uanglama.com
Bakso Putri Miad, Pemalang

Bakso Putri Miad

Bakso tanpa pentol, kami satu-satunya di Indonesia.
www.baksoputrimiad.com

Wedang Uwuh Imogiri

Wedang Uwuh Imogiri

Minuman tradisional khas Imogiri. Berkhasiat tinggi.
www.wedanguwuh.com

Grombyang Pemalang

Grombyang Pemalang

Makanan khas Pemalang. Segar, nikmat, mantap!
www.grombyang.com




Sabtu, 24 Desember 2011

Dicium Rapat-rapat, di Paha Direnggangkan

Oleh: Eko Nurhuda - Bung Eko dotcom

EIT, jangan berpikir "17+" dulu membaca judul posting ini. Sekilas memang kesannya seperti mengarah-arah ke "suasana ranjang", tapi yakinlah bahwa isi posting ini sangat jauh sekali dengan "bayangan-bayangan menggairahkan" itu. So, dibaca sampai habis ya...

Judul di atas adalah sebuah rumus rahasia yang diberikan guru Bahasa Indonesia saya sewaktu SMP dulu. Rumus apa? Rumus tentang pemakaian kata "di" yang baik dan benar sesuai aturan EYD. Kesannya kok nyeleneh, tapi justru ke-nyeleneh-annya itulah yang membuat saya tetap mengingat lekat rumus sederhana tapi penting ini.

Ya, rumus tersebut sudah lebih dari 15 tahun lamanya tetap lengket dalam kepala saya. Rumus inilah yang menjadi rambu-rambu saat saya kebingungan menggunakan kata "di". Kenapa bisa selengket itu? Pertama, jujur saja, kalimatnya asyik karena nyerempet-nyerempet ke arah "ehem-ehem". Kedua, rumus tersebut simpel tapi jelas sekali membedakan kerancuan pemakaian kata "di" yang biasa kita jumpai.

Saat blogwalking, saya kerap menjumpai posting yang ditulis secara serampangan dari kaidah tata bahasa. Belepotan. Salah satu kesalahan umum yang biasa dijumpai adalah pemakaian kata "di" yang masih salah kaprah. Nah, dengan rumus sederhana yang diberikan guru SMP saya ini, saya yakin Bung sekalian bakal dengan mudah mengingat bagaimana sih si "di" ini seharusnya digunakan.

Dua Jenis Penggunaan "Di"
Ilustrasi: casavina.comSecara simpel dapat diterangkan bahwa kata "di" mempunyai dua fungsi, yakni sebagai kata depan dan awalan. "Di" sebagai kata depan menunjukkan (atau digunakan bersama dengan penunjuk) waktu dan atau tempat. Kalau "di" sebagai awalan menunjukkan (atau digunakan sebelum) kata kerja, biasanya untuk membentuk bentuk pasif. Contoh "di" sebagai kata depan adalah "di makam", sedangkan contoh "di" sebagai awalan adalah "dimakan".

Nah, perbedaan fungsi ini membedakan cara penulisan kata "di" menjadi dua pula. Kata "di" sebagai kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Contohnya, "di makam" dan bukannya "dimakam". Atau "di sana", bukannya "disana". Sebaliknya, kata "di" sebagai awalan ditulis menyatu dengan kata yang mengikutinya. Contohnya "ditulis", dan bukannya "di tulis". Atau "dijual", bukannya "di jual".

Masih bingung? Kalau begitu ingat-ingat saja rumus ini: "Dicium rapat-rapat, di paha direnggangkan". "Cium" adalah kata kerja. Kata "di" di depannya berfungsi sebagai awalan sehingga penulisannya disambung jadi satu. Sementara itu "paha" adalah kata benda yang menunjukkan tempat sehingga kata "di" di sana berfungsi sebagai kata depan dan penulisannya dipisah.

Bagaimana, masih berpikiran "17+" setelah membaca habis posting ini?

Catatan: Posting ini merupakan repost dengan perubahan seperlunya dari artikel saya di situs jurnalis warga Wikimu.com. Artikel aslinya bisa dibaca di sini.



Creative Commons License

Tulisan berjudul Dicium Rapat-rapat, di Paha Direnggangkan ini dilindungi lisensi Creative Commons. Anda bebas menyalin, mendistribusi, dan atau mentransmisi sebagian atau seluruh isi artikel untuk tujuan nonkomersil, serta dengan menyebutkan sumber artikel. Terima kasih.

Baru ada 2 komentar. Tambahin lagi dong...

Klik di sini untuk langsung ke formulir komentar.


Yuk, Main ke Jambi!

Yuyut Wahyudi berkata...

Alhamdulillah yaa, saya masih memperhatikan penulisan kata 'di' dalam postingan blog maupun tiap kali SMS... Tapi kok judulnya terkesan mesum gitu yaa Bung??

Apa Kabar, Bank Century?

Dapatkan Posting Terbaru Bung Eko dotcom langsung ke Mailbox Anda!
Caranya gampang. Cukup masukkan alamat email Anda ke kolom di bawah ini:

Powered by: FeedBurner

Poskan Komentar

Terima kasih telah mengunjungi bungeko.com. Semoga apa yang saya tulis di blog ini bermanfaat bagi Bung Pembaca. Silakan tinggalkan komentar untuk menanggapi, mengoreksi, atau bahkan mencaci isi posting ini. Tapi mohon dicatat, no SARA, no SARU. Salam.

NB: Saya sedang memikirkan untuk membuka kembali kontes komentator terbanyak, atau kontes lain yang berhubungan dengan komentar pembaca.


Selamat datang di bungeko.com, blog pribadi Eko Nurhuda. Semoga tulisan-tulisan di blog ini memberi manfaat positif bagi Anda. Saran atau kritik dari Anda akan diterima dengan senang hati.
Jangan Ngaku Blogger
Kalau Belum Baca Buku Ini!
Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku!

Rp45.000,-

Klik di sini untuk membeli!

TUTUP [X]