Selamat datang di bungeko.com, blog pribadi Eko Nurhuda. Semoga tulisan-tulisan di blog ini memberi manfaat positif bagi Anda. Saran atau kritik dari Anda akan diterima dengan senang hati.

Menyambut Euro 2012

Hasil Undian dan Jadwal Lengkap Euro 2012

Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina masih enam bulan lagi. Namun undian penentuan grup bagi ke-16 peserta putaran final sudah dilakukan di Kiev, 2 Desember lalu.

Baca juga:

»
» Ketika Blog Masih Dipandang Sebelah Mata



Rabu, 31 Maret 2010

Teman-teman Bung Eko


TAK terasa, sudah lebih dari 3 bulan Bung Eko dotcom mengudara di frekuensi dunia maya. Dalam rentang waktu yang singkat tersebut, alhamdulillah Bung Eko telah memperoleh kunjungan dari banyak teman. Sebagian merupakan teman lama sewaktu masih di EkoNurhuda.com, sedangkan sebagian lagi benar-benar teman baru.

Nah, untuk mengabadikan ikatan pertemanan kita, pada kesempatan ini saya berniat membuat satu halaman khusus berisi daftar teman yang pernah berkunjung kemari. Tentu saja beserta link blognya, sehingga mudah-mudahan bisa menambah backlink teman-teman yang disebutkan. Buat teman-teman yang namanya belum tercantum dalam daftar, sebelumnya saya mohon maaf, dan tolong ingatkan saya agar dapat ditambahkan ke dalam daftar.

A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z


A : Adeskana, Anna Fardiana, Anthony Harman, annosmile, anna fardiana, Agus Siswoyo, Ali | Dudut, amsi, aprillins, ALRIS, alhejawi, Arief Rizky Ramadhan, Ardy Pratama, afwan auliyar, Abi, andry sianipar, arfin, ayu, audy, Ahmad Im-bisnis, aaqym, arif, ago, arief maulana, Artha, ario saja

B : BlogCamp, buJaNG, Bungzhu Zyraith, Blogger Terpanas, Blogpanas, berita untuk negri, Blog Penghasil Uang, Blog Hardim, blogger gembloeng, bhogey, bidan desa, BlogDuit, Blog SEO, Bambangxp, Brandal Surga, Bang Ir, Blog Juragan

C : Chi

D : Darin, dimasangga, David Odang, dafiDRiau, Devy Online, darahbiroe, Delia

E : Edi Psw, ekopras

F : fanny, Fauzan Upz, Fanz, fatchur, fajar

G : Gus Ikhwan, ghe, Galuh Ristyanto

H : Handoko Tantra, hryh77, hawee, Hari Mulya, Hangga Nuarta, Harry seenthing, hanif, Hanna Pertiwi, Hosting Murah

I : Irwan Bajang, Iskandaria, Ismail, isnuansa, iip albanjary

J : Jimmy Sun, Jabon, Jamal, jun

K : kharis sulistiyono, Kika, Kodil, keboo, karyaguru, katakataku, KangBoed, Kris, kharis sulistiyono, Kodil

L : liza

M : Munawar AM, Mas Joe, mymoen, Mas Dhani, Mukhtaruddin, mol, mubaroki, Mukhtar, marsudiyanto, mastanto

N : Narmadi, nurdianto, Nurita Putranti, NewOes, noto

O : omagus, olip

P : puTri-cHan, Pak Eko, presyl

Q

R : Reza Winandar, rusabawean, rezKY p-RA-tama, radenmas, Ray, Reza Fauzi, Rizoa, Remaja Helda, Realodix, rismaka, rachmadi triatmojo

S : Sawali Tuhusetya, Spydeeyk, Siapapun Suka, secangkir teh dan sekerat roti, Seti@wan Dirgant@Ra, sumber inspirasi, syaiful, sauskecap, setyo, satrya

T : Taktiku, The Fachia, Tukang sapu radio, trendy, Tutorial Admob, Tatang, Tongkonan, thom

U

V

W : wawansri, Wong Jalur, wahyu

X

Y : Yusnita Febri, yudi

Z : Zaiful Anwar, zee, Zool

Nickname aneh-aneh
1nd1r4, 4z1z4h

Catatan: Nickname dan link/URL yang saya cantumkan di sini adalah sesuai dengan yang teman-teman masukkan sebagai identitas diri pada saat meninggalkan komentar. Untuk 2 nickname dengan 1 blog yang sama, saya akan memilih salah satu diantara keduanya. Oya, maaf, nickname yang menembak keyword tidak saya hitung sebagai pengunjung. Maaf ya... ^_^

Minggu, 28 Maret 2010

"Kan Kemarin Insya Allah?"


INI pengalaman paling konyol sekaligus paling memalukan yang pernah saya alami langsung. Meskipun pelakunya bukan saya, tapi saya merasa turut malu karena terlibat langsung. Plus, ini benar-benar di luar akal sehat saya. Edan!

Ceritanya begini. Malam itu bapak kos memberitahu seorang teman bahwa cucunya ingin mengundang anak-anak kos untuk acara khataman dalam rangka syukuran rumah baru. Acaranya baru esok sore, ba'da asar. Jadi maksud bapak kos, teman tadi diminta untuk mengoordinir anak-anak yang mau ikut khataman tersebut.


Foto: http://www.gametrailers.com
Kos saya memang terkenal relijius, meskipun itu tidak secara otomatis menjadikan penghuninya sebagai orang-orang relijius. Sudah sering kami dimintai bantuan untuk membacakan yasin atau acara khataman. Dan, keluarga bapak kos adalah yang paling sering memakai 'jasa' kami.

Singkat cerita, koordinator khataman yang ditunjuk bapak kos tadi segera bergerak menemui teman-teman yang biasa dan bisa ikut khataman. Tercatatlah sekitar 10 nama. Untuk menghabiskan seluruh ayat-ayat al-Qur'an dalam waktu kurang dari 3 jam--ba'da asar sampai sebelum magrib, paling tidak dibutuhkan 15 orang. Asumsinya, masing-masing orang bisa membaca 2 juz dalam waktu kurang dari 3 jam. Dari nama-nama yang disusun teman tersebut, beberapa malah bisa menghabiskan 1 juz dalam waktu kurang dari 1 jam.

