Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 26 April 2010

Siapa tak kenal radio? Saya yakin tidak ada orang di dunia ini yang tidak kenal dengan alat komunikasi yang banyak diklaim oleh sejumlah penemu ini.

Radio jadul banget

Meskipun jaman sudah berubah, teknologi sudah sedemikian canggih, tetap saja radio eksis. Buktinya, di kota Jogja saja sampai saat ini ada lebih dari 20 stasiun radio. Di kota sekecil Pemalang saja ada sekitar 6-7 stasiun radio.

Buat saya sendiri, radio adalah satu-satunya sarana hiburan yang saya kenal sejak SD sampai menginjak bangku kuliah. Maklum, saya terlahir dalam keluarga yang hidup serba pas-pasan, jadi cuma bisa beli radio untuk rengeng-rengeng (ini bahasa Indonesia-nya apa ya?). Radio yang sangat akrab dengan keluarga saya adalah radio tripleks berbentuk kotak merek National. Ibu saya membeli radio tersebut ketika saya kelas 1 SMP, dan masih saya pakai sampai saya merantau ke Jogja.

Sayangnya, semenjak punya alat hiburan lebih canggih (televisi, VCD player, komputer, dan walkman), radio tersebut tidak lagi terurus. Setelah berulang kali pindah kos, radio kesayangan saya itu terabaikan dan entah hilang di mana. Kini, setiap kali konek internet dan mendengarkan radio online, saya selalu terbayang-bayang radio bersejarah itu. Sambil mengenang radio kesayangan saya yang sudah tidak ada, mari kita kilas balik perkembangan radio.

Radio Marconi, tahun 1895

Radio Marconi

Konon, inilah radio pertama yang dibuat pada tahun 1895. Pembuatnya adalah perusahaan milik Guglielmo Marconi, orang Amerika keturunan Italia yang memegang hak paten atas penemuan radio. Namanya saja produk pertama, tentu ada banyak kekurangan pada radio ini bila dibandingkan dengan radio jaman sekarang. Contoh, radio ini hanya mampu menjangkau sinyal radio dalam radius 1,5 kilometer saja, dan karena bodinya besar maka sudah pasti radio ini sangat berat.


Radio jaman Perang Dunia I

Radio jaman Perang Dunia I

Dari bentuknya yang amat sangat besar, bisa ditebak kalau radio ini sangat berat. Tidak bisa dibawa kemana-mana, dan jelas harganya juga selangit. Jadi, jangan heran kalau di tahun-tahun ini hanya para ningrat yang bisa punya radio. Jangan bayangkan stasiun radio yang ada di jaman ini sama seperti yang kita kenal pada masa sekarang. Siarannya lebih banyak diisi dengan lagu-lagu dan sandiwara radio.


Radio jaman Perang Dunia II

Radio jaman Perang Dunia II

Bentuknya sudah agak lebih kecil. Tapi tetap saja tampilannya tidak ada indah-indahnya sama sekali. Walaupun kelihatan kecil dan terbuat dari kayu, tapi radio antik bermerk Philips ini bobotnya 18 kg! Panjang 60 centi dan tinggi 55 centi, sebenarnya tak terlalu besar. Tapi mungkin komponen-komponen yang ada di dalamnya yang membuat radio ini teramat berat. Kini, radio seperti ini dihargai lebih dari 1,5 juta rupiah dalam keadaan rusak. Hmmm, kalau masih normal harganya berapa tuh?


Ini radio jaman kapan ya?


Radio tripleks merk National

Radio tripleks merk National

Nah, ini dia radio yang mirip dengan radio kesayangan saya dulu. Bodinya dari tripleks, bentuknya kotak persegi, dengan satu speaker sedang, dan tabulasi frekuensi yang memenuhi 2/3 tampilan depan radio. Antenanya memanjang ke atas, tidak dapat ditekuk, tapi bisa ditekan memendek. Radio ini ditenagai oleh 4 batere ukuran besar dan hanya bisa menangkap gelombang MW & SW. Eit, jangan salah! Dengan radio jadul begini saya bisa dengar siaran Radio Singapore International (RSI), BBC London, Deutsche Welle (Jerman), Voice of America (VoA) berbahasa Indonesia yang disiarkan langsung dari Washington DC, radio Jepang, radio China, radio India, dan beberapa siaran radio internasional lain. Biar jadul tapi canggih kan?


