Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Selasa, 07 Juni 2011

TAK terasa musim 2010/2011 sudah berakhir. Sejumlah liga di Eropa bahkan sudah mempunyai juara ketika kompetisi masih menyisakan 2 laga. Yang menarik bagi saya, musim ini boleh dibilang merupakan pertarungan antara klub berkapital besar melawan klub yang mengandalkan kecerdikan akal pelatih di tengah keterbatasan uang untuk belanja pemain.

Menariknya lagi, akhir musim ini menunjukkan betapa kapital besar tak berbanding lurus dengan prestasi besar. Klub-klub dengan sokongan dana berlimpah justru harus gigit jari karena gelar juara direbut pesaing yang tak terlalu mengandalkan kapital. Ya, 2010/2011 diakhiri dengan tampilnya klub-klub dengan skuad 'biasa-biasa' dan tidak jor-joran di bursa transfer sebagai juara.

Contoh paling mencolok adalah Bundesliga. Secara mengejutkan gelar Deutscher Meister justru direbut Borussia Dortmund. Padahal, anak asuhan Juergen Klopp ini hanya mengandalkan pemain-pemain muda, nyaris tanpa bintang. Mungkin cuma Nuri Sahin yang bisa disebut sebagai bintang, membuat sang pemain dilirik Real Madrid musim depan. Bila dibandingkan dengan Bayern Muenchen yang saat ini berada di peringkat 3 klasemen, dari segi kekayaan jelas kubu Dortmund kalah jauh.

Di Inggris, gelar juara sepertinya sudah hampir pasti direbut Manchester United yang tinggal membutuhkan 1 poin dari 2 laga sisa. Meski diperhitungkan sebagai tim besar, namun keperkasaan Setan Merah bukan dibangun dengan kekuatan kapital. Sudah menjadi rahasia umum kalau Sir Alex Ferguson adalah jagonya menemukan mutiara terpendam. Alih-alih membeli pemain bintang, ia justru kerap melahirkan bintang. Ryan Gigs, David Beckham, dan Cristiano Ronaldo adalah beberapa contoh pemain bintang skala dunia yang berangkat dari bukan siapa-siapa di MU.

Prestasi MU ini jelas menampar muka Chelsea yang sejak diakuisisi Roman Abramovich gemar mendatangkan bintang-bintang dunia. Begitu juga dengan Manchester City, klub paling boros dalam belanja pemain di bursa transfer Inggris. Chelsea tak mampu menyalip MU, sedangkan The Citizen sudah sangat bersyukur bisa memastikan tempat di Liga Champion musim depan.

Cerita serupa terjadi di Spanyol. Barcelona sudah memastikan diri sebagai juara La Liga musim ini, meninggalkan Real Madrid di posisi runner up. Kita sama-sama tahu, Real Madrid adalah klub yang begitu mendewa-dewakan uang. Florentino Perez adalah jenis presiden klub yang percaya bahwa uang bisa mendatangkan prestasi. Berkali-kali gagal setelah mengeluarkan terlalu banyak uang, Perez tak juga jera. Barcelona, yang mengandalkan pemain-pemain binaan sendiri, dari segi prestasi justru lebih mentereng dari Madrid.

Menarik ditunggu, akankah kekuatan akal masih mampu mengalahkan kekuatan kapital di musim depan?

Catatan: Posting ini merupakan naskah asli surat pembaca berjudul Kemenangan Akal di rubrik 'Rumah Suporter' tabloid BOLA edisi 2.196, Sabtu-Minggu 14-15 Mei 2011.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

0 komentar:

Poskan Komentar