Wanita yang pas untuk teman pesta, clubbing, bergadang sampai pagi, chitchat yang snob, merokok dan kadang mabuk, tidak mungkin direncanakan jadi istri.
MASIH ingat dengan twit kontroversial itu? Tidak hanya di jagat Twitter yang menjadi lokasi pertama kemunculannya, kontroversi juga menyebar di dunia nyata. Media-media nasional meliput pro-kontra pernyataan bersayap itu. Metro TV, stasiun televisi swasta yang menayangkan acara laris Mario Teguh Golden Ways setiap pekan, sampai membawa si pembuat twit, Mario Teguh, ke studio untuk diwawancarai secara khusus bersama seorang aktivis Jurnal Perempuan. Saking hebohnya, tim Mario Teguh sampai merasa harus menutup akun Twitter sang motivator super itu.
Banyak pihak yang merasa keberatan dengan "statement" Super Mario di Twitter. Alasan mereka, tidak semua perempuan perokok dan pemabuk itu tidak bisa menjadi istri yang baik. Dan, masih menurut mereka yang kontra ini, twit Mario terlalu bias jender. Bukankah lebih banyak laki-laki perokok dan pemabuk ketimbang perempuan? Lagipula, kata mereka, apa hak Mario membuat penghakiman seperti itu?
Ada yang kontra tentu ada pula yang pro, dan saya termasuk di barisan orang-orang yang pro dengan isi twit Mario Teguh. Kalau Anda bertanya apa pendapat saya, jelas saya sangat menyetujui apa yang di-twit Mario Teguh itu. Kenapa? Karena menikah, bagi saya, bukanlah sebuah peristiwa biasa. Ini adalah upacara sakral yang menentukan maju-mundurnya taraf sekaligus kualitas hidup seseorang. Demikian menentukannya pernikahan ini bagi kehidupan seseorang, sehingga dibutuhkan pemikiran matang untuk menentukan siapa yang akan Anda bawa ke dalam pernikahan.
Istri bukan sekedar teman tidur, istri adalah teman hidup. Susah-senang kehidupan Anda setelah menikah, istrilah yang seharusnya ada di samping Anda. Kepada istrilah Anda mempercayakan pendidikan dini dan masa depan anak-anak Anda. Satu pertanyaan sederhana dari saya, apakah Anda mau anak-anak Anda dididik oleh seorang pemabuk yang suka clubbing sampai pagi?
Bagi saya, menikah itu cukup sekali saja. Karena itu memilih calon pendamping hidup musti dilakukan dengan cermat, dengan mempertimbangkan banyak faktor. Jujur, sebagai lelaki normal--dan terbukti 'ampuh'--saya tertarik wanita cantik nan seksi. Tapi apa gunanya kalau yang cantik hanya luarnya saja? Sekali lagi, istri itu teman hidup, bukan sekedar teman tidur. Jangan sampai belum ada setahun menikah sudah cerai, apalagi dengan alasan tidak cocok lagi.
Nah, kalau ada yang bertanya pada saya, "Seperti apa kriteris istri idaman Anda, Bung Eko?" Dengan mantap saya akan menjawab, "Yang jelas bukan wanita yang suka pesta, clubbing, bergadang sampai pagi, chitchat yang snob, merokok dan kadang mabuk!"









