Selamat datang di bungeko.com, blog pribadi Eko Nurhuda. Semoga tulisan-tulisan di blog ini memberi manfaat positif bagi Anda. Saran atau kritik dari Anda akan diterima dengan senang hati.

Menyambut Euro 2012

Hasil Undian dan Jadwal Lengkap Euro 2012

Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina masih enam bulan lagi. Namun undian penentuan grup bagi ke-16 peserta putaran final sudah dilakukan di Kiev, 2 Desember lalu.

Baca juga:

»
» Ketika Blog Masih Dipandang Sebelah Mata



Minggu, 31 Januari 2010

Souvenir untuk Pemberi Komentar Terbanyak


BUKAN bermaksud ikut-ikutan Bro Arif yang mengaku sebagai blogger terpanas, tapi saya bermaksud menghargai rekan-rekan pengunjung yang telah meninggalkan komentar di blog ini dengan memberi souvenir. Tentu tidak semua pemberi komentar saya kasih souvenir, melainkan hanya 1 orang yang paling banyak berkomentar saja.

Bagaimana ketentuannya? Gampang saja. Souvenir diberikan hanya kepada 1 orang pengunjung yang komentarnya paling banyak dibanding yang lain. Nah, mekanisme penghitungan komentarnya ini yang agak rumit. Sebab, saya akan menghitung sendiri setiap komentar yang masuk secara manual. Saya juga memberlakukann beberapa kriteria/syarat yang digunakan untuk membedakan antara "komentar yang dihitung" dengan "komentar yang diabaikan".

Sebuah komentar akan dihitung apabila:
1. Berkaitan dengan atau menanggapi isi posting.
2. Panjang komentar minimal 30 kata*. Ya, saya akan menghitung sendiri setiap katanya.
3. Tidak mengandung unsur promosi, apalagi spam.
4. Sopan, tidak menggunakan huruf besar dan atau menebalkan satu kata pun.
5. Komentar dengan nickname sama tapi link URL-nya berlainan atau sebaliknya dihitung sebagai komentar dari orang yang berbeda.
6. Komentar pertama dan valid akan dihitung sebagai 2 komentar.**
7. Komentar yang diberikan setelah 7 hari dari tanggal posting tidak akan dihitung***
8. Komentar panjang yang dipotong-potong menjadi beberapa komentar dan atau diposting secara berurutan--tanpa diselingi komentar dari blogger lain--dalam rentang waktu kurang dari 60 menit hanya akan dihitung sebagai 1 komentar.***

Catatan: *Sebelumnya min. 50 kata, tapi diubah setelah beberapa teman merasa itu memberatkan, walaupun sebenarnya bertujuan baik lho...
**Peraturan baru mulai April 2010, bertujuan untuk memberikan penghargaan lebih pada rekan-rekan yang pertama kali berkunjung kemari.
***Peraturan baru mulai April 2010, bertujuan untuk mencegah blogger (maaf) "nakal" yang berusaha "menyalip di tikungan akhir". Our game is fair play, OK? ^_^


Salah satu buku hadiah pemenang kontes komentar terbanyak bungeko.comNah, semua komentar yang tidak memenuhi keempat poin tersebut secara otomatis masuk dalam kategori komentar yang diabaikan alias tidak akan dimasukkan dalam perhitungan. Pengunjung boleh meninggalkan lebih dari 1 komentar di 1 posting, tapi hanya akan dihitung jika memenuhi ke-8 poin di atas. Kalau tidak, ya yang dihitung hanya yang memenuhi syarat saja.

Oya, perhitungan komentar dilakukan setiap tanggal terakhir di bulan bersangkutan untuk menentukan 1 pemenang di bulan itu. Kemudian pemenangnya akan diumumkan pada tanggal 1 bulan berikutnya. Program ini saya mulai bulan Februari, dan penghitungan komentar dimulai sejak posting pertama yang dipublikasikan di bulan Februari. Pemenang Februari akan diumumkan tanggal 1 Maret 2010.

Ngomong-ngomong, souvenir-nya apa nih? Saya menyediakan buku-buku saya yang sudah terbit, jumlah dan judul buku untuk masing-masing pemenang bisa jadi berbeda (sesuai persediaan plus keuangan saya ^_^). Menarik, bukan?

