Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 08 Maret 2010


Salah satu surat pembaca yang saya kirim dan dimuat di BOLA.
BAGI sebagian orang, mengirim pendapat/komentar ke media seperti yang pernah saya lakukan di Tabloid BOLA mungkin hanya dipandang sebagai hal sepele. "Ah, apa susahnya sih mengirim surat pembaca?" Bisa jadi begitu kata Anda dalam hati. Tapi, jangan keliru, surat pembaca semacam ini adalah bentuk karya jurnalistik paling dasar.

Kampus saya, Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY), punya tradisi yang menunjukkan betapa berharganya sebuah surat pembaca bagi karir jurnalistik para mahasiswa barunya. Kampus 'mewah' (baca: MEpet saWAH) ini mewajibkan setiap mahasiswa barunya untuk mengirim surat pembaca ke Kedaulatan Rakyat. Siapa yang surat pembacanya dimuat bakal mendapat tambahan nilai dari dosen. Jadi, jangan heran kalau setiap tahun ajaran baru rubrik surat pembaca KR dibanjiri oleh mahasiswa AKY.

Awalnya, saya juga mengernyitkan kening sewaktu seorang dosen berkata seperti itu. Apa gunanya sih? Pikir saya waktu itu. Kok sepele banget sih? Kata saya lain kali. Dan, ketika nama-nama teman sekelas sudah mulai keluar di rubrik surat pembaca KR, saya masih belum mau mengikuti saran tersebut. Saya malah sok-sokan mengirim cerpen ke KR dan KOMPAS. Well, jangan tanya mana yang dimuat, karena semua cerpen yang saya kirim setiap pekan dalam rentang akhir tahun 2003 sampai awal tahun 2004 itu selalu ditolak. :D

Nah, ternyata meskipun terlihat sepele tapi mengirimkan surat pembaca ke koran sangat bermanfaat bagi Anda yang menekuni dunia tulis-menulis. Blogger juga termasuk di sini. Alasannya, pertama, menulis surat pembaca adalah cara paling mudah untuk melatih kita dalam menuangkan gagasan dan menyampaikannya ke publik. Jangan salah, untuk menulis surat pembaca juga butuh ide dan sikap kritis. Semakin sering kita mengirim surat pembaca, insya Allah semakin terlatih kita dalam menuangkan gagasan sehingga bisa dipahami dan diterima khalayak luas.

Alasan kedua, dari segi tata bahasa atau susunan redaksional, menulis surat pembaca melatih kita untuk menulis dengan baik dan benar. Jangan kira surat pembaca tidak diedit oleh editor surat kabar. Kalau Anda jeli, setiap surat pembaca bahasa redaksionalnya pasti mirip-mirip dengan berita-berita di halaman lain. Jadi, dari sini kita bisa mempelajari bagaimana menulis ala jurnalis. Bandingkan isi surat saat kita kirim dan saat sudah dimuat, pelajari perbedaannya.

Alasan ketiga, media-media tertentu ada yang menyediakan suvenir bagi pembaca yang komentar/suratnya dianggap paling menarik. Contohnya Tabloid BOLA yang menyiapkan 3 kaos cantik setiap edisi untuk 3 pembaca yang komentar/suratnya diberi kotak berwarna alias jadi headline. Lumayan, kita bisa menghemat anggaran untuk beli kaos olahraga. Apalagi desain kaos dari BOLA keren-keren. Hehehe...

Sebenarnya masih ada beberapa manfaat lain, namun sementara ini yang terlintas di kepala saya baru 3 itu. Nanti kalau manfaat lainnya terlintas di kepala akan aya posting pada kesempatan selanjutnya. Atau mungkin Bung-bung pembaca mau menambahkan? Monggo....


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

25 komentar:

  1. setuju sekali bung, menulis di surat pembaca mampu meningkatkan skil menulis kita. Sebetulnya sudah lama saya berkinginan untuk menulis di media, namun belum kesampaian juga. Alasan yang menjadikan saya enggan menulis di mesia (surat kabar, majalah, dkk itu) karena belum paham betul teknik penulisan jurnalistik. Itu mungkin alasan klasin yang tidak tertutup kemungkinan teman-teman yang lain juga mengalaminya. Ada saran nggak bung buat saya?

