"Orang nggak mungkin cuma beli selembar. Untuk mahar paling sedikit dia beli 3-4 lembar. Dapat untung Rp10.000 sekali transaksi kan lumayan," tambah Pak Wisnu lagi.

Saya mengangguk setuju. Di ambang kelulusan kuliah, dengan status nyaris pasti sebagai pengangguran, tak ada hal lain yang terpikirkan oleh saya selain menulis dan berdagang. Sempat bingung mau berjualan apa, perkenalan dengan Pak Wisnu seolah memberi jalan bagi saya.

Kesempatan ini harus diambil!.

Tampilan blog uanglama.com di bulan pertamanya, 28 Juni 2009. Screen capture diambil dari WebArchive.org.

Modal Blog Gratis
Kembali ke kos, saya langsung merancang apa yang selanjutnya harus dilakukan untuk mengeksekusi rencana berjualan uang lama. Saya ambil kertas kosong dan pena, lalu mulai mencoret-coret. Dimulai dengan apa yang saya butuhkan sebagai modal awal, kemudian apa langkah pertama untuk mengawali usaha ini.

Sejak awal saya sudah berniat untuk berjualan secara online. Karenanya saya musti membangun toko online. Lihat sana-sini, jasa pembuatan toko online yang sangat sederhana dibanderol lebih dari Rp1.000.000. Itu hanya toko online untuk memajang barang, dengan fitur andalan update stok otomatis. Pembeli masih harus mengontak kita sebagai penjual untuk mengorder.

Kalau mau yang full otomatis di mana seluruh transaksi pembelian ditangani sistem, biaya pembuatannya 3-4 kali lipat. Tentu saja saya angkat tangan. Ketimbang untuk buat web, bagi saya lebih baik uangnya dipakai kulakan barang.

Mau membuat toko online berbasis blog WordPress, saya juga dibuat mundur teratur oleh harga theme, harga shopping cart, serta biaya hosting bulanannya. Apalagi saat itu saya awam sekali dengan WordPress dan seluk-beluk hosting.

Apa akal? Saya lantas teringat Blogspot. Bertahun-tahun saya akrab dengan platform blog satu ini. Bagaimana kalau coba membuat toko online menggunakan engine ini saja? Karena saya paham betul Blogger.com, yang perlu saya pikirkan selanjutnya hanya soal nama domain, template, dan konten.

Setelah search sana-sini, rupanya sudah ada yang memanfaatkan Blogspot sebagai landing page untuk berjualan. Sejumlah programmer malah menjajakan template-nya seharga Rp350.000. Meski tak bisa dibilang murah untuk ukuran saat itu, namun harga tersebut masih wajar. Tapi saya tidak tertarik.

Saya tidak berminat membuat landing page. Saya ingin membuat blog seperti pada umumnya blog. Bedanya, saya sediakan satu halaman khusus untuk memajang foto-foto dagangan. Jadi konsepnya adalah blog dengan konten artikel-artikel seputar uang lama dan numismatik, kemudian kalau ada yang tertarik membeli tinggal klik halaman berisi daftar barang yang disediakan.



Bukan tanpa alasan saya menginginkan konsep tersebut. Dari beberapa teman saya belajar banyak tentang search engine optimization (SEO), atau menurut saya lebih tepat disebut Google Optimization (GO). Pintu masuk pengunjung adalah mesin pencari, Google, jadi saya harus bisa menempatkan blog di halaman awal Google.

Google suka sekali dengan blog atau situs yang kaya artikel. Untuk itulah saya musti membuat blog, dan terus memperbaharuinya dengan artikel-artikel baru secara teratur. Karena saya menulis tentang uang lama dan numismatik, tentunya pengunjung yang datang ke blog adalah orang-orang yang memiliki minat atau membutuhkan uang lama.

Nah, pengunjung-pengunjung inilah calon pembeli saya. Semakin banyak pengunjung, itu maknanya saya memiliki semakin banyak calon pembeli. Konsep ini sama seperti yang dipakai oleh mal-mal di kota-kota besar.

Nama Domain sebagai Merek
Oke, kemudian saya pun membuat sebuah blog baru di Blogger.com. Gratis. Agar terkesan serius dan dapat dipercaya, saya membeli nama domain .com. Tapi tujuan utama pembalian nama domain TLD ini adalah sebagai senjata utama dalam memenangkan pertarungan di mesin pencari. Kalau saya bisa membeli nama domain dengan kata kunci yang sesuai, insya Allah blogstore yang saya rintis berjalan sesuai harapan.

Satu hal lagi, nama domain sekaligus sebagai merek. Saya ingin ketika orang bertanya-tanya, "Cari uang lama buat mahar atau koleksi di mana ya?" Maka mereka akan langsung teringat blogstore saya. Karenanya nama domain tadi harus spesifik menjelaskan apa yang saya jual.

Cari punya cari, saya beruntung mendapatkan nama domain uanglama.com. Benar-benar rejeki nomplok. Jadi klop sudah. Blognya tentang uang lama, jualannya uang lama, nama domain yang cocok tentu saja uanglama.com. Ini sekaligus keyword penting untuk bertarung di Google.

Well, hanya dalam hitungan jam blogstore itu pun jadi. Lalu jam berikutnya nama domain uanglama.com sudah terintegrasi dengan baik ke blog di Blogger.com. Langkah terakhir yang harus saya lakukan adalah mengisi blog tersebut dengan tulisan, gambar, dan tentu saja daftar barang dagangan.

Singkat cerita, saya mulai berjualan uang lama dengan sebuah blog gratis yang diberi nama domain .com. Modal materiil yang saya keluarkan sebesar Rp95.000 untuk membeli nama domain, selebihnya akses internet yang sudah dibayar bulanan, serta tenaga dan waktu untuk menyiapkan blog tersebut.

Pak Wisnu di lapak uang lamanya yang terletak di Pasar Klithikan Wirobrajan, Yogyakarta. FOTO: ???

Untuk barang dagangan, Pak Wisnu berbaik hati membantu saya. Sebenarnya ya sekaligus membantu beliau juga sih. Saling menguntungkanlah. Saya dipersilakan mengambil barang-barang darinya dengan sistem konsinyasi, jadi dibayar kalau sudah laku. Artinya, saya menyetok barang dengan modal kepercayaan saja.

Di kos, uang-uang lama dari toko Pak Wisnu saya foto satu-satu depan-belakang. Kemudian saya catat baik-baik ciri-ciri fisik serta deskripsi masing-masing, untuk selanjutnya diunggah di blog. Saya buat satu posting khusus untuk masing-masing uang. Isinya ciri-ciri fisiknya, deskripsi singkat, serta foto depan-belakang.

Saya juga menulis beberapa posting untuk menaikkan posisi blog di Google. Beruntung saya punya bahan berlimpah sekali untuk menulis banyak artikel. Selain hasil wawancara dengan Pak Wisnu dan beberapa kolektor lokal Jogja, saya masih menyimpan print out referensi yang didapat dari internet.

Semua itu saya olah menjadi bermacam-macam tulisan terkait uang lama dan numismatik. Ada tulisan tentang profil kolektor, seputar grading uang lama, tips membeli uang lama, dan masih banyak lagi.

Omset Puluhan Juta
Mengintip Web Archive, uanglama.com sudah online sejak awal Juni 2009. Saya lupa persisnya tanggal berapa posting pertama blog tersebut dipublikasikan. Yang saya ingat betul, pembeli pertamanya adalah seorang calon pengantin di Kalimantan. Ia mencari uang Rp9 untuk mahar.

Nilai transaksi pertama itu tak sampai Rp50.000, dengan marjin sekitar Rp30.000. Sedangkan nett profit-nya kisaran Rp15.000. Lumayan sebagai permulaan.

Lalu order demi order berdatangan. Semua pembeli tersebut masuk ke blogstore saya lewat Google. Rata-rata mencari uang mahar, tapi tak sedikit pula yang mencari uang-uang mistis untuk pesugihan. Transaksi besar pertama saya dibukukan tak sampai sebulan berselang. Seorang kolektor pemula di Jakarta membeli sejumlah uang lama dengan total pembelian sejuta rupiah lebih sedikit.

Semenjak itu bisnis jual-beli uang lama saya semakin berkembang. Dari sekedar penasaran ingin mencoba, saya lantas tenggelam dalam keasyikan berburu uang lama untuk diperdagangkan. Saya masih mengambil barang di Pak Wisnu, namun juga membuka jaringan lain demi menjamin ketersediaan stok. Sebab terkadang saya sudah terlanjur menerima pesanan, tapi saat mengambil barang di toko Pak Wisnu ternyata kosong.


Melihat tren, saya membuat inovasi sederhana: menyediakan paket-paket uang lama dengan nominal sesuai tahun. Karena waktu itu tahun 2009, saya membuat Paket Rp9 atau Paket 9 Rupiah dengan bermacam-macam kreasi. Ada yang berupa sekeping koin Rp10 dan Rp5 ditambah dua keping Rp2, ada pula versi kertas berisi Rp10, Rp5 dan empat lembar Rp1. Paket yang lain berisi Rp10 dan sembilan lembar Rp1.

Paket-paket tersebut terus saya lanjutkan pada tahun-tahun berikutnya. Tahun 2010 saya sediakan Paket Rp10, tahun 2011 saya sediakan Paket Rp11, dan seterusnya. Pada perkembangannya, paket-paket seperti ini yang mendominasi penjualan. Malah saya terbilang jarang sekali melayani pembelian uang koleksi.

Tahun demi tahun berjalan, saya berusaha konsisten meng-update lapak dagangan tersebut dengan konten-konten baru. Tujuannya tentu saja agar tetap "diingat" Google. Terkadang saya isi dengan tulisan-tulisan ringan, lalu lain saat membahas sejarah uang tertentu. Sumber tulisannya mulai dari hasil obrolan dengan sesama pedagang, sampai artikel di web-web numismatik asing.

Ini bukan bisnis besar. Omset rata-rata setiap bulan di kisaran Rp 6-7 juta. Dari angka itu saya bisa mendapat nett profit antara Rp 2-3 juta. Jumlah yang banyak untuk ukuran Pemalang, tempat saya menetap setelah meninggalkan Jogja pada medio 2010. Puncaknya, uanglama.com pernah membukukan omset sebesar Rp 20 juta lebih pada awal 2013.

Yang menarik, saya tetap menggunakan blog gratis di Blogspot saat mencapai angka penjualan sebesar itu. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya jika blog sederhana yang modal pembuatannya hanyalah nama domain seharga Rp95.000, bisa mendatangkan omset puluhan juta.

Blog, Senjata Ampuh Digital Marketing
Waktu itu saya tidak kenal istilah digital marketing atau pemasaran digital. Jangankan praktik, teorinya saja saya tidak tahu. Yang saya tahu saya membuat blog untuk berjualan. Agar blog itu populer sehingga pengunjungnya banyak, saya mengisinya dengan sebanyak mungkin artikel demi menarik perhatian mesin pencari. Utamanya Google.

Rupanya apa yang saya lakukan waktu itu adalah cara ampuh untuk memasarkan barang secara online. Cara itu kini banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan besar. Selain membuat blog sendiri, brand-brand menggaet blogger untuk membantu membangun brand awareness atau branding, maupun sekedar menambah backlink berkualitas untuk web perusahaan.

Sebuah seminar produk keuangan di Semarang pada akhir Agustus 2016 yang saya hadiri. Seluruh peserta dan pembicaranya adalah blogger.

Kelebihan blog sebagai sarana promosi adalah sifatnya yang personal. Apa yang ditulis blogger dalam blognya berdasarkan pada pengalaman pribadi, sehingga tidak asal ngecap. Di lain pihak orang cenderung lebih mempercayai saran dari orang yang dikenal. Dan ini berlaku pula untuk rekomendasi produk.

Bagi brand, promosi menggunakan blog lebih efektif karena sifatnya yang personal memungkinkan terjadinya engagement dengan calon konsumen. Ketertarikan akan produk tercipta dari rekomendasi orang yang dipercaya calon konsumen, sehingga besar kemungkinan si calon konsumen akan menjadi konsumen tetap.

Menangkap peluang ini, sejumlah jasa digital marketing bermunculan. Umumnya, perusahaan-perusahaan tersebut mengambil spesialisasi di bidang penyediaan jasa kampanye online yang berkualitas, meliputi:

1. Jasa Penulis Artikel Murah
Sebagaimana pengalaman saya bersama uanglama.com, konten merupakan hal penting dalam mendatangkan pengunjung. Ingat, pengunjung web merupakan calon konsumen. Mereka hanya bisa digiring dengan artikel-artikel bagus yang menjawab persoalan serta rasa ingin tahu mereka. Di sinilah perusahaan digital marketing hadir menawarkan jasa penulisan artikel berkualitas dengan harga bersaing.

2. Kampanye Media Sosial
Kini eranya media sosial. Sebagian besar waktu pengguna internet habis di media sosial. Karena itulah kampanye-kampanye pemasaran semakin melirik pengguna media sosial. Untuk itu diperlukan strategi khusus sehingga promosi berjalan efektif dan memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Umumnya brand memanfaatkan layanan kedua ini untuk mempromosikan produk atau program terbarunya.

3. Kampanye Blog
Seperti sudah saya sebutkan di atas, blog kini tengah jadi primadona dalam digital marketing. Brand selalu melibatkan blogger dalam kampanye-kampanye mereka. Karenanya brand selalu mengikut-sertakan blogger setiap kali mengadakan event. Malah banyak acara yang khusus digelar untuk blogger plus influencer, tanpa dihadiri media konvensional.

