Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Jumat, 25 Desember 2009

SETIAP perayaan Natal seperti ini, umat Islam selalu sibuk mempersoalkan haram-tidaknya mengucapkan selamat Natal pada kerabat dan kenalannya. Sebuah khilafiyah yang sejak saya masih kecil mula sudah santer terdengar. Dan, yang mengherankan, sampai sekarang perbedaan itu masih saja diributkan. Padahal semua lini kehidupan di dunia ini rohnya adalah perbedaan.

Saya memang terlahir dari keluarga yang boleh dibilang tidak terlalu agamis. Meski Bapak-Ibu saya rajin sholat lima waktu, tapi beliau berdua tidak termasuk golongan fanatik. Dalam artian, beliau berdua masih mau bergaul akrab dan bahkan makan semeja dengan orang yang berbeda agama. Beliau berdua pun mau memakan dan meminum suguhan yang diberikan oleh orang yang berbeda agama, sepanjang makanan tersebut halal sifat dan cara memperolehnya.

Semenjak kecil, saya juga sudah bergaul akrab dengan teman-teman berbeda agama. Ketika duduk di kelas satu SMP Negeri 4 Way Madang, Ogan Komering Ulu--sekarang OKU Timur, teman sebangku sekaligus sahabat karib saya orang Bali yang beragama Hindu. Sebagai teman, saya sering berkunjung ke rumahnya dan tidak pernah menolak setiap suguhan yang diberikan. Bung-bung sekalian mungkin protes karena saya sama sekali tidak menanyakan perihal kehalalan makanan tersebut. Namun, teman saya itu sangat menghargai akidah saya. Ia tahu orang Islam tidak makan daging babi, anjing, dan meminum minuman keras, maka ia tidak pernah menawarkan itu semua.

Di SMP dan SMA, teman sebangku sekaligus sahabat karib saya lagi-lagi orang yang berbeda agama. Kali ini orang Batak dan agamanya Kristen Protestan. Dan, sebagai sahabat, rasanya wajar jika kami saling kunjung-mengunjungi, saling menjamu, dan lainnya. Sahabat Kristen saya memelihara anjing, tapi saya tidak pernah ragu masuk dan bermain di dalam rumahnya, bahkan makan di piring yang sama dengan yang mereka gunakan. Bung-bung sekalian mungkin lagi-lagi akan protes karena piring tersebut bisa jadi pernah dipakai makan daging haram dan dibersihkan dengan cara-cara yang tidak islami. Namun, ternyata teman saya adalah tipe orang yang sangat menghargai sahabat. Ia selalu menerangkan apa saja yang dimasak, bagaimana memasaknya, dan bahkan menerangkan kapan mereka terakhir kali memakan daging babi.

Dari semua pengalaman pribadi itu, saya melihat bahwa sesungguhnya manusia itu adalah cermin bagi yang lainnya. Kalau kita menghormati orang lain, maka kita pun akan dihormati pula. Sebaliknya, kalau kita menebar kebencian, niscaya hanya kebencian saja yang akan kita jumpai sepanjang hayat. Begitu juga hubungan sahabat antar manusia beda agama. Perlakukan orang-orang di luar agama kita dengan baik, maka mereka pun akan berbuat baik pada kita.

Kembali ke persoalan mengucapkan selamat Natal ke pemeluk kristiani, kita ummat Islam memang tidak pernah (atau mungkin belum pernah?) mendengar riwayat yang menceritakan Rosulullah Muhammad SAW mengucapkan selamat Natal kepada warga Madinah yang beragama Krsiten. Tapi kita tentu sama-sama sudah pernah mendengar kisah Rosulullah membuatkan sarana peribadatan bagi umat kristiani di Madinah. Rosul bahkan melindungi keyakinan kaum Kristen dan mengancam setiap orang yang berani mengusiknya. Sikap toleran Rosul ini kemudian juga ditiru oleh Khulafaur Rosyidin dan dinasti-dinasti Islam sesudahnya.

