Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Jumat, 07 Mei 2010


Maria 'Miyabi' Ozawa.
DUGAAN saya ternyata tidak meleset. Setelah rencana mendatangkan Maria Ozawa alias Miyabi ke Indonesia dalam rangka pembuatan film Menculik Miyabi ditentang Front Pembela Islam (FPI), Odi Mulya Hidayat selaku produser film tersebut berlaku cerdik. Miyabi batal didatangkan ke Indonesia, Maxima Pictures lantas menayangkan Suster Keramas yang dibintangi Rin Sakuragi.

Waktu itu saya memprediksi, Maxima Pictures tetap akan memproduksi Menculik Miyabi meski terpaksa menerbangkan seluruh pemain dan krunya ke Jepang karena Miyabi "dicekal" FPI. Nah, Suster Keramas ditayangkan sebagai pengalih perhatian.

Nyatanya FPI memang terkecoh. Rin Sakuragi justru jauh lebih terkenal di Jepang, tapi memang namanya tak seterkenal Miyabi di Indonesia. Film yang menampilkan Rin Sakuragi lengkap dengan adegan syurnya malah tak digubris oleh FPI. Mungkin mereka pikir kondisi sudah aman karena Miyabi batal datang.

Ada 2 hal yang saya garis-bawahi menyikapi kejadian ini. Pertama, berita pensiunnya Maria Ozawa dari dunia adult video (AV) yang dihembuskan media tertentu menjelang pemutaran film Menculik Miyabi. Kedua, sikap FPI yang seolah tak berdaya melawan "kekuasaan" para penguasa industri film. Mari kita diskusikan bersama-sama, Bung.

Maria Ozawa Pensiun dari Dunia AV?
Kamis (6/5/2010) kemarin film Menculik Miyabi mulai tayang di bioskop. Lembaga Sensor Film (LSF) meloloskan film tersebut dengan kategori Remaja (R) karena dianggap tidak mengandung unsur pornografi. FPI mempertanyakan keputusan LSF, tapi akhirnya hanya bisa pasrah karena dalam proses sensor LSF sudah melibatkan sejumlah pemuka agama. Pemutaran perdana film tersebut juga 'dibumbui' berita heboh: Miyabi disebut-sebut sudah berhenti dari profesinya sebagai bintang film porno.

Usia Maria Ozawa saat ini baru 24 tahun, masih sangat muda untuk ukuran seorang pemain film porno. Pertanyaannya, mungkinkah Miyabi berhenti dari dunia film porno di usianya yang masih sangat belia ini?Jujur saja, saya meragukan kebenaran fakta berita tersebut meskipun dilaporkan oleh sejumlah media ternama. Salah satu media yang mengangkat berita tentang berhentinya Miyabi dari dunia film porno adalah detikHot. Dalam sejumlah berita seputar pemutaran film Menculik Miyabi, detikHot menyebut Maria Ozawa sebagai "mantan bintang film porno". detikHot bahkan menurunkan laporan yang menyebut Maria Ozawa ingin banting stir menjadi bintang film komedi. Nyatanya, Januari 2010 lalu 1 judul film porno baru yang dibintangi Miyabi meluncur ke pasaran (sumber). Bukan tidak mungkin film-film selanjutnya bakal meluncur pula ke pasaran. Artinya, Miyabi sama sekali jauh dari kata "pensiun" sebagai bintang film porno.

Usia Maria Ozawa saat ini baru 24 tahun, masih sangat muda untuk ukuran seorang pemain film porno. Bintang film porno Jepang lainnya seperti Aika Miura, Keiko Nakazawa, Madoka Ozawa, atau Haruki Mizuno masih terus bermain dalam film porno sampai usia 30-an. Bahkan Rui Sakuragi, ratunya bintang film porno Jepang di era 1990-an, masih "laku" sampai berusia lebih dari 35 tahun. Film terakhir yang dibintangi Rui Sakuragi dirilis Oktober 2007, saat usianya lebih dari 37 tahun. Pertanyaannya, mungkinkah Miyabi berhenti dari dunia film porno di usianya yang masih sangat belia ini?

Satu fakta lain yang menarik diketengahkan, kini Miyabi semakin "berani" saja. Dalam film-film terbarunya area terlarang/genital Miyabi sudah tidak di-blur lagi alias uncensored. Ini adalah sebuah kemajuan bagi seorang pemain film porno. Dan, para penggemar Miyabi juga sama tahu kalau blasteran Prancis-Kanada dan Jepang ini terikat kontrak di lebih dari 3 rumah produksi. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah, Miyabi masih laku keras dalam industri film porno Jepang! Jadi, mungkinkah ia berhenti dari dunia film porno di masa keemasaannya ini?

