Selamat datang di bungeko.com, blog pribadi Eko Nurhuda. Semoga tulisan-tulisan di blog ini memberi manfaat positif bagi Anda. Saran atau kritik dari Anda akan diterima dengan senang hati.

Menyambut Euro 2012

Hasil Undian dan Jadwal Lengkap Euro 2012

Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina masih enam bulan lagi. Namun undian penentuan grup bagi ke-16 peserta putaran final sudah dilakukan di Kiev, 2 Desember lalu.

Baca juga:

»
» Ketika Blog Masih Dipandang Sebelah Mata



Minggu, 28 Februari 2010

Seperti Apa Kriteria Istri Idaman Anda?


Wanita yang pas untuk teman pesta, clubbing, bergadang sampai pagi, chitchat yang snob, merokok dan kadang mabuk, tidak mungkin direncanakan jadi istri.

MASIH ingat dengan twit kontroversial itu? Tidak hanya di jagat Twitter yang menjadi lokasi pertama kemunculannya, kontroversi juga menyebar di dunia nyata. Media-media nasional meliput pro-kontra pernyataan bersayap itu. Metro TV, stasiun televisi swasta yang menayangkan acara laris Mario Teguh Golden Ways setiap pekan, sampai membawa si pembuat twit, Mario Teguh, ke studio untuk diwawancarai secara khusus bersama seorang aktivis Jurnal Perempuan. Saking hebohnya, tim Mario Teguh sampai merasa harus menutup akun Twitter sang motivator super itu.

Banyak pihak yang merasa keberatan dengan "statement" Super Mario di Twitter. Alasan mereka, tidak semua perempuan perokok dan pemabuk itu tidak bisa menjadi istri yang baik. Dan, masih menurut mereka yang kontra ini, twit Mario terlalu bias jender. Bukankah lebih banyak laki-laki perokok dan pemabuk ketimbang perempuan? Lagipula, kata mereka, apa hak Mario membuat penghakiman seperti itu?

Ada yang kontra tentu ada pula yang pro, dan saya termasuk di barisan orang-orang yang pro dengan isi twit Mario Teguh. Kalau Anda bertanya apa pendapat saya, jelas saya sangat menyetujui apa yang di-twit Mario Teguh itu. Kenapa? Karena menikah, bagi saya, bukanlah sebuah peristiwa biasa. Ini adalah upacara sakral yang menentukan maju-mundurnya taraf sekaligus kualitas hidup seseorang. Demikian menentukannya pernikahan ini bagi kehidupan seseorang, sehingga dibutuhkan pemikiran matang untuk menentukan siapa yang akan Anda bawa ke dalam pernikahan.

Istri bukan sekedar teman tidur, istri adalah teman hidup. Susah-senang kehidupan Anda setelah menikah, istrilah yang seharusnya ada di samping Anda. Kepada istrilah Anda mempercayakan pendidikan dini dan masa depan anak-anak Anda. Satu pertanyaan sederhana dari saya, apakah Anda mau anak-anak Anda dididik oleh seorang pemabuk yang suka clubbing sampai pagi?

Bagi saya, menikah itu cukup sekali saja. Karena itu memilih calon pendamping hidup musti dilakukan dengan cermat, dengan mempertimbangkan banyak faktor. Jujur, sebagai lelaki normal--dan terbukti 'ampuh'--saya tertarik wanita cantik nan seksi. Tapi apa gunanya kalau yang cantik hanya luarnya saja? Sekali lagi, istri itu teman hidup, bukan sekedar teman tidur. Jangan sampai belum ada setahun menikah sudah cerai, apalagi dengan alasan tidak cocok lagi.

Nah, kalau ada yang bertanya pada saya, "Seperti apa kriteris istri idaman Anda, Bung Eko?" Dengan mantap saya akan menjawab, "Yang jelas bukan wanita yang suka pesta, clubbing, bergadang sampai pagi, chitchat yang snob, merokok dan kadang mabuk!"


