Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Rabu, 04 Mei 2011

SETELAH dianggap sukses, program naturalisasi pemain yang dijalankan Badan Tim Nasional (BTN) semakin kencang. Menjelang SEA Games 2011 dan Prakualifikasi Piala Dunia 2014, tujuh pemain keturunan Indonesia yang berlaga di kompetisi luar negeri, plus dua pemain asing yang berkiprah di Liga Super Indonesia (LSI), siap diberi paspor hijau.

Dahaga publik akan prestasi dijadikan alasan bagi BTN untuk mengencangkan laju naturalisasi pemain. Target utama adalah merebut medali emas sepak bola di SEA Games mendatang. Target berikutnya, melangkah sejauh mungkin dalam Prakualifikasi Piala Dunia 2014. Bisa menjadi satu dari 32 tamu di Brasil tiga tahun mendatang tentu menjadi harapan kita semua. Namun, masuk ke babak utama prakualifikasi Asia saja sudah merupakan prestasi hebat.

Alasan lain, BTN menganggap proyek naturalisasi jilid I yang menghadirkan Cristian Gonzales sukses besar. Bersama Irfan Bachdim, striker kelahiran Uruguay ini tampil dominan di Piala AFF 2010 lalu. Dua golnya di dua laga semifinal kontra Filipina membawa Indonesia ke final. Crisgo dan Irfan pun jadi idola baru pecinta bola tanah air, menyingkirkan Bambang Pamungkas yang sebelumnya selalu dielu-elukan fans timnas.Cristian Gonzales, belum bisa dibilang sukses.

Pertanyaannya, benarkah program naturalisasi sukses? Bila acuannya prestasi di Piala AFF 2010, jawabannya "BELUM", kalau tidak mau dikatakan "TIDAK".

Ingat, Indonesia sudah tiga kali mencapai final Piala AFF (dulu bernama Piala Tiger) jauh sebelum program naturalisasi digulirkan PSSI. Ketiganya bahkan dicapai secara beruntun, yakni di tahun 2000, 2002, dan 2004. Final tahun lalu adalah yang keempat. Soal performa, timnas Piala Asia 2007 di bawah pelatih Ivan Kolev tampil sangat trengginas tanpa "pemain asing". Artinya, prestasi timnas yang berisi pemain naturalisasi hanya mampu mengulangi alias menyamai pencapaian sebelumnya. Padahal, kita berharap hasil lebih baik dari program andalan BTN ini.

Dengan demikian, bolehkah disimpulkan jika program naturalisasi sejauh ini belum memberikan efek positif dari segi prestasi. Timnas Piala AFF 2010 seolah-olah sukses karena begitu massifnya ekspos media massa. Belum pernah media, terutama televisi dan tayangan infotainment, memberikan perhatian sedemikian besar pada timnas. Tak heran bila Alfred Riedl sampai merasa perlu mengkomplain wartawan karena menganggap ekspos media bakal mengganggu konsentrasi pemain.

Mengancam Regenerasi
Andai BTN mau berpikir lebih jauh, program naturalisasi sejatinya justru merusak pola pembinaan di tanah air. Hadirnya pemain-pemain dari luar LSI jelas membuat potensi lokal tergusur. Jangankan menaturalisasi pemain asing untuk timnas, terlalu banyak pemain asing di liga domestik saja sudah dapat merusak regenerasi pemain lokal.

Foto: sport.manadotoday.com
Stefano Lilipaly, "mengancam" pemain-pemain asli Indonesia.
Ambil contoh Spanyol. Ketika Real Madrid jor-joran mengumpulkan bintang-bintang dunia ke Santiago Bernabeu, banyak sekali potensi muda asli Spanyol di Madrid yang lantas redup. Guti Hernandez salah satunya. Gelandang yang sempat menjadi harapan Spanyol ini tidak berkembang karena Madrid kala itu punya Zinedine Zidane, Luis Figo, dan lantas David Beckham. Era kejayaan Spanyol dimulai seiring dominannya Barcelona di La Liga. Berkebalikan dengan Madrid yang skuadnya lebih banyak diisi pemain asing, Barca malah mengandalkan jebolan akademinya sendiri. Kebijakan ini kian menguat di era Pep Guardiola. Dan, timnas Spanyol yang didominasi pemain-pemain Barca pun menjuarai Euro 2008, disusul Piala Dunia 2010.

Contoh berikutnya Inggris. Coba perhatikan, dari 8 tim papan atas Liga Primer Inggris yang bertarung di level Eropa, hanya Manchester City yang memasang kiper asli Inggris sebagai pilihan utama. Tim-tim elit seperti Manchester United, Arsenal, Chelsea, Liverpool, hingga Tottenham Hotspurs lebih memilih kiper asing. Akibatnya, kita sama-sama tahu kalau hingga kini Inggris masih kesulitan mencari sosok yang tepat di bawah mistar timnas.