Mempertanyakan Sikap FPI
Saya sendiri sebenarnya bingung dengan sikap FPI. Dulu, ketika isu Menculik Miyabi sedang santer-santernya, mereka bilang akan menghadang segala bentuk pornografi. Makanya FPI mencekal Miyabi yang dianggap sebagai ikon pornografi dan memprotes pembuatan film Menculik Miyabi. Lucunya, ketika filmnya selesai dan beredar mereka terkesan diam saja. Lihat saja betapa suksesnya film ini diputar di beberapa bioskop pada pemutaran perdananya kemarin. Kemana FPI?

FPI seperti tidak sadar kalau selama ini sudah banyak film-film erotis mengarah ke pornografi yang ditayangkan di bioskop. Meskipun pemainnya artis lokal semua dan bukan bintang film porno, tapi aksinya tak kalah panas, tak kalah vulgar.Lalu, ketika film Suster Keramas yang dibintangi Rin Sakuragi (bedakan dengan Rui Sakuragi) tayang dan menyedot 1,3 juta penonton, FPI juga tak beraksi. Ceritanya jadi lebih aneh karena FPI seperti tidak sadar kalau selama ini sudah banyak film-film erotis mengarah ke pornografi yang ditayangkan di bioskop. Meskipun pelakunya pemain lokal semua dan bukan bintang film porno, tapi aksinya tak kalah panas, tak kalah vulgar. Sebut saja adegan topless Andi Soraya dalam film Hantu Puncak Datang Bulan (dalam film itu juga bertebaran adegan-adegan mesum). Kemudian ada aksi Bella Shapira yang hanya berbikini ria di film Arisan Brondong, ada pula aksi-aksi menantang Dewi Perssik di film Paku Kuntilanak, dan masih banyak lagi yang lain. Kemana saja FPI selama ini?

Dalam pandangan saya, kalau memang FPI konsisten memberantas pornografi, habisi saja semua film yang mengumbar adegan-adegan erotis dan vulgar. Sampai sekarang film-film seperti itu masih tetap diproduksi, dan bakal terus menghiasi layar bioskop di tanah air kalau FPI tak beraksi. Menunggu sikap pemerintah? Hehehe, sampai kucing bertanduk pun jangan harap deh pemerintah peduli dengan masalah seperti ini.


Poster film Suster Keramas yang dibintangi Rin Sakuragi.
Kalau benar-benar mau menghadang pornografi, mestinya film yang dibintangi Miyabi dan Rin Sakuragi jangan sampai tayang di bioskop. Kenapa? Karena mereka berdua adalah ikon bintang film porno. Meskipun film yang mereka bintangi bukan film porno, tetap saja mereka membawa pesan-pesan pornografi yang melekat pada sosok masing-masing. Yang tadinya tidak tahu siapa itu Maria Ozawa kemudian jadi tahu. Penasaran melihat kecantikan Maria Ozawa, mereka lantas mencari informasi tentang Maria Ozawa di internet. Voila, tersajilah jutaan foto syur Maria Ozawa di internet yang lantas membuat orang yang tadinya tidak tahu siapa itu Maria Ozawa malah jadi keranjingan menonton film-film pornonya.

Sebagai analogi saya contohkan sikap Indonesia yang tidak mau berkompromi dengan Israel. Karena Indonesia tidak menolerir kesewenang-wenangan Israel di bumi Palestina, jangan harap ada orang Israel yang boleh masuk ke Indonesia. Kalau sampai ada orang Israel diijinkan masuk, dunia akan menganggap Indonesia sudah tidak lagi menentang Israel. Hal sama sepertinya berlaku untuk perang terhadap pornografi.

Semoga bisa menjadi bahan diskusi yang hangat. Saya tunggu reaksinya, Bung...


NB: Jujur, berat banget rasanya mengangkat topik ini. Takut nanti malah kena ayat "Yaa ayyuhaladzina amanuu li ma ta'quluuna ma laa taf’aluuna. Kaburo maktan indallahi anta'quluu maalaa taf‘aluun" (QS ash-Shof 2-3). ^_^


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

42 komentar:

  1. Bismillah,

    Bener Bung Eko, apapun bentuknya entah filem paling sopanpun tetap itu akan mempromosikan yang di filemkan. Coba bung lihat kegiatan-kegiatan sosial yang di adakan perusahaan-perusahaan bisnis atau partai-partai tertentu. Sepertinya mereka tidak mempromosikan dirinya...Kegiatan mereka berbau sosial semua seperti misalnya Kunjungan Sosial ke Panti Yatim Piatu itu atau Baksos ini baksos itu. Kalau mereka iklash tentunya gak usah ada label atau logo perusahaan dan partai...ternyata ada udang di balik batu !

    Demikian pula dengan bintang porno,ekstrimnya bisa aja mereka mengadakan acara2 sosial (he he ekstrim ya) ...demi mempromosikan mereka apalagi filem di bioskop .. mereka mau banget.

    Memang FPI kok gak tanggap, jangan2 ada udang di balik batu juga di hati-hati mereka....