Siap jadi pemberi komentar terbanyak? ^_^

Catatan:
Gambar kartun oleh: Sindhu "~jarimanis" Pradhana.
Desain kaos oleh: Wahyu "Badoer" Triwidyanto.

Jumat, 29 Januari 2010

Dunia Tak Seburuk yang Kau Bayangkan...


TEMAN kos saya kehilangan handphone. Ceritanya, dia membawa hape-nya ke warnet. Nah, sepulang dari warnet ternyata hape-nya sudah tidak ada lagi di kantong. Prasangka langsung muncul, jangan-jangan tertinggal di warnet? Maka dia pun kembali lagi ke warnet, berharap hape-nya benar-benar tertinggal di sana.


Foto: http://jendelahidayah.wordpress.com
Apa lacur, harapan tinggal harapan. Hape-nya ternyata tidak ditemukan di warnet itu, pun di kamar yang tadinya ia pakai untuk berselancar di dunia online. Tanya sama operator, jawaban yang diterima cuma, "Tidak tahu." Teman saya jadi lemas. Maklum, walaupun (maaf) tidak bagus tapi itu hape kesayangannya. Yang disayangkan adalah hilangnya nomor cewek-cewek gebetannya. Hehehe...

Sampai di kos, teman saya langsung bercerita. Katanya dia sudah bolak-balik menelusuri jalan yang ia lalui waktu mau ke warnet, berharap ia menemukan hape-nya tercecer di pinggir jalan tersebut. Sayang, sampai capek ia mencari, hape-nya sudah benar-benar raib. Wajahnya tampak murung, mungkin menyesal membayangkan betapa ia tidak bisa lagi asyik ngobrol dengan cewek-cewek virtualnya menjelang tengah malam. ^_^

Anehnya, ketika keesokan harinya teman saya iseng memanggil nomornya, ternyata nomor itu masih aktif. Dua hari kemudian, teman saya kembali iseng-iseng memanggil nomor tersebut, dan nomornya masih aktif. Ini tentu suatu keanehan. Biasanya hape yang hilang nomornya tidak akan aktif lama. Tak sampai 1x24 jam, nomor asli pasti sudah tak bisa lagi dihubungi karena si penemu sudah menjualnya ke konter hape terdekat.

Sejumlah spekulasi pun kami rangkai. Mulai dari dugaan kalau si penemu tidak mengerti cara membuang kartu di hape teman tadi, sampai dugaan mustahil kalau si penemu sama sekali tidak tahu-menahu tentang hape. Entahlah, mungkin dugaan kedua itu merupakan harapan teman saya yang masih tak merelakan hapenya hilang begitu rupa.

Kejadian jadi semakin aneh ketika di hari keempat nomor itu masih aktif. Kami jadi geleng-geleng kepala, betapa bodohnya si penemu ini membiarkan hape temuannya tetap aktif. Okelah, kalau memang benar si penemu tidak bisa memmbuang kartu di hape itu, bukankah pegawai konter bisa? Atau jangan-jangan hape itu mau dia pakai? Tapi kok nomornya tidak diganti? Padahal seharusnya hape itu sudah mati karena baterenya ngedrop.

Teman saya semakin harap-harap cemas. Ia sudah merelakan hape-nya hilang, tapi fakta bahwa nomornya masih aktif membuatnya berani mengapungkan sedikit asa kalau hape tersebut bisa kembali. Tapi apa mungkin?

Eh, ternyata mungkin, Saudara-saudara... Suatu hari teman sekelas teman saya tadi mengirim SMS ke saya, dia bilang si penemu hape itu minta teman saya untuk mengambil hape-nya di satu TK di daerah Umbulharjo. Ceritanya, si teman sekelas teman saya itu bermaksud menelepon untuk menanyakan tentang kuliah. Ternyata yang mengangkat orang lain yang tak lain adalah penemu hape tersebut.

Ternyata yang menemukan seorang guru TK. Dan, alangkah baiknya si ibu guru ini, karena ia sengaja membeli charger untuk hape teman saya yang ditemukannya. Tujuannya? Supaya teman saya bisa melacak hapenya yang hilang itu. Allahu akbar... Padahal kami telah banyak memunculkan prasangka buruk untuk si penemu. Ternyata...