Pertanyaannya sekarang, jika Rosulullah Muhammad SAW pernah membuatkan gereja dan melindungi kaum Kristen Madinah melakukan segala aktivitas ritualnya, kenapa kita masih meributkan ucapan selamat Natal pada kaum Kristen? Apakah sepotong kalimat pendek "Selamat Natal ya..." akan secara otomatis meruntuhkan akidah dan keimanan seorang muslim? Saya rasa tidak semudah itu. Inamal a'malu bi niah. Allah selalu melihat setiap perbuatan dari niat yang terucap dari dalam hati ummat-Nya. Ucapan selamat Natal yang dilandasi dengan niat memelihara persahabatan saya rasa bukanlah tindakan yang patut dilabeli kata "HARAM" apalagi "KAFIR".


Wallahu a'lam bishshowab...


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

10 komentar:

  1. setuju gan....

    damai itu indah

    BalasHapus
  2. saya sangat setuju dengan pemikiran mas Eko, sebagai umat kristiani, saya sangat senang ketika ada umat agama lain mengucapkan selamat natal kepada saya.. demikian juga saya selalu mengucapkan selamat Idul Fitri kepada teman2 yang muslim.. perbedaan itu sebetulnya indah

    BalasHapus
  3. Blog baru nih mas Ecko.

    Soal opini di atas, saya setuju 100 %. Saya termasuk penganut paham pluralis yang memandang bahwa semua manusia di mata Tuhan itu sama, apa pun agama atau keyakinannya. Yang membedakan adalah tingkat kemanusiaannya. Termasuk kebersihan batinnya. Dan itu tidak tergantung pada keyakinan kalo menurut saya.

    Orang bisa menggapai kebenaran atau pencerahan sejati dengan keyakinan apa pun. Jadi kalau begitu, meributkan ucapan selamat natal ialah sesuatu yang konyol menurut saya :)

    Toh, agama hanyalah sarana menggapai Tuhan bukan? Sorry kalo rada terkesan gimana gitu..hehe

    BalasHapus
  4. saya juga ragu-ragu dengan ucapan ini!
    wekkekekekeke!

    BalasHapus
  5. ada ayat al quran yang menjadi rujukan mengapa Gus Dur bersikukuh untuk boleh memberikan ucapan selamat natal; "Salamun alaihi yauma wulida".... kalau sempat silakan dicek makna dan riwayat yang terkandung di dalamnya.

    BalasHapus
  6. saya masih ragu dan bingung
    mending diam daripada salah
    betul tidak

    BalasHapus
  7. memang pendapat itu masih menjadi permasalahan khilafiah. yang jadi pedoman adalah "lakum dinukum wa li yadin".

    BalasHapus
  8. ucapan spt memang sekedar memberikan selamat natal .... sebagai seseorang sahabat ya wajr membrikan ucapan spt,
    akhirnya memang kembali pda keimanan dan makna penyampaiannya ....

    BalasHapus
  9. @ anonim: Ya, benar...
    @ jimmy: Setuju, Koh. Kenapa perbedaan ahrus dibesar-besarkan dan bahkan dibawa-bawa ke ranah agama?
    @ iskandaria: Wah, berani bener nih komennya. :D
    @ trendy: maksud loe? Gak baca ya?
    @ munawar am: selain Gus Dur, pimpinan Ponpes al-Zaytun di Indramayu juga rutin mengirim kartu Natal ke gereja-gereja.
    @ annosmile: Kalau menurut sampeyan diam itu emas, ya mongggo saja. :D
    @ pengamen ilmu: Betul...!
    @ afwan: Yang penting niatnya kan?

    BalasHapus
  10. Yang salah tuh.... Kalo kitn dak do biso selamat? Nak kamano hayat ko di bawo? Ngucapin g ngucapin (bodo amat) yg penting selamat.

    BalasHapus