Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 10 Oktober 2011

Alhamdulillah, review buku ini menjadi salah satu dari 5 pemenang kontes review buku Menjawab Ateis Indonesia yang diadakan Mbak Fanny aka Sang Cerpenis Bercerita, dengan hadiah 1 eks. buku dan DVD Menjawab Ateis Indonesia. Terima kasih kepada para pembaca bungeko.com yang telah memberikan komentar dan apresiasi.


APA yang terbayang di benak Bung jika mendengar kata 'ateis'? Tidak percaya eksistensi Tuhan, ya itulah pengertian umum dari kata tesebut. Tapi lebih dari itu, seorang ateis tidak sekedar tidak mempercayai Tuhan lho. Sikap ateis hanyalah ekses dari satu gejala yang kian marak menghinggapi manusia modern saat ini. Apa itu? Berpikir logis alias terlalu mempercayai logika. Jadi, apa-apa harus masuk akal dulu baru bisa dipercayai.

Nah, karena Tuhan adaah sosok super misterius, orang yang terlalu mengandalkan logika sulit menerima keberadaan Tuhan. Bagaimana mau percaya kalau tidak pernah melihat Tuhan, dan memang Tuhan tidak bisa dilihat manusia. Kira-kira begitu argumen para ateis soal eksistensi Tuhan. Hmmm, padahal (maaf) kentut juga tidak ada wujudnya--cuma ada baunya saja, tapi saya yakin orang paling ateis sekalipun sangat percaya kentut itu ada. Iya kan?

Konon, sepanjang sejarah manusia hanya Nabi Adam beserta Siti Hawa, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad saja yang pernah bertemu Tuhan (baca: Allah) dalam hidupnya. Selebihnya manusia hanya bisa melihat Tuhan setelah mati. Karena tidak bisa melihat Allah secara langsung itulah bangsa Israel di masa Nabi Musa menolak mengakui Allah sebagai Tuhan mereka. Sebagai gantinya, mereka malah menyembah patung sapi betina buatan Samiri.

Menjawab Kebingungan Kaum Ateis
Setelah Partai Komunis Indonesia dibubarkan, paham ateisme tak ikut tercerai-berai. Meski sempat tak terdengar kabarnya, kaum ateis ternyata masih eksis di Indonesia. Bahkan jumlahnya cenderung bertambah dari waktu ke waktu. Hal ini tak lepas dari keaktifan para kaum ateis ini dalam mengadakan diskusi ketuhanan. Selain itu berbagai situs kaum ateis Indonesia juga banyak bertebaran di internet.

Saya sempat bergaul dengan seorang ateis asal Australia, sebut saja namanya John. Orangnya biasa saja, penampilannya pun tak beda dengan bule pada umumnya. Namun John fasih berbahasa Indonesia karena sudah lama tinggal di Bali dan Jogja. Saya bisa kenal John karena salah seorang senior saya di kampus tinggal serumah dengannya. Senior saya ini awalnya rajin salat, namun setelah sekian lama tinggal bersama John jadi tidak mempedulikan agama lagi. Menjadi penganut ateisme? Saya tidak tahu.

Satu pertanyaan yang selalu membayangi benak saya setiap kali mengetahui orang ateis adalah: bagaimana bisa mereka tidak mempercayai Tuhan, sementara ia hidup di dalam hasil karya Tuhan? Bahkan orang ateis itupun adalah 'produk' Tuhan. Kalau yang jadi alasan mereka tak pernah melihat Tuhan, lalu apakah mereka juga harus melihat wujud (maaf lagi) kentut dulu baru percaya kalau kentut itu ada?

Biasanya para ateis mempunyai sekeranjang pertanyaan menohok tentang Tuhan untuk mempertahankan argumennya. Jika Tuhan ada, mengapa ada kejahatan? Jika semua diciptakan Tuhan, siapakah pencipta Tuhan? Dapatkah Tuhan membuat batu yang Dia sendiri tidak bisa mengangkatnya? Dan lain sebagainya. Pada intinya, mereka meragukan eksistensi Tuhan dan berusaha membenturkannya dengan ilmu pengetahuan, dengan logika. Sekilas pemikiran mereka tampak logis, namun setelah ditelaah lebih jauh bakal terlihat malah jauh lebih tidak logis.

