Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Sabtu, 19 Juni 2010



BUNG mungkin tidak percaya membaca judul posting ini. Ah, orang kita ini asli Indonesia dan sama sekali tidak pernah belajar bahasa Belanda kok bisa-bisanya berbahasa Belanda. Mungkin begitu pikir Bung.

Eits, tunggu dulu, saya tidak cakap bohong ini. Biarpun Bung asli Indonesia, biarpun Bung tidak pernah ke Belanda, dan biarpun Bung tidak pernah kursus bahasa Belanda, ternyata kita sudah sering bercakap-cakap dengan kata-kata berbahasa Belanda dalam keseharian lho...

Ya, menjadi negara jajahan Belanda selama 300 tahun lebih, tentunya ada banyak pengaruh kebudayaan Belanda terhadap Indonesia. Salah satu pengaruh budaya itu adalah bahasa, di mana ada banyak sekali kata-kata Belanda yang terserap dan menyatu sebagai bahasa Indonesia.

Jumlahnya ada banyak sekali, tapi saya cuma bisa menyuplik sekitar 100 kata yang paling sering kita jumpai dalam keseharian.

Let's check it out!


Ejaan Indonesia
Parkir
Pelat
Peluit
Pensiun
Perban
Permak
Perseneling
Piket
Plakat
Plester
Polisi
Politik
Pos wesel
Praktik
Preman
Publik
Puding
Pulpen
Rapor
Razia
Rekening
Rel
Rem
Residivis
Riskan
Rok
Rokok
Rute
Sablon
Sakelar
Sakral
Saldo
Sandal
Segel
Skakmat
Sekering
Selang
Seminar
Semir
Senewen
Serius
Seterika
Sirsak
Sokbreker
Spanduk
Sprei
Stempel
Suster
Syal
Taplak
Tang
Tarif
Tas
Tekor
Terali
Teras
Tomat
Total
Traktir
Wortel

Ejaan Belanda
Parkeren
Plaat
Fluit
Pensioen
Verband
Vermaak
Versnelling
Piket
Plakkaat
Pleister
Politie
Politiek
Postwissel
Praktijk
Vrijman
Publiek
Pudding
Vulpen
Rapport
Razzia
Rekening
Rail
Rem
Recidivist
Riskant
Rok
Roken
Route
Sjabloon
Schakelaar
Sacraal
Saldo
Sandaal
Zegel
Schaakmat
Zekering
Slang
Seminaar
Smeer
Zenuwen
Serieus
Strijken
Zuurzak
Schokbreker
Spandoek
Sprei
Stempel
Zuster
Sjaal
Tafellaken
Tang
Tarief
Tas
Te kort
Tralie
Terras
Tomaat
Totaal
Trakteren
Wortel

Ejaan Indonesia
Handuk
Telat
Besuk
Abonemen
Afdruk
Administrasi
Akur
Antik
Apotik
Aspal
Bandit
Baskom
Batere
Bensin
Bioskop
Buncis
Dekan
Dipan
Dongkrak
Eselon
Familie
Favorit
Fiktif
Gelas
Gerendel
Indekos
Jerigen
Kamar
Kantor
Kasus
Katun
Kenek
Kerah
Keran
Klasemen
Klinik
Kompor
Kondektur
Koper
Kuas
Kuli
Kulkas
Kusen
Kusir
Ledeng
Lem
Mag
Mangkir
Minder
Mur
Necis
Onderdil
Ongkos
Oper
Optik
Opname
Pabrik
Panik
Paraf
Partai

Ejaan Belanda
Handdoek
Te laat
Bezoek
Abonemen
Afdruk
Administratie
Akkoord
Antiek
Apotheek
Asfalt
Bandiet
Waskom
Batterij
Benzine
Bioscoop
Boontjes
Decaan
Divan
Dommekracht
Echelon
Familie
Favoriet
Fictief
Glas
Grendel
In de kost
Jerrican
Kamer
Kantoor
Casus
Katoen
Knecht
Kraag
Kraan
Klassement
Kliniek
Komfoor
Conducteur
Koffer
Kwast
Koelie
Koelkast
Kozijn
Koetsier
Leiding
Lijm
Maag
Mankeren
Minderwaardig
Moer
Netjes
Onderdeel
Onkosten
Overnemen
Optiek
Opname
Fabriek
Paniek
Paraaf
Partij


Banyak sekali, bukan? Tak hanya bahasa Indonesia, ternyata bahasa daerah juga sempat menyerap kata-kata dalam bahasa Belanda. Generasi yang lahir setelah era penjajahan tak banyak yang tahu kalau kata-kata yang mereka gunakan ternyata bukan bahasa daerah asli, melainkan serapan dari bahasa Belanda. Sebagai contoh bahasa Jawa. Siapapun yang berbahasa Jawa pasti sudah akrab dengan kata "pit", "bal", "plesir", "sadel", "sepur", "serbet", "tegel", "setrap", atau "potlot" (artinya secara berurutan adalah "sepeda", "bola", "liburan", "dudukan sepeda", "kereta api", "lap meja/tangan", "marmer", "hukuman", dan "pena").

Dulu, saya sangka kata-kata tersebut adalah bahasa Jawa asli. Eh, setelah sekolah baru saya tahu kalau kata-kata itu diserap dari bahasa Belanda. Kata "bal" dan "tegel" diserap mentah-mentah dari bahasa Belanda, sedangkan kata yang lain hanya beda ejaan dari kata aslinya: "pit" dari kata "fiets", "setrap" dari kata "straf", "plesir" dari kata "plezier", "sadel" dari kata "zadel", "sepur" dari kata "spoor", "serbet" dari kata "servet", dan "potlot" dari kata "potlood".

