Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Selasa, 22 Juni 2010

KONON, suatu ketika ada seorang tukang batu yang tidak puas dengan dirinya dan hidupnya. Suatu hari ia melewati rumah pedagang kaya. Lewat gerbang yang terbuka, ia melihat banyak barang-barang indah dan tamu-tamu penting. "Pasti pedagang itu sungguh hebat," pikir tukang batu. Ia menjadi iri dan ingin bisa seperti pedagang itu.

Betapa terkejut dirinya, dari tukang batu tiba-tiba ia berubah menjadi pedagang, menikmati kekayaan dan kekuasaan yang tidak pernah ia bayangkan, dan semua orang iri padanya. Tidak lama kemudian seorang pejabat tinggi lewat, ditandu di atas kursi mewah, diiringi bawahannya dan dikawal oleh pengawal yang membunyikan gong. Setiap orang, termasuk orang kaya sekalipun harus menunduk pada waktu pejabat itu lewat. "Sungguh hebat pejabat itu!" pikirnya. "Aku ingin menjadi pejabat tinggi!"

Kemudian ia menjadi pejabat tinggi, ditandu kemanapun ia mau pergi, ditakuti dan dibenci oleh semua orang. Namun, hari-hari belakangan ini sangat panas, jadi sangat tidak nyaman ditandu. Ia melihat ke atas, ke matahari. Matahari tetap bersinar dengan terik tidak terpengaruh oleh kehadirannya. "Sungguh hebat matahari!" pikirnya. "Aku ingin menjadi matahari!"

Lalu ia menjadi matahari, bersinar terik pada semua orang, mengeringkan sawah, disumpahi oleh petani dan pekerja. Tetapi kemudian awan besar hitam menutupinya sehingga sinarnya tidak dapat sampai ke bumi. "Sungguh hebat awan itu," pikirnya. "Aku ingin menjadi awan!"

Di atas langit masih ada langit. Di bawah tanah masih ada tanah.
-Anonim-
Lalu ia menjadi awan, membuat banjir seluruh sawah dan desa, dibenci oleh semua orang. Tetapi ia mendapati dirinya didorong oleh suatu kekuatan yang membuatnya ke sana-kemari tak tentu arah, terkadang juga tercerai-berai jadi kecil-kecil. Dan ia sadar bahwa itu adalah angin. "Sungguh hebat angin," pikirnya. "Aku ingin menjadi angin!"

Kemudian ia menjadi angin, membawa terbang atap rumah, mengangkat pohon, ditakuti dan dibenci oleh semua yang ada di bawahnya. Tetapi setelah beberapa waktu, ia melihat sesuatu yang tidak bisa digerakkannya, seberapa pun kuat ia berhembus sesuatu itu sama sekali tidak bergerak. Itulah sebuah batu yang sangat besar. "Sungguh hebat batu itu!" pikirnya. "Aku ingin menjadi batu!"

Lalu ia menjadi batu besar. Lebih kuat dari apapun di dunia. Tetapi saat ia menjadi batu, ia mendengar suara palu sedang mengenai permukaan tubuhnya yang keras, dan ia merasa dirinya sedang dipalu. "Siapa yang berani memukuli aku?" pikirnya. Ia pun melihat ke bawah dan mendapati seorang tukang batu.

Wejangan: Jadi manusia itu jangan selalu iri dengan kesuksesan orang lain. Orang Jawa bilang, urip iku sawang-sinawang. Kita pikir jadi wartawan itu enak, ternyata setelah dijalani kok balik mikir kalau jadi blogger yang lebih enak. So, enjoy sajalah dengan kehidupan yang sekarang, and be yourself wae. ^_^


*Disadur dari buku Running to Riches; Prinsip Universal Menuju Kekayaan dan Kebahagiaan (Penerbit Escaeva) karya Didik Wijaya. ISBN 979-99509-0-2.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

13 komentar:

  1. Bener mas, dalam hidup i ni wong iku sawang sinawang, yang kerja di kantor bilang orang lapangan enak, lha yang dilapangan bilang di kantor enak hohohoho kita harus bisa mensyukuri hidup ini, itu kuncinya