    Hati-hatilah dengan populeritas ...kalau karena agama sebetulnya sudah ada tuntunan dari Nabi bagaimana amar ma'ruf nahi mungkar ...bukan dengan ngobrak ngabrik sana sini. Ada hal yang lebih darurat yang perlu di dakwahkan pada ummat. Yaitu : Tauhid !

    Itu saja, Bung....

    BalasHapus
  2. Pertama saya akan bilang tak ada rasa salut sedikitpun buat Maxima Pictures atas perjuangannya dalam memproduksi film Menculik Miyabi dengan bintangnya Maria Ozawa. Yang ada justru rasa miris. Disaat kita berusaha menjauhi segala hal-hal yang berbau pornografi, ini malah berusaha seolah-olah sampai titik darah penghabisan demi uang walaupun harus dengan mempopulerkan seorang ikon pornografi.
    Seperti yang anda katakan bung, ketika nanti orang mulai sdikit tahu latar belakang Maria Ozawa, sangat mungkin sekali mereka akan cari tahu lebih dalam lagi siapa Maria Ozawa dan bagaimana actionnya di depan kamera. Dan tak menutup kemungkinan akan jadi ketagihan.
    FPI bukan satu-satunya yang punya kuasa untuk mencegah semua itu. FPI cuma organisasi "kecil" yang punya peduli amar makruf nahi munkar namun tidak punya kuasa. Masih ada pemerintah dan negara. Harusnya pemerintah-lah yang lebih gencar dalam mengantisipasi hal-hal yang akan berakibat buruk bagi moral rakyatnya.

    Kita kaum blogger juga sama saja tak punya kuasa. Tapi kita masih punya celah untuk berkonstribusi menjaga moral bangsa yaitu lewat tulisan. Semoga...

    BalasHapus
  3. atas nama profesionalitas kadang sulit dinalar, sama halnya nalar mentalitas menerabas yang sudah menjadi lifestyle sebagian masyarakat bangsa kita.... apapun diterabas untuk kepentingan yang mereka definisikan sendiri dan menikmati dari hasil kepentingan itu

    BalasHapus
  4. Sulit Bung kalau LSF sudah menyatakan filmnya layak tayang. Bagaimana pun juga, kita tidak bisa main demo begitu saja tanpa melihat materi filmnya seperti apa. Kalau cuma karena icon pemain yang negatif, alasan untuk menghentikan/mencegah filmnya agak lemah saya rasa. Untuk menuntut sesuatu, tentunya harus kita dasarkan atas pertimbangan obyektif. Bukan semata karena sentimentil atau alasan yang terlalu normatif.

    Kalau mau tegas, kenapa tidak diberlakukan wajib setor KTP saja saat mau beli tiket di loket bioskop? hehe. Jadi untuk film yang agak panas hanya boleh untuk penonton berusia minimal 21 tahun misalnya. Atau minimal harus tahun kelahiran sekian. Repot juga kalau itu diterapkan. Dan saya juga pesimis pihak bioskop sudi menjalankan aturan itu. Tapi menurut saya aturan tersebut lebih fair ketimbang mencoba mencegah penayangan film demi alasan moralitas.

    Menikmati hiburan kan salah satu hak konsumen. Dan memproduksi karya untuk menghibur juga salah satu hal yang tidak boleh dikekang. Hmm, argumen saya ini terlalu mentah gak ya ^_^

    BalasHapus
  5. bismillah
    sebenarnya yang dikhawatirkan dari tayangnya film ini apa sih? apa karena berpotensi merusak akhlak atau apa? itu dulu mungkin yang harus didefinisikan terlebih dahulu. secara pribadi, saya berpendapat bahwa tayangnya film ini boleh-boleh saja, toh saya gak bakalan bisa nonton ko:-) jauh dari kota, dan kalau pun sudah ada edisi donlotannya, saya tidak tertarik untuk menontonnya.
    tapi ketika kita bicara dalam konteks pendidikan, tentunya banyak pihak yang menyayangkan lolosnya film ini sehingga bisa ditayangkan. hal ini karena material film itu sendiri yang dianggap dapat mengakibatkan kerusakan moral berupa maraknya pornografi dan pornoaksi ... cmiiw
    salam

    BalasHapus
  6. iya to Om.. kemana FPI selama ini.. seharusnya konsisten melawan pornografi....

    BalasHapus
  7. rachmadi triatmojo:
    Pak Rachmadi, apa yang Bapak sampaikan saya sangat setuju. Dan analogi yang Bapak contohkan rasanya lebih mewakili apa yang hendak saya sampaikan. Jadi, walaupun bukan film porno, Miyabi-nya tetaplah bintang film porno atau bolehlah kita bilang sebagai duta pornografi.

