Selamat datang di bungeko.com, blog pribadi Eko Nurhuda. Semoga tulisan-tulisan di blog ini memberi manfaat positif bagi Anda. Saran atau kritik dari Anda akan diterima dengan senang hati.

Menyambut Euro 2012

Hasil Undian dan Jadwal Lengkap Euro 2012

Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina masih enam bulan lagi. Namun undian penentuan grup bagi ke-16 peserta putaran final sudah dilakukan di Kiev, 2 Desember lalu.

Baca juga:

»
» Ketika Blog Masih Dipandang Sebelah Mata



Selasa, 22 Juni 2010

Hikayat Tukang Batu


KONON, suatu ketika ada seorang tukang batu yang tidak puas dengan dirinya dan hidupnya. Suatu hari ia melewati rumah pedagang kaya. Lewat gerbang yang terbuka, ia melihat banyak barang-barang indah dan tamu-tamu penting. "Pasti pedagang itu sungguh hebat," pikir tukang batu. Ia menjadi iri dan ingin bisa seperti pedagang itu.

Betapa terkejut dirinya, dari tukang batu tiba-tiba ia berubah menjadi pedagang, menikmati kekayaan dan kekuasaan yang tidak pernah ia bayangkan, dan semua orang iri padanya. Tidak lama kemudian seorang pejabat tinggi lewat, ditandu di atas kursi mewah, diiringi bawahannya dan dikawal oleh pengawal yang membunyikan gong. Setiap orang, termasuk orang kaya sekalipun harus menunduk pada waktu pejabat itu lewat. "Sungguh hebat pejabat itu!" pikirnya. "Aku ingin menjadi pejabat tinggi!"


Ilustrasi:
Kemudian ia menjadi pejabat tinggi, ditandu kemanapun ia mau pergi, ditakuti dan dibenci oleh semua orang. Namun, hari-hari belakangan ini sangat panas, jadi sangat tidak nyaman ditandu. Ia melihat ke atas, ke matahari. Matahari tetap bersinar dengan terik tidak terpengaruh oleh kehadirannya. "Sungguh hebat matahari!" pikirnya. "Aku ingin menjadi matahari!"

Lalu ia menjadi matahari, bersinar terik pada semua orang, mengeringkan sawah, disumpahi oleh petani dan pekerja. Tetapi kemudian awan besar hitam menutupinya sehingga sinarnya tidak dapat sampai ke bumi. "Sungguh hebat awan itu," pikirnya. "Aku ingin menjadi awan!"

Di atas langit masih ada langit. Di bawah tanah masih ada tanah.
-Anonim-
Lalu ia menjadi awan, membuat banjir seluruh sawah dan desa, dibenci oleh semua orang. Tetapi ia mendapati dirinya didorong oleh suatu kekuatan yang membuatnya ke sana-kemari tak tentu arah, terkadang juga tercerai-berai jadi kecil-kecil. Dan ia sadar bahwa itu adalah angin. "Sungguh hebat angin," pikirnya. "Aku ingin menjadi angin!"

Kemudian ia menjadi angin, membawa terbang atap rumah, mengangkat pohon, ditakuti dan dibenci oleh semua yang ada di bawahnya. Tetapi setelah beberapa waktu, ia melihat sesuatu yang tidak bisa digerakkannya, seberapa pun kuat ia berhembus sesuatu itu sama sekali tidak bergerak. Itulah sebuah batu yang sangat besar. "Sungguh hebat batu itu!" pikirnya. "Aku ingin menjadi batu!"

Lalu ia menjadi batu besar. Lebih kuat dari apapun di dunia. Tetapi saat ia menjadi batu, ia mendengar suara palu sedang mengenai permukaan tubuhnya yang keras, dan ia merasa dirinya sedang dipalu. "Siapa yang berani memukuli aku?" pikirnya. Ia pun melihat ke bawah dan mendapati seorang tukang batu.
Wejangan: Jadi manusia itu jangan selalu iri dengan kesuksesan orang lain. Orang Jawa bilang, urip iku sawang-sinawang. Kita pikir jadi wartawan itu enak, ternyata setelah dijalani kok balik mikir kalau jadi blogger yang lebih enak. So, enjoy sajalah dengan kehidupan yang sekarang, and be yourself wae. ^_^


*Disadur dari buku Running to Riches; Prinsip Universal Menuju Kekayaan dan Kebahagiaan (Penerbit Escaeva) karya Didik Wijaya. ISBN 979-99509-0-2.

Sabtu, 19 Juni 2010

Ternyata Kita Bisa Berbahasa Belanda Lho...


BUNG mungkin tidak percaya membaca judul posting ini. Ah, orang kita ini asli Indonesia dan sama sekali tidak pernah belajar bahasa Belanda kok bisa-bisanya berbahasa Belanda. Mungkin begitu pikir Bung. Eits, tunggu dulu, saya tidak cakap bohong ini. Biarpun Bung asli Indonesia, biarpun Bung tidak pernah ke Belanda, dan biarpun Bung tidak pernah kursus bahasa Belanda, ternyata kita sudah sering bercakap-cakap dengan kata-kata berbahasa Belanda dalam keseharian lho...