Radio portabel jaman breakdance

Radio portabel jaman breakdance

Masih ingat jaman di mana breakdance begitu ngetop? Hehehe, saya masih sangat kecil waktu itu, jadi cuma tahu sedikit saja. Yang saya ingat, paman saya dulu punya radio tape seperti ini. Dulu biasa untuk nyetel lagu-lagunya Pance S. Pondaag, Tommy J. Pisa, Endang Esrtaurina, dan terkadang lagu-lagu konyol milik PMR-nya Johnny Iskandar. Kalau tidak salah, pesawat radio ini sudah bisa untuk menangkap siaran yang menggunakan frekuensi AM. Siaran dengan frekuensi FM belum begitu marak kala itu. Tenaganya sudah memakai listrik AC/DC, jadi tinggal colokkan saja kabelnya ke colokan listrik.


Radio mini, radio saku

Radio mini, radio saku

Memasuki tahun 2000-an, radio sudah semakin kecil. Orang bilang radio saku, tapi ada juga yang ukurannya bahkan jauh lebih kecil dari saku baju. Guglielmo Marconi dan Heinrich Rudolf Hertz semasa hidup mereka mungkin tidak pernah membayangkan kalau pesawat radio bakal berbentuk sekecil ini. Cukup dengan 2 buah baterai ukuran A2, malah ada yang cuma pakai baterai A1, radio ini sudah bisa didengarkan suaranya. Bisa untuk frekuensi AM, FM, SW, dan MW.


Radio internet jaman milenium

Kini, radio tak hanya bisa didengar dengan pesawat radio saja, tapi juga di internet melalui siaran online streaming. Hampir semua radio di kota-kota besar sudah bisa didengar secara live di internet. Contohnya Radio Retjobuntung atau Geronimo kalau di Jogja, atau Radio Garuda, radio berbahasa Jawa dari Suriname. Kalau mau lebih komplit, bisa dengan mengunjungi situs streamer yang punya lebih banyak pilihan radio untuk didengar. Beberapa situs radio streamer yang saya tahu:
- RadioStreamer.com
- RadioTime.com
- JogjaStreamers.com

Untuk pilihan lebih banyak lagi coba saja search di Google dengan kata kunci "radio streaming". Ada 48 juta hasil pencarian untuk kata kunci tersebut. Alangkah banyaknya...
[bungeko, dari berbagai sumber]



Itulah sekilas perkembangan radio yang saya tahu. Mungkin Bung-bung sekalian punya tambahan informasi? Monggo, saya sangat senang sekali jika ada tambahan dari Bung. Oya, saya juga musti berterima kasih kepada Pak Marsudiyanto karena untuk membuat kolom-kolom bergambar di atas saya "menyalin" dan memodifikasi kode postingnya yang ini.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

27 komentar:

  1. cukup lengkap ulasannya bung. dan betul... perkembangan teknologi radio hingga sekarang sangat luar biasa sekali. sekarang radio bukan lagi perangkat yang memerlukan tempat luas. bahkan cukup dimasukkan dalam saku dan bisa dibawa kemana-mana.
    saya sendiri sekarang aktif mendengarkan live streaming sebuah radio nasional lewat blog. mengasyikkan sekali...

    BalasHapus
  2. ternyata komplit juga koleksine radio.....mantaps..om....btw...nuwun sampun kersa mampir wonten gubug kula.....

    BalasHapus
  3. Jadi ingat zaman-zaman itu. Saur Sepuh, Nini Pelet dan sederetan sandiwara radio yang ngga akan terlewat barang satu episode pun! :D
    Hmm, ini referensi yang bagus untuk menelusuri jejak asal muasal radio. Saya tahu dikit2 dari film2 dokumenter zaman perang dunia. Betul, gede-gede banget dan hanya kalangan tertentu saja yang bisa memilikinya.
    Sekarang, kalau saya jarang banget denger radio bung. Haduh, dah kalah ma internet n mp3 hehe. Tapi kalau lagi nge-wedhang jahe di angkringan, tetep lantunan gendhing dari radio adalah teman yang paling klop!
    Semoga radio sebagai pengantar informasi tetap bertahan di sela serbuan media digital!

