Musik Membuat Hidup Lebih Asyik

Oleh: Eko Nurhuda | Minggu, 30 Oktober 2011 pukul 00.10 WIB

SIAPA tak suka mendengarkan musik? Bukan cuma musisi, abang becak pun suka. Bagi blogger dan penulis yang setiap hari stand by di depan komputer, mengetik terasa tak asyik tanpa iringan musik. Sepanjang MS Word atau OpenOffice terbuka, selama itulah alunan musik terdengar dari Winamp atau jetAudio.

Ya, musik me- mang mem- buat hidup tambah asyik. Orang cemberut bisa tersenyum karena musik, orang marah bisa mereda emosinya gara-gara musik, orang ngantuk jadi segar kembali setelah mendengarkan musik, sebaliknya orang juga bisa jadi tambah ngantuk begitu mendengar musik. Bahkan, menurut dr. Boyke, aktivitas bercinta pun bakal lebih nikmat dan bergairah bila diiringi musik.

Dilema Bernama Album
Satu-satunya yang tidak asyik dari musik adalah, untuk mendengar musik kita musti membeli album. Kok tidak asyik? Ada dua alasan kenapa membeli album musik jadi tak asyik.

Maher Zain, tak semua lagu dalam albumnya enak didengar.Pertama, harga album baru tergolong mahal. Harga kaset saja rata-rata Rp25.000/keping, apalagi yang berbentuk CD/DVD. Ini album musisi lokal lho, harga album musisi manca lebih mahal lagi. Bagi penyuka musik dari golongan ekonomi menengah ke atas mungkin tak ada masalah. Tapi bagi masyarakat bawah uang Rp25.000 begitu berarti. Daripada untuk beli album mending untuk makan. Musisi tak bisa mengabaikan pembeli dari golongan bawah karena jumlah mereka jauh lebih banyak. Sialnya, harga album tak bisa ditekan lebih rendah karena biaya produksinya memang tinggi.

Kedua, tak semua lagu dalam album tersebut disukai pembeli. Contoh, dari 13 lagu dalam album No Baggage-nya Dolores O’Riordan (2009), saya cuma suka sekitar 5-6 lagu. Bagaimana dengan lagu-lagu lainnya yang tak saya sukai? Mau dibuang sayang, tapi disimpan terus juga percuma orang saya tak suka. Bagi pembeli tentu saja ini pemborosan.

Sulit sekali menjumpai sebuah album yang lagunya enak semua. Legenda musik dunia seperti The Beatles, The Rolling Stone, atau legenda musik lokal macam Koes Plus sekalipun tak semua lagunya enak didengar. Penyebabnya tak selalu soal kreativitas musisi, tapi juga strategi pemasaran dari label yang menaunginya. Kalau ada musisi yang bisa menciptakan 10 atau 12 lagu enak, tak mungkin produser merekam semuanya dalam satu album. Akan lebih menguntungkan jika lagu-lagu tersebut dipecah menjadi 2-3 album. Inilah sebabnya mengapa dari 10-12 lagu dalam sebuah album, pasti ada beberapa yang tidak kita sukai.

Nah, karena tak mau membeli kucing dalam karung, penikmat musik lebih memilih mengunduh lagu-lagu yang ia sukai di internet ketimbang membeli album utuh. Daripada beli album tapi ternyata lagunya banyak tak disukai, bukankah lebih baik mengunduh lagu yang disukai di internet? Apalagi kalau gratis!

Pembajak Online
Ya, saat tren berbagi via internet semakin mewabah seperti sekarang, aksi bagi-bagi file musik dapat dengan mudah dilakukan. Coba saja cari judul lagu yang Bung sukai di Google, maka halaman hasil pencarian bakal menampilkan banyak sekali situs yang menawarkan file lagu tersebut. Baik situs yang dikelola orang luar negeri, maupun situs milik webmaster lokal. Yang lebih menggiurkan, kita dapat mengunduh lagu-lagu tersebut secara gratis tis.

Ini tentu saja menguntungkan penikmat musik. Bayangkan saja, begitu sebuah lagu dirilis, ketika itu juga versi mp3-nya beredar luas di internet. Siapa saja dan di mana saja bebas mengunduhnya kapan saja. Mau pakai handphone bisa, pakai laptop atau PC apalagi. Tak heran jika pembajakan lewat internet jauh lebih mengerikan dibanding pembajakan konvensional.

Semakin mudah dan murahnya akses internet membuat aksi pembajakan online kian meluas hingga ke daerah-daerah pelosok. Tindakan yang melanggar hak cipta ini tentu saja merugikan musisi. Bila lagu sang musisi bisa diperoleh secara gratis di internet, mengapa harus membeli albumnya? Akibatnya penjualan album musisi tersebut tidak maksimal. Padahal besarnya pendapatan musisi berbanding lurus dengan jumlah penjualan albumnya di pasaran.