Well, ada ungkapan, "Good product sells itself." Namun kalau tidak diimbangi dengan pemasaran yang bagus, tetap saja penjualannya tak berjalan memuaskan. Produk yang bagus itu penting, tapi pemasaran tak kalah penting. Pengalaman saya mempraktikan digital marketing ala-ala, pemasaran secara online menggunakan blog sederhana sekalipun dapat menghasilkan income luar biasa.

Akhir kata, semoga posting ini bermanfaat bagi rekan-rekan yang ingin membuka toko online atau berjualan di dunia maya.

PERNAH dengar istilah blogstore? Belum? Wajar. Searching di Google sekalipun nggak akan ketemu definisi dari kata ini, maupun artikel yang membahas mengenai hal tersebut. Pendek kata, ini istilah yang masih asing. Namun, dengan blogstore saya (pernah) bisa meraup untung jutaan rupiah sebulan.

Saya pertama kali mendengar istilah ini dari seorang kawan sesama blogger. Mundur jauh ke tahun 2008 saat kami masih sering berkirim SMS dan chat membahas berbagai hal seputar dunia online. Dalam satu kesempatan ia mencetuskan istilah blogstore, yang ia jelaskan secara ringkas sebagai, "toko online tapi pakai blog."

Masa itu belum banyak yang mengalih-fungsikan blog sebagai toko online. Lalu sejumlah layanan shopping cart melakukan inovasi, sehingga dapat dipasang di blog berbasis WordPress. Diikuti dengan pengembang theme menyediakan tema-tema online shop. Mulailah bermunculan situs-situs jualan yang aslinya merupakan blog berbasis WordPress.

Medio 2009, saya tertarik berjualan uang lama secara online. Ketertarikan ini berawal dari seringnya saya nongkrong di Pasar Klithikan, Yogyakarta, untuk keperluan liputan di koran lokal tempat saya magang. Cerita seorang pedagang senior di sana membuat saya ingin mencicipi manisnya profit dari bisnis uang kadaluwarsa ini.

"Sampeyan ambil sama saya Rp7.500 selembar, nanti dijual Rp10.000 kan sudah untung Rp2.500 selembar," kata Pak Wisnu, nama pedagang tersebut.

"Orang nggak mungkin cuma beli selembar. Untuk mahar paling sedikit dia beli 3-4 lembar. Dapat untung Rp10.000 sekali transaksi kan lumayan," tambah Pak Wisnu lagi.

Saya mengangguk setuju. Di ambang kelulusan kuliah, dengan status nyaris pasti sebagai pengangguran, tak ada hal lain yang terpikirkan oleh saya selain menulis dan berdagang. Sempat bingung mau berjualan apa, perkenalan dengan Pak Wisnu seolah memberi jalan bagi saya.

Kesempatan ini harus diambil!.

Tampilan blog uanglama.com di bulan pertamanya, 28 Juni 2009. Screen capture diambil dari WebArchive.org.

Modal Blog Gratis
Kembali ke kos, saya langsung merancang apa yang selanjutnya harus dilakukan untuk mengeksekusi rencana berjualan uang lama. Saya ambil kertas kosong dan pena, lalu mulai mencoret-coret. Dimulai dengan apa yang saya butuhkan sebagai modal awal, kemudian apa langkah pertama untuk mengawali usaha ini.

Sejak awal saya sudah berniat untuk berjualan secara online. Karenanya saya musti membangun toko online. Lihat sana-sini, jasa pembuatan toko online yang sangat sederhana dibanderol lebih dari Rp1.000.000. Itu hanya toko online untuk memajang barang, dengan fitur andalan update stok otomatis. Pembeli masih harus mengontak kita sebagai penjual untuk mengorder.

Kalau mau yang full otomatis di mana seluruh transaksi pembelian ditangani sistem, biaya pembuatannya 3-4 kali lipat. Tentu saja saya angkat tangan. Ketimbang untuk buat web, bagi saya lebih baik uangnya dipakai kulakan barang.

Mau membuat toko online berbasis blog WordPress, saya juga dibuat mundur teratur oleh harga theme, harga shopping cart, serta biaya hosting bulanannya. Apalagi saat itu saya awam sekali dengan WordPress dan seluk-beluk hosting.

Apa akal? Saya lantas teringat Blogspot. Bertahun-tahun saya akrab dengan platform blog satu ini. Bagaimana kalau coba membuat toko online menggunakan engine ini saja? Karena saya paham betul Blogger.com, yang perlu saya pikirkan selanjutnya hanya soal nama domain, template, dan konten.

Setelah search sana-sini, rupanya sudah ada yang memanfaatkan Blogspot sebagai landing page untuk berjualan. Sejumlah programmer malah menjajakan template-nya seharga Rp350.000. Meski tak bisa dibilang murah untuk ukuran saat itu, namun harga tersebut masih wajar. Tapi saya tidak tertarik.

Saya tidak berminat membuat landing page. Saya ingin membuat blog seperti pada umumnya blog. Bedanya, saya sediakan satu halaman khusus untuk memajang foto-foto dagangan. Jadi konsepnya adalah blog dengan konten artikel-artikel seputar uang lama dan numismatik, kemudian kalau ada yang tertarik membeli tinggal klik halaman berisi daftar barang yang disediakan.



Bukan tanpa alasan saya menginginkan konsep tersebut. Dari beberapa teman saya belajar banyak tentang search engine optimization (SEO), atau menurut saya lebih tepat disebut Google Optimization (GO). Pintu masuk pengunjung adalah mesin pencari, Google, jadi saya harus bisa menempatkan blog di halaman awal Google.

Google suka sekali dengan blog atau situs yang kaya artikel. Untuk itulah saya musti membuat blog, dan terus memperbaharuinya dengan artikel-artikel baru secara teratur. Karena saya menulis tentang uang lama dan numismatik, tentunya pengunjung yang datang ke blog adalah orang-orang yang memiliki minat atau membutuhkan uang lama.

Nah, pengunjung-pengunjung inilah calon pembeli saya. Semakin banyak pengunjung, itu maknanya saya memiliki semakin banyak calon pembeli. Konsep ini sama seperti yang dipakai oleh mal-mal di kota-kota besar.

Nama Domain sebagai Merek
Oke, kemudian saya pun membuat sebuah blog baru di Blogger.com. Gratis. Agar terkesan serius dan dapat dipercaya, saya membeli nama domain .com. Tapi tujuan utama pembalian nama domain TLD ini adalah sebagai senjata utama dalam memenangkan pertarungan di mesin pencari. Kalau saya bisa membeli nama domain dengan kata kunci yang sesuai, insya Allah blogstore yang saya rintis berjalan sesuai harapan.

Satu hal lagi, nama domain sekaligus sebagai merek. Saya ingin ketika orang bertanya-tanya, "Cari uang lama buat mahar atau koleksi di mana ya?" Maka mereka akan langsung teringat blogstore saya. Karenanya nama domain tadi harus spesifik menjelaskan apa yang saya jual.

Cari punya cari, saya beruntung mendapatkan nama domain uanglama.com. Benar-benar rejeki nomplok. Jadi klop sudah. Blognya tentang uang lama, jualannya uang lama, nama domain yang cocok tentu saja uanglama.com. Ini sekaligus keyword penting untuk bertarung di Google.

Well, hanya dalam hitungan jam blogstore itu pun jadi. Lalu jam berikutnya nama domain uanglama.com sudah terintegrasi dengan baik ke blog di Blogger.com. Langkah terakhir yang harus saya lakukan adalah mengisi blog tersebut dengan tulisan, gambar, dan tentu saja daftar barang dagangan.

Singkat cerita, saya mulai berjualan uang lama dengan sebuah blog gratis yang diberi nama domain .com. Modal materiil yang saya keluarkan sebesar Rp95.000 untuk membeli nama domain, selebihnya akses internet yang sudah dibayar bulanan, serta tenaga dan waktu untuk menyiapkan blog tersebut.

Pak Wisnu di lapak uang lamanya yang terletak di Pasar Klithikan Wirobrajan, Yogyakarta. FOTO: ???

Untuk barang dagangan, Pak Wisnu berbaik hati membantu saya. Sebenarnya ya sekaligus membantu beliau juga sih. Saling menguntungkanlah. Saya dipersilakan mengambil barang-barang darinya dengan sistem konsinyasi, jadi dibayar kalau sudah laku. Artinya, saya menyetok barang dengan modal kepercayaan saja.

Di kos, uang-uang lama dari toko Pak Wisnu saya foto satu-satu depan-belakang. Kemudian saya catat baik-baik ciri-ciri fisik serta deskripsi masing-masing, untuk selanjutnya diunggah di blog. Saya buat satu posting khusus untuk masing-masing uang. Isinya ciri-ciri fisiknya, deskripsi singkat, serta foto depan-belakang.

Saya juga menulis beberapa posting untuk menaikkan posisi blog di Google. Beruntung saya punya bahan berlimpah sekali untuk menulis banyak artikel. Selain hasil wawancara dengan Pak Wisnu dan beberapa kolektor lokal Jogja, saya masih menyimpan print out referensi yang didapat dari internet.

Semua itu saya olah menjadi bermacam-macam tulisan terkait uang lama dan numismatik. Ada tulisan tentang profil kolektor, seputar grading uang lama, tips membeli uang lama, dan masih banyak lagi.

Omset Puluhan Juta
Mengintip Web Archive, uanglama.com sudah online sejak awal Juni 2009. Saya lupa persisnya tanggal berapa posting pertama blog tersebut dipublikasikan. Yang saya ingat betul, pembeli pertamanya adalah seorang calon pengantin di Kalimantan. Ia mencari uang Rp9 untuk mahar.

Nilai transaksi pertama itu tak sampai Rp50.000, dengan marjin sekitar Rp30.000. Sedangkan nett profit-nya kisaran Rp15.000. Lumayan sebagai permulaan.

Lalu order demi order berdatangan. Semua pembeli tersebut masuk ke blogstore saya lewat Google. Rata-rata mencari uang mahar, tapi tak sedikit pula yang mencari uang-uang mistis untuk pesugihan. Transaksi besar pertama saya dibukukan tak sampai sebulan berselang. Seorang kolektor pemula di Jakarta membeli sejumlah uang lama dengan total pembelian sejuta rupiah lebih sedikit.

Semenjak itu bisnis jual-beli uang lama saya semakin berkembang. Dari sekedar penasaran ingin mencoba, saya lantas tenggelam dalam keasyikan berburu uang lama untuk diperdagangkan. Saya masih mengambil barang di Pak Wisnu, namun juga membuka jaringan lain demi menjamin ketersediaan stok. Sebab terkadang saya sudah terlanjur menerima pesanan, tapi saat mengambil barang di toko Pak Wisnu ternyata kosong.


Melihat tren, saya membuat inovasi sederhana: menyediakan paket-paket uang lama dengan nominal sesuai tahun. Karena waktu itu tahun 2009, saya membuat Paket Rp9 atau Paket 9 Rupiah dengan bermacam-macam kreasi. Ada yang berupa sekeping koin Rp10 dan Rp5 ditambah dua keping Rp2, ada pula versi kertas berisi Rp10, Rp5 dan empat lembar Rp1. Paket yang lain berisi Rp10 dan sembilan lembar Rp1.

Paket-paket tersebut terus saya lanjutkan pada tahun-tahun berikutnya. Tahun 2010 saya sediakan Paket Rp10, tahun 2011 saya sediakan Paket Rp11, dan seterusnya. Pada perkembangannya, paket-paket seperti ini yang mendominasi penjualan. Malah saya terbilang jarang sekali melayani pembelian uang koleksi.

Tahun demi tahun berjalan, saya berusaha konsisten meng-update lapak dagangan tersebut dengan konten-konten baru. Tujuannya tentu saja agar tetap "diingat" Google. Terkadang saya isi dengan tulisan-tulisan ringan, lalu lain saat membahas sejarah uang tertentu. Sumber tulisannya mulai dari hasil obrolan dengan sesama pedagang, sampai artikel di web-web numismatik asing.

Ini bukan bisnis besar. Omset rata-rata setiap bulan di kisaran Rp 6-7 juta. Dari angka itu saya bisa mendapat nett profit antara Rp 2-3 juta. Jumlah yang banyak untuk ukuran Pemalang, tempat saya menetap setelah meninggalkan Jogja pada medio 2010. Puncaknya, uanglama.com pernah membukukan omset sebesar Rp 20 juta lebih pada awal 2013.

Yang menarik, saya tetap menggunakan blog gratis di Blogspot saat mencapai angka penjualan sebesar itu. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya jika blog sederhana yang modal pembuatannya hanyalah nama domain seharga Rp95.000, bisa mendatangkan omset puluhan juta.

Blog, Senjata Ampuh Digital Marketing
Waktu itu saya tidak kenal istilah digital marketing atau pemasaran digital. Jangankan praktik, teorinya saja saya tidak tahu. Yang saya tahu saya membuat blog untuk berjualan. Agar blog itu populer sehingga pengunjungnya banyak, saya mengisinya dengan sebanyak mungkin artikel demi menarik perhatian mesin pencari. Utamanya Google.