    BalasHapus
  4. Lengkap banget koleksi radionya, jadi teringat waktu saya kecil, punya Radio Tripleks Merk National

    BalasHapus
  5. salam sahabat bung eko,
    sebelumnya gus minta maaf jika blog saya belum bisa di akses karena lagi fakir bandwith.. bandwith limit dan belum bisa upgrade mungkin besok saya bisa upgrade

    makasih infonya bung eko, gus juga sering ndengerin radio online punyanya retjobuntung
    tapi gus akhir² ini jarang ndengerin radio lebih seneng ngadep laptop dan blogwalking..
    gus masih inget dengfan masa kanak kanak seneng ndengerin drama misteri di radio, paling seneng ndengerin via strwaming radio kamtis

    BalasHapus
  6. Makin kreatif aja nih tampilan posting Bung Eko (walaupun ngakunya nyalin dan modif dari postingan Pak Mars). Sampai sekarang, saya tetap suka dengerin radio. Walau udah ada TV, jumlah stasiun radio di kota saya (Pontianak) nggak berkurang tuh. Malahan nambah. Mungkin karena masih punya pangsa pasar setia. Salah satunya para pekerja malam, anak kost yang tidak punya TV, dan juga karyawan kantoran.

    BalasHapus
  7. Mau kasih tambahan bung...

    Inilah radio terkecil yang pernah ditemui sejauh ini.
    Motz Wooden FM Radio adalah radio terkecil yang terbuat dari kayu dengan ukuran 37 x 26 x 19 mm dan berat hanya 17 g.

    Sama seperti radio lainnya, Motz juga bisa menangkap beberapa stasiun radio FM tetapi dengan cara menekan tombol yang ada di bagian depan.

    Untuk memastikan siaran radio diterima cukup baik, Motz juga telah dilengkapi dengan antena.

    Pada bagian belakang terdapat tombol On/ Off dan baterainya sendiri menggunakan baterai Lithium yang bisa diisi ulang melalui koneksi USB.

    Selain untuk fungsi radio, Motz juga bisa kita gunakan untuk berfungsi sebagai speaker eksternal yang bisa disambungkan ke ipod atau pemutar musik portabel lainnya.

    Motz dijual dengan harga 39.800 Won (sekitar Rp. 350.000).

    BalasHapus
  8. dulu waktu saya kecil, nenek pernah punya radio naional triplek itu..
    entah habis gempa radio itu radio itu sudah tidak ada lagi..

    BalasHapus
  9. suatu saat, akan ada mahasiswa yang ngutip teks ini untuk skripsi.

    BalasHapus
  10. fatchur:
    Karena dari kecil tahunya radio itu gede-gede, saya kok kurang sreg ngeliat radio yang ukurannya bahkan bisa digenggam tangan. jadi, gimanaaa gitu. Btw, Radio Rodja yang ada di blog Bung Fatchur keren abisss. Sayang koneksi saya lemot. :(

    fajar:
    Iseng-iseng aja ini, Pak. ^_^
    Terima kasih juga sudah mampir dan mengisi komentar.

    Darin:
    Iya, saya sempat mengalami jaman-jaman sandiwara radio itu. Tapi yang saya ingat cuma Saur Sepuh sama Kaca Benggala yang ceritanya benar-benar memberikan banyak pelajaran hidup yang berharga. Btw, emang di Solo ada angkringan? Adanya hik kali. ^_^

    ago:
    Wah, sepertinya radio tripleks itu dulu sempat jaya ya? ^_^

    Gus Ikhwan:
    Salam juga, Gus. Ya, sekarang saya juga lebih asyik streaming di internet. Cuma kadang kalo pas koneksinya lemot terpaksa gak bisa dengerin radio deh. :D

    Bisnis Online:
    Hmmm...

    iskandaria:
    Radio sepertinya tidak akan mati, Bung. Cuma mungkin bentuk dan pola penyiarannya aja yang berubah mengikuti perkembangan jaman dan kebutuhan penggunanya.

    fatchur:
    Wah, tambahannya menarik sekali tuh, Bung.
    Oke deh, terima kasih banyak atas tambahan informasinya. ^_^

    anno:
    Dulu saya juga sempat nyimpen, tapi setelah bolak-balik pindah kos entah di mana sekarang radio itu berada.