Duh, maafkan kami, Bu...

Rabu, 27 Januari 2010

Nampang di Tabloid BOLA (Lagi)


SEBENARNYA bukan hal baru, juga bukan yang pertama. Tapi tercetaknya nama saya di rubrik "Suara Tifosi" Tabloid BOLA edisi 2.002, Selasa (26/1) lalu tetap terasa istimewa. Kenapa? Karena pendapat/komentar yang saya kirim dengan judul "Klub Pembunuh Bintang" tersebut menandai kembalinya saya ke kancah perebutan kaos hadiah yang disediakan BOLA untuk 2 pengirim yang pendapat/komentarnya masuk kotak berwarna.


Surat pembaca saya yang dimuat di BOLA edisi 2.002.
Sejak mengenal Tabloid BOLA dari seorang teman kos pertengahan 2003 lalu, saya langsung tertarik dengan rubrik "Suara Tifosi". Saya lihat di sana para pembaca BOLA berkomentar bebas mengenai apa saja yang terjadi di jagat sepakbola internasional. Saya merasa tertantang untuk mencoba, bisakah nama saya masuk ke rubrik itu?

Saya pun menuliskan pendapat saya tentang isu-isu yang berkembang masa itu, dan mengirimkannya via email. Sebagai permulaan saya kirim ke rubrik "Suara Tifosi" satu, dan ke rubrik "Bola Mania" satu. Alhasil, yang pertama kali berhasil saya tembus rubrik "Bola Mania", tepatnya pada edisi 3 Juni 2003. Judul komentar saya waktu itu, "Ganti Nama Peserta LI". Ya, saya menyoroti tidak kerennya nama-nama klub di Indonesia yang rata-rata berawalan "Per", semacam Persija, Persik, Persib, Persiba, dll. Meskipun tak dapat hadiah apa-apa, namun saya sudah senang setengah mati. ^_^

Karena penasaran dengan bentuk kaos hadiah yang disediakan BOLA, saya kembali mencoba. Kali kedua saya mempertanyakan tentang silver goal perdana, dan dalam hal ini saya berbeda pendapat dengan BOLA. Alhamdulillah, rubrik "Suara Tifosi" akhirnya tembus juga. Sayangnya, pendapat saya tidak dicetak dalam kotak berwarna yang berarti saya tidak mendapat hadiah. Tapi tak apa, toh, target menembus rubrik "Suara Tifosi" sudah tercapai.

Komentar saya baru bisa masuk kotak berwarna dan diberi gambar pada percobaan ketiga. Ketika itu saya menyoroti Serie A yang sedang dilanda skandal dan krisis keuangan namun ternyata mampu menempatkan 3 wakilnya di semifinal Liga Champion. Dan, dengan surat itu saya akhirnya bisa juga masuk ke kotak berwarna sekaligus mendapat hadiah kaos dari BOLA. Senangnya...

Setelah itu saya semakin keranjingan mengirim pendapat dan komentar seputar sepakbola ke BOLA. Dari sekitar 15-20 kali mengirim, 10 kali email yang saya kirim masuk dalam rubrik "Suara Tifosi" (7) dan "Bola Mania" (3). Plus, 3 kaos dan 1 jaket telah pula saya terima sebagai hadiah. Sayang, setelah terakhir kali nampang di "Suara Tifosi" pada 23 Juni 2006, saya absen lama sekali. Saya juga mulai jarang menonton sepakbola.

3 tahun kemudian, ketika gelegar Piala Dunia 2010 mulai diperdengarkan, saya iseng-iseng mencoba peruntungan. Kebetulan hadiah yang diberikan BOLA berbeda dengan 3 kaos yang sempat saya dapatkan sebelumnya. Saya pun penasaran, dan mengirim email berjudul "Klub Pembunuh Bintang" yang menyoroti Real Madrid. Syukur alhamdulillah, komentar tersebut dimuat di BOLA edisi Selasa (26/1) kemarin. Gairah saya jadi kembali memuncak untuk mengumpulkan sebanyak mungkin hadiah dari BOLA. Lumayan, bisa menghemat anggaran untuk membeli baju. Hehehe....

