Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Jumat, 12 Maret 2010


Foto: detikcom
TIBA-TIBA saja Pemalang jadi terkenal ke seantero Indonesia, bahkan dunia internasional. Seluruh pemberitaan di media-media nasional--cetak, elektronik, dan internet--membicarakan Pemalang, khususnya Kecamatan Petarukan. Sayang, pemberitaan yang super massif itu bukan karena prestasi, tapi terkait tewasnya seorang gembong teroris bernama Dulmatin.

Ya, Dulmatin yang bernama asli Joko Pitono--dengan sederet alias seperti Amar Usman, Joko Pitoyo, Abdul Matin, Pitono, Muktarmar, Djoko, Noval, dan nickname Jenius dari rekan-rekannya di Jama'ah Islamiyah (JI)--memang lahir di Pemalang, pada 6 Juni 1970. Pria keturunan Arab ini ditembak mati oleh Densus 88 pada sebuah penggerebekan di satu ruko di Pamulang, Banten, 9 Maret 2010.

Dalam struktur organisasi JI, Dulmatin disebut-sebut menjabat posisi penting. Ia sempat mengikuti kamp pelatihan al-Qaeda di Afghanistan, dan di bawah bimbingan DR. Azahari Husin tumbuh menjadi perakit bom handal. Di tanah air, Dulmatin disebut-sebut terlibat dalam serangkaian aksi pengeboman, di antaranya pengeboman Kedutaan Besar Filipina (1 Agustus 2000), bom massal di sejumlah gereja pada perayaan Natal tahun 2000, dan termasuk salah think-tank bom Bali (2002). Sejak tahun 2003, Dulmatin dipercaya berada dalam kelompok Abu Sayyaf di Filipina dalam rangka melatih para militan pro kemerdekaan Filipina Selatan.

Di Pemalang sendiri memang banyak tinggal warga keturunan Arab. Komunitas Arab terbesar tinggal di Kampung Arab yang berlokasi di Jl. Sindoro, Kampung Payaman, Kelurahan Mulyoharjo. Lokasinya tepat di selatan Kantor Pos Pemalang. Masyarakat Arab di sini rata-rata berprofesi sebagai pedagang. Di sepanjang Jl. Sindoro berjejer toko furniture dan di sela-selanya terselip toko kue kamir yang merupakan jajanan khas warga Arab-Pemalang.

Berada di antara 2 kota besar Pantura--Tegal dan Pekalongan, entah mengapa Pemalang justru seperti tersingkirkan. Lihat saja kotanya yang sepi, jalan-jalan protokolnya yang bergelombang dan penuh lubang, lalu lintasnya yang masih semrawut karena segala jenis kendaraan--becak, sepeda, gerobak, truk, mobil, motor, bahkan gerobak--tumplek blek di jalanan, dan angkutan kotanya yang hanya ramai di saat berangkat-pulang kantor/sekolah.

Jika dilihat dari potensi alamnya, Pemalang memiliki sejumlah tempat wisata yang jika dikembangkan secara baik bisa mengangkat PAD. Di sebelah utara Pemalang punya banyak pantai, sedangkan di selatan terdapat beberapa sentra pertanian. Namun, satu-satunya objek wisata pantai yang paling dikenal publik, Pantai Widuri, tidak dirawat dengan baik. Kalau Anda datang ke Widuri di pagi hari, sekitar jam 5.30-6.30, Anda bakal melihat satu pemandangan tak sedap. Apa itu? Beberapa penduduk sekitar duduk di atas pasir pantai sambil membelakangi pantai dan... (maaf) buang air besar. Hmmmm...

Banyak pemuda Pemalang yang merantau ke Jakarta untuk mencari kerja setamat SMA. Itulah sebabnya pemudik-pemudik bersepeda motor asal Pemalang selalu menghiasi laporan arus mudik di televisi saat lebaran tiba. Mereka merantau karena tak banyak peluang kerja di Pemalang. Pilihan kerja di Pemalang hanyalah bertani, jadi kuli, berdagang, atau menjadi PNS. 2 pilihan terakhir sulit diwujudkan kalau tak ada dukungan dana memadai, sedangkan untuk bertani mesti punya sawah atau modal untuk sewa lahan. Jadi kuli? Daripada nguli di Pemalang mending merantau ke Jakarta sekalian yang bayarannya lebih besar.

Dengan fakta-fakta minor seperti itu, tak heran jika Pemalang kerap luput dari pemberitaan. Banyak orang tidak tahu di mana letak Pemalang, bahkan sebagian ada yang menganggapnya bagian dari Jawa Timur karena namanya mirip Malang. Kalau Anda menyusuri jalur Pantura, sulit mengenali Pemalang. Anda bakal lebih mudah mengenali Tegal dan Pekalongan yang memang tampak lebih menonjol.