Ya, menjadi negara jajahan Belanda selama 300 tahun lebih, tentunya ada banyak pengaruh kebudayaan Belanda terhadap Indonesia. Salah satu pengaruh budaya itu adalah bahasa, di mana ada banyak sekali kata-kata Belanda yang terserap dan menyatu sebagai bahasa Indonesia. Jumlahnya ada banyak sekali, tapi saya cuma bisa menyuplik sekitar 100 kata yang paling sering kita jumpai dalam keseharian. Let's check it out!

Ejaan Indonesia
Parkir
Pelat
Peluit
Pensiun
Perban
Permak
Perseneling
Piket
Plakat
Plester
Polisi
Politik
Pos wesel
Praktik
Preman
Publik
Puding
Pulpen
Rapor
Razia
Rekening
Rel
Rem
Residivis
Riskan
Rok
Rokok
Rute
Sablon
Sakelar
Sakral
Saldo
Sandal
Segel
Skakmat
Sekering
Selang
Seminar
Semir
Senewen
Serius
Seterika
Sirsak
Sokbreker
Spanduk
Sprei
Stempel
Suster
Syal
Taplak
Tang
Tarif
Tas
Tekor
Terali
Teras
Tomat
Total
Traktir
Wortel

Ejaan Belanda
Parkeren
Plaat
Fluit
Pensioen
Verband
Vermaak
Versnelling
Piket
Plakkaat
Pleister
Politie
Politiek
Postwissel
Praktijk
Vrijman
Publiek
Pudding
Vulpen
Rapport
Razzia
Rekening
Rail
Rem
Recidivist
Riskant
Rok
Roken
Route
Sjabloon
Schakelaar
Sacraal
Saldo
Sandaal
Zegel
Schaakmat
Zekering
Slang
Seminaar
Smeer
Zenuwen
Serieus
Strijken
Zuurzak
Schokbreker
Spandoek
Sprei
Stempel
Zuster
Sjaal
Tafellaken
Tang
Tarief
Tas
Te kort
Tralie
Terras
Tomaat
Totaal
Trakteren
Wortel

Ejaan Indonesia
Handuk
Telat
Besuk
Abonemen
Afdruk
Administrasi
Akur
Antik
Apotik
Aspal
Bandit
Baskom
Batere
Bensin
Bioskop
Buncis
Dekan
Dipan
Dongkrak
Eselon
Familie
Favorit
Fiktif
Gelas
Gerendel
Indekos
Jerigen
Kamar
Kantor
Kasus
Katun
Kenek
Kerah
Keran
Klasemen
Klinik
Kompor
Kondektur
Koper
Kuas
Kuli
Kulkas
Kusen
Kusir
Ledeng
Lem
Mag
Mangkir
Minder
Mur
Necis
Onderdil
Ongkos
Oper
Optik
Opname
Pabrik
Panik
Paraf
Partai

Ejaan Belanda
Handdoek
Te laat
Bezoek
Abonemen
Afdruk
Administratie
Akkoord
Antiek
Apotheek
Asfalt
Bandiet
Waskom
Batterij
Benzine
Bioscoop
Boontjes
Decaan
Divan
Dommekracht
Echelon
Familie
Favoriet
Fictief
Glas
Grendel
In de kost
Jerrican
Kamer
Kantoor
Casus
Katoen
Knecht
Kraag
Kraan
Klassement
Kliniek
Komfoor
Conducteur
Koffer
Kwast
Koelie
Koelkast
Kozijn
Koetsier
Leiding
Lijm
Maag
Mankeren
Minderwaardig
Moer
Netjes
Onderdeel
Onkosten
Overnemen
Optiek
Opname
Fabriek
Paniek
Paraaf
Partij


Banyak sekali, bukan? Tak hanya bahasa Indonesia, ternyata bahasa daerah juga sempat menyerap kata-kata dalam bahasa Belanda. Generasi yang lahir setelah era penjajahan tak banyak yang tahu kalau kata-kata yang mereka gunakan ternyata bukan bahasa daerah asli, melainkan serapan dari bahasa Belanda. Sebagai contoh bahasa Jawa. Siapapun yang berbahasa Jawa pasti sudah akrab dengan kata "pit", "bal", "plesir", "sadel", "sepur", "serbet", "tegel", "setrap", atau "potlot" (artinya secara berurutan adalah "sepeda", "bola", "liburan", "dudukan sepeda", "kereta api", "lap meja/tangan", "marmer", "hukuman", dan "pena").

Dulu, saya sangka kata-kata tersebut adalah bahasa Jawa asli. Eh, setelah sekolah baru saya tahu kalau kata-kata itu diserap dari bahasa Belanda. Kata "bal" dan "tegel" diserap mentah-mentah dari bahasa Belanda, sedangkan kata yang lain hanya beda ejaan dari kata aslinya: "pit" dari kata "fiets", "setrap" dari kata "straf", "plesir" dari kata "plezier", "sadel" dari kata "zadel", "sepur" dari kata "spoor", "serbet" dari kata "servet", dan "potlot" dari kata "potlood".

