Selamat datang di bungeko.com, blog pribadi Eko Nurhuda. Semoga tulisan-tulisan di blog ini memberi manfaat positif bagi Anda. Saran atau kritik dari Anda akan diterima dengan senang hati.

Menyambut Euro 2012

Hasil Undian dan Jadwal Lengkap Euro 2012

Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina masih enam bulan lagi. Namun undian penentuan grup bagi ke-16 peserta putaran final sudah dilakukan di Kiev, 2 Desember lalu.

Baca juga:

»
» Ketika Blog Masih Dipandang Sebelah Mata



Minggu, 26 Desember 2010

Tebar Pesona di Bernas Jogja


MASUK koran karena ada tulisan yang dimuat, itu sudah saya rasakan sejak duduk di kelas 2 SMA. Waktu itu, sekitar Maret 1999, cerpen saya yang berjudul Dhanyang Waru dimuat di harian Jambi Ekspres. Jauh sebelum itu, nama saya sudah duluan muncul di harian Independent (kini bernama Jambi Independent) sewaktu surat pembaca yang saya kirim dimuat.

Kalau masuk koran sebagai narasumber? Nah, ini benar-benar pengalaman baru bagi saya. Dan, mungkin inilah untungnya punya banyak teman wartawan. Saat mereka butuh liputan yang berkaitan dengan dunia saya, sayalah yang diliput. "Lha, daripada repot-repot nyari narasumber lain, mending teman sendiri saja yang diburu." Hehe, mungkin begitu alasannya...

Begitulah. Nama dan foto sayapun nongol di harian Bernas Jogja edisi Senin Kliwon, 13 Desember 2010. Tepatnya di rubrik Info Techno, halaman 4. Hanya berita sidebar sepanjang 5 paragraf sih, tapi tetap saja hati ini merasa "senang". Sayang, karena saya dan si wartawan tidak sempat bertatap muka, maka wawancaranya pun penuh kreativitas. Tidak hanya itu, fotonya juga terpaksa dicomot dari akun Facebook saya. Duh, kok foto yang itu sih, Mas..?

Well, sekali lagi maaf kalau ada yang bilang "narsis, ah!", tapi inilah bukti liputannya. Gambar saya repro dari situs bernasjogja.com (kiriman korannya belum sampai ke Pemalang).


Kebetulan sekali, 10 Desember adalah hari ulang tahun saya. Jadi, saya anggap saja ini kado ulang tahun dari teman saya di Bernas Jogja itu. ^_^

Kamis, 23 Desember 2010

Momen Terbaik Mengukir Sejarah


TINGGAL satu langkah lagi Timnas Indonesia meraih gelar juara pertamanya di ajang Piala AFF. Setelah pada edisi sebelumnya Vietnam sukses menggeser dominasi Thailand dan Singapura dalam pesta sepakbola Asia Tenggara dwitahunan ini, sekarang giliran Indonesia. Peluangnya terbuka lebar, asalkan Firman Utina cs. dapat mengulangi sukses menggebuk Malaysia di final (26 dan 29 Desember) nanti.

Sepanjang sejarah Piala AFF (sampai edisi 2004 masih bernama Piala Tiger), Indonesia belum sekalipun merasai tahta juara kompetisi sepakbola Asia Tenggara ini. Prestasi terbaik Tim Merah Putih hanyalah menjadi runner up. Total telah 3 kali Timnas mencapai partai final, yakni pada 2000, 2002, dan 2004. Namun dari semua kesempatan tersebut Timnas selalu gagal menjadi yang terbaik. Dua kesempatan pertama harus keok di kaki Thailand, sedangkan yang terakhir ditaklukkan Singapura.

Kenapa sulit sekali Timnas Indonesia meraih prestasi? Padahal bila dilihat dari materi pemain, pesepak bola tanah air tidaklah lebih buruk dari pemain-pemain negara lain di Asia Tenggara. Beberapa punggawa Timnas dipuji sejumlah pihak memiliki kelas tingkat Asia. Ivan Kolev yang dua kali menukangi Timnas bahkan sempat berkata bahwa kualitas Timnas nomor 4 di Asia. Kalau ucapan Kolev ini benar, kenapa kok di tingkat regional saja ngos-ngosan?