Rupanya apa yang saya lakukan waktu itu adalah cara ampuh untuk memasarkan barang secara online. Cara itu kini banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan besar. Selain membuat blog sendiri, brand-brand menggaet blogger untuk membantu membangun brand awareness atau branding, maupun sekedar menambah backlink berkualitas untuk web perusahaan.

Sebuah seminar produk keuangan di Semarang pada akhir Agustus 2016 yang saya hadiri. Seluruh peserta dan pembicaranya adalah blogger.

Kelebihan blog sebagai sarana promosi adalah sifatnya yang personal. Apa yang ditulis blogger dalam blognya berdasarkan pada pengalaman pribadi, sehingga tidak asal ngecap. Di lain pihak orang cenderung lebih mempercayai saran dari orang yang dikenal. Dan ini berlaku pula untuk rekomendasi produk.

Bagi brand, promosi menggunakan blog lebih efektif karena sifatnya yang personal memungkinkan terjadinya engagement dengan calon konsumen. Ketertarikan akan produk tercipta dari rekomendasi orang yang dipercaya calon konsumen, sehingga besar kemungkinan si calon konsumen akan menjadi konsumen tetap.

Menangkap peluang ini, sejumlah jasa digital marketing bermunculan. Umumnya, perusahaan-perusahaan tersebut mengambil spesialisasi di bidang penyediaan jasa kampanye online yang berkualitas, meliputi:

1. Jasa Penulis Artikel Murah
Sebagaimana pengalaman saya bersama uanglama.com, konten merupakan hal penting dalam mendatangkan pengunjung. Ingat, pengunjung web merupakan calon konsumen. Mereka hanya bisa digiring dengan artikel-artikel bagus yang menjawab persoalan serta rasa ingin tahu mereka. Di sinilah perusahaan digital marketing hadir menawarkan jasa penulisan artikel berkualitas dengan harga bersaing.

2. Kampanye Media Sosial
Kini eranya media sosial. Sebagian besar waktu pengguna internet habis di media sosial. Karena itulah kampanye-kampanye pemasaran semakin melirik pengguna media sosial. Untuk itu diperlukan strategi khusus sehingga promosi berjalan efektif dan memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Umumnya brand memanfaatkan layanan kedua ini untuk mempromosikan produk atau program terbarunya.

3. Kampanye Blog
Seperti sudah saya sebutkan di atas, blog kini tengah jadi primadona dalam digital marketing. Brand selalu melibatkan blogger dalam kampanye-kampanye mereka. Karenanya brand selalu mengikut-sertakan blogger setiap kali mengadakan event. Malah banyak acara yang khusus digelar untuk blogger plus influencer, tanpa dihadiri media konvensional.

Well, ada ungkapan, "Good product sells itself." Namun kalau tidak diimbangi dengan pemasaran yang bagus, tetap saja penjualannya tak berjalan memuaskan. Produk yang bagus itu penting, tapi pemasaran tak kalah penting. Pengalaman saya mempraktikan digital marketing ala-ala, pemasaran secara online menggunakan blog sederhana sekalipun dapat menghasilkan income luar biasa.

Akhir kata, semoga posting ini bermanfaat bagi rekan-rekan yang ingin membuka toko online atau berjualan di dunia maya.

Jumat, 17 Februari 2017


SUDAH bayar tagihan Speedy/IndiHome bulan ini? Saya sih sudah. Biarpun hujan deras terus-terusan mendera Pemalang, saya enjoy-enjoy saja kalau soal bayar-bayaran. Cukup ambil smartphone, lalu tap sana-sini, tunggu sebentar, beres deh. Begitulah mudahnya bayar tagihan internet dengan aplikasi BebasBayar.

Btw, apa itu BebasBayar?

BebasBayar adalah sebuah layanan pembayaran online atau e-payment gateway yang dikelola oleh PT Bimasakti Multi Sinergi (BMS). Kalau Anda pernah dengar FastPay dengan loket-loket pembayarannya yang tersebar di mana-mana, itu merupakan salah satu produk jasa PT BMS.

Cara kerja BebasBayar kurang-lebih sama seperti FastPay. Bedanya, FastPay adalah usaha loket pembayaran online semacam PPOB yang diperuntukkan bagi investor. PT BMS menyediakan paket-paket kemitraan bagi calon investor. Dimulai dari Paket Payment Point dengan biaya pendaftaran Rp350.000, Paket Gold (Rp900.000), dan Paket Enterprise (Rp5.200.000).

Nah, BebasBayar lebih diperuntukkan bagi pengguna perorangan. Karenanya tidak ada biaya pendaftaran di sini, 100% gratis. Menariknya, dengan BebasBayar kita bisa membayar dan membeli apa saja. Beli pulsa, beli paket internet, beli tiket kereta api dan tiket pesawat, beli voucher game atau voucher Google, beli token listrik, bayar tagihan televisi kabel, bayar cicilan kendaraan bermotor, bayar tagihan listrik atau PDAM, dan masih banyak lagi.

Pendek kata, cukup dengan BebasBayar kita bisa membayar seluruh tagihan bulanan, plus pulsa hape. Kalau sudah instal aplikasinya, semua hal tersebut dapat dilakukan lewat monitor smartphone. Praktis!

Cukup dua langkah yang harus dilakukan untuk merasakan mudahnya membayar berbagai tagihan dengan aplikasi BebasBayar:
1. Registrasi di https://www.bebasbayar.com
2. Mengisi deposit awal minimal Rp10.000

Kok pakai deposit awal, jangan-jangan itu biaya pendaftaran terselubung?

Big NO! Uang minimal Rp10.000 tersebut murni deposit, dan boleh Anda gunakan untuk membeli pulsa atau membayar apapun sampai saldonya habis tanpa sisa. Deposit tidak ada batas waktu sehingga tidak akan pernah hangus.

Saya sendiri biasanya mengisi deposit sebanyak total tagihan yang akan saya bayar melalui aplikasi BebasBayar. Misalnya saja kali ini saya mau membayar tagihan Speedy. Setelah saya cek untuk Februari 2017 tagihannya sejumlah Rp173.000. Jadi, saya mengisi deposit sebesar Rp173.000.

Kalau misalkan mau sekalian beli paket internet atau pulsa atau membayar tagihan lain (listrik, tivi kabel, cicilan kendaraan, dll.), tinggal hitung saja berapa seluruh uang yang harus dikeluarkan. Sebesar itulah kita mengisi deposit di akun BebasBayar. Selanjutnya tinggal bayar sana-sini tanpa harus beranjak dari rumah.

Bayar Tagihan Speedy/IndiHome
Oke, sekarang saya mau membayar tagihan Telkom Speedy untuk periode Februari 2017 ini. Seperti sudah dicek tadi, jumlah tagihannya Rp173.000. Saya kemudian mengisi deposit lewat website Klik BCA. Tak sampai lima menit berselang saldo di akun BebasBayar saya sudah bertambah. Cepat sekali, bukan?

Langkah selanjutnya cukup ikuti panduan berikut dan lihat tampilan pada screenshot di bawah ini.

  1. Buka aplikasi BebasBayar di smartphone. Kalau belum login, silakan login terlebih dahulu dengan cara memasukkan nomor ID dan password.
  2. Setelah halaman muka terbuka (screenshot paling kiri), pilih menu "Speedy" dengan cara di-tap.
  3. Isikan nomor ID Pelanggan Telkom di halaman berikutnya. Gunakan keypad numerik yang otomatis muncul di layar. Ingat, jangan sampai nomornya salah ya.
  4. Lanjutkan dengan menge-tap tombol "Lanjutkan" berwarna hijau.
  1. Berikutnya akan tampil rincian informasi tagihan internet Anda di bulan berjalan. Tagihan saya sendiri untuk Februari 2017 sebesar Rp170.500 (sudah termasuk pajak 10%), ditambah biaya administrasi Rp2.500. Totalnya Rp173.000.
  2. Cek dan ricek rincian tagihan tersebut, jika sudah benar lanjutkan proses pembayaran dengan cara tap tombol "Bayar" di bagian bawahnya.
  3. Mohon tunggu barang beberapa belas hingga puluh detik, server BebasBayar sedang menghubungi server PT Telkom untuk memproses pembayaran. Jangan tap tombol apapun sampai proses ini selesai.
  4. Tara! Kalau keluar pesan yanga hanya berisi sebaris tulisan "EXT: APPROVE" itu tandanya pembayaran sukses dilakukan. Tap tombol "Oke" di bagian bawah.
  1. Proses pembayaran selesai, sistem BebasBayar kemudian menampilkan struk elektronik seperti tampak pada screenshot ke-7 di atas. Itu tandanya tagihan internet Telkom sudah dibayar.
  2. Transaksi ini tersimpan rapi dalam menu "Laporan" sehingga kapanpun kita dapat mengaksesnya. Kita juga dapat mencetak struk bukti pembayaran tersebut.
  3. Kalau saya sih biasanya melongok laman "Cashback" untuk mengecek komisi yang saya dapat dari transaksi ini. Seperti bisa dilihat pada screenshot di atas, ada cashback sebesar Rp650 untuk pembayaran tagihan internet Telkom. Lumayan :)

Jadi, bertransaksi di BebasBayar ada cashback-nya ya? Betul sekali. Inilah alasan kedua kenapa saya sejak awal 2016 lalu lebih suka memakai aplikasi BebasBayar untuk membayar berbagai tagihan. Siapa sih yang tidak mau dapat cashback? Karena tagihan-tagihan itu musti dibayar tiap bulan, artinya kita juga bakal rutin mendapat cashback sebulan sekali.

Besar cashback bervariasi tergantung transaksi yang kita lakukan. Untuk pembayaran tagihan internet Telkom cashback-nya Rp650, sedangkan untuk pembayaran berbagai cicilan kredit komisinya Rp800. Yang besar lagi cashback pembayaran PLN atau tivi berbayar yang sampai Rp1.000.

Alasan pertama sih soal kepraktisan. Dengan aplikasi BebasBayar di smartphone, saya dapat membayar tagihan atau membeli pulsa di mana saja kapan saja. Sangat memudahkan sekali.

Mau merasakan mudahnya membayar aneka tagihan dengan BebasBayar? Yuk, registrasi di www.bebasbayar.com dan instal aplikasinya!

Semoga bermanfaat.


SUDAH bayar tagihan Speedy/IndiHome bulan ini? Saya sih sudah. Biarpun hujan deras terus-terusan mendera Pemalang, saya enjoy-enjoy saja kalau soal bayar-bayaran. Cukup ambil smartphone, lalu tap sana-sini, tunggu sebentar, beres deh. Begitulah mudahnya bayar tagihan internet dengan aplikasi BebasBayar.

Btw, apa itu BebasBayar?

BebasBayar adalah sebuah layanan pembayaran online atau e-payment gateway yang dikelola oleh PT Bimasakti Multi Sinergi (BMS). Kalau Anda pernah dengar FastPay dengan loket-loket pembayarannya yang tersebar di mana-mana, itu merupakan salah satu produk jasa PT BMS.

Cara kerja BebasBayar kurang-lebih sama seperti FastPay. Bedanya, FastPay adalah usaha loket pembayaran online semacam PPOB yang diperuntukkan bagi investor. PT BMS menyediakan paket-paket kemitraan bagi calon investor. Dimulai dari Paket Payment Point dengan biaya pendaftaran Rp350.000, Paket Gold (Rp900.000), dan Paket Enterprise (Rp5.200.000).

Nah, BebasBayar lebih diperuntukkan bagi pengguna perorangan. Karenanya tidak ada biaya pendaftaran di sini, 100% gratis. Menariknya, dengan BebasBayar kita bisa membayar dan membeli apa saja. Beli pulsa, beli paket internet, beli tiket kereta api dan tiket pesawat, beli voucher game atau voucher Google, beli token listrik, bayar tagihan televisi kabel, bayar cicilan kendaraan bermotor, bayar tagihan listrik atau PDAM, dan masih banyak lagi.

Pendek kata, cukup dengan BebasBayar kita bisa membayar seluruh tagihan bulanan, plus pulsa hape. Kalau sudah instal aplikasinya, semua hal tersebut dapat dilakukan lewat monitor smartphone. Praktis!

Cukup dua langkah yang harus dilakukan untuk merasakan mudahnya membayar berbagai tagihan dengan aplikasi BebasBayar:
1. Registrasi di https://www.bebasbayar.com
2. Mengisi deposit awal minimal Rp10.000

Kok pakai deposit awal, jangan-jangan itu biaya pendaftaran terselubung?

Big NO! Uang minimal Rp10.000 tersebut murni deposit, dan boleh Anda gunakan untuk membeli pulsa atau membayar apapun sampai saldonya habis tanpa sisa. Deposit tidak ada batas waktu sehingga tidak akan pernah hangus.

Saya sendiri biasanya mengisi deposit sebanyak total tagihan yang akan saya bayar melalui aplikasi BebasBayar. Misalnya saja kali ini saya mau membayar tagihan Speedy. Setelah saya cek untuk Februari 2017 tagihannya sejumlah Rp173.000. Jadi, saya mengisi deposit sebesar Rp173.000.

Kalau misalkan mau sekalian beli paket internet atau pulsa atau membayar tagihan lain (listrik, tivi kabel, cicilan kendaraan, dll.), tinggal hitung saja berapa seluruh uang yang harus dikeluarkan. Sebesar itulah kita mengisi deposit di akun BebasBayar. Selanjutnya tinggal bayar sana-sini tanpa harus beranjak dari rumah.