Nah, dengan sedemikian banyak kata-kata serapan dari bahasa Belanda ini dalam bahasa Indonesia (dan juga Jawa), rasanya tidak berlebihan kan kalau saya bilang kita bisa berbahasa Belanda?

Contoh percakapan:

Paimin
Paijo


Paimin
Paijo

Paimin

Paijo

: Zadel fiets-mu ginio, Jo?
: Gak ngerti iki. Wingi kecanthol tas dadi bolong, trus ta verband malah koyo ngene. Gara-gara iki rusak aku mlaku nganthi sandaal-ku pedhot, tekan kantoor yo te laat pisan.
: Dandakno nang winkel pojok kono lho.
: Wegah, nang kono larang banget. Mengko ndak malah te koort aku. Kerjo dadi knecht sedino entek mengko.
: Ben ora te koort yo rem karo staange didandakno sisan. Neng kono ono cewek mooij banget lho.
: Ah, utekmu ki jan cewek ae anane...

Rabu, 16 Juni 2010

Rahasia Uang di Dalam Peti


SEBENARNYA ini cerita lama, kejadiannya di bulan April 2008 dan pernah pula saya posting di ekonurhuda.com. Namun waktu itu yang komentar cuma 5 orang, jadi saya rasa tidak ada salahnya kalau di-repost di sini. Saya jamin ceritanya seru. So, baca sampai habis ya. ^_^

Suatu hari di bulan April 2008 saya menerima sebuah email yang sangat menarik perhatian. Pengirimnya tertulis bernama Mr. Ibrahim Milha, dan titelnya sungguh menantang: "Reply this only if you are trustworthy". Wow, karena tertarik saya buka email tersebut. Hmm, setelah membaca isinya saya merasa semakin tertarik dan semakin penasaran saja dibuatnya. Bagaimana tidak? Dalam email tersebut si Mister yang mengaku asal Bahrain itu mengatakan bahwa dirinya adalah seorang kaya raya yang akan segera mati karena satu penyakit ganas.

Nah, ceritanya Mr. Ibrahim Milha ini tak punya keturunan karena terlalu sibuk mengurusi bisnisnya. Ia punya saudara, namun sama sekali tidak mempercayai mereka. Penyebabnya adalah saudara-saudaranya telah mengambil tabungan yang ia niatkan untuk disumbangkan ke yayasan sosial di beberapa negara. Dengan demikian si Mister ini tidak punya apa-apa lagi. Satu-satunya harta yang ia punya hanyalah uang sebanyak TWELVE Million dollars ($12,000,000,00) yang ia simpan dalam 2 peti di sebuah perusahaan finansial di luar negeri. Tidak seorang pun tahu bahwa isi peti itu adalah uang senilai 12 juta dolar, termasuk perusahaan di mana ia menitipkan peti tersebut. Mr. Ibrahim bermaksud mengambil uang di peti itu, namun ia tidak dapat melakukannya sendiri karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Maka ia mencari orang untuk menolongnya mengambil peti uang tersebut. Sebagai imbalan, si pengambil akan memperoleh 20% dari nilai 12 juta dolar alias 2,4 juta dolar. Wow!!!

Pesannya pendek, "Please call me as soon as possible. Mr. Boston". Siapa dia? Karena tidak ada pulsa saya hanya mengirim SMS ke nomor tersebut.Semakin diliputi rasa penasaran, saya pun membalas email tersebut dan menyatakan bersedia membantu Mr. Ibrahim Milha. Saya sertakan nomor HP saya dalam email itu. Si Mister membalas dan meminta saya berjanji untuk tidak menceritakan tentang hal ini pada siapa pun, bahwa saya seorang yang taat beragama dan lain-lain yang intinya untuk menunjukkan bahwa saya adalah orang yang dapat dipercaya. Oke, saya pun bilang padanya bahwa saya dapat dipercaya. Saya lalu dikirimi foto si Mister yang sedang sakit dan juga hasil scansertifikat deposito yang ia lakukan. Ternyata si Mister mendepositokan uangnya di Valencia, Spanyol, di sebuah perusahaan bernama Sabadell. Saya diminta datang ke Valencia untuk mengambil peti uang tersebut atau kalau tidak saya harus menghubungi perusahaan tersebut dan mengatakan bahwa saya dikirim Mr. Ibrahim Milha untuk mengambil peti berisi uang tersebut.

Di sini kecurigaan mulai timbul di benak saya. Pertama, masa iya saya bisa mengambil barang yang disimpan oleh orang lain tanpa membawa sesuatu pun? Kedua, bila melihat gambar sertifikat deposit yang dikirimkan ke saya akan nampak beberapa keanehan. Yang jelas sekali gambar sertifikat tersebut tampak telah direkayasa. Terlihat jelas bagian nama perusahaan, nama klien, dan keterangan lain seperti di-crop. Hmmm, ini pasti hanya SCAM alias penipuan. Saya putuskan menuntaskan cerita ini dan mengirim email pada Mr. Ibrahim Milha yang menyatakan bahwa saya tidak dapat mempercayainya atas dasar 2 hal di atas.