Timnas Indonesia, masih melempem tanpa prestasi.Kalau mau melongok sejarah persepakbolaan nasional, rasanya kita pantas lebih bersedih lagi. Tahun 1938, saat Piala Dunia ketiga diselenggarakan di Prancis, kesebelasan Hindia Belanda (Dutch East Indies) menjadi peserta non-Eropa-Amerika pertama dalam sejarah Piala Dunia. Meskipun tim tersebut dikirim oleh pemerintah kolonial Belanda, namun sebagian besar pemainnya adalah anak-anak pribumi. Coba bandingkan, di saat negara-negara lain di Asia belum pandai bersepak bola, anak-anak Nusantara telah mengukir sejarah di pentas Piala Dunia.

Tahun 1956, kembali Timnas Indonesia menorehkan catatan emas di buku sejarah sepakbola dunia. Kali ini terjadi dalam Olimpiade Melbourne. Menghadapi tim raksasa dunia, Uni Soviet, Timnas tampil percaya diri dan mampu meraih hasil seri 0-0. Dua tahun kemudian, di Asian Games Tokyo 1958, Tim Garuda meraih medali perunggu. Inilah medali pertama bagi Timnas di ajang internasional. Sejak itu Indonesia menjadi tim yang diperhitungkan di Asia bersama Korea dan Jepang.

Bambang Pamungkas, selalu hanya hampir juara Piala AFF.Di ajang Piala Asia, prestasi Indonesia juga menunjukkan peningkatan. Pertama kali lolos ke putaran final di tahun 1996, Timnas mampu menahan imbang Kuwait yang datang sebagai juara Piala Teluk dengan skor 2-2. Hebatnya lagi, Tim Merah Putih sempat unggul 2-0 lebih dulu dan gol yang dicetak Widodo C. Putro menjadi gol terbaik Asia tahun itu. Tahun 2004, Indonesia berhasil meraih kemenangan pertamanya di Piala Asia dengan menjungkalkan Qatar. Ini kemenangan sensasional mengingat rangking Indonesia jauh lebih rendah dan Qatar waktu itu ditangani pelatih beken Phillipe Troussier. Tak sekedar menang, Indonesia juga membuat Troussier malu besar sehingga mundur dari jabatannya setelah partai tersebut.

Piala Asia 2007 boleh dibilang merupakan penampilan terbaik Timnas. Permainan agresif nan cantik yang ditunjukkan Ponaryo Astaman cs. membuat tim-tim lawan berdecak kagum. Hasilnya, Bahrain yang jauh lebih kuat berhasil dibekuk di laga pembuka babak penyisihan grup. Di partai kedua, Indonesia hampir mengimbangi Arab Saudi kalau saja tidak kebobolan di menit-menit akhir. Melawan tim raksasa Asia lainnya, Korea Selatan, di partai ketiga, Timnas hanya ‘sial’ oleh sebiji gol yang dicetak melalui tendangan jarak jauh.

Setelah penampilan menawan di Piala Asia 2007, publik Indonesia berharap Timnas mampu berprestasi baik di Piala AFF 2008. Apa lacur, Benny Dollo dan anak asuhannya ternyata mentok di semifinal. Thailand menjadi ganjalan saat itu, Indonesia keok dengan skor agregat 3-1. Pencinta sepak bola tanah air terpaksa harus menelan kekecewaan untuk kesekian kali.

Kapan Timnas meraih prestasi? Inilah pertanyaan yang menggema di dada seluruh penggemar sepakbola Indonesia. Setelah berhasil mengatasi 2 tim top Asia Tenggara di babak penyisihan grup, lalu mematahkan kejutan Filipina di partai semifinal, serta ber-temu Malaysia yang pernah dipukul telak 5-1 di final, inilah momen terbaik bagi Timnas Indonesia untuk menjadi juara Asia Tenggara. Bisa, Garuda?

