Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Selasa, 08 Maret 2011



DARIPADA terus-menerus kecewa gara-gara hape Nokia Flexi Chatting dari blogDetik yang seharusnya menjadi milik saya sebagai salah 1 dari 10 pemenang blogDetik Writing Contest “Inspiring Woman” pertengahan tahun lalu akhirnya benar-benar tidak dapat saya peroleh, saya curahkan emosi yang begitu membuncah ini untuk mengikuti berbagai kontes blog.

Mudah-mudahan saja kali ini saya lebih beruntung. Maksudnya, bukan cuma jadi pemenang, tapi juga mendapatkan hadiahnya. ^_^

Salah satu kontes yang saya ikuti adalah Beat Blog Writing Contest 2011, diadakan oleh VHR Media. Tema tulisan yang dipersyaratkan seputar lingkungan. Saya menulis 2 posting, Menabung Sampah Pangkal Selamat dan Jadi Pemulung, Yuk!. Dua-duanya tentang persoalan penanganan sampah yang terus-menerus menjadi PR tersulit di Indonesia.

Meski sama-sama mengulas tentang problematika sampah, namun kedua tulisan tersebut menampilkan gaya yang sangat berbeda. I just did the best I can do, soal hasil saya serahkan kepada Yang Maha Pemurah.

Jalan-jalan Sambil Menulis di Kampung 99 Pepohonan, Depok
Beat Blog Writing Contest 2011 disponsori oleh sejumlah perusahaan besar. Mulai dari operator GSM Pro XL, penerbit Gagas Media, Djarum Foundation, hingga Ford Foundation. Dengan sederet sponsor top seperti ini, tak heran bila hadiah yang ditawarkan sangat menggiurkan. Juara pertama memperoleh uang tunai Rp5.000.000 plus 1 buah Blackberry.

Tidak usah jadi juara, terpilih sebagai salah satu dari 17 nominator saja sudah sangat beruntung. Sebab, selain dapat uang tunai Rp500.000, posting para nominator akan dibukukan bersama posting-posting para pemenang utama. Asyik, bukan?

Asyiknya tidak berhenti sampai di situ saja. Melengkapi hadiah uang tunai senilai total puluhan juta rupiah, Blackberry untuk pemenang utama, serta pembukuan posting, 3 pemenang utama dan 17 nominator kontes bersama 10 jurnalis terpilih akan diajak mengikuti program Report from the Field. Program ini dilangsungkan guna memperingati Hari Bumi. Peserta akan tinggal di satu area konservasi selama beberapa hari dengan mengikuti pola hidup warga setempat, sembari membuat laporan pandangan mata tentang kegiatan tersebut.

Foto: wira186.multiply.com
Salah satu pemandangan di tepi sungai di Kampung 99 Pepohonan, Depok.
Menurut rencana, program Report from the Field dilaksanakan pada 23-24 April 2011 di Kampung 99 Pepohonan, Depok, Jawa Barat. Di situs resmi VHR Media disebutkan kalau waktu dan tempat ini masih tentatif, jadi masih bisa berubah lagi kelak. Saya sendiri berharap waktunya yang diundur menjadi Mei atau Juni, karena anak kedua saya diperkirakan lahir pertengahan April. Sedangkan tempatnya sebaiknya tetap di Kampung 99 Pepohonan, Depok.

Sekilas tentang Kampung 99 Pepohonan, Depok
Sesuai namanya, Kampung 99 Pepohonan adalah sebuah kampung artifisial yang penuh pepohonan. Selain rumah-rumah panggung dari kayu, lahan seluas 5 hektar di Desa Meruyung, Cinere, oleh Depok, Jawa Barat, ini dipenuhi deretan pepohonan. Di antaranya pohon mahoni, gandaria, ulin, menteng, meranti, trembesi, bintaro, kemang, dan beberapa rumpun bambu. Melengkapi keasriannya itu, di kampung ini juga terdapat lima ekor rusa jenis timorensis. Karenanya sebagian orang juga menyebut kampung ini sebagai Kampung Rusa.

Kampung 99 Pepohonan adalah sebuah area yang dirancang sebagai hunian yang bersahabat dengan alam dengan menjalankan konsep gaya hidup organik, kembali ke alam. Agar lingkungan asri dan udara segar terus didapatkan, seluruh penghuninya kompak tidak merokok. Lalu penghuni kampung juga dilarang menebang pohon, memetik daun, membuang sampah sembarangan, apalagi sampah plastik.

Hunian yang dibangun di kampung ini diupayakan ramah lingkungan. Tidak ada gedung, yang ada hanya rumah-rumah kayu. Luas setiap rumah tidak lebih dari 100 meter persegi, tanpa pagar, dan dibangun secara bergotong-royong oleh seluruh penghuni kampung. Di setiap rumah terdapat kolam penyangga untuk memelihara ikan atau ternak, serta kebun seluas setidaknya 100 meter persegi.

Kegiatan sehari-hari anak-anak di kampung ini tidak lepas dari alam. Alih-alih bermain, anak-anak diajarkan untuk menanam pohon, menanam padi dan sayur-sayuran, menangkap ikan, dan membuat roti. Sementara penghuni dewasa setiap hari menanam setidaknya 10 pohon berbagai jenis. Lebih hebatnya lagi, pohon-pohon yang ditanam adalah pohon produktif yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduk kampung. Mulai dari kelapa, sukun, hingga beragam jenis pohon buah-buahan.

Kini, hasil bumi Kampung 99 Pepohonan berlimpah-ruah. Hasil pertanian seperti padi dan sayur-sayuran lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan para penghuninya. Begitu pula dengan susu, madu, ikan, dan aneka buah. Kelebihan hasil alam itu kemudian dijual ke luar, sebagian lagi diolah menjadi produk-produk seperti yogurt, cuka apel, cuka kelapa, hingga yogurt sukun. Berbagai inovasi lain juga dilakukan. Misalnya dengan memproses air irigasi untuk mandi agar pemakaian air tanah semakin berkurang, serta pembangkit listrik sendiri dengan memanfaatkan tenaga kincir air.

Coba, siapa yang tidak tertarik mengunjungi kampung asri nan mandiri seperti ini? Saya mau sekali! Karena itulah saya ikut Beat Blog Writing Contest 2011 yang diadakan VHR Media. Mohon doanya ya, Bung...


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

3 komentar:

  1. Saya pernah ke situ, tempatnya asik banget

    BalasHapus
  2. Rusa Bawean:
    Amin, amin, amin...
    Terima kasih doanya, Bung. :D

    Reza
    Beneran asyik?
    Wah, mau banget dong saya ke sana... ^_^

    BalasHapus