Vonis HIV+ Ia Jadikan Motivasi Mengejar Prestasi

Oleh: Eko Nurhuda | Minggu, 27 November 2011 pukul 00.10 WIB

Foto: homelessworldcup.org

Bagi kebanyakan orang, divonis mengidap HIV seperti kiamat.

Hidup seolah tak berarti lagi, semangat dan harapan hidup pun melayang. Kondisi bertambah buruk ketika lingkungan, bahkan keluarga sendiri, bersikap antipati dan mengucilkan.



Itu juga yang dirasakan Derajat Ginanjar Koesmayadi sewaktu dinyatakan HIV+ pada tahun 2000 lalu. Ia sempat tak percaya, bahkan menganggap tes tersebut salah. Namun ternyata tes yang ia ikuti tidak salah, ia memang sudah terjangkit HIV. Kontan ia terkejut, keluarganya juga shock. Untung saja eks pecandu narkoba jenis suntikan ini segera bangkit dari penyesalan.

Alih-alih terus menyesali nasib, lelaki kelahiran 13 Juli 1980 ini malah menjadikan vonis HIV+ sebagai momentum baginya untuk meningkatkan kualitas hidup. Ia jadikan HIV yang mengendap di tubuhnya sebagai pemicu dan pemacu semangat untuk memperbaiki kehidupannya agar lebih dihargai orang lain. Ia tak menyerah meski HIV terus menggerogoti sistem kekebalan tubuhnya. Ia tetap melawan dan berbuat sesuatu demi hidup yang lebih baik.

Inilah kisah penuh inspirasi dari seorang ODHA dengan sederet prestasi internasional.

Mendirikan Rumah Cemara
Tiga tahun setelah divonis positif mengidap HIV, lajang yang biasa dipanggil Ginan ini mendirikan Rumah Cemara, sebuah komunitas khusus bagi eks pecandu dan penderita HIV. Ia bersama empat temannya menjadi pionir komunitas ini. Ide pendirian komunitas kaum marjinal ini adalah pengalaman mereka sendiri, yang membuat mereka berkesimpulan bahwa tidak ada tempat yang aman, nyaman, serta kondusif bagi ODHA dan eks pengguna NAPZA untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Ya, sudah menjadi rahasia umum jika ODHA dan pengguna NAPZA, sekalipun sudah berstatus eks, mendapat stigma negatif serta perlakuan diskriminatif dari masyarakat. Dengan perlakuan seperti itu, bagaimana mungkin mereka bisa berkarya? Demikian pikir Ginan dan keempat rekannya. Karena itulah Rumah Cemara didirikan sebagai ajang kumpul-kumpul untuk curhat, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan diantara anggotanya.

Visi Rumah Cemara adalah menjadi wadah yang positif untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA dan eks pecandu, baik secara fisik, sosial, terutama juga psikis dan spiritual. Dari sana, komunitas ini ternyata berkembang menjadi sebuah organisasi sosial yang bergerak di bidang pendampingan ODHA dan eks pemakai NAPZA. Tak cuma mendampingi, Ginan dan rekan-rekannya di Rumah Cemara juga memberdayakan anggota-anggotanya.

Berbagai kegiatan diadakan Ginan bersama Rumah Cemara, diantaranya membentuk klub futsal. Klub ini menggelar latihan secara rutin. Tak sekedar menyehatkan fisik, latihan ini juga membuat jiwa pemain lebih sehat. Menurut beberapa referensi yang ia baca, Ginan mendapat info jika HIV sulit berkembang jika kondisi fisik dan kejiwaan penderitanya selalu sehat.

Foto: youthnight.org
Ginanjar Koesmayadi
Menghapus Stigma dengan Futsal
Dari sekedar berlatih, klub futsal Rumah Cemara lantas memberanikan diri beruji coba dengan klub lain. Niat awalnya sekedar berlatih tanding. Kemudian Ginan melihat peluang bahwa futsal dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk membangun komunikasi dan hubungan sosial yang sehat antara ODHA dan eks pecandu dengan masyarakat. Dengan demikian diharapkan stigma negatif yang dilekatkan masyarakat pada mereka perlahan-lahan dapat dihilangkan.