Selasa, 16 Februari 2010

Mimpi yang Jadi Kenyataan


PADA satu kesempatan chatting di Facebook, Bung Arif yang mengaku bukan kiai berkata, "Pasti senang ya bukunya sudah terbit?" Di luar dugaannya, saya malah menjawab, "Hmmm, biasa saja." Kok biasa? Alasannya, karena saya sudah membayangkan hal ini sejak lebih dari 15 tahun lalu. Jadi, ketika kemudian buku pertama saya terbit, saya hanya tersenyum simpul sambil berkata dalam hati, "Akhirnya impian itu jadi kenyataan juga."


Foto: http://maula.blog.friendster.com
Ya, menulis buku memang sudah menjadi impian saya sejak SMP. Karena dulu banyak membaca novel silat Wiro Sableng dan suka sekali menonton sinetron Panji Tengkorak, maka saya menulis cerita silat pula. Tentu saja saya membayangkan cerita silat saya itu dibukukan dan beredar luas seperti halnya Wiro Sableng karya alm. Bastian Tito. Saking inginnya melihat karya saya dibukukan, saya sampai pernah berkhayal menemukan lampu ajaib milik Aladdin. Dan kepada jin penghuni lampu itu saya akan minta agar buku-buku saya diterbitkan. What a fool! ^_^

Pertama kali masuk Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY) di tahun 2003, saya sempat menulis sebuah naskah buku inspirasional. Tapi belum sempat naskah tersebut saya selesaikan--bahkan belum sempat diberi judul, komputer saya sudah rusak dan hard disk-nya minta diganti. Sialnya, seluruh file di dalamnya amblas tak berbekas. Naskah pertama saya pun hilang sebelum sempat diselesaikan.

Saya kembali mencoba menulis buku di tahun 2005 dan berhasil menyelesaikan sebuah naskah berjudul Jembatan Emas. Isinya berupa rangkaian kisah sukses pelaku 5 profesi yang dikenal sebagai "lahan basah" alias banyak melahirkan jutawan. Kebetulan tema bisnis dan entrepreneurship sedang menjadi primadona saat itu. Tapi naskah tersebut ditolak mentah-mentah oleh Gramedia.

Menjelang Piala Dunia 2006, saya mulai menulis buku-buku bertema sepakbola. Saya menyusun banyak draft/outline buku sepakbola, tapi hanya satu naskah yang bisa saya selesaikan. Sial, belum sempat saya mem-print naskah tersebut, komputer saya rusak (lagi). Kali ini karena efek gempa yang sempat membuat kamar saya porak-poranda. Apa lacur, dua naskah hilang gara-gara komputer rusak. Nasib...

Setelah itu saya sama sekali tidak berpikir untuk menulis buku lagi. Saya malah berhasrat untuk segera merampungkan kuliah dan meniti karir di dunia jurnalistik. Jalan untuk itu sudah saya mulai dengan magang di mingguan Malioboro Ekspres yang hanya berumur setengah tahun. Lalu saya magang di Harian Jogja, tapi hanya selama 2 bulan. Sempat ditawari memperpanjang masa magang, bahkan kemudian ditawari menjadi reporter muda dengan sejumlah bayaran, tapi saya memilih menolak peluang tersebut karena satu alasan prinsip.

Seusai magang di Harian Jogja saya asyik berdagang uang lama. Hasilnya lumayan. Saya sempat membukukan transaksi sebesar 8 juta rupiah dengan seorang pengusaha Surabaya. Tapi, belum sampai setengah tahun menggeluti dunia numismatik, saya sudah mulai terbayang-bayang dengan buku lagi. Daripada terombang-ambing dalam ketidak-pastian, saya kemudian menomor-duakan UangLama.com dan mulai serius menulis buku bertema blog dan internet. Alhamdulillah, naskah pertama saya selesai tepat di akhir Oktober 2009.

