HANYA berinteraksi di dunia maya, dan paling jauh kontak via telepon dan SMS, tentu banyak hal yang tidak kita ketahui tentang blogger tetangga. Seperti apa sih sosok blogger anu, apa kebiasaan dia, warna kesukaannya apa, pekerjaannya selain ngeblog, makanan favoritnya, anaknya berapa, istrinya, dll.
Nah, saya yakin Bung sekalian juga pernah menanyakan salah satu dari pertanyaan-pertanyaan di atas saat pertama kali berkunjung kemari, atau malah lebih banyak. So, dengan semangat keterbukaan, inilah 10 fakta tentang saya dan bungeko.com. Enjoy it, Pals…
1. Nama resmi saya yang tercatat di beberapa dokumen adalah Eko Nurhuda. Namun dulu saya sempat memakai nama Herlambang Eko Nurhuda (istri saya malah belum tahu ini). Entah kenapa kok kemudian di rapor dan ijasah hanya tertulis seperti yang sekarang. Padahal jujur saja saya suka sekali dengan nama Herlambang itu. Sempat berpikiran untuk memberikan nama tersebut ke anak saya, tapi akhirnya tidak jadi. Hehehe…
2. Saya lahir Jum’at Kliwon. Serem yah? Kata orang pintar yang pernah saya temui, aliran rejeki saya sebenarnya bagus. Cuma karena Jum’at Kliwon itu auranya panas, saya mesti sering-sering tirakat dan melakukan ‘ritual-ritual’ tertentu agar auranya jadi lebih sejuk sehingga rejekinya lancar. Tidak aneh-aneh kok. Salah satunya saya harus salat Jum’at di masjid-masjid tua. Makanya dulu sewaktu masih di Jogja saya sering jumatan ke Masjid Kauman, Masjid Kotagede, atau Masjid Pathok Negoro. Ketiga masjid ini rata-rata berusia lebih dari 300 tahun. Di Pemalang, saya kesulitan mencari masjid tua. Ada yang tahu?
3. Kata orang tua saya, dulu ketika kecil saya selalu bilang “mau jadi dokter” kalau ditanya cita-cita. Waktu ditanya “kenapa kok pengen jadi dokter?”, saya jawaba “biar bisa nyuntik Ibu.” Hehehe… Nyatanya, SD sampai SMA saya sempat berhasrat ingin jadi penulis terkenal. Seingat saya kelas 4 SD saya sudah mulai mengarang. Lulus dari pendidikan pariwisata yang pernah saya tempuh sepanjang 2000-2002, saya ingin sekali sekolah ke luar negeri. Tapi ternyata malah terdampar di sebuah kampus me(pet sa)wah bernama Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY), mencicipi dunia jurnalistik sekejap mata (kurang-lebih 6 bulan), lalu akhirnya menulis buku.
Sekarang apa cita-cita saya? Tidak muluk-muluk, saya hanya ingin memperoleh passive income dari 2 dunia yang paling saya cintai: menulis dan internet. Dari menulis, saya berharap bisa menembus penerbit skala nasional dan memperoleh bayaran berdasarkan perhitungan persentase (royalti). Puncaknya, saya ingin memiliki penerbit buku. Sementara dari internet, saya ingin kembali ngeblog secara serius, mencobai program-program periklanan online, dan mengantongi penghasilan rutin yang cukup untuk kebutuhan rumah tangga. Bukan impian yang berlebihan, bukan?
4. Kebiasaan jelek yang sampai saat ini masih susah saya kendalikan adalah suka menunda-nunda pekerjaan. Pernah saya merendam cucian sampai 5 hari gara-gara kebiasaan ini. Coba bayangkan seperti apa baunya. Diberi pewangi berbungkus-bungkus juga masih tetap bau tidak enak. Hmmpfff… Sekarang ceritanya sudah lain. Berkat istri tercinta, pakaian saya tidak perlu lama-lama terendam di air sabun. Hehehe…
5. Saya penggemar berat Wiro Sableng. Sejak SD saya mengoleksi buku-buku cerita Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini. Saya bahkan pernah membeli nama domain Pendekar212.com, tapi setahun kemudian saya lepas karena bingung mau dibuat apa. Sampai saat ini saya masih terus mencari buku-buku cerita petualangan Pendekar 212. Ada yang bisa membantu?
6. Saya pertama kali mengenal blog tahun 2005 sewaktu membaca majalah Berita Indonesia. Dari sana saya langsung berburu referensi lain tentang blog. Ketemulah buku karya Teguh Wahyono, dosen teknik informatika UKSW Salatiga, yang membahas langkah-langkah membuat blog di Blogger. Judulnya Serba-serbi Blogger. Berkat buku itu lahirlah blog pertama saya: ekonurhuda.blogspot.com. Tapi setelah jadi blog itu malah tidak pernah saya urus lagi.
7. Saya pernah membuat satu situs jualan ebook berisi cara-cara memperoleh uang di internet lho. Padahal waktu itu saya sama sekali belum pernah menghasilkan uang dari internet. Hihihi… Situsnya saya buat di Blogger, lalu supaya keren saya buatkan URL redirection dari .tk. Jadilah www.swausaha.tk. Setelah itu saya promosikan dengan brosur amatir berupa fotokopian dan disebarkan di ATM-ATM dekat kos saya di sepanjang Jl. Kusumanegara, Jogja.