Catatan: Tulisan ini saya kirim ke rubrik Oposan di tabloid BOLA, dan... (kemungkinan besar) tidak dimuat. Hehehe...

Senin, 20 Desember 2010

Naturalisasi Bukan Solusi


SEMPAT dinilai anasionalis, ide naturalisasi yang pernah ditolak PSSI akhirnya menjadi kenyataan. Nama Cristian Gonzales masuk buku sejarah sepakbola nasional sebagai pemain ‘impor’ pertama di timnas Indonesia. Pesepak bola asli Uruguay ini resmi menjadi WNI tepat sebulan sebelum memperkuat Tim Garuda di Piala AFF 2010.

Selain Gonzales, ada pula nama Irfan Bachdim. Meskipun berayah seorang Indonesia asli dan memegang paspor Indonesia sejak lama, Irfan tetap terhitung orang asing. Namanya baru dikenal luas di kalangan publik sepak bola tanah air saat tampil dalam 2 laga amal di Malang dan Surabaya beberapa bulan lalu. Apalagi ternyata Irfan tidak fasih berbahasa Indonesia. Ia hanya bisa bicara dalam bahasa Belanda dan Inggris.

Pro dan kontra tentu saja mengiringi masuknya duet Gonzales-Irfan ke dalam timnas. Terlebih keduanya kemudian malah selalu menjadi starter di 3 laga Indonesia dalam babak penyisihan Grup A. Striker ‘abadi’ timnas yang juga pemain kesayangan fan Merah Putih, Bambang Pamungkas, jadi korban. Bepe, si pencetak gol terbanyak timnas, harus rela duduk di bangku cadangan.

Irfan Bachdim, bukan solusi untuk mencapai prestasi tinggi.Suara-suara sumbang mulai berkurang setelah melihat trengginasnya penampilan timnas kala melibas Malaysia, Laos, dan Thailand. Pasalnya duet striker naturalisasi Gonzales-Irfan nyata sekali memberi perbedaan pada permainan timnas. Buktinya, gol penyama kedudukan saat melawan Malaysia lahir berkat pergerakan tanpa bola Irfan di sisi kanan kotak penalti lawan. Lalu gol kedua yang membuat Indonesia berbalik unggul dicetak oleh Gonzales dengan penuh gaya. Gol inilah yang merontokkan mental Malaysia, membuat timnas mampu menyarangkan 3 gol lagi di babak kedua dan mengakhiri laga pertamanya dengan skor meyakinkan, 5-1.

Saat melawan Laos, aksi individu Gonzales di kotak 16 meter lawan berbuah pelanggaran yang mengakibatkan hadiah penalti. Gol Firman Utina dari titik putih memecah kebuntuan sekaligus membuka keran gol kemenangan besar Indonesia atas Laos. Dalam laga tersebut Irfan mencetak gol keempat Indonesia di menit 51. Ketika menundukkan Thailand, lagi-lagi aksi Gonzales yang membuat lawan dijatuhi hukuman penalti. Eksekusi Bambang membuat Indonesia menyamakan kedudukan sebelum akhirnya menang 2-1.

Sampai di sini, sepertinya proyek naturalisasi pemain sukses besar. Banyak kalangan berseloroh, kalau cuma mengimpor 2 pemain saja hasilnya bisa begini hebat, apalagi 3, 4, atau 5 sekaligus. Toh, stok calon pemain timnas dari jalur naturalisasi ada banyak. Mulai dari Sergio van Dijk yang sudah lama ngebet ingin berkostum Merah Putih, Kim Jeffrey Kurniawan, Alessandro Trabucco, dan beberapa nama lain yang masih terus didekati (Radja Nainggolan?). Tenaga mereka rasa-rasanya bisa memperbesar harapan Indonesia untuk tampil di putaran final Piala Dunia 2014 atau 2018. Ya, siapa tahu.

Filipina, penantang Indonesia di partai semifinal yang akan dihelat pada 16 dan 19 Desember mendatang, jadi pembanding. Negara yang sempat dibantai 13-1 oleh Indonesia di Piala Tiger 2002 itu punya 8 pemain naturalisasi dalam daftar starting lineup. Hasilnya, untuk pertama kali dalam sejarah Pinoy lolos ke semifinal Piala AFF. Sungguh sebuah loncatan besar mengingat 2 tahun lalu Filipina bahkan tidak lolos babak play off.