Bagaimana dengan Bung-bung sekalian, apakah Bung-bung pernah mencoba mengirim pendapat/komentar ke BOLA atau media lain? Bagi-bagi dong ceritanya...

Senin, 25 Januari 2010

Orang Belanda Kok Namanya Eko?


INI cerita lama. Tepatnya 9 tahun lalu, saat saya sedang magang sebagai guide di Candi Pramabanan. Ketika itu saya masih menempuh pendidikan di Pendidikan Profesi Pariwisata milik Yayasan Pengembang UNY. Karena tertarik dengan dunia guide yang serius tapi santai, sayapun memilih mengisi waktu liburan semester dengan magang di Candi Prambanan.



Selain magang saya juga nyambi berjualan tiket pertunjukan Sendratari Ramayana yang panggungnya terletak persis di sebelah barat Candi Prambanan. Lumayan, setiap tiket dapat diskon 10%. Belum lagi kalau menghitung selisih biaya transport yang dipakai mengangkut klien dari hotelnya di Jogja menuju ke pertunjukan. Dalam semalam paling tidak mengantongi Rp25.000-Rp50.000.

Nah, suatu hari saya bertemu sepasang tamu dari Belanda. Meskipun pasangan Belanda, tapi mereka berbeda 100%. Yang laki-laki bule asli, sedangkan yang perempuan (maaf) berkulit hitam seperti orang Afrika. Kepada mereka saya tawarkan tiket pertunjukan Sendratari Ramayana dan mereka tertarik.

Lucunya di sini, yakni ketika saya menuliskan kwitansi tanda pembayaran tiket. Selain nama klien, saya juga membubuhkan nama dan tanda tangan. Eh, ketika saya menuliskan kata "Eko", si perempuan Belanda itu nyeletuk dalam bahasa Inggris. "Nama Anda seperti nama sepupu saya," katanya. Walah, terang saja saya kaget mendengarnya. Opo tumon wong Londo kok jenenge Eko?


Peta Republik Suriname.
Usut punya usut, ternyata si perempuan Belanda itu aslinya dari Suriname. Dan ia adalah warga Suriname keturunan Jawa. Mengetahui hal tersebut saya langsung saja mengajaknya berbahasa Jawa. Nyambung deh. Cuma si Mbak dari Suriname ini tidak bisa bahasa Jawa halus alias kromo inggil. Ia hanya bisa berbahasa Jawa ngoko yang merupakan bahasa sehari-hari. Wajar, ia warga Jawa-Suriname generasi kedua dan lebih banyak bergaul dengan budaya Barat.

Sejak itu, saya jadi semakin tertarik dengan Suriname, negara yang terletak di sebelah utara Brazil itu.

Ada sekitar 20% etnis Jawa di Suriname. Meski sudah lama terpisah jauh dari leluhur mereka, namun orang-orang Jawa-Suriname tak lupa asal-usul. Sebisa mungkin mereka mempertahankan budaya dan adat istiadat Jawa, terutama bahasa Jawa yang terus dipertahankan di kalangan komunitas Jawa. Salah satu caranya adalah dengan membuat radio-radio berbahasa Jawa.

Penasaran dengan bahasa Jawa-nya orang-orang Suriname? Coba saja dengarkan lewat siaran live streaming Radio Garuda atau Radio Suara Jawa. Semua program dan lagu-lagu dalam kedua radio ini disajikan dalam bahasa Jawa. Hanya iklan saja yang disampaikan dalam bahasa Belanda yang merupakan bahasa nasional Suriname.

Well, ini ironis. Sebab, di Jawa sendiri siaran kebudayaan dan lagu-lagu Jawa di televisi ataupun radio tidak begitu diminati generasi muda Jawa. Anak-anak muda Jawa di Jawa lebih tertarik dengan budaya pop ala Barat. Budaya Jawa dianggap kampungan. Padahal, di Suriname musik rock dan hip hop saja ada yang berbahasa Jawa. Jangan-jangan nanti malah kebudayaan Jawa di Suriname lebih maju ketimbang di Jawa sendiri?

