Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Sabtu, 12 Maret 2011

Kamis (10/3) siang jam 13.41 WIB, sebuah SMS dari satu nomer Simpati berakhiran 5555 masuk ke handphone saya.



Isinya lugas, to the point, sekaligus membuat dada saya berdebar kencang saat membacanya. "Panggilan untuk Sdr.Eko pd hari jumat,10 maret 2011 jam 10.00..Ruang cybernews kantor suara merdeka jl. Pandanaran 30.. -HRD SM-" Begitulah isi SMS sesuai aslinya, yang ternyata salah tulis tanggal.

Deg! Jantung saya seolah berhenti berdetak. Bagaimana tidak? Saya memang pernah mengajukan lamaran ke Suara Merdeka CyberNews antara November atau Desember tahun lalu. Sudah sangat lama sekali, saya sendiri sudah tidak pernah mengingat-ingatnya. Lagipula saya merasa seperti pungguk merindukan bulan. Pikir saya mana mungkin aplikasi saya masuk kualifikasi karena banyak yang tidak sesuai dengan persyaratan.

Naik Kereta Api, Tut-tut-tut…
Posisi yang ditawarkan editor, dengan syarat lulus D3 atau S1, sedangkan kuliah saya di program D3 Jurnalistik Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY) sejak 2003 lalu sampai sekarang belum selesai. Pengalaman di dunia jurnalistik juga cetek, “hanya” menjadi reporter magang di mingguan Malioboro Ekspres (sudah tidak terbit lagi) selama kurang-lebih 3 bulan, ditambah 2,5 bulan di Harian Jogja edisi Minggu. Jadi, mengirim lamaran ke Suara Merdeka CyberNews kala itu memang saya niatkan sebagai sebuah gambling. Siapa sangka kok justru nama saya termasuk dalam 6 kandidat yang dipanggil wawancara ke Semarang.

Begitulah. Sore itu juga saya segera mempersiapkan perjalanan ke Semarang. Dimulai dari mengontak adik perempuan saya yang bekerja di Tangerang untuk meminjam uang untuk ongkos dan bekal secukupnya, mengecek jadwal keberangkatan kereta Kaligung Ekspres di Stasiun Pemalang, mencukur rambut, dan menyiapkan apa-apa yang sekiranya diperlukan selama wawancara. Jumat (11/3) jam setengah 5 saya berboncengan dengan istri berangkat ke stasiun. Jam 05.11 kereta api Kaligung Ekspres yang saya tumpangi pun berangkat.

Saya belum pernah bepergian ke Semarang dari Pemalang, apalagi naik kereta api. Maka, perjalanan sekitar 2,5 jam hari itu sangat saya nikmati. Sisa kantuk gara-gara menonton pertandingan Liga Europa antara Sporting Braga vs Liverpool saya tahan-tahan sekuat mungkin demi melihat pemandangan yang terbentang sepanjang Pemalang-Semarang. Jam 8 kurang 10 menit, kereta pun sampai di Stasiun Poncol, Semarang. Ah, akhirnya saya kembali menginjakkan kaki di kota yang konon dulu bernama Asem Arang ini.

Mengulang Memori di Jl. Pandanaran
Dengan hari itu, berarti saya sudah 3 kali datang ke Semarang. Kunjungan pertama sekitar November 2007, ketika rombongan mahasiswa AKY melakukan studi wisata ke Koran Sindo area Jateng-DIY (kini Koran Sindo Jateng dan DIY terpisah), Radio Trijaya FM, dan terakhir mangkal di Simpang 5 yang tersohor itu. Dari Simpang 5 itulah saya dan 2 teman iseng-iseng berjalan ke barat menyusuri jalan di selatan Masjid Agung, dan ujung-ujungnya membeli bandeng dan wingko ala kadarnya untuk oleh-oleh. Jalan itu ternyata bernama Jl. Pandanaran, di mana kantor Suara Merdeka berada.

