Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Kamis, 03 November 2011

Dalam sejarah kita mengenal Jalur Sutra, yakni jalur perdagangan yang menghubungkan Cina dengan Timur Tengah dan tembus hingga ke Eropa.



Pada perkembangannya, jalur perdagangan ini meluas hingga ke Pulau Jawa dan Somalia di Afrika. Istilah 'jalur sutra' diperkenalkan oleh Ferdinand von Richthofen, seorang geografer Jerman yang tujuh kali melakukan perjalanan ke Cina sepanjang 1868-1872. Penamaan ini mengacu pada komoditas utama yang diperdagangkan orang-orang Cina waktu itu, yakni sutra.

Sutra menjadi komoditas penting waktu itu. Kain ini adalah lambang kemewahan, sekaligus ukuran status sosial seseorang. Tak banyak orang bisa memilikinya karena harganya sangat tinggi. Hanya bangsawan dan orang-orang super kaya yang bisa membeli sutra, rakyat biasa cukup kain biasa. Dan, sentra produksi sutra terbesar kala itu aalah Cina. Maka, bertualanglah pedagang-pedagang Cina ke arah barat untuk memasarkan barang andalan mereka itu.

Keberadaan Jalur Sutra memberi peran besar tak hanya untuk perdagangan antarbenua kala itu, namun juga pengembangan kebudayaan. Terutama sekali budaya Cina, India, dan Roma yang merupakan kekuatan utama perdagangan dunia masa itu. Jalur Sutra juga kemudian menjadi dasar dari dunia modern. Yang jelas, Jalur Sutra memberikan efek positif sangat besar bagi perekonomian Cina.

Dulu Sutra, Kini Minyak Bumi
Kalau dulu komoditas paling diburu adalah sutra, maka pada jaman di mana dunia digerakkan oleh energi ini komoditas favoritnya adalah minyak bumi. Semakin maju suatu negara, semakin besar kebutuhannya akan energi. Bila negara tersebut punya cadangan sumber energi berlimpah tak jadi masalah. Bagaimana kalau tak punya barang setitik pun? Jelas, impor adalah jalan keluarnya.

Masalah lain kemudian timbul. Minyak bumi adalah barang tambang tak terbarukan. Sumber energi utama di muka bumi ini jumlahnya sangat terbatas, semakin lama jumlahnya semakin sedikit. Tak heran jika minyak bumi jadi komoditas mahal. Bila konsumsi energi suatu negara lebih besar dari cadangan sumbernya, alamat petaka bakal menimpa negeri tersebut. Ambil contoh Indonesia, yang tadinya berstatus negara pengekspor minyak kini malah jadi pengimpor minyak.

Uniknya, cadangan minyak bumi paling banyak ada di Timur Tengah. Negara-negara Arab di Semenanjung Arab maupun bagian utara Afrika jadi kaya raya berkat minyak mereka yang berlimpah. Di lain pihak, kebutuhan akan energi paling besar dirasakan dunia Barat, khususnya Amerika Serikat. Celakanya, di bawah daratan AS tak ada cadangan minyak bumi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya. Sebagai solusi, AS pun berburu minyak ke berbagai negara penghasil minyak.

Cerita jadi semakin seru saat negara-negara penghasil minyak tahu betapa mahalnya nilai cadangan minyak mereka. Selain nilai yang disebabkan oleh sifat tak terbarukan minyak, juga karena ada begitu banyak pembeli yang memperebutkannya. Maka jangan heran jika negara-negara penghasil minyak enggan menjual minyak mereka. Akibatnya harga minyak perlahan-lahan melambung tinggi karena semakin sulit dicari.Burj Khalifa, Dubai.

Dari Membeli sampai Agresi
Kebutuhan akan minyak semakin mendesak, sedangkan negara-negara penghasilnya enggan menjual murah. Tentu saja kondisi ini membuat susah AS dan negara-negara Eropa. Ketika negosiasi lewat jalur resmi tak membuahkan hasil sesuai keinginan, tangan besi yang bergerak. AS, negara dengan jumlah personel militer terbesar kedua di dunia, mengandalkan kekuatan senjata untuk merampas penguasaan minyak dari negara-negara tertentu.

