Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 11 April 2011



SEORANG pemuda menutup mata teman perempuannya dengan seutas kain hitam. Diikatnya penutup tersebut erat-erat agar mata teman perempuannya benar-benar tak dapat melihat. Setelah itu dituntunnya si perempuan ke tengah lapangan. Di satu posisi segaris lurus dengan bagian tengah lapangan yang diapit dua pohon beringin besar, dilepaskannya si perempuan berjalan ke depan.

Dengan mata tertutup rapat tentu sulit berjalan lurus melewati bagian di antara dua beringin besar di tengah lapangan. Begitu pula si perempuan tadi. Berulangkali ia harus ditangkap temannya karena berjalan miring ke kiri atau ke kanan. Orang banyak yang turut melihat sebagian ikut berteriak memberi petunjuk arah mana yang harus ditempuh. Tapi, tetap saja si perempuan tidak dapat berjalan lurus.

Itulah pemandangan yang terlihat di alun-alun selatan Yogyakarta setiap malam. Melewati bagian tengah alun-alun yang diapit dua beringin besar dengan mata tertutup seolah-olah sudah menjadi kewajiban bagi yang mengunjungi tempat ini. Boleh dibilang tidak afdol rasanya kalau mengunjungi alun-alun selatan tanpa melakukan kegiatan tersebut. Terutama bagi pendatang dari luar kota.

Tidak Remang-remang Lagi
Alun-alun selatan adalah sebuah lapangan yang terletak di bagian selatan Kraton Yogyakarta. Orang Jogja biasa menyebutnya Alkid, singkatan dari alun-alun kidul (kidul = selatan). Sebagai bagian dari Kraton, Alkid termasuk dalam kawasan yang dikenal sebagai jeron betheng atau wilayah di dalam benteng Kraton. Karena itu, bila kita masuk dari arah selatan akan melewati gerbang selatan Kraton yang dikenal sebagai Plengkung Gadhing.

Dulu, gerbang di Plengkung Gadhing hanya dibuka antara pukul 06.00-22.00. Yang boleh masuk ke kawasan jeron betheng juga tidak sembarangan karena harus seijin prajurit yang berjaga di gerbang tersebut. Setiap gerbang akan dibuka atau ditutup diadakan satu upacara kecil yang sekaligus menjadi acara serah-terima tugas antara prajurit jaga dengan prajurit yang akan menggantikannya. Namun, beberapa tahun setelah Sri Sultan Hamengku Buwono X naik tahta gerbang tersebut tidak pernah ditutup lagi. Daun pintunya malah sudah tidak terlihat di gerbang bersejarah itu.

Awal tahun 2000-an suasana Alkid masih remang-remang. Pedagang juga tidak seramai sekarang. Penerangan yang tidak memadai membuat bagian tengah lapangan gelap-gulita. Kondisi ini dimanfaatkan oleh beberapa pasangan muda-mudi nakal untuk bercumbu ala kadarnya, baik di atas motor ataupun di atas rumput dengan beralaskan koran. Beberapa pekerja seks komersial juga menjadikan Alkid sebagai daerah operasi, membuat tempat ini mendapat cap buruk di mata masyarakat.

Usaha membersihkan Alkid dari praktik-praktik mesum mulai terlihat setelah Herry Zudianto menjabat sebagai Walikota Jogja. Penerangan ditambah sehingga seluruh bagian alun-alun terang benderang. Beberapa bagian yang berpotensi disalah-gunakan untuk berbuat mesum ditiadakan. Perubahan ini sempat membuat Alkid sepi pengunjung. Namun seiring berjalannya waktu Alkid kembali ramai dikunjungi. Tak hanya pasangan muda-mudi yang tengah kasmaran, banyak juga keluarga datang bersama anak-anak mereka ke Alkid untuk menikmati suasana malam sambil duduk melahap jajanan di atas rumput.

Tempat Wisata Keluarga
Bagian barat Alkid adalah tempat yang paling ramai. Selain lebih banyak pedagang, di tempat tersebut juga terdapat kandang gajah. Keluarga yang membawa anak kecil biasanya mengajak anak-anak mereka melihat gajah milik Kraton di kandang tersebut. Setelah puas melihat gajah, acara bisa dilanjutkan dengan membeli jajanan dan melahapnya sambil duduk santai beralaskan tikar di tengah lapangan luas.

Beragam jenis makanan dijajakan di Alkid. Mulai dari jajanan tradisional seperti kacang rebus, jagung rebus, kawi Malang, hingga jajanan yang lebih ‘modern’ seperti tempura, bakso. Mau makanan berat seperti nasi kucing dan gudeg juga ada. Setiap pedagang menyediakan tikar sebagai tempat duduk, namun kebanyakan pembeli lebih suka melahap jajanan sambil mengobrol di atas motor ataupun berdiri. Maka tak heran jika kebanyakan pedagang terlihat sepi karena pembelinya langsung pergi begitu mendapatkan pesanan yang diminta.

Di malam Minggu atau malam-malam liburan lainnya, bagian utara menjadi tempat paling ramai. Di sana para muda-mudi yang kebanyakan mahasiswa dan pelajar berkumpul untuk mencoba melewati bagian tengah alun-alun yang diapit dua beringin besar dengan mata tertutup rapat. Menurut kepercayaan sebagian orang, siapa yang dapat melakukan hal tersebut akan dikabulkan segala permintaannya.

Awalnya para muda-mudi ini hanya menutup mata mereka dengan penutup ala kadarnya. Ada yang memakai syal, sapu tangan, atau bahkan sekedar memejamkan mata tanpa ditutup apa-apa. Ramainya peminat kegiatan ini membuat beberapa orang berpikir kreatif untuk menyewakan penutup mata yang dibuat dari kain hitam. Harga yang dipatok cukup murah, yakni hanya Rp1.000 sekali pakai.

Semakin larut suasana Alkid menjadi semakin sepi. Pasangan-pasangan dan keluarga meninggalkan tempat ini seiring dengan semakin dinginnya hawa malam. Tinggallah para tukang becak dan bapak-bapak yang tinggal di sekitar Alkid duduk mengobrol tentang apa saja sambil menikmati kopi atau jahe panas di angkringan.

Posting ini adalah ungkapan rindu saya kepada Jogja, kota yang sempat saya diami selama 10 tahun (Juni 2000 – Mei 2010). Kota di mana saya menemukan identitas diri, kota yang telah mengajarkan banyak hal, serta kota tempat impian terbesar saya pertama kali muncul. Saya berharap bisa kembali ke Jogja untuk mewujudkan impian tersebut.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

5 komentar:

  1. Di alkid itu juga kami sekeluarga santai sore ketika libur di Jogja tahun lalu. Saya berhasil melewati beringin besar itu di kesempatan kedua. Selain itu ada penyewaan sepeda tandem dan becak mini yg dipakai berkeliling lapangan.

    BalasHapus
  2. wah, jujur saja, jogya baru sebatas kota ampiran buat saya, mas eko, belum pernah singgah di kota budaya itu lebih dari sepekan, hehe ...

    BalasHapus
  3. hmmm.... dr sjk kuliah sampe dh pny ank, keinginan utk muteri jogja lom ksampean. jd nambahi pengin ksanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.......................................

    BalasHapus
  4. Aku dulu sering nongkrong di Alkid, Bang Eko. Tapi sekarang lama tidak nongkrong...:) Jogja memang damai, http://newyorkyakarta.net

    BalasHapus
  5. Foto pohon beringin-nya diposting dong

    BalasHapus