Nah, pas mau berangkat ternyata yang sebelumnya bilang mau ikut kok pada mangkir. Saya yang kebetulan dianggap tetua kos diminta memanggil satu-satu teman-teman yang kemarin malam berkomitmen untuk ikut. Well, beberapa nama memang tidak ada di kos, entah kuliah atau ada kegiatan lain. Ketika saya sampai ke seorang teman (sebut saja namanya si S) yang kebetulan sedang ada di kos dan (sepenglihatan saya) hanya tidur-tiduran, terjadilah pengalaman konyol nan memalukan tersebut.

Saya: Mas S (nama disamarkan), ayo berangkat.
si S.: Wah, saya tidak ikut, Mas.
Lho, kok tidak ikut? Bukannya kemarin sudah bilang mau ikut?
Kan kemarin insya Allah..?
Oh, jadi gitu ya? Kalau insya Alllah berarti bisa tiba-tiba batal? Ya sudah, terima kasih... (sedikit emosi karena "insya Allah" dipakai sebagai tameng untuk mengingkari komitmen)

Ya, saya benar-benar marah waktu itu. Bukan karena si S tadi tidak jadi ikut--yang mengakibatkan jumlah peserta kian berkurang, tapi karena dia dengan enteng mengucapkan "Kan kemarin insya Allah..?" Yang membuat saya tidak habis pikir, si S ini ibadahnya tekun sekali, sholat 5 waktu tidak pernah absen, sholat sunnahnya juga rajin, dan zikirnya lama. Tapi ternyata...

Bagaimana menurut Bung?

Kamis, 25 Maret 2010

Sendang Sari, Penghasil Mendong Minus Produksi


SECARA administratif, Desa Sendang Sari terletak di Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman. Namun, secara geografis desa ini lebih dekat dengan Kabupaten Kulon Progo. Sendang Sari dan Kab. Kulon Progo memang hanya dibatasi oleh Sungai Progo, atau yang biasa disebut orang asli Jogja sebagai Kali Progo. Karenanya, Suroso--teman kos yang asli Sendang Sari, sering bercanda kalau ia bisa bolak-balik Sleman-Kulon Progo dalam waktu kurang dari 5 menit. Ya, cukup seberangi saja Sungai Progo, maka sampailah kita di wilayah Kulon Progo.


Sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan mendong menghijau.
Sendang Sari merupakan desa penghasil mendong, tanaman yang biasa dijadikan sebagai bahan pembuat tikar selain pandan. Secara sekilas tanaman ini seperti padi, namun jika diperhatikan sangat berbeda sekali. Masyarakat Sendang Sari menjadikan mendong sebagai tanaman andalan setelah padi. Masa tanam mendong pun biasanya setelah masa panen padi.

Satu hal yang membuat mendong menjadi favorit petani Sendang Sari, tanaman ini cukup ditanam sekali saja. Setelah dipanen, biasanya panen pertama sekitar 1-2 bulan, akar-akar yang masih tersisa akan menumbuhkan mendong-mendong baru yang bisa dipanen terus-menerus. Panen tanpa henti ini hanya bisa distop jika petani memberangus habis akar mendong agar dapat tanah ditanami tumbuhan lain.


Tanaman mendong dilihat dari dekat.
Mengurus mendong juga tidak sulit. Paling tidak, tanaman ini tidak serewel padi meskipun sama-sama ditanam di sawah. Hanya saja, tentu bakal ada perbedaan antara mendong yang diurus baik-baik (dipupuk, pengairan cukup, gulma dibersihkan) dengan mendong yang diurus ala kadarnya saja. Dan, untuk masing-masing kualitas ada perbedaan harga yang cukup mencolok. Sayangnya, saya lupa berapa kisaran harga yang dulu pernah diceritakan seorang petani ketika saya berwisata ke Sendang Sari.

Sebagaimana umumnya sentra penghasil sesuatu hasil bumi, di Sendang Sari mendong bertebaran. Kita bisa melihat di depan tiap-tiap rumah penduduk ada tumpukan mendong kering yang diikat dalam gulungan besar-besar. Mendong-mendong tersebut sudah siap jual. Yang jadi persoalan, petani Sendang Sari menggantungkan sepenuhnya penjualan mendong hasil panen mereka ke pengepul yang biasa berkeliling kampung-kampung mencari mendong berkualitas. Kalau tak ada pengepul yang datang, alamat mendong bakal terus tertumpuk sampai dimakan rayap atau lapuk ditempa panas dan hujan.


Seorang ibu petani tengah memanen mendong.
Cerita jadi semakin dramatis karena mendong Sendang Sari dipasarkan untuk pengrajin di daerah Jawa Barat. Pengepul yang biasa keluar-masuk kampung adalah kepanjangan tangan dari pengrajin luar daerah tersebut. Karena hanya bergantung pada satu daerah dan satu sistem penjualan, petani-petani mendong Sendang Sari terpaksa terus menumpuk hasil panen mereka jika tak ada pembeli yang datang. Padahal, kalaupun terjual petani masih harus mengelus dada karena harganya anjlok drastis.


Bentangan mendong tengah dijemur.
Sangat disayangkan Sendang Sari sebagai sebuah sentra penghasil mendong tidak mempunyai pengrajin yang dapat mengolah sendiri hasil panen tersebut sebagai barang yang siap jual. Kalau saja ada pengrajin lokal yang siap menampung hasil panen petani Sendang Sari, masalah menumpuknya hasil panen dapat teratasi. Masalah lain memang bisa saja muncul, yakni persoalan distribusi hasil kerajinan. Namun ini dapat diatasi secara kreatif dengan melakukan penjualan melalui internet, dititip-jualkan ke swalayan/supermarket, atau sekalian menggandeng pemerintah daerah. Toh, sekarang Pemda sangat peduli dengan aktivitas kreatif seperti ini.

