Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Kamis, 10 Juni 2010

SEPAKBOLA adalah olahraga dunia. Ungkapan ini tidaklah berlebihan mengingat sepakbola memang merupakan cabang olahraga paling populer sejagat. Meski tidak didukung data resmi, boleh dibilang lebih dari setengah penduduk dunia adalah penggemar sepakbola. Buktinya, ajang multinasional seperti Piala Eropa atau Piala Dunia disiarkan langsung di lebih dari 100 negara. Bahkan liga domestik semacam Serie A (Italia), La Liga (Spanyol) atau Premiership (Inggris) juga menjadi tontonan wajib di belahan dunia lain. Termasuk di dalamnya Indonesia.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, Indonesia menjadi pasar potensial bagi berbagai macam industri. Produsen barang-barang berskala internasional selalu menempatkan Indonesia sebagai target utama di kawasan Asia Pasifik. Demikian halnya industri sepakbola. Namun, penetrasi pasar yang dilakukan baru sebatas penayangan siaran-siaran langsung, highlight turnamen, plus kuis.

Saat ini tercatat ada 2 liga domestik asing yang meramaikan layar kaca Indonesia, yakni La Liga Spanyol, dan Premiership Inggris yang kedua-duanya disiarkan tvOne. Sebelumnya penggila bola di tanah air bahkan bisa menikmati 5 liga domestik Eropa sekaligus. Selain La Liga dan Premiership, Serie A (Italia), Bundesliga (Jerman), dan Eredivisie (Belanda) juga disiarkan setiap pekan. Belum lagi ditambah dengan tayangan Liga Champion, Piala UEFA, lalu ada juga Piala Eropa serta Piala Dunia yang rutin ditayangkan langsung. Hebatnya lagi, seluruh tayangan itu dapat dinikmati secara gratis tis! Kecuali biaya untuk pembelian pesawat televisi tentunya.

Selain siaran langsung, berita-berita sepakbola juga bisa diikuti lewat beragam tabloid dan majalah olahraga yang banyak beredar. Jenisnya memang tabloid atau majalah olahraga, tapi isinya lebih banyak tentang sepakbola. Surat kabar umum juga menyediakan lembar khusus olaharaga yang lagi-lagi didominasi berita-berita dari lapangan hijau.

Di tengah maraknya usaha memanjakan publik bola itu, rupanya masih ada satu slot yang kurang dilirik. Apa itu? Buku-buku sepakbola. Entah mengapa sebabnya tak banyak penerbit yang mau memproduksi buku sepakbola. Sampai saat ini hanya ada kurang dari 50 judul buku sepakbola yang pernah diterbitkan di Indonesia. Dari jumlah itu, setengahnya diterbitkan menjelang berlangsungnya event-event besar saja. Isinyapun lebih berupa panduan turnamen. Sisanya kebanyakan berbentuk buku humor atau kartun sepakbola.

Demikian halnya tak banyak pula penulis yang tertarik menulis sepakbola. Sepanjang ingatan penulis, satu-satunya orang yang pernah melahirkan buku sepakbola ‘serius’ adalah kolumnis senior Romo Sindhunata. Karyanya berupa kumpulan tulisan yang terangkum dalam sebuah trilogi dan diterbitkan oleh sebuah penerbit nasional terkemuka. Setelah itu, tak ada lagi yang tertarik menulis sepakbola.

Ini agak mengherankan. Kenapa? Publik sepakbola Indonesia sangat besar. Dari total populasi 200 juta jiwa lebih, taruh kata 10% adalah penggila bola. Itu berarti 10% x 200 juta = 20 juta. Dari prakiraan angka itu, misalkan saja yang hobi membaca sebanyak 1 % atau 200 ribu orang. Wow, jumlah tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuat sebuah buku menjadi best seller.

Jika penerbit hendak memakai hitung-hitungan bisnis dan untung-rugi, jumlah 200 ribu orang sungguh sangat sayang untuk disia-siakan begitu saja. Kalau umumnya sekali terbit tercetak minimal 3.000 eksemplar, berarti penerbit bisa mencetak ulang lebih dari 65 kali untuk memenuhi kebutuhan 200 ribu orang tadi. Padahal, buku yang dicetak ulang 5 kali saja sudah berlipat-lipat untungnya.