Sebagai calon warga Pemalang, mendengar nama Pemalang disebut-sebut media selama beberapa hari ini tentu membuat saya senang. Sayang, penyebutan tersebut bernada negatif karena terkait dengan terorisme. Apakah tidak ada hal lain yang bisa diberitakan dari Pemalang? Seperti kemenangan 2 pelajar Pemalang pada olimpiade sains Nasional awal Maret lalu, misalnya. Atau kiprah aktor nasional Toro Margen yang asli Pemalang dalam Pilkada Pemalang 2010.


Saya jadi membayangkan, suatu saat saya bersama keluarga pergi menonton film di bioskop di satu sudut kota Pemalang. Lalu, pulangnya mampir untuk berbelanja buku di Gramedia atau Toga Mas. Tapi kapan ya..? ^_^


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

21 komentar:

  1. Semoga semoga saya, pengunjung blog ini dan mas Eko yang udah jadi orang pemalang nggak ikut-ikutan jadi kayak Dulmatin.
    Banyak jalan menuju Roma, banyak cara mencari uang, hanya saja tahu atau tidak yang mana jalan yang bisa dan mudah ditempuh. Bagi orang Pemalang mungkin banyak yang merantau ke Jakarta, kalau ditempat nenek saya maka merantaunya ke luar, jadi TKI, padahal disana juga jadi KULI juga :D
    Tapi kenapa ya kok mereka lebih PeDe jadi kuli dinegeri orang dari pada dinegeri sendiri?

    BalasHapus
  2. akankah teroris masih tumbuh subur walau dedengkot teroris sudah mati? semoga saja segala bentuk ekstremis tidak pada tempatnya segera sirna.

    BalasHapus
  3. aduh masa pantai yang indah dipakai untuk itu sih.. sedihnya.. kayanya kurang perhatian dari pemerintah daerah juga ya mas

    BalasHapus
  4. Tampaknya Indonesia eksis di dunia mancanegara karena "hasil export"nya yang berkualitas, yaitu teroris. Hahaha saya cuma bercanda kok, ya memang mungkin karena presiden Amerika mau dateng jadinya suasananya bergejolak lagi.

    BalasHapus
  5. bung eko kok tahu betul sih tentang pemalang padahal kan bung eko orang jogja, bung eko van pemalang, hahahahaha
    dengan tewasnya dulmatin bangsa indonesia akhir2 ni menjadi nheadline di berbagai media di internasional tak heran jika sby menyampaikan tewasnya dulmatin di ranah australia beberapa waktu kemarin
    era century habis sekarang terrorisme besok apa ya

    BalasHapus
  6. pemalang...nasibmu kini hehe....pemberitaan yang negatif begitu tentu tidak akan menjadi kebanggaan ya bung, tapi bukan berarti pemalang adalah sarang teroris. ya kebetulan saja dulmatin tertembak di pemalang

    BalasHapus
  7. biarkan dulmatin hidup di alam keabadianya, kebenaran sejati hanya akan ditampakkan-NYA kelak di hari pembalasan. kita yang mengklaim benar, paling benar juga belum tentu benar kelak di hadapan-nya

    NB : ijin memulai perjalanan blogwalking dari sini bung eko. saya mencoba memecahkkan rekor atas nama saya sendiri. 1000 blogwalking dalam semalam

    BalasHapus
  8. pemalang emang malang nasibmu..
    setelah tewasnya dulmatin di pemalang kini masyarakat indonesia tau dengan pemalang..
    tak kira pemalang itu di darah malang.. ternyata bukan, kalau dalam istilah domain pemalang merupakan subkota dari malang ternyata bukan dan sangat jauh jaraknya jika ditapaki dengan jalan kaki
    pemalang juga ada komunitas warga keturunan arab juga ya..
    makin nambah wawasan ni
    makasih bung eko atas infonya

    BalasHapus
  9. buJaNG: Kerja di kota sepertinya lebih kepada soal gengsi. Banyak orang terjebak anggapan kalau bekerja di kota itu sebuah prestasi, padahal kalau ujung-ujungnya pekerjaannya sama saja dengan di daerah asal, kenapa harus jauh-jauh? Toh, soal bayaran sebenarnya sama saja, lha wong biaya hidup di kota besar lebih besar juga kok. :D

    hanif: Amin...

    jimmy: Wah, saya juga pertama kali tahu kaget bener kok, Koh. Tapi, memang sih, Pemkab sepertinya lalai memperhatikan sektor pariwisata ini.

    Reza Winandar: Setuju saya: bisa jadi karena Obama mau dateng, bisa jadi juga sebagai pengalih isu agar masyarakat lupa dengan penyelesaian kasus Century.