Hebat! Email saya kirim hari Kamis (10/4) sekitar pukul 10.30 siang, dan saya langsung menerima telepon dari 2 nomor asing sekitar pukul 11.30. Waktu telepon masuk kebetulan saya tidak membawa HP karena saya simpan di dalam lemari. Sampai pukul 7 malam lebih saya baru tahu ada miss call 8 kali dan sebuah SMS dari nomor yang berusaha menghubungi itu. Pesannya pendek, "Please call me as soon as possible. Mr. Boston". Siapa dia? Karena tidak ada pulsa saya hanya mengirim SMS ke nomor tersebut. Eh, Mr. Boston itu lalu menghubungi saya dan mengaku sebagai kurir dari Valencia untuk mengantarkan 2 buah peti yang dikirimkan Mr. Ibrahim Milha ke saya. Saat itu Mr. Boston mengaku sudah berada di Jakarta. Wow, ini serius tampaknya?

Tunggu dulu. Dari nada suara dan logat bicaranya, Mr. Boston ini asli bule. Tapi dia lupa kalau Spanyol itu punya bahasa sendiri, dan saya sangat fanatik sama klub Valencia. Masa iya orang Spanyol ngomong Inggris tanpa kelihatan sama sekali logat Spanyolnya? Lagipula Valencia-Jakarta saya rasa tak akan mampu ditempuh dalam waktu hanya 1 jam. Namun begitu rasa penasaran yang kian membesar menggoda saya agar menanggapi si Mister. Lebih dari 10 menit saya bertanya-jawab dengan Mr. Boston. Intinya saya diminta datang ke Jakarta untuk mengambil 2 peti kiriman Mr. Ibrahim Milha dan membayar sejumlah tax. Nah lho, di sini dia sudah membuka kedoknya sendiri. Saya lalu memutuskan pembicaraan dengan alasan ingin mengecek email sekalian cross check dulu ke Mr. Ibrahim, dan setelah itu akan menelpon balik.

Ya, saya memang ke warnet untuk membuka email. Tapi yang saya lakukan adalah mengopi seluruh email dari Mr. Ibrahim Milha, termasuk foto dan gambar scan sertifikat deposit yang ia sertakan, lalu menyimpannya ke dalam flash disk. Iseng-iseng, saya lalu melacak nama Sabadell di Google. Ternyata Sabadell adalah sebuah kota kecil di Valencia. Selain Bank Sabadell ada juga Sabadell FC yang tak lain adalah klub sepakbola, tetapi nama perusahaan yang disebutkan Mr. Ibrahim Milha sama sekali tidak terlacak. Saya jadi semakin penasaran. Ujung-ujungnya nama Ibrahim Milha yang saya masukkan ke kotak pencarian. Eh, ternyata hasilnya banyak sekali. Dan kesemuanya sepakat bahwa si Mister adalah penipu ulung dengan cara mengirimkan email SCAM. Coba lihat di sini, sini, sini, sini, atau sini. Mau lebih banyak? Lihat sendiri di sini.

Pertanyaan yang belum terungkap bagi saya sampai sekarang adalah, siapa gerangan Mr. Boston? Yang jelas ia tinggal di Jakarta karena nomor Simpati-nya berkode Jakarta. Ini berarti jaringan SCAM ini sangat luas hingga lintas negara, dan Indonesia adalah salah satu targetnya. So, waspadalah! Agar Anda tidak tertipu email SCAM seperti ini, situs ScamWarning.org mungkin akan sangat bermanfaat bagi Anda.

NB: Jum'at (11/4) Mr. Boston kembali menelpon saya, tapi saya kerjain. Telpon saya angkat, tapi saya dekatkan ke speaker TV yang sedang menyiarkan acara talkshow. :D Setelah itu dia telpon lagi sekitar 2 kali dan tidak saya angkat-angkat. Ujung-ujungnya dia kirim SMS dan bilang kalau saya tidak segera menemuinya ia akan balik lagi ke Spanyol hari Minggu (13/4). Dalam hati saya bilang, "go to hell aja sekalian, Mister." Jahat banget ya? ^_^

Minggu, 13 Juni 2010

Robert Kiyosaki dan Laba-laba


ROBERT Toru Kiyosaki dalam buku larisnya The Cashflow Quadrant menyebutkan 2 macam kuadran yang dibedakan dari cara orang mencari uang. Kuadran kiri adalah golongan orang-orang yang mencari uang dengan bekerja, baik menjadi karyawan/pegawai ataupun bekerja sendiri sebagai profesional (pemusik, dokter, pengacara). Sementara orang-orang di kuadran kanan sebaliknya, mereka mencari uang dengan cara berbisnis atau berinvestasi.


