Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Rabu, 14 April 2010



SEPERTI lumrahnya orang Jawa, ketika kandungan istri menginjak usia 7 bulan keluarga saya di Pemalang menggelar acara syukuran yang dikenal dengan istilah mitoni. Istilah ini berasal dari kata pitu yang berarti 7 dalam bahasa Jawa. Dan, inilah alasan kepulangan saya ke Pemalang yang berujung pada kevakuman blog ini selama lebih dari sepekan.

Acara mitoni yang saya kenal selama ini ternyata berbeda dengan prosesi di Pemalang yang jauh lebih sederhana. Tapi sebenarnya tidak ada yang berbeda, hanya saja beberapa ritual sengaja ditiadakan karena sejumlah alasan. Misalnya acara mandi malam yang disusul dengan ganti baju sebanyak 7 kali, juga acara belah kelapa (bukan belah duren lho ya) yang diyakini merupakan pertanda jenis kelamin si jabang bayi.

Mitoni si jabang bayi calon anak pertama saya yang digelar Sabtu, 10 April, tempo hari terbilang sederhana. Mertua hanya membuat tumpeng dan berkat, mengundang beberapa tetangga, menggelar syukuran, lalu disusul dengan bagi-bagi berkat. Yang agak ribet istri saya, karena harus dipijat sama dukun bayi dan kemudian mandi dengan sejumlah aturan yang saya juga tidak paham apa maksud dan tujuannya.

Dari seluruh rangkaian acara mitoni hari itu, yang paling berkesan buat saya adalah saat berjualan rujak di depan rumah. Rujaknya benar-benar rujak, sambalnya pun pedasnya bukan main, namun yang beli tidak perlu membayar, tapi cukup dengan memberikan batu kecil atau pecahan genteng ke kami sebagai pengganti uang.

Awalnya sih saya enjoy saja berakting sebagai penjual rujak. Eh, begitu SD di dekat rumah membunyikan bel tanda waktu istirahat, saya dan istri sontak jadi kelabakan. Pasalnya, siswa-siswa SD itu berhamburan ke depan rumah tempat kami berjualan, kemudian berdesak-desakan berebut "membeli" rujak jualan kami. Wow, what a crowd! Saya yang dari tadi sudah berkeringat jadi makin basah kuyup dibuatnya.

Syukurlah, dagangan kami cepat habis. Tak sampai setengah jam, rujak sebanyak 2 panci sedang sudah ludes dibagi-bagikan ke para pembeli. Saya dan istri lega karena terbebas dari kerumunan anak-anak SD, tapi beberapa pembeli kecewa karena tak kebagian rujak setelah lama berdesak-desakan. Apa daya, the show must be ended, kids. :D

Oya, sepanjang acara itu banyak tersuguh pertanda yang mengisyaratkan kalau anak saya sepertinya berjenis kelamin laki-laki. Pertama, waktu ibu mertua saya mau menyusun kelapa yang sudah diukir dengan gambar tokoh wayang, secara tak sengaja yang diambil duluan kelapa bergambar tokoh wayang laki-laki. Sambil tertawa ibu mertua saya berseloroh, "Wah, kok lanang disek sing metu? (Wah, yang keluar duluan kok laki-laki ?)"

Kedua, bumbu rujaknya terasa sedemikian pedas, sampai-sampai semua orang yang merasakan rujak itu bilang, "Wuih, pedese! Anak'e mesti lanang iki. (Wah, pedas sekali! Anaknya pasti laki-laki ini). Ketiga, dukun bayi yang memijat dan memandikan istri saya juga melihat tanda-tanda kalau si jabang bayi adalah laki-laki. Ah, saya jadi teringat dengan hasil USG awal bulan Maret kemarin. Kata dr. Riyani yang memeriksa kandungan istri, si janin kemungkinan laki-laki karena di monitor sekilas terlihat penisnya.