Itulah sebabnya ketika Suroso, teman saya yang asli Sendang Sari tersebut, bingung merancang-rancang apa yang akan ia lakukan setelah lulus dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD), saya nyeletuk agar ia pulang saja ke Sendang Sari. Ada banyak hal yang bisa ia lakukan di tempat asalnya terbut. Yang membuat repot, teman saya ini bercita-cita menjadi guru dan telah merintis karir sebagai guru privat serta guru pengganti di sebuah SMA di Jogja. Harus diakui, prospek guru--terutama guru privat--jauh lebih cerah di Jogja. Kalau akhirnya teman ini memilih menekuni karir di Jogja, entah sampai berapa lama petani mendong di Sendang Sari harus menunggu kehadiran generasi muda desanya yang peduli pada mereka.

Foto-foto: Koleksi pribadi.

Senin, 22 Maret 2010

Tambah Slider dan Twitter Biar Lebih 'Fresh'


KAGET melihat tampilan baru blog ini? Hehehe, jangan terkejut. Semenjak Ahad, 21 Maret, kemarin saya memang mengubah tampilan muka (homepage) blog kesayangan saya ini. Bila sebelumnya pengunjung langsung disuguhi ringkasan 3 posting terbaru, maka di tampilan baru ini ada slider yang menayangkan foto-foto hasil jepretan saya.

Nah, yang membuat bingung mungkin mencari tautan untuk membaca posting terbaru. Soalnya, saya hanya membuat satu kotak kecil (ukuran 180 x 300 piksel) di sebelah slider untuk menampangkan judul-judul posting terbaru. Kalau Bung pernah datang ke sini sebelumnya, mungkin bisa mengenali bagian tersebut dari judul posting yang pernah Bung baca. Tapi jika Bung belum pernah berkunjung kemari, hehehe, maafkan saya kalau kesulitan untuk membaca posting-posting terbaru.


Tampilan baru bungeko.com.
Ngomong-ngomong, kenapa saya mengubah tampilan blog ini? Sebenarnya sejak dulu saya ingin membuat tampilan homepage yang simpel, dengan hanya menampilkan slider gambar dan secuil link. Ketertarikan saya pada slider mulai muncul ketika melihat tampilan baru TikaBanget.com. Lalu, ketertarikan itu bertambah komplit saat saya menemukan situs Bola.net dan RestoBebekRemuk.com.

Nah, kebetulan pula Koh Anthony Harman sempat menyinggung tentang slider sewaktu beliau dimintai tolong rekannya mempermak tampilan blog si teman. Well, jadilah RestoBebekRemuk.com yang tampilannya membuat saya semakin tergila-gila pada slider.

Awalnya yang saya idam-idamkan sebuah slider otomatis yang akan menampilkan cuplikan posting terbaru plus gambar yang ada di posting tersebut. Tapi ternyata nyari tutorialnya susah. Ya sudah, akhirnya saya buat saja seperti yang sekarang. Jadi, fungsi slider di blog ini sebagai parade foto yang saya ambil kalau pas jalan ke suatu tempat, atau mungkin foto momen-momen tertentu.

Dengan tetap mempertahankan kesederhanaan tampilan, saya berusaha agar pengunjung blog ini tidak jenuh dengan tampilan yang begitu-begitu saja. Kalau ada fotonya kan terlihat lebih segar dan dinamis? Apalagi ditambah cuplikan twit dari Twitter, saya harap blog ini bisa lebih hidup. ^_^

Gambar diolah dengan bantuan MS Paint dan Microsoft Office Picture Manager. ^_^

Minggu, 21 Maret 2010

Langkah Mudah Mencari Dolar?


SEWAKTU melihat hasil cetakan buku pertama saya--sekitar pertengahan Januari lalu, dahi saya mengernyit dalam-dalam. Kebetulan penerbit buku saya memusatkan seluruh kegiatannya di gedung yang sama, sehingga saya bisa "mengintip" buku apa saja yang akan diterbitkan dari ruang produksi. Bangunan kantornya 2 tingkat. Lantai bawah untuk proses produksi pascacetak, mulai dari melipat kertas, memotong, menjilid, sampai membungkus dengan plastik; sedangkan lantai atas untuk urusan naskah dan administrasi.


Foto: koleksi pribadi
Kenapa saya sampai mengernyitkan dahi? Soalnya, naskah yang saya beri judul 7 Langkah Mencari Uang dengan Blog ternyata pada edisi cetaknya menjadi 7 Langkah Mudah Mencari Uang lewat Blog. Ya, Penerbit menambahkan kata "mudah" dan mengganti kata "dengan" menjadi "lewat". Yang jadi masalah bagi saya adalah penambahan kata "mudah", yang mengesankan buku itu menjabarkan langkah-langkah praktis untuk mencari uang menggunakan blog secara mudah. Padahal, isinya jauuuh dari itu.

Harus diakui, saat ini banyak beredar buku-buku bertema serupa dan dengan judul yang malah lebih dahsyat lagi. Siapapun yang membaca judul buku-buku tersebut pasti akan langsung berpikir, "Benarkah mencari uang dengan blog semudah itu?" Dan, ujung-ujungnya pertanyaan ini membuat mereka membeli buku tersebut, membacanya dengan antusias, tapi kemudian berujung dengan kekecewaan karena ternyata isi buku tersebut tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan.

No Pain No Gain


Benarkah mencari uang dengan blog itu mudah? Sejujurnya tidak. Tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai dengan mudah, apalagi semudah membalikkan telapak tangan atau mengedipkan mata. Semua perlu usaha, perlu pengorbanan. Semakin keras usaha yang kita lakukan akan sangat berbanding lurus dengan hasil yang bakal diperoleh. Dan, tentu saja kita tidak akan memperoleh hasil apa-apa kalau tidak mau berusaha.

Orang yang mengatakan mencari uang dengan blog mudah, bisa jadi karena ia telah memiliki fondasi yang ia bangun jauh sebelumnya. Jadi, kini ia tinggal menikmati apa yang sudah dikerjakannya dulu. Lihat saja blogger-blogger senior semacam Augusman Zalukhu, Cosa Aranda, Medhy Aginta, Agus Ramadhani, dan lainnya. Mereka sekarang tinggal berleha-leha saja, tak perlu berkeringat terlalu banyak, dan memperoleh hasil segunung. Penghasilan mereka dalam sebulan bahkan mengalahkan gaji menteri.


