Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Selasa, 25 Oktober 2011

BENAR apa kata teman-teman saya dulu. Saat saya hendak menikah, sejumlah memberikan nasihat seragam: jangan sampai tinggal serumah dengan mertua setelah menikah!

Alasan mereka, sebagai suami saya tak akan punya taji jika tinggal seatap dengan orang yang lebih tua. Jangan kata urusan-urusan penting, untuk urusan sepele seperti memilih mainan anak pun saya bisa kalah. Begitu kata teman-teman waktu itu.

Soal tak punya taji mungkin ada benarnya. Tapi tunggu sebentar, memilih mainan anak dibilang sepele? Tunggu dulu. Tampaknya kegiatan yang satu memang sepele, tapi ini sangat penting. Berbagai literatur mengatakan bahwa apa yang dimainkan anak ketika kecil turut mempengaruhi sikap, sifat, dan juga kejiwaanya kelak saat dewasa. Karenanya, para orang tua dihimbau untuk tidak sembarangan membelikan mainan bagi anak-anaknya.

Saya pribadi meyakini betul hal ini. Bagi saya, rumus “mahal = bagus” tidak berlaku saat memilih mainan anak. Saban kali ke toko mainan anak, sebelum memutuskan membeli sebuah barang saya selalu bertanya dalam hati, “bagaimana cara anak saya memainkannya nanti?” Tak jarang sambil bertanya begitu saya membayangkan dua junior saya sedang memainkan mainan yang saya pegang.

Merangsang Anak untuk Aktif dan Kreatif
Keputusan membeli atau tidak ditentukan oleh jawaban dari pertanyaan tersebut. Apa yang saya bayangkan dilakukan anak-anak saya dengan mainan yang hendak dibeli jadi patokan utama. Jika kebetulan istri saya ikut berbelanja, maka pendapatnya bisa jadi pemutus kebimbangan atau malah pengambil keputusan.

Permainan yang membuat anak terus aktif bergerak sangat saya utamakan. Contohnya saat anak saya sedang belajar merangkak, saya belikan mainan berupa figur hewan yang dapat melompat-lompat. Ada juga figur hewan atau mobil yang dapat berjalan sendiri dengan menarik seutas tali di bagian belakangnya. Dengan mainan model begini, anak saya jadi terangsang untuk aktif merangkak mengejar-kejar mainannya.

Saya juga suka mainan yang mampu mengasah intelejensia anak. Lho, memangnya anak kecil sudah bisa berpikir? Mungkin begitu pertanyaan sebagian dari kita para orang tua. Tentu saja sudah, namun dengan kapasitas yang sesuai usianya. Seiring pertumbuhan si anak, ukuran otaknya akan ikut membesar dan kemampuan berpikirnya menjadi lebih baik. Namun jangan salah, perkembangan otak tak selalu sejalan dengan perkembangan intelejensia. Otak yang membesar tak menjamin kecerdasan anak ikut meningkat.

Untuk urusan intelejensia, peran orang tua dalam merangsang kecerdasan anak sangat berpengaruh. Hal ini dapat dilakukan dengan memilih mainan yang tepat bagi perkembangan kecerdasan anak. Pilihlah mainan yang membuat anak berpikir kreatif. Tak perlu rumit-rumit, misalnya balok-balok yang dapat disusun menjadi bentuk tertentu. Kubus dengan lubang beraneka bentuk, di mana anak dapat mencocokkan bentuk benda dengan lubang, juga bagus. Pilihan lain misalnya puzzle sederhana berbentuk hewan, rumah-rumahan, atau lilin aneka warna yang bisa dibentuk menjadi apa saja.

Tak Harus Beli
Foto: dok. pribadi
Damar mainan mug.
Sebagai orang tua dengan penghasilan tak menentu, saya tak bisa seenaknya membeli mainan untuk anak. Saya PNS, tapi bukan pegawai negeri sipil lho, melainkan pencari nafkah serabutan. Disebut serabutan karena saya mencari uang dengan banyak cara sekaligus: menulis, berjualan uang lama di internet, ngeblog, dan lainnya. Orang-orang yang tak paham pekerjaan model begini dengan enak menyebut saya pengangguran. Tak apa, itu urusan mereka.

Nah, karena tak punya penghasilan tetap, baik waktu mendapatkan maupun jumlahnya, maka membeli mainan anak bukan prioritas bagi saya. Jangan salah baca, yang “bukan prioritas” adalah membelinya, mainannya jelas jadi prioritas. Mana mungkin saya mengabaikan perkembangan anak. Tetap saja mainan anak jadi perhatian utama saya dan istri, tapi kan tidak harus beli. Saya mengakalinya dengan mengubah berbagai benda bekas pakai menjadi mainan, meskipun sangat sederhana.

Botol-botol bedak yang sudah tidak terpakai, misalnya, saya kelupas habis plastik mereknya sehingga menjadi putih polos. Cukup berbekal spidol, saya gambar badan botol dengan aneka bentuk menarik. Selain itu, menyusun botol-botol bedak lalu merobohkannya sempat jadi permainan favorit anak sulung saya, Damar, yang saat itu masih berusia 7-8 bulan.

