Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Rabu, 25 Januari 2017

INI cerita lama. Sangat lama sekali malah. Kejadiannya pertengahan 2001, alias lebih dari 15 tahun lalu, saat saya sedang magang (internship) sebagai tour guide di Taman Wisata Candi Prambanan.

Usia saya belum genap 19 tahun waktu itu. Masih berstatus pelajar (mau mengaku mahasiswa kok tidak enak, hehehe) di Pendidikan Profesi Pariwisata, sebuah pendidikan tinggi setara DII milik Yayasan Pengembang UNY yang kini sudah tidak eksis lagi.

Ceritanya pertengahan tahun itu kuliah libur semester. Banyak teman memilih mudik ke kampung halaman masing-masing. Saya yang baru setahun tinggal di Jogja merasa tidak enak pulang ke Jambi. Bukan apa-apa, ongkos Jogja-Jambi terhitung mahal untuk ukuran kantong saya waktu itu. Minta ongkos ke orang tua kok malu.

Ndilalah, ada teman mengajak magang di Candi Prambanan sebagai pengisi waktu luang. Karena tertarik dengan profesi tour guiding yang serius tapi santai, saya pun mengiyakan ajakan tersebut. Berbekal surat pengantar dari kampus, kami mengajukan ijin magang ke Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) di candi tersebut.

Ijin magang selama sebulan diberikan pada rombongan kami. Dengan demikian dalam waktu sebulan itu kami bebas keluar-masuk kawasan candi tanpa harus membeli tiket masuk. Juga bebas mendekati turis asing yang masuk ke areal candi tanpa didampingi guide setempat. Areal candi yang dimaksud di sini adalah gerbang dalam dekat kompleks candi.

Demi mendukung kelancaran magang, saya mencari kos di Desa Tlogo yang terletak di sisi timur candi. Atas rekomendasi seorang senior di kampus, saya dan dua teman indekos di rumah Pak Lurah. Sekamar berdua dengan tempat tidur sendiri-sendiri, mandi-cuci bergantian dengan penghuni rumah lainnya.

Saya lupa nama Pak Lurah tersebut. Tapi kalau ke sana lagi saya masih ingat betul rumahnya. Bu Lurah sendiri aslinya dari Temanggung, Jawa Tengah. Bersama keluarga tersebut ikut seorang simbah-simbah yang sering menceritakan pengalamannya di masa penjajahan Belanda. Simbah itu juga mengajari saya bahasa Belanda sederhana. Misalnya, ik naar Surabaya. Artinya, saya pergi ke Surabaya.

Candi Prambanan dari tangkapan kamera saya, sekitar Juli 2001. Foto diambil dari kawasan reruntuhan candi perwara di sebelah timur laut kompleks candi. Setiap sore saya suka duduk-duduk di sana memakan sawo kecik dari pohon.

Mbak dari Suriname
Meski hanya sebulan, ada banyak kenangan selama magang di Candi Prambanan. Misalnya, saya dan teman satu kos tak kunjung berani mendekati bule selama nyaris sepekan. Saya juga masih ingat uang tip pertama yang diberikan oleh seorang turis Italia. Atau dua pria Inggris yang setelah saya temani berkeliling candi meminta foto bersama.

Saya juga masih ingat dengan gadis dari Montreal, Kanada, yang begitu murah senyum dan senang bercerita. Demikian pula gadis Jepang yang dengan senang hati memberi alamat emailnya pada saya. Atau pemuda asal Lublin, Polandia, yang kami (saya dan teman kos) ajak ke Borobudur, lalu bablas ke Temanggung untuk melihat Gunung Sumbing.

Di antara semua kenangan tersebut ada satu yang selalu saja membuat saya tertawa sendiri saat mengenangnya. Yaitu bertemu seorang mbak-mbak Jawa-Suriname yang mengatakan nama saya mirip nama sepupunya.

Ceritanya selain magang saya juga nyambi berjualan tiket pertunjukan Sendratari Ramayana. Panggungnya terletak persis di sebelah barat Candi Prambanan, di seberang sungai dan bisa terlihat jelas dari areal candi. Lumayan, setiap tiket dapat diskon 10%. Belum lagi kalau menghitung selisih biaya transport yang dipakai mengangkut klien dari hotelnya di Jogja menuju ke Prambanan.

Dari sambilan tersebut, dalam semalam paling tidak saya mengantongi Rp25.000-Rp50.000. Jumlah yang sangat besar untuk ukuran saat itu. Sebagai perbandingan, harga nasi sayur dengan lauk kepala ayam hanya Rp1.500. Kalau pakai sayap Rp2.500, sedangkan paha dihargai Rp3.000.

