SAAT yang diharap-harapkan dunia Barat itupun tiba juga. Kolonel Muammar Khadafi, lelaki pemberani yang memimpin Libya selama 40 tahun lebih, tewas secara terhina di tangan rakyatnya sendiri. Sang kolonel dibunuh di Sirte, kota kelahirannya sekaligus basis pertahanan terakhirnya melawan gempuran tentara National Transitional Council (NTC) yang disokong penuh Barat lewat tangan NATO.Okelah, mungkin benar selama 42 tahun kekuasaannya Khadafi bertindak otoriter dan cenderung kejam. Konon, warga Libya tak berani menebut nama Khadafi di luar rumah. Apalagi menjelek-jelekkan. Sekali ada yang berani nekat menyebut nama sang Presiden, tak lama kemudian rumah orang tersebut didatangi tentara. Hal yang katanya juga sering terjadi di jaman Presiden Soeharto.
Sekejam-kejamnya seorang Khadafi, ia tetap manusia yang layak dihargai. Setinggi apapun dendam dan kebencian warga Libya terhadapnya, Khadafi tak layak diperlakukan dengan hina menjelang kematiannya. Tayangan di televisi-televisi nasional masih mending. Gambar darah di mayat Khadafi saja diblur, tvone malah memblur sekujur mayat sang Kolonel sehingga tak terlihat jelas bagaimana rupanya.
Mati Berkalang Tanah
Foto: thesun.co.ukSadis! Beginilah cara tentara NTC membantai Khadafi setelah ditemukan bersembunyi memegang pistol emas di sebuah pipa beton.Karena menggunakan antena parabola, saya bisa mengikuti pemberitaan di televisi asing seperti al-Jazeera, France 24, RT, atau Channel News Asia yang berbasis di Singapura. Tanpa tedeng aling-aling suasana 'penghinaan' terhadap mayat Khadafi dipertontonkan. Kalau Bung pernah mendengar istilah 'mati berkalang tanah', seperti itulah kondisi Khadafi. Berita sebelumnya menyebutkan Khadafi tewas dalam perjalanan ke rumah sakit, namun dalam gambar yang ditayangkan al-Jazeera tampak jelas sejumlah peluru bersarang di tubuh Khadafi yang dibiarkan tergeletak di tanah. Darah masih membanjiri tubuhnya, dikerumuni warga dan tentara NTC.
Bayangkan, saat kemudian disemayamkan di sebuah rumah sakit di Misrata, puluhan orang dibiarkan berfoto-foto bersama mayat Khadafi. Sakit! Wajar bila media Barat menampilkan video tersebut, sebab dengan begitu pencitraan buruk yang mereka timpakan pada Khadafi selama ini mendapat bukti nyata. "Lihatlah, warga Libya benar-benar membenci Khadafi!" Begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan media Barat. Memang sulit dibuktikan, tapi kematian Khadafi jelas merupakan pesanan Barat. Siapa lagi yang berkepentingan menghabisi Khadafi kalau bukan para pemimpin Barat yang haus minyak itu?
Meski kagum bukan main terhadap keberaniannya menentang dunia Barat, saya bukan pengagum Muammar Khadafi. Tapi melihat perlakuan yang diperolehnya menjelang dan setelah tewas, sebagai manusia saya merasa shock. Sebagai sesama muslim, saya mengurut-urut dada melihat kelakuan tentara NTC dan warga Libya. Bagaimana bisa mereka meneriakkan "Allahu akbar!" sambil memukul, menendang, dan menyeret-nyeret seseorang yang sudah tak berdaya?
Sekali lagi, mungkin benar selama ini Khadafi begitu kejam, represif, dan cenderung bertindak sebagai diktator. Tapi lihat hikmahnya. Bangsa Libya yang terdiri atas banyak suku jadi satu padu. Ia juga terkenal begitu mengasihi bangsanya dengan pelayanan prima. Tak seperti diktator lainnya, kekayaan minyak Libya tak dinikmatinya sendirian. Pelayanan kesehatan dan pendidikan digratiskan, pinjaman kredit tak dikenai bunga, dan ada juga santunan bagi pengantin baru.
Satu hal yang terpenting, lihatlah keberaniannya melawan Barat. Sampai saat ini hanya Muammar Khadafi seorang pemimpin Arab yang berani menentang Barat. Rasanya sulit melihat munculnya Khadafi-Khadafi baru dari dunia Arab setelah kematiannya.
Selamat jalan, Singa Arab nan pemberani...
|
Tulisan berjudul Singa Arab Itu Akhirnya Mati... ini dilindungi lisensi Creative Commons. Anda bebas menyalin, mendistribusi, dan atau mentransmisi sebagian atau seluruh isi artikel untuk tujuan nonkomersil, serta dengan menyebutkan sumber artikel. Terima kasih. |



Baru ada 5 komentar. Tambahin lagi dong...
Klik di sini untuk langsung ke formulir komentar.secara idealis,saya hampir sama dengan Kadafi,fuck you Anerika..
tapi ada beberapa hal yg memang bertentangan dengan hati nurani kita,sebiadab-biadabnya kadafi,walaupun kadafi seorang otoriter,tapi dia juga manusia,masih punya hak mati dengan tenang dan terhormat...
apapun yg di lakukan sekarang,kadafi punya jasa besar terhadap bangsa libya..
selamat jalan kadafi,...
Terlepas dari pro atau kontra, saya amat nggak tega liat pembantaian itu...
terlepas sikap tiraninya selama khadafy berkuasa, yang pasti ia sudah unjuk keberanian kepada dunia barat. kini pr besar dan berat justru dihadapi oleh pemerintahan baru lybia. bisakah mereka bangkit dari puing2 kehancuran setelah dibombardir intervensi amrik dan sekutunya?
Masih ada satu singa arab lagi, singa dari segala singa, yaitu Mahmoud Ahmadinejad. Biarkanlah Khaddafy mengurus kepentingannya sendiri di akhirat, kita dukung presiden yang satu ini dalam menentang Amerika.
Wid: Itulah, kalau emosi sudah begitu menguasai manusia, tingkahnya tak ubahnya binatang. Sungguh tidak berperikemanusiaan!
Marsudiyanto: Iya, Pak. Sebagai manusia yang punya rasa punya hati nurani, sudah selayaknya kita berpendapat pembantaian tersebut adalah hal biadab yang tak seharusnya terjadi.
Sawali: Itu dia, Pak. Sekarang tinggal Hugo Chavez, Raul Castro yang didukung Fidel, serta Mahmoud Amhadinejad yang berani melawan aroganisme Barat. Setelah kematiannya, jangan-jangan Libya bernasib sama seperti Irak dan Afghanistan?
omoh: Tenang, Bung. Masih ada Hugo Chavez, Raul Castro yang didukung Fidel, serta Mahmoud Amhadinejad, plus Korea Utara yang berani sama AS dan sekutu-sekutunya.
Poskan Komentar
Terima kasih telah mengunjungi bungeko.com. Semoga apa yang saya tulis di blog ini bermanfaat bagi Bung Pembaca. Silakan tinggalkan komentar untuk menanggapi, mengoreksi, atau bahkan mencaci isi posting ini. Tapi mohon dicatat, no SARA, no SARU. Salam.
NB: Saya sedang memikirkan untuk membuka kembali kontes komentator terbanyak, atau kontes lain yang berhubungan dengan komentar pembaca.