    Blog Hardim:
    Waduh, jadi besar nih kepala saya. ^_^

    BalasHapus
  11. Wow kang, radio ternyata lucu bgt ya jaman dulu, sayang skrg smakin bnyak ditinggalkan.. :)

    BalasHapus
  12. Radio Portable jaman Breakdance!!!
    Saya jadi inget, itu radio pertama yang saya punya, Mas Eko. Emang beli radio waktu itu gara2 kecanduan Breakdance.

    Tapi, banyak banget kenangan saya mengenai radio. Saya sempet kecanduan ndengerin sandiwara berseri di radio loh.

    Hayooo, sapa yang inget ama Arya Kamandanu ama Mak Lampir? Itu aslinya dari radio loh

    BalasHapus
  13. Numpang nge-reff sebentar Mas (lewat Radio-nya Gombloh):...........

    Tetapi Mimpi Apa Aku Semalam
    Kulihat Engkau Duduk Berdua
    Bercanda Mesra Dengan Seorang Pria
    Kau Cubit Kau Peluk Kau Cium

    Di Radio Aku Dengar Lagu Kesayangan Mu
    Kututupi Telingaku Dengan Dua Tanganku
    Biarlah Cepat Berlalu Dan Kugadaikan Cintaku

    BalasHapus
  14. Ngomongin soal radio, sekarang ini saya lagi ngekos dan cuman ngandalin radio sebagai satu-satunya hiburan (selain laptop kesayangan). Radio yang saya miliki di kos ini bisa dibilang radio butut karena nggak stereo..wkwkwkwkk

    BalasHapus
  15. Ini dia radio pertama di dunia yang bisa koneksi Internet. Namanya Pure Siesta Flow dari PURE, produsen perangkat elektronik asal Inggris.

    Untuk mengakses radio dari internet, Siesta Flow menggunakan koneksi WiFi. Tidak hanya itu, Siesta Flow juga dapat digunakan untuk mendengarkan konten, podcast atau bahkan melakukan streaming musik dari komputer yang sudah dilengkapi dengan perangkat WiFi. Siesta Flow juga menyediakan colokan input tambahan yang dapat digunakan untuk memutar iPOd maupun MP3.

    Harganya sih cuma 100 euro atau sekitar 1,4 juta rupiah, namun sayang (info yang saya dapat) Siesta Flow sementara ini belum dipasarkan diluar Inggris.

    BalasHapus
  16. Saya ga gitu akrab dengan benda bernama radio ini, lebih sering denger kata "radio" berhubungan dengan radio control, padahal cuma teknologi aja sama, bendanya sih jauh beda. Lagipula saya denger radio cuma kalo naik mobil aja.

    BalasHapus
  17. hmm ... sebagai jaeringan broadcast, radio agaknya tak akan pernah mati meski kini sudah banyak bermunculan media yang jauh lebih canggih dan memanjakan. wah, saya juga penasaran membuat postingan model kolom seperti itu. pak mars memang oke!

    BalasHapus
  18. The fachia:
    Iya Bung, sekarang jaman makin maju, makanya bentuk radio juga jadi lebih imut. :D

    Anthony Harman:
    Wah, kalo Koh Anthony sih ngalamin ya jaman itu. Saya masih SD, jadi ya gak tahu apa-apa. Ingatan tentang jaman itu hanya samar-samar...

    munawar am:
    Hahahaha, ini lagu ngetop jaman saya masih SD dulu... ^_^

    iskandaria:
    Sama kaya saya dulu waktu masih ngekos sewaktu SMA. Yang dipunyai ya cuma radio butut merk National itu.

    fatchur:
    Wah, nambah lagi nih informasinya.
    Thanks a lot, Bung...