Bayar Tagihan Speedy/IndiHome
Oke, sekarang saya mau membayar tagihan Telkom Speedy untuk periode Februari 2017 ini. Seperti sudah dicek tadi, jumlah tagihannya Rp173.000. Saya kemudian mengisi deposit lewat website Klik BCA. Tak sampai lima menit berselang saldo di akun BebasBayar saya sudah bertambah. Cepat sekali, bukan?

Langkah selanjutnya cukup ikuti panduan berikut dan lihat tampilan pada screenshot di bawah ini.

  1. Buka aplikasi BebasBayar di smartphone. Kalau belum login, silakan login terlebih dahulu dengan cara memasukkan nomor ID dan password.
  2. Setelah halaman muka terbuka (screenshot paling kiri), pilih menu "Speedy" dengan cara di-tap.
  3. Isikan nomor ID Pelanggan Telkom di halaman berikutnya. Gunakan keypad numerik yang otomatis muncul di layar. Ingat, jangan sampai nomornya salah ya.
  4. Lanjutkan dengan menge-tap tombol "Lanjutkan" berwarna hijau.
  1. Berikutnya akan tampil rincian informasi tagihan internet Anda di bulan berjalan. Tagihan saya sendiri untuk Februari 2017 sebesar Rp170.500 (sudah termasuk pajak 10%), ditambah biaya administrasi Rp2.500. Totalnya Rp173.000.
  2. Cek dan ricek rincian tagihan tersebut, jika sudah benar lanjutkan proses pembayaran dengan cara tap tombol "Bayar" di bagian bawahnya.
  3. Mohon tunggu barang beberapa belas hingga puluh detik, server BebasBayar sedang menghubungi server PT Telkom untuk memproses pembayaran. Jangan tap tombol apapun sampai proses ini selesai.
  4. Tara! Kalau keluar pesan yanga hanya berisi sebaris tulisan "EXT: APPROVE" itu tandanya pembayaran sukses dilakukan. Tap tombol "Oke" di bagian bawah.
  1. Proses pembayaran selesai, sistem BebasBayar kemudian menampilkan struk elektronik seperti tampak pada screenshot ke-7 di atas. Itu tandanya tagihan internet Telkom sudah dibayar.
  2. Transaksi ini tersimpan rapi dalam menu "Laporan" sehingga kapanpun kita dapat mengaksesnya. Kita juga dapat mencetak struk bukti pembayaran tersebut.
  3. Kalau saya sih biasanya melongok laman "Cashback" untuk mengecek komisi yang saya dapat dari transaksi ini. Seperti bisa dilihat pada screenshot di atas, ada cashback sebesar Rp650 untuk pembayaran tagihan internet Telkom. Lumayan :)

Jadi, bertransaksi di BebasBayar ada cashback-nya ya? Betul sekali. Inilah alasan kedua kenapa saya sejak awal 2016 lalu lebih suka memakai aplikasi BebasBayar untuk membayar berbagai tagihan. Siapa sih yang tidak mau dapat cashback? Karena tagihan-tagihan itu musti dibayar tiap bulan, artinya kita juga bakal rutin mendapat cashback sebulan sekali.

Besar cashback bervariasi tergantung transaksi yang kita lakukan. Untuk pembayaran tagihan internet Telkom cashback-nya Rp650, sedangkan untuk pembayaran berbagai cicilan kredit komisinya Rp800. Yang besar lagi cashback pembayaran PLN atau tivi berbayar yang sampai Rp1.000.

Alasan pertama sih soal kepraktisan. Dengan aplikasi BebasBayar di smartphone, saya dapat membayar tagihan atau membeli pulsa di mana saja kapan saja. Sangat memudahkan sekali.

Mau merasakan mudahnya membayar aneka tagihan dengan BebasBayar? Yuk, registrasi di www.bebasbayar.com dan instal aplikasinya!

Semoga bermanfaat.

Selasa, 14 Februari 2017


BELAKANGAN timeline media sosial ramai oleh tagar #kaMIbuatanIndonesia. Ada apakah? Rupanya ini menandai diluncurkannya varian baru smparthpone Xiaomi yang dibuat di Tanah Air. Yup, perkenalkan inilah dia Xiaomi Redmi 4A.

Selama ini jika bicara soal hape Xiaomi pendapat orang terbagi dalam dua isu utama:
1. Harga murah, spesifikasi tinggi
2. Smartphone tidak resmi

Poin pertama tidak ada yang bisa membantah. Xiaomi selama ini dikenal sebagai produsen dengan jajaran produk smartphone murah. Kata "murah" di sini tidak semata-mata mengacu pada nominal harganya, melainkan price to value. Maksudnya, dibandingkan ponsel pintar lain yang memiliki spesifikasi sejenis, Xiaomi memberikan harga terbaik.

Inilah yang membuat banyak pengguna gadget di Indonesia mengidolai Xiaomi. Siapa yang tidak mau dapat handphone dengan spesifikasi keren, yang kalau itu dikeluarkan vendor lain harganya bisa 2-3 kali lipat?

Sayangnya, tidak semua perangkat Xiaomi masuk secara resmi ke Indonesia. Hanya ada sedikit saja varian Xiaomi yang berstatus legal dan mendapat garansi penuh, di antaranya Mi 4i, Redmi Note, Redmi 2, dan Redmi 2 Prime. Lalu belum lama ini Redmi 3s ikut mendapat cap resmi. Padahal tipe ini sudah diluncurkan sejak Januari 2016.

Di luar tipe-tipe tersebut bisa dipastikan tidak melalui distributor resmi sehingga tidak mendapat garansi full. Aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari Pemerintah, yang mewajibkan kandungan komponen lokal dalam produk, menjadi penghambat masuknya ponsel-ponsel baru Xiaomi ke Indonesia secara resmi.

Celah ini diambil pihak-pihak yang ingin mengambil untung. Mereka mendatangkan tipe-tipe terbaru langsung dari Tiongkok. Herry SW dalam blog Ponselmu.com mengungkap salah satu trik distributor dalam mengedarkan ponsel Xiaomi tidak resmi. Caranya dengan menggunakan sertifikat yang tidak sesuai dengan tipe produk.

Karena tergolong produk ilegal, polisi sempat melakukan razia di sejumlah pusat perdagangan handphone di Jakarta. Buntutnya, banyak pedagang yang tidak mau lagi menjual Xiaomi ilegal. Padahal pembeli lebih meminati tipe-tipe terbaru yang rata-rata masuk secara tidak resmi.



Buatan Indonesia
Nah, setelah sekitar setahunan tidak meluncurkan produk baru di Indonesia, pada 10 Februari lalu Xiaomi membuat gebrakan. Pabrikan asal Tiongkok ini memenuhi aturan TKDN. Sehingga Redmi 4A yang diluncurkan hari itu menjadi ponsel Xiaomi pertama buatan Indonesia, tepatnya produksi PT Sat Nusapersada di Batam. Yeay!

Menandai hal ini, peluncuran Xiaomi Redmi 4A dimeriahkan dengan tagar #kaMIbuatanIndonesia di media sosial. Untuk pertama kalinya pula di ponsel Xiaomi tertera tulisan Made in Indonesia. Tidak lagi Made in China. Dan seperti yang sudah-sudah, harga murah dengan spesifikasi mewah tetap menjadi andalan.

Dengan banderol seharga Rp 1,5 juta - atau tepatnya Rp1.499.000 sebagaimana tertulis di situs resmi Xiaomi Indonesia, Redmi 4A dibekali chipset Qualcomm MSM8917 Snapdragon 425. Ditambah Cortex-A53 berinti delapan 1.4 GHz 64 bit sebagai CPU, kita dapat bermain game dengan sangat lancar. Terlebih untuk grafisnya dibenamkan Adreno 308.

Redmi 4A memiliki RAM berkapasitas 2 GB, dengan memori bawaan 16 GB. Kurang lega? Ada slot kosong untuk memasukkan kartu memori tambahan. Kita bisa menambah kapasitas penyimpanan hingga 128 GB. Mau menyimpan drama Korea sebanyak apapun ayo aja. Hehehe.

Sebagai sumber daya, Xiaomi memberi baterai berkapasitas 3.120 mAh untuk Redmi 4A. Ini menjamin ponsel tidak akan mati seharian sekalipun aktif dipakai terus. Dalam acara peluncuran di JW Marriott, Vice President Xiaomi Wang Xiang mengklaim Redmi 4A dapat bertahan hingga tujuh hari dalam keadaan standby. Tujuh hari itu sepekan ya.


Meskipun baterainya besar, smartphone ini tidak berukuran besar. Dimensinya tinggi 139,9mm, lebar 70,4mm, tebal 8,5mm, dengan berat 131,5 gram saja. Bodinya yang berbahan matte enak digenggam, pas dengan ukurannya yang mungil.

Bergeser ke user interface, Redmi 4A sudah memakai MIUI 8 yang merupakan antarmuka paling mutakhir. MIUI 8 pertama kali diperkenalkan di India pada pertengahan tahun lalu. Laman resmi Xiaomi Indonesia mendeskripsikan MIUI 8 sebagai "operating system yang paling indah dan gampang dipakai." Benarkah?

Soal ini saya bisa kasih pendapat, sebab saya sudah merasakan sendiri bagaimana kinerja MIUI. Desember lalu saya mendapat hadiah Xiaomi Mi 4i setelah memenangkan kontes video yang diadakan Kaskus dengan sponsor Pertamina. Perangkat ini memakai MIUI 6.

Baca juga: Klothekan Berhadiah Smartphone Xiaomi Mi 4i

Tepat seperti yang dideskripsikan di atas, saya dibuat terpesona oleh tampilan user interface pada smartphone ini. Demikian pula oleh kemudahan pemakaiannya. Padahal itu baru MIUI 6 lho ya. Bayangkan saja seperti apa kalau MIUI 8. Tentu tampilannya lebih menawan dan performanya lebih oke lagi.

Berikut video anak-anak saya sesaat setelah menerima hadiah Xiaomi Mi 4i dari Kaskus.



Nyaman Digenggam
Tidak lengkap rasanya membicarakan ponsel Xiaomi tanpa membahas kameranya. Salah satu kelebihan smartphone Xiaomi yang dibangga-banggakan Mi Fans selama ini adalah kemampuan kameranya. Baik untuk mengambil foto maupun merekam dalam bentuk video, juga untuk vlogging.

Seperti halnya smartphone kekinian yang lain, Redmi 4A bertipe dual camera alias memiliki dua kamera. Di mana kamera depan 5 MP dan kamera belakang 13 MP. Fungsi kamera dilengkapi fitur autofocus,LED flash, geo-tagging, touch focus, deteksi wajah/senyum, HDR, dan panorama.

Buat yang suka ngevlog, Redmi 4A bisa merekam video full HD (1080 x 1920 piksel) pada kecepatan 30 fps lho. Bisa jadi kamera cadangan nih. Kalau baterai kamera utama habis atau kondisi di lapangan tidak memungkinkan merekam dengan kamera, pakai saja ponsel ini.

Tambahan lagi, MIUI 8 pada Redmi 4A dapat secara cerdas mengelompokkan foto berdasarkan waktu pengambilan. Bahkan bisa membedakan antara foto-foto panorama atau screenshot. Jadi galeri foto lebih tertata, kita jadi enak saat memilih foto untuk diunggah di media sosial atau tambahan posting blog.

Oya, Redmi 4A menggunakan Android 6.0.1 Marshmallow sebagai sistem operasi. Kalau penasaran ingin mencoba Android Nougat, kita bisa cek sistem operasi untuk melakukan upgrade sendiri.


Well, sekalipun Xiaomi sudah memberikan begitu banyak kelebihan, masih ada satu hal yang jadi kekurangan. Btw, ini menurut pendapat saya pribadi lho ya. Apa itu? Monitor Redmi 4A hanya 5 inci, terhitung kecil untuk sebuah smartphone yang dimaksudkan sebagai piranti bermain game.

Layar 5" dengan resolusi 720p juga tidak terlalu istimewa untuk menyaksikan video di YouTube. Kurang lega, tidak nyaman di mata. Padahal kameranya bisa merekam video berkualitas full HD, tapi Redmi 4A hanya mampu memutar video HD (720 x 1280 piksel).

Namun ini bisa dimaklumi, sebab sepertinya Xiaomi lebih mengedepankan kinerja mumpuni serta keringkasan perangkat. Ukuran monitor 5" paling memungkinkan bentuk hape yang nyaman digenggam. Lebih besar dari itu akan semakin tidak mudah dipegang satu tangan.

So, dengan bodi mungil dan jeroan berkelas ditambah banderolnya yang terhitung menengah ke bawah, Xiaomi Redmi 4A merupakan smartphone rekomendasi. Jangan lupa, sekarang #kaMIbuatanIndonesia :)

Mau pesan Redmi 4A? Klik di sini untuk mencari smartphone Xiaomi idamanmu!


BELAKANGAN timeline media sosial ramai oleh tagar #kaMIbuatanIndonesia. Ada apakah? Rupanya ini menandai diluncurkannya varian baru smparthpone Xiaomi yang dibuat di Tanah Air. Yup, perkenalkan inilah dia Xiaomi Redmi 4A.