    Yang saya persoalkan di sini adalah efek dari film tersebut, meskipun mungkin filmnya tidak mengumbar pornografi.

    fatchur:
    Nah, itu dia yang mau saya tekankan sebenarnya. Efek dari film inilah yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan, meskipun filmnya sendiri sama sekali tidak mengandung unsur pornografi. Apalagi media-media massa santer memberitakan bahwa Miyabi adalah nitang film porno, bintang film dewasa, bintang film panas, etc.

    munawar am:
    Ah, saya suka sekali dengan istilah Kang Nawar ini. Ya, atas nama kepentingan yang dibalut dengan kualitas mentalitas yang rancu inilah penyebab semua ini terjadi.

    iskandaria:
    Inilah ironisnya Indonesia, Bung. Kita punya hukum, tapi keadilan tidak ditegakkan sebagaimana mestinya. Kita punya departemen yang mengurusi masalah agama, tapi urusan moral lepas tangan. Padahal moral itu kan termasuk dalam domain agama.

    Untuk soal hak konsumen menikmati hiburan dan hak memproduksi suatu materi hiburan, saya tidak sependapat dengan Bung Is. Kita memang tidak bisa dikekang, kita punya hak, tapi hak-hak tersebut memiliki batasan manakala ia bersinggungan dengan kepentingan orang lain. Kita bebas merentangkan tangan semau kita, tapi apakah kita akan tetap seenaknya merentangkan tangan kalau di kanan-kiri kita ada orang sedang duduk santai? Tidak, bukan?

    amsi:
    Nah, saya malah belum menyentuh ranah pendidikan. Kalau soal yang satu ini juga disinggung, makin parah lagi film ini jadinya.

    blogger gembloeng:
    Ya iyalah, masa ya iya sih? :p

    Anyway, nice discussion, pals...

    BalasHapus
  8. Salam sahabat,
    kalau udah mengangkat nama profesionalitas kadang sulit dinalar bung,
    tapi dari 2jam film di play miyabi cuman ada sekitar 20 menitan kok, itupun mayoritas di awal cerita dan ditengah maupun akhir cerita cuman nongol sesekali selebihnya dimainkan atau diperankan oleh peran pengganti asal taiwan kalau ga salah dan miyabi cuman syuting di tokyo
    karena gus udah liat filmnya dari awal sampai akhir

    BalasHapus
  9. Sampai sekarang saya belum melihat isi film ini, tapi yg perlu diingat bahwa Industri film memiliki otak yg cemerlang untuk merusak akhlak Kita hanya demi materi..

    BalasHapus
  10. Inilah bukti kekuatan brand. Orang yang belajar ekonomi atau marketing komunikasi mungkin bisa menjelaskannya lebih panjang lebar lagi.

    Kasusnya mirip dengan munculnya majalah playboy indonesia dulu. Isi majalah itu mungkin tidak lebih seronok dari tabloid-tabloid yang mengumbar syahwat. Tapi brand playboy terlalu kuat dikalahkan oleh contentnya sendiri.

    BalasHapus
  11. jujur saja saya belum menonton filmnya, bung eko. namun dari berbagai pemberitaan, agaknya stigma miyabi yang identik dg film syur tak terbukti di film tersebut. bahkan, konon film ini sarat humor yang layak ditonton anak2 remaja. ttg sikap FPI? hmm ...

    BalasHapus
  12. Maaf bung, kalau saya mau komentar secara ilmiah nggak berani karena nggak ada ilmunya. Mau dari sudut agama saya juga takut karena ilmunya belum ada. Saya lebih condong kepada belajar mendidik diri saya dan keluarga saya untuk memboikot diri kami dari melihat sesuatu yang bersifat pornografi. Karena saya yakin. Ketika kami dan semua keluarga yang ada di indonesia mau antipati terhadap pornografi. Sehebat, sevulgar apapun film, majalah dan lain-lain yang berbau pornografi tetap tidak akan laku.

    BalasHapus
  13. Saya juga Bung Eko, tidak tahu berkomentar apa. Ilmu ilmiah apalagi agama masih kurang. Sekedar uneg-uneg, untuk film, sebagian besar tidak mengedepankan pendidikan, hanya sebagai hiburan, terus mengenai sikap FPI, no comment. Lebih dari itu , realita ini adalah sebuah model sistem global penjajahan bangsa ini secara terselubung. Saya jadi ingat tentang food, fashion, film adalah cara orang dari luar untuk menghancurkan bangsa ini.

    BalasHapus
  14. Seharusnya kita menyikapi penayangan film tersebut dengan lebih dewasa.
    Toh, film tersebut tentu saja beda dengan Suster Keramas, tanpa adegan syur dan sejenisnya.

    BalasHapus
  15. Gus Ikhwan:
    Iya Gus, kalau yang itu saya juga tahu. Yang saya tekankan di sini adalah efek dari film tersebut. Dulu mungkin hanya orang yang doyan film porno saja yang kenal Miyabi, sekarang seluruh Indonesia tahu siapa Miyabi. Hebat kan? So, saya lebih mengkhawatirkan efeknya.