5 November 2009 saya memberanikan diri datang ke Penerbit DIVA Press untuk menyerahkan naskah tersebut. Meski sempat mendapat komentar tidak enak plus sedikit dipandang sebelah mata oleh editornya, naskah saya dinyatakan diterima setelah menunggu selama 2 pekan. Tak mau menunggu lama, saya segera mengirim naskah kedua dan kembali diterima. Akhir Januari lalu saya mengirim naskah ketiga dan lagi-lagi diterima. Alhamdulillah...

Kini saya sedang menyelesaikan naskah buku keempat, dan setelah itu akan disusul dengan yang kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya. Saya baru akan berhenti menulis buku jika Allah sudah tidak mengijinkan lagi. So, sepanjang saya masih kuat menulis, saya akan terus menulis. So, tolong doanya saya supaya senantiasa sehat ya...

Sabtu, 13 Februari 2010

Alhamdulillah, Langsung 2 Buku Sekaligus


TAHUN 2010 sepertinya jadi tahun keberuntungan saya dalam dunia kepenulisan buku. Pasalnya, setelah pertama kali mencoba mengirim naskah buku ke Penerbit DIVA Press pada awal November 2009 lalu, buku-buku saya mulai diterbitkan awal tahun ini. Dan, tidak tanggung-tanggung, hanya dalam tempo kurang dari dua pekan saja grup DIVA Press menerbitkan 2 buku saya sekaligus!


Buku kedua saya yang diterbitkan oleh Penerbit iN-Books, salah satu lini DIVA Press Group.
Senang? Tentu saja saya senang sekali. Bayangkan, saya belum pernah menulis buku sebelumnya, dan naskah yang saya kirimkan waktu itu adalah naskah pertama saya yang bertema blog. Alhamdulillah, naskah tersebut langsung diterima dan malah langsung diterbitkan. Padahal, tak jarang seorang penulis pemula mesti menghadapi penolakan berkali-kali sebelum melihat bukunya diterbitkan. Setidaknya, seorang penulis harus menunggu lama karena walaupun naskahnya diterima penerbit tapi tak segera diterbitkan.

Saya termasuk beruntung karena naskah pertama saya langsung diterima, dan diterbitkan dua bulan kemudian. Naskah kedua malah diterbitkan lebih cepat lagi, hanya dalam tempo sebulan. Jadilah saya memperoleh kejutan besar di akhir Januari 2010, di mana buku pertama dan kedua saya diterbitkan dalam waktu berdekatan. Padahal saya mengirim naskahnya berselisih sebulan lho.

Buat teman-teman blogger Jogja, buku pertama saya sudah bisa dibeli dengan harga Rp36.000 di toko buku Toga Mas atau Social Agency. Di Gramedia sepertinya belum ada. Entah karena memang distributornya tidak memasok Gramedia, atau karena masih menunggu daftar tunggu. Tahu sendiri kan betapa membanjirnya buku di Gramedia? Sementara buku kedua juga sudah beredar, juga sudah dipajang di situs DIVA Press.

Btw, mau mendapat buku-buku karya saya secara gratis? Gampang. Cukup rajin-rajin berkomentar di blog ini, dan jadilah top komentator dengan memenuhi syarat-syarat seperti yang saya tentukan di sini. Di akhir bulan, saya akan menghitung sendiri secara manual semua komentar yang memenuhi syarat. Dan, saya menyediakan souvenir berupa kaos cantik dan buku-buku saya untuk seorang pemenang.

Tertarik? Selamat berkomentar.

Rabu, 10 Februari 2010

Ayo, Hidupkan Wisata Lumpur Lapindo di Porong


SUDAH lebih dari 100 hari, tapi Pemerintah rupanya masih terlalu sibuk mengamankan kursi kekuasannya. Tak ada aksi nyata yang menyangkut langsung dengan hajat hidup rakyat. Menaikkan gaji menteri, membeli mobil dinas baru yang lebih mewah, merenovasi pagar istana yang tidak jelas urgensinya, membeli pesawat kepresidenan yang belum tentu mendesak kebutuhannya, adalah sederetan "prestasi" pemerintahan SBY-Budiono di 100 hari pertamanya.