Latihan dan uji coba dengan klub futsal lain kini tak sekedar untuk menyehatkan fisik dan psikis, tapi mengemban misi yang lebih luas. Ginan bersama Rumah Cemara menjadikan futsal sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada masyarakat, sekaligus memberikan informasi yang benar mengenai HIV/AIDS. Caranya sederhana. Setiap habis berlatih tanding, lawan diundang ke Rumah Cemara. Di sanalah Ginan, dkk. menjelaskan tentang seluk-beluk HIV/AIDS, dan bagaimana masyarakat seharusnya bersikap terhadap penderita HIV/AIDS.

Ide Ginan berjalan mulus. Misi menyebar-luaskan informasi yang benar seputar HIV/AIDS melalui futsal sukses besar. Masyarakat, terutama lingkungan sekitar Rumah Cemara berada, tak lagi memandang sebelah mata pada penderita HIV/AIDS. Stigma negatif bahwa penderita HIV/AIDS dan pengguna narkoba adalah orang-orang tidak bermoral, pelan-pelan terhapus.

Ketika Badan Narkotika Nasional (BNN) menyelenggarakan kompetisi sepak bola tingkat nasional, Rumah Cemara tak mau ketinggalan. Hebatnya, tim Rumah Cemara sukses merebut gelar dua kali berturut-turut, yakni di tahun 2009 dan 2010. Nama Rumah Cemara pun semakin dikenal masyarakat. Dukungan kepada Ginan, dkk. bertambah, baik materil maupun moril.

Mendapat Penghargaan Internasional
Melihat betapa futsal sangat membantu usahanya membuka komunikasi dengan masyarakat, Ginan lantas menyusun sebuah proposal yang diikut-sertakan pada ajang Ashoka Fellowship 2010. Ini ajang adu ide tingkat global yang diperuntukkan bagi para pegiat kewirausahaan sosial (social entrepreneur). Salah satu program dalam ajang yang disponsori Nike International ini bertajuk Changing Life Through Football. Ke program inilah proposal Ginan ditujukan.

Mengejutkan! Setelah melalui seleksi ketat dan bersaing dengan ratusan proposal dari seluruh dunia, proposal yang diajukan Ginan masuk babak final. Di fase ini penilaiannya ditentukan dengan sistem voting online. Berkat dukungan para sahabatnya se-Indonesia, proposal Rumah Cemara terpilih sebagai pemenang.
Tentu saja kemenangan ini membuat seluruh anggota Rumah Cemara senang bukan kepalang. Inilah penghargaan internasional pertama bagi mereka. Penghargaan yang semakin menebalkan keyakinan Ginan, dkk. bahwa berstatus penderita HIV/AIDS bukanlah akhir dari segalanya. ODHA juga bisa berkarya, sama seperti mereka yang normal.

Kesuksesan di Ashoka Fellowship membuat tim futsal Rumah Cemara diundang mengikuti ajang Homeless World Cup (HWC) 2010 di Rio de Janeiro, Brazil. Ini merupakan kompetisi street soccer, sepak bola 4 lawan 4, tingkat dunia khusus bagi kaum marjinal. Tunawisma, penderita HIV/AIDS, eks pecandu narkoba, dan golongan terpinggirkan lain bisa turut serta di ajang ini mewakili negaranya. Nah, tahun 2010 Ginan, dkk. terpilih mewakili Indonesia. Sayang, persoalan dana serta kurangnya dukungan dari masyarakat dan pemerintah membuat tim Rumah Cemara tak bisa berangkat ke Brazil.

