Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Minggu, 28 Maret 2010


Foto: http://www.gametrailers.com
INI pengalaman paling konyol sekaligus paling memalukan yang pernah saya alami langsung. Meskipun pelakunya bukan saya, tapi saya merasa turut malu karena terlibat langsung. Plus, ini benar-benar di luar akal sehat saya. Edan!

Ceritanya begini. Malam itu bapak kos memberitahu seorang teman bahwa cucunya ingin mengundang anak-anak kos untuk acara khataman dalam rangka syukuran rumah baru. Acaranya baru esok sore, ba'da asar. Jadi maksud bapak kos, teman tadi diminta untuk mengoordinir anak-anak yang mau ikut khataman tersebut.

Kos saya memang terkenal relijius, meskipun itu tidak secara otomatis menjadikan penghuninya sebagai orang-orang relijius. Sudah sering kami dimintai bantuan untuk membacakan yasin atau acara khataman. Dan, keluarga bapak kos adalah yang paling sering memakai 'jasa' kami.

Singkat cerita, koordinator khataman yang ditunjuk bapak kos tadi segera bergerak menemui teman-teman yang biasa dan bisa ikut khataman. Tercatatlah sekitar 10 nama. Untuk menghabiskan seluruh ayat-ayat al-Qur'an dalam waktu kurang dari 3 jam--ba'da asar sampai sebelum magrib, paling tidak dibutuhkan 15 orang. Asumsinya, masing-masing orang bisa membaca 2 juz dalam waktu kurang dari 3 jam. Dari nama-nama yang disusun teman tersebut, beberapa malah bisa menghabiskan 1 juz dalam waktu kurang dari 1 jam.

Nah, pas mau berangkat ternyata yang sebelumnya bilang mau ikut kok pada mangkir. Saya yang kebetulan dianggap tetua kos diminta memanggil satu-satu teman-teman yang kemarin malam berkomitmen untuk ikut. Well, beberapa nama memang tidak ada di kos, entah kuliah atau ada kegiatan lain. Ketika saya sampai ke seorang teman (sebut saja namanya si S) yang kebetulan sedang ada di kos dan (sepenglihatan saya) hanya tidur-tiduran, terjadilah pengalaman konyol nan memalukan tersebut.

Saya: Mas S (nama disamarkan), ayo berangkat.
si S.: Wah, saya tidak ikut, Mas.
Lho, kok tidak ikut? Bukannya kemarin sudah bilang mau ikut?
Kan kemarin insya Allah..?
Oh, jadi gitu ya? Kalau insya Alllah berarti bisa tiba-tiba batal? Ya sudah, terima kasih... (sedikit emosi karena "insya Allah" dipakai sebagai tameng untuk mengingkari komitmen)

Ya, saya benar-benar marah waktu itu. Bukan karena si S tadi tidak jadi ikut--yang mengakibatkan jumlah peserta kian berkurang, tapi karena dia dengan enteng mengucapkan "Kan kemarin insya Allah..?" Yang membuat saya tidak habis pikir, si S ini ibadahnya tekun sekali, sholat 5 waktu tidak pernah absen, sholat sunnahnya juga rajin, dan zikirnya lama. Tapi ternyata...


Bagaimana menurut Bung?


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

22 komentar:

  1. insya Allah diucapkan bukan sebagai perisai atau tameng ingkar janji, tapi niat Insya Allah diucapkan dengan niat bahwa kita menyerahkan sepenuhnya apa yang akan terjadi kepada Allah. terlepas dari rencana yang sudah kita siapkan secara matang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau besoknya kita berubah pikiran bgmn ?

      Hapus
  2. (23). Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, (24) kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini." (QS Al Kahfi)

    BalasHapus
  3. Beliau tidak menyelipkan dalam perkataannya kata "Insya Allah". Sebelum Allah mengakhiri cerita Ashabul Kahfi, maka dalam ayat ini, Allah SWT memperingatkan Rasul Nya, hendaknya beliau tidak mengulangi ucapan demikian itu. Tidaklah patut beliau mengucapkan janji atau suatu pernyataan untuk suatu pekerjaan dengan pasti berkata: "Besok pagi akan kukerjakan", padahal seharusnya beliau mengetahui bahwa tidak seorangpun yang tahu dengan pasti yang akan terjadi besok pagi.

