Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Minggu, 22 Mei 2011



ENTAH disengaja atau tidak, hari pelaksanaan Kongres PSSI 2011 yang ditetapkan Komite Normalisasi (KN) bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Tanggal 20 Mei 1908, dr. Soetomo dan teman-temannya sesama mahasiswa kedokteran Stovia mendirikan Budi Utomo.

Organisasi berlandaskan kebangsaan Indonesia inilah yang menginspirasi bersatunya pejuang-pejuang kemerdekaan nasional dalam satu tujuan: kemerdekaan Indonesia. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 28 Oktober 1928, pemuda-pemuda seluruh Indonesia berkumpul di Surakarta(?). Hasilnya, lahirlah Sumpah Pemuda sebagai sikap bersama segenap generasi muda nusantara terhadap tanah airnya.

Kongres PSSI yang dilaksanakan tepat saat Harkitnas pun tak pelak memunculkan optimisme. Hasil kongres diharapkan menjadi awal kebangkitan sepak bola nasional. Sejumlah pengamat bahkan menggadang-gadang 20 Mei 2011 sebagai Hari Kebangkitan Sepak Bola Nasional.

Kebetulan pula, sehari kemudian ada momen yang tak kalah penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto mundur dari jabatannya setelah berkuasa selama 32 tahun. Desakan reformasi yang disuarakan mahasiswa sejak setahun sebelumnya sukses meruntuhkan pemerintahan Orde baru yang korup. Era Reformasi bergulir membawa harapan baru.

Apa lacur, dua momen penting tersebut rupanya tak dihayati oleh sebagian peserta kongres. Kombinasi antara egoisme, aroganisme, kekeras-kepalaan, kebodohan, dan sifat materialistis dari sejumlah pihak membuat kongres buntu. Alih-alih menjadi awal kebangkitan sepak bola nasional, 20 Mei 2011 bisa jadi awal malapetaka. Sanksi FIFA mengintai Indonesia!

Kelompok 78 Ngotot
Buntunya Kongres PSSI tentu sangat disayangkan. Sebab, dengan agenda yang sudah jelas dan diketahui peserta kongres sebelumnya, semestinya tak perlu lagi ada pembahasan hal-hal yang tidak substansial.

Ini dia para pentolan K-78: Wisnu Wardhana, Usman Fakakubun, Saleh Mukadar, Halim Mahfudz, Dityo Pramono, Sihar Sitorus, dan Hadiyandra. Gugat mereka kalau sampai Indonesia dapat sanksi FIFA!!!Kengototan Kelompok 78 patut dituding sebagai penyebab buntunya Kongres PSSI. Selain ngotot mengegolkan GT-AP sebagai kandidat bakal calon duet pemimpin PSSI 2011-2015, kelompok ini juga ngotot menuntut Komisi Banding diberi kesempatan untuk menjelaskan alasan diterimanya banding jagoan mereka. Puncaknya, mereka ngotot meminta KN yang sekaligus bertindak sebagai pimpinan kongres diganti.

Kalau saja Kelompok 78 mau sedikit berpikir jernih, sesat pikir seperti itu tak akan terjadi, apalagi dipaksakan. GT-AP sudah jelas-jelas dicekal FIFA, dan ini bersifat final. Bukankah gugatan untuk FIFA yang mereka ajukan ke komite arbitrase olah raga (CAS) juga sudah ditolak? Sementara itu, penjelasan Komite Banding sejak awal memang tidak ada dalam agenda kongres.

Foto: Vivanews.com
Wisnu Wardhana, ngotot sampai mati demi GT-AP.
Hal paling konyol tentu saja niat menggusur KN. Sebagai badan yang dibentuk langsung oleh FIFA, menyusul kacaunya Kongres Pekanbaru pada Maret silam, KN tidak bisa dimakzulkan oleh Kongres PSSI. Bahkan, sekalipun 101 pemilik hak suara sepakat mengganti KN, tidak ada satu forum pun dalam lingkup PSSI yang dapat melakukannya.

Alasan bahwa keberadaan KN melanggar Statuta PSSI dan juga Statuta FIFA jelas menunjukkan betapa Kelompok 78 tak memahami aturan main. Statuta PSSI, Statuta FIFA, serta perangkat peraturan lain terkait pemilihan kepengurusan hanya berlaku dalam kondisi normal. Masalahnya, kisruh di tubuh PSSI yang berujung pada rusuhnya Kongres Pekanbaru membuat FIFA beranggapan PSSI dalam masalah serius sehingga tidak mampu menjalankan fungsinya. Karena itulah Komite Darurat FIFA membentuk KN untuk menormalisasi PSSI. FIFA baru akan menganggap PSSI normal jika kepengurusan baru sudah terbentuk. Saat itulah segala macam statuta dan kode etik berlaku lagi.

Darurat dan tidak normal, seharusnya dua kata kunci itu menjadi pegangan Kelompok 78 dalam bersikap. Kalau saja mereka memahami situasi yang berkembang belakangan ini, berbesar hati menerima keputusan FIFA adalah keputusan terbaik. Ingat, sepak bola nasional jadi taruhannya!

Kini, sepak bola nasional benar-benar dalam kondisi darurat. Setelah PSSI dua kali gagal menggelar kongres, rasanya FIFA akan lebih mudah menjatuhkan sanksi untuk Indonesia. Jika itu terjadi, bak seorang pilot yang pesawatnya meluncur deras ke bawah tanpa terkendali, segenap pecinta sepak bola nasional rasanya pantas berteriak, “May day, may day..!

Catatan: Posting ini merupakan naskah asli artikel berjudul May Day, May Day...! di rubrik 'Oposan' tabloid BOLA edisi 2.200, Senin-Rabu 23-25 Mei 2011.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

0 komentar:

Poskan Komentar