Buku The Cashflow Quadrant
Menurut Kiyosaki, penghasilan orang-orang di kuadran kiri adalah penghasilan aktif (active income). Artinya, penghasilan didapat jika dan hanya jika seseorang bekerja. Kalau tidak, maka penghasilan orang tersebut mandeg. Berbeda dengan penghasilan orang-orang di kuadran kanan yang bersifat penghasilan pasif (passive income), di mana tanpa bekerja pun penghasilannya akan terus mengalir.

Sebenarnya pelajaran seperti ini dapat dipetik dari laba-laba. Ya, laba-laba adalah contoh hewan cerdas yang bisa dimasukkan ke kuadran kanan buatan Kiyosaki. Kok bisa? Bisa saja. Sebab hewan yang dianggap pemalas ini menerapkan konsep passive income. Dalam konteks hewani, mungkin istilah tersebut bisa diubah menjadi passive feed.

Coba amati cara seekor laba-laba mencari makan. Berbeda dengan cicak yang aktif berburu mangsa, laba-laba cukup duduk santai menunggu hewan malang yang terperangkap di jaringnya. Tak perlu bersusah payah mengejar-ngejar mangsa, justru mangsanyalah yang "datang sendiri" dan kemudian siap disantap si laba-laba. Asyik, bukan?

Apa yang dilakukan si laba-laba, meminjam istilah Kiyosaki, adalah sebuah smart work. Hewan yang mengubah Peter Parker menjadi superhero bernama Spiderman ini tidak "mencari makan", tapi "membuat jaring untuk menangkap makanan". Karena itu, ketika cicak sibuk memburu nyamuk atau serangga lain, laba-laba justru sibuk membuat jaring perangkap. Cicak bisa langsung kenyang memakan hasil buruannya, sementara laba-laba masih harus menahan lapar sampai jaringnya selesai dibuat. Tapi kondisi berbalik ketika perangkap tersebut sudah jadi. Saat cicak masih sibuk mencari makan, laba-laba dapat bersantai sembari menunggu mangsa.

Sama seperti pegawai dan pebisnis. Seorang pegawai dapat langsung menikmati gaji 1-2 juta rupiah sebulan di masa awal bekerja, sementara di saat yang sama seorang pebisnis bisa jadi malah minus pemasukannya. Bisnis yang dibangun masih belum bisa memberikan penghasilan memadai di awal-awal berdirinya. Tapi perbedaan terjadi ketika bisnis tersebut sudah berjalan. Ketika si pegawai masih harus bekerja untuk memperoleh gaji 1-2 juta rupiah, si pebisnis sudah bisa duduk manis dan memperoleh hasil yang lebih banyak dari gaji si pegawai.

Mana yang Anda pilih, menjadi laba-laba atau menjadi cicak? Saya yakin Anda semua ingin mencari makan seperti laba-laba. Iya kan? ^_^

Kamis, 10 Juni 2010

Memajukan Sepakbola dengan Buku


SEPAKBOLA adalah olahraga dunia. Ungkapan ini tidaklah berlebihan mengingat sepakbola memang merupakan cabang olahraga paling populer sejagat. Meski tidak didukung data resmi, boleh dibilang lebih dari setengah penduduk dunia adalah penggemar sepakbola. Buktinya, ajang multinasional seperti Piala Eropa atau Piala Dunia disiarkan langsung di lebih dari 100 negara. Bahkan liga domestik semacam Serie A (Italia), La Liga (Spanyol) atau Premiership (Inggris) juga menjadi tontonan wajib di belahan dunia lain. Termasuk di dalamnya Indonesia.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, Indonesia menjadi pasar potensial bagi berbagai macam industri. Produsen barang-barang berskala internasional selalu menempatkan Indonesia sebagai target utama di kawasan Asia Pasifik. Demikian halnya industri sepakbola. Namun, penetrasi pasar yang dilakukan baru sebatas penayangan siaran-siaran langsung, highlight turnamen, plus kuis.

Saat ini tercatat ada 2 liga domestik asing yang meramaikan layar kaca Indonesia, yakni La Liga Spanyol, dan Premiership Inggris yang kedua-duanya disiarkan tvOne. Sebelumnya penggila bola di tanah air bahkan bisa menikmati 5 liga domestik Eropa sekaligus. Selain La Liga dan Premiership, Serie A (Italia), Bundesliga (Jerman), dan Eredivisie (Belanda) juga disiarkan setiap pekan. Belum lagi ditambah dengan tayangan Liga Champion, Piala UEFA, lalu ada juga Piala Eropa serta Piala Dunia yang rutin ditayangkan langsung. Hebatnya lagi, seluruh tayangan itu dapat dinikmati secara gratis tis! Kecuali biaya untuk pembelian pesawat televisi tentunya.

Selain siaran langsung, berita-berita sepakbola juga bisa diikuti lewat beragam tabloid dan majalah olahraga yang banyak beredar. Jenisnya memang tabloid atau majalah olahraga, tapi isinya lebih banyak tentang sepakbola. Surat kabar umum juga menyediakan lembar khusus olaharaga yang lagi-lagi didominasi berita-berita dari lapangan hijau.

