Tunarungu pertama Tunarungu kedua Tunarungu pertama | : Mau mancing ya? (Sambil tersenyum ramah) : Ah, nggak, ini cuma mau mancing kok. (Sambil tersenyum tak kalah ramah) : Oh, saya kira mau mancing. (Garuk-garuk kepala) |
Keesokan harinya, si tunarungu pertama sedang bersiap-siap pergi ketika sahabatnya sesama tunarungu yang kemarin ditemuinya di jalan datang berkunjung. Belum sempat ia menyambut, si sahabat langsung menyapa.
Tunarungu kedua Tunarungu pertama Tunarungu kedua | : Nah, kebetulan lagi nganggur nih. Kita ke mal, yuk! : Yah, aku gak bisa ikut. Aku baru aja mau berangkat ke mal nih. : Waduh, padahal mau aku ajak ngeceng di mal. :( |
Silakan, mau ketawa boleh kok. ^_^
Disclaimer: Posting ini dibuat hanya untuk tujuan senang-senang saja, supaya blog ini bisa membuat pengunjungnya tertawa. Sama sekali tidak ada maksud untuk melecehkan atau mempermainkan orang lain. Kalau ada yang merasa keberatan, saya mohon maaf sekali.
|
Tulisan berjudul Hikayat Sepasang Tunarungu ini dilindungi lisensi Creative Commons. Anda bebas menyalin, mendistribusi, dan atau mentransmisi sebagian atau seluruh isi artikel untuk tujuan nonkomersil, serta dengan menyebutkan sumber artikel. Terima kasih. |



Baru ada 11 komentar. Tambahin lagi dong...
Klik di sini untuk langsung ke formulir komentar.Hahaha. Lumayan lucu kok Bung. No problem alias tidak ada masalah sama sekali dengan postingan kali ini. Namanya juga humor. Oya, gimana mereka bisa saling berkomunikasi ya kalau tidak bisa mendengar satu sama lain. Mungkin menggunakan bahasa isyarat yach. Atau bisa juga menggunakan teknik membaca bahasa tubuh (misalnya gerak mulut atau bibir).
asli membuatku tersenyum .. tapi seperti kata Mas Is, dengan bahasa apakah mereka saling berkomunikasi? apakah hanya dengan bahasa tubuh, bahasa isyarat atau memang dengan bahasa lisan? semua kembali pada bung Eko yang membuat kisah selingan ini :-)
Saya belum tertawa mas,, senyum-senyum aja,,, tapi untuk kategori humor di blog saya pikir sangat perlu mas,, saya pribadi pernah ikut liga tertawanya pakde, juga saat online saat lagi bete saya sering browsing untuk humor-humor baik cerita atau gambar-gambar,,,
Bismillah,
Setahu saya Tunarungu dan Bisu punya bahasa isyarat tangan tersendiri. Dulu di TV sering ditayangkan bila acara berita.
Gak tahu deh sekarang masih ada apa tidak.
Ini sekedar masukan saja..
O iya Bung, apa Bung sudah di Pemalang ?
Bagaimana kelahiran anaknya...lancar?
Mudah2 an lancar ya ...selamet jadi Bapak ...
Waduh... payah... ^_^
Yang saya bingung, kalau mereka bisa ngomong atau saling berkomunikasi kok bisa terjadi miss communication ya.. padahal sama-sama menggunakan bahasa isyarat. atau mungkin satu pake bahasa isyarat orang bule satu lagi pake bahasa isyarat orang indonesia... hayaoo... bener yang bener nih ^_^
Hahaha :D
Ada-ada aja bung. Tapi maknanya dalem juga ya :)
Biar salah persepsi tapi kedua orang itu sama-sama ramah dan akrab tanpa gangguan. Unik juga kalo misalnya ada yang kayak gitu beneran :D
Ketawa sih gak bung, nyengir iya. Hahahahaha
Kebetulan saya juga menulis cerita lucu di blog GadoGado.info milik mas Octa. Mungkin bung Eko mau berkunjung kesana :D
he he he......
si tunarungu itu kalau ke mall terus berhadapan dengan kasir yang tunarungu juga, belanjannya bisa berabeh dech..
Bung Eko, saya punya usul untuk posting humor berikutnya. Gimana kalo tokohnya berupa 2 orang sahabat yang sama-sama bolot. Kalau Bung Eko pernah nonton lawakannya Pak Haji Bolot di tv, pasti tau deh maksud saya ^_^
Bolot juga hampir sama dengan tunarungu kelainannya. Cuma bedanya, ia masih bisa mendengar. Tapi pendengarannya agak gimana gitu..hehehe
@ semuanya:
Maaf baru bisa balas komentarnya sekarang. Maaf lagi karena balesnya juga gak bisa satu-satu, running out of time nih ceritanya.
Btw, ini cerita emang rada gak masuk akal ya kalo mau dipikir-pikir lagi. Hehehe, ternyata boleh dibilang gagal deh saya ngelucu. Dasar gak bakat jadi pelawak nih berarti. ^_^
Poskan Komentar
Terima kasih telah mengunjungi bungeko.com. Semoga apa yang saya tulis di blog ini bermanfaat bagi Bung Pembaca. Silakan tinggalkan komentar untuk menanggapi, mengoreksi, atau bahkan mencaci isi posting ini. Tapi mohon dicatat, no SARA, no SARU. Salam.
NB: Saya sedang memikirkan untuk membuka kembali kontes komentator terbanyak, atau kontes lain yang berhubungan dengan komentar pembaca.