Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Minggu, 29 Mei 2011



BARCELONA kembali sukses menundukkan Manchester United di partai puncak Liga Champions. Setelah kemenangan 2-0 di Stadion Olimpico, Roma, pada final 2008/09, semalam (28/5) Lionel Messi dkk. menang 3-1 di Stadion Wembley untuk membawa pulang trofi Liga Champions keempat bagi klub Catalan tersebut.

Datang sekitar sepekan sebelum laga rupanya membawa berkah pada penampilan pasukan Josep Guardiola. Meski MU sempat menekan ketat di menit-menit awal, Xavi Hernandez cs. mampu lepas dari tekanan dan mencetak gol pertama di menit ke-27. Adalah Pedro yang membuat fan Barca di Wembley bersorak kala tendangannya tak mampu ditangkap Edwin van der Saar.

Gol Wayne Rooney di menit ke-34 sempat membuat kedudukan imbang hingga babak pertama usai. Namun, di babak kedua dominasi Blaugrana berlanjut. Penguasaan bola (ball possession) di atas 65% seperti ditunjukkan di babak pertama kembali diulangi Barca, membuat pemain-pemain MU hanya bisa membayang-bayangi pergerakan Andres Iniesta dkk.

Gol kedua Barca yang dicetak Messi di menit ke-54 membuat pasukan Sir Alx Ferguson tampak panik. Permainan keras mulai dikeluarkan. Antonio Valencia beruntung tidak sampai dikartu merah wasit Viktor Kassai. Beberapa kali MU mendapat peluang melakukan serangan balik, tapi selalu kandas dan bola kembali dikuasai Barca. MU semakin mati angin ketika David Villa mencetak gol ketiga buat juara La Liga 2010/11. Skor 3-1 berakhir hingga laga usai.

Wayne Rooney menangis, golnya tak kuasa membantu tim. Ryan Giggs menggeleng-gelengkan kepalanya karena dua kali dikalahkan tim yang sama di final Liga Champions. Van der Saar urung mengakhiri karirnya di dunia sepak bola dengan trofi di genggaman tangan. Javier "Chicharito" Hernandez tak kalah kecewa. Ia bahkan terus saja berjalan melewati Michel Platini yang hendak mengalungkan medali perak saat prosesi penyerahan trofi di tribun. Platini sampai menarik penyerang berwajah bayi itu agar medali dapat dikalungkan ke leher si pemain.Foto: fcbarcelona.com
David Villa, mencetak gol untuk trofi Liga Champions pertamanya bersama Barca.


Sportivitas Sir Alex
Saya menangkap satu momen menarik di akhir laga. Meski di atas lapangan timnya kalah segalanya, namun Sir Alex tak segan-segan menghampiri Guardiola. Bukan sekedar jabat tangan basa-basi, pelatih gaek ini juga menepuk-nepuk pundak rivalnya sambil tersenyum lebar--meski tetap mengunyah permen karet.

Dari mimik wajah dan gesture tubuhnya saat itu, saya melihat Sir Alex begitu kagum pada Guardiola. Ucapannya di media bahwa pelatih Barca itu layak menggantikan posisinya di MU suatu saat nanti, rupanya bukan sekedar basa-basi menjelang final. Bukan pula serangan psikologis yang biasa dilakukan kepada calon lawan menjelang laga. Sir Alex, pelatih dengan segudang prestasi di MU, tampak benar-benar mengagumi sosok Guardiola.

Sungguh satu pertunjukkan kebesaran jiwa yang patut ditiru oleh pelatih manapun di dunia. Dalam olah raga berasaskan fair play seperti sepak bola, sikap Sir Alex malam itu sungguh patut diacungi dua jempol.

Bravo, Barca!


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

4 komentar:

  1. Barca memang layak memang. Permainan mereka sangat sempurna, baik dari sisi kolektivitas tim maupun skill individu para pemainnya. MU kayak diajarin main bola tuh semalem :)

    Ryan Giggs dan Park Ji Sung aja gak bisa berbuat banyak. Padahal keduanya biasanya sangat impresif. Baru ketika Luis Nani masuk, ada sedikit greget di MU. Tapi sayang, ia agak telat dimasukkan.

    BalasHapus
  2. Ya itu kan biar keliatan sportif aja

    BalasHapus
  3. sebagai tuan rumah yang baik MU telah menyambut barca pada 11 menit awal laga kemudian meladeni kehendak azulgrana pada waktu selebihnya.

    pis mbah alek:D

    BalasHapus