    The Fachia:
    Hehehe, saya suka ini! ^_^

    Blog Hardim:
    Ya, Bung Hardim benar. Imej negatif Miyabi inilah yang dipermasalahkan. Dulu mungkin hanya orang yang doyan film porno saja yang kenal Miyabi, sekarang seluruh Indonesia tahu siapa Miyabi. Hebat kan? So, saya lebih mengkhawatirkan efeknya. Apalagi dibumbui berita sudah "tobat"-nya Miyabi dari dunia esek-esek, padahal film terbarunya masih muncul Januari 2010 lalu.

    sawali tuhusetya:
    Iya, Pak. Memang film-nya kocak habis, tapi kenapa harus Miyabi yang dipilih? Dulu mungkin hanya orang yang doyan film porno saja yang kenal Miyabi, sekarang seluruh Indonesia tahu siapa Miyabi. Hebat kan? So, saya lebih mengkhawatirkan efeknya.

    Blogger Terpanas:
    Apa daya, Mas. Hanya iman itulah benteng kita yang terakhir.

    ago:
    Yup, orang bilang film adalah cerminan budaya sebuah bangsa. Apakah kita mau bangsa Indonesia diidentikkan dengan pornografi gara-gara Menculik Miyabi?

    Anthony Harman:
    Memang, film-nya kocak abis, Koh. Dan beda jauh dengan Suster Keramas, cuma yang saya tekankah adalah efek dari film tersebut. Dulu mungkin hanya orang yang doyan film porno saja yang kenal Miyabi, sekarang seluruh Indonesia tahu siapa Miyabi. Hebat kan? So, saya lebih mengkhawatirkan efeknya.

    Soal kedewasaan, hehehe...

    BalasHapus
  16. Iya Bung, saya mengerti bahwa hak kita juga bersinggungan dengan hak orang lain. Saya juga mengerti tentang kekhawatiran akan dampak luas dari pemilihan Miyabi sebagai bintang filmnya.

    Tapi kalau kita dasarkan pada hukum positif negara ini, alasan menentang pemilihan pemain film tertentu rasanya kurang punya dasar hukum yang kuat. Maaf, ini cuma pengetahuan cetek saya soal hukum. Kalau alasan untuk menentang pemutaran film tertentu sih saya rasa masih punya landasan hukum yang kuat. Nah, yang saya lihat kurang punya pondasi yaitu ketika kita ingin menentang pemain tertentu.

    Setahu saya, tidak ada hukum/pasal yang mengatur bahwa bintang film atau pemain tertentu tidak boleh dipilih dalam sebuah produksi film. Kalau alasan moralitas memang bisa sih dijadikan landasan untuk menentangnya. Tapi lagi-lagi kita kan harus kembali ke hukum positif yang berlaku.

    Ini yang mungkin menjadi titik lemah untuk bisa menentang Miyabi main film Indonesia. Maaf, ini cuma analisa dangkal dari saya yang belum terlalu melek hukum.

    BalasHapus
  17. Sebenarnya saya tidak mengerti dengan jalan pikiran FPI? Mereka itu benar mau memberantas pornografi atau sok-sokan bawel biar kesannya "kuat"?
    Jangankan Miyabi, film lokal saja yang jelas-jelas pornografi bisa tayang. Kenapa tidak itu aja dulu yang dibahas, yang diurus. Sama kayak lembaga sensor film. Ya kalau memang tidak boleh, sekalian saja buat peraturan ketat. Tapi kok semua peraturan lebih mirip peraturan karet yaa...

    BalasHapus
  18. Saya ikut kata Deddy Mizwar saja lah, usahakan membuat film yang mendidik bangsa, bukan malah menjerumuskan bangsa :)

    Masalah FPI, saya malas mengomentari. LSF itu yg harusnya ikut bertanggungjawab, film2 dgn adegan2 panas koq bebas berkeliaran. Ngga ada bagus2nya tu film.. betul Bung, habisi saja :)

    Untuk film menculik Miyabi, kalau memang tujuannya komedi, anda-anda sebagai pembuatnya sukses besar. Film ini bikin saya ngakak, bahkan sejak dari ide awalnya. Ngakak miris sobat. Kemana otak anda? Dimana intelektual anda? Kalo mau bikin film, fikir 1000 kali bung! Kalo cuma recehan yg kalian cari, ya itulah yg kalian dapat. Ngga lebih!

    Buat yg nonton ni film. Selamat. Anda masuk golongan orang2 ngga bernalar :)

    BalasHapus
  19. ga tertarik nonton film ini.
    rasanya kayak ga ada pesan moral positif sama sekali deh..

    tp sengaja banget tuh triknya.
    digembor-gemborin bakal ga ditanyangin, trus baru ditanyangin beberapa waktu kemudian biar pada bnyk yg nonton..

    BalasHapus
  20. iskandaria:
    Itulah dilemanya, Bung. Sebagaimana kita ketahui, hukum positif yang dipakai NKRI sampai detik ini adalah produk penjajah, produk hukum pemerintah kolonial Hindia Belanda yang tujuannya adalah melanggengkan kepentingan penjajahan mereka. Dan, yang jelas, hukum itu tidak sesuai dengan norma dan budaya bangsa Indonesia karena yang membuat orang Belanda. Tapi hukum itulah yang sampai sekarang masih kita pakai.