    BalasHapus
  2. Benar juga ya.. hal sepele seperti ini kebanyakan terlupakan.

    BalasHapus
  3. surat pembaca... akan lebih banyak dilihat orang.. :)

    BalasHapus
  4. salt dg terobosan yang dilakukan AKY. dengan "mewajibkan" mahasiswa kirim surat pembaca, tradisi dan budaya sikap kritis akan terbangun sehingga calon2 jurnalis memiliki kepekaan terhadap masalah2 sosial dan kebangsaa.

    BalasHapus
  5. Bisa untuk ajang mengeluarkan isi pikiran kita dan ajang demokrasi juga, kalo saya sih menganut paham "Freedom os Speech". Bisa juga untuk ajang protes terhadap suatu masalah atau suatuh pihak.

    BalasHapus
  6. Kalau bagi saya nih ya Mas, Surat Pembaca bagaikan Senjata Ampuh untuk melakukan berbagai protes.
    Saya pernah mengalami satu masalah dengan program sebuah perusahaan telekomunikasi tempat saya bekerja dulu, tapi karena sepertinya tidak ditanggapi ya saya kirim surat pembaca ke sebuah harian nasional. Nah, baru deh di tanggepin tuh kasus.

    BalasHapus
  7. Wah, bisa jadi headline di surat pembaca BOLA, bung Eko ini pasti seorang penggila bola, saya jadi terinspirasi nih pengen bikin surat pembaca juga buat BOLA. Kayaknya surat pembaca juga bisa tuh dijadikan ajang promosi blog, nanti URL blognya bisa disertakan di alamat rumah. =D

    BalasHapus
  8. Jadi pengen coba juga nih, mumpung domisili sekarang di Jogja, KR, hehe,

    BalasHapus
  9. manfaat tambahan : biar bisa narsis dikit jika kebetulan suratnya diterbitkan media terkenal seperti misalnya ya tabloid BOLA hehe.. :mrgreen:

    BalasHapus
  10. mengirim surat pembaca, juga membutuhkan keyakinan, kejujuran dan keberanian. yakin apa yang disampaikan benar, jujur mengulas apa yang menjadi fokus masalah yang ingin disampaikan, juga berani mempertanggungjawabkan isi surat pembaca kita bilamana ada tanggapan balik dari pihak yang kita tuju.

    BalasHapus
  11. waaa,, bener juga yaa..
    keren nieh dosenya.. haha..
    salut..
    tapi saya belum pernah ngirim surat pembaca.. kayanya boleh juga dicoba ya.. sambil tes kemampuan yah..

    BalasHapus
  12. kalau saya lebih seneng baca surat pembaca saja, kalau disuruh ngirim, apalagi memprotes sesuatu, takut jadi kasus seperti prita walaupun kita menyampaikan kebenaran.. kecuali boleh anonim :D

    BalasHapus
  13. Saya sendiri belum pernah mengirim surat pembaca ke media cetak. Alasan saya sama Bung, ngerasa nggak ada manfaatnya :) Padahal kalau diteliti, surat pembaca bisa juga menjadi media menyuarakan pendapat kita sebagai konsumen atau masyarakat.

    Terlebih jika muatannya berupa komplain atas layanan pihak tertentu yang cukup ternama/terkenal. Efeknya bisa luar biasa. Kita bisa menyelamatkan potensi kerugian calon konsumen.

    Oya, dulu saya adalah pembaca setia tabloid Bola. Sekarang udah nggak pernah beli lagi. Saya ingat salah satu wartawannya, Ian Situmorang. Apa masih jadi wartawan Bola ya Bung?