Ironisnya, nun jauh di ujung timur Pulau Jawa, warga Sidoarjo yang sudah hampir 4 tahun menderita akibat "bencana" lumpur Lapindo masih hidup serba salah. Di mana kepeekaan Pemerintah? Apakah pantas mengeluarkan kebijakan yang jor-joran menghamburkan uang negara di saat ada sebagian rakyatnya yang masih menderita? Baik, kalau Pemerintah tidak mempunyai kepekaan itu, kita para blogger yang harus mengingatkan. Berikut saya kopikan sebuah ajakan dari Kika Stafii untuk mengingatkan Pemerintah bahwa korban lumpur Lapindo menantikan aksi nyata SBY-Budiono.

Menghidupkan wisata lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo

Setelah 3 tahun ditambah 100 hari pemerintahan yang sekarang, ternyata tidak sedikitpun menyentuh kondisi sosial korban lumpur Lapindo yang ada di Desa Porong, Sidoarjo. Perlahan dan (seperti) pasti, kondisi sosial di Porong dan desa-desa lainnya yang terkena dampak lumpur Lapindo dilupakan bahkan ditinggalkan. Rembug Nasional (National Summit) yang diadakan Presiden setelah pelantikannya juga seperti sengaja untuk tidak mengundang korban lumpur Lapindo.


Luapan lumpur Lapindo merendam Sidoarjo.
Masih tercecer saat ini lebih dari 300 KK yang menganggur, hak penghidupan yang semestinya menjadi hak paten manusia hidup masih juga tidak diperjuangkan dengan baik. Bisa dibayangkan, berapa total nyawa yang terancam kelangsungan hidup, pendidikan dan masa depan bila dihitung dari 300 KK. Uang ganti beli (yang jelas-jelas uangnya dari Negara alias Rakyat) juga tidak membantu banyak, karena masih banyak penduduk yang belum menerima uang ganti asset tersebut.

Kebijakan Perpres No. 14/2007 adalah termasuk kebijakan ‘kesopanan’ pemerintah pusat pro Lapindo, tidak tegas dalam memberesi persoalan rakyat akibat kebijakan pengelolaan usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) yang tidak berorientasi pada social safety.

Terakhir minggu ketiga bulan pertama tahun ini, saya mencoba melakukan assesment secara nyata ke desa-desa yang terkena dampak lumpur Lapindo. Lokasi pengungsian yang masih semrawut, pengangguran nyata yang terlihat di sisi danau lumpur, hingga wajah-wajah tegang yang berseliweran disekitarnya. Namun terlihat juga beberapa pengunjung yang menikmati danau lumpur ciptaan Lapindo itu. Luas tanggul yang hampir mencapai 1 KM menjadi strategic view untuk menikmatinya. Terlihat sekali minim aktifitas yang terjadi disini. Hampir seperti daerah mati. Sebelum menikmatinya, saya dicegat dan di minta membayar sebesar 5000 rupiah sebagai ganti uang tiket masuk ke lokasi wisata danau lumpur. Tanpa senyum dan tanpa basa basi, terlihat sekali ketegangan yang sudah akut menyelimuti pikiran mereka-mereka yang ada di daerah ini.

Berbekal melihat dan mencermati keadaan, kebutuhan perut para pengungsi yang berjumlah lebih dari 300 KK tersebut sudah tidak bisa lagi dihindarkan. Sudah sangatlah mendesak. Menurut Ipung M Nizar, salah satu koordinator pengungsi, mereka sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Kebanyakan dari mereka sulit untuk diajak keluar dari daerah lumpur tersebut. Hingga akhirnya dia sebagai koordinator tidak bisa juga meninggalkan rekan-rekan dan beberapa saudaranya yang masih tinggal dan menunggu uang ganti beli dari Pemerintah. Namun mereka berjanji bila ada jaminan penghidupan yang layak, mereka akan berusaha untuk keluar dari lingkungan Lumpur yang jelas-jelas sudah tidak lagi kondusif untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selama ini Ipung dan teman-teman mencoba untuk berkarya dengan membuat CD/DVD dokumenter tentang kejadian Lumpur Lapindo.

