Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 07 November 2011

Dunia itu lucu. Disebut lucu karena seringkali tak sesuai nalar dan logika.



Termasuk juga untuk hal-hal remeh, namun penting, seperti bangsa, negara, dan bahasa. Ada bangsa yang terpecah dalam berbagai negara, ada satu negara yang mempunyai berbagai macam bahasa. Contoh konkrit dari lucunya dunia adalah warga NTT yang harus terpisah batas negara dengan saudara-saudara sedarahnya di Timor Leste.

Ya, sebagian besar warga propinsi Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor Leste bersaudara dengan warga negara eks propinsi Timor Timur itu. Karena politik, orang-orang bersaudara itupun terpaksa terpisah. Batas negara tentu beda dengan batas propinsi, apalagi batas kampung. Masuk ke negara tetangga tak semudah dan semurah masuk ke kampung sebelah.

Cerita warga NTT dengan Timor Leste mungkin tak seberapa. Belum lama ini pemerintah RI dan RDTL sepakat melonggarkan perbatasan. Warga kedua negara tak perlu punya paspor untuk menyeberang, tapi cukup dengan menggunakan kartu pas khusus yang dikeluarkan petugas imigrasi di perbatasan. Karena tak pakai paspor, maka visa pun tak diperlukan.



Kebangsaan Sama, Negara Beda
Nasib lebih menyedihkan dialami bangsa Korea yang terpisah menjadi dua negara, Republik Korea (Korea Selatan) dan Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara). Korsel dibentuk terlebih dahulu pada 15 Agustus 1948, sedangkan Korut diproklamasikan sebulan kemudian, tepatnya pada 9 September 1948. Kedua negara yang 100% penduduknya merupakan bangsa Korea ini terbelah dua akibat perseteruan Amerika Serikat dan Uni Soviet seusai Perang Dunia Ketiga. Tak heran jika Korut sekarang berlandaskan sosialisme, sebab sejarahnya wilayah ini dikuasai Uni Soviet. Juga jangan heran jika Korut tak seperti Korsel yang begitu mesra dengan AS, sebab Uni Soviet kala itu adalah musuh besar AS.

Nasib serupa dialami warga India dan Pakistan. Kalau Bung menonton televisi Pakistan, lalu dilanjutkan menonton televisi India, sama sekali tak ada beda baik dari bahasa maupun tampilan orang-orangnya. Mirip! Wajar, Pakistan dulunya adalah bagian dari India. Terbentuknya Pakistan terjadi menjelang deklarasi kemerdekaan India dari Inggris. Pada 11 Agustus 1947, Muhammad Ali Jinnah yang merupakan pejuang kemerdekaan India beragama Islam, melihat perlunya dibentuk sebuah negara Muslim. Ini dimaksudkan untuk mengakhiri konflik antaragama yang terus memanas di India. Kebetulan pula Inggris setuju. Jadilah Pakistan dideklarasikan 14 Agustus 1947, lalu India pada 15 Agustus 1947.

Pada perkembangannya, Pakistan kemudian pecah lagi dan melahirkan Bangladesh. Wilayah yang saat Pakistan dideklarasikan bernama Pakistan Timur ini memisahkan diri karena begitu dominannya Pakistan Barat. Seperti juga terjadi di Indonesia, dominasi ini mengakibatkan Pakistan Timur lebih terbelakang dan terpinggirkan. Perbedaan budaya, bahasa, dan etnis ikut memperparah perbedaan ini. Jadilah warga Bangladesh yang berbahasa Bengal ini menyuarakan pemisahan diri. Dengan dukungan India, pada 26 Maret 1971 negara Bangla Desh (negerinya orang Bengal) dideklarasikan.

Satu Negara, Berbeda-beda Bangsa
Gambar: Wikipedia
Swiss, satu negara beragam bangsa dan bahasa.
Di Eropa ceritanya malah lucu. Ada sejumlah negara Eropa yang warga negaranya terdiri dari berbagai bangsa. Padahal negara-negara tersebut tak bisa dibilang besar, apalagi jika dibandingkan dengan Indonesia.

Contohnya Belgia. Berbatasan langsung dengan Prancis, Jerman, dan Belanda, membuat negara kerajaan ini mempunyai warga negara campuran ketiga negara tetangga tersebut. Bahasa resminya pun menggunakan tiga bahasa sekaligus, Prancis, Jerman, Belanda. Lihat saja nama resmi Belgia. Di PBB yang tercatat dalam bahasa Inggris, nama resmi Belgia adalah Kingdom of Belgium. Namun nama-nama resmi lainnya adalah Koninkrijk België (Bel.), Royaume de Belgique (Pra.), dan Königreich Belgien (Jer.). Mottonya juga begitu, yakni Eendracht maakt macht (Bel.), L'union fait la force (Pra.), dan Einigkeit macht stark (Jer.). Artinya, "persatuan pangkal kekuatan".

Swiss malah lebih ramai lagi. Negara kecil dengan bendera unik ini penduduknya menggunakan setidaknya empat bahasa internasional sebagai bahasa resmi: Jerman, Prancis, Italia, dan Inggris. Ini belum ditambah dengan Latin yang juga diakui sebagai bahasa resmi, dan bahasa-bahasa imigran seperti Turki, dll. Kalau Bung penggemar sepak bola, nama-nama pemain di timnas Swiss memperlihatkan betapa beragamnya latar belakang kebangsaan warga negara Swiss. Gokhan Inler, Eren Derdiyok, dan Hakan Yakin adalah contoh-contoh nama berbau Turki. Lalu Philippe Koch dan Johan Djourou merupakan representasi warga berbahasa Prancis, sedangkan Reto Ziegler, Timm Klose, dan Steve von Bergen jadi perwakilan warga berbahasa Jerman.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

5 komentar:

  1. wah postingnya informatif..hehe...
    Eropa emang benuanya kecil jadi orang-orangnya ya muter-muter di situ aja.. hehe :D

    BalasHapus
  2. Kita kan juga begitu, tubuh cuma satu tapi punya baju bermacam-macam mulai dari model sampai warna berbeda-beda...Postingnya keren sekali!

    BalasHapus
  3. Postingannya bener2 menarik bung, ada beberapa peristiwa berbeda di dunia tapi memiliki kesamaan sebab dan akibatnya, mungkin jarang orang awam yang memperhatikan ini.

    BalasHapus
  4. Asal semua itu bisa menjadi suatu keindahan & damai tidak ada perselisihan

    BalasHapus