    Gus Ikhwan: Lha, bukannya memahami medan adalah strategi terampuh untuk menguasai suatu daerah? Itu kata Sun Tzu lho... Btw, isu Dulmatin sepertinya memang diapungkan untuk menutupi kelanjutan kisruh Century nih. :(

    Blogger Terpanas: Ralat, Dulmatin tertembak di Pamulang, bukan Pemalang. Btw, semoga pemecahan rekornya suksesya, Bung...

    Gus Ikhwan (lagi): Ya, di Pemalang memang banyakkomunitas keturunan Arab.

    BalasHapus
  10. ya mas sayang sekali ya jihad kok dijalan yang salah.. kok menghancurkan bangsa dan negara sendri

    salam kenal dari ayu

    BalasHapus
  11. Alhamdulillah, akhirnya Pemalang jadi terkenal juga. Ada sisi baiknya.

    BalasHapus
  12. bukan kebetulan kalau Pemalang menyusul Cilacap yang lebih dulu santer diberitakan tentang terorisme itu.... menariknya, isteri Noordin itu orang Cilacap hemmm.... :)

    Selamat Hari Raya Nyepi buat yang merayakannya... kangen dengan upacara Ogoh-ogoh di Yogya Timur

    BalasHapus
  13. inilah tampang orang yang salah akan ajaran yang sebenarnya.
    salah guru ya salah ajaran juga.

    BalasHapus
  14. ayu: Salam kenal kembali, Mbak Ayu.

    Kika: Dalam bahasa Inggris, terkenal itu ada dua macam: famous (terkenal secara positif) dan notorious (terkenal secara negatif). Sayangnya Pemalang notorious, bukan famous, gara-gara Dulmatin ini.

    munawar am: Iya Kang, ogoh-ogohnya semalem di Sorowajan.

    Bungzhu Zyraith: Padahal niatnya baik ya, Bro. :D

    Blogger Indonesia: Masa sih? Orang ganteng gitu kok.

    BalasHapus
  15. terlepas dari siapa dulmatin yang asal pemalang, yang pasti pemalang tetap pemalang yang punya aset hebat, tak kalah dengan daerah lain. soal dulmatin akan hilang dg sendirinya seiring berjalannya sang waktu.

    BalasHapus
  16. Loh calon warga Pemalang toh. Pantesan tahu banyak mengenai Pemalang. Ngomong2 kata "calon"nya itu bikin saya bertanya2. Memangnya ada rencana pindah ke sana, atau jangan2 dapat calon istri orang Pemalang

    BalasHapus
  17. sawali tuhusetya: Mudah-mudahan begitu, Pak. Soalnya saya sedih juga melihat daerah yang kaya potensi seperti Pemalang kok bisa merana seperti sekarang.

    Anthony Harman: Istri saya kebetulan orang Pemalang, jadi kemungkinan besar saya bakal boyongan ke Pemalang deh. :D

    BalasHapus
  18. kebetulan teman dekat saya juga orang Pemalang. dia ahli bela diri dan juga ahli 'mistik'. sering menyembuhkan orang yang kesurupan. terlepas dari semua eksentrisitas yang ia miliki, ia juga adalah seorang Muslim militan, tapi setidaknya ia tidak seekstrem alm. Dulmatin. Ia masih bisa membedakan mana jihad dan mana terorisme. dua kata yang sebenarnya sangat kontradiktif bila kita merujuk pada analisis semantik kata jihad yang ada di dalam Al-Qur'an itu sendiri
    salam
    btw, baru tahu nih kalo Toro Margen orang Pemalang hehe

    BalasHapus
  19. apakah ada keterkaitan antara Pemalang dan Pamulang? yang satu jauh dari pusat ibu kota, yang kedua justru sangat dekat dengan pusaran hingar bingarnya Jakarta. keduanya disatukan dalam satu pemberitaan, berita tentang Dulmatin. Pemalang dan Pamulang, kenapa ya ada hubungannya dengan Dulmatin nan malang dan akhirnya pulang ..
    ke pangkuan-Nya
    semoga Allah mengampuni dosa-dosanya...menurut bung Eko, Dulmatin ini mujahid atau teroris? :-)

    BalasHapus
  20. belajar investasi:
    Hehehe, berhubung yang ditanya saya, maka jawaban saya: Dulmatin itu seorang muslim yang ingin melihat dienul Islam berada di puncak kemegahannya seperti Islam di Madinah, Islam di Spanyol, atau Islam di Palestina dahulu kala. Tentu muslim yang seperti ini seorang muslim yang baik. Hanya saja, perbuatan baik tidak boleh dilakukan dengan cara yang tidak baik, dan saya percaya banyak orang yang sependapat dengan saya bahwa jalan yang dilakukan Dulmatin tidak baik. Allah menegaskan bahwa membunuh manusia adalah dosa besar, dan Rosulullah Muhammad tidak pernah mencontohkan kita untuk membenci orang lain sekalipun dia beda kepercayaan.

    BalasHapus