    BalasHapus
  14. Oya Bung, sedikit sharing nih soal Tabloid Bola. Dulu pas masih SMP saya pernah dapat hadiah dari mengikuti kuis di Bola. Lumayan, 100 ribu rupiah. Kuisnya tentang tebak gambar pertandingan antara klub apa dengan klub apa (pake foto dan ada pilihan jawabannya). Karena saya nonton pertandingan yang ada di foto tersebut, saya jadi tahu deh jawabannya..hehehe

    Bung Eko pernah nggak ikutan kuis di Tabloid Bola?

    BalasHapus
  15. kharis sulistiyono: Saran saya juga klasik sih, Bung. Yang penting mencoba dulu, urusan salah-benar itu masalah belakangan. Toh, koran punya editor yang bertugas membenahi bahasa para pengirim surat pembaca. Lagipula, saya rasa editornya paham kalau sebagai masyarakat biasa kita belum begitu paham jurus-jurus jurnalistik. So, coba aja dulu...

    Tongkonan: Ya, benar.
    secangkir teh dan sekerat roti: Hmmm....

    sawali tuhusetya: Benar, Pak. Awalnya hanya untuk melatih keberanian mahasiswa baru untuk menulis di media, lalu meningkat menjadi melatih daya kritis mereka terhadap persoalan sosial yang berkembang di masyarakat sekitar.

    Reza Winandar: Ya, kebanyakan SP dibuat untuk komplain.

    Bungzhu Zyraith: Benar, terkadang kita dianggap sepele oleh pihak yang kita komplain. Tapi begitu masalah itu kita sampaikan ke publik melalui koran, barulah mereka kebakaran jenggot.

    dimasangga: Hehehe, maaf, poinnya bukan karena saya masuk Tabloid BOLA lho, tapi manfaat berkirim surat pembaca secara umum. :D

    hanif: Gak harus KR kok, Bung. Bisa media mana saja.

    yudi: Wakakaka, Bli Yudi ini bisa saja. Tapi, memang begitulah kenyataannya sih. :D

    adeskana: Ya, saya setuju dengan 3 poin yang ditambahkan Mas Ades Hendra. Mengirim surat pembaca juga membutuhkan keyakinan, kejujuran, dan keberanian.

    fauzan upz: Ya, coba saja. Itu bisa jadi terapi ampuh untuk memunculkan keberanian menulis di media.

    Jimmy: Jangan khawatir, Koh. Perusahaan-perusahaan dan instansi sekarang juga takut mau menuntut pengirim surat pembaca. Ya, takut bernasib seperti RS Omni yang malah jadi bulan-bulanan media dan masyarakat gara-gara menuntut Prita. ^_^

    iskandaria: Bung Ian Situmorang sekarang naik pangkat menjadi pemimpin Sports and Health Media Group yang membawahi tabloid-tabloid olahraga dan kesehatan dalam korporasi KKG, salah satunya ya Tabloid BOLA. Meski tambah sibuk, tapi beliau masih sering mengisi kolom 'Usul Usil' di Tabloid BOLA kok.

    Saya tidak pernah ikutan kuis, selalu saja males mengirim jawabannya (kalau lewat pos), atau pas gak punya pulsa (kalo lewat SMS). Kalau ada kuis yang jawabannya boleh dikirim lewat email, saya mungkin mau ikutan. :D

    BalasHapus
  16. setuju dengan bung eko
    menlis di media emang sangat diperlukan buat meningkatkan skill karena menlis di media bisa dibaca oleh masyarakat luas dan menunjukan kepribadian kita, dengan menulis kita bisa memberikan informasi di media cetak
    tidak semua orang bisa menulis di media karena kita harus selektif dalam memaparkan berita dan juga harus berani, riil..
    oia bung gus jarang baca tabloid bola sering langganan soccer
    bung eko emang penulis lepas sejati
    semoga buku bung eko best seller

    BalasHapus
  17. menulis merupakan tingkat kemampuan bahasa yang memiliki urutan teratas dan tersulit dalam hal kompetensi. itulah sebabnya mengapa sebelum bisa menulis harus mahir membaca dan menyimak dulu.. mengirim surat pembaca dapat menjadi alternatif latihan keterampilan menulis. dengan sering menulis surat pembaca, kita akan terbiasa untuk menuangkan gagasan bahkan dengan bahasa yang singkat dan sederhana
    salam

