Cari Duit Apa Cari Kerja?

Oleh: Eko Nurhuda | Sabtu, 15 Januari 2011 pukul 05.30 WIB

"DARIPADA nggak dapet-dapet kerja, mending nggak dapet-dapet gelar." Kalimat ini sempat mewarnai televisi beberapa tahun lalu. Ini sebenarnya iklan rokok, tapi muatannya sangat menyentil sekali buat para pemuja gelar. Dalam iklan itu digambarkan bahwa kebanyakan orang lebih suka mengejar gelar. Hanya segelintir saja yang berani menyimpang dari kelaziman dan merasa dapat hidup (layak) tanpa gelar.

Sungguh satu gambaran yang pas sekali dengan realita di sekeliling kita sekarang. Saya jadi ingat sewaktu mengantar istri tes CPNS di Slawi, Kab. Tegal. Posisi guru bahasa Inggris SMP yang diincar istri saya cuma membutuhkan 2 tenaga, tapi pendaftarnya sekitar 500 orang! Dan, ke-500 orang itu adalah sarjana karena syarat yang diminta memang harus seorang sarjana.

Saya juga jadi ingat komentar salah seorang pengunjung blog lama saya, ekonurhuda.com, saat saya menyatakan ingin menjadi fulltime blogger selepas kuliah. Komentarnya pedas, dan tanpa meninggalkan identitas sama sekali alias anonym. Katanya, "Ngapain kuliah kalau lulus cuma mau jadi blogger?" Saya hanya tertawa saja waktu itu, sambil menjawab dalam hati, "Yah, paling tidak blogger lebih berduit daripada job hunter alias pencari kerja." Hehehe…

Kini, ketika saya bertekad bulat untuk menjadi fulltime writer alias menggantungkan hidup sepenuhnya dari menulis, lingkungan yang mayoritas para pemuja gelar dan pekerjaan tetap menentang. Beruntung istri dan orang tua saya mendukung penuh pilihan saya ini, sedangkan mertua masih belum sepenuhnya menerima meskipun tidak protes. Maklum, penulis semenjana seperti saya penghasilannya tidak tetap, dan (lebih parahnya lagi) tidak besar.

Mental Kuli

Mungkin sudah sejak jaman penjajahan Belanda dulu dalam otak bangsa Indonesia tertanam pemikiran bahwa orang harus menjadi pekerja untuk dapat hidup. Entah itu bekerja di sektor swasta (menjadi karyawan) atau di lembaga milik negara (PNS). Dan, sejak jaman penjajahan dulu masyarakat memandang PNS sebagai satu profesi terhormat. Menjadi PNS adalah suatu kebanggaan karena selain memperoleh jaminan pensiun, seorang PNS juga memiliki strata sosial lebih tinggi di masyarakat. Maka tak heran jika banyak orang tua mendambakan anaknya menjadi PNS, atau setidaknya memiliki menantu.

Demikian juga dengan si anak yang selalu mendambakan diangkat jadi PNS, meskipun harus menunggu puluhan tahun lamanya. Istri saya sudah ikut tes CPNS sebanyak 4 kali. Ketika saya tanya, hanya tes pertama saja yang ia jalani karena keninginan sendiri, sedangkan yang 3 lagi karena tidak enak dengan orang tua.

Kalau tidak bisa menjadi PNS, pilihan selanjutnya adalah bekerja di perusahaan bonafid. Kalau ini juga tidak terkabul, bekerja di mana saja tidak jadi masalah. Yang penting bekerja dan dapat gaji tetap untuk hidup. Agar memperoleh pekerjaan bagus orang harus berbekal ijasah dan gelar. Semakin tinggi ijasah dan gelar yang dimiliki, semakin bagus posisi yang mungkin didapat sekaligus semakin besar pula gaji yang akan dikantongi.

Inilah pola pikir umum masyarakat kita. Jadi, jangan heran kalau begitu lulus kuliah kebanyakan sarjana di Indonesia kerjanya hanya memelototi iklan lowongan kerja di koran setiap hari. Jangan heran juga kalau setiap kali ada job fair atau tes CPNS, pesertanya bisa jauh lebih banyak dari audisi Indonesian Idol.

Antara Penghasilan dan Pekerjaan
Bekerja untuk hidup, salahkah pola pikir ini? Tidak salah memang, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Kalau yang dimaksudkan adalah bahwa kita harus "melakukan sesuatu" untuk memperoleh uang, maka pendapat ini benar. Tapi kalau maksudnya kita harus jadi karyawan/pegawai untuk mendapat penghasilan, ini jelas-jelas tidak benar. Catat baik-baik, kita tidak harus jadi karyawan/pegawai untuk mempunyai penghasilan!

Menjadi fulltime blogger atau fulltime writer adalah salah 2 pilihan untuk memperoleh penghasilan. Bukan sekedar penghasilan standar upah minimum (UMP) yang hanya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup, seorang fulltime blogger atau fulltime writer bahkan bisa berpenghasilan sebesar gaji menteri. Coba tengok penghasilan bulanan Cosa Aranda (fulltime blogger) atau Habiburahman El Shirazy (fulltime writer).

Menjadi fulltime blogger atau fulltime writer rasanya jauh lebih baik daripada terus bermimpi menjadi PNS atau memperoleh posisi bagus di perusahaan multinasional terkemuka. Menariknya lagi, Anda tidak membutuhkan ijasah apapun untuk menjadi seorang fulltime blogger atau fulltime writer. Yang Anda butuhkan hanyalah keyakinan dan tekad yang kuat untuk maju.