Kotak susu atau bubur juga tidak pernah saya buang. Awalnya sih saya kumpulkan untuk dijadikan pelapis surat berisi pesanan uang lama. Tapi belakangan saya lihat kotak-kotak tersebut bisa jadi permainan menarik. Yang simpel adalah menyusun kotak tinggi-tinggi ke atas, lalu dirobohkan. Terkadang saya buat dua susunan, kemudian Damar saya minta merangkak diantara kedua tumpukan tersebut. Kalau mau lebih repot, kotak-kotak tadi bisa disusun menjadi rumah-rumahan lho.

Anak saya tak kalah kreatif. Setiap kali saya pulang belanja, kardus wadah belanjaan yang telah kosong ia dorong-dorong ke sana-sini sambil menirukan suara mobil. Untuk anak berusia kurang dari setahun, permainan begini tentu sudah sangat mengasyikkan. Jika bosan ia akan masuk ke kardus, atau membalikkannya dan kemudian naik dan berjoget-joget di atasnya. Dulu, saat anak sulung saya ini belajar berdiri, kardus-kardus yang saya tumpuk di kamar membantunya merambat dari satu sudut ke sudut lain.

Begitulah. Bagi saya, cara terbaik untuk mengajari anak kreatif adalah dengan menunjukkan kreativitas yang kita punya. Mainan memang memegang peran di sini, namun kreativitas orang tua seharusnya lebih dominan. Kalau pas dapat uang banyak, tentu saya siapkan anggaran khusus untuk membeli mainan anak. Tapi kalau cuma cukup untuk beli susu dan kebutuhan primer, ya mainannya saya buat saja sendiri.

Semoga bermanfaat.

“Artikel ini diikutsertakan pada Mainan Bocah Contest di Surau Inyiak.”


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

22 komentar:

  1. Benar sekali Bung Eko... Mainan anak tidak harus mahal dan mewah. Apapun yang ada di sekitar kita bisa jadi mainannya. Yang terpenting adalah, mainan tersebut tidak berbahaya dan mampu memberi rangsangan bagi pertumbuhan sang anak...

    Terima kasih atas kiriman artikelnya.
    Saya sudah catat sebagai salah satu peserta dalam MAINAN BOCAH CONTEST

    BalasHapus
  2. pilihan orang tua pilihan yang terbaik tentunya.salam.

    BalasHapus
  3. saya juga pernah dikasih tau, bahwa mainan anak kecil sangat memepengaruhi perkembangannya. pernah seorang ibu bercerita, sewaktu anaknya masih balita, dia memberikan buku2 dan alat tulis, tp setelah besar anaknya menjadi kutubuku, dan jd anak yg pintar. :D

    terimakasih sharingnya. :)

    BalasHapus
  4. oh, ya. semogamenang kontesnya. :)

    BalasHapus
  5. Setuju Bang,mainan anak tidak harus mahal dan bagus,tergantung kita menggunakannya.
    Mainan mahal,kalo si anak di suruh main sendiri ga ada penjelasan apapun,bingung..
    Yang ada di rumah pun mainan,alat2 masak,kalo anak di kasih tau ini loh buat ini..buat itu..
    bermain sambil belajar..

    Bung salam kenal kembali ya..

    BalasHapus
  6. @Vizon:
    Yup, mainan yang terbaik adalah yang meningkatkan aktivitas dan kreativitas anak kita. Tidak perlu mahal-mahal kok. Btw, trims Uda atas kemurahan hatinya membolehkan artikel ini ikut dalam kontes mainan bocah. :D

    @Wasyoko:
    Betul, saya setuju itu. Salam balik.

    @Erwin:
    Ya, saya percaya itu. Cuma sayang saya lupa di mana dulu membaca literatur soal hubungan mainan dengan perkembangan anak. Btw, trim atas support-nya.

    @nchie:
    Tak harus mahal, yang penting adalah merangsang kreativitas dan perkembangan kecerdasan anak. Mahal-mahal kalo cuma dibanting-banting trus rusak, untuk apa coba? Apa gak tekor? Hehehe...

    BalasHapus
  7. Huheheh...bener mas.
    Gak perlu beli selagi ada barang lain yang bisa dimanfaatkan jadi mainan anak2 :D
    Asal aman ya gak jadi soal.
    Hemaaat :))

    BalasHapus
  8. Kalau saya untuk mainan anak sebisanya anak diajari cara membuatnya agar si anak memiliki kreatifitas yang baik, salam...

    BalasHapus
  9. @Zippy: Hehehe, saya suka sekali poin 'hemat' itu. :D

    @Amin: Nah, ini jauh lebih baik. Kalau anak sudah agak gede, emang sebaiknya diajarkan membuat mainan sendiri, ketimbang beli.