Di tengah maraknya usaha memanjakan publik bola itu, rupanya masih ada satu slot yang kurang dilirik. Apa itu? Buku-buku sepakbola. Entah mengapa sebabnya tak banyak penerbit yang mau memproduksi buku sepakbola. Sampai saat ini hanya ada kurang dari 50 judul buku sepakbola yang pernah diterbitkan di Indonesia. Dari jumlah itu, setengahnya diterbitkan menjelang berlangsungnya event-event besar saja. Isinyapun lebih berupa panduan turnamen. Sisanya kebanyakan berbentuk buku humor atau kartun sepakbola.

Demikian halnya tak banyak pula penulis yang tertarik menulis sepakbola. Sepanjang ingatan penulis, satu-satunya orang yang pernah melahirkan buku sepakbola ‘serius’ adalah kolumnis senior Romo Sindhunata. Karyanya berupa kumpulan tulisan yang terangkum dalam sebuah trilogi dan diterbitkan oleh sebuah penerbit nasional terkemuka. Setelah itu, tak ada lagi yang tertarik menulis sepakbola.

Ini agak mengherankan. Kenapa? Publik sepakbola Indonesia sangat besar. Dari total populasi 200 juta jiwa lebih, taruh kata 10% adalah penggila bola. Itu berarti 10% x 200 juta = 20 juta. Dari prakiraan angka itu, misalkan saja yang hobi membaca sebanyak 1 % atau 200 ribu orang. Wow, jumlah tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuat sebuah buku menjadi best seller.

Jika penerbit hendak memakai hitung-hitungan bisnis dan untung-rugi, jumlah 200 ribu orang sungguh sangat sayang untuk disia-siakan begitu saja. Kalau umumnya sekali terbit tercetak minimal 3.000 eksemplar, berarti penerbit bisa mencetak ulang lebih dari 65 kali untuk memenuhi kebutuhan 200 ribu orang tadi. Padahal, buku yang dicetak ulang 5 kali saja sudah berlipat-lipat untungnya.

Shaolin Soccer poster
Shaolin Soccer, film sepakbola garapan Stephen Chow yang super kocak.

Memang harus diakui bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Tapi dengan pendekatan tertentu, semisal mengangkat sisi human interest atau bersifat menghibur dan ringan, paling tidak cetakan pertama dapat habis terjual. Bukankah ada banyak kejadian-kejadian menarik dari dunia sepakbola? Bukankah dalam sepakbola juga kerap tercipta drama-drama menegangkan sekaligus mengharukan?

Oke, tabloid & majalah sepakbola banyak, tapi media-media seperti itu sifatnya umum.
Untuk pembahasan kasus secara lebih detil dan mendalam dibutuhkan uraian lebih panjang dan data-data lebih banyak dengan halaman yang lebih banyak pula. Halaman tabloid dan majalah dibatasi sehingga laporannya juga terbatas. Lain halnya dengan buku yang memiliki halaman tak terbatas. Sebuah kasus dapat dibahas tuntas tanpa harus dipusingkan berapa jumlah kolom yang tersisa.

Ini berbeda dengan di Eropa, khususnya negara-negara dengan tradisi sepakbola kuat. Buku-buku sepakbola terus-menerus diterbitkan. Mulai dari biografi pemain—baik pemain legendaris dunia atau sekedar ikon lokal, baik masih aktif maupun sudah pesiun. Ada juga kisah dan sejarah perjalanan sebuah klub. Atau tokoh-tokoh lapangan hijau nonpemain seperti pelatih terkenal dan kelompok suporter tertentu.


Almarhum Ronny Pattinasarani, salah satu pesepakbola nasional yang layak dibukukan.

Tak berhenti sampai di situ saja. Film-film berbau sepakbola juga banyak dirilis. Sebut saja Victory yang berlatar-belakang Perang Dunia dan melibatkan legenda dunia asal Brasil, Pele. Lantas ada Bend It Like Beckham yang kisahnya lebih meremaja. Dari Hongkong, Stephen Chow turut meramaikan pasar dengan karya sensasionalnya yang super kocak, Shaolin Soccer.

Dengan demikian industri sepakbola lebih berkembang. Tak hanya terbatas pada penjualan tiket pertandingan atau merchandise klub semata. Penggemar disuguhi lebih banyak pilihan untuk mengenal klub atau pemain terkenal pujaannya. Selain itu, perkembangan industri sepakbola juga terbukti sangat mendorong peningkatan kualitas sepakbola itu sendiri. Karena dalam industri, hanya yang terbaik sajalah yang bisa bertahan. Suasana akan menjadi sangat kompetitif baik di dalam maupun di luar lapangan. Dan ini dapat berefek baik bagi sebuah kompetisi. Fakta membuktikan bahwa pemain-pemain terbaik hanya lahir dari kompetisi yang ketat dan berkualitas.