Kunjungan kedua sekitar pertengahan 2008, berlangsung singkat karena judulnya menjenguk (waktu itu) calon kakak ipar di RS Karyadi. Jam 12 siang berangkat dari Jogja bermotor, sampai sekitar jam 5 sore, dan setengah jam kemudian sudah balik lagi ke Jogja. Lalu yang ketiga juga cuma numpang lewat, saya dan seorang teman iseng bermotor dari Jogja-Solo-Purwodadi-Kudus-Jepara lalu ke barat melewati Demak-Semarang-Weleri-Batang-Pekalongan dan finish di Pemalang, tempat (waktu itu) calon mertua. Setelah menginap semalam, pagi-paginya kami pulang ke Jogja dengan rute Pemalang-Purbalingga-Banjarnegara-Kebumen-Purworejo-Bantul dan berhenti di Kota Jogja (lewat jalur selatan).

Foto: Flickr
Bandeng Juwana, di depannya persis kantor Suara Merdeka berada.
Sungguh saya tak pernah menduga kalau 3,5 tahun kemudian saya bakal kembali lagi menyusuri Jl. Pandanaran. Kalau dulu jalan-jalan, maka kali ini saya berjalan mencari kantor Suara Merdeka. Ya, saya sengaja berjalan kaki dari Simpang 5 sampai ke depan kantor koran terbesar se-Jawa Tengah itu. Tentu saja keringat saya bercucuran, kaos dalam pun basah kuyup dibuatnya begitu sampai di tujuan. Untunglah ruang tunggu yang disediakan ber-AC, jadi ketika giliran saya tiba keringat dan pakaian sudah kering. Baunya? Emang gue pikirin! Hahaha…

Seperti wawancara-wawancara yang saya lakoni sebelumnya, kali itu bahan wawancaranya juga ringan-ringan saja. Durasinya pun cuma sekitar 15 menit. Dari sekian pertanyaan, hanya satu saja yang menyangkut langsung dengan dunia jurnalistik, yakni mengenai ritme kerja seorang editor situs berita. Selebihnya, saya bahkan diajak berpikir apa saja kendala yang akan saya hadapi jika harus ditempatkan di Semarang. Mulai dari tempat tinggal, kendaraan, adaptasi, dan lain-lain.

Saya mau diterima? Belum tahu. Yang jelas dari arah pembicaraannya saya menangkap sinyal positif. Kalau saya bersedia mengatasi kendala-kendala yang bakal terjadi, besar kemungkinan saya akan segera berkantor di Jl. Pandanaran No. 30 sebagai editor Suara Merdeka CyberNews. Tapi saya sendiri, setelah melakukan perhitungan di atas kertas, lebih memilih tetap di Pemalang. Jadi, semisal nanti HRD SM menelepon (seperti yang dijanjikan) saya akan coba minta posisi sebagai koresponden Pemalang saja. Meskipun gajinya bisa jadi jauh lebih kecil, tapi biaya hidup saya di Pemalang jauh lebih rendah dibanding jika harus pindah ke Semarang. Lagipula, saya tidak betah lama-lama jauh dari istri. Hehehe…

Tugu Muda, Lawang Sewu, dan Mas Arif Fayantory
Seusai wawancara, sekitar jam 12, saya berniat langsung pulang. Jadi, dari kantor SM saya berencana berjalan kaki ke arah barat, menuju persimpangan Tugu Muda, lalu bablas ke Stasiun Poncol di utara. Eh, baru sampai di depan Lawang Sewu, Mas Arif Fayantory SMS kalau dia sudah on the way ke Jl. Pandanaran. Kami sebenarnya sudah janjian sebelumnya di Matahari Simpang 5 begitu saya tiba di Semarang. Tapi entah kenapa saya tunggu sampai jam setengah 10 Mas Arif tidak datang-datang. Baru ketika saya mau pulang dari kantor SM dia SMS lagi.

Awalnya saya berencana mengejar kereta Kaligung ekonomi yang berangkat jam 13.00. Tapi masa iya cuma mau ketemu beberapa menit saja dengan Mas Arif? Rencana langsung saya ubah, kepulangan ke Pemalang ditunda. Kebetulan masih ada kereta Kaligung Ekspres bisnis yang berangkat jam 5 sore. Kami pun ngobrol panjang-lebar sambil makan buah di depan Lawang Sewu. Dan, inilah uniknya blogger. Baru ketemu sekali, tapi akrabnya sudah seperti berteman bertahun-tahun.

