Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Kamis, 06 Oktober 2011

Bukannya gila perempuan kalau saya memposting presenter cantik Marissa Anita setelah posting Polwan cantik Briptu Eka Frestya dan pedangdut Ayu Ting Ting nan jelita.



Yang jelas, secara pribadi sosok Marissa memang layak dijadikan inspirasi. Bayangkan, presenter program 811 Show di Metro TV ini menguasai 5 bahasa asing! Ia juga tercatat sebagai salah satu dari 6 lulusan terbaik program magister jurnalistik University of Sidney, Australia. Hmmm, keren, bukan?

Marissa lahir di Surabaya, 29 Maret 1983. Ia merupakan anak kedua dari 3 bersaudara. Kedua saudaranya laki-laki, jadi ia merupakan anak tengah yang diapit dua saudara laki-laki. Dalam khasanah budaya Jawa, anak seperti Marissa ini disebut "sendang kapit pancuran". Artinya, kolam diapit pancuran. Dan orang Jawa percaya anak seperti ini bakal gilang-gemilang alias sukses dan makmur hidupnya.

Marissa melewati masa kecilnya dengan berpindah-pindah kota mengikuti orangtuanya. Hidup sebagai perempuan satu-satunya diantara dua saudara lelaki membuat dirinya tumbuh sebagai cewek tomboy. Meski begitu, kedua orang tuanya tetap mendidiknya sebagai seorang perempuan. Diantaranya dengan melibatkan Marissa dalam tugas-tugas rumah tangga, seperti mencuci piring, menyapu, dll.

Selepas dari SMA Marissa masuk ke Universitas Atma Jaya Jakarta. Ia memilih jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sejak kecil ia memang sangat menyukai bahasa asing. Bahasa pertama yang ia pelajari tentu saja bahasa Inggris, yakni sejak SMP hingga kemudian kuliah. Selanjutnya, ia mulai mempelajari bahasa Jepang, Prancis, Mandarin, dan Italia. Ini sebuah keistimewaan mengingat kelima bahasa yang dikuasainya memiliki perbedaan tata bahasa yang sangat mencolok. Hanya Prancis dan Italia yang sedikit mirip.

Terjun ke Dunia Jurnalistik
Begitu lulus S1 di tahun 2005 (catat, IP-nya 3.82!), ia bekerja sebagai instruktur Bahasa Inggris di English First, salah satu lembaga pendidikan bahasa, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Pekerjaan tersebut tak ditekuninya lama-lama, sebab ia memutuskan untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang S2. Tidak tanggung-tanggung, ia memilih jurusan jurnalistik di University of Sidney yang terletak di negara bagian New South Wales, Australia.

Marissa Anita (Metro TV)Sembari kuliah Marissa mulai terjun ke dunia jurnalistik dengan menjadi kontributor media di Indonesia. Ia juga sempat magang sebagai reporter di majalah Indonesia Tatler selama 3 bulan. Tahun 2008 baru ia masuk ke Metro TV. Sebagaimana lazimnya di dunia media, sebagai orang baru Marissa ditempatkan di lapangan sebagai reporter. Total 3 tahun pertamanya di Metro TV dihabiskan sebagai reporter yang harus memburu berita di lapangan.

Sebagai reporter Marissa punya kenangan tak terlupakan saat berhasil mewawancarai Fatima Bhutto, penyair dan penulis Pakistan. Ia juga sempat mewawancarai penulis Slumdog Millionaire, Vikas Swarup. Untuk tokoh lokal, Bob Sadino adalah salah satu tokoh top yang berhasil ia ajak ngobrol-ngobrol secara khusus.

Sejak November 2010, baru Marissa menjadi news anchor di studio. Awalnya di program Headline News, lalu Metro Pagi, sampai akhirnya didapuk membawakan program 811 Show bersama dua arjuna Metro TV, Tommy Tjokro dan Prabu Revolusi.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

2 komentar:

  1. Pada awal kalimat kata Pedangdut, itu kurang huruf "e".
    Baru tau juga, kalau jadi anchor itu juga dari reporter ya, Sekolah sampai luar negeri dan jadi lulusan terbaik. Salut juga bung.Postinganya sungguh menginspirasi. Tapi kalau aku pribadi tetep pilih Briptu Eka Frestia.

    BalasHapus
  2. ikhwan:
    Trims koreksinya, Bung. Ya, sebelum jadi anchor atau penyiar, biasanya ditempa dulu di lapangan sebagai reporter. Tapi ada beberapa televisi yang langsung menempatkan karyawan baru sebagai presenter, meskipun tak punya basic jurnalistik. Ya, sekedar pembaca berita saja.

    BalasHapus