Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 21 November 2011

Mencari pekerjaan di tengah krisis yang terus melanda penjuru dunia seperti ini bukan perkara mudah.



Eits, tunggu dulu. Itu hanya berlaku untuk pekerjaan-pekerjaan umum, seperti karyawan perusahaan-perusahaan swasta atau biasa disebut pegawai kantoran. Kalau mau mencari pekerjaan-pekerjaan alternatif, peluangnya justru sangat terbuka lebar. Selain itu, penghasilannya sering lebih besar ketimbang gaji seorang pegawai kantoran.

Ambil contoh broker properti, profesi pemasar yang merupakan ’lahan basah’. Ada yang bilang, jika ingin cepat menjadi jutawan segeralah beralih ke profesi ini. Pekerjaannya terbilang mudah--menjual rumah, modalnya nyaris tidak ada, sementara peluang untuk meraih sukses sangat terbuka lebar.

Pengalaman kerja juga tidak terlalu dipersoalkan karena setiap orang dapat belajar sambil terjun langsung di lapangan alias learning by doing. Toh, bukankah pengalaman sendiri merupakan pelajaran terbaik yang bakal melekat sepanjang hayat?

Syarat Tidak Rumit, Siapapun Boleh Bergabung
Menjadi broker properti tidak pula harus memiliki pendidikan khusus atau keterampilan tertentu. Lagipula belum ada lembaga pendidikan yang secara khusus mendidik calon broker properti.

Syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang broker properti cukup keyakinan dan motivasi tinggi. Keyakinan menimbulkan semangat, sedangkan motivasi menumbuhkan jiwa pantang menyerah dalam berusaha. Berbekal kedua hal inilah seseorang dapat berkembang menjadi broker properti jempolan.

Walaupun demikian, seorang broker properti juga memerlukan beberapa hal yang dapat menunjang kinerjanya. Hal tersebut antara lain fisik dan mental yang prima karena tingkat mobilitas yang sangat tinggi. Selain melelahkan secara fisik, beberapa persoalan yang timbul di lapangan juga kerap menguras emosi dan pikiran seorang broker. Jadi, ketahanan tubuh luar-dalam, fisik dan mental, harus benar-benar diperhatikan agar langkahnya tak putus di tengah jalan.

Kemudian, sangat dianjurkan untuk memiliki handphone dan kendaraan sendiri. Yang pertama untuk menjamin kelancaran berkomunikasi dengan klien, sedangkan yang kedua untuk keperluan transportasi. Menggunakan kendaraan sendiri, baik sepeda motor maupun mobil, akan sangat menghemat waktu dibandingkan menumpang kendaraan umum.

Efek lainnya, memiliki kendaraan pribadi dapat mengangkat gengsi dan mendukung performance sang broker properti. Hal ini menjadi penting saat menghadapi klien dari kalangan atas yang sangat memperhatikan penampilan.

Lalu yang tak kalah penting adalah persediaan biaya hidup, terutama bagi para broker properti baru. Seorang broker baru paling tidak harus menyiapkan cadangan biaya hidup selama 3 bulan sebelum memperoleh klien. Apalagi biasanya para broker properti baru akan di-training terlebih dahulu selama beberapa waktu sebelum dilepas sendiri ke lapangan. Di masa-masa awal seperti ini tentu saja belum ada transaksi yang dibuat. Itu berarti, komisi masih nol.

Foto: Century21.co.idProspek Pasar Masih Tinggi
Dibanding profesi pemasar lain, menjadi broker properti bisa dibilang jauh lebih mudah. Berbeda dengan agen asuransi yang barang dagangannya berupa produk abstrak, seorang broker properti mempunyai produk yang lebih nyata. Dalam menjual mereka juga dibekali dengan foto-foto, data-data, dan lokasi rumah yang dipasarkan. Tak perlu banyak bicara untuk meyakinkan calon pembeli. Asal barang dan harganya cocok, transaksi penjualan tinggal menunggu waktu. Apalagi kalau kelengkapan legalitasnya, seperti sertifikat hak milik (SHM) sudah komplit semua.

Yang lebih sukar justru mencari dan meyakinkan orang yang hendak menjual propertinya agar mau menggunakan jasa broker. Belum banyak orang yang mau memanfaatkan jasa broker dalam menjual propertinya. Sebagian malah merasa bakal merugi karena harus mengeluarkan uang banyak untuk membayar komisi kepada sang broker. Padahal, asumsi tersebut sama sekali tidak benar. Besarnya komisi yang diterima seorang broker dihitung berdasarkan persentase tertentu dari nilai transaksi.

Jadi, besar-kecilnya jumlah komisi tergantung harga penjualan. Karena setiap broker ingin menerima komisi besar, secara otomatis mereka akan berusaha menjual properti yang dititipkan kepadanya dengan harga setinggi mungkin. Kalau properti laku dengan harga tinggi, bukankah sang pemilik juga diuntungkan?

Melihat cara kerjanya, profesi broker properti memang identik dengan profesi yang biasa disebut sebagai makelar atau calo. Tugasnya menjualkan barang milik seseorang kepada orang lain yang membutuhkan. Jadi, mempertemukan antara penjual dan pembeli suatu barang.