Nah, suatu hari saya bertemu sepasang turis dari Belanda. Meskipun mengaku dari Belanda, fisik pasangan tersebut berbeda 100%. Yang laki-laki bule asli, sedangkan yang perempuan (maaf) berkulit hitam seperti orang Afrika. Lengkap dengan rambut rasta.

Kepada mereka saya tawarkan tiket pertunjukan Sendratari Ramayana. Mereka tertarik, sekalipun hanya membeli tiket termurah (Rp15.000) dan tanpa transportasi. Apalagi makan malam romantis di open-air restaurant yang terletak sebelum pintu masuk teater. Tak apalah, 10% x Rp30.000 = Rp3.000. Cukup untuk makan nasi sayur lauk paha ayam.

Kelucuan terjadi ketika saya menuliskan kwitansi tanda pembayaran tiket, yang dapat mereka tukarkan dengan tiket asli di loket teater. Selain nama pembeli, saya juga membubuhkan nama dengan tanda tangan. Tapi saya tidak menulis nama lengkap, hanya "Eko" dengan huruf kapital semua.

Monumen peringatan kedatangan rombongan orang Jawa pertama di Suriname pada 9 Agustus 1890.

Eh, ketika saya menuliskan kata "Eko" ini, si perempuan Belanda itu nyeletuk.

"Your name like my cousin's name," katanya sembari menatap lekat-lekat nama saya di kuitansi.

Terang saja saya kaget mendengarnya. Opo tumon wong Londo kok jenenge Eko? Saya pun bertanya, "Really?"

Ia mengangguk mantap. "Yes, his name is also Eko," jawabnya. Kali itu dia menatap saya.

Usut punya usut, ternyata si perempuan Belanda itu aslinya dari Suriname. Dan ia adalah warga Suriname keturunan Jawa, keturunan kuli kontrak yang didatangkan pemerintah kolonial Hindia Belanda dari Pulau Jawa sejak tahun 1890.

Mengetahui hal itu saya langsung saja mengajaknya berbahasa Jawa. Eh, ternyata bisa. Nyambung deh. Jadilah kami berbicara dalam bahasa Jawa. Saya banyak menanyakan tentang kehidupan orang Jawa di Suriname. Cuma si Mbak Suriname tersebut hanya bisa berbahasa Jawa ngoko, bahasa pergaulan sehari-hari.

Malamnya, sebelum pertunjukan Sendratari Ramayana dimulai saya kembali bertemu dengan si Mbak Suriname. Kami kembali ngobrol dalam bahasa Jawa. Saya coba lebih berani dengan menanyakan perihal keluarganya. Ternyata si Mbak 100% berdarah Jawa, tanpa campuran apapun sejak leluhurnya. Ia sendiri saat itu tengah kuliah di Belanda.

Obrolan kami terhenti ketika pasangan si Mbak datang. Tadi bule jangkung tersebut tengah menukarkan kwitansi pembelian yang saya beri dengan tiket masuk. Begitu mereka masuk ke dalam teater, kami pun berpisah dan tak pernah bertemu lagi.

Lestarikan Budaya JawaPeta Suriname
Itulah satu-satunya interaksi langsung saya dengan etnis Jawa warga negara Suriname. Nama negara ini sendiri sudah saya dengar sejak kecil. Saya lupa tahun berapa, tapi saya pernah mendengar berita RRI perihal kunjungan Presiden Soeharto ke Suriname. RRI juga memutar potongan pidato Presiden Soeharto di hadapan etnis Jawa di sana, yang tentu saja pidatonya menggunakan bahasa Jawa.

Sejak mendengar berita RRI itulah saya tertarik dengan Suriname. Namun keterbatasan akses informasi membuat saya tak bisa melacak lebih jauh. Yang bisa saya lakukan hanya menempelkan nama negara yang terletak di sebelah utara Brazil itu lekat-lekat di kepala.

Barulah ketika kuliah di Jogja saya berkenalan dengan internet, sehingga dapat menelusuri informasi apapun yang diinginkan. Dan saya jadi semakin tertarik dengan Suriname setelah membaca-baca sejarah imigrasi etnis Jawa ke sana. Sejarah berusia ratusan tahun yang secara emosional menghubungkan Indonesia-Suriname.

Ada sekitar 20% etnis Jawa di Suriname. Mereka yang tinggal di sana adalah "korban" peperangan di Asia Pasifik. Belanda yang dikalahkan Jepang batal memulangkan kuli kontrak ke Pulau Jawa seperti perjanjian awal. Akibatnya, orang-orang Jawa yang berjumlah ribuan terpaksa bertahan lebih lama.