    BalasHapus
  4. berikut ini adalah asbabunnuzul kedua ayat tersebut:
    sewaktu kaum musyrikin mengajukan kepada Nabi Muhammad saw tiga buah pertanyaan hasil saran dari pendeta-pendeta Yahudi di Madinah,yaitu: pertama tentang Ashabul Kahfi, kedua tentang Zulkarnain dan ketiga tentang roh, maka beliau mengatakan: "Besok pagi saya akan menjawab apa yang kalian tanyakan".

    BalasHapus
  5. Dalam ayat ke-24, Allah SWT menerangkan bahwa perkataan Nabi di atas hendaklah disertai dengan kata-kata "Insya Allah" yang artinya "jika Allah mengizinkan". Sebab kemungkinan seseorang akan meninggal dunia sebelum hari besok itu datang dan barangkali ada suatu halangan. sehingga dia tidak dapat mengerjakan apa yang diucapkannya itu. Maka bilamana dia menyertakan dengan kata "Insya Allah", tentulah dia tidak dipandang pendusta dalam janjinya itu. Sekiranya seseorang terlupa mengucapkan kata-kata Insya Allah dalam janjinya itu, hendaklah dia mengucapkan kalimat itu sewaktu dia teringat kapan saja. Sebagai contoh pernah Rasul saw mengucapkan kata Insya Allah setelah dia teringat. Beliau mengucapkan : "Demi Allah pasti akan memerangi Quraisy, kemudian beliau diam lalu berkata: "Insya Allah...."
    Sesudah Allah memberikan kepada Nabi Saw tuntunan tentang adab terhadap Tuhan ketika berjanji, atau berniat untuk melakukan suatu pekerjaan yang akan datang, maka kemudian Allah SWT menyuruh Rasul Nya supaya mengharapkan dengan sangat kepada Nya kiranya Allah memberikan petunjuk kepada beliau ke jalan yang lebih dekat kepada kebaikan dan lebih kuat untuk dijadikan alasan bagi kebenaran agama. Allah SWT telah memenuhi harapan Nabi saw tersebut dengan menurunkan cerita Nabi-nabi beserta umat mereka masing-masing pada segala zaman.

    BalasHapus
  6. Firman Allah:

    وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا
    Artinya:
    Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. (Q.S. Lukman: 34)
    Apa yang beliau janjikan kepada kaum musyrikin itu, ternyata lima belas hari kemudian baru beliau dapat memenuhinya, yakni sesudah wahyu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu diturunkan.

    BalasHapus
  7. saya kutip penjelasan di atas dari http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_Tafsir.asp?pageno=2&SuratKe=18#Top
    mudah2an paparan yang 'bertubi-tubi' (:-)) ini semakin meyakinkan kita bahwa ucapan 'Insya Allah' adalah bentuk kerendahan hati dan kepasrahan kita akan takdir dari Allah, bukan justru jadi bentuk keangkuhan kita ketika kita tidak mampu menepati janju
    punten bung, kalo komentar saya seperti 'spam' :-) mudah2an ada yang tercerahkan ..nuhun

    BalasHapus
  8. hehehehe.. jangan jadikan insya Allah sebagai alasan untuk ga dateng, bener tuh kata belajar investasi

    BalasHapus
  9. Insya Allah, kata itu memang mudah sekali terucap kala berjanji. Memang betul, sebagian besar dari kita kadang menggunakan itu sebagai tameng untuk tidak menyakiti hati yang mengundang. Tapi apa lacur? Efeknya lebih menyakitkan lagi kan?
    Jadi dimana letak kejujuran itu? Apalagi bung belajar investasi sudah menuangkan dalil2 yang jelas tentang hal ini. Lalu mengapa kita masih mempermainkannya?
    Saya sendiri lebih baik berkata 'tidak' jika benar-benar berhalangan, atau konfirmasi sebelumnya agar yang mengundang tidak kecewa. Tapi tetap, kata Insya Allah disandingkan dalam ijab tadi.
    Begitu kira2 menurut saya bung :)
    Btw, sekarang enak banget bacanya bung, asik, flows like a water :) Salut!