Selama ini jika bicara soal hape Xiaomi pendapat orang terbagi dalam dua isu utama:
1. Harga murah, spesifikasi tinggi
2. Smartphone tidak resmi

Poin pertama tidak ada yang bisa membantah. Xiaomi selama ini dikenal sebagai produsen dengan jajaran produk smartphone murah. Kata "murah" di sini tidak semata-mata mengacu pada nominal harganya, melainkan price to value. Maksudnya, dibandingkan ponsel pintar lain yang memiliki spesifikasi sejenis, Xiaomi memberikan harga terbaik.

Inilah yang membuat banyak pengguna gadget di Indonesia mengidolai Xiaomi. Siapa yang tidak mau dapat handphone dengan spesifikasi keren, yang kalau itu dikeluarkan vendor lain harganya bisa 2-3 kali lipat?

Sayangnya, tidak semua perangkat Xiaomi masuk secara resmi ke Indonesia. Hanya ada sedikit saja varian Xiaomi yang berstatus legal dan mendapat garansi penuh, di antaranya Mi 4i, Redmi Note, Redmi 2, dan Redmi 2 Prime. Lalu belum lama ini Redmi 3s ikut mendapat cap resmi. Padahal tipe ini sudah diluncurkan sejak Januari 2016.

Di luar tipe-tipe tersebut bisa dipastikan tidak melalui distributor resmi sehingga tidak mendapat garansi full. Aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari Pemerintah, yang mewajibkan kandungan komponen lokal dalam produk, menjadi penghambat masuknya ponsel-ponsel baru Xiaomi ke Indonesia secara resmi.

Celah ini diambil pihak-pihak yang ingin mengambil untung. Mereka mendatangkan tipe-tipe terbaru langsung dari Tiongkok. Herry SW dalam blog Ponselmu.com mengungkap salah satu trik distributor dalam mengedarkan ponsel Xiaomi tidak resmi. Caranya dengan menggunakan sertifikat yang tidak sesuai dengan tipe produk.

Karena tergolong produk ilegal, polisi sempat melakukan razia di sejumlah pusat perdagangan handphone di Jakarta. Buntutnya, banyak pedagang yang tidak mau lagi menjual Xiaomi ilegal. Padahal pembeli lebih meminati tipe-tipe terbaru yang rata-rata masuk secara tidak resmi.



Buatan Indonesia
Nah, setelah sekitar setahunan tidak meluncurkan produk baru di Indonesia, pada 10 Februari lalu Xiaomi membuat gebrakan. Pabrikan asal Tiongkok ini memenuhi aturan TKDN. Sehingga Redmi 4A yang diluncurkan hari itu menjadi ponsel Xiaomi pertama buatan Indonesia, tepatnya produksi PT Sat Nusapersada di Batam. Yeay!

Menandai hal ini, peluncuran Xiaomi Redmi 4A dimeriahkan dengan tagar #kaMIbuatanIndonesia di media sosial. Untuk pertama kalinya pula di ponsel Xiaomi tertera tulisan Made in Indonesia. Tidak lagi Made in China. Dan seperti yang sudah-sudah, harga murah dengan spesifikasi mewah tetap menjadi andalan.

Dengan banderol seharga Rp 1,5 juta - atau tepatnya Rp1.499.000 sebagaimana tertulis di situs resmi Xiaomi Indonesia, Redmi 4A dibekali chipset Qualcomm MSM8917 Snapdragon 425. Ditambah Cortex-A53 berinti delapan 1.4 GHz 64 bit sebagai CPU, kita dapat bermain game dengan sangat lancar. Terlebih untuk grafisnya dibenamkan Adreno 308.

Redmi 4A memiliki RAM berkapasitas 2 GB, dengan memori bawaan 16 GB. Kurang lega? Ada slot kosong untuk memasukkan kartu memori tambahan. Kita bisa menambah kapasitas penyimpanan hingga 128 GB. Mau menyimpan drama Korea sebanyak apapun ayo aja. Hehehe.

Sebagai sumber daya, Xiaomi memberi baterai berkapasitas 3.120 mAh untuk Redmi 4A. Ini menjamin ponsel tidak akan mati seharian sekalipun aktif dipakai terus. Dalam acara peluncuran di JW Marriott, Vice President Xiaomi Wang Xiang mengklaim Redmi 4A dapat bertahan hingga tujuh hari dalam keadaan standby. Tujuh hari itu sepekan ya.


Meskipun baterainya besar, smartphone ini tidak berukuran besar. Dimensinya tinggi 139,9mm, lebar 70,4mm, tebal 8,5mm, dengan berat 131,5 gram saja. Bodinya yang berbahan matte enak digenggam, pas dengan ukurannya yang mungil.

Bergeser ke user interface, Redmi 4A sudah memakai MIUI 8 yang merupakan antarmuka paling mutakhir. MIUI 8 pertama kali diperkenalkan di India pada pertengahan tahun lalu. Laman resmi Xiaomi Indonesia mendeskripsikan MIUI 8 sebagai "operating system yang paling indah dan gampang dipakai." Benarkah?

Soal ini saya bisa kasih pendapat, sebab saya sudah merasakan sendiri bagaimana kinerja MIUI. Desember lalu saya mendapat hadiah Xiaomi Mi 4i setelah memenangkan kontes video yang diadakan Kaskus dengan sponsor Pertamina. Perangkat ini memakai MIUI 6.

Baca juga: Klothekan Berhadiah Smartphone Xiaomi Mi 4i

Tepat seperti yang dideskripsikan di atas, saya dibuat terpesona oleh tampilan user interface pada smartphone ini. Demikian pula oleh kemudahan pemakaiannya. Padahal itu baru MIUI 6 lho ya. Bayangkan saja seperti apa kalau MIUI 8. Tentu tampilannya lebih menawan dan performanya lebih oke lagi.

Berikut video anak-anak saya sesaat setelah menerima hadiah Xiaomi Mi 4i dari Kaskus.



Nyaman Digenggam
Tidak lengkap rasanya membicarakan ponsel Xiaomi tanpa membahas kameranya. Salah satu kelebihan smartphone Xiaomi yang dibangga-banggakan Mi Fans selama ini adalah kemampuan kameranya. Baik untuk mengambil foto maupun merekam dalam bentuk video, juga untuk vlogging.

Seperti halnya smartphone kekinian yang lain, Redmi 4A bertipe dual camera alias memiliki dua kamera. Di mana kamera depan 5 MP dan kamera belakang 13 MP. Fungsi kamera dilengkapi fitur autofocus,LED flash, geo-tagging, touch focus, deteksi wajah/senyum, HDR, dan panorama.

Buat yang suka ngevlog, Redmi 4A bisa merekam video full HD (1080 x 1920 piksel) pada kecepatan 30 fps lho. Bisa jadi kamera cadangan nih. Kalau baterai kamera utama habis atau kondisi di lapangan tidak memungkinkan merekam dengan kamera, pakai saja ponsel ini.

Tambahan lagi, MIUI 8 pada Redmi 4A dapat secara cerdas mengelompokkan foto berdasarkan waktu pengambilan. Bahkan bisa membedakan antara foto-foto panorama atau screenshot. Jadi galeri foto lebih tertata, kita jadi enak saat memilih foto untuk diunggah di media sosial atau tambahan posting blog.

Oya, Redmi 4A menggunakan Android 6.0.1 Marshmallow sebagai sistem operasi. Kalau penasaran ingin mencoba Android Nougat, kita bisa cek sistem operasi untuk melakukan upgrade sendiri.


Well, sekalipun Xiaomi sudah memberikan begitu banyak kelebihan, masih ada satu hal yang jadi kekurangan. Btw, ini menurut pendapat saya pribadi lho ya. Apa itu? Monitor Redmi 4A hanya 5 inci, terhitung kecil untuk sebuah smartphone yang dimaksudkan sebagai piranti bermain game.

Layar 5" dengan resolusi 720p juga tidak terlalu istimewa untuk menyaksikan video di YouTube. Kurang lega, tidak nyaman di mata. Padahal kameranya bisa merekam video berkualitas full HD, tapi Redmi 4A hanya mampu memutar video HD (720 x 1280 piksel).

Namun ini bisa dimaklumi, sebab sepertinya Xiaomi lebih mengedepankan kinerja mumpuni serta keringkasan perangkat. Ukuran monitor 5" paling memungkinkan bentuk hape yang nyaman digenggam. Lebih besar dari itu akan semakin tidak mudah dipegang satu tangan.

So, dengan bodi mungil dan jeroan berkelas ditambah banderolnya yang terhitung menengah ke bawah, Xiaomi Redmi 4A merupakan smartphone rekomendasi. Jangan lupa, sekarang #kaMIbuatanIndonesia :)

Mau pesan Redmi 4A? Klik di sini untuk mencari smartphone Xiaomi idamanmu!

Selasa, 07 Februari 2017


SETIAP kali berkenalan dan menyebut nama kabupaten tempat saya tinggal sekarang, orang seringkali salah mendengarnya sebagai Malang. Biasanya reaksi mereka, "Oh, Malang. Jawa Timur ya?" Dan mau tidak mau saya harus meluruskan, "Pemalang, Mas. Jawa Tengah."

Sewaktu pertama berkenalan dengan istri di tahun 2005, saya sendiri sempat kebingungan mencari Pemalang itu di mana. Tapi saya tidak sampai salah mengira Pemalang sebagai Malang. Pasalnya saya sudah mengenal Kota Apel sejak kecil. Kira-kira sejak saya duduk di kelas-kelas awal Sekolah Dasar semasa di Palembang.

Adalah cerita Ibu yang membuat saya tahu tentang Malang, meski hanya secuil berdasarkan kenangan dan ingatan Ibu. Dari semua yang diceritakan Ibu, satu yang paling saya ingat dan membuat saya ingin sekali berkunjung ke Malang adalah kebun-kebun apelnya.

Jadi ceritanya simbah kakung saya (ayahnya Ibu) berasal dari Malang. Sewaktu muda beliau merantau hingga ke Situbondo, tepatnya Desa Wonorejo di seberang Kali Bajulmati, tempatnya bertemu simbah puteri dan menikah. Lalu lahirlah enam anak, yakni Ibu dan kakak-adiknya.

Ketika pernikahan simbah pecah karena Simbah Kakung menikah lagi, Ibu meninggalkan sekolahnya lalu merantau ke Malang. Alasannya, di sana masih banyak saudara Simbah Kakung yang bisa ditumpangi sekaligus membantu mencari pekerjaan. Tapi Ibu tidak lama-lama di Malang, sebelum kembali lagi ke Situbondo, dan menyusul Simbah Puteri yang pergi ke Sumatera.

Semasa di Palembang dan di Jambi, setiap kali ada kesempatan Ibu akan dengan senang hati menceritakan kenangan-kenangannya. Termasuk semasa beliau merantau sebentar di Malang. Ibu bercerita tentang seorang Romo Buddha (mungkin Bhanthe?) tempat beliau sempat menumpang, tentang air terjun Coban Rondo, dan tentang kebun-kebun apel.

"Di sana kita bisa makan apel sepuasnya. Tinggal metik dari pohon," begitu cerita Ibu yang membuat saya dan adik-adik ternganga membayangkan betapa puasnya bisa makan apel sepuasnya. Maklum, masa-masa saya kecil buah-buahan terlebih apel merupakan santapan mewah.


Biasanya usai menceritakan kenangannya di Malang beserta kebun-kebun apel itu Ibu lantas berkata, "Mbesuk ya kita plesir ke Malang, makan apel sepuasnya di kebunnya." Angan-angan yang belum terwujud hingga saat ini.

Siapa sangka, bertahun-tahun setelah itu saya kemudian mendapat dua kesempatan mengunjungi Malang. Sekalipun dua kunjungan tersebut tak berlangsung lama. Berikut dua kenangan singkat saya di Malang:

Cafe Bale Barong
Kunjungan pertama saya ke Malang dalam rangka kerja. Mmm, lebih tepatnya latihan kerja sih. Kejadiannya kira-kira Agustus atau September 2002. Ya, nyaris 14 tahun lalu. Usia saya belum genap 20 tahun waktu itu.

Ceritanya, selulus dari sebuah lembaga bernama Pendidikan Profesi Pariwisata di Yogyakarta, saya sering mendapat job sebagai tour guide. Tapi karena belum berpengalaman, dan bahasa Prancis belum terlalu lancar, saya biasanya hanya kebagian jatah menjemput (picking up) atau mengantar (dropping) tamu di/ke bandara maupun destinasi selanjutnya.

Nah, suatu sore seorang senior yang sudah jadi tour guide profesional bernama Anang Sumarna datang ke kos-kosan. Maksud kedatangannya untuk melimpahkan tamunya ke saya, karena ia sudah harus membawa tamu lain untuk paket tur berikutnya. Ini praktik biasa di kalangan pemandu wisata masa itu, dengan tujuan memaksimalkan pendapatan.

Tugas saya sebenarnya sangat simpel: mengajak tamu sarapan, lalu check out dari hotel, dan melanjutkan perjalanan ke Malang. Rombongan turis asal Prancis tersebut akan melanjutkan tur ke Gunung Bromo. Sesampainya di Malang, saya hanya perlu menemui guide setempat di Bale Barong Cafe N Resto (kini Bale Barong Terrace) dan "mengoper" rombongan tamu kepadanya. Selesai.



Tapi praktiknya tidak semudah itu. Berbeda dengan turis asal negara-negara Asia, turis Eropa utamanya Prancis terkenal sangat banyak tanya. Walhasil, saya yang masih hijau dan bahasa Prancis-pun belum terlalu luwes, dibuat kerepotan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka sepanjang perjalanan.

