Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Jumat, 29 Januari 2010


Foto: http://jendelahidayah.wordpress.com
TEMAN kos saya kehilangan handphone. Ceritanya, dia membawa hape-nya ke warnet. Nah, sepulang dari warnet ternyata hape-nya sudah tidak ada lagi di kantong.

Prasangka langsung muncul, jangan-jangan tertinggal di warnet? Maka dia pun kembali lagi ke warnet, berharap hape-nya benar-benar tertinggal di sana.

Apa lacur, harapan tinggal harapan. Hape-nya ternyata tidak ditemukan di warnet itu, pun di kamar yang tadinya ia pakai untuk berselancar di dunia online. Tanya sama operator, jawaban yang diterima cuma, "Tidak tahu." Teman saya jadi lemas. Maklum, walaupun (maaf) tidak bagus tapi itu hape kesayangannya. Yang disayangkan adalah hilangnya nomor cewek-cewek gebetannya. Hehehe...

Sampai di kos, teman saya langsung bercerita. Katanya dia sudah bolak-balik menelusuri jalan yang ia lalui waktu mau ke warnet, berharap ia menemukan hape-nya tercecer di pinggir jalan tersebut. Sayang, sampai capek ia mencari, hape-nya sudah benar-benar raib. Wajahnya tampak murung, mungkin menyesal membayangkan betapa ia tidak bisa lagi asyik ngobrol dengan cewek-cewek virtualnya menjelang tengah malam. ^_^

Anehnya, ketika keesokan harinya teman saya iseng memanggil nomornya, ternyata nomor itu masih aktif. Dua hari kemudian, teman saya kembali iseng-iseng memanggil nomor tersebut, dan nomornya masih aktif. Ini tentu suatu keanehan. Biasanya hape yang hilang nomornya tidak akan aktif lama. Tak sampai 1x24 jam, nomor asli pasti sudah tak bisa lagi dihubungi karena si penemu sudah menjualnya ke konter hape terdekat.

Sejumlah spekulasi pun kami rangkai. Mulai dari dugaan kalau si penemu tidak mengerti cara membuang kartu di hape teman tadi, sampai dugaan mustahil kalau si penemu sama sekali tidak tahu-menahu tentang hape. Entahlah, mungkin dugaan kedua itu merupakan harapan teman saya yang masih tak merelakan hapenya hilang begitu rupa.

Kejadian jadi semakin aneh ketika di hari keempat nomor itu masih aktif. Kami jadi geleng-geleng kepala, betapa bodohnya si penemu ini membiarkan hape temuannya tetap aktif. Okelah, kalau memang benar si penemu tidak bisa memmbuang kartu di hape itu, bukankah pegawai konter bisa? Atau jangan-jangan hape itu mau dia pakai? Tapi kok nomornya tidak diganti? Padahal seharusnya hape itu sudah mati karena baterenya ngedrop.

Teman saya semakin harap-harap cemas. Ia sudah merelakan hape-nya hilang, tapi fakta bahwa nomornya masih aktif membuatnya berani mengapungkan sedikit asa kalau hape tersebut bisa kembali. Tapi apa mungkin?

Eh, ternyata mungkin, Saudara-saudara... Suatu hari teman sekelas teman saya tadi mengirim SMS ke saya, dia bilang si penemu hape itu minta teman saya untuk mengambil hape-nya di satu TK di daerah Umbulharjo. Ceritanya, si teman sekelas teman saya itu bermaksud menelepon untuk menanyakan tentang kuliah. Ternyata yang mengangkat orang lain yang tak lain adalah penemu hape tersebut.

Ternyata yang menemukan seorang guru TK. Dan, alangkah baiknya si ibu guru ini, karena ia sengaja membeli charger untuk hape teman saya yang ditemukannya. Tujuannya? Supaya teman saya bisa melacak hapenya yang hilang itu. Allahu akbar... Padahal kami telah banyak memunculkan prasangka buruk untuk si penemu. Ternyata...


Duh, maafkan kami, Bu...