    BalasHapus
  10. Wow, sebenernya kan ga boleh disalah gunakan seperti itu. Saya sendiri suka ada sedikit perasaan ragu kalo orang berkata Insya Allah karena menandakan ketidakpastian, tetapi Alhamdulilah rata-rata tetap menepati janjinya kok, walau ga semuanya.

    BalasHapus
  11. saya yang non Muslim (mungkin karena tidak mengerti), sampai sekarang selalu mengartikan "Insya Allah" sebagai "semoga", sesuatu yang tidak pasti.

    kalau saya mengajak teman saya yang Muslim dan dia menjawab dengan "Insya Allah", buat saya itu adalah jawaban yang tidak pasti, bisa ya bisa tidak.. jadi saya selalu mendesak dia untuk menjawab lagi dengan kepastian :D

    BalasHapus
  12. saya sering memaksakan diri bilang "mudah-mudahan bisa" untuk sebuah janji. tapi kalo dijawab seperti itu, lawan bicara terlihat tidak puas. begitu dijawab insyaallah, baru keliatan agak senang. padahal kan, sebuah kepastian bukan milik kita. serba salah...

    BalasHapus
  13. belajar investasi:
    Terima kasih atas paparannya, Bung. Lengkap sekali, sampai ke dalil-dalilnya segala. Saya rasa ini bakal menjadi referensi tambahan yang melengkapi masalah yang saya ungkapkan dalam posting di atas. Salut!

    aaqym:
    Wah, huruf 'q'-nya gak salah nih? Bukannya seharusnya 'g' jadi namanya aagym? :D

    Darin:
    Kalau saya sih gitu juga, Bung. Kalau memang sekiranya tidak bisa hadir atau gak mau hadir ya bilang aja gak bisa. Kalau sampai terucap insya Allah, itu artinya wajib hadir, terkecuali tiba-tiba ada kejadian yang tidak kita inginkan menghalangi niat kita untuk datang.

    Btw, yang ngalir apanya, Bung? ^_^

    Reza Winandar:
    Hehehe, saking seringnya kata 'insya Allah' disalahgunakan, jadi yg dijanjiin dengan embel-embel itupun jadi mikir2. :D

    jimmy:
    Ini salah yang muslim juga, Koh. Mereka terkadang mempergunakan 'insya Allah' sebagai alasan kalau-kalau pas hari H dianya berubah pikiran dan gak mau menepati janji. What the f**k? Seharusnya kalo sudah bilang insya Allah ya wajib menepati janji.

    Blog Hardim:
    Insya Allah bukan berarti kita pasti akan datang. Ini hanya ungkapan bahwa kita berusaha keras untuk hadir dan menepati janji. Nah, jika tiba-tiba alias sekonyong-konyong ada kejadian yang membuat kita tidak bisa menepati janji, kita tidak 'berdosa' karena sudah mengucap insya Allah. Intinya, yang penting kita usahakan sekuat mungkin untuk menepati janji dulu, selanjutnya serahkan pada Allah. Hehehe, kaya ustadz aja ya? ^_^

    BalasHapus
  14. jadi inget inbox dari bungeko disms??
    kata insya allah sangat familiar ditelinga kita karena ketika kita mau berjanji kata insya allah sering kita ucapkan dan makna arti kata insya allah adalah janji adalah hutang yang harus kita terkadang menggunakan kata insya allah itu sebagai tameng untuk tidak menyakiti hati yang mengundang, trapi kalau menurut pribadi saya lebih baik bilang sesuai fakta daripada endingnya malah ingkar janji
    katakan bisa jika itu emang bisa ditepati dan sebaliknya..