Well, walaupun saya sangat mengharapkan anak perempuan--bahkan namanya sudah saya cantumkan di 2 buku pertama saya, tapi kalau yang lahir ternyata laki-laki ya tidak apa-apa. Toh, laki-laki atau perempuan tetap anak saya juga. ^_^


Foto-foto: Koleksi pribadi.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

22 komentar:

  1. selamat menunggu kelahiran anak pertamanya ya bung! semoga menjadi anak saleh, cahaya mata dan imam bagi orang yang bertakwa (QS.25:74) btw, yang kelapa bergambar, kayaknya yang sebelah kanan ya yang laki-laki :-)

    BalasHapus
  2. bung eko, gimana kelanjutan keadaannya bung zalukhu,
    kemarin gus udah send message ke o-om.com (om agus),seneng ni jualan rujak, komplit tenan bung udah numismatik, blogger, jualan rujak, terus jualan apa lagi bung, bung eko benar² seorang blogger entrepreneur,
    oia bung sebenernya buku itu mau gus posting semua tapi gak jadi
    tanggal 13 juni masih lama bung eko, masih suka meraba² perut sang istri ya

    BalasHapus
  3. harapan sih boleh. kepastian hanya Allah yang tahu. laki-laki atau perempuan sama saja. sama-sama anak, sma-sama amanah. sama-sama bisa menyelamatkan, sama-sama bisa menyengsarakan. pilihan ada ditangan kita.

    soal bakul rujak...
    kalo saya yang punya kisah kayak gitu, mungkin bisa ketagihan mas. jualan beneran bukan pake pecahan genting. sepertinya peluang bagus nih buat mbok wedok.

    BalasHapus
  4. wah bung, baru tau kalau acara mitoni tu sedemikian ribet. Kalau saya dulu ngga gitu deh hehe. Unik juga ya sampe jualan rujak dan yang beli mbayar pake batu..wah2 lama-lama bung eko bisa pindah bisnis ke bisnis material batu koral :D
    Iya bung, laki2 perempuan sama saja. Itu semua rahasia Allah :) Yang penting lahir sehat dan besar nanti berbakti pada orang tua amiiin.

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah
    Saya ikut bersyukur dengan seluruh rangkaian mitoni yang sukses dilaksanakan... betapapun sebagian orang menghindari tasyakuran 7 bulanan semacam itu, kita ada pada wilayah yang masih menjaga adat bersendi agama itu.

    BalasHapus
  6. belajar investasi:
    Amin, terima kasih atas doanya.

    Gus Ikhwan:
    Wah, Gus Ikhwan bacanya buru-buru ya? Itu saya jualan rujak dalam rangka mitoni, bukan dagang alias bisnis. Maaf, Gus. Tapi Gus keliru. ^_^

    fatchur:
    Iya, laki-laki atau perempuan sama saja deh, toh sama-sama anak. Btw, itu rujaknya laris karena gratis. Kalo disuruh bayar ya belum tentu selaris itu dagangannya. :D

    Darin:
    Hahahaha, batunya cuma dapet dikit kok, Bung. Yang banyak keringetnya karena selain dikerumuni pembeli yang berdesak-desakan, juga karena harus bersikeras rebutan rujak sama pembeli yang tidak sabar. Hehehe....

    munawar am:
    Lho, saya malah baru tahu kalo ada yang menghindari prosesi 7 bulanan. Kalo saya sih, karena saya orang Jawa ya tentu adat Jawa akan saya junjung, sepanjang tidak bertentangan dengan agama Islam tentu saja. Padahal sepanjang acara mitoni kemarin kental dengan nuansa Islam lho. :D

    BalasHapus
  7. Ciee.. si calon bapak :)
    Semoga semuanya lancar yak sampe hari H-nya :) *aku kapan ya??? -target nikah aja masi tahunan- :D Hehehe..*

    BalasHapus
  8. selamat ya pak
    smoga lahir dgn selamat
    amien

    BalasHapus
  9. Wah berarti tinggalmenghitung bulan ya Mas :D fillingnya apa nie mas..laki laki kah ???hehehehe

    BalasHapus
  10. Bagus tuh jualan rujak, apalagi kalau jualan rujak di internet. Khan bangsa barat ngak tahu yang namanya rujak, bisa penasaran nanti tuh. hehehe

    BalasHapus
  11. acara mitoni ya bung? wah selamat ya bung. Tapi kayaknya rujaknya rame tuh yang beli bung?hehe, yah apapun nanti, baik laki-laki maupun perempuan yang penting kita bersyukur bung, kan amanah dari Tuhan, hehe, salam kenal bung