Bedanya, kalau makelar atau calo biasanya membantu menjualkan berbagai barang apa saja, sedangkan seorang broker properti khusus dalam penjualan dan persewaan tanah, rumah atau ruang usaha berupa kantor, toko, ruko sampai stand/space di pusat-pusat perbelanjaan besar. Perbedaan lain, makelar atau calo bekerja sendiri tanpa terikat di suatu organisasi atau perusahaan, sementara broker properti umumnya berada di bawah sebuah bendera resmi.

Ada banyak perusahaan jasa broker properti saat ini, baik perusahaan lokal maupun pemegang waralaba (franchise) perusahaan jasa broker properti dari luar negeri. Perusahaan-perusahaan ini tergabung dalam Asosiasi Real Estate Broker Indonesia atau disingkat AREBI. Anggotanya diperkirakan berjumlah sekitar 200-an kantor yang hampir 70% diantaranya beroperasi di Jakarta.

Dari sekian banyak anggota AREBI, yang menguasai pasar bisnis properti di Indonesia justru waralaba dari negara-negara maju. Beberapa nama yang menonjol diantaranya adalah ERA Indonesia, Century 21 Indonesia, Ray White Indonesia, LJ Hooker Indonesia, dan Raine & Horne Indonesia. Beberapa nama lokal juga turut mewarnai meski tidak sedominan pemain-pemain dari luar tersebut. Salah satunya adalah Etika Realtindo milik Tirta Setiawan yang sempat menjabat sebagai Ketua Umum AREBI.

Gencarnya pembangunan perumahan, perkantoran, apartemen, dan pusat-pusat perbelanjaan di banyak kota membuat masa depan profesi broker properti terbilang cerah. Apalagi dari sekian banyak dan luasnya pasar properti selama ini, yang berhasil ditangani oleh broker properti--baik broker profesional maupun amatir (calo/makelar)--baru sekitar 20% saja. Ini artinya, pasar bisnis broker properti masih sangat prospektif.

Menawarkan Peluang Penghasilan Berlimpah
Menyinggung soal peluang penghasilan, profesi broker properti menawarkan peluang penghasilan yang amat besar. Inilah daya tarik utama bagi siapa saja yang ingin terjun ke dunia ini. Bukan hanya kalangan pengangguran yang kesulitan memperoleh pekerjaan, bahkan kalangan profesional yang sudah mapan pun masih banyak yang melirik profesi ini. Akibatnya, banyak terjadi ’eksodus’ dari profesi pegawai kantoran ke profesi broker properti. Bayangkan, besar komisi yang diperoleh seorang broker properti kadang bisa melebihi total gaji resmi seorang menteri. Seorang broker terkemuka malah dapat mengantongi penghasilan antara Rp 1,5-2,5 milyar setahun. Kalau dibuat rata-rata, itu artinya broker tersebut bergaji Rp 125-200 juta setiap bulan. Lihat, angka ini bahkan melebihi gaji menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu II yang besarnya tidak lebih dari Rp 50 juta sebulan.

Untuk meningkatkan penghasilan, seorang broker properti dapat menjadi member broker yang membawahi banyak broker properti lain dengan cara membeli lisensi waralaba sebuah perusahaan jasa broker properti. Syaratnya, selain beberapa persyaratan administratif seperti ketersediaan tempat usaha, seorang member broker diharuskan membayar fee waralaba dalam jumlah tertentu setiap tahun. Beberapa perusahaan terkadang juga menambahkan kewajiban membayar royalti sebesar beberapa persen dari total omset yang diperoleh member broker tersebut. Sepintas, modal untuk menjadi member broker terlihat begitu besar. Tapi ini sepadan kok dengan penghasilannya yang jauh lebih besar lagi.

Tertarik dengan dunia broker properti? Jangan lewatkan serial artikel seputar broker properti lainnya di blog ini!


Dipublikasikan dari pelosok daerah transmigrasi di Desa Talang Datar, Kec. Bahar Utara, Kab. Muaro Jambi, Jambi. Orang trans juga bisa berprestasi!.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

4 komentar:

  1. Menjadi broker properti memang menjanjikan. Selain mendapatkan komisi juga akan memuat ilmu kita seputar dunia properti semakin bertambah, dan bukan mustahil akan mengantarkan kita menjadi developer properti.

    Salam Sehat dan Sukses

    BalasHapus
  2. @Pebisnis Properti: Ya, benar sekali. Inilah peluang pekerjaan yang tak cuma menawarkan uang, tapi juga ilmu, wawasan, dan pergaulan yang keren. Terima kasih sudah berkomentar.

    BalasHapus
  3. Jaman Sekarang semua sudah bisa dimanjakan oleh teknologi,,
    Seperti Mencari Rumah idamn tersebut,, tinggal du2k manis dan klik klik klik,,
    ketemu deh apa yang diinginkan,,
    salam sukses selalu century 21 :)

    BalasHapus
  4. Saya dengar katanya bila ingin bergabung di raywhite diharuskan membayar uang training sebesar 1.600.000 dan akan dikembalikan apabila dalam 2 bulan berhasil closing. Betul gak yah ?

    BalasHapus