Ambil contoh pertanyaan "Jika Tuhan ada, mengapa ada kejahatan?" Dengan pertanyaan ini kaum ateis hendak menyatakan, kalau memang Tuhan itu ada mengapa tidak dibuatnya semua manusia itu baik agar dunia ini tenteram. Adanya orang baik dan buruk mereka anggap sebagai sesuatu yang alamiah, tanpa campur tangan Tuhan. Begitu juga dengan proses kelahiran bayi dan jalan nasib manusia, contohnya.

Untuk menjawab pertanyaan ini, cukup ajukan pertanyaan "Apakah jika Bung melihat orang gondrong dan rambutnya tak rapi itu berarti tak ada tukang cukur atau hair stylish?" Tentu saja tidak. Adanya orang berambut gondrong nan kusut bukan berarti tak ada tukang cukur, tapi karena orang tersebut tak mau mencukur dan merapikan rambutnya. Jadi, adanya orang jahat bukan karena tak ada Tuhan, tapi justru karena si orang jahat itu tak mau mendekat kepada Tuhan.

Eko Arryawan Menjawab Ateis Indonesia
Penulis: Eko Arryawan
Tebal: 174 hal.
Penerbit: Media Abadi Ind.
Sebuah diskusi menarik mengenai ketuhanan bersama komunitas ateis Indonesia, dibukukan oleh Eko Arryawan dalam sebuah buku berjudul Menjawab Ateis Indonesia. Meski judulnya terkesan 'berat', namun buku setebal 174 halaman ini dikemas secara ringan dan santai. Lihat saja sampulnya yang bergambar kartun imut. Malah lebih mirip buku anak-anak, bukan? Itu menunjukkan bahwa buku bertema serius ini tidaklah 'berat'. Serius tapi santai, mungkin itu filosofi Eko dalam buku ini.

Karena ditulis berdasarkan diskusi ril dengan para penganut ateis di Indonesia, isi buku ini sangat bisa dipertanggungjawabkan. Penulisnya tak segan-segan mendekati sejumlah komunitas penganut ateisme untuk menggali lebih dalam mengenai ateisme dan para ateis itu sendiri. Hasilnya? Sebuah diskusi menarik yang disajikan secara ringan bahkan cenderung jenaka.

Ingin memiliki buku ini sebagai bekal menangkis ateisme? Kalau melihat dari desain sampul, tebal halaman yang dikaitkan dengan harga, serta sistem distribusinya, buku ini sepertinya diterbitkan secara indie alias self publishing. Jadi mungkin Bung tidak bisa mendapatkan buku ini di toko-toko buku umum. Tapi jangan kuatir, buku ini bisa didapatkan melalui akun Facebook penulisnya, lovepassword. Harganya? Rp30.000 saja. Kemahalan? Tenang, dengan uang sebesar itu Bung bakal mendapat buku plus DVD.

Oya, Bung juga punya kesempatan untuk mendapatkan buku plus DVD Menjawab Ateis Indonesia secara gratis. Caranya? Gampang. Ikuti saja kontes review buku Menjawab Ateis Indonesia yang diadakan oleh Mbak Fanny alias Sang Cerpenis Bercerita. Ada 5 buku + DVD gratis yang bakal dibagikan, belum termasuk 2 novel sumbangan Mbak Fanny sendiri. Keren!


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

2 komentar:

  1. oke bung Eko,makasih atas partisipasinya. btw, namanya sama dg si penulis nih. he he he...

    Saya catat dulu ya.

    BalasHapus
  2. Bung Eko, kaum ateis itu tidak hanya bertanya, tapi mereka juga berusaha menjawab, bahkan juga menjawab pertanyaan2 para teis. Dan posisi ateis itu justru seringkali diyakini setelah mereka melakukan proses tanya/jawab ini. Kalau memang buku ini hanya menjawab pertanyaan kaum ateis maka bisa saya pastikan buku ini jauh lebih dangkal dari diskusi saya dan kaum teis vokal seperti Sukamto, Rogult dan Megtroy di milis ateis yahoogroups.

    BalasHapus