    Contoh kontradiksi hukum positif dengan norma adalah soal perzinahan. Di hukum warisan pemerintah kolonial Belanda ini, definisi perzinahan adalah hubungan badan antara 2 orang atau salah satunya masih terikat dalam sebuah pernikahan. Artinya, hubungan badan antara bujang-gadis atau janda-duda tidak termasuk sebagai perzinahan menurut hukum positif itu. Padahal, budaya dan moral bangsa Indonesia tidak menganggapnya seperti itu.

    Berhubungan dengan soal Miyabi, kalau kita hanya menyandarkan logika pada hukum positif bakalan repot. Ya, secara legal formal tidak ada masalah, tapi... Silakan lanjutkan sendiri tapinya. ^_^

    zee:
    Hehehe, ternyata antipati sama FPI to? Mereka itu mah cuma gagah-gahan aja, Mbak. Eh, maaf buat anggota FPI. Soal LSF? No comment aja deh saya.

    Darin:
    Nah, ini yang saya setuju. Poinnya di sini memang. Kalau kita cuma memandang film sebagai hiburan, it's ok. Gak ada masalah sama sekali. Cuma, sekali lagi, film adalah cerminan budaya sebuah bangsa. Dan, apa yang kita tonton mencerminkan siapa kita sesungguhnya. Itu!

    presyl:
    Pesan morilnya mungkin gak ada, Mbak. Yang ada pesan materil alias kepentingan uang. Wakakaka...

    BalasHapus
  21. Buat Bung Darin, wah, sampe segitunya mencela yang sudi menonton film ini ^_^ Bagi saya sih, orang yang mau nonton film ini bisa beragam motifnya. Kalau saya sih karena suka mengamati perfilman Indonesia merasa "wajib" untuk nonton film ini. Tapi sayang, tidak tayang di bioskop 21 di kota saya.

    Kita tidak bisa main judge begitu saja dengan orang yang sudi menonton film tertentu. Siapa tau dia cuman pengen menikmati hiburan. Dan kalo kebetulan filmnya bergenre komedi (yang salah satu pemainnya adalah icon porno), saya rasa kita tidak bisa main cela begitu saja kepada yang mau menontonnya. Belum tentu mereka punya otak mesum atau doyan film porno. Belum tentu pula mereka sekadar termakan promo film atau trik marketing produser.

    Saya sendiri nonton film Suster Keramas yang notabene jauh lebih cabul dan parah banget. Niat saya bukan mau menikmati cabulnya itu, tapi demi mengamati perkembangan film Indonesia. Seorang pengamat film tentunya tidak cuma harus nonton film yang idealis kayak film-filmnya Riri Riza atau Dedy Mizwar, tapi juga harus nonton yang parah-parah atau yang komersil abis ^_^

    Dari situ, kita bisa menilai secara obyektif deh. Bukan cuma main hakim tanpa terlibat langsung atau menonton langsung.

    Buat Bung Eko, trims atas diskusinya yang mencerahkan.

    BalasHapus
  22. Maaf, sebenarnya saya pengen banget menanggapi, tapi apa daya, saya ga tahu topiknya ke mana. Saya tidak punya televisi (memang tidak mau membeli), dan sangat jarang mengamati perkembangan film.

    Mungkin komentar saya hanya buat hiburan saja :)

    BalasHapus
  23. iskandaria:
    Hahahaha, peace, Bung. Saya yakin maksud ucapan Bung Darin bukan ditujukan untuk SEMUA penonton film tersebut, tapi spesifik pada yang nonton dengan harapan melihat Miyabi cabul-cabulan (apa malah cabul beneran ya? :p). So, let's cool it down. ^_^

    rismaka:
    Di sini gak ada komentar hiburan, Bung. Semua sama saja, sesuai dengan kapasitas masing-masing. So, enjoy aja. ^_^

    BalasHapus
  24. Emang cantik sih wajahnya... siap juga yang nggak ngiler :D
    Sayang dia tidak bisa mensyukuri kecantiakn yang diberikan oleh Tuhan, atau mungkin menjadi pemain film porno adalah wujud dari rasa syukurnya??? hehehe... saya juga nggak tahu

    BalasHapus
  25. Waduh, aku jadi kepingin nonton film ni,, heheh.. ketinggalan lagi dah..

    cari ah.. tengkyu mas eko, infonya membuahkan inspirasi.. hahaha

    BalasHapus
  26. Lho mas, kemarin saya baru ikut grup miyabi tobat di FB, bener ngak tu ya?

    BalasHapus
  27. itu cuma akal-akalannya produser untuk mendongkrak popularitasnya sehingga membawa nama miyabi. tetapi semakin banyak diprotes maka akan semakin filmnya dicari orang ...