Eh, ternyata ada yang berminat. Bukannya senang, saya malah bingung. Soalnya ebook itu malah belum saya buat! Lebih parah lagi, waktu itu saya belum punya komputer sendiri. Waktu si pembeli bilang mau datang malam, siangnya saya berusaha keras menyelesaikan ebook-nya. Hehehe… Geli rasanya kalau mengingat-ingat kejadian itu.
8. Akhir 2006, tepatnya setelah gempa 27 Mei, hingga pertengahan 2007 saya sempat hidup sangat sengsara karena ada satu perselisihan dengan orang tua. Ceritanya saya ‘diboikot’. Jadilah saya hanya makan mi instan selama beberapa bulan. Bahkan akhirnya saya hanya bertahan hidup dengan satu-dua gelas teh saja. Tak heran kalau bobot saya merosot tajam jadi sekitar 40 kg dari sebelumnya 75 kg.
Situasi berubah ketika saya memutuskan untuk berjualan kacang garing dengan modal awal Rp 11.000. Yang 10 ribu untuk beli kacang, yang seribu lagi untuk beli plastik dan lilin. Alhamdulillah, uang itu terus berputar sampai kemudian saya bisa menghabiskan rata-rata 5 kg kacang garing dalam seminggu. Sayangnya, saat saya hendak melebarkan pasar dengan menitipkan daganga ke warung-warung dan angkringan, orang tua malah menyuruh saya pulang. Kebetulan waktu itu Pakdhe saya datang ke Jogja untuk mendaftarkan anaknya (alias sepupu saya) kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta. Mumpung ada tumpangan gratis gitu loh…
9. Saya masuk AKY tahun 2003. Namanya akademi kan seharusnya hanya 3 tahun ya? Tapi nyatanya sampai sekarang (ini 2011, berarti sudah 8 tahun!) saya masih belum lulus juga. Saya masih sangat ingin lulus dari AKY dan menggeluti dunia jurnalistik. Apa daya, sampai sekarang tidak menemui kata sepakat dengan pihak kampus mengenai ‘cara saya lulus’. Saya kemudian berpikir realistis, impian menjadi seorang jurnalis pelan-pelan saya buang jauh-jauh. Saya malah sudah menyatakan diri sebagai mahasiswa drop out AKY di biodata penulis saat mengirim naskah ke penerbit.
10. Saya baru menikahi istri saya 3 tahun setelah lamaran. Ini kejadian lucu, sekaligus memalukan bagi pihak saya. Orang tua saya dari Jambi dan rombongan keluarga dari Batumarta (OKU Timur, Sumsel) serta Yogyakarta datang ke Pemalang pada 15 Juni 2006. Seharusnya prosesi lamaran itu disusul dengan pernikahan selambat-lambatnya pertengahan 2007. Apa lacur, perekonomian keluarga saya ambruk sejak akhir 2006, saya sendiri malah ‘diboikot’ sehingga harus mulai mencari makan sendiri sepenuhnya (lihat poin 8). Setelah tarik-ulur, kompromi, dan sikap saling pengertian dari kedua belah keluarga, akhirnya saya dan istri menikah 4 Agustus 2009.
Kini, kami sudah dikaruniai dua anak yang tampan dan cantik. Si sulung yang lahir 19 Mei 2010 kami beri nama Fadhiil Akbar Damar Panuluh, dan adiknya (20 April 2011) kami namai Diandra Prameshwari Cahyaningtyas. Ya, Anda benar, kata orang Jawa ceritanya kami sundulan. Dua tahun menikah dan punya dua anak, saya rasa ini tidak memalukan. Ini tentu lebih baik daripada 2 bulan menikah tapi sudah punya bayi. Hehehe…
Well, itulah 10 fakta tentang saya. Bukan bermaksud membanggakan diri, karena memang tak ada yang saya bangga-banggakan di sini. Juga bukan bermaksud membuka aib diri sendiri, walaupun kebanyakan yang saya buka adalah fakta-fakta jelek tentang saya. Tujuan saya cuma satu: agar kita saling mengenal lebih dekat. Itu saja. ^_^
|
Tulisan berjudul 10 Facts About Bung Eko ini dilindungi lisensi Creative Commons. Anda bebas menyalin, mendistribusi, dan atau mentransmisi sebagian atau seluruh isi artikel untuk tujuan nonkomersil, serta dengan menyebutkan sumber artikel. Terima kasih. |



Baru ada 4 komentar. Tambahin lagi dong...
Klik di sini untuk langsung ke formulir komentar.Postingan yang membuat saya merasa lebih dekat dengan Bung Eko. Membuat saya tertawa sendiri, akibat kebiasaan Bung merencam cucian dan kesuakan terhadap Wiro Sableng. Tapi kembali terdiam saat membaca bagaimana kisah perjuangan hidup Bung Eko. Sukses terus Bung. Insya Allah cita-citanya untuk memiliki penerbit dikabulkan. Amiiinnn.
@Agus Roma: Hehehe, terima kasih doanya, Bung. Amin, amin, amin...
Bung Eko perokok berat ya?
@Anonim: Maaf Bung, saya tidak merasa butuh merokok. Btw, terima kasih sudah rajin memonitor blog ini.
Poskan Komentar
Terima kasih telah mengunjungi bungeko.com. Semoga apa yang saya tulis di blog ini bermanfaat bagi Bung Pembaca. Silakan tinggalkan komentar untuk menanggapi, mengoreksi, atau bahkan mencaci isi posting ini. Tapi mohon dicatat, no SARA, no SARU. Salam.
NB: Saya sedang memikirkan untuk membuka kembali kontes komentator terbanyak, atau kontes lain yang berhubungan dengan komentar pembaca.