Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Jumat, 16 September 2011



SEJAK digulirkan pada 1994 lalu, kasta tertinggi kompetisi sepak bola nasional selalu disokong perusahaan rokok sebagai sponsor utama. Dimulai dari Dunhill (1994-1996), lalu Kansas (1997), dan terakhir pabrik rokok nasional Djarum (2005-sekarang).

Memang sempat ada sponsor nonrokok, yakni Bank Mandiri pada 2000-2004. Praktis dalam rentang 17 tahun penyelenggaraan Liga Indonesia, hanya tujuh musim yang “bersih” dari aroma tembakau. Rinciannya, lima musim kala disponsori Bank Mandiri, dan dua musim lagi saat liga tidak memiliki sponsor karena krisis ekonomi (1997-1999).

Tidak hanya liga, di level klub pun aroma rokok begitu pekat. Saat PSS Sleman menjadi satu-satunya tim berkostum hijau di Divisi Utama 2002/03, klub asal DI Yogyakarta ini disponsori Sampoerna Hijau. Konsekuensinya, Stadion Mandala Krida yang waktu itu menjadi homebase PSS penuh iklan produk tersebut saat pertandingan digelar. Penonton yang membeli tiket juga mendapat bonus sebungkus rokok.

Paradoks
Foto: antarafoto.comSelama ini penikmat sepak bola tanah air tidak merasa ada masalah dengan dominannya iklan rokok di liga nasional. Sebagai salah satu negara penghasil tembakau terbesar dunia, plus pemilik perusahaan-perusahaan rokok bertaraf internasional, sponsor rokok di pentas sepak bola dianggap lumrah. Padahal, rokok dan sepak bola jelas dua hal yang bertolak belakang.

Orang paling awam pun tahu rokok adalah musuh utama kesehatan. Meski sangat terbantu dengan pendapatan cukai rokok, pemerintah terus berupaya meredam pengaruh tembakau. Lihatlah bagaimana iklan-iklan rokok dilarang menunjukkan bungkus apalagi wujud sebatang rokok. Pemerintah juga memaksa produsen rokok memasang peringatan akan bahaya rokok di kemasan produk mereka.

Majelis Ulama Indonesia bahkan telah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan rokok. Isu terbaru, pihak-pihak terkait tengah mengkaji kemungkinan pemajangan gambar-gambar mengerikan di bungkus rokok agar pesan bahaya rokok menempel lebih lekat di benak para perokok.

Di lain pihak, sepak bola merupakan olah raga yang menyehatkan badan. Jadi, bergabungnya rokok dengan sepak bola di Liga Indonesia jelas sebuah paradoks.

Coba tengok liga-liga Eropa, mana ada ditemukan iklan rokok. Uni Eropa melarang keras iklan rokok di tempat-tempat umum, termasuk menjadi sponsor kegiatan olah raga. Larangan ini diikuti oleh penyelenggara balapan top Formula 1 dan MotoGP yang tidak membolehkan tim peserta bekerja sama dengan perusahaan rokok.

Selamanya Rokok?
Satu pertanyaan yang selalu menggelitik benak saya melihat fakta ini adalah, apakah hanya perusahaan rokok yang mau jadi sponsor Liga Indonesia? Atau mungkin pertanyaan lebih tepatnya adalah, apakah hanya perusahaan rokok yang mampu menyeponsori Liga Indonesia?

Rasanya tidak juga. Ada banyak perusahaan nasional maupun multinasional besar di negeri ini. Menilik nilai keuntungan yang mereka raup, seperti dirilis ke media tiap kuartal atau tiap tahun, rasanya tak sulit bagi perusahaan-perusahaan tersebut untuk menyokong Liga Indonesia.

Ingat bagaimana Danone, korporasi yang menaungi produsen Aqua, mengadakan event tahunan bertajuk Danone Nations’ Cup. Contoh terbaru, PT Kraft Indonesia yang memproduksi Biskuat mengadakan kompetisi sepak bola antar-SD tingkat nasional, Biskuat Tiger Cup. Tidak tanggung-tanggung, untuk mempromosikan ajang tersebut Kraft mengundang Cesc Fabregas ke Indonesia.

Jangan lupa pula, beberapa musim belakangan Divisi Utama disponsori perusahaan-perusahaan nonrokok. Mulai dari operator CDMA Esia milik Bakrie Group di musim 2008/09, lalu Extra Joss di musim selanjutnya, dan musim 2010/11 yang baru lalu disponsori Ti-Phone.

Artinya, perusahaan-perusahaan selain produsen rokok sejatinya mampu menjadi sponsor Liga Indonesia. Soal mau atau tidak, itulah pekerjaan rumah PSSI selaku penyelenggara liga dan armada marketingnya.

Jika menilik kualitas kompetisi yang semakin meningkat dari musim ke musim, ditambah rencana PSSI Perubahan di bawah Djohar Arifin untuk keluar dari bayang-bayang asap rokok, impian menonton LI tanpa iklan rokok rasanya bakal terwujud dalam waktu dekat. Kita tunggu saja.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

1 komentar:

  1. bukan hanya liga Indonesia saja ya Bung, acara2 sepak bola luar negeri yang disiarkan tv lokal pun disponsori oleh perusahaan rokok.. semoga bisa cepat terwujud seperti di luar negeri..

    BalasHapus