Foto: Flickr.com
Apakah blogger-blogger hebat itu menghasilkan sedemikian banyak uang secara mudah? Tidak. Coba lihat apa yang mereka lakukan 2-3 tahun sebelumnya, dan kita akan tercengang mengetahui betapa kerasnya usaha yang mereka lakukan. Mereka melakukan upaya terbaik yang bisa mereka lakukan, sampai akhirnya memperoleh $1 pertama, yang disusul dengan $10 pertama, $100 pertama, $1000 pertama, sampai akhirnya sekarang entah berapa ribu dolar dalam sebulan.

Banyak blogger yang terpersona dengan keberhasilan blogger-blogger papan atas, tapi mereka lupa mempelajari perjuangan blogger-blogger tersebut dalam menapaki tangga keberhasilan. Maka, jangan heran jika ada blogger yang begitu terobsesi menghasilkan $1000/bulan, tapi tidak diimbangi dengan usaha yang senilai dengan $1000 itu. Mereka juga sering terjebak pada pemikiran instan, lalu mencari-cari cara paling mudah dan paling cepat untuk memperoleh hasil banyak.

No pain no gain, demikian ucapan yang disitir oleh motivator Johanes Lim untuk memberi judul bukunya yang terbit di tahun 1997. Ya, tidak ada yang dapat kita raih tanpa pengorbanan, tanpa usaha. Jadi, adalah bohong kalau ada yang mengatakan mencari uang dengan blog itu mudah.

Belajar dari Koes Plus


la opo to konco
ati kerep lara
ra gelem rekoso
mbudi doyo

pancen kabeh podho
pengen urip mulyo
wiwitan rekoso
pancen nyoto

-Koes Plus-
Sebuah penggalan lirik lagu Jawa dari Koes Plus yang berjudul Ojo Nelongso dalam kotak kutipan di samping kiri ini bisa memberi inspirasi, betapa keberhasilan itu harus dicapai dengan usaha keras.

Ya, benar kata Koes Plus, setiap orang ingin hidup senang, ingin hidup enak. Dan, untuk mencapai semua itu harus diawali dengan usaha yang terkadang terasa begitu susah (rekoso) untuk dijalani. Tapi, kalau kita menyerah dan tidak mau menanggung kesusahan tersebut, jangan harap keberhasilan dan kemulyaan menghampiri.

Mohon maaf jika terkesan menggurui. Mari kita renungkan bersama, Bung...
Sebenarnya--sejak merencanakan pembuatan blog ini, saya sudah tidak mau lagi menulis tentang make money online, make money blogging, dan semacamnya. Tapi, karena sudah terlanjur janji untuk ikut Kontes Nulis Artikel di BlogIsmail.com yang diselenggarakan Bung Ismail, jadi deh saya menulis posting yang temanya menyerempet tentang make money online, make money blogging, dan semacamnya seperti ini. ^_^

Kamis, 18 Maret 2010

Betapa Saya Mencintai Buku


SUATU waktu, ketika saya sedang asyik menyampul buku-buku hasil perburuan di pameran, seorang teman kos masuk kamar. Melihat buku-buku yang tinggi bertumpuk menunggu giliran untuk disampul, teman ini berkomentar dengan logat Tegal-nya yang masih kentara, "Wuih, akeh nemen bukune (= banyak sekali bukunya)." Saya cuma tersenyum. Lha, di pameran kan harga buku cuma 5-10 ribu--Gramedia yang terkenal "pelit" memberi diskon pun ikutan banting harga, masa iya cuma beli sedikit?

Teman tadi kemudian bertanya, "Buku sebanyak ini dibaca semua ya?" Lagi-lagi saya dibuat tersenyum dengan pertanyaan ini. "Ya iyalah," jawab saya sekenanya. Eh, lha kok setelah itu dia berkomentar yang membuat telinga saya jadi merah. Katanya, "Enak ya kalau nggak ada kerjaan, bisa baca buku." Oalah... Garuk-garuk kepala saya jadinya.


Tumpukan buku-buku yang belum sempat saya baca.
Entah sejak kapan awalnya, tapi yang jelas saya sudah sangat suka membaca dari kecil. Ketika masih duduk di bangku SD di Palembang, bacaan favorit saya adalah cergam Petruk-Gareng karya Tatang S. Saya rela tidak jajan seharian demi membeli cergam tersebut. Waktu itu uang jajan saya Rp100 sehari, sedangkan harga cergam Petruk-Gareng Rp150. Jadilah saya tidak jajan sehari, kemudian memotong uang jajan keesokan harinya agar bisa membeli cergam favorit itu.

Saya juga sering menumpang baca koran dan majalah--Sriwijaya Post, Pos Kota, Nova, Wanita Indonesia, dll.--pada seorang tetangga yang merupakan teman baik Ibu. Atau di rumah Bude saya yang (waktu itu) terletak di Plaju. Kebetulan Ibu selalu mengajak kami berkunjung ke rumah Bude Plaju, demikian kami memanggil beliau, sekali sepekan. Yang lebih menyenangkan saya, Bude selalu mengijinkan saya untuk membawa pulang beberapa koleksi koran atau majalah miliknya. ^_^

Saat pindah ke Batumarta, sebuah daerah transmigrasi di Kab. OKU (kini OKU Timur), saya mulai berkenalan dengan cerita silat Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Wiro Sableng. Berawal dari serial Wiro Sableng yang berjudul Singa Gurun Bromo, saya mulai keranjingan dengan tokoh rekaan alm. Bastian Tito tersebut. Sampai-sampai saya mengikuti semua seri petualangan Wiro Sableng mulai dari serial Geger di Pangandaran sampai serial petualangan di Negeri Latanahsilam.