Untuk membantu Ipung dan rekan-rekannya, saya beserta teman-teman mencapai pada tahap kesepakatan untuk membantu dengan cara menghidupkan saja sekalian wisata di Danau Lumpur Lapindo. Secara SDM dan kreatifitas, daerah Tanggulangin dan Porong merupakan sentra produksi kerajinan yang sangat dikenal di Indonesia. Di Tanggul pembatas lumpur yang lebar mencapai 15 Meter serta panjang hampir 1 KM itu nantinya akan didirikan pasar wisata dengan berbagai penjualan. Hanya saja dibutuhkan banyak modal untuk orang-orang korban Lapindo ini agar bisa berjualan.

Untuk mensiasatinya, saya secara pribadi akan menggandakan CD/DVD Dokumenter Lumpur Lapindo serta membuat beberapa macam produk yang berhubungan dengan tragedi ini. Yang nantinya hasil penjualan dikurangi modal akan saya kirim ke beberapa koordinator pengungsi disana, entah itu LSM atau personal. Diantaranya Ipung dan LSM yang tergabung dalam http://korbanlumpur.info . Beberapa produknya adalah T-Shirt dan Topi.

Pengadaan konsep Pasar Wisata Danau Lumpur ini juga merupakan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah dan mengingatkan kepada khalayak ramai bahwa masih banyak masalah yang diakibatkan oleh Lapindo dan pemerintah secara tidak langsung.

N.B:
Dan bila ada rekan-rekan yang sanggup memberikan jaminan peminjaman uang kepada para korban untuk digunakan sebagai modal usaha awal, silahkan hubungi saya atau langsung kepada Ipung M Nizar dengan nomor telpon 0817335244.


NB juga: Kabar ini saya dapat dari blognya Pak Sawali.

Minggu, 07 Februari 2010

Asal-usul Nama Kampung di Jogja


SUDAH pernah berkunjung ke Jogja? Saya yakin beberapa di antara Bung-bung sekalian ada yang sudah pernah ke Jogja. Di Jogja, nama-nama kampung--terutama yang berada di sekitar Keraton--sangat unik karena dibuat berdasarkan profesi yang banyak ditekuni warganya, jabatan atau posisi di Keraton, keahlian sebagai abdi dalem, atau nama kesatuan prajurit Keraton. Sementara berdasarkan letaknya, kampung-kampung tersebut dibagi menjadi kampung jeron beteng alias kampung-kampung yang berada dalam kompleks Keraton yang dibatasi dengan benteng (beteng, Jawa), dan kampung jaba beteng atau yang terletak di luar benteng Keraton.


Salah satu batalyon prajurit Kraton Jogja.
Beberapa kampung di kawasan jeron beteng umumnya dihuni para abdi dalem Keraton, sehingga penamaannya diambil dari keahlian atau tugas pokoknya sebagai abdi dalem. Misalnya saja kampung Mantrigawen yang diambil dari kata "mantri gawe", yakni abdi dalem kepala pegawai. Kemudian ada kampung Gamelan. Tapi jangan sangka warganya adalah abdi dalem pembuat gamelan lho. Kampung Gamelan ini dihuni oleh para abdi dalem yang bermata-pencaharian sebagai pembuat tapal kuda.

Contoh kampung lainnya adalah Patehan, diambil dari kata "teh" karena ditinggali oleh para abdi dalem pembuat teh. Lalu kampung Siliran adalah kampungnya abdi dalem Silir yang bertugas menyalakan lampu penerangan di area Keraton. Untuk abdi dalem yang bertugas menabuh gamelan, ada kampung Namburan dan Nagan.

