Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Jumat, 01 April 2011



MENARIK sekali mengikuti gejolak di tubuh PSSI menjelang pemilihan ketua umum periode 2011-2015. Namun, kita semua tentu sepakat, bukan konflik berkepanjangan seperti yang ditunjukkan Nurdin Halid cs. versus Arifin Panigoro cs. (plus Pemerintah melalui Kemenpora) saat ini yang dibutuhkan sepak bola Indonesia.

Mau dibawa ke mana sepak bola nasional jika pengurus PSSI terus-menerus bertikai?

Rasanya tidak perlu berdebat untuk mengatakan PSSI butuh perubahan sekaligus penyegaran demi kemajuan sepak bola nasional. Kepengurusan status quo yang telah menjabat selama delapan tahun terbukti minim prestasi. Karenanya, Nurdin Halid cs. mestinya legowo untuk menyerahkan kekuasaan pada sosok-sosok lain. Publik sepak bola nasional akan sangat menaruh respek tinggi pada NH jika ia rela tidak mencalonkan diri lagi.

Pertanyaannya sekarang, siapa yang layak menduduki kursi PSSI 1? Jika mengacu pada keputusan Komite Banding Pemilihan yang dipimpin Cipta Lesmana lalu, empat kandidat sebelumnya (NH, Nirwan Bakrie, George Toissuta, dan Arifin Panigoro) seharusnya tidak bisa mencalonkan diri lagi. Apalagi sesuai Standard Electoral Code FIFA, keputusan Komite Banding adalah final dan mengikat. Dengan demikian, PSSI butuh nama-nama baru sebagai calon nahkoda selanjutnya pada periode mendatang.

Sejumlah nama telah diapungkan, baik oleh para peserta kongres, pemilik hak suara, media, maupun para pengamat. Siapapun yang dicalonkan tentu sah-sah saja. Namun, mengingat PSSI adalah organisasi olahraga terpopuler sekaligus terfavorit di Indonesia, juga mengingat kondisi kritis sepak bola nasional yang terus menurun dari waktu ke waktu, calon Ketum berikutnya sudah semestinya disaring secara super ketat sebelum maju ke bursa pemilihan.

Saya pribadi melihat setidaknya ada lima faktor penting yang harus dimiliki seorang bakal calon Ketum PSSI 2011-2015. Kelima faktor tersebut adalah:

1. Menyukai dan paham sepakbola
Ini adalah harga mati. PSSI merupakan organisasi sepak bola, jadi sudah semestinya orang nomor satu di PSSI adalah seorang yang menyukai dan paham seluk-beluk sepak bola. Pengetahuan memadai akan sepak bola bakal sangat membantu Ketum PSSI dalam merumuskan kebijakan-kebijakannya, termasuk juga dalam hal-hal sepele tapi penting seperti hubungan PSSI dan pelatih Timnas.

2. Bukan bagian dari pengurus PSSI sekarang
NH dan kroni-kroninya yang berada di kepengurusan PSSI sekarang adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kemerosotan sepak bola nasional. Memilih Ketum baru dari kubu status quo sama saja dengan memilih NH untuk kali ketiga. PSSI butuh penyegaran, dan misi ini hanya akan berhasil jika posisi Ketum periode mendatang diisi sosok yang bebas dari pengaruh pengurus PSSI saat ini.

3. Tidak berafiliasi dengan Parpol manapun
Sudah dua periode PSSI diurus oleh para politisi. Hasilnya? Kita bisa lihat sendiri. Alih-alih menorehkan prestasi, sepak bola justru dijadikan kendaraan untuk meraih simpati publik. Bukti terbaru adalah politisasi Timnas saat berlaga di Piala AFF 2010 lalu. Belum lagi gelar juara diraih, politisi sudah ramai-ramai ‘menunggangi’ Timnas dengan berbagai kepentingan di luar sepak bola. Akibatnya, trofi yang di atas kertas dapat diraih dengan mudah justru melayang secara menyesakkan.

4. Memiliki skill manajerial mumpuni
Karena PSSI adalah sebuah organisasi besar dan terhitung kompleks, maka faktor satu ini merupakan kunci yang harus dimiliki calon Ketum PSSI mendatang. Untuk ini, tokoh-tokoh yang banyak berpengalaman di organisasi menjadi prioritas. Memiliki skill manajerial juga berarti memiliki strong leadership, sebab PSSI butuh pemimpin yang tegas dan tak mudah disetir pihak ketiga.

5. Mempunyai sokongan dana berlimpah
Meski PSSI memiliki sumber dana cukup banyak dari APBN dan juga sumbangan FIFA, namun calon Ketum yang mempunyai sokongan dana berlimpah tetap diperlukan. Membangun sepak bola Indonesia ke pentas dunia adalah proyek besar yang butuh dana tak terbatas. Hanya mengandalkan APBN saja tidak akan pernah cukup, begitu juga sumbangan FIFA yang jumlahnya terbatas. Karenanya, Ketum PSSI mendatang sebaiknya adalah orang yang pandai mencari dana untuk menyokong program-program PSSI.

Berpatokan pada lima poin di atas, saya melihat setidaknya ada tiga nama yang paling layak diajukan. Mereka adalah Sutiyoso, Agum Gumelar, dan IGK Manila. Nama Jusuf Kalla sebenarnya masuk kriteria. Sayang, JK sudah menyatakan tidak berminat menjadi Ketum PSSI. Dari kalangan generasi muda, nama mantan Menpora Adhyaksa Dault sebenarnya pantas disebut. Namun, Adhyaksa yang mendukung penuh langkah PSSI dalam mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018/2022 ini terlanjur lekat dengan salah satu Parpol pendukung pemerintah. Track record-nya di dunia sepak bola juga tidak meyakinkan.

