Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Sabtu, 15 Januari 2011


"DARIPADA nggak dapet-dapet kerja, mending nggak dapet-dapet gelar." Kalimat ini sempat mewarnai televisi beberapa tahun lalu. Ini sebenarnya iklan rokok, tapi muatannya sangat menyentil sekali buat para pemuja gelar.

Dalam iklan itu digambarkan bahwa kebanyakan orang lebih suka mengejar gelar. Hanya segelintir saja yang berani menyimpang dari kelaziman dan merasa dapat hidup (layak) tanpa gelar. Sungguh satu gambaran yang pas sekali dengan realita di sekeliling kita sekarang.

Saya jadi ingat sewaktu mengantar istri tes CPNS di Slawi, Kab. Tegal, akhir 2010. Posisi guru bahasa Inggris SMP yang diincar istri cuma membutuhkan 2 tenaga, tapi pendaftarnya sekitar 500 orang! Dan, ke-500 orang itu adalah sarjana karena syarat yang diminta memang harus seorang sarjana.

Saya juga jadi ingat komentar salah seorang pengunjung blog lama saya, ekonurhuda.com, saat saya menyatakan ingin menjadi fulltime blogger selepas kuliah. Komentarnya pedas, dan tanpa meninggalkan identitas sama sekali alias anonim. Katanya, "Ngapain kuliah kalau lulus cuma mau jadi blogger?"

Saya hanya tertawa saja waktu itu, sambil menjawab dalam hati, "Yah, paling tidak blogger lebih berduit daripada job hunter alias pencari kerja." Hehehe…

Kini, ketika saya bertekad bulat untuk menjadi fulltime writer alias menggantungkan hidup sepenuhnya dari menulis (di blog pribadi, koran, portal online, dll), lingkungan yang mayoritas para pemuja gelar dan pekerjaan tetap saja menentang. Cara menentangnya, mereka selalu memberi tahu setiap kali ada info lowongan pekerjaan.

Beruntung istri dan orang tua saya mendukung penuh pilihan saya ini, sedangkan mertua masih belum sepenuhnya menerima meskipun tidak protes. Maklum, penulis semenjana seperti saya penghasilannya tidak tetap, dan (lebih parahnya lagi) tidak terlalu besar.

Mental Kuli
Mungkin sudah sejak jaman penjajahan Belanda dulu dalam otak bangsa Indonesia tertanam pemikiran bahwa orang harus menjadi pekerja untuk dapat hidup. Entah itu bekerja di sektor swasta (menjadi karyawan) atau di lembaga milik negara (PNS).

Sejak jaman penjajahan juga masyarakat memandang pegawai pemerintah alias PNS sebagai satu profesi terhormat. Menjadi PNS adalah suatu kebanggaan karena selain memperoleh jaminan pensiun, seorang PNS juga memiliki strata sosial lebih tinggi di masyarakat. Maka tak heran jika banyak orang tua mendambakan anaknya menjadi PNS, atau setidaknya memiliki menantu PNS.

Demikian juga dengan si anak yang selalu mendambakan diangkat jadi PNS, meskipun harus menunggu belasan hingga puluhan tahun lamanya. Istri saya sudah ikut tes CPNS sebanyak empat kali. Ketika saya tanya, hanya tes pertama saja yang ia jalani karena keninginan sendiri, selebihnya karena tidak enak dengan orang tua.

Kalau tidak bisa menjadi PNS, pilihan selanjutnya adalah bekerja di perusahaan bonafid. Kalau ini juga tidak terkabul, bekerja di mana saja tidak jadi masalah. Yang penting bekerja dan dapat gaji tetap untuk hidup.

Agar memperoleh pekerjaan bagus orang harus berbekal ijasah dan gelar. Semakin tinggi ijasah dan gelar yang dimiliki, semakin bagus posisi yang mungkin didapat sekaligus semakin besar pula gaji yang akan dikantongi. Inilah pola pikir umum masyarakat kita.

Jadi, jangan heran kalau begitu lulus kuliah kebanyakan sarjana di Indonesia kerjanya hanya memelototi iklan lowongan pekerjaan di koran setiap hari. Jangan heran juga kalau setiap kali ada job fair atau tes CPNS, pesertanya bisa jauh lebih banyak dari audisi Indonesian Idol.

Penghasilan vs Pekerjaan
Bekerja untuk hidup, salahkah pola pikir ini? Tidak salah memang, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Kalau yang dimaksudkan adalah bahwa kita harus "melakukan sesuatu" untuk memperoleh uang, maka pendapat ini benar. Tapi kalau maksudnya kita harus jadi pekerja alias karyawan/pegawai untuk mendapat penghasilan, ini jelas-jelas tidak benar.

Catat baik-baik, kita tidak harus jadi karyawan/pegawai untuk mempunyai penghasilan.

Ada banyak hal lain yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan penghasilan. Bahkan tak jarang hasilnya jauh lebih bagus dari gaji pegawai. Yang diperlukan hanya keberanian memulai dan kesiapan mental untuk menghadapi komentar miring dari kanan-kiri, termasuk keluarga sendiri.

Menjadi fulltime blogger atau fulltime writer adalah contoh pilihan untuk memperoleh penghasilan. Bukan sekedar penghasilan standar upah minimum (UMP) yang hanya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup, ada banyak fulltime blogger atau fulltime writer yang berpenghasilan sebesar gaji menteri. Ada banyak contohnya, kamu bisa tanya ke Mbah Google kalau mau tahu.

Bagi saya pribadi, menjadi fulltime blogger atau fulltime writer rasanya jauh lebih baik daripada terus bermimpi menjadi PNS atau memperoleh posisi bagus di perusahaan multinasional terkemuka.