Indonesia bisa saja meniru langkah Filipina. Bukan cuma 8, timnas bahkan bisa diisi oleh pemain naturalisasi seluruhnya. Ini tidak mustahil dilakukan mengingat banyak pesepak bola keturunan Indonesia yang merumput di Belanda, Jerman, Italia, Amerika Serikat, bahkan juga Suriname, Qatar, Singapura, dan Malaysia. Belum lagi jika ditambah pemain-pemain asing di Liga Indonesia yang tertarik membela timnas seperti Cristian Gonzales.

Cristian 'El Loco' Gonzales, si No. 9 di Timnas Indonesia.

Satu hal yang harus dicatat baik-baik, naturalisasi pemain bukanlah solusi jitu untuk mengerek prestasi timnas. Langkah ini justru bisa menjadi bom waktu bagi persepakbolaan nasional. Membanjirnya pemain-pemain ‘impor’ di timnas perlahan-lahan akan membunuh persepakbolaan Indonesia. Liga Indonesia sebagai penghasil pemain timnas bakal kehilangan gairah, berakibat pada semakin menurunnya kualitas kompetisi, serta seretnya pasokan pemain berbobot dari liga.

Untuk meraih prestasi jangka pendek, bolehlah PSSI mengandalkan strategi naturalisasi pemain. Sudah lama sekali prestasi Indonesia terpuruk, mengakibatkan mental pemain timnas lemah. Masuknya pemain naturalisasi yang disusul dengan prestasi gemilang dapat mengangkat moral awak timnas. Imbasnya, pemain tampil penuh percaya diri kala menghadapi siapapun. Kalah gol dalam sepakbola itu biasa, tapi kalah mental berarti bencana.

Tiga titel juara Piala AFF secara beruntun (2010, 2012, dan 2014), medali emas cabang sepakbola di 3 SEA Games terdekat (2011, 2013, 2015), menembus putaran final Piala Dunia 2014 atau 2018, serta berbicara banyak di Piala Asia 2015 dan 2019, adalah target-target jangka pendek yang bisa ditumpukan pada strategi naturalisasi pemain. Namun, Indonesia jangan sampai terus-terusan mengimpor pemain. Berbekal bakat-bakat alam bumi Nusantara, liga domestik terbesar se-Asia Tenggara (Asia?), dan fanatisme penonton yang luar biasa, Indonesia sangat mampu melahirkan timnas mumpuni dengan punggawa pemain-pemain pribumi.

Kunci menuju kondisi tersebut adalah pembinaan usia dini dan dibarengi perbaikan kualitas liga domestik. Untuk masalah pembinaan pemain muda, PSSI sangat dianjurkan belajar pada Barcelona dengan La Masia-nya. Sedangkan untuk peningkatan kualitas liga domestik bisa dipelajari dari Premiership. Kalau kedua hal tersebut ditangani secara serius dan konsisten, rasanya timnas Indonesia tidak bakal kehabisan stok pemain berkualitas.
Catatan: Posting ini merupakan naskah asli artikel berjudul Naturalisasi Bukan Solusi di rubrik 'Oposan' tabloid BOLA edisi 2.186, Kamis-Jumat 16-17 Desember 2010.

Jumat, 17 Desember 2010

Mejeng di Tabloid BOLA


MAAF, sama sekali bukan bermaksud pamer kalau saya lagi-lagi membuat posting tentang "keberhasilan" memasukkan tulisan ke media cetak. Ini berkaitan dengan pride saya pribadi sebagai seorang yang mengaku-aku penulis. Lha, penulis kok tulisannya gak pernah nongol di koran? Penulis apaan tuh? Nah, begitu ada tulisan yang dimuat, tentu saja bukan main gembiranya hati saya. Dan, rasanya wajar dong kalau saya berbagi kegembiraan di blog ini? Hehehe...