Bayangkan, yang saya bawa turis satu bus pariwisata! Dan apa saja yang mereka lihat sepanjang perjalanan menjadi bahan pertanyaan. Sewaktu singgah sejenak di Mantingan, mereka bertanya berapa harga seekor monyet? Ada juga yang bertanya nama latin sebuah pohon yang saya sendiri bahkan tidak tahu nama lokalnya?

Lalu sewaktu Gunung Semeru tampak di horison, ada lagi yang bertanya berapa mdpl tinggi gunung tersebut? Kapan terakhir meletus? Dan saat mampir makan siang di sebuah rumah makan, seorang turis minta dijelaskan apa itu pecel lele setelah melihat daftar menu.

Modyar pora, batin saya. Dalam hati saya terus saja berharap bus melaju lebih kencang, lebih kencang lagi, dan sampai di Malang sesegera mungkin. Tapi kami baru tiba di Malang tepat waktu salat Magrib. Sesuai itinerari dari travel agent yang diberikan Mas Anang, saya menge-drop tamu di Cafe Bale Barong untuk makan malam sebelum dibawa guide berikutnya ke hotel.

Begitu bus berhenti di parkiran Cafe Bale Barong, saya bergegas turun untuk menemui guide yang saya lupa namanya itu. Kami bersalaman, saling berkenalan, dan serah-terima tamu. Saya kembali lagi ke bus untuk mengucap salam perpisahan pada rombongan tur. Serta tak lupa meminta maaf apabila saya tak bisa memenuhi ekspektasi mereka, yang saya sadari betul iya banget. Hahaha...

Masih nervous oleh pengalaman pertama yang berjalan tak mengenakkan tersebut, saya menurut saja sewaktu sopir mengajak langsung pulang ke Jogja. Tak sempat ke mana-mana lagi, bahkan tak sempat beli apa-apa, padahal di satu jalan saya sempat melihat deretan kios menjajakan apel dalam plastik dan jaring buah.

Pertama kali ke Malang saya cuma menginjakkan kaki di tanahnya, yakni halaman dan ruang depan Cafe Bale Barong, selama kira-kira 10 menit. Sangat singkat! Satu hal yang menempel di memori saya waktu itu, Malang hawanya sangat dingin.


Roma, Rombengan Malam
Kunjungan ke Malang untuk kali kedua terjadi pada tahun 2013. Jauh lebih lama dari kunjungan pertama, meski hanya bilangan jam. Kali itu saya yang masih aktif sebagai kurir Sedekah Rombongan mengantar seorang pasien dampingan ke RS Lavalette untuk menjalani operasi. Pasien tersebut asal Pemalang, kira-kira 10 menit bermotor dari tempat saya tinggal.

Saya dan seorang kurir lain sepakat menyewa paket mobil lengkap dengan bensin dan sopir. Jadi dalam rombongan kami ada saya, kawan kurir Sedekah Rombongan satu lagi, pasien dampingan dan isterinya, dan sopir. Lima orang.

Kami berangkat jam tiga pagi dari Pemalang, dengan estimasi akan sampai di Malang 11 jam berikutnya. Namun sopir kami rupanya tak paham jalan. Berulang kali ia berhenti dan menelepon seseorang entah siapa di mana untuk bertanya rute.

Di Tuban kami sempat berhenti sangat lama karena orang yang ditelepon tak kunjung mengangkat panggilannya, dan anehnya ia enggan bertanya pada penduduk lokal. Sampai di Sidoarjo, ia benar-benar tak tahu arah dan kami berputar-putar tak karuan selama beberapa puluh menit. Ia turun, menelepon, kembali menjalankan mobil, tapi lalu berhenti lagi, turun, menelepon.

Padahal sejak selepas Gresik dia sudah sempat bertanya, dari Sidoarjo lewat mana. Saya yang paham rute menjawab, lewat Porong saja lalu lanjut Gempol, Pandaan, dan seterusnya. Tapi rupanya omongan saya dianggap angin lalu. Karenanya ketika ia kebingungan di Sidoarjo saya diam saja. Sampai akhirnya saya kesal, dan menelepon teman saya sesama pedagang uang lama di Malang.
Saya semasa ngurir di SR.
Waktu tahu saya menelepon teman di Malang itulah baru si sopir mau mendengarkan. "Lewat mana, lewat mana?" tanyanya tak sabar. Saya jawab kalem, "Ya tetap saja lewat Porong." Rasain!

Dan, baru jelang Magrib kami masuk Kota Malang. Berkat papan petunjuk yang bertebaran di mana-mana, kami pun tidak kesulitan mencari alamat tujuan. Tidak langsung ke RS Lavalette, melainkan ke Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR) Malang yang terletak tak jauh dari rumah sakit tersebut.

Saya lupa RSSR Malang terletak di perumahan apa. Yang jelas sesampainya di sana pasien dampingan kami serahkan ke pengelola RSSR dan teman-teman kurir Malang, untuk diuruskan ke RS Lavalette. Saya mustinya sudah boleh pulang, tapi sopir kami minta waktu untuk istirahat sebentar. Saya pun memanfaatkan waktu untuk bertemu teman yang tadi saya telepon.

Teman saya langsung datang menjemput tak jauh dari RSSR. Lalu ia mengajak saya berkeliling Kota Malang yang sebenarnya kecil tapi sangat hidup dan semarak. Teman saya menunjukkan Stadion Brawijaya, lalu memutar ke satu perumahan elite yang entah apa namanya, melihat-lihat beberapa tempat yang saya lupa begitu saja, dan menuju Jl. Gatot Subroto di mana terdapat Bank BCA KCP Malang.

Di sekitaran kantor Bank BCA sangat ramai malam itu. Terlihat beberapa lapak pedagang di sana. Teman saya bercerita kawasan tersebut dikenal sebagai Roma, kependekan dari Rombengan Malam. Selain berbagai lapak barang loak, ada pula lapak-lapak makanan. Tapi saya tidak diajak makan di sana, melainkan ke sebuah restoran yang lagi-lagi saya lupa namanya. Hahaha, maafkan.


Saya sebenarnya minta dibawa ke Bakso Kota Cak Man, tapi teman saya berkomentar, "Halah, bakso ki neng endi-endi ya kaya ngono iku." Ada benarnya juga sih. Dan sayapun dibawa ke sebuah restoran Jepang. Nantilah saya tanyakan nama restoran tersebut ke kawan itu, mana tahu ia masih ingat.

Oya, teman saya seorang keturunan Tionghoa, tapi ia tumbuh besar di lingkungan Islam sehingga begitu menghormati kawan-kawan Muslim-nya seperti saya. Ia asal Probolinggo, tapi sudah lama tinggal di Malang dan berkarier di Bank BCA. Itu sebabnya ia antusias sekali membawa saya ke Jl. Gatot Subroto. Ia juga sudah bercerita tentang Rombengan Malam sejak lama, via BBM dan telepon.

Lepas makan kami pulang. Teman saya mengantar sampai ke RSSR di mana sopir dan teman saya dari Pemalang sudah menunggu. Kamipun berpisah, dan begitu mobil teman saya menghilang di kejauhan, saya berpamitan pada teman-teman kurir SR Malang. Selanjutnya, malam itu juga, saya kembali ke Pemalang via Pantura.

Dua kunjungan singkat, tanpa dokumentasi satu pun, namun semuanya sangat berkesan bagi saya. Kurang puas memang, karenanya saya ingin sekali ke Malang lagi suatu saat nanti. Saya ingin mengajak anak-anak, isteri, beserta Ibu yang mempunyai kenangan di Malang.

Semoga saja terwujud.

Foto-Foto:
Foto 1: http://malang.merdeka.com/pariwisata/5-tempat-yang-jadi-ikon-kota-malang-160328m.html
Foto 2: http://wisatapetikapelmalang.blogspot.co.id/
Foto 3: Dokumentasi pribadi
Foto 4: www.sedekahrombongan.com
Foto 5: http://warnausahabisnis.blogspot.co.id/2012/11/usaha-kita-penulis.html


SETIAP kali berkenalan dan menyebut nama kabupaten tempat saya tinggal sekarang, orang seringkali salah mendengarnya sebagai Malang. Biasanya reaksi mereka, "Oh, Malang. Jawa Timur ya?" Dan mau tidak mau saya harus meluruskan, "Pemalang, Mas. Jawa Tengah."

Sewaktu pertama berkenalan dengan istri di tahun 2005, saya sendiri sempat kebingungan mencari Pemalang itu di mana. Tapi saya tidak sampai salah mengira Pemalang sebagai Malang. Pasalnya saya sudah mengenal Kota Apel sejak kecil. Kira-kira sejak saya duduk di kelas-kelas awal Sekolah Dasar semasa di Palembang.

Adalah cerita Ibu yang membuat saya tahu tentang Malang, meski hanya secuil berdasarkan kenangan dan ingatan Ibu. Dari semua yang diceritakan Ibu, satu yang paling saya ingat dan membuat saya ingin sekali berkunjung ke Malang adalah kebun-kebun apelnya.

Jadi ceritanya simbah kakung saya (ayahnya Ibu) berasal dari Malang. Sewaktu muda beliau merantau hingga ke Situbondo, tepatnya Desa Wonorejo di seberang Kali Bajulmati, tempatnya bertemu simbah puteri dan menikah. Lalu lahirlah enam anak, yakni Ibu dan kakak-adiknya.

Ketika pernikahan simbah pecah karena Simbah Kakung menikah lagi, Ibu meninggalkan sekolahnya lalu merantau ke Malang. Alasannya, di sana masih banyak saudara Simbah Kakung yang bisa ditumpangi sekaligus membantu mencari pekerjaan. Tapi Ibu tidak lama-lama di Malang, sebelum kembali lagi ke Situbondo, dan menyusul Simbah Puteri yang pergi ke Sumatera.

Semasa di Palembang dan di Jambi, setiap kali ada kesempatan Ibu akan dengan senang hati menceritakan kenangan-kenangannya. Termasuk semasa beliau merantau sebentar di Malang. Ibu bercerita tentang seorang Romo Buddha (mungkin Bhanthe?) tempat beliau sempat menumpang, tentang air terjun Coban Rondo, dan tentang kebun-kebun apel.

"Di sana kita bisa makan apel sepuasnya. Tinggal metik dari pohon," begitu cerita Ibu yang membuat saya dan adik-adik ternganga membayangkan betapa puasnya bisa makan apel sepuasnya. Maklum, masa-masa saya kecil buah-buahan terlebih apel merupakan santapan mewah.


Biasanya usai menceritakan kenangannya di Malang beserta kebun-kebun apel itu Ibu lantas berkata, "Mbesuk ya kita plesir ke Malang, makan apel sepuasnya di kebunnya." Angan-angan yang belum terwujud hingga saat ini.

Siapa sangka, bertahun-tahun setelah itu saya kemudian mendapat dua kesempatan mengunjungi Malang. Sekalipun dua kunjungan tersebut tak berlangsung lama. Berikut dua kenangan singkat saya di Malang:

Cafe Bale Barong
Kunjungan pertama saya ke Malang dalam rangka kerja. Mmm, lebih tepatnya latihan kerja sih. Kejadiannya kira-kira Agustus atau September 2002. Ya, nyaris 14 tahun lalu. Usia saya belum genap 20 tahun waktu itu.

Ceritanya, selulus dari sebuah lembaga bernama Pendidikan Profesi Pariwisata di Yogyakarta, saya sering mendapat job sebagai tour guide. Tapi karena belum berpengalaman, dan bahasa Prancis belum terlalu lancar, saya biasanya hanya kebagian jatah menjemput (picking up) atau mengantar (dropping) tamu di/ke bandara maupun destinasi selanjutnya.

Nah, suatu sore seorang senior yang sudah jadi tour guide profesional bernama Anang Sumarna datang ke kos-kosan. Maksud kedatangannya untuk melimpahkan tamunya ke saya, karena ia sudah harus membawa tamu lain untuk paket tur berikutnya. Ini praktik biasa di kalangan pemandu wisata masa itu, dengan tujuan memaksimalkan pendapatan.

Tugas saya sebenarnya sangat simpel: mengajak tamu sarapan, lalu check out dari hotel, dan melanjutkan perjalanan ke Malang. Rombongan turis asal Prancis tersebut akan melanjutkan tur ke Gunung Bromo. Sesampainya di Malang, saya hanya perlu menemui guide setempat di Bale Barong Cafe N Resto (kini Bale Barong Terrace) dan "mengoper" rombongan tamu kepadanya. Selesai.



Tapi praktiknya tidak semudah itu. Berbeda dengan turis asal negara-negara Asia, turis Eropa utamanya Prancis terkenal sangat banyak tanya. Walhasil, saya yang masih hijau dan bahasa Prancis-pun belum terlalu luwes, dibuat kerepotan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka sepanjang perjalanan.

Bayangkan, yang saya bawa turis satu bus pariwisata! Dan apa saja yang mereka lihat sepanjang perjalanan menjadi bahan pertanyaan. Sewaktu singgah sejenak di Mantingan, mereka bertanya berapa harga seekor monyet? Ada juga yang bertanya nama latin sebuah pohon yang saya sendiri bahkan tidak tahu nama lokalnya?