So, mana yang Anda cari, duit atau kerja? Kalau Anda memilih duit, maka saya katakan pada Anda bahwa banyak jalan dapat ditempuh untuk memperoleh duit (baca: penghasilan). Tapi kalau Anda keras kepala ingin bekerja untuk memperoleh duit, saya hanya bisa mendoakan semoga Anda senantiasa diberikan kesehatan dan kesabaran. Saya pernah bekerja di banyak tempat, mulai dari warung sate kambing sampai hotel bintang 4. Semuanya saya tinggalkan karena saya tidak rela sudah kuliah mahal-mahal hanya jadi "pesuruh". Mana penghasilannya dibatasi lagi. Huh!

Bagaimana pendapat Anda, Bung?

Creative Commons License

Tulisan berjudul "Cari Duit Apa Cari Kerja?" oleh Eko Nurhuda ini dilindungi lisensi Creative Commons. Anda bebas menyalin, mempublikasi ulang, dan atau mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan untuk tujuan nonkomersil dengan menyebutkan sumber artikel.

7 komentar:

  1. wah setuju banget bang dengan tulisannya,
    karena apa yang disebutkan di atas pernah saya rasakan, saat saya selesai kuliah awal 2008 maren dan mencoba melamar kekantor - kantor tapi ga ada sedikit pun yg membuahkan hasil selalu di tolak dengan alasan yang ga jelas, harus penampilan gini lah gitu lah akhirnya duitku terkuras cuma tuk nyiapin bahan lamaran aja.
    lalu saya mencoba tuk buka usaha sendiri sambil iseng-iseng ngeblog dan bener kata abg hasilnya cukup lumayan dan malah lebih besar dari gaji PNS dan 1 yang saya suka kerja di dunia maya ini ga ada diskriminasi tuk orang2 seperti saya kalo kita memenuhi syarat yang di tentukan pasti akan di approv alias di terima.

    BalasHapus
  2. Bismillah, sebetulnya saya pengen komen banyak. Tapi waktulah yang memenggalnya.

    Perlu mendapatkan fokus yang lebih dalam. Kalau menurutku bukan duit atau kerja (maksudnya status pegawai khan) yang perlu kita gapai.

    Tapi, prestasi, kiprah kita ...sudah bikin apa kita buat masyarakat ...

    Nah kalau kita sudah tahu prestasi apa yang mau kita buat, maka mau free lance atau mau jadi pegawai...Insya Allah kita akan menjadi idealis...kalu jadi free lancer, jadi free lancer yang idealis...kalau jadi pegawai tentunya pegawai yang idealis.

    Adapun duit, cuma efek aja.

    Kalau begitu apa prestasi Anda ?

    BalasHapus
  3. sedang belajar menuju ke arah sana. pengennya berbasis internet saja. tujuannya, biar banyak waktu main sama anak di rumah.

    BalasHapus
  4. Hidup pencari duit aka blogger ^_^
    Kalau saya kuliah biar pinter, biar bisa lebih gampang nyari duit (karena pinter, semoga) dan bisa merubah nasib, biar ga jadi tukangkebun terus. mosok bapaknya tukang kebun anaknya juga masih tetap jadi tukang kebun, yah setidaknya bisa jadi pemilik kebun lah ^_^

    BalasHapus
  5. Blog Kebon Jeruk Jambi:
    Yup, sudah bukan jamannya lagi kita mengemis pekerjaan ke instnsi-instansi atau kantor. kita harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi kita sendiri!

    rumahjelajah:
    Saya setuju dengan pandangan ini, Pak. Ya, seperti gajah yang mati meninggalkan gading, sudah seharusnya manusia mati meninggalkan prestasi, atau dalam bahasa lain adalah meninggalkan karya.

    Nah, apa karya yang sudah engkau hasilkan selama hidup? Hehehe...

    blog hardim:
    Ah, saya setuju sekali dengan poin "biar banyak waktu main sama anak di rumah" ini, Mas. Sepakat kita. :D

    mamas86:
    Hahaha, bisanya merendah aja, ah... :D

    BalasHapus
  6. Semangat entrepreneurship di Indonesia masih sangat kurang, ditambah mindset bahwa lulus kuliah ingin dapet kerja dengan gaji besar. Kalo saya justru pengen jadi orang yang bisa menggaji mereka-mereka itu.

    BalasHapus
  7. Kalo gak jadi PNS gak disebut orang makanya banyak orang tua yg pengen anaknya jadi PNS biar bisa dibangga banggakan walaupun harus masin sogok menyogok.

    Kalo wirausaha beresiko mas.. resiko terbesarnya adalah sukses.

    BalasHapus

Terima kasih telah mengunjungi bungeko.com. Semoga apa yang saya tulis di blog ini bermanfaat bagi Bung Pembaca. Silakan tinggalkan komentar untuk menanggapi, mengoreksi, atau bahkan mencaci isi posting ini. Tapi mohon dicatat, no SARA, no SARU. Salam.

Big Match Pekan Ini

 
© 2009-2014 bungeko.com - All Rights Reserved
Desain tampilan: Creating Website, Modifikasi tampilan: Eko Nurhuda