Ketika saya dan keluarga pindah ke Sungai Bahar, daerah transmigrasi di Jambi, Novel silat Wiro Sableng masih menjadi teman setia saya. Setiap Sabtu--hari pasaran--saya membolos pelajaran terakhir untuk pergi ke pasar dan membeli beberapa buku Wiro Sableng. Waktu itu harganya masih Rp1.000/eks. Kalau beli 2 eks. cukup bayar Rp1.500 saja. Karena hampir setiap Sabtu beli baru, dan belinya tak cukup hanya satu, jadilah kamar saya penuh dengan novel Wiro Sableng. Ketika Wiro Sableng semakin susah dicari--atau belum ada koleksi terbaru, saya beralih ke novel silat lain. Mulai dari Pendekar Slebor, Pendekar Romantis, Pendekar Rajawali Sakti, Garuda Emas, Joko Sableng, dll. Pokoknya, apa saja yang bisa saya baca, pasti saya beli.

Ada cerita menarik berkaitan dengan cerita-cerita silat ini. Waktu itu saya lebih sering membaca cersil ketimbang belajar. Kapan saja ada waktu luang, saya selalu memegang cersil di tangan. Bahkan saat buang air besar, sambil makan, sambil menunggu padi di ladang, atau saat istirahat setelah membantu Bapak bekerja. Sampai-sampai Ibu marah ketika nilai saya turun, dan mengancam akan membakar koleksi cersil saya. Ya, persis seperti ibunya Nobita yang sedikit-sedikit mengancam akan membakar komik-komik Nobita jika sedang kesal. ^_^

Masuk SMA, seorang teman mengenalkan saya pada dunia cerpen remaja. Mulailah saya akrab dengan majalah-majalah remaja semacam HAI, Aneka Yess, Anita, dan Ceria Remaja. Saya suka majalah terakhir karena isinya lebih banyak cerpen dan pengasuhnya adalah orang yang berkecimpung di dunia sastra. Saya juga mulai mencoba-coba menulis cerpen. Sayang, berhubung mesin tik tidak punya, cerpen-cerpen yang saya tulis tidak pernah dikirim ke majalah manapun. Satu cerpen sempat dimuat sih, tapi hanya di Majalah Windi--majalah sekolah SMA Negeri 1 Muara Bulian.

Naik ke kelas 2 SMA, saya mulai mengenal dunia sastra. Bacaan saya sekarang Majalah Horison. Setiap waktu istirahat saya isi dengan membaca Horison di perpustakaan. Dunia sastra mulai merasuki jiwa saya. Berawal dari Horison, saya mulai menyukai novel-novel sastra. Yang menjadi favorit saya hingga sekarang adalah novel-novel karya NH Dini, terutama serial kenangannya. Sedangkan untuk puisi/sajak, saya sangat menyukai 2 pendobrak sastra Indonesia: Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bahri. Membaca karya-karya sastra tentu saja memengaruhi tulisan saya, yang kemudian mencoba-coba menulis cerpen 'berat'. Alahmdulillah, satu cerpen sempat dimuat di Harian Jambi Ekspress pada bulan Mei 1999.

Nah, 'karir' menulis saya berhenti total sewaktu menginjak Jogja. Karena memilih melanjutkan ke Pendidikan Profesi Pariwisata, dunia saya seketika berubah. Meski masih sering membaca antologi cerpen dan koran-koran edisi Minggu, tapi saya tidak pernah menulis lagi. Terutama setelah beberapa kali mengirim cerpen ke KR selalu tak ada kabar berita. Plus, waktu itu saya juga sangat berhasrat menjadi seorang pemandu wisata biar bisa jalan-jalan gratis keliling Indonesia sambil mengantongi bayaran gede.

Saya kembali bergelut dengan dunia kepenulisan ketika masuk ke Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY) di pertengahan 2003. Saya kembali rutin mengirim cerpen ke KR dan juga Kompas, meskipun selalu ditolak dan dikembalikan naskahnya. Pada periode ini, satu-satunya tulisan saya yang dimuat adalah sebuah artikel populer berjudul Mengapa Ada Pengangguran? di Majalah Sahabat Pena edisi Mei 2004. Dan, berkat tulisan inilah saya menerima honor pertama dari menulis. Besarnya tak seberapa, tak sampai Rp50.000, tapi bahagianya bukan alang-kepalang. :D

Ah, kok jadi ngelantur saya. Tapi yang jelas, selama ini saya merasakan bahwa buku merupakan sahabat setia saya. Masa kecil saya di Palembang boleh dibilang keluarga kami hidup di bawah rata-rata. Orangtua saya hanya punya sepeda butut dan radio yang tak kalah butut. Untuk mencari hiburan, saya terpaksa menumpang menonton televisi di rumah tetangga. Karena malu, saya lebih memilih di rumah. Dan bukulah yang menemani saya, menghibur saya.

Ketika pindah ke Sungai Bahar, kehidupan kami belum berubah. Kami sekeluarga masih harus menumpang ke tetangga jika ingin menonton televisi. Dan, lagi-lagi saya lebih suka sendirian di rumah, mendengarkan siaran RRI Pro 2--satu-satunya siaran radio yang bisa ditangkap di desa saya waktu itu--sambil membaca buku. Ini terbawa sampai saya masuk SMA dan di masa-masa awal saya kuliah di Jogja.

Kini, ketika di rumah sudah ada televisi layar lebar, DVD player, dan segudang saranan hiburan lain, saya tetap lebih suka membaca. Hanya saja, kalau dulu saya membaca buku sebagai hiburan untuk membuang kejenuhan, maka sekarang saya membaca buku karena memang membutuhkan buku. Ada yang aneh kalau tak membaca buku dalam sehari. Makanya, setiap buang air besar di pagi hari, saya selalu membawa buku. Lumayan, 5-10 menit di WC bisa dapat berapa puluh halaman tuh. ^_^

Teman kos yang saya ceritakan di awal posting ini boleh bilang hanya orang-orang yang tidak punya pekerjaan saja yang sempat membaca buku. Bagi saya, kalau kita sudah mencintai buku, sesedikit apapun waktu luang yang tersedia rasanya rugi kalau tidak dimanfaatkan untuk membaca buku. Betul apa tidak, Bung?