"...penyebab mundurnya prestasi timnas adalah buruknya kompetisi dan sistem pembinaan. Akibat dari dua hal tersebut adalah jeleknya kualitas pemain yang dihasilkan untuk timnas."
-bungeko.com
Kembali ke program naturalisasi BTN, hendaknya program ini jangan dijadikan proyek jangka panjang. Percuma saja LSI digelar kalau untuk skuad timnas BTN justru sibuk mencari pemain keturunan Indonesia yang berlaga di kompetisi luar negeri. Bagaimana perasaan pemain-pemain lokal di LSI bila hal ini terus-menerus terjadi.

Bayangkan saja, untuk skuad SEA Games 2011 setidaknya ada empat slot yang dikhususkan untuk pemain naturalisasi. Mereka adalah Ruben Wuarbanaran, Stefano Lilipaly, Diego Michiels, dan Joey Suk. Berita jeleknya, bisa dipastikan keempat pemain ini bakal menjadi pilihan utama Riedl. Ini artinya, kesempatan pemain-pemain muda asli Indonesia untuk merasakan laga internasional di SEA Games tertutup.

Okelah kalau kemampuan para pemain naturalisasi tersebut jauh di atas pemain lokal. Pada kenyataannya, skill mereka, meminjam istilah Bambang Nurdiansyah, hanya rata-rata air alias tidak terlalu istimewa. Iklim kompetisi dan fasilitas pendukung yang lebih memadai saja yang membuat mereka terlihat berbeda kelas dibanding pemain lokal. Pendapat ini masuk akal. Sebab jika mereka betul-betul hebat, mana mungkin mereka mau membela Indonesia.

Jadi, penyebab mundurnya prestasi timnas adalah buruknya kompetisi dan sistem pembinaan. Akibat dari dua hal tersebut adalah jeleknya kualitas pemain yang dihasilkan untuk timnas. Kalau saja PSSI mampu menciptakan liga domestik seperti La Liga atau setidaknya Eredivisie, saya rasa BTN tidak perlu susah-susah keliling dunia mencari pemain keturunan Indonesia.

Bagaimana pendapat Bung?

Catatan: Posting ini merupakan naskah asli untuk rubrik 'Oposan' di Tabloid BOLA. Alhamdulillah, dimuat di BOLA edisi 2.186, Kamis-Jumat 21-22 April 2011. Sayangnya, alih-alih dimuat di rubrik 'Oposan', opini saya ini dimuat di rubrik 'Ola Ole'. Ya, tak apalah. ^_^


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

8 komentar:

  1. hehehe jadi yang pertama lagi neh bang??
    kalo banyak pemain luar yang di comot masuk timnas
    kapan pemain asli indonesianya ya??

    BalasHapus
  2. Memang benar apa yang bro katakan... Naturalisasi bukanlah merupakan jalan yang terbaik. Toh sudah terbukti bahwa naturalisasi belum memberikan hasil yang nyata. Mungkin saatnya kita lebih fokus pada pencarian dan pembinaan para pemain. Tapi sebeblum melangkah lebih jauh alangkah baiknya jika masalah intern di PSSI harus dibenahi dulu. Bagaimana kita bisa menghasilkan pemain-pemain yang berbakat jika didalam tubuh organisasinya terdapat perselisihan dengan berbagai kepentingan

    BalasHapus
  3. pemain naturalisasi dibutuhkan ketika memang tidak ada lagi pemain yg diandalkan dan menjadi pilihan akhir.. tapi fakyanya, masih banyak talenta lokal (asli lokal) yang belum dirangkull. saya setuju, stop naturalisasi dan mari kita menasionalisasi aja :D

    BalasHapus
  4. no comment, kadung carut marut,
    :D

    BalasHapus
  5. Kenapa bisa begitu? Karena kurang kompak, coba kalo pemain asli Indonesia semua, punya pola pikir sama, maka lebih kompak

    BalasHapus
  6. jangan distop lah bung,, naturalisasi juga langkah instan yg paling cepat kok. cuma porsinya saja yang harus dibatasi. max2-3 pemain saja. dan itu benar2 yg mempunyai skil diatas pemain lokal.

    naturalisasi menjadikan masyarakat sekarang sangat mencintai timnasnya. euforia terbesar dalam sejarah meskipun kita tidak juara. dan memacu pemain lokal untuk mencontoh pemain keturunan. entah itu skil bermain, kedisiplinan dan pola makan sebagai pemain bola professional.

    saya setuju dengan naturalisasi cuman harus dibatasi saja.

    BalasHapus
  7. saya kadang2 juga ndak habis pikir, mas eko. sedemikian sulitkan mencari 11-18 pemain dari sekian ratus juta eakyat indonesia utk menjadi sebuah timnas yang solid dan berprestasi? pertanyaan ini penting dijawab sebelum memutuskan utk melakukan naturalisasi pemain atau tidak, hehe ...

    BalasHapus
  8. sungguh analisa yg mantap :)

    BalasHapus