Melongok ke area jaba beteng, ada sejumlah kampung yang dinamai sesuai dengan jabatan/pekerjaan abdi dalem penghuninya atau nama kesatuan prajurit. Kampung-kampung yang dinamai sesuai jabatan/pekerjaan penghuninya misalnya kampung Pajeksan yang dulu banyak didiami jaksa. Lalu kampung Gowongan yang merupakan tempat tinggal tukang bangunan, sedangkan kampung Jlagran didiami oleh tukang batu.

Kampung-kampung yang disesuaikan dengan kesatuan prajurit antara lain kampung Prawirotaman, dihuni oleh prajurit-prajurit kesatuan Prawirotomo; kampung Wirobrajan, ditinggali para prajurit dari kesatuan Wirobrojo; kampung Patangpuluhan, tempat tinggalnya para prajurit kesatuan Patangpuluh; serta Jogokaryan, tempat kediaman prajurit pasukan Jogokaryo. Pasukan-pasukan ini dapat dilihat pada upacara Keraton seperti dalam grebeg Sekaten yang dilangsungkan setiap peringatan Maulid Nabi SAW.

Selain dua jenis kampung di atas, ada juga nama-nama kampung yang didasarkan pada etnis mayoritas penghuninya. Seperti kampung Pecinan untuk etnis Tionghoa, kampung Sayidan yang didiami etnis Arab, dan kampung Menduran yang merupakan kampungnya etnis Madura. Sedangkan orang-orang Eropa menghuni daerah seputaran Sagan, Kotabaru, dan Jl. Solo. Peninggalan mereka berupa rumah-rumah bergaya Eropa masih bisa dilihat di tiga kawasan tersebut.

Melihat sistem penamaan ini saya jadi ingat dengan nama-nama desa/kampung di Pemalang, tempat asal istri saya. Sebab, nama-nama desanya mempunyai pola yang seragam dengan awalan "pe" dan akhiran "an". Misalnya Pegundan, Petarukan, dan beberapa lagi. Mungkin nanti akan saya tulis pula tentang penamaan kampung/desa di Pemalang ini jika Bung-bung sekalian berminat menyimak. :D

Sekian. Terima kasih. Selamat berkomentar. Dan dapatkan souvenir dari saya. ^_^

Gambar nyomot dari detikFoto.com.

Kamis, 04 Februari 2010

Beli Terus, Kapan Bacanya?


MASIH awal tahun, tapi Jogja kembali menyuguhkan pameran buku. Tidak tanggung-tanggung, kali ini ada dua pameran buku sekaligus. Yang pertama Pameran Buku dan Multimedia Kompas-Gramedia Fair (KGF), 30 Januari-3 Februari bertempat di Jogja Expo Center (JEC). Yang kedua, pameran buku di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama yang digelar dari tanggal 31 Januari - 5 Februari (kalau tidak salah).

Sebagai kutu buku, saya tentu saja keranjingan buku. Dan event yang menawarkan banyak buku seperti pameran buku ini adalah tempat yang paling saya sukai. :D Well, meskipun harus berkrompomi dengan kondisi keuangan yang super mepet karena naskah ke-3 yang dikirim ke penerbit belum ada kabar beritanya, saya nekat berangkat ke JEC. Saya tidak mau menyia-nyiakan peluang bagus ini. Soalnya, jarang-jarang sih Kompas-Gramedia Group mengadakan pameran.


Setumpuk buku yang belum sempat saya sentuh, apalagi dibaca.
Datang di hari terakhir memang saya sengaja biar tidak belanja banyak-banyak. Konsekuensinya, ini membuat saya harus terjebak pada hiruk-pikuknya pengunjung. Maklum, ini bukan sekedar pameran buku, tapi juga ada talkshow dan beragam lomba. Untungnya ruang stan yang dibuat peserta pameran besar-besar, jadinya biarpun ramai tetap terasa lega.

