Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Kamis, 23 Desember 2010



TINGGAL satu langkah lagi Timnas Indonesia meraih gelar juara pertamanya di ajang Piala AFF. Setelah pada edisi sebelumnya Vietnam sukses menggeser dominasi Thailand dan Singapura dalam pesta sepakbola Asia Tenggara dwitahunan ini, sekarang giliran Indonesia.

Peluangnya terbuka lebar, asalkan Firman Utina cs. dapat mengulangi sukses menggebuk Malaysia di final (26 dan 29 Desember) nanti.

Sepanjang sejarah Piala AFF (sampai edisi 2004 masih bernama Piala Tiger), Indonesia belum sekalipun merasai tahta juara kompetisi sepakbola Asia Tenggara ini. Prestasi terbaik Tim Merah Putih hanyalah menjadi runner up.

Total telah 3 kali Timnas mencapai partai final, yakni pada 2000, 2002, dan 2004. Namun dari semua kesempatan tersebut Timnas selalu gagal menjadi yang terbaik. Dua kesempatan pertama harus keok di kaki Thailand, sedangkan yang terakhir ditaklukkan Singapura.

Kenapa sulit sekali Timnas Indonesia meraih prestasi? Padahal bila dilihat dari materi pemain, pesepak bola tanah air tidaklah lebih buruk dari pemain-pemain negara lain di Asia Tenggara. Beberapa punggawa Timnas dipuji sejumlah pihak memiliki kelas tingkat Asia. Ivan Kolev yang dua kali menukangi Timnas bahkan sempat berkata bahwa kualitas Timnas nomor 4 di Asia. Kalau ucapan Kolev ini benar, kenapa kok di tingkat regional saja ngos-ngosan?

Kalau mau melongok sejarah persepakbolaan nasional, rasanya kita pantas lebih bersedih lagi. Tahun 1938, saat Piala Dunia ketiga diselenggarakan di Prancis, kesebelasan Hindia Belanda (Dutch East Indies) menjadi peserta non-Eropa-Amerika pertama dalam sejarah Piala Dunia. Meskipun tim tersebut dikirim oleh pemerintah kolonial Belanda, namun sebagian besar pemainnya adalah anak-anak pribumi.

Coba bandingkan, di saat negara-negara lain di Asia belum pandai bersepak bola, anak-anak Nusantara telah mengukir sejarah di pentas Piala Dunia.

Tahun 1956, kembali Timnas Indonesia menorehkan catatan emas di buku sejarah sepakbola dunia. Kali ini terjadi dalam Olimpiade Melbourne. Menghadapi tim raksasa dunia, Uni Soviet, Timnas tampil percaya diri dan mampu meraih hasil seri 0-0. Dua tahun kemudian, di Asian Games Tokyo 1958, Tim Garuda meraih medali perunggu. Inilah medali pertama bagi Timnas di ajang internasional. Sejak itu Indonesia menjadi tim yang diperhitungkan di Asia bersama Korea dan Jepang.

Bambang Pamungkas, selalu hanya hampir juara Piala AFF.Di ajang Piala Asia, prestasi Indonesia juga menunjukkan peningkatan. Pertama kali lolos ke putaran final di tahun 1996, Timnas mampu menahan imbang Kuwait yang datang sebagai juara Piala Teluk dengan skor 2-2. Hebatnya lagi, Tim Merah Putih sempat unggul 2-0 lebih dulu dan gol yang dicetak Widodo C. Putro menjadi gol terbaik Asia tahun itu. Tahun 2004, Indonesia berhasil meraih kemenangan pertamanya di Piala Asia dengan menjungkalkan Qatar. Ini kemenangan sensasional mengingat rangking Indonesia jauh lebih rendah dan Qatar waktu itu ditangani pelatih beken Phillipe Troussier. Tak sekedar menang, Indonesia juga membuat Troussier malu besar sehingga mundur dari jabatannya setelah partai tersebut.

Piala Asia 2007 boleh dibilang merupakan penampilan terbaik Timnas. Permainan agresif nan cantik yang ditunjukkan Ponaryo Astaman cs. membuat tim-tim lawan berdecak kagum. Hasilnya, Bahrain yang jauh lebih kuat berhasil dibekuk di laga pembuka babak penyisihan grup. Di partai kedua, Indonesia hampir mengimbangi Arab Saudi kalau saja tidak kebobolan di menit-menit akhir. Melawan tim raksasa Asia lainnya, Korea Selatan, di partai ketiga, Timnas hanya ‘sial’ oleh sebiji gol yang dicetak melalui tendangan jarak jauh.

Setelah penampilan menawan di Piala Asia 2007, publik Indonesia berharap Timnas mampu berprestasi baik di Piala AFF 2008. Apa lacur, Benny Dollo dan anak asuhannya ternyata mentok di semifinal. Thailand menjadi ganjalan saat itu, Indonesia keok dengan skor agregat 3-1. Pencinta sepak bola tanah air terpaksa harus menelan kekecewaan untuk kesekian kali.

Kapan Timnas meraih prestasi? Inilah pertanyaan yang menggema di dada seluruh penggemar sepakbola Indonesia. Setelah berhasil mengatasi 2 tim top Asia Tenggara di babak penyisihan grup, lalu mematahkan kejutan Filipina di partai semifinal, serta ber-temu Malaysia yang pernah dipukul telak 5-1 di final, inilah momen terbaik bagi Timnas Indonesia untuk menjadi juara Asia Tenggara. Bisa, Garuda?

Catatan: Tulisan ini saya kirim ke rubrik Oposan di tabloid BOLA, dan... (kemungkinan besar) tidak dimuat. Hehehe...


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

4 komentar:

  1. Gara2 sudah puluhan tahun melihat prestasi sepak bola kita gembos, giliran sekarang menang sudah terlanjur menjadikan saya nggak tertarik sepak bola lagi...

    Apalagi kemenangan yang akhir2 ini seakan nggak murni kemenangan sendiri tapi karena ada "sentuhan kebijakan" dan regulasi.

    Rasa bangga saya terhadap prestasi sepakbola Indonesia jadi sedikit berkurang.

    Kalau pemainnya 100% asli Indonesia, pelatihnya juga orang Indonesia saya baru salut!

    BalasHapus
  2. Saya sangat hobi dengan pertandingan sepak bola, tapi karena kesibukan jd kurang mengikuti perkembangan. Mengenai prestasi persepakbolaan dalam negeri dalam perjalanannya memang mengalami pasang surut, akan tetapi tidak mengurangi optimisme persepakbolaan kita ke depan akan jauh lebih baik.

    Ke depan harapan kita bukan hanya TimNas yang harus tampil di kancah Internasional, tapi cukup diwakili oleh klub-klub regional seperti Persipura dll.

    Mengingatkan saya pada laga Persipura VS Manchester United, dimana Persipura menang telak atas MU dengan skor (2-0) dlm pertandingan Play Station di kontrakan lama saya Wirosaban (lawan Rohman)pak......!?
    He..he....he...........!? Succes yo.......

    BalasHapus
  3. Tahun kemarin tim kita juga menjadi runner up, yah suatu saat runner up akan menggantikan sang pemenang.

    BalasHapus