    BalasHapus
  10. Kebetulan anak saya baru berusia 1,5 tahun, lagi getol2nya cari mainan buat buah hati tercinta nih. Thanks buat tulisannya ya mas, bisa buat bahan rekomendasi saya mencari mainan yang baik untuk anak.

    BalasHapus
  11. Iya ya, kalau dipikir-pikir, memang mainan itu turut berpengaruh terhadap perkembangan anak.

    Oh iya, saya pernah lihat buku "Kreasi dari Barang Bekas" untuk anak. Jadi anak diajak untuk membuat aneka mainan dari barang bekas. Ada ilustrasi dan langkah per langkah. Kalau anak-anak Bung Eko sudah SD, mungkin buku itu bagus untuk mereka, hehe....

    BalasHapus
  12. anak anak emang cerminan profil yang sangat kreatif... kita terkadang akan kewalahan menghadapi kreatifitas mereka.. jangan sampai sisi tersebut kita block dengan mengintimidasinya dengan kata-kata yang mengandung 'negasi'..

    BalasHapus
  13. seperti.. jangan, gak boleh, tidak, serta larangan larangan lainnya :(

    BalasHapus
  14. setuju bung.
    sbg ortu kita memang hrs jeli dan kreatif untuk mendidik anak. mainan juga. saya juga sering membuatkan fathn mainan sendiri. ga hrs beli

    BalasHapus
  15. Semoga anaknya jadi cerdas, cerdik, tangkas tapi sekaligus baik, mengingat betapa care-nya sang bapak pada mereka. Selamat yah Mas Eko

    -- Evi
    http://eviindrawanto.com

    BalasHapus
  16. @Dwi Wahyudi: Anak saya yang fotonya ada di posting ini sekarang sudah 1,5 tahun. Cuma soal mainan saya apap adanya aja, pinter2 ngajak dia memainkan apa saja yang ada di sekitar.

    @Ditter: Buku menarik tuh, Bung. Boleh tahu gak itu terbitan mana ya? Coba tar saya cari di toko-toko buku online, barangkali masih ada.

    @Majalah Masjid: Untuk poin yang satu ini saya sepakat betul, Bung. Tapi persoalannya, bagaimana kalu kita memang harus mengeluarkan kata 'jangan', 'tidak boleh', dst? Misalnya pas anak mainan api? Ini kadang masih buat saya bingung.

    @Rumah Mauna: Hehehe, kira-kira begitulah, Mbak. :D

    @Evi: Terima kasih atas doanya. :D

    BalasHapus
  17. Wah, saya termasuk orang tua yang kurang kreatif, Mas dalam soal mainan begini. Kedua anak saya waktu kecilnya tak pernah saya buatkan mainan. Biasanya ya langsung beli aja sesuai apa yang dia mau.

    Saya pernah baca-baca kalau anak kecil sebaiknya memang diberikan mainan yang merangsang kreativitas dan membuat mereka supaya aktif. Tidak disarankan memberi anak-anak dengan mainan yang membuat mereka duduk diam (anteng). Contoh seperti memberi tontonan TV katanya kurang baik karena saraf motoriknya akan diam tidak berkembang. Apalagi tontonan TV rata-rata tidak layak tonton.

    OOT: Saya ingin mengomentari tentang pencari nafkah serabutan (PNS). Meski orang bilang serabutan atau pengangguran, justru itu yang kepingin saya lakukan, Mas. Saya sudah bosan jadi orang kantoran dan kepingin pensiun dini. :D

    BalasHapus
  18. @pri crimbun: Hehehe, kurang-lebih begitulah.
    @Surabaya Animal Care (SAC): Ya, mudah2an bermanfat.

    @Joko Sutarto: Hehe, saya juga gak kreatif kok, Pak. Asal jadi aja, dan yang penting anak seneng. Soal PNS, hehe...

    BalasHapus
  19. Alhamdulillah, akhirnya saya pun selesai juga mengerjakan tulisan untuk ikut kontes yang satu ini. Semoga ikhtiar ini bisa membuahkan hasil maksimal . Amin. Saling mendoakan ya, insha Allah.

    Oh ya, saya juga sedang mengadakan kontes menulis Endorsement for Abi Sabila. Mohon doanya, dan saya tunggu partisipasinya. Terima kasih

    BalasHapus
  20. asal ortu kreatif, anak mungkin akan ikut kreatif ya pak. salam kenal :) sukses ngontesnya....

    BalasHapus
  21. @Abi Sabila: Wah, ikutan juga ya? Sip deh kalo gitu, saing mendoakan aja. Btw, insya Allah saya ikutan kontes menulis endorsement-nya. Mudah-mudahan masih sempat.

    @nurlailazahra: Ya, kurang-lebih begitulah, Mbak. Hehehe...

    BalasHapus
  22. ..
    wah idenya kreatif sekali Bung, memanfaatkan apa yg ada buat mainan gak perlu beli..
    semoga si kecil menjadi anak yg kreatif dan cerdas.. amiin..
    ..

    BalasHapus