Sabtu, 23 Januari 2010

Belum 100 Hari SBY Habiskan Rp300 M Lebih


COBA bayangkan, komputer seperti apa yang bisa kita punya dengan dana sebesar Rp15 juta? Kalangan gamers sejati yang biasa menggunakan komputer dengan spek gila-gilaan rasanya wajar iri pada anggota DPR RI yang diberi komputer semewah itu.

100 hari perjalanan pemerintahan SBY rasanya kok malah diisi dengan ajang pemborosan uang negara. Baik eksekutif maupun anggota legislatif saling berebut mendapat fasilitas terbaik, padahal hasil kerja mereka masih NOL besar. Dan pengadaan komputer Rp15 juta untuk anggota DPR tersebut menambah panjang daftar pemborosan uang negara yang dilakukan elit politik di eksekutif maupun legislatif.


Foto: http://matanews.com.
Coba mari kita ingat-ingat lagi. Setelah pengadaan mobil mewah seharga Rp1,3 miliar untuk para menteri KIB II dan pejabat lain yang setingkat, SBY kembali menggelontorkan uang banyak untuk membeli pesawat kepresidenan. Kemudian disusul dengan rencana renovasi pagar istana. Berapa dana yang dikeluarkan SBY? Untuk renovasi pagar istana saja sudah habis Rp22,6 miliar, belum lagi biaya pembelian pesawat.

Kalau dihitung-hitung, total uang yang harus dikeluarkan pemerintah untuk semua 'kebutuhan' tersebut sebesar Rp325,3 miliar. Rinciannya, untuk renovasi pagar istana Rp22,6 miliar, untuk membeli pesawat RI 1 sekitar Rp200 miliar, dan pengadaan mobil menteri sebesar Rp1,3 x 79 (pejabat yang diberi) = Rp102,7 miliar (versi lain menyebut totalnya hanya Rp71,1 miliar atau Rp63,9 miliar). Gila, bukan? Itu belum menghitung anggaran untuk komputer anggota dewan.

Dengan adanya fakta-fakta ini, SBY semakin menjauhkan dirinya dari pesan yang ia sampaikan sendiri ketika pertama kali maju sebagai capres di tahun 2004. Kala itu, dalam kampanye-kampanyenya SBY selalu menyerukan perlunya penghematan anggaran dan himbauan agar pejabat negara hidup dalam kesederhanaan. Nyatanya, justru SBY sendiri yang mempelopori pemborosan uang negara dengan membeli pesawat kepresidenan, membelikan menteri-menterinya mobil mewah, dan merenovasi pagar istana.

Tidak usah dipertanyakan lagi, tentu saja ke(tidak)bijakan ini mencederai rasa keadilan bagi masyarakat (yang ini niru omongan pengamat di tivi-tivi). Ketika seorang anak kos semakin susah membeli beras karena sekarang harganya jadi paling murah Rp6.000/kg (ini pengalaman pribadi), ketika ibu-ibu bingung mencari sekolah murah, ketika para sarjana kebingungan karena tak ada lapangan pekerjaan, eh, kok malah membuat kebijakan yang membuat rakyat susah. Please dong, ah.

Melihat fenomena ini, tak heran jika banyak aktivis geram pada SBY. Sudahlah kasus Bank Century tidak selesai-selesai, sudahlah lembaga penegak hukum 'sakit', ditambah lagi sikap pejabat pemerintahan yang tidak peka dengan kondisi sosial rakyatnya. Jadilah kegeraman itu memuncak menjadi rencana aksi besar-besaran di hari ke-100 pemerintahan SBY-Boediono. Disuruh mundur? Jangan, ah. Orang maju saja tidak bisa kok. :D

Cuma pendapat pribadi. Mohon maklum.

Rabu, 20 Januari 2010

Ditawari Beriklan di Detik


KETIKA UangLama.com masih berwujud blog, saya pernah bercerita mengenai sejumlah hal menarik yang saya temui dari para pengunjung blog tersebut. Tapi, apa yang saya temui di mailbox barusan rasanya bakal jadi hal yang paling menarik selama saya memiliki UangLama.com. Apa itu?