Win-win Solution
MelOn.co.id, salah satu pelopor layanan akses musik legal di internet.Keprihatinan akan maraknya pelanggaran hak cipta, khususnya musik, di internet inilah yang kemudian melahirkan layanan penjualan musik secara satuan. Ide ini menjadi jalan keluar yang sama-sama menguntungkan bagi musisi maupun penikmat musik. Orang Amerika bilang, win-win solution. Kalau kata orang Suriname, pada-pada batine.

Konsep menjual musik secara satuan, alias per lagu, sudah lama marak di Amerika dan Eropa. Terlebih sejak diluncurkannya iTunes oleh Apple. Dengan perangkat ini, penikmat musik tak lagi harus membeli satu album utuh. Mereka dapat membeli lagu-lagu yang disukai saja, dan bisa langsung mengunduhnya ke perangkat iTunes. Lebih praktis, lebih ekonomis. Musisi pun tak rugi karena karya mereka dihargai, dibayar.

Ketika Apple meluncurkan smartphone yang diberi nama iPhone, tren membeli musik secara ketengan via internet semakin mewabah. Apalagi vendor-vendor lain juga turut mengeluarkan smartphone. Seiring dengan itu, situs-situs yang melayani penjualan lagu secara satuan bermunculan. Bahkan Amazon.com yang selama ini terkenal sebagai toko buku online pun ikut berjualan lagu dalam format mp3.

Situs-situs begini juga bermunculan di Indonesia, salah satu contohnya MelOn.co.id. Situs yang namanya mirip nama buah ini hadir sebagai salah satu pionir dalam kepedulian terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), terutama di bidang musik. Nama MelOn sendiri merupakan singkatan dari ‘melodi online’, secara langsung mengidentifikasikan dirinya sebagai ‘tempat mencari lagu (melodi) secara online’.

Meski berstatus situs lokal, MelOn tak cuma menawarkan lagu-lagu dalam negeri. Lagu-lagu mancanegara pun ada di sini. Mulai dari lagu Barat, sampai lagu India. Sesuai tagline-nya, "Unlimited Music Download", member MelOn dapat mengunduh atau mendengarkan lagu secara online tanpa batas. Untuk mendaftar pun syaratnya tidak sulit. Cukup masukkan alamat email dan password yang dikehendaki, selesai. Sebagai member baru Bung langsung mendapat layanan gratis selama seminggu. Jika Bung mau memasukkan nomor handphone, gratisannya jadi dua minggu.

Beragam Pilihan Paket Download
MelOn menawarkan lima paket download + streaming dengan harga ekonomis. Paket termurah adalah Paket Streaming. Bayangkan, cuma dengan Rp10.000 Bung bisa mendengarkan lagu apa saja, berapapun banyaknya, secara streaming selama 30 hari! Untuk memudahkan pengguna dalam melakukan streaming lagu, MelOn menyediakan pemutar musik khusus yang dinamai MelOn Player.


Dua dari lima paket murah yang ditawarkan MelOn.co.id.

Kalau Bung mau mengunduh lagu dalam format MP3 dan menyimpannya di handphone atau laptop/komputer selamanya, Paket MP3 Download adalah pilihannya. Karena formatnya MP3, maka lagu-lagu yang sudah diunduh bisa diputar di semua jenis alat seperti iPhone, BlackBerry, Handphone, MP3 Player, komputer, bahkan di-burn ke keping CD/DVD.

Untuk mengunduh 10 lagu berformat MP3 dengan masa aktif tujuh hari, biayanya cuma Rp14.000. Maksudnya, Bung boleh mengunduh maksimal 10 lagu dalam rentang waktu tujuh hari itu. Kalau mau yang masa aktifnya sebulan, biayanya Rp85.000. Mahal? Dengan uang sebsar ini Bung bisa mengunduh 100 lagu lho, itu atinya per lagu hanya seharga Rp850. Bandingkan dengan layanan 'suntik hape' yang memasang tarif Rp1.000/lagu.

Masih kurang murah? Selain paket-paket standar, ada juga semacam bundling 5 lagu MP3 yang ditawarkan dengan harga lebih murah. Jadi, Bung tinggal pilih paket-paket yang berisi 5 lagu (member tidak bisa memilih lagu-lagunya), register, dan unduh deh. Nah, dengan layanan yang sedemikian murah, rasanya kok malu ya bila masih juga mengunduh lagu gratisan yang melanggar hak cipta.

Jadi, tidak ada lagi alasan untuk membajak karya cipta musisi. Juga tak ada lagi alasan untuk tidak mendengarkan musik hanya gara-gara harga album mahal. Ya, kenapa tidak bermusik ria di MelOn saja? Mau mengunduh atau sekedar ber-streaming sambil ngeblog, suka-suka kita. Yuk, ndengerin MelOn hari ini!

Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Artikel tentang MUSIK yang diadakan Sarikata.com dan MelOn.co.id.


Dipublikasikan dari pelosok daerah transmigrasi di Desa Talang Datar, Kec. Bahar Utara, Kab. Muaro Jambi, Jambi, dengan layanan internet XL Axiata.

Creative Commons License

Tulisan berjudul "Musik Membuat Hidup Lebih Asyik" oleh Eko Nurhuda ini dilindungi lisensi Creative Commons. Anda bebas menyalin, mempublikasi ulang, dan atau mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan untuk tujuan nonkomersil dengan menyebutkan sumber artikel.

13 komentar:

  1. sek..sek...sebentar mas,tak nyruput kopi dulu sebelum koment,kayaknya menarik analisa panjenengan,,..

    ________________________________________________

    album dan musisi,2 sisi mata uang yang tak boleh lepas dan pisah,seorang musisi belum afdol kalau belum punya album,belum bisa di sebut penyanyi "papan atas" jika belum punya album...

    sayangnya,karena tingkat apresiasi masyarakat yang rendah membuat sang artis/musisi enggan membikin album pada era tahun 2000an,mereka lebih suka membuat sebuah single,murah meriah...

    buat singlenya,lalu kontak operator/provider telekomunikasi,bikin RBT,selesai,bebas dari pembajakan...

    tapi,di mana letak nikmatnya jika kita hanya mendengar sepotong bait via RBT?telinga yang tdk normal pun akan kesulitan merasakan nikamtnya sebuah karya seni bernama musik jika hanya mendengar reffrent saja...

    dilema,membikin album resiko di bajak,membikin single pasti akan di caci penikmat seni..toh walaupun sudah ada situs unduh music berbayar,tetap saja kembali ke masyarakat,katakanlah hari ini saya mengunduh lagu via situs melon.co.id,saya membayar hak musisi,tapi ketika proses unduh selesai,handphone saya taruh meja,kemudian adek mentransfers lagu via bluetooth,percuma toh...

    harus jalan bergandengan mas,musisi,masyarakat,serta stakeholder terkait...tapi semoga saja 10 tahun ke depan masyarakat sudah sadar dan menghargai para musisi...

    kenapa masyarakat nggak mau beli yang asli?mahal,kenapa mahal?..di sinilah peran negara bermain,negara mata duitan,saya pernah bincang-bincang dengan personil rif,kang Andi,tahun 99 silam..saya tanya berapa sih biaya bikin album dan promo,mengapa album yg original mahal?

    ternyata jawabnya sungguh di luar dugaan,biaya pembuatan album dan promo,sebenarnya sudah bisa tercover oleh show off air,artinya pendapatan dari tour keliling Indonesia sudah bisa menutupi biaya pembuatan album dan promo sang produser dan penyanyi,mengapa harga album mahal? karena negara meminta pajak hampir 50% dari harga sebuah album,apa nggak gila?

    karena biaya produksi untuk sebuah album cd original sebenarnya hanyalah Rp.8000,-,ditambah biaya pembuatan cover + ongkos distribusi ketemu angka Rp.12.000.- ..pajak negara yg bikin mahal....

    negara turut andil membunuh musisi dgn pajaknya yg mencekik...

    BalasHapus
  2. Wah bagus juga nih Bung, saya akan cek e TKP dech dan kalau bisa akan juga ikutan mereview :D
    Tapi lagunya yang terunduh itu kan tidak hanya bisa di putar saat masa aktifnya saja kan ? kalau cuma bias diputar di masa aktifnya saja, berarti kita cuma bisa memutarnya saat di awal saja setelah itu gak bisa lagi.

    Waduh koq banyak nanya nih, langasung meluncur saja ah...... >>>>

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    BalasHapus
  3. Tapi jangan mbajak membajak lagu lokal lah yaaaa... apalagi pemusik pemula, klo mbajak yang luaran dan artisnya dah cukup kaya sih masih agak mendingan... :)

    BalasHapus
  4. Seharusnya pemerintah juga bisa berperan dalam membantu musisi indonesia, yaitu dengan cara mengurangi pajak dari musik tersebut sehingga membantu musisi dalam menjual musik mereka. Saya juga musisi di kota saya Malang namun tentu saja saya hanyalah musisi band indie yang berdiri dengan uang kami sendiri. Tapi dengan adanya DRM seperti layanan meLon tersebut saya rasa justru malah mengekang kebebasan konsumen menurut saya, karena sifat dari musik itu sendiri adalah kekal tak lekang oleh waktu, dan tentu saja kita tidak mendengarkan beberapa lagu yang sama dalam tempo waktu 1 minggu atau 1 bulan saja bukan?