Nah, dengan sedemikian banyak kata-kata serapan dari bahasa Belanda ini dalam bahasa Indonesia (dan juga Jawa), rasanya tidak berlebihan kan kalau saya bilang kita bisa berbahasa Belanda?

Contoh percakapan:

Paimin
Paijo


Paimin
Paijo

Paimin

Paijo

: Zadel fiets-mu ginio, Jo?
: Gak ngerti iki. Wingi kecanthol tas dadi bolong, trus ta verband malah koyo ngene. Gara-gara iki rusak aku mlaku nganthi sandaal-ku pedhot, tekan kantoor yo te laat pisan.
: Dandakno nang winkel pojok kono lho.
: Wegah, nang kono larang banget. Mengko ndak malah te koort aku. Kerjo dadi knecht sedino entek mengko.
: Ben ora te koort yo rem karo staange didandakno sisan. Neng kono ono cewek mooij banget lho.
: Ah, utekmu ki jan cewek ae anane...


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

14 komentar:

  1. Bismillah,
    weleh-weleh ...postingan kreatif
    Nambah pengetahuan kita semua. Cuma yang jadi masalah ternyata mental "dijajah" dan mental "menjajah" juga ikut sampai kurun waktu kini. Dan sepertinya ini tidak sekedar diserap tapi lebih dari itu yaitu "diresapi".Sehingga yang demikian susah sekali dihilangkan.
    Mari kita bersama-sama membuang jauh-jauh mental dijajah maupun mental menjajah agar Indonesia menjadi dirinya sendiri.

    MERDEKA !!!

    BalasHapus
  2. Iya yah,,, ternyata kita bisa berbahasa Belanda,,,
    Selain ejaan di atas yang sering dipergunakan dalam bahasa sehari-hari, istilah-istilah juga Bung, paling banyak adalah istilah-istilah hukum, sebagian besar mungkin dari Bahasa Belanda, salah satunya Locus Delichti (ada di postingan saya),, Yah akibat kita di jajah Belanda ratusan tahun,,
    ngomong-ngomong, apakah postingan ini menunjukkan bahwa Bung Eko mendukung Tim Belanda pada Piala Dunia? he he he

    BalasHapus
  3. hahahaha, lidah orang indonesia banget tu bung eko, apalagi kalau lidah orang jawa, beda² tipis,
    kalau misal indonesia tidak dijajah, bagaimana dengan bahasa yang di ambil, karena masih banyak ejaan bahasa indonesia yang menggunakan atau sedikit mengadopsi dari bahasa belanda, bahasa arab, dsb

    BalasHapus
  4. Hahaha, saya baru tahu bung. Kalau gak diposting kayak gini selamanya gak bakal tahu.

    Betul sekali sih, setelah dijajah begitu lama secara tidak langsung orang Indonesia pada waktu itu pasti mengikuti kebudayaan orang Belanda. Akhirnya melekat deh sampai ke cucu dan cicit.

    BalasHapus
  5. buset, mungkin ini efek kita terjajah selama 3,5 abad itu ya bung? bisa jadi. sama seperti bangsa Inggris dan Portugis yang bahasanya banyak menjadi catutan bagi daerah2 jajahannya :)

    selain bahasa Belanda, kosakata bahasa kita juga banyak terpengaruh dari Arab dan Cina.

    tapi kita ngga perlu malu berbahasa Indonesia, karena itulah identitas kita sebenarnya. tak masalah itu berakar darimana, betul?

    BalasHapus
  6. mungkin saking lamanya bangsa landa menjajah negeri ini, bung, sampai2 ndak terasa kalau banyak kosakata yang terkesan asli bahasa indonesia, tetapi sesungguhnya serapan dari basa landa itu. sebuah proses akulturasi alamiah.

    BalasHapus
  7. waktu makan di angkringan bunderan UGM -kala itu- teman saya yang orang Klaten minjem garpu ke bos angkringan. "mas, nyileh forok-nya". ternyata ini jg kata serapan dari 2 bahasa, inggris (fork) dan belanda (vork). kosakata serapan ternyata jg memperkaya khasanah bahasa kita.

    BalasHapus
  8. wah benar sekali bung eko, tanpa kita sadari rupanya bahasa belanda sudah sedikit tertananm di bangsa kita,,, makasih sharingnya bung eko

    BalasHapus
  9. saya kemarin baca dokumen tetangga sebelah...
    jebule teken / tanda tangan juga berbau belanda, Mas.... di sana, di kolom tanda tangan ada tulisan handtekening...

    BalasHapus
  10. sayangnya Belanda kalah di final 2010....

    BalasHapus
  11. puput tiwahyu hardianto16 September 2010 05.26.00 WIB

    apikmen!! lagek roh aku...
    berarti masih ada kata yang lain dong!

    BalasHapus
  12. tak tambahi om:
    (jawa,indonesia,belanda)
    - bruk,jembatan,brog
    - kulkas,lemari es,koelkast
    ni di daerah saya om (CEPU JAWA TENGAH)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Cepu tempat asal-ulu nenek moyang saya.
      Makasih tambahannya, Mas. Hidup bersama Belanda sekian ratus tahun gak heran kalau banyak kosakatanya yang akhirnya terserap dalam bahasa Jawa.

      Hapus