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

14 komentar:

  1. Hehehe, koq diceritain ke umum sih?
    Kan malu aku jadinya. ^_^

    BalasHapus
  2. Hamidi: Santai, itu kan pembelajaran buat kita semua supaya gak mudah berburuk sangka. Walau sejelek apapun kondisi yg dihadapi, sebisa mungkin positive thinking. Susah tuh... ^_^

    BalasHapus
  3. Bung Eko: memang susah banget bung...
    tapi tetap harus dicoba sebisa mungkin.

    BalasHapus
  4. salut dengan ibu guru itu.. sampe2 beli charger.. ck..ck..ck.. kiamat masi jauh ternyata.. :D

    BalasHapus
  5. ALLAH AKBAR !!
    ternyata masih ada "mutiara" di antara batuan kali
    semoga kita bisa meneladani pribadi yang indah itu, dan semoga kita bisa selalu berbaik sangka kepada siapa saja

    BalasHapus
  6. wah luar biasa ibu guru itu ya.. baik hati sekali.. kita memang terlalu sering berburuk sangka duluan. positive thinking memang perlu :D

    BalasHapus
  7. He... iya mas dari artikel itu bisa di petik hikmahnya jangan mudah prasangka buruk terhadap orang lain.

    BalasHapus
  8. Hal yang sama ketika HP kesayangan saya Nokia 3310 yang saya gunakan sampai 2007 lalu hilang karena terjatuh dari kantong ketika berkendaraan. Namun saya tidak berprasangka buruk ketika beberapa jam kemudian saya hubungi nomor saya itu dengan HP saya yang lain karena tidak aktif. iseng mencoba call esoknya dan ternyata aktif, dan yang mengangkat seorang wanita. (dalam pikiran saya, pasti cantik nih wanita :D). Setelah janjian ketemu di rumah Ustadz Hanan (pengasuh majlis ta'lim di serang-banten) akhirnya saya tersenyum karena saya melihat kembali HP jadul saya 2 hari setelah hilang. jadi ceritanya si Wanita ini anaknya Ustadz Hanan, tapi sayang.....ketika itu sedang akan dilamar...hahah...

    Alhamdulillah HP jadul saya itu diketemukan orang yang tepat. maklum, tu HP beli pake hasil tabungan waktu kelas 2 SMP.

    BalasHapus
  9. memang kita sebagai manusia banyak kekurangan, sering berprasangka buruk,padahal tidak tahu kenyataannya!!

    BalasHapus
  10. spydeeyk: Iya, kami juga sampe salut bener, gak percaya rasanya. Padahal sudah macem-macem prasangkanya...

    Blog Berbagi Hati Menjadi Dofollow: Yap, menumbuhkan kebiasaan untuk selalu positive thinking itu yg butuh waktu serta konsistensi luar biasa.

    jimmy: Sangat penting banget. Karena kalau kita selalu positive, dunia bakal positive juga pada kita. Itu kata motivator2 sih... :D

    Bambangxp: Setuju..!

    Bungzhu Zyraith: Wah, padahal kalau belum mau lamaran pasti bakalan jadi TO ya, Bro. Hihihi...

    syaiful: Ya...

    BalasHapus
  11. Wah, bu guru baik juga ternyata. Emang sih masih ada orang kayak gitu, teman saya juga ada yang sangat sangat sangat polos. Dia itu kalo bicara kayak tokoh si Budi dalam buku pelajaran bahasa Indonesia kelas 1 SD. Berbicara dalam bahasa Indonesia yang sangat baku, bahkan guru bahasa Indonesia pun kalah sopan dengan dia.

    BalasHapus
  12. jadi ingat konsep: LOA. apa pun isi pikiran kita, dunia akan meng'amini'nya. namun ini ternyata bisa dipatahkan oleh ketulusan hati seorang guru TK. Subhanallaah.

    BalasHapus
  13. Sebuah kebaikkan yang tidak bisa dinilai dengan apapun. Saya jadi inget pegawe McD yang pernah saya ceritakan dalam postingan saya di sini

    BalasHapus