Senin, 15 Maret 2010

"Aku Ngeblog, Maka Aku Ada"


MELIHAT ada sesuatu yang berubah dari blog ini? Ya, Bung mungkin bisa langsung melihatnya. Perubahan "kecil" namun "besar" itu terletak di bagian header, tepatnya pada logo blog ini. Saya baru saja menggantinya, setelah semalam mengikuti sebuah launching buku di ajang Pesta Buku Jogja 2010 di Jogja Expo Center (JEC).


Logo bungeko.com dengan tagline baru.
Bung-bung yang telah mengunjungi blog ini sejak pertama kali dilahirkan pada akhir Desember lalu tentu tahu, kalau tagline Bung Eko dotcom awalnya adalah "catatan ringan seorang penulis lepas". Nah, terhitung sejak detik ini, sejak posting ini muncul di jagat internet, saya mengganti tagline tersebut dengan kalimat "aku ngeblog, maka aku ada".

Mungkin terkesan hanya sebuah perubahan kecil, hanya mengubah dari "catatan ringan seorang penulis lepas" menjadi "aku ngeblog, maka aku ada". Namun, bagi saya perubahan ini bermakna teramat dalam. Perubahan ini adalah wujud kesadaran saya terhadap diri sendiri. Dan, inspirasi dari perubahan ini adalah sebuah buku yang semalam saya ikuti launching-nya.

Tagline "catatan ringan seorang penulis lepas" awalnya saya buat sebagai semacam cambuk bagi saya. Menulis adalah hobi saya sejak kecil mula, dan menjadi seorang penulis adalah cita-cita yang terus menyertai perjalanan hidup saya. Maka, ketika kemudian berniat membuat sebuah blog gado-gado berisi segala macam catatan yang bisa saya tulis, saya pajanglah tagline tersebut untuk mengingatkan diri sendiri bahwa saya bercita-cita menjadi seorang penulis!


Logo bungeko.com dengan tagline yang lama.
Pemikiran tersebut berubah tadi malam. Sebuah acara launching buku telah mengajarkan saya tentang makna kerendahan hati yang sebenar-benarnya. Dan, menyebut diri sendiri sebagai "seorang penulis lepas" saya rasa jauh dari kata rendah hati. Kalaupun memang kemudian label tersebut memang melekat pada saya, biarlah orang lain yang memberikannya karena memang dianggap saya layak menyandangnya, bukan karena saya ingin disebut seperti itu.

Kenapa memilih "aku ngeblog, maka aku ada" sebagai gantinya? Simpel saja. Sampai tahun akhirnya saya mempunyai blog, siapa sih yang mengenal Eko Nurhuda? Mungkin hanya keluarga saya, teman kuliah, teman kos, dan beberapa kenalan lama. Siapa Eko Nurhuda? Bahkan mereka pun tidak tahu harus menyebut saya apa. Pemandu wisata? Itu kisah lama. Wartawan? Saya bahkan hanya pernah punya kartu press sebagai wartawan magang di media yang sekarang sudah tidak terbit lagi. Lalu, sejak mengelola blog, orang-orang pun memanggil saya blogger. Dan, insya Allah, sebutan itu masih pas untuk setidaknya sampai saat ini. ^_^

Bung benar kalau bilang saya menyadur sebuah pepatah Latin yang sempat digunakan oleh René Descartes, "cogito, ergo sum" alias "aku berpikir, maka aku ada". Tinggal mengganti frasa "aku berpikir" menjadi "aku ngeblog", maka jadilah tagline baru untuk blog ini. Cukup kereatif, bukan? :p

Akhirnya, mohon maafkan kesombongan saya selama ini. Saya masih harus belajar banyak, dan tidak sepantasnya saya menyebut diri saya sendiri sebagai sesuatu meskipun saya sangat ingin menjadi seperti itu. Saya hanya ingin belajar banyak melalui blog ini, berdiskusi tentang berbagai hal dengan teman-teman blogger sekalian. Harapan saya, dengan blog ini saya bisa mewujudkan semua apa yang saya cita-citakan sejak kecil mula. Sehingga, mudah-mudahan kalimat "aku ngeblog, maka aku ada" kelak tak hanya sebagai tagline belaka. Amin...

Inspired by: Acara launching buku Dijual Murah Surga Seisinya! dan Andai Aku Jalan Kaki karya Edi Mulyono aka Edi AH Iyubenu, seorang cerpenis Angkatan Sastra 2000 (versi Korrie Layun Rampan) dan direktur sekaligus pemilik Penerbit DIVA Press Group, di Pesta Buku Jogja 2010, Ahad (14/3) lalu.

Jumat, 12 Maret 2010

Dulmatin van Pemalang


TIBA-TIBA saja Pemalang jadi terkenal ke seantero Indonesia, bahkan dunia internasional. Seluruh pemberitaan di media-media nasional--cetak, elektronik, dan internet--membicarakan Pemalang, khususnya Kecamatan Petarukan. Sayang, pemberitaan yang super massif itu bukan karena prestasi, tapi terkait tewasnya seorang gembong teroris bernama Dulmatin.


Foto: detikcom
Ya, Dulmatin yang bernama asli Joko Pitono--dengan sederet alias seperti Amar Usman, Joko Pitoyo, Abdul Matin, Pitono, Muktarmar, Djoko, Noval, dan nickname Jenius dari rekan-rekannya di Jama'ah Islamiyah (JI)--memang lahir di Pemalang, pada 6 Juni 1970. Pria keturunan Arab ini ditembak mati oleh Densus 88 pada sebuah penggerebekan di satu ruko di Pamulang, Banten, 9 Maret 2010.

Dalam struktur organisasi JI, Dulmatin disebut-sebut menjabat posisi penting. Ia sempat mengikuti kamp pelatihan al-Qaeda di Afghanistan, dan di bawah bimbingan DR. Azahari Husin tumbuh menjadi perakit bom handal. Di tanah air, Dulmatin disebut-sebut terlibat dalam serangkaian aksi pengeboman, di antaranya pengeboman Kedutaan Besar Filipina (1 Agustus 2000), bom massal di sejumlah gereja pada perayaan Natal tahun 2000, dan termasuk salah think-tank bom Bali (2002). Sejak tahun 2003, Dulmatin dipercaya berada dalam kelompok Abu Sayyaf di Filipina dalam rangka melatih para militan pro kemerdekaan Filipina Selatan.

