Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Jumat, 28 Mei 2010

HAMPIR genap 9 tahun di Jogja, saya baru tahu kalau Jogja punya satu warung khas yang menjual baceman puyuh. Letaknya tepat di depan nDalem Notoprajan, di daerah njeron beteng yang masih masuk wilayah Ngupasan.

Kebetulan dulu, waktu masih magang di Harian Jogja, saya diberi tugas liputan ke sana untuk edisi Minggu, 31 Mei setahun yang lalu. Karena penugasan itulah saya jadi tahu warung tersebut.

Namanya cukup aneh, warung makan Nesu Mulih Pak PM. Waktu saya tanya pada pemiliknya, nama tersebut dipakai karena dulu pembeli warung tersebut sangat banyak. Karena antri terlalu lama, beberapa pembeli yang tak sabar memilih pulang sambil marah-marah. Nah, dari sanalah nama Nesu Mulih diambil. Nesu = marah, dan mulih = pulang.

Seperti warung-warung tenar lain di Jogja, Nesu Mulih juga tampak biasa. Saya bahkan sampai tidak tahu kalau warung itulah yang saya cari. 2 kali bolak-balik lewat di depannya, saya sama sekali tidak menyangka warung tersebut yang saya cari. Sampai akhirnya saya turun dan bertanya pada... pemiliknya! Tentu saja langsung dijawab, "Ya ini, Mas." Walah..!

Apa keistimewaan Nesu Mulih? Menurut beberapa pembeli yang saya tanyai, kekhasan Nesu Mulih terletak pada bumbu dan sambalnya. Bumbunya terasa meresap di daging puyuh yang tersaji empuk, sedangkan sambalnya pas di lidah. Terlalu pedas tidak, terlalu manis juga tidak (sambal di Jogja manis-manis lho). Sayangnya, ketika saya coba mengorek resepnya, Bu Nani si pemilik Nesu Mulih tak mau buka rahasia. :))

Ketika saya mencobai sendiri, rasanya saya sependapat dengan beberapa pembeli yang saya tanyai. Daging puyuhnya sangat empuk. Berbeda sekali dengan baceman puyuh yang dijual di lesehan Malioboro tempat saya pertama kali mencicipi baceman puyuh. Sambalnya juga maknyus. Dan rupanya Ali Hamidi, teman kos yang menemani saya malam itu, juga sependapat. Lihatlah bagaimana dia begitu lahap menikmati menunya.

Berapa harganya? Sialnya, saya sendiri lupa bertanya. Waktu itu saya dan Hamidi pesan 2 baceman puyuh plus 2 es jeruk, total habis Rp26.000. Berarti seorang Rp13.000. Kalau harga es jeruknya Rp1.500 segelas, berarti baceman puyuhnya Rp11.500 seporsi. Ya, kurang-lebih segitulah. Mahal atau tidaknya baru bisa Anda simpulkan setelah merasakannya sendiri. :))


Penasaran ingin mencoba? Rugi rasanya kalau Anda tidak mencicipi menu warung yang resepnya sempat ditawar Rp125 juta ini.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

6 komentar:

  1. Jenis makanan ini kayak apa yah,, saya masih mikir-mikir, suatu saat kalo berwisata kuliner kayaknya perlu coba neh,,,,

    BalasHapus
  2. Wah, gila juga ya harga tawar resepnya. Pasti yang nawar itu bukan orang sembarangan. Paling enggak ia seorang pengusaha yang cukup kaya alias berduit. Menurut saya penawaran segitu sudah diperhitungkan olehnya secara matang untuk jangka panjang. Itulah kalau punya visi dalam berbisnis ^_^

    BalasHapus
  3. Kayaknya emang bener2 maknyus...
    Jadi pengin nyobain, bosen tiap hari makan pecel lele terus ^_^

    BalasHapus
  4. Patut dicoba sepertinya, sayang ngga ada fotonya ya bung, jadi ngga maksimal nih membayangkannya hehe :)

    BalasHapus
  5. Dari kasus di atas, salah satu kunci sukses bisnis makanan/kuliner menurut saya terletak pada racikan bumbu yang digunakan. Di kota saya banyak yang jual nasi goreng di pinggir jalan. Tapi sedikit sekali yang mampu bikin saya ketagihan untuk kembali mencoba lagi. Ternyata resepnya memang pada racikan komposisinya.

    BalasHapus
  6. @ semuanya:
    Hehehe, posting ini sebenarnya satu kesalahan, lha wong semestinya saya kasih gambar dulu baru diposting. Tapi sepertinya saya dulu salah pencet tombol, seharusnya mencet tombol "Draft", tapi malah kepencet "Publish". Hehehe, maaf...

    BalasHapus