Saya tidak bilang menjadi PNS atau karyawan perusahaan multinasional itu jelek ya, sama sekali tidak. Tulisan ini lebih ditujukan pada para pencari kerja yang mati-matian dan terkadang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pekerjaan idamannya. Sudah rahasia umum, ada bayak kawan kita yang rela membayar belasan hingga puluhan juta untuk dapat diterima di instansi tertentu. Ini konyol.

Menurut hemat saya, ketimbang menghabiskan waktu berburu pekerjaan ke sana-sini apalagi sampai menyuap, lebih baik kembangkan potensi yang kamu punya. Berdagang, menulis, membuat video, atau apapun itu. Percayalah, kalau kita serius dan fokus, hasilnya bakal bikin kaget.

Yang menarik dari profesi alternatif begini adalah, kita tidak membutuhkan ijasah apapun untuk melakukannya. Contohnya menjadi fulltime blogger atau fulltime writer, tidak akan ada yang menanyai kamu lulusan mana apalagi sampai bertanya nilai IPK. Yang kamu butuhkan hanyalah keyakinan dan tekad yang kuat untuk maju.

So, mana yang kamu cari, duit atau kerja? Kalau kamu memilih duit, maka saya katakan ada banyak jalan yang dapat kamu tempuh untuk memperoleh duit, memperoleh penghasilan. Tapi kalau kamu keras kepala ingin bekerja untuk memperoleh duit, ya itu pilihanmu.

Saya pernah bekerja di banyak tempat, sejak tahun pertama kuliah, mulai dari jadi pelayan warung sate kambing sampai bekerja di hotel bintang 4. Semua itu akhirnya saya tinggal karena lebih memilih mengembangkan potensi yang saya punya, yakni menulis. Alhamdulillah, kalau cuma buat makan, beli baju, biaya sekolah anak, jajan di luar atau jalan-jalan sih masih cukup.

Semoga bermanfaat!


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

7 komentar:

  1. wah setuju banget bang dengan tulisannya,
    karena apa yang disebutkan di atas pernah saya rasakan, saat saya selesai kuliah awal 2008 maren dan mencoba melamar kekantor - kantor tapi ga ada sedikit pun yg membuahkan hasil selalu di tolak dengan alasan yang ga jelas, harus penampilan gini lah gitu lah akhirnya duitku terkuras cuma tuk nyiapin bahan lamaran aja.
    lalu saya mencoba tuk buka usaha sendiri sambil iseng-iseng ngeblog dan bener kata abg hasilnya cukup lumayan dan malah lebih besar dari gaji PNS dan 1 yang saya suka kerja di dunia maya ini ga ada diskriminasi tuk orang2 seperti saya kalo kita memenuhi syarat yang di tentukan pasti akan di approv alias di terima.

    BalasHapus
  2. Bismillah, sebetulnya saya pengen komen banyak. Tapi waktulah yang memenggalnya.

    Perlu mendapatkan fokus yang lebih dalam. Kalau menurutku bukan duit atau kerja (maksudnya status pegawai khan) yang perlu kita gapai.

    Tapi, prestasi, kiprah kita ...sudah bikin apa kita buat masyarakat ...

    Nah kalau kita sudah tahu prestasi apa yang mau kita buat, maka mau free lance atau mau jadi pegawai...Insya Allah kita akan menjadi idealis...kalu jadi free lancer, jadi free lancer yang idealis...kalau jadi pegawai tentunya pegawai yang idealis.

    Adapun duit, cuma efek aja.

    Kalau begitu apa prestasi Anda ?

    BalasHapus
  3. sedang belajar menuju ke arah sana. pengennya berbasis internet saja. tujuannya, biar banyak waktu main sama anak di rumah.

    BalasHapus
  4. Hidup pencari duit aka blogger ^_^
    Kalau saya kuliah biar pinter, biar bisa lebih gampang nyari duit (karena pinter, semoga) dan bisa merubah nasib, biar ga jadi tukangkebun terus. mosok bapaknya tukang kebun anaknya juga masih tetap jadi tukang kebun, yah setidaknya bisa jadi pemilik kebun lah ^_^

    BalasHapus
  5. Blog Kebon Jeruk Jambi:
    Yup, sudah bukan jamannya lagi kita mengemis pekerjaan ke instnsi-instansi atau kantor. kita harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi kita sendiri!

    rumahjelajah:
    Saya setuju dengan pandangan ini, Pak. Ya, seperti gajah yang mati meninggalkan gading, sudah seharusnya manusia mati meninggalkan prestasi, atau dalam bahasa lain adalah meninggalkan karya.

    Nah, apa karya yang sudah engkau hasilkan selama hidup? Hehehe...

    blog hardim:
    Ah, saya setuju sekali dengan poin "biar banyak waktu main sama anak di rumah" ini, Mas. Sepakat kita. :D

    mamas86:
    Hahaha, bisanya merendah aja, ah... :D

    BalasHapus
  6. Semangat entrepreneurship di Indonesia masih sangat kurang, ditambah mindset bahwa lulus kuliah ingin dapet kerja dengan gaji besar. Kalo saya justru pengen jadi orang yang bisa menggaji mereka-mereka itu.

    BalasHapus
  7. Kalo gak jadi PNS gak disebut orang makanya banyak orang tua yg pengen anaknya jadi PNS biar bisa dibangga banggakan walaupun harus masin sogok menyogok.

    Kalo wirausaha beresiko mas.. resiko terbesarnya adalah sukses.

    BalasHapus