KONTES komentar terbanyak yang rutin saya adakan setiap bulan di blog ini ternyata memantik rasa penasaran salah seorang pembaca.
Bung Reza Winandar, teman lama saya sejak mulai
ngeblog di EkoNurhuda.com, mempertanyakan apa manfaat yang saya peroleh dari semi kontes yang mulai bergulir sejak
Februari lalu ini. Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah terlontar sejak lama, namun saya baru sempat menjawabnya sekarang.
Well, kalau bicara manfaat, ada banyak sekali yang saya peroleh dari semi kontes komentar terbanyak ini. Salah satunya, saya jadi selalu teringat untuk meng-
update blog secara rutin, satu hal yang susah sekali saya lakukan sejak mulai terjun di dunia penulisan buku. Satu manfaat yang jauh lebih penting lagi,
saya jadi terbiasa menyisihkan sebagian rejeki yang saya peroleh untuk berbagi dengan orang lain. Memang sementara hanya 2 eksemplar buku setiap bulan, tapi ini hanyalah sebuah permulaan.
Harus diakui, sungguh sulit rasanya membiasakan diri untuk berbagi, apalagi kepada orang yang tidak punya hubungan apa-apa dengan kita, dengan orang yang bahkan tidak pernah dikenal sebelumnya. Padahal, berbagi hanyalah satu upaya kecil agar kehadiran kita di dunia ini bermanfaat bagi orang lain. Apa gunanya hidup kalau tidak bisa memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita? Dan, memberi tidak harus banyak. Sesuaikan dengan kemampuan kita saja, yang penting tetap konsisten dan ada niat untuk terus meningkatkan jumlah yang diberikan.
Terinspirasi oleh Jennie S. Bev
Saya tidak akan membicarakan hal ini dari perspektif agama. Cukup dengan menggunakan kacamata sosial saja kita sudah bisa membayangkan betapa pentingnya keinginan untuk berbagi itu harus ditumbuhkan dalam diri. Masih ingat kasus yang menimpa Prita Mulyasari? Atau peristiwa penyerangan kapal Mavi Marmara oleh tentara Israel? Akhir cerita dari kedua kejadian tersebut menunjukkan betapa hebatnya akibat yang dapat ditimbulkan dari sebuah keinginan untuk berbagi kepada sesama.

Foto: Facebook.comSaya juga banyak
belajar dari Jennie S. Bev, penulis Indonesia yang berjaya di
California, AS. Penulis buku laris
Rahasia Sukses Terbesar (Fivestar Publishing, 2007) ini punya kebiasaan unik, yakni selalu memberi kartu pos berisi kata-kata motivasi yang ditulis dengan tangannya sendiri kepada setiap orang yang baru dikenalnya. Hanya sebuah kartu pos memang, tapi bayangkan efek psikologis yang dialami oleh penerimanya. Menerima kartu pos langsung dari seorang penulis terkenal, dan dikirim dari AS. Bayangkan!
Kebetulan saya sendiri sempat mengalami efek tersebut. Saya pertama kali menjalin kontak dengan Mbak Jennie pada pertengahan 2008, tepatnya ketika beliau mengirim email berisi rasa keberatannya terhadap sebuah posting tentang dirinya di salah satu blog berbahasa Inggris yang saya kelola. Ia minta saya mengoreksi posting tersebut karena faktanya tidak seperti yang saya tulis, sementara saya keberatan mengoreksi karena tulisan tersebut mengacu pada sebuah wawancara di sebuah tabloid wanita terkemuka tanah air. Saya bilang pada Mbak Jennie, apa yang saya tuliskan hanyalah mengulang jawaban yang ia berikan pada reporter tabloid tersebut.
Dari hal tidak menyenangkan itulah kontak berlanjut. Mbak Jennie berjanji akan mengirim kartu pos ke alamat saya, dan mengundang saya datang ke rumahnya jika kebetulan ia mudik ke tanah air. Berselang sebulan kemudian kartu pos tersebut saya terima. Dan, agaknya Mbak Jennie mengirim kartu pos 2 kali karena saya menerima 2 kartu pos berbeda di hari yang sama. Ketika akan menikah Agustus tahun lalu, iseng-iseng saya mengabari Mbak Jennie via Facebook. Secara mengejutkan Mbak Jennie bilang ingin mengirim kado, dan kirimannya benar-benar saya terima: sebuah buku berbahasa Inggris berjudul
The Law of Attraction, Plain and Simple karya Sonia Ricotti. Di dalamnya terdapat tulisan tangan Mbak Jennie, berbunyi,
“Ratna Dewi & Eko Nurhuda, selamat menempuh hidup baru. Tuhan berkati. Salam, Jennie.” Sepertinya itulah kejutan terbesar yang pernah saya rasakan sampai saat ini.
Really, it's a big surprise!
Saya dan istri sempat iseng menghitung berapa besar uang yang dihabiskan Mbak Jennie untuk mengirim hadiah tersebut. Karena buku-buku terbitan AS selalu mencantumkan harga di sampulnya, kami jadi tahu kalau harga buku itu $15.95. Kemudian, di bungkus paketnya juga tertera berapa biaya yang dibayar Mbak Jennie untuk mengirim buku tersebut ke Indonesia, $9. Total beliau menghabiskan $24.95 untuk saya, orang yang tidak beliau kenal dan sama sekali belum pernah ditemuinya. Okelah, $24.95 mungkin sedikit bagi seorang Jennie S. Bev, tapi siapalah saya sampai beliau mau mengorbankan uang sebanyak itu begitu saja? Dan, yang lebih penting lagi, apa manfaat yang beliau peroleh?