Seperti yang biasa dilakukan di setiap pameran buku, saya langsung menuju ke stan yang memajang tulisan "5000-15.000". Ya, saya cari buku-buku murah! Lumayan, meskipun murah tapi tidak berarti kualitasnya murahan lho. Siapa sih yang meragukan kualitas buku-buku terbitan Kompas-Gramedia Group? Apalagi kondisi bukunya juga masih sangat bagus. Bersampul plastik dan tanpa lecet karena memang buku baru.

Sialnya, ternyata buku-buku murah yang ditawarkan beberapa masih stok lama. Saya bahkan menjumpai buku-buku yang pernah saya lihat di stan Gramedia pada Pesta Buku IKAPI pertengahan tahun 2009 lalu. Ya sudah, saya coba cari-cari buku lain yang mungkin belum saya punya. Dan, benar saja, di stan Bhuana Ilmu Populer (BIP) dan Penerbit Kompas saya dapat sejumlah buku bagus dengan harga rata-rata Rp10.000. Lumayan, 5 judul buku cukup bayar Rp55.000. ^_^

Sampai di rumah buku-buku tersebut langsung menjalani prosesi "orientasi buku baru", yakni ditulisi tempat dan tanggal pembelian, ditanda-tangani, ditempeli kertas bertuliskan "Koleksi Pribadi Eko Nurhuda", dan disampul. Begitu membuka lemari buku, saya bengong. Weladalah, ternyata masih banyak buku-buku yang belum saya baca, padahal belinya sudah beberapa bulan lalu. Terus, bagaimana nasib buku-buku yang baru saya beli ini? Hmmm, sepertinya ke-5 buku itu harus rela masuk daftar tunggu buku-buku yang akan saya baca.

Itulah problem terbesar saya. Saya sangat suka buku, sangat suka mengunjungi pameran buku, dan tentu saja sangat suka membeli buku, apalagi kalau bukunya dibanderol murah. Yang jadi persoalan, saya selalu kesulitan menyisihkan waktu untuk membaca buku-buku tersebut. Bukan karena sibuk, mungkin lebih karena saya terlalu tergantung pada mood alias moody man. :D

Bagaimana dengan Bung-bung sekalian?


Foto: Koleksi pribadi.

Senin, 01 Februari 2010

Menyambut Nasional Demokrat


SSETELAH sempat diberitakan hendak merapat ke Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Surya Paloh akhirnya malah mendeklarasikan Nasional Demokrat. Politisi senior Partai Golkar ini didukung oleh sejumlah kader Golkar lain. Mulai dari wajah baru Meutya Hafid, sampai mantan ketua tim sukses JK-Wiranto pada Pilpres 2009 lalu, Poempida Hidayatullah.


Logo Nasional Demokrat
Langkah yang diambil Surya Paloh ini mungkin tak diduga-duga. Namun besarnya kekecewaan yang ia rasakan pasca-pemilihan ketua umum Golkar beberapa waktu lalu, sepertinya setiap orang sudah tahu. Apalagi Metro TV sempat dua kali menyiarkan wawancara khusus yang membahas seputar kongres tersebut dengan Surya Paloh sebagai narasumber tunggal. Dan aura kekecewaannya jelas terpancar pada waktu Najwa Shihab mengajukan pertanyaan-pertanyaannya kala itu.

Tersingkir dari bursa pemilihan ketua umum Golkar, plus tidak mendapat tempat di susunan kepengurusan baru bentukan Aburizal Bakrie, wajar jika Surya Paloh melirik tempat lain untuk berekspresi. Awalnya dikabarkan ia hendak bergabung dengan Jend. (Purn.) Wiranto di Hanura. Pihak Hanura juga sudah siap menyambut dengan tangan terbuka. Tapi deklarasi Nasional Demokrat, Senin (1/2) sore, membuat jalan cerita jadi berbeda.

