Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Rabu, 10 Februari 2010


Luapan lumpur Lapindo merendam Sidoarjo.
SUDAH lebih dari 100 hari, tapi Pemerintah rupanya masih terlalu sibuk mengamankan kursi kekuasannya. Tak ada aksi nyata yang menyangkut langsung dengan hajat hidup rakyat. Menaikkan gaji menteri, membeli mobil dinas baru yang lebih mewah, merenovasi pagar istana yang tidak jelas urgensinya, membeli pesawat kepresidenan yang belum tentu mendesak kebutuhannya, adalah sederetan "prestasi" pemerintahan SBY-Budiono di 100 hari pertamanya.

Ironisnya, nun jauh di ujung timur Pulau Jawa, warga Sidoarjo yang sudah hampir 4 tahun menderita akibat "bencana" lumpur Lapindo masih hidup serba salah. Di mana kepeekaan Pemerintah? Apakah pantas mengeluarkan kebijakan yang jor-joran menghamburkan uang negara di saat ada sebagian rakyatnya yang masih menderita?

Baik, kalau Pemerintah tidak mempunyai kepekaan itu, kita para blogger yang harus mengingatkan. Berikut saya kopikan sebuah ajakan dari Kika Stafii untuk mengingatkan Pemerintah bahwa korban lumpur Lapindo menantikan aksi nyata SBY-Budiono.

Menghidupkan wisata lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo

Setelah 3 tahun ditambah 100 hari pemerintahan yang sekarang, ternyata tidak sedikitpun menyentuh kondisi sosial korban lumpur Lapindo yang ada di Desa Porong, Sidoarjo. Perlahan dan (seperti) pasti, kondisi sosial di Porong dan desa-desa lainnya yang terkena dampak lumpur Lapindo dilupakan bahkan ditinggalkan. Rembug Nasional (National Summit) yang diadakan Presiden setelah pelantikannya juga seperti sengaja untuk tidak mengundang korban lumpur Lapindo.

Masih tercecer saat ini lebih dari 300 KK yang menganggur, hak penghidupan yang semestinya menjadi hak paten manusia hidup masih juga tidak diperjuangkan dengan baik. Bisa dibayangkan, berapa total nyawa yang terancam kelangsungan hidup, pendidikan dan masa depan bila dihitung dari 300 KK. Uang ganti beli (yang jelas-jelas uangnya dari Negara alias Rakyat) juga tidak membantu banyak, karena masih banyak penduduk yang belum menerima uang ganti asset tersebut.

Kebijakan Perpres No. 14/2007 adalah termasuk kebijakan ‘kesopanan’ pemerintah pusat pro Lapindo, tidak tegas dalam memberesi persoalan rakyat akibat kebijakan pengelolaan usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) yang tidak berorientasi pada social safety.

Terakhir minggu ketiga bulan pertama tahun ini, saya mencoba melakukan assesment secara nyata ke desa-desa yang terkena dampak lumpur Lapindo. Lokasi pengungsian yang masih semrawut, pengangguran nyata yang terlihat di sisi danau lumpur, hingga wajah-wajah tegang yang berseliweran disekitarnya. Namun terlihat juga beberapa pengunjung yang menikmati danau lumpur ciptaan Lapindo itu. Luas tanggul yang hampir mencapai 1 KM menjadi strategic view untuk menikmatinya. Terlihat sekali minim aktifitas yang terjadi disini. Hampir seperti daerah mati. Sebelum menikmatinya, saya dicegat dan di minta membayar sebesar 5000 rupiah sebagai ganti uang tiket masuk ke lokasi wisata danau lumpur. Tanpa senyum dan tanpa basa basi, terlihat sekali ketegangan yang sudah akut menyelimuti pikiran mereka-mereka yang ada di daerah ini.