Logo detik.com.
Maaf kalau dianggap berlebihan, tapi saya ditawari beriklan di Detik. What a surprise! Situs berita pertama dan terbesar di Indonesia ini menawari saya beriklan. Hmmm, sama sekali tidak saya sangka-sangka. Jangankan beriklan di Detik, memikirkan untuk memasang iklan pun saya tidak pernah. Kenapa? Karena nama domain UangLama.com itu sendiri sudah cukup sebagai sarana promosi. Setiap pencarian yang mengandung frasa 'uang lama' di Google akan selalu menghadirkan UangLama.com di halaman depan. ^_^ *sombong mode on*

Well, mungkin ada yang penasaran dengan email dari Detik itu. Ini dia saya kopi mentah-mentah naskah emailnya kemari:


Jakarta, 4 Januari 2010

Kepada Yth,
Bp. Eko Nurhuda
Business Owner
UANGLAMA.COM
Di Tempat


Dengan hormat,

Salam sejahtera kami sampaikan, semoga Bapak dan seluruh staff UANGLAMA.COM selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Bersama ini perkenankanlah kami untuk melampirkan proposal Adtext dan Proposal Adpoint Detikcom untuk pemasangan banner iklan maupun iklan berbasis teks di detikcom guna promosi UANGLAMA.COM secara online. Dengan menggunakan adpoint atau adtext detikcom, sebagai media online terbesar di Indonesia, adalah pilihan yang tepat untuk mendistribusikan online marketing campaign Anda. Karena dengan cara tersebut campaign Anda akan dilihat oleh sebagian besar pengguna internet di Indonesia.

Adtext adalah pemasangan iklan berbasis teks yang dapat di klik dan hyperlink ke website anda, iklan ini bersifat harian untuk semua kanal, sedangkan di kanal DetikFinance,DetikInet & DetikSport bersifat bidding / lelang > Informasi lebih lanjut Klik Disini

Adpoint Detikcom terdiri dari dua produk :
* Adpoint Reguler: Adalah pemasangan iklan yang Anda bayar berdasarkan jumlah banner iklan yang terlihat/tampil (pay per view), mulai dari Rp. 0,5/per view dengan minimal deposit Rp. 250.000 > Infomasi dan pendaftaran Klik Disini
* Adpoint Premium: Adalah pemasangan banner di setiap publisher detikcom, yang bersifat harian harga mulai dari Rp. 75.000/hari > Informasi lebih lanjut Klik Disini

Demikian penawaran ini kami sampaikan, semoga mendapat tanggapan yang positif. Atas perhatian dan kerja sama yang baik, kami ucapkan terima kasih .

~ GRATIS DESAIN BANNER ~

Warm Regards,

A****d Z*****a
Online Retail Advertising Consultant


Hehehe, maaf kalau dianggap narsis. Emang maksudnya gitu koq. ^_^
Buat Detik, maaf ya emailnya saya jadikan bahan untuk narsis-narsisan. :D
Btw, mungkin ada rekan-rekan pebisnis online yang mau beriklan di Detik?

Senin, 18 Januari 2010

Ramai Publisitas, Bazar Numimatik Sepi Pengunjung


SEMPAT ragu-ragu dengan kemampuan saya dalam menulis press release, alhamdulillah, ternyata sambutan rekan-rekan media sangat meriah saat menanggapi press release Bazar Numismatik Jogja 2010 yang saya kirim. Lumayan, setidaknya ada 5 media cetak dan 1 media online yang meliput pagelaran bazar uang lama yang bertempat di Pasar Klithikan, Pakuncen, Wirobrajan tersebut.


Foto: harianjogja.com
Sayangnya, dengan publisitas seramai itu Bazar Numismatik Jogja 2010 justru sepi pengunjung. Padahal, diliput 5 media cetak sama dengan diliput oleh semua media yang beredar di Jogja karena jumlah media cetak di Jogja hanya sejumlah itu. Yah, mungkin ini salah saya. Soalnya saya telat mengirim press release. Bazar dimulai Jum'at, 15 Januari 2010, eh, saya baru mengirim press release-nya hari itu juga sekitar jam 8 pagi. ^_^

Meskipun begitu, saya tidak mau dijadikan kambing hitam begitu saja. Menurut pengamatan saya, setidaknya ada beberapa faktor lain yang membuat Bazar Numismatik Jogja 2010 ini sepi pengunjung. Pertama, menurut pengakuan Pak Wisnu Murti--seperti yang ia sampaikan juga ke KR Jogja dotcom, di Semarang dan Surabaya juga tengah digelar event serupa. Alhasil, pengunjung dari luar kota Jogja terbagi konsentrasinya. Kedua, tepat di hari kedua bazar, event Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) dibuka. Ini juga membuat perhatian publik Jogja terfokus pada Sekaten yang memang selalu ditunggu-tunggu setiap tahun. Apalagi penyelenggaraannya lebih meriah ketimbang bazar yang digelar Asosiasi Numismatik Jogja.