Kita tentu masih ingat peristiwa Perang Teluk (2 Agustus 1990 – 28 Februari 1991), yakni perang antara AS-Irak dalam memperebutkan Kuwait. Irak menyerang Kuwait karena sedang pailit setelah berperang dengan Iran, sedangkan AS butuh minyak murah yang ditawarkan Kuwait. Seperti biasa, AS tidak mau memakai tangannya sendiri. Ia mengajak sekutu-sekutunya untuk berkoalisi di balik tameng PBB. AS mengklaim memenangkan perang ini, dan pasukan Irak memang berhasil dipukul mundur dari Kuwait. Alhasil, AS bisa memperoleh minyak semaunya dari Kuwait.

Sepuluh tahun kemudian, George Bush Jr. mengikuti jejak ayahnya, George Bush Sr., memerangi Irak. Jika dulu sang ayah memakai dalih membebaskan Kuwait dari aneksasi Irak, maka sang anak memilih membakar warganya sendiri bersama dua tower World Trade Centre, lalu menimpakan kesalahannya pada Jamaah Islamiyah dan al-Qaeda. Berdalih memburu pemimpin al-Qaeda, Usamah bin Ladin yang tak lain eks sekutu Paman Sam, AS meluluh-lantakkan Irak. Saddam Husein yang berkuasa lebih dari 30 tahun di Irak pun didongkel tanpa ampun.

Tak lama setelah Irak, giliran Afghanistan jadi korban. Lagi-lagi alasannya memburu teroris yang mereka beri nama Jamaah Islamiyah dan al-Qaeda. Padahal, AS ingin mengamankan jalur minyak mereka yang melintas di wilayah Afghanistan. Taliban dihajar, pemerintahan boneka yang manut 100% pada AS pun dibentuk.

Memasuki awal tahun 2011, rentetan kisruh di negara-negara Arab timbul berbarengan. Dimulai dari revolusi Mesir yang menggulingkan Hosni Mubarak, disusul negara-negara lain. Sekilas rentetan revolusi di dunia Arab tersebut terjadi secara alamiah, namun bila melihat apa yang terjadi di Libya, jelaslah siapa yang menginginkan serta merancang segala kerusuhan tersebut. Perhatikan pula apa komentar pemimpin-pemimpin Barat pasca-pembantaian sadis terhadap Muammar Khadafi.

Bila dulu Jalur Sutra memberikan kesejahteraan bagi negara-negara yang dilintasinya, kini Jalur Minyak justru membuat sengsara negara-negara yang termasuk di dalamnya. Semua berpangkal dari kerakusan segelintir orang yang merasa boleh melakukan apa saja yang mereka mau terhadap dunia ini. Tragis!


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

12 komentar:

  1. salam. jalur minyak ini yang kemudian akan menjadi sumber malapetaka kemanusiaan selanjutnya. dari tulisan bungeko di atas, dapat dicermati bagaimana ladang minyak menjadi penyulut revolusi sekaligus pembuka neoimperialisme Barat. ada pepatah yang mengatakan, the best investment in the earth is earth itself. mungkin karena hal ini juga, di negeri kita juga tengah memanas masalah Freeport di Papua, karena emas adalah sumber komoditas yang paling diminati sepanjang masa. Namun, bila kita sadari dan kembali kepada ajaran-ajaran suci, eksploitasi alam yang berlebihan akan mengundang kerusakan di muka bumi, sebagaimana dapat kita resapi dari QS. 30:41 yang menyatakan bahwa munculnya malapetakan dan kerusakan di daratan maupun di lautan adalah hasil perbuatan manusia juga, supaya mereka merasakan akibat dan efek ulah mereka, dan supaya mereka dapat kembali memikirkan cara dan jalan yang benar dengan kembali kepada Allah, sang Pencipta. semoga kita terhindar dari eksploitasi yang berlebihan kepada alam semesta ini, sehingga bumi menjadi sahabat kita sekaligus simpul harmoni semesta, bukannya menjadi sumber permusuhan di antara kita. Semoga ... Hatur nuhun

    BalasHapus
  2. @amsi: Setuju, Bung. Kisruh di negara-negara Arab adalah ulah Barat yang tidak senang dengan pemerintahan negara bersangkutan, karena penguasanya tidak memberikan keuntungan terkait minyak kepada Barat. Negara-negara yang manut macam Arab Saudi atau Kuwait aman-aman saja.