Kita tentu sama tahu kalau Indonesia sedang dilanda demam sepakbola. Penyebabnya apalagi kalau bukan penampilan gila-gilaan Timnas di ajang Piala AFF 2010. Segrup dengan jagoan-jagoan ASEAN, Timnas berdiri sendirian di puncak klasemen Grup A. Malaysia dibantai 5-1, Laos diberi 'hadiah' setengah lusin gol tanpa mampu membalas, dan si sombong Thailand harus dongkol setelah 2 gol penalti Bambang Pamungkas memaksa negeri Gajah Putih itu pulang lebih cepat.

Nah, di tengah euforia tersebut, saya lantas teringat tabloid BOLA. Media yang jadi referensi utama saya soal sepak bola itu sudah lama sekali tidak saya baca. Maka saya pun mulai membeli beberapa edisi sepanjang pergelaran Piala AFF 2010. Eh, ternyata ada rubrik baru bernama Oposan di halaman 14 Ole Nasional. Siapa saja boleh mengisi rubrik itu, dan--ini asli membuat saraf narsis saya berdenyut kencang--ada foto penulisnya! Well kewel-kewel, saya pun memberanikan diri ikut 'bersaing' demi menampilkan wajah saya yang penuh jerawat ini di BOLA. Bila dimuat, inilah kali kedua wajah saya masuk koran. Lho, kok kedua? Yang pertama kapan? Sabar, itu akan saya ceritakan lain kali, dan tidak kalah seru lho... ^_^

Saya lantas menulis tema naturalisasi pemain yang sedang jadi pembicaraan di mana-mana. Tulisannya sepanjang 3 halaman kuarto spasi ganda, saya kasih judul Naturalisasi Bukan Solusi. Saya kirim 11 Desember 2010 via email. Saking pede-nya bakal dimuat, saya juga melampirkan foto. Yah, namanya juga usaha kan? Setelahnya saya sempat harap-harap cemas karena sampai 2 edisi selanjutnya tak ada nama dan foto saya tertera di BOLA.

Kamis (16/12), saat Timnas bertanding lawan Filipina di SUGBK, saya beli BOLA. Jauh-jauh ke Pemalang kota, sekitar 10 menit bermotor dari rumah mertua, saya cuma beli BOLA yang menyajikan ulasan khusus seputar semifinal pertama Piala AFF 2010. Saya sama sekali tak berpikir tentang tulisan yang saya kirim pada saat itu. Sesampainya di rumah, waktu membaca-baca isi tabloid tersebut jelang laga Filipina vs Indonesia, saya kaget campur senang karena ada nama saya di halaman 14 Ole Nasional, tepatnya di rubrik Oposan. Alhamdulillah...

Tulisan saya di BOLA No. 2.134, Kamis-Jumat 16-17 Desember 2010.

Tulisan ini membuat saya menutup tahun 2010 dengan kelegaan. Setelah tulisan berjudul Klub Pembunuh Bintang di rubrik Suara Tifosi yang dimuat pada BOLA No. 2.002, Selasa 26 Januari 2010, saya bisa muncul lagi di BOLA untuk menutup tahun 2010 dengan sebuah karya, meski teramat sederhana.

Selasa, 14 Desember 2010

Mengapa Jadi Bung Eko dotcom?


HARI ini, Selasa (14/12/2010), tepat setahun saya membeli nama domain bungeko.com. Rasanya baru kemarin saya melakukan pembelian nama domain ini, niat awalnya pun hanya untuk kepentingan penulisan naskah buku saya yang berjudul Custom Domain, Cara Mudah Meriah Punya Blog Keren. Eh, tak terasa kok malah sudah setahun saya ngeblog dengan nama domain ini. ^_^

Pertanyaan yang banyak diajukan kepada saya begitu bungeko.com launching adalah: kenapa kok membuat blog baru? Beberapa sahabat yang saya ingat menanyakan hal ini antara lain Kang Munawar, Gus Ikhwan, Bung Annosmile, dan juga beberapa sahabat lain yang dulu sering mampir di blog saya terdahulu, EkoNurhuda.com.