    BalasHapus
  18. Pengin juga sih sebenarnya, tapi bingung mau nulis tentang apa. Mau nulis artikel di blog yang sekiranya enak dibaca dan menggunakan bahasa yang baik dan benar saja susahnya minta ampun.
    Untuk saat ini biar nulis di blog saja saja deh, setidaknya masih ada yang mau baca tulisan saya di blog :D

    BalasHapus
  19. Gus Ikhwan: Ya, memang idealnya seperti itu, Gus. Tapi kalau niatnya untuk belajar, saya rasa justru menulis surat pembaca adalah cara paling mudah untuk mengasah kemampuan menulis di media, dalam tataran yang lebih simpel.

    pensiun kaya belajar investasi: Benar, tepat sekali apa yang Bung katakan. Menulis surat pembaca memang terkesan simpel, tapi pengaruhnya sangat besar bagi pembelajaran kita dalam menuangkan gagasan kepada publik.

    buJaNG: Nulis di blog juga bagus kok. Cuma kankalo di media ada editor, sehingga insya Allah tulisan kita bisa semakin baik dari hari ke hari karena ada yang mengontrol dan secara tidak langsung mengajari kita. :D

    BalasHapus
  20. Saya dulu ketika sedang booming bisnis MLM, pernah memanfaatkan media surat pembaca. Dan hasilnya memang lumayan. Selain melatih kami menulis. Kami juga dapat uang hehe...sepertinya itu harus di hidupkan lagi nih...

    BalasHapus
  21. Beberapa kali saya ngirim surat pembaca, mas. Cuman kagak pernah dimuat'e. Atau jangan2 dimuat, tapi saya gak merhatiin ya

    BalasHapus
  22. saya jadi teringat dulu waktu belajar Bahasa Indonesia di SMA. waktu itu ada tugas menulis surat pembaca ke harian atau tabloid. maka saya dan teman-teman berlomba-lomba untuk menulis surat pembaca. karena kegemaran saya waktu itu adalah sepakbola, maka saya pun mencoba menulis surat pembaca ke tabloid GO. namun akhirnya saya urung juga menulis surat pembaca, karena guru nya tidak jadi memeriksa :-) coba kalau waktu itu saya belajar mengirim surat pembaca, mungkin saat ini saya sudah bisa seperti bung Eko :-)

    BalasHapus
  23. akhir-akhir ini mengirim surat pembaca terkadang membuat was was penulisnya. hal ini disebabkan ada beberapa kasus yang mencuat ke permukaan hanya gara-gara membuat surat pembaca baik secara offline maupun online. kasus Prita Mulyasari menjadi salah satu contoh betapa surat pembaca terkadang menjadi bumerang bagi penulisnya. apakah ada tips untuk menulis surat pembaca yang aman dan menenteramkan? :-)

    BalasHapus
  24. Blogger Terpanas:
    "sepertinya itu harus di hidupkan lagi nih..."
    Maaf, Mas, kata "itu"-nya itu me-refer ke "melatih kami menulis" atau "Kami juga dapat uang" ya? Hhehehe, peace...

    Anthony Harman:
    Bisa jadi yang kedua, Koh. Soalnya kita suka lupa kan kalo ngirim SP, dan karena kelamaan nunggu akhirnya kita anggap tidak dimuat. Pas dimuat, kita sudah jarang ngelongok halaman SP lagi. ^_^

    belajar investasi:
    Itu berarti gurunya tidak bertanggung jawab tuh. Padahal bisa saja kan beliau sekalian menyuruh murid-muridnya untuk memantaui sendiri surat-surat pembaca yang dikirim. Kalo dimuat suruh kumpul klipingannya saja. :D

    Btw, jawaban untuk komen kedua, cara paling mudah adalah dengan meminta redaksi menyembunyikan identitas. ^_^

    BalasHapus
  25. mas mau tanya kalo mau ngirim opini/suara tifosi ke tabloid bola ngirimnya ke mana y (email)?

    BalasHapus