Rumah Cemara kembali mendapat undangan untuk mengikuti Homeless World Cup 2011 yang diadakan di Paris, Prancis. Tak mau kembali gagal berangkat, Ginan, dkk. bahkan sudah menggalang dana untuk ongkos ke Paris sejak setahun sebelumnya. Beragam cara mereka lakukan. Mulai dari berjualan merchandise, membuat gerakan pengumpulan koin, sampai mengadakan roadshow ke beberapa kampus di Bandung. Selain berusaha, segenap anggota Rumah Cemara tak lupa berdoa agar keinginan mereka mengikuti HWC 2011 terkabul. Ginan bahkan sampai bernazar akan jalan kaki ke Jakarta jika bisa berangkat ke Paris.

Foto: flickr
Ginan, pelopor kampanye HIV/AIDS melalui futsal.

Vini, Vidi, Vici
Kerasnya upaya Rumah Cemara membuat sejumlah pihak tergerak membantu. Bantuan dari pihak swasta dan Kementerian Pemuda dan Olahraga memastikan keberangkatan Ginan, dkk. ke Paris. Ginan menepati janjinya. Ia pun berjalan kaki dari Bandung ke Jakarta. Aksi long march ini dilaksanakan 6-8 Agustus 2011, dan mendapat perhatian luas dari media serta masyarakat.

Tim Rumah Cemara yang terdiri dari delapan pemain--empat diantaranya ODHA, pelatih, dan manajer berangkat ke Paris 18 Agustus 2011. Even HWC 2011 sendiri berlangsung pada 21-30 Agustus 2011, di sebuah lapangan dadakan yang dibuat di bawah Menara Eiffel.

Kengototan tim Rumah Cemara berangkat ke Paris tidak sia-sia. Datang sebagai debutan dan sempat dipandang remeh, Ginan, dkk. justru tampil mengejutkan. Juara bertahan Skotlandia berhasil mereka kalahkan. Demikian juga tim-tim dari negara yang kualitas sepak bolanya jauh di atas Indonesia, seperti Irlandia, Denmark, Belanda, dan Italia. Hebatnya lagi, dari 12 kali bertanding tim Rumah Cemara tak sekalipun mendapat kartu kuning, apalagi kartu merah.

Atas penampilan mengesankannya itu tim Rumah Cemara mendapat gelar The Best New Comer Team. Pemberian gelar ini tak hanya karena Ginan, dkk. tak mendapat kartu satu pun selama bertanding. Sikap dan perilaku di luar lapangan juga menjadi bahan penilaian. Gelar tim terbaik ini semakin lengkap setelah Ginan dianugerahi gelar The Most Valuable Player alias pemain terbaik sepanjang turnamen. Tak heran bila segenap anggota Rumah Cemara bergembira meski timnya hanya menghuni peringkat enam di kompetisi tahunan tersebut.

Puaskah Ginan, dkk. dengan sederet prestasi ini? Belum. Mereka masih ingin terus berkarya menyumbangkan pemikiran dan tenaga bagi sesama. Tahun depan, Rumah Cemara akan menggelar League of Change, liga street soccer yang khusus ditujukan bagi kaum marjinal seperti mereka. Liga yang pendanaannya disokong Kedutaan Australia ini direncanakan mulai digelar Februari 2012, diikuti delapan tim dari Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.

Luar biasa! Apa yang dilakukan Ginan bersama Rumah Cemara sungguh inspiratif. Tak hanya bagi para ODHA dan pengguna NAPZA, tapi juga kita semua. Tak penting kita mengidap HIV/AIDS atau tidak, yang terpenting adalah karya dan sumbangsih kita pada bangsa.

Creative Commons License

Tulisan berjudul "Vonis HIV+ Ia Jadikan Motivasi Mengejar Prestasi" oleh Eko Nurhuda ini dilindungi lisensi Creative Commons. Anda bebas menyalin, mempublikasi ulang, dan atau mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan untuk tujuan nonkomersil dengan menyebutkan sumber artikel.