    Memang dengan adanya DRM waktu yang diberlakukan oleh MeLon ini cukup inovatif, murah, serta menarik. Tetapi apabila dukungan pemerintah cukup pasif ya pada akhirnya percuma saja, apabila memang hukum tentang HAKI semakin ketat di Indonesia mungkin masih banyak rakyat kita yang lebih memilih mengambil resiko mendownload musik ilegal daripada membeli lagu yang hanya bisa diputar dalam jangka waktu tertentu

    BalasHapus
  5. Bajak-bajakan kalu di sawah tentu butuh sapi; kalau bajak musik... emh pasti perlu teknisi, iya Bro.. Namun bukan itu masalahnya.

    Musisi kita dalam dekade terakhir memang kian menjamur. Ada kemungkinan, warna dan logat para musisi muda "kesetrum" gaung musisi mancanegara. Begitu pula sebaliknya, musisi mancanegara tentu dapat juga disentuh kleningan dalam negeri.

    Yang pasti, musik memang dapat membuat hidup lebih bergairah, blogging lebih trengginas! Salam sahabat, semoga postingan ini masuk nominasi!

    BalasHapus
  6. wah, iya, jadi banyak yg ragu kalau mau masuk industri musik. banyak yg di bajak.

    BalasHapus
  7. @wid: Walah, walah, saya malah baru tahu info ini, Mas Wid. Kalo gitu ceritanya mirip dengan pajak buku dunks. Buku mahal-mahal karena pajaknya lumayan gede, cuma bebapa jenis buku saja yang dibebaskan pajak. Wah, kalo pajak album sampe 50%, bener kalo sekarang pada rame-rame buat single saja. Atau album keroyokan, trus ngandalin RBT sm show. Pemerintah harus mengubah paradigmanya nih soal pajak musik.

    @Sugeng: Layanannya ada yang berbatas waktu kaya RBT, tapi ada juga yang lagunya bisa kita miliki selamanya. Cek wae, Mas. :D

    @Seputar Jakarta: Hehehe, mbajak lagu-lagunya Michael Jackson yang udah mati aja kali ya. :D

    @Graha Nurdian: Wah, opini menarik nih dari sisi musisi. Kalo menurut saya sih, justru layanan seperti MelOn ini jalan tengah bagi musisi dan penikmat musik. Yang mau mengunduh secara legal gak keberatan dengan biayanya, sedangkan musisi tetap dapat pemasukan. Entah kalau musisinya idealis atau bermusik cuma for fun. :D

    @CahNdeso: Masuk nominasi apaan? Tapi bener kok, musik membuat hidup lebih asyik. Cuma bagi sebagian orang musik itu membuat hidup jadi berisik. Hehehe...

    @Hanif: Ya gitu deh...

    @vitalitas: trims, tapi ini sama sekali gak nice comment. :D

    BalasHapus
  8. Iya sih lebih murah, tapi masalahnya masyarakat kita kurang peka dalam hal begini, namun saya yakin melon berpotensi menjadi pemain besar suatu saat nanti

    BalasHapus
  9. Dulu, sebelum zaman mp3 mewabah, saya suka sekali beli kaset dari artis2 yang disuka. Sebagai pengagum berat musik grunge, saya pasti beli albumnya, seperti misalnya dari Nirvana.

    Mungkin faktor fanatisme jg berpengaruh ya bung pada faktor psikologis untuk membeli album mp3 versi CD. Kalau saja Nirvana masih hidup dan ngeluarin album CD, kemungkinan saya beli juga tuh :D

    Nah, solusi dari MeLon bagus juga tuh. Kapan2 saya mesti coba :D

    BalasHapus
  10. melon juga uda ada iklannya ya di tipi,salut moga pemasarannya ga mandek buat edukasi supaya pembajakan turun :)

    BalasHapus
  11. berkunjung sob..salam blogger
    sukses selalu yah..:)

    BalasHapus
  12. Entah gimana hidup ini, jika tanpa musik

    BalasHapus

Terima kasih telah mengunjungi bungeko.com. Semoga apa yang saya tulis di blog ini bermanfaat bagi Bung Pembaca. Silakan tinggalkan komentar untuk menanggapi, mengoreksi, atau bahkan mencaci isi posting ini. Tapi mohon dicatat, no SARA, no SARU. Salam.

Big Match Pekan Ini

vs

Semifinal II Liga Champion
Kamis, 1 Mei 2014 pkl. 02.45 WIB

Hasil-hasil:
B. Muenchen 0-4 R. Madrid
()

 
© 2009-2014 bungeko.com - All Rights Reserved
Desain tampilan: Creating Website, Modifikasi tampilan: Eko Nurhuda