Topik pembicaraan kami, apalagi kalau bukan, seputar dunia blogging dan make money online. Dari Mas Arif saya banyak belajar tentang perkembangan program-program periklanan online, trik-trik menghasilkan earning berlimpah, dan kisah-kisah sukses rekan-rekan sesama blogger. Tapi kami juga ngobrol soal keluarga lho. Bagi saya ini adalah topik wajib setiap kali bertemu dengan teman yang lebih senior dan lebih berpengalaman mengarungi kehidupan rumah tangga.

Time To Go Home
Sejak awal Mas Arif meminta saya menginap barang semalam di rumahnya, di daerah Semarang Atas, sekitar sejam dari pusat kota. Tapi saya sudah terlanjur janji pulang sore itu juga sama istri. Ya sudah, apa boleh buat? Sekitar jam setangah 4 kami pun berpisah. Saya menyeberang jalan menuju ke Jl. Imam Bonjol untuk mencari angkutan ke Stasiun Poncol, sedangkan Mas Arif balik lagi ke Jl. Pandanaran untuk mencari angkutan ke Semarang Atas.

“Petualangan” saya di Semarang berakhir ketika kereta Kaligung Ekspres meninggalkan Stasiun Poncol jam 6 lebih. Ya, sayangnya perjalanan seharian di Semarang nan mengesankan itu harus berakhir dengan sedikit menjengkelkan: kereta molor sejam lebih dari jadwal! Ini ditambah derita saya karena harus berdiri sepanjang perjalanan karena tidak ada tempat secuil pun untuk duduk. Tapi tak apa. Saya tetap berharap dapat kembali lagi ke Semarang suatu ketika.

Berhubung kamera saya rusak, terpaksa deh foto-fotonya mencomot di sembarang situs. Semoga hal ini tidak mengurangi kredibilitas posting ini.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

7 komentar:

  1. Nyari kerja tuh capek ya, yang gampang nyari uang.

    BalasHapus
  2. salut tuh ma perjuangan bung eko. semoga sukses ya bung. saya harus banyak2 menimba ilmu dari anda. :)

    btw, keretanya kok modern ya?? mirip diluar negeri. baru tahu...

    BalasHapus
  3. semoga diterima di suara merdeka cybernews, mas eko. web ini juga saya jadikan sbg rujukan, baik dalam pemberitaan atau opini. kalau naik bus, mas eko pasti melewati kendal. pondokan saya ndak hanya sekitar 1 km dari jalan raya.

    BalasHapus
  4. bung anda tidak termasuk yang memesan kok hhe. Tenang aja :)

    BalasHapus
  5. semoga diterima dan bisa segera berkantor di Jl. Padanaran Semarang...

    BalasHapus
  6. Reza Winandar:
    Kalo yang ini judulnya nyari tambahan daftar di curriculum viate, Bung. Hahaha...

    dhaniarfito:
    Sama-sama belajar kita, Bung.
    Btw, itu keretanya emang bekas kereta yang dipake di Jepang, jadi bagus gitu deh. Cuma namanya bekas ya tetap aja bekas. Hehehe...

    sawali tuhusetya:
    Terima kasih doanya, Pak. I hope so.
    Btw, saya sudah lama pengen main ke Kendal & kopdar sama Pak Sawali. Hmmm, kalau begitu, sepertinya rencana ini bakal segera saya real-kan deh. :D

    cahyanugraha:
    Hehehe, sebenarnya pengen pesan, Bung. Tapi kok jatah susu anak memanggil-manggil dan harus didahulukan. Maaf ya... :D

    Frenavit:
    Kalo doa keterimanya saya aminkan, Bung. Tapi saya maunya tetap di Pemalang, jadi sekedar koresponden. Hehehe...

    BalasHapus
  7. kalau dari jogja mau ke pemalang gmn'a cra'a. al'a saya ndk prnah ke pemalang baru mau ini ditambah lagi belum pernah naik KA jg baru 2 bulan djogja. bsa blz ke email q : incacuteituyanti@yahoo.co.id

    BalasHapus