    BalasHapus
  15. Mungkin karena berdasar kebiasaannya kalau kata Insya Allah itu bukanlah menjadikannya wajib, dia beranggapan bahwa dengan kalimat itu berarti dia berada ditengah-tengah, bisa iya bisa tidak, jika iya ya iya, jika tidak toh dia tidak berjanji (so dia nggak punya tanggungan karena tidak mengatakan pasti)..

    BalasHapus
  16. insya allah kalau menurut saya pribadi ada 2. insya allah hati dan insya allah bibir. jadi ketika yang terucap adalah insya allah bibir ya jadinya seperti itu. mbuh ah bung, saya juga nggak berani menilai hati. karena mungkin saja dia sedang akan ada acara tapi malu untuk mengatakanya secara jujur.

    BalasHapus
  17. koment lagi bung, tadi dah koment tapi kok nggak muncul je....kalau menurut saya pribadi, insya allah itu ada 2. insya allah hati dan bibir. maka dari itu ketika mendengar orang yang mengatakan insya allah. liat saja pandanganya, kalau terlihat MANTAP maka mudah - mudahan itu dari hati. begitu kira - kira pendapat saya. kalau salah di maafin ya.....

    BalasHapus
  18. wah kalo soal agama, keboo sih nggak tahu dan nggak berani ngomong. tapi soal sikap, kayaknya perlu bung eko kasi ceramah bentar deh, hehe...trus gimana acaranya bung?

    BalasHapus
  19. Inilah paradoks penggunaan kalimat "Insya Allah". Bisa dijadikan sebagai bemper untuk memperhalus fakta: tidak bisa memenuhi janji yang disepakati/dibuat. Sejujurnya, saya lebih menghargai orang yang mengucapkan "maaf, saya tidak bisa datang, karena...bla..bla..bla..", daripada "Insya Allah saya bisa ....bla...bla..bla (namun dalam hati tidak ada keteguhan sikap untuk memenuhinya). Jika seperti ini terus, bisa saja kalimat "Insya Allah" protes: dasar manusia....capeee dech!!!.
    Seorang sahabat pernah berpesan kepada saya: janjikanlah apa yang bisa engkau tunaikan/penuhi, dan jika berjanji maka penuhilah lebih dari yang engkau janjikan.

    BalasHapus
  20. janji adalah utang, dan ketika tidak bisa menepatinya maka kita telah berutang pada orang yang telah kita beri janji. ketika kita tidak mampu menunaikan suatu janji karena ada sesuatu yang tak terduga sebelumnya, maka kita wajib menggantinya dengan memberikan kebahagiaan lain pada orang yang kita beri janji. apalagi kalau kita tidak mampu menunaikan janji karena disengaja, maka sudah selayaknya kita memohon maaf pada Tuhan dan juga orang yang kita beri janji. bukankah mengingkari janji adalah salah satu indikator hipokritas?
    salam

    BalasHapus
  21. Gus Ikhwan:
    Ah, kalo inget itu jadi malu saya, Gus. Bilang insta Allah-nya kapan, eh, ngirimnya kapan. :D

    buJaNG:
    Hehehe, itu dia yang saya maksud sebagai jadi tameng. Janji sih janji, tapi gak usah diharapkan terlalu dalem untuk menepati. haha, insya Allah jaman sekarang. :D

    Blog Terpanas:
    Wah, yang insya Allah hati koq gak dijelasin sih, Mas? Saya jadi penasaran nih, gimana sih yang tergolong insya Allah hati itu. :D

    keboo:
    Acaranya sih lancar jaya. Teteep... ^_^

    adeskana: Yups, lebih baik tegas bilang tidak bisa ketimbang bilang insya Allah tapi niatnya pengen ngeles. :D

    belajar investasi:
    Setuju...

    Maaf, komentarnya saya tutup. Mau dihitung buat nentuin pemenang komentar terbanyak sih. :D

    BalasHapus