Berbekal melihat dan mencermati keadaan, kebutuhan perut para pengungsi yang berjumlah lebih dari 300 KK tersebut sudah tidak bisa lagi dihindarkan. Sudah sangatlah mendesak. Menurut Ipung M Nizar, salah satu koordinator pengungsi, mereka sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Kebanyakan dari mereka sulit untuk diajak keluar dari daerah lumpur tersebut. Hingga akhirnya dia sebagai koordinator tidak bisa juga meninggalkan rekan-rekan dan beberapa saudaranya yang masih tinggal dan menunggu uang ganti beli dari Pemerintah. Namun mereka berjanji bila ada jaminan penghidupan yang layak, mereka akan berusaha untuk keluar dari lingkungan Lumpur yang jelas-jelas sudah tidak lagi kondusif untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selama ini Ipung dan teman-teman mencoba untuk berkarya dengan membuat CD/DVD dokumenter tentang kejadian Lumpur Lapindo.

Untuk membantu Ipung dan rekan-rekannya, saya beserta teman-teman mencapai pada tahap kesepakatan untuk membantu dengan cara menghidupkan saja sekalian wisata di Danau Lumpur Lapindo. Secara SDM dan kreatifitas, daerah Tanggulangin dan Porong merupakan sentra produksi kerajinan yang sangat dikenal di Indonesia. Di Tanggul pembatas lumpur yang lebar mencapai 15 Meter serta panjang hampir 1 KM itu nantinya akan didirikan pasar wisata dengan berbagai penjualan. Hanya saja dibutuhkan banyak modal untuk orang-orang korban Lapindo ini agar bisa berjualan.

Untuk mensiasatinya, saya secara pribadi akan menggandakan CD/DVD Dokumenter Lumpur Lapindo serta membuat beberapa macam produk yang berhubungan dengan tragedi ini. Yang nantinya hasil penjualan dikurangi modal akan saya kirim ke beberapa koordinator pengungsi disana, entah itu LSM atau personal. Diantaranya Ipung dan LSM yang tergabung dalam http://korbanlumpur.info . Beberapa produknya adalah T-Shirt dan Topi.

Pengadaan konsep Pasar Wisata Danau Lumpur ini juga merupakan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah dan mengingatkan kepada khalayak ramai bahwa masih banyak masalah yang diakibatkan oleh Lapindo dan pemerintah secara tidak langsung.

N.B:
Dan bila ada rekan-rekan yang sanggup memberikan jaminan peminjaman uang kepada para korban untuk digunakan sebagai modal usaha awal, silahkan hubungi saya atau langsung kepada Ipung M Nizar dengan nomor telpon 0817335244.


NB juga: Kabar ini saya dapat dari blognya Pak Sawali.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

17 komentar:

  1. Pertamax dulu ah
    bdw aman ga bung eko pertamaxnya
    komen dulu baru baca??

    BalasHapus
  2. Alhamdulilah pertamax aman??
    Iya ni gus ikhwan dan para teman2 blogger magelang dan teman2 dari LSM juga lagi berfikir ke arah sana??
    Rencananya mau bikin kaya dept store isinya aparel atau mershaindise ntar uangnya kita sumbangkan ke sana???

    Yang blog lama kenapa bung, kok jadi punya dua

    BalasHapus
  3. spertinya memang harus rakyat sendiri yang bangkit dari keterpurukan lumpur lapindo…
    ga enaknya kalau berhasil trus diaku-aku sebagai kerja pejabat

    BalasHapus
  4. muka gila ! pemerintah bisanya cuma ngomong besar, hasil masih nol jendol dah berpesta. pikiran mereka hanya perut sendiri. salut dengan kika stafii dan bolo-bolonya yang punya ide seperti itu

    BalasHapus
  5. Pada dasarnya kita ga bisa mengharapkan dari pemerintah terus menerus, bagaimanapun tetap kita yang menentukan nasib kita sendiri. Life is choice. Mau menang atau kalah, kaya atau miskin, raja atau budak, benar atau salah?