    Reza Winandar:
    Nah, radio mobil itu juga termasuk ternologi terbaru dalamdunia perradioan. Hahaha...

    sawali tuhusetya:
    Setuju saya, Pak. Radio gak bakal mati sampai kapanpun juga. Mungkin hanya bentuknya saja yang berubah, tapi radionya gak bakal punah.

    BalasHapus
  19. yang radio Radio jaman Perang Dunia I kayaknya asyik ya bung. tapi apakah masih ada radio - radio seperti itu ya? yang kuno bukan nggak asyik loh.... (istri saya kuno, tapi asyik hehe...)

    BalasHapus
  20. wah ulasannya lebih detail dan lengkap daripada saya. Hihihi.... mantaps mas

    BalasHapus
  21. Blogger Terpanas:
    Saya pernah liat radio seperti itu di Pasar Klithikan Jogja, Mas. Bentuknya masih asli, lengkap dengan goresan-goresan dan kusamnya. Tapi gak tahu masih bisa hidup apa gak.

    arief maulana:
    Hehehe...

    BalasHapus
  22. Dapet dari mana tuh mas koleksi radionya,..
    Kpn2 boleh minjam g,...
    Ato msh punya cadangan,...?? boleh bagi2 dunk,.. hick hick hick

    BalasHapus
  23. Semestinya ini lebih ke perkembangan receivernya ya...

    Perkembangan receiver secara komersil barangkali bisa dilacak sejak 1920an akhir ketika mulai banyak perusahaan2 di Amerika dan Eropa membuat radio untuk menerima siaran komersil.

    Untuk radio Philips pertamakali membuatnya tahun 1928 dg bentuk yang masih sangat sederhana, hanya kotak. Berbeda dengan negara2 lain yang tak punya jajahan maka Belanda sebagai produsen Philips juga membuat radio dengan gelombang SW dan melempar produk2nya ke negara2 jajahannya seperti Indonesia. Maklumlah, radio kala itu juga digunakan sebagai tamba kangen para sinyo2 yg ditempatkan di Indonesia--bukan skdar alat penerima gelombang saja.

    Merunut gambar2nya maka:
    Radio National kayu, dibuat akhir 70an-pertengahan 80an. Model ini juga digunakan Cawang sebagai produknya.

    Radio besar Pre War I
    Radio kala itu masih menggunakan tabugn2 yg besar dan boros energi, banyak dipengaruhi gaya2 art deco dalam disainnya.

    Radio 80an:
    Gaya sportif yang portable, cocok utk trend breakdance kala itu.

    Radio PD II
    Sebenarnya lebih tepat setelah PD II karna di gambar itu radio philips tahun 55an,sudah menggunakan teknlogi yg lebih hemat listrik.

    Lalu yang kotak dan dibawahnya adalah radio era 70an akhir 60an saat transistor mulai menggantikan tabung. Yang bawhnya adalah BUSH DAC90A, saya punya. Buatan Inggris tahun 50an awal.

    Demikian tambahn dari saya, silakan mmapir ke blog untuk info2 lanjut...Salaman..

    BalasHapus
  24. pembahasan bersejarah ya....
    nah ini saya kasi alamat radio yang mungkin saudara2 dapatkan apa yang selama ini saudara2 cari. http://www.radiorodja.com/

    BalasHapus
  25. Setiap mendengar/membaca kata Radio,mata saya pasti langsung terbelalak.Gak tahu kenapa,mungkin radio sudah menjadi bagian dari jiwa saya (saya pernah jadi penyiar radio selama 5th).Dari dulu saya suka banget dengerin radio,dari jaman radio banyak di AM sampai pindah ke FM.Saya kangen sama masa kejayaan radio jaman dulu,apalagi dg pesawat radio jaman dulu.dulu saya punya radio yg pke triplek,tp sayang skrang sdah hilang entah kmna....ternyata radio tsb bkal menjadi kenangan

    BalasHapus
  26. ikutan ahhhh, primbon ane juga ane pasangin radio... :)

    BalasHapus