Hal-hal ini tentunya akan menjadi catatan khusus bagi rekan-rekan di Asosiasi Numismatik Jogja bila hendak melaksanakan event serupa di waktu-waktu mendatang. Selain mempertimbangkan masak-masak waktu penyelenggaraan agar tidak bentrok dengan event lain--apalagi event yang serupa di kota lain, sisi publisitas juga harus digarap lebih baik. Well, ini terutama ditujukan pada saya yang kemarin dipercaya mengurusi masalah publikasi ke media.

Bagi saya, membuat press release untuk Bazar Numismatik Jogja 2010 merupakan pengalaman pertama. Wajar saja jika masih banyak kekurangan di sana-sini. Namun saya rasanya sudah boleh merasa puas dengan hasilnya. Sungguh tidak saya sangka-sangka jika hampir seluruh media yang ada di Jogja datang meliput event tersebut. Padahal saya sempat pesimistis, jangan-jangan press release yang saya kirim hanya jadi bahan tertawaan redaktur saja.

Akhirnya, sebagai pribadi sekaligus sebagai orang yang paling bertanggungjawab terhadap pengiriman press release Bazar Numismatik Jogja 2010 ke media-media di Jogja, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan media yang telah mengirim wartawannya dan meliput pelaksanaan event ini. Media-media tersebut adalah:
1. Harian Jogja; "Nomor seri uang bisa bawa untung..."
2. KR Jogja dotcom; "Bazaar Uang Kuna Belum Mampu Tarik Pengunjung"
3. Kompas Jogja; "Bisnis Uang Lama Menguntungkan "
3.
4.
5.

Jumat, 15 Januari 2010

Bazar Numismatik Yogyakarta 2010


BERANGKAT dari pemikiran bahwa sebenarnya ada banyak penggemar numismatik di Jogja namun masih kesulitan mencari tempat untuk saling bersosialisasi satu sama lain, Asosiasi Numismatik Jogja mengadakan Bazar Numismatik Jogja 2010. Bertempat di Pasar Klithikan Wirobrajan, bazar yang dihelat tanggal 15 – 18 Januari 2010 ini bertujuan untuk mempertemukan sesama penggemar numismatik dan juga filteli se-Jogja dan sekitarnya.


Uang lama koleksi Pak Wisnu Klithikan.
Inisiator acara, Panji Kumala, mengatakan, tujuan mengadakan bazar ini adalah untuk membangun suasana kekeluargaan antar penggemar numismatik di Jogja. Selama ini komunitas numismatik Jogja memang belum mempunyai wadah sendiri, sehingga masing-masing kolektor uang lama terkesan berjalan sendiri-sendiri tanpa mengenal satu sama lain. Dengan adanya bazar ini diharapkan akan timbul suasana guyub yang pada akhirnya akan memajukan dunia numismatik di Jogja.

"Sebenarnya banyak orang yang suka mengumpulkan uang lama, namun jarang ada wadah untuk saling ketemu. Lalu ada juga yang memiliki koleksi tapi tidak tahu kalau mau jual harus ke mana. Yang paling lucu kita tahu nama-nama sesama teman numismatik, tapi tidak tahu wajahnya bagaimana? Waktu ketemu, eh, ternyata kamu toh," demikian uraian Panji Kumala mengenai alasannya mengadakan acara ini.

Alasan lainnya, uang adalah saksi sejarah perjalanan bangsa. Karena itu, uang lama penting untuk mempelajari sejarah perkembangan negara & perekonomian kita di masa lalu. Kita juga bisa tahu kebudayaan atau kehidupan masyarakat pada masa tertentu salah satunya melalui mata uang atau media barter yang digunakan pada masa itu.