Sebagai tema bukunya sendiri, masih banyak cerita seputar dunia sepakbola yang belum diangkat. Seperti perseteruan panjang Inggris-Argentina yang meletup sejak Perang Falkland. Atau kematian tragis bek Kolombia, Andreas Escobar, di Piala Dunia 1994. Kisah-kisah seperti itu akan sangat memancing keingintahuan pembaca. Terlebih bila kemasan bahasanya menawan dan didukung dengan lengkapnya data-fakta yang valid.

Indonesia sendiri menyimpan banyak kisah menarik. Sejarah perjalanan sepakbola nasional pada masa kolonial Belanda dan Jepang dapat diolah menjadi bacaan bagus. Atau kasus transfer termurah di dunia saat Indriyanto Nugroho dijual Arseto Solo ke Pelita Jaya senilai Rp 100,- tahun 1996. Sosok pemain seperti Kardono, Ronny Pattinassarany atau Rocky Puttiray rasanya pantas dibuatkan biografinya. Untuk klub, profil Persebaya Surabaya, Persija Jakarta Pusat, PSM Makassar atau PSMS Medan akan banyak diburu penggemarnya. Persoalannya, siapa yang mau menulisnya?

Bicara manfaat, banyak hal positif dapat dipelajari dari sepakbola. Semangat pantang menyerah, kekompakan tim, sportivitas, sampai sikap lapang dada menerima kekalahan. Jika semua itu dapat ditularkan pada insan sepakbola tanah air, kondisi liga yang penuh carut-marut tentu dapat diperbaiki. Pemain akan merasa malu untuk memukuli wasit atau mogok bertanding dengan dalih nonteknis yang terkesan dicari-cari.

Membaca banyak hal positif membuat orang terdorong untuk berlaku positif pula. Dan harus diakui kalau buku yang dibaca seseorang sangat mempengaruhi pola pikir orang tersebut. Jika saat ini banyak pihak sibuk mencari cara untuk memperbaiki iklim sepakbola nasional yang carut-marut, salah satu cara itu adalah dengan menerbitkan buku-buku sepakbola bermutu. Nah, siapa yang tertarik memulainya?
[bungeko]


Posting ini dibuat dalam rangka menyambut perhelatan Piala Dunia 2010 yang akan dimulai tanggal 11 Juni 2010.

Senin, 07 Juni 2010

Masak Grombyang Pemalang, Yuk..!


GROMBYANG adalah masakan khas Pemalang. Dulu, waktu masih berstatus "pacaran", istri saya iseng mengajak saya ke warung grombyang paling top se-Pemalang: Grombyang Haji Warso. Hmmm, rasanya memang maknyus. Kuahnya hitam segar, dipadu dengan daging sapi yang kenyal namun lembut di lidah. Meski harus merogoh kocek agak dalam untuk ukuran harga makanan di Pemalang, namun saya puas.

So, kalau suatu saat main ke Pemalang, jangan lupa mencicipi grombyang ya. Kalau mau makan di tempat jagonya grombyang Pemalang, hanya nama Haji Warso yang bisa disebut. Warungnya sempat didatangi Bondan 'Maknyus' Winarno dan kru Wisata Kuliner, tapi entah ditayangkan atau tidak. Tempat tinggal Bung jauh dari Pemalang? Tenang, Bung bisa masak grombyang sendiri di rumah. Ini saya kasih resep grombyang Pemalang yang dicuplik dari Pemalang Post.

grombyang Pemalang

Bahan-bahan:
- 500 gr.
- 400 gr.
- 2500 ml
- 2 lembar
- 4 sdt.
- 4 sdt.
- 1 batang
- 4 sdm.
- 2 batang
- 4 sdm.
daging sandung lamur
iga sapi
air putih
daun salam
garam
gula merah, sisir halus
daun bawang, iris halus
minyak goreng untuk menumis
serai, ambil putihnya, memarkan
bawang merah goreng untuk taburan

Bumbu halus:
- 7 butir
- 4 siung
- 0,5 sdt.
- 2 buah
- 1,5 sdt.
- 50 gr.
- 1 cm
- 2 cm
bawang merah
bawang putih
merica
keluwek, seduh
ketumbar
parutan kelapa, sangrai
jahe, bakar
kunyit, bakar
*Resep ini untuk 6 porsi.

Bahan sambal cabai rawit:
- 2 siung
- 1/8 sdt.
- 15 buah
bawang putih
garam
cabai rawit merah

Cara Membuat:
1). Rebus daging, iga sapi, air, serai, dan daun salam sampai empuk. Angkat. Ukur 2000 ml air kaldunya. Potong-potong daging dan iga sapi. Didihkan lagi.

2). Panaskan minyak. Tumis bumbu halus sampai harum. Tuang rebusan daging. Masukkan garam dan gula merah. Masak sampai matang. Tambahkan daun bawang. Aduk rata.

3). Sambal cabai rawit: rebus cabai rawit merah dan bawang putih sampai layu. Angkat dan tiriskan. Tambahkan garam. Haluskan.

4). Sajikan dengan cabai sambal cabai rawit dan taburan bawang merah goreng.