Pemerintah Indonesia sempat menggulirkan program repatriasi, yakni memulangkan orang Jawa dari Suriname (waktu itu namanya masih Guyana Belanda). Akan tetapi sebagian eks kuli kontrak memilih menetap di sana hingga beranak-cucu. Maklum, oleh perusahaan Belanda yang mengontrak mereka diberi sebidang tanah plus uang tunai pengganti ongkos kepulangan ke Jawa.

Meski sudah lama terpisah jauh dari leluhur mereka, namun orang-orang Jawa-Suriname tak lupa asal-usul. Sebisa mungkin mereka mempertahankan budaya dan adat istiadat Jawa, terutama bahasa Jawa yang terus dipertahankan di kalangan komunitas Jawa. Salah satu caranya adalah dengan membuat radio-radio berbahasa Jawa.



Penasaran dengan bahasa Jawa-nya orang-orang Suriname? Coba saja dengarkan lewat siaran live streaming Radio Garuda atau Radio Suara Jawa. Semua program dan lagu-lagu dalam kedua radio ini disajikan dalam bahasa Jawa. Hanya iklan saja yang disampaikan dalam bahasa Belanda yang merupakan bahasa nasional Suriname.

Banyak band-band yang digawangi oleh musisi Jawa, misalnya Kasimex House Band yang pernah saya bahas di posting Ngopi Bareng Kasimex House Band ini. Mereka memainkan musik pop, rock, juga hip hop berbahasa Jawa. Maklum, tiga personelnya orang Jawa: Robbert Kartotaroeno (keyboard), Candy Wirjosentono (keyboard), dan Raymond Kartotaroeno (lead guitar, percussions).

Penyanyi-penyanyi kondang Suriname seperti Rachmad Amatstam, Eduard Kasimoen atau Oesje Soekatma juga orang Jawa. Ada pula nama Emmely Kartoredjo, Chantal Karijosentono, Idris Permata, Mantje Karso, Danny Kasanramelan, Tony Atmodimedjo, dan masih banyak lagi.

Well, ini ironis. Sebab, di Jawa sendiri siaran kebudayaan dan lagu-lagu Jawa di televisi ataupun radio tidak begitu diminati generasi muda. Anak-anak muda Jawa di sini lebih tertarik dengan budaya pop ala Barat. Budaya Jawa dianggap kampungan.

Jangan-jangan nanti malah kebudayaan Jawa di Suriname lebih maju ketimbang di Jawa sendiri? Mudah-mudahan itu tidak terjadi.

Catatan: Posting ini pertama kali dipublikasikan pada 25 Januari 2010. Dipublikasi ulang dengan koreksi dan penambahan. Beberapa komentar dihapus karena blognya sudah tidak ada (missing link).


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

26 komentar:

  1. Menurut saya, itu biasa pak. Yang jauh2 kita cari2, tapi yang deket2 malah kita lupakan.

    BalasHapus
  2. iya nih...terkadang budaya sendiri di negeri sendiri hilang karena budaya luar

    BalasHapus
  3. wah wah berarti disana juga ada yang pake nama joko,sri dll seperti orang jawa juga ya hehehe..

    BalasHapus
  4. Kalau boleh dikata terkadang kita itu seperti kacang lupa kulitnya...

    BalasHapus
  5. @ katakataku: selamat, Anda mendapat pertamax. :D
    @ Bambang XP: Mudah-mudahan aja begitu, Bro. Malu kan kalo nenek moyangnya malah kalah 'berbudaya' dibandingkan orang Jawa di perantauan.
    @ anthony: Betul, betul, betul... :D
    @ hawee: maksudnya? Bacanya sambil ngantuk ya, Bro?
    @ radenmas: Seharusnya ada, lha ngomongnya aja masih Jawa totok kok.
    @ alhejawi: Ironis ya?
    @ buJaNG: Wah, ini kata-kata bersayap nih. :D
    @ munawar am: Yap, setuju tuh, Kang. Mereka memang berusaha keras terus mempertahankan budaya dan adat istiadat Jawa, sekaligus juga identitas kejawaan mereka.

    BalasHapus
  6. Tau gak klo lagunya Didi Kempot pernah terkenal di Suriname. Mulanya aku gak percaya. Setelah aku telusuri asal usul negara Suriname, akhirnya tau juga klo Suriname kebanyakan keturunan Jawa.

    BalasHapus
  7. jangan - jangan itu masih sak keturunan karo sampean mas? hehe.....

