Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Sabtu, 24 September 2011



“INI bukan tim saya. Ketika saya datang pemain sudah ada, saya sama sekali tidak terlibat dalam pembentukan tim ini. Kebanyakan pemain yang ada sekarang belum siap bertanding di level seperti ini.”

Pesepak bola mana yang tidak kecewa bila pelatihnya berkata demikian? Entah pemain amatir atau profesional, rasanya pantas kecewa dan bahkan marah.

Maka, tak heran bila mayoritas pemain timnas dikabarkan berencana mogok main. Kutipan ucapan Wim Rijsbergen pascalaga versus Bahrain yang diekspos banyak media tersebut memang sangat memojokkan Bambang Pamungkas, dkk.

Dari komentar tersebut, dapat ditangkap kalau meneer Wim seolah hendak menyatakan, dirinya tidak gagal membawa timnas meraih kemenangan. Para pemainlah yang tidak mampu mengaplikasikan strateginya di atas lapangan.

Well, dibolak-balik bagaimanapun juga kesimpulannya tetap sama: Wim cuci tangan. Ia menolak bertanggungjawab atas kekalahan timnas.

Pecundang
Ingat pula ucapannya yang ini, “Sepak bola sangat sederhana. Kalau tim menang pemain yang bagus, kalau kalah pelatih yang buruk.”

Benarkah demikian? Ah, sepertinya coach Wim tidak update perkembangan sepak bola terkini. Coba lihat Barcelona. Siapa yang tak memuji Pep Guardiola melihat cemerlangnya penampilan Lionel Messi, cs.? Atau tanya Andres Villas-Boas, mengapa klub sebesar Chelsea tertarik memakai jasanya padahal ia masih tergolong ‘hijau’ di dunia kepelatihan?

Khusus timnas, orang Indonesia mana yang tak memuji Ivan Kolev bila mengenang kemenangan 2-1 atas Qatar di Piala Asia 2004? Penampilan heroik di Piala Asia 2007 juga diingat sebagai karya brilian pelatih Bulgaria itu. Wim seharusnya tahu, bahkan pemain timnas sendiri masih mengidolai Alfred Riedl setelah penampilan gemilang di Piala AFF 2010 lalu.

Sikap serta ucapan-ucapan Wim menunjukkan betapa ia tak siap menanggung kegagalan. Sebaliknya, saat timnas menang melawan Turkmenistan dan Palestina ia bersikap jumawa. Padahal kemenangan atas Turkmenistan tidak meyakinkan, sementara Palestina berperingkat di bawah Indonesia.

Lembek
Wim juga tak tahan tekanan. Di tengah dukungan dan antusiasme yang sedemikian besar dari rakyat Indonesia, timnas dituntut selalu meraih hasil positif. Ini bukan berarti timnas harus menang terus. Skor akhir tidak masalah, tapi setidak-tidaknya timnas menunjukkan permainan apik nan penuh semangat. Itu sudah sangat menyenangkan.

Sayang, di tangan Wim permainan timnas jadi amburadul. Hasilnya, dari tujuh kali bertanding Bepe, cs. hanya menang dua kali. Catatan gol dalam tujuh laga itu juga tak bagus, 10-12, dengan skor total 0-6 dari tiga laga terakhir.

Dengan catatan begini, wajar bila Wim mendapat tekanan besar dari publik sepak bola Indonesia. Namun reaksi Wim sungguh mengecewakan. Alih-alih bersikap ksatria dengan berbesar hati menerima kritik dan bertanggung jawab atas kekalahan timnas, ia malah memantik api permusuhan dengan pemain-pemainnya sendiri!

Indonesia tengah meniti jalan menuju kejayaan. Segenap pecinta timnas sudah lama haus prestasi. Untuk itu, timnas butuh pelatih bermental juara yang mampu dan mau menularkan sikap positif. Pelatih yang bisa menjadi pembimbing sekaligus motivator, pelatih yang menyadari bahwa antara pemain dengan staf pelatih hingga juru pijat adalah satu tim. Menang sama-sama senang, kalah sama-sama malu.

Menilik sikap dan ucapannya pascakekalahan melawan Bahrain, maaf, rasanya meneer Wim Rijsbergen bukanlah sosok yang tepat untuk menangani timnas Indonesia.

Bagaimana pendapat Bung?


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

1 komentar:

  1. Orang lemah kayak gitu harusnya disingkirkan sebagai pelatih, mungkin ia cocoknya kerja di bidang lain aja.

    BalasHapus