Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Rabu, 02 Februari 2011

MASIH ingat Kali Progo yang saya ceritakan di posting ini? Silakan baca dulu posting tersebut kalau Bung lupa atau belum membacanya.

Di sana, dapat Bung lihat sungai tersebut dipenuhi batu-batu besar. Pertama kali melihatnya, saya langsung menebak kalau Kali Progo adalah salah satu sungai yang biasa dilewati lahar dingin Gunung Merapi ketika meletus.

Dugaan saya benar. Belum lama ini teman saya yang tinggal di Desa Sendang Sari, Kec. Apa Ya, Kab. Sleman, Yogyakarta (cerita tentang Sendang Sari bisa Bung baca di sini), mengirim pesan singkat ke hape saya. “Kang, Kali Progo saiki koyo pantai,” katanya. Saya kaget. “Difoto ora?” tanya saya kemudian. “Yo, wis tak foto. Tapi nembe iso ngenet sesok,” sahutnya lagi.

Besoknya, foto-foto tersebut sudah diunggah ke akun Facebook teman saya itu. Kebetulan sekali beberapa foto diambil tepat atau setidaknya berdekatan dengan tempat-tempat di mana sebelumnya kami dulu sempat berfoto. Saya jadi bisa membandingkan kondisi dan pemandangan sungai sebelum dan sesudah banjir lahar dingin Merapi.

Wow, benar-benar sebuah perubahan drastis. Sungai itu kedalaman airnya antara 1-3 meter, sedangkan jarak ketinggian bibir sungai dengan permukaan air sekitar 2-3 meter. Jadi, Kali Progo saat ini berisi pasir dan batu setinggi 5-6 meter. Kalau Bung mengikuti berita jalan lintas Jogja-Magelang yang tertimbun lahar dingin setinggi 7 meter—membuat jalan itu ambles sedalam 3 meter, tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya.

Well, mau lihat foto-fotonya? Ini dia, saya tampilkan foto sebelum dan sesudah lahar dingin. Enjoy..! ^_^


Saya iseng "mengangkat" kelapa di pinggir sungai.<




Lihat, kelapa yang saya "angkat" terbenam lahar dingin.


Hamidi, teman saya, mandi di sungai.


Sungai tempat mandi Hamidi sudah jadi "sungai lahar dingin".


Hamidi ngobrol dengan seorang pemancing.


Tempat mancingnya jadi "pantai".


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

3 komentar:

  1. Seru juga tuh, coba kalo Bung ke sana lagi, pasti merasa sesuatu yang aneh

    BalasHapus
  2. Endapan sedimen hasil dari luapan lahar dingin itu menarik sekali. Jadi serupa dengan pantai :)

    Ada yg mancing? Wah, berarti ekosistem ikan di sana tidak terganggu ya?

    BalasHapus
  3. Reza Winandar:
    Hehehe,sayangnya saya entah kapan lagi bisa ke Jogja. :D

    Darin:
    Itu yang foto mancing sebelum ada lumpurnya, Bung. Waktu ada lahar dingin ya saya rasa ikannya pada kabur entah kemana deh. :D

    BalasHapus