Lalu sewaktu Gunung Semeru tampak di horison, ada lagi yang bertanya berapa mdpl tinggi gunung tersebut? Kapan terakhir meletus? Dan saat mampir makan siang di sebuah rumah makan, seorang turis minta dijelaskan apa itu pecel lele setelah melihat daftar menu.

Modyar pora, batin saya. Dalam hati saya terus saja berharap bus melaju lebih kencang, lebih kencang lagi, dan sampai di Malang sesegera mungkin. Tapi kami baru tiba di Malang tepat waktu salat Magrib. Sesuai itinerari dari travel agent yang diberikan Mas Anang, saya menge-drop tamu di Cafe Bale Barong untuk makan malam sebelum dibawa guide berikutnya ke hotel.

Begitu bus berhenti di parkiran Cafe Bale Barong, saya bergegas turun untuk menemui guide yang saya lupa namanya itu. Kami bersalaman, saling berkenalan, dan serah-terima tamu. Saya kembali lagi ke bus untuk mengucap salam perpisahan pada rombongan tur. Serta tak lupa meminta maaf apabila saya tak bisa memenuhi ekspektasi mereka, yang saya sadari betul iya banget. Hahaha...

Masih nervous oleh pengalaman pertama yang berjalan tak mengenakkan tersebut, saya menurut saja sewaktu sopir mengajak langsung pulang ke Jogja. Tak sempat ke mana-mana lagi, bahkan tak sempat beli apa-apa, padahal di satu jalan saya sempat melihat deretan kios menjajakan apel dalam plastik dan jaring buah.

Pertama kali ke Malang saya cuma menginjakkan kaki di tanahnya, yakni halaman dan ruang depan Cafe Bale Barong, selama kira-kira 10 menit. Sangat singkat! Satu hal yang menempel di memori saya waktu itu, Malang hawanya sangat dingin.


Roma, Rombengan Malam
Kunjungan ke Malang untuk kali kedua terjadi pada tahun 2013. Jauh lebih lama dari kunjungan pertama, meski hanya bilangan jam. Kali itu saya yang masih aktif sebagai kurir Sedekah Rombongan mengantar seorang pasien dampingan ke RS Lavalette untuk menjalani operasi. Pasien tersebut asal Pemalang, kira-kira 10 menit bermotor dari tempat saya tinggal.

Saya dan seorang kurir lain sepakat menyewa paket mobil lengkap dengan bensin dan sopir. Jadi dalam rombongan kami ada saya, kawan kurir Sedekah Rombongan satu lagi, pasien dampingan dan isterinya, dan sopir. Lima orang.

Kami berangkat jam tiga pagi dari Pemalang, dengan estimasi akan sampai di Malang 11 jam berikutnya. Namun sopir kami rupanya tak paham jalan. Berulang kali ia berhenti dan menelepon seseorang entah siapa di mana untuk bertanya rute.

Di Tuban kami sempat berhenti sangat lama karena orang yang ditelepon tak kunjung mengangkat panggilannya, dan anehnya ia enggan bertanya pada penduduk lokal. Sampai di Sidoarjo, ia benar-benar tak tahu arah dan kami berputar-putar tak karuan selama beberapa puluh menit. Ia turun, menelepon, kembali menjalankan mobil, tapi lalu berhenti lagi, turun, menelepon.

Padahal sejak selepas Gresik dia sudah sempat bertanya, dari Sidoarjo lewat mana. Saya yang paham rute menjawab, lewat Porong saja lalu lanjut Gempol, Pandaan, dan seterusnya. Tapi rupanya omongan saya dianggap angin lalu. Karenanya ketika ia kebingungan di Sidoarjo saya diam saja. Sampai akhirnya saya kesal, dan menelepon teman saya sesama pedagang uang lama di Malang.
Saya semasa ngurir di SR.
Waktu tahu saya menelepon teman di Malang itulah baru si sopir mau mendengarkan. "Lewat mana, lewat mana?" tanyanya tak sabar. Saya jawab kalem, "Ya tetap saja lewat Porong." Rasain!

Dan, baru jelang Magrib kami masuk Kota Malang. Berkat papan petunjuk yang bertebaran di mana-mana, kami pun tidak kesulitan mencari alamat tujuan. Tidak langsung ke RS Lavalette, melainkan ke Rumah Singgah Sedekah Rombongan (RSSR) Malang yang terletak tak jauh dari rumah sakit tersebut.

Saya lupa RSSR Malang terletak di perumahan apa. Yang jelas sesampainya di sana pasien dampingan kami serahkan ke pengelola RSSR dan teman-teman kurir Malang, untuk diuruskan ke RS Lavalette. Saya mustinya sudah boleh pulang, tapi sopir kami minta waktu untuk istirahat sebentar. Saya pun memanfaatkan waktu untuk bertemu teman yang tadi saya telepon.

Teman saya langsung datang menjemput tak jauh dari RSSR. Lalu ia mengajak saya berkeliling Kota Malang yang sebenarnya kecil tapi sangat hidup dan semarak. Teman saya menunjukkan Stadion Brawijaya, lalu memutar ke satu perumahan elite yang entah apa namanya, melihat-lihat beberapa tempat yang saya lupa begitu saja, dan menuju Jl. Gatot Subroto di mana terdapat Bank BCA KCP Malang.

Di sekitaran kantor Bank BCA sangat ramai malam itu. Terlihat beberapa lapak pedagang di sana. Teman saya bercerita kawasan tersebut dikenal sebagai Roma, kependekan dari Rombengan Malam. Selain berbagai lapak barang loak, ada pula lapak-lapak makanan. Tapi saya tidak diajak makan di sana, melainkan ke sebuah restoran yang lagi-lagi saya lupa namanya. Hahaha, maafkan.


Saya sebenarnya minta dibawa ke Bakso Kota Cak Man, tapi teman saya berkomentar, "Halah, bakso ki neng endi-endi ya kaya ngono iku." Ada benarnya juga sih. Dan sayapun dibawa ke sebuah restoran Jepang. Nantilah saya tanyakan nama restoran tersebut ke kawan itu, mana tahu ia masih ingat.

Oya, teman saya seorang keturunan Tionghoa, tapi ia tumbuh besar di lingkungan Islam sehingga begitu menghormati kawan-kawan Muslim-nya seperti saya. Ia asal Probolinggo, tapi sudah lama tinggal di Malang dan berkarier di Bank BCA. Itu sebabnya ia antusias sekali membawa saya ke Jl. Gatot Subroto. Ia juga sudah bercerita tentang Rombengan Malam sejak lama, via BBM dan telepon.

Lepas makan kami pulang. Teman saya mengantar sampai ke RSSR di mana sopir dan teman saya dari Pemalang sudah menunggu. Kamipun berpisah, dan begitu mobil teman saya menghilang di kejauhan, saya berpamitan pada teman-teman kurir SR Malang. Selanjutnya, malam itu juga, saya kembali ke Pemalang via Pantura.

Dua kunjungan singkat, tanpa dokumentasi satu pun, namun semuanya sangat berkesan bagi saya. Kurang puas memang, karenanya saya ingin sekali ke Malang lagi suatu saat nanti. Saya ingin mengajak anak-anak, isteri, beserta Ibu yang mempunyai kenangan di Malang.

Semoga saja terwujud.

Foto-Foto:
Foto 1: http://malang.merdeka.com/pariwisata/5-tempat-yang-jadi-ikon-kota-malang-160328m.html
Foto 2: http://wisatapetikapelmalang.blogspot.co.id/
Foto 3: Dokumentasi pribadi
Foto 4: www.sedekahrombongan.com
Foto 5: http://warnausahabisnis.blogspot.co.id/2012/11/usaha-kita-penulis.html

Rabu, 01 Februari 2017


GOLD is the real money. Begitu bunyi tagline satu toko emas yang sempat saya intip situsnya. Dan memang demikianlah adanya. Emas adalah sebenar-benarnya uang. Mata uang yang pada fisiknya memiliki nilai, bukan material tak berharga yang dianggap bernilai hanya karena dikeluarkan oleh instansi tertentu. Itu sebabnya menabung emas sangat disarankan.

Emas boleh dibilang merupakan instrumen investasi tertua dalam sejarah manusia. Logam mulia ini juga jadi mata uang andalan di masa terdahulu, jauh sebelum manusia menciptakan uang dari kertas dan logam-logam tak berharga.

Arkeolog yang melakukan penggalian di Turki menemukan koin emas yang diperkirakan berasal dari tahun 600 SM. Koin-koin tersebut diduga kuat beredar pada masa Kerajaan Lydia. Menurut catatan sejarawan Yunani kuno Herodotus, bangsa Lydia-lah yang pertama kali menggunakan koin emas dan perak sebagai mata uang.

Emas terus menjadi mata uang di masa-masa setelahnya. Satu riwayat menyebut koin emas (dan perak) dipakai pada era Rasulullah Muhammad SAW, dan terus digunakan pada masa kekhalifahan Islam hingga era kesultanan Islam di berbagai belahan dunia termasuk Nusantara.

Dalam Islam sendiri ketentuan nisab zakat harta ditentukan berdasarkan dinar yang terbuat dari emas murni. Di mana apabila seseorang mempunyai simpanan 20 dinar (88,8 gram emas) yang telah dimiliki selama setahun, maka ia wajib membayar zakat sebesar 2,5%. Sedangkan untuk dirham nisabnya sejumlah 200 keping.

Kini, emas menjadi salah satu instrumen tabungan favorit. Ini disebabkan harga emas cenderung terus naik dari tahun ke tahun. Well, sebenarnya bukan harga emasnya yang tambah mahal, melainkan uang kertasnya yang semakin jatuh nilainya.

Saya ingat betul, tahun 2005 saya beli sekeping emas murni produksi Antam seharga Rp1.250.000. Mudah sekali menghitung waktu itu harga emas Rp250.000 per gram. Coba bandingkan dengan harga sekarang, yang saat posting ini ditulis (31 Januari 2017) harganya di situs Antam Rp2.830.000. Harga per gram dibanderol sebesar Rp566.000.

Hmm, mengingat ini saya pun jadi ingin menyimpan emas lagi. Setidaknya ada lima alasan kenapa emas layak dijadikan sebagai tabungan. Apa saja?

Dinar dan dirham keluaran Islamic Mint Nusantara (IMN). FOTO: DinarFirst.com

1. Tabungan Sesuai Syariat
Mungkin terdengar sangat frontal, namun kalau bicara syariat Islam menyimpan emas merupakan tabungan paling syar'i. Meski tanpa embel-embel nama "syariah" sekalipun.

Maksud syar'i di sini adalah tabungan bebas riba. Kita menyimpan emas sebanyak 10 gram, misalnya, maka emas tersebut akan tetap sebanyak 10 gram dalam lima tahun ke depan. Tak bertambah satu ons pun. Menariknya, bila ditukarkan dengan rupiah kita bakal mendapat nilai yang lebih besar dari saat membeli emas tersebut. Ini terjadi karena rupiah yang pada dasarnya tak berharga mengalami penurunan nilai.

Berbeda dengan segala bentuk tabungan ribawi yang menjanjikan bunga. Kita simpan uang Rp10.000.000 dalam bentuk deposito selama lima tahun, misalnya. Dengan patokan suku bunga BCA yang sebesar 5% setahun, maka dalam lima uang tersebut bertambah menjadi Rp12.500.000. Tambahan Rp2.500.000 dari deposito tersebut adalah riba yang kita semua tahu hukumnya menurut syariat Islam.

Agar tabungan emas benar-benar sesuai syariat, perhatikan baik-baik batas-batas halal-haram dalam memperoleh emas tersebut. Jangan sampai kita melakukan pembelian yang tidak dibenarkan syariat sehingga transaksi emas menjadi haram.

2. Tahan Inflasi
Saya sebenarnya kurang suka memakai istilah ini, namun inilah yang paling dipahami. Secara mudah orang memahami harga emas semakin lama semakin mahal. Padahal yang terjadi adalah, emas tak pernah berubah nilainya. Sedangkan sistem ribawi pada uang fiat (uang yang terbuat dari kertas dan logam tak bernilai) membuat nilai uang tersebut terus merosot setiap waktu.

Tak cuma terhadap emas, uang fiat juga terus merosot nilainya bahkan terhadap komoditas lain. Maklum saja, memang pada dasarnya uang-uang tersebut tidak berharga. Ini yang kemudian kita sebut "harganya tambah mahal." Istilah kerennya inflasi.



Masih ingat harga semangkuk bakso 10 tahun lalu? Tak usah jauh-jauh mundur sampai 10 tahun. Dua tahun lalu saya masih bisa makan bakso seharga Rp10.000/porsi. Sekarang? Di warung bakso langganan saya, seporsi sudah Rp13.000. Itu artinya naik 30% dalam dua tahun alias 15% per tahun. Wow!

Ilusi ini yang kemudian menimbulkan kesan harga emas kian mahal. Padahal tidak. Yang sebenarnya terjadi adalah emas terus bertahan nilainya, sedangkan uang fiat terus merosot. Sehingga nilai tukar emas dengan uang fiat 10 tahun ke depan akan sangat melonjak dibanding saat itu. So, inilah alasan kedua kenapa harus menyimpan emas.

3. Bebas Pajak
Bukan bermaksud tak mau membayar pajak, tapi ini tentu jadi keuntungan berikutnya dari menyimpan emas. Dengan demikian tabungan emas kita tetap utuh tanpa potongan apapun, kecuali kewajiban membayar zakat apabila telah mencapai nisab.