Shaolin Soccer poster
Shaolin Soccer, film sepakbola garapan Stephen Chow yang super kocak.

Memang harus diakui bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Tapi dengan pendekatan tertentu, semisal mengangkat sisi human interest atau bersifat menghibur dan ringan, paling tidak cetakan pertama dapat habis terjual. Bukankah ada banyak kejadian-kejadian menarik dari dunia sepakbola? Bukankah dalam sepakbola juga kerap tercipta drama-drama menegangkan sekaligus mengharukan?

Oke, tabloid & majalah sepakbola banyak, tapi media-media seperti itu sifatnya umum.
Untuk pembahasan kasus secara lebih detil dan mendalam dibutuhkan uraian lebih panjang dan data-data lebih banyak dengan halaman yang lebih banyak pula. Halaman tabloid dan majalah dibatasi sehingga laporannya juga terbatas. Lain halnya dengan buku yang memiliki halaman tak terbatas. Sebuah kasus dapat dibahas tuntas tanpa harus dipusingkan berapa jumlah kolom yang tersisa.

Ini berbeda dengan di Eropa, khususnya negara-negara dengan tradisi sepakbola kuat. Buku-buku sepakbola terus-menerus diterbitkan. Mulai dari biografi pemain—baik pemain legendaris dunia atau sekedar ikon lokal, baik masih aktif maupun sudah pesiun. Ada juga kisah dan sejarah perjalanan sebuah klub. Atau tokoh-tokoh lapangan hijau nonpemain seperti pelatih terkenal dan kelompok suporter tertentu.


Almarhum Ronny Pattinasarani, salah satu pesepakbola nasional yang layak dibukukan.

Tak berhenti sampai di situ saja. Film-film berbau sepakbola juga banyak dirilis. Sebut saja Victory yang berlatar-belakang Perang Dunia dan melibatkan legenda dunia asal Brasil, Pele. Lantas ada Bend It Like Beckham yang kisahnya lebih meremaja. Dari Hongkong, Stephen Chow turut meramaikan pasar dengan karya sensasionalnya yang super kocak, Shaolin Soccer.

Dengan demikian industri sepakbola lebih berkembang. Tak hanya terbatas pada penjualan tiket pertandingan atau merchandise klub semata. Penggemar disuguhi lebih banyak pilihan untuk mengenal klub atau pemain terkenal pujaannya. Selain itu, perkembangan industri sepakbola juga terbukti sangat mendorong peningkatan kualitas sepakbola itu sendiri. Karena dalam industri, hanya yang terbaik sajalah yang bisa bertahan. Suasana akan menjadi sangat kompetitif baik di dalam maupun di luar lapangan. Dan ini dapat berefek baik bagi sebuah kompetisi. Fakta membuktikan bahwa pemain-pemain terbaik hanya lahir dari kompetisi yang ketat dan berkualitas.

Sebagai tema bukunya sendiri, masih banyak cerita seputar dunia sepakbola yang belum diangkat. Seperti perseteruan panjang Inggris-Argentina yang meletup sejak Perang Falkland. Atau kematian tragis bek Kolombia, Andreas Escobar, di Piala Dunia 1994. Kisah-kisah seperti itu akan sangat memancing keingintahuan pembaca. Terlebih bila kemasan bahasanya menawan dan didukung dengan lengkapnya data-fakta yang valid.

Indonesia sendiri menyimpan banyak kisah menarik. Sejarah perjalanan sepakbola nasional pada masa kolonial Belanda dan Jepang dapat diolah menjadi bacaan bagus. Atau kasus transfer termurah di dunia saat Indriyanto Nugroho dijual Arseto Solo ke Pelita Jaya senilai Rp 100,- tahun 1996. Sosok pemain seperti Kardono, Ronny Pattinassarany atau Rocky Puttiray rasanya pantas dibuatkan biografinya. Untuk klub, profil Persebaya Surabaya, Persija Jakarta Pusat, PSM Makassar atau PSMS Medan akan banyak diburu penggemarnya. Persoalannya, siapa yang mau menulisnya?

