Rupanya bukan cuma presenter dan ilustrator di tivi saja yang begitu. Staf customer service (CS)sebuah perusahaan telekomunikasi besar pun rupanya bisa salah memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan maksudnya. Keseleo lidah mungkin? Kalau cuma sekali kata itu keluar, okelah bisa jadi cuma keseleo lidah. Tapi kalau ia mengucapkannya dengan sangat tegas dan berkali-kali. Hmmm...
Minta Refund
Ceritanya begini. Tanggal 7, 8, dan 9 September lalu saya mengaktifkan layanan internet unlimited dari perusahaan provider GSM tersebut. Tarifnya Rp5.000/hari, artinya total selama tiga hari pulsa saya terpotong Rp15.000. Celakanya, selama tiga hari itu layanannya tidak bisa saya pakai! Boro-boro unlimited, konek pun tidak bisa. Saya lalu telepon ke 817 dan mengajukan komplain.
"Blablabla (nama perusahaannya disensor, takut dituntut. :D) customer service, dengan Ayu di sini. Ada yang bisa saya bantu?" Begitu sapa si CS dengan ramah. Namanya Ayu, tapi saya tidak tahu seayu apa wajahnya. Dia tanya nama dan apa keluhan saya. Sayapun menjawab dengan lugas.
"Bapak Eko ingin pulsanya dikembalikan?" Demikian simpul Mbak Ayu setelah mendengarkan cerita saya nan panjang lebar. Tanpa basa-basi saya menjawab, "Ah, terima kasih kalau Mbak Ayu paham". Hehehe, ketahuan deh. Lalu ritual menanyakan nomor yang dikeluhkan, tanggal kejadian, dll. pun dilakukan si Mbak CS. Saya menjawab sebisa-bisanya. Lalu saya diminta menunggu, nampaknya dia hendak konsultasi dengan pimpinannya dulu sebelum membuat keputusan.
Foto: internetSemenit, dua menit, tiga menit, empat menit, sampai lima menit kemudian saya masih setia mendengar lagu yang biasa menjadi backsound iklan perusahaan tersebut. Tak berapa lama kemudian si Mbak CS sudah kembali ke teleponnya. Namun sayang, jawaban yang diberikan membuat saya kecewa. "Maaf Pak, permintaan Bapak tidak bisa diproses karena blablabla..." katanya.Saya tersenyum kecut. Setelah si Mbak selesai bicara, saya 'menyerang' lagi dengan jurus-jurus yang memang sudah saya persiapkan. Alasan bahwa kesalahan yang menyebabkan tidak konek bukan di pihak mereka saya bantah keras. Orang kartunya, jaringannya, sampai settingan koneksinya dari mereka, kok bisa-bisanya bilang bukan kesalahan mereka? Lalu alasan komplain sudah terlalu lama dari saat kejadian, saya bantah dengan fakta bahwa si Mbak nyatanya masih bisa melihat data kapan saya melakukan registrasi pertama kali. Jadi, waktu bukan masalah di sini.
Apresiasi yang Tidak Apresiatif
Akhirnya Mbak Ayu minta skor lagi, mungkin mau minta petuah dari pimpinannya lagi. Atau saya yang terlalu ngotot? Entahlah, meski cuma Rp15.000 tapi tetap uang kan? Mubazir temannya setan, begitu kata ustadz. Jadi selama uang Rp15.000 itu masih bisa kembali, kenapa tidak dicoba dulu?
Sayang, lagi-lagi jawaban dari Mbak Ayu tak memuaskan. Setelah adu ngotot, akhirnya saya diberi pilihan. Pulsa yang sudah terpotong tidak bisa dikembalikan, itu final. Namun, kata si Mbak, "Sebagai apresiasi kami beri Bapak layanan internet unlimited secara gratis untuk hari ini."
Hmmm, dahi saya langsung berkenyit. "Apresiasi?" Gumam saya dalam hati. Baru kali ini ada perusahaan yang mengapresiasi pelanggan yang melakukan komplain. Tapi, tunggu dulu. Kalau memang apresiasi, kenapa cuma sehari? Bukannya pulsa saya dipotong untuk layanan tiga hari? Apalagi si Mbak tidak bisa memberi jaminan kalau saya bisa konek, dan saya tidak bakal terkena potongan Rp5.000/hari untuk hari-hari berikutnya. Maka, saya pun tegas-tegas mengatakan, ini bukan solusi!
Ngotot lagi deh. Dan si Mbak berulangkali mengatakan, "Maaf Pak, permintaan refund Bapak tidak bisa diproses. Tapi sebagai apresiasi kami beri Bapak layanan internet unlimited gratis untuk hari ini." Hmmm, apresiasi lagi katanya. Capek deh...
Ini bukan cerita masalah komplain, juga bukan soal ketidak-puasan saya terhadap provider GSM satu ini. Saya cuma mau menebak-nebak, jangan-jangan yang Mbak Ayu maksud kompensasi, bukan apresiasi. Coba kita pakai di kalimat yang diucapkan si Mbak tadi. "Sebagai kompensasi kami beri Bapak layanan internet unlimited gratis untuk hari ini." Terasa lebih pas, bukan?
Ah, begitulah...
|
Tulisan berjudul Apresiasi apa Kompensasi? ini dilindungi lisensi Creative Commons. Anda bebas menyalin, mendistribusi, dan atau mentransmisi sebagian atau seluruh isi artikel untuk tujuan nonkomersil, serta dengan menyebutkan sumber artikel. Terima kasih. |



Belum ada komentar. Jangan mau jadi yang kedua!
Klik di sini untuk langsung ke formulir komentar.Poskan Komentar
Terima kasih telah mengunjungi bungeko.com. Semoga apa yang saya tulis di blog ini bermanfaat bagi Bung Pembaca. Silakan tinggalkan komentar untuk menanggapi, mengoreksi, atau bahkan mencaci isi posting ini. Tapi mohon dicatat, no SARA, no SARU. Salam.
NB: Saya sedang memikirkan untuk membuka kembali kontes komentator terbanyak, atau kontes lain yang berhubungan dengan komentar pembaca.