    BalasHapus
  12. mastanto: Amin. Terima kasih atas doanya.
    darahbiroe: Ya, semoga bayi dan ibunya sama-sama slamat nanti. :D
    Sang Cerpenis bercerita: Mau?
    blog penghasil uang: Tinggal sekitar 2 bulan lagi. Emang ada orang hamil yang nunggu sampe tahunan? ^_^

    Panduan Blogging:
    Wah, komentarnya super duper ngawur nih. Out of context banget, kelihatan kalog gak baca posting. Lagi buru-buru ya, Bos? :p

    Hanna Pertiwi:
    Ya, biar cowok biar cwwek yang penting selamat, sehat, dan jadi anak yang bisa bermanfaat bagi nusa, bangsa, dan agama. Amiin...

    BalasHapus
  13. saya mau bungeko dikasih jualan istri gratis, hehe, pengen ngerasain, hehe,,,

    BalasHapus
  14. wah semoga nantinya jadi anak yang berbati ma orang tuanya..dan jadi master blogger atau setidaknya bisa lebih pinter dari bapaknya.. :)

    BalasHapus
  15. hanif: Weleh, apa maksudnya nih? ^_^
    blogger gembloeng: Amin, doa saya juga begitu kok, Bunda (kecuali yg 'master' itu).
    pendapat: Terima kasih, Bung...

    BalasHapus
  16. sebagian orang memang menjauhi budaya mitoni. mereka beranggapan bahwa mitoni adalah hal-hal yang tidak berdasar dan berbau syirik.

    yups.... tergantung dari sisi mana adat itu dipandang dan dinilai.
    kalau adat itu sampai menimbulkan sebuah keyakinan seperti "kalau calon anak ini tidak di pitoni, nanti anak bisa susah, atau mungkin lahir sungsang, atau mungkin tidak selamat, atau hal-hal yang tidak diinginkan lainnya", maka jelas hal itu sangat dilarang karena hal itu sama saja yakin bahwa yang memberi keselamatan bukanlah Allah, melainkan acara mitoni.
    tapi kalau sekedar melestarikan budaya, kemudian pelaksanaannya selalu menyandarkan diri kepada Allah, memohon kepada Allah agar diberi keselamatan melalui wasilah bacaan ayat-ayat suci Alqur'an, bersedekah kepada para famili dan tetangga, serta hati tetap berkeyakinan bahwa yang memberi keselamatan manusia yang hakiki adalah Allah SWT, maka adat mitoni bukan sesuatu yang dilarang.
    wallaah a'lam

    BalasHapus
  17. selamat...selamat.....klo saya pribadi, jujur kurang suka dengan mitoni. namun saya tetap menghormati siapapun yang menjalankanya. bukan apa - apa bung, pemahaman saya tentang agama "mengharuskan" itu. sekali lagi selamat...

    BalasHapus
  18. Wah, saya baru tau ada tradisi seperti yang Bung Eko ceritakan di atas. Unik juga ya, terutama dua kelapa yang digambari tokoh pewayangan itu. Soal rujaknya, pedas yang menandakan laki-laki sepertinya identik dengan sifat laki-laki yang lebih agresif..hehe. Semoga kelahiran anaknya lancar ya Bung.

    BalasHapus
  19. mastanto:
    Hahaha, rasanya gak gimana-gimana kok, Bung. Biasa aja, tapi ya berbunga-bunga. Hahaha...

    darahbiroe:
    Terima kasih, terima kasih...

    Blogger Terpanas:
    Jujur, kalo saya sih mending uangnya buat persiapan kelahiran si jabang bayi aja. Kalaupun mau syukuran, cukup dengan mengundang tetangga lalu diminta membacakan surah apa kek yang bagus, trus didoakan. Tapi mau bagaimana lagi, Mas. Saya masih harus "tunduk" sama kehendak mertua. ^_^

    iskandaria:
    Hahaha, berarti laki-laki itu pedas dong? :D

    BalasHapus
  20. Kunjungan perdana Bung Eko.. keren banget blognya..

    cerita ini mengingatkan ku pada sepupu yang ngadain 7 bulanan juga di Jawa :)

    BalasHapus