Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Selasa, 25 Januari 2011

APA yang dilakukan seorang warga negara yang baik saat mendengar presidennya mengeluhkan gaji tidak naik-naik? Alangkah mulianya hati warga negara itu jika bersedia menyisihkan sebagian rejekinya untuk gaji sang presiden. Wah, Bapak Presiden tentu senang sekali. Tapi, kalau yang disisihkan koin bagaimana?

Koin untuk Presiden SBY, geli hati saya sewaktu pertama kali melihat beritanya di tivi. Alamak, sudah sedemikian gerahnyakah rakyat Indonesia mendengar keluhan demi keluhan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono? Tak heran jika ada sebagian orang memelesetkan akronim SBY menjadi “Suka Berkeluh-kesah Ya?

Take home pay (gaji plus tunjangan resmi) Presiden SBY saat ini sekitar 150 juta rupiah per bulan, demikian kata Kepala Badan Anggaran DPR Harry Azhar Aziz yang saya kutip dari VIVAnews.com, 6 Mei 2010 lalu. Bila gerakan Koin untuk Prita beberapa waktu lalu bisa menghasilkan milyaran rupiah, saya rasa Koin untuk Presiden SBY bisa lebih banyak. Karena Presiden berkeluh gajinya tidak naik, maka yang harus dikumpulkan setidaknya 200 juta rupiah sebulan.

Mari kita hitung-hitungan sejenak.

Untuk mengumpulkan 200 juta rupiah, dibutuhkan 2 juta keping koin pecahan Rp100, atau 1 juta keping koin pecahan Rp200, atau 400 ribu keping koin pecahan Rp500. Kalau sumbangannya dinaikkan menjadi Rp1.000 (sekalian mencoba koin baru pecahan Rp1.000), maka dibutuhkan sebanyak 200 ribu keping koin. Karena gaji presiden dibayar setiap bulan, maka koin juga harus disisihkan setiap bulan.

Banyak? Tidak juga. Kalau untuk pengamen saja kita mau memberi Rp500, masa iya untuk presiden tidak mau memberi lebih banyak? Saya yakin seyakin-yakinnya, rakyat Indonesia bersedia dengan sukarela menyisihkan Rp1.000/bulan untuk membantu gaji Presiden SBY. Bayangkan, Rp1.000 x 230 juta jiwa = Rp230.000.000.000,- (BACA: DUA RATUS TIGA PULUH MILYAR RUPIAH). Kalau ini terwujud, rasanya SBY boleh menyombongkan diri sebagai presiden bergaji tertinggi sedunia, mengalahkan gaji PM Singapura yang "hanya" 3,04 juta dolar Singapura atau sekitar 20 milyar rupiah.


Presiden SBY: Duh, pusiiiiing...
Yang menarik diamati tentu saja reaksi dari orang-orang, terutama lingkaran dalam SBY. Fraksi Partai Demokrat di DPR mengatakan gerakan Koin untuk Presiden SBY ini sebuah penghinaan. Sedangkan Ahmad Mubarok, politisi nyentrik Partai Demokrat yang suka bikin merah kuping lawan-lawan politik partainya, mengatakan aksi ini adalah guyonan yang tidak lucu.

Pendapat Bung Eko?

Ada yang bertanya begitu? Saya jawab, ini memalukan! Rakyat Indonesia, janganlah menghina dirimu sendiri! Masa iya rakyat Indonesia cuma bisa menyisihkan koin sih? Apa tidak bisa menyisihkan lebih banyak? Alih-alih koin, kenapa tidak menyumbangkan uang kertas Rp2.000 bergambar Pangeran Antasari? Saya rasa rakyat Indonesia mampu dan mau kok menyisihkan Rp2.000, atau malah Rp5.000/orang untuk membantu membayar gaji Presiden SBY yang tidak naik-naik.

Pendapat Bung?


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

4 komentar:

  1. kalau menurt saya si sebetule maksud Bapak presiden bukan mengeluh, tetapi memberikan motivasi ke pada anak buahnya agar bekerja dengan ikhlas, jangan hanya bayaran aja yang di minta naik, kan isa jadi motivasi bawahannya, napa juga si masalah seperti itu mpe diadakan gerakan koin segala,

    BalasHapus
  2. Andai gayus baca tulisan ini, tentu dia akan ikut memberikan hasil dari kerjanya selama ini buat bapak tercinta

    BalasHapus
  3. blog penghasil uang:
    Hehehe, Bapak kita yang satu ini sudah snagat sering mengeluh, Mas. Satu-satunya yang tidak dia keluhkan adalah kinerja menterinya yang begitu-begitu saja. Oya, dia juga tidak mengeluhkan penyelesaian kasus Century yang seperti mau dihilangkan dengan sengaja dari perhatian publik.

    Deny Kurniawan:
    Ah, bisa jadi juga Bapak kita ini iri sama penghasilannya Gayus yang cuma PNS golongan III. hahaha...

    BalasHapus
  4. Yaelah, ngapain dipikirin, kan dia lagi pusing, makanya asal ngomong. Kalo saya jadi presiden suatu saat nanti saya ga mau minta gaji.

    BalasHapus