Sutiyoso yang menjabat sebagai Pembina Persija bisa dijadikan pilihan pertama. Kegilaannya pada sepak bola tidak perlu diragukan lagi. Saat masih menjabat Gubernur DKI, ia menggagas kompetisi pramusim bertajuk Piala Emas Bang Yos. Memimpin DKI selama dua periode, sempat menjadi Ketum PBSI, dan saat ini masih menduduki kursi Ketum Perbasi dan Orari, membuatnya unggul dari segi pengalaman berorganisasi. Relasinya yang luas di Jakarta adalah senjata ampuhnya dalam menggalang dana.

Sedikit di bawah Sutiyoso, Agum Gumelar adalah pilihan yang sangat pantas. Pengalaman dan pencapaiannya sebagai Ketum PSSI sebelum digantikan NH adalah modal penting. Rencananya mendatangkan Manchester United medio 2009 lalu adalah bukti kegilaannya pada sepak bola, sekaligus kepiawaiannya dalam menggalang dana. Ingat juga, Agum merupakan salah satu penggagas Kongres Sepak Bola Nasional di Malang pertengahan tahun lalu. Meski sempat digandeng salah satu Parpol dalam Pilpres 2004 dan kemudian Pemilukada, Agum tidak berafiliasi dengan partai manapun.

Calon ketiga, IGK Manila, juga tak kalah bagus. Meski namanya tak sebesar Sutiyoso dan Agum Gumelar, tapi kualitas mantan manajer Persija ini beda-beda tipis dengan kedua nama dari kalangan militer tersebut. Yang paling penting, sama seperti Sutiyoso dan Agum, IGK Manila adalah sosok properubahan. Kehadirannya di kepengurusan PSSI mendatang bakal membuat hembungan angin reformasi semakin kencang menghembus Senayan.

Kita tunggu saja, akankah ketiga nama yang saya sebut di atas masuk bursa calon Ketum PSSI periode 2011-2015. (bungeko)


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

9 komentar:

  1. kenapa ga pernah dari mantan pemain sepak bola aja yang jadi ketum PSSI

    BalasHapus
  2. Hemh...
    Bagaimana persepakbolaan negeri ini bisa maju kalau ribut begini terus, ya.

    BalasHapus
  3. 1. bang yos? saya stuju dengan beliau. di era persija dulu dia mampu membawa tim ibukota itu menjadi salah satu ikon sepakbola indonesia. rasa cintanya pada sepakbola merupakan poin tersendiri dari mantan gub DKI itu.

    2. pak agum? enggak lah,, dia kan pernah menjadi ketua PSSI dimasa lampau. prestasi juga belum banyak di wujudkan di masa kepemimpinan beliau.

    3. pak IGK? pas juga sih. gaya kepemimpinannya yang tegas sangat bagus mengangkat moral pemain. saya stuju beliau diduetkan dengan bang yos.

    tambahan: Deputi BTN badan tim nasional Iman Arif juga patut dimasukkan. beliau memang orang baru dalam sepakbola nasional. tapi rasa cinta beliau kepada sepakbola indonesia sangat patut kita hargai. ingat dengan irfan bachdim? salah satu pemain yang dibujuk beliau untuk bergabung dengan indonesia. sampai sekarang dia masih aktif mencari pemain naturalisasi berbakat diluar negeri. memajukan sepakbola nasional demi harkat dan martabat bangsa indonesia.

    BalasHapus
  4. pak Adhyaksa Dault dan pak JK tuh idola saya banget mas :)

    BalasHapus
  5. saya sudah eneg dg perilaku nurdin dan kroni2nya, mas eko. siapa pun nanti yang jadi nahkoda pssi ndak masalah. yang penting bisa bikin prestasi hebat dan yang pasti jangan sampai ada unsur nurdinisme yang manyusup ke pssi.

    BalasHapus
  6. Blog Kebon Jeruk Jambi:
    Sejumlah pemain malah mendukung GH Sutejo sebagai balon Ketum PSSI 2011-2015. Mungkin faktor skill manajemen yang membuat mantan pemain memilih menyerahkan kepengurusan PSSI pada bukan mantan pemain bola.

    arisriyadi:
    Salam kenal kembali, Bung.

    M Mursyid PW:
    Lha, itu, yang maju keterampilan ribut-ributnya. Hehehe...

    Dhaniar Fito:
    Ya, saya pribadi mendukung Sutiyoso sebagai Ketum PSSI mendatang. Kegilaannya pada sepak bola dan ketegasan serta pengalamannya sebagai pemimpin DKI adalah modal terpenting. Namun, ingat, beliau adalah (mantan) militer.

    Iman Arif juga bagus, namun karena dia tyermasuk orang baru rasanya dia sulit dapat dukungan dari mayoritas pemegang suara. Apalagi dia sudah kena imej sebagai orangnya (era) Nurdin.

    kota solo:
    Sama dunks...

    topbisnisbaru:
    Beliau siapa sih? :p

    Sawali Tuhusetya:
    Ya, Pak. Mungkin sekarang yang penting asal jangan Nurdin atau Nugraha Besoes yang naik panggung. Sudah saatnya diganti, tapi juga jangan asal karena banyak kandidat yang sangat bagus.

    BalasHapus
  7. Cinta sepakbola, itu hal paling wajib

    BalasHapus