Bicara manfaat, banyak hal positif dapat dipelajari dari sepakbola. Semangat pantang menyerah, kekompakan tim, sportivitas, sampai sikap lapang dada menerima kekalahan. Jika semua itu dapat ditularkan pada insan sepakbola tanah air, kondisi liga yang penuh carut-marut tentu dapat diperbaiki. Pemain akan merasa malu untuk memukuli wasit atau mogok bertanding dengan dalih nonteknis yang terkesan dicari-cari.

Membaca banyak hal positif membuat orang terdorong untuk berlaku positif pula. Dan harus diakui kalau buku yang dibaca seseorang sangat mempengaruhi pola pikir orang tersebut. Jika saat ini banyak pihak sibuk mencari cara untuk memperbaiki iklim sepakbola nasional yang carut-marut, salah satu cara itu adalah dengan menerbitkan buku-buku sepakbola bermutu. Nah, siapa yang tertarik memulainya?
[bungeko]


Posting ini dibuat dalam rangka menyambut perhelatan Piala Dunia 2010 yang akan dimulai tanggal 11 Juni 2010.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

14 komentar:

  1. Sepakat Bung,, untuk sepakbola tanah air kita saya juga sangat prihatin,,,
    Saya jadi ingat waktu penulis KCB (Habiburrahman el-Shirazy) datang ke Makassar, katanya di Turki Film Kapten Tsubasa juga di putar, tapi di sana nama Kapten Tsubasa diganti dengan nama pemain sepakbola Turki,, jadinya semangat yang ada di film memberikan motivasi bagi anak-anak untuk memajukan sepak bola di Turki, hasilnya kita bisa lihat sepakbola Turki bisa menembus Piala Dunia yang lalu.
    Sayangnya Indonesia juga memutar film yang sama tapi namanya tetap Kapten Tsubasa, seandainya diganti dengan Kapten ... (misalnya nama-nama Jawa, Makassar), efeknya pasti beda Bung,,,
    Gimana dengan Piala DUnia, siapa tim favoritnya Bung??

    BalasHapus
  2. makasih bung Eko dah mampir di blog saya ...
    bicara tentang sepakbola Indonesia tak ubahnya seperti ibu-ibu menceritakan sinetron..banyak intrik, sandiwara, tangis, tawa bercampur menjadi satu...harapan Merah Putih ikut mewarnai perhelatan bola sejagat terus tertanam di hati setiap orang di negeri ini. mimpi kembali ke tahun 1938(?) ketika negeri kita yang pada waktu itu masih bernama Hindia Belanda ikut meramaikan Piala Dunia ... semoga bung Eko menjadi pionir penulis buku tentang sepakbola yang bagi sebagian orang telah menjadi 'agama' kedua yang terkadang rela untuk dipertaruhkan meski harus ditebus dengan nyawa :-)

    salam

    BalasHapus
  3. saya juga bingung dengan sepakbola indonesia, di dalam asean saja masih kalah dengan thailand, singapura, malaysia, faktornya adalah pada letak stamina pemain dan kurangnya pembinaan,

    BalasHapus
  4. Saya juga setuju, jika sepakbola ada dalam buku. Contohnya saja di Malang, sudah ada buku mengenai sejarah Arema Malang hingga menjadi Juara.

    Untuk memulai membuat buku bagi saya sedikit sulit, karena salah satunya belum ada passion kesana. Yah, masih hanya sekedar bermain dan menonton. Sepakbola lebih attraktifnya memang lebih baik menggunakan video.

    BalasHapus
  5. Wah, saya ga gitu suka bola, ga tau kenapa di saat teman-teman yang lain suka nonton bola, saya ga tertarik untuknya. Aneh memang, tapi itulah saya.

    BalasHapus
  6. ide yang sangat menarik dan berpotensi secara ekonomis, Bung Eko. melalui buku, wawasan dan kearifan pikir terbantu untuk terbuka. apalagi sisi-sisi yg diangkat dari tema bola tidak sedikit. tidak hanya terkait pemain, pelatih; mengenai bagaimana suporter sepak bola bersikap juga dapat menjadi sub tema tersendiri.
    jadi teringat masa lalu. buku terkait bola pernah juga saya baca sekitar tahun 1997-1998, yaitu karya Emha Ainun Nadjib: Bola-Bola Kultural.
    salam sukses!