    BalasHapus
  28. Kalo menurut saya pribadi mengenai penayangan film ini sih tidak masalah asal jalan ceritanya bukanlah yang berbau pornografi dan vulgaritas, namun apa boleh dikata karena image dari sang bintang yang identik dengan hal2 gituan bisa jadi para penonton membayangkan dan fokus pada si Miyabinya saja meski film tersebut berbau komedi. :)

    Sayang klo minggu2 awal tayang gini tiket selalu ludes duluan...jadi kemarin ga sempat nonton..hi.hi...

    BalasHapus
  29. saya rasa dalm hal ini yang paling penting untuk dilindungi adalah, anak-anak.
    sebaiknya para orang tua dapat secara bijaksana menjaga anak-anaknya supaya tidak terpengaruh pornografi ataupun pornoaksi

    BalasHapus
  30. Wah ternyata diskusinya masih hangat ya :)
    Apa yang dibilang mas Iskandar benar, kalau sebagai pengamat film itu harus melahap segala jenis film tanpa memandang genre dan idealisme. Tapi disini saya mencoba melempar opini sesuai apa yang saya fikirkan saja koq, ngga lebih.

    Yang saya takutkan adalah, bila tema film2 lokal terus dibiarkan berkecenderungan 'short-term fun', alias ngga ada nilai inspirasi yang membekas, apalah jadinya negri ini ke depan? Apa coba yg bisa kita ceritakan pada anak atau kolega tentang 'nilai hidup' di film Miyako..eh Miyabi?

    Kalau saya pribadi, saya merasa hak saya untuk mendapat sebuah pembelajaran telah 'diperkosa' oleh film yang ngga ada mutunya sama sekali. Waktu terbuang, otak dijejali hal2 ga penting, dan kayaknya saya malu kalo ditanya teman: abis nonton apa di bioskop? Haduh, ngga kebayang.

    Bagi yg mau nonton ni film, it's ok. Saya tunggu komentarnya, mudah2an bermanfaat bagi hidup Anda :)

    *peace*

    BalasHapus
  31. Buat bung Darin lagi ^_^

    Mengapa kita tidak kembalikan fungsi utama film sebagai sebuah hiburan saja? Seperti kata Om Dedy Petet. Kalau mau memperoleh pembelajaran kan tidak mesti harus lewat film. Tapi saya juga setuju kalau film-film Indonesia seharusnya lebih mengutamakan unusr edukasi di samping nilai hiburannya.

    Soal bermanfaat bagi hidup atau tidak, ya nggak harus sampe segitunyalah Bung. Kesannya kok jadi serius banget memandang film (sampai terpikir bermanfaat untuk hidup segala...hehehe).

    Intinya, film itu hakikatnya sebuah hiburan. masalah ada unsur pembelajaran atau tidak, ya bukan itu fungsi utamanya. Pun masalah waktu terbuang dan otak dijejali hal-hal nggak penting. Kok kayaknya jadi serius banget dalam menikmati hidup ini..hehehe.

    Orang mau nonton film komedi kan tujuannya pengen dapet hiburan. Duit ya duit dia. Kenapa kita malah sinis dengan menilai mereka cuma buang waktu dan dapet hal-hal gak penting? ^_^

    Peace and enjoy aja kali ya.

    BalasHapus
  32. alhejawi
    Bersyukur diberi wajah cantik dengan cara menjadi bintang film porno? Waw, kalo memang itu yang dilakukan Miyabi, saya cuma bisa geleng-geleng kepala deh. ^_^

    Ali | Journal Of Student:
    Inspirasi apa "inspirasi", hayo? :p

    Jamal:
    Waduh, sudah ada grupnya segala. Yang buat grup itu siapa, Bung?

    joe:
    Setuju! Kontrak Miyabi pasti mahal, belum lagi ongkos pembuatan film di Tokyo, dll. Kalau tidak dipromosikan habis-habisan, bisa jadi produsernya tekor nanti.

    Handoko Tantra:
    Mencari hiburan, membuat film komedi, gak harus harus dengan Miyabli kaleee... :D

    andry sianipar:
    Setuju, Lae. Tapi mungkin kita bisa mencegah anak kita untuk menonton film Miyabi di bioskop, lantas bagaimana dengan pemberitaan seputar Miyabi yang sangat marak belakangan ini? Dalam setiap berita selalu disebutkan kalau Miyabi adalah bintang film dewasa, film panas, etc. Bagaimana kiya bisa melindungi anak-anak kita kalau begini caranya?