Wajar kalau teman-teman sesama blogger bertanya begitu. Pasalnya, blog lama saya (yang sekarang nama domainnya sudah dijajakan orang di Sedo) duluuu sudah sangat established. Banyak halamannya yang cemanthel di posisi terbaik halaman hasil pencarian Google. Tak sedikit pula halamannya yang jadi rujukan blogger lain, bahkan sekitar 2-3 halaman di-link Wikipedia Indonesia. Jadi, mengapa kok tiba-tiba membuat blog baru?

Jawabannya sebenarnya sudah mulai terbaca pada posting-posting akhir saya di ekonurhuda.com: saya ingin berganti suasana. Ya, saya ingin punya blog yang temanya lebih luas, di mana saya bisa menulis apa saja yang ringan-ringan tapi berkesan, tidak lagi membahas tema-tema make money online, tidak lagi dollar oriented. Terutama sejak saya mulai nyemplung di dunia jurnalistik dengan magang sebagai reporter di Malioboro Ekspres dan Harian Jogja, yang secara otomatis menjauhkan saya dari kesibukan berburu dolar.

"Lebih baik diasingkan daripada hidup dalam kemunafikan."
-Soe Hok Gie-
Alasannya apa kok tidak mau lagi membahas tentang make money online atau make money blogging? Jawabannya sederhana, karena saya sudah tidak lagi aktif di dunia tersebut. Ya, sampai sekarang saya masih menerima penghasilan dari beberapa program online earning yang dulu saya ikuti. Tapi itu hanya berupa komisi referal, di mana setiap kali blogger-blogger yang saya referensikan ke program tersebut dapat komisi saya juga ikut kecipratan sekitar 5-10% dari penghasilan mereka. Saya sudah tidak lagi menulis paid review, tidak lagi berjualan link.

Satu-satunya program yang saya ikuti hanyalah PPC, yakni Google AdSense dan beberapa PPC lokal. Itupun saya jalankan dengan sangat santai, tidak ada perlakuan khusus. Jadi jangan heran kalau saya selalu menghindar kalau ada yang bertanya, "Sudah berapa digit, Mas?" Soalnya saya malu, jangan-jangan nanti malah penghasilan yang nanya yang lebih banya dari yang ditanya. ^_^

Begitulah, sayapun akhirnya menghidupkan blog ini. Tema tulisannya macam-macam. Kadang-kadang membahas sepakbola, lain waktu bercerita seputar uang lama, besoknya mengulas isu-isu terhangat--mulai dari Miyabi sampai Sri Mulyani, tapi lebih sering cuma omong kosong. Tapi, jujur saja saya justru lebih enjoy dengan blog ini. Keluasan temanya membuat saya bebas mau menulis tentang apa saja, juga membuat saya merasa lebih enak untuk blogwalking ke mana saja, terutama blog-blog yang berorientasi ke jalinan persahabatan. Alhamdulillah, dari situ bisa menambah banyak saudara baru.
Nah, begitu ceritanya. Hehehe...
kata bijak Andrie Wongso

Gerakan 2012 Buku
untuk Pemalang

Buku yang sudah terkumpul
0 0 0 1 eks.

Masih butuh 2011 eks. lagi.

Bantu kami menyediakan 2012 eksemplar
buku bacaan untuk warga Pemalang.
Baca info selengkapnya di sini!


Rp1 Tahun 1956

Uang Mahar, Rp1 Tahun 1956

Obverse: Gadis Jawa di kanan, angka satu di kiri.
Reverse: Garuda Pancasila di tengah, diapit angka satu.
Kondisi: Baru (Uncirculated, UNC)

Rp10.000,-

per lembar

Recommended Posts
Recommended Video
GBK
Lagi, timnas Indonesia harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Malaysia di final SEA Games 2011. Dalam final yang sama-sama kita saksikan Senin (21/11) malam, timnas U-23 keok.
Bakso
Bakso umumnya memiliki bulatan-bulatan campuran tepung dan daging yang biasa disebut pentol. Di Pemalang, ada warung bakso yang menyediakan bakso tanpa pentol.
uanglama