Bagaimana? Kelihatan sedap, bukan? Selamat mencoba! ^_^

Jumat, 04 Juni 2010

Pemberi Komentar Terbanyak Mei 2010


SEBELUMNYA saya mohon maaf karena terlambat mengumumkan pemenang semi kontes Pemberi Komentar Terbanyak di BungEko.com. Seharusnya pengumuman sudah saya posting tanggal 1 Juni lalu, namun berhubung masih terkaget-kaget jadi bapak baru, jadilah blog ini dan kegiatan online lainnya sedikit terabaikan. Well, hari ini saya sempatkan diri untuk menghitung komentar valid yang sudah masuk, dan menentukan siapa pemenang periode Mei 2010.

Oya, pengumuman pemenang kali ini adalah yang keempat, setelah sebelumnya sudah diumumkan pula pemenang bulan Februari, Maret, dan April. Jika di bulan Februari pemenangnya adalah Gus Ikhwan, Maret pemenangnya adalah Bung Asep Muhammad Saeful Islam (AMSI) aka belajar investasi, lalu bulan April pemenangnya adalah Bung Fatchur, siapakah pemenang pada bulan Mei?

Baiklah, ini dia hasil perhitungan saya:

1. iskandaria (23 komentar valid)
2. Blogger Terpanas (9)
3. Darin (8)
4. Ago (7)
5. amsi, Munawar AM, Gus Ikhwan (5)
6. fatchur, Reza Winandar, Rachmadi Triatmojo (4)
7. Adeskana (3)
8. Sawali Tuhusetya, Anthony Harman, Delia, buJaNG (2)
9. Isnuansa Jimmy Sun, Hanna Pertiwi, Blog Hardim, BlogCamp, The Fachia, Zee, Khariss, kang ian (1)


Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka dengan ini saya memutuskan Bung Iskandaria sebagai pemenang kontes Pemberi Komentar Terbanyak di Bung Eko dotcom bulan Mei 2010. Untuk itu, Bung Iskandaria berhak mendapatkan 2 eksemplar buku terbaru karya saya dan sebuah kaos cantik. 2 buku tersebut berjudul 7 Langkah Mudah Mencari Uang lewat Blog (Gara Ilmu, Yogyakarta, Feb. 2010) dan 10 Cara Efektif Mencari Uang dengan Blog Khusus Berbahasa Indonesia (iN-Books, Yogyakarta, Feb. 2010).

Mohon diingat, saya menghitung berdasarkan pedoman yang telah saya sampaikan di posting ini, dan juga saya lampirkan di atas kolom komentar. Jadi, kalau ada yang merasa sudah memberi banyak komentar tapi tidak terpilih, bisa jadi komentar Bung tidak memenuhi kriteria perhitungan yang saya tetapkan.

Untuk Bung Bung Iskandaria, terima kasih atas kesediaannya untuk memberikan banyak komentar membangun plus referensi tambahan pada posting-posting blog ini. Selanjutnya mohon kirimkan nama asli dan alamat lengkap ke saya via alamat email saya eko[at]nurhuda.com supaya hadiahnya bisa saya kirim.

Anyway, meskipun sekarang saya punya tambahan tanggungjawab berwujud anak, tapi kontes terus saya lanjutkan. Untuk periode Juni 2010, perhitungan langsung saya mulai sejak posting ini sampai dengan posting terakhir di bulan Juni. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada awal Juli 2010 (tidak selalu tanggal 1, tapi saya usahakan sebelum tanggal 5 pemenangnya sudah diumumkan). Hadiahnya? Berhubung stok kaosnya habis, maka mulai bulan Juni, pemenang hanya akan mendapat bingkisan buku saja. Oya, bukunya bisa jadi berbeda dengan yang sudah saya bagikan untuk pemenang bulan Februari, Maret, April, dan Mei ini.

Tertarik? Ayo, budayakan memberi komentar yang bernas!

kata bijak Andrie Wongso

Gerakan 2012 Buku
untuk Pemalang

Buku yang sudah terkumpul
0 0 0 1 eks.

Masih butuh 2011 eks. lagi.

Bantu kami menyediakan 2012 eksemplar
buku bacaan untuk warga Pemalang.
Baca info selengkapnya di sini!


Rp1 Tahun 1956

Uang Mahar, Rp1 Tahun 1956

Obverse: Gadis Jawa di kanan, angka satu di kiri.
Reverse: Garuda Pancasila di tengah, diapit angka satu.
Kondisi: Baru (Uncirculated, UNC)

Rp10.000,-

per lembar

Recommended Posts
Recommended Video
GBK
Lagi, timnas Indonesia harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Malaysia di final SEA Games 2011. Dalam final yang sama-sama kita saksikan Senin (21/11) malam, timnas U-23 keok.
Bakso
Bakso umumnya memiliki bulatan-bulatan campuran tepung dan daging yang biasa disebut pentol. Di Pemalang, ada warung bakso yang menyediakan bakso tanpa pentol.
uanglama