Emas dibebaskan dari pajak penghasilan berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Pajak Nomor 15/Pj/2011. Di dalam SK ini dijelaskan bahwa emas tidak dikenai pajak, berapa pun jumlah dan berat yang kita punya. Harap dicatat, emas yang dibebaskan pajaknya tersebut hanyalah emas batangan dan koin. Sedangkan emas berbentuk perhiasan tetap terkena pajak.

Sebenarnya sih emas tidak 100% bebas pajak. Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro lewat Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 107/PMK.010/2015 yang terbit pada 8 Juni 2015, mengenakan PPh sebesar 0,45% dari harga jual emas batangan dan koin. Berita baiknya, pajak ini hanya dikenakan saat kita membeli emas.

4. Tidak Mudah Rusak
Emas merupakan logam tahan korosi, sehingga tidak mudah rusak sekalipun disimpan ribuan tahun. Ini dibuktikan dari penemuan koin-koin emas Romawi yang berangka tahun sebelum Masehi. Koin emas Romawi tersebut ditemukan dalam kondisi masih bagus dan jelas ornamennya.

Demikian halnya koin emas Kerajaan Lydia yang diperkirakan dibuat pada tahun 600 SM. Apatah lagi dinar-dinar era kekhalifahan Islam yang baru berusia ratusan tahun. Seperti dinar Khalifah Abdul Malik bin Marwan (646-705 M) dari Dinasti Umayyah pada foto kanan.

Perawatan emas juga terbilang mudah, atau malah tidak perlu perawatan sama sekali. Yang terpenting kita menyimpan emas di tempat yang baik dan aman. Kalau simpanan emas sudah banyak dan kita merasa khawatir mengenai keamanannya, disarankan untuk menyimpan di safe deposit box yang disewakan bank atau Pegadaian.

5. Sangat Cair
Sebutkan satu barang yang begitu mudah dijual kapanpun kita mau menjualnya. Ya, emas. Butuh uang mendesak saat ini juga? Tinggal keluarkan emas dan bawa ke toko emas, atau ke pedagang emas emperan dengan timbangannya yang khas itu. Kalau deal, saat itu juga uang tunai ada dalam genggaman.

Saya tidak menyebut Pegadaian di sini, sebab instansi satu ini memberlakukan bunga. Sekalipun menggunakan istilah lain dan besarnya "hanya" 1,15% per 15 hari, tetap saja itu bunga dan sebaiknya dihindari. Ingat prinsip dalam syariat berikut ini, "yang banyaknya memabukkan, sedikitnya juga haram."

Tapi kan itu hukum untuk minuman keras?

Ya, logika hukumnya akan sama saja dengan riba. Yang 10% per tahun haram, maka 2,30% per bulan pun tetap saja haram. Bukankah riba diharamkan tanpa menyebut berapa persen nilainya? Jadi, kalau butuh uang tunai sebaiknya relakan saja emas simpanan untuk dijual.

Semoga bermanfaat!



Referensi:
https://en.wikipedia.org/wiki/Gold
https://en.wikipedia.org/wiki/Lydia
https://zakat.or.id/bab-iii-nisab-dan-kadar-zakat/
https://rumaysho.com/2395-jual-beli-emas-via-internet.html
https://muslim.or.id/24811-hukum-jual-beli-emas-secara-online.html
https://konsultasisyariah.com/12991-aturan-jual-beli-emas-dan-tukar-valas.html
http://www.logammulia.com/price_list.php?idbutik=5&idkat=2&tanggal=2017-01-31&iddesc=0001
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150618144017-85-60860/mulai-agustus-emas-batangan-kena-tambahan-pajak-045-persen/


Foto-Foto:
Foto 1: https://s.thestreet.com/files/tsc/v2008/photos/contrib/uploads/goldbarscoins_600x400.jpg
Foto 2: DinarFirst.org
Foto 3: Wikipedia.org


GOLD is the real money. Begitu bunyi tagline satu toko emas yang sempat saya intip situsnya. Dan memang demikianlah adanya. Emas adalah sebenar-benarnya uang. Mata uang yang pada fisiknya memiliki nilai, bukan material tak berharga yang dianggap bernilai hanya karena dikeluarkan oleh instansi tertentu. Itu sebabnya menabung emas sangat disarankan.

Emas boleh dibilang merupakan instrumen investasi tertua dalam sejarah manusia. Logam mulia ini juga jadi mata uang andalan di masa terdahulu, jauh sebelum manusia menciptakan uang dari kertas dan logam-logam tak berharga.

Arkeolog yang melakukan penggalian di Turki menemukan koin emas yang diperkirakan berasal dari tahun 600 SM. Koin-koin tersebut diduga kuat beredar pada masa Kerajaan Lydia. Menurut catatan sejarawan Yunani kuno Herodotus, bangsa Lydia-lah yang pertama kali menggunakan koin emas dan perak sebagai mata uang.

Emas terus menjadi mata uang di masa-masa setelahnya. Satu riwayat menyebut koin emas (dan perak) dipakai pada era Rasulullah Muhammad SAW, dan terus digunakan pada masa kekhalifahan Islam hingga era kesultanan Islam di berbagai belahan dunia termasuk Nusantara.

Dalam Islam sendiri ketentuan nisab zakat harta ditentukan berdasarkan dinar yang terbuat dari emas murni. Di mana apabila seseorang mempunyai simpanan 20 dinar (88,8 gram emas) yang telah dimiliki selama setahun, maka ia wajib membayar zakat sebesar 2,5%. Sedangkan untuk dirham nisabnya sejumlah 200 keping.

Kini, emas menjadi salah satu instrumen tabungan favorit. Ini disebabkan harga emas cenderung terus naik dari tahun ke tahun. Well, sebenarnya bukan harga emasnya yang tambah mahal, melainkan uang kertasnya yang semakin jatuh nilainya.

Saya ingat betul, tahun 2005 saya beli sekeping emas murni produksi Antam seharga Rp1.250.000. Mudah sekali menghitung waktu itu harga emas Rp250.000 per gram. Coba bandingkan dengan harga sekarang, yang saat posting ini ditulis (31 Januari 2017) harganya di situs Antam Rp2.830.000. Harga per gram dibanderol sebesar Rp566.000.

Hmm, mengingat ini saya pun jadi ingin menyimpan emas lagi. Setidaknya ada lima alasan kenapa emas layak dijadikan sebagai tabungan. Apa saja?

Dinar dan dirham keluaran Islamic Mint Nusantara (IMN). FOTO: DinarFirst.com

1. Tabungan Sesuai Syariat
Mungkin terdengar sangat frontal, namun kalau bicara syariat Islam menyimpan emas merupakan tabungan paling syar'i. Meski tanpa embel-embel nama "syariah" sekalipun.

Maksud syar'i di sini adalah tabungan bebas riba. Kita menyimpan emas sebanyak 10 gram, misalnya, maka emas tersebut akan tetap sebanyak 10 gram dalam lima tahun ke depan. Tak bertambah satu ons pun. Menariknya, bila ditukarkan dengan rupiah kita bakal mendapat nilai yang lebih besar dari saat membeli emas tersebut. Ini terjadi karena rupiah yang pada dasarnya tak berharga mengalami penurunan nilai.

Berbeda dengan segala bentuk tabungan ribawi yang menjanjikan bunga. Kita simpan uang Rp10.000.000 dalam bentuk deposito selama lima tahun, misalnya. Dengan patokan suku bunga BCA yang sebesar 5% setahun, maka dalam lima uang tersebut bertambah menjadi Rp12.500.000. Tambahan Rp2.500.000 dari deposito tersebut adalah riba yang kita semua tahu hukumnya menurut syariat Islam.

Agar tabungan emas benar-benar sesuai syariat, perhatikan baik-baik batas-batas halal-haram dalam memperoleh emas tersebut. Jangan sampai kita melakukan pembelian yang tidak dibenarkan syariat sehingga transaksi emas menjadi haram.

2. Tahan Inflasi
Saya sebenarnya kurang suka memakai istilah ini, namun inilah yang paling dipahami. Secara mudah orang memahami harga emas semakin lama semakin mahal. Padahal yang terjadi adalah, emas tak pernah berubah nilainya. Sedangkan sistem ribawi pada uang fiat (uang yang terbuat dari kertas dan logam tak bernilai) membuat nilai uang tersebut terus merosot setiap waktu.

Tak cuma terhadap emas, uang fiat juga terus merosot nilainya bahkan terhadap komoditas lain. Maklum saja, memang pada dasarnya uang-uang tersebut tidak berharga. Ini yang kemudian kita sebut "harganya tambah mahal." Istilah kerennya inflasi.



Masih ingat harga semangkuk bakso 10 tahun lalu? Tak usah jauh-jauh mundur sampai 10 tahun. Dua tahun lalu saya masih bisa makan bakso seharga Rp10.000/porsi. Sekarang? Di warung bakso langganan saya, seporsi sudah Rp13.000. Itu artinya naik 30% dalam dua tahun alias 15% per tahun. Wow!

Ilusi ini yang kemudian menimbulkan kesan harga emas kian mahal. Padahal tidak. Yang sebenarnya terjadi adalah emas terus bertahan nilainya, sedangkan uang fiat terus merosot. Sehingga nilai tukar emas dengan uang fiat 10 tahun ke depan akan sangat melonjak dibanding saat itu. So, inilah alasan kedua kenapa harus menyimpan emas.

3. Bebas Pajak
Bukan bermaksud tak mau membayar pajak, tapi ini tentu jadi keuntungan berikutnya dari menyimpan emas. Dengan demikian tabungan emas kita tetap utuh tanpa potongan apapun, kecuali kewajiban membayar zakat apabila telah mencapai nisab.

Emas dibebaskan dari pajak penghasilan berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Pajak Nomor 15/Pj/2011. Di dalam SK ini dijelaskan bahwa emas tidak dikenai pajak, berapa pun jumlah dan berat yang kita punya. Harap dicatat, emas yang dibebaskan pajaknya tersebut hanyalah emas batangan dan koin. Sedangkan emas berbentuk perhiasan tetap terkena pajak.

Sebenarnya sih emas tidak 100% bebas pajak. Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro lewat Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 107/PMK.010/2015 yang terbit pada 8 Juni 2015, mengenakan PPh sebesar 0,45% dari harga jual emas batangan dan koin. Berita baiknya, pajak ini hanya dikenakan saat kita membeli emas.

4. Tidak Mudah Rusak
Emas merupakan logam tahan korosi, sehingga tidak mudah rusak sekalipun disimpan ribuan tahun. Ini dibuktikan dari penemuan koin-koin emas Romawi yang berangka tahun sebelum Masehi. Koin emas Romawi tersebut ditemukan dalam kondisi masih bagus dan jelas ornamennya.

Demikian halnya koin emas Kerajaan Lydia yang diperkirakan dibuat pada tahun 600 SM. Apatah lagi dinar-dinar era kekhalifahan Islam yang baru berusia ratusan tahun. Seperti dinar Khalifah Abdul Malik bin Marwan (646-705 M) dari Dinasti Umayyah pada foto kanan.

Perawatan emas juga terbilang mudah, atau malah tidak perlu perawatan sama sekali. Yang terpenting kita menyimpan emas di tempat yang baik dan aman. Kalau simpanan emas sudah banyak dan kita merasa khawatir mengenai keamanannya, disarankan untuk menyimpan di safe deposit box yang disewakan bank atau Pegadaian.

5. Sangat Cair
Sebutkan satu barang yang begitu mudah dijual kapanpun kita mau menjualnya. Ya, emas. Butuh uang mendesak saat ini juga? Tinggal keluarkan emas dan bawa ke toko emas, atau ke pedagang emas emperan dengan timbangannya yang khas itu. Kalau deal, saat itu juga uang tunai ada dalam genggaman.

Saya tidak menyebut Pegadaian di sini, sebab instansi satu ini memberlakukan bunga. Sekalipun menggunakan istilah lain dan besarnya "hanya" 1,15% per 15 hari, tetap saja itu bunga dan sebaiknya dihindari. Ingat prinsip dalam syariat berikut ini, "yang banyaknya memabukkan, sedikitnya juga haram."

Tapi kan itu hukum untuk minuman keras?

Ya, logika hukumnya akan sama saja dengan riba. Yang 10% per tahun haram, maka 2,30% per bulan pun tetap saja haram. Bukankah riba diharamkan tanpa menyebut berapa persen nilainya? Jadi, kalau butuh uang tunai sebaiknya relakan saja emas simpanan untuk dijual.

Semoga bermanfaat!



Referensi:
https://en.wikipedia.org/wiki/Gold
https://en.wikipedia.org/wiki/Lydia
https://zakat.or.id/bab-iii-nisab-dan-kadar-zakat/
https://rumaysho.com/2395-jual-beli-emas-via-internet.html
https://muslim.or.id/24811-hukum-jual-beli-emas-secara-online.html
https://konsultasisyariah.com/12991-aturan-jual-beli-emas-dan-tukar-valas.html
http://www.logammulia.com/price_list.php?idbutik=5&idkat=2&tanggal=2017-01-31&iddesc=0001
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150618144017-85-60860/mulai-agustus-emas-batangan-kena-tambahan-pajak-045-persen/


Foto-Foto:
Foto 1: https://s.thestreet.com/files/tsc/v2008/photos/contrib/uploads/goldbarscoins_600x400.jpg
Foto 2: DinarFirst.org
Foto 3: Wikipedia.org