Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Jumat, 28 Oktober 2011

Namanya Nieko Messa Yudha, seorang pebisnis muda yang cukup mapan.



Semenjak menikahi putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, ia mendapat gelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) dan punya nama baru Wironegoro. Nah, saya menemuinya dalam kapasitasnya sebagai Direktur Eksekutif Jogja National Museum (JNM). Sedangkan saya waktu itu sedang magang sebagai wartawan di Harian Jogja.

Ceritanya saya disuruh mewawancarai sang Pangeran mengenai JNM.

Pertama kali dapat tugas tersebut, seperti biasa saya santai-santai saja. Tapi begitu tahu kalau yang harus ditemui adalah seorang Pangeran bergelar KPH, walah, tiba-tiba saja saya jadi grogi. Dua minggu lebih tugas tersebut tidak saya garap. Meskipun nomor HP sudah di tangan dan alamat JNM sudah dikantongi, tapi saya tak kunjung turun ke lapangan. Grogi abisss..!

Beberapa lama kemudian, karena terdorong rasa tidak enak sama redaktur yang mengasuh saya, akhirnya nekat juga saya mengontak sang Pangeran. Sebelumnya saya sempat browsing di internet mengenai JNM dan juga KPH Wironegoro. Dapat beberapa referensi yang memberi bocoran sedikit, dan ini membuat saya bisa sedikit rileks. So, saya pun menelepon.

Salah Tingkah
Begitu telepon diangkat jadi kikuk juga. Mau pakai panggilan apa nih? Masa iya mau memanggil lengkap KPH Wironegoro? Rasanya tidak mungkin deh. Akhirnya nekat saya sok akrab saja dan panggil Mas Nico yang memang jadi panggilan akrabnya. Hehehe. Tahu tidak, ternyata kemudian KPH Wironegoro menyebut dirinya sebagai Wiro. Tentu saja saya jadi salting karena merasa salah panggil. (^_^)

Untungnya semua berjalan lancar. Kami membuat janji dan bertemu keesokan harinya di JNM. Ugh, betapa senangnya bisa bertemu dengan kerabat dekat Kraton Yogyakarta. Bayangkan, istri KPH Wironegoro merupakan calon penerus tahta Kraton Yogyakarta karena berstatus anak sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X. Itu artinya, kalau boleh GR nih, saya sedang berhadapan dengan suami calon Ratu Yogyakarta. Hehehe...

Sepulang dari wawancara di JNM itu, benak saya berbisik nakal. Untung saja saya bertemu Pangeran di jaman modern seperti sekarang. Kalau saja bertemunya di jaman monarki jadul kala, tentu saya harus terlebih dahulu menyembah sang Pangeran. Bicaranya pun harus dengan bahasa Jawa kromo inggil yang saya sama sekali tidak tahu. Hihihi...

Itulah pengalaman pertama saya bertemu kerabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Mudah-mudahan kelak ada kesempatan untuk bertemu lagi. Amin.

Artikel ini diikut-sertakan pada kontes blog My First Giveaway: Pengalaman Pertama yang diadakan oleh Corat.Coret.Una.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

7 komentar:

  1. Wah, itu pasti pengalaman berharga ya...jarang-jarang bisa ketemu dengan pangeran yang demikian merakyat. Apalagi bisa wawancara langsung begitu...hehe, selamat buat wawancaranya, ditunggu liputannya :D

    BalasHapus
  2. waaaahhh kereeenn mas, hahahaha.. saya dulu sempat berharap pengen ketemu pangeran Jogja, tapi yang masih bujang.. hehe.. tapi kalo liat bung Eko yang dag dig dug gitu, apalagi saya..

    BalasHapus
  3. Pengalamannya Sesuatu banget deh.. :D
    mmm tapi kalo saya pengen ketemu sama putri kraton jogja yg masih single.. :p

    BalasHapus
  4. Selamat atas wawancaranya...
    Sukses juga untuk Harjo alias Harian Jogja

    BalasHapus
  5. Wkwkwkwk, santai mas... yang KPH Wironegoro kan bukan ningrat juga, 'cuma' suaminya si anak sultan. Apa? cuma? *ditoyor sultan* Hahaha... trus kemaren njagong manten anaknya yang bungsu ga?

    Ohya mas, eh salah Bung. Kalau masnya gak nulis komen di tab 'Peserta Giveaway Contest' mungkin aku ga akan baca post ini. Soalnya komen njenengan, masuk di spam :p

    Okeee terimakasih banyakk bung eko~ segera aku masukkan yaaaa. :)

    BalasHapus
  6. @Bintang: Ini cerita jaman saya masih magang di koran, tahun 2009. Hasil wawncaranya sudah keluar kok, Juni atau Juli 2009, saya lupa.

    @dhenok habibie: Hehehe, bener, saya waktu itu sampe deg-degan gimana gitu. Untung aja pas dateng gak langsung ketemu KPH Wironegoro-nya, tapi sekprinya yang ehem-ehem, hehehe.

    @edi wijoyo kusumo: Hehehe, itu namanya rejeki kali ya? Putri Sri Sultan HB X masih ada satu tuh yang belum nikah, tapi entah kalo single.

    @marsudiyanto: Trims, Pak Mars.

    @Sitti Rasuna Wibawa: Ealah, komen pertama saya ditangkap akismet ya, Mbak? Walah, untung saja ada komen kedua. Hehehe...

    Trims a lot sudah menerima saya sebagai peserta giveaway-nya, Mbak. Salam kenal. :D

    BalasHapus
  7. wuah..psti bakal jdi pengalaman yg gak dilupain gr2 salah panggil,,hehe :p
    salam blogwalking

    BalasHapus