    Darin:
    Pertanyaannya, apakah produser film-film seperti ini memikirkan masa depan negara dan bangsa? ^_^

    iskandaria:
    Langsung amaupun tidak langsung, apa yang kita tonton pasti mempengaruhi sikap dan tindakan kita. Bahkan bisa juga membentuk sifat lho, so bisa dibilang bahwa film tidaklah semata-mata sebuah sarana hiburan, tapi bisa juga menyelipkan pesan-pesan tertentu. Dan, untuk membuat film yang "mendidik" tak melulu harus seperti Laskar Pelangi yang bercerita tentang dunia pendidikan. Yang penting itu pesannya. Nah, apa pesan yang bisa kita tangkap dari si Miyabi? Tidak ada, kecuali hiburan itu sendiri. Pertanyaannya sekarang, kalau cuma mencari hiburan, apakah harus dengan menonton film ini?

    Semalam saya menonton film "Blow" yang dibintangi oleh Johnny Depp dan Penelope Cruz. Ceritanya berkisah tentang kehidupan tragis bandar narkoba, di mana dia bercita-cita meraih kekayaan dengan menjadi bandar narkoba dan dia mendapatkannya. Namun sayang, pada akhir hidupnya ia menderita karena bolak-balik dijebak temannya sehingga harus dipenjara sampai 5 kali. Keluarga menjauhinya, anak-istri meninggalkannya, apalagi "teman-teman" sesama bandar.

    Film "Blow" itu ceritanya tentang bandar narkoba, film yang bisa jadi sangat tidak mendidik kalau kita hanya melihat pada jalan ceritanya. Tapi film itu membawa pesan yang sangat hebat, saya sampai menitikkan air mata menontonnya. Ini yang saya sebut film "mendidik" tanpa harus menjadi serius.

    BalasHapus
  33. disana disini penuh miyabi, ,,, siapa toh miyabi ituh ^emot mikir^

    BalasHapus
  34. membaca-baca komen para sahabat di atas, saya jadi minder sendiri. semuanya baik, dan membawa nilai-nilai kebenarannya sendiri-sendiri.
    2 hal yang perlu saya garisbawahi sebagai penyikapan saya atas fenomena pemutaran film ini, yaitu image diri (bisa menjadi brand image) dan kedewasaan diri.
    Miyabi sukses luar biasa membangun image-nya sebagai artis JAV, ke seluruh dunia, malah. Dgn citra diri yg melekat pdnya saat ini, secara tidak langsung ia telah sukses mereduksi eksistensi diri menjadi hanya berputar di sekitar masalah sensualitas dan seksualitas dirinya. ketika ada yg bertanya, "Anda tahu Miyabi?" hampir bisa dipastikan jawabannya, "...o, Miyabi yang 'itu' kan?". kasihan si Miyabi.... citra diri yg melekat ini yg akan setia mengiringi ke mana pun ia pergi, atau menjalani lakon hidup. terkecuali ada upaya dan tekad yg teguh utk berubah dan tentunya berdasarkan pembuktian waktu.
    untuk kedewasaan, lebih pada kedewasaan kita memandang Miyabi dan film yg ia menjadi salah seorang pemain di dalamnya. ini lebih kepada masalah pilihan yang dipilih (tentunya pilihan yg didasari berbagai macam unsur pertimbangan di dalamnya). menonton, atau tidak usah ditonton. melihat pemberitaan di detik.com terkait pemutaran film ini, ternyata banyak juga yg nonton ya. lucunya lagi, ada penonton dgn komentar agak kecewa karena harapannya thd "aksi Miyabi" di film itu tidak terpenuhi. :).

    BalasHapus
  35. @Mas Is: Sebenarnya saya hanya mengirim pesan, bahwa what you see is what you get. Adapun pembenaran dan penyalahan bersifat relatif.

    Begini saja, kita kembalikan pada selera masing-masing ok? hehe. Biar gampang ^_^

    @Bung Eko: saya kira belum Bung. Saya rindu film2 menggugah dari sineas anak negri...

    BalasHapus
  36. wahhh.... berarti miyabi bakal jadi artis pendatang baru beneran di indonesia juga bakal jadi idola baru buat para penggemar mesum...hahahaha

    BalasHapus
  37. waw saya mendukung FPI untuk melakukan razia semua film yang berunsur 17++
    karena apa merusak mental anak bangsa..........

    BalasHapus
  38. update nya Om... kok belum update om.. gi sibuk ya Om

    BalasHapus
  39. hehe no komeng ah mas..hihi memang masalahnya krusial..lebih baik mencegah dari diri kita sendiri aja y mas :)
    salam

    BalasHapus
  40. kanvasku:
    Selamat mampir...

    adeskana:
    Nah, itu dia, Mas. Saya kok yakin kalo produser film ini justru menjual brand image si Miyabi sebagai pelakon film ohyes-ohyes itu supaya filmnya laku keras. Hmmm...

    Bungzhu Zyraith:
    Hahhahaha...

    Gudang Ilmu:
    Beneran nih mendukung? Gak tahu tar gak bisa nonton film 17+ lagi. Hehehe, peace...

    blogger gembloeng:
    Lha, pas sampeyan nulis komen ini sudah ada banyak posting baru lho. Kurang awas sih matanya. :p

    kang ian:
    No comment is a comment. ^_^

    BalasHapus