Di Pemalang sendiri memang banyak tinggal warga keturunan Arab. Komunitas Arab terbesar tinggal di Kampung Arab yang berlokasi di Jl. Sindoro, Kampung Payaman, Kelurahan Mulyoharjo. Lokasinya tepat di selatan Kantor Pos Pemalang. Masyarakat Arab di sini rata-rata berprofesi sebagai pedagang. Di sepanjang Jl. Sindoro berjejer toko furniture dan di sela-selanya terselip toko kue kamir yang merupakan jajanan khas warga Arab-Pemalang.

Berada di antara 2 kota besar Pantura--Tegal dan Pekalongan, entah mengapa Pemalang justru seperti tersingkirkan. Lihat saja kotanya yang sepi, jalan-jalan protokolnya yang bergelombang dan penuh lubang, lalu lintasnya yang masih semrawut karena segala jenis kendaraan--becak, sepeda, gerobak, truk, mobil, motor, bahkan gerobak--tumplek blek di jalanan, dan angkutan kotanya yang hanya ramai di saat berangkat-pulang kantor/sekolah.

Jika dilihat dari potensi alamnya, Pemalang memiliki sejumlah tempat wisata yang jika dikembangkan secara baik bisa mengangkat PAD. Di sebelah utara Pemalang punya banyak pantai, sedangkan di selatan terdapat beberapa sentra pertanian. Namun, satu-satunya objek wisata pantai yang paling dikenal publik, Pantai Widuri, tidak dirawat dengan baik. Kalau Anda datang ke Widuri di pagi hari, sekitar jam 5.30-6.30, Anda bakal melihat satu pemandangan tak sedap. Apa itu? Beberapa penduduk sekitar duduk di atas pasir pantai sambil membelakangi pantai dan... (maaf) buang air besar. Hmmmm...

Banyak pemuda Pemalang yang merantau ke Jakarta untuk mencari kerja setamat SMA. Itulah sebabnya pemudik-pemudik bersepeda motor asal Pemalang selalu menghiasi laporan arus mudik di televisi saat lebaran tiba. Mereka merantau karena tak banyak peluang kerja di Pemalang. Pilihan kerja di Pemalang hanyalah bertani, jadi kuli, berdagang, atau menjadi PNS. 2 pilihan terakhir sulit diwujudkan kalau tak ada dukungan dana memadai, sedangkan untuk bertani mesti punya sawah atau modal untuk sewa lahan. Jadi kuli? Daripada nguli di Pemalang mending merantau ke Jakarta sekalian yang bayarannya lebih besar.

Dengan fakta-fakta minor seperti itu, tak heran jika Pemalang kerap luput dari pemberitaan. Banyak orang tidak tahu di mana letak Pemalang, bahkan sebagian ada yang menganggapnya bagian dari Jawa Timur karena namanya mirip Malang. Kalau Anda menyusuri jalur Pantura, sulit mengenali Pemalang. Anda bakal lebih mudah mengenali Tegal dan Pekalongan yang memang tampak lebih menonjol.

Sebagai calon warga Pemalang, mendengar nama Pemalang disebut-sebut media selama beberapa hari ini tentu membuat saya senang. Sayang, penyebutan tersebut bernada negatif karena terkait dengan terorisme. Apakah tidak ada hal lain yang bisa diberitakan dari Pemalang? Seperti kemenangan 2 pelajar Pemalang pada olimpiade sains Nasional awal Maret lalu, misalnya. Atau kiprah aktor nasional Toro Margen yang asli Pemalang dalam Pilkada Pemalang 2010.

Saya jadi membayangkan, suatu saat saya bersama keluarga pergi menonton film di bioskop di satu sudut kota Pemalang. Lalu, pulangnya mampir untuk berbelanja buku di Gramedia atau Toga Mas. Tapi kapan ya..? ^_^

Senin, 08 Maret 2010

Manfaat Mengirim Surat Pembaca ke Media


BAGI sebagian orang, mengirim pendapat/komentar ke media seperti yang pernah saya lakukan di Tabloid BOLA mungkin hanya dipandang sebagai hal sepele. "Ah, apa susahnya sih mengirim surat pembaca?" Bisa jadi begitu kata Anda dalam hati. Tapi, jangan keliru, surat pembaca semacam ini adalah bentuk karya jurnalistik paling dasar.


Salah satu surat pembaca yang saya kirim dan dimuat di BOLA.
Kampus saya, Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY), punya tradisi yang menunjukkan betapa berharganya sebuah surat pembaca bagi karir jurnalistik para mahasiswa barunya. Kampus 'mewah' (baca: MEpet saWAH) ini mewajibkan setiap mahasiswa barunya untuk mengirim surat pembaca ke Kedaulatan Rakyat. Siapa yang surat pembacanya dimuat bakal mendapat tambahan nilai dari dosen. Jadi, jangan heran kalau setiap tahun ajaran baru rubrik surat pembaca KR dibanjiri oleh mahasiswa AKY.

Awalnya, saya juga mengernyitkan kening sewaktu seorang dosen berkata seperti itu. Apa gunanya sih? Pikir saya waktu itu. Kok sepele banget sih? Kata saya lain kali. Dan, ketika nama-nama teman sekelas sudah mulai keluar di rubrik surat pembaca KR, saya masih belum mau mengikuti saran tersebut. Saya malah sok-sokan mengirim cerpen ke KR dan KOMPAS. Well, jangan tanya mana yang dimuat, karena semua cerpen yang saya kirim setiap pekan dalam rentang akhir tahun 2003 sampai awal tahun 2004 itu selalu ditolak. :D

Nah, ternyata meskipun terlihat sepele tapi mengirimkan surat pembaca ke koran sangat bermanfaat bagi Anda yang menekuni dunia tulis-menulis. Blogger juga termasuk di sini. Alasannya, pertama, menulis surat pembaca adalah cara paling mudah untuk melatih kita dalam menuangkan gagasan dan menyampaikannya ke publik. Jangan salah, untuk menulis surat pembaca juga butuh ide dan sikap kritis. Semakin sering kita mengirim surat pembaca, insya Allah semakin terlatih kita dalam menuangkan gagasan sehingga bisa dipahami dan diterima khalayak luas.