10 komentar:

  1. Mohon melengkapi persyaratan untuk mengikuti lomba GoVlog.
    Syarat yang kurang:
    1. Artikel yang dilombakan wajib diposting di Twitter peserta lomba dengan mention @AusAID @VIVAnews dan Hashtag #GoVlog. Selain itu harus dicantumkan link artikel yang dimuat di VIVAnews dengan shortlink.
    Contohnya: http://bit.ly/Hjk8B #GoVlog @AusAID @VIVAnews
    *Hasil postingan Twitter harus capture dan imagenya dimasukkan ke dalam artikel yang dilombakan.

    2. Peserta lomba juga wajib memfollow @AusAID @VIVAnews @VIVAvlog
    *Hasil postingan Twitter harus capture dan imagenya dimasukkan ke dalam artikel yang dilombakan.

    3. Peserta wajib mencantumkan domisili di dalam blog yang dilombakan.
    Contohnya: Pontianak – Kalimantan Barat

    Mohon segera diperbaiki, kami tunggu.

    Thanks.

    BalasHapus
  2. @tommytoxcum: untuk syarat no. 1 saya malah lagi nunggu proses pemuatan di ureport.vivanews.com. Bagaimana mau mengirim tweet posting di Twitter kalo belum dimuat di Vlog, padahal yang disyaratkan link yang di Vlog.

    Untuk syarat no. 3 sudah ada tuh, begitu juga yang ke-2 tapi memang capture-nya belum saya masukkan.

    BalasHapus
  3. wah keren juga ya prestasinya; ya semoga kondisi seperti ini memotivasi ODHA lain agar tetap semangat dan kreatif ! *Artikelnya keren bung :)

    BalasHapus
  4. perasaan udah ada yang pake artikel ini deh....? keajaiban google

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada cara buat ngecek sebuah artikel kopi-paste atau bukan, coba aja cari di Google yang katanya ajaib itu. Trus buktikan deh ini artikel 'udah ada yang pake' atau cuma 'perasaan' saja.

      Hapus
  5. banyak sumbernya nih artikel. tinggal susun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali.
      Kalau ngarang alias fiksi, baru sah-sah aja gak pake sumber.
      Kalo profil begini kudu ada referensi, gak ada referensi malah lucu. Nulis skripsi juga kudu ada referensi kok.

      Buat yang biasa nulis, referensi itu bukan barang haram. Nyontek atau plagiat itu baru HARAM. Menulis ulang dari berbagai sumber gak ada masalah.

      Hapus
  6. Kami dari Admin GoVlog, perlu meminta data diri Anda yang mengikuti GoVlog AIDS. Data diri ini kami pergunakan untuk pemberitahuan jika Anda terpilih menjadi 10 besar.

    Nama Lengkap:
    Jenis Kelamin:
    No tlp/HP (yang bisa dihubungi):
    Email:
    Yahoo Messenger:
    Alamat lengkap:
    Pekerjaan:
    Link posting Blog GoVlog AIDS:

    Mohon data diri Anda dikirim ke email tommy.adi@vivanews.com

    Terimakasih

    BalasHapus
  7. Salut banget deh buat para ODHA yg tetep semangat menjalani hidup, bahkan bisa mengukir prestasi, walaupun tahu tubuh mereka sedang digerogoti virus mematikan.

    BalasHapus
  8. dia yang beberapa waktu lalu pernah jadi narasumber di kick andy ya? hebat, tetep semangat

    BalasHapus

Terima kasih telah mengunjungi bungeko.com. Semoga apa yang saya tulis di blog ini bermanfaat bagi Bung Pembaca. Silakan tinggalkan komentar untuk menanggapi, mengoreksi, atau bahkan mencaci isi posting ini. Tapi mohon dicatat, no SARA, no SARU. Salam.

NB: Saya sedang memikirkan untuk membuka kembali kontes komentator terbanyak, atau kontes lain yang berhubungan dengan komentar pembaca.

 
Copyright © 2013 bungeko.com - All Rights Reserved
Desain tampilan: Creating Website, Modifikasi tampilan: Eko Nurhuda