    BalasHapus
  3. Selamat pagi Bung......... Setelah saya membaca dan mencermati dari tiap kalimat, tokoh utamanya adalah AS yang membutuhkan minyak untuk menyalakan obor dinegaranya...

    jalur minyak yang seperti ini memang bukan sebuah kisah baru yang saya dengar..,
    pertanyaanya.....
    Siapa si yang bisa mengalahkan Tokoh utama?, Kita.... sepertinya belum mampu, dengan tetanga sebelah saja kita hanya bisa membiarkan saja tanpa solusi yang jelas dan harusnya bagaimana...,
    Tapi kalo jalur minyak ini bermasalah, berarti Indonesia yang juga temasuk penghasil Minyak bumi yang banyak dan bisa juga menjadi korban berikutnya,Semoga pemerintah bisa mencegah dan memahamicara kerja otak tokoh utama....

    Kalo bener berarti Tokoh utama cerdas juga ya...,

    BalasHapus
  4. Amrik lagi Amrik lagi.
    Minyak mentah dan emas membuat pengaruh yang kuat terhadap naik turunnya mata uang USD dan mata uang lain. Begitu juga dengan pegaruh pergerakan saham di Amerika yang tergabung dengan Dow Jones Index. Jika pergerakan saham secara umum disuatu negara mengalami penurunan maka nilai mata uang dinegara tersebut akan terkoreksi turun.
    Jika harga minyak naik maka dollar (USD) akan melemah, karena beban konsumsi minyak negara Amerika juga akan meningkat diikuti neraca perdagangan yang negative.
    Emas adalah standar nilai mata uang kebanyakan Negara seperti halnya Amerika. Maka dapat dikatakan emas adalah komoditas berharga kedua setelah minyak.
    Makanya Amrik berusaha dengan segala cara menguasai dua komoditas itu, minyak dan emas. Mungkin agar ekonomi mereka tetap kokoh dan tetap menjadi negara adidaya yang kuat dan sulit dijatuhkan, dan bisa ikut campur urusan negara lain seenaknya.
    Indonesia ga perlu diserang kali, karena sedikit diotak-atik saja sudah rusuh sendiri, hadeeehhh

    BalasHapus
  5. kereeeeen... dua blog saya kunjungi semua pada nulis sejarah! WOW.. seandainya saya jago sejarah ya :(

    BalasHapus
  6. hiks sedih dan geram membacanya... tapi ga tau musti berbuat apa..

    btw, mertua saya tinggal di muaro bulian (halah malah ga nyambung. maaappp)

    BalasHapus
  7. Aduh, benar juga ya, ternyata kekayaan benaran bisa menjadi kutuk. Pertanyaannya sekarang, ketika cadangan minyak dari negara-negara yg telah mereka taklukan itu juga habis akan ngapain mereka ya? Duh, bikin nuklir kali yah..

    BalasHapus
  8. @Zonapedia: Hehehe, tokoh utamanya sebenarnya sih sudah mati. Krisis 2008, semakin tingginya harga minyak, seharusnya sudah 'membunuh' tokoh jahat ini. Sayang, ia dibantu banyak pihak yang masih ingin melihatnya terus hidup.

    @ria haya: Hahaha, Indonesia mah dikebut aja pake sebelah tangan sudah menyembah-nyembah gak karuan. Freeport nih contoh yang lagi hangat. Masa iya rakyat sendiri menuntuk hak, Pemerintah malah mau membela perusahaan asing. Kacau!

    @ndop: Saia suka sejarah, Bung. hehehe...
    @nia angga: Saia dulu 3 tahun di Bulian, setahun di Perumnas, 2 tahun sisanya di Kompleks SMA karena saya sekolah di SMA Ngeri 1 Muara Bulian. Hehehehe.

    @evi angga: Nah, itu. Saia kok curiga, so dia ini sekarang ngabisin minyak sembari merintis tenaga nuklir. Tar pas minyak habis kan yang punya nuklir cuma mereka, jadilah kita semua tergantung padanya. Keren...

    BalasHapus
  9. Ternyata dalang dari semua ini sudah jelas. berkuasa di dunia tidak ada gunanya jika dilakukan dengan cara yang tidak baik. nanti di akhirat justru akan dibangkitkan dalam keadaan hina dina.

    BalasHapus
  10. @Puji: Iya, kira-kira begitulah.

    @Omoh: Gak perlu. Tar juga habis sendiri kok.

    BalasHapus
  11. Bukan menjadi suatu rahasia umum lagi bila negara yang memiliki jalur minyak pertambangan yang selalu di buat kisruh, dan pada akhirnya yang menjadi korban adalah masyarakat daerah setempat itu yang tidak bersalah.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah's Blog

    BalasHapus