"Jogja memegang peranan penting dalam dunia numismatik nasional. Selain banyak kolektor senior yang berasal dari Jogja, sejarah panjang Jogja sebagai eks ibukota Republik Indonesia dan juga salah satu pusat pemerintahan kolonial Hindia Belanda di Jawa menjadikan daerah ini kaya akan koleksi benda antik termasuk uang lama. Banyak uang lama yang sulit dicari di daerah lain tapi ternyata banyak ditemukan di Jogja. Anehnya, dibandingkan kota-kota lain seperti Bandung, Jakarta, dan Surabaya, aktivitas numismatik di Jogja malah vakum. Para kolektornya juga seperti tidak saling kenal, tidak kompak. Semoga dengan bazar ini terjadi perubahan," tambah Eko Nurhuda, pemilik toko online UangLama.com yang dipercaya sebagai humas acara.

Tidak hanya menjadi ajang kumpul-kumpul kolektor dan pedagang uang lama, bazar ini adalah juga sarana berbagi ilmu, baik antarsesama kolektor/pedagang maupun masyarakat awam. Bazar ini dapat mengenalkan kepada masyarakat bahwa uang lama juga bisa digunakan sebagai sarana belajar sejarah & investasi masa depan.

"Kami mau memunculkan kolektor-kolektor baru yang mengerti bahwa uang lama ini bisa sebagai media mempelajari sejarah bangsa & juga sarana berinvestasi. Di sini juga ada suasana kekeluargaan untuk saling belajar & membagikan ilmu," kata Panji lagi.

Yang tidak kalah menarik, bila diseriusi acara ini dapat dijadikan sebagai event wisata bagi wisatawan yang mengunjungi Jogja, baik wisatawan lokal maupun tamu-tamu dari mancanegara. Oleh karena itu Panji berharap acara ini bisa menjadi agenda rutin. Dukungan dari semua masyarakat Jogja, termasuk dukungan publikasi dari rekan-rekan media akan sangat membantu mewujudkan harapan tersebut.

"Apalagi kalau ada sponsor yang mau support," tambah Panji setengah berharap.

Bazar diadakan pada tanggal 15 - 18 Januari 2010, dari pukul 09.00 s/d 21.00 WIB. Selain teman-teman dari Asosiasi Numismatik Jogja yang digawangi Panji Kumala, Bapak Wisnu (pemilik lapak uang lama Maju Mapan), Bapak Eko Nurhuda (UangLama.com), serta kolektor kawakan yang terkenal sebagai rajanya koin lama Bapak Sugiarto, sejumlah pedagang/kolektor yang turut berpartisipasi dalam bazar ini. Antara lain Bapak Hariono (Suroboyo Stamp, Surabaya), Bapak Sayuti (Sayuti Collection, Surabaya), Bapak Icuk (kolektor dari Klaten), serta kolektor-kolektor lain dari Jogja dan sekitarnya.

Tempatnya di Pasar Klithikan Jogja, Jl. Hos Cokroaminoto, Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta.


Catatan: Ini adalah naskah press release Bazar Numismatik Jogja 2010 yang saya kirim ke koran-koran lokal dan nasional yang beredar di Jogja.
kata bijak Andrie Wongso

Gerakan 2012 Buku
untuk Pemalang

Buku yang sudah terkumpul
0 0 0 1 eks.

Masih butuh 2011 eks. lagi.

Bantu kami menyediakan 2012 eksemplar
buku bacaan untuk warga Pemalang.
Baca info selengkapnya di sini!


Rp1 Tahun 1956

Uang Mahar, Rp1 Tahun 1956

Obverse: Gadis Jawa di kanan, angka satu di kiri.
Reverse: Garuda Pancasila di tengah, diapit angka satu.
Kondisi: Baru (Uncirculated, UNC)

Rp10.000,-

per lembar

Recommended Posts
Recommended Video
GBK
Lagi, timnas Indonesia harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Malaysia di final SEA Games 2011. Dalam final yang sama-sama kita saksikan Senin (21/11) malam, timnas U-23 keok.
Bakso
Bakso umumnya memiliki bulatan-bulatan campuran tepung dan daging yang biasa disebut pentol. Di Pemalang, ada warung bakso yang menyediakan bakso tanpa pentol.
uanglama