Alasan kedua, dari segi tata bahasa atau susunan redaksional, menulis surat pembaca melatih kita untuk menulis dengan baik dan benar. Jangan kira surat pembaca tidak diedit oleh editor surat kabar. Kalau Anda jeli, setiap surat pembaca bahasa redaksionalnya pasti mirip-mirip dengan berita-berita di halaman lain. Jadi, dari sini kita bisa mempelajari bagaimana menulis ala jurnalis. Bandingkan isi surat saat kita kirim dan saat sudah dimuat, pelajari perbedaannya.

Alasan ketiga, media-media tertentu ada yang menyediakan suvenir bagi pembaca yang komentar/suratnya dianggap paling menarik. Contohnya Tabloid BOLA yang menyiapkan 3 kaos cantik setiap edisi untuk 3 pembaca yang komentar/suratnya diberi kotak berwarna alias jadi headline. Lumayan, kita bisa menghemat anggaran untuk beli kaos olahraga. Apalagi desain kaos dari BOLA keren-keren. Hehehe...

Sebenarnya masih ada beberapa manfaat lain, namun sementara ini yang terlintas di kepala saya baru 3 itu. Nanti kalau manfaat lainnya terlintas di kepala akan aya posting pada kesempatan selanjutnya. Atau mungkin Bung-bung pembaca mau menambahkan? Monggo....

Rabu, 03 Maret 2010

Pemberi Komentar Terbanyak Februari 2010


SEBELUMNYA saya harus minta maaf terlebih dahulu kepada rekan-rekan yang sudah meninggalkan komentar di sini. Akhir Januari lalu, saat mengumumkan kontes top commentor, saya pernah berjanji akan mengumumkan hasilnya pada tanggal 1 Maret. Ternyata, eh, ternyata, sampai tanggal 3 Maret baru saya bisa online untuk mengumumkan siapakah yang berhak mendapatkan kenang-kenangan berupa buku terbaru karya saya plus sebuah kaos lucu.

Oke, tanpa berbasa-basa lagi, berikut saya sampaikan hasil perhitungan komentar yang baru saja saya lakukan. Mohon diingat, saya menghitung berdasarkan pedoman yang telah saya sampaikan di posting ini, dan juga saya lampirkan di atas kolom komentar. Jadi, kalau ada yang merasa sudah memberi banyak komentar tapi tidak terpilih, bisa jadi komentarnya tidak memenuhi kriteria perhitungan.

Siapakah yang berhak atas buku gratis dan kaos lucu persembahan Bung Eko dotcom? Baiklah, ini dia hasil perhitungan saya:

1. Gus Ikhwan (10 komentar valid)
2. Blogger Terpanas (5 komentar valid)
3. Bungzhu Zyraith, Reza Winandar, Kang Munawar AM (4 komentar valid)
4. Spydeeyk, Pak Sawali, Iskandaria, Mukhtaruddin (3 komentar valid)
5. Adeskana (2 komentar valid)
6. Darin, Rizoa, Isnuansa, buJaNG, Koh Jimmy Sun, Mukhtar, 1nd1r4, mymoen, Tatang, Anna Fardiana, Anonim (1 komentar valid)

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka dengan ini saya memutuskan Gus Ikhwan sebagai pemenang kontes Pemberi Komentar Terbanyak di Bung Eko dotcom bulan Februari 2010. Untuk itu, Gus Ikhwan berhak mendapatkan 2 eksemplar buku terbaru karya saya dan sebuah kaos cantik. 2 buku tersebut berjudul 7 Langkah Mudah Mencari Uang lewat Blog (Gara Ilmu, Yogyakarta, Feb. 2010) dan 10 Cara Efektif Mencari Uang dengan Blog Khusus Berbahasa Indonesia (iN-Books, Yogyakarta, Feb. 2010).

Untuk Gus Ikhwan, terima kasih ya sudah bersedia memberikan banyak komentar membangun di blog ini. Selamat ya. Mohon kirimkan nama asli dan alamat lengkap ke saya via eko[at]nurhuda.com supaya hadiahnya bisa segera saya kirim.

Kontes tetap berlanjut, Bung. Untuk periode Maret 2010, perhitungan langsung dimulai sejak posting ini sampai dengan posting terakhir di bulan Maret. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada awal April 2010. Hadiahnya? Masih satu buah kaos cantik plus buku terbaru karya saya, tapi bukunya bisa jadi berbeda dengan yang saya bagikan untuk pemenang bulan Februari ini.

Tertarik? Ayo, budayakan memberi komentar yang bernas!

kata bijak Andrie Wongso

Gerakan 2012 Buku
untuk Pemalang

Buku yang sudah terkumpul
0 0 0 1 eks.

Masih butuh 2011 eks. lagi.

Bantu kami menyediakan 2012 eksemplar
buku bacaan untuk warga Pemalang.
Baca info selengkapnya di sini!


Rp1 Tahun 1956

Uang Mahar, Rp1 Tahun 1956

Obverse: Gadis Jawa di kanan, angka satu di kiri.
Reverse: Garuda Pancasila di tengah, diapit angka satu.
Kondisi: Baru (Uncirculated, UNC)

Rp10.000,-

per lembar

Recommended Posts
Recommended Video
GBK
Lagi, timnas Indonesia harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Malaysia di final SEA Games 2011. Dalam final yang sama-sama kita saksikan Senin (21/11) malam, timnas U-23 keok.
Bakso
Bakso umumnya memiliki bulatan-bulatan campuran tepung dan daging yang biasa disebut pentol. Di Pemalang, ada warung bakso yang menyediakan bakso tanpa pentol.
uanglama