    BalasHapus
  8. untung suriname, bukan malaysia.. kalo ga bisa2 bhs jawa diklaim sama mereka.. hahaha.. just kidding :)

    BalasHapus
  9. @ galuh: Lha, emang kita dari tadi bahas apa, cuy? :p
    @ blogger terpanas: Maybe...
    @ kangboed: Wekekeke, di Indonesia sudah tidak ada lagi nama (maaf) Paijem, Wakijo, dll... :D
    @ blog SEO: Saya rasa di Selangor ada banyak orang Jawa keturunan Indonesia. Itulah yang membuat reog mereka klaim sebagai bagian dari kebudayaan Malaysia, karena memang ada yg mengembangkan di sana. Weleh, kok malah lebih panjang balasan dari komentarnya? :D

    BalasHapus
  10. Emang unik tuh, kalo ga salah asalnya mereka itu dari tawanan Jawa yang dibawa penjajah Belanda dan dijual sebagai budak di Eropa dan Amerika. Akhirnya mereka malah membuat keturunan dan hidup di sana.

    BalasHapus
  11. @ Reza: Bukan, Bro. Mereka datang ke Suriname (waktu itu namanya masih Guyana Belanda) sebagai karyawan kontrak di perkebunan-perkebunan. Dikontrak 5 tahun dan ada opsi lain setelah kontrak habis, salah satunya, kalau memilih tinggal setelah kontrak habis akan diberi rumah dan sebidang tanah oleh Belanda.

    BalasHapus
  12. Minta Jawa yang bercokol di Suriname , Ada nggak?

    BalasHapus
  13. Sip mas aku ya duwe blog jawa... kene iki mas
    http://sarwa-jawa.blogspot.com/

    BalasHapus
  14. Saking Cintanya saya kepada Tanah Kelahiran Saya, Hingga saya Tidak mempunyai Agama…saya hanya menganut Kepercayaan “KEJAWEN” yang di tinggalkan Nenek Moyang terhadapku…Walaupun saya tidak mempunyai Agama, tapi saya sangat kuat mempercayai bahwa Saya adalah sebuah Penciptaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa…& saya berKetuhanan..”BUKAN” seperti sekarang ini…Banyak Orang yang mengaku mempunyai Agama tapi TIDAK berke-Tuhanan…Nuwun.
    NB :
    Saya ingin mengembalikan MENTAL & BUDAYA Bangsa Indonesia terutama Orang JAWA..Sebagai SEORANG KESATRIA.

    BalasHapus
  15. wkwkwk kaya akan pengalaman mas ekoo ini, pernah jd tour guide jugaa ternyataa. . hehehe

    sepakaaat mas, ironis ketika sekarang justru generasi muda lebih suka yg kebarat-baratan drpada budaya sendiri. Hmmm. .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, cuma pengalaman sak uprit sih. Jadi belum termasuk kaya, hahaha.

      Hapus
  16. Ternyata postingan lama ya :) tapi tetap menarik dibaca mas Eko. Aku penasaran juga sama Suriname.

    Omnduut.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Postingan 7 tahun lalu, tapi yang asli cuma sekitar 400-an kata. Ini udah ditambahin beberapa paragraf dan referensi baru, jadi lebih panjang tiga kali lipat :)

      Hapus
  17. Walaah...lagune apik yo mas, hihi
    Presiden Suriname juga turunan Jowo, kok ya.
    Bangga jadi wong Jowo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu pas mau Pilpres sempat ada wong Jawa sing nyalon, tapi gagal. Yang kepilih jenderal turunan creol kayane. Nek band karo penyanyi banyak banget yang orang Jawa.

      Hapus
  18. yUHUUUIIII mas Eko, akhirnya aku mampir blogmu. Aku baca tulisan ini jadi ketawa ketiwi karena lucu, lucu dapat tips yang bisa buat beli lauk dada ayam hahaha
    Bung Eko Bung Eko, namamu sama seperti saudaranya si Bule, terus si Bule malah bisa juga bahasa Jawa hahaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, itu jaman segitu. Jaman sekarang dada ayam udah Rp6.500 di sini. Itupun tanpa nasi sayur, cuma ayam bakarnya aja :D

      Hapus
  19. Babang baru tau di suriname ada jawa juga

    BalasHapus
  20. Baru tau Mas Eko teh orang Jambi? kirain Jawa. Terus fotonya pake analog ya, jadul abis tapi kereeeeen!

    Aneh banget ya tau-tau orang luar ngomong basa jawa, tapi saya juga udah tau sih perihal hubungan suriname - indonesia ini, tapi kalo denger mereka ngomong sendiri kayaknya saya bakal keanehan sendiri gitu huehehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, kalo bicara etnis sih ya Jawa sih. Tapi lahir dan besar di Sumatera (Palembang & Jambi), baru menginjak Tanah Jawa sejak lulus SMA pada pertengahan 2000. Eh, kok nggak mau pulang lagi ke Sumatera sejak itu. Hehehe...

      Hapus