    BalasHapus
  7. ago:
    Wah, saya baru tahu nih kalo Kaptn Tsubasa juga diputar di Turki tapi namanya diganti. Ah, andaikan namanya di Indonesia menjadi Kapten Bambang atau Kapten Boaz ya? ^_^

    amsi:
    Naskahnya saya sudah ada 1 judul yang siap, Bung. Kalo draft malah lebih banyak lagi. Masalahnya, tidak banyak penerbit yang tertarik menerbitkan buku-buku sepakbola garapan saya. Lha, siapa sih saya? Heehe...

    Gus Ikhwan:
    Kalo kata saya sih letak kelemahannya di mental, Gus. Secara teknik kita unggul jauh dari Malaysia, Vietnam, dan beda-beda tipis dengan Singapura dan Thailand, tapi mental pemain Indonesia kaya kerupuk, sebelum tanding sudah keder duluan, makanya kalah terus. Padahal duluuuu banget Korea Selatan dan Jepang saja kita gulung habis...

    Agung Prasetyo:
    Saya salut dengan kota Malang dan Aremania, benar-benar sebuah kota sepakbola. Ya, seperti halnya Newcastle dengan Newcastle United-nya. Salut!

    Adeskana
    Betul banget, Mas. Sebenarnya ada banyak aspek yang bisa diangkat dari sepakbola. Coba saja kulik Amazon dan cari buku bertema epakbola pasti bahasannya sangat beragam sekali. Btw, saya malah baru tahu kalau Cak Nun nulis buku tentang bola. Hmmm, harus dicari nih...

    BalasHapus
  8. Iya Bung Eko. lebih tepatnya, sepakbola dari perspektif seorang budayawan, terbitan tahun 1993. Bisa dicek di link ini, Bung Eko: h**p://www.amartapura.com/view_book.php?id=08012001&bookid=7393.

    BalasHapus
  9. Ide yang bagus, Bung. Bukan kumpulan karikatur Goooooooooooooooooolllll Om Pasikom saja yang perlu dibukukan. Mungkin perlu kontemplasi yang cukup agar pesepakbola juga penulis sehingga kelak bisa menulis itu. Selain wartawan sepak bola tentunya

    BalasHapus
  10. saya ini terus terang orang yang paling alergi dengan yang namanya sepak bola. jadi bingung mau berkomentar apa. jadi maaf ya bung jika pada postingan ini saya tidak bisa berkomentar dengan baik

    BalasHapus
  11. setuju mas... kita jangan cuma berkeinginan memajukan sepakbola tp tidak mau menambah wawasan :D

    BalasHapus
  12. Adeskana:
    Thanks atas infonya, Mas.
    Saya wajib punya buku ini. ^_^

    munawar am:
    Kalo mengharap para pemain yang menulis, hehehe, saya kok tidak yakin ya, Kang. Mungkin lebih tepatnya para wartawan bola dan pengamat. Tapi bukan tidak mungkin juga suatu saat ada pemain yang menulis buku sepakbola.

    blogger terpanas:
    Hehehe, gpp kok, Mas. :D

    tomi:
    Nah, wawasan itu adanya dalam buku.
    Persoalannya, mau tidak orang2 yang terlibat dalam industri sepakbola nasional membaca?

    BalasHapus
  13. hmm menarik juga, soalnya setiap saya hunting buku, yang ada adalah kisah2 legenda pesepak bola luar negri. saya belum menemukan tuh buku tentang sepak bola dalam negri (yang terupdate).

    isu ini bisa kita kembangkan, dan semoga memacu insan2 sepak bola tuk memulainya.

    pertanyaan klasik: kapan Indonesia ikut Piala Dunia (lagi)??? ckckck

    BalasHapus
  14. Ada satu buku sepakbola yang bagus : 1001 fenomena sepakbola, karangan edy irpani. Bukunya membahas berbagai hal tentang sepakbola, seperti mistik dan klenik, politik sepakbola, hubungannya dengan ekonomi dan budaya, dan puluhan anekdot lucu tentang sepakbola.

    Dadang

    BalasHapus