Bukan Soal Jumlah, Tapi Kesediaan untuk Berbagi
Dalam sebuah wawancara di
Pembelajar.com, Mbak Jennie pernah menyinggung tentang poin berbagi ini. Beliau ditanya, kenapa memilih menetap di AS. Dengan simpel beliau menjawab, karena di AS-lah kemampuannya lebih dihargai. Karena itu, beliau jadi punya peluang untuk bisa berbagi lebih banyak kepada orang lain. Bayangkan kalau beliau menjadi penulis di Indonesia, apa yang bisa diperoleh? Boro-boro memikirkan berbagi dengan orang lain, untuk memenuhi kebutuhan hidup saja masih pusing.
Bagi saya pribadi, kesediaan Mbak Jennie untuk berbagi benar-benar patut diacungi jempol. Berbagi dengan orang yang sudah dikenal, apalagi kenal akrab, itu biasa. Tapi mau berbagi dengan orang yang tidak dikenal, itu sungguh luar biasa. Jumlah atau besar-kecilnya pemberian bukanlah hal penting, poin terpentingnya justru kesediaan untuk berbagi itu sendiri. Mengutip perkataan Mbak Jennie dalam wawancara di Pembelajar.com tersebut, jangan takut rugi gara-gara berbagi, karena selalu ada balasan untuk setiap kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain. Dan, jangan harapkan balasan akan datang dari orang yang kita beri, karena yang akan membalas perbuatan baik kita hanyalah Tuhan Yang Maha Pemurah.
Nah, inilah yang kemudian menggerakkan saya untuk mengadakan semi kontes berhadiah 2 eksemplar buku setiap bulan. Sebenarnya saya bisa saja langsung memilih seorang pembaca dan memberikan buku-buku tersebut padanya, namun saya tidak ingin buku-buku yang saya berikan jatuh ke tangan “orang yang salah”. Karena itulah semi kontes komentar bernas terbanyak saya adakan untuk menentukan pembaca yang berhak menerima bingkisan buku dari saya. Walaupun pada prakteknya tetap saja ada oknum pembaca yang “nakal”—dan bagi saya (maaf) merupakan “orang yang salah”, tapi setidaknya saya tahu si pemenang adalah orang yang punya ketertarikan terhadap buku-buku yang saya tawarkan.
Sedikit Hitung-hitungan
Kalau saya boleh sedikit berhitung, setiap bulan setidaknya saya menghabiskan Rp60.000 – Rp100.000 untuk membeli dan mengirimkan hadiah ke pemenang semi kontes di blog ini. Angka ini belum termasuk harga kaos yang saya berikan pada pemenang bulan Februari – Mei. Detilnya, harga buku
7 Langkah Mudah Mencari Uang lewat Blog Rp36.000, lalu harga buku
10 Cara Efektif Mencari Uang dengan Blog Berbahasa Indonesia Rp38.000. Total, untuk membeli buku saja sudah habis Rp74.000. Saya beruntung karena sebagai penulis saya berhak memperoleh diskon lumayan besar dari penerbit setiap kali membeli buku-buku karya saya sendiri.

Buku 10 Cara Efektif Mencari Uang dengan Blog Berbahasa Indonesia.Selain untuk membeli buku, saya juga musti mengeluarkan biaya untuk mengirim buku-buku tersebut melalui pos, paling sedikit Rp10.500 sekali kirim (tapi ada satu paket yang biaya kirimnya lebih dari Rp20.000). Oya, saya belum memasukkan biaya untuk membeli bungkus kado, bensin motor (rumah mertua saya dan kantor pos Pemalang berjarak 15 menit naik sepeda motor), parkir, serta tenaga dan waktu yang saya habiskan untuk membeli, membungkus, lalu mengirimkan paket-paket tersebut. Jadi, wajar
dong kalau saya menulis kisaran angka Rp60.000-Rp100.000 di atas?
Apa untungnya bagi saya? Secara materi jelas tidak ada. Keuntungan
backlink, mungkin? Tidak juga, karena kebanyakan pemenang salah menuliskan alamat URL blog ini ketika memberi
backlink sehingga malah menjadi
broken link. Bahkan ada salah satu pemenang yang tidak memberikan
backlink sama sekali ketika menulis posting tentang buku yang ia terima dari saya. Dari segi promosi buku (
buzz)? Hal ini diam-diam saya harapkan, tapi pada kenyataannya tidak semua pemenang mau menulis
review buku-buku yang saya kirim, sehingga tidak tercipta
buzz. Dan, mohon dicatat baik-baik,
saya memang tidak mewajibkan hal ini kepada pemenang.
So, apa untungnya bagi saya? Kepuasan batin karena bisa berbagi dengan orang lain, itu saja. Beruntung istri saya mendukung apa yang saya lakukan, meskipun uang Rp60.000 - Rp100.000 cukup untuk membeli susu Prenagen Lactamom (susu ibu menyusui) atau SGM Presinutri (susunya si kecil Damar) sebanyak 2-3 kotak ukuran 200 gram. Ia juga tidak pernah protes melihat saya repot membeli buku ke penerbit di Jogja, membungkusnya, dan mengirimkannya ke kantor pos.
Saya sadar, 2 eksemplar buku setiap bulan bukanlah pemberian yang besar. Tapi, baru itu yang bisa saya bagikan secara rutin. Mudah-mudahan pemberian yang tidak seberapa ini memberi manfaat bagi penerimanya. Amin...