Apakah Nasional Demokrat bakal menjelma menjadi partai politik jelang Pemilu 2014? Secara resmi beberapa deklaratornya menyanggah opini itu. Tapi saya sendiri berkeyakinan kalau nanti, ketika Pemilu 2014 semakin dekat, organisasi massa ini bakal diubah bentuk menjadi parpol. Ya, Partai Nasional Demokrat. Kalau melongok situs resminya, terlihat betapa rapinya organisasi ini. Sudah terlihat kalau ormas ini bakal disiapkan sebagai sebuah parpol.

Pertanyaannya bagi kita rakyat kecil ini adalah, mampukah Nasional Demokrat memberikan perubahan pada kondisi bangsa yang sedang terpuruk ini? Rakyat sudah lelah dengan kondisi yang serba susah seperti sekarang. Kondisi jadi makin susah ketika Pemerintah malah menghambur-hamburkan uang negara untuk memanjakan pejabat tinggi negara dengan kenaikan gaji dan sejumlah fasilitas mewah yang rasanya belum diperlukan benar keberadaannya. Akankah Nasional Demokrat memberikan hal yang berbeda?

Jawabannya tentu tidak bisa ditentukan sekarang. Tapi jika melihat statement para deklaratornya--juga manifesto deklarasi ormas ini, sepertinya kita boleh menaruh sedikit harapan. Seperti kata Anies Baswedan di atas podium sore itu, kita sudah lelah dengan semua kondisi ini.

"Kami menolak demokrasi yang tanpa orientasi ke publik. Kami menolak demokrasi yang sekadar jadi proyek reformasi tanpa arti. Kami yang seluruh berdiri di sini (45 deklarator) mencita-citakan demokrasi yang matang," demikian Anies membacakan manifesto deklarasi. Ya, kita butuh perubahan! Dan Nasional Demokrat menawarkan itu. Semoga saja organisasi ini tetap setia dengan komitmen awal yang mereka lontarkan, dan tidak berbalik lidah ketika mendapat kekuasaan.

Kemudian kalau melihat susunan deklaratornya, saya berani menebalkan keyakinan akan ditepatinya janji perubahan yang dibawa Nasional Demokrat. Jujur saja, saya kurang tahu sepak terjang Surya Paloh yang lebih banyak berkutat di belakang layar. Namun nama-nama seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X, Poempida Hidayatullah, Anies Baswedan, Eep Saefullah Fatah, Syafii Maarif, Siswono Yudo Husodo, Khofifah Indar Parawansa, Budiman Sudjatmiko, Franky Sahilatua, Djaffar Assegaff, atau Meutya Hafid sudah bisa jadi garansi. Apalagi ada Pak Jusuf Kalla di sana--jagoan saya pada Pilpres lalu, tokoh yang saya yakini paling mampu mengangkat harkat dan martabat Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Selamat datang, Nasional Demokrat. Kami menanti sentuhan perubahan darimu...


Situs resmi Nasional Demokrat: http://www.nasionaldemokrat.org
Gambar logo diambil dari: http://matanews.com.
kata bijak Andrie Wongso

Gerakan 2012 Buku
untuk Pemalang

Buku yang sudah terkumpul
0 0 0 1 eks.

Masih butuh 2011 eks. lagi.

Bantu kami menyediakan 2012 eksemplar
buku bacaan untuk warga Pemalang.
Baca info selengkapnya di sini!


Rp1 Tahun 1956

Uang Mahar, Rp1 Tahun 1956

Obverse: Gadis Jawa di kanan, angka satu di kiri.
Reverse: Garuda Pancasila di tengah, diapit angka satu.
Kondisi: Baru (Uncirculated, UNC)

Rp10.000,-

per lembar

Recommended Posts
Recommended Video
GBK
Lagi, timnas Indonesia harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Malaysia di final SEA Games 2011. Dalam final yang sama-sama kita saksikan Senin (21/11) malam, timnas U-23 keok.
Bakso
Bakso umumnya memiliki bulatan-bulatan campuran tepung dan daging yang biasa disebut pentol. Di Pemalang, ada warung bakso yang menyediakan bakso tanpa pentol.
uanglama