    BalasHapus
  2. hehe2.. sudah sifat dasar kita manusia tidak pernah puas dengan apa yang kita dapatkan/miliki.. tp setuju koq dengan bung eko.. enjoy aja.. :D

    BalasHapus
  3. Running to Riches, dua hari yang lalu saya download ebooknya Bung, jadinya bacanya baru sampai Bab 3, Kemana Anda Akan berlari?
    Mengenai isi postingan, be your self memang sangat penting. Dalam lingkup yang lebih kecil lagi Bung, saat saya belajar affiliasi amazon,, saya melihat bahwa program pencari uang dari internet yang lain contoh seperti GA bagus, karena tanpa ada produk yang laku, bisa dapat uang asal orang yang berkunjung klik iklan. Profesi Ghost Writer saat selesai menulis satu artikel bayarannya sampai puluhan dollar, sedangkan di Amazon, kalo harga barang hanya puluhan dollar yah komisi kita hanya recehan.
    Dengan posting ini bisa lebih menambah motivasi saya tetap fokus, konsisten dan persisten.
    Thanks sharingnya, Bung

    BalasHapus
  4. wah lama ngga berkunjung ke blog favorit saya ini :)

    kisah yang sangat inspiratif bung. ini mengingatkan bahwasanya manusia memang pada dasarnya tak pernah puas dan ingin lebih dari apa yang elah didapatnya. tanpa disadari hal itu berujung pada hakikat manusia itu sendiri, yaitu kembali ke asalnya... yang bila dikaji lebih lanjut, ke Sang Pemberi Kehidupan..

    BalasHapus
  5. sebuah kisah analogi yang bagus dan mencerahkan, bung eko. sikap serakah dan selalu iri kepada orang lain, agaknya ada pada setiap manusia, tinggal bagaimana me-manage-nya. mau bangkit jadi manusia pilihan atau tenggelam seperti kisah si tukang batu. semoga kita bisa terhindar dari sikap iri dan serakah semacam itu.

    BalasHapus
  6. Maunya pengen seperti orang lain tapi salah menyikapinya yaitu dengan otak saja tanpa mengingat peran hati yang dapat memfilter mana yang tepat dan yang tidak tepat.

    Dengan mengedepankan peran hati, kita pasti lebih bijaksana seperti apakah hal ini tepat atau tidak? Sesuai keinginan terdalam atau tidak? Apakah ini keserakahan, kesombongan atau tidak? dll yang tuntunan agama telah berikan.

    BalasHapus
  7. cerita yang menarik. dapat aja cerita kayak begini bung eko. bacaannya banyak sih.. :)

    BalasHapus
  8. Ini gambaran singkat siklus kehidupan manusia dengan banyaknya pilihan hidup.... seperti ketika kita meyakini betul bahwa kita berasal dari tanah dan kelak akan kembali ke (dan menjadi) tanah. Tapi hikayat di atas tidak memberi arti apa-apa bagi si tukang batu karena dia memilih kembali ke titik nol sebaagi tukan batu....

    aya-aya wae si akang eko ini...

    BalasHapus
  9. Yups benar sekali bung eko.
    Memang hidup itu saling melengkapi. Seorang pedagang sayur tak akan bisa menjadi pedagang tanpa petaninya.

    Nikmatilah hidup dan tetap berusaha, berdoadan bertawakkal untuk hidup yang lebih baik

    BalasHapus
  10. kata ustadz, qonaah adalah wujud syukur atas semua yang sudah di berikan ALLAH kepada kita. mensyukuri ataupun tidak. toh....takdir-NYA akan tetap berlaku pada diri kita. ya lebih baik bersyukur, imbalannya syurga kok

    BalasHapus
  11. yah..komentar saya ga masuk hitungan ini, udh lewat 7 hari ptanggal postingan

    BalasHapus
  12. tukang batu seperti diatas sangat banyak ya

    BalasHapus
  13. Intinya, manusia selalu merasa tidak puas dan selalu ingin menjadi lebih dari sesamanya. Padahal kebanyakan itu cuma karena nafsu belaka yang memang tidak pernah puas ^_^

    Oya Bung, buku dan kaosnya sudah saya terima beberapa hari yang lalu. Makasih ya.

    BalasHapus