    BalasHapus
  6. tadi siang saya liat di tv begitu semangatnya pansus century menghajar managerial bank century untuk membayar semua dana nasabahnya.., pansus untuk kasus lapindo mana taringnya?, apa karena disana raknyat kecil yang ga punya duit jadi ga dibela?, sedangkan nasabah bank century adalah rakyat kecil yang punya duit.. koq dibeda2kan??. Usut sampai tuntas siap yang salah dan bertanggung jawab, dan yang paling penting mana real tanggung jawab nya ke masyarakat?! *jadi ikutan emosi saya..*

    BalasHapus
  7. Memang harus kita renungkan, pikirkan solusi dan membantu menyelesaikan semua bencana Nasional ini,, walaupun hanya dengan do'a :D,, semoga negeri ini diberikan kesabaran ats setiap bencana-bencana dan terjadi.. dan yakinlah seruan Tuhan "Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya" .. ;))

    BalasHapus
  8. kalo perlu dibuatkan museum lumpur untuk mengenang kejadian itu hehe..

    ide wisata lumpur bagus juga, warga sekitar daerah tersebut yang akan gembira jika demikian :D

    BalasHapus
  9. mmm, sepertinya bangsa ini hrus berdiri sendiri tanpa perduli dgn pemerintah ....

    pemerintah hanya sebatas pengeruk SDM bangsa ini tanpa mensejahterakannya

    BalasHapus
  10. Gus IKHWAN: Komennya banyak banget, Bung. Jadi bingung nih mau bales yg mana. :D

    Blogger Terpanas: Ayo didukung, Bung. Cukup dengan mem-posting hal serupa biar jadi buzzz...

    Reza Winandar: Setuju, Bung. Tapi kasus lumpur Lapindo ini kan memang harus dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah to? Lha, kalau diselesaikan sendiri gimana caranya lha wong yg mesti bertanggungjawab itu Pemerintah.

    spydeeyk: Nah, ini dia nih yg juga patut dijadikan perhatian. Benar sekali. Jangan mentang2 nasabah BC orang-orang berduit terus kasusnya diprioritaskan. Lumpur Lapindo sudah hamnpir 4 tahun lho!

    Mukhtar: Sepakat...
    yudi: Hehehe, idenya pengantin baru meang bagus ya? :p
    afwan auliyar: yap, sepertinya begitu, Bung...

    BalasHapus
  11. Bung Eko, menghormati dan menjunjung tinggi nilai nilai keraton yogyakarta ya??
    Backround dan templatenya khas jogjakarta
    ada unsur batiknya juga??
    salut buat bung eko??
    mampir balik ya bung, biar makin langgeng tali persaudaraanya??

    BalasHapus
  12. Salam super-
    salam hangat dari pulau Bali-
    asal jangan jadi ajang tertawa diatas penderitaan orang lain aja ya...

    BalasHapus
  13. hmm..
    btw, masih banyak ya ternyata korban lumpur lapindo yang belum mendapat haknya?

    BalasHapus
  14. semoga pemerintah mau melirik ratusan rakyatnya yang termarginalkan akibat pembangunan yang salah urus. jangan sampai menunggu rakyat marah. ajakan seperti ini layak utk kita dukung dan apresiasi.

    BalasHapus
  15. Iya mas... payah!!!
    Kayaknya kota Porongnya sendiri sekarang juga udah kagak diperhatiin lagi ama pemerintah.
    Mungkin sengaja dibiarkan mati aja sekalian

    BalasHapus
  16. Itulah hebatnya pemerintah kita bung, selalu cerdas untuk berkelit. Dan, tanggung jawab utama pun dilalaikan.
    Kabar terakhir, pemerintah hendak menjadikan pulau lumpur menjadi wisata bahari; mereka tidak peduli dengan nasib warga di sekitar kecamatan Jabon. Bimbang pun muncul: apakah ini merupakan ambisi pemeintah untuk menjadikan pulau ini sebagai wisata bahari? Atau, manipulasi informasi atas kerusakan yang tengah terjadi di daerah pesisir?
    http://jatimprov.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=6975&Itemid=2

    BalasHapus
  17. Bagaimana keadaan Lumpur Lapindo sekarang? saya tiap hari nonton TV kok ga ada berita baru lagi? apakah sudah ada solusi yang adik dan win-win?

    BalasHapus