Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Minggu, 18 September 2011



MASIH ingat Hendri Mulyadi? Kesal melihat timnas tak berkutik saat menjamu Oman di laga Prakualifikasi Piala Asia 2011, 6 Januari 2010, ia masuk lapangan. Sambil terus memegangi celananya yang kedodoran, dicobanya membobol gawang Oman.

Usaha Hendri boleh gagal karena kiper Oman yang saat itu merumput di Liga Inggris, Ali al-Habsi, sigap menangkap bola. Tapi aksi nekatnya sukses besar merepresentasikan kekecewaan masyarakat Indonesia terhadap buruknya prestasi timnas.

Seperti yang ditakutkan Hendri dan segenap pecinta timnas, Indonesia kalah dan untuk pertama kalinya sejak 1996 gagal lolos ke putaran final Piala Asia.

Kejadian serupa tapi tak sama terjadi saat matchday kedua PPD 2014 di Stadion GBK, 6 September 2011. Melihat timnas ketinggalan 2 gol dan tak ada tanda-tanda mampu membalas, penonton menyulut petasan. Bukan cuma menciptakan suara bising, petasan bahkan sengaja dilempar ke tengah lapangan.

Pertandingan lantas dihentikan karena letupan petasan semakin menjadi-jadi. Aib bertambah besar kala Presiden SBY yang turut menonton meninggalkan kursinya jauh sebelum laga selesai. Boleh jadi Presiden kecewa dan malu, sama seperti ratusan juta pecinta sepak bola Indonesia lainnya.

Haus Prestasi
Pecinta sepak bola Indonesia haus prestasi, ini sudah jadi rahasia umum. Para punggawa timnas pun rasanya juga ingin meraih kejayaan dengan seragam merah-putih bergambar garuda di dadanya.

Gelar terakhir yang berhasil dimenangkan Tim Garuda adalah juara SEA Games 1991. Praktis sudah 20 tahun Indonesia kering prestasi. Tak heran setiap kali PSSI memilih ketua umum baru, pertanyaan pertama yang diajukan publik adalah: mampukah Ketum terpilih mengakhiri puasa gelar?

Harapan tersebut membesar saat gerakan reformasi di tubuh PSSI menghasilkan Prof. Djohar Arifin Husin sebagai Ketum periode 2011-2015. Dengan bekal pengalaman dan reputasi positifnya di dunia olah raga selama ini, asa segenap suporter Indonesia seolah bakal terwujud.

Sayang, sejak awal Djohar justru membuat kebijakan-kebijakan kontraproduktif. Setelah mengganti jajaran pelatih timnas secara sepihak tanpa alasan jelas, format liga pun dirombaknya habis-habisan. Kedua-duanya mulai dirasakan membuat sepak bola Indonesia berjalan mundur.

Bikin Malu
Foto: koranbaru.com
Prof. Djohar Arifin Husin, Ketua Umum PSSI.
Lihat saja. Perombakan total format kompetisi dengan menghapus Liga Super Indonesia dan Divisi Utama berakibat molornya jadwal musim baru. Jika kompetisi tak kunjung dimulai hingga deadline AFC, Indonesia tak boleh mengirim wakil di Liga Champion Asia dan Piala AFC. Ini tentu sebuah kerugian besar.

Efek lebih serius dari mandeknya liga, pelatih timnas kesulitan mencari pemain yang pas dengan skema taktiknya. Jadi jangan protes jika Wim Rijsbergen sebagai pelatih baru masih memakai pemain-pemain pilihan Alfred Riedl.

Hasilnya? Tiga kekalahan beruntun saat melawan Yordania, Iran, dan Bahrain rasanya lebih dari cukup sebagai jawaban. Catat juga, timnas tidak mencetak sebiji gol pun di tiga pertandingan tersebut! Anak asuh Wim bahkan dapat diimbangi juniornya saat beruji coba di Solo sebelum terbang ke Timur Tengah.

Salah siapa? Idealnya Wim selaku pelatih merupakan sosok paling tepat untuk dimintai pertanggungjawaban. Namun Wim tidak bisa disalahkan sendirian. Pergantian pelatih di saat tidak tepatlah yang sebenarnya menjadi penyebab buruknya performa timnas dalam mengarungi PPD 2014.

Maka, sorotan tajam layak ditujukan pada Djohar dan jajarannya. Ego dan kepentingan kelompok selalu lebih diutamakan PSSI dalam melahirkan kebijakan-kebijakan. Akibatnya prestasi timnas jadi korban.

Kalau terus-terusan begini, malu rasanya jadi suporter Indonesia yang selalu kalah dan miskin prestasi!


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

0 komentar:

Poskan Komentar